Chapter 2
Daiki menatap lurus ke arah Yuya
yang sedang memberikan tatapan tajam padanya. Mereka saling bertukar pandang
seakan-akan akan melawan musuh satu sama lain. Yuya tiba-tiba tertegun saat
melihat Daiki tersenyum kepadanya. Beda sekali dengan sikapnya tadi.
“Aku tadi belum memperkenalkan
diriku secara langsung kan?”. Daiki mengulurkan tangannya. “Namaku Arioka
Daiki. Kau bisa memanggilku Daiki, tapi teman-temanku terkadang memanggilku
Daichan. Terserah kau mau memanggilku apa”
Yuya hanya terdiam mengamati
tangan Daiki yang terulur ke arahnya. Tanpa membalas uluran tangan Daiki, Yuya
langsung berjalan melewati Daiki. Tiba-tiba Daiki menahan Yuya dengan memegang
lengannya. Yuya pun mendelik kesal ke arah Daiki.
“Lepaskan tanganmu. Aku tidak
suka disentuh oleh orang lain”. Yuya mengibaskan tangannya hingga cengkeraman
tangan Daiki terlepas. Setelah berkata seperti itu, Yuya mempercepat langkahnya
dan meninggalkan Daiki.
“Daiki, apa yang kau lakukan?
Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti itu pada Takaki?”, tanya Hika yang tidak
mengerti dengan tingkah laku Daiki.
Daiki tertawa kecil. “Habisnya,
si Takaki itu menarik sih. Dia bersikap seperti orang yang menakutkan dan sulit
untuk didekati, tapi tadi waktu bersama dengan wanita itu, sikapnya tidak jauh
beda dengan anak SMA pada umumnya. Aku ingin berteman dengannya”
“Berteman? Takaki itu anak yang
paling susah untuk diajak berteman lo... kenapa kau ingin sekali berteman
dengannya?”
Daiki memiringkan kepalanya,
“entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, aku ingin mengenalnya lebih
jauh. Kalau bisa aku ingin menjadi temannya”
Hika menggelengkan kepalanya, dia
sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiran Daiki. Beberapa jam yang lalu,
Hika yakin kalau Daiki tampak tidak suka dengan Yuya. Tapi kini, Daiki malah
ingin mengajaknya berteman. Yuya bukan orang yang mudah didekati begitu saja.
Baginya, semua orang selain Kei-san adalah orang yang tidak penting dan tidak
berarti. Hika sendiri bisa mengenal dan berhubungan cukup dekat dengan Yuya
karena mereka adalah tetangga. Jika mereka bukan tetangga, mungkin hubungan
Hika dan Yuya hanya sebatas teman yang berasal dari SMP yang sama.
“Kalau Takaki melukaimu, bilang
saja padaku. Nanti akan kulaporkan pada Yuto senpai”, ucap Hika.
“Aku pasti akan baik-baik saja
kok. Aku pasti bisa berteman dengannya. Kami berdua kan teman sekamar dan teman
sekelas. Sudah pasti kalau aku punya banyak kesempatan untuk dekat dengannya
kan?”
“Yah... berusahalah. Tapi perlu
kuberitahu dulu padamu. Takaki itu anak yang tidak suka bergaul dengan orang
lain. Dia juga suka membuat masalah. Waktu SMP dulu dia hampir saja diskors.
Aku yakin, dia masih sama seperti yang dulu”
“Serahkan saja padaku. Aku
kujinakkan dia”, ucap Daiki penuh semangat.
---***---
Daiki kembali menuju kamarnya
dengan riang. Entah kenapa kini dia tidak takut lagi melangkah masuk ke dalam
kamar. Pandangannya terhadap Yuya telah berubah. Bahkan kini dia yakin sekali
kalau bisa berteman dengan Yuya. daiki bertekad akan menjadi teman Yuya.
BRAK!
Suara pintu terdengar cukup keras
karena Daiki terlalu bersemangat saat membukanya. Yuya yang berada dalam kamar
hanya memandang Daiki sekilas sambil memberikan tatapan kesal. Berbeda dengan
Daiki, mukanya terlihat cukup senang saat melihat Yuya yang sudah berada dalam
kamar.
“Hei Yuyan, kau sedang apa?”,
tanya Daiki saat melihat Yuya yang sedang sibuk merapikan sesuatu.
Yuya menatap Daiki dengan pandangan
kesal. “Hah? Apa yang kau bilang tadi?”
“Kutanya, kau sedang apa?”, tanya
Daiki sekali lagi.
Yuya menarik kerah baju Daiki.
“Bukan itu yang kumaksud! Siapa yang kau panggil ‘Yuyan’ hah?!”
Daiki tersenyum. “Kau ini bodoh
atau apa? Siapa lagi kalau bukan kau? Kan hanya ada aku dan kau di kamar ini”
Yuya semakin kesal dengan sikap
Daiki. Dia langsung melempar Daiki ke atas ranjangnya. Yuya langsung menindih
tubuh Daiki dengan tubuhnya. Kedua tangan Yuya pun kini telah berada di leher
Daiki.
“Aku tidak suka ada orang lain
yang memanggilku dengan nama kecilku! Hanya Kei yang boleh memanggilku seperti
itu”
Daiki berusaha melepaskan
cengkeraman tangan Yuya yang tampaknya sedikit mencekik lehernya. Dengan
sedikit tenaganya, Daiki berusaha mendorong Yuya. Tapi sia-sia, Yuya lebih
besar darinya dan dia juga memiliki tenaga yang lebih besar darinya. Semakin
kuat Daiki meronta, semakin erat pula cengkeraman tangan Yuya di lehernya.
“Apa yang kalian lakukan?”. Yuto
tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan memisahkan mereka berdua. “Yuya! hentikan!
Kau ingin membunuhnya?”
Dengan sekuat tenaga, Yuto
berusaha menarik tubuh Yuya dan menjauhkannya dari Daiki. Daiki langsung
terbatuk-batuk ringan. Bekas cekikan di leher Daiki terlihat cukup jelas.
Yuto langsung meninju Yuya di
perutnya. Saking cepatnya gerakan Yuto, Yuya tidak bisa mengelak. Yuya sedikit
merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Yuto...”, geram Yuya kesal.
Yuto meraih bahu Yuya dan
meremasnya. “Jangan berbuat kasar disini Yuya! Selama kau berada di asrama dan
sekolah, aku yang bertugas mengawasimu! Kalau kau berbuat kasar, akan segera
kulaporkan kau ke Kei-san!”. Yuya mengalihkan pandangannya sambil menggeram
kesal. “Kau tidak ingin Kei-san sedih gara-gara perbuatanmu kan?”, ucap Yuto
lagi dengan nada kemenangan.
Yuya mendengus kesal. Dia meninju
pintu kamar itu dengan cukup keras sebagai bentuk pelampiasan amarahnya. Yuto
hanya menghela nafas melihat tingkah laku sepupunya itu. Yuto kemudian
menghampiri Daiki yang masih terduduk di atas tempat tidur sambil memegangi
lehernya yang kemerahan.
“Kau tidak apa-apa Arioka? Untung
saja aku melewati kamar kalian. Sebenarnya apa yang terjadi hingga seperti
ini?”
“Aku... hanya memanggil namanya
saja. Dia langsung semarah ini”
“Memanggilnya? Memang bagaimana
kau memanggilnya?”, tanya Yuto penasaran.
“Yuyan. Aku ingin akrab
dengannya, jadi kupanggil dia seperti itu”
Yuto menghela nafas. “Jelas saja
dia marah. Dia tidak pernah mengijinkan orang lain memanggil namanya. Dia
bilang hanya Kei-san saja yang berhak memanggilnya seperti itu”
“Tapi, kenapa senpai tidak
apa-apa memanggilnya ‘Yuya’?”
“Ah itu karena Kei-san yang
menyuruhku agar memanggilnya Yuya. Selama itu perintah dari Kei-san, dia akan
menurutinya”
“Uwaah!! Kau kenapa Daiki? Kau
baik-baik saja?”
Hika tiba-tiba masuk ke dalam
kamar Daiki. Karena kamar mereka bersebelahan, tentu saja Hika mendengar
keributan yang terjadi. Hika segera keluar kamar untuk melihat apa yang
terjadi.
“Dia hampir saja mati karena
dicekik oleh Yuya”, jawab Yuto sekenanya.
“Tunggu senpai! Tidak usah
berlebihan. Aku tidak apa-apa kok. Itu hanya pertengkaran kecil”, Daiki
berusaha menutupi apa yang terjadi.
“Mana? Coba kulihat”, Hika
mendekati Daiki dan memeriksa leher Daiki yang masih kemerahan. Bekas jari-jari
Yuya masih terlihat jelas disana. “Uwah, anak itu sepertinya memang berniat
membunuhmu. Memangnya apa yang terjadi?”
“Dia memanggilnya ‘Yuyan’”, sahut
Yuto.
Hika membelalakkan matanya dengan
kaget. “Kau gila? Kau berani memanggilnya seperti itu? Tidak hanya memanggilnya
‘Yuya’, kau juga memanggilnya ‘Yuyan’?”
Daiki mengangguk. Hika menghela
nafas panjang. “Sudahlah, hentikan saja. Urungkan niatmu untuk mengakrabkan
diri dengannya. Coba lihat ini. Kau berniat ramah padanya, tapi apa balasannya?
Kau malah hampir dibunuh olehnya”
Daiki menggeleng. “Tidak. Aku
akan terus mencoba berteman dengannya. Kami berdua adalah teman sekamar
ditambah lagi kami berdua sekelas. Tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja
kan?”
Yuto menepuk kepala Daiki dengan
pelan. “Baiklah, tapi usahakan jangan memancing emosinya. Aku tidak bisa
menjamin apa yang akan dilakukan Yuya padamu”
“Lalu, malam ini bagaimana? Kau
tetap mau tidur sekamar dengannya?”, tanya Hika.
“Ah benar juga. Lebih baik kau
pindah kamar saja dulu. Kau menginap saja sementara di kamar Hika. memang
sempit kalau bertiga, tapi tidak apa-apa kan Hika?”, tanya Yuto. Hika
mengangguk setuju. Itu ide yang cukup bagus.
“Tidak”, bantah Daiki. “Aku tetap
akan tidur disini. Kalau aku pindah, nanti dia mengira kalau aku takut
dengannya”
“Tapi...”, ucap Yuto dan Hika
kompak.
“Aku tidak apa-apa senpai, Hika. Aku
janji aku tidak akan memancing emosinya lagi”
“Baiklah... kalau ada apa-apa
teriak saja. Kamarku tepat di sebelah kamarmu. Jadi aku bisa segera menolongmu
kalau Takaki berbuat ulah”
“Terima kasih Hika”
“Kalau begitu kami kembali ke
kamar dulu ya. Ingat, jangan memancing amarahnya lagi”, ucap Yuto sekali lagi
sambil mengusap kepala Daiki dengan lembut. Daiki mengangguk. Tangan Yuto yang
besar membuatnya merasa nyaman.
---***---
“Selamat datang!”
Yuya tampak sedikit terkejut saat
melihat Daiki masih terbangun di kamarnya. Dia tidak mengira kalau Daiki masih
mau berada sekamar dengannya setelah apa yang dia lakukan terhadapnya tadi.
“Kau... apa maumu?”, tanya Yuya
penuh curiga. Matanya menatap Daiki setengah melotot. Yuya biasa melihat orang
lain dengan cara seperti itu agar orang-orang takut melihatnya.
“Tidak ada. Aku hanya menunggumu
saja”, jawab Daiki ringan. “Sebentar lagi waktunya lampu dimatikan dan menurut
peraturan, semua murid harus kembali ke kamar masing-masing. Untunglah kau
sudah kembali sebelum waktunya. Kalau kau belum kembali, aku berniat menyusulmu
dan menjemputmu kembali ke kamar”. Mata Daiki menatap lurus mata Yuya yang jadi
lawan bicaranya.
Yuya terdiam. Baru kali ini dia
melihat ada seseorang yang berani berbicara panjang lebar dengannya. Ekspresi
mukanya juga tidak terlihat takut sama sekali meskipun Yuya tadi sudah
mencekiknya dan menatapnya dengan ekspresi tajam dan menakutkan. Setahu dia,
Cuma Kei yang berani melihatnya dan berbicara seperti itu dengannya.
“Kau...”, Yuya terdiam. Dia
bingung apa yang hendak dikatakannya.
“Apa?”, tanya Daiki yang tidak
sabar mendengar apa yang akan dikatakan Yuya.
“Bukan apa-apa. Aku mau tidur.
Jadi, jangan berisik”
Yuya langsung menuju tempat
tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi dirinya. Daiki hanya tersenyum
ringan sambil membisikkan sebuah kata pada Yuya. “Selamat tidur”
---***---
KRING!!! KRING!!! KRING!!!
Suara alarm jam berbunyi. Daiki
segera bangkit dari tempat tidurnya. Setelah mematikan alarm, Daiki melihat ke
arah Yuya yang tidur membelakangi dirinya. Daiki mendekat perlahan ke arah Yuya
yang masih tidur. Dia ingin melihat sekilas wajah Yuya saat tidur, tapi sayang,
Yuya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Daiki segera berjalan menuju
kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian, Daiki telah siap. Dia
kembali melihat ke arah Yuya yang masih tertidur pulas. Tidak ada tanda-tanda
kalau Yuya akan segera bangun.
“Yuya... ayo bangun. Kalau kau
tidak bangun sekarang, kau bisa terlambat”
Daiki memanggil Yuya pelan. Tapi
Yuya sama sekali tidak bereaksi.
“Yuyan...”
Kali ini Daiki mencoba
menggoyang-goyangkan tubuh Yuya. Tapi sama sekali tidak ada reaksi. Bahkan
meskipun Daiki memanggilnya dengan panggilan ‘Yuyan’, Yuya tidak langsung
memarahinya.
“Yuyan!”
Kali ini Daiki mengeraskan
suaranya. Dengan sekuat tenaga Daiki menarik selimut Yuya. Alangkah terkejutnya
Daiki saat melihat Yuya hanya mengenakan celana pendeknya saja. Tubuh bagian
atasnya terbuka.
“Kapan dia melepasnya? Seingatku
dia masih mengenakan baju saat tidur kemarin”
Daiki mengamati tubuh Yuya yang
terekspos cukup banyak itu. Kulit Yuya yang berwarna kecoklatan itu tampak
terlihat cukup eksotis. Lengannya pun terlihat cukup berisi. Cukup lama Daiki
memandangi tubuh Yuya.
“Hei, apa yang kulakukan?”, gumam
Daiki saat kembali sadar. “Aku harus membangunkannya. Yuyan! Ayo bangun!”
Kali ini Daiki mengeraskan
suaranya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yuya. rupanya usaha kali ini cukup
berhasil. Yuya membuka sedikit matanya.
“Berisik! Sudah kubilang jangan
berisik!”, ucap Yuya kesal.
“Tapi, kalau kau tidak segera
bangun, nanti kau bisa terlambat”, ucap Daiki lagi.
“Sudah kubilang jangan berisik”
Yuya segera menarik tangan Daiki.
Daiki langsung terdiam. Bibirnya kini telah terkunci rapat-rapat oleh bibir
Yuya. 1 detik, 2 detik, entah sudah berapa detik terlewat. Ketika sudah cukup
lama, Yuya melepaskan Daiki dan kembali menutup matanya untuk tidur.
“Ci-ci-ci-ciuman pertamaku.....”,
gumam Daiki.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar