Fanfiction buat ngerayain ultahnya Chinen Yuri!!!
Cast : Hey! Say! 7
Main cast : Chinen Yuri
Note : kalian pernah liat movie yg judulnya 'House of Wax'? Nah, ff ini diadaptasi dari film itu. Kalau pernah liat, berarti tahu genrenya kan???
---***---
Kubuka lokerku, kuambil sepucuk surat beramplop merah yang ada di dalamnya. Di depan, tertulis ‘To : Chinen Yuri’, tapi tidak ada nama pengirimnya. Kuteliti tiap sudut surat itu, berharap ada sedikit petunjuk mengenai sang pengirim, hasilnya nihil. Aku mendapat surat tanpa nama.
“Apa itu?”
Ryosuke tiba-tiba muncul di belakangku. Dia ikut mengamati surat yang kuterima sambil meletakkan dagunya di bahuku.
“Surat cinta?”
Aku mencubit pipi chubby Ryosuke, “Baka!”
“Ittai na...”, ucap Ryosuke sambil mengusap pipinya yang sedikit kemerahan karena cubitanku. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Ryosuke langsung duduk di sofa, mengadu pada Yuto dan Keito.
Kubuka amplop merah yang kuterima. Harum khas keluar dari dalam amplop itu. Aku sepertinya tahu bau itu, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Kuambil sepucuk kertas yang ada di dalamnya.
“Minna...”, aku mendekati kumpulan anak 7 yang lain. Dengan santai, aku duduk di pangkuan Ryosuke. Kutunjukkan isi surat yang kuterima. “Kalian tahu tempat ini?”
“House of Wax? Dimana itu? aku baru tahu”, ucap Ryosuke penuh keheranan.
“Apakah semacam tempat hiburan baru?”, timpal Yuto.
“Sepertinya, itu tempat yang aneh. Lihat saja namanya, House of Wax. Artinya ‘Rumah Lilin’”, sahut Keito.
Ah... aku mengerti sekarang. Bau yang kucium dari surat itu. Itu seperti bau lilin yang sedang dibakar.
“Siapa yang mengirimnya Yuri?”, tanya Ryosuke.
Aku menyerahkan amplop merah itu padanya. “Aku tidak tahu, tiba-tiba saja amplop itu ada di lokerku”
“Mencurigakan”, Yuto langsung menunjukkan ekspresinya yang serius. “Tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke ruangan ini dengan seenaknya. Hanya para staf dan kita saja yang boleh masuk”
“Apa mungkin salah satu member BEST? Mereka juga bisa masuk kesini kan?”, timpal Keito.
Aku menggeleng. “Aku tadi bertemu Hikaru, dia bilang semua member BEST punya acara sendiri hari ini. Hikaru kemari hanya memberitahukan hal itu pada pelatih”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan Yuri? Kau ingin pergi kesana?”, tanya Ryosuke.
Aku mengangguk mantap. Rasa keingintahuanku memang sangat tinggi. Aku penasaran bagaimana tempat yang dijuluki House of Wax itu. Aku penasaran dengan siapa yang mengirim surat itu. terlebih lagi, aku juga penasaran apa maksud si pengirim mengirim surat ini padaku. Kurasa aku bisa menemukan jawabannya disana. Di House of Wax itu.
---***---
Mobil yang kutumpangi ini telah berhenti di sebuah rumah bergaya eropa kuno di sebuah wilayah perbukitan yang sepi. Lampu depan rumah ini yang menyala begitu terang membuat kami dengan mudah menemukannya.
“Kowaii... Yappari... aku pulang saja ya?”, Keito yang duduk di kursi belakang langsung meringkuk ketakutan.
“Eh??? Kenapa? Kita sudah susah-susah kemari... nanggung... apalagi aku mungkin bisa mendapat foto yang bagus disini”, Yuto menyiapkan kameranya lalu memotret Keito sambil mencoba kameranya itu.
“Kau yakin mau masuk Yuri?”
Aku mengangguk mantap. Aku bisa melihat pancaran ketakutan dari bola mata Ryosuke. Meskipun saat ini Ryosuke terlihat keren dan tenang, tapi sebenarnya Ryosuke paling penakut diantara kami. Bahkan dia sama takutnya dengan Keito. bedanya, Keito lebih jujur mengakui kalau dia takut sedangkan Ryosuke akan bersikap jaim dan menyembunyikan ketakutannya.
Aku memang tidak sendirian. Teman-temanku berbaik hati mengantarku pergi. Awalnya Cuma Ryosuke yang kuajak, karena aku butuh supir dalam perjalanan. Tapi, Yuto kemudian meminta ikut, karena dia bilang mungkin akan terjadi sesuatu yang menarik. Keito sudah pulang saat kami bertiga memutuskan untuk pergi, tapi sialnya, dia bertemu kami di jalanan dan Keito pun ‘dipaksa’ ikut oleh Yuto. Akhirnya, kami berempat pun pergi bersama.
“Yappari... aku tidak ikut masuk. Aku tunggu di mobil saja ya?”, Keito melangkah mundur saat kami semua kini telah berada di depan pintu masuk.
“Keito...”, Yuto menatap Keito dengan ‘puppy eyes’nya, tapi Keito tetap tidak bergeming. Dia pun langsung menuju mobil dan duduk di dalamnya. Kami bertiga hanya menghela nafas panjang dan menyerah untuk mengajak Keito lagi.
Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ryosuke kemudian menemukan bel rumah dan memencetnya, tapi tidak ada jawaban. Ketika berkali-kali kami tidak mendapat respon, kami akhirnya menyerah. Kami bertiga pun membalikkan badan dan segera angkat kaki dari rumah itu.
Krieet....
Aku terkejut. Pintu rumah itu kini sedikit terbuka. Kami bertiga saling berpandangan. Ryosuke menggenggam erat tanganku, dia sedikit gemetaran, kuduga dia mulai ketakutan. Dia pasti mengira ada hantu atau arwah yang akan muncul. Aku menelan ludah dan melangkahkan kakiku ke arah pintu dan membukanya. Kosong. Tidak ada apapun. Dengan mantap aku melangkah masuk ke dalam. Ryosuke mengikutiku sambil terus menggenggam tanganku. Sedangkan Yuto mulai menyiapkan kameranya dan bersiap untuk memotret.
“Yuri... kau yakin?”, bisik Ryosuke.
Aku tidak mengindahkan Ryosuke dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Sugoi!!!!”
Yuto menatap kagum saat melihat isi rumah yang kami masuki. Aku pun juga sama tercengangnya dengan Yuto. Rumah itu benar-benar mengangumkan. Benar-benar menggambarkan rumah jaman eropa. Bahkan semua furniturenya benar-benar furniture dari barat.
“Hei, ini dari lilin!”, ucap Yuto saat menyentuh sofa yang ada di depannya.
“Hontou da...”, Ryosuke berjalan maju untuk memastikan ucapan Yuto. Aku pun ikut menyentuh sofa itu, dan benar. Sofa itu dari lilin!
“Hei... jangan bilang semua yang ada di rumah ini terbuat dari lilin?”
Aku dan Ryosuke berpandangan. Kami bertiga lalu mengecek satu persatu perabotan yang ada di rumah itu. Dan semuanya sesuai dengan ucapan Yuto. Semuanya terbuat dari lilin. Bahkan lantai dan dindingnya pun terbuat dari lilin. Hanya ada beberapa benda yang tidak terbuat dari lilin, seperti lampu dan saklarnya.
Yuto kemudian asyik memotret rumah itu dengan kameranya. Berkali-kali dia mengucapkan kata ‘sugoi’. Sepertinya dia menikmati suasana aneh di rumah itu. Berbeda dengan Ryosuke yang menunjukkan ekspresi serius dan sesekali ketakutan saat dia mendengar suara angin atau suara sesuatu.
“Yuri, dimana orang itu?”
Aku menoleh heran ke arah Ryosuke, siapa yang dimaksud olehnya?
“Orang itu. Orang yang mengirim surat padamu. Dia mengundangmu ke rumahnya. Tapi semenjak kita masuk, tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan kita”
Aku terkesiap. Benar kata Ryosuke. Tujuanku datang kemari karena ingin bertemu dengan si pengirim surat. Dia mengundangku ke rumahnya karena dia ingin memberikan sesuatu padaku sebagai hadiah. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan, rasanya tulisan tangan itu tidak asing olehku, tapi aku tidak bisa mengingat itu tulisan tangan siapa.
“Mungkin dia malu karena kita datang beramai-ramai? Dia kan hanya mengundang Chinen, tapi ternyata kita semua datang kemari”, sahut Yuto sambil terus memotret objek yang ada di rumah ini.
BLUP. Tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap. Aku sontak mengulurkan tanganku, mencari seseorang yang berada dekat denganku. Tanganku menyentuh tubuh seseorang, tidak lama kemudian aku mendengar suara teriakan yang sangat kukenal.
“Ryosuke... ini aku”
Ryosuke langsung berhenti berteriak dan menggenggam tanganku. “Yu...ri...?”
“Iya, ini aku. Jadi berhentilah berteriak”, aku bisa mendengar desahan nafas lega dari Ryosuke. “Yuto!!! Kau dimana???”, aku berteriak memanggil Yuto.
Hening. Tidak ada jawaban dari Yuto.
---***---
Author POV
5 menit sebelum mati lampu
“Uhh... kenapa Chinen mau kesini sih? Kenapa dia mau pergi menemui orang yang mencurigakan? Sudah jelas kalau surat itu mencurigakan. Kenapa dia masih mau datang kemari?”
Keito yang ditinggal sendirian di mobil terus menggumam menggerutu. Dia terus mempertanyakan soal alasan Chinen datang kemari.
Tok. Tok. Tok.
Keito terkejut ketika ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya. Sesaat Keito ingin berteriak sekencang mungkin tapi niatnya diurungkan ketika dia melihat wajah orang yang mengetuk pintunya.
“Kau... kenapa ada disini?”
---***---
“Yuto!!! Jawablah! Kau ada dimana?”
Kali ini giliran Ryosuke yang berteriak. Dan hasilnya pun sama. Tidak ada jawaban dari Yuto. Aku pun mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
“Yuti!!! Keluarlah! Ini tidak lucu, Yuti!!!”
Aku berteriak lagi dan sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari Yuto. Berbekal senter dari kamera hpku, aku mulai melangkah maju ke depan, ke posisi dimana sekiranya terakhir aku melihat Yuto berdiri. Ryosuke menahanku, tapi aku memaksanya untuk melangkah maju bersama denganku.
BRUK. Kakiku seperti menabrak sesuatu. Kuarahkan senterku ke bawah. Kamera Yuto tergeletak tepat di dekat kakiku.
“Ini... kamera punya Yuto kan? Kenapa ada disini?”, tanya Ryosuke.
“Entahlah. Tapi itu artinya Yuto ada disini tadi, sekarang dimana dia?”, aku mengarahkan senterku ke sekeliling ruangan. Sepanjang jangkauan senterku, aku tidak melihat sosok Yuto.
“Jangan-jangan... Yuto dibawa oleh hantu?”, Ryosuke mulai bergidik ketakutan. Ekspresi mukanya saat ini benar-benar takut. Dalam hati aku ingin tertawa karena ekspresi Ryosuke saat ini sungguh lucu.
“BAKA! Tidak ada hantu di rumah ini!”, aku menjitak kepala Ryosuke dan mulai berjalan meninggalkannya. Aku memfokuskan mataku untuk mencari Yuto. Aku mulai merasa aneh. tidak mungkin Yuto pergi begitu saja meninggalkan kameranya. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat Yuto harus pergi meninggalkan kameranya.
“Ryosuke, sebaiknya kita keluar dari rumah ini dan meminta Keito untuk membantu kita”
“Ryosuke?”, aku membalikkan badanku karena tidak ada jawaban dari Ryosuke. Aku mengarahkan senter ke arah Ryosuke berdiri tadi.
Aku mulai merinding ketakutan ketika sosok Ryosuke tidak ada disana. Ryosuke hilang! Dengan panik, aku mulai mengarahkan senterku ke segala arah. Sosok Ryosuke tidak bisa kutemukan dimanapun.
“RYOSUKE!!! YUTI!!! KELUARLAH! KALAU KALIAN INGIN MENGERJAIKU, INI TIDAK LUCU!!!”
Hening. Hanya terdengar suara angin yang berhembus secara semilir. Aku mulai panik. Segera kulangkahkan kakiku keluar, menuju ke mobil, dimana Keito berada.
“KEITO! TOLONG AKU! YUTO DAN RYOSUKE HILANG! BANTU AKU MENCARI MEREKA, KEI---“
Aku berhenti saat melihat pintu belakang mobil yang terbuka. Pelan-pelan kudekati bagian belakang mobil. Seketika aku langsung lemas saat melihat kondisi mobil yang kosong. Keito juga hilang. Semua temanku telah hilang!
“Minna... tasukete...”, isakku.
Aku melihat ke arah senter hpku. Aku kemudian tersadar. Aku lalu menghubungi hp tiga orang itu dan sesuai yang kuduga, tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat teleponku. Bahkan hp milik Keito tertinggal di bangku belakang mobil.
Segera aku menghubungi seseorang melalui hpku. Berharap ada orang yang mau membantuku menolong menemukan mereka semua.
“Dai-chan... ayo diangkat....”
Aku putus asa saat Daiki sama sekali tidak mengangkat hpnya. Kucoba menghubungi Hikaru dan hasilnya sama. Aku mencoba mengirim sms pada Yabu, berharap dia membaca dan segera kemari. Aku tidak menelepon Inoo karena aku tidak tahu nomor hp mereka.
“Yuyan... kumohon... angkatlah...”
Yuya adalah nomor terakhir yang bisa kuhubungi. Aku hampir putus asa sekali lagi ketika Yuya lama tidak menjawab teleponku, tapi kemudian...
“Halo? Chii? Ada apa?”
Aku tersenyum cerah saat mendengar suara Yuya dari seberang telepon.
“Yuyan!! Bisakah kau segera kemari? Yuto, Ryosuke, dan Keito telah hilang! Aku sendi---“
BRUKH.
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Seseorang telah memukulku dari belakang. Kepalaku langsung terasa sakit. Mataku berkunang-kunang. Sesaat sebelum pingsan, aku sempat mendengar suara seseorang di telingaku. Suara yang sering kudengar.
“Otanjoubi omedetou... Chinen Yuri...”
END?
Ada lanjutannya kok... ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar