PART 17
Suasana di istana demon kini tengah ramai. Teriakan Hokuto yang menandakan bahwa Hikaru telah lolos membuat para demon yang ada di istana itu langsung mencari sosok Hikaru di dalam istana, berharap kalau Hikaru masih ada di dalam istana. Sedangkan Jesse dan Taiga, mereka berdua tampak sibuk menenangkan amarah sang Raja yang sudah tidak terbendung lagi.
Meskipun semua demon tampak panik, tapi ada beberapa di antara mereka yang bersikap tidak peduli. Seperti Yuto yang terus berjalan santai sambil melihat beberapa demon yang tampak sibuk berkeliling, si kembar Morimoto yang sedang tidur dengan asyiknya, dan Daiki yang asyik memakan tangan Yuya yang sedang tidur sambil duduk di pangkuannya.
“Hng? Kenapa ribut-ribut begini?”, Yuya yang terpaksa terbangun karena keributan tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Rasa kesalnya semakin menjadi saat melihat Daiki yang mencuri kesempatan memakan dirinya di saat dia tidur.
“Ah, kalian berdua ada disini rupanya. Kalian tidak mau ikut membantu?”. Yuto tiba-tiba muncul dari belakang Yuya.
“Mbantu hafa?”, tanya Daiki dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Hikaru berhasil lolos. Saat ini seluruh istana sedang mencari keberadaannya. Tapi kurasa itu sia-sia saja, Hikaru tidak ada di dalam istana ini lagi. Bahkan mungkin dia tidak berada di dunia gaib ini”, jelas Yuto.
“Ah... rupanya itu masalahnya. Pasti Yang Mulia marah besar saat ini”. Yuya mengibaskan tangannya yang digigiti oleh Daiki, dalam beberapa detik, tangannya telah kembali seperti semula. “Lalu? Kenapa kau juga tidak ikut mencari?”, tanya Yuya sambil menatap Yuto yang tersenyum dengan riangnya.
“Kau juga. Kenapa kau tidak segera bangkit dari kursimu lalu ikut membantu mencari?”, balas Yuto. “Apalagi saat ini kau telah menjadi tetua demon menggantikan Yabu”
Yuya mendengus keras. “Selama Yabu belum mati, dia tetap tetua demon. Aku masih belum bisa dipanggil tetua”. Yuya menatap Daiki yang tampak mengantuk di pangkuannya. Dia lalu mengibaskan rambut Daiki di sekitar lehernya, “Lagipula aku tidak suka hal yang merepotkan. Hikaru yang kabur bukan urusanku. Kau juga tahu pasti kan kalau Inoo ada di balik semua ini? dia memang paling lemah di antara kita, tapi dia yang paling merepotkan. Karena itulah dia berhasil menjadi salah satu prajurit demon walaupun dia demon rendahan”. Yuya menancapkan kedua taringnya di leher putih Daiki dan mulai menghisap darahnya perlahan. Daiki yang mengantuk terlihat tidak peduli saat Yuya meminum darahnya.
Sesuatu tiba-tiba menghentikan ‘acara minum’ Yuya. Sesosok demon telah berdiri di hadapan mereka bertiga. Yuya langsung menunjukkan wajah tidak sukanya pada demon yang ada di hadapannya ini.Dia tidak suka bila ada yang mengganggunya di saat dia sedang minum. “Kenapa kau kemari Jesse?”
“Takaki, Nakajima, Yugo, Taiga, Juri, dan aku, semua demon kelas spesial diminta untuk menghadap Yang Mulia sekarang juga”, ucap Jesse dengan pandangan mata yang dingin.
---***---
Sesosok pemuda tiba-tiba muncul di tengah-tengah lingkaran sihir. Keito langsung terduduk lemas. Tenaganya mendadak hilang. Yama dan Chii segera menghampiri Keito dan menopang tubuhnya. inoo tersenyum puas saat melihat sosok yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. sosok yang diharapkan olehnya.
Sesosok pemuda tiba-tiba muncul di tengah-tengah lingkaran sihir. Keito langsung terduduk lemas. Tenaganya mendadak hilang. Yama dan Chii segera menghampiri Keito dan menopang tubuhnya. inoo tersenyum puas saat melihat sosok yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. sosok yang diharapkan olehnya.
“Selamat datang Hikaru”, sapa Inoo.
Pemuda yang dipanggil Hikaru itu masih terduduk lemas. Dia mengarahkan matanya ke seluruh ruangan. Berusaha mengenali tempatnya berada sekarang. Matanya yang tampak sayu mulai tampak sedikit berbinar-binar saat melihat sosok Inoo dan Yabu yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
“INOO! YABU!”
Pemuda itu langsung tiba-tiba berlari sambil membuka lebar kedua tangannya, berusaha untuk memeluk Inoo dan Yabu. Inoo langsung menghindar, sedangkan Yabu hanya diam di tempat sehingga hanya Yabu saja yang berhasil dipeluk oleh Hika.
“Kalian baik-baik saja. syukurlah”, ucap Hika sambil mengamati Inoo dan Yabu secara bergantian.
“Ini semua karena kau yang telah menghalangi Hokuto. Terima kasih ya”, senyum Inoo. Hika membalas senyuman Inoo dengan tulus. Yabu hanya mendengus kesal melihat senyuman Inoo, karena dia tahu kalau Inoo sudah merencanakan semua ini.
“Ini dimana? Bagaimana aku bisa disini?”, tanya Hika.
“Dia yang memanggilmu”, Inoo menunjuk ke arah Keito yang terduduk lemas. “Kami menggunakan lingkaran sihir ini untuk memanggilmu”
Hika berjalan mendekat ke arah Keito. Yama dan Chii langsung memasang sikap waspada. Hika berjongkok di hadapan Keito. awalnya dia mengamati wajah Keito, beberapa detik kemudian, dia tersenyum lebar hingga gigi gingsulnya tampak. Sekilas Keito merasa mengenali demon yang ada di hadapannya ini.
“Aku memang bilang kalau kita akan bertemu lagi, tapi tidak kusangka kalau kau sendiri yang memanggilku”
Keito membelalakkan matanya. Dia akhirnya mulai mengenali suara demon yang ada di hadapannya.
“Kau... kau orang yang membantuku waktu itu”
Hika tersenyum. “Betul sekali. Perkenalkan, namaku Yaotome Hikaru. Salam kenal ya”, ucap Hika ramah. Sama sekali tidak terasa aura demon di sekelilingnya. Keito bahkan sempat ragu saat melihat Hika. Benarkah demon yang ada di hadapannya ini adalah demon kelas A?
“Lalu... ada perlu apa kau memanggilku? Ada hal penting apa yang ingin kau minta dariku sehingga kau memanggilku dengan lingkaran sihir?”, tanya Hika lagi.
“Kami memerlukan bantuanmu Hika”, jawab Inoo.
Hika kembali menoleh ke arah Inoo, “bantuanku? Soal apa?”
“Kami ingin agar kau mengikat kontrak dengannya dan mengalahkan Daichan”, tambah Inoo lagi.
Hika terkejut mendengar ucapan Inoo. “Mengalahkan Daiki? Untuk apa?”
“Saat ini kekuatan si rubah cilik itu berada dalam tubuh Daichan. Kami ingin mengambilnya kembali dan untuk mendapatkannya, kami harus mengalahkan Daichan terlebih dahulu. Diantara kami, hanya kaulah yang bisa bertarung imbang dengannya. Daichan adalah demon yang sekelas denganmu. Jadi, kurasa kau bisa mengalahkannya”, jelas Inoo.
Hikaru menghela nafas panjang. “Aku tidak yakin bisa mengalahkan Daiki atau tidak. Tingkat kekuatan kami memang sama, tapi Daiki jauh lebih lihai dariku dalam soal bertarung”
“Tunggu dulu...”, Keito tiba-tiba menyela. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Daichan dan Daiki yang kalian sebut ini, apakah yang kalian maksud itu... “, Keito menghentikan ucapannya sejenak, “Arioka Daiki? kakak kelas yang selalu bersama dengan Takaki senpai?”
Inoo, Yabu, dan Hika mengangguk secara serempak. Keito langsung membelalakkan matanya tidak percaya. Dia sama sekali tidak menduga kalau demon yang mengambil kekuatannya ini adalah kakak kelasnya yang pernah ditemui olehnya.
“Jangan-jangan... Takaki senpai juga... seorang demon sama seperti kalian?”, tanya Keito lagi.
Mereka bertiga kembali mengangguk secara bersamaan. Keito tidak bisa lagi berkata-kata. Tanpa dia sadari, dia telah bertemu dengan demon-demon lain.
“Keito-sama, yang anda maksud Takaki senpai dan Arioka senpai itu jangan-jangan 2 orang pemuda yang bertubuh tinggi dan pendek yang kita temui di kantin itu ya?”, tanya Chii memastikan. Keito mengangguk. Kali ini giliran Chii yang terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dia sudah pernah bertemu dengan demon yang memakan kekuatannya.
“Tapi...”, Chii menggumam pelan, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Kenapa saat berdekatan dengan mereka berdua, aku sama sekali tidak merasakan aura demon milik mereka? Seharusnya aku bisa tahu kalau mereka demon, apalagi salah satu diantara mereka ternyata demon yang memakan kekuatanku”
“Daiki adalah demon kelas A. Semakin tinggi kelas demon, semakin besar pula kekuatannya. Mereka bisa menyembunyikan auranya dengan baik. Kalian berdua bahkan tidak bisa merasakan aura demon milik Hikaru yang ada di hadapan kalian ini kan?”, tanya Inoo sambil mendorong Hikaru maju ke hadapan dua dewa pelindung itu. Rubah kecil dan anjing kecil itu mengangguk bersamaan.
“Daiki adalah lawan yang sulit”, gumam Hika. “Dengan kondisiku sekarang, aku tidak yakin bisa menang melawannya. Tubuhku sudah kehilangan banyak tenaga akibat siksaan yang kuterima. Para golem itu memang tidak pernah setengah-setengah kalau menyiksa”
“Sehebat itukah Arioka senpai? Bukankah kekuatan kalian seimbang?”, tanya Keito.
“Sebenarnya, kalau soal kekuatan, aku yakin kalau aku bisa mengimbanginya kalau kekuatanku sudah kembali pulih. Yang jadi masalah adalah demon yang selalu bersama dengan Daiki”, gumam Hika. “Yuya tidak akan tinggal diam kalau Daiki tidak ada. Daiki adalah makanannya yang berharga. Tidak mungkin dia akan melepaskannya begitu saja”
“Tenang saja. aku sudah memikirkan cara untuk memisahkan mereka berdua. Kau bisa menghadapi Daichan sendirian tanpa perlu diganggu olehnya”, sahut Inoo sambil tersenyum simpul. Yabu melirik sekilas ke arah Inoo. Melihat senyuman Inoo, Yabu sudah mengira ada rencana licik yang sudah dipersiapkan oleh Inoo. Tapi dia sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan oleh Inoo.
“Oh begitu? Baguslah...”, Hika tiba-tiba melotot ke arah Keito. “Ngomong-ngomong, kau tadi bilang kalau ingin mengikat kontrak denganku kan? Mau dilakukan sekarang?”
“Tunggu dulu”, Yama tiba-tiba melompat ke depan Keito. “Apakah mengikat kontrak itu perlu? Tidak bisakah kalian menolong kami tanpa perlu mengikat kontrak?”, pinta Yama. Dia tidak ingin Keito mengikat kontrak dengan demon lain. Chii akan semakin menderita bila Keito mengikat kontrak dengan demon sekali lagi.
“Menolong dengan gratis? Itu tidak mungkin”, ucap Hika sambil tersenyum. “Kami para demon, tidak mengenal kata gratis. Take and Give. Itulah motto kami. Aku bersedia menolong kalian, asalkan kalian memberiku sesuatu. Tentu saja, kalian juga harus memberikan imbalan yang kuminta”
Keito mengelus Yama pelan, memintanya untuk mundur. Yama hanya menunduk menuruti permintaan Keito. Yama melihat ke arah Chii dengan pandangan khawatir. Chii menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada Yama kalau dia baik-baik saja dan memintanya untuk menuruti kehendak Keito.
“Baiklah, ayo kita mengikat kontrak”, ucap Keito mantap.
Hika perlahan mendekat ke arah Keito. Sama seperti yang dilakukan Inoo dan Yabu, Hika mengecup kening Keito. Sebuah tanda terukir di kening Keito. Keito bisa merasakan keningnya panas. Panasnya kini mulai mengalir ke sekujur tubuhnya.
Yama menghampiri Chii yang tampak kesakitan. Dia menutupi Chii agar Keito tidak bisa melihat kondisi Chii yang tampak kesakitan. Dari ekspresi Chii, Yama bisa menduga kalau Chii sangat menderita. Chii terus menggigit bibirnya agar suaranya tidak keluar. Yama menjilati muka Chii berkali-kali untuk menenangkan Chii.
“Apa imbalanmu?”, tanya Keito setelah mereka berdua selesai mengikat kontrak.
Hika membasahi bibirnya dengan air liurnya. Wajahnya yang tampak ramah tadi kini telah berubah menjadi tampak seperti hewan buas yang kelaparan. Melihat ekspresi Hika yang seperti itu, akhirnya Keito yakin kalau Hika adalah demon, sama seperti Yabu dan Inoo. Ekspresi yang ditunjukkan para demon saat meminta imbalan selalu sama, ekspresi seperti hewan buas yang kelaparan.
“Tulang. Aku sangat lapar sekarang. Tenagaku sudah hampir habis. Sehingga aku perlu mengisi tenagaku kembali. Makananku adalah tulang”
“Tulang? Tulang apa?”, tanya Keito.
“Tulang manusia. Aku sangat suka tulang manusia. Di tulang manusia terdapat banyak kalsium dan vitamin D. Kandungannya jauh lebih banyak daripada di tulang hewan. Aku sangat suka tulang, apalagi tulang yang masih segar”
Keito menelan ludah. Dia tampak sangat kebingungan. Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan tulang manusia yang segar?
“Nih”, Inoo melemparkan bungkusan yang dibawanya ke hadapan Hika. Hika langsung membuka bungkusan itu. Matanya langsung berbinar-binar saat melihat tulang-tulang segar yang ada di dalam bungkusan itu. Tanpa disuruh, dia langsung melahap tulang itu satu persatu.
“Aku sudah menyiapkannya karena tahu kalau kau tidak mungkin bisa menyiapkan imbalan untuk Hika”, ucap Inoo saat Keito melihatnya dengan pandangan penuh tanda tanya. “Bersiap-siaplah, karena aku akan meminta imbalan darimu. Take and Give, okay?”, ucap Inoo sambil mengedipkan sebelah matanya. Keito hanya bisa menggangguk pasrah.
Kriuk, kriuk, kriuk, kress, kress. Terdengar bunyi riuh saat Hika mengunyah tulang-tulang itu. Keito hanya menatap Hika yang asyik mengunyah tulang-tulang itu. Dia mengunyah tulang-tulang itu seperti makanan kecil saja.
BRUK! Tepat setelah Hika mengunyah potongan tulang yang terakhir, dia tertidur pulas. Keito, Yama, dan Chii hanya bisa melongo melihat Hika.
“Biarkan dia tidur. Itu salah satu cara Hika memulihkan tenaganya”, ucap Yabu sambil mengangkat Hika dan memapahnya keluar ruangan. “Kalian tidak usah khawatir. Setelah dia bangun nanti, dia akan melakukan permintaan kalian. Kalian juga sebaiknya beristirahat dan memulihkan tenaga kalian”, ucap Yabu sambil melangkah keluar.
Keito menuruti ide Yabu. Dia kemudian berbaring kembali di kasurnya untuk melanjutkan tidur. Tubuhnya kini memang benar-benar merasa lelah. Yama dan Chii memutuskan untuk berbaring di samping tempat tidur Keito untuk menjaga Keito saat dia tidur. Sama seperti Hika, mereka berdua juga tidur untuk memulihkan tenaga mereka.
Yabu kini telah berjalan keluar menjauhi kamar Keito. inoo mengikuti mereka dari belakang. Mereka bertiga kini berada dalam sebuah ruangan yang tampaknya merupakan ruangan keluarga. Ada beberapa foto keluarga yang terpajang disana. Tampaknya foto-foto yang terpajang itu adalah foto kepala keluarga Okamoto dari waktu ke waktu. Di bawah foto-foto itu ada catatan tahun lahir hingga tahun kematian mereka.
Inoo melangkah menuju ke foto wanita yang ada di deretan foto-foto tersebut. OKAMOTO KAORU, itulah nama yang tertulis di bawah bingkai foto wanita tersebut. Tampaknya, wanita dalam foto itu adalah satu-satunya kepala keluarga wanita di keluarga Okamoto. Inoo menatap foto dengan wajah sendu. Rasa sedih dan kesepian terpancar di wajahnya. Ini pertama kalinya Inoo berekspresi seperti layaknya seorang manusia.
“Sedikit lagi Kaoru, sedikit lagi cita-citamu akan tercapai. Aku akan melakukan apapun untuk memenuhi impianmu. Meskipun butuh waktu ratusan tahun, aku pasti akan mewujudkannya. Tunggu aku, kaoru”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar