Senin, 29 Februari 2016

ANGRY

Cast : Takaki Yuya & Arioka Daiki
Genre : Romance
Rate : R dengan sedikit NC di bagian omake
Summary : Takaki marah pada Daiki yang meninggalkannya. Bagaimana Daiki meminta maaf padanya?
Disclaimer : plot cerita adalah milikku. Ideku. Tapi castnya bukan milikku... :(

---***---

Suasana di ruang ganti ini cukup suram. Meskipun Hikaru mengeluarkan leluconnya, meskipun Inoo bersikap lebih random dari biasanya, dan meskipun semuanya tertawa seperti biasanya, entah kenapa ada yang kurang.

Hikaru melirik ke arah lelaki berambut coklat yang sedari tadi hanya diam memainkan hpnya sambil mendengarkan musik melalui headsetnya. Lelaki yang biasanya tertawa paling keras dan memberikan komentar lucu itu kini hanya diam tidak bersuara. Bahkan guyonan Hikaru yang paling lucu itupun tidak membuat lelaki itu tertawa.

Daiki yang duduk di sebelah lelaki itu mendesah nafas panjang. Dia tahu sesuatu. Dia tahu kenapa lelaki itu bersikap seperti itu. Ya, mau bagaimana lagi, itu semua memang salahnya dari awal.

"Mou... Bakaki... Kenapa kau suram seperti itu? Ayo tertawalah", Hikaru yang tidak tahan lagi akhirnya membuka suara dan mencoba memancing bicara lelaki itu.

Daiki melirik takut ke arah Takaki. Melihat reaksinya. Dan benar dugaannya, Takaki hanya diam tidak peduli. Seakan dia tidak mendengar dan melihat apapun.

'Dia benar-benar marah', batin Daiki.

"Daiki", Yabu memanggil Daiki. Suaranya terdengar tegas.

Daiki beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Yabu, sebelum pergi dia sempat melirik ke arah Takaki sebentar.

"Apa yang terjadi hingga Takaki marah seperti itu?", tanya Yabu.

"Kenapa kau mengira aku yang membuatnya marah?", Daiki balik bertanya. Dia tidak menyangka Yabu bisa menebak dengan tepat.

"Itu sudah jelas kan? Kemarin dia masih tertawa seperti biasanya. Kalian berdua memiliki pekerjaan lain kan? Berarti yang bisa membuatnya marah hanya kau. Apa yang terjadi?"

Daiki mendesah. Tebakan Yabu tepat. Memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Dia akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi.

"Kemarin, kami berjanji untuk pulang bersama setelah selesai kerja. Sebelum pulang, aku dipanggil oleh salah satu staf jadi aku meminta Takaki untuk menunggu sebentar. Aku tidak menyangka kalau pembicaraan kami cukup lama. Ketika selesai, aku merasa sangat capek dan segera memesan taksi untuk pulang. Ketika aku sampai di rumah, aku baru sadar kalau Takaki menungguku"

"Kau pulang duluan meninggalkannya???"

"Umm...", gumam Daiki pelan sambil mengangguk.

"Berapa lama dia menunggumu?", tanya Yabu lagi.

"Manajer bilang dia menungguku sampai 3 jam lebih"

Yabu menepuk dahinya. "Tidak heran dia marah padamu"

"Dan tidak heran juga dia kelihatan mengantuk", Hikaru tiba-tiba ikut dalam pembicaraan sambil menunjuk ke arah Takaki yang tampak sedikit menguap. "Kali ini semua salahmu Daichan"

"Aku tahu. Aku berusaha meminta maaf padanya tadi pagi. Aku berniat menjemputnya sebagai tanda minta maaf, tapi aku kesiangan"

Yabu menepuk pundak Daiki. "Aku harap masalah kalian cepat selesai. Aku tidak ingin melihat Takaki seperti itu lebih lama lagi"

"Benar. Takaki yang biasanya jauh lebih lucu dan mengasyikkan daripada yang sekarang. Dia tampak menyeramkan. Seperti seorang preman sungguhan", tambah Hikaru.

Daiki hanya tampak pasrah. Dia memutuskan untuk segera meminta maaf pada Takaki atau dia akan mendapat omelan dari member yang lain karena membuat suasana suram.

"Oke.. Semuanya, tolong segera ke lokasi. Pemotretan akan segera dimulai", ucap salah seorang staff.

Semua member segera keluar tak terkecuali Takaki. Daiki segera menghampirinya.

"Ta- ah, Yuya... Maafkan aku. Kau marah karena aku kan?"

"Aku tidak marah kok", jawab Takaki tanpa melihat ke arah Daiki sedikitpun. Dia berjalan begitu saja melewati Daiki.

Daiki hanya mendesah. Matanya fokus ke punggung lelaki yang bertubuh lebih tinggi darinya itu. 'Kau masih marah padaku', batin Daiki. Dengan berat hati, dia mengikutinya dari belakang dan memikirkan cara lain untuk meredakan kemarahan lelaki berambut coklat itu.

---***---
Daiki benar-benar berniat meminta maaf. Dia terus mengikuti Takaki kemana-mana. Bagaikan anak ayam mengikuti induknya. Apapun Daiki lakukan untuk menarik perhatian Takaki.

"Kalau aku jadi Yuya, aku pasti tambah kesal", gumam Yamada yang sedikit terganggu melihat tingkah Daiki yang selalu mengikuti Takaki kemana-mana.

"Dan hebatnya, Yuyan bersikap seolah Daiki tidak ada. Bahkan ketika Daiki duduk di pangkuannya saja Yuyan tidak peduli", Chinen menunjuk ke arah Daiki yang kini sedang duduk di pangkuan Takaki sambil melihat ke arahnya.

"Apa benar mereka sedang bertengkar? Aku malah seperti melihat pasangan yang sedang bermesraan disini", ucap Yuto, dari nada suaranya dia tampak sedikit kesal melihat sikap dua orang itu yang dinilainya 'mesra'. Yah, orang yang tidak tahu situasi sebenarnya pasti mengira dua orang itu sedang bermesraan.

"Nee... Yuyan.... Maafkan aku", Daiki masih duduk di pangkuannya. "Yuyan..."

Takaki tetap diam. Dia mengedarkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak bergeming sekalipun Daiki memasang wajah imutnya dan bertingkah selucu mungkin di pangkuannya. Dia benar-benar marah.

"Ah, Inoo-chan setelah giliranmu aku ya?", tanya Takaki pada Inoo yang barusan selesai. Dia sama sekali tidak mempedulikan Daiki yang ada di pangkuannya.

"Etto... Bukan. Giliranmu setelah Hikaru", jawab Inoo sambil melihat ke arah Daiki yang kini mulai merengut. Inoo langsung kabur menjauh dan tidak ingin terlibat pertengkaran dua orang itu.

Daiki tidak tahan lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di pipi Takaki dan memaksa Takaki untuk melihat ke arahnya. Detik berikutnya, Daiki menempelkan bibirnya dan mencium Takaki dengan paksa. Awalnya Takaki menolak, tapi Daiki memaksa Takaki.

Semua member menahan nafasnya. Mereka langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura tidak melihat. Mereka sangat kaget melihat adegan itu. Yah, semuanya tahu kalau mereka kadang berciuman. Tapi mereka berdua selalu melakukan itu secara sembunyi-sembunyi, tidak pernah terang-terangan.

"Cukup"

Takaki akhirnya mengakhiri ciuman mereka. Daiki hanya menunduk diam. Matanya terlihat berair.

"Maafkan aku... Aku tidak akan meninggalkanmu lagi"
Takaki menghela nafas panjang. Kali ini untuk pertama kalinya dalam hari ini, dia melihat ke arah Daiki. Muncul perasaan tidak tega dari hatinya saat melihat Daiki yang hampir menangis.

"Sudah kubilang, aku tidak marah kok"

"Bohong. Kau menghindariku seharian ini"

"Aku tidak marah", ucap Takaki lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, menandakan kalau dia sudah kembali seperti biasanya.

"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi"

Dan setelah itu, Daiki mengakhiri permintaan maafnya dengan mencium Takaki sekali lagi. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Takaki membalas ciumannya. Daiki meletakkan tangannya di kepala Takaki, keduanya saling balas mencium.

"Hari ini kita pulang bareng ya?", ucap Daiki setelah mengakhiri ciumannya. Nafasnya masih sedikit memburu.

"Kau yakin? Apa kau tidak akan meninggalkanku lagi?"

"Tidak", Daiki merangkul Takaki. "Karena hari ini aku akan pulang ke tujuan yang sama denganmu"

"Kau yakin?"

"Umm... Besok kita ada waktu libur kan? Ayo kita lakukan seperti biasanya", Daiki mengedipkan matanya.

"Jangan salahkan aku kalau besok kau tidak bisa berjalan", bisik Takaki.

OMAKE

"Yu~yaaan....", Daiki yang baru saja membuka matanya langsung mencari Takaki.

"Apa?", jawab Takaki. Selembar handuk menutupi tubuhnya. Rupanya dia baru saja mandi.

"Kemarilah...", Daiki meminta Takaki untuk mendekat. Takaki menurutinya. Tangan Daiki kemudian melepas balutan handuk yang menutupi tubuh Takaki. Daiki tersenyum dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. "Bagaimana kalau part kedua?"

Dan tanpa pikir panjang, mereka berdua melakukannya lagi di pagi hari.

Senin, 22 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

Ten Knights sekuel versi TakaDai...

Chapter 4 [Terakhir]

Daiki dan Yuya segera membereskan barang-barang mereka untuk kepindahan mereka. atau lebih tepatnya kembali ke tempat mereka semula. Mereka memutuskan untuk kembali ke kota untuk menemui master. Semakin cepat mereka membicarakan masalah ini pada master akan semakin baik. Kalau ternyata Daiya dan Yuki adalah ksatria keturunan darah murni, maka akan lebih baik kalau mereka segera mendapatkan perlindungan.

“Kita mau kemana mama?”

Daiki sedikit terkejut saat mendapati Yuki berdiri di belakangnya. Daiki melipat baju Yuki dan memasukkannya ke dalam tas.

“Kita akan ke Tokyo sayang. Ke tempat asal mama dan papa”

“Kenapa pindah? Yuki suka tinggal disini”, gumam Yuki pelan. “Jangan-jangan ini gara-gara Yuki tadi ya? Kenapa Yuki bisa begitu ma? Apa yang terjadi pada Yuki dan Daiya?”

Daiki menatap Yuki dengan bingung. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini pada anak perempuannya itu.

“Papa dan mama akan menjelaskannya nanti kalau kita sudah tiba di kota sayang...”, Yuya tiba-tiba masuk ke dalam kamar karena mendengar percakapan kecil keduanya. “Di kota, kita akan bertemu dengan orang yang lebih mengetahui tentang hal ini”

Yuki memandang papanya, “Papa dan mama juga punya kekuatan aneh seperti Yuki?”

Daiki dan Yuya saling berpandangan. Keduanya kemudian mengangguk secara bersamaan. “Iya benar. Kemampuan papa adalah nullification dan mama adalah poison”, jelas Yuya.

“Nullification? Poison?”, tanya Yuki tidak mengerti.

Daiki tersenyum. Dia menggendong Yuki. “Kita akan menjelaskan semuanya besok sayang. Lebih baik Yuki cepat tidur. Besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali”. Daiki membawa Yuki kembali ke kamarnya sedangkan Yuya masih melanjutkan mengemas barang-barang mereka.

Daiki meletakkan Yuki di sebelah Daiya yang tertidur. Daiki merapikan kembali selimut mereka dan menciumi mereka satu persatu sebelum pergi keluar kamar. “Selamat tidur sayang...”, ucap Daiki sebelum menutup pintu kamar tersebut.

“Mereka sudah tidur?”, tanya Yuya.

Daiki mengangguk. “Semua sudah beres?”, tanyanya.

“Sudah. Kita siap berangkat besok pagi. Anak-anak itu bagaimana?”, tanya Yuya khawatir.

“Oh... anak-anak yang beku tadi? Tenanglah. Aku menghipnotis mereka agar ingatan mereka tidak kembali dan melupakan semuanya”

“Darimana kau tahu teknik itu?”

“Hmm? Inoo pernah mengajariku. Untunglah aku masih ingat sedikit”

“Nah, ayo kita pergi tidur juga. Besok kita akan sibuk sekali”. Daiki dan Yuya kembali menuju ke kamar mereka. bersiap untuk kepindahan mereka esok hari.

---***---
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap. Yuki membantu Daiya yang masih sedikit mengantuk. Daiki dan Yuya sibuk memindahkan barang-barang mereka ke dalam mobil peninggalan Keiko-san. Setelah semuanya siap, Daiya dan Yuki masuk ke dalam mobil menunggu kedua orangtua mereka.

“Akhirnya kita meninggalkan tempat ini juga”, ucap Yuya sebelum mengunci pintu rumah itu.

“Ya.. tidak terasa sudah 10 tahun kita tinggal disini. Aku lumayan bahagia saat tinggal disini”, Daiki mengenang saat-saat mereka tinggal di rumah ini.

“Kita sudah melarikan diri selama 10 tahun, sudah saatnya kita kembali”. Yuya mengunci pintu rumah itu. “Terima kasih untuk segalanya”. Yuya membungkukkan diri di depan rumah itu. Daiki mengikutinya.

“Papa! Mama! Ayo cepat!”, seru Daiya tidak sabar dari dalam mobil. Daiki dan Yuya segera masuk ke dalam mobil. Yuya menyalakan mesin dan mobil mulai melaju meninggalkan rumah Keiko-san yang sudah mereka tinggali selama 10 tahun.

Mobil kini mulai melaju meninggalkan desa kecil yang mereka tinggal selama 10 tahun. Daiki melihat desa yang kini tampak mengecil dari spion kaca mobil. Kenangannya saat tinggal disana berputar kembali dalam ingatannya. Kini mereka benar-benar harus kembali ke kota. Ke tempat asal mereka.
Daiya terus saja mengoceh. Berkali-kali dia menanyakan apa yang dilihatnya. Ini memang pertama kalinya Daiya dan Yuki pergi keluar desa. Yuki dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan adiknya yang penuh rasa ingin tahu itu. sesekali Daiki dan Yuya ikut menjawab pertanyaan Daiya bila Yuki tidak mengetahui jawabannya.

Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, mereka kini telah tiba di kota Tokyo. Suasana hiruk pikuk kota itu sama sekali tidak berubah. Daiya tidak bisa menutup mulutnya saat dia takjub melihat pemandangan kota yang ramai.

“Papa, papa, itu kan papa ya?”, tunjuk Daiya ke arah sebuah papan reklame.

Yuya yang sedang menyetir langsung melihat ke arah papan tersebut. Daiki tampak sangat terkejut melihat papan reklame tersebut. Apalagi Yuya. Selama mereka berdua menghilang, Yuya sama sekali tidak melakukan kegiatan modelingnya. Bagaimana bisa ada fotonya yang terpajang disana?

“Ah, ini pasti perbuatan Chii”, gumam Daiki.

“Benar juga, Chii memiliki kemampuan untuk meniru seseorang kan? Tapi, kenapa dia menyamar menjadi aku? Buat apa?”, tanya Yuya tidak mengerti.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kalau kita bertemu lagi dengannya, kita bisa menanyakannya”, Daiki menoleh ke suatu tempat. “Yuya, bisa kau mampir dulu ke suatu tempat?”

“Kemana?”, tanya Yuya.

“Rumah Sakit. Aku ingin memeriksa kondisi Daiya dan Yuki. Daiya sedikit demam kemarin. Aku juga ingin memastikan kalau tubuh Yuki tidak apa-apa”

“Oh baiklah. Kita akan mampir kesana dulu sebelum bertemu master”, Yuya lalu memutar setir kemudi mobil menuju ke arah Rumah Sakit besar.

Sesampainya disana, mereka langsung memeriksakan kondisi Daiya dan Yuki. Untunglah dokter yang memeriksa mereka mengatakan kalau kondisi mereka baik-baik saja walaupun mereka sedikit lemah. Daiki menghela nafas lega, kemampuan khusus yang bangkit memang menghabiskan tenaga, tapi tampaknya Daiya dan Yuki masih dalam kondisi yang baik.

Yuki dan Daiya kini menunggu dengan tenang di lobi rumah sakit sambil menunggu kedua orangtua mereka yang sibuk mengurus administrasi. Yuki yang merasa haus lalu mengajak Daiya pergi membeli minuman. Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju mesin penjual minuman.

“Ayo Daiya, mama sudah meminta kita kembali”, ucap Yuki saat melihat Daiki melambaikan tangannya.

Yuki lalu berjalan di depan dan Daiya mengikutinya dari belakang. Perhatian Daiya kini telah teralihkan oleh sesuatu. Daiya berhenti di sebuah toko mainan yang ada di dalam rumah sakit. Saking asyiknya Daiya melihat mainan itu, Daiya tidak sadar kalau Yuki telah jauh meninggalkan dirinya.

“Kakak... Aku mau ini”, tunjuk Daiya pada sebuah mainan robot. “Kakak?”, Daiya menoleh dan mendapati Yuki tidak ada di sebelahnya. Daiya kini sadar kalau dia telah terpisah dari kakaknya. “Kakak?”

Daiya mulai berjalan mengelilingi rumah sakit. Dia terus mencari sosok Yuki dan kedua orangtuanya. Saking asyiknya Daiya berjalan, dia tidak sadar menabrak seseorang.

 “Ah maaf, kau tidak apa-apa dik?”, seorang lelaki berjas putih langsung berjongkok untuk memeriksa keadaan Daiya.

“Aku tidak apa-apa!”, jawab anak itu. Jawabannya terdengar tegas.

“Oh begitu. Benarkah tidak ada yang sakit?”, tanya dokter itu memastikan sekali lagi.

“Iya! Kalau hanya segini, aku masih bisa tahan. Karena Daiya adalah anak laki-laki, Daiya harus kuat. Daiya tidak boleh cengeng. Itu kata papa”, kata Daiya mantap.

“Namamu Daiya? Hebat. Daiya anak pintar”, kata dokter itu sambil mengusap kepala Daiya. “Kau sendirian?”

Daiya menggelengkan kepalanya, “Tadi Daiya bareng dengan kakak, terus kami pisah. Daiya sekarang lagi nyari kakak”.

“Oh ya, siapa nama kakakmu? Ayo kita cari bersama-sama”, tawar dokter itu.

“Yuki. Nama kakakku, Yuki. Kakak Daiya sangat cantik”.

“Daiya!”, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang mendekat ke arah mereka. “Kau kemana saja? kucari dari tadi”, anak perempuan itu langsung menggandeng tangan Daiya.

“Tadi Daiya tersesat, terus ketemu ama dokter ini. Dokter ini juga mau bantu Daiya nyari kakak, tapi untung kakak sudah ketemu”, jawab Daiya. Mukanya terlihat sangat bahagia saat melihat kakaknya sudah berada di depannya. Wajahnya tampak sangat polos dan imut.

Anak perempuan itu kemudian melihat ke arah dokter laki-laki itu dan membungkukkan badannya dengan sopan, “Terima kasih sudah menjaga adikku dokter”.

“Sama-sama”, balas dokter itu. Dokter itu menoleh ke arah Daiya, “Syukurlah kau bisa bertemu kakakmu. Lain kali hati-hati ya”.

“Nah Daiya, ayo kita pergi, mama dan papa sudah menunggu diluar”, ucap Yuki, anak perempuan itu. “Jangan lupa berterima kasih pada dokter”.

“Iya... Terima kasih dokter!”, Daiya melambaikan tangannya lagi ke arah dokter muda itu. dokter itu tersenyum sambil membalas lambaian tangan Daiya.

Dokter laki-laki itu terus mengamati Daiya dan Yuki yang berjalan menjauh. “Kedua anak itu... mereka mirip sekali dengan Yuya dan Daichan. Bagaimana keadaan mereka berdua ya?”, ucap dokter itu sambil menerawang ke arah luar jendela.

---***---
“Mama! Papa!”, Daiya langsung berlari memeluk Daiki dan Yuya yang sudah menunggu Daiya dengan cemas. Daiki dan Yuya menghela nafas lega.

“Ayo pergi”, ajak Yuya. Mereka berempat pun masuk kembali ke dalam mobil. Dengan santai, Yuya mengemudikan mobilnya ke arah markas.

“Kita mau kemana papa?”, tanya Daiya.

“Kita akan menemui sang master”, jawab Daiki.

“Master? Siapa itu?”, tanya Yuki.

“Dia adalah guru mama dan papa. Master ini jugalah yang akan menjelaskan mengenai kemampuan aneh yang kalian miliki”, jawab Daiki singkat.

Yuya menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung besar di tengah kota. Daiya dan Yuki menatap gedung itu dengan takjub. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat sebuah gedung yang besar dan tinggi. Di desa sebelumnya, tidak ada bangunan yang seperti ini.

“Untunglah tempat ini tidak banyak berubah”, ucap Yuya sambil melihat markas yang sudah lama tidak mereka kunjungi.

“Benar. Tapi, ada sedikit perubahan di sekitar sini”, ucap Daiki sambil melihat beberapa bagian gedung yang tampak sedikit berubah.
Daiki dan Yuya menggandeng tangan Yuki dan Daiya. Mereka berempat pun masuk ke dalam.

“Selamat datang kembali, Takaki-san, Arioka-san”, seorang cewek dengan sopannya menyambut Yuya dan Daiki di depan pintu.

“Senang bertemu denganmu lagi, Naomi”, balas Daiki sambil tersenyum. “Kau sepertinya tidak terlalu terkejut dengan kedatangan kami, apa master sudah tahu?”

Cewek bernama Naomi itu tersenyum. “Benar. Master sudah memberitahu saya kalau kalian berdua akan kemari. master sudah menunggu kedatangan anda. Tapi, saya sedikit terkejut melihat dua malaikat kecil itu”, ucap Naomi sambil melihat ke arah Daiya dan Yuki.

“Ah, ini anak kami. Yang perempuan, namanya Yuki. Yang laki-laki namanya Daiya. Ayo kalian berdua beri salam”, ucap Daiki. Seketika itu juga Daiya dan Yuki langsung membungkuk untuk memberi salam.

“Anak yang manis”, balas Naomi.

“Kalau begitu kami menuju ke master dulu ya... sampai nanti Naomi”

Mereka berempat langsung masuk ke dalam lift. Yuya langsung memencet tombol lantai tempat master berada. Yuya dan Daiki saling bertatapan. Bagaimana bisa master mengetahui tentang mereka. Padahal sebelumnya mereka sama sekali tidak memberi kabar mengenai kedatangan mereka.
Daiki dan Yuya melangkah ke sebuah ruangan yang sudah lama tidak mereka masuki. Yuya membuka pintu ruangan itu dengan gugup. Begitu terbuka, sosok laki-laki tua menyambut mereka dengan senyum. Daiki dan Yuya spontan membungkukkan badan mereka dengan hormat.

“Selamat datang kembali Arioka dan Takaki”, sapa master. “Dan, salam kenal untuk kalian anak-anak manis”, ucap master sambil melihat ke arah Daiya dan Yuki.

Master bangkit dari kursinya dan menghampiri Daiya dan Yuki. “Ini anak-anak kalian?”. Daiki dan Yuya mengangguk bersamaan. Master berjongkok di hadapan Daiya dan Yuki. “Namaku Johnny Kitagawa. Papa dan mamamu biasa memanggil paman ini master. Siapa nama kalian?”

“Namaku Daiya”, jawab Daiya mantap.

“Yuki”, sahut Yuki.

“Daiya dan Yuki ya... kalian mirip sekali dengan orangtua kalian”, master menggenggam kedua tangan Daiya dan Yuki. “Ah, kalian punya kemampuan khusus ya? Berarti kalian juga ksatria ya?”

Daiya dan Yuki hanya menatap master dengan heran. Sedangkan Daiki dan Yuya hanya saling bertatapan saja. Bukan hal baru bagi mereka kalau master bisa mengetahui seseorang memiliki kemampuan khusus.

“Aku mengerti sekarang kenapa kalian berdua kembali kemari setelah sekian lama kalian menghilang”, ucap master sambil menatap ke arah Daiki dan Yuya. “Untunglah kalian kembali kemari. Aku sudah berencana akan mengumpulkan kalian semua. Ada hal penting yang ingin kuberitahukan pada kalian semua”

---***---

Di suatu tempat yang jauh, di negara asing. Seorang pemuda tampak berdiri menikmati udara sejuk di negara itu. Dengan berhati-hati, pemuda itu berjalan seraya dibantu oleh tongkat yang ada di tangannya. Tidak lama, seorang lelaki tanggung mendekati pemuda itu sambil menyulut rokok.

“Keito. Ayo pergi”, ucap Jin seraya mengangkut tas milik pemuda itu.

“Eh, kemana?”, tanya Keito sambil melihat ke arah Jin.

“Si tua itu mengirimiku pesan. Dia meminta kita semua kembali”

---***---
Di sebuah desa. Seorang pemuda tampak asyik merekam pemandangan di hadapannya dengan sebuah kamera di tangannya. Kegiatannya itu terganggu saat HP yang ada di sakunya bergetar. Dengan sedikit kesal, Yuto mengambil HP itu dari sakunya. Pemuda itu tampak sedikit terkejut saat membaca isi pesan di Hpnya.

“Baiklah. Aku akan segera kembali”, pemuda itu lalu membereskan peralatannya dan kembali menuju ke markas.

---***---
Di sebuah desa kecil di daerah timur. Tepatnya di sebuah kuil. Tampak ada sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang asyik bermain disana. Yang perempuan tampak sangat aktif. Sedangkan yang laki-laki hanya terdiam melihat kembarannya itu bermain.

Seorang perempuan tampak asyik melihat kedua anak kecil itu bermain. Tak lama, seorang laki-laki berjalan menghampiri mereka. di tangannya, terdapat sepucuk surat.

“Kei, siapkan barangmu. Kita akan kembali ke markas”

“Kenapa?”, tanya Inoo. Yabu lalu menyerahkan surat yang ada di tangannya ke Inoo. Inoo segera membaca isi surat tersebut. Dia kemudian mengerti kenapa Yabu meminta mereka untuk kembali ke markas.

“Keita! Keiko!”, panggil Inoo. Kedua anak kembar itu lalu berlari menuju Inoo. “Kita akan pergi ke Tokyo. Ayo siap-siap!”

---***---
Di wilayah barat. Di sebuah rumah besar.

“Fuka. Kau sudah bangun?”, tanya Hikaru pada pemuda yang sedang duduk di tempat tidurnya.

“Ya”, Fuka membuka album foto yang ada di tangannya.

“Aku akan kembali ke Tokyo. Master memintaku untuk datang kesana. Kau mau ikut?”, tanya Hika.

“Ikut. Aku juga ingin menanyakan soal kakak padanya”, jawab Fuka.

---***---
“Aku pulang!”, seru Yamada saat masuk ke dalam rumah.

“Tadaima!!!”, Yuri langsung berlari dan memeluk Yama tanpa mempedulikan perutnya yang membesar.

“Yuri... sudah kubilang jangan berlari seperti itu. Bahaya buat janinmu”, Yamada berusah mengingatkan kembali Yuri yang kini sedang mengandung anak pertama mereka.

“Ehehehe... Aku kangen padamu sih”, ucap Yuri sambil menjulurkan lidahnya. Yamada hanya menghela nafas melihat tingkah istrinya itu. “Oh ya, aku tadi dapat telepon dari Aru, katanya, master meminta kita untuk berkumpul di markas lusa”

“Kumpul? Kenapa?”, tanya Yama sambil menggantungkan jaketnya.

“Entahlah. Aru tidak memberitahuku. Waktu kita kumpul nanti kan kita juga tahu sendiri”

---***---
2 hari kemudian. Di markas.

“Kami datang pak tua!”, ucap Jin sambil membuka pintu dengan paksa.

“Jin... tidak bisakah kau membuka pintu dengan pelan?”, keluh Keito yang berjalan di belakangnya.

“Ah... Jin seperti biasa ya... tidak berubah sama sekali”, ucap Yuto sambil asyik mengutak-atik kamera yang dipegangnya.

“Paman Jin!!!”, salah satu anak kembar yang duduk di pangkuan Kei langsung berlari ke arah Jin.

“Keiko! Hiyaa... kau semakin cantik saja sekarang”, Jin langsung mengangkat anak perempuan itu dan menggendongnya. “Keita, ayo kemari”, Jin mengulurkan tangannya ke arah anak laki-laki yang tertegun melihat saudara kembarnya. Anak laki-laki itu menggeleng pelan dan menyembunyikan wajahnya di dada Kei.

“Keita ini pemalu. Beda sekali dengan Keiko, saudara kembarnya. Difoto saja dia tidak mau”, sahut Yabu.

“Lama tidak bertemu ya kalian semua...”, ucap Keito sambil melihat ke seluruh ruangan. “Tampaknya kami berdua yang terakhir datang ya...”, ucapnya saat mengetahui kalau Yabu, Inoo, Hika, Yuto, Yama, dan Chii sudah berada di sana semua.

“Keito... Kau bisa melihat?”, tanya Yuto.

“Sayangnya, tidak. Tapi, aku bisa menggunakan kemampuanku. Aku tidak bisa menjelaskannya, yah seperti indra keenam begitulah... Gambar yang kulihat juga tidak terlalu berwarna, tapi setidaknya aku bisa melihat kok”, jawab Keito.

Yuto langsung menepuk pundak Keito. Saking semangatnya, Keito hampir terjatuh. “Itu berita bagus! Aku senang kau bisa melihat lagi”

“Nah, pak tua. Apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Jin sambil menyandarkan dirinya di sofa.

“Aku baru mulai bicara kalau semuanya sudah lengkap”, jawab master.

“Eh, bukankah kita semua sudah ada disini master?”, ucap Yamada tidak mengerti. Dia melihat lagi ke sekeliling ruangan, Yabu, Inoo, Yamada, Hikaru, Yuto, dan Keito, semua ksatria sudah berkumpul. Siapa lagi yang akan datang?

“Kau pikun pak Tua? Bukankah kita semua sudah lengkap?”, Jin tiba-tiba berdiri. Dia merasakan aura yang sudah tidak asing lagi. “Mustahil...”, ucapnya sambil melihat ke arah master.

“Ya, mereka sudah kembali”, ucap master sambil tersenyum lebar.

“Mereka? Siapa...”, ucapan Yama terpotong saat mendengar suara pintu terbuka. Yama langsung membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya. Semua yang ada di ruangan itu juga menunjukkan ekspresi yang sama. Kehadiran 2 orang yang tidak terduga ini sangat mengejutkan bagi mereka semua.

“Apa kabar semuanya”, ucap Yuya.

“Kami pulang”, tambah Daiki.

“DAICHAN!!!”, Chii langsung berlari memeluk Daiki. Rasa kangennya meluap saat melihat sepupunya yang sudah lama tidak dia temui.

“YUYA!” Yuto dan Hika langsung berlari ke arah Yuya. Mereka berdua memukul Yuya ringan. Yuya terus merintih kesakitan tapi Yuto dan Hika tidak peduli. Mereka terus memukuli Yuya.

“Kalian kemana saja 10 tahun ini?”, tanya Chinen.

“Syukurlah kalau kalian sudah kembali. kupikir kalian berdua sudah mati saat itu”, ucap Yuto.

“Ah! Itu paman kamera yang ada di taman waktu itu!”. Daiya tiba-tiba masuk dan menunjuk ke arah Yuto.

“Eh? Kau anak kecil yang ada di taman itu ya? Yang sedang bermain bola itu?”, ucap Yuto yang tampak terkejut dengan kemunculan Daiya.
Daiya mengangguk. Dia kemudian melihat ke arah Yama yang sedang berdiri sambil mengamatinya. “Ah! Pak dokter! Kak Yuki! Itu pak dokter yang waktu itu”, Daiya menarik Yuki yang ada di belakangnya.

Yama tampak sangat terkejut melihat dua bocah yang ditemuinya 2 hari lalu di Rumah Sakit. “Eh, kalian berdua anak yang waktu itu ya?”
Daiya dan Yuki mengangguk. Daiki dan Yuya hanya terbengong-bengong melihat kedua anaknya sudah mengenali Yama dan Yuto.

“Daiya, kau sudah pernah bertemu dengan paman-paman ini? kapan? Dimana?”, tanya Daiki.

“Aku ketemu paman ini di desa. Waktu Daiya main, tiba-tiba paman ini memotret Daiya”, jawab Daiya.

“Yuto. Kau seperti penculik anak-anak saja”, gumam Keito.

“Habisnya dia lucu sih...”, ucap Yuto membela diri.

“Kalau paman ini”, Daiya menunjuk ke arah Yama. “Daiya dan kakak bertemu dengan paman ini di Rumah Sakit”

“Oh, jadi sekarang kau bekerja menjadi dokter ya?”, gumam Yuya.

“Yah, semenjak kekuatanku hilang, aku memutuskan untuk menjadi dokter demi menolong orang lain”, jawab Yama.

“Eh? Kemampuanmu hilang?”, tanya Yuya.

“Iyup. Semenjak pertarungan itu, kemampuanku sama sekali hilang. Aku hanyalah manusia biasa saja sekarang”, jawab Yamada.

Daiya kemudian melihat ke arah dua anak kembar cilik yang juga sedang mengamatinya. Dengan perlahan dia mendekati kedua anak kembar itu. “Hai, namaku Daiya. Nama kalian siapa?”, Daiya mengulurkan tangannya untuk mengajak kedua anak itu berkenalan.

Salah satu dari anak kembar itu membalas uluran tangan Daiya. “Aku Keiko, dia adikku, namanya Keita”, ucap anak perempuan itu.
Daiki mengamati kedua anak kembar itu. “Ini anak kalian?”, tanya Daiki kepada Yabu dan Inoo. Mereka serempak mengangguk.

“Kakak..”

Daiki tampak terkejut saat melihat seseorang yang memanggilnya ‘kakak’. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar panggilan tersebut. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca saat melihat sosok Fuka berdiri di hadapannya.

“Fuka!”. Daiki langsung memeluk saudaranya itu dengan erat. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau dia bisa melihat adiknya lagi untuk yang kedua kalinya. Apalagi adiknya kini telah memandanginya dengan pandangan yang sama seperti waktu kecil dulu. Suaranya pun terdengar penuh dengan kasih sayang, tidak penuh kebencian seperti pada saat dia masih menjadi salah satu petinggi maou, sang Jack.

Fuka membalas pelukan kakaknya dengan erat. Dia seakan tidak ingin melepaskan kakaknya. Rasa penyesalan dan gembira memenuhi dadanya. Menyesal karena dulu pernah berniat akan membunuh kakaknya, satu-satunya keluarganya. Gembira karena bisa melihat kakaknya lagi setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Dia merasa sangat lega saat melihat kakaknya itu masih melihatnya sebagai adik.

“Sudah. Sudah. Sudah cukup reuninya”, ucapan Jin membuyarkan acara pertemuan kembali yang mengharukan sekaligus membahagiakan itu. Yuya memberikan pandangan kesal pada Jin, tapi Jin tidak mempedulikannya. “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan pak tua? Jangan bilang kau memanggil kami kembali kemari hanya karena ini”

Master yang duduk dengan tenang di kursinya mulai angkat bicara. “Seperti yang kalian tahu, saat ini, pasangan Yabu-Inoo, serta Takaki-Arioka sudah memiliki anak masing-masing. Pasangan Yamada-Chinen juga akan segera menyusul. Kalian tahu apa artinya kan? Kalau ada dua orang ksatria yang menikah dan memiliki anak, anak tersebut memiliki beberapa kemungkinan”

“Anak itu bisa menjadi ksatria keturunan darah murni, ksatria biasa, atau bahkan tidak menjadi seorang ksatria”, sahut Yuto.

“Kalau menjadi ksatria biasa atau bukan seorang ksatria tidak akan jadi masalah”, sahut Jin. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. “yang menjadi masalah adalah kalau anak yang lahir adalah keturunan ksatria murni. Perang yang terjadi 10 tahun lalu bisa terulang kembali”

“Eh? Kok bisa? Bukankah sang Raja Kegelapan telah dikurung selamanya bersama dengan sang necromancer? Seharusnya dia bukan lagi menjadi ancaman”, sahut Yuri.

“Tidak. Ada kemungkinan kalau itu akan terjadi lagi”, bantah Keito. “Selama melakukan perjalanan dengan Jin, aku bertemu dengan beberapa makhluk kegelapan. Beberapa di antara mereka adalah makhluk kegelapan tingkat menengah. Masih ada kemungkinan kalau mereka akan menjadi maou dan kemungkinan terburuknya mereka menjadi salah satu petinggi maou. Dan mereka akan bisa membuka segel itu lagi, seperti petinggi maou yang dulu”

“Jadi... selama semua makhluk kegelapan di bumi ini masih ada, ancaman itu akan selalu menghantui kita?”, keluh Yamada.

“Benar. Saat ini, dari generasi ksatria yang baru, yang benar-benar terbukti menjadi seorang ksatria adalah anak-anak dari Takaki. Tapi tenang saja, mereka bukan ksatria darah murni, tapi karena kekuatan mereka baru bangkit, jadi mereka belum bisa mengontrol dengan baik. Selanjutnya adalah anak-anak dari Yabu dan Yamada, masih belum jelas apakah mereka seorang ksatria juga atau bukan”, jelas master.

“Padahal aku berharap kalau mereka bukan ksatria seperti kami”, gumam Daiki sedih.

“Untuk sementara, aku akan meminta kalian untuk tinggal di kota ini seperti dulu. Tidak perlu tinggal bersama lagi juga tidak apa-apa. Yang penting kalian tetap disini untuk standby bila ada apa-apa. Untuk Daiya dan Yuki, aku akan melatih mereka berdua”

Begitulah, mulai saat ini semua ksatria kembali berkumpul seperti dulu, dan melakukan pembagian tugasnya seperti dulu. Yuya kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai model. Yabu dan Hikaru kembali melanjutkan pekerjaan sebagai pencipta lagu. Yuto menjadi asisten fotografer. Sedangkan Daiki dan Inoo terkadang membantu di agensi kalau mereka memiliki waktu luang. Meskipun mereka menjalani hidup seperti biasa, tapi mereka tidak melupakan tugas mereka sebagai seorang ksatria. Mereka terus memasang sikap waspada, sewaktu-waktu bila ada serangan mendadak dari para makhluk kegelapan, mereka bisa menghadapinya.

END

Selasa, 16 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

TakaDai sekuel version

Chapter 3


Keiko-san menuntun mereka ke sebuah kamar. Kamar itu sangat rapi. Dalam ruangan itu penuh dengan barang anak perempuan. Yuya dan Daiki bisa menebak kalau kamar ini adalah bekas kamar anak perempuan Keiko-san. Di atas meja rias yang ada di dalam kamar, ada sebuah pigura terpajang disana. Sama dengan yang ada di ruang tamu, foto ini merupakan foto Keiko-san dengan anak perempuannya.

"Malam ini kalian menginap saja disini. Kuharap kalian bisa nyaman. Maaf kalau tempat tidurnya mungkin sedikit sempit", ucap Keiko-san.

"Eh?! Tunggu dulu! Kita berdua tidur sekamar??", Daiki terbelalak kaget. Keiko-san langsung melihat Daiki dengan ekspresi bingung. Yuya langsung merangkul Daiki dan membekap mulutnya dengan tangannya. Daiki berontak berusaha melepaskan tangan Yuya yang membekap mulutnya.

"Diam! Keiko-san mengira kalau kita adalah pasangan yang sudah menikah. Jadi wajar saja kalau kita tidur sekamar kan?", bisik Yuya.

"Tapi kita kan memang belum menikah!!!", balas Daiki sambil berbisik.

"Ayolah Daichan... Ini cuma semalam kok. Bersabarlah...", pinta Yuya.

Daiki melihat Yuya dengan tajam. Akhirnya dia mengalah. "Baiklah. Malam ini kita akan tidur bersama. Tapi...". Daiki melotot ke arah Yuya. "Awas kalau kau berniat macam-macam", ancam Daiki. Yuya hanya menelan ludahnya dan mengangguk pasrah.

"Kalian kenapa? Kalian keberatan tidur disini?", tanya Keiko-san yang sedari tadi bingung dengan tingkah laku Yuya dan Daiki.

Spontan Yuya dan Daiki menggeleng secara bersamaan. Mereka kompak menunjukkan wajah tersenyum. Keiko-san menghela nafas lega karena Yuya dan Daiki tidak tampak keberatan untuk tinggal di kamar ini.

"Kalian berdua beristirahatlah dulu disini. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian. Kalau sudah siap, aku akan memanggil kalian".

"Terima kasih Keiko-san", balas Yuya. Dia menundukkan badannya untuk menunjukkan rasa terima kasih. Keiko-san menbalas Yuya dengan tersenyum dan segera keluar Dari kamar, meninggalkan Yuya dan Daiki berduaan di kamar.

"Haaah....", Yuya membaringkan badannya di kasur. Dia melepas semua rasa penat dan lelah yang dia rasakan akhir-akhir ini. Semenjak pertarungan dengan maou di tempat segel, mereka tidak pernah beristirahat dengan nyaman. Ini pertama kalinya mereka benar-benar bisa bersantai setelah sekian lama.

Berbeda dengan Yuya, Daiki Malah berjalan mengamati semua perabotan yang ada di dalam kamar itu. Terutama foto yang ada di atas meja. Daiki menatap lekat-lekat sosok perempuan yang ada disana.

"Ternyata dugaanku tidak salah. Itu benar dia", gumam Daiki sambil mengangguk mantap.

Yuya yang hampir tertidur langsung terbangun kembali mendengar ucapan Daiki, "Kenapa Daichan?".

"Perempuan ini...", Daiki menunjuk ke arah sosok perempuan yang ada di foto. "Ini roh perempuan yang tadi menuntun kita saat masuk ke dalam kota ini. Dia terus menuntun kita hingga kita bertemu dengan Keiko-san. Sesaat setelah kita bertemu dengan Keiko-san, roh ini hilang. Waktu itu aku sempat melihat kalau roh ini terlihat sangat sedih saat bertemu dengan Keiko-san, ternyata ini sebabnya...", jelas Daiki. Yuya mengamati sosok perempuan itu. Dia kemudian mengangguk mengerti. Yuya juga mengenali sosok perempuan itu sebagai sosok roh perempuan yang pernah menuntun mereka.

"Jadi, ini artinya kalau anak perempuan Keiko-san sudah meninggal?".

Daiki mengangguk. Ya, karena sudah menjadi roh, tentu saja orang itu sudah meninggal.

"Kasihan Keiko-san...", gumam Yuya.

Tiba-tiba Daiki dikejutkan dengan bayangan perempuan yang terpantul di kaca. Perempuan itu terlihat transparan. Daiki lebih terkejut lagi saat melihat wajah perempuan itu. Wajah perempuan yang sama dengan yang ada di foto. Perempuan itu melihat ke arah Daiki dengan wajah penuh kecemasan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Daiki.

"Kenapa dia ada disini?", tanya Yuya yang tampaknya juga ikut terkejut dan heran saat melihat roh perempuan itu. Daiki pun berjalan mendekati Yuya, mereka berdua duduk di atas tempat tidur sambil mengamati roh perempuan itu.

Roh itu membuka mulutnya. Mulutnya terus berkomat-kamit seakan mengatakan sesuatu, tapi Yuya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan roh itu. Yuya melirik ke arah Daiki. Berbeda dengannya, Daiki tampak serius melihat roh itu. Tampaknya dia bisa mendengar apa yang diucapkan roh itu.

"Oh begitu...", Daiki mengangguk mengerti.

"Apa yang dia bicarakan?", tanya Yuya.

"Eh?? Kau tidak bisa mendengarnya?".

Yuya menggeleng. "Aku tidak mendengar apa-apa. Aku bisa melihatnya, tapi aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang dia bicarakan".

"Eh iya ta?? Aku bisa mendengarnya dengan jelas kok. Kenapa ya??".

"Mungkin karena kau pernah dirasuki oleh sang sorcerer sehingga kau secara tidak langsung juga memiliki kemampuannya".

"Mungkin juga...", gumam Daiki.

"Terus dia bilang apa?", tanya Yuya yang masih penasaran.

"Ah, dia...", Daiki melirik sekilas ke arah roh itu. "Dia ingin kita tinggal disini bersama dengan Keiko-san. Dia ingin kita menemaninya menggantikan dia...".

"EhH?!!?!! Tinggal disini? apa maksudnya Daichan?", tanya Yuya yang masih tidak mengerti dengan permintaan yang diberikan oleh roh gadis itu.

PRANG!

Daiki dan Yuya langsung terperanjat kaget ketika mendengar sesuatu seperti barang pecah. Mereka berdua langsung keluar kamar dan menuju sumber suara. Mereka berada di dapur, tempat suara itu berasal. Mereka berdua terkejut ketika mendapati Keiko-san dalam keadaan tersungkur. Di dekatnya terdapat pecahan beberapa piring. Daiki langsung menghampiri Keiko-san. Daiki semakin terkejut ketika mendapati darah keluar dari mulut Keiko-san.

"Keiko-san! Keiko-san! Anda tidak apa-apa?", seru Daiki panik.

Yuya langsung membereskan pecahan piring yang berserakan agar Daiki dan Keiko-san tidak terluka gara-gara itu. Setelah Yuya berhasil menyingkirkan seluruh pecahan piring tersebut, Yuya dengan sigap membantu Daiki dan mengangkat Keiko-san dan membawanya ke sofa yang berada di ruang tamu.

"Keiko-san...", lirih Daiki. Keiko-san masih belum membuka matanya.

Roh gadis itu kembali muncul di hadapan Daiki dan Yuya. Raut wajah gadis itu tampak semakin sedih. Tangannya terjulur ke arah Keiko-san, roh itu ingin menyentuh wajah ibunya, tapi karena sosoknya yang transparan, roh itu tidak dapat merasakan sentuhannya. Melihat roh itu dan Keiko-san yang terbaring tidak sadarkan diri, Daiki langsung mengerti alasan permintaan roh itu untuk meminta mereka berdua tinggal disana bersama Keiko-san.

"Jadi ini alasanmu kenapa kau ingin kami tinggal disini?", tanya Daiki pada roh tersebut. Roh gadis itu mengangguk. Daiki menghela nafas panjang, "bisakah kau ceritakan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi? Penyakit apa yang diderita oleh Keiko-san, ibumu?".

Roh itu tampak menjelaskan apa yang terjadi pada Daiki. Yuya yang sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa, memutuskan untuk merawat Keiko sedangkan Daiki dengan serius mendengarkan cerita roh gadis itu. Yuya mengambil lap basah dari dapur dan mengelap darah yang ada di wajah Keiko-san. Yuya juga dengan hati-hati membersihkan tangan Keiko-san yang terkena simbahan darah.

"Jadi begitu rupanya", gumam Daiki setelah roh itu selesai bercerita. "Yuya, bisa kau kemari sebentar? Aku mau menjelaskan semuanya"

Yuya mengangguk dan mendekati Daiki. Daiki lalu mulai bercerita, "Roh gadis ini namanya Mika. Dia anak satu-satunya Keiko-san. Mika ini meninggal akibat kecelakaan. Dia belum bisa meninggalkan dunia ini karena dia tidak tenang meninggalkan Keiko-san sendirian. Sejak dulu, Keiko-san memiliki penyakit parah. Katanya, penyakit Keiko-san bertambah parah setelah Mika meninggal. Mika cemas dan takut kalau terjadi apa-apa pada Keiko-san, jadi dia meminta kita tinggal disini merawat Keiko-san"

Yuya mengangguk mengerti. Kini mereka berdua sudah mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Yuya menatap Keiko-san yang terbaring lemah. Muka Keiko-san tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya. Mereka berdua kini menyadari betapa kurus dan kecilnya tubuh Keiko-san ini.

"Apa yang akan kau lakukan Daichan?", Yuya menatap Daiki dengan serius.

"Aku...aku ingin tetap disini. Aku tidak tega meninggalkan Keiko-san sendirian dengan kondisi seperti ini", jawab Daiki pelan. "Kau sendiri bagaimana Yuya? Kau juga akan tetap disini kan?", Daiki menatap Yuya dengan penuh harap.

"Baiklah. Kurasa kita harus tetap tinggal disini dan menjaga Keiko-san. Keiko-san sudah menyelamatkan kita, dan roh gadis itu juga sudah membantu kita. Jadi, kurasa lebih baik kita membalas budi dengan merawat Keiko-san". Daiki tersenyum gembira mendengar ucapan Yuya. "Terlebih, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian kan?", ucap Yuya lagi.

Daiki langsung berlari memeluk Yuya dengan gembira. "Kau memang orang yang paling baik".

"Nghh....".

Yuya dan Daiki langsung mendekati Keiko-san yang tampaknya mulai sadar. Muka keduanya tampak sangat cemas. Keiko-san yang mulai sadar itu bisa melihat raut wajah Daiki dan Yuya. Dia tersenyum saat melihat ada dua wajah cemas menantinya.

"Keiko-san... Syukurlah anda sudah sadar", Daiki langsung memeluk Keiko-san, sedangkan Yuya menghela nafas lega.

"Kalian ini... kalian seperti melihat orang mati yang hidup kembali". Keiko-san terdiam sejenak dan melihat bekas darah yang menempel di bajunya. "Hah... jadi kalian sudah tahu ya?"

Daiki dan Yuya mengangguk secara bersamaan. Yuya langsung menyodorkan segelas air putih pada Keiko-san, sedangkan Daiki masih memegangi tangan Keiko-san dan melihatnya dengan cemas.

"Sudah berapa lama anda mengidap penyakit ini?", tanya Daiki.

Keiko-san terdiam sejenak. Dia menatap Daiki lekat-lekat dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Sejak aku masih muda, aku memiliki penyakit parah. Leukimia. Itu penyakit yang kuderita. Kupikir, aku tidak akan bisa bertahan hidup lama. Tapi, ternyata aku bisa menikah dan memiliki seorang anak. Itu suatu keajaiban untukku. Suamiku selalu mendukungku dan menyemangatiku tanpa henti. Anakku itu juga salah satu alasan aku bisa bertahan hidup. Tapi, tidak kusangka kalau mereka berdua meninggalkanku lebih dulu. Kini aku sendirian. Aku sangat senang begitu tahu kalian ada disini, tapi begitu memikirkan kalau kalian akan pergi, aku kembali merasa sedih"

Daiki dan Yuya terdiam. Yuya maju dan duduk di sebelah Keiko-san.
"Tenang saja Keiko-san, mulai hari ini Keiko-san tidak akan sendirian lagi. Kami berdua akan tinggal disini dan menemani Keiko-san. Tentu hal ini juga perlu persetujuan dari Keiko-san, bagaimana?"

Keiko-san membelalakkan matanya, dia melihat Yuya dan Daiki bergantian. "Benarkah? Benarkah kalian berdua akan menemaniku disini?".

Daiki menggenggam erat tangan Keiko-san. "Benar Keiko-san. Mika juga meminta kami untuk menemani Keiko-san"

"Mika? Mika anakku?", tanya Keiko-san. Daiki mengangguk. "Kalian kenal Mika? Bagaimana bisa?"

"Keiko-san, dalam perjalanan kami kemari, kami dituntun oleh banyak roh, salah satunya adalah roh Mika. Mika juga merasa tidak tenang meninggalkan Keiko-san sendirian hingga akhirnya dia meminta kami untuk menemani Keiko-san", jelas Daiki.

Keiko menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya perlahan menetes. "Terima kasih Mika, terima kasih. Daiki dan Yuya, kalian berdua memang sangat baik"

Daiki dan Yuya tersenyum mendengar ucapan Keiko. "Nah berarti mulai saat ini kami berdua akan tinggal disini bersama Keiko-san karena sepertinya Keiko-san tidak keberatan. Benar kan Keiko-san?", ucap Yuya sambil melirik sekilas ke arah Keiko. Keiko mengangguk.

"Kalau begitu, aku akan segera menyiapkan makanan", Keiko langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.

"Eh? Tidak usah Keiko-san, biar aku saja yang menyiapkannya", cegah Yuya.

"Tidak perlu. Kau disini saja. Badanku sudah enakan kok", Keiko bersikeras untuk pergi ke dapur. Yuya hanya bisa pasrah dan membiarkan Keiko pergi.

"Kau bisa tenang sekarang. Biarkan kami yang menjaga Keiko-san", ucap Daiki pada roh gadis itu. Roh itu memeluk Daiki. Roh itu juga melihat ke arah Yuya sekilas. Mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu. Tapi dari gerak bibirnya Yuya tahu kalau roh itu mengucapkan kata 'terima kasih'. Yuya membalas roh itu dengan senyuman. Setelah itu, roh itupun menghilang.

"Hei, kau tidak ingin mengabari master dan yang lain? Sudah berhari-hari kita menghilang. Kurasa mereka sedang mencari kita sekarang", ucap Daiki.

Yuya menggeleng. "Di rumah ini tidak ada telepon. HP juga tidak ada. Kurasa beberapa hari lagi aku akan mengirim surat untuk mereka. Untuk sementara, kita temani Keiko-san saja dulu"

Tidak berapa lama, Keiko memanggil mereka berdua. Mereka berdua menuju ke dapur. Di atas meja sudah tersedia berbagai macam makanan. Mereka bertiga kemudian menyantap makanan itu dengan lahap.

---***---

Tidak terasa, sudah beberapa hari Yuya dan Daiki tinggal bersama dengan Keiko-san. Mereka bertiga hidup bagaikan seperti sebuah keluarga. Yuya dan Daiki dengan penuh kasih sayang, memberikan perhatiannya kepada Keiko-san. Dengan telaten juga mereka berdua merawat Keiko-san.

Yuya merasa sangat lega dengan kehidupan mereka kini. Semenjak tinggal dengan Keiko-san, akhirnya dirinya dan Daiki bisa hidup dengan ‘normal’. Tidak ada lagi kegiatan membasmi makhluk kegelapan dan baginya, tidak ada lagi pekerjaan sebagai seorang model. Di desa ini, makhluk kegelapan yang muncul hanya sedikit. Hal ini dikarenakan pelindung yang dipasang oleh sang sorcerer menghalangi makhluk kegelapan muncul disini.

Memang, terkadang Yuya merindukan saat-saat dimana dia melakukan tugas sebagai seorang ksatria. Dia juga merindukan kegiatannya sebagai seorang model. Tapi bagi Yuya, dia merasa sangat senang bila Daiki bisa menjalani hidup seperti manusia biasa pada umumnya. Semenjak kecil, Daiki selalu berurusan dengan makhluk kegelapan, dan ini pertama kalinya Daiki bisa bebas dari makhluk kegelapan.

Tujuan Yuya mengajak Daiki menikah adalah agar Daiki bisa memiliki sebuah keluarga. Agar Daiki bisa terbebas sejenak dari tugasnya menjadi seorang ksatria. Kini, dengan tinggal bersama dengan Keiko-san, Daiki sudah bisa merasakan sebuah ‘keluarga’ yang diidamkan Daiki sejak kecil.

Yuya memutuskan tidak menghubungi master dan teman-temannya yang lain. Yuya ingin agar Daiki bisa hidup tenang untuk sementara tanpa menjalankan tugasnya sebagai seorang ksatria. Bila dia menghubungi master sekarang, pastilah mereka diminta segera kembali dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Yuya sudah menceritakan hal ini pada Daiki dan tampaknya Daiki setuju saja dengan keputusan Yuya. Walaupun awalnya Daiki merasa tidak enak kalau mereka menghilang begitu saja, tapi dalam hatinya dia juga ingin terbebas dari tugas ksatria. Mereka berdua akan menghubungi master kembali bila mereka sudah cukup puas dengan kehidupan ‘normal’ mereka dan mereka siap menjalani tugas mereka kembali sebagai seorang ksatria.

10 tahun kemudian...

Di sebuah padang rumput yang luas, terdapat seorang anak kecil laki-laki sedang asyik bermain bola disana. Usia anak itu mungkin sekitar 5 tahun. Dengan riang, anak itu menggelindingkan bolanya kesana kemari. Mukanya tampak selalu gembira saat melihat bola yang digenggamnya itu berhasil ditangkap dan dilemparkan kembali.

JPRET!

Suara lensa kamera yang berputar dan seberkas cahaya blitz kamera mengejutkan anak lelaki itu. gerakan anak itu langsung terhenti dan melihat seorang pria tinggi yang sedang mengarahkan kameranya ke arah anak laki-laki itu. pria tinggi itu langsung menurunkan kameranya dan tersenyum lembut ke arah anak laki-laki itu yang tampaknya sedikit ketakutan dengan kehadirannya.

“Paman siapa?”, tanya anak laki-laki itu. mukanya yang polos tampak sangat menggemaskan.

“Hmm... paman sedang memotret di sekitar sini. Lalu paman melihatmu sedang bermain bola dengan asyiknya. Tanpa sadar, paman ingin memotretmu. Kau takut pada paman?”, pria itu berjalan mendekat ke arah anak laki-laki itu, tapi anak itu berjalan menjauhi pria itu.

“Papa bilang, Daiya tidak boleh berbicara dengan orang asing”, jawab anak laki-laki itu polos.

Pria itu tersenyum mendengar jawaban anak laki-laki itu. “Namamu Daiya? Kau anak pintar”. Pria itu terdiam mengamati wajah anak laki-laki kecil itu dan mengamatinya dengan seksama.

“Kenapa paman?”, tanya anak itu penasaran.

Pria itu sedikit terkejut dengan perkataan anak kecil itu. “Tidak. wajahmu mengingatkan paman dengan teman paman. Wajahmu sangat mirip dengannya. Paman sudah lama tidak bertemu dengan mereka, entah bagaimana keadaan mereka sekarang dan dimana mereka sekarang, paman sama sekali tidak tahu”. Wajah pria itu sedikit murung sambil mengingat-ingat wajah yang sudah lama tidak ditemuinya.

“Daiya! Kamu dimana? Ayo pulang!”

Terdengar suara anak perempuan dari kejauhan. Anak laki-laki yang bernama Daiya itu langsung mengambil bolanya dan berlari menuju asal suara yang memanggilnya. Beberapa langkah kemudian, anak itu berhenti dan menoleh kembali ke arah pria tinggi itu.

“Da dah paman....”

Anak laki-laki itu melambaikan tangannya ke arah pria tinggi itu sambil tersenyum lebar. Tidak lama kemudian, anak itu langsung membalikkan badannya dan melanjutkan lari kecilnya.

“Ahahaha... anak yang lucu. Dia bilang takut padaku, tapi dia melambaikan tangan padaku dengan riangnya”, pria tinggi itu tertawa kecil melihat tingkah anak kecil itu.

Tidak lama kemudian, HP pria itu bergetar. Pria itu mengambil HP tersebut dari sakunya. Dia tersenyum sekilas saat melihat nama yang muncul di layar Hpnya. Pria itu menekan tombol terima panggilan dan mulai menjawab panggilan telepon dari teman lamanya itu.

“Moshi-moshi, Yamachan”, jawab pria itu riang sambil berjalan menjauhi padang rumput itu.

---***---
“Kak Yuki!!!”. Daiya melambaikan tangannya dengan riang saat melihat anak perempuan kecil berjalan mendekat ke arahnya. Anak perempuan itu tersenyum riang saat melihat adiknya berlari kecil menghampirinya.

“Ah, akhirnya ketemu. Kau darimana saja? habis main di padang rumput?”, tanya anak perempuan itu sambil melihat bola yang dipegang adiknya itu.
“Iya. Daiya suka main disana. Disana luas”, jawab Daiya riang.

Yuki mengelus-elus rambut adiknya itu dengan gemas saat melihat wajah adiknya yang lucu. “Tapi hati-hati ya. Jangan main jauh-jauh”. Daiya mengangguk. “Ah iya, mama menyuruh kita cepat pulang karena hari ini mama akan mengajak kita mengunjungi makam Keiko-san”.

Kedua anak kecil itu berjalan riang menuju rumah. Daiki sudah menanti kedua anak kecil itu di depan pintu. Di tangannya terdapat sebuah buket bunga besar. Daiki tersenyum lega saat melihat kedua anak kecil itu kembali ke rumah dengan senyum mengembang di wajah mereka.

“Kami pulang mama!!!”. Kedua anak itu menyapa Daiki dengan riang. Daiki menyambut kedatangan keduanya dengan memeluk mereka secara bersamaan.

“Ayo pergi. Papa sudah menunggu kita disana”

Kedua anak itu mengangguk. Masing-masing dari mereka menggandeng tangan Daiki. Sepanjang perjalanan, Yuki dan Daiya bercerita macam-macam. Daiki mendengarkan ocehan kedua anaknya sambil tersenyum. Tak lama, mereka kini telah tiba di sebuah pemakaman. Daiki melambaikan tangannya pada Yuya yang sudah menanti mereka.

“Papa!!!!!”

Daiya langsung melepaskan pegangan tangannya dari Daiki dan berlari menuju Yuya. Yuya langsung memeluk Daiya dengan erat dan menggendongnya. Daiya ini memang sangat dekat dengan papanya. Sifat Daiya mirip dengan Yuya, tapi wajahnya lebih mirip dengan Daiki. Berbeda dengan Yuki yang memiliki wajah mirip dengan Yuya tapi sifatnya mirip dengan Daiki.

Mereka sekeluarga kini berkumpul di depan makam Keiko-san. Di sebelah makam Keiko-san, juga terdapat makam anak dan suaminya. Ini adalah permintaan terakhir Keiko-san. Dia ingin dimakamkan bersama dengan keluarganya. Keiko-san meninggal 5 tahun yang lalu, tepat setelah Daiya dilahirkan. Oleh karena itu, Daiya tidak mengenal Keiko-san. Yuki yang waktu itu juga masih berumur 3 tahun juga tidak bisa mengingat dengan jelas Keiko-san. Tapi Daiki dan Yuya memberitahu kedua anaknya itu tentang Keiko-san, sehingga Daiya dan Yuki menganggap Keiko-san sebagai nenek mereka.

Daiki dan Yuya memberikan salam dan penghormatan seperti yang biasanya mereka lakukan. Yuki dan Daiya meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Yuya dan Daiki menaruh buket bunga dan menyiram makam dengan air.

“Yuki, Daiya, kalian boleh pergi duluan. Papa dan mama mau membersihkan makam Keiko-san dulu”

“Baik mama...”, jawab kedua anak itu kompak.

Yuki dan Daiya langsung berlari keluar sedangkan Yuya dan Daiki masih sibuk membersihkan makam keluarga Keiko-san.

“Kakak, aku mau kesana dulu sebentar ya... ada kupu-kupu yang lucu disana”, seru Daiya sambil berlalu pergi tanpa mendengarkan jawaban kakaknya. Yuki hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan adiknya yang susah diatur itu.

Yuki kini duduk di pinggir jalan sambil menunggu Daiya kembali. Tidak lama kemudian ada beberapa anak lelaki yang mengerumuni Yuki. Anak-anak nakal ini tampaknya ingin mengerjai Yuki. Salah satu anak itu melemparkan seekor kecoak ke arah Yuki. Anak nakal yang lain menarik rambut Yuki dan berusaha mengambil jepit rambut Yuki. Yuki berusaha melawan, tapi keempat anak nakal itu mengerumuni Yuki dan mengepungnya sehingga Yuki tidak bisa melarikan diri.

“Hei lepaskan aku, anak-anak nakal!”, seru Yuki marah karena rambutnya ditarik.

Tidak lama kemudian, Daiya kembali dan melihat kakaknya dikerjai.

“Apa yang kalian lakukan pada kakak???”, teriak Daiya marah. Daiya langsung meninju salah satu anak nakal itu, tapi anak itu berhasil mengelak. Sebaliknya, anak itu malah membalas meninju Daiya hingga Daiya terjatuh dan bibirnya terluka.

“Daiya!!!”, jerit Yuki saat melihat adiknya itu jatuh. Yuki langsung mendorong anak-anak itu dan berlari menghampiri Daiya. Yuki terkejut saat melihat ada darah yang mengalir dari mulut Daiya. Rupanya bibir Daiya sobek saat tergores jalan.

“Kalian... apa yang kalian lakukan pada adikku?”, geram Yuki. Emosinya meningkat.

Keempat anak nakal itu mulai gemetar ketakutan saat melihat wajah Yuki yang sedikit menakutkan. Udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat dingin. Keempat anak itu langsung membalikkan badan mereka untuk segera lari dari tempat itu. tapi terlambat, tubuh keempat anak itu kini telah membeku oleh es.  Es ini berasal dari tubuh Yuki.

“Astaga... Apa yang terjadi...”

Daiki dan Yuya yang mendengar keributan dan merasakan firasat yang tidak enak, segera berlari menghampiri Daiya dan Yuki. Alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat ada empat anak laki-laki yang membeku dalam es. Daiki melihat ke arah Yuki yang tampak marah. Butir-butir es kecil keluar dari tubuhnya. Cuaca di sekitar mereka pun berubah. Salju perlahan turun dan semakin lama semakin deras seakan ada badai salju yang datang.

“Yuki... kau... kau punya kemampuan khusus ternyata...”, gumam Daiki tidak percaya. Daiki sudah menebak kalau anaknya nanti akan memiliki kemampuan khusus karena baik dirinya maupun Yuya juga memiliki kemampuan khusus.

“Yuki!!! Hentikan! Sadarlah nak... kau bisa membunuh mereka!”, Yuya mengguncang-guncang tubuh Yuki. Tapi Yuki sama sekali tidak bergeming. Matanya terus menatap empat anak nakal yang sudah mencelakai Daiya. Kebencian terpancar dari sorot matanya.

Daiki segera menggendong Daiya yang terluka untuk menjauh dari Yuki. Semua yang berada di dekat Yuki berubah menjadi es. Hanya Yuya yang bisa mendekati Yuki karena kemampuan nullification miliknya.

“Yuki!!! Ini papa!!! Kau tidak bisa mengenali papamu sendiri? kalau kau terus begini, mama dan adikmu juga bisa ikut celaka!”, panggil Yuya lagi.

Yuki sama sekali tidak bergeming. Sepertinya kesadaran Yuki telah hilang. Kemampuannya keluar secara meledak-ledak. Yuki tidak bisa mengontrol kekuatannya. Yuya berusaha menetralkan kemampuan Yuki dengan menggunakan nullification miliknya. Tapi, saking kuatnya kemampuan Yuki, Yuya kewalahan menetralkan kemampuan Yuki. Yuki sama seperti Daiki yang tidak bisa mengontrol kekuatannya.

“Kau memang benar-benar mirip dengan mamamu”, gumam Yuya pelan.

Daiya terus menggenggam baju Daiki karena ketakutan dengan kekuatan milik kakaknya itu. sekejap dia merasa takut mendekati Yuki yang tidak terkontrol. Daiya merasa kalau itu bukanlah Yuki kakaknya. Dia tidak mengenal anak perempuan yang menakutkan itu. Dari kejauhan Daiya bisa melihat Yuya yang terus berusaha menekan kekuatan Yuki dan menyadarkannya.

“Daiya! Kau mau kemana?”, teriak Daiki saat melihat Daiya berlari mendekat ke arah Yuya dan Yuki. “Jangan kesana Daiya! Bahaya!”, teriak Daiki sambil memperingatkan Daiya. Daiya terus berlari dan tidak mendengarkan perkataan Daiki. daiki akhirnya ikut berlari menyusul Daiya.

“Daiya? Kenapa kemari? cepat menjauh bersama dengan mamamu!”, perintah Yuya saat melihat Daiya datang mendekat.

Daiya menggeleng. Dia mendekat ke arah Yuki. Daiya membuka kedua tangannya lebar-lebar dan segera memeluk Yuki. Daiki dan Yuya terkejut saat melihat apa yang dilakukan Daiya.

“Kakak... Ini Daiya... Hentikan kak... sadarlah... “, ucap Daiya pelan. Yuki masih berdiri terpaku dan tidak bergeming. “Kakak... Daiya mohon... Hentikan...”

Seketika ada cahaya yang keluar dari dalam tubuh Daiya. Cahaya berwarna kuning keemasan. Cahaya itu terasa hangat. Salju yang menumpuk di sekitar Yuki pun perlahan mulai mencair. Es yang membekukan empat anak itu juga. Cahaya dari dalam tubuh Daiya telah mencairkan seluruh es yang keluar dari tubuh Yuki. Daiki dan Yuya yang melihat itu saling berpandangan satu sama lain. Daiya ternyata juga memiliki kemampuan khusus seperti kakaknya dan kedua orangtuanya.

Yuki dan Daiya sama-sama kehilangan keseimbangan. Keduanya hampir jatuh. Tapi Yuya dan Daiki dengan sigap menangkap tubuh kedua anaknya sebelum menyentuh tanah. Kedua anak kecil itu langsung kehilangan kesadaran di pelukan kedua orangtua mereka.

“Bagaimana ini Daichan? Kedua anak kita sama-sama memiliki kemampuan khusus”

“Aku juga sama sekali tidak menyangka. Kupikir aku tidak akan melahirkan anak dengan kemampuan khusus. Tapi ternyata aku salah, aku malah melahirkan 2 orang anak yang memiliki kemampuan khusus”

“Apakah mereka termasuk ksatria keturunan darah murni?”

“Entahlah... aku tidak tahu. Tapi kalau itu benar, bencana itu bisa terulang lagi”

Yuya kemudian bangkit sambil menggendong Yuki. “Kita harus kembali Daichan. Kita harus menemui master. Aku tidak mempermasalahkan Daiya, tapi Yuki, dia sama sepertimu. Dia tidak bisa mengontrol kekuatannya. Kita butuh bantuan master untuk mengendalikannya”

Tsuzuku ~~~

MY NAME IS...

Cast : OC (reader) x Inoo Kei
Genre : idk, not fluff, not romance too.

---***---

Aku mengayuh sepedaku dengan santai. Seperti biasanya, aku pergi ke taman dekat rumahku saat sore hari. Awalnya ini bukan kebiasaanku, tapi akhir-akhir ini aku mulai rutin melakukannya.

Kuparkir sepedaku di tempat biasanya dan pergi ke tempatku yang biasanya. Aku melangkah dengan riang. Seperti biasanya, taman ini dipenuhi oleh orang-orang yang berkunjung. Ada sekelompok anak kecil, sebuah keluarga bahagia, sepasang kakek nenek, dan yang paling umum sepasang remaja.

Aku tersenyum lebar ketika melihat sosoknya sedang duduk disana. Seperti biasanya, dia mengenakan kaos lusuh, jaket yang kebesaran, celana jins yang sudah robek di beberapa tempat, sepasang sandal jepit, dan sebuah kacamata tebal yang menutupi wajahnya.

Tunggu, kalian pasti bertanya siapa dia yang kumaksud?

Aku tidak tahu.

Eh? Kok tidak tahu?

Ya, aku benar-benar tidak tahu siapa dia, siapa namanya, darimana asalnya, apa yang sedang dia lakukan, kenapa dia ada disini, dll. Aku hanya tahu kalau dia selalu mengenakan pakaian seperti itu dan duduk di tempat yang sama dan waktu yang sama. Setiap kali aku datang ke taman ini, aku pasti melihatnya.

Kalian pasti bertanya, apa yang dia lakukan?

Aku tidak tahu.

Aku tidak pernah melihatnya dalam jarak dekat. Aku hanya berani memandangnya dari jarak jauh. Tapi sesekali aku melihatnya menggerakkan jari-jarinya yang panjang sambil melihat ke sebuah lembaran kertas. Seperti orang yang sedang bermain piano.

Lalu kenapa aku tertarik pada orang itu?

Aku juga tidak tahu.

Aku tidak tahu kapan awalnya aku tertarik padanya. Tiba-tiba saja aku memiliki kebiasaan melihatnya setiap hari. Karena dialah aku juga rajin datang ke taman ini.

Hari ini, kuputuskan untuk mendekatinya. Aku ingin melihatnya lebih dekat. Perhatianku terlalu terfokus padanya sehingga aku tidak memperhatikan batu besar yang ada di depanku, dan akhirnya...

"Aduh..."

Aku terjatuh. Lututku tepat mengenai tanah. Aku hanya bisa meringis kesakitan sambil melihat ke lututku yang sedikit berdarah. Benar-benar ceroboh.

"Kau tidak apa-apa?"

Sebuah tangan terulur ke arahku. Aku mendongak dan membuka mulutku tidak percaya saat melihat dia berbicara padaku. Ya, dia! Dia yang kumaksud diatas! Dia berbicara padaku!!!

"Tidak apa-apa"

Aku menunduk malu, tidak berani memandang wajahnya.

"Syukurlah"

Dia membantuku berdiri. Rasanya seperti mimpi aku bisa berbicara dengannya. Tapi, karena rasa sakit di lututku, aku percaya kalau ini nyata.

"Terima kasih, err..."

"Inoo Kei"

"Huh?"

"Namaku Inoo Kei. Namamu?"

"Namaku ................."

END

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

TakaDai sekuel version

Chapter 2


Daiki dan Yuya kini telah berada di dalam rumah. Kondisi di dalam rumah tidak jauh berbeda dengan kondisi rumah lain pada umumnya, terlihat cukup 'normal' untuk sebuah rumah sang necromancer. Perabotan yang ada cukup sederhana dan minimalis. Rumah kecil itu terlihat jauh lebih nyaman dan enak untuk ditinggali seakan melupakan fakta kalau rumah ini berada di tengah pemakaman. Daiki berjalan menghampiri sebuah rak buku yang cukup besar yang berada tidak jauh dari situ. Dia mengamati satu persatu buku yang ada di rak, mencari kitab necromancy yang diminta oleh sang sorcerer. Yuya mengawasi bagian dalam rumah itu, berusaha untuk tetap waspada terhadap jebakan atau perangkap yang mungkin dipasang di dalam rumah ini. Ucapan Keiko-san sesaat sebelum mereka berpisah kembali terngiang di kepalanya. 'jangan sampai kalian terkena perangkap'.

"Daichan..... kau sudah menemukannya?", tanya Yuya sambil terus melihat tengkorak hidup yang berdiri di depan pintu.

"Belum... Dan yang lebih penting lagi, aku tidak tahu kitabnya seperti apa. Semua buku yang ada disini ditulis dengan tulisan kuno. Aku sama sekali tidak bisa membacanya. Aku hanya bisa mengira-ngira saja isinya apa. Tahu begini aku akan minta bantuan Inoo saja", keluh Daiki sambil melihat buku yang ada di rak satu persatu.

"Kau sendiri yang minta kita saja yang pergi, tidak usah minta bantuan yang lain".

"Iya iya....". Daiki mengambil sebuah buku yang cukup tebal. Halaman buku itu mulai menguning. Daiki membuka halaman buku itu satu persatu. Banyak lingkaran sihir dan simbol-simbol necromancy berada di buku itu. "Jangan-jangan buku ini yang dimaksud", gumam Daiki.

"Kau sudah menemukannya?", tanya Yuya. Dia terus berdiri dengan cemas. Perasaannya tidak enak dari tadi. Ada sesuatu di dalam rumah ini yang membuatnya merasa tidak enak.

"Kurasa begitu. Aku sudah mengecek semua buku, hanya buku ini saja yang kurasa kitab itu. Simbol necromancy dan lingkaran sihir banyak tergambar di buku ini. Aku memang tidak bisa membaca tulisannya, tapi aku tahu beberapa simbol necromancy. Jadi kurasa buku ini yang kita cari", kata Daiki sambil menutup buku yang dibacanya itu.

Yuya berjalan menghampiri Daiki, dia melihat buku yang dimaksud oleh Daiki. Yuya mencoba mengangkat buku yang cukup tebal itu. "BERATT!!!", keluh Yuya sambil membawa buku itu. Daiki hanya tertawa melihat Yuya yang kesusahan membawa buku itu.

"Lalu, dimana api hitam itu? Sang sorcerer bilang kalau kita harus menghancurkan buku ini dengan membakarnya di api hitam. Tapi, baik di dalam rumah ini, maupun di sekitar pemakaman, aku tidak melihat ada api yang menyala. Apalagi api hitam", gumam Daiki.

Rangka hidup yang berdiri di depan pintu tiba-tiba berjalan masuk ke dalam rumah. Rangka itu menghampiri Daiki dan Yuya. Rangka itu menunjuk ke sebuah arah, lalu berjalan pergi menunjuk ke arah yang ditunjuk. Daiki dan Yuya hanya berdiri penuh dengan tanda tanya, mereka berdua saling berpandangan.

"Jangan bilang kalau rangka itu ingin kita mengikutinya", kata Yuya.

"Kupikir begitu. Dia sepertinya ingin menuntun kita ke suatu tempat", kata Daiki. Rangka itu kemudian berhenti dan melihat ke arah mereka, seakan menandakan kalau dia sedang menunggu Daiki dan Yuya untuk mengikutinya. Daiki dan Yuya saling berpandangan, mereka akhirnya mulai bergerak mengikuti rangka itu. Rangka itu kemudian kembali berjalan lagi. Mereka terus berjalan hingga sampai ke sebuah makam. Rangka itu tiba-tiba hancur. Daiki berjongkok dan melihat tulisan di batu nisan makam tersebut.

"Ini makam siapa?", tanya Yuya.

Daiki mengangkat bahunya, "Entahlah, tidak ada tulisan apapun di batu nisan ini". Daiki mengusap batu nisan itu. Tiba-tiba makam itu terbuka, Daiki dan Yuya bisa melihat sebuah peti mati yang ada di dalamnya. Daiki membuka peti mati itu secara perlahan. "Kosong", ucap Daiki saat melihat tidak ada apapun di peti mati itu.

"Apa maksudnya ini?", tanya Yuya tidak mengerti. Dia meletakkan kitab necromancy yang berat itu di tanah, dan kemudian berjongkok untuk melihat peti mati itu lebih dekat.

"Tunggu, ada sesuatu disini", Daiki melihat sebuah ukiran di tutup peti mati. Sebuah lambang Necromancer tergambar di peti mati itu. "Ada lambang sang necromancer disini. Masa iya ini peti mati sang necromancer??".

"Bukannya sang necromancer itu disegel bersama maou yang merasukinya? Tidak mungkin dia dimakamkan di tempat ini", kata Yuya.

"Itu memang peti matiku", tiba tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Daiki dan Yuya tersentak kaget saat melihat ada sesosok lelaki berdiri di hadapan mereka. Wajahnya cukup rupawan, badannya tinggi, dan satu hal yang lebih mencengangkan, tubuh lelaki itu transparan!

"Anda siapa?", tanya Daiki.

"Perkenalkan, aku adalah sang necromancer", ucap lelaki itu. Daiki dan Yuya langsung terperanjat kaget saat mendengarnya. Mereka sama sekali tidak mempercayai kalau sang necromancer berdiri di hadapan mereka.

"Anda sang necromancer? Tapi bukankah anda.....", Yuya tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia ragu bagaimana memilih kata yang tepat untuk berbicara dengan seseorang yang selalu dianggap berbahaya bagi mereka.

"Aku memang telah disegel bersama dengan dewa maou yang merasukiku. Tapi yang disegel oleh magician dan alchemist hanyalah tubuh fisikku saja. Kesadaranku, atau lebih tepatnya jiwaku telah lama lepas dari tubuh itu. Sang sorcerer membantuku melepaskan jiwaku ini dari tubuhku, tapi sebagai gantinya dia harus kehilangan nyawanya", raut wajah sang Necromancer kini berubah menjadi sedih. Daiki kini yakin kalau sang necromancer yang berdiri di hadapan mereka ini bukanlah orang jahat.

"Aku meminta bantuan sang sorcerer untuk menemukan seseorang yang mampu menghancurkan kitab milikku. Aku tidak ingin kitab itu jatuh di tangan orang yang salah. Tubuh fisikku saja kini disalahgunakan oleh para maou itu. Aku sangat menyesal tidak bisa mengendalikan maou itu, malah aku yang akhirnya dikendalikan", ucap sang Necromancer. Mukanya penuh dengan rasa penyesalan. "Akhirnya, setelah sekian tahun aku menunggu, kalian datang. Sang sorcerer yang mengutus kalian kan?". Daiki dan Yuya mengangguk.

"Tapi, bagaimana caranya kami menghancurkan buku ini? Kami sama sekali tidak melihat ada api hitam", tanya Daiki sambil menunjuk kitab necromancy yang kini telah dipegang kembali oleh Yuya.

"Oleh karena itu kini aku muncul kembali. Aku menggunakan sedikit kekuatan sang sorcerer dan sedikit kekuatanku yang tersisa". Tiba-tiba rumah yang ada di tengah pemakaman itu meledak. Api mulai membara di rumah itu. Pada awalnya, api itu berwarna kuning terang, perlahan, api itu mulai menjadi gelap dan pada akhirnya api itu berwarna hitam. "Nah, sekarang lemparkan kitab itu ke dalam api hitam itu. Tapi, berhati-hatilah, jangan sampai kalian terkena semburan api hitam itu".

"Api apa itu?", tanya Yuya sambil mengamati bara api yang tampaknya seperti hidup itu. Api itu menggeliat kesana kemari dengan liar, bagaikan binatang buas yang berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya.

"Satu-satunya api kegelapan yang paling berbahaya, api hitam. Api ini bisa menghancurkan apapun. Apapun yang terkena api ini, akan hancur sampai tidak bersisa, dan tidak bisa dikembalikan lagi. Kitab milikku itu mengandung ilmu magis juga, sehingga tidak mudah untuk menghancurkannya. Satu-satunya cara hanya membakarnya dengan api hitam ini", jelas sang necromancer.

Yuya maju sambil membawa buku itu. Daiki tetap berdiam diri di tempat untuk menghindari semburan api yang menggeliat kesana kemari. Berkat kemampuannya, Yuya bisa menghindar dari semburan liar api itu. Yuya kini telah berada sangat dekat dengan api itu. Dia mengangkat buku berat yang ada di tangannya dengan susah payah, bersiap untuk melemparkan buku itu ke dalam api.

"Oh begitu rupanya, kenapa sang sorcerer meminta kami yang menghancurkan buku itu. Karena hanya Yuya yang bisa mendekati buku itu dengan aman, tanpa takut terluka, karena kemampuan nullifiaction yang dimilikinya", gumam Daiki sambil terus memperhatikan Yuya dari belakang.

Yuya melemparkan kitab itu ke dalam api. BLAR! Api hitam itu menyala semakin besar. Seakan seperti melahap habis sesuatu yang baru saja masuk ke dalam kobaran api. Kobaran api bergerak semakin liar. Beberapa makam yang ada di dekat situ mulai hancur terkena semburan api hitam. Lapisan pelindung pun tampaknya mulai sedikit rusak. Yuya bisa melihat ada sedikit lubang yang terbentuk di atas api. Sang necromancer berdiri di hadapan Yuya dan melakukan sesuatu. Perlahan api hitam itu mulai padam. Nyala api hitam itu semakin kecil, dan lama-lama api hitam itu padam.

"Terima kasih atas bantuan kalian. Kini tidak ada lagi yang perlu ku khawatirkan", sang necromancer tersenyum pada Daiki dan Yuya. "Kekuatanku kini telah habis. Aku tidak bisa muncul lagi. Aku juga tidak bisa menjaga tempat ini lagi. Jadi lebih baik kalian segera pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar lenyap". Sesaat setelah sang necromancer berkata seperti itu, perlahan tubuh sang necromancer mulai lenyap.

"Apa maksud anda?", tanya Daiki.

"Aku telah membuat perangkap untuk menjebak siapapun yang masuk ke dalam pelindung ini. Untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat. Kalian berdua aman karena aku tidak mengaktifkannya untuk kalian. Tapi, bila aku telah lenyap nanti, perangkap itu akan aktif kembali dan kalian tidak bisa keluar dari tempat ini. Jadi lebih baik kalau kalian segera pergi dari sini". Tapi sayang, saat sang necromancer selesai berkata, wujudnya kini telah benar-benar lenyap.

"Tunggu dulu.... perangkap apa yang ada di tempat ini?", tanya Daiki.

"Entahlah, perasaanku mulai tidak enak dari tadi", jawab Yuya. Yuya melihat ke sekeliling mereka, firasat buruknya kini terbukti. "Sudah kuduga. Kelihatannya kita memang tidak akan mudah keluar dari sini Daichan....".

Daiki dan Yuya kini berdiri saling membelakangi. Mereka tampak berusaha melindungi punggung satu sama lain. Dari arah makam, beberapa mayat bangkit dari makamnya dan kini berjalan menuju Daiki dan Yuya. Sebenarnya, mayat hidup ini tidak ada bedanya dengan zombie, makhluk kegelapan. Selain zombie, ada beberapa makhluk lain yang juga ikut bangkit. Beberapa di antaranya wujudnya sudah tidak berbentuk lagi. Makhluk-makhluk ini berdiri mengelilingi Daiki dan Yuya, seakan menandakan kalau mereka tidak ingin membiarkan Daiki dan Yuya lolos dari mereka.

"Sepertinya kita harus bertarung melawan mereka Daichan".

"Kurasa hal itu mustahil Yuya....".

Yuya melirik Daiki dengan heran, "kenapa? Kau capek?", tanya Yuya. "Bukankah kemampuanmu kini telah kembali? Apa jangan-jangan sekarang kemampuanmu hilang lagi?"

Daiki menggeleng, "Kau lupa? Aku tidak bisa menggunakan kemampuanku selama kau ada. Kemampuanmu menghalangiku menggunakan kemampuanku. Bila kau menghilangkan kemampuanmu, kau sendiri yang akan terkena racun dariku", jawab Daiki.

"Ah iya ya", Yuya menepuk punggung tangannya. "Terus apa yang harus kita lakukan? Kita masih bisa melawan mereka dengan tangan kosong kan?".

"Kalau begitu caranya, kita bisa kehabisan tenaga. Apa kau tidak melihat kalau jumlah mereka ini sangat banyak. Aku yakin kalau mereka ini sama dengan makhluk kegelapan yang lain. Apalagi kita sama sekali tidak memiliki senjata".

"Lalu maksudmu kita hanya berdiam saja disini sambil menunggu mereka membukakan jalan untuk kita?".

Daiki mengamati makhluk-makhluk kematian itu satu persatu, "Tidak ada cara lain". Daiki menarik tangan Yuya, "Kau masih bisa lari kan? Ayo kita lari sekuat tenaga keluar dari sini". Mereka berdua kini mulai berlari sambil menghindar dari makhluk yang menghadang mereka. Bahkan Daiki dan Yuya menendang dan menghajar makhluk yang terus menghadang mereka.

Mereka berdua kini telah berada di dekat pelindung. Tinggal beberapa langkah lagi mereka bisa keluar dari sana. Tiba-tiba di hadapan mereka berdiri sesosok makhluk bertubuh yang cukup besar. Makhluk itu berkaki empat, memiliki ekor, dan berkepala tiga. Masing-masing dari kepala makhluk itu mengeluarkan air liur yang cukup banyak. Tampang mereka cukup menjijikkan. Daiki dan Yuya seketika menghentikan langkahnya saat melihat makhluk itu berdiri di hadapan mereka.

"Cerberus.....", gumam Daiki. "Kenapa makhluk ini ada disini?", tanya Daiki sambil melihat dengan takjub makhluk mengerikan yang ada di hadapannya.

"Cerberus? Maksudmu makhluk yang katanya merupakan anjing penjaga pintu neraka itu?", ucap Yuya tidak percaya. Dia melihat wajah makhluk itu dan mengamatinya baik-baik. "Tapi, mukanya sama sekali tidak terlihat seperti anjing", komentar Yuya saat melihat muka makhluk itu yang benar-benar tidak berbentuk. Mukanya benar-benar terlihat hancur berantakan. Hanya mulutnya yang lebar, lidah yang menjulur, dan ludah yang terus menetes, yang benar-benar terlihat jelas di muka makhluk itu. Makhluk itu melihat ke arah Yuya dengan tajam ketika Yuya berkomentar seperti itu. Yuya menelan air ludahnya saat melihat ketiga kepala makhluk itu melihat ke arahnya.

"Tampaknya dia tersinggung saat mendengar ucapanmu", bisik Daiki.

"Tapi mukanya memang benar-benar tidak terlihat seperti anjing", ucap Yuya lagi. Makhluk itu melihat lagi ke arah Yuya. Yuya bergidik ngeri saat melihat ada 3 pasang mata yang melihat ke arahnya.

"Sudahlah. Yang penting bagaimana caranya kita bisa lolos dari dia? Melawannya dengan tangan kosong tampaknya sangat susah. Aku juga tidak bisa menggunakan kemampuanku", Daiki berpikir dengan keras, memikirkan bagaimana caranya mereka bisa lolos dari cerberus ini

Cerberus itu mengangkat satu kaki depannya dan mengarahkannya ke arah Daiki dan Yuya. Dengan sigap, Daiki dan Yuya melompat ke samping, menghindar dari serangan cerberus itu. Cerberus itu terus menggerakkan kedua kakinya dan ekornya untuk terus menyerang. Daiki dan Yuya terus melompat kesana kemari, sambil melayangkan serangan ke arah cerberus itu. Tidak lupa, mereka juga menyerang makhluk lain yang menyerang mereka dari arah belakang.

Tiba-tiba terdengar ada sebuah alunan lagu. Nada-nadanya sangat lembut, makhluk-makhluk mengerikan yang mengurung dan menyerang mereka langsung berhenti. Tidak terkecuali cerberus yang berdiri di hadapan mereka. Mereka semua berhenti, seakan-akan ada sesuatu yang mengikat mereka.

"Kalian berdua! Ayo cepat keluar dari sana, sebelum makhluk-makhluk itu bergerak kembali!", seru seseorang dari balik pelindung. Daiki dan Yuya langsung berlari keluar menuruti perintah orang tersebut. Sesampainya di luar, mereka bisa melihat seseorang sedang berdiri menunggu mereka disana. Di tangannya terdapat sebuah seruling. Daiki dan Yuya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat melihat wajah orang yang berdiri di hadapan mereka.

"Keiko-san??", seru Daiki dan Yuya saat melihat Keiko berdiri di hadapan mereka.

"Kalian baik-baik saja? Untunglah aku segera datang kemari", ucap Keiko.

"Keiko-san, siapa anda sebenarnya?", tanya Yuya. "Sebelum kita berpisah tadi, anda memperingatkan kami tentang perangkap. Seakan anda tahu apa yang terjadi di tempat ini. Anda juga tahu kalau kami ini adalah ksatria".

"EHH?!?!?!", seru Daiki kaget. Dia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan Yuya tadi.

"Kurasa kita akan melakukan pembicaraan panjang. Ayo ikut aku. Rumahku ada di dekat sini. Lebih enak berbicara disana. Banyak yang akan kujelaskan pada kalian. Kalian juga, banyak yang ingin kalian tanyakan kan?", ucap Keiko sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh Dari sana. Daiki dan Yuya pun mengikuti Keiko ke Mobil. Mereka bertiga pun menuju ke rumah Keiko.

Setelah beberapa menit berjalan, mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Keiko mengajak Daiki dan Yuya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga pun masuk. Suasana di dalam rumah terlihat cukup sederhana.

"Kalian berdua duduk saja disana", Keiko menunjuk sofa yang ada di ruang tengah.

Daiki dan Yuya berjalan menuju sofa, lalu duduk disana sesuai perintah Keiko. Keiko sendiri menuju ke suatu tempat. Daiki melihat-lihat pigura yang terpajang di atas perapian. Pigura itu memuat foto 2 orang perempuan. Foto itu adalah foto Keiko bersama perempuan lain yang lebih muda. Daiki mengamati perempuan itu, "sepertinya aku pernah melihat perempuan ini", gumam Daiki.

"Kenapa Daichan?", tanya Yuya.

"Hei, kau merasa pernah melihat perempuan itu tidak?", Daiki menunjuk perempuan yang ada di samping Keiko dalam foto.

Yuya mengamati perempuan yang dimaksud oleh Daiki. "Kau benar. Aku pernah merasa melihat perempuan itu. Tapi dimana ya??".

"Maaf membuat kalian menunggu", Keiko muncul di hadapan mereka sambil membawa nampan berisi 3 galas cangkir. "Kuharap kalian bakal suka, ini teh racikanku sendiri". Keiko memberikan Daiki dan Yuya masing-masing 1 gelas. Baru harum teh langsung tercium Dari gelas tersebut. Daiki dan Yuya meminum teh itu.

"Enak....", kata Daiki dan Yuya kompak. Keiko tersenyum mendengarnya.

"Nah, kalian pasti bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya", kata Keiko. Daiki dan Yuya mengangguk. "Hmm... Darimana aku bercerita ya", Keiko berdiri dan mengambil sesuatu Dari lemari. Di tangan Keiko kini terdapat sebuah kotak. Kotak itu cukup berdebu dan kelihatan cukup usang. Keiko membuka kotak itu, dan mengambil selembar lukisan. Keiko membentangkan lukisan di hadapan Yuya dan Daiki. Seorang lelaki terlukis di lembaran tersebut.

"Laki-laki ini... Bukankah ini sang necromancer?", tanya Daiki saat melihat lukisan itu.

"Memang apa hubungannya dengan sang necromancer?", tanya Yuya.

"Leluhurku merupakan salah satu murid sang necromancer. Dia juga salah satu ksatria dulunya. Waktu kejadian buruk itu terjadi, leluhurku ditunjuk untuk menjaga kediaman sang necromancer. Keluarga kami menjaga kediaman sang necromancer, hal itu sudah menjadi tradisi", jelas Keiko.

"Tunggu, berarti Keiko-san juga seorang ksatria?", tanya Yuya.

Keiko tertawa dan menggeleng, "Tidak. Sudah beberapa puluh tahun di keluarga kami tidak ada satupun keluarga kami yang menjadi seorang ksatria. Tapi meskipun begitu, tugas untuk menjaga makam dan kediaman sang necromancer itu tetap kami jalankan meskipun kami bukan seorang ksatria".

"Lalu, apa yang tadi anda lakukan disana? Makhluk-makhluk itu langsung berhenti saat mendengar Nada Dari seruling tersebut", tanya Daiki.

"Oh itu", Keiko mengambil seruling yang dimaksud dan menunjukkannya ke Daiki. "Seruling ini diberikan ke keluarga kami. Seruling ini berisi kekuatan magis Dari sang necromancer. Seruling ini bisa menghentikan perangkap yang aktif. Sang necromancer sendiri yang memberikannya ke leluhurku. Dia bilang, suatu saat akan ada ksatria yang datang dan menghancurkan buku itu".

"Lalu kenapa anda bisa tahu kalau kami ini adalah ksatria?", tanya Yuya.

Keiko tersenyum, "Kalian berdua tiba-tiba datang Dari tempat yang jauh. Kalian pun berhenti di dekat tempat kediaman sang necromancer. Dari situ aku bisa menduga kalau kalian adalah ksatria. Terlebih lagi,  ekspresi Yuya yang terkejut saat aku tahu kalian seorang ksatria membuktikan dugaanku".

"Kenapa Keiko-san yakin kalau kami ini benar-benar seorang ksatria? Kalau kami ini musuh bagaimana?", tanya Daiki.

"Aku bisa membedakan orang baik dengan orang jahat kok. Kalian berdua sama sekali tidak terlihat jahat", Keiko tersenyum melihat Daiki dan Yuya. "Ah, rupanya hari sudah semakin malam. Kalian menginap saja disini. Aku akan menyiapkan malam malam untuk kita".

"Eh, tidak usah repot-repot Keiko-san", ucap Daiki.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku sangat senang ada yang datang berkunjung. Selama ini aku terus sendirian", ucap Keiko. Yuya dan Daiki langsung tidak enak saat mendengar ucapa itu.

"Eh, Keiko-san tinggal sendirian?", tanya Yuya.

"Aku dulu punya seorang anak perempuan. Tapi dia kini telah meninggal. Sejak kecil anak itu memang sering sakit-sakitan", jawab Keiko. Keiko melangkah ke dapur dan menyiapkan makanan.

'Hmm... Jadi itu anak perempuannya', batin Daiki. 'Eh, tunggu dulu, jangan-jangan perempuan ini.....'

Tsuzuku~~

Senin, 15 Februari 2016

FANSERVICE

Terinspirasi berkat konser Jumping carnival dan segala fanservice yang ada disana... XD

---***---

"Otsukaresama!!!!"

Semua member JUMP saling berpelukan. Mereka semua merasa lega setelah selesai melaksanakan konser. Wajah mereka sangat bahagia dan puas karena reaksi penonton yang tampak senang dengan pertunjukan mereka.

Tidak lama, member JUMP masing-masing sibuk mengurus diri sendiri, ada yang sibuk mendinginkan badan, mengelap keringat, membereskan barang pribadi, mengecek HP, dan lain-lain.

"Keito, apa yang kau lakukan?"

Keito sedikit terperanjat saat mengetahui Yuto tiba-tiba berdiri di belakangnya. Keito yang masih sibuk memegang HP, langsung buru-buru menutup hpnya dan memasukkannya ke dalam tas.

"Hayoo... Kau mengirim pesan ke siapa???"

Yuto mendekatkan wajahnya. Sangat dekat sehingga Keito bisa merasakan nafas Yuto di wajahnya. Keito langsung mengalihkan pandangannya, melihat ke arah lain, entah kenapa dia merasa malu sekali.

Keito merasa Yuto sangat aneh. Ya, di konser kali ini dia sering mendekatinya. Biasanya Yuto hanya melakukan fanservice bersama dengan Yamada. Ya, siapa yang tidak tahu duo YamaJima? Sama seperti YabuHika, AriYama, dan YamaChi, duo itu sangat popular, fanservice mereka berdua pun banyak digemari.

"Ne Keito... Ada apa sih?"

Keito melihat ke arah Yuto sekali lagi. Kali ini Yuto melihatnya dengan pandangan mata yang bagaikan seekor kelinci lucu. Keito kini tahu kenapa Yuto mendapatkan peran kelinci di lagu pet shop, karena dia memang pantas sebagai kelinci lincah dan lucu.

"Yuto...", panggil Keito pelan "Kenapa... Di konser kali ini... Kau..."

Keito terdiam. Tidak berani melanjutkan kalimatnya. Yuto masih melihatnya, menunggu apa yang ingin dia ucapkan.

"Tidak jadi deh"

Keito langsung bangkit berdiri dan berjalan menjauhi Yuto. Diam-diam Yuto tersenyum dan menggumamkan sesuatu.

"Ah, setidaknya dia mulai memperhatikanku sedikit"
---***---

Yamada terdiam di salah satu kursi. Dia tampak sedang menata rambutnya. Chinen duduk di sebelahnya, mendinginkan tubuh yang basah oleh keringat. Mereka saling melirik satu sama lain, tapi sama sekali tidak ada yang mau berbicara duluan.

"Yuri", Yamada yang tidak tahan dengan keheningan ini akhirnya angkat bicara.

"Hm?"

"Kenapa kau memanggil Yuto saat lagu aisureba?"

"Itu karena kau memperlakukan Inoo seperti seorang puteri. Kau menunduk di hadapannya, lalu kau mengulurkan tangan ke arahnya seperti seorang puteri"

Yamada mulai sedikit kesal, "itu kan karena kau hampir berciuman dengan Hikaru saat Supadeli"

"Hoo... Aku melakukan itu karena kau dan Daichan hampir berciuman. Terlebih lagi, kau banyak melakukan fanservice dengan Yutti. Saat supadeli, kau memeluknya dengan erat. Saat BDS juga. Kalau tidak dengan Yutti, ya dengan Daichan"

Yamada terdiam. Chinen memang benar, dia melakukan fanservice dengan Yuto. Tapi itu karena fans menginginkannya. Fans sangat senang saat mereka berdua dekat. Bagi Yamada, fans adalah yang utama. Tapi, Chinen juga berarti baginya.

"Aku kan sudah melakukan fanservice denganmu. Saat come on a my house. Aku mendekat ke arahmu tapi kau langung pergi menjauhiku. Dan sejak saat itu kau selalu menghindar, tidak menatapku"

Chinen terdiam. Kali ini dia memainkan gantungan hpnya.

"Itu karena aku malu"

"Hah?"

"Aku malu kalau dilihat orang banyak Ryosuke"

Yamada tersenyum, sebuah ide terbersit di benaknya.

"Kalau tidak dilihat orang berarti tidak apa-apa kan? Kita cuma berdua disini"

Chinen ingin bertanya pada Yamada, tapi Yamada sudah mencium Chinen terlebih dahulu. Dua orang itu lupa kalau ada dua orang lagi yang masih ada di ruangan itu.
---***---

Di ruang ganti BEST, ada suasana dingin yang sedang terjadi. Entah bagaimana awalnya, tapi kini mereka berlima saling menatap tajam satu sama lain.

"Jangan dekat-dekat Yabu!", teriak Inoo

"Memangnya kenapa? Kami hanya melakukan fanservice, semua orang tahu YabuHika dan mereka ingin melihatnya saat konser, tidak masalah kan?", sanggah Hikaru.

"Semua orang juga tahu YabuNoo! Bahkan kami memiliki tanggal anniversary sendiri!", seru Inoo lagi. Yabu hanya terdiam mendengar ocehan Inoo. Dia juga tahu kalau fans memutuskan tanggal 23 September sebagai hari anniversary mereka. Well, internet adalah sumber yang terpercaya kan?

"Kenapa kau protes? Bukannya kau sudah melakukan fanservice dengan Takaki? TakaNoo juga lagi booming kan?", Hikaru menunjuk ke arah Takaki.

Daiki langsung menyembunyikan Takaki di balik tubuhnya. "Tidak. Setelah konser, tidak ada yang namanya TakaNoo. Mulai sekarang adanya TaDaiki atau TakaDai"

"TakaDai? Bukankah kau lebih suka dengan AriYama? Kau juga hampir menciumnya kan?", ucap Takaki.

"Itu hanya fanservice, aku tidak sungguhan menciumnya!"

"Kalau begitu apa yang kulakukan dengan Inoo juga fanservice"

"Tapi, kau terus merangkulnya dan bahkan tidak mengacuhkanku saat UMP", mata Daiki mulai berair. "Padahal saat UMP, kau selalu di dekatku"

Semua terdiam. Suasana terasa tegang karena keributan ini. Biasanya tidak seperti ini, entah kenapa konser kali ini memicu suasana tegang. Ini semua karena ide producer mereka yang ingin agar mereka banyak melakukan fanservice.

"Kalau begitu...", Yabu yang paling tenang membuka suara. "Lebih baik kita segera berkemas dan pulang"

Semua menurut pada ucapan Yabu. Dengan berat hati mereka membereskan barang mereka untuk pulang.

Takaki berdiri dan menyambar tas Daiki dan membawanya bersamanya.

"Hei!! Mau kau bawa kemana tasku?"
"Kau pulang denganku. Kita harus bicara soal ini, tidak masalah kan?"

Daiki terdiam. Beberapa detik kemudian dia mengikuti Takaki dari belakang. Yabu menarik nafas lega karena setidaknya satu masalah sudah selesai. Tinggal satu masalah di ruangan ini.

"Hikaru..."

"Diam! Jangan ganggu aku!", bentak Hikaru sambil membereskan barangnya.

"Inoo..."

Inoo hanya diam. Dia juga sibuk membereskan barangnya tanpa mempedulikan Yabu.

"Oke!!!!" Yabu berteriak. Membuat Hikaru dan Inoo menoleh ke arahnya. "Dengar, aku tidak tahu masalah di antara kalian. Kenapa kalian memperebutkanku? Apa kalian tidak mau menyadari perasaanku?"

"Aku capek! Aku mau pulang! Selesaikan urusan kalian sendiri!"

"Eh? Yabu tunggu..."

"Yabu..."

"Cukup! Jangan mengikutiku! Kalau urusan kalian sudah selesai, baru bicara denganku!"

Yabu pergi meninggalkan ruangan. Hikaru dan Inoo hanya saling pandang sambil memperhatikan sosok Yabu yang menjauh.

"Hei, bagaimana kalau HikaNoo?", tanya Hikaru.

"Hah?"

"Daripada kita bertengkar masalah YabuNoo atau YabuHika, kenapa tidak HikaNoo saja? Jadi kita tidak usah bertengkar soal Yabu"

"Ide bagus! Masalah selesai!"

Mereka berdua berjabat tangan lalu segera berlari menyusul Yabu yang sudah menjauh.

"YABUUUU!!!!!", teriak mereka kompak.

END

Rabu, 10 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

sekuel dari Ten Knights tapi dilihat dari TaDaiki version

Chapter 1

"Ngh.....". Perlahan Daiki membuka matanya. Dia melihat langit berwarna kemerahan tepat di hadapannya. Angin pun berhembus di wajahnya. Di sebelahnya terdapat Yuya yang sedang tertidur. Dia melihat ke sekeliling. Padang hijau yang luas terpampang di hadapannya. Tidak jauh Dari situ, Daiki bisa melihat menara tempat segel berada yang kini telah rata dengan tanah.

"Kenapa aku bisa berada disini?? Seingatku tadi kami masih berada di dalam sana", Daiki berusaha mengingat apa yang terjadi. Tapi dia masih tidak tahu apa yang terjadi pads mereka Dan bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat Dari sana.

"Ini dimana?", Yuya mulai sadarkan diri.

"Yuya, kau sudah sadar?", Daiki mendekat ke arah Yuya, memeriksa keadaannya.

"Daichan?", Yuya melihat ke sekelilingnya. "Ini dimana?", Yuya melihat ke tubuhnya yang tidak terluka satupun begitu pula dengan Daiki. "Hei, apa kita sekarang sudah mati? Terus kita sekarang berada di surga?".

Daiki menjitak kepala Yuya. "Baka! Kita belum mati tahu! Coba lihat disana", Daiki menunjuk ke arah reruntuhan menara. "Kita berhasil selamat Dari sana, kita masih hidup".

Yuya melihat Daiki dengan penuh tanda Tanya. "Bagaimana caranya? Kau yang membawa kita keluar?".

"Eh? Malah tadinya kupikir kau yang membawa kita keluar Dari sana".

"Tidak. Aku hanya ingat kalau aku tidak sadarkan diri di dalam sana".

"Lalu, bagaimana caranya kita bisa berada disini?", Yuya semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada mereka.

"Kalian berdua sudah sadar?", terdengar suara Dari belakang mereka. Sang sorcerer berdiri disana. Yuya Dan Daiki tersentak kaget saat melihatnya. Sosok sorcerer terlihat berkilauan dengan sinar matahari pagi yang menembus tubuhnya.

"Anda... Jangan-jangan anda yang membawa kami keluar Dari sana?", Tanya Daiki.

Sang sorcerer mengangguk, "benar, aku yang menyelamatkan kalian. Kalian sudah sangat berjasa karena berhasil menutup kembali segel. Tidak mungkin aku membiarkan kalian mati begitu saja. Aku meminta bantuan para roh untuk membawa kalian keluar sebelum kalian tertimbun disana", jelas sang sorcerer. Dia melihat Daiki dan Yuya secara bergantian. "Aku punya permohonan sekali lagi pada kalian berdua".

"Permohonan?", Yuya mengernyitkan dahinya.

"Aku ingin kalian berdua pergi ke wilayah utara. Disana ada kitab milik sang necromancer. Kitab itu berisi ilmu necromancy. Aku ingin kalian mencari kitab itu Dan menghancurkannya", pinta sang sorcerer.

"Kenapa kami? Kau bisa minta tolong pada master Dan Jin", Tanya Daiki.

Sang sorcerer menggeleng pelan, "aku tidak bisa meminta tolong pada mereka berdua. Aku ingin hanya sedikit orang yang tahu mengenai hal ini. Oleh karena itu, aku meminta tolong pada kalian berdua", sang sorcerer memandangi mereka berdua, "kalian tidak mau?".

Yuya dan Daiki saling berpandangan, "tentu saja kami mau", jawab mereka kompak.

"Anda sudah menyelamatkan kami, jadi sebagai balasannya kami akan melakukan apa yang anda inginkan", kata Daiki sambil tersenyum.

"Benar. Kami akan melakukan hal ini dengan senang hati", tambah Yuya.

"Lalu, kami harus kemana?", Tanya Daiki.

Sang sorcerer menghela napas lega. "Para roh akan menuntun kalian ke tempat bekas kediaman sang necromancer. Ikuti saja mereka. Tenang saja, manusia biasa tidak bisa melihat mereka. Bila kalian sudah menemukan kitab itu, langsung bakar habis dengan api hitam yang ada di kediaman sang necromancer".

"Kita tidak bertemu dengan yang lain terlebih dahulu?", Tanya Yuya.

Daiki menggeleng, "lebih baik jangan. Sang sorcerer minta agar ini dirahasiakan Dari yang lain kan? Kalau kita bertemu dengan mereka sekarang dan kita pergi ke utara, mereka pasti bertanya-tanya apa yang kita lakukan. Lebih baik kita pergi diam-diam saja". Daiki menoleh ke arah sang sorcerer, "kami akan pergi sekarang".

Sang sorcerer mengangguk pelan, "baiklah, aku sudah memberitahu para roh. Mereka akan menuntun kalian. Untuk awalnya, kalian ikuti saja dia". Sesosok roh berwujud kucing muncul Dari belakang.

"Lucunyaaaa......", teriak Daiki saat melihat kucing itu. Yuya hanya menggeleng pasrah melihat kelakuan Daiki. "Sayang, aku tidak bisa memeluknya", keluh Daiki.

Kucing itu lalu berjalan pergi ke suatu arah. Daiki Dan Yuya pun mengikuti kucing itu Dari belakang. "Semoga sukses!", ucap sang sorcerer sambil melambaikan tangannya pada mereka. Daiki Dan Yuya pun membalas lambaian tangan sang sorcerer. Mereka berlalu pergi mengikuti roh kucing yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan mereka.

---***---

Selama perjalanan, mereka terus dibimbing oleh para roh. Roh kucing yang awalnya memandu mereka kini tugasnya telah digantikan oleh roh lain yang berwujud anak kecil. Para roh tidak bisa muncul dalam waktu lama, oleh Karena itu, bila roh yang memandu mereka mulai menghilang, maka akan muncul roh baru yang akan memandu mereka.

Karena baik Yuya maupun Daiki sama sekali tidak memiliki uang, maka mereka berdua menuju ke kediaman sang necromancer dengan berjalan kaki. Untuk makan, mereka tinggal memakan buah-buahan atau berburu binatang untuk dimakan. Untuk tidur, mereka mencari rumah kosong atau gudang yang sudah tidak terpakai.

Setelah beberapa hari kemudian, kini mereka telah sampai di wilayah utara. Tinggal sedikit lagi mereka akan tiba di kediaman sang necromancer. Mereka kini memasuki daerah pedesaan. Wilayah disana masih hijau, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Orang-orang disana pun sangat Ramah. Saat Yuya Dan Daiki bertemu dengan penduduk sana, penduduk itu tanpa ragu menyapa mereka berdua seakan-akan mereka adalah penduduk asli sana.

"Sekarang kita harus kemana?", Tanya Daiki pada roh wanita muda yang kini menuntun mereka. Roh itu kemudian menunjuk ke Arah bukit yang tampaknya cukup dekat dengan tempat mereka berada sekarang.

"Hiyaa.... Masih jauh juga ternyata", Yuya lalu duduk di bebatuan yang ada di pinggir Japan. Dia melebarkan kedua kakinya. "Aku sudah bosan berjalan terus".

Daiki menghela Napas, "tidak ada cara lain lagi Yuya. Satu-satunya cara agar kita bisa sampai disana adalah dengan berjalan kaki".

Brrmmm....
Terdengar suara mesin Mobil. Rupanya ada Mobil yang akan melintas disana. Yuya langsung tersenyum cerah saat mendengarnya, "ada cara lain kok Daichan".

Yuya mengulurkan tangannya ke Arah mobil yang akan melintas. Mobil jeep tua itu kemudian berhenti. Jendela samping mobil terbuka. Dari luar, Yuya Dan Daiki bisa melihat seorang wanita tua sedang duduk di belakang kemudi. Yuya kemudian mendekati jendela yang terbuka itu Dan mulai berbicara dengan wanita tua itu. Daiki tanpa sengaja melihat ke arah roh wanita muda yang menuntun mereka. Roh itu tampak sangat terkejut saat melihat wanita tua itu. Roh itu kini menunjukkan raut wajah sedih.

"Kau kenapa?", tanya Daiki pada roh itu. Roh itu langsung tampak terkejut mendengar pertanyaan Daiki. Daiki hanya diam menatap roh itu, menunggu apa yang akan dikatakan roh itu.

"Daichan! Ago cepat kemari! Keiko-san bersedia memberi tumpangan untuk kita", seru Yuya.

"Ah eh iya!", balas Daiki. Daiki melihat ke arah roh itu. Roh itu kini telah menghilang Dari hadapannya. "Kemana dia?".

"Daichan! Kau sedang apa? Ayo cepat!", ucap Yuya yang tidak sabar.

"Iya iya", Daiki lalu berlari kecil menuju ke arah Yuya.

"He... Istrimu lumayan manis juga", ucap wanita itu saat melihat Daiki. "Kau beruntung sekali memiliki istri seperti dia". Daiki hanya bisa melongo mendengar perkataan wanita tua itu.

"Istri? Memangnya kapan kita menikah?", Daiki bertanya pada Yuya yang hanya tersenyum Dari tadi.

Yuya langsungmerangkul Daiki, "Tentu saja. Istriku ini paling manis sedunia". Daiki semakin bingung dengan ucapan Yuya. Sedangkan Yuya terus merangkul Daiki dengan erat seakan memberi tanda kalau lebih baik Daiki tidak mengatakan apapun.

"Ahahaha... Dasar anak muda! Melihat kalian berdua aku jadi ingin menikah lagi!", ucap wanita itu sambil tertawa. Yuya pun ikut tertawa. Hanya Daiki yang masih bengong karena ucapan Yuya. "Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat masuk. Aku akan mengantar kalian. Duduklah di bangku belakang", kata wanita itu. Yuya pun membuka pintu belakang Dan menyuruh Daiki untuk masuk terlebih dahulu, setelah itu baru Yuya masuk.

"Ah, aku belum memperkenalkan kalian ya. Daichan, perkenalkan, beliau ini namanya Keiko-san. Dia ingin kita memanggilnya seperti itu. Keiko-san, ini Daiki, istriku", ucap Yuya sambil memperkenalkan mereka berdua. Daiki langsung melihat ke arah Yuya sambil mengeryitkan dahinya, Yuya hanya cengar-cengir melihatnya.

"Baiklah, kalau begitu Ayo kita berangkat", Keiko-san mulai menyalakàn mobilnya kembali. Mobil jeep itu kini kembali melaju melintasi jalan perbukitan itu.

Daiki lalu menjewer telinga Yuya Dan berbisik padanya, "kau ini kenapa sih? Kita kan belum menikah, kenapa kau mengaku padanya kalau kita sudah nenikah?".

"Aduh...", rintih Yuya pelan sambil memegang telinganya yang kesakitan. "Tidak masalah kan? Toh kita memang akan menikah nanti. Kalaupun aku mengaku kita sudah menikah sekarang juga tidak ada bedanya".

"Dasar!!", Daiki kembali menjewer telinga Yuya. Yuya hanya bisa merintih kesakitan Dan memegangi telinganya yang kini agak sedikit merah.

"Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu pada kalian", ucap Keiko-san. "Kalian berdua ini kawin lari ya?".

Daiki langsung tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Keiko-san. Sedangkan Yuya hanya bisa tertawa terbahak-bahak, "ahahahaha.... Keiko-san ini, kenapa bertanya seperti itu?", tanya Yuya.

"Habisnya kalian berdua masih terlalu muda untuk menikah. Apalagi Daiki ini, kurasa umurnya sekarang masih belasan tahun", kata Keiko-san.

"Kami memang belum mendaftarkan pernikahan kami secara resmi. Tapi kami sungguh-sungguh untuk menikah. Kurasa semakin cepat aku menikahinya, akan semakin baik. Aku tidak ingin dia direbut oleh orang lain", ucap Yuya sambil membelai lembut rambut Daiki. Daiki langsung tersipu malu mendengar ucapan Yuya.

"Oh, ternyata Yuya-kun ini cukup posesif juga ya. Daiki-chan kenapa kau mau dengannya?", tanya Keiko-san pada Daiki.

Daiki melirik ke arah Yuya, "hanya dia satu-satunya yang ingin bersamaku. Dia selalu melindungiku dimanapun aku berada. Saat aku bersama dengannya, aku merasa sangat aman Dan terlindungi", jawab Daiki. Yuya langsung memeluk Daiki dengan erat. Daiki hanya bisa pasrah berada dalam dekapan Yuya.

Sesaat kemudian, Daiki melihat ada sesosok roh laki-laki sedang berdiri di pinggir jalan di depan mereka. Roh itu melambaikan tangannya ke arah Daiki. Daiki langsung mengerti apa yang dimaksud oleh roh itu. Daiki mencolek tangan Yuya, Yuya yang melihat roh itupun juga mengerti apa yang dimaksud oleh Daiki.

"Keiko-san, kami akan turun disini. Terima kasih sudah bersedia mengantarkan kami", ucap Daiki.

"Eh, kalian yakin mau turun disini? Kalau tujuan kalian masih jauh, aku bisa mengantarkan kalian kok", ucap Keiko-san sambil menurunkan kecepatan mobil.

"Tidak apa-apa Keiko-san. Tujuan kami sudah dekat. Kami akan turun disini saja", tambah Yuya. Mobil jeep itu kemudian berhenti tempat di depan roh laki-laki itu, tentu saja, hanya Daiki Dan Yuya yang bisa melihat roh itu.

"Terima kasih Keiko-san", ucap Yuya sambil menundukkan kepalanya.

"Terima kasih sudah mengantarkan kami Keiko-san", tambah Daiki.

"Tidak apa-apa. Aku juga senang bisa membantu kalian", ucap Keiko.

"Baiklah, kami pergi dulu ya Keiko-san", Daiki melambaikan tangannya Dan kemudian berlalu pergi mengikuti roh laki-laki yang kini sudah berjalan terlebih dahulu. Yuya kemudian juga ikut berjalan mengikuti Daiki Dari belakang.

"Semoga sukses para ksatria. Berhati-hatilah, jangan sampai kalian terkena perangkap". Yuya langsung menoleh kembali ke arah belakang, tapi Keiko telah berlalu pergi bersama dengan mobilnya. Yuya menatap mobil Keiko dengan penuh tanda tanya. Dia jadi meragukan apa yang sudah didengarnya tadi.

"Siapa Keiko-san sebenarnya??".

---***---

Yuya Dan Daiki terus berjalan mengikuti roh lelaki itu. Sepanjang perjalanan, Yuya hanya diam saja. Dia masih memikirkan ucapan dari Keiko-san yang didengarnya tadi. Yang menjadi tanda Tanya adalah, bagaimana bisa Keiko-san tahu kalau mereka berdua adalah ksatria? Padahal baik Yuya maupun Daiki sama sekali tidak memberitahukan identitas mereka yang sebenarnya. Dan lagi, apa maksudnya dengan perangkap? Apakah Keiko-san tahu kemana mereka akan pergi?

"Kau kenapa? Capek? Dari tadi kau diam saja", Tanya Daiki yang terus mengamati Yuya. Daiki sadar kalau tingkah laku Yuya sedikit aneh sejak mereka turun dari mobil. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Yuya melihat Daiki. Yuya tahu kalau Daiki terlihat sedikit cemas dengan kondisinya ini. Yuya kemudian tersenyum untuk menghapus kecemasan cewek yang ada di hadapannya itu. "Tidak apa kok. Mungkin aku hanya berprasangka saja".

"Apanya?", tanya Daiki.

"Sudahlah. Ayo kita jalan lagi", Yuya menggandeng tangan Daiki dan menuntunnya berjalan mengikuti roh lelaki itu. Daiki masih bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Yuya.

Mereka kini telah sampai di sebuah ladang hijau yang cukup luas. Tidak ada apapun di ladang itu sehingga bila dilihat dari jauh, ladang itu tampak sangat luas. Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh di tengah ladang tersebut. Entah kenapa, tampak seperti ada sebuah kubah bening berada di tengah ladang itu.

"Yuya, kau lihat itu?", Daiki menunjuk ke arah Kubah transparan itu.

Yuya mengangguk. "Ya, kurasa itu adalah sebuah pelindung. Ada sesuatu di dalam pelindung itu. Kurasa disanalah tempat kediaman sang necromancer berada. Benar kan?", Yuya menoleh ke arah roh laki-laki itu. Roh itu mengangguk mengiyakan.

"Eh?? Yang benar?? Kupikr tempat kediaman sang necromancer berada di sebuah gua, atau di bawah tanah. Tidak kusangka dia tinggal di tempat terbuka", ucap Daiki. Yuya hanya tersenyum geli mendengar ucapan Daiki.

"Nah, Ayo kita masuk". Mereka berdua berjalan mendekati pelindung tersebut. Kini mereka telah berada di lapisan terluar pelindung. Mereka berdua terdiam di tempat dan mengamati pelindung tersebut.

"Pelindung ini bagus sekali. Benar-benar sempurna. Siapa yang membuatnya ya?", gumam Yuya.

"Kurasa salah satu dari sang sorcerer, alchemist, atau magician. Hanya mereka bertiga yang tahu tempat ini kan? Kita para ksatria saja tidak mengetahui tempat ini", ucap Daiki.

"Kurasa begitu", Yuya mengarahkan tangannya ke arah pelindung itu. "Ayo kita masuk". Yuya berjalan masuk menembus pelindung. Daiki mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam pelindung. Yuya dan Daiki dikejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapan mereka.

"Apa apaan ini?", seru Yuya. Matanya terus terbelalak kaget. Di hadapan mereka terdapat banyak batu nisan, jumlahnya mungkin puluhan.

Daiki berjalan mendekati salah satu batu Nisan. Dia mengamati batu nisan tersebut. Ada tulisan kuno terukir di atasnya. Daiki melihat batu nisan yang lain. Kondisinya juga hampir sama. "Hmm... Kurasa ini adalah pemakaman kuno. Tulisan di batu nisan ini, adalah tulisan yang digunakan jalan dulu", ucap Daiki sambil mengamati kuburan satu persatu.

"Kau bisa membacanya?", tanya Yuya yang masih terdiam di tempat.

Daiki menggeleng. "Kalau Inoo mungkin bisa. Dia menguasai hal ini. Aku pernah diajari oleh mama, tapi tidak ada satupun yang kuingat".

"Tapi... Ini kuburan apa? Kenapa kuburan ini ada di balik pelindung? Lalu, dimana kediaman sang necromancer?", Yuya mengamati sekelilingnya. Matanya menangkap suatu bangunan yang ada di tengah pemakaman. "Hei Daichan! Jangan-jangan itu...", Yuya menunjuk bangunan yang tampak seperti sebuah rumah mini. Daiki melihat ke arah yang ditunjuk oleh Yuya.

"Kurasa itu tempatnya. Ayo kita kesana". Daiki dan Yuya beranjak menuju ke rumah tersebut. Yuya memperhatikan langkahnya dengan hati-hati. Sebisa mungkin dia berusaha agar tidak menginjak kuburan yang ada.

Mereka kini telah sampai di depan rumah tersebut. Sesampainya di rumah itu, mereka kini dihadapkan dengan sebuah persoalan sulit. Daiki dan Yuya berkeliling mengamati rumah itu, tapi mereka sama sekali tidak menemukan pintu masuk maupun jendela di rumah itu. Rumah itu hanya terdiri dari dinding tebal.

Srak.
Yuya mendengar ada sesuatu yang bergerak di sekitar mereka. Dia membalikkan badannya dan mencari darimana suara itu berasal. Sedangkan Daiki sama sekali tidak mendengar suara itu dan masih mencari cara untuk masuk ke dalam rumah.

Srak.
Suara itu terdengar lagi. Kali ini cukup keras. Yuya melihat ke arah sumber suara. Dia tampak sangat terkejut saat mengetahui apa yang menimbulkan suara tersebut. Tanpa disadarinya, Yuya berjalan mundur mendekati Daiki.

"Nee.. Daichan. Aku ingin menanyakan sesuatu".

"Apa?", balas Daiki tanpa melihat ke arah Yuya.

"Kemampuan sang necromancer itu, membangkitkan kembali yang sudah mati kan?".

"Iya", jawab Daiki singkat.

"Meskipun sudah jadi tulang, dia bisa membangkitkannya kan?".

"Iya", jawab Daiki. "Kenapa kau bertanya seperti itu?", Daiki yang merasa aneh lalu membalikkan tubuhnya menghadap Yuya. "Owah...". Daiki tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat ada tengkorak hidup yang sedang berjalan ke arah mereka. Daiki langsung menggenggam baju Yuya. "Apa yang akan kita lakukan?", bisik Daiki.

"Aku juga tidak tahu. Yang lebih penting, kenapa tengkorak itu bisa hidup? Apakah ada yang membangkitkannya?".

Tengkorak itu terus berjalan mendekati Daiki dan Yuya. Daiki dan Yuya hanya bisa berdiri terpaku, mereka tidak tahu harus melakukan apa. Kini jarak antara tengkorak dan mereka berdua sangat dekat. Yuya memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang tengkorak itu bila tengkorak itu menyerang mereka.

Beberapa saat kemudian, Daiki dan Yuya dibuat bengong oleh tengkorak tersebut. Tengkorak itu membungkukkan badannya kepada mereka berdua seakan memberi hormat pada mereka. Tengkorak itu kini melihat ke arah Yuya dan Daiki melalui lubang matanya itu. Tengkorak itu kemudian berjalan ke arah salah satu dinding dan menempelkan kedua tangannya. Seketika, bagian dinding yang tersentuh oleh tengkorak itu membentuk sebuah pintu dan terbuka. Tengkorak itu mengarahkan tangannya ke arah pintu sambil menghadap Yuya dan Daiki.

"Apa maksudnya? Dia ingin kita masuk?", tanya Yuya.

"Kupikir begitu", jawab Daiki. Dia kemudian berjalan melewati Yuya dan menuju ke pintu yang terbuka.

Yuya dengan sigap menghentikan Daiki dengan mencengkeram lengannya. "Apa yang kau lakukan?".

"Bukankah sudah jelas? Masuk ke dalam".

"Kalau ini perangkap bagaimana?".

"Kita akan baik-baik saja. Kan ada kau. Dengan kemampuanmu itu kita bisa terhindar dari serangan mendadak kan?", ucap Daiki sambil tersenyum. Kali ini dia menggandeng tangan Yuya dan menariknya masuk. Yuya hanya bisa pasrah mengikuti kemauan kekasihnya itu. Mereka berdua kini melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terbuka.

Tsuzuku....