Part 12
BRUK! Keito akhirnya jatuh tersungkur. Tenaganya benar-benar telah habis akibat diambil oleh Yabu. Yama yang sudah berlari jauh di depan tidak tahu kalau Keito tidak bisa bergerak. Pikiran Yama hanya dipenuhi oleh Chii. Keadaan Chii sangat membahayakan sehingga Yama harus berlari menuju ke tempat Chii secepat mungkin.
“Ya...ma...”, panggil Keito pelan sambil mengulurkan tangannya ke arah punggung Yama yang berlari menjauh. Yama terus berlari tanpa mempedulikan Keito. Rupanya saking khawatirnya Yama pada Chii, Yama sama sekali tidak mendengarkan Keito.
Sekelompok makhluk gaib mulai berkumpul mendekati Keito. Aura jahat bisa terasa dari keberadaan mereka. beberapa di antaranya berniat mengambil alih tubuh Keito, ada yang berniat mengambil kekuatan spiritual yang dimiliki Keito, dan yang lebih parah, ada yang berniat untuk memangsa Keito. makhluk gaib itu mengerumuni Keito seperti predator yang siap melahap mangsanya.
Keito hanya melihat makhluk gaib itu. dia berusaha mengeluarkan kekuatan spiritualnya untuk menghalau mereka. tapi, karena tenaganya telah habis, Keito sama sekali tidak bisa mengeluarkan kekuatan spiritualnya.
“Ittai!!!!”, jerit Keito sambil memegangi dadanya. Keito merasa dadanya seperti terbakar. Rasa sakit dan perih di kulit dadanya bisa dia rasakan hingga jantungnya. Karena kejadian yang terjadi akhir-akhir ini membuat Keito lupa kalau dia memiliki tanda kutukan di dadanya. Terlebih, sejak mengikat kontrak dengan Inoo, rasa sakitnya mulai berkurang dan dia tidak terlalu sering merasa sakit.
Tanda kutukan di dada Keito terlihat seperti bercahaya dan terbakar. Tanda kutukan inilah yang memancing para makhluk gaib untuk mendekat. Semakin banyak makhluk gaib yang datang mendekat karena tertarik oleh tanda kutukan itu. keito semakin pasrah saat melihat jumlah makhluk gaib yang mengerumuninya. Keito memejamkan matanya dan sudah berniat untuk menyerah. Beberapa makhluk gaib mulai berlari menerjang Keito.
“BERHENTI!”
Semua makhluk gaib yang mengerumuni Keito langsung berhenti bergerak. Kerumunan makhluk gaib itu langsung melihat ke satu arah, seorang pemuda bermata merah berdiri di antara mereka. pemuda pendek itu menatap tajam ke arah kumpulan makhluk gaib itu. beberapa makhluk gaib langsung bergerak mundur saat melihat pemuda itu. beberapa di antaranya bakal langsung menghilang dan lari ketakutan.
“Da-Da-Daiki-sama...”, ucap salah satu makhluk gaib ketakutan.
Daiki menggerakkan tangannya menyuruh para makhluk gaib itu pergi. Seluruh makhluk gaib itu langsung pergi meninggalkan Daiki dan Keito.
“Ah... Kau pingsan ternyata. Yah, wajar saja sih. Kau sudah memberikan seluruh tenagamu pada Yabu”. Daiki membuka baju Keito dan melihat tanda kutukan Keito yang bercahaya. “Anggap saja ini ucapan terima kasihku karena kau sudah memberikanku makanan, bento-kun”. Daiki tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah tanda kutukan itu.
---***---
Yama terus berlari dengan cepat. Saking cepatnya Yama berlari, beberapa makhluk gaib yang berpapasan dengannya bahkan sampai terpental jauh. Yama memasang telinganya dengan baik, dengan bantuan pendengarannya yang tajam, dia berusaha mencari tahu dimana posisi Chii saat ini.
Yama terus berlari dengan cepat. Saking cepatnya Yama berlari, beberapa makhluk gaib yang berpapasan dengannya bahkan sampai terpental jauh. Yama memasang telinganya dengan baik, dengan bantuan pendengarannya yang tajam, dia berusaha mencari tahu dimana posisi Chii saat ini.
“Disana!”
Yama berhasil mengetahui keberadaan Chii. Yama semakin mempercepat langkahnya. Perasaannya sudah tidak enak saat mendengar jeritan Chii tadi. Ditambah lagi, samar-samar Yama bisa mencium bau demon. Yama bisa menduga kalau saat ini Chii sedang bersama dengan demon.
“Chii... semoga kau baik-baik saja”
Yama bisa mencium bau Chii semakin kuat. Tak lama, Yama bisa melihat Chii yang sedang terbujur kaku.
“CHI!!!”
Yama langsung menghampiri Chii. Yama bisa melihat badan Chii yang penuh dengan luka. Luka goresan hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Bahkan darah mulai keluar melalui luka itu.
“Chii... kenapa kau bisa sampai seperti ini?”, lirih Yama yang tidak tega melihat tubuh kecil Chii yang penuh luka. Bahkan bulu putih Chii kini telah berubah menjadi merah muda karena ternoda oleh darah.
“Akhirnya... aku bisa menemukanmu anjing kecil...”
Yama menoleh. Dia bisa melihat seseorang yang sedang berdiri dalam kegelapan. Mata merahnya yang menyala membuat Yama langsung mengerti kalau yang ada di hadapannya ini adalah demon. Yama langsung berdiri di hadapan Chii seakan melindungi Chii.
“Siapa kau?”, seru Yama.
Demon itu lalu berjalan mendekati Yama. Yama terkejut saat melihat wajah demon yang ada di hadapannya itu. wajah yang sama dengan demon yang telah mengalahkannya, wajah yang sama dengan demon yang telah memakan kekuatannya. Tapi kemudian Yama sadar kalau demon ini bukan demon yang menjadi lawannya tadi siang.
“Hmm... tampaknya kau sudah pulih seperti semula. Ah rupanya si Yabu juga telah mengkhianati kami, sama seperti Inoo. Aku harus segera melaporkan hal ini pada Yang Mulia Raja”. Demon itu lalu mengeluarkan Hpnya dan seakan mengetikkan sesuatu di Hpnya.
“Kau!!! Apa yang kau perbuat pada Chii? Kenapa dia terluka seperti ini?”
Demon itu tidak menjawab. Dia tetap sibuk dengan Hpnya.
Demon itu tidak menjawab. Dia tetap sibuk dengan Hpnya.
“Hei! Kau tidak dengar?”. Yama kesal karena demon itu tidak mengindahkannya.
“Ah, itu bukan aku yang melakukannya. Dia tiba-tiba jatuh dan tiba-tiba tubuhnya terluka. Berkali-kali dia menjerit kesakitan. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Yang jelas bukan aku yang melakukannya”
Yama mengernyitkan alisnya. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan demon itu. Demon itu mengembalikan Hpnya ke dalam saku celana. Dia melihat sekilas ke arah Yama yang tetap melihatnya dengan pandangan curiga.
“Ha... kau sepertinya sama sekali tidak percaya denganku ya? Sudah kubilang bukan aku yang melakukannya. Dia tiba-tiba terjatuh dan kesakitan. Aku hanya diam dan melihatnya saja. tujuanku kemari adalah untuk menemuimu, bukan dia”
“Menemuiku? Kenapa?”, tanya Yama.
“Aku penasaran dengan sosok dewa pelindung yang telah dikalahkan dua kali oleh kakakku. Aku penasaran kenapa kakak tidak langsung membunuhmu saja saat bertemu lagi denganmu untuk yang kedua kalinya. Kakakku malah membiarkanmu tetap hidup. Aneh”
“Kakakmu? Jangan-jangan kau...”. Yama mulai bisa menebak siapa demon yang ada di hadapannya itu.
“Ya. Namaku Shintaro. Aku adalah adik kembar dari demon yang melawanmu tadi, Ryutaro”. Shin mengamati Yama mulai dari telinga hingga ekor. Mata merah Shin dan mata biru Yama saling bertemu. “Aku jadi ingin membunuhmu”, ucap Shin sambil tersenyum.
Yama langsung memasang kuda-kuda. Sebenarnya kekuatannya belum pulih, tapi satu-satunya cara saat ini adalah bertarung. Yama tidak yakin bisa melawan demon itu sambil melindungi Chii. Ini benar-benar situasi yang sulit. Apalagi sambil melindungi Keito. Biasanya Chii yang melindungi Keito, tapi Chii kini tidak sadarkan diri. Siapa yang akan melindungi Keito?
DEG!
Yama mulai menyadari sesuatu. Dia menoleh ke belakang. Sosok Keito tidak terlihat di manapun. Yama yakin kalau Keito bersamanya tadi. Yama mulai mencoba mengingat-ingat lagi.
“Ah... aku tadi berlari lebih dulu darinya. Kurasa aku berlari terlalu cepat dan meninggalkannya. Tapi seharusnya saat ini Keito sudah muncul dan berkumpul bersama kami. Apa yang terjadi dengan Keito?”, gumam Yama.
Yama merasa sangat gelisah dan tidak tenang. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak mungkin pergi mencari Keito dan meninggalkan Chii sendirian. Apalagi demon yang bernama Shin ini tampaknya tidak akan melepaskan Yama pergi begitu saja.
“SHIN! APA YANG KAU LAKUKAN?”
Ryu tiba-tiba muncul di hadapan Shin dan Yama. Yama semakin putus asa. Saat ini ada 2 demon yang ada di hadapannya. Yama yakin kalau dia akan langsung kalah menghadapi mereka berdua sekaligus.
“Kakak? Kenapa kemari?”
“Kenapa katamu??? Apa yang kau lakukan pada mainanku? Sudah kubilang jangan sentuh dia!”
Shin cemberut. Dia kesal karena sudah dimarahi oleh Ryuu. Shin menatap tajam ke arah Yama yang tampak sedikit ketakutan.
“Ne... kakak... kita bunuh saja dia ya...”
Ryuu melotot. Shin menelan ludah saat melihat Ryuu yang tampak sangat marah. “Kalau kau bunuh dia sekarang, aku akan kehilangan mainan berhargaku. Susah mendapatkan mainan yang unik. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau membunuhnya!”
Ryuu berjalan melewati Yama. Sekilas kedua mata mereka bertemu. Yama merasa kalau dia pernah melihat sorot mata itu. Tapi dia lupa dimana dan kapan. Sorot mata Ryuu tidak terlihat kejam, tapi juga tidak terlihat menyenangkan.
“Shin! Apa yang kau lakukan? Ayo cepat pergi!”, seru Ryuu pada Shin yang masih berdiri tidak bergerak.
Shin berjalan dengan bersungut-sungut. “Cih! Kau beruntung karena kakak menyelamatkanmu! Selagi ada kesempatan, aku akan membunuhmu! Ingat itu!”, bisik Shin.
Yama melihat kedua demon itu hingga menghilang dalam kegelapan. Yama mulai tidak mengerti apa yang terjadi. dua demon berada di hadapannya, tapi dia masih selamat. Apalagi ucapan Shin membuatnya bertanya-tanya. Apakah benar Ryuu sengaja muncul di hadapan mereka untuk menyelamatkannya? Kenapa demon yang sudah mengalahkannya dan merebut kekuatannya ini malah menolongnya untuk tetap hidup?
“Yama?”
Yama terkejut saat mendengar suara lemah Chii. Dia langsung berjongkok menghampiri Chii. Yama menjilati luka-luka Chii. Yama berusaha menyembuhkan luka Chii dengan kekuatannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi Chii? Kenapa tubuhmu penuh luka seperti ini? siapa yang melakukannya padamu?”
Chii mengusapkan kepalanya ke bulu Yama. “Syukurlah kau sudah sadar. Aku cemas kalau seandainya kau tetap seperti itu. keito-sama pasti sangat senang melihat kau sudah sadar”
“Lebih baik kau jangan banyak bicara dulu. Kenapa kau bisa seperti ini?”
Chii terdiam. Dari matanya, terlihat kalau Chii ragu untuk menjawab pertanyaan Yama. Melihat sikap Yama yang masih cukup tenang, Chii bisa menduga kalau Yama belum tahu Keito sudah mengikat kontrak dengan demon. Yama juga tidak mengetahui kalau luka yang ada di tubuhnya ini adalah tanda hukuman yang diberikan ke dewa pelindung yang tidak bisa melakukan tugasnya dengan benar. Yama tidak dikenai hukuman karena saat itu dia sedang melemah dan tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik sehingga yang menerima hukuman hanyalah Chii yang masih bisa bergerak.
“Chii?”, panggil Yama sekali lagi. Yama heran karena Chii tetap diam saja. yama mulai khawatir kalau terjadi sesuatu pada Chii.
“Keito-sama?”, ucap Chii saat menyadari sesuatu. “Yama, dimana Keito-sama?”
DEG! Yama kembali sadar kalau Keito tidak ada. Dia bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada Chii.
“Aku... aku terpisah darinya. Aku tidak tahu dimana dia berada sekarang”, ucap Yama pelan.
“Kau ini bagaimana? Melindungi master adalah tugas utama kita. Melindungi Keito adalah tugas yang diberikan oleh Kenichi-sama pada kita!”, bentak Chii. Chii sangat emosi saat melihat Yama berani meninggalkan Keito sendirian. Yama hanya terdiam menunduk. Dia tidak berani melihat Chii.
Chii berusaha bangkit berdiri meskipun tubuhnya gemetar. Yama menopang tubuh Chii dengan tubuhnya. “Apa yang kau lakukan?”
“Aku ingin mencari Keito-sama”, ucap Chii.
Yama menghela nafas. Dia kemudian menaikkan tubuh Chii ke punggungnya. “Ayo kita cari Keito bersama-sama”. Yama mulai bergerak pergi sambil menggendong Chii. Yama mulai mengendus-endus, mencari keberadaan Keito dengan baunya.
---***---
“Kemana 2 demon itu pergi?”, gerutu Hokuto sambil berlari mengelilingi sekolah. Hokuto diperintahkan untuk mencari Inoo dan Yabu. Kedua demon itu akan diadili di hadapan Yang Mulia Raja Setan.
“Kemana 2 demon itu pergi?”, gerutu Hokuto sambil berlari mengelilingi sekolah. Hokuto diperintahkan untuk mencari Inoo dan Yabu. Kedua demon itu akan diadili di hadapan Yang Mulia Raja Setan.
BRUK! Hokuto terjatuh setelah bertabrakan dengan seseorang.
“Ara... kupikir siapa. Ternyata kau”
Hokuto menatap orang yang menabraknya. “Cih, Takaki-san ternyata”. Hokuto menggumam kesal. Dia memang tidak suka dengan Takaki. Demon yang satu ini memang terkenal tidak suka diatur dan suka seenaknya sendiri. “Ah waktu yang tepat. Kau melihat Inoo dan Yabu?”
Takaki menggeleng. “Tidak. Ngomong-ngomong kau melihat Daiki?”
Kali ini giliran Hokuto yang menggeleng. Takaki berdecak kesal. Aura demonnya keluar. Hokuto langsung merasa ketakutan, badannya gemetar. Meskipun sama-sama demon, level Takaki lebih tinggi dari Hokuto.
“Pergi kemana anak itu. Aku belum selesai minum, dia tiba-tiba saja pergi keluar”. Takaki langsung berlalu pergi meninggalkan Hokuto sendirian. Aura demonnya benar-benar terpancar keluar.
“Lagi-lagi Arioka...”, gumam Hokuto. Hokuto mencoba bangkit berdiri lagi dan berusaha melanjutkan pencariannya. Tiba-tiba Hokuto mengarahkan senjatanya yang berbentuk sabit besar ke arah depan. “Rupanya kau...”, Hokuto tersenyum saat melihat lawan bicaranya.
“Kudengar kau sedang mencari Inoo dan Yabu”
“Benar. Kau tahu dimana mereka?”
“Aku tahu. Maka dari itu aku kemari untuk menghentikanmu. Aku tidak bisa membiarkan kau menangkap Inoo dan Yabu. Mereka temanku”
Hokuto berdecak kesal. “Kau juga ingin mengkhianati kami, Hika?”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar