Rabu, 29 April 2015

MARRY YOU

Terinspirasi oleh teman, jadilah FF ini....

Main Cast : Takaki Yuya and Arioka Daiki
Genre : Romance, Comedy

Yuya menatap Daiki yang terus terdiam. Pandangannya terus menunduk. Makanan seafood yang terhidang di depannya sama sekali belum dia sentuh. Padahal selama ini, bila ada makanan di depannya, dia akan langsung melahap makanan itu tanpa sisa. Kali ini, Daiki hanya menatapnya saja, tentu Yuya merasa sangat aneh dengan sikapnya.

“Kau kenapa Daiki? kau sakit?”, tanya Yuya cemas. Daiki hanya menggeleng.

“Kau tidak suka makanan itu?”, tanya Yuya lagi. Daiki menggeleng lagi.

Yuya menghela nafasnya, “Lalu kenapa? Kenapa kau muram seperti itu?”. Daiki terdiam saja tidak menjawab. Yuya menggenggam tangan Daiki yang ada di atas meja. “Kalau kau diam saja, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Kau membuatku sangat khawatir”.

Perlahan Daiki mengangkat kepalanya, matanya menatap lurus Yuya yang ada di hadapannya. Dia membuka mulutnya, sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi kembali dia menutup mulutnya seakan ragu untuk mengatakannya. “Katakanlah”, kata Yuya lembut. Sekali lagi, Daiki menatap lurus ke arah Yuya. Yuya balas menatap Daiki dengan lembut. Pandangan mata Yuya telah melumpuhkan hati Daiki, dia tidak sanggup lagi menyembunyikan hal itu selamanya.

“A-aku.....”, akhirnya Daiki mengeluarkan suaranya, Yuya terus melihat ke arah Daiki sambil menanti penuh sabar, “aku hamil”, ucap Daiki pelan.
Sontak Yuya membelalakkan matanya, “apa kau bilang??”, tanya Yuya sekali lagi. Dia merasa bahwa ada yang salah dengan pendengarannya.

“Aku hamil Yuya....”.

“Kau tidak salah? Apa itu benar Daiki??”

Daiki menunduk, “Akhir-akhir ini, berat badanku terus meningkat. Kupikir, itu karena aku sering makan bersamamu. Lalu, setiap pagi, aku sering merasa mual dan tidak enak badan. Perutku juga mulai terasa tidak enak. Aku akhirnya mencoba untuk mengeceknya, dan ternyata, hasilnya positif. Ada seorang bayi di dalam janinku”, Daiki memegang perutnya yang tampaknya sudah agak sedikit membesar.

Yuya mencoba merenungkan perkataan Daiki. ‘Memang, Daiki terlihat gemuk akhir-akhir ini, terutama di bagian perutnya, jadi kupikir itu karena kebiasaan rakusnya. Dan aku juga tahu kalau setiap pagi dia selalu terlihat tidak enak badan dan tidak nafsu makan. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya seperti ini’, batin Yuya.

“Tapi, kenapa kau bisa hamil?”, tanya Yuya lagi.

Daiki menatap Yuya, kali ini mukanya terlihat kesal. “Ini kan gara-gara kau! Saat baru pertama kali kita jadian, kau langsung menyerangku! Kau bilang kau sudah tidak bisa menahannya lagi. Berkali-kali aku mencoba untuk menahanmu, tapi kau terus menyerangku tanpa memperdulikanku! Sekarang coba lihat, ini akibatnya”, Daiki menunjuk ke arah perutnya.

Yuya mengalihkan pandangannya, dia mencoba untuk mengingat kembali kejadian 3 bulan yang lalu, saat mereka baru pertama kali berpacaran. Saking senangnya dia, dia tidak bisa menahan perasaannya itu. Hari itu juga, dia langsung menyerang Daiki tanpa mendengar persetujuan darinya.

“Tapi, aku yakin kalau aku menggunakan pelindung kok”, Yuya berusaha untuk mempertahankan diri.

Daiki menggeram, “apanya?? Pertama kali kita melakukannya, kau memang menggunakannya. Tapi yang seterusnya, kau sama sekali tidak menggunakan apa-apa. Memangnya kau pikir berapa kali kita melakukannya hah?! Berkatmu, aku sama sekali tidak bisa berjalan keesokan harinya”, gerutu Daiki.

Yuya mencoba mereka ulang kejadian itu. Dia ingat sekarang. Benar kata Daiki, dia terus memeluk Daiki hingga pagi hari. Daiki terus mencoba melarikan diri darinya, menahannya, tapi dia tidak mendengarkan kata Daiki. Wajah Daiki yang berada di pelukannya sangat manis, membuatnya tidak ingin melepaskan Daiki sedetikpun.

“Heh! Kau mikir apa? Sekarang bagaimana ini?”, Daiki menendang kaki Yuya. Yuya meringis kesakitan, Daiki melihatnya sambil terus cemberut. Yuya yang melihat Daiki seperti itu, malah merasa kalau Daiki terlihat imut dan manis. Ah, cinta itu memang buta.

“Aku akan bertanggung jawab kok. Aku akan menikahimu”, ucap Yuya enteng.

“Kau sungguh-sungguh?”, Daiki menatap Yuya dengan ragu.

Yuya menggenggam tangan Daiki, mukanya terlihat serius, “Dari awal aku jatuh cinta padamu, aku sudah berniat akan menikahimu, tapi aku tidak tahu kapan. Dan kurasa sekaranglah waktunya”. Muka Daiki bersemu merah, bagi Yuya, Daiki terlihat sangat manis saat ini. “Aku akan benar-benar menikahimu. Dengan satu syarat.......”.

Daiki menatap Yuya dengan penuh tanda tanya. “Apa?”

“Aku akan menikahimu, kalau kau yakin kalau itu adalah anakku”, Yuya menunjuk ke perut Daiki.

Daiki kembali menendang kaki Yuya, “Baka! Satu-satunya yang melakukan hal itu padaku adalah kau! Jadi, sebaiknya kau harus bertanggung jawab!”.

Yuya tertawa pelan sambil terus memegangi kakinya yang kesakitan. “Baiklah tuan putri. Ayo kita menikah”, Yuya membelai lembut kepala Daiki.

--------**************************---------

“Yuya! benarkah kalau kau akan menikah dengan Daiki?”, Yabu muncul tiba-tiba dari balik koran yang sedang dibaca oleh Yuya.

“Yabu! Kau mengagetkanku saja!”, Yuya melipat korannya, “Kau tahu darimana?”, selidik Yuya.

“Inoo memberitahuku. Daiki memberitahukan pada Inoo kalau kalian berdua akan segera menikah”.

“ah, iya”, jawab Yuya enteng.

“eh?? Kok bisa? Kenapa mendadak begini?”, tanya Yabu antusias. Yuya hanya diam saja sambil terus meelihat ke arah koran yang dilipatnya. “Apa yang terjadi?”, desak Yabu yang penuh ingin tahu.

Yuya melihat ke sekitar mereka. Kantor masih dalam keadaan sepi. “Daiki sedang hamil, jadi kurasa sekarang waktu yang tepat untuk menikah”, bisik Yuya.

“EHHHH???!!!!! DAIKI HAMILLL???!!!!! KOK BISA??!!!”, seru Yabu. Yuya segera membekap mulut Yabu agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain. “Kok bisa? Kalian kan baru saja jadian?”, Yuya hanya diam saja. “Kau.... jangan-jangan..... kalian berdua sudah melakukannya??”, selidik Yabu. Yuya mengangguk. “Huwaa.... kau ini. Cepat sekali kau bergerak”.

“Yah, ini salahku juga. Aku tidak bisa menahan diri waktu itu. Hasrat dalam tubuhku mengalahkan pikiran sehatku”. Yuya terlihat murung.

“Jadi, kau menyesal menikahi Daiki? Kau menyesal kalau dia hamil?”, tanya Yabu.

“Tidak kok. Aku sangat senang bisa menikah dengannya. Aku senang kalau ternyata aku bisa menjadi ayah dari anak yang berasal dari orang yang kucintai. Tapi,....”, Yuya terlihat muram.

“tapi apa?”, tanya Yabu yang tidak sabar.

“Tapi, aku masih ragu kalau itu adalah anakku. Kau tahu kan, kalau sebelum bersamaku, Daiki memiliki kekasih lain? Mereka sudah lama berpacaran. Lalu, kupikir....”,

“Lalu kau pikir kalau anak yang berada dalam kandungan Daiki itu adalah anak Daiki dan Hika?”, potong Yabu. Yuya mengangguk. “Kenapa kau tidak tanyakan langsung saja pada Daiki?”.

“Aku takut menanyakannya. Kemarin, dia tampak yakin kalau itu adalah anakku. Tapi, setelah kupikirkan lagi, bisa saja itu anak Daiki dan Hika. Bisa saja, Daiki sudah sering melakukannya dengan Hika sebelum melakukannya denganku”, lirih Yuya pelan.

“Kalau begitu, tanyakan saja pada Hika. Dia satu kantor dengan kita kan? Tanya saja padanya waktu istirahat siang nanti”, Yabu memberikan usul. Yuya tampak ragu dengan usul Yabu. “Tenang saja, aku akan menemanimu bicara dengannya nanti”, Yabu menepuk pundak Yuya. Yuya hanya bisa tersenyum datar saja.

------********---------

“Yoo, Hika!”, Yabu menyapa Hikaru yang sedang asyik makan di dekat jendela.

“Yoo, Yabu!”, balas Hikaru. “Yoo, Yuya!”, Hikaru juga menyapa Yuya yang berada di balik Yabu.

“Y-y-yo....”, balas Yuya. Yabu dan Yuya kini duduk semeja dengan Hikaru.

“Bagaimana Daichan? Sehat?”, tanya Hika pada Yuya. Yuya langsung tersenyum kecut saat mendengar nama Daiki dari mulut Hika. Yabu yang melihat Yuya langsung mengerti.

“Daiki sehat kok, malah sangat sehat. Dia harus tetap menjaga kesehatannya karena dia juga harus memikirkan kondisi janinnya”, jawab Yabu. Yuya melihat ke arah Yabu dengan tatapan tajam, sedangkan Hikaru melongo mendengar jawaban Yabu.

“Janin? Daichan? Eh, apa maksudnya?”, Hika melihat ke arah Yuya yang hanya terdiam tidak berani menatap Hika. “Daiki hamil???”, tanya Hika tidak percaya. Yabu mengangguk.

“Lalu, anak yang ada di perut Daichan sekarang itu anak siapa?”, tanya Hika. Sontak pertanyaan Hika itu mengagetkan Yabu dan Yuya. Yuya langsung mengeluarkan keringat dingin.

“Jangan-jangan kalian berdua sudah pernah melakukannya ya??”, tanya Yuya. Dia ingin menutup telinganya, dia takut dengan jawabab Hika. Dia takut mendengar jawaban yang sangat dia takuti.

“Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?”, jawab Hikaru. Yuya langsung merasa lemas.

“Aku sempat berpikir kalau anak yang ada di kandungan Daiki itu, adalah anakmu”.

Hikaru tersenyum, “Kenapa tidak kau coba tanyakan saja pada Daichan? Kau akan langsung tahu itu anakmu atau bukan”. Hikaru kini beranjak pergi, meninggalkan Yuya yang masih diam termangu disana.

------******-------

Yuya terdiam terpaku di depan apartemen Daiki. Berkali-kali dia mencoba untuk menekan bel pintu, tapi jarinya selalu terhenti tepat sebelum menyentuh belnya. Dia tampak ragu untuk menanyakan hal itu pada Daiki. Seandainya hal itu benar, apa yang akan dia lakukan?

CKLEK. Pintu kini terbuka lebar, Daiki berdiri di balik pintu. “Mau sampai kapan kau disitu? Bisa-bisa nanti kau dikira penguntit oleh tetanggaku”. Yuya masih terdiam. Tidak tampak tanda kalau dia akan masuk. “Ayo masuk”, Daiki menarik tangan Yuya karena tidak sabar.

Mereka kini akhirnya sampai di ruang tengah. Di meja, sudah tersedia makanan. Setiap malam, mereka memang sudah berjanji untuk makan bersama setelah Yuya pulang kerja. Mereka duduk di bangku masing-masing. Daiki menyerahkan semangkuk nasi ke arah Yuya. tapi, Yuya hanya terdiam saja menatap Daiki.

“Kau kenapa sih? Dari tadi diam saja”, Daiki sudah tidak sabar lagi menghadapi sikap Yuya.

“Kalian juga sering makan bersama seperti ini?”, tanya Yuya.

“Kalian?”, Daiki tidak mengerti maksud pertanyaan Yuya.

“Kau dan Hika. Apakah dulu kalian sering makan bersama seperti ini?”.

“Terkadang. Kalau dia tidak sibuk dengan pekerjaannya, kami makan bersama”.

“Kalian juga pernah tidur bersama?”, tanya Yuya lagi. Daiki langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Yuya.

“Kau ini bicara apa sih?”, Daiki sama sekali tidak mengerti pertanyaan Yuya.

“Jawab saja. Kalian pernah melakukannya atau tidak?”, Yuya mulai tidak sabar. “Jangan-jangan pernah ya?”, selidik Yuya.

“Kalau iya, kenapa? Kau ingin mengatakan kalau anak yang kukandung ini anaknya Hika? kau ingin aku mengatakan kalau ini bukan anakmu?”.

Yuya langsung terbelalak kaget saat mendengar jawaban Daiki. “Ternyata, anak itu bukan anakku”, gumam Yuya pelan.

Daiki menjitak kepala Yuya. “ADUH! Apa-apaan sih?”, kesal Yuya. Yuya kaget saat mendapati Daiki menangis di hadapannya.

“Baka! Coba kau ingat lagi malam itu. Kalau kau pikirkan baik-baik, kau pasti tahu, Anak yang ada di dalam ini adalah anakmu!”, bentak Daiki. Daiki langsung menuju kamarnya tanpa mempedulikan Yuya.

Yuya yang ditinggalkan sendiri mencoba memikirkan perkataan Daiki. Dia mereka ulang kejadian di malam itu. Saat mereka pertama kali melakukannya. Masih teringat jelas di kepalanya, apa yang mereka lakukan, ekspresi Daiki saat itu, suasana panas di antara mereka berdua, dan keadaan barang di sekitar mereka yang berantakan. Baju yang berserakan, lampu yang dipadamkan, dan kondisi sprei yang basah akibat keringat dan darah. Sontak, Yuya langsung berdiri dan menuju ke kamar Daiki.

Yuya mengetuk pintu kamar Daiki, “Daiki, maafkan aku. Aku salah sudah mencurigaimu. Kau benar, anak itu adalah anakku. Maafkan aku ya?”. Tidak terdengar jawaban dari kamar Daiki. “Aku cemburu saat mengingat kedekatanmu dengan Hika. Aku selalu cemburu padanya karena kau sudah bersamanya sejak lama. Kau sudah bersamanya bertahun-tahun, sedangkan kita baru bersama beberapa bulan”.

Perlahan pintu kamar itu dibuka, Daiki kini berdiri di hadapan Yuya. “Tapi, orang yang ingin kunikahi itu kau, bukan Hika”, ucap Daiki pelan. “Jujur saja, aku sangat senang begitu tahu aku mengandung anakmu. Aku takut kalau kau tidak menerima anak ini, tapi begitu kau mengatakan kalau kau akan menikahiku dan akan menjadi ayah dari anak ini, aku sangat senang”.

“Maafkan aku Daiki, maaf”, Yuya memeluk Daiki dengan erat. “Aku sudah meragukanmu. Aku sangat mencintaimu, melebihi siapapun di dunia ini”, bisik Yuya.

“Aku juga mencintaimu”, balas Daiki. Mereka kini mencoba membuktikan rasa cinta mereka melalui bibir mereka masing-masing. Satu sama lain berusaha melumat bibir lawannya seakan tidak mau kalah dengan yang lain.

“Hah... hah.... sebaiknya kita makan sebelum makanannya jadi dingin”, ucap Daiki yang masih terlihat kesusahan mengatur nafasnya akibat ciuman panas yang baru saja mereka lakukan.

“Tidak mau. Aku ingin tetap seperti ini dulu”, rajuk Yuya sambil terus memeluk Daiki.

“Aku sudah susah payah masak untukmu. Kalau nanti makanannya dingin, jadinya tidak enak”, Daiki berusaha melepaskan pelukan Yuya. “Terlebih lagi, si kecil juga butuh makan, papa”, bisik Daiki sambil tersipu. Mukanya langsung memerah setelah selesai mengatakan itu.

Yuya mendorong Daiki masuk ke dalam, mengunci pintunya, dan menggendong Daiki ke atas kasur. “Maafkan aku Daiki, aku sudah berada di batas kesabaran. Ini salahmu sendiri karena sudah berwajah seperti itu”, Yuya langsung mencium Daiki sebelum dia sempat mengatakan apapun.

------*****-------

Keesokan paginya, Yuya terbangun karena nada dering ponselnya. Tangan kirinya merogoh meja, sedangkan tangan kanannya tidak bisa bergerak karena Daiki sedang tertidur pulas disana. Dia mengecek hpnya, ada satu sms masuk.

Gomen ne, Yuya. Aku dan Daichan tidak pernah melakukannya kok. Kami hanya melakukan sebatas pelukan saja. Ciuman saja tidak pernah. Jadi, tenang saja. Aku hanya menggodamu saja kok. :p
NB : Undang aku di pernikahan kalian nanti ya....

“Sialan! Ternyata dia mengerjaiku”, gerutu Yuya kesal. Kali ini dia melihat ke arah Daiki yang masih tertidur pulas di tangan kanannya. Yuya selalu merasa terpesona setiap melihat muka tidur Daiki yang seperti anak kecil. Yuya mengecup kening Daiki. Daiki terbangun dan melihat ke arah Yuya.

“Pagi Daiki...”, sapa Yuya. Daiki langsung membalikkan tubuhnyan sehingga kini dia membelakangi Yuya. Mukanya bersemu merah. “Kenapa? Kau malu? Padahal, kalau kita sudah menikah nanti, kita akan seperti ini setiap hari lo”. Daiki menyembunyikan kepalanya dengan selimut. Yuya hanya tertawa melihat tingkah Daiki. “Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya....”.

END

AKU SELALU BERSAMAMU

FF ini merupakan sekuel dari FF One Shoot yang berjudul 'Hanya Kau dan Aku'.
Kalau yang 'Hanya Kau dan Aku' dilihat dari Chinen POV, kalau yg ini dari Hikaru POV.
Disarankan untuk membaca FF itu terlebih dahulu sebelum membaca ini agar tidak bingung. :)

Cast : Yaotome Hikaru and Chinen Yuri
Genre : Romance, Misteri

Hujan. Lagi-lagi hujan turun. Aku menatap tetesan air hujan yang turun dari jendela rumahku. Aku benci air hujan. Sangat-sangat benci. Di saat hari turunnya hujan, kejadian yang tidak mengenakkan selalu terjadi padaku. Seakan-akan hujan bermaksud mengambil semua kebahagiaan dariku. Aku menatap tetesan air hujan yang membasahi jendela dengan tatapan benci. Ingatan burukku kembali ke masa lalu.

Hari itu, aku pulang lebih telat dari biasanya. Aku mengikuti kegiatan klub di sekolah hingga pulang agak malam. Aku pulang dengan rasa berharap. Ayah dan ibu bilang kalau hari ini kami sekeluarga akan pergi jalan-jalan. Aku sangat menantikan hari ini. Kami sekeluarga jarang keluar bersama, karena kesibukan kedua orangtuaku. Aku terus berlari menuju ke rumah. Aku tidak mempedulikan air hujan yang membasahi tubuhku. Pikiranku hanya tertuju pada keluargaku.

Sedikit lagi aku akan tiba di rumahku. Samar-samar aku mendengar suara sirine yang berbunyi yang beradu dengan suara hujan. Tidak hanya itu, aku juga bisa mendengar suara kerumunan orang yang berkumpul. Semakin dekat aku tiba di rumah, semakin jelas aku bisa mendengar suara-suara itu. Langkahku terhenti saat tiba di depan rumahku. Sinar merah dari lampu sirine menyilaukan mataku. Beberapa orang yang melihatku langsung berusaha membawaku pergi dari situ.

“Lepaskan aku!”. Aku menghempaskan tangan-tangan dewasa yang menahanku. Orang-orang dewasa yang lain juga berusaha menangkapku. Dengan badanku yang kecil dan langkahku yang gesit, aku berhasil meloloskan diri dari mereka. Aku berlari menuju ke dalam rumah. Aku yakin, ibu dan ayah sedang menungguku di dalam. Aku sampai di ruang tengah, ada sebuah pita kuning yang menghalangi pintu. Aku menerobos pita itu. Bau amis yang menyengat langsung menyerang hidungku. Mataku terbelalak saat kulihat pemandangan di ruangan itu. Rasa mual langsung menyerangku. Sebuah tangan yang besar langsung menutup mataku. Tangan itu kemudian menuntunku keluar dari ruangan.

Kini aku berada di luar rumah. Aku bisa merasakan air hujan yang membasahi tubuhku. Bau hujan kembali masuk ke dalam paru-paruku. Aku membuka mataku, menatap ke arah hujan yang turun dengan lebatnya. Perlahan aku menutup mataku, dalam sekejap pemandangan yang kulihat tadi kembali berputar dalam ingatanku. Darah yang berceceran dimana-mana, tubuh ayah dan ibu yang telah terpotong-potong sedemikian rupa. Bahkan organ dalam mereka pun berceceran. Bau amis yang tadi kurasakan kembali tercium. Rasa mual kembali menyerangku. Kali ini aku tidak bisa menahannya. Kukeluarkan semua isi perutku sehingga tidak ada lagi yang bisa kukeluarkan.

CKLEK. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka. Chinen melangkah keluar dari kamarnya. Aku melihat ke arah jam yang terpasang di dekat situ. Rupanya sudah pagi. Sudah berapa lama aku berdiri disini? Hujan membuatku tidak sadar akan waktu. Aku melangkah mendekati Chinen. Kurapikan bajunya yang kusut dan kusisir rambutnya yang berantakan hingga rapi.

“Kau ingin makan apa hari ini?”, tanyaku pada Chinen. Chinen hanya diam menunduk. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aku sudah terbiasa dengan tingkahnya ini. Sudah setahun lebih dia bertingkah seperti ini. Sejak kami tinggal bersama, dia tidak pernah berbicara padaku, bahkan menatapku. Aku melangkah menuju ke dapur, menyiapkan makanan untuk kami berdua. Dari dapur, aku bisa melihat Chinen yang melangkah menuju ke jendela. Matanya menatap lekat tetesan air hujan yang turun.

Suara gemuruh hujan yang mengenai atap rumah semakin keras. Suara guntur pun terdengar lebih keras, seakan ingin beradu dengan suara hujan. Setelah itu, kilat datang menyambar seolah tidak mau kalah dengan tetesan air hujan dan guntur. Aku sangat benci hujan. Aku benci hujan karena mereka merebut perhatian Chinen dariku. Mereka tidak perlu bersusah payah merebut perhatiannya. Cukup dengan beberapa tetesan air, Chinen akan memberikan seluruh perhatiannya pada mereka. Sedangkan aku, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan perhatiannya. Aku yakin, akubisa kembali melihat garis senyumnya di wajahnya yang imut dan manis itu.

Hujan telah membawa pergi dua orang yang kusayangi, tidak akan kubiarkan hujan membawa pergi lagi orang yang sangat berharga bagiku. Saat aku kehilangan orangtuaku, hidupku terasa hampa. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Mataku terasa gelap, nafasku terasa sesak, kulitku terasa dingin. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kegelapan.

“Tidak apa-apa Hika. Aku ada disini bersamamu. Aku akan selalu bersamamu”. Kata-kata Chinen waktu itu terus terngiang di kepalaku. Berkat kata-kata itulah, aku bisa melangkah keluar dari kegelapan yang terus mengurungku. Berkat kata-kata itulah aku bisa menjalani hari-hariku. Chinen selalu ada disampingku setiap saat. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia adalah orang yang sangat berharga bagiku. Aku menyukainya. Tidak, lebih dari itu, aku mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku berharap aku akan terus bersama dengannya. Selamanya.

Tapi, semua itu berubah saat dia bilang akan pergi meninggalkanku. Dia akan menjauh dariku. Aku menolak keputusannya. Tapi, dia tidak mendengarkanku dan tetap memutuskan untuk pergi. Aku menatap hujan yang masih turun di luar jendela. Rasa kebencianku kembali timbul. Aku benci hujan karena mereka telah membawa pergi senyuman Chinen dariku bersamaan dengan air yang mengalir. Malam itu, saat aku ingin membawa Chinen bersamaku, saat itulah aku kehilangan senyum Chinen untuk selamanya. Aku tidak pernah lagi melihatnya tersenyum padaku. Bahkan, menatapku saja dia tidak mau.

Aku mendekat ke arah Chinen dengan membawa nampan makanan untuk kami berdua. Makanan kesukaan Chinen adalah menu makanan kami setiap hari. Dulu Chinen pernah berkata kalau makanan buatanku itu enak. Dia selalu tersenyum saat aku memasak untuknya. Aku meraih tangan Chinen dan menuntunnya untuk duduk di kursi. Kuberikan piring berisi makanan itu padanya. Dia hanya menatap piring itu.

“Kenapa? Kau tidak suka makanannya?”, tanyaku sambil mendekat ke arahnya. Dia hanya terdiam. Aku menghela napas panjang. Aku kembali menuju dapur untuk membuatkan makanan yang baru.

Aku kembali berkutat dengan bahan-bahan makanan. Aku terlalu sibuk sehingga tidak menyadari Chinen yang berdiri di belakangku. Aku tersentak kaget melihat Chinen yang berdiri diam menundukkan kepalanya di belakangku. “Chii?! Ada apa?”. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus mataku. Dalam sekejap, aku merasa telah terhipnotis oleh tatapan matanya. Badanku sama sekali tidak bisa digerakkan. Seakan-akan seluruh gerakan tubuhku telah terkunci oleh tatapan mata itu.

Aku mengamati wajah Chinen dengan seksama. Mulutnya yang kecil mulai membuka. “Hikaru....”. Aku tersentak kaget mendengar kata itu. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Mataku terasa buram karena berusaha menahan air mataku agar tidak keluar. Perasaanku sangat senang sekali. Chinen memanggil namaku! Akhirnya, dia memberikan perhatiannya padaku!

Perlahan Chinen mendekat ke arahku. Aku terdiam di tempat bersiap untuk menerima tubuhnya yang mungil itu. Chinen merebahkan tubuhnya ke tubuhku. Tubuh kami saling berhimpitan. Tiba-tiba aku merasakan sensasi aneh dari perutku. Aku terjatuh dan terbaring tidak berdaya. Kulihat ke arah perutku, cairan berwarna merah membasahi perutku.

Aku menatap kearah Chinen yang berdiri diam menatapku yang terbaring lemah tidak berdaya. Aku bisa melihat ada sebilah pisau di tangannya. Matanya lurus menatapku. aku merasa tatapan matanya berbeda dengan tatapan mata sebelumnya. Tatapan matanya saat ini jauh lebih hidup dari sebelumnya. Aku membelalakkan mataku, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Chinen tersenyum. Ya, dia kembali tersenyum padaku.

“Akhirnya....kau tersenyum. Sudah lama aku ingin melihat senyummu lagi”. Tepat setelah itu, mataku terasa kabur, kesadaranku semakin lemah. Chinen merendahkan tubuhnya dan duduk di sampingku. Dia mengulurkan tangannya untuk memelukku dalam dekapannya. Aku mendengar suara bisikan yang kukenal, “Tidak apa-apa Hika. Aku ada disini bersamamu. Aku akan selalu bersamamu”.

END

Minggu, 19 April 2015

TEN KNIGHTS

PART 6

Di depan rumah Yamada

“Yuya-san, terima kasih sudah mengantarku pulang”.

“Yah, tidak apa-apa kok. Lagian aku juga tadi sempat membuatmu takut waktu kita pertama kali bertemu”, Yuya tersenyum kearahku. Sesaat aku merasa pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi aku lupa dimana.

“Bagaimana kalau mampir sejenak?”, aku menawarkan pada Yuya untuk masuk ke dalam.

“Ah terima kasih untuk tawaranmu. Tapi sayangnya aku harus segera pergi. Aku ada pekerjaan setelah ini. Sampaikan salamku pada ibumu ya”, Yuya mulai menyalakan mesin mobil. “Oh ya, Yamada kun,sebaiknya kau pertimbangkan lagi perkataan master soal tinggal bersama kami. Hal ini demi kebaikan semuanya. Dah, see you soon!!!”. Setelah berkata seperti itu, mobil mulai melaju. Aku terus melihat mobil Yuya hingga tidak terlihat lagi. Setelah itu aku langsung ke dalam rumah.

“Tadaima!! Kaa-san!”.

“Ryosuke, kenapa lama sekali kau pulang.Katamu hari ini kau bisa pulang cepat”. Ibu menyambutku di depan pintu.

“Gomennasai, tadi aku ada perlu sebentar”. Aku melepas sepatu dan meletakkannya di rak.

“setidaknya telepon ibu kalau kau tidak bisa pulang tepat waktu. Ibu cemas kalau terjadi sesuatu denganmu”. Ibu memelukku dengan hangat. “Ryosuke kenapa kakimu? Kenapa di celanamu ada noda darah? Apa yang terjadi?”. Ibu tampak panik melihat kakiku.

“Oh ini, tadi aku tergelincir terus jatuh.Tapi sama sekali tidak ada luka kok bu. Jadi ibu tidak usah khawatir”. Aku membuka celanaku dan memperlihatkan kakiku. Aku tidak bisa bilang pada ibu bahwa tadi memang ada luka yang besar hingga harus dijahit dan sekarang lukaitu lenyap tanpa bekas.

“aduh, makanya ibu selalu bilang hati-hati kalau jalan. Ya sudah, ayo kita rayakan ulang tahunmu. Ibu sudah menyiapkan pesta kecil”, ibu tersenyum dan mengajakku ke ruang makan. Disana sudah tersedia kue ulang tahun dan beberapa makanan kesukaanku. Kami segera duduk.

“Ryosuke, otanjoubi omedetou!”. Ibu menyodorkan kue ulang tahun padaku.

“Arigatou, kaa-san”. Aku pun meniup lilin yang ada di atas kue.

“Ryosuke, ini hadiahmu. Ibu harap kau bisa menyukainya”. Ibu meyodorkan sebuah kotak kecil. 

Aku membuka kotak tersebut, didalamnya ada jam tangan antik berwarna putih yang bagus sekali. “Arigatou,kaa-san”. Aku langsung memeluk ibu dan mencium pipi ibu. Jam itu langsung kupakai di tangan. Ukurannya pas sekali. Aku sangat senang dengan hadiah ini.

“Ryosuke, ada yang ingin ibu bicarakan”. Ibu menatapku dengan muka yang serius. Melihat ibu seperti itu, aku pun teringat pertemuanku dengan para ksatria dan master. Juga soal kematian ayah dan siapa ayah yang sebenarnya.

“Ibu, apakah yang ingin ibu bicarakan itu adalah soal ayah?”. Aku menatap ibu.

“iya, bagaimana kau bisa tahu?”, ibu melihatku dengan sedikit terkejut. Aku menceritakan semuanya pada ibu apa yang kualami tadi pagi. Pertemuanku dengan makhluk kegelapan, para ksatria, dan juga pria yang disebut ‘master’ yang memberitahuku siapa ayahku yang sebenarnya dan bagaimana dia tewas. 

Setelah selesai aku bercerita, ibu mendesah nafas pelan.“Ternyata kau sudah bertemu dengan mereka”. ibu lalu berdiri dan masuk ke dalamkamar. Aku duduk terheran-heran. Tak lama ibu keluar dengan membawa sebuah buku.

“Ini buku harian ayahmu”. Ibu menyodorkan buku yang dibawanya tadi padaku. “disana tertulis semua tentang ayahmu, siapa dia dan apa yang dia lakukan”. Aku membuka buku tersebut. Halamannya banyak yang sudah lusuh, tapi tulisannya masih jelas saat dibaca. “saat kau berumur 17 tahun, ibu bertekad akan memberitahukan semuanya padamu. Ayahmu mengatakan pada ibu kalau kekuatanmu itu akan mulai aktif saat kau menginjak usia 17 tahun.Saat kekuatanmu mulai aktif itulah, para makhluk kegelapan akan mulai mengejarmu.Tapi ternyata, mereka sudah menyerangmu lebih cepat dari yang ibu duga. Dan syukurlah kau bisa bertemu dengan rekanmu sesama ksatria”. Ibu menatapku dengan matanya yang lembut. Entah kenapa dari sorotan mata ibu aku bisa merasakan kesedihan.

Sebelum tidur, aku membuka buku harian ayahku. Disana tertulis bagaimana ayah menjadi seorang ksatria. Bagaimana ayah menjalani dan bertarung melawan para makhluk kegelapan. Bayangan ayah yang kuingat saat kecil memang beliau adalah sosok yang kuat, berani dan sigap melindungiku kapan saja. tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa ayah juga melawan makhluk mengerikan itu. Tiba-tiba air mataku menetes, aku mulai merindukan ayah. Ayah meninggalkan kami saat aku berusia 14 tahun. Tak terasasudah 3 tahun ayah meninggalkan kami. Aku menatap langit malam, disana terlihat banyak bintang bertebaran, aku pun berharap ayah ada di salah satu bintang tersebut. ‘ayah, aku merindukanmu’, gumamku dalam hati.

“WAAA!!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI??CEPAT KELUAR!!”. 

Aku tersentak kaget. Ternyata aku ketiduran saat membaca buku harian ayah. 

“CEPAT KELUAR DARI SINI!!”. 

Aku mendengar teriakan ibu. “Ibu, apa yang terjadi?”, aku keluar kamar dan segera menghampiri ibu. Tampaknya ibu berada di ruang keluarga. Aku pun mempercepat langkahku.

“JANGAN KESINI RYOSUKE! CEPAT LARI!!”. Ibu berteriak lagi. 

Aku terperanjat kaget melihat ruang keluarga yang berantakan. Aku terbelalak kaget saat melihat apa yang sedang berhadapan dengan ibu. Ibu sedang menahan sesosok makhluk, bentuk tubuhnya hampir menyerupai manusia, seluruh tubuhnya berbulu, dan makhluk itu memiliki kuku yang tajam. Ibu menahan makhluk itu dengan sekuat tenaga. ‘makhluk kegelapan’, ucapku pelan. Makhluk itu kemudian melihat ke arahku. Makhluk itu tersenyum saat melihatku, dan aku bisa merasakan dari pandangan matanya kalau dia ingin memangsaku.

“Akhirnya kutemukan juga kau, ksatria kesepuluh”, suara makhluk itu terdengar berat dan parau.

“Apa yang kau lakukan disini Ryosuke? Cepatlari selagi ibu menahannya”, teriak ibu

“Tapi ibu, aku tidak mungkin meninggalkan ibu sendrian”

“Cepat pergi, saat ini keselamatanmu adalah yang terpenting buat ibu. Cepat pergi selagi ibu menahannya disini”

“Tapi.... “

“Ryosuke, kau selalu menuruti perkataan ibu kan? Oleh karena itu, kali ini turutilah perintah ibu juga”, ibu melihatku dengan pandangan memohon.

“Tidak akan kubiarkan kau lari! Raja memintaku untuk membawanya ke istana. Aku pasti akan menangkapmu” makhluk itu kemudian mengibaskan tangannya dan melempar ibuku hingga ibu terpental ke dinding.

“Ibu!!”

“Ryosuke, jangan khawatirkan ibu. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini”, ibu merintih kesakitan. Aku bisa melihat darah mengucur keluar dari kepala ibu. Makhluk itu kemudian menghampiriku. Sesuai dengan perkataan ibu, aku pun bergegas keluar rumah. Suasana di luar rumah masih agak gelap, sehingga kondisi jalan masih sangat sepi. Aku berlari sekuat tenaga. Aku melihat kebelakang, kulihat makhluk itu tidak berlari mengikutiku,tapi terbang. Terlihat dia mengepakkan sayap yang cukup lebar. “Kena kau!”. Makhluk itu kemudian menukik tajam ke arahku.

SING!! Tiba-tiba aku merasa sensasi aneh. Sensasi ini pernah kurasakan sebelumnya. Ya, ini sama dengan waktu itu. Kejadian pagi kemarin saat di pasar. BLARR!!! Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Makhluk terbang itu kemudian jatuh karena sesuatu yang mengenainya. Tiba-tiba di depanku muncul mobil. Pintu belakang mobil itu terbuka.

“Ayo, cepat naik!”. Seorang cewek mengulurkan tangannya padaku. Aku ragu-ragu menerima tangan itu. Siapa mereka? kulihat makhluk terbang tadi bersiap untuk berdiri. 

“Ayo cepat! Tidak ada waktu lagi! Kau mau mati disini hah??” ujar cewek itu tak sabar. Dengan sigap aku menerima uluran tangannya dan masuk ke dalam mobil. “Yosha, Yabu-kun cepat jalankan mobilnya!” kata cewek itu kepada cowok yang berada di belakang kemudi. Mobil itu kemudian melaju dengan kencang.

“Yamada kun, benar?”. Tanya cowok tersebut.

“Iya”. Jawabku. Di dalam mobil terdapat 3 orang. Cowok yang berada di belakang kemudi, kemudian ada seorang cewek di sebelahnya, wajahnya sangat cantik. Dan ada satu lagi cewek yang berada di sebelahku,omongannya kasar dan sedikit tomboi tampaknya.

“Perkenalkan namaku Yabu, dia Inoo” tunjuknya pada cewek yang berada di sebelahnya. “dan yang berada di sebelahmu itu namanya Ryuu”.”kami juga ksatria, sama sepertimu”.

“Cih, padahal kita baru saja pulang dari misi, malah harus membantu anak ini”, gerutu Ryuu.

“Keito melihat kalau ada ‘makhluk kegelapan’ yang mengincarmu. Dan karena kami barusan pulang dan kebetulan sedang berada didekat sini, maka diputuskan kalau kami bertiga yang akan membantumu”, kata cewek yang bernama Inoo ini. Suaranya lembut dan mencerminkan wajahnya yang cantik. Bagai seorang Yamato Nadeshiko saja.

BRUAKH!! Dari belakang mobil, mobil seperti dihantam sesuatu yang keras. Saat melihat kebelakang, makhluk yang tadi mengejarku sudah bangkit dan kini melancarkan serangan pada kami.

“Yabu, bisakah kau mengarahkan mobilnya kejalan sempit yang ada disana?”, Inoo menunjuk ke suatu tempat.

“Bisa. Kenapa?”, tanya Yabu.

“Aku punya ide untuk mengalahkan makhluk itu,Ryuu ayo bantu aku”. Atap mobil mulai terbuka. Inoo dan Ryuu pun bersiap-siap melancarkan serangan. ‘apa yang akan mereka lakukan’, tanyaku.

Tsuzuku~~~

AKUMA NO YOROI

Part 3

Keito tidak bisa merasa tenang saat mengikuti pelajaran. Dia terus terbayang dengan ucapan Chii saat mereka memasuki sekolah tadi. ‘Keito-sama, aku mencium bau demon yang sama dengan bau demon yang kita temui kemarin’. Keito menatap buku pelajarannya sambil menghela nafas panjang.

“Okamoto. Apa jawabannya?”

Keito tersentak kaget saat mendengar namanya dipanggil. Dia langsung melihat ke arah gurunya yang kini menatapnya, menunggu jawaban yang dilontarkan olehnya. Dia langsung melihat ke arah bukunya dengan panik. Dia sama sekali tidak mendengar perkataan gurunya. Keito merasa keringat dinginnya keluar, gurunya ini terkenal galak dan suka memberi nilai minus pada muridnya.

“Hal 94, nomor 1”

Juri yang duduk di belakangnya memberitahunya. Keito langsung membuka halaman yang dimaksud dan mulai membaca soal nomor satu.

“Ada apa Okamoto? Apa jawabannya?”, tanya sang guru yang sudah mulai tidak sabar.

“Emm... jumlah neutron yang tersisa adalah 9”, jawab Keito mantap.

Guru IPA yang galak itu langsung tersenyum. Keito menghela nafas lega begitu melihat ekspresi gurunya itu. Untunglah dia masih bisa menjawab soal itu. Dia melirik ke arah belakang sekilas, ke arah Juri yang duduk di belakangnya.

“Arigatou”, ucap Keito pelan. Juri tersenyum sekilas.

Keito kembali memusatkan perhatiannya ke pelajaran. Dia berusaha melupakan sejenak ucapan Chii tadi. Lebih baik berkonsentrasi pada pelajarannya dulu. Dia tidak ingin kejadian tadi terulang. Untung dia masih bisa menjawab pertanyaan itu. Kalau tidak, nilainya kini pasti sudah terancam. Keito tidak ingin peringkatnya turun gara-gara ini. Dia bisa bersekolah disini karena mendapat beasiswa. Jika peringkatnya turun dari peringkat satu, maka beasiswanya akan dicabut.

---***---
“Hah... yang tadi hampir saja”, ucap Keito sambil menyandarkan tubuhnya ke kursinya.

“Kau kenapa? Tidak biasanya kau melamun di tengah pelajaran. Apalagi pada saat pelajaran Ueda sensei”, tanya Juri.

“Hmm... ada yang kupikirkan tadi”, jawab Keito singkat.

“Ahh... aku lapar. Ayo kita ke kantin”, ajak Juri.

“Tapi aku bawa bekal sendiri”

Keito mengangkat kotak bekalnya yang terbungkus rapi. Bekal yang selalu disiapkan oleh Yama untuknya setiap hari. Tapi Keito tidak pernah tahu apakah Yama memasak sendiri makanan itu atau tidak. Makanan sudah siap tersedia saat makan. Keito hanya tinggal menyantapnya saja.

“Aku tahu... makanya temani aku makan di kantin”

Juri menarik tangan Keito. Mau tidak mau, Keito mengikuti Juri ke kantin. Tidak lupa, Keito membawa Chii yang menjadi gantungan kunci di sakunya.

“Apa itu?”, tanya Juri sambil menunjuk saku Keito. Juri langsung merogoh saku Keito dan mengambil benda yang ada di dalamnya. “Uwaahh... gantungan kunci yang imut sekali. Tidak kusangka kau suka barang-barang imut seperti ini”. Juri mengamati gantungan kunci rubah itu dengan seksama.

“Kembalikan”, seru Keito sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kembali gantungan kunci Chii yang dipegang oleh Juri. Tapi Juri malah mengulurkan tangannya lebih jauh lagi agar tidak terjangkau oleh tangan Keito. terjadi persaingan sengit di antara keduanya. Keito ingin segera mengambil kembali Chii, tapi Juri malah menggoda Keito.

BRUK! Tanpa disadari keduanya. Mereka menabrak seseorang di dekat tangga.  BRAK! BRUK! BRAK! Terdengar bunyi benda yang jatuh berurutan dengan keras. Keito dan Juri langsung terdiam terpaku di dekat tangga. Mereka bisa melihat ada seseorang yang jatuh bersama dengan beberapa buku. Orang itu kini terkapar di tangga.

“Uwah!!! Hime-sama (tuan putri) ! Hime-sama jatuh!”, seru seseorang yang berada dekat dengan orang yang terbaring jatuh di tangga tersebut. Orang-orang yang berada di sekitar situ langsung berkerumun di tangga untuk melihat apa yang terjadi.

“Siapa? Eh, benarkah itu? hime-sama jatuh?”

Keito bisa mendengar suara bisikan beberapa orang yang berkerumun tersebut. Beberapa orang melihat Keito dan Juri dengan pandangan sinis. Keito merasa terpojok dengan keadaan ini. Karena kesalahannya lah orang yang disebut ‘Hime-sama’ itu jatuh.

“Uwah gawat. Kita menabrak Hime-sama. Kita dalam bahaya”, bisik Juri panik.

“Ngomong-ngomong, siapa ‘Hime –sama’ ini? ini kan sekolah khusus putra. Tidak mungkin ada perempuan yang bersekolah disini kan?”, tanya Keito.

Beberapa orang yang ada di sekitar Keito langsung melotot. Juri menatap Keito dengan pandangan memelas. Keito bisa membaca raut muka Juri yang mengatakan ‘baka’. Dia melihat ke arah orang yang jatuh itu yang kini sudah sadar kembali. Keito sangat terkejut begitu melihat wajah orang itu. mukanya cantik sekali seperti perempuan. Keito bahkan sempat lupa kalau orang berwajah cantilk itu adalah laki-laki.

“Dialah ‘Hime-sama’. Nama aslinya adalah Inoo Kei. Murid kelas tiga sekolah ini. Karena mukanya yang sangat cantik seperti perempuan, orang-orang mulai memanggilnya Hime-sama”, ucap seseorang dari arah belakang Keito.

“Yugo! Kau mengagetkanku saja”, kaget Keito saat melihat salah satu teman sekelasnya berdiri di belakangnya.

“Keito, lebih baik setelah ini kau berdoa semoga tidak ada nasib buruk yang menimpamu. Hime-sama memiliki banyak penggemar di sekolah ini. Kau tidak bisa lolos begitu saja karena sudah membuat Hime-sama jatuh”, ucap pemuda yang bernama Yugo lagi.

Keito menelan ludahnya. Dia bisa mengerti apa yang diucapkan Yugo. Beberapa orang dengan sukarela membantu Inoo senpai berdiri dan merapikan buku yang tercecer. Beberapa orang yang tersisa melihat ke arahnya dengan pandangan kesal. Mereka mulai mendekat ke arah Keito dan Juri. Mata mereka seakan hewan buas yang telah menyudutkan mangsanya dan tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

“Hei kau! Ayo minta maaf pada Hime-sama! Kau sudah mencelakainya!”

“Benar! Kalian berdua sudah berbuat salah!”

“Iya benar! Ayo cepat minta maaf!”

Orang-orang yang berkerumun di dekat Keito dan Juri terus mengatakan hal yang sama. Seolah-olah mereka menyalahkan apa yang terjadi pada mereka berdua. Keito semakin merasa bersalah. Karena tindakannya, dia sudah mencelakai seseorang. Seseorang mulai mendorong Juri hingga menabrak dinding. Seorang lagi kini mencengkeram kerah baju Keito.

“Hentikan, kalian semua! Aku tidak apa-apa. Jangan sudutkan mereka. aku baik-baik saja”

Inoo kini sudah kembali berdiri. Suaranya yang lembut langsung menghentikan perbuatan murid-murid yang mengerumuni Keito dan Juri. Keito bisa melihat raut muka Inoo yang tampak baik-baik saja. Tubuhnya pun tidak terluka. Dalam hati dia merasa lega karena Inoo tidak terluka parah karena kecelakaan tadi.

“Tapi, Hime-sama... mereka berdua sudah mendorong anda”, jawab seseorang yang masih memegang kerah baju Keito.

“Aku tidak apa-apa. Mereka berdua tidak sengaja. Kalian semua berlebihan. Cepat lepaskan mereka”, perintah Inoo. Mukanya yang cantik dan tubuhnya yang kurus membuat penampilannya seperti seorang perempuan. Terlebih lagi, gaya bicara dan tingkahnya yang anggun membuatnya tampak seperti seorang putri. Keito mengerti kenapa orang-orang memanggilnya ‘Hime-sama’.

“Tapi...”, orang-orang yang mengerumuni Keito dan Juri tampak berat hati untuk melepaskan mereka berdua. Mereka masih berdiri mengerumuni Keito dan Juri, seakan tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.

“Ada apa ini? minggir semua! Jangan menghalangi jalanku”

Orang-orang yang ada disana langsung memasang wajah takut ketika melihat sang pemilik suara tadi. Keito melihat ke asal suara, ada seorang laki-laki tinggi berdiri disana, berambut panjang sebahu dan berwarna coklat kemerahan (ralat ya... kemarin aku nulisnya rambutnya pirang. Sekarang kuganti coklat saja. moga kalian g keberatan). Sorot matanya tampak seperti seekor singa. Beberapa orang langsung minggir dan memberi jalan pada orang itu. Kerumunan orang yang ada di lorong sekolah itu langsung bubar seketika. Orang itu lalu berjalan dengan tenang melewati kerumunan orang tersebut. Berkat orang itu, Keito dan Juri bisa lepas dari kerumunan para fans Hime-sama.

“Uwah... berkat dia kita bisa selamat”, bisik Juri lega.

“Nee... siapa orang itu?”

Juri melihat ke arah Keito dengan heran. “Kau ini... masa kau tidak mengenalnya? Seluruh sekolah tahu siapa dia”. Keito menggeleng. Juri mendesah pelan, dia tidak menyangka kalau temannya sekuper ini. “Dia adalah ketua geng sekolah ini, Takaki Yuya, murid kelas 3. Rumor bilang kalau dia juga menguasai wilayah ini”

“Oh...”, gumam Keito pelan. Dia memang merasakan sesuatu yang lain saat melihat sorot mata Takaki senpai itu. Dalam hati kecilnya, dia merasa sangat takut. Dia merasa kalau Takaki itu bukan manusia sembarangan.

Keito melihat ke arah Inoo yang kini mulai membereskan buku yang berceceran di tangga. Keito berjalan menghampirinya untuk meminta maaf atas perbuatannya.

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja menabrak anda, err... Hime-sama”

Inoo menatap Keito lekat-lekat. Juri kemudian datang dan ikut meminta maaf bersama dengan Keito. Suasana menjadi sangat hening. Keito merasa sangat takut melihat reaksi Inoo. Dia melirik Inoo dengan takut-takut.

Inoo tersenyum lembut melihat ke arah keduanya. “Tidak apa. Maafkan mereka ya”. Inoo menunjuk ke arah kerumunan murid yang terkumpul disana.

“Itu juga salahmu Inoo... kau membawa buku segitu banyaknya hingga kau tidak bisa melihat jalan yang ada di depanmu”.

Keito menoleh. Seorang pemuda muncul diantara mereka. Dia mengambil beberapa tumpuk buku yang ada di tangan Inoo. Dari badge kelasnya, Keito tahu kalau pemuda ini adalah murid kelas 3.

“Yabu-kun, terima kasih”, ucap Inoo sambil tersenyum. Inoo kemudian mengambil sisa buku yang terjatuh. “Kalian berdua juga, tidak usah dipikirkan ya”. Inoo tersenyum ke arah mereka berdua. Setelah itu, Inoo berlalu pergi meninggalkan mereka bersama pemuda yang dipanggil ‘Yabu-kun’ itu tadi.

Kerumunan orang yang berkumpul mulai membubarkan diri. Keito merasa lega karena kini mereka bisa bernafas dengan tenang. Dia juga lega karena bekalnya tidak berantakan meskipun orang-orang itu sempat mendorongnya. Keito kemudian menyadari sesuatu yang penting. Penyebab dari semua kejadian ini.

“Juri, mana gantungan kunciku?”

Juri menatap ke kedua tangannya. Kosong. Dia merogoh seluruh saku bajunya, tapi gantungan kunci berbentuk rubah itu tidak ditemukan dimanapun.

“Gomen Keito...tampaknya gantungan kunci itu terlepas dari tanganku saat orang-orang itu mendorongku. Aku tidak tahu dimana benda itu sekarang”

Keito langsung panik mendengar jawaban Juri. Dia langsung melihat ke lantai dan mencari Chii di setiap sudut. Dia merasa takut kehilangan Chii. Juri pun membantunya mencari gantungan kunci itu. bagaimanapun juga itu juga termasuk kesalahannya.

“Maaf, apa kau sedang mencari ini?”

Ada sebuah tangan terulur ke arah Keito. Keito merasa sangat gembira saat melihat Chii yang berada di tangan tersebut. Keito langsung meraih Chii dan memegangnya erat-erat.

“Terima kasih”, Keito melihat ke arah sang pemilik tangan. “Emm... Nakajima-san?”

Pemuda yang dipanggil Nakajima itu tersenyum. “aku memungutnya tergeletak disana. Lalu kulihat kau sedang mencari sesuatu. Jadi kupikir kalau benda ini yang kau cari. Untunglah aku mengambilnya”.

“Benar. Ini milikku. Terima kasih banyak”, balas Keito lagi sambil menundukkan kepalanya.

“Sama-sama. Berhati-hatilah, jangan sampai hilang lagi ya”

Pemuda yang dipanggil Nakajima itu kemudian berlalu pergi. Badannya yang tinggi membuatnya cukup mencolok di kalangan para murid. Keito mengenalnya karena mereka berdua berada dalam klub yang sama, klub musik. Keito jarang berbicara dengannya. Apalagi mereka berdua berbeda kelas. Tapi Keito tahu kalau Nakajima itu orangnya baik dan ramah.

“Chii maafkan aku ya...”, bisik Keito pelan ke arah Chii.

“Huwaa... Keito-sama... saya takut sekali tadi”, rengek Chii.

“Sudah. Sekarang sudah tidak apa-apa Chii. Maaf ya kau sampai terlempar dariku”

“Keito-sama... tadi, sesaat saya merasakan ada demon di sekitar sini”

Keito terbelalak kaget mendengar ucapan Chii. “Apa maksudmu? Tadi ada demon disini? Apakah sama dengan demon yang kemarin?”

Chii mengangguk mantap. “Benar Keito-sama. Saya merasakannya tadi. Tapi saya tidak tahu yang mana demon itu karena banyak orang yang berkumpul disini tadi. Sedangkan aura yang saya rasakan tadi cukup lemah dan samar-samar, sehingga saya tidak tahu persis yang mana demon tersebut”

Keito merasa tidak tenang. Ada demon yang berkumpul pada saat keramaian tadi. Apakah demon itu datang untuk mengincarnya? Apa tujuan demon itu datang kemari?

---***---
“Tidak kusangka, aku akan kontak langsung dengannya. Baru kali ini aku melihatnya dari jarak dekat”

“Berhati-hatilah. Dia tidak sendirian, si rubah cilik itu juga ada bersamanya. Kau tidak akan menang melawannya”

Tsuzuku ~~~