Jumat, 29 Mei 2015

DORMITORY LIFE

Chapter 2

Daiki menatap lurus ke arah Yuya yang sedang memberikan tatapan tajam padanya. Mereka saling bertukar pandang seakan-akan akan melawan musuh satu sama lain. Yuya tiba-tiba tertegun saat melihat Daiki tersenyum kepadanya. Beda sekali dengan sikapnya tadi.

“Aku tadi belum memperkenalkan diriku secara langsung kan?”. Daiki mengulurkan tangannya. “Namaku Arioka Daiki. Kau bisa memanggilku Daiki, tapi teman-temanku terkadang memanggilku Daichan. Terserah kau mau memanggilku apa”

Yuya hanya terdiam mengamati tangan Daiki yang terulur ke arahnya. Tanpa membalas uluran tangan Daiki, Yuya langsung berjalan melewati Daiki. Tiba-tiba Daiki menahan Yuya dengan memegang lengannya. Yuya pun mendelik kesal ke arah Daiki.

“Lepaskan tanganmu. Aku tidak suka disentuh oleh orang lain”. Yuya mengibaskan tangannya hingga cengkeraman tangan Daiki terlepas. Setelah berkata seperti itu, Yuya mempercepat langkahnya dan meninggalkan Daiki.

“Daiki, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti itu pada Takaki?”, tanya Hika yang tidak mengerti dengan tingkah laku Daiki.

Daiki tertawa kecil. “Habisnya, si Takaki itu menarik sih. Dia bersikap seperti orang yang menakutkan dan sulit untuk didekati, tapi tadi waktu bersama dengan wanita itu, sikapnya tidak jauh beda dengan anak SMA pada umumnya. Aku ingin berteman dengannya”

“Berteman? Takaki itu anak yang paling susah untuk diajak berteman lo... kenapa kau ingin sekali berteman dengannya?”

Daiki memiringkan kepalanya, “entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Kalau bisa aku ingin menjadi temannya”

Hika menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak bisa memahami jalan pikiran Daiki. Beberapa jam yang lalu, Hika yakin kalau Daiki tampak tidak suka dengan Yuya. Tapi kini, Daiki malah ingin mengajaknya berteman. Yuya bukan orang yang mudah didekati begitu saja. Baginya, semua orang selain Kei-san adalah orang yang tidak penting dan tidak berarti. Hika sendiri bisa mengenal dan berhubungan cukup dekat dengan Yuya karena mereka adalah tetangga. Jika mereka bukan tetangga, mungkin hubungan Hika dan Yuya hanya sebatas teman yang berasal dari SMP yang sama.

“Kalau Takaki melukaimu, bilang saja padaku. Nanti akan kulaporkan pada Yuto senpai”, ucap Hika.

“Aku pasti akan baik-baik saja kok. Aku pasti bisa berteman dengannya. Kami berdua kan teman sekamar dan teman sekelas. Sudah pasti kalau aku punya banyak kesempatan untuk dekat dengannya kan?”

“Yah... berusahalah. Tapi perlu kuberitahu dulu padamu. Takaki itu anak yang tidak suka bergaul dengan orang lain. Dia juga suka membuat masalah. Waktu SMP dulu dia hampir saja diskors. Aku yakin, dia masih sama seperti yang dulu”

“Serahkan saja padaku. Aku kujinakkan dia”, ucap Daiki penuh semangat.

---***---
Daiki kembali menuju kamarnya dengan riang. Entah kenapa kini dia tidak takut lagi melangkah masuk ke dalam kamar. Pandangannya terhadap Yuya telah berubah. Bahkan kini dia yakin sekali kalau bisa berteman dengan Yuya. daiki bertekad akan menjadi teman Yuya.

BRAK!

Suara pintu terdengar cukup keras karena Daiki terlalu bersemangat saat membukanya. Yuya yang berada dalam kamar hanya memandang Daiki sekilas sambil memberikan tatapan kesal. Berbeda dengan Daiki, mukanya terlihat cukup senang saat melihat Yuya yang sudah berada dalam kamar.

“Hei Yuyan, kau sedang apa?”, tanya Daiki saat melihat Yuya yang sedang sibuk merapikan sesuatu.
Yuya menatap Daiki dengan pandangan kesal. “Hah? Apa yang kau bilang tadi?”

“Kutanya, kau sedang apa?”, tanya Daiki sekali lagi.

Yuya menarik kerah baju Daiki. “Bukan itu yang kumaksud! Siapa yang kau panggil ‘Yuyan’ hah?!”
Daiki tersenyum. “Kau ini bodoh atau apa? Siapa lagi kalau bukan kau? Kan hanya ada aku dan kau di kamar ini”

Yuya semakin kesal dengan sikap Daiki. Dia langsung melempar Daiki ke atas ranjangnya. Yuya langsung menindih tubuh Daiki dengan tubuhnya. Kedua tangan Yuya pun kini telah berada di leher Daiki.

“Aku tidak suka ada orang lain yang memanggilku dengan nama kecilku! Hanya Kei yang boleh memanggilku seperti itu”

Daiki berusaha melepaskan cengkeraman tangan Yuya yang tampaknya sedikit mencekik lehernya. Dengan sedikit tenaganya, Daiki berusaha mendorong Yuya. Tapi sia-sia, Yuya lebih besar darinya dan dia juga memiliki tenaga yang lebih besar darinya. Semakin kuat Daiki meronta, semakin erat pula cengkeraman tangan Yuya di lehernya.

“Apa yang kalian lakukan?”. Yuto tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan memisahkan mereka berdua. “Yuya! hentikan! Kau ingin membunuhnya?”

Dengan sekuat tenaga, Yuto berusaha menarik tubuh Yuya dan menjauhkannya dari Daiki. Daiki langsung terbatuk-batuk ringan. Bekas cekikan di leher Daiki terlihat cukup jelas.

Yuto langsung meninju Yuya di perutnya. Saking cepatnya gerakan Yuto, Yuya tidak bisa mengelak. Yuya sedikit merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.

“Yuto...”, geram Yuya kesal.

Yuto meraih bahu Yuya dan meremasnya. “Jangan berbuat kasar disini Yuya! Selama kau berada di asrama dan sekolah, aku yang bertugas mengawasimu! Kalau kau berbuat kasar, akan segera kulaporkan kau ke Kei-san!”. Yuya mengalihkan pandangannya sambil menggeram kesal. “Kau tidak ingin Kei-san sedih gara-gara perbuatanmu kan?”, ucap Yuto lagi dengan nada kemenangan.

Yuya mendengus kesal. Dia meninju pintu kamar itu dengan cukup keras sebagai bentuk pelampiasan amarahnya. Yuto hanya menghela nafas melihat tingkah laku sepupunya itu. Yuto kemudian menghampiri Daiki yang masih terduduk di atas tempat tidur sambil memegangi lehernya yang kemerahan.

“Kau tidak apa-apa Arioka? Untung saja aku melewati kamar kalian. Sebenarnya apa yang terjadi hingga seperti ini?”

“Aku... hanya memanggil namanya saja. Dia langsung semarah ini”

“Memanggilnya? Memang bagaimana kau memanggilnya?”, tanya Yuto penasaran.

“Yuyan. Aku ingin akrab dengannya, jadi kupanggil dia seperti itu”

Yuto menghela nafas. “Jelas saja dia marah. Dia tidak pernah mengijinkan orang lain memanggil namanya. Dia bilang hanya Kei-san saja yang berhak memanggilnya seperti itu”

“Tapi, kenapa senpai tidak apa-apa memanggilnya ‘Yuya’?”

“Ah itu karena Kei-san yang menyuruhku agar memanggilnya Yuya. Selama itu perintah dari Kei-san, dia akan menurutinya”

“Uwaah!! Kau kenapa Daiki? Kau baik-baik saja?”

Hika tiba-tiba masuk ke dalam kamar Daiki. Karena kamar mereka bersebelahan, tentu saja Hika mendengar keributan yang terjadi. Hika segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.

“Dia hampir saja mati karena dicekik oleh Yuya”, jawab Yuto sekenanya.

“Tunggu senpai! Tidak usah berlebihan. Aku tidak apa-apa kok. Itu hanya pertengkaran kecil”, Daiki berusaha menutupi apa yang terjadi.

“Mana? Coba kulihat”, Hika mendekati Daiki dan memeriksa leher Daiki yang masih kemerahan. Bekas jari-jari Yuya masih terlihat jelas disana. “Uwah, anak itu sepertinya memang berniat membunuhmu. Memangnya apa yang terjadi?”

“Dia memanggilnya ‘Yuyan’”, sahut Yuto.

Hika membelalakkan matanya dengan kaget. “Kau gila? Kau berani memanggilnya seperti itu? Tidak hanya memanggilnya ‘Yuya’, kau juga memanggilnya ‘Yuyan’?”

Daiki mengangguk. Hika menghela nafas panjang. “Sudahlah, hentikan saja. Urungkan niatmu untuk mengakrabkan diri dengannya. Coba lihat ini. Kau berniat ramah padanya, tapi apa balasannya? Kau malah hampir dibunuh olehnya”

Daiki menggeleng. “Tidak. Aku akan terus mencoba berteman dengannya. Kami berdua adalah teman sekamar ditambah lagi kami berdua sekelas. Tidak mungkin aku membiarkannya begitu saja kan?”

Yuto menepuk kepala Daiki dengan pelan. “Baiklah, tapi usahakan jangan memancing emosinya. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukan Yuya padamu”

“Lalu, malam ini bagaimana? Kau tetap mau tidur sekamar dengannya?”, tanya Hika.

“Ah benar juga. Lebih baik kau pindah kamar saja dulu. Kau menginap saja sementara di kamar Hika. memang sempit kalau bertiga, tapi tidak apa-apa kan Hika?”, tanya Yuto. Hika mengangguk setuju. Itu ide yang cukup bagus.

“Tidak”, bantah Daiki. “Aku tetap akan tidur disini. Kalau aku pindah, nanti dia mengira kalau aku takut dengannya”

“Tapi...”, ucap Yuto dan Hika kompak.

“Aku tidak apa-apa senpai, Hika. Aku janji aku tidak akan memancing emosinya lagi”

“Baiklah... kalau ada apa-apa teriak saja. Kamarku tepat di sebelah kamarmu. Jadi aku bisa segera menolongmu kalau Takaki berbuat ulah”

“Terima kasih Hika”

“Kalau begitu kami kembali ke kamar dulu ya. Ingat, jangan memancing amarahnya lagi”, ucap Yuto sekali lagi sambil mengusap kepala Daiki dengan lembut. Daiki mengangguk. Tangan Yuto yang besar membuatnya merasa nyaman.

---***---
“Selamat datang!”

Yuya tampak sedikit terkejut saat melihat Daiki masih terbangun di kamarnya. Dia tidak mengira kalau Daiki masih mau berada sekamar dengannya setelah apa yang dia lakukan terhadapnya tadi.

“Kau... apa maumu?”, tanya Yuya penuh curiga. Matanya menatap Daiki setengah melotot. Yuya biasa melihat orang lain dengan cara seperti itu agar orang-orang takut melihatnya.

“Tidak ada. Aku hanya menunggumu saja”, jawab Daiki ringan. “Sebentar lagi waktunya lampu dimatikan dan menurut peraturan, semua murid harus kembali ke kamar masing-masing. Untunglah kau sudah kembali sebelum waktunya. Kalau kau belum kembali, aku berniat menyusulmu dan menjemputmu kembali ke kamar”. Mata Daiki menatap lurus mata Yuya yang jadi lawan bicaranya.

Yuya terdiam. Baru kali ini dia melihat ada seseorang yang berani berbicara panjang lebar dengannya. Ekspresi mukanya juga tidak terlihat takut sama sekali meskipun Yuya tadi sudah mencekiknya dan menatapnya dengan ekspresi tajam dan menakutkan. Setahu dia, Cuma Kei yang berani melihatnya dan berbicara seperti itu dengannya.

“Kau...”, Yuya terdiam. Dia bingung apa yang hendak dikatakannya.

“Apa?”, tanya Daiki yang tidak sabar mendengar apa yang akan dikatakan Yuya.

“Bukan apa-apa. Aku mau tidur. Jadi, jangan berisik”

Yuya langsung menuju tempat tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi dirinya. Daiki hanya tersenyum ringan sambil membisikkan sebuah kata pada Yuya. “Selamat tidur”

---***---
KRING!!! KRING!!! KRING!!!

Suara alarm jam berbunyi. Daiki segera bangkit dari tempat tidurnya. Setelah mematikan alarm, Daiki melihat ke arah Yuya yang tidur membelakangi dirinya. Daiki mendekat perlahan ke arah Yuya yang masih tidur. Dia ingin melihat sekilas wajah Yuya saat tidur, tapi sayang, Yuya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Daiki segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian, Daiki telah siap. Dia kembali melihat ke arah Yuya yang masih tertidur pulas. Tidak ada tanda-tanda kalau Yuya akan segera bangun.

“Yuya... ayo bangun. Kalau kau tidak bangun sekarang, kau bisa terlambat”

Daiki memanggil Yuya pelan. Tapi Yuya sama sekali tidak bereaksi.

“Yuyan...”

Kali ini Daiki mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Yuya. Tapi sama sekali tidak ada reaksi. Bahkan meskipun Daiki memanggilnya dengan panggilan ‘Yuyan’, Yuya tidak langsung memarahinya.

“Yuyan!”

Kali ini Daiki mengeraskan suaranya. Dengan sekuat tenaga Daiki menarik selimut Yuya. Alangkah terkejutnya Daiki saat melihat Yuya hanya mengenakan celana pendeknya saja. Tubuh bagian atasnya terbuka.

“Kapan dia melepasnya? Seingatku dia masih mengenakan baju saat tidur kemarin”

Daiki mengamati tubuh Yuya yang terekspos cukup banyak itu. Kulit Yuya yang berwarna kecoklatan itu tampak terlihat cukup eksotis. Lengannya pun terlihat cukup berisi. Cukup lama Daiki memandangi tubuh Yuya.

“Hei, apa yang kulakukan?”, gumam Daiki saat kembali sadar. “Aku harus membangunkannya. Yuyan! Ayo bangun!”

Kali ini Daiki mengeraskan suaranya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yuya. rupanya usaha kali ini cukup berhasil. Yuya membuka sedikit matanya.

“Berisik! Sudah kubilang jangan berisik!”, ucap Yuya kesal.

“Tapi, kalau kau tidak segera bangun, nanti kau bisa terlambat”, ucap Daiki lagi.

“Sudah kubilang jangan berisik”

Yuya segera menarik tangan Daiki. Daiki langsung terdiam. Bibirnya kini telah terkunci rapat-rapat oleh bibir Yuya. 1 detik, 2 detik, entah sudah berapa detik terlewat. Ketika sudah cukup lama, Yuya melepaskan Daiki dan kembali menutup matanya untuk tidur.


“Ci-ci-ci-ciuman pertamaku.....”, gumam Daiki.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar