PART 23
“Ryuu!! Kau dimana? Kalau kau mendengarku, tolong jawab”, seru Yabu sambil terus menyusuri jalan. Yabu terus mencari di setiap sudut jalan dan memeriksa di setiap sudut, akan tetapi dia tidak menemukan Ryuu. Yabu terus berjalan hingga sampai di pantai. Rumah Hika memang dekat dengan pantai, suasana di sekitar pantai cukup sepi, tidak banyak orang yang datang kesana. Suara ombak yang bergulung-gulung di tepi pantai dan angin yang bertiup pelan membuat Yabu berhenti sejenak menatapi pantai itu.
“Ah, disini aku pertama kali bertemu dengan Hika”, Yabu memejamkan matanya seakan berusaha mengingat sesuatu. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, seakan ingin merasakan udara yang ada di tepi pantai.
“Apa yang kulakukan? Tidak ada waktu untuk bersantai, aku harus segera menemukan Ryuu”, Yabu tersadar dari kenangannya dan berjalan melanjutkan pencariannya. Saat berjalan, kaki Yabu tersandung sesuatu sehingga menyebabkan dia jatuh terjerembab.
“Aduh...”, rintih Yabu pelan sambil memegangi kakinya. Yabu tersentak kaget ketika melihat ada sesuatu yang keras berada di dekat kakinya. “Uwaa!!! Kenapa ada kepala disini?”, teriak Yabu kaget dan berusaha menjauh dari kepala itu. Kepala itu sama sekali tidak begerak, Yabu kembali mendekati kepala itu untuk memeriksa. Saat Yabu mendekati kepala itu, tiba-tiba mata kepala itu terbuka dan menatap Yabu, seketika Yabu berteriak “AAAAAA!!!!!”. Kepala itu juga sama berteriaknya seperti Yabu.
“AAA!!!! Eh, tunggu dulu. Kau siapa?”, tanya kepala itu setelah sadar dari rasa kagetnya.Yabu masih menatap kepala itu tidak percaya. Kepala itu hidup. Dia berbicara dengan logat yang agak aneh.
“Ka-ka-kau hidup?”, ucap Yabu gagap.
“Aku tadi merasa ada yang mengenai kepalaku. Kau ya yang mengenaiku tadi?”, selidikkepala itu.
“Aku tadi berjalan dan tidak melihat ada kau disini”, jawab Yabu.
“Kebetulan sekali, bisa kau tolong aku? Aku semalam ketiduran disini. Dan entah kenapa badanku terbenam di dalam pasir dan hanya kepalaku saja yang muncul. Tolong bantu aku keluar dari sini”, pinta kepala itu lagi. Yabu masih terdiam ditempat, bagaimana bisa ada yang ketiduran di pantai dan menyebabkan hampir seluruh tubuhnya terbenam dalam pasir? Apa dia ini orang yang bodoh atau terlalu ceroboh?
“Kau mau menolongku tidak?”, kata kepala itu lagi.
“Ah,eh iya. Tunggu sebentar, akan kucoba mengeluarkanmu”, Yabu melihat ke sekitarnya dan mencari sesuatu yang dapat membantunya mengeluarkan orang itu. Dia menemukan ada sebongkah kayu di dekat mereka, diambilnya kayu itu dan digunakannya untuk menggali di sekitar kepala itu. Yabu terus menggali hingga kayu itu mengenai sesuatu.
“Aduh”, seru kepala itu. Yabu menghentikan penggaliannya, dia bisa melihat tangan dari tempat galiannya. Dia terus menggali di sekitar situ hingga sebagian tubuh orang itu mulai tampak. Yabu kemudian menarik orang itu hingga tubuhnya bisa terbebas dari timbunan pasir.
“Hiyaa.... kau sudah menolongku. Terima kasih ya!”, kata orang itu. Yabu mengamati orang itu baik-baik, orang itu masih muda, mungkin seumuran dengannya atau bahkan lebih muda. Yabu terus memikirkan logat bicara pemuda itu, ya logat bicara yang khas.
“Sama-sama”, balas Yabu sambil tersenyum.
“Namaku Nozomu Kotaki. Siapa namamu?”, pemuda itu mengajak Yabu untuk berkenalan.
“Yabu Kota”, jawab Yabu singkat.
“Yabu Kota?”, tanya Nozomu
“Iya benar, ada yang aneh dengan namaku?”
“Tidak, aku hanya merasa aku pernah mendengar nama itu”, kata Nozomu sambil mengernyitkan dahinya, “Hmm... aku lupa dimana pernah mendengar nama itu”.
“Mungkin hanya perasaanmu saja. Ini pertama kalinya kita bertemu kok”, Yabu kemudian mengingat kembali apa yang sedang dia lakukan. “Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku masih ada urusan”, Yabu pergi meninggalkan pemuda itu. Tiba-tiba Yabu merasakan sesuatu yang sangat dikenalnya. Dia merasakan ada pelindung yang telah dibuat. “Ryuu”, gumam Yabu pelan.
“Ah, tampaknya ada pelindung di sekitar sana. Berarti ada ksatria di sekitar sana. Padahal aku mendapat berita kalau mereka ada di sekitar sini”, ucap Nozomu. Seketika Yabu berhenti dan menoleh ke arah pemuda itu. Nozomu juga menatap Yabu. “Ada apa?”, tanya Nozomu.
“Kau, siapa kau sebenarnya?”, tanya Yabu kepada Nozomu. “Ada perlu apa kau dengan ksatria?”, tanya Yabu lagi.
“Hmm? Ksatria? Jangan-jangan kau juga salah satu ksatria ya Yabu san?”, ucap Nozomu.
“Namaku Yabu Kota, aku salah satu dari ksatria. Siapa kau?”, Yabu menggunakan kemampuannya membuat sebuah pedang dari air laut dan segera membuat pelindung.
“Yabu Kota. Ah, aku ingat. Yabu Kota adalah salah satu nama dari seorang ksatria dan juga pemimpin mereka. Aiyaa, tidak kusangka manusia yang menolongku adalah pemimpin ksatria. Aku jadi tidak repot lagi mencari kalian. Aku Nozomu Kotaki, salah satu dari prajurit kegelapan. Salam kenal ya!”, jawab Nozomu. Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain seakan mencari celah untuk bisa menyerang terlebih dahulu.
Di rumah Hika
“Pelindung”, gumam Hika pelan. Inoo yang duduk di sampingnya menutup buku yang sedang dibacanya lalu melihat ke luar jendela.
“Kau benar, tapi rasanya ada yang tidak beres”, gumam Inoo.
“Aku juga. Aku merasa tadi ada yang membuat pelindung dan rasanya tempatnya jauh dari sini. Tapi tidak berapa lama aku merasa ada pelindung lagi dan kali ini rasanya cukup dekat dari sini. Sepertinya ada dua pelindung yang dibuat”.
“Berarti ada dua ksatria yang sedang bertarung. Siapa?”, Inoo mencoba merasakan sensasi yang dia rasakan. “Sepertinya salah satu pelindung yang membuatnya adalah Yabu. Aku bisa merasakannya. Tapi, yang satu lagi aku tidak tahu itu siapa. Apakah itu Ryuu? Atau mungkin Daichan?”
“Tidak, pelindung yang dibuat Daichan tidak seperti ini. Aku tahu karena aku sering sekelompok dengannya. Ini dibuat oleh ksatria yang lain”.
“Apa mungkin master dan yang lainnya telah tiba disini dan pelindung itu dibuat oleh salah satu dari mereka?”, gumam Inoo sambil berpikir. “Tidak, itu tidak mungkin, menurut perhitunganku, mereka baru akan tiba disini beberapa jam lagi. Berarti kemungkinan besar itu dibuat oleh Ryuu”.
“Anak itu sedang bertarung? Dengan siapa? Kondisi badannya saja masih lemah dan tidak memungkinkan untuk bertarung”, kata Hika sambil berusaha berdiri.
“Kau mau kemana?”, cegah Inoo saat melihat Hika yang berusaha untuk berjalan.
“Aku akan menyusul Ryuu. Jika memang saat ini dia sedang bertarung, maka besar kemungkinan dia akan kewalahan menghadapi musuh”.
“Kau juga sama! Kau juga terluka dan kondisi tubuhmu seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Yabu memintaku untuk tetap menjagamu disini”.
“Tapi Inoo, aku tidak bisa membiarkan Ryuu sendirian. Dia butuh bantuan kita”, ucap Hika yang masih bersikeras untuk tetap pergi.
“Aku mengerti”, Inoo menghela nafas. “Tapi, kau tetap tidak boleh pergi”.
“Apa maksudmu?”, kata Hika. Perlahan dia merasa kantuk yang sangat hebat. Hika melihat Inoo yang berdiri sambil mengarahkan telapak tangannya ke arahnya, tampaknya dia sedang menggunakan kemampuannya, “Inoo, kau.......”. belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Hika sudah tertidur pulas.
“Maafkan aku Hika. Aku tahu kau khawatir pada Ryuu, tapi kondisi tubuhmu tidak memungkinkan untuk pergi. Oleh karena itu, biar aku saja yang pergi. Kau aman selama berada di rumah ini”, Inoo membantu Hika kembali berbaring di tempat tidur, dan merapikan selimutnya. Kemudian segera pergi keluar menyusul ketempat Ryuu berada.
Rombongan Master, Jin, dan Keito
“Okamoto, apa kau tahu siapa yang dihadapi oleh Takaki kemarin?”, kata master bertanya pada Keito yang duduk di kursi belakang.
“Berdasarkan keterangan dari Yuya, katanya kemarin dia berhadapan dengan prajurit kegelapan. Aku mencoba melihat pertarungan Yuya kemarin dari bolaku ini dan aku bisa melihat Yuya melawan dua orang, mereka sepertinya seumuran dengan Yuya, yang satu berambut pirang satunya lagi berambut hitam. Mereka berbicara dengan logat kansai. Penampilan dan wujud mereka benar-benar menyerupai manusia. Kekuatan mereka sangat dahsyat, akan tetapi kekuatan Yuya jauh lebih unggul dari mereka berdua”, Keito menceritakan apa yang dilihat olehnya kepada master.
“Prajurit kegelapan”, gumam master
“Ada apa master?”, tanya Keito.
“Sebelumnya aku tidak pernah mendengar soal mereka. Aku tahu soal tiga petinggi maou, Jack, Queen, dan King. Tapi baru kali ini aku mendengar soal mereka. Aku tidak tahu berapa jumlah mereka dan seberapa besar kekuatan mereka”, jawab master.
“Yuya mengatakan meskipun mereka termasuk maou tingkat tinggi, akan tetapi kekuatan mereka masih dibawah para petinggi maou. Dan dia bisa mengimbangi pertarungan mereka”, kata Keito lagi.
“Itu karena Yuya yang menghadapi mereka. Kemampuan anak itu membuatnya jadi tidak terkalahkan. Aku tidak menjamin kalau ksatria lain berhadapan dengan mereka apakah nasibnya akan sama seperti Yuya atau justru akan kalah”, sahut Jin. Keito terdiam memikirkan perkataan Jin. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Jin.
“Yah kuharap, para ksatria dapat mengatasi para prajurit kegelapan itu dengan baik”, kata master.
Di Jurang
“Sial, badanku tidak bisa kugerakkan semauku”, Ryuu mencoba berdiri. Dia cukup kewalahan menghadapi tiga golem ini. Meskipun mereka termasuk makhluk kegelapan level menengah, tetapi karena jumlah mereka cukup banyak dan kondisi tubuh Ryuu yang belum sembuh menyebabkan dia kesusahan menghadapi ketiga golem itu. Ketiga golem ini memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Yang paling pendek, gerakannya lebih agresif dan lincah dari yang lain. Yang paling tinggi tampaknya jauh lebih pintar dari yang lain, dia yang mengarahkan dan memandu kedua golem yang lain saat menyerang sehingga serangan mereka lebih efektif. Sedangkan yang sedang-sedang saja terlihat biasa saja, akan tetapi dia sangat gesit saat melindungi kedua golem yang lain.
“Kombinasi serangan mereka bertiga cukup hebat juga. Kalau aku diam, yang paling pendek itu akan menyerangku. Kalau aku menyerang, maka seranganku akan dihalau oleh golem yang sedang itu. Cih, seandainya aku tidak dalam kondisi seperti ini”, gerutu Ryuu. Dia menggunakan kemampuannya dan berubah menjadi seekor burung dan mencoba menyerang ketiga golem itu dari atas. Akan tetapi serangan itu berhasil dihalau oleh golem yang sedang, sementara itu golem pendek menyerang Ryuu sehingga menyebabkan luka di tangan Ryuu. Ryuu pun kembali ke wujud semula.
Ryuu mencoba mengatur nafasnya sejenak, tiba-tiba golem yang pendek menyerang Ryuu. Golem itu berusaha mencoba mencengkeram tangan Ryuu, akan tetapi usaha itu gagal karena kulit Ryuu yang menjadi keras. Dia mengubah kulitnya menjadi seperti kulit badak yang cukup keras, sementara itu tangan Ryuu yang satunya lagi berubah menjadi sepert tangan tangan seekor harimau dengan kuku yang tajam. Kali ini Ryuu berhasil mengenai golem itu dan menyebabkan luka di wajahnya.
Golem pendek itu mundur sejenak saat Ryuu berhasil melukainya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Ryuu. Dia menyerang golem pendek itu secara bertubi-tubi sebelum golem itu sempat menyerang dia kembali. Golem pendek itu akhirnya tersungkur dan tidak bergerak lagi. Ryuu melihat ke arah dua golem yang tersisa. Golem yang tinggi mencoba untuk melarikan diri dan tampaknya mencoba untuk mencari bala bantuan, sementara yang sedang mencoba untuk menghalau Ryuu. Ryuu mengubah wujudnya menjadi seperti seekor phanter dan mulai mengejar golem yang tinggi. Golem yang sedang tidak mampu menghalangi Ryuu. Dia langsung jatuh tersungkur saat Ryuu menggigit kepalanya hingga putus. Tidak butuh waktu lama bagi Ryuu untuk mengejar golem yang tinggi. Ryuu menerkam lengannya hingga golem yang tinggi itu jatuh tersungkur dan menahannya tubuh golem itu di bawah kakinya.
“Nah, sekarang cepat katakan kemana kalian membawa nee-san!”. Golem itu tetap diam, bahkan dia mengalihkan pandangannya agar tidak menatap muka Ryuu. Ryuu kemudian menarik kaki golem itu hingga putus. Golem itu berteriak kesakitan saat kakinya putus.
“Cepat katakan padaku dimana nee-san berada!”, bentak Ryuu pada golem itu. Tapi, golem itu tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Ryuu pun menarik tangan kiri golem itu hingga putus. Sekali lagi, golem itu berteriak kesakitan saat Ryuu memutus tangannya.
“Kali ini aku akan menarik kepalamu itu kalau kau tetap tidak mau memberitahukan dimana nee-san berada!”, Ryuu mengancam golem itu lagi sambil memegang kepalanya. Golem itu tampak sangat ketakutan dan akhirnya mulai membuka mulutnya.
“Ka-ka-kami disuruh untuk membawanya ke kediaman tuan Jack. Te-tem-tempatnya ada di sana”, ucap golem itu terbata-bata sambil menunjuk ke dalam hutan yang cukup gelap. Ryuu melihat ke arah yang ditunjuk oleh golem itu. Dia tidak dapat melihat apapun karena suasana hutan yang ditunjuk cukup gelap dan pohon yang rimbun menghalangi cahaya yang masuk. Kondisi yang ideal bagi makhluk kegelapan. Ryuu melepas cengkeramannya dari makhluk itu. Golem itu berusaha kabur dengan cara merangkak karena satu kakinya telah diputus oleh Ryuu. Golem itu berusaha bergerak secepat mungkin. Akan tetapi, belum sempat golem itu bergerak menjauhi Ryuu, Ryuu sudah menikam makhluk itu dengan tangannya yang berwujud seperti tangan macan.
Ryuu menatap sinis makhluk itu, “aku memang bilang tidak akan memutus kepalamu, tapi aku tidak bilang kalau aku tidak akan menikammu. Itu balasannya karena kau sudah membawa nee-san”. Ryuu meninggalkan sosok golem yang sudah tidak bergerakitu dan berjalan lurus ke arah yang ditunjuk oleh golem itu tadi.
Ryuu terus berjalan meskipun untuk berjalan saja dia sudah kelelahan. Kondisi tubuhnya yang belum optimal dan pertarungan yang dia alami tadi membuatnya semakinlemah. Tapi Ryuu tetap melanjutkan perjalanannya demi menyelamatkan Daiki yang sudah dianggap saudara sendiri olehnya. Dari arah berlawanan tiba-tiba Ryuu melihat ada sosok yang mendekat ke arahnya.
“Cih,siapa lagi? musuh kah? Aku sudah tidak kuat lagi untuk bertarung”, Ryuu menghentikan gerakannya dan mencoba mengamati sosok yang mendekat ke arahnya. Ryuu mengernyitkan dahinya, tampaknya dia kenal dengan sosok itu. Semakin lama sosok itu semakin dekat. Perlahan wajah Ryuu semakin cerah, dia sudah bisa melihat dengan jelas sosok yang mendekat ke arahnya dan dia kenal betul dengan sosok yang berdiri di hadapannya.
“Nee-san!”,seru Ryuu dengan gembira saat melihat sosok Daiki yang berdiri tegap didepannya. Ryuu langsung berlari menghampiri Daiki yang ada di depannya dan memeluknya dengan erat. “Nee-san, kau selamat! Aku sangat mengkhawatirkanmu”.
“Nee-san?”, tanya Ryuu ketika melihat Daiki yang hanya diam. Daiki melihat ke arah Ryuu dan tersenyum. Seketika muka Ryuu menjadi cerah kembali. Tiba-tiba Ryuu jatuh berlutut di hadapan Daiki. Ryuu melihat tubuhnya yang mulai timbul bercak kehitaman.
“Nee-san?”,tanya Ryuu sambil menatap Daiki. Daiki hanya tersenyum lebar sambil melihat Ryuu yang mulai ambruk, bercak kehitaman itu juga mulai menyebar di seluruh tubuh Ryuu.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar