Part 3
Main cast : Reader
Cast : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Kawaguchi Haruna, Nishiuchi Mariya
Genre : Angst, Romance
~
“Kau kenapa? Seharian ini kau sepertinya menghindariku”
Yuto menghadangku. Aku langsung mengalihkan pandanganku. Aku tidak berani menatap langsung matanya. Bagaimana mungkin aku berani menatapnya setelah mendengar perkataan temanku itu? yang mengatakan kalau Yuto akan menembakku sebentar lagi. Meskipun berita itu mungkin hanya candaan dan belum tentu benar, tapi hatiku selalu berdetak kencang saat melihatnya. Membuatku tidak mampu melihat langsung ke matanya.
“Kenapa kau diam saja? apakah aku membuat kesalahan padamu?”
Aku menggeleng. Tidak mungkin kan aku memberitahunya kalau aku gugup bertemu dengannya?
“Lalu kenapa? Kalau kau tidak bicara, aku tidak akan tahu”
Aku memutar otakku. Berpikir keras. Bagaimana caranya aku memberitahunya? Apa yang harus kukatakan agar dia tidak salah paham?
“Ternyata kau ada disini, aku mencarimu dari tadi”
Seseorang datang menghampiriku.
“Yamada?”
Entah kenapa suasana menjadi canggung. Yuto dan Yamada saling bertatapan, sedangkan aku bingung apa yang harus kukatakan untuk memecah suasana hening ini.
“Ah.. Yamada, ada perlu apa kau mencariku?” akhirnya aku membuka suara.
“Oh... aku mencarimu karena ada yang ingin kubicarakan” Yamada melihat ke arah Yuto lalu padaku. “Tapi sepertinya kalian sedang ada urusan”
“Ah...” aku melirik ke arah Yuto. “Bukan apa-apa kok”. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari Yuto. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Yuto sehingga kuputuskan untuk kabur saja. Aku tahu kalau Yuto akan salah paham denganku, tapi aku tidak tahu harus berkata apalagi.
“Kalau begitu, bisa kita bicara?” Yamada melihat ke arah Yuto. “Aku boleh pinjam dia sebentar?”
Aku menunduk. Tidak berani melihat ke arah Yuto. Aku tahu kalau dia sedang melihatku. Aku bisa merasakan tatapan matanya dari ujung mataku.
“Silahkan” Yuto akhirnya membuka mulutnya. “Lagian sepertinya dia tidak mau bicara denganku”
Yuto berlalu pergi meninggalkan kami. Aku memandang punggungnya. Dari nada suaranya tadi, aku tahu kalau Yuto salah paham. Dia mengira aku membencinya, tapi aku juga tidak bisa menjelaskannya sekarang.
Ketika aku melangkahkan kakiku untuk mengejar Yuto, Yamada menghentikanku. Aku menatapnya. Aku bisa merasakan aura serius dan murung di wajahnya. Melihatnya seperti itu membuatku tidak bisa meninggalkannya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kita pindah tempat saja dulu yuk”
Yamada mengajakku ke bangku taman sekolah yang tidak jauh dari sana. Aku menunggu Yamada untuk membuka mulutnya terlebih dahulu.
“Aku... tidak tahu harus berbuat apalagi” suaranya terdengar putus asa.
“Soal apa?”
“Haruna”
Aku terdiam. Kenapa dia menyebut nama pacarnya?
“Aku tidak yakin hubungan kami akan berjalan lancar”
Aku menatapnya heran. Memangnya apa yang terjadi? Setahuku hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan mereka masih tampak mesra pagi ini.
“Aku menyukai Haruna. Dia perempuan yang baik. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang. Aku selalu berusaha menyenangkan Haruna, tapi perasaan ini tidak mau hilang”
Yamada menatapku. Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang dulu pernah dia berikan padaku. Sepertinya aku memiliki gambaran apa yang akan dia katakan, tapi aku berharap kalau Yamada tidak mengatakannya.
“Aku masih menyukaimu”
Sudah kuduga. Padahal kuharap kalau firasatku ini salah.
“Sejak kau menjauh dariku, aku merasa ada yang kurang. Aku ingin kau terus berada di dekatku”
Aku menutup mataku. Tuhan... kenapa ini terjadi lagi?
“Kau tidak menyukai Haruna?” akhirnya aku membuka suaraku.
Yamada menggeleng. “Aku menyukainya, tapi aku juga ingin kau ada disisiku. Rasanya tidak lengkap kalau kau tidak ada di sisiku. Aku menyadarinya saat kita berdua bertemu kembali dan saat kita bicara lagi setelah sekian lama”
Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Jujur saja, aku merasa sedikit senang saat Yamada memberitahuku kalau dia menyukaiku. Tapi di lain pihak, rasa bersalahku muncul kembali. Kenapa Yamada mengucapkan kata itu setelah dia sudah menjadi milik orang lain? apakah aku memang selalu menjadi penghancur hubungan orang?
“Jika kau mau menerimaku, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Haruna dan memilihmu”
Aku menatap Yamada tidak percaya. Kenapa dia berkata seperti itu?
“Pikirkan baik-baik. Aku serius terhadapmu”
---***---
“Aku tidak percaya ini” Mariya mondar-mandir di dalam kamarku. “Yamada menembakmu? Bukankah dia sudah memiliki pacar? Apalagi dia menembakmu sebelum Yuto melakukannya”
Aku hanya memeluk bantalku. Aku sungguh kebingungan. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Sehingga aku memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Mariya.
“Yuto itu bagaimana sih? Kenapa dia lelet sekali? Yamada bahkan sudah mengambil langkah lebih dahulu!” Mariya berdecak kesal.
“Tapi Mariya... kan belum pasti kalau Yuto akan menembakku kan?”
Mariya melotot ke arahku. “Kau ini... kukira kau sudah menyadarinya. Bukankah sudah jelas kalau Yuto menyukaimu? Aku saja yang tidak terlalu dekat dengannya saja tahu kalau dia menyukaimu. Berita dari Keito itu pasti benar”
“Tapi...” aku memeluk bantalku dengan erat. “Apa yang harus kulakukan Mariya?”
“Tolak saja Yamada” Mariya berkata tegas. “Dia sudah memiliki kekasih. Apa kau mau dicap sebagai perusak hubungan orang? Bukankah sudah jelas kalau kau menyukai Yuto sekarang?”
“Tapi....”
“Jangan bilang kalau kau masih menaruh perasaan pada Yamada”
Aku terdiam. Aku tidak berani mengiyakan kalimat Mariya. Tapi sepertinya Mariya tahu jawabanku.
“Bukankah sudah kubilang untuk melupakan dia???”
“Aku tidak bisa Mariya...”
“Kenapa? Dia sudah menyakitimu dulu. Dan sekarang dengan egoisnya dia memintamu untuk berada di sampingnya”
“Dia cinta pertamaku Mariya. Tidak semudah itu aku melupakannya”
“Apa kau tidak tahu apa kata orang? Cinta pertama hanyalah kenangan. Tidak banyak yang berhasil bersama dengan cinta pertamanya”
Aku tidak merespon. Tidak tahu harus berkata apalagi. Kepalaku sudah penuh dengan hal ini.
“Pikirkan dengan baik-baik” Mariya memelukku, memberikan kehangatan. “Menurutku, lebih baik kau memilih Yuto daripada Yamada. Yuto akan memperlakukanmu lebih baik daripada Yamada. Karena jujur saja aku tidak terlalu suka dengan Yamada”
Mariya menatapku lurus. “Tapi aku akan mendukungmu apapun pilihan yang kau ambil. Asalkan kau memilihnya sesuai dengan kata hatimu. Aku hanya berharap kebahagiaanmu saja”
Aku memeluk Mariya. Aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia. Kuputuskan untuk memikirkan hal ini dengan baik demi Mariya juga.
---***---
Sejak saat itu, Yamada lebih sering mendekatiku. Bahkan waktu istirahat lebih banyak dia habiskan bersama denganku daripada dengan pacarnya. Aku memang belum memberikan jawaban atas pernyataannya waktu itu. Aku masih bingung jawaban apa yang akan kuberikan padanya.
Dan akibatnya, hubunganku dengan Yuto menjadi agak renggang. Yuto merasa kalau aku marah padanya. Kesalahpahaman kami waktu itu belum terselesaikan. Aku masih belum memberitahunya juga kalau aku tidak marah padanya.
Masalah lain pun muncul. Gosip tidak enak tentangku mulai menyebar. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi saat Yamada mendekatiku. Isi gosipnya memang berkaitan dengan Yamada. Aku dituduh sebagai perusak hubungan Yamada dengan Haruna.
Aku tahu siapa yang menyebarkan gosip itu pertama kali. Saat aku berpapasan dengan Haruna dan teman-temannya, aku bisa melihat pandangan sinis dari mata mereka. Saat itulah aku mengerti kalau mereka sudah tahu mengenai hubunganku dengan Yamada.
“Aku harus mengakhiri ini semua. Aku sudah capek”
---***---
Aku diam-diam pergi melihat pertunjukan musik Yuto. Ini pertama kalinya aku datang tanpa memberitahu Yuto. Tentu saja, hubungan kami sedang buruk. Dia juga tidak memberitahu soal pertunjukan ini padaku. Yang memberitahuku malah si Keito. Aku sedikit sedih saat mengetahui dia tidak memberitahuku. Kesannya aku mulai menjauh darinya.
Aku melihatnya bermain drum. Meskipun dia berada di belakang, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Aku bisa melihat senyumnya saat dia mendengar sorakan penonton. Dan saat itulah aku sadar kalau aku menyukainya.
Aku bertatapan mata dengan Keito. Sepertinya Keito sadar kalau aku ada disana. Aku langsung mengalihkan pandanganku dan berpura-pura melihat yang lain. Keito juga sepertinya tidak melihatku lagi dan kembali fokus ke gitarnya.
Begitu pertunjukan selesai, aku langsung keluar lebih dulu. Aku masih belum siap bertemu dengan Yuto. Aku masih belum menemukan kalimat apa yang akan kusampaikan padanya. Aku kemari hanya ingin melihatnya saja dan itu sudah cukup bagiku. Jika aku sudah menemukan kalimat yang tepat, aku akan mengatakannya.
---***---
‘Bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya dengan baik?’
Aku membaca isi pesan dari Yamada sebelum tidur. Aku menghela nafas panjang. Seharian ini aku sudah memikirkannya. Dan aku sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Yamada.
‘Besok aku akan memberitahukannya padamu’
---***---
Aku duduk termenung di bangku halaman sekolah. Aku masih mendengar beberapa orang berbisik padaku saat mereka melewatiku, tapi aku tidak peduli. Hari ini semuanya akan jelas.
“Hei”
Aku menoleh, aku kaget saat aku melihat Yuto berdiri disana. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Yuto akan menghampiriku lebih dulu. Aku memang akan menemuinya, tapi setelah aku membereskan urusanku dengan Yamada. Aku tidak menyangka kalau rencanaku akan kacau seperti ini.
“Kudengar dari Keito kalau kau datang ke pertunjukanku kemarin”. Aku mengangguk. Yuto terdiam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. “Aku---“
“Maaf menunggu lama” Yamada datang saat Yuto akan mengatakan sesuatu. Yamada tampak terkejut saat melihat Yuto ada disana.
“Sepertinya kalian ada urusan, aku pergi saja” Yuto beranjak pergi. Tapi aku menahan tangannya. Yuto memandangku dengan heran.
“Tidak apa. Kau disini saja. Aku juga ingin kau mendengarnya”
Yuto memandangku dan Yamada dengan heran. Begitu pula dengan Yamada. Aku memutuskan untuk mengatakan semuanya sekarang. Toh semuanya sama saja. Aku menutup mataku. Orang pertama yang muncul dalam bayanganku adalah jawabannya.
“Yamada....” aku membungkukkan badanku. “Gomennasai!”. Aku mengangkat kepalaku dan memandang lurus matanya. “Aku sangat senang saat mendengar pernyataan cintamu saat itu. Jujur, kaulah cinta pertamaku. Kaulah orang yang mengenalkanku pada cinta pertama kali. Saat bertemu lagi denganmu untuk yang kedua kalinya, aku sedikit senang”
Yamada menatapku dengan serius. Aku bisa merasakan sedikit rona kekecewaan di matanya.
“Tapi saat ini aku menyukai orang lain” aku meraih tangan Yuto dan menggenggamnya. “Orang itulah yang menenamiku selama kau tidak ada. Dialah yang menghiburku saat kau membuat luka di hatiku dulu. Dan bagiku, dialah orang yang kusukai saat ini” Aku menatap Yuto dalam-dalam. “Aku menyukainya”
“Ah... begitu” suara Yamada terdengar pelan. “Aku sudah menduganya”
“Yamada. Aku...”
Yamada menggelengkan kepalanya. Dia memberikanku sebuah senyuman. Senyuman yang dipaksakan. Dia menggenggam tanganku dan Yuto. Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Aku masih memandang punggungnya hingga dia tidak terlihat lagi.
“Ah... keduluan deh” komentar Yuto.
“Tidak kusangka kalau kau akan menembakku duluan”
Aku tersenyum. “Aku sudah lelah menunggumu”
Yuto memelukku dengan erat. Inilah akhir yang kuinginkan dan yang kupilih untuk hidupku.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar