PART 26
“Ryochan”, sapa Chinen dari balik pintu.
Aku berjalan menghampirinya dengan langkah pelan. “Ada apa?”, tanyaku.
Chinen menyerahkan nampan yang berisi kue dan teh. “Aku mau menyerahkan ini. Ibu Hika membuat ini untuk kita. Aku membawakan bagian kalian kemari. Bagaimana keadaan Yabu dan Hika?”.
“Mereka sedang tidur saat ini. Aku sudah menyembuhkan luka mereka. Saat ini mereka butuh istirahat yang cukup. Terlebih lagi kejadian Ryuu kurasa menguras tenaga mereka”, aku menunduk. Dalam ingatanku masih terbayang sosok Ryuu yang terbujur kaku. Aku bahkan masih bisa merasakan dinginnya tangan Ryuu. Chinen tiba-tiba memelukku. Pelukannya terasa hangat.
“Daijoubu Ryochan”, ucap Chinen sambil mengelus punggungku. Tanganku mulai memeluk erat tubuh Chinen yang mungil. Entah kenapa, meskipun tubuhnya kecil, aku sangat merasa nyaman di pelukannya.
“Saa, aku tunggu di luar saja ya. Aku takut mengganggu Yabu dan Hikaru. Kau juga, istirahatlah. Kau terlalu banyak menggunakan kemampuanmu. Tidak baik memaksakan diri”, kata Chinen lagi. Aku mengangguk, setelah itu Chinen segera keluar dari kamar meninggalkan aku sendiri bersama dengan Yabu dan Hikaru yang tertidur pulas.
Aku terduduk diam di samping jendela. Aku menatap keluar jendela. Di seberang jendela terdapat sarang burung. Di sarang itu terdapat 3 anak burung kecil. Tidak tampak ada sang induk disana. Tidak berapa lama, sang induk datang membawa makanan, induk burung menyuapi makanan ke anaknya satu persatu-satu. Salah seekor anak burung tampak tidak antusias menerima makanan, berbeda dengan 2 saudaranya. Sang induk dengan sabar terus mencoba agar anaknya bisa memakan makanannya. Aku melihat adegan di depanku dengan rasa haru. Betapa besar kasih sayang induk itu terhadap anaknya. Bahkan saudaranya juga tampak saling mengusap kepala anak burung yang kurang bersemangat itu.
Tiba-tiba aku teringat kembali kejadian tadi malam. Aku masih ingat seberapa kuat aku berusaha. Bahkan aku masih ingat genggaman tangan Ryuu di tanganku. Kata-katanya yang terakhir, serta ekspresi wajahnya. Aku hanya menatap kepergian Ryuu di depan mataku. Aku terus menerus mengulang adegan itu di ingatanku. Tidak satupun ada bagian yang terlewatkan.
‘Apa gunanya aku memiliki kekuatan ini? Aku bahkan tidak bisa menolong rekanku sendiri. Menyedihkan sekali aku ini. Aku benar-benar tidak berguna’. Berkali-kali aku mengulang pikiran itu. Aku memandang langit biru. ‘Ayah, kau bisa mendengarku? Apa sekarang kau bertemu dengan Ryuu disana? Apakah Ryuu ada di tempat yang sama denganmu?’, tanyaku sambil terus menatap langit itu.
Aku kehilangan semangat. Aku mulai tidak yakin dengan diriku yang menjadi seorang ksatria. Bisakah aku terus melakukan hal ini? Bertarung dengan makhluk kegelapan, terluka, bahkan mempertaruhkan nyawa. Aku tahu kalau apa yang kami lakukan ini sangat berbahaya dan kami harus tetap bersiap apabila nyawa yang menjadi taruhannya. Waktu kejadian Yabu yang terkena racun, dia bisa diselamatkan karena ada Daichan disana. Seandainya waktu itu Daichan tidak datang, bisakah aku melakukannya sendiri? Waktu kejadian Daichan yang tidak bisa mengontrol kemampuannya juga, aku bisa menolongnya karena ada Yuya dan master yang juga membantuku. Seandainya hanya ada aku seorang, bisakah aku melakukannya?
Di halaman rumah
Keito sedang asyik melihat bola kristalnya, dia terus mengamati bola itu di halaman tengah dalam waktu yang lama. Saking asyiknya, dia tidak menyadari Inoo datang mendekat padanya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”, tanya Inoo yang sudah berdiri di depannya.
“Aku sedang mencoba melihat dengan bolaku ini. Aku mencoba mencari tahu keberadaan Daichan saat ini, tapi aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Aku hanya bisa melihat keadaan di sekitar sini saja. Tabir tipis yang kulihat di markas juga masih menyelimuti penglihatanku”, jawab Keito.
“Jaa, kau sama sekali tidak bisa tahu dimana Daichan ya?”, tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiran Inoo. “Kalau dalam jarak dekat, kau bisa melihat lewat bola kristalmu kan?”
“Iya, aku sudah mencobanya dari tadi”, Keito menatap Inoo dengan wajah penuh tanda tanya.
“Kalau begitu, kau bisa ikut aku ke suatu tempat? Aku ingin menyelidiki sesuatu”.
“Eh? Hanya kau dan aku?”.
“Iya, kenapa memangnya? Masalah?”
“Bukan begitu, kau ingin pergi tanpa Yabu?”
“Tidak mungkin aku mengajaknya pergi, dia masih lemah. Lagian sekarang dia masih tidur”.
“Demo.....”, Keito ragu-ragu dengan ajakan Inoo. Dia tahu kalau Yabu sangat protektif pada Inoo. Dia tidak bisa membayangkan kalau Yabu tahu kalau Inoo pergi tanpanya.
“Ayo...soal Yabu, biar aku nanti yang urus. Ikou ze”, Inoo menarik tangan Keito dan segera mengajaknya pergi ke suatu tempat.
“Hei, kalian mau kemana?”, tanya Yuto yang melihat Inoo dan Keito yang bersiap keluar rumah.
“Kami ingin menyelidiki sesuatu”, jawab Inoo singkat. Mereka berdua segera keluar rumah. Yuto hanya memandang kepergian mereka berdua dengan penuh tanda tanya. Yuto menuju kembali ke ruang tengah. Disana ada Yuya dan Chinen yang sedang menonton TV. Tapi melihat wajah mereka berdua, tidak ada yang sungguh-sungguh menonton TV. Meskipun mata mereka melihat ke arah TV, sepertinya ada hal lain yang dipikirkan oleh mereka.
Yuya kemudian bangkit dan segera menuju keluar. “Kau mau kemana?”, tanya Yuto.
“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku ingin menenangkan pikiranku, sekalian mencari udara segar”, jawab Yuya.
“Ah, kalau begitu aku ikut denganmu”, ucap Yuto lagi.
“Eh?? Kalian berdua mau pergi? Aku juga ikut kalian aja deh”, sahut Chinen tiba-tiba.
“Kukira kau mau menemani Yamachan”, kata Yuto.
“Sementara ini sepertinya dia ingin sendiri dulu. Terlebih lagi aku ingin dia cukup beristirahat”, kata Chinen. “Tidak masalah kan Yuya?”
“Ya bagiku sih tidak masalah kok”, jawab Yuya enteng.
Chinen berjalan mendekati mereka dan menggandeng tangan Yuya dan Yuto. “Ini kesempatan langka kita bisa keluar bareng kan? Sudah lama aku tidak keluar dengan Yuto, sedangkan Yuya selalu keluar dengan Daichan. Ini kesempatan bagus”, kata Chinen sambil melihat ke arah Yuya dan Yuto. “Saa, ayo pergi!”.
Mereka bertiga berjalan keluar. Sepanjang jalan Chinen terus membuat keributan mengenai apa yang dilihat olehnya. Mulai dari bertemu kucing, mengejar kupu-kupu, menyapa anak kecil yang ada di jalan. Semua tingkah lakunya persis seperti anak kecil yang baru saja diajak jalan-jalan oleh orangtuanya. Yuto dan Yuya hanya melihat Chinen dari kejauhan saja.
“Ceria sekali anak itu. Bahkan aku sempat berpikir untuk pura-pura tidak mengenalnya saat ini”, kata Yuya.
“Ahhahahhaa....iinjanai? Aku lebih baik melihatnya ceria daripada murung. Dia melakukan itu untuk menutupi kesedihan yang ada di dalam hatinya. Meskipun saat ini dia tertawa, bagiku dia memaksakan diri untuk melakukannya”, kata Yuto.
“Ya...tidak ada satupun diantara kita yang merasa bahagia dengan kejadian itu”.
“Sampai saat ini kita selalu menang saat melawan makhluk kegelapan. Waktu bertarung dengan maou juga kita masih bisa selamat walaupun tidak menang, sehingga membuatku mulai berpikir enteng mengenai tugas ini”, ucap Yuto.
Yuya hanya menunduk pelan. Dia mulai memikirkan sesuatu, berkat kemampuannya ini dia menjadi yang tidak terkalahkan. Dia tidak pernah terluka saat pertarungan. Tapi seandainya ada musuh yang mempunyai kemampuan yang bisa mengalahkan kemampuannya, apa dia masih bisa menang melawan musuh tersebut? Pemikiran ituterus membayangi pikirannya.
“Ne, ne, ne, Yuya. Tempat yang ingin kau tuju itu jangan-jangan disana ya?”, tanya Chinen yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Yuya. Yuya terperanjat kaget saat melihat Chinen yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“Chii, kau mengagetkanku saja!”, seru Yuya.
“Salahmu sendiri yang tidak terlalu fokus. Tempat yang ingin kau tuju itu jangan-jangan rumah Daichan?”, tanya Chinen lagi.
“Rumah Daichan?”, tanya Yuto.
“Yup. Kalau kau berbelok ke arah sana, kau akan sampai di rumah Daichan. Rumah Hika dan Daichan jaraknya dekat, makanya mereka berdua sering main bersama waktu kecil. Terlebih kedua orangtua mereka masih ada hubungan saudara. Ayah Hika dan ayah Daichan kakak adik”, terang Chinen.
“Iya, aku memang ingin kesana”, kata Yuya.
“Kenapa? Saat ini disana hanya ada tanah kosong saja lo. Rumah mereka kan sudah hancur saat kejadian itu”, tanya Chinen lagi.
“Tidak apa. Aku hanya merasa ingin melihat tempat itu saja”, kata Yuya lagi.
Tidak berapa lama mereka telah sampai di sebuah tanah kosong. Tidak ada bangunan yang berdiri disana. Benar-benar kosong. Bahkan tanaman pun tidak ada yang tumbuh disana. Di pojokan tanah kosong itu terdapat tanaman yang telah mati. Mereka bertiga pun masuk dan berdiri di atas tanah kosong itu.
“Kudengar sampai saat ini tempat ini sengaja dibiarkan kosong. Master telah mengurus agar tempat ini tetap seperti ini”, kata Chinen.
“Ya, kau lihat kondisi tanahnya kan? Kering kerontang. Bahkan tanaman pun tidak ada yang tumbuh disini. Racun Daichan masih ada dan mempengaruhi tempat ini”, kataYuya. “Seandainya aku tidak disini, kalian pasti sudah keracunan juga”.
“Sekuat itu racun Daichan?”, tanya Yuto.
“Ya.....”, Yuya terdiam kemudian menunduk. Matanya terlihat memikirkan sesuatu.
“Ada apa?”, tanya Chinen melihat ekspresi wajah Yuya yang tidak biasa.
“Soal racun yang ada di tubuh Ryuu”, kata Yuya.
“Kenapa memangnya? Kita tahu kalau Ryuu terkena racun. Berarti dia melawan musuh yang memiliki racun”, kata yuto.
“Aku tahu racun itu. Aku mengenali racun itu dengan sangat baik”, kata Yuya lalu melihat ke arah Chinen. “Kau juga berpikiran yang sama kan Chii?”. Chinen hanya terdiam.
“Apa maksudnya? Apa yang kalian tahu?”, tanya Yuto.
“Tapi itu tidak mungkin Yuya! Daichan tidak akan berbuat demikian. Dia tidak akan membunuh temannya sendiri. Apalagi Ryuu yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri”, Chinen akhirnya membuka suara.
“Kau pikir aku menerima hal itu? Aku berusaha setengah mati menolak pemikiran itu. Berkali-kali aku berpikir kalau itu bukan Daichan. Tapi racun itu memang mirip dengan yang dimiliki oleh Daichan”, seru Yuya. Mukanya tampak mulai depresi.
Yuto hanya diam saja melihat perdebatan dua temannya ini. Dia sama sekali tidak punya bayangan kalau racun yang ada di tubuh Ryuu sama dengan milik Daichan. Dia juga tidak akan percaya kalau Daichan akan melakukan hal keji seperti itu. Tiba-tiba Yuto merasakan ada seseorang yang mengawasi mereka.
“Siapa disana?”, seru Yuto. Yuya dan Chinen yang sedang berdebat juga berhenti dan menoleh ke seseorang yang dimaksud oleh Yuto. “Keluarlah!”, seru Yuto lagi. Ketiga orang itu segera memasang sikap waspada dan bersiap untuk bertarung seandainya itu adalah musuh.
Perlahan seseorang itu keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka bertiga. Alangkah terkejutnya ketiga orang itu saat melihat sosok yang berdiri di depan mereka. Orang yang selama ini menghilang dan tidak diketahui keberadaannya sekarang muncul sendiri di hadapan mereka.
“Daichan?!”, seru ketiga orang itu berbarengan. Ekspresi terkejut, senang, dan heran memenuhi wajah mereka. Yuya dan Chinen tidak kuasa menahan ekspresi gembira mereka saat melihat Daiki yang selama ini mereka cari berada di depan mereka.
Di tempat lain, Inoo dan Keito....
“Inoo, kita mau kemana?”, tanya Keito yang berjalan mengikuti Inoo dari belakang. Keito melihat ke sekelilingnya, sepi, tidak ada hawa keberadaan manusia. Pohon-pohon yang menjulang tinggi berada di sekitar mereka. Tidak lama kemudian Keito melihat ada rongsokan mobil yang hangus terbakar di depan mereka. Tidak jauh dari situ, Keito juga melihat tumpukan mayat golem yang berserakan. “Tempat apa ini?”
“Disini lokasi kecelakaan yang menimpa Hika dkk. Aku bertemu dengan Hika serta Ryuu disini. Saat itu, Daichan sudah menghilang. Ryuu lalu menghilang dan mencari Daichan sampai disini, aku menemukan dia di daerah sini. Lalu, tumpukan golem itu adalah musuh yang dihadapi oleh Ryuu. Kau bisa melihat luka yang ada ditubuh golem itu kan? Seperti bekas luka cakaran dan cabikan oleh binatang buas. Yang punya kemampuan itu hanya Ryuu”, kata Inoo sambil menunjuk ke arah bekas luka di tubuh golem itu. Keito mendekat dan mengamati luka golem itu.
“Tunggu dulu. Golem ini tidak memiliki racun kan? Lalu bagaimana bisa Ryuu terkena racun?”, tanya Keito.
“Kurasa ada musuh lain yang datang menghadapi Ryuu selain ketiga golem ini. Aku menemukan Ryuu di sekitar sana”, Inoo menunjuk ke bagian dalam hutan dan berjalan masuk kesana. Keito mengikutinya dari belakang. “Nah, persis disini aku menemukannya”, Inoo berhenti di suatu tempat, tempat dimana dia menemukan Ryuu yang terbujur lemah.
“Disini kau menemukan Ryuu yang terkena racun?”, tanya Keito.
“Iya. Aku ingin kau melihat siapa yang memberikan racun ke Ryuu. Terlebih lagi aku ingin membuktikan hal lain.....”, Inoo terdiam dan menerawang jauh.
“Membuktikan apa?”, tanya Keito lagi.
Inoo mendesah nafas, “setelah aku menemukan Ryuu disini. Aku melihat Daichan berdiri disana”, Inoo menunjuk ke suatu arah di tempat dia melihat Daichan kemarin. “Kau tahu, kemampuan Daichan adalah racun kan? Jadi kupikir ......”, Inoo tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Kau pikir Daichan yang meracuni Ryuu?”, tanya Keito yang tampaknya mengerti apa yang dimaksudkan oleh Inoo. Inoo hanya mengangguk menjawab pertanyaan Keito.“Baiklah, aku akan mencoba melihat apa yang terjadi pada Ryuu disini. Aku percaya Daichan tidak akan melakukan hal itu, akan tetapi melihat sendiri lebih baik daripada berpikir yang tidak jelas”. Keito lalu mengeluarkan bola kristal miliknya dan mulai menggunakan kemampuannya. Dia berusaha melihat apa yang terjadi pada Ryuu melalui bola kristal miliknya.
“Tidak mungkin”, kata Keito yang terperanjat kaget saat melihat bola kristalnya.
“Ada apa?”, tanya Inoo penasaran. Dia tidak bisa melihat apa yang ditampakkan oleh bola kristal itu. Hanya Keito yang bisa melihatnya.
Tanpa berkata apapun, Keito memegang tangan Inoo. Dengan cara ini, Inoo bisa melihat apa yang ditampakkan oleh bola kristal. Inoo bisa melihat apa yang terjadi pada Ryuu. Inoo juga terperanjat kaget saat melihat siapa yang memberikan racun pada Ryuu. Mereka berdua saling berpandangan tidak percaya. Orang itu yang melakukannya??
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar