Main cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Genre : Drama, romance
Note : awalnya dulu aku buat ff ini kolab ama temen. Tapi akhirnya ff ini drop. Beberapa tahun kemudian aku lanjutin lagi karena ada yg minta lanjut. Kali ini aku post dari awal cerita sampai akhir. Jadi ceritanya one shot, bukan series kyk kmrn.
Suasana hari ini sangat cerah. Semua orang menjalankan aktivitasnya dengan penuh semangat. Begitu pula dengan keadaan di kerajaan Union. Beberapa butler dan maid tampak sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada yang membersihkan taman, ada yang menyapu, ada yang memasak, dll.
“Tuan Putri! Tuan Putri! Tolong jangan lari-lari begitu. Tuan putri bisa jatuh”
Seorang pelayan tampak sedang mengejar seorang wanita muda yang mengenakan gaun berwarna oranye muda dengan hiasan bunga di bagian ujungnya. Wanita muda itu adalah tuan putri kerajaan Union ini. Wajah tuan putri itu langsung merekah saat melihat sekumpulan orang yang masuk ke dalam istana.
“Ryosuke!!!”
Seorang laki-laki muda berpakaian rapi yang berada di antara kumpulan orang yang baru saja memasuki istana langsung menoleh ke arah balkon istana yang berada di lantai 2. Dia langsung tersenyum saat melihat sosok yang memanggilnya.
“Pangeran, semua sudah saya jalankan sesuai perintah anda”
Seorang laki-laki tinggi tiba-tiba mendekat ke arah laki-laki muda yang dipanggilnya pangeran tersebut.
“YUYA!!!”
Tuan putri itu sangat bersemangat saat melihat laki-laki tinggi yang dipanggil Yuya oleh tuan putri itu. Belum sempat Yuya menjawab, dia terkejut saat melihat tuan putri itu melompat turun dari lantai 2.
“WAA!!! TUAN PUTRI!”, seru pelayan yang mengikutinya dengan panik. Ryosuke yang melihatnya juga ikutan panik.
GREP! Yuya berhasil menangkap Tuan Putri sebelum menyentuh tanah. Ryosuke dan pelayan itu langsung menghela nafas lega saat melihat Tuan Putri itu baik-baik saja.
“Tu-an-pu-tri...”, geram Yuya. “Itu tadi sangat berbahaya. Kalau anda terluka bagaimana?”, omel Yuya.
“Daiki. Kau sudah kusuruh memanggilku seperti itu kan?”, Tuan putri yang bernama Daiki itu menunjukkan wajah cemberutnya.
“Tidak bisa Tuan putri. Anda adalah tuan putri negeri ini, jadi saya tidak pantas memanggil anda hanya dengan nama saja”, jawab Yuya. Daiki tetap menunjukkan wajah cemberutnya yang tampak sangat menggemaskan. Yuya akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan memanggilmu Daiki. Tapi itu di saat kita Cuma berdua saja. Setuju?”
Daiki mengangguk pelan. Dia sebenarnya masih tidak terima. Tapi, Yuya mau memanggilnya ‘Daiki’ lagi itu sudah cukup baginya. Waktu kecil dulu Yuya sering memanggilnya Daiki, tapi semenjak dia menjadi pewaris tahta dan Yuya menjadi pengawal pribadinya, Yuya mulai memanggilnya Tuan Putri.
“Ayo berdiri tuan puteri. Gaun anda bisa kotor nanti”
Daiki menggeleng. Dia lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar seakan minta dipeluk. “Gendong..”
“Ha?”
“Kakiku sedikit sakit saat melompat tadi”
“Salahmu sendiri turun dengan cara seperti tadi”
“Gendong... Ayo gendong aku Yuya”, Daiki tetap mengulurkan kedua tangannya. Tapi Yuya tetap diam. Sama sekali tidak ada tanda kalau dia akan melakukan permintaan Daiki. “Ini perintah dari tuan puteri!”
Yuya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa menolak kalau Daiki mengatakan ini adalah perintah. Yuya kemudian berjongkok di hadapan Daiki, bersiap untuk menggendongnya.
“Aku tidak mau digendong di belakang. Aku mau di depan!!!”
Daiki langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Yuya tanpa mendengar persetujuan dari Yuya. Yuya hanya bisa menghela napas. Dia kemudian mengangkat tubuh Daiki dengan kedua lengannya dan menggendongnya dengan gendongan ala tuan puteri seperti yang diinginkan Daiki.
“Pangeran, saya minta ijin untuk mengantar tuan putri terlebih dahulu”
“Ah... silahkan”, Ryosuke yang masih sedikit terkejut dengan adegan yang ditimbulkan oleh kakaknya itu hanya bisa meng-iya-kan.
Daiki tersenyum senang saat melihat Yuya menggendongnya masuk ke dalam istana. Semenjak Yuya ditunjuk menjadi pengawal pribadi Ryosuke, Daiki jadi jarang bertemu dengannya. Dulu, Yuya adalah pengawal pribadinya. Semenjak kedatangan Ryosuke yang menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta, Yuya ditunjuk sebagai pengawal pribadi Ryosuke, sedangkan Yuto ditunjuk sebagai pengawal pribadi Daiki.
Ryosuke dan Daiki memang bukan saudara kandung. Ryosuke adalah anak dari adik Yang Mulia Ratu Hikari, Yamada Kei. Suami Kei telah meninggal dunia. Raja Kota kemudian mengangkat Ryosuke sebagai anak untuk menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta. Menurut Raja, laki-laki lebih pantas menjadi pewaris tahta daripada perempuan. Raja juga kasihan pada puterinya, Daiki, bila dia menjadi pewaris tahta. Ada beberapa hal yang cukup berat dijalankan bagi seorang perempuan sebagai pewaris tahta.
Daiki sama sekali tidak keberatan dengan keputusan ayahnya itu. dia malah tampak sangat gembira. Selain karena dia terbebas dari tugas berat sebagai pewaris tahta, dia juga mendapatkan seorang adik baru. Selama ini Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia sering merasa kesepian. Hanya Yuya saja menemaninya bermain.
Satu hal lagi yang membuat Daiki sangat senang. Terbebas dari pewaris tahta, itu berarti dia terbebas dari perjodohan. Selama ini, calon raja akan menikah dengan orang yang sudah ditentukan oleh para petinggi kerajaan. Dulu Daiki sangat keberatan dengan aturan itu karena dia diam-diam menyukai teman sejak kecilnya sekaligus pengawal pribadinya itu. Si Takaki Yuya. Tapi, begitu dia terbebas dari jabatan sebagai pewaris tahta, maka ada kesempatan baginya untuk menikah dengan Yuya.
Tapi, cinta tidak berjalan mulus seperti yang Daiki kira. Raja Kota memerintahkan agar Yuya menjadi pengawal pribadi Ryosuke. Tentu saja hal ini membuat Daiki keberatan. Berkali-kali Daiki meminta kepada Raja Kota, ayahnya, agar tetap menjadikan Yuya sebagai pengawal pribadinya, tapi ditolak oleh Yang Mulia Raja. Alasannya adalah karena Yuya adalah pengawal yang paling jago, sehingga dia bisa dipercaya untuk menjaga si pewaris tahta yang baru.
“Hei, hei, Yuya...”, bisik Yuya.
“Apa?”
“Nanti malam pesta ulang tahunku”
“Aku tahu”
“Nanti malam aku berumur 16 tahun”
“Aku tahu”
“Di umur 16 tahun kita sudah boleh menikah kan?”
“Iya”
Daiki merengut kesal karena Yuya hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat. Daiki akan membuka mulutnya lagi untuk berbicara, tapi Yuya telah memotong pembicaraannya.
“Kita sudah sampai tuan puteri”
Yuya membuka pintu kamar Daiki. Dengan hati-hati, Yuya menurunkan Daiki di atas kasur.
“TUAN PUTERI! TUAN PUTERI TIDAK APA-APA??”
Keito, pelayan pribadi Daiki tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Mukanya terlihat sangat pucat. Dia lalu berjongkok untuk memeriksa kedua kaki Daiki.
“TUAN PUTERI TIDAK APA-APA? TIDAK TERLUKA? ADUH... TUAN PUTERI... KENAPA TUAN PUTERI NEKAT MELOMPAT DARI LANTAI 2??? UNTUNG TAKAKI ADA DISANA. KALAU TIDAK, KALAU TERJADI SESUATU PADA TUAN PUTERI BAGAIMANA??? SAYA HARUS BAGAIMANA??? APA YANG AKAN SAYA KATAKAN PADA YANG MULIA RAJA???”
“Keito... tenanglah sedikit...”, Yuya berusaha menenangkan Keito sambil menutup telinga Daiki agar tidak terasa sakit saat mendengar suara Keito yang hampir seperti orang yang berteriak. “Tuan Puteri tidak apa-apa”
“MAAF... MAAFKAN SAYA TUAN PUTERI. HAMBA HANYA KHAWATIR DENGAN KESELAMATAN TUAN PUTERI”
“I-iya... aku tahu kok Keito. sudah cukup. Aku tidak apa-apa. Kakiku sama sekali tidak sakit kok”, balas Daiki. “Ah... ups...”, spontan Daiki langsung menutup mulutnya.
“Tidak sakit?”, Yuya melirik ke arah Daiki. “Apa maksudnya tidak sakit tu-an-pu-te-ri??”
“Habisnya... kalau aku tidak bilang begitu, kau tidak mau menggendongku kan?”
Yuya tersenyum. Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Daiki yang gembul. Dia kemudian mencubit kedua pipi Daiki. “Dasarr.... kupikir kakimu sakit beneran...”
“Ah, eh, aduh... sakit Yuya... aduh, jangan ditarik... nanti pipiku tambah melar... iya, aku janji tidak akan bohong lagi...”
Yuya menghentikan cubitannya. Daiki langsung memegangi kedua pipinya yang kemerahan akibat cubitan Yuya. Setelah mengelus kepala Daiki, Yuya langsung berbalik badan menuju keluar. Langkahnya sempat dihentikan oleh Daiki yang menarik bajunya.
“Mau kemana?”, tanya Daiki.
“Kemana? Ya kerja-lah... aku harus memantau keadaan kota”, jawab Yuya.
“Oh... begitu...”, Daiki sedikit kecewa saat Yuya harus pergi meninggalkannya. Dia sama sekali belum mau melepaskan baju Yuya.
“Tuan puteri? Bisa lepaskan bajuku?”
“Ah, eh iya...”, dengan berat hati, Daiki melepaskan pegangannya. Dia hanya bisa menatap sayu ke arah Yuya yang berjalan keluar tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
“Uh... Padahal aku ingin bersamanya sedikit lagi...”, keluh Daiki.
“Tuan puteri, saya akan meminta pelayan wanita untuk mengambil baju yang baru, tuan puteri disini saja dulu”, sahut Keito.
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiran Daiki. Dia langsung tertawa pelan saat memikirkan rencananya itu. Dia segera meminta Keito untuk segera memanggil pelayan wanita.
“Yuya... tunggu aku”
---***---
Suasana kota cukup ramai. Lalu lintas yang padat, kerumunan orang yang akan pergi beraktivitas, menambah suasana ramai di kota. Suasana ini juga memancing kejahatan. Oleh karena itu, biasanya beberapa prajurit kerajaan akan berkeliling kota untuk berpatroli dan mengawasi. Inilah pekerjaan yang selalu dilakukan Yuya selain mengawal Pangeran Ryosuke.
“Bagaimana keadaan jalan?”, tanya Yuya pada salah seorang petugas keamanan yang sedang berjaga disana.
“Tidak ada yang berubah. Semua tetap aman terkendali”, jawab petugas itu.
“Bagus. Tetap waspada dan awasi lingkungan”, balas Yuya.
Yuya terus berjalan melanjutkan tugasnya. Dia terus memeriksa dan mengamati keadaan. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang terus mengikutinya sejak dia keluar dari istana. Sepasang mata itu berusaha mengikuti Yuya tanpa ketahuan.
“Tuan putri... ayo kembali saja...”, bujuk Keito pada Daiki yang ternyata sedang mengikuti Yuya dengan menyamar menjadi seorang pelayan.
“Tidak mau. Kalau kau ingin kembali, kembali saja sendiri. aku masih mau disini”
“Aduh tuan putri... nanti Nakajima marah pada saya. Seharusnya kalau tuan putri mau keluar, tuan putri lapor dulu pada Nakajima”
Daiki menggembungkan pipinya. “Ogah... Yuto gak asyik sih. Uh.. aku pengen tukar...”
Daiki kembali mengamati Yuya. tapi sosok yang diikutinya sudah menghilang dari pandangan. “Yah... Keito.... gara-gara kamu, kita kehilangan jejaknya... Huhuhu... Yuya...”, Daiki mulai merengek.
“Eh? Aduh tuan putri, jangan nangis. Aduh... bagaimana ini?”, ucap Keito yang mulai panik melihat tuan putri cilik yang ada di hadapannya itu mulai menitikkan air mata. Dia kemudian melihat ke arah penjual pocky yang tidak jauh dari mereka. “Ah, tuan putri, tunggu sebentar ya”.
Keito kemudian berlari menuju ke penjual pocky untuk membelikan sebungkus pocky untuk tuan putri. Tuan putri sangat suka pocky. Keito berharap pocky yang dibelinya itu bisa menghibur hati si tuan putri.
“Huhuhu... Yuya... Huhuhu... “, rengek Daiki di tempat persembunyiannya.
“LEPASKAN!”
Tangisan Daiki langsung berhenti saat mendengar suara teriakan. Tidak lama kemudian ada beberapa orang mulai mengerumuni suatu tempat. Karena penasaran, Daiki langsung menuju kerumunan orang.
Dengan tubuhnya yang kecil, Daiki berhasil menyelinap masuk ke dalam kerumunan dan menuju ke bagian depan. Kini dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. ada seorang wanita yang sedang dihadang oleh sekelompok pria yang Daiki duga adalah kelompok preman. Dari pembicaraan orang-orang yang ada di dekatnya, Daiki bisa menyimpulkan kalau sekelompok preman itu meminta pertanggungjawaban dari wanita itu karena tanpa sengaja menabraknya.
Salah seorang preman mulai mengarahkan salah satu tangannya ke arah wanita itu. Tampaknya preman itu berniat memukul wanita itu. Daiki langsung berlari menuju ke arah wanita itu dan melindunginya dengan badannya. Pukulan preman itu berhasil mendarat dengan mulus di muka chubby tuan putri itu.
“Aduh... sakit...”, Daiki meringis sambil memegangi pipinya yang sedikit memar akibat pukulan preman tersebut.
“Minggir kau pelayan! Aku punya urusan dengan wanita yang ada di belakangmu!”, seru salah seorang preman.
Daiki menggeleng. Dia masih melindungi wanita itu dengan tubuhnya.
“Tidak mau! Kalian tidak boleh menganiaya orang yang lemah!”
“Cih! Wanita pelayan ini... ayo kita hajar dia juga!”
Daiki mulai gemetar ketakutan. Dia sangat takut melihat gerombolan preman ini. Daiki ingin lari. Tapi dia tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian.
Salah seorang preman mulai bersiap menghajarnya. Daiki langsung memejamkan matanya karena takut. Sekilas sosok seseorang muncul di kepalanya.
“Hiks.. hiks.. hiks.. YUYA!!!”
BRUAGH. Terdengar suara sesuatu yang sedang jatuh. Tidak lama, terdengar juga suara baku hantam. Daiki mulai membuka matanya. Dia tersenyum senang saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
“YUYA!”, jerit Daiki.
“TUAN PUTRI! TUAN PUTRI TIDAK APA-APA?”, Keito tiba-tiba datang bersama dengan Yuto. Wajah panik Keito terlihat jelas sekali. Daiki merasa sedikit bersalah karena membuat bawahannya cemas.
“Berani-beraninya kalian mengeroyok perempuan kecil hah? Kalian sama sekali tidak akan kuampuni!”
Yuya menggeram marah sambil mengepalkan kedua tangannya. Beberapa preman itu mulai mundur ketakutan dan berlari. Tapi disaat mereka akan lari, Yuto dengan sigap menghadang preman itu dan melumpuhkan mereka semua.
“YUUYAAA.....”, Daiki langsung berlari untuk memeluk Yuya.
GREP. Yuya memegang kepala Daiki dengan satu tangan. BLETAK! Yuya kemudian menjitak pelan kepala tuan putri tersebut.
“Yuya kejam...”, Daiki merintih pelan.
“Daiki.... sudah kubilang kan. Jangan keluyuran sendirian. Aduh... kenapa kau susah sekali dibilangin sih?”, Yuya tiba-tiba memeluk Daiki dengan erat. Saking eratnya sampai Daiki merasa sedikit sesak. “Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bagaimana”
“Maaf... maafkan aku...”, ucap Daiki sambil sedikit terisak. “Huu... aku takut sekali tadi...”, kali ini giliran Daiki yang memeluk erat Yuya.
Yuya terdiam saat menyadari sosok kecil yang ada di pelukannya itu gemetar karena ketakutan. “Sudah, sudah, semua sudah berakhir kok. Tenanglah”, ucap Yuya sambil berusaha menghilangkan rasa takut yang ada di dalam diri tuan putri ini.
“Ngomong-ngomong, apa yang sedang anda lakukan tuan putri?”, tanya Yuya tiba-tiba. “Kenapa anda berpakaian seperti itu?”, tanya Yuya sekali lagi saat sadar dengan seragam pelayan yang dikenakan oleh Daiki.
“Aku...”, Daiki diam tidak bisa menjawab. Tidak mungkin dia cerita kalau dia sedang menguntit Yuya kan? “Aku ingin berjalan-jalan di kota dengan bebas. Kalau aku mengenakan pakaianku yang biasanya, maka mereka akan segera mengenaliku sebagai puteri kerajaan dan aku tidak bisa menikmati jalan-jalanku kan?”
“Benar itu alasannya?”, Yuya masih merasa sedikit curiga dengan alasan yang diberikan oleh tuan puteri kecilnya itu. Daiki memang terkenal memiliki ide yang sedikit gila dan sudah tidak terhitung berapa kalinya dia merepotkan Yuya dan pegawai istana yang lain.
Daiki mengangguk sambil menunduk. Dia tidak berani bertatapan muka langsung dengan Yuya. Daiki tahu dia tidak akan semudah itu menyembunyikan sesuatu dari Yuya. kebersamaan mereka membuat mereka mengenal dan saling mengerti satu sama lain.
Yuya menghela nafas panjang. “Baiklah. Kalau begitu ayo pulang Tuan Puteri”
“Tidak mau! Aku masih mau jalan-jalan!”
Yuya menatap Daiki. sikap Daiki menunjukkan kalau dia bersikeras tidak mau pulang dan mau tetap berada disana. Sekeras apapun usaha Yuya, maka itu akan percuma.
“Haahh....”, Yuya menghela napas panjang. dia kemudian melepas jas seragamnya dan memberikannya pada Keito. “Aku titip ini. ayo pergi Tuan puteri”
“Eh? Eh?”, Daiki masih bingung dengan sikap Yuya.
Yuya menarik tangan Daiki dan menggandengnya. “Tuan puteri mau jalan-jalan kan? Jadi akan kutemani. Tapi tidak bisa lama-lama ya, setelah tuan puteri puas jalan-jalan, kita akan langsung pulang”. Yuya melihat ke arah Keito. “Sampaikan pada Yang Mulia, Tuan puteri ada bersamaku, tidak usah khawatir”
“Ah baik. Berhati-hatilah di jalan”. Keito membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan Yuya dan Daiki. Bersama dengan Yuto, Keito kembali ke istana.
Daiki melihat Yuya yang masih menggandeng tangannya. Daiki memperat gandengannya dan tidak ingin melepaskannya. Dia sangat senang Yuya mau menemaninya.
“Nah, kita mau kemana?”, tanya Yuya
“Entah. Terserah Yuya saja”
“Lha kok terserah aku? Kan yang mau jalan-jalan tuan puteri”
“Daiki!”
“Eh?”
“Kan kau sudah janji akan memanggilku ‘Daiki’ kalau kita Cuma berdua”, Daiki memonyongkan bibirnya, wajahnya tampak sangat menggemaskan. Yuya menahan senyum saat melihat wajah tuan puteri serta teman masa kecilnya itu.
“Iya Daiki. sekarang kita mau kemana?”
“Kau yang menunjukkan jalannya. Aku tidak terlalu hapal kota ini. Aku kan jarang keluar”.
Raut wajah Daiki menjadi sedikit muram. Karena dia adalah salah satu anggota keluarga kerajaan, maka dia tidak bisa sembarangan keluar istana. Terkadang Daiki iri dengan Ryosuke yang bisa bebas keluar istana karena dia adalah penerus tahta kerajaan. Sebagai penerus, Ryosuke harus tahu situasi negara dan keadaan masyarakat.
Yuya menjadi merasa kasihan pada Daiki. Tidak tega melihat teman kecilnya sedih, Yuya akhirnya memutuskan mengajaknya jalan-jalan untuk bersenang-senang. ‘Sekali-kali tidak apa-apa deh’, batin Yuya.
“Baiklah, kita jalan-jalan saja yuk”
Yuya menggandeng tangan Daiki dan mengajaknya berkeliling. Daiki sangat senang. Dia merasa sedang berkencan dengan Yuya. Ini bukan pertama kalinya mereka berdua keluar bersama. Tapi sudah bertahun-tahun Daiki tidak keluar bersama dengan Yuya. Ya, sejak Daiki tidak menjadi penerus tahta lagi, semenjak itulah Daiki tidak pernah bersama dengan Yuya lagi. Dan semenjak itu pula Daiki terus merengek pada ayahnya untuk mengembalikan Yuya menjadi pengawal pribadinya dan selalu ditolak oleh ayahnya.
Daiki berhenti di sebuah etalase toko. Dia melihat sepasang cincin perak bergambar penguin. “Lucunya...”, gumam Daiki saat melihat cincin itu. “Enaknya kalau aku bisa memakai cincin itu bersama dengan Yuya”. Daiki langsung membayangkan dirinya dan Yuya memakai cincin itu. “Kyaa!!! Itu seperti cincin tunangan saja!”. Daiki tenggelam dalam khayalannya sendiri.
“Kau sedang melihat apa?”, Yuya tiba-tiba berdiri di belakang Daiki dan hampir membuat jantung puteri itu copot.
“Ah, eh, itu...”, Daiki menunjuk ke arah sepasang cincin perak bergambar penguin yang dilihatnya. “Lucu kan? Aku mau cincin itu”. daiki menatap Yuya penuh harap. Dalam hatinya dia berharap Yuya juga menginginkan cincin itu dan memakainya bersama.
“Ah iya, itu lucu”, Yuya hanya menjawab datar. Berlawanan dengan harapan Daiki. daiki sedikit kecewa saat Yuya membalasnya dengan biasa saja. “Ayo kita pulang Daiki, sudah hampir malam”
Daiki mengangguk. Dengan wajah sedikit tertunduk, dia berjalan meninggalkan toko itu. “iya ya, yang suka itu hanya aku sendiri”, gumam Daiki.
Yuya berjalan mengikuti Daiki dari belakang. Tanpa Daiki sadari, Yuya melihat sekali lagi ke arah cincin yang ditunjuk oleh Daiki. Sebuah senyum tergambar di wajahnya.
Daiki dan Yuya telah kembali ke istana. Mereka berdua disambut oleh Keito yang sudah menanti kepulangan mereka. keito segera memberikan jas seragam Yuya.
“Kau sudah pulang Daiki”, Yabu, raja Union menghampiri anaknya.
“Iya, ayah”
“Segera ganti bajumu. Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Ini mengenai pertunanganmu”
---***---
“Apa maksud ayah dengan pertunangan? Bukankah ayah bilang kalau aku tidak akan dijodohkan dengan siapapun, ya kan Yuri?”
Pelayan yang bernama Yuri itu hanya mengangguk dan melanjutkan tugasnya untuk merapikan rambut Daiki yang berantakan.
“Tuan puteri habis keluar bersama dengan Takaki ya?”, tanya pelayan itu sambil tersenyum menggoda.
Daiki mengangguk. Wajahnya terlihat bahagia. “Benar sekali! Kau tahu Yuri, Yuya mengajakku berkeliling. Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Selama perjalanan dia juga berbicara banyak denganku. Ah... benar-benar hari yang indah. Aku sangat senang sekali”
Yuri hanya tersenyum mendengarkan tuan puterinya bercerita. Yuri tahu betul kalau Daiki sangat menyukai Yuya. Sama seperti Yuya, sejak kecil Yuri sudah bekerja di istana. Tapi dia baru menjadi pelayan pribadi Daiki akhir-akhir ini. Keito yang menunjuknya sebagai asistennya.
Yuri dan Yuya adalah teman sejak kecil. Karena sama-sama bekerja untuk keluarga istana, mereka sering bertemu dan menjadi akrab. Yuri menganggap Yuya sebagai kakaknya. Bahkan dia memanggil Yuya dengan nama depannya. Tapi sekarang dia memanggil Yuya dengan sebutan ‘Takaki’. Hal ini disebabkan karena dia secara tidak sengaja melihat Daiki memarahi Yuya karena ada perempuan selain dia memanggil Yuya dengan nama kecilnya. Tidak tega melihat kakaknya dimarahi, mulai saat itu Yuri memanggil Yuya dengan nama belakangnya.
“Kau tahu Yuri, tadi aku melihat cincin yang bagus dan lucu!!! Cincin itu berlapis perak dan bergambar penguin! Cincinnya sepasang lagi! Benar-benar cincin pasangan!”
Yuri tersenyum. “Tuan puteri ingin memakai cincin itu dengan Takaki kan?”
Daiki mengangguk. “Iya! Tapi, Yuya hanya mengangguk biasa dan segera pergi begitu saja. tampaknya dia tidak tertarik sama sekali”. Raut wajah Daiki terlihat sedikit lesu.
Tok! Tok! Tok!
“Kakak, ini aku”, terdengar suara dari balik pintu.
“Ryosuke? Masuklah. Aku sudah selesai kok”
Ryosuke segera masuk ke dalam ruangan. yuri menunduk hormat pada Ryosuke. Ryosuke membalasnya dengan senyum.
“Kakak kemana tadi siang? Yuto terlihat marah saat mengetahui kakak tidak ada di kamar. Dia langsung memerintahkan semua pasukan di istana untuk mencari kakak”
“Uhh... Yuto lebay deh. Aku kan Cuma jalan-jalan sebentar”
“tapi setidaknya tuan puteri bisa memberitahu saya terlebih dahulu”, Yuto tiba-tiba masuk ke dalam kamar. “Tugas saya melindungi tuan puteri, jadi saya harus selalu mengawal tuan puteri”
“Tidak mau! Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan melarangku keluar. Benar kan?”. Yuto diam tidak menjawab. “Tuh, makanya aku tidak suka Yuto. Yuto terlalu kaku!”
“Suka atau tidak suka, sayalah yang ditunjuk untuk mengawal tuan puteri. Itu keputusan Yang Mulia”, kata Yuto mantap. Daiki hanya bisa menggembungkan pipinya yang gembul itu.
“Sudah, sudah”. Ryosuke berusaha melerai pertengkaran majikan dan pelayan itu. “Kakak, Yang Mulia sudah menunggu”. Ryosuke mengajak Daiki keluar. Yuto mengikuti mereka berdua dari belakang. Sedangkan Yuri kembali ke tempat pelayan karena tugasnya telah selesai.
Daiki melihat ke arah Ryosuke dengan heran. Dia terus menatap sekeliling. “Ryosuke, Yuya mana?”. Daiki merasa aneh tidak melihat Yuya, yang merupakan pengawal pribadi Ryosuke, tidak berada di samping Ryosuke.
“Tadi dia ijin keluar sebentar. Mungkin ada perlu”, jawab Ryosuke.
“Yah...”, daiki langsung menunduk lesu saat tahu Yuya tidak ada di dekatnya. “Aku mau mampir ke toilet sebentar”
Daiki langsung masuk ke toilet. Ryosuke dan Yuto menunggu di pintu keluar dengan sabar.
“Eh, eh, kau tahu? Yang Mulia katanya akan menyiapkan pesta pertunangan untuk Tuan Puteri Daiki”, Daiki tiba-tiba mendengar suara beberapa pelayan yang sedang berbicara. Mereka sepertinya sedang bekerja membersihkan kamar mandi. Tampaknya pelayan - pelayan itu tidak sadar Daiki ada di dalam. Mereka terus melanjutkan pembicaraan tanpa sadar kalau Daiki juga mendengarnya.
“Pesta? Tuan puteri Daiki akan dijodohkan?”
“Sepertinya begitu. Usia tuan puteri sebentar lagi 16 tahun kan? Sudah cukup umur untuk menikah”
“Eh, lalu siapa calon tunangan tuan puteri?”
“Tadi siang aku melihat pangeran Ryutaro datang kemari. Apa jangan-jangan dia calon pasangan tuan puteri?”
Deg. Jantung Daiki tiba-tiba terasa berhenti mendadak. ‘Apa? Aku dijodohkan? Bukankah aku bebas memilih pasangan?’
“Apa itu benar?”, Daiki tiba-tiba ikut bersuara sehingga mengagetkan para pelayan yang sedang sibuk bergosip itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Daiki akan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Hiks... Hiks... Aku tidak mau dijodohkan”, Daiki tiba-tiba menangis. Membuat para pelayan itu panik. Mereka kemudian sibuk menenangkan Daiki. karena mereka tahu kalau nanti mereka akan dimarahi oleh Keito, Yuto, dan Yuya. “Huwaa....!!!!”
Daiki tiba-tiba berlari keluar. Melewati Yuto dan Ryosuke yang sedang menunggunya. “Kakak?”, Ryosuke memanggil Daiki, tapi Daiki terus berlari menjauh. Meninggalkan tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi. Para pelayan itu kemudian menceritakan apa yang terjadi di dalam toilet. Seperti yang sudah mereka duga, Yuto langsung memarahi mereka karena sudah membicarakan hal yang tidak perlu dan sudah membuat tuan puteri manja itu menangis.
“Aku akan mencari kakak. Ayo Yuto”
Ryosuke dan Yuto kemudian berpencar mencari Daiki. Tidak mudah menemukan tuan puteri kecil itu. Sejak dulu, Daiki paling pintar bersembunyi dan melarikan diri. Dia sering bersembunyi saat dia sedang marah. Daiki baru akan keluar dari persembunyiannya saat dia lapar.
Yuto segera mencari Keito dan meminta bantuannya untuk mencari Daiki. keito langsung panik saat Yuto memberitahu kalau Daiki menghilang. Tapi dia langsung mengatasi kepanikannya dan memerintahkan seluruh pelayan di istana untuk mencarinya. Yuto pun memerintahkan seluruh prajurit yang berjaga untuk mencari keberadaan Daiki.
“Bagaimana? Daiki sudah ketemu ryo-chan?”, tanya Yang Mulia. Ryosuke menggeleng. Sudah setengah jam berlalu saat Ryosuke memberitahu Yabu kalau Daiki menghilang. Dan sampai sekarang tidak ada yang bisa menemukannya. Ini bukan pertama kalinya Daiki menghilang. Daiki sering bersembunyi dan selama itu tidak ada yang pernah bisa menemukan Daiki.
“Yuya... dimana kau?”, gumam Ryosuke. Dia tahu kalau Yuya adalah umpan terbaik untuk memancing Daiki keluar. Daiki akan segera keluar saat Yuya memanggilnya. Tapi kini, pengawal pribadi pangeran itu sama sekali tidak ada di istana. Jadi, tidak ada seorangpun yang bisa memanggil Daiki.
“KYAAAAA!!!! TUAN PUTERI SEDANG APA?!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Keito dari halaman. Ryosuke dan Raja segera menuju ke arah teriakan tersebut. Jantung mereka hampir berhenti berdetak saat melihat Daiki sedang berdiri di salah cabang pohon yang cukup tinggi. Tidak lama kemudian Yuto dan beberapa pelayan istana yang lain juga berkumpul disana.
“TUAN PUTERI!!! DISANA BAHAYA! AYO CEPAT TURUN!!!” seru Keito lagi. Keito sungguh-sungguh panik. Jika terjadi sesuatu pada Daiki, maka Keito tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
“TIDAK MAU!! AKU MAU MATI SAJA!!!”
“Kenapa dia mendadak seperti itu?” tanya Raja pada Ryosuke.
“Ah... itu kan salah raja sendiri yang mau menjodohkan Dai-chan dengan orang lain” balas Ryosuke.
“Eh tapi... kukira dia akan senang dengan perjodohan itu. Bukankah itu yang selalu diinginkan Daiki?” ujar Raja lagi.
“Eh? Apa maksudnya?” tanya Ryosuke lagi.
Tapi belum sempat raja menjawab lagi, perhatian mereka teralihkan ke Daiki lagi yang kini benar-benar berniat untuk lompat.
“TUAN PUTERIII!!! TOLONG TETAP DIAM DISITU! JANGAN BERTINDAK GEGABAH”
“KALAU AKU TIDAK BERSAMA DENGAN YUYA, LEBIH BAIK AKU MATI SAJA!”
“Tidak bersama denganku? Apa maksudnya?” Yuya tiba-tiba datang dari arah kerumunan. Daiki terdiam melihat sosok Yuya yang tiba-tiba muncul. Yuya berjalan mendekat ke arah pohon besar dimana Daiki berada. “Apalagi yang kau lakukan tuan puteri?”
“Hiks... Yuyaa... Mereka... akan menjodohkanku dengan pangeran Ryutaro... Hiks...”
“Pangeran Ryutaro?” seru raja dan Yuya bersamaan.
“Tunggu... Daichan, siapa yang bilang kalau kau akan dijodohkan dengan pangeran Ryutaro?” tanya Raja yang tampak sangat kebingungan dengan ucapan Daiki.
“Hiks... para pelayan... hiks... yang bilang. Mereka bilang... pangeran Ryutaro datang kemari karena akan dijodohkan denganku... Hiks”
Yuto sekali lagi melemparkan pandangan tajam ke arah para pelayan. Para pelayan yang tadi bergosip segera menundukkan kepala karena takut. Hukuman telah menanti bagi mereka karena sudah membuat tuan puteri Daiki menangis.
“Pangeran Ryutaro datang kemari karena membicarakan masalah bisnis Daichan... tidak ada hubungannya dengan pertunanganmu” jawab Raja.
“Eh? Jadi bukan dengan pangeran Ryutaro?” Daiki kebingungan “lalu dengan siapa?”
Raja tersenyum. Dia berjalan ke arah Yuya dan menepuk kedua bahunya. “Dengan dia. Kau sangat menyukainya kan?”
“EEHHH?!?!?!” Seluruh orang yang ada disana terkejut, kecuali Raja dan Yuya.
“Ahh... kejutannya jadi batal deh. Padahal niat awalnya aku baru akan memberitahumu saat pesta. Maaf kejutan kita batal Yuya”
“Tidak apa-apa Yang Mulia”
“EH? EHH?? EHHH??? Tunggu dulu!!! Papa mau menjodohkanku dengan Yuya?! YANG BENAR?!”
“Kenapa? Tuan puteri lebih suka kalau dijodohkan dengan Pangeran Ryutaro?” sahut Yuya.
“TIDAK!!! AKU MAU DENGAN YUYAAA!!!!” seru Daiki sambil melompat dari atas pohon.
“WAAAA!!! TUAN PUTERIIII!!!!” seru Keito panik.
Dengan sigap Yuya langsung menangkap Daiki sebelum mengenai tanah. Daiki langsung memeluk erat Yuya.
“Kita akan menikah! Kita akan menikah!” seru Daiki kegirangan.
“Tu-an-pu-te-ri... kalau ini terjadi lagi...”
“AKU AKAN MENIKAH DENGAN YUYAA!!!” potong Daiki tanpa mempedulikan Yuya yang melotot tajam ke arahnya.
---***---
Pesta ulang tahun Daiki berlangsung meriah. Meskipun sebelum pesta, anggota kerajaan dibuat repot oleh tingkah ‘bunuh diri’ sang tuan puteri, tapi syukurlah semua berakhir dengan baik.
“YUYAAA!!!!” Daiki berlari ke arah Yuya yang sedang berdiri di samping Ryosuke. “Kenapa kau bersama dengan Ryo-chan?!”
“Kenapa? Kan ini memang sudah tugasku. Menjaga ahli waris kerajaan”
Daiki cemberut. “Tapi kau tunanganku! Harusnya kau bersamaku hari ini!”
“Daiki...”
“Tidak ada tapi-tapian! Kau harus bersamaku!” Daiki merangkul lengan Yuya dengan erat dan berusaha menarik Yuya dari sisi Ryosuke.
Ryosuke yang tertawa geli melihat tingkah kakaknya akhirnya menyuruh Yuya pergi menemani Daiki. Yuya memanggil Yuto untuk menggantikan tugasnya menjaga Ryosuke.
“Daiki... kau tidak boleh egois begitu. Aku punya pekerjaan”
“Tapi... ini hari istimewaku. Aku ingin kau menemaniku...” Daiki melepaskan pelukannya dann menunduk lesu.
Yuya menghela nafas. “Aku mengerti” Yuya berdiri di depan Daiki kemudian membungkukkan tubuhnya sambil mengulurkan tangannya. “Bolehkah hamba menemani tuan puteri?”
“Dengan senang hati!” Daiki tersenyum sambil meraih tangan Yuya.
Sepanjang pesta, Daiki sama sekali tidak melepaskan tangan Yuya. Tangan mereka berdua seperti lengket terkena lem. Bahkan Daiki hampir tidak mengijinkan Yuya pergi ke toilet karena dia takut Yuya akan menghilang. Setelah argumen selama 15 menit, barulah Yuya bisa pergi ke toilet.
---***---
“Akhirnya... aku capek sekali”
Daiki langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Tubuhnya terasa sangat capek setelah pesta usai. Yuya membantu Daiki melepaskan sepatu dan kaus kakinya.
“Daiki...”
“Hmm?” jawab Daiki sambil tetap berbaring.
“Selamat ulangtahun”
Yuya memberikan sebuah kotak kecil kepada Daiki. Daiki langsung terlihat gembira dan segera mengambil kotak itu untuk melihat isinya. Matanya langsung berbinar-binar saat melihat sepasang cincin perak bergambar penguin yang sangat diinginkannya. Yuya mengambil salah satu cincin tersebut dan memakaikannya di jari manis Daiki.
“Syukurlah, ukurannya pas” ucap Yuya sambil tersenyum.
Daiki pun segera melakukan hal yang sama. Dia mengambil cincin yang masih tersisa di dalam kotak dan memakaikannya di jari manis Yuya. Mereka berdua tersenyum sambil melihat jari masing-masing.
Yuya menatap lurus ke mata Daiki. Membuat Daiki sedikit gugup dan tersipu. Dengan pelan Yuya mengusap pipi Daiki.
“Daiki... selamat ulang tahun”
Yuya mendekatkan wajahnya dan dengan lembut menempelkan bibirnya ke bibir mungil sang tuan puteri. Ciuman yang sangat singkat dan lembut tapi cukup membuat pipi Daiki bersemu merah. Yuya tersenyum geli melihat tuan puteri yang biasanya tidak bisa diam itu kini cuma bisa menunduk malu.
“Selamat ulang tahun, my princess~”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar