Senin, 24 Oktober 2016

MODEL TERBAIK

Cast : Yuto x Keito

“Perfect”

Aku tersenyum puas saat melihat hasil jepretanku. Foto yang kujepret itu terlihat sangat bagus. Sebuah foto yang berlatar pemandangan kota saat senja. Warna merah senja itulah yang membuat hasil jepretanku terlihat bagus.

Sebenarnya ada 1 lagi yang membuatku puas dengan foto itu. Sosok manusia yang ikut terperangkap dalam lensa kameraku. Sosok manusia yang sangat fotogenik. Wajahnya yang sangat indah. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tampak proposional dalam fotoku.

“Seperti biasa, sempurna sekali Keito”, ucapku pada sosok yang ada di hadapanku.

Sosok yang kupanggil ‘Keito’ itu tersenyum. “Senang bisa membantumu Yuto. Itu juga karena pemandangan yang kau pilih ini. Kau memang pintar memilih latar tempat. Aku yakin kau bisa memenangkan kontes itu”

“Yup! Aku yakin foto ini akan menang dalam kontes fotografi yang akan kukirimkan minggu depan”, aku melihat ke arah Keito yang kini tampak sedang menikmati matahari senja, “Kau memang model yang hebat Keito. Kenapa kau tidak bekerja menjadi seorang model saja?”

Keito melihat ke arahku. Dia menggeleng. “Aku tidak berminat menjadi model. Aku menjadi model hanya untukmu Yuto”

“Kenapa? Kurasa kau akan segera menjadi model terkenal. Kau bahkan bisa menjadi seorang artis”

“Karena aku tidak bisa dipotret oleh orang lain selain dirimu”

“Apa maksudmu?”, tanyaku

Keito tersentak. Dia kemudian segera menggelengkan kepalanya. “Tidak. bukan apa-apa. Kalau aku menjadi terkenal nanti, kau akan kesulitan mencari model untuk fotomu” ucap Keito sambil tertawa.

“Kalau kau memang akan menjadi model apa boleh buat kan?”, aku segera mengemasi perlengkapan kameraku. “Hari akan menjelang malam. Sebaiknya kita segera pulang”

Keito mengangguk. Setelah aku selesai mengemasi barangku, kami berdua berjalan pulang bersama-sama.

Tidak berapa lama, kami berdua tiba di depan apartemenku. Keito melambaikan tangannya padaku sebelum aku masuk ke dalam. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk bertemu lagi minggu depan.

Aku segera masuk ke dalam kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencetak foto yang kupotret hari ini. Aku segera masuk ke ruang gelap yang kubuat sendiri. Dengan hati-hati aku mengeluarkan negatif film, berusaha agar tidak terkena cahaya, lalu pelan-pelan mulai mencetaknya.

“Foto ini memang bagus. Sempurna”

Aku memandang foto yang kuambil hari ini. Aku benar-benar menyukai foto itu. Sosok Keito di foto itu pun terlihat sangat bagus.

Aku memang menyukai Keito. Sebagai model foto maksudku, jangan salah paham dulu. Dia tahu persis gaya foto yang kuinginkan. Dia memang tidak terlalu banyak bergaya saat kupotret. Tapi karena bahasa tubuhnya yang fotogenik. Aku tidak terlalu bermasalah dengan hal itu.
Aku kembali teringat pertemuan pertamaku dengan Keito.

---flashback---

Aku terduduk sedih. Lagi-lagi karya yang kukirimkan gagal. Aku memandangi komentar juri, ‘nilai seni yang diungkapkan di foto ini masih kurang’.

“Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang baru. Yang membuat objek fotoku terlihat sempurna. Mungkin seorang model yang fotogenik. Tapi dimana aku bisa menemukan orang yang tepat untuk fotoku?”

“Hee... nice photo”

Aku terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Sejak kapan ada orang di sampingku? kenapa aku tidak sadar sampai dia berbicara?

“Siapa kau?”, tanyaku sambil mundur ketakutan. Takut? Jelas saja. Aku tidak kenal orang ini dan dia tiba-tiba ada di sampingku.

“Jahatnya... bukankah kau yang memanggilku?”

Aku mengernyitkan keningku. Aku memanggilnya? Kapan? Aku tidak tahu namanya dan bagaimana aku bisa memanggilnya?

“Yuto... “, pemuda itu memanggilku. “Kenapa kau diam saja?”

Aku terbelalak. “Bagaimana bisa kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya?”

Dia menghela napas. “Kan kau yang memanggilku, tentu saja aku tahu namamu. Kau juga kenal diriku”

Aku berpikir keras sambil mengamati dirinya. Wajahnya tampan, tapi bisa juga dibilang cantik. Beautiful. Badannya tidak tinggi, yah... lebih pendek dariku. Tapi kurasa tubuhnya proposional. Melihat bentuk tubuhnya yang bagus, otot-otot yang tersembunyi di balik bajunya, membuatku merasa kalau dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna.

“Ke...i...to...”, aku menggumamkan suatu kata. Aku  tidak tahu darimana aku tahu kata-kata itu. Tapi terlintas begitu saja di pikiranku.

“Ya?”, dia tersenyum. Ah, dia manis sekali. Atau bisa juga kubilang tampan? Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.

“Keito?”, aku mengulangi lagi kata itu. Dia kembali tersenyum. Sepertinya itu benar namanya. Tunggu, kenapa aku bisa tahu namanya? Padahal aku yakin aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi kini aku merasa sudah mengenalnya sejak dulu.

---flashbackend---

Aku mengatur nafasku dan mulai membuka amplop coklat yang kuterima dengan perlahan. Minggu lalu, aku mengirimkan foto saat senja itu ke sebuah kontes fotografi. Aku sangat suka foto itu dan memutuskan untuk memilih foto itu dan mengirimkannya ke sebuah kontes.

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat membaca tulisan di dalam surat itu. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar dan mencari Keito. Aku harus segera memberitahu kabar baik ini padanya juga. Aku menang! Untuk pertama kalinya, aku menang kontes fotografi itu. Dan aku mendapat penilaian tertinggi dari dewan juri. Keito pasti juga akan ikut senang, sama sepertiku.

Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Bagaimana aku bisa menemukan Keito? Aku tidak tahu dimana rumahnya. Keito-lah yang selalu datang ke rumahnya. Atau mereka akan berjanji bertemu di suatu tempat. Betapa bodohnya aku. Kenapa aku tidak pernah menanyakan soal itu padanya. Seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar kalau Keito akan muncul saat aku mencarinya.

Eh? Sepertinya memang begitu.

Keito selalu muncul di hadapanku kalau aku mencarinya. Aku tidak perlu meneriakkan namanya. Dalam sekejap dia akan muncul di hadapanku. Seperti hantu.

“Yuto~”

Tuh kan, aku benar. Keito muncul! Dia menghampiriku dengan senyumannya yang manis. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku ingin mencubit kedua pipinya itu karena gemas melihat ekspresi mukanya itu.

“Aku mencarimu”

“Aku tahu. Aku mendengar suaramu. Makanya aku datang” jawab Keito.

“Eh? Apakah kau bisa mendengar suara hati seseorang?”

“Mungkin. Tapi tidak semua, hanya suaramu. Aku bisa mendengar suaramu dengan jelas Yuto” jelas Keito dengan nada penuh teka-teki. “Ada berita baik apa?”

Aku ingin bertanya lebih jauh soal Keito, tapi aku mengurungkan niatku. Aku tersenyum dan membuka amplop coklat yang kuterima dan memperlihatkan lembaran pengumuman pemenang kontes pada Keito.

“Aku menang Keito!” ucapku bangga.

Sekilas, aku melihat raut kesedihan terlukis di wajahnya. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja karena saat ini senyum lebar telah menghiasi wajahnya.

“Wah... Selamat Yuto! Akhirnya, karyamu diakui oleh mereka!”

“Itu semua berkatmu. Terima kasih Keito”

“Berkatku?”

“Ya, karena kau telah menjadi model yang sempurna bagi fotoku. Kurasa mereka memilih fotoku karena mereka terpesona olehmu”

“Tidak Yuto... mereka memilih fotomu karena kemampuanmu bukan karena aku”

Aku menggeleng keras. “Tidak. Aku yakin itu karena dirimu. Teruslah jadi modelku selamanya Keito” aku berusaha menggapai tangan Keito, tapi Keito seperti berjalan mundur dan menghindari tanganku.

“Tidak, Yuto” Keito tersenyum. “Aku tidak bisa menjadi modelmu lagi”

Aku terkejut. “Kenapa???”

“Karena tugasku sudah selesai. Setelah ini aku tidak bisa muncul di hadapanmu lagi. Maaf, tapi kau harus berusaha sendiri setelah ini. Aku yakin kau pasti bisa”

Aku terhenyak mendengar ucapan Keito. “Kau akan pergi? Kemana? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?”

“Aku tidak pergi kemana-mana. Aku selalu disisimu. Tapi ini terakhir kalinya aku muncul di hadapanmu seperti ini”

Keito mendekat ke arahku dan memelukku. Ini pertama kalinya aku merasakan pelukannya. Kami tidak pernah bersentuhan tangan apalagi berpelukan.

“Sampai jumpa, Yuto” bisik Keito.

Aku memejamkan mataku. Aku ingin menahannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin Keito tidak pergi, tapi entah kenapa ada bagian dari diriku yang mengatakan Keito tetap ada di sampingku.

Ketika aku membuka mataku, sosok Keito sudah menghilang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tapi sosoknya tidak ada. Keito tidak ada dimanapun.

Dengan langkah gontai, aku kembali pulang ke rumah. Memikirkan bagaimana aku memotret selanjutnya tanpa Keito.

---***---

Aku menatap lama ke fotoku yang terpajang di dinding. Karyaku beserta karya peserta lain dipajang di sebuah pameran. Karena aku pemenang lomba, maka fotoku dicetak paling besar dan dipajang di tempat yang sering dilalui orang.

“Keito...” gumamku lirih. Aku masih merindukan Keito. Sejak hari Keito menghilang, dia sama sekali tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Meskipun aku meneriakkan namanya seperti orang gila saat mencarinya, tapi aku tidak pernah menemukannya dan dia tidak pernah muncul.

“Foto yang bagus, kak”

Aku menoleh, kudapati Raiya, adikku, sedang berdiri disana. Tampaknya dia sedang mengunjungi fotoku.

“Foto saat senja ini bagus sekali kak. Seakan-akan kita melihat langsung senja itu dan membuatku tersedot ke dalam keindahannya”

“Keito memang model yang hebat” kataku.

“Keito?”

“Model di foto itu” tunjukku pada sosok Keito yang ada di foto itu.

Raiya mengernyit. Dia melihat ke arah lukisan itu dan ke arahku berulang kali. “Tidak ada manusia di fotomu kak”

Aku terkejut. “Jangan bercanda Raiya... Keito ada disana. Dia berdiri disana”

“Justru kakak yang harusnya berhenti bercanda. Bukankah Keito selalu ada di gantungan tas kakak?” Raiya meraih tas pinggangku yang berisi kamera mini. Tas pinggang yang selalu kubawa kemanapun. Dia meraih sesuatu yang bertengger di tasku itu. “Kakak sangat menyukai gantungan kunci ini kan? Bahkan sampai menamainya Keito”

Aku tersentak kaget saat melihat gantungan boneka manusia yang ada di tasku. Wajahnya sangat mirip dengan Keito yang selalu kutemui.

“Keito...” aku menggenggam gantungan boneka itu. “Jadi selama ini kau...” aku menatap boneka itu lekat-lekat. Sekilas aku merasa boneka itu tersenyum padaku.

“Terima kasih, Keito...”

Tamat

Jumat, 21 Oktober 2016

Kalung Cinta


Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Warning : gender switch. Daiki jd cewek disini.
Genre : fluff romance

Daiki POV

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Aku terhenti sesaat saat seseorang yang sedang duduk di pinggir jalan ini menanyaiku. Aku mengamatinya sejenak. Orang itu tampak cukup mencurigakan, mengenakan tudung hitam yang cukup panjang di hari yang cukup terik ini bisa dikatakan tindakan yang gila.

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Orang itu mengulangi pertanyaannya. Tampaknya dia memang sedang bertanya padaku. Aku melihat keadaan di sekitarku, cukup sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang. Aku pun mendekat ke arah orang bertudung hitam itu.

“Kau sedang memiliki suatu masalah kan? Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Ah, tampaknya ada seseorang yang sedang kau pikirkan kan?”, tanya orang itu sekali lagi.

Aku sedikit tersentak, bagaimana orang ini bisa tahu?

“Aku ini penyihir. Aku bisa membaca pikiran orang yang ada di hadapanku”

“Penyihir?!”, aku melihat orang bertudung hitam yang ada di hadapanku ini dengan tidak percaya. Mana mungkin ada penyihir di jaman yang cukup maju ini?

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa ucapkan saja apa keinginanmu dan aku akan mengabulkannya”

Aku sedikit terkejut. Sepertinya orang ini tahu apa yang kupikirkan.

“Kau ingin agar Takaki Yuya memiliki perasaan padamu kan?”

Aku terkejut lagi. Bagaimana orang ini bisa tahu? Apakah tadi aku mengucapkan padanya nama orang yang kusukai? Apakah terlihat jelas di mukaku kalau aku sangat menyukainya? Aku memegangi pipiku. Rasanya mukaku saat ini memerah karena aku bisa merasa sedikit panas saat memeganginya.

“Kau sangat mudah dibaca anak muda”, orang yang menyebut dirinya penyihir itu tersenyum. “Sangat jarang menemui orang yang begitu polos sepertimu”

Penyihir itu tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Dia memberikan sesuatu padaku. Sebuah kalung? Sepertinya itu.

“Ambil ini”

Aku ragu menerima kalung itu. Bukankah kita diajari untuk tidak menerima barang dari orang yang tidak dikenal?

“Kalau kau ingin pemuda yang bernama Takaki itu menyukaimu, maka lebih baik kau menerima kalung ini”

Penyihir itu bersikeras memberikan kalung itu padaku. Aku mengulurkan tanganku dengan ragu. Tidak lama penyihir itu sudah meletakkan kalung itu di tanganku.

“Dengan ini maka dia akan tertarik padamu”

Aku menatap ke arah kalung itu sejenak. Kalung itu sederhana, tapi terlihat indah. Liontin hati berwarna pink di kalung itu menambah kesan manis disana. Sekejap aku tergiur dengan keindahan kalung itu. Aku ingin mengatakan sesuatu pada penyihir itu, tapi penyihir itu telah menghilang. Aku mencarinya, tapi tetap tidak menemukannya. Akhirnya kuputuskan untuk menerima kalung itu dan membawanya pulang. Toh, dia sendiri yang memberikannya padaku.

Sepanjang jalan aku menimang-nimang kalung itu sambil sesekali mengagumi keindahannya. Karena aku terlalu sibuk memandanginya, aku sampai tidak melihat jalan. Seseorang menabrakku dan kalung itu terjatuh ke jalan.

“Ah, maaf” ucap orang itu.

“Ah!!! Kalungku...” aku tidak mempedulikan orang itu dan malah sibuk mencari kalungku. Ketika aku menemukannya, sebuah tangan mengambilnya dan memberikannya padaku.

“Maaf, aku menabrakmu” orang itu memberikan kalungnya padaku. Pada saat itulah aku melihat wajahnya. “Ini milikmu?”

Aku terperangah saat mengetahui sosok orang yang menabrakku. Dia Takaki Yuya! orang yang kusukai. Untuk sesaat aku seperti terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ano...” Takaki melambaikan tangannya di depanku, seperti mengecek apakah aku masih sadar atau tidak.

“Ah, eh, iya! Terima kasih!” aku segera bangkit berdiri dan mengambil kalungku. Aku tersipu malu saat dia memergokiku sedang bengong. Aku segera berbalik dan ingin segera pergi untuk menyembunyikan rasa maluku.

“Ah, tunggu!” Takaki menahan tanganku. Sungguh, aku merasa seperti terkena sengatan listrik saat tangannya menyentuhku. “Bajumu....”

Aku melihat ke arah bajuku. Ada sedikit noda eskrim disana. Rupanya saat bertubrukan tadi, eskrim Takaki mengenai bajuku juga.

“Ah... ini? tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya”

“Tidak” ucapnya tegas. “Aku akan menggantinya sebagai permintaan maaf karena sudah menabrakmu”

Dan berikutnya Takaki menarikku dan membawaku pergi ke suatu tempat.

---***---

Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana. Yang jelas, saat ini aku sedang berada di sebuah toko pakaian dan mencoba berbagai macam baju. Semua baju ini Takaki yang memilihkan. Aku memandangi diriku di kaca, baju pilihan Takaki membuatku terlihat imut. Selera Takaki sangat bagus.

“Itu juga terlihat cocok untukmu”

Aku tersipu mendengar Takaki memujiku. Ini sudah kesekian kalinya dia memujiku.

“Kau mau yang mana?” tanya Takaki.

“A-aku tidak tahu. Semuanya terlihat bagus. Aku tidak yakin aku bisa memakai baju yang bagus seperti ini”

“Kau cocok memakai apapun Daiki”

Aku tersentak saat dia menyebut namaku. “Kau tahu namaku?”

Entah itu hanya perasaanku atau tidak, yang jelas aku melihat Takaki juga sedikit terkejut. “Kau tadi sudah memperkenalkan dirimu padaku”

“Eh? Benarkah?” aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya aku belum menyebutkan namaku, tapi mungkin saja aku menyebutkan namaku tanpa sadar.

“Baiklah. Baju yang itu saja” Takaki menunjuk pakaian yang sedang kupakai. Sebuah dress oranye mini dengan sedikit renda di bawahnya. Sebelum aku mengatakan apapun, dia sudah menuju ke kasir dan membayarnya.

“Terima kasih banyak” ucapku setelah kami berdua meninggalkan toko. Aku tidak tahu harus berkata apa. Hari ini terlalu membahagiakan bagiku.

“Tidak masalah” Takaki mengamatiku lagi. Aku merasa canggung dilihat seperti itu olehnya. “Mana kalungmu?”

“Eh? Ada di sakuku” aku mengambil kalung itu dan menunjukkan itu padanya. “Kenapa?”

Takaki mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku. “Sayang kalau kau tidak memakainya” Dia mengamatiku lagi. “Ya, baju ini dan kalung itu sangat cocok untukmu. Aku tidak salah”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

Takaki Cuma tersenyum. Dia kemudian menggandeng tanganku. “Kau nganggur kan setelah ini?”

Aku mengangguk. Tidak berani memandang wajahnya karena malu dia menggandeng tanganku.

“Bagus. Ayo kita pergi jalan-jalan hari ini. Anggap saja kita sedang berkencan”

---***---

Seharian ini sungguh menyenangkan. Tidak pernah kubayangkan aku bisa berjalan-jalan seperti ini bersama dengan Takaki. Dia mengajakku ke tempat-tempat yang kusukai. Seperti ke game center dan taman hiburan. Dia juga mengajakku ke tempat-tempat yang romantis seperti kafe tempat kami makan malam. Sungguh, aku tidak pernah bosan dan sangat menikmati hari ini.

Tapi, mendadak aku merasa sedih. Jangan-jangan Takaki melakukan itu karena pengaruh kalung ini? Karena kalung inilah Takaki bersamaku sekarang. Coba aku tidak memiliki kalung ini, pasti Takaki tidak akan ada disini sekarang.

“Daiki?”

Aku menatap ke arah Takaki yang tampaknya sedang mengamatiku dari tadi.

“Kau tidak suka disini?”

Saat ini kami berada di sebuah taman. Di hadapan kami ada sebuah air mancur yang berwarna-warni karena sorotan lampu. Sangat indah.

Aku menggeleng dan tersenyum. “Aku suka, tempat ini sangat indah”

“Lalu, kenapa kau bermuka muram seperti itu?” tanyanya lagi.

“Aku...” aku tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus kujelaskan padanya?

Takaki memelukku erat. Aku sangat kaget dengan tindakannya sehingga tidak tahu harus membalas bagaimana.

“Aku menyukaimu”

Aku kaget saat mendengar bisikannya. Itulah kata-kata yang sangat ingin kudengar. Itulah kata-kata yang sangat kuharapkan selama ini darinya. Tapi... mengapa aku harus mendengarnya setelah aku mendapat kalung ini? dia mengatakan itu karena aku memakai kalung ini. Kalau aku tidak memilikinya, Takaki tidak akan mengenalku dan tidak akan sedekat ini padaku.

“Daiki?”

Takaki terkejut saat melihatku menangis. Ya, aku menangis karena merasa ini semua tidak nyata. Ini semua hanyalah ilusi karena kalung ajaib ini.

“Maaf. Takaki... kau mengatakan itu karena pengaruh kalung ini. Kalau kalung ini tidak ada, kau tidak akan menyukaiku”

Aku melepas kalung itu dan menyerahkannya pada Takaki. Aku tidak bisa memakainya lebih lama. Tidak baik memainkan perasaan seseorang dengan ilmu sihir.

Setelah memberikan kalung itu, aku segera berlari meninggalkannya. Sudah cukup aku bermimpi indah hari ini. Aku berterimakasih pada kalung itu. setidaknya, kalung itu sudah memberiku mimpi indah dan mengabulkan keinginanku. Meskipun pada akhirnya aku harus terluka.

“Ah... Sungguh mimpi yang indah”

---***---

Aku melangkah gontai ke sekolah. Hari ini aku tidak bersemangat seperti biasanya. Aku tidak tahu harus bagaimana, biasanya pagi ini aku akan segera menuju gym, dan melihat Takaki bermain basket. Tapi hari ini, aku tidak semangat melakukannya.

“Eh? Takaki mana? Dia tidak masuk?”

Aku terhenti dan terkejut ketika tanpa sadar kakiku melangkah menuju ke gym. Rupanya badanku bergerak sendiri, seolah sudah menjadi rutinitas.

Aku ikut penasaran dengan omongan para gadis yang juga saat ini sedang berkumpul di gym. Ada apa dengan Takaki? Apa dia tidak masuk?

Aku melongok ke dalam dan melihat tim basket yang sedang latihan. Benar saja, Takaki tidak ada. Aku hapal bentuk tubuhnya dan akan segera mengenalinya kalau melihatnya dari jauh, tapi Takaki tidak ada dimanapun.

“Eh? Kemana dia? Dia jarang membolos”

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku dari belakang. Aku terkejut ketika menyadari siapa yang menarikku. Para gadis juga menjerit histeris melihat Takaki tiba-tiba muncul dan membawaku pergi.

“Akhirnya.....” ucapnya setelah kami sampai di tempat yang agak sepi.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Kenapa Takaki mencariku? Apa dia sudah sadar pengaruh kalung ajaib itu dan kini ingin memarahiku?

“Kau ini... kalau ada orang yang menyatakan perasaannya, jangan langsung lari begitu saja donk! Kukira kau gadis yang pintar, tapi ternyata bodoh”

Aku sedikit kesal saat dia mengolokku bodoh. Setidaknya aku lebih pintar dari Takaki. Aku tahu kalau nilaiku jauh lebih baik darinya.

“Jawabanmu?”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku bilang aku suka padamu kan? Kenapa kau tidak menjawabnya?”

Aku tertegun. “Eh? Kau... benar-benar suka padaku?”

Takaki tersenyum. “Tentu saja baka...” dia mencubit kedua pipiku. “Ja-wa-ban-mu?”

“Eh? Jadi itu semua bukan mimpi? Eh?” aku masih tidak mengerti. Takaki benar-benar menyukaiku? Bukan karena pengaruh kalung itu?

“Ah... sudahlah. Toh aku sudah tahu jawabannya” Takaki mengambil sesuatu dari sakunya. Kalung itu! Kalung ajaib yang kemarin kuberikan padanya. Dia memakaikan kalung itu lagi dileherku lalu memelukku.

“Sekarang kau milikku”

---***---

Author POV

“Ah... aku sempat cemas kemarin. Untunglah mereka benar-benar jadian”

“Aktingmu sangat hebat Inoo, kau benar-benar terlihat menyeramkan dengan kostum penyihir itu”

“Yah, aku tahu kalau Daiki menyukai Takaki. Dan waktu kau bilang Takaki juga menyukainya, kau langsung merencanakan itu. Idemulah yang membuat semua ini berjalan lancar Yabu”

“Kita berdua memang pasangan jenius”

Tamat

Kamis, 20 Oktober 2016

PRECIOUS


Cast : Yabu x Hikaru (Inoo jd figuran)
Genre : angst
Warning : death character!

~

Sesak.

Nafasku pun terputus-putus. Aku berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Tapi dadaku masih terasa sesak. Kumiringkan kepalaku agar bisa mengurangi sesak. Tapi...

Tubuhku terasa kaku, tidak mau kugerakkan. Pandanganku pun buram. Aku hanya bisa melihat secara samar-samar.

Dari pandanganku yang samar-samar, aku sedikit bisa melihat cairan merah yang mengalir entah darimana. Cairan merah itu terasa hangat. Tubuhku pun terasa seperti berendam di lautan air hangat yang berwarna merah.

Dingin.

Semakin lama cairan merah itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Tubuhku semakin terasa dingin. Aku bisa merasakannya. Tidak hanya itu, kulitku semakin pucat ketika aku melihatnya dari pandanganku yang buram.

Kini aku sadar.

Aku telah ditusuk. Ada sebuah luka besar di tubuhku. Dari sanalah cairan merah ini berasal. Cairan ini berhasil keluar dari tubuhku melalui lubang besar itu.

Hangat.

Aku merasa ada cairan hangat yang menetes dan membasahi pipiku. Apa itu? Aku mendongak. Dengan pandanganku yang buram, aku bisa melihat ada seseorang yang sedang duduk di dekatku. Cairan yang hangat ini berasal darinya.

"Hiks... Hiks..."

Aku mendengar suara isakan. Kenapa? Siapa? Apakah orang yang ada di dekatku itu yang menangis?

Ah... Cairan hangat itu adalah air mata. Kenapa dia menangis? Apa dia menangisi keadaanku ini?

"Yabu..."

Aku terdiam. Suara itu sangat kukenal. Akhirnya aku tahu siapa sosok yang ada di dekatku ini. Meskipun aku tidak melihatnya langsung, tapi mendengar suaranya saja aku langsung tahu itu siapa. Tentu saja, dia selalu ada di sampingku selama ini, bagaimana mungkin aku tidak tahu?

Hikaru. Aku berusaha memanggil namanya, tapi sepertinya mulutku terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.

“Maafkan aku Yabu, karenaku... kau...”
Hikaru terus mengeluarkan air matanya. Ingin rasanya aku mengusap air matanya itu dan mengatakan semua itu bukan salahnya, tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Bahkan mengeluarkan suara dari mulutku saja aku tidak bisa. Aku merasa ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku.

“Seandainya... seandainya saja aku tidak melakukan hal yang bodoh seperti itu. Kau... kau...”

Tidak Hikaru. Bukan karena itu. Kau tidak salah apapun. Itu semua karena aku yang tidak mampu memcegahmu. Karena aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Akulah yang gagal.

Aku ingat dengan jelas mengapa semua ini terjadi. Semua ini dimulai dari kejadian beberapa bulan yang lalu.

-----

Saat itu, Hikaru berada di masa yang sulit. Dia selalu mendapat tekanan dari keluarganya. Menjadi salah satu bagian dari keluarga yang sukses, membuat Hikaru dituntut untuk menjadi yang terbaik. Tapi Hikaru tidak bisa, dia tidak bisa dipaksa atau dikekang seperti itu. Karena banyaknya tekanan yang diterima, Hikaru melarikan diri dari rumah.

Aku kemudian mencari Hikaru. Berhari-hari aku mencarinya dan kemudian aku menemukannya dengan cara yang tidak terduga. Hikaru bergabung dengan komplotan gangster yang terkenal kejam.

“Hikaru, ayo pulang”

“Pulang dan kembali ke rumah yang jelek itu? Tidak mau!”

Sejak saat itu, setiap kali aku bertemu dengan Hikaru, aku memaksanya untuk pulang, dan jawabannya selalu sama. Aku bahkan pernah dipukuli oleh anak buahnya, tapi itu tidak membuatku niatku menjadi surut. Aku tetap gigih mengajak Hikaru pulang. Dan aku tidak akan berhenti sampai Hikaru kembali.

Firasatku semakin lama semakin merasa tidak enak. Aku bermimpi buruk mengenai Hikaru. Aku bermimpi dia berlari ketakutan, seakan menghindari sesuatu. Dia juga berteriak berulangkali memanggil namaku. Dan setiap kali aku ingin membalas teriakannya, aku selalu terbangun. Benar-benar mimpi yang tidak mengenakkan.

Karena mimpi itu, aku semakin gigih untuk mengajak Hikaru pulang. Tapi, sepertinya ada seseorang yang berusaha menghalangiku bertemu dengan Hikaru. Orang itu adalah pemimpin gangster itu, Inoo Kei.

“Pergi dari hadapan kami dan jangan ganggu Hikaru lagi. Dia sudah menjadi milikku”

Itu peringatan yang diberikan oleh Inoo Kei padaku. Sesaat aku merasa gentar dengan ucapannya, membuatku mengurungkan niatku untuk membawa pulang Hikaru. Tapi kemudian aku merasa itulah alasan yang tepat. Aku mulai merasa hal yang tidak enak. Inoo Kei bukan pemuda yang baik. Aku merasa ada sesuatu yang berbahaya padanya.
Dan firasatku terbukti. Hikaru mendatangiku. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Di bajunya terlihat beberapa noda darah. Aku sempat panik dan mengira Hikaru terluka, tapi rupanya itu bukan darahnya.

“Tolong aku Yabu... Tolong...”
Hikaru tampak sangat panik dan ketakutan. Tubuhnnya gemetar tanpa henti. Butuh waktu untuk membuatnya tenang sehingga dia bisa menceritakan padaku apa yang terjadi.

Hikaru kemudian menceritakan semuanya. Dia ingin keluar dari grup itu karena dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Inoo tidak membiarkannya keluar begitu saja. Dia kemudian mencoba kabur dari sana bersama temannya, tapi sialnya rencananya ketahuan. Temannya telah tewas ditembak oleh Inoo. Darah yang ada di bajunya adalah buktinya. Dan saat ini Inoo telah mengejarnya.

“Aku takut Yabu. Sungguh, aku takut” ucapnya berulangkali.

“Tenanglah” aku memeluknya untuk menenangkannya. “Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku akan menjagamu”

Tepat pada saat itu Inoo muncul di hadapan kami. Aku bergumul beberapa saat dengannya. Aku berhasil melukainya, dan dia juga berhasil melukaiku. Cerita selanjutnya sudah kalian tahu sendiri.

-----

Aku menatap ke sosok Inoo Kei yang saat ini berbaring tidak bergerak tidak jauh dariku. Aku lega. Setidaknya, tidak ada lagi yang akan melukai Hikaru. Hikaru bisa bebas dan menjalani kehidupannya seperti dulu.

Ah... andai saja aku bisa terus bersama Hikaru. Aku ingin bersama dengannya lagi, menebus waktu kami berdua yang terlewatkan. Tapi tampaknya, sang malaikat maut sudah tidak sabar membawaku. Dia menantiku sedari tadi disana.

Sekali lagi, aku menatap Hikaru. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Aku terus melihatnya hingga mataku menutup untuk selamanya.

Tamat

Senin, 10 Oktober 2016

KARENA AKU MENYUKAIMU

Cast : Yamada Ryosuke & Chinen Yuri
Genre : Fluff

Hari ini seperti biasa, Chinen melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya. Dia bekerja di sebuah toko hewan. Dengan nilainya yang bagus, seharusnya Chinen bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dia bahkan pernah mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan ternama. Tapi itu semua ditolaknya. Chinen ingin bekerja di bidang yang dia sukai, yaitu bekerja dikelilingi hewan, teman kesayangannya.

“Ah… pemuda itu lagi”

Chinen melihat sekilas pemuda bersepeda yang baru saja lewat disampingnya. Pemuda itu bernama Yamada Ryosuke, seorang salesman di perusahaan mainan. Chinen mengenalnya karena pemuda itu sering sekali mengunjungi tokonya untuk mengadopsi hewan peliharaan baru atau membeli makanan hewan. Chinen tahu kalau Yamada memiliki berbagai macam hewan peliharaan dan Chinen senang berkenalan dengan pemuda  itu. Chinen senang memiliki teman yang menyukai hewan seperti dirinya.

Chinen tersenyum dan segera mempercepat langkahnya ketika dia melihat Yamada berhenti di depan lampu merah. DIa ingin menyapanya, tapi beberapa saat kemudian niatnya diurungkan. Yamada tampak asyik bercakap dengan seorang wanita. Wajahnya pun terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan wanita tersebut.

“Mungkin lain kali” lirih Chinen sambil melangkah pergi. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya merasa sedikit sedih. Perasaan murung melandanya saat itu juga. Kenapa?

---***---

“Kau akan bertambah tua”

Chinen tersadar ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ohno, majikannya sedang berdiri di belakangnya dengan muka datar.

“Kau kenapa? Sejak masuk kerja tadi pagi kau terus duduk disana, memangku dagu, dan menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali kau menghela nafas. Tidak terhitung. Kau tahu? Umur seseorang berkurang 1 detik setiap dia menghela nafas” Ohno menatap tajam ke arah Chinen “Apa yang terjadi?”

Chinen balas menatap Ohno. Dia sangat mengagumi majikannya ini. Alasan kedua dia bekerja disana adalah karena Ohno-san. Chinen sangat mengaguminya sehingga dia memutuskan bekerja di toko milik Ohno. Dia bahkan menganggap Ohno sebagai kakak, ayah, paman, gurunya.

“Sebenarnya….” ucapan Chinen terpotong ketika ada seorang pelanggan memasuki toko. Tenggorokan Chinen terasa tercekat ketika dia tahu siapa yang memasuki toko. Sosok yang selalu dipikirkannya seharian ini. “Yamada…” gumam Chinen pelan.

“Ah… Selamat siang Chinen” sapa Yamada dengan senyuman.

“Siang..” jawab Chinen sekenanya. Ohno juga ikut menyapa Yamada. Selama beberapa detik mereka mengobrol, Ohno segera pergi meninggalkan Yamada dan Chinen berdua.

“Kenapa kau kemari?” nada suara Chinen terdengar agak ketus, tapi Yamada tampaknya tidak menyadarinya.

“Hmm…” Yamada melihat ke sekeliling toko. Matanya berhenti pada seekor marmut kecil lucu. DIa kemudian asyik mengelus binatang kecil itu. “Tadi pagi aku melihatmu saat berangkat kerja”

Chinen terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada menyadari kalau dia ada disana. Chinen kira hanya dia saja yang menyadari sosok Yamada.

“Lalu?” tanya Chinen.

“Aku hanya melihat punggungmu saja, tapi aku merasa kalau kau…” Yamada berhenti dan tidak melanjutkan perkataannya, seakan memikirkan sesuatu.

“Apa?” tanya Chinen penasaran.

Kali ini Yamada memandang ke arah Chinen. “Aku merasa kalau kau sedang murung. Aku memikirkan hal itu seharian ini. Aku tidak tenang, jadi aku memutuskan kemari. Apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu?”

Chinen sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada akan mengkhawatirkan dirinya. Dalam hati dia sedikit senang, tapi dia menyembunyikan perasaannya itu.

“Chinen? Kenapa kau diam saja?” Yamada mendekat. “Benar ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu ya?”

“Kenapa?” Chinen kini mulai membalas Yamada. “Kenapa kau terlihat mengkhawatirkan diriku?”

Kali ini giliran Yamada yang terdiam. Dia menundukkan kepalanya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.

“Yamada?” tanya Chinen tidak sabar.

Yamada menggumamkan sesuatu, tapi Chinen tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Yamada berbicara dengan cepat dan pelan.

“Hah?” respon Chinen saat Yamada selesai bergumam. Dia sama sekali tidak mendengar apapun.

Yamada menggaruk kepalanya. Dia terlihat kebingungan. Tiba-tiba dia menyambar sebuah pena di atas meja kasir, mengambil note dari tasnya, lalu menuliskan sesuatu. Chinen Cuma diam saja dan menunggu apa yang akan dilakukan Yamada selanjutnya.

“Ini” Yamada merobek kertas dari notenya, melipatnya jadi dua dan memberikannya pada Chinen. “Jangan dibuka sekarang. Tunggu sampai aku keluar dari sini”

Yamada mundur beberapa langkah menuju ke arah pintu. Sebelum melangkah keluar, dia melihat ke arah Chinen. “Baca itu saat aku sudah keluar”

Chinen memegang kertas itu dan menuruti permintaan Yamada. Setelah Yamada keluar dan menghilang dari balik pintu, Chinen mulai membuka kertas itu. Dibacanya kertas itu kata demi kata. Dia sangat terkejut ketika selesai membacanya. Chinen melihat lagi ke arah pintu, dimana Yamada menghilang tadi.

“Ohno-san! maaf! Aku ijin keluar sebentar!!” Chinen langsung berlari keluar tanpa mendengarkan jawaban dari Ohno terlebih dahulu. Dalam pikirannya, dia ingin segera menyusul Yamada sebelum Yamada melangkah lebih jauh.

“Eh? Chinen-kun.. Kau mau kemana?”

Chinen sudah menghilang dari balik pintu, meninggalkan Ohno disana sendirian dengan penuh tanda tanya. Ohno melihat ke arah lantai, ada sebuah kertas yang tergeletak disana, tampaknya itu kertas yang tadi dibaca oleh Chinen. Kertas dari Yamada. Ohno mulai membaca isi kertas itu.

KARENA AKU MENYUKAIMU

Tamat