Main Cast : Takaki Yuya and Arioka Daiki
Genre : Romance, Comedy
Yuya menatap Daiki yang terus terdiam. Pandangannya terus menunduk. Makanan seafood yang terhidang di depannya sama sekali belum dia sentuh. Padahal selama ini, bila ada makanan di depannya, dia akan langsung melahap makanan itu tanpa sisa. Kali ini, Daiki hanya menatapnya saja, tentu Yuya merasa sangat aneh dengan sikapnya.
“Kau kenapa Daiki? kau sakit?”, tanya Yuya cemas. Daiki hanya menggeleng.
“Kau tidak suka makanan itu?”, tanya Yuya lagi. Daiki menggeleng lagi.
Yuya menghela nafasnya, “Lalu kenapa? Kenapa kau muram seperti itu?”. Daiki terdiam saja tidak menjawab. Yuya menggenggam tangan Daiki yang ada di atas meja. “Kalau kau diam saja, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Kau membuatku sangat khawatir”.
Perlahan Daiki mengangkat kepalanya, matanya menatap lurus Yuya yang ada di hadapannya. Dia membuka mulutnya, sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi kembali dia menutup mulutnya seakan ragu untuk mengatakannya. “Katakanlah”, kata Yuya lembut. Sekali lagi, Daiki menatap lurus ke arah Yuya. Yuya balas menatap Daiki dengan lembut. Pandangan mata Yuya telah melumpuhkan hati Daiki, dia tidak sanggup lagi menyembunyikan hal itu selamanya.
“A-aku.....”, akhirnya Daiki mengeluarkan suaranya, Yuya terus melihat ke arah Daiki sambil menanti penuh sabar, “aku hamil”, ucap Daiki pelan.
Sontak Yuya membelalakkan matanya, “apa kau bilang??”, tanya Yuya sekali lagi. Dia merasa bahwa ada yang salah dengan pendengarannya.
“Aku hamil Yuya....”.
“Kau tidak salah? Apa itu benar Daiki??”
Daiki menunduk, “Akhir-akhir ini, berat badanku terus meningkat. Kupikir, itu karena aku sering makan bersamamu. Lalu, setiap pagi, aku sering merasa mual dan tidak enak badan. Perutku juga mulai terasa tidak enak. Aku akhirnya mencoba untuk mengeceknya, dan ternyata, hasilnya positif. Ada seorang bayi di dalam janinku”, Daiki memegang perutnya yang tampaknya sudah agak sedikit membesar.
Yuya mencoba merenungkan perkataan Daiki. ‘Memang, Daiki terlihat gemuk akhir-akhir ini, terutama di bagian perutnya, jadi kupikir itu karena kebiasaan rakusnya. Dan aku juga tahu kalau setiap pagi dia selalu terlihat tidak enak badan dan tidak nafsu makan. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya seperti ini’, batin Yuya.
“Tapi, kenapa kau bisa hamil?”, tanya Yuya lagi.
Daiki menatap Yuya, kali ini mukanya terlihat kesal. “Ini kan gara-gara kau! Saat baru pertama kali kita jadian, kau langsung menyerangku! Kau bilang kau sudah tidak bisa menahannya lagi. Berkali-kali aku mencoba untuk menahanmu, tapi kau terus menyerangku tanpa memperdulikanku! Sekarang coba lihat, ini akibatnya”, Daiki menunjuk ke arah perutnya.
Yuya mengalihkan pandangannya, dia mencoba untuk mengingat kembali kejadian 3 bulan yang lalu, saat mereka baru pertama kali berpacaran. Saking senangnya dia, dia tidak bisa menahan perasaannya itu. Hari itu juga, dia langsung menyerang Daiki tanpa mendengar persetujuan darinya.
“Tapi, aku yakin kalau aku menggunakan pelindung kok”, Yuya berusaha untuk mempertahankan diri.
Daiki menggeram, “apanya?? Pertama kali kita melakukannya, kau memang menggunakannya. Tapi yang seterusnya, kau sama sekali tidak menggunakan apa-apa. Memangnya kau pikir berapa kali kita melakukannya hah?! Berkatmu, aku sama sekali tidak bisa berjalan keesokan harinya”, gerutu Daiki.
Yuya mencoba mereka ulang kejadian itu. Dia ingat sekarang. Benar kata Daiki, dia terus memeluk Daiki hingga pagi hari. Daiki terus mencoba melarikan diri darinya, menahannya, tapi dia tidak mendengarkan kata Daiki. Wajah Daiki yang berada di pelukannya sangat manis, membuatnya tidak ingin melepaskan Daiki sedetikpun.
“Heh! Kau mikir apa? Sekarang bagaimana ini?”, Daiki menendang kaki Yuya. Yuya meringis kesakitan, Daiki melihatnya sambil terus cemberut. Yuya yang melihat Daiki seperti itu, malah merasa kalau Daiki terlihat imut dan manis. Ah, cinta itu memang buta.
“Aku akan bertanggung jawab kok. Aku akan menikahimu”, ucap Yuya enteng.
“Kau sungguh-sungguh?”, Daiki menatap Yuya dengan ragu.
Yuya menggenggam tangan Daiki, mukanya terlihat serius, “Dari awal aku jatuh cinta padamu, aku sudah berniat akan menikahimu, tapi aku tidak tahu kapan. Dan kurasa sekaranglah waktunya”. Muka Daiki bersemu merah, bagi Yuya, Daiki terlihat sangat manis saat ini. “Aku akan benar-benar menikahimu. Dengan satu syarat.......”.
Daiki menatap Yuya dengan penuh tanda tanya. “Apa?”
“Aku akan menikahimu, kalau kau yakin kalau itu adalah anakku”, Yuya menunjuk ke perut Daiki.
Daiki kembali menendang kaki Yuya, “Baka! Satu-satunya yang melakukan hal itu padaku adalah kau! Jadi, sebaiknya kau harus bertanggung jawab!”.
Yuya tertawa pelan sambil terus memegangi kakinya yang kesakitan. “Baiklah tuan putri. Ayo kita menikah”, Yuya membelai lembut kepala Daiki.
--------**************************---------
“Yuya! benarkah kalau kau akan menikah dengan Daiki?”, Yabu muncul tiba-tiba dari balik koran yang sedang dibaca oleh Yuya.
“Yabu! Kau mengagetkanku saja!”, Yuya melipat korannya, “Kau tahu darimana?”, selidik Yuya.
“Inoo memberitahuku. Daiki memberitahukan pada Inoo kalau kalian berdua akan segera menikah”.
“ah, iya”, jawab Yuya enteng.
“eh?? Kok bisa? Kenapa mendadak begini?”, tanya Yabu antusias. Yuya hanya diam saja sambil terus meelihat ke arah koran yang dilipatnya. “Apa yang terjadi?”, desak Yabu yang penuh ingin tahu.
Yuya melihat ke sekitar mereka. Kantor masih dalam keadaan sepi. “Daiki sedang hamil, jadi kurasa sekarang waktu yang tepat untuk menikah”, bisik Yuya.
“EHHHH???!!!!! DAIKI HAMILLL???!!!!! KOK BISA??!!!”, seru Yabu. Yuya segera membekap mulut Yabu agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain. “Kok bisa? Kalian kan baru saja jadian?”, Yuya hanya diam saja. “Kau.... jangan-jangan..... kalian berdua sudah melakukannya??”, selidik Yabu. Yuya mengangguk. “Huwaa.... kau ini. Cepat sekali kau bergerak”.
“Yah, ini salahku juga. Aku tidak bisa menahan diri waktu itu. Hasrat dalam tubuhku mengalahkan pikiran sehatku”. Yuya terlihat murung.
“Jadi, kau menyesal menikahi Daiki? Kau menyesal kalau dia hamil?”, tanya Yabu.
“Tidak kok. Aku sangat senang bisa menikah dengannya. Aku senang kalau ternyata aku bisa menjadi ayah dari anak yang berasal dari orang yang kucintai. Tapi,....”, Yuya terlihat muram.
“tapi apa?”, tanya Yabu yang tidak sabar.
“Tapi, aku masih ragu kalau itu adalah anakku. Kau tahu kan, kalau sebelum bersamaku, Daiki memiliki kekasih lain? Mereka sudah lama berpacaran. Lalu, kupikir....”,
“Lalu kau pikir kalau anak yang berada dalam kandungan Daiki itu adalah anak Daiki dan Hika?”, potong Yabu. Yuya mengangguk. “Kenapa kau tidak tanyakan langsung saja pada Daiki?”.
“Aku takut menanyakannya. Kemarin, dia tampak yakin kalau itu adalah anakku. Tapi, setelah kupikirkan lagi, bisa saja itu anak Daiki dan Hika. Bisa saja, Daiki sudah sering melakukannya dengan Hika sebelum melakukannya denganku”, lirih Yuya pelan.
“Kalau begitu, tanyakan saja pada Hika. Dia satu kantor dengan kita kan? Tanya saja padanya waktu istirahat siang nanti”, Yabu memberikan usul. Yuya tampak ragu dengan usul Yabu. “Tenang saja, aku akan menemanimu bicara dengannya nanti”, Yabu menepuk pundak Yuya. Yuya hanya bisa tersenyum datar saja.
------********---------
“Yoo, Hika!”, Yabu menyapa Hikaru yang sedang asyik makan di dekat jendela.
“Yoo, Yabu!”, balas Hikaru. “Yoo, Yuya!”, Hikaru juga menyapa Yuya yang berada di balik Yabu.
“Y-y-yo....”, balas Yuya. Yabu dan Yuya kini duduk semeja dengan Hikaru.
“Bagaimana Daichan? Sehat?”, tanya Hika pada Yuya. Yuya langsung tersenyum kecut saat mendengar nama Daiki dari mulut Hika. Yabu yang melihat Yuya langsung mengerti.
“Daiki sehat kok, malah sangat sehat. Dia harus tetap menjaga kesehatannya karena dia juga harus memikirkan kondisi janinnya”, jawab Yabu. Yuya melihat ke arah Yabu dengan tatapan tajam, sedangkan Hikaru melongo mendengar jawaban Yabu.
“Janin? Daichan? Eh, apa maksudnya?”, Hika melihat ke arah Yuya yang hanya terdiam tidak berani menatap Hika. “Daiki hamil???”, tanya Hika tidak percaya. Yabu mengangguk.
“Lalu, anak yang ada di perut Daichan sekarang itu anak siapa?”, tanya Hika. Sontak pertanyaan Hika itu mengagetkan Yabu dan Yuya. Yuya langsung mengeluarkan keringat dingin.
“Jangan-jangan kalian berdua sudah pernah melakukannya ya??”, tanya Yuya. Dia ingin menutup telinganya, dia takut dengan jawabab Hika. Dia takut mendengar jawaban yang sangat dia takuti.
“Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, kenapa?”, jawab Hikaru. Yuya langsung merasa lemas.
“Aku sempat berpikir kalau anak yang ada di kandungan Daiki itu, adalah anakmu”.
Hikaru tersenyum, “Kenapa tidak kau coba tanyakan saja pada Daichan? Kau akan langsung tahu itu anakmu atau bukan”. Hikaru kini beranjak pergi, meninggalkan Yuya yang masih diam termangu disana.
------******-------
Yuya terdiam terpaku di depan apartemen Daiki. Berkali-kali dia mencoba untuk menekan bel pintu, tapi jarinya selalu terhenti tepat sebelum menyentuh belnya. Dia tampak ragu untuk menanyakan hal itu pada Daiki. Seandainya hal itu benar, apa yang akan dia lakukan?
CKLEK. Pintu kini terbuka lebar, Daiki berdiri di balik pintu. “Mau sampai kapan kau disitu? Bisa-bisa nanti kau dikira penguntit oleh tetanggaku”. Yuya masih terdiam. Tidak tampak tanda kalau dia akan masuk. “Ayo masuk”, Daiki menarik tangan Yuya karena tidak sabar.
Mereka kini akhirnya sampai di ruang tengah. Di meja, sudah tersedia makanan. Setiap malam, mereka memang sudah berjanji untuk makan bersama setelah Yuya pulang kerja. Mereka duduk di bangku masing-masing. Daiki menyerahkan semangkuk nasi ke arah Yuya. tapi, Yuya hanya terdiam saja menatap Daiki.
“Kau kenapa sih? Dari tadi diam saja”, Daiki sudah tidak sabar lagi menghadapi sikap Yuya.
“Kalian juga sering makan bersama seperti ini?”, tanya Yuya.
“Kalian?”, Daiki tidak mengerti maksud pertanyaan Yuya.
“Kau dan Hika. Apakah dulu kalian sering makan bersama seperti ini?”.
“Terkadang. Kalau dia tidak sibuk dengan pekerjaannya, kami makan bersama”.
“Kalian juga pernah tidur bersama?”, tanya Yuya lagi. Daiki langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Yuya.
“Kau ini bicara apa sih?”, Daiki sama sekali tidak mengerti pertanyaan Yuya.
“Jawab saja. Kalian pernah melakukannya atau tidak?”, Yuya mulai tidak sabar. “Jangan-jangan pernah ya?”, selidik Yuya.
“Kalau iya, kenapa? Kau ingin mengatakan kalau anak yang kukandung ini anaknya Hika? kau ingin aku mengatakan kalau ini bukan anakmu?”.
Yuya langsung terbelalak kaget saat mendengar jawaban Daiki. “Ternyata, anak itu bukan anakku”, gumam Yuya pelan.
Daiki menjitak kepala Yuya. “ADUH! Apa-apaan sih?”, kesal Yuya. Yuya kaget saat mendapati Daiki menangis di hadapannya.
“Baka! Coba kau ingat lagi malam itu. Kalau kau pikirkan baik-baik, kau pasti tahu, Anak yang ada di dalam ini adalah anakmu!”, bentak Daiki. Daiki langsung menuju kamarnya tanpa mempedulikan Yuya.
Yuya yang ditinggalkan sendiri mencoba memikirkan perkataan Daiki. Dia mereka ulang kejadian di malam itu. Saat mereka pertama kali melakukannya. Masih teringat jelas di kepalanya, apa yang mereka lakukan, ekspresi Daiki saat itu, suasana panas di antara mereka berdua, dan keadaan barang di sekitar mereka yang berantakan. Baju yang berserakan, lampu yang dipadamkan, dan kondisi sprei yang basah akibat keringat dan darah. Sontak, Yuya langsung berdiri dan menuju ke kamar Daiki.
Yuya mengetuk pintu kamar Daiki, “Daiki, maafkan aku. Aku salah sudah mencurigaimu. Kau benar, anak itu adalah anakku. Maafkan aku ya?”. Tidak terdengar jawaban dari kamar Daiki. “Aku cemburu saat mengingat kedekatanmu dengan Hika. Aku selalu cemburu padanya karena kau sudah bersamanya sejak lama. Kau sudah bersamanya bertahun-tahun, sedangkan kita baru bersama beberapa bulan”.
Perlahan pintu kamar itu dibuka, Daiki kini berdiri di hadapan Yuya. “Tapi, orang yang ingin kunikahi itu kau, bukan Hika”, ucap Daiki pelan. “Jujur saja, aku sangat senang begitu tahu aku mengandung anakmu. Aku takut kalau kau tidak menerima anak ini, tapi begitu kau mengatakan kalau kau akan menikahiku dan akan menjadi ayah dari anak ini, aku sangat senang”.
“Maafkan aku Daiki, maaf”, Yuya memeluk Daiki dengan erat. “Aku sudah meragukanmu. Aku sangat mencintaimu, melebihi siapapun di dunia ini”, bisik Yuya.
“Aku juga mencintaimu”, balas Daiki. Mereka kini mencoba membuktikan rasa cinta mereka melalui bibir mereka masing-masing. Satu sama lain berusaha melumat bibir lawannya seakan tidak mau kalah dengan yang lain.
“Hah... hah.... sebaiknya kita makan sebelum makanannya jadi dingin”, ucap Daiki yang masih terlihat kesusahan mengatur nafasnya akibat ciuman panas yang baru saja mereka lakukan.
“Tidak mau. Aku ingin tetap seperti ini dulu”, rajuk Yuya sambil terus memeluk Daiki.
“Aku sudah susah payah masak untukmu. Kalau nanti makanannya dingin, jadinya tidak enak”, Daiki berusaha melepaskan pelukan Yuya. “Terlebih lagi, si kecil juga butuh makan, papa”, bisik Daiki sambil tersipu. Mukanya langsung memerah setelah selesai mengatakan itu.
Yuya mendorong Daiki masuk ke dalam, mengunci pintunya, dan menggendong Daiki ke atas kasur. “Maafkan aku Daiki, aku sudah berada di batas kesabaran. Ini salahmu sendiri karena sudah berwajah seperti itu”, Yuya langsung mencium Daiki sebelum dia sempat mengatakan apapun.
------*****-------
Keesokan paginya, Yuya terbangun karena nada dering ponselnya. Tangan kirinya merogoh meja, sedangkan tangan kanannya tidak bisa bergerak karena Daiki sedang tertidur pulas disana. Dia mengecek hpnya, ada satu sms masuk.
Gomen ne, Yuya. Aku dan Daichan tidak pernah melakukannya kok. Kami hanya melakukan sebatas pelukan saja. Ciuman saja tidak pernah. Jadi, tenang saja. Aku hanya menggodamu saja kok. :p
NB : Undang aku di pernikahan kalian nanti ya....
“Sialan! Ternyata dia mengerjaiku”, gerutu Yuya kesal. Kali ini dia melihat ke arah Daiki yang masih tertidur pulas di tangan kanannya. Yuya selalu merasa terpesona setiap melihat muka tidur Daiki yang seperti anak kecil. Yuya mengecup kening Daiki. Daiki terbangun dan melihat ke arah Yuya.
“Pagi Daiki...”, sapa Yuya. Daiki langsung membalikkan tubuhnyan sehingga kini dia membelakangi Yuya. Mukanya bersemu merah. “Kenapa? Kau malu? Padahal, kalau kita sudah menikah nanti, kita akan seperti ini setiap hari lo”. Daiki menyembunyikan kepalanya dengan selimut. Yuya hanya tertawa melihat tingkah Daiki. “Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya....”.
END