Selasa, 16 Juni 2015

TEN KNIGHTS

PART 28

Suasana malam ini sangat meriah. Sembilan ksatria telah berkumpul kembali. Malam ini kami mengadakan pesta kecil untuk merayakan kembalinya Daiki. Tidak hanya kami yang senang dengan kembalinya Daiki, ibu Hikaru juga. Ibu Hikaru membuat makanan yang enak dalam jumlah banyak. Dan katanya beberapa makanan yang dihidangkan ini adalah makanan kesukaan Daiki waktu kecil.

“Wah, suasana malam ini sangat meriah. Ini semua berkat Daichan”, kata Yabu.

“Ah, kau terlalu berlebihan Yabu”, kata Daiki sambil tersipu.

“Yahhahahaa, aku tidak bisa melupakan ekspresi Yabu tadi waktu dia bangun dan melihat Daichan ada di depannya. Seperti orang yang sedang melihat hantu saja. Dia bahkan sampai terjatuh dari tempat tidur”, ucap Hika sambil tertawa terbahak-bahak.

“Yah, bagaimana aku tidak kaget. Aku masih dalam keadaan setengah sadar saat bangun tidur, lalu ada sosok Daichan yang ada di depanku. Aku tidak tahu kapan dia ada disana. Jadi spontan saja....”, ucap Yabu malu. Semua yang ada di ruangan akhirnya tertawa. Hanya Daiki yang terus menundukkan wajah.

“Kenapa Daichan? Kau masih sakit?”, tanya Yuya yang duduk di sampingnya.

“Tidak. Aku sudah baikan kok. Aku hanya sedih saat menyadari bahwa Ryuu benar-benar sudah tiada. Seandainya dia ada disini sekarang, tentu akan lebih meriah”, jawab Daiki. Semua yang tertawa langsung menghentikan tawa mereka. Keito menatap tajam ke arah Daiki.

“Kami semua berpikiran sama denganmu kok. Aku yakin, Ryuu melihat kita dengan ekspresi yang gembira. Dia pasti senang mengetahui kau telah kembali. Jadi,jangan murung seperti itu”, Yuya mengusap pelan kepala Daiki dengan lembut. Aku melihat ekspresi Daiki yang awalnya murung jadi kembali tersenyum seperti biasa. Entah kenapa dalam hatiku aku merasa sedikit tidak senang saat melihat mereka.

“Ittai!!!”, aku menjerit kesakitan saat Chinen mencubit lengan tanganku. Aku melihat kearah Chinen yang duduk di sebelahku dengan wajah kesal.

“Apa-apaan sih Yuri??”.

“Salahmu sendiri. Kau dari tadi terus menerus menatap Daichan. Pacarmu disini tahu!”, Chinen menjewer telingaku. Aku memegangi telingaku yang sekarang berwarna kemerahan karena dijewer oleh Chinen. Aku melirik sekilas ke arah Daiki, dan kulihat dia tersenyum menahan tawa saat melihatku.

Tiba-tiba terdengar nada dering telepon. Yabu merogoh sakunya, rupanya itu bunyi nada dering HP Yabu. Yabu segera keluar ruangan untuk menerima telepon. Cukup lama Yabu bercakap melalui telepon, akhirnya Yabu kembali masuk ke dalam ruangan.

“Dari siapa?”, tanya Inoo yang ingin tahu.

“Master. Aku tadi mengirim SMS ke mereka mengenai kembalinya Daichan. Lalu master bilang akan segera kembali secepatnya setelah urusan di tempat Ryuu selesai. Jin juga berpesan agar kita tetap latihan seperti biasa, dan lagi....”, Yabu melihat kearah Daiki, sepertinya dia ingin melanjutkan omongannya tapi tidak jadi.

“Apa?”, tanya Inoo lagi.

“Tidak apa-apa. Aku mungkin salah dengar. Nanti kuhubungi mereka lagi”, kata Yabu.

“ah, ini sudah malam. Daichan, ayo tidur”, kata Yuya.

“Eh? Tapi aku masih ingin disini”, kata Daiki lagi.

“Tidak boleh. Kau masih harus banyak beristirahat. Aku akan menemanimu tidur”, kata Yuya.

“Chotto Yuya.... kau akan tidur sekamar dengan Daichan?”, tanya Hika.

“Iya, aku tidak bisa membiarkan dia tidur sendiri malam ini, apalagi kondisi tubuhnya belum terlalu bagus’, jawab Yuya. “Tenang saja, aku tidak mungkin berbuat macam-macam. Terlebih lagi, kamar Inoo dan Chii ada di samping kamar Daichan, jadi kalian bisa segera datang kalau kalian cemas”, kata Yuya lagi saat melihat kami semua memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

“Aku percaya padamu kok”, kata Daiki sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, kita segera tidur saja malam ini. Aku yakin kalian semua juga sudah capek dan ingin beristirahat. Besok kita akan latihan seperti biasa. oke?”, kata Yabu.

“Okeee....”, jawab semua ksatria kompak.

Kami semua pun menuju kamar masing-masing. Aku sekamar dengan Yuto dan Keito. Inoo sekamar dengan Chinen, sedangkan Yabu dengan Hikaru. Harusnya Yuya juga tidur dengan Yabu dan Hika, tapi karena dia ingin menjaga Daichan sementara waktu, maka hanya Yabu dan Hika saja. Kami pun masuk ke kamar masing-masing.

“Ini pertama kalinya kita tidur bersama ya Yamachan...”, kata yuto.

“Ah, benar juga. Ini pertama kalinya aku tidur bersama dengan kalian”, kataku.

“Aku sering tidur bersama dengan ksatria yang lain kok, tapi ini pertama kalinya pengalamanku tidur bersama denganmu”, kata Yuto.

“Kalian berdua ini, jangan bercakap-cakap seakan kalian sepasang kekasih yang baru pertama kali menginap di luar”, sahut Keito yang sedari tadi diam mengamati kami.

“Ciieee, ada yang cemburu”, kata Yuto.

“Ciiee, ciiee...”, kataku yang ikut menggoda Keito. Keito hanya diam saja dan tidak menghiraukan guyonan kami.

“Kau kenapa? Sejak kau kembali, kau seperti itu terus, seperti memikirkan sesuatu”,kata Yuto.

“Tidak, tidak apa-apa”, jawab Keito singkat.

“Aku tidak akan memaksamu untuk cerita. Tapi, bila kau ingin cerita, aku siap mendengarkanmu”, kata Yuto. Keito hanya tersenyum dan mulai memejamkan matanya untuk bersiap tidur. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Keito?

Kamar Chinen dan Inoo

“Enaknya.....”, kata Chinen sambil menatap dinding kamar.

“Apanya?”, tanya Inoo

“Daichan bisa tidur bareng dengan Yuya.... ini juga bukan pertama kalinya mereka tidur bersama. Enaknya.....”, gerutu Chinen sambil berguling-guling di lantai.

“Kau ini.... mereka tidak tidur bersama seperti dugaanmu. Yuya hanya menemani Daichan tidur karena dia khawatir membiarkan Daichan sendiri. Terlebih lagi mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama”, kata Inoo. Chinen hanya memeluk bantalnya sambil memasang muka seperti orang yang sedang merajuk. “Oh ya Chii, ada yang ingin kutanyakan”.

“Apa?”

“Kemampuanmu meniru kan? Kau bisa meniru apa saja?”

“Hmm? Aku bisa meniru penampilan orang dan kemampuannya. Tapi itu membutuhkan banyak tenaga. Jadi, biasanya aku hanya meniru salah satu, penampilan atau kemampuannya. Dengan begitu energi yang diperlukan lebih sedikit dan aku bisa meniru lebih lama”.

“Berapa lama kau bisa menggunakan kemampuanmu itu?”

“Tergantung. Kalau hanya meniru penampilan, paling lama setengah hari. Kalau kemampuan, paling lama 1 jam kalau sedang tidak bertarung. Kalau lagi bertarung paling lama 15 menit. Kalau meniru penampilan dan kemampuannya, paling lama hanya 10 menit”, jawab Chinen. Inoo memikirkan sesuatu setelah mendengar jawaban Chinen. “Ada apa sih? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”, tanya Chinen yang penasaran.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu mengenai kemampuanmu. Ngomong-ngomong, kau pernah bertemu musuh yang punya kemampuan yang sama denganmu tidak?”

“Makhluk kegelapan? Tidak. Yang pernah kutemui hanya mereka yang punya kemampuan bergerak cepat, mengeluarkan racun, aku tidak pernah bertemu yang memiliki kemampuan sama denganku. Memangnya kau pernah?”

“Tidak sih... hanya ingin tahu saja. Sudahlah, ayo kita tidur. Besok kita harus latihan kan?”, setelah berkata seperti itu Inoo mematikan lampu kamar dan bersiap untuk tidur meninggalkan Chinen yang masih terbangun dengan rasa penasaran.

Kamar Daiki dan Yuya

“Yuya, aku tidak apa-apa tidur sendiri. Kau bisa tidur di kamarmu saja”.

“Tidak apa-apa, aku akan menemanimu sampai kau sehat sepenuhnya. Tidak usah mengkhawatirkanku. Cepat tidur sana”, Yuya memaksa Daiki untuk segera tidur.

“Tapi.....”

“Cepat tidur. Kalau kau butuh sesuatu, aku akan selalu ada disini”.

“Baiklah,kalau begitu selamat tidur”.

“Selamat tidur”, kata Yuya. Perlahan Daiki mulai terlelap dalam tidurnya, sedangkan Yuya masih terjaga di samping Daiki. Yuya menatap Daiki lekat-lekat. “Aku harus menjagamu agar kejadian Ryuu tidak terjadi lagi. Aku tahu kau tidak akan berbuat seperti itu, tapi aku akan terus mengawasimu hingga benar-benar terbukti bukan kau yang melakukannya”, gumam Yuya pelan.

Kamar Yabu dan Hikaru

Yabu sedang membaca buku sedangkan Hika mendengarkan musik melalui headsetnya. Hika menatap Yabu yang sedang membaca buku.

“Hika, kalau ada yang ingin kau bicarakan, bicara saja, tidak usah menatapku seperti itu”, kata Yabu yang menyadari tatapan Hika yang mengamatinya sedari tadi. Hika melepas headset yang terpasang di telinganya lalu berjalan mendekati Yabu. “Apa?”, tanya Yabu pada Hika yang sudah ada di dekatnya. Tiba-tiba Hika menyandarkan kepalanya ke dada Yabu. Yabu hanya diam saja melihat tingkah aneh temannya ini.

“Kau kenapa sih?”, tanya Yabu.

“Aku sedang mendengarkan suara jantungmu. Suara detak jantungmu tidak pernah berubah”.

“Memangnya kenapa?”

“Hei, Yabu. Menurutmu apakah irama detak jantung seseorang bisa berubah?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mendengarnya, kau kan yang bisa. Memangnya kenapa?”,tanya Yabu. Hika hanya diam saja. Tiba-tiba dia kembali ke tempat tidurnya dan beranjak tidur. Yabu hanya bengong melihat tingkah Hikaru yang aneh.

Keesokan paginya, seluruh ksatria berkumpul dan melakukan latihan bersama. Masing-masing berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya. Keito berusaha untuk bisa melihat lebih jauh melalui bola kristalnya. Hika berlatih dengan pistolnya dan menembak sasaran yang cukup jauh. Aku berlatih bertarung melawan Yuto, tenaga yuto yang cukup besar dan badannya yang kuat membuat yuto menjadi teman latihan yang cukup tangguh. Seharusnya aku berlatih tarung dengan Daiki seperti biasanya, tapi karena Daiki masih lemah, maka Yuto yang melatihku, sedangkan Daiki hanya menatap kami berlatih dari kejauhan karena dia tidak ikut berlatih. Inoo berlatih tanding melawan Yuya. Inoo berusaha menyerang Yuya dengan 2 pedang kecil yang dia punya. Ini pertama kalinya aku melihat Inoo bertarung menggunakan pedangnya. Gerakannya indah sekali, seakan dia sedang melakukan tarian pedang. Chinen sedang berusaha meniru kemampuan Ryuu, dia bilang akan lebih sering menggunakan kemampuan ini agar seakan-akan Ryuu bertarung bersama kami. Sedangkan Yabu, seperti biasa dia mengendalikan air.

“Yappari, kemampuan Yabu dan Inoo memang enak untuk dilihat”, kata Hika.

“Kupikir kau sedang latihan”, kataku.

“Aku sedang istirahat sejenak. Kau sendiri juga bukankah harusnya sedang latihan?”

“Kami juga sedang beristirahat, sama sepertimu. Aku tidak tahu kalau Inoo sekuat itu....”, kata Yuto yang juga mengamati Inoo.

“Kalian tidak tahu? Inoo itu sebenarnya jauh lebih kuat dari Yabu kalau soal bertarung. Hanya saja karena tubuhnya yang lemah, maka dia tidak terlalu sering bertarung menggunakan pedangnya”, jawab Hika.

“Hoo.....begitu. Ksatria cewek disini semuanya kuat-kuat kalau begitu”, kataku.

“Begitulah....”, kata Hikaru.

“Dimana Daichan?”, tanyaku yang menyadari Daiki tidak ada disana.

“Eh? Tadi dia disana kok”, tunjuk Hika ke suatu tempat tapi Daiki tidak ada disana. “Mungkin dia pergi ke toilet”, jawab Hika lagi.

“Keito juga tidak ada tuh”, kata Yuto lagi.

“Ya mungkin dia juga sedang ke toilet”, jawab Hika.

Tidak jauh dari rumah Hikaru, Daiki berdiri disana seperti sedang menelepon seseorang.

“Ya, aku mengerti. Semua berjalan lancar disini. Tampaknya mereka belum menyadarinya. Tapi, ada beberapa dari mereka yang mulai curiga terhadapku”, kata Daiki lewat telepon. Keito yang mengikuti Daiki dari belakang segera bersembunyi dan mendengarkan percakapan Daiki dengan seseorang itu.

“Dia bicara dengan siapa?”, gumam Keito.

“Iya, serahkan saja disini padaku. Bagaimana dengan sang magician dan alchemist itu? Kau sudah membereskan mereka?”, tanya Daiki.

“magician dan alchemist? Master dan Jin maksudnya?”, gumam Keito lagi.

“Lakukan sesuai rencana. Kau tahu kalau Tuan Jack tidak mau menerima kegagalan kan?”, ucap daiki lagi. Seketika Keito langsung terperanjat kaget. ‘Jack? Kenapa Daiki menyebut nama itu? Siapa yang ditelepon oleh Daichan?’, pikir Keito. Keito langsung berbalik pulang. Dia ingin segera menyampaikan apa yang dilihatnya ini pada ksatria yang lain. Teman-temannya harus tahu.

Keito mempercepat langkahnya agar segera tiba ke rumah. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang memegang pundak Keito. keito kaget dan melihat orang yang memegang pundaknya. Alangkah kagetnya dia saat melihat Daiki sudah berdiri dibelakangnya.

“Keito? Apa yang kau lakukan disini?”, tanya Daiki.

“Ah, aku tadi sedang keluar sebentar untuk mengganti suasana, aku sedang berjalan-jalan di sekitar sini”, kata Keito mengarang alasan.

“Oh begitu.... tapi, mukamu seperti pucat begitu. Kau tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa kok. Ayo kita segera kembali ke dalam”, Keito mempercepat langkahnya. Tapi dihentikan oleh Daiki yang memegang tangannya.

“Mengintip dan menguping itu tidak baik lo Ke-i-to”, kata Daiki lagi sambil tersenyum. Keito terperanjat kaget. “Aku tahu kok, kau tadi mengikutiku dan mendengarkanku sedang bicara dengan seseorang. Oleh karena itu, aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke dalam dan menceritakan hal ini pada yang lain”.

“Siapa kau sebenarnya?”, tanya Keito. JLEBB! Sebuah pisau menancap di tubuh Keito. Tidak lama kemudian Keito jatuh tersungkur bersimbah darah akibat tusukan pisau itu. 

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar