Selasa, 19 Mei 2015

CHANGE

Cast : Yamada Ryosuke, Okamoto Keito
Genre : Romance

Ryosuke, bisakah kita bertemu besok? Ada yang ingin kubicarakan

Aku membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke Hpku. Sebuah SMS yang dikirim oleh pacarku, Keito. Aku sedikit heran saat menerima SMS darinya. Keito bukanlah anak yangsuka mengirim SMS. Biasanya akulah yang mengirimnya SMS atau meneleponnya terlebih dahulu.

Okamoto Keito,itulah nama lengkap pacarku. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Kami berdua pernah bertetangga dan satu sekolah saat SD. Awalnya, aku tidak terlalu akrab dengan Keito. Keito adalah tipe anak yang pemurung dan pendiam. Aku tidak pernah melihatnya tertawa terbahak-bahak maupun melihatnya berlarian dengan riang. Kupikir Keito adalah anak yang biasa saja dan tidak menarik bagiku.

Karena suatu hal, aku mendapatkan kesempatan untuk dekat dengannya. Selama kami duduk di bangku SMP, aku dan dia selalu sekelas. Perlahan, aku mulai mengenalnya. Sebagai teman yang berasal dari SD yang sama, tempat tinggal kami yang cukup dekat, dan juga teman sekelas yang selalu bersama selama 3 tahun. Membuatku perlahan dekat dengannya, dan tanpa kusadari aku mulai jatuh cinta padanya. Pada waktu kami kelas 2 SMP, kami berdua mulai berpacaran.

Keito memang bukanlah anak yang cantik dan populer. Bisa dibilang dia adalah anak yang biasa saja. Tapi, Keito adalah anak yang baik dan peduli dengan orang lain. Jadi, meskipun Keito adalah anak yang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi orang lain akan selalu mengajaknya bicara karena sifatnya yang peduli dengan orang lain. Karena sifatnya itulah aku juga mulai tertarik padanya.

Selama duduk dibangku SMP, kami berdua selalu bersama. Kehadiran Keito di sampingku sudah menjadi hal yang sangat biasa. Dimana ada Keito, disitu pasti ada aku. Aku bahkan tidak memberikan kesempatan cowok lain untuk dekat dengan Keito. Aku bagaikan anjing penjaga yang setia menjaga tuannya dan tidak akan membiarkan orang lain menyakiti tuanku.

Kedekatan kami berubah saat duduk di bangku SMA. Sebelum kelulusan, Keito memberitahuku kalau dia akan pindah rumah. Kami tidak bisa lagi bersama di bangku SMA. Keito menangis saat memberitahuku mengenai kepindahannya. Dia bahkan berkata tidak ingin ikut pindah agar tidak berpisah denganku. Aku juga sama. Aku tidak ingin membiarkan Keito pergi. Seandainya aku bisa, aku ingin mengikat dan mengurung Keito agar tidak berpisah denganku. Tapi, aku tidak boleh egois. Aku berusaha bersikap dewasa dengan mengatakan kalau lebih baik dia tetap ikut dengan kedua orangtuanya. Bagaimanapun, Keito dan aku masih belum dewasa. Kami berdua masih belum bisa apa-apa tanpa bantuan orangtua.

Aku membaca sekali lagi isi SMS yang baru saja kuterima. Keito pasti ingin berbicara suatu hal yang penting. Anak yang tidak suka mengirim SMS dan telepon ini pasti ingin berbicara hal yang penting padaku sampai-sampai dia mengirimiku SMS duluan.

Sekilas, aku sepertinya tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Keito. Aku sudah menduga kalau hal ini akan datang cepat atau lambat. Sejak aku memiliki perasaan lain pada Yuri, aku tahu kalau Keito akan mengetahui hal ini dan cepat atau lambat akan menanyakan hal ini padaku.

Yuri, itulah nama perempuan lain yang kini sedang menarik perhatianku. Aku mengenalnya baru beberapa bulan ini, tapi entah kenapa aku mulai tertarik padanya. Sifatnya yang periang dan mudah bergaul sangat bertolak belakang dengan Keito. Lambat laun aku mulai dekat dengan Yuri. Bahkan bisa dibilang kalau kedekatan kami melebihi kedekatan teman biasa. Aku tahu kalau hal yang kulakukan ini adalah salah.Tapi, aku tidak bisa menghentikannya. Ada sesuatu yang lain yang kurasakan saat bersama dengan Yuri yang tidak bisa kudapatkan saat bersama dengan Keito.

“Makanya sudah kubilang kan. Jauhi Yuri. Kau tertarik padanya karena kau tidak pernah bertemu dengan tipe cewek seperti Yuri sebelumnya. Dalam hidupmu, kau hanya mengenal Keito”

Ucapan Yabu yang dulu kembali terngiang di kepalaku. Tapi, aku sama sekali tidak mengindahkan saran Yabu. Seperti medan magnet yang saling menarik satu sama lain, aku malah semakin dekat dengan Yuri. Pernah sekali aku mencoba menjauhi Yuri dan memberikan perhatianku pada Keito, tapi tetap tidak bisa. Semakin keras aku berusaha menjauhi Yuri, semakin dalam rasa ketertarikanku padanya. Semakin besar pula rasa bersalahku pada Keito.

Aku memandangi Hpku. Kubuka memori pesanku. Hanya ada satu nama yang terus mengisi memori pesanku. Chinen Yuri. Hampir setiap hari kami saling berkirim pesan. Bahkan sesekali kami saling bertukar sapa melalui telepon. Aku bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya aku menghubungi Keito. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mengirim pesan padanya.

Wallpaper Hpku pun kini telah berganti. Yang dulunya foto Keito menghiasi layar Hpku, kini telah kuganti dengan foto wallpaper yang tersedia di HP. Aku membuka galeri foto milikku. Aku bahkan tidak sadar kalau foto Yuri hampir memenuhi memori Hpku. Entah itu foto bersama atau foto berdua antara aku dan Yuri. Aku mencari foto Keito, hanya satu yang kutemukan. Foto Keito saat dia tersenyum manis, foto ini sangat langka karena Keito jarang bersikap seperti ini, sehingga aku selalu menyimpannya dengan rapi.

Tidak bisa. Aku tidak bisa lagi menyakiti Keito lebih lama lagi. Perasaanku sudah berubah. Aku sudah tidak bisa lagi menyukainya dengan sepenuh hati. Perasaanku sudah berpaling. Aku akan mengatakannya pada Keito, meskipun itu akan menyakiti hatinya lebih jauh lagi. 

---***---
Keesokan harinya, sepulang sekolah. Aku menuju ke kafe kecil dekat stasiun. Kami berdua berjanji untuk bertemu disana. Langkah kakiku terasa sangat berat. Semakin dekat aku mencapai tempat tujuan, semakin berat langkah yang kurasakan. Dari jendela kafe, aku bisa melihat Keito yang sedang menungguku disana.

Aku terhenti didepan kafe. Perasaanku semakin tak tentu. Dadaku terasa ditusuk oleh berbagai jarum. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kafe dan menuju bangku di dekat jendela dimana Keito berada.

“Hai...”, sapaku ringan saat melihat Keito.

“Sudah lama ya kita tidak bertemu”, balas Keito sambil tersenyum.

Sejenak, aku tertegun saat melihat Keito. Keito yang ada di hadapanku ini berbeda dengan Keito yang kukenal dulu. Sejak kapan rambutnya menjadi panjang? Sejak kapan kulitnya terlihat semakin putih? Sejak kapan suaranya terdengar lembut seperti  itu? Sejak kapan dia mulai memakai kacamata?

“Ada apa? Kenapa kau diam saja?”

Keito membuyarkan lamunanku. Saking terkejutnya aku dengan perubahan Keito, sampai aku tidakmemperhatikannya. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku terkejut saat melihatmu menjadi semakin cantik”

Keito membalas pujianku dengan senyuman. Ah, dia manis sekali. Melihat senyumannya, dadaku terasa ditusuk oleh sesuatu. Perasaan bersalahku kembali muncul. Aku menundukkan pandanganku karena tidak sanggup melihatnya.

“Bagaimana kabarmu?”, tanyanya.

“Baik kok. Kau sendiri?”, balasku.

“Aku baik-baik saja kok”, balasnya. Aku melirik ke arah Keito. Wajahnya sama sekali tidak terlihat baik-baik saja saat menjawab pertanyaanku.
“Maafkan aku mendadak menghubungimu. Akhir-akhir ini kau terlihat sibuk, jadi aku pikir kau tidak bisa menemuiku”

“Tidak kok. Aku sama sekali tidak sibuk. Maafkan aku karena jarang menghubungimu”

“Tidak apa-apa kok. Aku bisa maklum”, katanya.

Kami berdua terlarut dalam diam. Tidak ada satupun diantara kami yang berniat memulai pembicaraan. Aku bahkan bisa mendengar bunyi detak jam tanganku saat menunggu dalam diam.

“Ryo...”, panggil Keito pelan. “Ada yang ingin kubicarakan”

Deg! Inilah saatnya. Jantungku berdetak semakin kencang. Aku menyiapkan hatiku sebelum mendengarkan ucapan Keito selanjutnya.

“Kau masih ingat apa ucapanmu sebelum aku pindah?”, tanya Keito.

Aku merenung. Mencoba mengingat kembali saat aku bertemu dengan Keito sebelum dia pindah. Saat aku merelakannya pergi.

“Tenanglah. Meskipun kita berpisah, aku akan selalu menyukaimu. Aku akan selalumemikirkanmu. Kau juga sama kan? Selama kita memiliki perasaan ini, hubungan kita pasti baik-baik saja. Aku janji”

Itulah yang kuucapkan pada Keito sebelum kita pindah. Aku menelan ludah. Janji itu sudah tidak bisa lagi kutepati. Aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama seperti waktu itu. Wajahku semakin tertunduk. Aku tidak berani menatapnya.

“Ryo, apakah perasaanmu kepadaku masih lama seperti dulu?”

Aku terdiam. Mulutku sudah membuka, tapi aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku takut mengatakannya. Padahal aku sudah bertekad untuk jujur pada Keito dan mengakhiri saja hubungan ini. Tapi, setelah melihat Keito lagi setelah sekian lama, aku mulai tidak tega. Aku tidak tega menghiasi wajah manis perempuan yang ada di hadapanku ini dengan kesedihan.

“Ryo”, Keito memanggilku lagi. kali ini kuberanikan melihat wajahnya. “Yuri itu anak yang baik kan?”

DEG! Aku terkejut saat mendengar nama Yuri disebut. Darimana Keito tahu soal Yuri? Seingatku aku tidak pernah menceritakan soal Yuri pada Keito.

“Inoo yang memberitahuku”, ucap Keito. Sepertinya dia tahu pertanyaan yang muncul dikepalaku. “Kau masih ingat Inoo? Dia teman sekelas kita dulu waktu SMP. Dia juga kini satu SMA denganmu, walau beda kelas”

Aku berusaha mengingat kembali wajah teman-temanku waktu SMP. Aku kemudian teringat dengan sosok perempuan cantik yang selalu bersama dengan Keito. inoo adalah salah satu idola di SMP kami dulu. Semua orang mengenalnya karena kecantikannya.

“Beberapa hari yang lalu, aku tanpa sengaja bertemu dengannya. Kami berdua lalu berjalan-jalan sambil mengobrol. Saat itulah dia menceritakan soal Yuri padaku. Dia bilang kalau saat ini ada seorang cewek yang sangat dekat denganmu di sekolah. Kalian juga sudah digosipkan pacaran”

Aku terdiam. Akujuga mengetahui soal gosip yang beredar itu. Aku memang sama sekali tidak membantah maupun mengelaknya. Aku dan Yuri memang dekat. Itu memang faktanya.

“Aku... terus mempercayai perkataanmu itu. Aku terus percaya bahwa perasaanmu kepadaku tidak pernah berubah. Tapi, akhir-akhir ini, kau sudah mulai jarang menghubungiku maupun mengirim pesan padaku. Aku berniat mengirimimu pesan, tapi aku takut kalau ternyata kau sangat sibuk dan aku malah mengganggumu. Hingga akhirnya aku bisa memastikannya sendiri kalau perasaanmu kini memang sudah berubah”

Aku terkejut mendengar perkataan Keito. Aku menatapnya dengan tidak percaya. Keito melihat sendiri kedekatanku dengan Yuri? Kapan?

“3 hari lalu, sekolahku hanya sampai setengah hari sehingga aku masih punya banyak waktu luang. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Lalu aku memutuskan untuk kemarimenemuimu. Aku menunggumu di kafe yang tidak jauh dari sekolahmu. Saat waktu pulang sekolah, aku melihatmu keluar. Aku bermaksud memanggilmu, tapi ......”

Kali ini giliranKeito yang diam tidak bicara. Suaranya terdengar sedikit parau saat berbicara tadi. Berkali-kali dia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Tanpa perlu dilanjutkan oleh Keito, aku sudah tahu maksud Keito. 3 hari lalu, aku memang pulang bersama dengan Yuri. Kami pulang sambil bergandengan tangan. Aku yakin, adegan inilah yang dilihat oleh Keito.

“Keito, aku...”

“Ryo, kau tahu? Aku sangat gugup saat berada di lingkungan yang baru. Tidak ada satupun yang kukenal disana. Berkali-kali aku ingin menangis karena aku tidak bisa mendapatkan teman disana. Tidak ada yang menemaniku disana. Tapi, kau selalu memberiku semangat. Aku selalu merasa bersemangat setiap kali mendengar ucapanmu. Aku yakin, kau tetap akan ada untukku walaupun kau berada jauh dariku”

Aku bisa melihat mata Keito yang mulai berkaca-kaca. ‘ah, apa yang kulakukan? Aku sudah membuatnya menangis’

“Keito, aku...minta maaf”, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.

Aku bisa melihat setitik air keluar dari mata hitamnya yang indah itu. “Minta maaf untuk apa? Maaf karena sudah tidak menyukaiku lagi? maaf karena tidak bisa menepati janjimu?”

“Semuanya. Aku tahu kalau aku sangat bersalah padamu. Aku sendiri yang berjanji padamu, tapi ternyata aku sendiri yang mengingkarinya. Maafkan aku. Kau benar, semenjak aku mengenal Yuri, perhatianku telah terbagi. Aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Aku tidak ingin menyakitimu lagi”

“Kau ingin kita putus?”, tanya Keito. suaranya benar-benar terdengar parau.

Aku mengangguk. Air mata kembali menetes dari kedua mata Keito.

“kenapa? Kenapa kau memilih dia? Kenapa bukan aku? Aku yang lebih dulu mengenalmu. Aku yang lebih dulu berpacaran denganmu. Tidak bisakah kau kembali padaku? Aku membutuhkanmu Ryosuke. Aku menyukaimu”

Aku menggeleng. “Maafkan aku Keito. Maaf. Aku bukan lelaki yang baik untukmu. Aku sudah mengingkari janji. Laki-laki sepertiku tidak pantas menyukaimu lagi. kau lebih baik bersama dengan lelaki lain yang jauh lebih baik dariku. laki-laki yang tidak akan mengkhianatimu”

Keito menunduk. Sesekali aku bisa mendengar sesenggukan dari Keito. aku tahu kalau Keito sedang menangis. Dia benar-benar menangis.

“Kau... tidak akan kembali lagi padaku meskipun aku memohon padamu?”

“Ya...”, jawabku.

Keito mengusap air matanya dengan kedua tangannya. “Kalau begitu, bisakah kau berjanji padaku sekali lagi?”. keito menatapku lurus. Aku ragu menerima permintaan Keito. “Ini permintaan yang sangat mudah kok”, ucapnya. Aku akhirnya mengangguk.

“Berjanjilah padaku kalau kita tidak akan bertemu lagi untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Lebih baik kita tidak bertemu selamanya, hingga ajal menjemput”

“Baiklah...”,ucapku pasrah. Sebenarnya aku enggan menerima permintaan Keito. sebisa mungkin aku tidak ingin putus hubungan dengannya, tapi aku bisa memaklumi permintaan Keito. aku telah menyakiti perasaannya, jadi wajar saja kalau dia tidak ingin bertemu lagi denganku.

“Kalau begitu, bisakah kau segera pergi dari sini? Kita sudah putus kan? Jadi lebih baik kau segera memenuhi janjimu untuk tidak bertemu denganku lagi”

Aku beranjak pergi keluar meninggalkan Keito yang masih duduk sendirian di meja. Sesaat sebelum aku meninggalkan kafe, aku menoleh kembali ke arah Keito. Aku tahu kalau saat ini dia sedang menangis. Punggungnya terlihat gemetaran. Sesekali aku melihatnya mengusap matanya dengan lengan jaketnya.

“Maafkan aku Keito. Semoga kau bisa menemukan orang yang lebih baik dariku. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu”, lirihku pelan.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar