PART 15
Matahari pagi mulai bersinar. Aku terbangun dari tidurku. Rasanya aku tidur sangat lelap. Ini pertama kalinya aku merasa sangat segar setelah tidur. Aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sebelumnya, aku ingin melakukan sesuatu, kuambil hpku, aku ingin menelepon ibuku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bercakap dengan ibu.
“Halo,ibu?”
“Halo,Ryosuke? Ini kamu nak?”, suara ibuku terdengar dari ujung telepon. Aku mendengar suara ibuku yang terlihat ceria, tampaknya ibu baik-baik saja.
“Iya bu, maaf aku baru bisa menghubungi ibu sekarang. Kemarin banyak hal yangterjadi”
“Ada apa nak? Kau bisa menceritakannya pada ibu”. Aku pun menceritakan apa saja yang terjadi padaku mulai dari aku masuk rumah ini hingga kejadian kemarin. Ibu hanya diam mendengarkan aku yang bercerita.
“kau benar-benar mengalami hari yang berat Ryo, lalu bagaimana keadaan kedua temanmu itu sekarang?”
“Entahlah bu, aku belum menengok keadaan mereka. Tapi terakhir kali kulihat, mereka berdua masih tidak sadarkan diri. Ibu, apa yang harus kulakukan?”
“Ryo, bantulah mereka sebisamu. Kemampuanmu itu sangat dibutuhkan oleh mereka. kau harus bersyukur diberikan kemampuan yang bisa membantu orang lain”
“Iya bu...”
“Lalu,bagaimana dengan sekolahmu? Menyenangkan?”
“Ahh....kemarin aku hanya mengikuti pelajaran sebentar karena hal yang terjadi kemarin.Tapi, aku rasa aku bisa menjalani kehidupan sekolahku bu”
“Kau harus rajin belajar disana. Biaya sekolahmu disana sudah dilunasi oleh master,jangan lupa untuk berterimakasih padanya ya”
“Master yang membiayainya bu?”
“Iya, sebenarnya ibu tidak sanggup membiayaimu sekolah disana, tapi master bilang dia yang akan membiayai seluruhnya. Bahkan kebutuhan hidupmu juga semuanya ditanggung oleh master. Jadi sebisa mungkin, kau membantu mereka ya...”
“baiklah bu, aku janji akan selalu membantu mereka”, aku melihat jam di dinding. “Ah ibu, sudah jam segini, aku harus bersiap ke sekolah. Aku tutup teleponnya ya bu”
“Baiklah kalau begitu. Belajar yang rajin ya Ryo. Ibu akan selalu mendoakanmu dimanapun kau berada. Jaga dirimu”, setelah berkata seperti itu, ibu menutup teleponnya. Aku pun bersiap mengenakan seragam dan menyiapkan buku.
“Ryochan, kau sudah siap? Ayo segera berangkat ke sekolah. Nanti terlambat lo....”,terdengar suara Chinen dari balik pintu. aku pun segera membuka pintu kamar. Kulihat Chinen berdiri disana tanpa mengenakan seragamnya.
“Ryochaaannnn.......maaf ya. Hari ini aku tidak bisa pergi ke sekolah bersamamu hari ini”, Chinen langsung memelukku saat aku keluar dari kamar.
“Eh,kenapa?”, tanyaku
“Aku harus menemani Yuto seharian ini. Kau masih ingat dengan apa yang dikatakan master kemarin kan? Aku diminta untuk menemani Yuto seharian ini”, ucap Chinen dengan tampangnya yang agak sedih.
“Ah,maaf ya Yamachan. Aku tidak bisa pergi ke sekolah. Aku dilarang keluar rumah sampai gelangku jadi. Jadi aku juga tidak bisa pergi ke sekolah”, ucap Yuto yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Iyyyaaaaa nih, gara-gara Yutti aku tidak bisa pergi dengan Ryochan. masa aku diminta menemanimu terus. Lebih enak saat bersama dengan Ryochan. Ya kan Ryochan? Kau juga sangat senang saat bersamaku kan??”, tanya Chinen padaku. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kalian semua sedang apa disana? Ayo segera sarapan”, seru Hika yang melihat kami berkumpul. Kami pun segera pergi ke ruang makan. Disana aku melihat Yabu, tampaknya dia sudah siuman.
“Yabu kun, kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu saat ini?”, tanyaku langsung menghampiri Yabu.
“Hmm....saat ini tubuhku dalam keadaan baik kok. Aku sudah dengar dari Hika, katanya kau yang menyembuhkan lukaku kemarin. Terima kasih ya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak ada. Aku sangat berterimakasih padamu”, kata Yabu
“Ah tidak, aku hanya melakukan sebisaku. Aku sendiri mungkin tidak akan bisa melakukannya, daiki juga membantuku. Oh ya, aku tidak melihat Daiki disini, apakah dia belum sadar?”, tanyaku yang sadar bahwa Daiki tidak ada disini.
“Dia sudah sadar tadi, tapi karena kondisi badannya yang belum pulih, terlebih lagi energinya belum terkontrol sepenuhnya, maka dia masih ada di kamarnya. Yuya juga masih disana menemani Daichan. Jadi, mereka tidak akan sarapan disini”, jelas Inoo.
“Nanti biar aku saja yang membawakan sarapan mereka ke atas”, Chinen menawarkan diri.
“Terimakasih Chii. Oh ya, hari ini aku yang akan mengantar kalian ke sekolah”, kata Inoo.
“Eh? Kenapa? Aku juga bisa mengantar mereka kok. Aku juga ingin masuk kuliah hari ini”, celetuk Yabu.
“Tidak boleh. Kau masih harus istirahat dulu di rumah. Kau baru saja pulih. Sudahlah,biar aku saja yang mengantar mereka. Yuya juga tidak bisa mengantar mereka, dia harus menemani Daichan. Satu-satunya yang bisa Cuma aku”, kata Inoo.
“Tapi kau.....”
“Aku Cuma mengantar mereka kan? Tidak perlu khawatir. Setelah mengantar aku akan langsung pulang ke rumah. Tidak usah cemas, Kota”, bisik Inoo pelan. Yabu akhirnya menyerah dengan Inoo dan mengangguk pelan tanda setuju.
Setelah sarapan, kami bersiap untuk berangkat sekolah. Inoo sudah memanaskan mobil. Hari ini yang pergi ke sekolah hanya aku, Hika, Ryuu, dan Keito.
“Ryochan,hati-hati di jalan ya.... Maaf aku tidak bisa menemanimu”, Chii memelukku saat aku berpamitan akan berangkat.
“Aku berangkat dulu ya....”, kami semua berpamitan dengan Yabu, Chinen dan Yuto yang mengantar kami pergi.
Sesampai di sekolah, aku segera menuju ke kelas bersama dengan Keito. Hari ini, hanya aku yang masuk di kelas, rasanya sepi. Aku mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir. Aku mencatat semua pelajaran. Rencananya aku akan menyerahkan catatan ini pada Chinen dan Yuto yang tidak masuk. Sepulang sekolah, kami dijemput oleh Inoo lagi. tidak ada yang spesial terjadi pada hari ini. Padahal, kemarin kami mengalami pertarungan yang mematikan.
Sesampainya di rumah sore harinya
“Ryochaannnn!!!!! Selamat datang! Bagaimana sekolahmu hari ini? Kau kesepian tidak ada aku ya??”,belum sempat aku mengatakan apapun Chinen sudah langsung memelukku begitu saja. lama-lama aku menjadi terbiasa dengan kebiasaan Chinen yang seperti ini.
“Selamat datang kalian semua”, Daiki menyambut kami. Dia tersenyum saat melihat kami semua datang. Aku langsung tersenyum gembira saat kulihat Daiki yang sudah tersenyum seperti biasanya.
“Kakak!!Kakak sudah boleh keluar? Bagaimana keadaan kakak?”, Ryuu langsung berlari memeluk Daiki.
“Yah,aku sudah agak baikan berkat kalian semua. Master tadi memberikan gelang yang baru padaku dan Yuto sehingga kami bisa keluar dari kamar lagi”, jawab Daiki.
“Syukurlah, kalau kau sudah baik-baik saja Daichan. Kau membuat kami cemas saja kemarin”, ucap Hika. Dia menghampiri Daiki dan membelai pelan rambut Daiki.
“Maaf sudah membuat kalian khawatir”, ucap Daiki. “Yama, terimakasih sudah menolongku kemarin. Berkatmu, luka yang kualami cepat sembuh. Padahal, biasanya butuh waktu berhari-hari untuk sembuh bila aku terluka saat bertarung lo...”, Daikimelihat ke arahku.
“Tidak usah berterimakasih. Sudah sewajarnya kita saling bantu. Kita kan teman”,jawabku.
“Daichan, ini catatan pelajaran hari ini dan kemarin saat kau tidak masuk”, Keito menyerahkan buku catatan pada Daiki.
“Wuah, terimakasih Keito. kau memang bisa diandalkan. Ada tugas hari ini?”, tanya Daiki lagi.
“Nanti kuberitahu padamu”, ucap Keito.
“Daichan, Chii, yang lain pada kemana? Kok tidak kelihatan?”, tanya Inoo.
“Ah, Yuto dan Yabu sedang di ruang belajar di atas”, jawab Chinen.
“Kalau Yuya, dia sedang istirahat di kamarnya. Dia belum tidur satu menitpun saat menemaniku. Makanya kusuruh dia tidur sekarang”, timpal Daiki.
“Ah iya, mumpung aku ingat. Yama, latihan fisik hari ini kau belajar dengan Ryuu saja ya”, tambah Daiki lagi.
“eh, kenapa?”, tanyaku
“Kau tetap harus latihan fisik tahu, tapi karena hari ini tugasku berpatroli dengan Hika dan Chii jadinya aku tidak bisa menemani kau latihan. Kau latihan denganRyuu saja ya...”, jawab Daiki.
“Eh?Aku tidak mau melatihnya. Keito saja...”, jawab Ryuu.
“Keito hari ini punya tugas dari master”, ucap Chinen menimpali. “Aku sudah meletakkannya di kamarmu, kau bisa membacanya nanti”, Chinen mengedipkan matanya pada Keito.
“Makasih Chii”, ucap Keito.
“Nah,kalau begitu kami pergi dulu ya. Ayo Hika, kita pergi”, ucap Daiki.
“Eh, tunggu dulu. Aku baru saja sampai disini masa’ langsung pergi lagi sih? Apa aku tidak boleh istirahat sebentar?”, sahut Hika
“Yasudah, kami pergi dulu saja ya, kau menyusul belakangan”, Daiki langsung pergi keluar rumah. Hika menyerah dan mengikuti Daiki dari belakang. Chinen mencium pipiku lalu melambaikan tangannya saat keluar rumah. Aku kaget dengan tingkah Chinen dan memegangi pipiku yang baru saja dicium olehnya.
“Ngapain kau berdiri saja disana? Ayo kita latihan”, ucap Ryuu sambil pergi meninggalkanku. Aku hanya diam mengikutinya dari belakang. ‘kenapa yang melatihku latihan fisik semuanya cewek sih? Apa semua cewek ksatria jauh lebih kuat dari cowok?’, pikirku.
Malam harinya
Badanku benar-benar capek setengah mati. Berbeda dengan Daiki, Ryuu melatihku dengan cara menyerangku membabibuta. Berkali-kali aku terkena serangannya. Aku bahkan sulit mengelak serangan dari Ryuu. Badanku jauh lebih capek dibandingkan dengan kemarin. Kelihatan banget kalau Ryuu tidak suka padaku, aku jadi heran apa yang membuatnya begitu ketus padaku.
Aku merasa haus sehingga memutuskan untuk mengambil air minum. Aku keluar menuju ke ruang makan. Aku melihat ada cahaya dari ruang makan, aku masuk ke dalam dan kulihat Daiki sedang duduk disana. Aku mendekat ke arah Daiki, tapi tampaknya dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Aku melihat dia termenung seperti memikirkan sesuatu.
“Daiki....”, panggilku pelan. Tapi, Daiki tidak menjawabnya.
“Daiki....”,panggilku lagi. Daiki tetap tidak menjawabnya.
“Daiki”, aku memegang pundaknya. Daiki tampak kaget dan melihatku.
“Yama....aduh, kupikir siapa. Eh, kapan kau ada disini?”, tanya Daiki yang sepertinya masih kaget.
“Aku baru saja masuk kesini. Aku memanggilmu dari tadi tapi tidak kau jawab. Kau kaget ya?”
“Ah iya, aku tadi sedang memikirkan sesuatu sehingga aku tidak sadar kau masuk”
“ada apa?”, tanyaku. Daiki hanya diam. Aku mengambil segelas air, lalu duduk berhadapan dengan Daiki. “Daiki, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”,daiki melihat ke arahku.
“Aku ingin bertanya sesuatu tentang___” aku terdiam sejenak, aku ragu mengatakannya“__adikmu. Pemuda yang kemarin kita temui itu, adikmu kan?”. Daiki terdiam sejenak, kemudian dia menarik nafas panjang.
“Ahh...benar juga. Kau belum tahu soal itu ya. Semua ksatria sudah tahu soal ini, aku akan menceritakannya padamu”, Daiki meminum air yang ada di hadapannya dan mulai bercerita. “Aku punya adik laki-laki. Umurnya 1 tahun di bawahku. Namanya Fuka. Kami memanggilnya Fuu. Waktu kecil kami tinggal di daerah dekat laut,disana kami berteman dekat dengan keluarganya Hika, ibunya Hika itu, adik dari ayahku. Kami sering dititipkan disana saat ayah dan ibu pergi. Jadi, aku dan Hika itu teman sejak kecil. Suatu ketika, saat umurku 11 tahun, ayah dan ibu menceritakan tentang mereka yang sebenarnya. Soal ksatria, kemampuan, dan musuh yang dihadapi. Waktu itu aku masih kecil dan belum mengerti apa yang orangtuaku katakan. Lalu tidak berapa lama, Hika menunjukkan kemampuan khususnya pada kami dan mengatakan bahwa dia adalah seorang ksatria. Aku mulai percaya apa yang dikatakan orangtuaku saat melihat Hika. Hika kemudian pergi dan dibawa oleh master”, Daiki diam sejenak dan mengatur nafasnya lalu mulai bercerita lagi.
“Sejak saat Hika pergi, aku dan Fuu, kami berdua jadi sering main bersama. Kupikir, hari damai itu akan berlanjut selamanya, tapi ternyata tidak...”, Daiki terhenti “saat ulang tahunku yang ke 12, makhluk kegelapan menyerang kami. Ayah dan ibu melindungiku dan Fuu yang masih kecil. Ayah dan ibu semakin terdesak karena jumlah makhluk kegelapan itu sangat banyak dan kedua orangtuaku terluka parah. Saat ada mkhluk kegelapan yang akan membunuh ibuku, Tanpa kusadari, kekuatanku bangkit. Aku langsung menyebarkan racun. Semua yang ada di sekitarku hancurmenjadi debu. Tidak terkecuali ayah dan ibuku, mereka juga lenyap bersama dengan makhluk kegelapan itu...”, muka Daiki terlihat murung. Sesekali aku melihat dia menyeka matanya.
“Fuu selamat karena saat itu dia berlindung di tumpukan lemari, tapi badannya sempat terkena racun dariku. Dia melihatku dengan tatapan yang menyakitkan..... Sejak saat itu, dia tidak mau berbicara denganku. Bahkan melihatku pun tidak mau”,ucap Daiki lagi.
“Seandainya, seandainya, kekuatanku tidak bangkit saat itu, mungkin ayah dan ibuku masih hidup hingga sekarang. Aku...aku secara tidak langsung telah membunuh kedua orangtuaku sendiri”, Daiki tidak kuasa membendung air matanya dan kulihat satu persatu air mata mulai menetes.
“Aku bahkan tidak sempat mendengar suara mereka dan melihat wajah mereka untuk yang terakhir kalinya..... aku selalu berpikir bahwa mungkin mereka juga membenciku karena telah membunuh mereka”, Daiki berkata lagi. suaranya makin serak.
“Itu murni kecelakaan Daiki, itu bukan salahmu. Ayah dan ibumu pasti juga mengerti hal itu. Kau tidak pernah berniat membunuh mereka kan?”, aku berusaha menenangkan Daiki. “kau menyayangi mereka kan? Kau mencintai mereka kan? Pasti orangtuamu juga mencintaimu”, aku berdiri dan memeluk Daiki. “Maafkan aku yang sudah membuatmu menceritakan hal ini padaku. Maaf”. Sekian lamanya aku memeluk Daiki, hingga aku sadar aku telah memeluknya.
“Ah,ma-ma-maaf. Aku-aku-aku tidak punya maksud apapun”, aku segera melepas pelukanku. Mukaku terasa panas.
“Ahahaha.....tidak apa-apa kok. Terima kasih banyak. Kau melakukan hal itu untuk menenangkanku kan?”, Daiki tersenyum kembali.
“Aku lebih suka melihatmu saat kau tersenyum. Kau jauh lebih manis saat tersenyum dibandingkan saat kau menangis”, kataku lagi. aku kemudian sadar dengan apayang kukatakan, “Ma-ma-maaf maksudku bukan.... aduh, gimana menjelaskannya ya....”, kataku panik.
“Kau orang kedua yang mengatakan hal itu padaku”, ucap daiki.
“Yang pertama siapa?”, tanyaku.
“Yuya yang pertama kali mengatakan hal itu padaku. Waktu kami pertama kali bertemu, aku belum bisa tersenyum sesering ini. Aku pernah menangis di hadapannya dan dia menghiburku. Dia juga mengatakan hal yang sama sepertimu. Sejak saat itu, aku berusaha tersenyum apapun yang terjadi”, ucap daiki sambil tersenyum malu.
“Apa yang kalian berdua lakukan disini malam-malam?”, terdengar suara dari arah pintu. kulihat Chinen sedang berdiri disitu. “Hayoo... apa yang kalian lakukan?”, Chinen melihat ke arahku dan Daiki dengan penuh curiga.
“Tidak ada apa-apa kok Chii. Kau saja yang berlebihan. Ya kan Yama?”, kata Daiki sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Iya benar, tidak ada apa-apa kok”, kataku.
“Ryochan,jangan-jangan kau selingkuh di belakangku dengan Daichan ya??”, Chinen melihatku dengan pandangan curiga.
“Selingkuh? Eh, siapa?”, tanyaku penasaran.
“Eh,kalian berdua jadian? Sejak kapan?”, tanya Daiki yang kaget dengan pernyataan Chinen barusan.
“Benar. Jadi Daichan, tidak akan kumaafkan kau kalau sampai merebut Ryochan dariku”,Chinen langsung menarikku menjauh dari Daiki.
“Eh? Kapan aku jadian denganmu Yuri?”, tanyaku pada Yuri.
“Eh,jadi kau tidak suka pada Yuri? Ryochan jahat....” Chinen mulai ngambek.
“Bu-bu-bukan begitu. Yang kutanyakan, sejak kapan aku setuju jadian denganmu?”
“Eh....jadi kau membenciku?”, tanya Chinen.
“Tidak”,jawabku
“Kau suka saat bersamaku?” tanya Chinen lagi.
“Iya”,jawabku.
“Baiklah,mulai sekarang kau jadi pacar Yuri”, Chinen menyimpulkan seenaknya.
“Tapi.....”,kataku
“Sudahlah Yama, tidak ada habisnya kalau kau melawan Chii”, ujar Daiki. Aku pun menyerah dan mengikuti kemauan Chinen.
“Ternyata kau ada disini, kucari dari tadi”, Yuya muncul dari pintu dan mulai bergabung dengan kami.
“Yuya,kenapa kesini?”, tanya Daiki kaget saat Yuya muncul dari pintu.
“Aku melihat kamarmu terbuka, kulihat ke dalam dan kau tidak ada disana. Aku lalu mendengar suara dari bawah. Lalu aku kemari”, jawab Yuya. “Lalu, apa yang kalian lakukan disini malam-malam?”, tanya Yuya.
“Ah,kau tadi datang terlambat. Chii dan Yama baru saja jadian lo...”, ujar Daiki.
“Eh? Benarkah? Yama, kau suka pada Chii?”, tanya Yuya tidak percaya.
“Itu, kemauan Yuri sendiri.... “, kataku pasrah.
“Iya!! Mulai hari ini kami jadian”, Chinen memelukku dengan erat seakan ingin menunjukkan kemesraan kami pada mereka berdua.
“Hoo....selamat deh kalau begitu”, Yuya melihat ke arah Daiki “Ayo tidur Daichan, besok kau harus ke sekolah lagi kan? Kau juga masih harus banyak beristirahat”.
“Baiklah, kalau begitu kami berdua kembali ke kamar ya....”, pamit Daiki. “Kalian juga harus segera kembali tidur”. Aku melihat Daiki dan Yuya yang keluar bersama-sama. Aku mulai merasa kalau mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dalam, lebih dari sekedar hubungan antar ksatria saja.
“Mereka dekat sekali ya....”, ucapku tanpa sadar.
“Ya jelaslah, mereka kan sepasang kekasih”, celetuk Chinen.
“Eh, mereka berdua pacaran?”, tanyaku lagi.
“Iya. Masa’ kau tidak mengerti dengan kedekatan mereka sih”, ucap Chinen.“Ngomong-ngomong, Yabu dan Inoo juga pacaran lo. Mereka berdua sudah lama pacaran bahkan sebelum masuk kemari”, tambah Chinen lagi.
“Eh,Yabu dan Inoo pacaran? Pantas aku merasa ada sesuatu yang beda dari mereka berdua”, gumamku.
“Yah, kita sendiri juga sepasang kekasih kan?”, ucap Chinen sambil merangkul tanganku. “Ayo kita juga kembali tidur Ryochan”. Kami pun bergegas kembali kekamar untuk beristirahat kembali.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar