Selasa, 24 Januari 2017

After Life

Cast : Yabu Kota, Inoo Kei dan Yaotome Hikaru
Genre : angst, romance
Rate : T
Note : terinspirasi dari drama 49 dan lagu sexy zone - A My Girl Friend.

~

Yabu cuma bisa memandangi lembaran kertas yang ada di hadapannya. Terus menatap ke arah tandatangan Inoo yang ada di atas kertas itu.

Penyesalan selalu datang terlambat.

Ya, itu benar. Disaat ini baru Yabu mulai menyesali kenapa dia tidak mempedulikan Inoo dari dulu. Kenapa dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada orang yang dicintainya? Orang yang telah bersumpah setia akan terus bersamanya hingga akhir hayatnya.

Melihat kertas itu, Yabu tersadar. Selama ini dia menyia-nyiakan Inoo. Yabu bahkan tidak ingat kapan dia terakhir melihat senyuman Inoo. Saat Inoo menemuinya untuk memberikan surat cerai, itulah saat Yabu bertemu dengan Inoo setelah sekian lama.

“Kenapa?” tanya Yabu saat mencoba menanyakan alasannya

“Karena aku merasa hampa bersamamu. Kau ada di dekatku, tapi dimana hatimu?”

Yabu tidak bisa menjawab. Dia sadar kalau dia sepenuhnya salah disini. Dia sadar apa yang dimaksud Inoo.

Yabu bahkan tidak sanggup menyusul punggung Inoo yang kini telah melangkah pergi. Kakinya terasa kaku. Hanya matanya yang sanggup menyusul sosok Inoo.

Yabu tidak mengerti. Sejak kapan ini semua dimulai? Yabu mencintai Inoo setengah mati sehingga dia memutuskan untuk menikahinya. Dia begitu bahagia ketika Inoo menerima lamarannya. Dia hampir pingsan ketika akhirnya mereka bertukar cincin pernikahan.

Lalu kenapa jadi seperti ini?
Setelah menikah, Yabu memang bekerja sekuat tenaga agar bisa memberikan Inoo hidup yang layak. Dia berusaha untuk memenuhi segala keinginan Inoo. Dia tidak ingin membuat Inoo sedih atau kecewa. Oleh karena itu dia berusaha keras dalam bekerja, tenggelam dalam kesibukannya. Membuatnya lupa kalau pernikahan tidak selalu tentang uang. Bahwa kebahagiaan tidak berasal dari uang.

Jadi ketika Inoo memberikan surat cerai, Yabu segera tersadar kalau itulah yang kurang. Yabu memang memberikan kekayaan, tapi dia lupa memberikan cinta pada Inoo. Dia lupa memberikan ciuman yang selalu mereka lakukan setiap mereka bertemu. Dia lupa mengucapkan ‘selamat tidur’ sebelum keduanya menutup mata. Dia lupa memberikan pelukan yang hangat disaat Inoo mengalami kegelisahan. Dia lupa semuanya.

“Pada akhirnya aku membuatnya menangis”

---***---

Inoo menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia teringat saat mereka membeli cincin itu bersama-sama. Yabu tidak bisa memilih yang mana sehingga Inoo-lah yang memutuskan. Inoo tersenyum saat mengingat begitu pucatnya wajah Yabu saat mereka bertukar cincin dan begitu gugupnya Yabu saat Inoo menciumnya.

Inoo pikir dia akan bahagia selamanya, selama dia memiliki Yabu di sampingnya. Tapi hidup tidak seindah bayangan. Awalnya Inoo berpikir kalau Yabu hanya capek, sehingga dia memaklumi tindakan Yabu yang sedikit dingin. Tapi, lama-kelamaan Inoo merasa kalau Yabu tidak mempedulikannya lagi. kehangatan yang dulu mereka rasakan saat masih pacaran, berubah menjadi kebekuan saat mereka menikah. Tidak ada lagi ciuman, pelukan, bahkan ucapan manis. Yang ada hanya keluhan, kegelisahan, dan amarah.

Kehangatan itu justru dia peroleh dari orang lain. Orang yang selalu mendukung mereka berdua, Hikaru. Hikaru adalah teman kecil mereka berdua. Hikaru selalu ada untuknya saat dia butuh teman curhat. Selalu menemaninya disaat dia kesepian. Selalu membuatnya tersenyum saat dia menangis.
Hikaru bahkan sempat mengatakan kalau dia menyukai Inoo. Tapi Inoo menolaknya. Dalam hatinya, dia masih mencintai Yabu dan masih menunggu Yabu untuk kembali. Hikaru memahami hal itu dan menjadi sahabatnya.

Tapi kini, Inoo telah lelah menunggu Yabu untuk kembali. Dia memutuskan untuk menerima uluran tangan Hikaru. Inoo pikir dia akan lebih bahagia bersama Hikaru daripada bersama dengan Yabu yang entah masih mencintainya atau tidak.

---***---

Yabu tahu. Ya, dia tahu kalau Hikaru semakin dekat dengan Inoo selama dia tidak ada. Meskipun Yabu jarang berada di rumah, dia tahu kalau Inoo sering bertemu dengan Hikaru. Ya, suatu hari dia tidak sengaja melihat Inoo bersama dengan Hikaru. Waktu itu dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Hikaru adalah teman masa kecil mereka berdua. Jadi Yabu pikir hal itu wajar saja.

Tapi, kini dia sadar kalau mereka tidak hanya sahabat biasa. Ketika dia melihat Hikaru memeluk Inoo yang menangis, tahulah dia yang terjadi sebenarnya.

“Rupanya dia sudah memilih yang terbaik baginya”

Yabu tersenyum pahit saat melihat Inoo tersenyum saat Hikaru ada di sampingnya. Senyum yang begitu manis. Yabu ingat senyuman itulah yang membuatnya jatuh cinta pada Inoo. Senyum itulah yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar. Senyum itulah yang membuatnya memutuskan kalau Inoo adalah orang yang tepat untuknya.

Oleh karena itulah Yabu akhirnya memutuskan untuk mengabulkan keinginan Inoo. Dia mengambil surat cerai itu dan menandatanganinya.

“Begini lebih baik. Selamat tinggal Kei...”

---***---

“Aku mempercayakan Kei padamu. Jangan kecewakan dia seperti yang telah kulakukan”

Hikaru menatap lurus kepada Yabu. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Yabu. Sebenarnya Hikaru terus merasa bersalah pada Yabu. Dia telah melakukan hal yang tidak pantas. Jatuh cinta pada istri sahabat sendiri.

“Apa maksudmu?” tanya Hikaru

“Bahagiakan Kei. Hanya kau yang bisa”

“Jangan bercanda! Kau suaminya, harusnya kau yang melakukannya. Tidak tahukah kau kalau Inoo terus menunggumu?”

Yabu menggeleng “Tidak lagi. Aku tidak bisa melakukannya lagi, semua telah berakhir”

“Apa?”

“Aku bukan suaminya lagi... kami sudah berakhir”

Hikaru syok mendengar perkataan Yabu. Selama ini di sudut hatinya terkadang dia berharap hal ini akan terjadi. Tapi begitu ini benar-benar terjadi, Hikaru tidak tahu harus berkata apa.

“Aku akan menyerahkan surat cerai ini ke kantor sipil. Setelah itu, kuharap kau akan terus bersama Kei”

Yabu bangkit berdiri meninggalkan Hikaru yang masih terdiam. Dia tidak mempedulikan Hikaru yang membisu. Toh dia juga tidak berharap Hikaru mengatakan sesuatu.

Langkah demi langkah terasa berat bagi Yabu. Benda di tangannya itulah yang membuat langkahnya berat. Padahal itu cuma selembar kertas, tapi rasanya Yabu membawa berton-ton batu yang sangat berat.
Kenangan lamanya berputar kembali. Dimulai saat dia bertemu dengan Inoo, berkenalan dengannya, menghabiskan waktu bersamanya, dan menjalin asmara dengannya. Semua kenangan itu terlihat sangat jelas seakan-akan Yabu sedang menontonnya di bioskop.

“Ko-chan”

“Ko-chan~”

Yabu tersenyum. Saat ini di matanya yang terlihat adalah sosok Inoo yang tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Inoo memanggilnya berkali-kali dengan suaranya yang lembut dan manis. Dia melangkahkan kakinya tanpa ragu. Kali ini dia ingin meraih tangan Inoo dan tidak ingin melepaskannya lagi.

“KOTA!!!”

Sebuah teriakan keras menyadarkannya. Begitu Yabu mulai melihat ke sekeliling, dia menyadari kalau itu semua hanyalah delusinya. Dia kini berada di tengah jalan dimana semua orang melihat ke arahnya. Beberapa orang berteriak histeris. Sebelum dia sempat mengerti apa yang terjadi, sepasang tangan yang dengan sigap melindunginya. Melindungi tubuhnya dari sebuah benda besar yang siap menghantam tubuhnya.

“Baka... kenapa kau begitu ceroboh”

“Hi...ka...ru...” gumam Yabu sebelum pandangan matanya tertutup oleh warna merah yang sangat pekat.

---***---

Kei, ah... aku ingin bertemu dengan Kei. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf.

“Jadi kau ingin menemuinya?”

“Eh? Kau siapa?”

“Atas permintaan temanmu, kuberikan waktu untukmu sebelum kau pergi. Gunakan waktu itu sebaik mungkin. Tapi ingat, kau harus mengembalikannya lagi pada Hikaru”

“Eh? Tunggu... aku tidak mengerti”

“Kau akan mengerti semuanya saat kau bangun”

---***---

Yabu terbangun. Dia melihat ke sekeliling. Setelah beberapa menit baru Yabu menyadari kalau dia berada di ranjang rumah sakit. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

“Aku sedang berjalan menuju kantor sipil, lalu saat aku akan menyeberang sebuah truk besar akan menabrakku. Lalu, Hikaru datang dan melindungiku. Ya, Hikaru juga ada disana. Hikaru? Dimana Hikaru? Apa dia baik-baik saja? aku harus mencarinya”

Yabu terjatuh begitu dia menjejakkan kakinya di lantai. Keseimbangan tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Yabu merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa dia merasa asing dengan tubuhnya. Tapi Yabu tidak terlalu mempermasalahkannya, mungkin saja itu hanya karena dia terlalu lama berbaring. Tepat pada saat dia akan bangkit berdiri, pintu kamarnya terbuka. Matanya melebar saat melihat Inoo berdiri disana.

“Apa yang kau lakukan?!” jerit Inoo. Dia langsung menghampiri Yabu dan membantunya untuk berdiri. “Kau belum pulih benar. Kenapa kau langsung bangkit berdiri?”

“Kei...?” gumam Yabu tidak percaya. Dia tidak menyangka Inoo ada di hadapannya, mengkhawatirkannya.

Inoo tampak terdiam sejenak sambil memandangi wajahnya, seperti mengamati wajah Yabu baik-baik. Yabu ingin berkata sesuatu tapi Inoo sudah berkata duluan.

“Kenapa kau memaksakan diri untuk bangun? Kau masih belum pulih...”

“Aku mencari Hikaru. Dimana Hikaru? Bagaimana keadaannya?”

Bukannya langsung menjawab, Inoo malah tampak heran mendengar pertanyaan Yabu. “Kau ini bicara apa? Kenapa kau mencari dirimu sendiri, Hikaru?”

---***---

Yabu tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ketika dia melihat mukanya sendiri di cermin, dia malah melihat wajah Hikaru, bukan wajahnya sendiri! Berkali-kali dia menampar wajahnya sendiri atau mencubit dirinya, tapi tampaknya dia tidak sedang bermimpi.

Yabu mulai bisa mengerti apa yang terjadi. Tampaknya rohnya terjebak di dalam tubuh Hikaru. Jadi kini dia mendiami tubuh Hikaru. Tampaknya mimpi yang dialaminya itu benar. Lalu kalau begitu, apa yang terjadi dengan Hikaru? Dimana tubuh asli Yabu?

“Dia sudah meninggal. Upacara pemakamannya baru saja dilakukan kemarin” jelas Inoo saat Yabu menanyakan soal dirinya.

“Begitu...”

Inoo menggeleng pelan. “Dia sudah tidak ada di dunia ini”

“Kau sedih?”

“Entahlah... aku tidak tahu. Tapi setidaknya, jika aku tahu akhirnya jadi begini, aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Perpisahan kami tidak berakhir dengan baik”

Yabu mengamati wajah Inoo dengan seksama. Ingin rasanya dia mengatakan kalau dirinya adalah Yabu. Kalau dia masih hidup dengan meminjam tubuh Hikaru. Akan tetapi, Yabu ragu. Akankah Inoo akan bahagia kalau mengetahui kalau dia masih hidup? Apakah Inoo akan menyambutnya dengan uluran tangan terbuka?

Tidak. Yabu memutuskan untuk tetap diam. Bukankah mereka sudah bercerai? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir? Akan lebih baik bagi Yabu untuk berpura-pura menjadi Hikaru dan menghabiskan waktu dengan Inoo. Dia tidak ingin Inoo merasa tertekan saat mengetahui dirinya masih hidup.

“Hikaru... biarkan aku meminjam tubuhmu sebentar saja” gumam Yabu dalam hati.

---***---

Semenjak saat itu, Yabu menjadi ‘Hikaru’ dan menghabiskan waktu dengan Inoo. Yabu merasa sangat bahagia karena dia bisa bersama dengan Inoo seperti dulu. Walaupun Inoo menganggapnya sebagai Hikaru, tapi asalkan dia bisa bersama Inoo, Yabu tidak peduli.

Entah mengapa, Inoo sama sekali tidak membahas soal dirinya, maksudnya soal Yabu. Inoo seperti sengaja tidak ingin mengungkit hal itu di hadapan Yabu. Yabu sendiri juga tidak ingin membahas soal itu. Untuk saat ini dia hidup sebagai ‘Hikaru’, bukan sebagai ‘Yabu’. Dia tidak ingin Inoo mengetahui soal itu.

Semakin lama dia menghabiskan waktu bersama dengan Inoo, semakin dia merasa sedih. Waktunya tidak lama lagi. Yabu harus mengembalikan tubuh Hikaru dan pergi ke alam baka. Sejak awal ini bukan tempatnya.

“Aku harus melakukan sesuatu, untuk yang terakhir kalinya...”

---***---

Beberapa hari ini Yabu sibuk dengan sesuatu. Dia ingin membuat sebuah kejutan untuk Inoo. Kejutan itu juga merupakan hadiah untuk Hikaru saat dia bangun nanti. Sebagai tanda terimakasih baginya karena sudah meminjamkan tubuhnya.

“Kei... kemarilah”

Yabu menuntun Inoo perlahan-lahan karena Inoo tidak bisa melihat. Matanya tertutup kain hitam. Dengan hati-hati Yabu memandu Inoo saat berjalan agar dia tidak terjatuh. Begitu mereka sudah sampai, Yabu membukakan penutup mata Inoo.

“Buka matamu”

Inoo terkejut saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Sebuah taman kecil mini yang disulap seperti tempat tinggal peri yang biasa digambarkan di buku cerita. Yabu menuntun Inoo ke kursi dan meja yang ada di tengah taman. Di meja telah tersedia berbagai hidangan yang bisa dimakan dengan nasi, kesukaan Inoo.

“Ada apa ini?” tanya Inoo takjub. Matanya terus mengamati keadaan sekeliling.

“Kejutan untukmu. Kau suka?”

“Tentu... semua ini indah”

Yabu tersenyum puas. Dia lalu menuntun Inoo untuk duduk di meja. Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia. Yabu merasa lega saat Inoo berkata ‘enak’. Yabu khawatir kalau kemampuan memasaknya sudah mulai menurun. Dia memang tidak begitu ahli memasak, tapi dia selalu mencoba memasak makanan yang disukai Inoo.

Yabu menyeka mulutnya dan merogoh sakunya. Ada satu kejutan lagi yang dipersiapkan Yabu untuk Inoo. Sebenarnya kejutan ini tidak hanya untuk Inoo, tapi juga untuk Hikaru yang telah bersedia meminjamkan tubuhnya.

‘Kenapa aku jadi gugup begini? Ayolah... kau sudah pernah melakukannya’, batin Yabu. Dia merasa sangat gugup saat ini. Jantungnya tidak bisa diam dari tadi.

“Kei...” panggil Yabu pelan.

“Hmm?”

Yabu mengeluarkan bingkisan kecil yang disembunyikan di sakunya dari tadi. Dia memberikan bingkisan itu pada Inoo.

“Bukalah...”

Inoo terkejut saat melihat bingkisan itu. Dengan perlahan dia menerima dan membuka bungkusnya. Mata Inoo melebar saat melihat sebuah cincin di dalamnya. Dia mengambil cincin itu dan menyadari kalau ada tulisan yang terukir di dalamnya.

“You belong with me....” Inoo membaca tulisan yang ada di balik cincin itu. Dia kemudian menatap tajam ke arah Yabu.

“Kei... maukah kau menikah denganku?”

Yabu menarik nafas lega. Akhirnya, dia  berhasil melamar Inoo sekali lagi. Ini memang kedua kalinya dia melamar Inoo, tetapi lamaran kali ini punya dua makna baginya. Pertama, untuk menebus rasa bersalah Yabu karena merasa sudah membuat Inoo menangis. Setidaknya untuk terakhir kalinya sebelum pergi, Yabu ingin membuat kenangan indah bagi dirinya. Yang kedua, untuk Hikaru. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah meminjamkan tubuhnya dan memberikan waktu untuk Yabu bersama dengan Inoo.

Inoo cuma terdiam mendengar lamaran Yabu. Dia hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Yabu merasa janggal dengan sikap Inoo.

“Kei?”

BLETAK. Inoo memukul kepala Yabu. Yabu langsung meringis menahan sakit. Dia tidak menyangka akan mendapat pukulan itu.

“Apa-apaan sih Kei?”, sungut Yabu.

Yabu kembali terkejut dengan reaksi Inoo yang tiba-tiba memeluk Yabu. Tidak hanya itu, dia juga merasakan ada tetes air hangat membasahi kemejanya.

“Kei?” tanya Yabu bingung. “Ada apa?”

“Untuk apa kita menikah kalau kita sudah menikah, baka!”

“Eh?”

“Ko-chan.... Ko-chan baka!”

Yabu terkesiap ketika Inoo memanggilnya Ko-chan. Panggilan itu adalah panggilan khusus Inoo bagi Yabu. Kenapa Inoo memanggilnya ‘ko-chan’ meskipun dia berada di dalam tubuh Hikaru?

“Kei... Kau tahu ini aku?”

“Tentu saja! Mana mungkin aku tidak mengenali suamiku sendiri!” Inoo mengusap air matanya dan memandang lurus ke arah Yabu. “Meskipun yang ada di depanku ini adalah sosok Hikaru, tapi aku tahu kalau kau-lah yang ada di dalamnya. Kau pikir aku tidak sadar? Tingkah lakumu tidak mirip dengan Hikaru, meskipun kau berusaha setengah mati menyembunyikannya dan tidak mengakuinya, tapi semua tingkah lakumu mengatakan kalau kau adalah Yabu Kota”

Yabu masih tercengang. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia tidak menyangka kalau penyamarannya selama ini sia-sia.

“Kei”

“Hah?”

“Kau memanggilku Kei, kalau itu Hikaru, dia tidak pernah memanggilku ‘Kei’. Dia tetap memanggilku ‘Inoo’. Karena tidak ada seorangpun yang kuperbolehkan memanggilku ‘Kei’ selain kau dan keluargaku. Selain itu... kau sama sekali tidak takut dengan kucing. Aku pernah menggendong seekor kucing di depanmu, tapi reaksimu biasa saja. Lalu aku yakin kalau kau bukan Hikaru”

Yabu menepuk dahinya. Dia baru sadar kesalahan yang dia buat. Dia memang berusaha menyembunyikan fakta kalau dia adalah Yabu, tapi dia lupa dengan kebiasaan Hikaru.

“Jadi... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Inoo.

Yabu menatap Inoo yang sepertinya meminta kejelasan. Dia akhirnya menceritakan semuanya pada Inoo. Soal kecelakaan, mimpi aneh yang dialaminya, dan juga waktunya yang tersisa.

---***---

“Aku tidak percaya semua ini...” komentar Inoo setelah Yabu selesai bercerita.

“Begitu pula aku. Aku merasa bingung saat mendapati diriku di dalam tubuh Hikaru. Kukira aku benar-benar pergi ke alam sana setelah aku mengalami kecelakaan itu”

“Jadi... ini yang terakhir kalinya?”

Yabu menatap Inoo. Matanya terlihat sendu. “Ya. Ini yang terakhir kalinya” ucap Yabu. “Setelah ini aku harus pergi”

“Begitu...” Inoo menundukkan kepalanya. Suaranya sedikit bergetar saat dia berbicara, tapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.

“Kei...”

“Hikaru!” seru Inoo tiba-tiba. “Terimakasih sudah meminjamkan tubuhmu! Terimakasih berkatmu aku bisa bertemu kembali dengan Ko-chan” Inoo menatap ke arah Yabu. “Meskipun sebenarnya aku lebih suka wajah asli Ko-chan daripada Hikaru”

Yabu tersenyum kecil. Dia kemudian memeluk Inoo. Pelukan yang tidak terlalu erat tapi hangat. Pelukan yang selama ini dilupakan oleh Yabu.

“Terimakasih sudah menjadi istriku Kei...” bisik Yabu.

“Terimakasih sudah menjadi suamiku Ko-chan” balas Inoo. Inoo menutup matanya dan mendekatkan wajahnya, tapi Yabu buru-buru menghentikannya. “Kenapa?” tanya Inoo.

“Maaf Kei... bukannya aku tidak mau menciummu, aku hanya tidak ingin menciummu saat aku masih berada dalam tubuh Hikaru. Rasanya seperti kau dan Hikaru yang berciuman. Aku tidak mau”

“Tapi aku ingin...” Inoo mulai cemberut.

“Kei..” Yabu terlihat bingung. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Tiba-tiba Inoo tertawa. “Ya sudahlah. Kupikir-pikir kau memang benar. Aku juga tidak ingin mencium Hikaru”

“Maaf...”

“Tidak apa-apa” Inoo memeluk Yabu sekali lagi. “Sebagai gantinya, kau harus memelukku sampai saatnya kau pergi”

“Itu permintaan yang mudah” senyum Yabu.

---***---

To : Ko-chan

Apa kabar Ko-chan?

Cuaca hari ini sangat cerah ya. Sama cerahnya saat kita berpisah waktu itu. Aku sempat panik saat kau tiba-tiba meninggalkan tubuh Hikaru disana. Setidaknya kalau kau ingin pergi, kembalikan dulu tubuh Hikaru di Rumah Sakit atau di rumahnya. Aku sempat kesusahan membawa tubuh Hikaru. Meskipun tubuhnya hampir sama denganku, tapi kau tahu kan kalau aku ini lemah. Jadi itu hal yang berat buatku... =3=

Ko-chan, bagaimana keadaan disana? Kudengar ada banyak malaikat cantik yang ada disana. Apa itu benar? Kau harus ingat kalau kau sudah punya aku, jadi jangan main mata ya...

Ko-chan... maafkan aku. Aku membuatmu pergi duluan kesana. Kalau bisa, tunggu aku ya. Beberapa tahun lagi aku pasti akan menyusulmu. Jadi bersabarlah ya... jangan menangis karena kesepian. Aku akan segera pergi secepatnya.

Kau tidak perlu khawatir Ko-chan, aku sama sekali tidak menangis kok. Aku kan bukan anak cengeng seperti Ko-chan. Tapi... aku bohong kalau aku merasa tidak kesepian. Hari-hari tanpamu terasa hampa. Tidak ada sosok Ko-chan disini, tidak ada wangi Ko-chan, tidak ada suara Ko-chan, tidak ada...

Sesungguhnya, aku ingin segera menyusulmu. Aku ingin segera bertemu denganmu, tapi setiap kali aku akan melakukannya, aku bisa melihat wajahmu yang sedang marah. Aku tidak suka wajahmu yang seperti itu, jadi kuputuskan untuk menundanya.

Ko-chan, maafkan aku. Aku tahu kalau kau menginginkan aku menikah dengan Hikaru, tapi aku tidak bisa. Bagiku, Cuma Ko-chan satu-satunya. Aku sudah mengatakan soal ini dengan tegas ke Hikaru, dan dia menerimanya.

Ah, aku lupa memberitahumu. Kita punya satu anggota keluarga baru. Dia datang padaku setelah kau pergi. Jangan-jangan kau yang mengirimnya padaku? Ko-chan memang baik. Karena itulah aku menamainya Kou-chan.

Ko-chan, soal surat perceraian itu. Aku membatalkannya. Jadi... namaku tetap Yabu Kei.

Ah, sudah dulu ya. Kou-chan junior merengek minta makan. Lain kali aku akan menulis surat untukmu lagi.

Salam manis, Yabu Kei~

TAMAT

Selasa, 03 Januari 2017

SUPER JEALOUS

Cast : Arioka Daiki & Takaki Yuya
Genre : Romance
Rate : T

Daiki kesal setengah mati. Dia terus menerus menusuk boneka berbentuk manusia yang bertuliskan 'Takaki Yuya' dengan paku. Ribuan kata kutukan mengalir dari mulutnya.

"Baka!!! Kenapa malah Yamada?"

Ya. Daiki kesal setengah mati karena Takaki akhirnya pergi kencan dengan Yamada. Padahal Daiki sudah memberikan kode yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan hampir seluruh semesta mungkin bisa tahu siapa yang disukai Daiki.

Hari ini, tepat hari ulang tahun Daiki. Sudah dari seminggu sebelumnya dia mengatakan pada Takaki kalau dia ingin kencan. Untuk menghindari Takaki lupa, setiap saat Daiki selalu menyinggung kata 'kencan'. Dan Daiki optimis kalau mereka akan kencan karena Takaki selalu mengatakan 'iya, nanti kita pergi'. Daiki pun kesenangan dan tidak sabar menanti hari ini.

Kesenangan Daiki berubah total saat dia mengetahui Takaki pergi dengan Yamada. Daiki langsung menghubungi Takaki untuk minta kejelasan. Tapi Daiki malah semakin bete karena Takaki memutus teleponnya.

"Kenapa dia harus pergi dengan si pendek itu sih? Dia gemuk. Pendek lagi. Enggak ada bagusnya sama sekali" gerutu Daiki kesal.

"Kau tidak sadar kalau kau sama pendek dan gemuknya daripada dia?"

Daiki terkejut ketika mendapati Takaki berdiri di pintu kamarnya. Dia langsung membuang muka ketika melihat Takaki.

"Kenapa kau disini?! Pergi!!! Pergi sana dengan Yamada!!!" usir Daiki sambil melempar bantal dan barang-barang yang ada disekitarnya.

"Kau ini..... pencemburu kelas kakap ya?" gerutu Takaki sambil bersusah payah menghindari barang-barang yang melayang ke arahnya.

"Siapa?!" teriak Daiki.

"Kau!" tunjuk Takaki. "Aku cuma kebetulan bertemu Yamada. Aku mengantarnya ke suatu tempat karena dia kesasar"

"Bohong! Aku melihat kalian berdua bergandengan tangan sambil tertawa riang"

Takaki menggaruk kepalanya. "Daiki... kau memang berbahaya saat cemburu. Saat cemburu delusimu jadi bertambah buruk" Takaki menghela nafas. "Aku cuma mengobrol biasa dengannya"

"Bohong!!! Bohong!!!"

"Yasudah kalau tidak percaya" Takaki membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya keluar. "Kencan kita hari ini batal"

"EH?!" Daiki berseru. "Tidak mau!!! Ayo pergi! Kita harus pergi! Kau sudah janji!!!"

"Kalau kau masih merengek dan mengutuk diriku disana, akan kutinggalkan kau sendirian disini!" ancam Takaki.

Sedetik kemudian, Daiki sudah menggandeng tangan Takaki dan menyeretnya keluar. Takaki cuma diam dan membiarkan Daiki melakukan apapun yang dia mau.

"Dasar tsundere..." gumam Takaki.

END

Tak Harus Memiliki


Cast : Yamada Ryosuke, Inoo Kei, Yabu Kota
Genre : angst... (Maybe)
Rate : Remaja~

~

Membahagiakan seseorang tidak selalu dengan cara berada di sampingnya. Terkadang menjauh darinya juga bisa membuatnya bahagia.

~~~

(Yamada POV)

Akhirnya... Setelah sekian tahun aku berhasil mendapatkan hatinya. Butuh perjuangan panjang untuk membuatnya berpaling padaku. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Membuat seseorang menyukaimu di saat dia masih terbayang-bayang oleh sosok di masa lalu. Meskipun aku bisa merasakan kalau ada sedikit keraguan di hatinya, tapi aku senang dia akhirnya menerimaku. Akan kubuat dia terus menyukaiku.

Sejak awal aku melihatnya, aku sudah tertarik padanya. Wajahnya yang cantik dan sifatnya yang berterus terang sungguh membuatku tertarik. Biasanya orang yang memiliki wajah cantik sepertinya akan bersikap lembut dan menjaga imej. Tapi sepertinya dia berbeda. Dia sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dan aku sangat menyukai tipe orang seperti itu.

Mengajaknya berbicara adalah hal yang mudah. Menarik perhatiannya itu yang sulit. Aku merasa dia membuat tembok tidak terlihat antara dirinya dengan orang lain. Dia kelihatan akrab dengan semua orang, tapi di sisi lain dia terlihat tidak ingin dekat dengan seseorang. Sungguh susah menghancurkan tembok yang seperti itu.

"Usagi... Usagi... Kenapa kau pergi?"

Itulah igauannya saat dia sedang mabuk. Dia selalu menggumamkan itu setiap kali dia mabuk. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya. Tapi dalam hati, aku selalu berpikir siapa 'usagi' ini? Melihat dia yang selalu mengigaukan namanya dengan wajah yang putus asa, aku tahu kalau orang ini sangat berarti baginya. Dan aku iri, sangat iri, pada si usagi ini.

Akhirnya kucoba segala cara untuk merebut hatinya. Semua orang akhirnya tahu kalau aku punya perasaan padanya dan mungkin dia juga mengetahuinya karena dia mulai sedikit menghindariku, tapi aku tidak peduli. Aku terus mendekatinya dan akhirnya dia menyerah. Mungkin karena keegoisanku dan kekeraskepalaanku, dia akhirnya merasa sia-sia menghindariku.

"Aku bukan orang yang tepat untukmu. Sebetulnya aku..."

"Aku tahu" potongku. "Aku tahu kau masih memikirkan seseorang, aku tidak tahu siapa, tapi aku tahu"

"Kalau begitu, kenapa kau masih mendekatiku?"

"Karena aku menyukaimu. Itu salah?"

"Tapi aku tidak....."

"Aku mengerti. Ayo kita coba dulu, akan kubuat kau melupakannya"

Aku terus memaksanya dan dia akhirnya menyerah. Dan akhirnya dia menjadi kekasihku. Aku telah berjanji padanya untuk membantunya melupakan si 'usagi' itu.

~~~

(Inoo POV)

Tak kusangka... Aku bisa berhubungan lagi dengan seseorang. Kukira aku tidak bisa bersama dengan orang lain selain dia. Kusangka hanya usagi-lah yang bisa membuatku bahagia. Tapi... Yamada... Dia benar-benar tulus. Aku bisa merasakan kalau dia sangat menyukaiku. Aku merasa bersalah, dia menyukaiku, tapi aku tidak bisa tulus menyukainya. Karena di sudut hatiku aku masih menempatkan ruang untuk usagi. Usagi adalah cinta pertamaku, orang yang selalu bersamaku, tidak mudah untuk menggantikan tempat usagi.

Mungkin Yamada benar, aku harus melupakan usagi. Dia sudah pergi, tanpa memberi kabar, meninggalkanku dalam kesendirian. Aku seperti orang bodoh menunggu usagi yang tidak jelas kapan akan kembali. Sudah waktunya aku melangkah maju. Melepas tali masa lalu dan dengan sigap berjalan maju.

Yamada menepati janjinya. Dia benar-benar berusaha membuatku melupakan usagi. Aku betul-betul merasa bahagia. Dan kurasa aku bisa mengawali hari yang baru dengan Yamada.

Dan aku tahu, tidak akan semudah itu mencapai kebahagiaan. Ada ujian yang harus dilewati terlebih dahulu.

Tapi ini sungguh tidak adil.

Kenapa?

Kenapa disaat aku mulai memutuskan untuk maju, sesuatu menahanku untuk mundur?

Kenapa disaat aku mulai melupakannya dia mulai muncul kembali?

"Usagi...."

~~~

(Yamada POV)

Aku melihat gelagat aneh Inoo sejak sepupuku, Yabu mulai kerja disini. Dia kelihatan baik-baik saja saat bersamaku, tapi... Dia terlihat menghindar saat Yabu ada di dekatku.

"Dia hanya cemburu kau terus bersama dengan Yabu"

Aku termenung mendengar pendapat temanku. Benarkah? Benarkah Inoo bersikap seperti itu karena dia cemburu aku dekat dengan Yabu? Yabu baru kerja disini sehingga dia perlu banyak bantuan. Belum lagi dia sepupuku, tentu aku harus membantunya. Aku sedikit senang saat memikirkan kemungkinan Inoo cemburu padaku. Akhirnya dia menaruh perhatian lebih.

Tapi aku mulai merasa bukan itu masalahnya.

Aku baru menyadari kalau Yabu juga menghindari Inoo. Aku baru sadar bahwa aku tidak pernah melihat mereka berbicara walaupun hanya bertukar salam. Meskipun aku ada di dekat mereka, mereka bertingkah seolah tidak melihat satu sama lain dan hanya melihatku.

Aku juga menyadari kalau mereka saling curi pandang satu sama lain. Terkadang ketika Inoo terlalu sibuk, Yabu memperhatikannya diam-diam. Inoo juga. Diam-diam dia mencuri pandang pada Yabu meskipun aku ada di sebelah Yabu. Ketika aku memergokinya, Inoo langsung bertingkah seolah dia melihatku.

Firasatku mulai terasa tidak enak. Aku mulai teringat sesuatu.

"Usagi?"

Yabu terlihat sangat terkejut saat aku tanpa sengaja menggumamkan kata-kata itu. Melihat reaksinya, tahulah aku sekarang.

"Apa yang harus kulakukan?"

~~~

(Yabu POV)

Aku terkejut setengah mati saat mendapatinya berada disini. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Oh Tuhan... Bukankah aku sudah meminta agar sebisa mungkin aku menjauh darinya? Kenapa kau malah mempermainkanku dengan mempertemukan kami kembali?

Dia masih sama. Wajahnya masih terlihat cantik. Sifatnya juga masih sama. Meskipun potongan rambutnya berbeda, tidak mengurangi kecantikannya. Benar-benar sama.

Kucoba untuk bersikap biasa saja saat nanti dia menyapaku, tapi dia tidak pernah menyapaku. Melihatku saja tidak. Yah... Kurasa itu wajar. Aku telah meninggalkannya begitu saja. Kurasa dia tidak akan memaafkanku.

Aku tersenyum pahit saat melihat dia bersama dengan sepupuku. Sedih bercampur bahagia. Bahagia karena setidaknya kini Yamada yang menjaganya. Yamada pasti akan menjaga Inoo dengan baik. Aku tahu itu. Yamada jauh lebih baik daripadaku. Inoo pasti akan lebih bahagia bersamanya.

Aku menyembunyikan masa laluku dengan Inoo rapat-rapat. Aku tidak ingin masa laluku merusak kebahagiaan mereka. Tapi... Sepertinya Yamada mulai mengetahuinya. Aku sangat terkejut saat dia memanggilku usagi. Karena selama ini, hanya Inoo yang memanggilku seperti itu.

Dengan susah payah aku menyakinkan Yamada kalau aku hanyalah masa lalu dari Inoo dan tidak akan menggangu mereka. Yamada-lah masa depannya. Meskipun dalam hati, aku masih mencintainya.

Ya, aku masih mencintai Inoo.

~~~

(Inoo POV)

Aku tidak bisa. Sungguh. Cobaan ini sangat berat. Meskipun Yamada berusaha membuatku bahagia, tapi sekali aku melihat sosok Yabu, aku langsung terpaku padanya.

Mataku masih mengejar sosoknya. Telingaku masih mengejar suaranya. Mulutku masih terus menggumamkan namanya. Kaki ini terus mengikutinya.

Meskipun aku berusaha menghindarinya sekuat tenaga, tapi badanku bergerak sendiri. Seolah Yabu memiliki magnet yang kuat terhadap diriku. Badanku dikontrol olehnya. Bahkan jantungku berdetak kencang hanya dengan melihatnya saja. Benar-benar tidak bisa kukendalikan.

Aku hampir ingin menangis. Ini sungguh menyiksa. Aku sudah memiliki Yamada, tapi kenapa tubuh ini menginginkan Yabu?

"Kita putus saja"

Aku terkesiap mendengar perkataan Yamada. Aku tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulutnya.

"Aku kalah. Aku tidak bisa menggantikan posisi Yabu di hatimu"

Aku sungguh terkejut. Bagaimana dia bisa tahu masa laluku dengan Yabu? Aku tidak pernah memberitahu nama Yabu, tapi kurasa dia tahu dari tingkahku.

"Kau kenapa? Kau menyukaiku kan?" ucapku setengah berteriak

"Ya, tapi kau tidak"

"Aku menyukaimu juga" ucapku.

"Jangan bohong Kei... Kau sama sekali tidak menyukaiku. Sejak awal aku yang memaksamu meskipun kau tidak mau. Aku senang saat kau merasa bahagia, tapi aku masih belum bisa memiliki hatimu"

"Tidak. Aku menyukaimu" sanggahku.

"Kalau begitu cium aku sebagai bukti"

Aku terkejut lagi mendengar perkataannya. Menciumnya? Ya. Selama kami berpacaran kami tidak pernah berciuman. Aku baru sadar sekarang.

Aku menatap bibirnya. Perlahan aku melangkah maju. Disaat aku ingin mendekatkan wajahku, gerakanku terhenti. Air mataku menetes

"Tuh... Kau tidak bisa kan?" Yamada tersenyum pahit. Dia mengusap air mataku. "Pergilah..."

"Yamada... Aku... Maaf..." isakku.

"Cepat pergi sekarang atau aku tidak akan melepaskanmu lagi"

Aku segera berlari. Sesekali aku menoleh ke belakang dan melihat Yamada memunggungiku. Punggungnya terlihat besar sekarang di mataku.

"Terima kasih, Yamada..."

Aku terus berlari. Kali ini giliranku untuk mencarinya. Aku tidak akan melepaskannya lagi untuk yang kedua kalinya. Aku langsung tersenyum bahagia saat melihat sosoknya.

"USAGII!!!!!!"

Tamat

Minggu, 01 Januari 2017

Know You

Cast : Arioka Daiki, Takaki Yuya
Genre : Fluff
One shot

~

Ketika matamu mulai terfokus pada satu orang, disaat itulah cinta dimulai.

~~~

Sudah seminggu. Ya, seminggu sejak aku melihatnya berdiri disana. Bermandikan cahaya matahari ditengah ombak yang menggunung. Sosoknya yang berdiri tegap di sebuah papan luncur membuatku terpesona. Dengan lihai dia mengendalikan tubuhnya sehingga dia bisa melewati ombak-ombak yang jauh lebih tinggi darinya. Saat aku pertama kali melihatnya, aku langsung terpesona dan mataku langsung tertuju padanya. Sosoknya tidak bisa hilang dari benakku, membuatku ingin melihatnya setiap hari.

Setiap pagi, aku selalu berusaha melewati pantai ini, mencarinya, dan mengamatinya sepanjang hari kalau aku sudah menemukannya. Tanpa kusadari ini sudah menjadi rutinitasku sejak seminggu lalu. Aku tersenyum saat dia dengan lihai berselancar, panik saat dia jatuh dari papannya, dan sedih ketika sudah waktunya aku pergi. Dalam sehari paling tidak aku merasakan hal itu.

Setelah aku tidak melihatnya lagi, timbul keinginan dalam diriku, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Namanya, suaranya, tempat tinggalnya, dan lain-lain. Tapi semua itu kulupakan saat aku melihat sosoknya. Seakan kehadirannya membuatku lupa akan segalanya.

Kenapa aku seperti ini?

~~~

Aku mengutuk diriku sendiri. Ini sudah hari ketiga aku terjebak di kesibukanku. Saking sibuknya aku sampai tidak bisa melakukan rutinitasku pergi ke pantai. Aku selalu menggerutu. Aku ingin melihatnya. Melihat sosoknya saat sedang berselancar.

Kekesalanku semakin meluap saat hujan mulai turun. Badanku mulau basah karena aku lupa membawa payung. Kucari tempat berteduh yang nyaman selagi menunggu hujan reda. Akhirnya kuputuskan untuk berlindung di depan toko dekat halte bus, supaya ketika bus datang aku bisa segera menaikinya.

Rupanya aku tidak sendiri disana. Seseorang sudah menempati tempat itu terlebih dahulu. Orang yang lebih tinggi dariku. Aku terkesiap saat mencium sesuatu yang khas saat berada di dekatnya. Bau yang kukenal setiap pagi. Aku melirik ke barang bawaannya, sebuah papan surfing bersender di punggungnya.

Jangan-jangan....

Aku tidak ingin berharap lebih. Tapi... Boleh kan kalau saat ini aku berharap sedikit?

Perlahan-lahan aku mencoba melihat wajahnya. Jantungku berdebar kencang saat aku melihatnya. Itu dia! Dia yang selalu kulihat setiap pagi. Dia yang selalu berdiri dengan indahnya di atas papan seluncur. Itu dia!

Aku memekik kegirangan. Tuhan memang baik dan murah hati. Aku bisa melihatnya lagi meskipun aku tidak pergi ke pantai. Dengan cepat aku meminta maaf pada Tuhan karena sudah bertindak bodoh dengan menggerutu setiap hari dan berterimakasih atas kemurahan hati-Nya.

Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumanku. Dia akan berpikir aneh kalau dia melihatku tersenyum sendiri. Aku tidak ingin membuat kesan jelek di matanya.

"Kau tidak ingin naik?"

Aku terkejut ketika dia mengajakku bicara. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya! Sesuai dengan dugaanku. Suaranya lembut dan tegas. Untuk beberapa detik aku merasa kaku.

"Hei, kau ingin naik bis juga kan?"

Dia berbicara lagi, karena aku tidak meresponnya. Kali ini aku menjawabnya.

"I-iya" jawabku pelan tapi masih bisa didengar olehnya.

"Mau lari sama-sama? Bisnya sudah mau datang"

Aku memiringkan sedikit kepalaku karena aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Sepertinya otakku berjalan lambat saat dia mengajakku bicara.

Semenit setelah itu bis pun tiba. Tiba-tiba sebuah tangan memegang tanganku dan menarikku. Masih belum mengerti apa-apa, aku cuma mengikutinya berlari menuju ke arah bis.

Aku mengambil nafas sejenak saat kami sudah berada di dalam bis. Saat itulah aku baru sadar kalau dia terus menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan sedikit panas di kedua pipiku.

"A-anu..." aku berusaha mengatakan sesuatu. Tapi karena gugup aku tidak bisa melanjutkannya.

"Ah maaf..." dia langsung melepas tangannya. Aku sedikit kecewa saat melihat tangan kami sudah tidak bergandengan lagi.

"Takaki Yuya"

"Eh?" aku terkejut

"Namaku Takaki Yuya"

Aku terkesiap. Namanya! Aku tahu namanya sekarang!!

"Namamu siapa?" tanyanya.

"A-arioka Daiki..." jawabku pelan. Berusaha sebisa mungkin tidak kelihatan gugup tapi mungkin dia bisa mendengar kegagapanku sebelumnya.

"Senang bisa bertemu denganmu Arioka"

"Aku juga"

Saat itu, kebahagiaanku meningkat 100%. Tidak hanya mendengar bertemu dengannya, aku juga bisa mendengar suaranya dan tahu namanya. Dan yang terakhir ini membuatku hampir kehilangan kesadaran, aku bisa melihat senyumnya.

Oh Tuhan... Rasanya aku bisa mati karena bahagia.

Tamat