Rabu, 29 Juli 2015

TEN KNIGHTS

PART 34

BRUAGH!! Terdengar suara sesuatu yang jatuh secara serempak akibat terpental oleh sesuatu. Semua makhluk kegelapan yang mengurung Yuya dkk, jatuh terpental akibat kemampuan nullification yang dimilikinya. Berkat kemampuan Yuya inilah,mereka semua bisa selamat akibat serangan mendadak dari makhluk kegelapan yang menyerang mereka.

“Huft, hampir saja....”, ujar Yuya.

“Kupikir tadi aku bakal celaka, thanks Yuya. Untung kau berada bersama kami...”, ucap Yabu sambil menolong Inoo dan Keito agar kembali berdiri.

“Jangan merasa lega dulu. Aku hanya memantulkan serangan mendadak mereka, mereka belum mati sepenuhnya. Tuh lihat, mereka mulai bangkit lagi....”, Yuya menunjuk kearah makhluk kegelapan yang berada di sekitar mereka yang mulai bangkit lagi.

“Kali ini, kita bisa menyerang mereka”, Inoo mengeluarkan kedua pedangnya dari sarung pedang dan bersiap untuk menyerang para makhluk kegelapan tersebut.

“Ayo. Lebih cepat kita menyerang lebih baik. Menyerang adalah pertahanan yang terbaik”, ucap Keito yang sudah siap untuk bergerak maju.

“Tunggu dulu”, Yabu menahan Keito yang bersiap akan menyerang.

“Kenapa Yabu?”, ucap Keito heran karena Yabu menghentikannya.

“Biar aku saja yang menghadapi mereka semua. Kalian langsung masuk ke dalam saja. Bila benar Daichan ada disana, lebih baik kita segera membebaskannya. Melihat banyak sekali makhluk kegelapan yang berjaga di sekitar sini, aku bisa menduga kalau mereka sedang menjaga bangunan itu dan kemungkinan besar mungkin itu adalah kediaman Jack yang kita cari”, Yabu menjelaskan pada rekan-rekannya. Dia mengeluarkan botol air dari sakunya dan mulai membentuk sebilah pedang dari air yang ada dalam botol tersebut.

“Jumlah mereka banyak sekali Yabu.... meskipun mereka semua adalah makhluk kegelapan tingkat rendah, akan tetapi kau pasti akan kewalahan menghadapi mereka semua. Kau akan merasa lebih cepat capek setelah menghadapi mereka. Bukankah dengan menyerang bersama-sama itu lebih baik?”, ucap Keito.

“Dia tidak sendirian Keito, aku akan membantunya”, Inoo maju berdiri di samping Yabu. Yabu melihat ke arah Inoo, mukanya terlihat tidak senang dengan keputusan Inoo. Yabu membuka mulutnya seakan ingin protes dengan tindakan Inoo, tapi sebelum Yabu berbicara, Inoo sudah menyela terlebih dahulu, “Ini keputusanku sendiri. Meskipun kau memintaku untuk pergi, aku akan tetap disini bersamamu”, Inoo menatap Yabu dengan ekspresi yang bersungguh-sungguh seakan keputusannya itu tidak bisa diganggu gugat.

Yabu akhirnya menyerah dengan sifat keras kepala Inoo ini, “Baiklah, aku mengerti”.

“Kalau begitu, aku juga akan tetap disini”, ucap Keito juga.

“Tidak. Keito, kau bersama Yuya, masuk ke dalam bangunan itu. Terlalu berbahaya membiarkan Yuya pergi sendirian. Aku ingin kau menuntun Yuya di dalam sana dengan kemampuanmu itu. Kita tidak tahu apa saja yang ada di dalam sana, jadi dengan bantuanmu, kalian bisa tetap waspada di dalam sana”, ucap Yabu. “Yuya, segeralah masuk ke dalam sana. Cari Daichan dan bebaskan dia. Aku percaya kau pasti bisa. Urusan disini biar kami yang bereskan”, ucap Yabu.

Beberapa makhluk kegelapan yang mulai stabil, mulai berdiri dan menyerang mereka. Salah satu makhluk kegelapan menghampiri Yuya. Makhluk itu sangat gemuk, mukanya seperti bola, mata dan hidungnya tidak terlihat jelas, tapi mulutnya yang sangat lebar merupakan satu-satunya yang bisa terlihat jelas di muka makhluk tersebut. Mulut yang lebar itu terbuka, gigi yang tajam, serta lidah yang panjang menjulur keluar dari mulut makhluk itu. Makhluk itu menghampiri Yuya dengan mulutnya yang terbuka seakan ingin menggigit dan melahap Yuya. Dengan nullification miliknya, gerakan makhluk itu terhenti beberapa meter dari Yuya, dan terpental jauh dari Yuya. Yabu dengan sigap mengendalikan air miliknya dan merubah bentuknya menjadi seperti tombak dan mengarahkan tombak itu ke arah makhluk tadi hingga hancur tidak bersisa. Yabu juga mulai melebarkan air miliknya sehingga makhluk yang ada dalam jangkauan tombak air tersebut juga ikut hancur tidak bersisa.

Salah satu makhluk kegelapan melompat ke arah Inoo. Makhluk itu memiliki bentuk tubuh yang hampir mirip dengan manusia, akan tetapi, kulit makhluk itu berlendir dan tampak sangat licin. Di mukanya juga bisa terlihat kalau makhluk itu memiliki mata yang berjumlah tiga. Dua mata yang lain tampak seperti mengamati arah yang lain, akan tetapi, satu mata yang terletak di dahi makhluk tersebut menatap Inoo. Dengan sigap, Inoo menatap makhluk itu. Gerakan makhluk itu terhenti. Beberapa saat kemudian, makhluk itu berbalik dan mulai menyerang sesama makhluk kegelapan yang lain. Rupanya Inoo memberikan ilusi kepada makhluk itu agar dia menganggap makhluk kegelapan yang lain sebagai musuhnya. Inoo juga memberikan ilusi kepada beberapa makhluk kegelapan yang lain dan mereka mulai berbalik menyerang sesama makhluk kegelapan.

Inoo berlari menuju sekumpulan makhluk kegelapan yang ada di dekatnya, “Yoo, bisakah kalian melihat kemari??”, seru Inoo pada kumpulan makhluk itu. Semua makhluktersebut melihat ke arah Inoo. “Bingo! Target, Lock on!”, Inoo memberikan ilusi pada semua makhluk kegelapan yang melihat ke arahnya. Dia membuat makhluk kegelapan itu bertarung dengan sesamanya dan saling menghancurkan satu sama lain. Inoo mengarahkan pedangnya ke arah beberapa makhluk kegelapan yang ada didekatnya, dia menebas makhluk kegelapan yang ada di dekatnya dengan dua pedang kecil miliknya.

“Yuya! Keito! Cepat pergi dari sini! Serahkan mereka yang ada disini pada kami!”, seru Yabu.

“Tapi....”, ucap Keito. Keito melalui kemampuannya berhasil menghindari duri tajam yang mengarah ke arahnya. Setelah berhasil menghindar, dia kemudian meninju makhluk itu hingga terpental jatuh tersungkur dan tidak mampu berdiri lagi.

“Tidak usah khawatir. Aku bisa mengatasi mereka semua. Setelah selesai urusan kami disini, kami akan segera menyusul kalian”, ucap Yabu. Yabu membentuk sebuah bola air yang cukup besar, kemudian dia mengarahkan bola tersebut ke arah kumpulan makhluk kegelapan yang ada disana. Dalam sekejap makhluk kegelapan itu terkurung di dalam sana dan hancur di dalam bola air tersebut. “Tuh, lihatkan”, ucap Yabu.

“Baiklah. Kami serahkan urusan ini padamu. Aku akan segera masuk ke dalam. Setelah kalian selesai, sebaiknya kalian segera menyusul kami”, Yuya menepuk pundak Yabu dan mulai berlari masuk. “Ayo, Keito!”, seru Yuya pada Keito. Keito melihat ke arah Yabu, Yabu mengangguk ke arah Keito, Keito akhirnya mulai berlari mengikuti Yuya masuk ke dalam bangunan.

Sepanjang jalanan menuju ke arah kediaman Jack, beberapa makhluk kegelapan menghadang mereka. Yuya berhasil menghalau serangan mereka dengan kemampuannya, akan tetapi Yuya sama sekali tidak berniat menyerang balik mereka. Keito berencana untuk menyerang mereka, akan tetapi langkahnya dihentikan oleh Yuya.

“Sudahlah, tidak usah mempedulikan mereka. Kita sudah mempercayakan urusan disini pada Yabu dan Inoo kan? Lebih baik kita segera masuk ke dalam dan menghindari pertarungan yang tidak perlu”, kata Yuya.

“Baiklah”, Keito menuruti perkataan Yuya dan mereka pun masuk ke dalam.

Di tempat Yamada dkk.

Jumlah makhluk kegelapan yang menyerang kami lama kelamaan semakin berkurang. Satu persatu makhluk kegelapan itu hancur dan lenyap terkena serangan kami. Chinen dan Hikaru masih menghadapi musuh yang datang dari atas, Yuto masih berusaha meninju zombie yang muncul dari bawah tanah. Kekuatan pukulannya yang sangat dahsyat membuat zombie yang terkena pukulannya langsung hancur tak terbentuk. Aku masih berusaha fokus dengan makhluk kegelapan yang ada di depanku. Kutebas musuh dengan pedang peninggalan ayahku ini. Entah kenapa, meskipun ini barupertama kalinya aku memakai pedang dalam pertarungan, aku sama sekali tidak merasa kesusahan dalam menggunakannya. Bahkan aku bisa dengan lancar menebas musuh yang datang.

“Hika maaf, aku sudah tidak kuat lagi”, ucap Chinen. Setelah mengatakan hal seperti itu, dia lalu turun ke tanah dan wujudnya kembali seperti semula. Waktu kemampuannya telah habis.

“Tidak apa-apa, jumlah musuh tinggal sedikit, aku bisa mengatasi mereka semua sendirian”, ucap Hika sambil meletakkan pistolnya kembali ke tempatnya. “Kalian semua! Tutup telinga kalian!”, seru Hika. Aku, Yuto dan Chinen langsung menutup telinga kami rapat-rapat. Hika menarik nafas panjang dan mulai membuka mulutnyalebar-lebar.

“AAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”, suara teriakan Hika menggema ke seluruh hutan. Makhluk kegelapan yang terkena gelombang suara dari Hika hancur tidak bersisa. Dalam sekejap, seluruh musuh yang ada di udara habis. Musuh yang tidak terkena dampak langsung dari teriakan Hika, jatuh kebawah. Bahkan musuh yang ada di bawah tanah pun KO terkena efek serangan Hika. Telingaku bahkan masih berdengung meskipun sudah kututuprapat-rapat.

“Huwaa.....”, aku menganga saat melihat semua musuh jatuh dan tidak bergerak. Semuanya tumbang akibat kekuatan Hika.

“Sudah tidak ada lagi musuh yang tersisa”, ucap Hika sambil melihat ke sekelilingnya. “Yosh, ayo kita segera menuju ke tempat segel. Kita sudah terlalu lama membuang waktu disini”, Hika segera berlari menuju tempat yang akan mereka tuju. Aku, Yuto, dan Chinen saling berpandangan dan akhirnya mulai berlari mengikuti Hikaru.

Kami terus berlari menyusuri jalan setapak yang ada di hadapan kami. Sepanjang perjalanan beberapa makhluk kegelapan datang dan menghadang kami. Yuto dan Hikaru yang berada di depan dengan sigap langsung membasmi musuh yang datang. Chinen dan aku membasmi musuh yang datang dari samping dan belakang.

“Berhenti!”, seru Hika tiba-tiba sambil melebarkan kedua tangannya mencegah kami agar tidak berlari lebih jauh.

“Kenapa Hika?”, tanyaku.

“Ssstt....diam sebentar!”, Hika memerintahkan kami untuk diam dan mulai berkonsentrasi terhadap sesuatu. “Kalian dengar itu?”, tanya Hika. Kami bertiga juga mulai memasang telinga baik-baik. Perlahan aku bisa mendengar bunyi seperti suatu getaran motor. Aku melihat ke bawah kakiku.

“Asalnya dari dalam tanah”, kataku sambil mulai berjongkok agar bisa memastikan dengan jelas bahwa suara yang kudengar memang berasal dari dalam tanah. Hika, Chinen, dan Yuto juga ikut berjongkok di dekatku dan juga mulai memastikan bahwa suara yang kami dengar asalnya dari bawah. Tiba-tiba aku merasa tanah yang kami pijaki bergetar, “Huwaaa!!!”, tanah itu terbelah sehingga tercipta sebuah lubang di dalam tanah. Kami semua jatuh ke dalam lubang tersebut.

Di depan pintu kediaman Jack

Sesampainya di dalam, mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Bukan karena langkah mereka dihentikan oleh musuh atau mereka terjebak sesuatu, akan tetapi mereka tidak bergerak akibat mereka tidak bisa melihat apapun di dalam. Ya, di dalam bangunan itu, sama sekali tidak ada cahaya yang bisa menerangi jalan mereka.

“Keito, kau ada dimana?”, tanya Yuya sambil meraba-raba dalam kegelapan berusaha mencari sosok Keito dalam kegelapan tersebut.

“Aku disini kok. Aku sama sekali tidak bergerak dari tempatku berada. Kau sendiri ada dimana?”, Keito juga mulai meraba-raba dalam gelap. Hingga akhirnya tangannya bisa meraih sesuatu. Dia mulai meraba apa yang dia pegang, rasanya empuk dan berisi, tapi dia tidak yakin kalau itu adalah Yuya. “Yuya?”, tanya Keito yang berusaha memastikan kalau yang dia raba itu adalah Yuya.

“Keito! Hentikan! Apa yang kau pegang! Jangan pegang disitu!”, seru Yuya. Akhirnya Yuya berhasil menggenggam tangan Keito yang meraba-raba tubuhnya dari tadi.

Tiba-tiba ada secercah cahaya yang mulai menerangi mereka. Lama-kelamaan cahaya itu semakin cerah dan akhirnya Yuya dan Keito bisa melihat dengan jelas di sekitar mereka. Mereka melihat ke arah sumber cahaya yang berasal dari api yang menyala di sekitar dinding. Yuya dan Keito saling bertatapan dan melepaskan pegangan tangan mereka yang saling menyentuh satu sama lain dengan gugup.

“Itu bisa disebut pelecehan seksual lo Keito....”, ujar Yuya setelah mereka melepaskan pegangan tangan mereka masing-masing.

“Apanya yang pelecehan, tadi kan gelap dan aku sama sekali tidak bisa melihat, jadi aku tidak tahu apa yang kupegang tadi!”, Keito menjelaskan pada Yuya sambil memalingkan muka. Yuya bisa melihat telinga Keito yang memerah.

“Jangan-jangan tadi kau bermaksud memanfaatkan keadaan ya? Kau punya rasa terpendam padaku ya? Tapi, maaf saja ya. Aku tidak bisa membalas perasaanmu”, bisik Yuya. Telinga Keito semakin memerah, Yuya menahan tawa saat melihatnya. “Aahhh, kalau Daichan yang melakukan itu padaku aku akan senang setengah mati. Kenapa justru Keito yang melakukannya. Benar-benar sial....”.

“Siapa yang bilang! Kau ini!!! Lebih baik kita segera menyelidiki tempat ini!”, ucap Keito yang mulai berjalan lebih dahulu meninggalkan Yuya yang masih menahan tawanya melihat tingkah laku Keito.

Mereka pun mulai menyusuri jalan yang ada di depan mereka. Tampaknya setelah berada di pintu masuk tadi, mereka sampai di sebuah lorong. Mereka terus menyusuri lorong tersebut. Api terus menyala saat mereka semakin jauh masuk ke dalam. Saat mereka melihat ke arah belakang, api di dinding belakang mereka juga padam. Sebaliknya, api yang ada di depan mereka terus menyala, seakan-akan api itu akan menyala bila ada sesuatu yang melewati lorong tersebut.

Keito mengeluarkan bola kristalnya dan berusaha menggunakan kemampuannya untuk melihat kondisi di dalam banguan tersebut. “Hmm... aneh”, gumam Keito.

“Ada apa Keito?”

“Aku berusaha melihat apa yang terjadi dalam bangunan ini. Dan aku melihat tidak ada satupun tanda makhluk kegelapan ada di tempat ini. Padahal, banyak sekali makhluk kegelapan di luar sana. Seharusnya, makhluk kegelapan yang ada di dalam sini akan semakin banyak”.

“Kalau kau bilang begitu, benar juga...”, Yuya melihat ke sekeliling mereka yang tidak tampak ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka selain api yang menyala di dinding. “Kalau benar disini ada makhluk kegelapan juga, Seharusnya, mereka sudah menghadang kita di depan pintu masuk tadi. Tapi, meskipun kita sudah berjalan sejauh ini, makhluk kegelapan sama sekali tidak ada yang menyerang kita”.

“Tuhkan, apa mungkin mereka semua sudah pergi dari sini?”

“Kalau begitu, mereka semua sudah meninggalkan tempat ini?”, kaki Yuya mulai lemas, dia terduduk di lantai seakan telah kehilangan tenaga. “Kalau begitu, Daichan juga tidak ada disini?”.

“Tunggu dulu. Aku bisa melihat ada sesuatu di ruangan yang letaknya agak jauh darisini. Bagaimana? Kau ingin memeriksanya?”, tanya Keito.

“Tidak ada salahnya kalau kita pergi kesana kan? Mungkin saja itu Daichan”, Yuya mulai berdiri lagi.

“Tapi, kalau ternyata disana malah justru musuh yang menunggu kita bagaimana?”

“Ya, tinggal kita kalahkan dan lawan”, ucap Yuya dengan percaya diri. “Ayo, kita periksa tempat itu”.

“Baiklah, ayo ikuti aku”, Keito mulai berjalan di depan. Yuya mengikuti Keito dari belakang. Jalan yang mereka lalui semakin menurun. Tampaknya, mereka telah masuk ke dalam sebuah ruang bawah tanah. Keito terus berjalan hingga mereka sampai di sebuah pintu besar. “Ini tempatnya”, kata Keito. Keito dan Yuya saling bertatapan, mereka memegang pintu itu bersama-sama dan secara serempak mereka mendorong pintu itu hingga terbuka.

Ketika pintu itu terbuka lebar, mereka bisa melihat ruangan yang sangat luas. Awalnya, ruangan itu gelap, tapi sama seperti di lorong, perlahan api yang menempel di dinding ruangan itu mulai menyala satu persatu menerangi ruangan itu. Di tengah ruangan terlihat seperti ada sebuah altar. Di hadapan mereka terdapat sebuah ukiran berbentuk bintang yang sangat besar.

“Yuya! Coba lihat itu!”, seru Keito sambil menunjuk ke ukiran bintang tersebut. Yuya mengamati bintang tersebut. Terdapat sesuatu yang menempel di tengah bintang tersebut. Yuya membelalakkan matanya dengan tidak percaya.

“DAICHAN?!?!”, seru Yuya dan Keito.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar