Senin, 04 Januari 2016

AKUMA NO YOROI

Part 32

Bumi bergetar. Langit bergemuruh. Hewan-hewan tampak panik dan berlarian kesana kemari. Beberapa manusia yang memiliki indra yang cukup peka, tampak gelisah. Ya, pertarungan demon di 4 tempat yang berbeda inilah yang menyebabkan perasaan tidak enak. Untunglah pelindung milik Yama bisa sampai tepat waktu dan menutupi pertarungan sengit itu sehingga manusia biasa tidak bisa melihatnya dan kerusakan yang timbul tidak akan begitu besar. Akan tetapi perasaan tidak enak akibat pertarungan sengit para demon itu masih bisa dirasakan samar-samar.

“Apakah ini hasil yang kau inginkan Kaoru-sama?”

Kenichi mendongak melihat ke arah langit. Meskipun tempatnya kini berada jauh dari tempat pertarungan itu, tapi dia tetap bisa merasakan kegelapan, kebencian, kepahitan, yang kini bercampur aduk akibat pertrarungan tersebut. Terlebih lagi, anaknya Keito juga berada di tengah pertarungan itu.

Sesungguhnya, Kenichi ingin segera berlari pulang dan membantu anaknya. Tapi, urusan di depannya jauh lebih penting. Kesepakatan yang dia buat dengan Inoo membuatnya tidak bisa pergi kemanapun. Dia hanya bisa berdiri terpaku di depan sosok perempuan yang terduduk manis di tengah pohon besar itu. Inoo sendiri kini telah hilang entah kemana.
---***---
Hikaru mendesah. Sepertinya sia-sia dia menaruh harapan pada Daiki. Daiki sama sekali tidak berniat untuk membantunya sedikitpun. Berkali-kali Hikaru kewalahan menghadapi serangan Shin. Shin berniat memakan Hikaru dan mengambil kekuatannya.

Hikaru menghela nafas. Dia mulai yakin kalau dia tidak bisa menghadapi Shin sendirian. Dia membutuhkan sebuah pengorbanan agar bisa memenangkan pertarungan ini. Hikaru mengeluarkan senjata sabit miliknya dan mengayunkannya ke arah tangan kirinya. Darah hitam segar menyembur keluar dari tangannya yang terpotong, sedangkan potongan tangannya terlempar ke bawah di dekat kakinya.

Daiki menoleh ketika mencium bau darah yang amat disukainya. Matanya berbinar-binar saat melihat potongan daging segar yang berada di dekat Hikaru. Daiki segera berlari untuk mengambil daging itu, tapi Hikaru menghentikannya.

“Akan kuberikan ini padamu, tapi sebagai gantinya, bantu aku”

Tanpa pikir panjang, Daiki langsung mengangguk mantap dan mulai menyantap potongan tangan Hikaru itu.
---***---
Ryuu kini memejamkan matanya dan mencoba menerka apa yang sedang terjadi di luar. Kemampuan deteksinya memang tidak sehebat demon kelas S, tapi dia bisa mengira-ngira siapa dan dimana pertarungan terjadi. Dia membuka matanya sambil memasang ekspresi ketakutan.

“SHIN!!!”
---***---
Yabu jelas bukan lawan yang sepadan bagi Juri. Itu terlihat jelas dari pertarungan ini. Serangan Juri berkali-kali bisa mengenainya. Tapi lukanya tidak terlalu fatal karena Yabu dengan pintarnya bisa menghindari di saat serangan Juri hampir mengenai bagian vitalnya.

Juri tersenyum senang saat dia bisa mengenai Yabu, tapi senyum itu langsung menghilang saat Chii berhasil menyerangnya. Ya, Chii menggunakan Yabu sebagai umpan dan pengalih perhatian. Selagi Juri menyerang Yabu, Chii akan menyerang Juri karena disaat itulah Juri akan lengah.

Yama hanya berdiri di samping Keito. Yama tahu, Keito masih ragu untuk menyerang demon yang sudah dia anggap sebagai teman itu. Ekspresi Keito tergambar dengan jelas. Oleh karena itu, Chii mengambil inisiatif untuk menyerang Juri sendiri tanpa perintah dari Keito. Keito tidak marah, tidak juga mencegah Chii. Keito tahu, Juri adalah musuh dan dia harus dimusnahkan. Tapi, bisakah dia menyerang dan menghabisi Juri?

Yabu melirik ke arah Keito yang jelas masih tampak ragu. Dia menghela nafas. Itulah sifat manusia. Sifat baik yang tidak dimiliki oleh para demon. Sifat baik yang sudah hilang saat mereka semua menjadi demon. Juri saja tanpa ragu menyerang Keito di saat dia memiliki kesempatan, tapi Keito sama sekali tidak menyerang Juri dan melewatkan kesempatan yang ada.

Yabu sedikit lega karena yang datang kemari hanya Juri sendirian. Dia berterimakasih pada Yuya yang menyeret Yugo pergi dari sini. Kalau yang mereka hadapi adalah mereka berdua, maka kekalahan mereka sudah bisa dipastikan saat itu.

Yabu bersiap untuk menghindar saat Juri mengayunkan kamaitachi ke arahnya. Tapi reaksinya terhenti saat dia mendengar ledakan dari dalam rumah. Juri tertawa riang saat dia berhasil mengenai bagian vital Yabu dan membuatnya luka parah. Yabu tidak peduli pada lukanya dan mengalihkan perhatiannya pada ledakan yang terjadi. Juri pun mau tidak mau juga penasaran dengan apa yang terjadi.

“Ryuu...”, gumam Yama

Tanpa pikir panjang, Yama langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Keito sendiri. Chii pun terpaksa mundur dan melindungi Keito selama Yama pergi. Untunglah gerakan Juri terhenti.

“Bodohnya... kalau dia memaksa melepaskan diri dari segel itu, tentu saja dia akan terluka parah”, gumam Yabu. Dia akhirnya mulai mengerti apa yang terjadi dan mulai berkonsentrasi memulihkan dirinya. Butuh waktu yang tidak sebentar baginya untuk memulihkan diri, berbeda dengan Yugo yang merupakan demon kelas S dan bisa memulihkan diri dengan cepat.
---***---
“Hmm... sepertinya ada yang berusaha melepaskan diri dari segel yang kubuat. Apa dia bermaksud untuk bunuh diri?”, gumam Yuto. “Kau juga akan melakukan hal yang sama Jesse?”

Jesse hanya merapatkan mulutnya dan melihat Yuto dengan satu matanya yang masih bisa terbuka. “Lebih baik aku mati daripada bekerjasama denganmu dan mengkhianati Yang Mulia”
---***---
PLAKK!

Chii terkejut saat melihat Keito menampar dirinya sendiri. Pipi Keito pun memerah.

“Keito-sama?”

Keito menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Chii! Pergilah dan kalahkan Yugo!”

“Eh? Tapi...”

“Aku bisa melindungi diriku sendiri. Cepat kalahkan Juri! Yabu senpai tidak akan bisa mengalahkannya sendirian. Dia terluka parah dan badannya perlu waktu untuk memulihkan diri”

Chii melihat ke arah Yabu yang susah payah menghindari serangan dari Juri. Semakin Yabu berusaha menghindar, maka serangan Juri semakin ganas. Kedua demon itu kembali melanjutkan pertarungan mereka, seolah ledakan tadi tidak terlalu berpengaruh pada mereka berdua. Chii melihat ke arah rumah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Yama berlari begitu saja dan meninggalkan Keito?
---***---
“RYUU!”

Yama menjerit saat melihat Ryuu yang berlumuran darah. Tubuhnya penuh luka. Semua itu disebabkan karena Ryuu berusaha keras melepaskan diri dari segel yang dibuat oleh Yuto. Segel itu begitu kuat sehingga hanya Yuto sendiri atau demon kelas S lain yang bisa melepas segelnya.

“Lepaskan aku!”

Ryuu langsung mengibaskan tangan Yama yang berusaha memeluknya dan memeriksa kondisi badannya. Dia masih belum bisa menerima Yama seutuhnya.

“Aku tidak akan menyakitimu Ryuu. Jadi diamlah, karena segel itu akan terus menyiksamu jika kau memberontak dan berusaha melepaskan diri”

Ryuu menatap lurus ke arah Yama. Ah, betapa Yama sangat merindukan tatapan mata itu. “Aku harus segera menuju ke Shin! Aku tidak mau kehilangan adikku! Lagi!”

“Shin?”
---***---
“Rupanya kalian sudah selesai...”

“YUYA!!!”, Daiki langsung berlari dan memeluk Yuya dan mulai menggigitinya.

“Brengsek! Aku sedang terluka!”, gerutu Yuya sambil memaksa Daiki untuk melepaskan diri darinya, tapi Daiki tetap bersikeras menempel padanya.

“Dengan begini, 2 demon sudah selesai”, gumam Hikaru saat melihat 2 demon yang tidak berdaya.
---***---
Keito memusatkan seluruh tubuhnya. Memusatkan semua kekuatan spiritual yang dia miliki di seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian, sebuah lapisan tipis tampak menyelimuti tubuhnya. Keito tersenyum puas dan mengarahkan kedua tangannya ke arah Yabu dan Chii yang sedang bertarung. Sekali lagi, Keito memusatkan kekuatannya pada mereka berdua dan sebuah lapisan tipis yang sama juga terbentuk di tubuh Yabu dan Chii.

“Keito-sama...”, Chii tersenyum dan langsung menyerang Yugo dengan bersemangat.

Yabu terdiam sejenak sambil mengamati lapisan tipis yang menyelimuti tubuhnya. Rasanya hangat dan membuat hatinya terasa tentram. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia tahu lapisan tipis itu adalah pelindung yang dibuat oleh Keito.

Yabu berdecak pelan. Dia tidak butuh perasaan lain yang bisa mengganggu hatinya saat ini. Baginya, hal ini merepotkan dan mengganggu. Yabu menutup matanya dan berusaha tidak mempedulikan lapisan pelindung yang ada di tubuhnya. Saat ini, dia harus berfokus untuk mengalahkan musuh terlebih dahulu.
---***---
Para demon kelas rendah tampak berlarian kesana kemari. Mereka berlarian tidak tentu arah. Kemarahan Yang Mulia Raja Demon membuat semua demon panik. Apalagi para pengawal Raja sedang tidak ada di tempat, jadi tidak ada yang bisa membuat tenang amarah Yang Mulia.

“Dasar demon tidak berguna!”, gerutu Yang Mulia.

Yang Mulia Raja bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi dari cermin ajaib miliknya. Raja bisa melihat para pengawalnya bertarung dengan para pengkhianat. Raja bisa melihat dengan jelas pertarungan para demon.

Raja langsung berdecak kesal saat melihat Shin dikalahkan dengan mudah oleh Daiki, yah.. pada awalnya Raja memang tidak berharap banyak pada demon itu. Tapi Raja langsung memukul singgasananya dengan penuh amarah saat dia melihat Yugo yang dikalahkan oleh Yuya saat Yuya berhasil menyerangnya dengan membabi buta. Dia juga menggertakkan giginya saat melihat Jesse yang kalah telak oleh Yuto. Raja sama sekali tidak menyangka Yuto sekuat itu.

Sebagai Raja, seharusnya dia tahu kekuatan semua pengawalnya, tapi sepertinya Raja tidak tahu dengan baik apa yang disembunyikan oleh para pengawalnya. Buktinya, Raja sama sekali tidak mengetahui rencana pengkhianatan yang disusun dengan rapi oleh salah satu pengawalnya yang berparas cantik dan jenius. Inoo.

Sejujurnya, Raja tidak akan menyangka kalau Yabu dan Inoo akan mengkhianatinya. Karena dua demon itu lebih dekat padanya, dan Raja yakin akan menyerahkan tahta istana pada mereka berdua jika sudah waktunya, tapi sepertinya rencana itu tidak akan berhasil.

Yuya yang bisa dibilang adalah ‘anak’ pertama yang dia miliki pun mengkhianatinya. Sejak Yuya membawa kembali seorang manusia yang diubahnya menjadi seorang demon, sejak saat itulah Raja tahu kalau Yuya telah gagal menjadi penerusnya.

Sejak kapan semua ini dimulai? Sejak kapan Inoo mengkhianatinya?

Raja menggeram. Seharusnya dia langsung membunuh wanita itu. Wanita bernama Okamoto Kaoru itu. Raja tahu hubungan tersembunyi antara Inoo dan wanita itu, tapi dia sudah mempercayakan semuanya pada Yabu dan Inoo pada akhirnya meninggalkan wanita itu. Raja tidak mengira kalau itu adalah masalah besar. Bahwa pertemuan Inoo dan Kaoru akan memicu pertarungan ini.

Raja menggeram. Dia tahu semua pemicu permasalahan ini. Sejak awal, tidak seharusnya dia mengubah Yabu dan Inoo menjadi demon. Manusia dan demon tidak akan pernah bisa memahami satu sama lain. Bukankah dia tahu itu? Lalu, apa alasan dia mengubah Yabu dan Inoo menjadi demon? Bukankah Yabu dan Inoo dulunya adalah manusia? Mengapa Raja Demon tertarik pada mereka berdua dan memutuskan untuk mengubah mereka menjadi demon dan membuat mereka menjadi pengawalnya?

Raja Demon sadar akan kesalahannya ini saat dia melihat Takaki Yuya. Ya, Yuya adalah demon kelas S yang pertama kali lahir. Raja demon memberinya setetes darah miliknya. Membuatnya menjadi ‘anak’ pertama Raja Demon. Raja sangat senang saat melihat Yuya yang bertindak layaknya demon yang sesungguhnya. Kejam, sadis, dan tidak kenal ampun. Tapi, semua sifat itu melunak saat dia membawa pulang demon baru yang dulunya berasal dari manusia. Ya, di saat itulah Raja sadar akan kesalahannya.

Raja mulai bangkit dari peraduannya. Dia memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Raja berencana untuk membunuh semua demon itu dan bocah terkutuk itu. Dia akan mengulangi dari awal lagi. Dia tidak mau kegagalan ini berlanjut.
---***---
Keito memegangi dadanya. Tiba-tiba rasa sakit kembali melanda. Segel kutukan di dadanya kembali menyala dan terbentuk kembali. Keito terduduk di atas tanah karena tidak kuat dengan sakit yang dia derita. Chii yang melihat Keito dari kejauhan mulai terlihat panik. Serangannya mulai tidak terfokus.

“Keito-sama!”, jerit Chii sambil menghindar dari serangan yang diluncurkan oleh Yugo.

“Rupanya dia mulai bergerak”

Keito terkejut bukan main saat melihat Inoo tiba-tiba berdiri di hadapannya. Dia menyingkap baju Keito dan melihat segel kutukan yang ada di dada Keito.

“Kau...”, Keito ingin bertanya kepada Inoo kemana saja dia tadi. Dia tiba-tiba menghilang sebelum pertarungan dan tiba-tiba kembali seperti tidak ada apa-apa.

“Bersiaplah bocah”, Inoo memotong pembicaraan Keito. Inoo tahu Keito ingin bertanya padanya, tapi Inoo tidak ingin memberikan kesempatan pada Keito. “Dia akan datang kemari. ini adalah pertarungan terakhir. Kau harus bisa mengalahkannya sekarang. Tidak ada kesempatan kedua bagimu”

“Siapa yang akan datang?”, dan Keito tahu jawabannya saat dadanya kembali kesakitan.

Tsuzuku~~~