Kamis, 12 November 2015

TEN KNIGHTS

PART 46

“Keito... aku ada disini”, Yuto memegang tangan Keito yang masih meraba-raba.

Keito menoleh ke arah Yuto, “Dimana? Aku tidak bisa melihatmu Yuto....”.

Yuto memegang kepala Keito dengan kedua tangannya, menatap lurus kedua mata Keito yang terbuka, “aku tepat di depanmu Keito. Wajahku sedekat ini, apakah kau masih tidak bisa melihatku?”.

Keito menggeleng, “aku tidak bisa. Aku sudah membuka mataku, tapi aku hanya bisa melihat kegelapan saja”.

Yuto menoleh ke arah Ryuusei. Wajah Yuto penuh dengan rasa amarah, “apa yang kau lakukan pada Keito?”, geram Yuto.

“Tidak ada. Aku hanya mengambil penglihatannya saja. Aku membuat matanya tidak bisa melihat cahaya lagi. Hanya kegelapan saja yang kini bisa dilihat olehnya”, jawab Ryuusei sambil tersenyum.

“Kauu.... kembalikan mata Keito seperti semula!”, seru Yuto. Dia kemudian menyerang Ryuusei dengan membabi buta. Yuto mengarahkan pukulannya tepat ke arah Ryuusei, tapi Ryuusei bisa mengelaknya dengan menjadi bayangan.

“AAA!!!!!!”, jerit Keito. Yuto menoleh ke arah Keito. Dia melihat Keito yang tampak sedang diserang oleh musuh. Karena dia tidak bisa melihat, dia tidak tahu dari mana musuh menyerang dan tidak bisa menyerang balik. Yuto bergegas kembali ke tempat Keito agar dia bisa membantu Keito melawan musuh.

“Eits, kau mau kemana? Bukankah kau masih ada urusan denganku?”, Ryuusei tiba-tiba muncul di hadapan Yuto dan menyerangnya. Serangan Ryuusei berhasil mengenai Yuto. Yuto langsung mundur beberapa langkah akibat serangan Ryuusei tersebut.

“ARRGHHHH!!!!”, jerit Keito lagi. Yuto kembali melihat Keito yang kini telah menjadi sasaran empuk bagi para makhluk kegelapan. Mereka semua menyerang Keito yang tidak bisa balas menyerang.

Yuto melihat ke arah teman-temannya yang lain, masing-masing dari mereka sibuk melawan musuh. Yabu dan Inoo tampak dengan sekuat tenaga melawan King. Pertarungan mereka tampak sangat tidak imbang. Berkali-kali King menyerang keduanya dengan cepat sehingga tidak ada waktu bagi Yabu dan Inoon untuk membalas. Dia kemudian melihat ke arah Chinen yang tampak sibuk melawan Queen, dan Yamada yang juga masih tampak sibuk melawan para makhluk kegelapan tingkat menengah. Dia bingung harus berbuat apa. Keito sangat butuh bantuan, apalagi dengan kondisinya yang seperti itu.

“Keito! Bisakah kau bertahan sebentar lagi? aku akan menyelesaikan urusanku dulu disini. Setelah itu aku janji akan menolongmu!”, seru Yuto.
Keito yang kini sedang terkapar, berusaha untuk menggerakkan badannya, “Tenang saja Yuto. Aku masih bisa bertahan. Kau hadapi saja lawan yang ada di hadapanmu. Tidak usah khawatirkan aku”.

“Baiklah”, Yuto berusaha bangkit lagi, “Aku akan segera mengalahkanmu”, tunjuk Keito pada Ryuusei yang berdiri di hadapannya. Ryuusei hanya tersenyum tipis. Yuto kini kembali bergerak maju untuk menyerang Ryuusei.

Di tempat lain

Daiki masih terus memeluk Fuka. Fuka berkali-kali meronta untuk melepaskan pelukan Daiki, tapi Daiki terus memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya apapun yang terjadi. fuka mengeluarkan serbuk racun dari tubuhnya untuk menyerang Daiki, tapi serbuk racun itu malah masuk ke dalam tubuh Daiki.

“Fuka.... aku tahu kalau kau benci padaku setelah apa yang kulakukan pada ayah dan ibu. Tapi, apapun yang terjadi, saat ini aku tidak boleh mati. Aku masih memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kalian membangkitkan sang necromancer. Karenaku, dunia ini akan mengalami bencana. Aku tidak ingin dunia ini hancur. Karena di dunia inilah tempat tinggal kita, tempat kenangan kita”, ucap Daiki.

“Aku benci kau! Kakak telah membunuh ayah dan ibu! Jikalau kakak tidak ada, ayah dan ibu pasti masih hidup!”, seru Fuka sambil terus berusaha untuk melepaskan diri.

“Aku tahu. Aku juga sangat menyesali hal itu. berkali-kali aku berpikir untuk mati. Aku selalu berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau aku tidak ada. Jika aku tidak ada, ayah dan ibu tidak akan mati, kau tidak akan menjadi sekutu makhluk kegelapan, dan yang lebih penting segel itu tidak akan terbuka. Tapi, kita tidak bisa merubah takdir. Yang sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi. Maka dari itu, aku akan terus hidup untuk menghentikan kalian sebagai balasannya”.

“Lepaskan aku!!!”, teriak Fuka sambil terus meronta. Dia mengeluarkan serbuk racun dalam jumlah besar. Serbuk racun itu mengelilingi Fuka dan Daiki sehingga mereka berdua tidak kelihatan. Yuya dan Hikaru yang hanya bisa melihat dari kejauhan, berharap agar tidak terjadi sesuatu pada Daiki. Bagaimanapun, keadaan ini sangat berbahaya bagi mereka berdua jika mereka berusaha untuk mendekat.

Serbuk racun yang mengelilingi Daiki dan Fuka makin lama makin berkurang, sehingga Hikaru dan Yuya bisa melihat mereka lagi. Serbuk racun itu perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh Daiki seakan-akan Daiki menghisap serbuk racun tersebut. Fuka yang telah kehilangan kemampuannya, akhirnya menyandarkan tubuhnya di pelukan Daiki.

“Maafkan aku Fuu, apapun yang terjadi, aku tetaplah kakakmu”, bisik Daiki. Dia kemudian membaringkan Fuka dengan perlahan-lahan, setelah itu dia berjalan kembali menuju Hikaru dan Yuya. Dia melemparkan sebuah senyum pada mereka berdua.

“Daichan! Awas!”, seru Yuya memperingatkan. Daiki kembali menoleh ke belakang. Dia melihat Fuka yang terkapar kembali bangkit berdiri. Tidak hanya itu, Daiki merasa ada yang berbeda dengan Fuka. Aura kegelapan yang sangat gelap menyelimuti tubuh Fuka.

“Ahh.... tidak kusangka, kau masih memiliki kemampuan seperti itu”, ucap Fuka. Suaranya berbeda dengan suara Fuka yang biasanya. Suara ini jauh lebih berat dan terdengar agak serak.

“Siapa kau? Kau bukan Fuu yang kukenal”, tanya Daiki yang mengenal baik suara adiknya itu.

“Bagaimana bisa kau tidak mengenalku? Aku sudah lama berdiam di tubuh adikmu, berkatku dia bisa memiliki kekuatan yang diinginkannya untuk membunuhmu”, kata Fuka lagi. Pandangan matanya jauh lebih menusuk dari sebelumnya.

“Dia... dialah Jack yang sesungguhnya. Maou yang merasuki tubuh Fuu”, ucap Hikaru.

********
“YURI!”, seruku saat melihat Chinen yang terpental akibat serangan Queen. Gerakan Queen yang sangat cepat membuat Chinen kewalahan menghadapinya. Belum sempat Chinen bersiap untuk melawan, Queen sudah melancarkan serangan padanya. Bahkan tanpa kusadari, Queen selalu sudah berada di dekat Chinen dan menyerangnya.

“Ryo....chan....”, gumam Chinen sambil melihatku. Pandangan matanya sayu. Aku bisa melihat wajahnya yang imut itu penuh dengan luka memar dan lebam. Chinen terbatuk-batuk dan dari mulutnya aku bisa melihat sedikit darah yang keluar. Aku menduga organ dalam tubuhnya terluka, atau mungkin ada beberapa tulangnya yang patah. Aku segera berlari menghampiri Chinen.

“Yuri..... kau baik-baik saja? bertahanlah, akan kupulihkan tubuhmu”, aku segera menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkan luka di tubuh Chinen. Chinen hanya bisa mengangguk pasrah. Aku bisa melihat kalau luka yang dialaminya cukup serius.

Akibat kemampuanku, kini luka Chinen semakin membaik. Memar dan luka di tubuhnya sudah berkurang. Raut wajahnya juga sudah kembali seperti semula. Chinen berusaha bangkit kembali. “Apa yang kau lakukan? Jangan bergerak dulu. Biar aku saja yang melawan dia”, aku berusaha mencegah Chinen yang tampaknya ingin bertarung lagi.

Chinen menggeleng, “aku masih bisa bertarung kok Ryochan. Dan lagipula, kau tidak bisa melawan dia kan? Kau tidak bisa melawan Queen karena bagaimanapun dia itu perempuan. Aku tahu kok. Waktu pertama kali kita bertarung dengannya, kau tampak ragu menyerangnya karena dia seorang perempuan”. Aku terkejut mendengar perkataan Chinen. Bagaimana dia bisa tahu?

“Tapi....”, aku ragu membiarkan Chinen bertarung lagi. Chinen selalu saja maju bertarung melawan musuh yang lebih kuat. Dia selalu melindungiku.

“Serahkan padaku. Tadi sudah kuberitahu kan? Biarkan aku saja yang menghadapi Queen, kalian jangan ada yang ikut campur”. Chinen menatap mataku, “Ryochan, aku pasti baik-baik saja. aku tidak mungkin kalah. Coba lihat teman-teman kita yang lain, mereka juga sedang bertarung dengan sekuat tenaga. aku juga yakin kalau saat ini Daichan, Yuya, dan Hika juga sedang bertarung sekuat tenaga kita. Kalau kau ingin membantuku, bantulah aku dengan cara membasmi makhluk kegelapan itu sehingga tidak ada lagi yang menghalangiku saat bertarung melawannya”.  Chinen menggenggam tanganku dengan erat. Aku bisa melihat pancaran matanya yang penuh dengan keyakinan.

“Baiklah. Aku akan membasmi makhluk kegelapan sebanyak mungkin. Aku akan memastikan bahwa tidak ada satupun yang mengganggu kalian”.

“Terima kasih Ryochan”, Chinen tersenyum riang padaku.

“Kau punya ide untuk melawannya?”, tanyaku lagi.

“Ada. Tapi waktuku Cuma sedikit. Paling lama mungkin 30 menit. Aku akan meniru kemampuan si Queen itu. Selama itu, aku akan terus berusaha menyerangnya dengan sekuat tenaga”, aku bisa merasakan energi yang cukup besar keluar dari tubuhnya. Dia kemudian bergerak maju , kecepatannya meningkat cukup tajam. Bahkan kini Chinen bisa bertarung seimbang melawan Queen.

“Berjuanglah Yuri”, gumamku. Aku kemudian memusatkan konsentrasiku untuk bertarung dengan musuh yang ada di hadapanku.

*******
Yabu dan Inoo kini sibuk bertarung melawan King. Mereka terus melancarkan serangan ke arah King. Tapi semua serangan itu berhasil dibelokkan oleh King dan tidak ada satupun serangan yang berhasil mengenai tubuhnya. Seperti yang pernah diceritakan oleh Jin, kemampuan King cukup hebat. Kemampuan yang bisa membelokkan semua serangan. Hampir sama dengan milik Yuya.

Yabu membuat sebuah tombak dari air yang dikendalikannya, dia melemparkan tombak itu ke arah King. Tombak itu kemudian berbelok arah sebelum mendekat ke tubuh King. Kini tombak itu menuju ke arah Inoo.

“Kei!!”, Yabu segera berlari ke arah Inoo. Dia menarik Inoo untuk menghindar dari serangan tombak itu. Untunglah, Yabu bisa segera menolong Inoo.
“Kei, kau tidak apa-apa?”.

“Aku tidak apa-apa. Tadi itu aku sangat kaget. Untunglah kau segera menyelamatkanku”.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau tombak yang kulemparkan itu bisa berbelok padamu”, ucap Yabu. Mukanya terlihat sedikit murung.

“Aku tidak apa-apa kok. Aku tidak terluka kan? Dengan begini kita bisa tahu kalau lebih baik kita tidak menyerangnya dengan cara melemparkan serangan padanya, karena serangan itu bisa berbalik mengenai kita”, ucap Inoo sambil berusaha menenangkan Yabu. Dia tahu kalau Yabu merasa bersalah padanya karena tombak yang dilemparnya hampir saja mengenai dirinya.

“Kalau begitu, bagaimana kita bisa melawannya? Master dan Jin saja kewalahan menghadapinya. Serangan apapun tidak mempan melawannya, dan dia bisa membalikkan serangan lawan sehingga kita tidak bisa gegabah melawannya”.

“Lakukan saja yang bisa kita lakukan. Kita masih bisa menghadapinya dengan serangan langsung kan? Bertarung dengan pedang kurasa bukan ide yang terlalu buruk”.

“Ya. Kita tidak boleh menyerah disini. Perjuangan kita belum selesai, kalau kita menyerah, maka semuanya akan berakhir”, Yabu kini bangkit kembali. Kepercayaan dirinya kembali pulih berkat perkataan Inoo.

“Kalian memang benar-benar keras kepala. Bukankah kalian tahu kalau semua serangan kalian tidak akan mempan melawanku?”, kata King.

“Memang. Tapi, pasti ada jalan untuk mengalahkanmu. Selagi kami mencari tahu bagaimana caranya untuk mengalahkanmu, kami akan terus melawanmu”, ucap Yabu.

“Ya. Kami tidak akan menyerah sampai disini”, tambah Inoo.

“Dasar keras kepala”, ucap King. Dia mengarahkan kedua tangannya ke arah Yabu dan Inoo. Sesuatu yang berwarna hitam keluar dari tangannya dan mengarah ke Yabu dan Inoo, sama seperti sebelumnya.

“ARGGHHHHH!!!!!!!!!!!!”, jerit Yabu dan Inoo. Mereka berdua tampak sangat kesakitan.

“Rasakanlah. Akan kubuat kalian terus merasa sakit dan menderita hingga waktu kematian kalian”.

Di atas, Daiki dkk.

“Jack? Apa maksudmu Hika?”, tanya Yuya.

“Kau ingat? Fuka dirasuki oleh salah satu maou, dialah Jack. Saat ini, Fuka sama sekali tidak sadar akibat pertarungannya dengan Daiki sehingga Jack yang ada di dalam tubuhnya mengambil alih tubuh Fuka”, jawab Hikaru. “Coba lihat itu. Aura kegelapan terasa sangat kuat di sekitar tubuh Fuu. Suaranya juga berubah, pandangan matanya jauh lebih menusuk, bahkan aku bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kuat dari sini”.

Daiki yang berdiri tepat di hadapan Jack, berusaha mengumpulkan serbuk racun yang keluar dari tubuhnya di kedua tangannya. Kini kedua tangan Daiki tampak seperti sedang diselimuti sesuatu. “Keluar dari tubuh Fuu sekarang juga! Gara-gara kau, Fuu jadi seperti itu!”, seru Daiki.

“Kok bisa gara-gara aku? Penyebab awalnya kan kau sendiri. Kaulah yang telah membunuh ayah dan ibu kandungmu, yang tidak lain juga orangtua anak ini kan?”, kata Jack sambil menunjuk tubuhnya sendiri. Daiki hanya bisa terdiam mendengar perkataan Jack. Dia tidak bisa membantah pernyataan itu.

“Daichan!”, seru Hikaru sambil menarik tubuh Daiki ke belakang. Rupanya Jack menyerang Daiki di saat Daiki lengah dan tidak memperhatikannya. Hikaru segera melemparkan tubuh Daiki ke belakang. Dengan sigap, Yuya berhasil menangkap Daiki, sedangkan Hikaru terlempar jauh ke samping dan membentur tembok.

“Uuhh....”, rintih Hikaru sambil memegang tangannya.

“Hika! kau tidak apa-apa?”, seru Daiki setelah dia sadar.

Tiba-tiba lantai mulai bergetar lagi. Tembok di sekitar mereka pun runtuh. Gempa dahsyat terjadi lagi. Kali ini, gempa ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Lantai yang mereka pijaki mulai retak. Retakannya semakin lebar.

“AAA!!!!!”, Daiki, Yuya, dan Hikaru jatuh kebawah karena lantai yang mereka pijaki sudah hancur akibat gempa tersebut. Rupanya lantai itu sudah tidak kuat bertahan akibat gempa yang terjadi.

BRUK! Terdengar suara seperti sesuatu yang jatuh.

“Urgh.... sakit...”, rintih Daiki. Dia kemudian melihat ke sekelilingnya. Tampaknya kini dia berada di sebuah ruangan yang cukup besar, tapi dia tidak bisa melihat dengan cukup jelas karena kondisi ruangan itu yang cukup gelap. “dimana ini? Yuya? Hika? kalian dimana?”, tanya Daiki sambil meraba-raba.

Mata Daiki kini melihat ada sesuatu yang bercahaya. Sebuah sinar kecil putih yang tadi dilihat olehnya. Sinar itu semakin mendekat ke arah Daiki. Sinar itu semakin terang dan semakin besar. Kini sinar putih itu berwujud seperti seorang manusia. Perlahan, Daiki bisa melihat ada sesosok wanita yang berdiri di hadapannya. Sosok wanita itu bercahaya.

“Siapa kau?”, tanya Daiki pada wanita itu. Entah kenapa, dia merasa kalau wanita itu sama sekali tidak berbahaya. Daiki yakin kalau sosok yang ada di hadapannya itu bukanlah musuh. Daiki merasa kalau dia pernah melihat wajah wanita itu.

“Salam kenal Daiki. Perkenalkan, aku adalah Sang Sorcerer”, ucap wanita itu.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar