Jumat, 15 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 9

“Saa....sudah cukup perkenalan dirinya. Ayo kita siap-siap sarapan. Siapa yang masak hari ini?”, tanya Hika.

“Keito, Chii, dan kau, Hika”, ucap Daiki enteng

“Hee?? Aku lagi? Tidak adakah yang lain? Gantian donk. Yuya, gantikan aku”

“Aku? Tidak mau ah. Nanti tanganku luka. Tubuh adalah aset yang penting bagi seorang model. Daichan, ayo jalan-jalan keluar sambil menunggu sarapannya jadi”, Yuya menarik tangan Daiki, lalu pergi keluar tanpa menghiraukan hika.

“Ryuu,bagaimana denganmu?”, seru Hika pada Ryuu.

“Tidak mau ah, aku capek. Yang lain saja”, Ryuu melengos ke luar ruangan. Dia ingin menuju ke kamarnya untuk beristirahat.

“Kalau begitu, aku saja yang masak menggantikanmu Hika”, Yuto mengacungkan tangan.

“Dame!! Kau adalah orang yang paling dilarang berada di dapur. Sudahlah kau pergi mengantar Yamada saja ke kamarnya dan ajak dia berkeliling”, Hika melotot kearah Yuto.

“Hee...aku juga mau mengantar Ryochan berkeliling”, rengek Chinen.

“Chii,kau bertugas menyiapkan sarapan”, Hika menarik tangan Chinen.

“Kalau begitu, aku saja yang membantumu Hika, biarkan Chii menemani Yuto dan Yama berkeliling”, Inoo menawarkan diri.

“Inoochan? Tapi kau pasti lelah setelah pulang dari misi kan? Lebih baik kau istirahat saja”, Hika menolak dengan halus tawaran Inoo.

“Tidak apa-apa, badanku tidak terlalu lelah kok. Lagian cuma menyiapkan sarapan saja”,kata Inoo bersikeras ingin membantu.

“benarkah kau tidak apa-apa? Lebih baik kau istirahat saja dulu sebentar. Mukamu tampaklelah, tidak usah memaksakan diri”, Yabu melihat inoo dengan pandangan cemas

“Aku tidak apa-apa, tidak usah berlebihan. Tidak usah khawatir. Oke?”, Inoo tersenyum lembut membelai kepala Yabu sambil menenangkan perasaan cemas cowok itu. Yabu mengganguk pelan. “Lebih baik kau istirahat saja dulu. Aku tahu kau lebih capek dari aku. Kau yang lebih bekerja keras daripada aku. Aku juga tidak mau melihatmu kelelahan. Kami semua mengandalkanmu, Kota”, Inoo berbisik ditelinga Yabu. Yabu kembali mengangguk lagi, Inoo tersenyum melihatnya.

“Baiklah, Inoo akan membantuku tapi kalau kau merasa capek, bilang ya. Dan kalian berdua, cepat antar Yamada ke kamarnya dan ajak dia berkeliling”, tunjuk Hika pada Yuto dan Chinen.

“Saa.....Yamada-kun, ayo kita pergi”, Yuto mengajakku mengikutinya.

Aku mengikuti Yuto dan Chinen yang sudah berjalan keluar. Hika, Keito dan Inoo-san pergi menuju dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Sedangkan Yabu-kun masih tertinggal di ruangan tadi, tampaknya dia sedang menelepon seseorang.

“Nah,ayo kita ‘tur keliling rumah’”, kata Chinen bersemangat. “Saa... kita mulai darimana ya??”, Chinen meletakkan tangannya di dagu, tampangnya seperti orang yang sedang berpikir keras.

“Kita tunjukkan saja dulu kamar Yamachan, biarkan dia meletakkan barangnya dikamarnya terlebih dahulu, setelah itu kita berkeliling”.

“Sasuga,Yutti!! Saa... Ryochan, ayo kesini”, Chinen melangkah riang dan meninggalkan yuto dan aku.

“Yamachan?”,tanyaku pada Yuto.

“kupikir kalau memanggilmu yamada akan terasa kaku, jadi kupanggil saja Yamachan. Chii juga memanggilmu Ryochan kan? Yah, bisa dibilang aku membuat panggilan khusus untukmu sebagai tanda kita telah ‘berteman’. Kenapa? Kau tidak suka?”, Yuto menoleh ke arahku. Aku terdiam sejenak memandangi Yuto.

“Eh, bukannya aku tidak suka. Aku Cuma kaget dipanggil ‘Yamachan’, belum ada yang memanggilku seperti itu”, jawabku. “kau boleh memanggilku ‘Yamachan’, karena kau adalah te-te-temanku”, aku tersipu saat mengatakan itu. Yuto tersenyum melihatku yang tampaknya agak salah tingkah.

“Kalau begitu, mohon bantuannya ya Ya-ma-chan”, Yuto tersenyum dan menjabat tanganku.

“Kalian berdua, kenapa diam disitu? Ayo cepat”, Chinen memanggil kami. Kami segera mempercepat langkah dan mendekati Chinen yang sudah menunggu di depan ruangan. Ruangan itu tepat berada di depan lorong kecil.

“Nah,ini kamarmu Yamachan”, yuto membuka pintu sebuah ruangan. Ruangan yang kumasuki ini tampak gelap. Yuto membuka gorden jendela di kamar tersebut dan cahaya matahari masuk menerangi kamar. Aku kaget melihat kamar yang akan kutempati ini begitu luas. “Syukurlah hari ini hari Minggu jadi kau bisa langsung tinggal bersama kami, dan kau bisa punya banyak waktu hari ini”, tambah Yuto.

“Hee,luas sekali kamar ini. Luasnya mungkin sekitar 2-3x lipatnya luas kamarku yang dulu”, aku meletakkan tasku di atas ranjang yang berukuran double size. Di dalam kamar juga terdapat lemari pakaian yang cukup besar, meja kecil disebelah tempat tidur dan ada lampu tidur di atasnya.

“Sugee na? Kamar kami semua juga berukuran seluas ini kok. Saa, ayo kita berkeliling rumah. Masih banyak tempat yang menakjubkan di rumah ini”, chinen menarikkukeluar.

“kamarku tepat di sebelah kamarmu” yuto menunjuk ke kamar yang berada di sebelah kanankamarku. “Yang di depan kamarmu itu kamarnya Chii”, tunjuk Yuto ke pintu depan yang persis di depanku.

“Kalau kau butuh apa-apa kau bisa memanggil kami”, ujar Chinen. Kami pun pergi melangkah kembali ke ruang depan tadi. Di tengah-tengah ruangan terdapat lingkaran dengan simbol 2 bintang yang saling bertumpuk.

“Ini adalah lingkaran pelindung”, Yuto menunjuk lingkaran yang berada di tengah. Disini kami membuat pelindung dan pelindung akan melapisi rumah ini. Kami melakukannya secara bergantian. Satu hari sekali kami akan membuat pelindung. Hari ini giliran Daichan yang membuatnya” jelas Yuto.

“Hmm...tadi yabu kun menjelaskan padaku secara singkat soal ini. Bagaimana cara kalian membuat pelindung?” tanyaku penuh ingin tahu.

“kau cukup mengeluarkan energi yang berada di tubuhmu, lalu bayangkan energi itu membentuk sebuah lapisan yang akan melindungimu, semakin besar lapisan pelindung itu tergantung dengan seberapa besar energi yang kau keluarkan, dan yang lebih penting kau harus punya perasaan ‘ingin melindungi’ yang sangat kuat. Kalau kau tidak punya perasaan itu, maka pelindung tidak akan bisa diciptakan”, Chinen menjelaskan padaku panjang lebar.

“lalu,bagaimana caranya mengeluarkan energi itu?”, tanyaku lagi.

“Kau membayangkan ada sesuatu di dalam tubuhmu, sesuatu itu lama-lama menjadi besar,lalu sesuatu itu akan keluar dari dalam tubuhmu, begitulah caranya” terang Yuto. “Yah, nanti kau juga akan mempelajarinya”, tambah Yuto lagi. aku menggangguk, aku ingin segera bisa melakukannya agar bisa melindungi ibuku.

“Ngomong-ngomong,ruangan yang berada di lorong sebelah sana adalah kamar Ryuu dan Keito. kamar Ryuu di sebelah kiri, sedangkan Keito di sebelah kanan”, yuto menunjuk sebuah lorong kecil yang berada tepat di sebelah tangga sayap kiri, ada 2 pintu yang terlihat dari sini. “dan disana ada 2 kamar mandi. Yang kamar mandi sebelah kiri itu ada pemandiannya, jadi kita bisa berendam bersama” Yuto menunjuk 2 ruangan yang berada di sebelah tangga sayap kanan.

“ kau juga bisa berendam bersamaku Ryochan” Chinen merangkulku.

“Dame!” Yuto menjitak kepala chinen. Chinen memegangi kepalanya yang sakit dan menjulurkan lidahnya ke arah Yuto.

“Yang disana itu dapur sekaligus ruang makan. Kita akan sarapan disitu nantinya”,Yuto menunjuk ke ruangan yang berada di sebelah kiri di bawah tangga. “Nah, ayo kita menuju ke lantai 2”. Kami pun segera menaiki tangga. Setelah sekian lama aku berjalan, aku mulai menyadari sesuatu.

“Lantai rumah ini unik sekali”, kataku mengamati lantai yang bercorak tidak karuan tapi gradasi warna yang indah membuat lantai ini begitu unik.

“Ahiya, lantai rumah ini terbuat dari batu alam asli”, jawab Yuto

“Batu?”,tanyaku.

“Yup,tidak hanya lantai, dinding rumah juga terbuat dari batu, bahkan sebagian besar properti di rumah ini terbuat dari batu”, Yuto menunjuk ke arah dinding rumah yang bercat krem itu.

“4 tahun lalu saat rumah ini direnovasi, semua bangunannya dibuat dari batu. Benda yang terbuat dari kayu dan besi disingkirkan. Bahkan properti di rumah ini dengan yang berbahan batu dan plastik. Kalaupun tidak bisa terbuat dari batu,maka kami akan melapisinya dengan plastik yang tebal. Tujuannya untuk mencegah rumah ini dari kerusakan yang lebih parah. 4 tahun lalu, Saat itu bertepatan dengan masuknya yutti ke rumah ini, karena pada saat itu dia belum bisa mengontrol kekuatannya, jadinya setiap kali dia berjalan, lantai rumah langsung retak. Bahkan barang apapun yang dipegangnya juga hancur dan bengkok. Meskipun saat ini dia sudah mampu mengontrol kekuatannya, tapi tetap saja kami berjaga-jaga”, chinen merangkul tangan Yuto dengan manja.

“waktu kekuatanku bangkit, aku tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak bermaksud merusak semuanya kok”, kilah Yuto.

“Aku tahu”, Chinen menyandarkan kepalanya di lengan Yuto.

Sesampainya di lantai 2, aku mengamati kondisi di lantai 2 dan kondisinya tidak jauh berbeda. “Di sebelah kanan ini ada kamar Yabu-kun, Inoochan dan Hika, sedangkan di sebelah kiri itu ada perpustakaan dan ruang relaksasi. Kami biasa belajar dan bermain disana”, yuto menjelaskan lagi padaku. Kami mengintip sekilas keruang perpustakaan, di dalamnya terdapat lemari buku yang cukup banyak, aku tidak bisa membayangkan berapa jumlah buku yang ada disini. Di tengah perpustakaan ada meja yang cukup panjang dan kursi yang berjajar. Di pojok ruangan terdapat deretan komputer dan mesin cetak. Setelah cukup melihat-lihat kami pun mengunjungi ruang relaksasi. Disana ada TV yang cukup besar, DVD player dan speaker yang lumayan. Ada juga gitar, piano, dan drum di ruangan itu. Tidak lupa ada meja ping pong dan bilyard disana. Setelah cukup melihat-lihat kami menuju ke lantai 3.

“disebelah sana itu kamar Yuya dan daichan”, tunjuk Yuto ke arah 2 pintu yang berada di sebelah kanan. “lantai tiga ini dikhususkan untuk Daichan, bahkan kami jarang naik kemari”. Tambah Yuto.

“kenapa?”,tanyaku heran.

“kau tahu kemampuan daichan kan?”, Chinen bertanya kepadaku.

“kalau tidak salah dia tadi bilang ‘poison’ atau ‘racun’”, jawabku.

“yup benar, tadi daichan tidak bisa menunjukkan kekuatannya padamu kan? Karena akan membahayakan kita semua. Kemampuan Daichan itu mampu mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya, bahkan dalam jarak 5 meter saja kau sudah bisa terkena racunnya. Apapun yang berada di dekat Daichan saat itu akan hancur menjadi debu. Itulah kemampuan Daichan yang sesungguhnya”, Chinen menjelaskan padaku.

“Tapi,kenapa tadi kita baik-baik saja saat satu ruangan dengan dia?”, tanyaku lagi.

“Saat ini Daichan sudah bisa mengontrolnya dengan baik, jadi dia tidak akan mengeluarkan kemampuannya itu secara sembarangan. Terlebih lagi ada Yuya disampingnya sehingga kita semua baik-baik saja”, jawab Chinen lagi.

“kenapa dengan Yuya?”, tanyaku masih tidak mengerti.

“Kau tahu kemampuannya kan? Nullification, dia mampu menetralkan serangan apapun,tidak hanya yang berada di dekatnya tapi juga yang ada di sekitarnya. Dia bisa mengeluarkan kemampuannya itu dalam lingkup yang luas, sehingga apapun yang ada di dekatnya tidak akan membahayakannya. Bahkan kemampuan kami juga tidak akan bekerja kecuali yuya sendiri yang menginginkan kemampuannya tidak akan bekerja pada kami. Karena daichan selalu berada di dekat yuya, maka kemampuan daichan tidak akan aktif sehingga akan aman bagi kita semua”, aku mengangguk mengerti.

“lalu bagaimana kalau mereka sedang tidak bersama? Waktu aku pertama kali bertemu dengannya dia sendirian kan? Kenapa aku tidak terkena racunnya?”, tanyaku lagi.

“untuk kami yang memiliki kemampuan yang tidak terkontrol, kami memakai ini”, yuto menunjukkan gelang batu berwarna hijau yang ada di lengan kanannya. “gelang ini bisa membantu kami mengontrol kekuatan kami, master yang membuatkannya. Aku dan daichan memakai gelang ini untuk membantu kami mengontrol kekuatan kami”.

“hoo...begitu”, aku mengangguk. Sedikit demi sedikit aku mulai mengetahui fakta diantara teman-teman baruku ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin ku ketahui tentang mereka, tapi aku memutuskan untuk menanyakannya nanti, aku tidak ingin terburu-buru mengetahui semuanya. Kami kembali turun ke lantai 1, aku kembali ke kamarku, aku baru ingat kalau aku tadi belum sempat mandi, kuputuskan untuk mandi terlebih dahulu dan kemudian menuju ruang makan untuk sarapan.

“bagaimana‘tur’mu tadi?  Menyenangkan?”, tanya Inoo sambil menata piring di meja. Aku menghampirinya dan menawarkan untuk membantunya menata piring dan sendok di meja. “Ya, aku sudah mengelilingi bagian dalam rumah ini dari lantai 1 hingga lantai 3, banyak sekali ruangan yang ada disini”, jawabku sambil menata piring. Aku kemudian sadar bahwa piringdan sendok ini bahkan gelas semua terbuat dari plastik.

“syukurlah kalau begitu, kuharap kau bisa betah tinggal disini”, Inoo tersenyum ke arahku.Aku terpesona sekilas saat melihat senyumannya. Wajahnya tampak sangat cantik saat dia tersenyum.

Satu persatu para ksatria mulai masuk ke ruang makan. Pertama Yabu yang diikuti oleh Ryuu, lalu Chinen dan Yuto masuk kemudian, terakhir Yuya dan Daiki masuk. Kamikemudian duduk di kursi masing-masing. Sebelum makan, yabu memimpin kami berdoa terlebih dahulu, setelah itu kami mulai melahap santapan sarapan yang ada.

“setelah ini aku, Inoo, dan Ryuu akan menuju markas untuk memberi laporan terkait misi kepada master. Hika, Chii, Yuto, dan Keito, kalian berempat akan berpatroli seperti biasanya”, ucap Yabu sambil menyeruput kopi hangat.

“Patroli? Apa itu?”, tanyaku pada Yuto yang duduk di sebelahku.

“kami berpatroli untuk mengecek adakah makhluk kegelapan yang berkeliaran. Kami berkeliling kota dengan tujuan seperti itu”, jawab Yuto.

“Daichan dan Yuya_______ “ Yabu melihat ke arah Daiki dan Yuya yang masih asyik melahap sarapan mereka. “____kalian akan mengajari Yamada bagaimana cara menggunakan kekuatannya dan ajari dia ilmu bela diri”

“Ilmu bela diri?’, tanyaku pada Yabu.

“Yup,setidaknya kau harus belajar ilmu bela diri dasar untuk bisa melindungi dan menyerang musuh. Daichan adalah ksatria yang memiliki ilmu bela diri yang paling tangguh diantara kami semua. Sedangkan Yuya akan mengajarimu bagaimana caranya menggunakan kemampuanmu dan membuat pelindung”, tambah Yabu.

“Tenang saja Yama, kami berdua pasti akan mengajarimu semuanya”, ucap Yuya sambil tersenyum. Daiki yang berada di sebelahnya juga menatapku dengan senyum yang lebar.

“Wuah, hati-hati dengan Daichan ya, biarpun begitu dia itu guru yang galak lo”, bisik Chinen. Aku mulai merasa ketakutan setelah mendengarnya. Bagaimana latihanku dengan mereka berdua ya??

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar