Cast : Yuto x Keito
“Perfect”
Aku tersenyum puas saat melihat hasil jepretanku. Foto yang kujepret itu terlihat sangat bagus. Sebuah foto yang berlatar pemandangan kota saat senja. Warna merah senja itulah yang membuat hasil jepretanku terlihat bagus.
Sebenarnya ada 1 lagi yang membuatku puas dengan foto itu. Sosok manusia yang ikut terperangkap dalam lensa kameraku. Sosok manusia yang sangat fotogenik. Wajahnya yang sangat indah. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tampak proposional dalam fotoku.
“Seperti biasa, sempurna sekali Keito”, ucapku pada sosok yang ada di hadapanku.
Sosok yang kupanggil ‘Keito’ itu tersenyum. “Senang bisa membantumu Yuto. Itu juga karena pemandangan yang kau pilih ini. Kau memang pintar memilih latar tempat. Aku yakin kau bisa memenangkan kontes itu”
“Yup! Aku yakin foto ini akan menang dalam kontes fotografi yang akan kukirimkan minggu depan”, aku melihat ke arah Keito yang kini tampak sedang menikmati matahari senja, “Kau memang model yang hebat Keito. Kenapa kau tidak bekerja menjadi seorang model saja?”
Keito melihat ke arahku. Dia menggeleng. “Aku tidak berminat menjadi model. Aku menjadi model hanya untukmu Yuto”
“Kenapa? Kurasa kau akan segera menjadi model terkenal. Kau bahkan bisa menjadi seorang artis”
“Karena aku tidak bisa dipotret oleh orang lain selain dirimu”
“Apa maksudmu?”, tanyaku
Keito tersentak. Dia kemudian segera menggelengkan kepalanya. “Tidak. bukan apa-apa. Kalau aku menjadi terkenal nanti, kau akan kesulitan mencari model untuk fotomu” ucap Keito sambil tertawa.
“Kalau kau memang akan menjadi model apa boleh buat kan?”, aku segera mengemasi perlengkapan kameraku. “Hari akan menjelang malam. Sebaiknya kita segera pulang”
Keito mengangguk. Setelah aku selesai mengemasi barangku, kami berdua berjalan pulang bersama-sama.
Tidak berapa lama, kami berdua tiba di depan apartemenku. Keito melambaikan tangannya padaku sebelum aku masuk ke dalam. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk bertemu lagi minggu depan.
Aku segera masuk ke dalam kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencetak foto yang kupotret hari ini. Aku segera masuk ke ruang gelap yang kubuat sendiri. Dengan hati-hati aku mengeluarkan negatif film, berusaha agar tidak terkena cahaya, lalu pelan-pelan mulai mencetaknya.
“Foto ini memang bagus. Sempurna”
Aku memandang foto yang kuambil hari ini. Aku benar-benar menyukai foto itu. Sosok Keito di foto itu pun terlihat sangat bagus.
Aku memang menyukai Keito. Sebagai model foto maksudku, jangan salah paham dulu. Dia tahu persis gaya foto yang kuinginkan. Dia memang tidak terlalu banyak bergaya saat kupotret. Tapi karena bahasa tubuhnya yang fotogenik. Aku tidak terlalu bermasalah dengan hal itu.
Aku kembali teringat pertemuan pertamaku dengan Keito.
---flashback---
Aku terduduk sedih. Lagi-lagi karya yang kukirimkan gagal. Aku memandangi komentar juri, ‘nilai seni yang diungkapkan di foto ini masih kurang’.
“Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang baru. Yang membuat objek fotoku terlihat sempurna. Mungkin seorang model yang fotogenik. Tapi dimana aku bisa menemukan orang yang tepat untuk fotoku?”
“Hee... nice photo”
Aku terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Sejak kapan ada orang di sampingku? kenapa aku tidak sadar sampai dia berbicara?
“Siapa kau?”, tanyaku sambil mundur ketakutan. Takut? Jelas saja. Aku tidak kenal orang ini dan dia tiba-tiba ada di sampingku.
“Jahatnya... bukankah kau yang memanggilku?”
Aku mengernyitkan keningku. Aku memanggilnya? Kapan? Aku tidak tahu namanya dan bagaimana aku bisa memanggilnya?
“Yuto... “, pemuda itu memanggilku. “Kenapa kau diam saja?”
Aku terbelalak. “Bagaimana bisa kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya?”
Dia menghela napas. “Kan kau yang memanggilku, tentu saja aku tahu namamu. Kau juga kenal diriku”
Aku berpikir keras sambil mengamati dirinya. Wajahnya tampan, tapi bisa juga dibilang cantik. Beautiful. Badannya tidak tinggi, yah... lebih pendek dariku. Tapi kurasa tubuhnya proposional. Melihat bentuk tubuhnya yang bagus, otot-otot yang tersembunyi di balik bajunya, membuatku merasa kalau dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna.
“Ke...i...to...”, aku menggumamkan suatu kata. Aku tidak tahu darimana aku tahu kata-kata itu. Tapi terlintas begitu saja di pikiranku.
“Ya?”, dia tersenyum. Ah, dia manis sekali. Atau bisa juga kubilang tampan? Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.
“Keito?”, aku mengulangi lagi kata itu. Dia kembali tersenyum. Sepertinya itu benar namanya. Tunggu, kenapa aku bisa tahu namanya? Padahal aku yakin aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi kini aku merasa sudah mengenalnya sejak dulu.
---flashbackend---
Aku mengatur nafasku dan mulai membuka amplop coklat yang kuterima dengan perlahan. Minggu lalu, aku mengirimkan foto saat senja itu ke sebuah kontes fotografi. Aku sangat suka foto itu dan memutuskan untuk memilih foto itu dan mengirimkannya ke sebuah kontes.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat membaca tulisan di dalam surat itu. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar dan mencari Keito. Aku harus segera memberitahu kabar baik ini padanya juga. Aku menang! Untuk pertama kalinya, aku menang kontes fotografi itu. Dan aku mendapat penilaian tertinggi dari dewan juri. Keito pasti juga akan ikut senang, sama sepertiku.
Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Bagaimana aku bisa menemukan Keito? Aku tidak tahu dimana rumahnya. Keito-lah yang selalu datang ke rumahnya. Atau mereka akan berjanji bertemu di suatu tempat. Betapa bodohnya aku. Kenapa aku tidak pernah menanyakan soal itu padanya. Seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar kalau Keito akan muncul saat aku mencarinya.
Eh? Sepertinya memang begitu.
Keito selalu muncul di hadapanku kalau aku mencarinya. Aku tidak perlu meneriakkan namanya. Dalam sekejap dia akan muncul di hadapanku. Seperti hantu.
“Yuto~”
Tuh kan, aku benar. Keito muncul! Dia menghampiriku dengan senyumannya yang manis. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku ingin mencubit kedua pipinya itu karena gemas melihat ekspresi mukanya itu.
“Aku mencarimu”
“Aku tahu. Aku mendengar suaramu. Makanya aku datang” jawab Keito.
“Eh? Apakah kau bisa mendengar suara hati seseorang?”
“Mungkin. Tapi tidak semua, hanya suaramu. Aku bisa mendengar suaramu dengan jelas Yuto” jelas Keito dengan nada penuh teka-teki. “Ada berita baik apa?”
Aku ingin bertanya lebih jauh soal Keito, tapi aku mengurungkan niatku. Aku tersenyum dan membuka amplop coklat yang kuterima dan memperlihatkan lembaran pengumuman pemenang kontes pada Keito.
“Aku menang Keito!” ucapku bangga.
Sekilas, aku melihat raut kesedihan terlukis di wajahnya. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja karena saat ini senyum lebar telah menghiasi wajahnya.
“Wah... Selamat Yuto! Akhirnya, karyamu diakui oleh mereka!”
“Itu semua berkatmu. Terima kasih Keito”
“Berkatku?”
“Ya, karena kau telah menjadi model yang sempurna bagi fotoku. Kurasa mereka memilih fotoku karena mereka terpesona olehmu”
“Tidak Yuto... mereka memilih fotomu karena kemampuanmu bukan karena aku”
Aku menggeleng keras. “Tidak. Aku yakin itu karena dirimu. Teruslah jadi modelku selamanya Keito” aku berusaha menggapai tangan Keito, tapi Keito seperti berjalan mundur dan menghindari tanganku.
“Tidak, Yuto” Keito tersenyum. “Aku tidak bisa menjadi modelmu lagi”
Aku terkejut. “Kenapa???”
“Karena tugasku sudah selesai. Setelah ini aku tidak bisa muncul di hadapanmu lagi. Maaf, tapi kau harus berusaha sendiri setelah ini. Aku yakin kau pasti bisa”
Aku terhenyak mendengar ucapan Keito. “Kau akan pergi? Kemana? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?”
“Aku tidak pergi kemana-mana. Aku selalu disisimu. Tapi ini terakhir kalinya aku muncul di hadapanmu seperti ini”
Keito mendekat ke arahku dan memelukku. Ini pertama kalinya aku merasakan pelukannya. Kami tidak pernah bersentuhan tangan apalagi berpelukan.
“Sampai jumpa, Yuto” bisik Keito.
Aku memejamkan mataku. Aku ingin menahannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin Keito tidak pergi, tapi entah kenapa ada bagian dari diriku yang mengatakan Keito tetap ada di sampingku.
Ketika aku membuka mataku, sosok Keito sudah menghilang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tapi sosoknya tidak ada. Keito tidak ada dimanapun.
Dengan langkah gontai, aku kembali pulang ke rumah. Memikirkan bagaimana aku memotret selanjutnya tanpa Keito.
---***---
Aku menatap lama ke fotoku yang terpajang di dinding. Karyaku beserta karya peserta lain dipajang di sebuah pameran. Karena aku pemenang lomba, maka fotoku dicetak paling besar dan dipajang di tempat yang sering dilalui orang.
“Keito...” gumamku lirih. Aku masih merindukan Keito. Sejak hari Keito menghilang, dia sama sekali tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Meskipun aku meneriakkan namanya seperti orang gila saat mencarinya, tapi aku tidak pernah menemukannya dan dia tidak pernah muncul.
“Foto yang bagus, kak”
Aku menoleh, kudapati Raiya, adikku, sedang berdiri disana. Tampaknya dia sedang mengunjungi fotoku.
“Foto saat senja ini bagus sekali kak. Seakan-akan kita melihat langsung senja itu dan membuatku tersedot ke dalam keindahannya”
“Keito memang model yang hebat” kataku.
“Keito?”
“Model di foto itu” tunjukku pada sosok Keito yang ada di foto itu.
Raiya mengernyit. Dia melihat ke arah lukisan itu dan ke arahku berulang kali. “Tidak ada manusia di fotomu kak”
Aku terkejut. “Jangan bercanda Raiya... Keito ada disana. Dia berdiri disana”
“Justru kakak yang harusnya berhenti bercanda. Bukankah Keito selalu ada di gantungan tas kakak?” Raiya meraih tas pinggangku yang berisi kamera mini. Tas pinggang yang selalu kubawa kemanapun. Dia meraih sesuatu yang bertengger di tasku itu. “Kakak sangat menyukai gantungan kunci ini kan? Bahkan sampai menamainya Keito”
Aku tersentak kaget saat melihat gantungan boneka manusia yang ada di tasku. Wajahnya sangat mirip dengan Keito yang selalu kutemui.
“Keito...” aku menggenggam gantungan boneka itu. “Jadi selama ini kau...” aku menatap boneka itu lekat-lekat. Sekilas aku merasa boneka itu tersenyum padaku.
“Terima kasih, Keito...”
Tamat