Senin, 25 April 2016

DIRIKU YANG LAIN

Part 2-FINISH

JUMP X Sensations

~

"Kenapa kita pulang ke rumahmu Yabu?", tanya Chinen sambil asyik memainkan game. Yabu yang menawarkan game itu padanya karena Chinen selalu berkata bosan.

"Inoo mendadak ingin ke rumahku, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya sangat penting dari nada suaranya"

"Uhh... Padahal masih banyak tempat yang ingin kudatangi" rajuk Chinen. Yah member termuda ini memang sangat manja dibandingkan memnebr yang lain.

Yabu membelai kepala Chinen. "Gomen Chii, lain kali kita pergi lagi". Chinen hanya bisa mengangguk lesu. Dia sendiri yang mengajak Yabu pergi dengan egoisnya tadi, masa dia tidak bisa menuruti permintaan Yabu yang hanya sekali?

Tidak lama, bel rumah Yabu berbunyi. Yabu segera beranjak untuk membukakan pintu. Alangkah terkejutnya dia saat melihat begitu banyak orang berdiri di depan pintu rumahnya.

"Maaf Yabu, tolong berikan kami tempat untuk dia. Jangan bertanya apapun, nanti akan kami jelaskan semuanya" terang Inoo.

Yabu hanya bisa diam. Dia sangat terkejut saat melihat sosok yang mirip Chinen masuk. Chinen sedang berada di rumahnya bermain game, lalu itu siapa?

"Nanti akan kami jelaskan" ucap Inoo yang mengerti apa yang dipikirkan Yabu saat ini. "Yang penting kita harus merawat luka dia terlebih dahulu" Inoo menunjuk ke arah Commander yang sedang dipapah oleh Bullet. Yabu mengangguk setuju dan memutuskan untuk bertanya soal ini nanti.

"Tenang saja, aku juga belum paham sepenuhnya apa yang terjadi" bisik Hikaru. "Inoo tiba-tiba memanggilku dan menyuruhku mengantarnya kemari"

Dia lalu mempersilahkan mereka semua masuk dan memerintahkan untuk membaringkan Commander di ruang tengah yang luas. Dimana Chinen yang asli sedang bermain game.

"Ada apa ini?" Chinen heran dengan kedatangan teman-temannya. Matanya langsung tertuju pada Commander yang dipapah oleh Bullet. "Ryosuke?? Apa yang terjadi? Kenapa dia terluka?", tanya Chinen panik.

"Dia bukan Yamada, Chii... Dia commander. Dan ini adalah Bullet dan Doctor", jelas Daiki sambil menunjuk ke arah Bullet dan Doctor.

Mata Chinen dan Doctor sama-sama terbuka lebar. Masing-masing kaget melihat sosok yang mirip di hadapannya. Bullet juga sama kagetnya. Dia bahkan nyaris menjatuhkan Commander yang sedang dipapahnya. Untunglah Inoo langsung sigap menahan tubuh Commander agar tidak jatuh.

"Ah.. Ternyata benar" gumam Doctor. "Kalian mengenal orang yang mirip diriku di dunia ini. Salam kenal, aku Doctor"

---***---

Rapid Fire masih memandangi senjatanya dengan heran. Senjatanya telah berubah tapi tidak lama. Begitu dia mencoba memegang Takaki lagi, senjatanya berubah lagi. Kali ini dia mencoba menyentuh Takaki lebih lama. Dan hasilnya senjatanya berubah. Dia mencoba kekuatan senjatanya sebelum berubah lagi. Dia mengarahkan senapannya ke arah master B dan menembaknya. Rapid Fire terkejut ketika tembakan yang dia keluarkan 2x lebih cepat dan 2x lebih kuat dari sebelumnya.

"Ah!!!!"

Master B mengerang kesakitan. Dia mencoba kabur saat ada kesempatan. Kelima anggota sensations yang lain tidak mempedulikan Master B. Mereka terlalu terkejut dengan serangan yang diluncurkan oleh Rapid Fire.

"Apa yang kau lakukan Rapid? Kenapa senjatamu berubah? Bagaimana kau melakukannya?" Geek menanyainya dengan tidak sabar.

"Eh.. Err... Aku juga tidak tahu. Aku mencoba memegangnya, lalu ada sesuatu yang menyengatku, lalu mengaliri tubuhku dan kemudian aku sadar kalau senjataku telah berubah bentuk"

"Dia?", tanya Scope.

"Iya. Dia", tunjuk Rapid Fire pada Takaki yang masih terbaring pingsan.

---***---

"Yuto!!!"

Yuto menoleh ketika ada seseorang yang memanggil dirinya. Dia melihat Yamada dan Keito sedang melambaikan tangan ke arahnya. Yuto tersenyum dan menghampiri mereka berdua.

"Eh Yamachan... Kukira kau bersama Chinen"

"Yuri? Aku tidak bertemu dengannya hari ini kok. Seharian ini aku keluar bersama dengan Yuya dan Keito"

"Eh? Tapi tadi aku bertemu denganmu sedang bersama dengan Chinen"

"Kau ini bicara apa sih? Aku cuma keluar bersama dengan Yuya, terus kami berpisah dan aku bersama dengan Keito sampai saat ini"

"Eh tapi... Itu benar kau kok. Wajah dan suaranya sama, tidak mungkin aku salah mengenalimu Yama-chan"

Yamada dan Keito saling berpandangan. Wajah Keito tampak sedikit ketakutan. "Jangan bilang kalau yang kau lihat itu hantu, Yuto"

Yamada menjitak kepala Keito. "Tidak ada hantu di siang hari, baka!"

"Tapi siapa yang dilihat oleh Yuto?" Keito meringis sambil memegang kepalanya yang kesakitan.

"Yuto! Kau yakin yang kau temui itu aku dan Yuri?" Yamada memastikan pada Yuto sekali lagi.

"Benar kok... Bahkan kalian duluan yang menghampiriku" tiba-tiba Yuto teringat sesuatu. "Tapi rasanya ada yang aneh saat bertemu dengan kalian"

"A-aneh bagaimana??" Keito langsung bersembunyi di belakang Yamada.

"Yama-chan dan Chii yang kutemui itu memanggilku dengan sebutan 'Bullet'. Mereka juga tampak bingung saat melihatku"

"Bullet?", ucap Yamada dan Keito kompak. "Apaan itu?", tanya Yamada.

"Bullet Yama-chan, bukan Buretto" Keito mengkoreksi Yamada. "Bullet itu berarti peluru dalam bahasa Inggris"

Yamada menatap tajam ke arah Keito lalu kembali menatap Yuto, "Kenapa mereka memanggilmu begitu?", tanya Yamada.

"Entahlah" Yuto mengangkat bahunya. "Atau lebih baik kita tanyakan saja ke Chii-chan langsung?"

"Ide bagus" Keito mengeluarkan hp dari sakunya dan menghubungi Chinen.

---***---

"Hei Geek, mau kau apakan dia?"

Geek tidak mempedulikan Scope. Dia tampak sibuk mengamati tubuh Takaki dari bawah hingga atas. Sesekali dia meminta Rapid untuk memegang Takaki dan setelah itu gantian Rapid yang diperiksa oleh Geek. Terus begitu sampai berulang-ulang.

"Ini misteri. Kurasa ada sesuatu di antara kalian berdua" gumam Geek.

"Apa ini ada kaitannya dengan sosok mereka yang mirip?", tanya Shinobi.

"Kurasa begitu. Saat aku menyentuhnya, tidak ada reaksi apapun" jawab Geek.

"Bicara soal sosok yang mirip" Rapid menunjuk ke arah Scope. "Aku bertemu dengan orang yang mirip dirimu"

"Eh? Kapan?", tanya Falcon Jr.

"Kau ingat saat aku jatuh dan bertabrakan dengan seseorang? Nah, orang yang kutabrak itu mirip sekali dengan Scope"

"Aku tidak memperhatikannya" guman Falcon Jr.

"Ah, ngomong-ngomong aku juga bertemu dengan sosok yang mirip denganku dan Commander" seru Shinobi tiba-tiba. "Tapi awalnya kukira itu cuma perasaanku saja"

"Kapan kau melihatnya? Dimana?", tanya Sonic Hunter.

"Eee... Dimana ya? Aku lupa"

Geek menghela nafas. "Yang penting sekarang kita tahu kalau ada sosok yang mirip dengan kita di dunia ini"

"Apa kau pikir ada orang yang mirip dengan diriku juga di dunia ini?", tanya Falcon Jr.

"Ya. Buktinya kita tahu kalau ada orang yang mirip dengan Rapid Fire, Scope, Shinobi, dan Commander"

"Bicara soal Commander", Falcon Jr menyadari sesuatu. "Kenapa dia tidak kemari?"

"Doctor dan Bullet juga" timpal Scope.

"Aku akan mencoba menghubungi mereka" ucap Geek sambil mengeluarkan alat komunikasi mereka.

---***---

"Uwah... Rasanya aneh" gumam Hikaru.

"Benar. Aku tidak menyangka ada 2 sosok Chinen di rumahku" tambah Yabu.

Ketika Doctor dan Chinen akan protes, tiba-tiba terdengar bunyi nyaring yang berasal dari saku mereka. Chinen mengeluarkan hpnya, sedangkan Doctor mengeluarkan sesuatu yang seperti headset.

"Halo?", ucap keduanya kompak. Entah kenapa Hikaru ingin tertawa saat melihatnya. Yabu menyenggol lengan Hikaru untuk menyuruhnya diam.

"Ah, aku di rumah Yabu Ryosuke... Kau mau kemari?"

"Oh Geek? Akan kukirimkan koordinat tempatku berada sekarang"

---***---

Geek menatap layar monitornya. Setelah beberapa menit menunggu, sebuah pesan yang berisi angka masuk. Geek tersenyum. Itu adalah koordinat dimana Doctor dan yang lain sedang berada saat ini.

"Ayo pergi" Geek mengubah baju dirinya dan teman-temannya lalu berjalan di depan menuntun teman-temannya.

"Tunggu dulu!" Rapid Fire berseru sambil menunjuk ke arah Takaki. "Dia bagaimana?"

"Tinggal saja" ucap Sonic Hunter.

"Kau kejam sekali Sonic" komentar Falcon.

"Bawa saja dia" usul Geek. "Lagipula aku belum selesai menelitinya. Siapa tahu Doctor bisa membantuku menjelaskan soal itu"

"Siapa yang membawanya?", tanya Rapid Fire. Rapid tahu jawabannya ketika melihat semua temannya yang menatap ke arahnya.

"Falcon~~~" rayu Rapid. Dia melihat ke arah Falcon Jr dengan muka memelas. Dia tahu kalau Falcon adalah anak yang baik dan tidak tegaan.

"Hah~~ Baiklah"

Rapid tersenyum. Bersama dengan Falcon akhirnya mereka memapah Takaki.

---***---

Suasana rumah Yabu gaduh. Reaksi Yuto, Keito, dan Yamada saat melihat Doctor, Commander, dan Bullet sangat heboh. Keito bahkan terus bersembunyi di belakang Hikaru, seakan ketakutan. Yuto dan Bullet saling menunjuk satu sama lain, lalu entah kenapa mereka saling pandang tanpa bicara. Yamada terlihat syok saat melihat Commander yang terluka.

"Siapa lagi?" Yabu menggerutu saat ada kegaduhan di depan pintu rumahnya.

"Ah, mungkin itu teman-temanku" jawab Doctor.

"Teman-temanmu? Jangan bilang kalau---"

Ucapan Yabu terpotong. Dia terkejut saat melihat 6 orang anggota Sensations yang lain di depan pintu. Dia lebih terkejut saat melihat Scope. Scope juga memberikan reaksi yang sama.

6 orang anggota Sensations juga sama terkejutnya dengan Yabu. Mereka tidak menyangka kalau kembaran Scope benar-benar ada. Saat mereka masuk ke dalam, mereka kaget ketika bertemu dengan kembaran masing-masing. Sesaat rumah Yabu terasa sunyi karena masing-masing kaget dengan kembaran mereka. Tapi keheningan itu pecah saat Daiki sadar dengan Takaki yang sedang dipapah.

"Eh?? Takaki? Takaki kenapa?", seru Daiki sambil menghampiri Takaki yang dipapah oleh dirinya dan kembarannya. Anggota JUMP yang lain juga melihat ke arah Takaki.

"Dia pingsan saat bertemu kami tadi" jelas Falcon Jr. Mereka berdua merasa aneh saat berbicara. Seakan berbicara pada cermin.

"Commander!" Scope mendatangi Commander yang terluka parah. "Apa yang terjadi?"

"Dia terluka saat bertarung dengan Master B" jelas Bullet.

"Lalu lukanya bagaimana? Apakah sangat parah?" Scope bertanya lagi. Mukanya terlihat cemas.

"Aku sudah mengobatinya dengan obat yang kubawa. Biarkan dia beristirahat sebentar" jelas Doctor. Keenam anggota Sensations langsung menarik nafas lega.

"Lalu kalian darimana saja?", tanya Bullet.

"Kami bertemu dengan Master B tadi. Awalnya kami tidak berhasil melukainya, tapi Rapid---"

Ucapan Geek terpotong saat mendengar suara erangan seseorang. Takaki rupanya sudah sadar. Dia melihat ke sekeliling. Dia langsung pucat saat melihat teman-temannya dan anggota Sensations. Ketika dia melihat Rapid Fire, dia semakin pucat dan bersembunyi di balik Yabu.

"Kau kenapa sih Takaki?", tanya Yabu

"Kita semua akan mati"

"Rapid, apa yang kau lakukan?" Falcon Jr menuduh Rapid lagi.

"Aku tidak melakukan apapun. Dia sendiri yang ketakutan!" Rapid membantah.

"Apa sih maksudmu Takaki?", tanya Yabu.

"Kalian tidak tahu Doppelganger?" Semua menggeleng kecuali Keito. Dia tahu apa maksud Takaki.

"Aku tahu! Konon katanya kalau kita sampai bertemu dengan doppelganger kita, berarti kematian akan semakin dekat" jelas Keito. Takaki mengangguk setuju mendengar penjelasan Keito.

"Jadi itu sebabnya kau kelihatan ketakutan dari tadi" gumam Hikaru yang kini tahu alasan kenapa Keito terus bersembunyi di balik tubuhnya.

"Jadi... Kita semua akan mati??" Yuto mulai terlihat panik.

"Kalian... Itu kan hanya cerita dongeng saja" Yabu berusaha menenangkan teman-temannya.

"Tapi buktinya sekarang kita bisa bertemu doppelganger kita" Takaki melirik ke arah anggota Sensation. "Apalagi dia membawa senjata"

Semua orang menoleh ke arah Rapid. "Tunggu. Senjata itu kan kugunakan untuk melawan Master B" elak Rapid.

"Ah!!" Geek tiba-tiba berseru. "Bicara soal senjata.. Doctor!"

"Hm?"

"Kau harus melihatnya! Rapid, keluarkan senjatamu!"

Rapid mengeluarkan senjatanya sesuai dengan perintah Geek. Doctor tampak terkejut saat melihat senjata Rapid berubah.

"Kau memodifikasi ulang senjatamu?", tanya Doctor. Rapid Fire langsung menggeleng. Dia tahu kalau Doctor akan marah besar kalau seseorang mengubah desain senjata ciptaannya. Semua senjata milik anggota Sensation dibuat oleh Doctor langsung.

"Senjata ini berubah saat Rapid menyentuhnya" Geek menunjuk ke arah Takaki. "Tidak hanya berubah, kekuatan senjata ini juga naik 2x lipat. Rapid bahkan bisa melukai Master B yang sebelumnya tidak mempan dengan serangan kita"

"Hmm...." Doctor mengamati senjata Rapid Fire dengan seksama. Terlintas sebuah ide di kepalanya.

"Bullet coba kau memegangnya" Doctor menunjuk ke arah Yuto.

"Hah?!?!"

"Aku ingin tahu apakah reaksi ini juga dialami oleh yang lain atau hanya antara 2 orang itu saja"

Bullet mengangguk. Awalnya dia bingung tapi Yuto mengulurkan tangannya. Bullet tersenyum. Keduanya berjabat tangan.

"Kau tidak takut denganku?", tanya Bullet.

"Tidak. Kau bukan orang jahat kan? Tidak ada kembaranku yang jahat" jawab Yuto.

Saat keduanya berjabat tangan, Yuto bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya. Bullet juga bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir masuk ke tubuhnya. Ketika Bullet mencoba mengeluarkan senjatanya, senjatanya tiba-tiba berubah. Sama seperti yang dialami oleh Rapid Fire.

Yuto dan Bullet sama-sama terkejut. Bullet tampak kagum dengan bentuk senjata barunya. Sedangkan Doctor berdecak pelan ketika tahu senjata yang dibuatnya dengan susah payah itu bisa berubah sekejap hanya dengan jabatan tangan saja.

"Lihat kan?" Geek meminta keterangan dari Doctor. Doctor tidak menjawab. Dia hanya mengamati senjata Bullet dengan seksama. Anggota JUMP yang lain hanya bisa diam. Tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Jangan-jangan yang kubaca itu benar" guman Geek.

"Soal apa?", tanya Bullet.

"Kalau makhluk bumi memiliki energi yang jauh lebih besar daripada makhluk lainnya"

"Tentu saja" sebuah suara tiba-tiba menyahut pembicaraan Geek.

"Commander! Kau sudah sadar?" Doctor langsung memeriksa tubuh Commander. "Sepertinya lukamu telah membaik"

"Itu berkat obatmu. Terimakasih Doctor"

"Apa maksudmu tadi Commander?", tanya Geek tidak sabar.

"Apa kalian semua lupa? Yang mengalahkan si gurita kuning itu kan juga makhluk bumi sama seperti mereka" jelas Commander.

"Ah... Iya ya..." Semua mengangguk setuju kecuali JUMP. Mereka sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Commander.

"Anoo..." Yamada mulai membuka suara. Commander sedikit terkejut saat melihat Yamada, tapi dia berusaha tenang. "Kalian ini sebenarnya siapa? Darimana? Apa yang kalian lakukan disini?"

Commander melihat ke anggota Sensations yang lain. "Baiklah, aku akan menjelaskannya pada kalian"

---***---

"Kami bersembilan bukan berasal dari bumi. Kami berasal dari galaksi yang berbeda. Ah, sebelumnya kuperkenalkan dulu anggotaku. Ini Scope, Sonic Hunter, Geek, Rapid Fire, Falcon Jr, Doctor, Shinobi, Bullet, dan aku adalah komandan mereka, Commander" Commander menunjuk satu persatu anggotanya sambil menyebut nama mereka. "Kami bersembilan disebut Sensations. Kami datang ke bumi karena kami memiliki misi untuk menangkap salah satu buronan kami yang lolos, yaitu Master B"

"Sebenarnya ini bukan pertama kali kami datang ke bumi, sebelumnya kami pernah datang kemari untuk membunuh makhluk berbentuk gurita dan berwarna kuning. Makhluk bumi memanggilnya dengan sebutan 'Koro-sensei'. Tapi sayangnya dia terlalu kuat dan kami gagal. Dan yang berhasil mengalahkannya adalah anak manusia, muridnya sendiri"

"Master B adalah buronan berbahaya kedua setelah gurita kuning itu. Master B sangat berbahaya dan kami harus segera menangkapnya"

"Seberapa berbahayanya Master B itu?", tanya Yamada.

"Dia bisa memusnahkan dan menghancurkan planet kecil dalam waktu kurang dari sehari"

"Ah... Tsunami itu juga perbuatannya?", tanya Takaki sambil mengingat pertemuannya dengan master B.

"Benar" sahut Sonic Hunter. "Dan sekarang dia lolos"

"Kalau begitu kalian harus segera menangkapnya" seru Chinen. "Bisa berbahaya kalau dia dibiarkan begitu saja"

"Tenang. Dia terluka parah saat terkena serangan Rapid Fire tadi" sahut Geek. "Kurasa tidak secepat itu dia memulihkan dirinya"

"Dan lagi Commander butuh waktu untuk memulihkan dirinya sedikit lagi" timpal Doctor.

"Adakah yang bisa kami bantu?" Yamada menawarkan bantuan. Jiwa penolongnya bangkit.

"Terimakasih, tapi ini urusan kami. Kami tidak bisa membahayakan orang pribumi" tolak Doctor halus. "Eh, tapi mungkin aku akan meminta bantuan kalian. Kalian bersembilan. Bisakah kalian meminjamkan waktu kalian sebentar?"

---***---

"Benarkah cukup dengan ini?", tanya Yamada tidak yakin.

Doctor tersenyum. Dia meraih tangan Yamada dan meletakkannya di atas suatu bola kristal. "Letakkan tanganmu di atas sana"

Yamada menurut. Dia meletakkan tangannya. Seketika ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya. Sesuatu itu kemudian masuk ke dalam bola kristal itu dan bola kristal itu kemudian bercahaya.

"Terimakasih" ucap Doctor.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?", tanya Chinen penasaran.

"Oh.. Aku hanya meminta sedikit energi yang ada di dalam tubuh kalian. Seperti yang kalian tahu, energi kalian mempengaruhi senjata kami saat kalian menyentuh kami. Itu karena energi tubuh kalian mengalir masuk ke dalam tubuh kami dan membuat kami menjadi 2x lebih kuat"

"Eh?? Sekuat itukah? Aku bahkan tidak merasa lemas atau apapun saat menyentuhnya" sahut Yuto.

"Iya, sedikit energi dari kalian sudah cukup kok. Terimakasih"

"Kalian harus bisa mengalahkan Master B! Kami sudah memberikan energi kami untuk kalian" ujar Yamada.

Doctor tersenyum. "Tenang saja, aku tidak akan membuat energi kalian sia-sia"

---***---

"Aku mendapatkan sinyal Master B!"

Semua anggota Sensations langsung mendekat ke arah Shinobi. Mereka memperhatikan tanda lemah yang berkedip di layar Shinobi. Semua saling berpandangan lalu mengangguk. Tidak butuh lama, mereka langsung mempersiapkan diri untuk bertarung dengan Master B lagi.

"Kalian akan pergi sekarang?", tanya Yamada.

"Benar. Kami tidak boleh membuang waktu" jawab Commander.

"Semoga berhasil"

Commander mengangguk dan segera berlari keluar menyusul anggota Sensations lain yang sudah pergi terlebih dahulu. Sunyi mendadak menyerang rumah Yabu. Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat setelah kepergian anggota Sensations.

"Yosh! Ayo kita pergi!" Daiki tiba-tiba memecah keheningan.

"Pergi? Kemana?", tanya member yang lain.

"Menyusul mereka. Memangnya kalian tidak mau melihat bagaimana mereka melawan musuhnya dengan energi dari kita?"

"Memangnya kau tahu dimana tempat tujuan mereka?", tanya Keito. Daiki menggeleng. "Lalu bagaimana kita bisa kesana?"

"Kalau sekarang masih sempat" sahut Chinen. "Yabu! Keluarkan mobilmu! Sebagian masuk ke mobil Yabu, sebagian masuk ke mobil Hikaru! Ayo lekas pergi sebelum kita ketinggalan jauh!"

---***---

"Ketemu kau Master B! Kali ini kami tidak akan membiarkanmu lolos!"

Seluruh anggota Sensations mengepung Master B dari segala arah. Tidak memberikan celah bagi Master B untuk meloloskan diri. Doctor tersenyum kecil saat melihat bekas kecil di tubuh Master B yang disebabkan oleh serangan Rapid tadi.

"Semuanya bersiap!", seru Commander. Seluruh anggota Sensations langsung berubah mengenakan kostum tempur mereka dan masing-masing sudah menggenggam senjata. "Serang!"

Seluruh anggota Sensations langsung berpencar ke posisi masing-masing. Rapid Fire dan Bullet yang pertama kali melancarkan serangan. Mereka menembak dengan bertubi-tubi. Master B berhasil menangkis semua serangan peluru dengan tangan kosongnya. Tapi Rapid Fire dan Bullet terus menembak Master B.

Scope yang mengambil posisi agak jauh, langsung membidik Master B. Selagi Master B sibuk menangkis peluru Bullet dan Rapid Fire, Scope membidik kepala Master B dan menarik pelatuknya. Pelurunya tepat mengenai kepala Master B, tapi kepalanya sama sekali tidak terluka. Scope menggeram marah saat Master B tertawa mengejek ke arahnya.

"Gawat! Peluruku habis!", seru Rapid Fire.

"Aku juga!", sahut Bullet.

"Bullet! Rapid! Minggir!"

Rapid Fire dan Bullet langsung lari menghindar. Tepat pada saat itu Sonic Hunter melempar bumerang miliknya. Master B membalikkan serangan bumerang dengan meniupnya sekuat tenaga. Falcon Jr juga bergabung bersama dengan Sonic Hunter. Dia melempar senjatanya yang berbentuk shuriken. Sayang, Master B berhasil menangkapnya sebelum mengenai tubuhnya dan mematahkan senjata Falcon dengan menggigitnya.

"Senjataku...", Falcon Jr hanya bisa meratapi nasib senjatanya yang telah hancur berkeping-keping.

Shinobi tidak tinggal diam, dia juga melemparkan senjatanya. Tapi sialnya dia kurang tepat memperkirakan letak jatuhnya sehingga senjata itu juga melukai dirinya.

"Aduh, duh, duh..." Shinobi memegangi kakinya sambil merintih kesakitan.

"Shinobi! Minggir!"

Commander langsung melompat dan menyerang Master B. Master B hampir saja tidak bisa menahan serangan Commander karena dia sempat lengah akibat menginjak senjata Shinobi.

"Aku pasti akan mengalahkanmu" geram Commander.

"Butuh 1000 tahun untuk bisa mengalahkanku!"

---***---

"Berhenti!!!!!"

Yabu otomatis menginjak rem karena teriakan Chinen. Hikaru yang mengemudi di belakang juga hampir saja menubruk mobil Yabu.

"Chii, kenapa berteriak tiba-tiba?", gerutu Yuto.

"Lihat! Itu mereka!"

Chinen menunjuk ke arah tanah kosong. Disana terdapat kilatan cahaya dan suara benda yang saling beradu. Yabu dan yang lain bisa melihat sosok Sensations beserta Master B.

Mereka semua keluar dari mobil untuk melihat lebih jelas. Hikaru sempat akan mengomel pada Chinen, tapi Daiki menghentikannya. Kini mereka bersembilan tampak asyik mengamati pertarungan antara Commander dengan Master B.

"Sepertinya Commander kelelahan?", tanya Hikaru.

"Sepertinya begitu" sahut Takaki.

"Apa mereka akan kalah?", gumam Keito.

"Tidak mungkin. Mereka pasti menang" jawab Yamada penuh keyakinan.

"Benar. Kita harus menyemangati mereka" Inoo menarik nafas dalam-dalam. "Ayo semangat Sensations!!! Kalian pasti bisa!!!", teriak Inoo sekuat tenaga.

Semua member lain langsung menjitak kepala Inoo bergantian. "Baka!!!!"

---***---

Geek menoleh saat mendengar suara Inoo. Doctor yang berdiri di sebelahnya meringis menahan tawa.

"Dia benar-benar mirip denganmu"

"Baka. Aku jauh lebih cantik darinya" jawab Geek penuh keyakinan.

Doctor hanya menggelengkan kepalanya. Dia melihat ke arah Commander yang mulai kelelahan. Doctor menggenggam erat alat di tangannya. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Sudah waktunya. Geek!"

Geek mengangguk. Mereka berdua lalu berlari menuju teman-temannya. Geek dan Doctor saling pandang. Mereka menyatukan alat yang ada di tangan mereka. Seketika itu juga baju tempur mereka berubah. Dari yang semula berwarna hitam magenta menjadi putih biru. Anggota Sensations bisa merasakan energi berlimpah yang keluar dari tubuh mereka.

"Energi ini...", gumam Rapid.

"Ini energi dari kembaran kita yang ada di bumi ini. Seperti yang kalian rasakan sekarang, energi mereka sangat besar. Aku tadi meminta energi mereka dan menaruhnya di dalam alatku dan Geek. Kami berdua memodifikasi energi itu supaya bisa menjadi senjata tempur kita" jelas Doctor.

"Lalu? Apa yang kita lakukan dengan energi ini?", tanya Shinobi.

"Arahkan tangan kalian ke Master B!"

Seluruh anggota Sensations mengarahkan tangannya ke Master B. Seketika seakan ada aliran listrik yang keluar. Listrik itu bukan listrik biasa. Listrik itu bisa melukai Master B dan melumpuhkannya. Master B menjerit dan mengerang kesakitan, beberapa menit kemudian dia berhasil lumpuh dan tidak sadarkan diri.

"Kita berhasil!!!!" Semua anggota Sensations bersorak gembira. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan target buruan mereka.

"Belum selesai" Doctor mengeluarkan sebuah senapan jala dan menembakkannya ke Master B. "Aku tidak mau kita kehilangan dia lagi"

Shinobi langsung mengikat Master B yang terlilit dalam jala. Doctor memanggil pesawat mereka dengan alat pengendali pesawat. Mereka harus bergegas pulang untuk memenjarakan Master B dan melapor pada atasan mereka.

"Tunggu sebentar" perintah Commander

Semua anggota Sensations menoleh. Mereka melihat anggota JUMP yang berlari ke arah mereka.

"Kita harus berterimakasih pada mereka" ujar Commander. Semua anggota Sensations mengangguk setuju.

"Kalian akan segera pergi??", tanya Yamada sambil mengatur nafasnya.

"Kami harus segera membawa Master B kembali sebelum dia sadar", jelas Commander.

"Eh??? Kalian tidak main dulu disini???", kali ini giliran Chinen yang berbicara.

"Tidak. Kalau kami semakin lama disini, aku takut dia akan mati beneran karena terus takut aku akan membunuhnya" sahut Rapid sambil menunjuk ke arah Takaki. Takaki hanya bisa tersipu malu dan member lain tertawa melihat aksinya.

"Terima kasih. Berkat bantuan kalian, kami bisa mengalahkannya" Doctor mengulurkan tangannya ke arah Yamada. "Terima kasih banyak"

"Sama-sama. Terima kasih sudah menyelamatkan bumi ini" balas Yamada.

"Kami pergi dulu. Senang bisa berjumpa dengan kalian"

Commander melambaikan tangannya dan melangkah masuk ke dalam pesawat diikuti oleh member lainnya. Sesaat sebelum pintu pesawat menutup, seluruh anggota Senations berdiri disana, "Arigatou!!!", seru mereka.

Anggota JUMP terus melambaikan tangan mereka sampai pintu pesawat menutup. Perlahan pesawat mulai lepas landas meninggalkan daratan. Sesaat sebelum pesawat pergi, Yamada bisa melihat Commander melambaikan tangannya dari jendela pesawat. Setelah itu, pesawat menghilang dari hadapan mereka dengan secepat kilat.

"Sayounara... Sensations"

EPILOGUE

Yamada dan yang lain segera kembali menuju ke rumah Yabu. Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita mengenai pertemuan mereka dengan anggota Sensations. Hari itu memang tidak mudah dilupakan oleh mereka. Jarang-jarang kan bertemu dengan  kembaran diri sendiri?   

Mobil berhenti di lampu merah. Yamada sesekali melihat ke luar jendela. Begitu banyaknya orang yang berlalu lalang. Suasana tetap sama meskipun beberapa jam sebelumnya orang-orang itu tidak tahu bahaya yang akan mengancam mereka.

"Eh???"

Mata Yamada membesar saat seseorang lewat di depannya. Yamada terus memperhatikan orang itu. Yamada menahan nafasnya saat orang itu juga melihat ke arahnya. Orang itu melihat ke arah Yamada dengan muka yang sama terkejutnya.

"Kenapa Ryosuke? Mukamu seperti baru saja melihat hantu"

"Tidak. Bukan apa-apa. Mungkin aku salah lihat"

Yabu segera melajukan mobilnya ketika lampu berubah menjadi hijau. Yamada menoleh sekali lagi dan orang itu sudah tidak ada disana.

"Sudah kuduga, itu cuma perasaanku saja"

---***---

"Nagisaa~~~ kau kenapa bengong?"

"Karma kun, kau melihat orang yang ada di mobil tadi?"

"Tidak. Memangnya kenapa???"

"Bukan apa-apa. Ayo kita segera pergi. Isogai sudah menunggu kita"

END

Jumat, 22 April 2016

2nd Anniversary

Memperingati 2 tahun jump da baby.

Ff ini terinspirasi dari jumpaper daichan 2 tahun yg lalu. Dan sebagian cerita di ff ini benar, sebagian enggak.

~

Daiki melangkahkan kakinya menuju kantor Bay FM. Hari ini, dia berencana bertemu dengan Takaki disana. Hari Jumat kemari dia sudah mengajak Takaki untuk datang. Hari ini, tanggal 4, adalah hari yang berarti bagi mereka berdua. Hari dimana sudah 2 tahun impian mereka berjalan.

Daiki masuk ke dalam. Dia sudah memberitahu staff disana tentang apa yang akan dia lakukan hari ini. Dan beberapa staff mengijinkan. Daiki sangat berterimakasih karena semua staff disana baik dan bisa diajak kerjasama.

Daiki masuk ke ruangan dimana dia biasa melakukan siaran tengah malam. Di ruangan inilah mereka berdua bersama selama 30 menit. Menghibur pendengar dan sesekali bercanda tawa. Disinilah keduanya bisa bertemu seminggu sekali. Jika keduanya sibuk dan tidak bisa bertemu di hari biasa, maka mereka akan bertemu disini.

Daiki duduk di bangku yang biasa dia duduki. Disana, dia menatap bangku kosong yang ada di depannya. Tempat dimana rekannya biasa duduk. Seseorang yang sudah lama dikenalnya. Hampir 12 tahun mereka saling mengenal dan sejak saat itu hubungan mereka tetap baik.

---***---

9 tahun yang lalu...

"Sedang apa Takaki?"

Takaki melepas headsetnya. "Mendengarkan radio"

"Owah.. Radio apa?"

"Kau mau dengar?", Takaki menyerahkan salah satu headsetnya. Daiki segera mengenakannya. "Bagaimana? Seru kan?"

"Hu um" Daiki mengangguk setuju. "Acaranya menarik. Aku ingin menjasi penyiar seperti dia"

"Kita sama!", seru Takaki. "Aku juga berpikiran, 'aku ingin memiliki acara radio seperti ini'"

"Kurasa seru kalau kita memiliki acara radio sendiri"

"Kita? Kau dan aku?"

"Kenapa? Kau tidak mau siaran denganku?" Daiki memasang muka kecewa.

Takaki menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Itu ide yang bagus. Kita berdua pasti bisa memiliki acara radio sendiri. Ayo berdoa semoga keinginan itu terkabul"

"Hu um", jawab Daiki dengan semangat.

---***---

Daiki tidak menyangka, impian mereka berdua 9 tahun lalu itu terkabul. Dia sama sekali tidak mengira kalau semuanya bisa berjalan sesuai keinginannya. 9 tahun lalu, saat itu mereka masih di Hey! Say! 7, lalu di Hey! Say! JUMP. Daiki juga tidak mengira kalau mereka masih berada di grup yang sama hingga saat ini.

Daiki merasa lega. Untunglah Takaki tidak jadi keluar saat itu. Untunglah Yabu dan Hikaru berhasil mencegah Takaki agar tidak keluar dari JUMP. Daiki juga lega saat itu dia bisa mengajak Takaki dan anggota BEST lainnya untuk berkumpul dan merayakan ultah Takaki saat itu.

"Kalau Takaki keluar, impian kami saat itu pasti tidak akan terwujud. Aku tidak akan bisa memiliki acara radio ini", gumam Daiki.

"Daiki? Kau disini?"

Takaki masuk ke dalam. Daiki menyambutnya dengan gembira. Meskipun dia sedikit menggerutu karena Takaki telat beberapa menit.

"Kau lama!"

Takaki mengatupkan kedua tangannya. "Gomen... Aku tadi membeli ini"

Takaki menyerahkan kotak kecil yang dia bawa. Daiki menatap kotak itu dengan penasaran.

"Bukalah", perintah Takaki setelah dia bisa membaca isi pikiran Daiki.

Daiki membuka kotak kue itu. Dia terkejut ketika melihat isinya. Sebuah kue tar mini. Daiki terharu saat membaca tulisan di atas kue.

'Selamat 2 tahun BayJump!'

"Kau ingat?", tanya Daiki. Yuya mengangguk. "Kupikir kau melupakannya"

"Bagaimana aku bisa lupa? 4 April adalah tanggal pertama kita siaran disini kan? Tahun kemarin kita tidak merayakannya, jadi kupikir sekarang kita rayakan saja" Takaki tersenyum dan menatap Daiki. "Happy Annivesary, Daiki"

END

Kamis, 21 April 2016

DIRIKU YANG LAIN

Cast : Hey! Say! JUMP x Sensations
Genre : Fantasy
Type : Series
Rate : PG 13

~

Tahukah kalian jika setidaknya ada 7 orang yang memiliki wajah sama di dunia ini? Mereka bukan orang kembar, tapi orang yang memiliki wajah yang sama. Itulah hal yang disebut doppelganger. Dan rumor yang beredar mengatakan kalau kalian bertemu dengan doppelganger kalian, maka saat itu kalian akan mati. Rumor lain mengatakan kalau kalian akan menyatu dengan kembaran kalian dan hidup sebagai orang yang baru. Mana yang benar? Tidak ada yang tahu. Karena tidak ada orang yang bisa mengatakan kebenarannya.

Dimana doppelganger kita? Tidak ada yang tahu. Bisa saja dia ada di kota yang sama, negara yang sama, atau mungkin berada di planet lain. Bagaimana reaksi mereka saat bertemu doppelganger mereka yang berasal dari planet lain?

---***---

Di sebuah planet. Well... Mungkin ini bukan planet. Lebih tepat kalau dibilang sekumpulan batu luar angkasa yang mengorbit di tempat yang sama. Kumpulan batu ini saling menempel satu sama lain sehingga bila dilihat dari jauh terlihat seperti sebuah planet kecil.

Disana, terlihat banyak pesawat luar angkasa saling mondar mandir mengelilingi planet tersebut. Masing-masing pesawat berisi 9-10 orang. Sebuah pesawat tampak sudah siap lepas landas dari anjungannya.

"Commander", ucap seseorang dari sebuah monitor besar. Tampaknya dia sedang berbicara dengan pemuda tampan yang sedang melihatnya melalui sebuah monitor. "Aku punya misi untukmu. Kumpulkan semua anggota dan pergilah ke bumi. Master B telah lolos dan kini bersembunyi di bumi. Aku ingin kalian semua menangkap master B"

"Baiklah"

---***---

Di luar angkasa, di sebuah tata surya yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari bumi, sebuah pesawat luar angkasa berisi 9 orang berseragam sama dari planet sensation, sedang menuju ke bumi. Mereka memiliki misi untuk membawa kembali seorang tahanan yang cukup berbahaya dan dapat merusak ekosistem sebuah planet.

"Commander, kita akan pergi kemana?", tanya anggota berbadan paling tinggi.

"Bumi. Master B berhasil melarikan diri dan bersembunyi di bumi", jawab orang yang dipanggil commander.

"Geek, kau tahu arah tujuan kita kan?", tanya pemuda paling pendek di pesawat itu.

"Tidak ada yang tidak kuketahui. Aku sudah menyerahkan lokasi bumi kepada Scope. Semoga dia berhasil membawa kita kesana"

---***---

Sementara itu, di bumi, di Jepang

"Yappari! Keito!"

Pemuda bernama Keito itu kaget saat namanya disebut. Dia tidak menyangka ada orang yang mengenalinya di kafe yang cukup sepi ini. Dia sengaja memilih tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Jika ada yang tahu itu dia, kenyamanannya akan terganggu. Apalagi jika itu seorang fans.

"Yama-chan..." Keito menghela nafas lega ketika melihat wajah orang yang dikenalnya. Beruntunglah dia itu bukan salah satu fansnya. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?"

"Berkat ini" Yamada menunjukkan hpnya. Di layar tertera sistem gps dan Keito tahu titik merah di gps itu adalah dirinya, karena titik itu menunjukkan nama tempat dia berada. "Aku tadi sedang berjalan berdua dengan Takaki, lalu aku segera kemari ketika tahu kau ada disini"

"Lalu? Takaki dimana sekarang?"

"Pulang" Yamada menarik sebuah kursi dan mendudukinya. "Aku masih ingin bersantai diluar, jadi kuputuskan untuk bergabung denganmu. Kau keberatan?"

"Tidak. Aku senang kau menemaniku"

---***---

Tidak lama, pesawat yang berisi anggota sensation tiba di bumi dan mendarat dengan sempurna di pinggir negara Jepang. Mereka menyamarkan pesawat mereka sehingga tidak tampak secara kasat mata. Pintu pesawat itu terbuka.

"Inikah bumi?", tanya Geek yang turun lebih dulu dari pesawat. "Tempat yang sangat berbeda dengan planet kita"

"Tempat yang indah", gumam Rapid Fire.

"Kita harus segera menemukan Master B sebelum dia merusak planet ini" gumam Commander. "Geek, dimana master B sekarang?"

Geek mengeluarkan monitor kecilnya. "Aku kehilangan jejaknya. Aku tahu dia mendarat disini berkat sistem gps pesawat yang digunakannya untuk kabur. Tapi setelah itu aku kehilangan jejaknya. Sepertinya dia sudah berpindah dari tempatnya semula. Tapi kurasa dia masih belum jauh dari sini"

"Yosh! Ayo segera kita kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!", ucap Sonic Hunter dengan semangat. Dia mengecek senjatanya sebelum pergi.

"Tunggu!", seru Shinobi. "Kalian yakin akan pergi dengan baju seperti itu?"

Anggota sensation yang lain saling memandangi seragam mereka yang berwarna hitam magenta. Kostum mereka sangat mencolok.

"Apa yang salah Shinobi?", tanya Bullet.

"Kalian tadi tidak melihat pakaian yg digunakan orang sini? Kita akan menarik perhatian kalau menggunakan pakaian ini. Lebih baik kita berganti pakaian, master B juga tidak mudah menyadari kehadiran kita"

"Tapi.. Bagaimana kita bisa mendapatkan pakaian orang sini?", tanya Falcon Jr.

"Tidak masalah", Doctor mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah pistol. Dia lalu menembakkan satu persatu ke arah anggota lain. Kostum hitam magenta itu kini berubah menjadi baju biasa.

"Kau jenius Doctor!", puji Falcon Jr.

"Baiklah. Kita akan berpencar menjadi 3 tim. Siapa yang menemukan master B lebih dulu, harap segera memberitahu yang lain", perintah Commander.

"Siap!"

---***---

Di tengah hiruk pikuknya kota. Ada 3 orang dari luar galaksi sedang berjalan di tengah kerumunan.

"Uwah... Padat sekali penduduknya", ucap Scope yang berkali-kali berhenti melihat toko atau layar iklan yang sedang diputar disana. Tingkahnya seperti orang kampung yang baru pertama kali pergi ke kota besar.

"Scope... Jangan diam disitu. Ayo kita cari master B"

"Sonic Hunter tidak asyik ah..."

Scope langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam dari Sonic Hunter. Dia kemudian mengikuti Sonic Hunter tanpa berkomentar lebih jauh. Sonic Hunter lebih muda darinya tapi dia lebih disiplin.

"Shinobi? Sedang apa?", tanya Scope yang sadar kalau Shinobi sedang mengamati sesuatu.

Shinobi menggelengkan kepalanya "Tidak ada apa-apa"

'Itu cuma perasaanku saja, mungkin aku salah lihat. Masa aku melihat diriku dan Commander sedang duduk santai disana'

---***---

"Yabu!!! Coba lihat itu!!"

Chinen langsung berlari meninggalkan Yabu yang menemaninya. Chinen dengan semangat menuju ke sebuah toko kue.

"Dasar anak muda"

Yabu mempercepat langkahnya. Dia ingin segera menyusul. Tapi rupanya dia tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya sehingga dia menyenggol seseorang.

"Ah... Maaf"

"Aku juga minta maaf"

Dua orang yang sedang bertabrakan itu saling meminta maaf. Keduanya tampak terkejut ketika melihat wajah orang yang menabraknya. Mereka berdua membuka mulutnya, seakan ingin mengatakan sesuatu.

"Yabu! Sedang apa? Ayo cepat!", teriak Chinen yang sedang menunggu.

"Rapid fire! Kau ini... Makanya jalan lihat ke depan", Falcon Jr segera menarik Rapid Fire tanpa melihat ke arah Yabu.

"Takaki?", gumam Yabu sambil masih melihat ke arah Rapid Fire yang berjalan menjauh.

"Tadi itu.. Scope? Bukan. Itu bukan dia. Auranya lain. Tapi kenapa wajahnya sama?", gumam Rapid Fire.

---***---

"Bullet? Dimana dia?"

Commander dan Doctor terpisah dari Bullet di tengah kerumunan orang banyak. Karena tubuh kecil mereka, mereka bisa melewati orang dengan mudah, berbeda dengan Bullet yang memiliki tubuh tinggi.

"Ah itu dia!", Doctor menunjuk ke arah sosok yang mirip Bullet. Dia segera menghampiri orang itu.

"Bullet! Kau ini... Kenapa meninggalkan kami??"

"Ara? Yama-chan? Chii? Sedang apa kalian disini?"

"Bullet... Siapa Yama-chan dan Chii?", tanya Doctor bingung.

"Kenapa kalian memanggilku Bullet? Itu nickname baruku?"

"Doctor, dia bukan Bullet yang kita kenal", bisik Commander yang menyadari keanehan itu.

"Ah, aku harus pergi! Sampai ketemu lagi ya!"

Doctor dan Commander menatap bingung ke arah sosok yang mirip Bullet itu.

"Ternyata kalian ada disini. Kucari dari tadi"

"Bullet?", tanya Commander

"Iya? Ada apa?"

"Kau Bullet yang asli?", tambah Doctor

"Memangnya ada Bullet yang lain?", tanya Bullet heran.

"Kalau begitu, yang tadi ada disini itu siapa?", tanya Doctor bingung.

---***---

Seorang bertubuh besar sedang berdiri di puncak Tokyo Tower. Dia melihat ke sekeliling kota dari atas sana.

"Tempat ini sangat indah. Membuatku gatal ingin merusaknya! Akan kubuat planet ini menjadi rata! Ahahahaha....!!!!"
---***---

"Aku mendapatkan reaksi!", seru Shinobi sambil melihat monitor kecil miliknya. Scope dan Sonic Hunter langsung mendekatinya dan ikut mengamati layar tersebut.

"5km, itu tidak terlalu jauh dari sini. Ayo kita segera kesana!", seru Scope sambil berlari terlebih dahulu. Sonic Hunter berlari di belakangnya. Mereka dengan semangat pergi ke tempat dimana Master B berada.

"Tunggu dulu.. Kita harus memberitahu yang lain juga!", seru Shinobi. Tapi sayangnya seruannya tidak didengar oleh dua orang itu. Shinobi hanya bisa menghela nafas dan mengetikkan sesuatu di layar monitor miliknya untuk memberitahu rekannya yg lain.

---***---

"Hmm... B-cup, yang itu C-cup"

"Ah.. Cewek itu ingin bertemu dengan temannya. Uwah... Temannya cantik juga"

Falcon junior menghela nafas melihat dua rekannya yang terkenal mesum itu. Geek memiliki kemampuan untuk melihat ingatan seseorang, sehingga dia bisa tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain. Pada tahap tertentu, dia juga bisa mengendalikannya, tapi kemampuan itu hanya berlaku pada perempuan saja. Entah itu karena perempuan yang terlalu lemah atau Geek yang terlalu menyukai perempuan.

Berbeda dengan Geek, kemampuan Rapid Fire adalah menembakkan senjata dengan cepat. Dia memiliki refleks yang bagus. Sesuai namanya, Rapid Fire. Akan tetapi, dia memiliki kemampuan tidak penting lainnya, mengetahui ukuran tubuh seorang perempuan. Falcon Jr mengira kalau kemampuannya yang tidak penting itu berhubungan dengan kebiasaannya yang selalu bergaul dengan perempuan.

"Ah!", seru Daiki saat mendengar bunyi sinyal dari headset miliknya. Rapid Fire dan Geek juga mendapat sinyal yang sama. Sinyal yang berasal dari salah seorang di antara mereka. Sinyal yang menunjukkan kalau ada yang sudah menemukan master B.

"Ayo pergi"

---***---

"Disini?", tanya Bullet sambil melihat ke sekelilingnya. Tanah lapang yang luas dan sungai yang ada di pinggirnya. Tempat ini yang ditunjukkan oleh Shinobi.

"Menurut petunjuk Shinobi disini tempatnya. Dan sistem pelacak juga mengatakan kalau master B ada di sekitar sini", jawab Doctor.

"Jangan lengah"

Commander memasang sikap waspada. Tangannya menggenggam erat pedang yang ada di tangannya. Begitu pula dengan Doctor dan Bullet. Mereka menggenggam erat senjata masing-masing.

"Huahahahaha!!!! Tidak kusangka bisa bertemu dengan Sensation disini!"

Ketiga orang itu menoleh. Master B berdiri disana. Mereka langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Master B. Pakaian mereka pun kembali seperti semula. Seragam berwarna hitam magenta. Seragam itu memang baju yang digunakan untuk bertempur.

"Akan kami tangkap kau Master B!"

"Cobalah kalau kalian bisa!", tantang Master B.

---***---

"Daichan! Coba lihat itu!"

Daiki langsung mendekati Inoo dan melihat ke arah yang ditunjuknya. Dia bisa melihat 3 orang berkostum aneh dan seorang laki-laki bertubuh besar yang sedang bertarung.

"Perkelahian? Haruskah kita lapor polisi?"

"Baka! Apa kau tidak melihatnya dengan jelas?" Inoo menepuk kepala Daiki karena kesal. "Coba lihat 3 orang itu. Bukankah mereka mirip Yamada, Chinen, dan Yuto?"

Daiki memicingkan matanya. Dia berusaha melihat dengan baik wajah ketiga orang itu. Matanya terbuka lebar ketika mengenali wajah ketiga orang itu. "Are? Bukankah itu Yamada, Chinen dan Yuto?"

Akibat suara Daiki yang cukup keras, membuat Doctor menoleh ke arah mereka. Mata mereka bertemu.

"Geek! Falcon! Kenapa kalian diam saja disana? Ayo bantu kami!"

"Hah?", seru Inoo dan Daiki bersamaan.

"Geek?"

"Falcon?"

"Apa-apaan itu? Chii! Kenapa ini? Apa yang terjadi?", tanya Inoo setengah berteriak.

Doctor menghentikan serangannya untuk sementara. Di melihat ke arah Inoo dan Daiki. Dia teringat ketika dia memanggil seseorang yang dikiranya 'Bullet', orang itu juga memanggilnya dengan sebutan 'Chii'.

"Jangan bilang kalau mereka itu..."

"Doctor! Kau sedang apa? Fokuskan dirimu!", seru Bullet sambil terus melancarkan pelurunya ke arah Master B. Belum ada satupun peluru yang berhasil melukai Master B. Tubuh Master B memang keras seperti baja.

Doctor memutuskan untuk kembali memfokuskan dirinya dan melupakan soal Inoo dan Daiki untuk sementara waktu. Memang aneh. Tapi menangkap Master B adalah tujuan utama.

"Dia kenapa sih?", gerutu Inoo. "Apa yang terjadi disini? Mereka bertarung satu sama lain. Orang besar itu siapa? Lalu kenapa Yuto memiliki senjata seperti pistol yang sering kulihat di video games? Yamada juga memegang pedang bersinar seperti yang ada di Star Wars"

"Apa mungkin mereka sedang syuting film?", celetuk Daiki.

"Baka! Tidak ada satupun kru film disini" Inoo kembali memukul kepala Daiki. "Kenapa baka-nya si Bakaki menular padamu?"

"Lalu.. Apa yang sedang mereka lakukan?"

"Tidak tahu"

Daiki dan Inoo saling berpandangan. Masing-masing tidak punya ide apa yang sedang terjadi.

"Commander!"

Daiki dan Inoo langsung menoleh ketika mendengar seruan Doctor. Sosok yang mirip dengan Yamada itu tergeletak di tanah. Sepertinya dia terluka. Orang besar yang bertarung dengan mereka bertiga mendadak hilang. Sepertinya dia pergi entah kemana.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat kejar Master B!"

"Lalu meninggalkanmu sendirian? Tidak! Kita harus merawat lukamu. Kau lebih penting daripada Master B", seru Bullet.

"Lalu, bagaimana ini?", ucap Doctor sambil melihat luka di perut Commander. Master B tadi berhasil mengelak serangan pedang Commander dan membuat pedangnya berbalik arah menusuknya.

"Aku akan menghubungi yang lain. Kita juga harus menemukan tempat untuk merawat luka Commander"

"Anoo..."

Doctor dan Bullet menoleh. Bullet tampak terkejut ketika melihat Inoo dan Daiki yang mirip sekali dengan Geek dan Falcon Jr. Berbeda dengan Doctor. Karena tadi dia sudah bertemu dengan kembarannya Bullet di bumi ini, dia tidak kaget kalau menemukan orang yang persis dengan temannya atau bahkan mungkin dirinya.

"Geek? Falcon? Kalian dari tadi ada disini?", tanya Bullet yang masih belum mengetahui kalau dua sosok yang ada di depannya ini bukan sosok yang dikenalnya.

"Geek? Falcon? Siapa itu?", tanya Inoo. "Kau Yuto kan?"

"Yuto? Yuto siapa? Namaku Bullet"

"Bullet, mereka bukan Geek dan Falcon Jr yang kau kenal" potong Doctor. "Perkenalkan, namaku Doctor, dia Bullet, dan ini Commander. Kami berasal dari planet lain dan kami sama sekali tidak sama dengan teman kalian"

Daiki dan Inoo saling berpandangan. Mereka berdua terkejut sekaligus heran dengan orang yang ada di hadapan mereka itu. Wajah dan suaranya memang mirip dengan Chinen, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda.

"Commander!", Bullet tampak mengguncang tubuh Commander. Dia juga sibuk menutup luka yang ada di tubuh Commander agar darahnya tidak terus mengalir keluar.

"Lebih baik bawa dia ke Rumah Sakit" saran Daiki.

"Jangan!" Inoo berseru. Daiki melihat ke arah Inoo dengan heran. "Tidakkah kau lihat kalau mereka sangat mirip dengan teman kita? Jika kita membawanya ke RS, media akan mengira Yama-chanlah yang terluka. Dan suasana akan menjadi gempar. Tidak hanya kita yang akan kerepotan, tapi mereka juga"

"Lalu apa yang akan kita lakukan? Tidak mungkin kita membiarkannya begitu saja" ucap Daiki yang tidak tega melihat kondisi Commander.

"Kita bawa dia ke salah satu rumah teman kita" Inoo tersenyum. "Aku tahu siapa orang yang tepat"

---***---

Seorang pemuda tampak asyik menikmati pemandangan di pantai. Dia memang sangat suka laut. Jika ada waktu senggang, dia pasti akan ke laut dan menikmati keindahannya. Bagi dia, pergi ke laut lebih menyenangkan daripada tawaran Yamada untuk pergi ke tempat Keito.

"Hmm? Orang itu sedang apa?"

Di pinggir pantai ada orang yang tampaknya sedang melakukan sesuatu. Orang itu berbadan sangat besar dengan pakaian yang aneh, jelas saja menarik perhatian. Tidak lama, air laut mendadak surut dengan cepat. Dan pemuda itu bisa melihat jelas gulungan air laut yang meninggi di kejauhan.

"Yabai! Tsunami!"

Pemuda itu panik. Dia segera berdiri untuk kabur. Tapi ketika dia membalikkan badannya, dia dikejutkan dengan kedatangan tiga orang berbaju mencolok yang mirip dengan temannya.

"Itu master B! Kita menemukannya shinobi!", seru orang yang mirip dengan Yabu.

"Rapid!" Kali ini giliran orang yang mirip dengan Hikaru berseru sambil berjalan ke arahnya. "Kalau kau ada disini, kenapa kau tidak mencegah master B!"

"Hah???" Pemuda itu melongo keheranan.

"Kok malah 'hah?' sih" orang itu berbicara lagi. "Cepat berubah dan keluarkan senjatamu!"

"Eh? Tunggu dulu. Berubah? Senjata? Apa maksudmu Hikaru?"

"Hikaru? Siapa? Aku ini Sonic Hunter. Kalau kau ingin bercanda, ini bukan waktu yang tepat Rapid..."

"Rapid itu siapa? Aku ini Takaki Yuya!"

Shinobi yang merasa ada yang janggal segera melerai Sonic Hunter dan Takaki Yuya. Dugaannya tidak salah. Dia yakin pemuda bernama Takaki Yuya itu hanyalah orang yang mirip dengan Rapid Fire. Berarti sosok yang mirip dengannya dan Commander tadi juga bukan karena penglihatannya yang salah. Memang ada sosok yang mirip dengan mereka.

"Sonic Hunter, lebih baik kita fokus ke master B. Lihat, dia akan membuat tsunami. Jika itu terjadi, akan banyak korban jiwa disini"

Sonic Hunter menatap Shinobi lalu melihat ke arah master B. Scope sudah terlebih dahulu menyerang master B, tapi tembakannya tidak mempan. Sonic Hunter lalu memutuskan untuk menghiraukan Takaki dan membantu Scope. Shinobi juga ikut bersamanya. Shinobi dan Sonic Hunter melemparkan senjata mereka secara bersamaan. Tapi master B tampaknya tidak terlalu terluka karena serangan mereka.

Takaki melihat pertarungan itu dengan mulut terbuka. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Siapa orang-orang itu? Kenapa wajah dan suara mereka mirip dengan orang yang dia kenal? Terlebih lagi, kenapa mereka bertarung dengan orang besar itu? Siapà orang yang dipanggil master B itu? Apa yang sebenarnya terjadi?

Takaki menggarukkan kepalanya tidak mengerti. Dia merasa pusing karena terlalu keras berpikir. Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba muncul tiga orang lagi yang memakai baju yang sama dengan orang-orang yang sedang bertarung itu. Takaki mengucek matanya saat melihat wajah salah satu dari tiga orang yang barusan datang itu mirip dengan dirinya.

"Eh?!?! Aku???"

Mereka berdua saling menunjuk satu sama lain. Spontan teriakan mereka berdua menghentikan langkah 2 orang yang lain. Mata Takaki terbuka lebar lagi saat melihat dua orang yang mirip dengan Inoo dan Daiki.

"Aku akan mati!!!!" seru Takaki sebelum tidak sadarkan diri.

---***---

Yabu cuma memandangi kue yang ada di depannya. Sekali-kali dia menyentuhnya, tapi dia tidak memakannya. Dia berpikir terlalu serius sehingga tidak menghiraukan yang lain. Dia bahkan tidak mendengar bunyi hpnya yang terus berdering dari tadi.

"Yabu!" Chinen yang tidak sabaran akhirnya memukul kepala Yabu untuk menyadarkannya. Yabu melotot ke arahnya, tapi Chinen membalasnya dengan melotot juga. "Hpmu bunyi tuh! Cepat angkat! Risih aku mendengarnya"

Yabu mengambil hpnya. Nama Inoo muncul disana. Yabu mengernyit heran, Inoo sudah jarang meneleponnya lagi. "Halo?"

"Yabu! Yokatta... Kenapa lama sekali kau mengangkat teleponnya? Kau senggang kan? Aku akan ke rumahmu sekarang"

---***---

"Yosha! Sekarang kita bawa ke rumah Yabu!" Inoo berseru gembira sambil mengacungkan jempolnya.

"Kenapa harus ke rumah Yabu?", tanya Daiki.

"Karena dia orang yang terlintas di pikiranku tadi" jawab Inoo seadanya. "Lagian aku familiar dengan rumah Yabu sih"

"Terus bagaimana kita kesana? Kalau naik angkutan umum jelas menarik perhatian"

"Gampang.. Aku sudah mengirim pesan pada seseorang. Dia yang akan menjemput kita"

"Seseorang? Siapa?"

Tidak lama, terdengar suara mobil mendekat ke arah mereka. Inoo tersenyum saat melihat Hikaru keluar dari mobil. Dialah yang mengirim pesan ke Hikaru dan memintanya untuk membawa mobil.

"Eh??? Sonic Hunter???", seru Bullet.

"Bukan Bullet. Dia bukan Sonic Hunter teman kita, tapi teman mereka yang mirip dengan Sonic Hunter" jelas Doctor dengan tenang. Sesungguhnya dia juga terkejut melihat ada orang yang mirip dengan Sonic Hunter. Tapi dia berusaha tenang.

"Inoochan! Kenapa kau memintaku kemari? Eh? Ada Daichan juga. Lalu---" Hikaru menyadari keberadaan Doctor dkk. "Eh??? Yamada, Chinen, dan Yuto??" Inoo dan Daiki sudah menduga reaksi Hikaru yang itu. "Ada apa ini? Tunggu, kenapa dengan Yamada?"

"Hikaru. Mereka bertiga itu bukan Yamada, Chinen, dan Yuto. Mereka adalah Commander, Doctor, dan Bullet. Mereka berbeda dengan orang yang kita kenal" jelas Inoo.

"Eh?? Apa? Eh???"

"Berisik!" Daiki tidak tahan lagi. "Nanti akan kami jelaskan semuanya. Pertama-tama, bantu kami membawa mereka ke rumah Yabu"

"Kenapa harus ke rumah Yabu?", tanya Hikaru.

"Karena aku ingin kesana" jawab Inoo.

---***---

"Rapid! Kenapa kau membunuhnya!!!"

"Aku tidak membunuhnya! Dia pingsan!"

"Lalu kenapa dia berteriak, 'aku akan mati!' tadi?"

"Mana kutahu, dia pingsan sendiri"

"Apa yang kau lakukan sampai dia pingsan begitu?"

"Sudah kubilang... Aku tidak melakukan apa-apa! Dia pingsan sendiri!"

Geek mengacuhkan pertengkaran Rapid dan Falcon. Dia pergi mengamati Takaki yang pingsan. Geek tertegun melihat wajah Takaki yang sangat mirip dengan Rapid Fire. Hanya saja Takaki ini lebih kurus sedikit daripada Rapid.

CLASH!

Geek menoleh ke arah pertarungan Master B dan teman-temannya. Shinobi dan Sonic Hunter tampak kelelahan. Sedangkan Scope tidak bisa menembak karena takut mengenai Shinobi dan Sonic.

"Falcon!" Falcon menoleh. "Lebih baik kau segera bantu Shinobi dan Sonic Hunter. Aku akan membantu Scope"

Falcon Jr ingin protes lagi, tapi melihat kondisi pertarungan yang cukup genting, Falcon mengangguk dan segera bergabung bersama dengan Shinobi dan Sonic.

"Eh?? Lalu aku???", tanya Rapid kebingungan.

"Kau urus dia terlebih dahulu" seru Inoo sambil menunjuk ke arah Takaki yang masih pingsan.

Rapid Fire memandang Takaki. Dia merasa geli dan aneh saat melihat orang yang berwajah sama dengan dirinya terbaring disana. Rapid Fire mengulurkan tangannya dengan takut-takut. Dia mencoba memegang tangan Takaki.

Rapid Fire bergidik saat merasa ada sesuatu yang menyengatnya saat dia menyentuh Takaki. Dia mencoba sekali lagi dan dia merasakan hal yang sama. Tiba-tiba Rapid Fire merasa aneh. Senjatanya bergetar dan tiba-tiba saja berubah menjadi bentuk yang baru.

"Apa-apaan ini????"

Tsuzuku~~~

Rabu, 20 April 2016

LITTLE PRANK, MORE REGRET

Part 3

Main cast : Reader
Cast : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Kawaguchi Haruna, Nishiuchi Mariya
Genre : Angst, Romance

~

“Kau kenapa? Seharian ini kau sepertinya menghindariku”

Yuto menghadangku. Aku langsung mengalihkan pandanganku. Aku tidak berani menatap langsung matanya. Bagaimana mungkin aku berani menatapnya setelah mendengar perkataan temanku itu? yang mengatakan kalau Yuto akan menembakku sebentar lagi. Meskipun berita itu mungkin hanya candaan dan belum tentu benar, tapi hatiku selalu berdetak kencang saat melihatnya. Membuatku tidak mampu melihat langsung ke matanya.

“Kenapa kau diam saja? apakah aku membuat kesalahan padamu?”

Aku menggeleng. Tidak mungkin kan aku memberitahunya kalau aku gugup bertemu dengannya?

“Lalu kenapa? Kalau kau tidak bicara, aku tidak akan tahu”

Aku memutar otakku. Berpikir keras. Bagaimana caranya aku memberitahunya? Apa yang harus kukatakan agar dia tidak salah paham?

“Ternyata kau ada disini, aku mencarimu dari tadi”

Seseorang datang menghampiriku.

“Yamada?”

Entah kenapa suasana menjadi canggung. Yuto dan Yamada saling bertatapan, sedangkan aku bingung apa yang harus kukatakan untuk memecah suasana hening ini.

“Ah.. Yamada, ada perlu apa kau mencariku?” akhirnya aku membuka suara.

“Oh... aku mencarimu karena ada yang ingin kubicarakan” Yamada melihat ke arah Yuto lalu padaku. “Tapi sepertinya kalian sedang ada urusan”

“Ah...” aku melirik ke arah Yuto. “Bukan apa-apa kok”. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari Yuto. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Yuto sehingga kuputuskan untuk kabur saja. Aku tahu kalau Yuto akan salah paham denganku, tapi aku tidak tahu harus berkata apalagi.

“Kalau begitu, bisa kita bicara?” Yamada melihat ke arah Yuto. “Aku boleh pinjam dia sebentar?”

Aku menunduk. Tidak berani melihat ke arah Yuto. Aku tahu kalau dia sedang melihatku. Aku bisa merasakan tatapan matanya dari ujung mataku.

“Silahkan” Yuto akhirnya membuka mulutnya. “Lagian sepertinya dia tidak mau bicara denganku”

Yuto berlalu pergi meninggalkan kami. Aku memandang punggungnya. Dari nada suaranya tadi, aku tahu kalau Yuto salah paham. Dia mengira aku membencinya, tapi aku juga tidak bisa menjelaskannya sekarang.
Ketika aku melangkahkan kakiku untuk mengejar Yuto, Yamada menghentikanku. Aku menatapnya. Aku bisa merasakan aura serius dan murung di wajahnya. Melihatnya seperti itu membuatku tidak bisa meninggalkannya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Kita pindah tempat saja dulu yuk”

Yamada mengajakku ke bangku taman sekolah yang tidak jauh dari sana. Aku menunggu Yamada untuk membuka mulutnya terlebih dahulu.

“Aku... tidak tahu harus berbuat apalagi” suaranya terdengar putus asa.

“Soal apa?”

“Haruna”

Aku terdiam. Kenapa dia menyebut nama pacarnya?

“Aku tidak yakin hubungan kami akan berjalan lancar”

Aku menatapnya heran. Memangnya apa yang terjadi? Setahuku hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan mereka masih tampak mesra pagi ini.

“Aku menyukai Haruna. Dia perempuan yang baik. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang. Aku selalu berusaha menyenangkan Haruna, tapi perasaan ini tidak mau hilang”

Yamada menatapku. Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang dulu pernah dia berikan padaku. Sepertinya aku memiliki gambaran apa yang akan dia katakan, tapi aku berharap kalau Yamada tidak mengatakannya.

“Aku masih menyukaimu”

Sudah kuduga. Padahal kuharap kalau firasatku ini salah.

“Sejak kau menjauh dariku, aku merasa ada yang kurang. Aku ingin kau terus berada di dekatku”

Aku menutup mataku. Tuhan... kenapa ini terjadi lagi?

“Kau tidak menyukai Haruna?” akhirnya aku membuka suaraku.

Yamada menggeleng. “Aku menyukainya, tapi aku juga ingin kau ada disisiku. Rasanya tidak lengkap kalau kau tidak ada di sisiku. Aku menyadarinya saat kita berdua bertemu kembali dan saat kita bicara lagi setelah sekian lama”

Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Jujur saja, aku merasa sedikit senang saat Yamada memberitahuku kalau dia menyukaiku. Tapi di lain pihak, rasa bersalahku muncul kembali. Kenapa Yamada mengucapkan kata itu setelah dia sudah menjadi milik orang lain? apakah aku memang selalu menjadi penghancur hubungan orang?

“Jika kau mau menerimaku, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Haruna dan memilihmu”

Aku menatap Yamada tidak percaya. Kenapa dia berkata seperti itu?

“Pikirkan baik-baik. Aku serius terhadapmu”

---***---

“Aku tidak percaya ini” Mariya mondar-mandir di dalam kamarku. “Yamada menembakmu? Bukankah dia sudah memiliki pacar? Apalagi dia menembakmu sebelum Yuto melakukannya”

Aku hanya memeluk bantalku. Aku sungguh kebingungan. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Sehingga aku memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Mariya.

“Yuto itu bagaimana sih? Kenapa dia lelet sekali? Yamada bahkan sudah mengambil langkah lebih dahulu!” Mariya berdecak kesal.

“Tapi Mariya... kan belum pasti kalau Yuto akan menembakku kan?”

Mariya melotot ke arahku. “Kau ini... kukira kau sudah menyadarinya. Bukankah sudah jelas kalau Yuto menyukaimu? Aku saja yang tidak terlalu dekat dengannya saja tahu kalau dia menyukaimu. Berita dari Keito itu pasti benar”

“Tapi...” aku memeluk bantalku dengan erat. “Apa yang harus kulakukan Mariya?”

“Tolak saja Yamada” Mariya berkata tegas. “Dia sudah memiliki kekasih. Apa kau mau dicap sebagai perusak hubungan orang? Bukankah sudah jelas kalau kau menyukai Yuto sekarang?”

“Tapi....”

“Jangan bilang kalau kau masih menaruh perasaan pada Yamada”

Aku terdiam. Aku tidak berani mengiyakan kalimat Mariya. Tapi sepertinya Mariya tahu jawabanku.

“Bukankah sudah kubilang untuk melupakan dia???”

“Aku tidak bisa Mariya...”

“Kenapa? Dia sudah menyakitimu dulu. Dan sekarang dengan egoisnya dia memintamu untuk berada di sampingnya”

“Dia cinta pertamaku Mariya. Tidak semudah itu aku melupakannya”

“Apa kau tidak tahu apa kata orang? Cinta pertama hanyalah kenangan. Tidak banyak yang berhasil bersama dengan cinta pertamanya”

Aku tidak merespon. Tidak tahu harus berkata apalagi. Kepalaku sudah penuh dengan hal ini.

“Pikirkan dengan baik-baik” Mariya memelukku, memberikan kehangatan. “Menurutku, lebih baik kau memilih Yuto daripada Yamada. Yuto akan memperlakukanmu lebih baik daripada Yamada. Karena jujur saja aku tidak terlalu suka dengan Yamada”

Mariya menatapku lurus. “Tapi aku akan mendukungmu apapun pilihan yang kau ambil. Asalkan kau memilihnya sesuai dengan kata hatimu. Aku hanya berharap kebahagiaanmu saja”

Aku memeluk Mariya. Aku merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia. Kuputuskan untuk memikirkan hal ini dengan baik demi Mariya juga.

---***---

Sejak saat itu, Yamada lebih sering mendekatiku. Bahkan waktu istirahat lebih banyak dia habiskan bersama denganku daripada dengan pacarnya. Aku memang belum memberikan jawaban atas pernyataannya waktu itu. Aku masih bingung jawaban apa yang akan kuberikan padanya.

Dan akibatnya, hubunganku dengan Yuto menjadi agak renggang. Yuto merasa kalau aku marah padanya. Kesalahpahaman kami waktu itu belum terselesaikan. Aku masih belum memberitahunya juga kalau aku tidak marah padanya.

Masalah lain pun muncul. Gosip tidak enak tentangku mulai menyebar. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi saat Yamada mendekatiku. Isi gosipnya memang berkaitan dengan Yamada. Aku dituduh sebagai perusak hubungan Yamada dengan Haruna.

Aku tahu siapa yang menyebarkan gosip itu pertama kali. Saat aku berpapasan dengan Haruna dan teman-temannya, aku bisa melihat pandangan sinis dari mata mereka. Saat itulah aku mengerti kalau mereka sudah tahu mengenai hubunganku dengan Yamada.

“Aku harus mengakhiri ini semua. Aku sudah capek”

---***---

Aku diam-diam pergi melihat pertunjukan musik Yuto. Ini pertama kalinya aku datang tanpa memberitahu Yuto. Tentu saja, hubungan kami sedang buruk. Dia juga tidak memberitahu soal pertunjukan ini padaku. Yang memberitahuku malah si Keito. Aku sedikit sedih saat mengetahui dia tidak memberitahuku. Kesannya aku mulai menjauh darinya.

Aku melihatnya bermain drum. Meskipun dia berada di belakang, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Aku bisa melihat senyumnya saat dia mendengar sorakan penonton. Dan saat itulah aku sadar kalau aku menyukainya.

Aku bertatapan mata dengan Keito. Sepertinya Keito sadar kalau aku ada disana. Aku langsung mengalihkan pandanganku dan berpura-pura melihat yang lain. Keito juga sepertinya tidak melihatku lagi dan kembali fokus ke gitarnya.

Begitu pertunjukan selesai, aku langsung keluar lebih dulu. Aku masih belum siap bertemu dengan Yuto. Aku masih belum menemukan kalimat apa yang akan kusampaikan padanya. Aku kemari hanya ingin melihatnya saja dan itu sudah cukup bagiku. Jika aku sudah menemukan kalimat yang tepat, aku akan mengatakannya.

---***---

‘Bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya dengan baik?’

Aku membaca isi pesan dari Yamada sebelum tidur. Aku menghela nafas panjang. Seharian ini aku sudah memikirkannya. Dan aku sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Yamada.

‘Besok aku akan memberitahukannya padamu’

---***---

Aku duduk termenung di bangku halaman sekolah. Aku masih mendengar beberapa orang berbisik padaku saat mereka melewatiku, tapi aku tidak peduli. Hari ini semuanya akan jelas.

“Hei”

Aku menoleh, aku kaget saat aku melihat Yuto berdiri disana. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Yuto akan menghampiriku lebih dulu. Aku memang akan menemuinya, tapi setelah aku membereskan urusanku dengan Yamada. Aku tidak menyangka kalau rencanaku akan kacau seperti ini.

“Kudengar dari Keito kalau kau datang ke pertunjukanku kemarin”. Aku mengangguk. Yuto terdiam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. “Aku---“

“Maaf menunggu lama” Yamada datang saat Yuto akan mengatakan sesuatu. Yamada tampak terkejut saat melihat Yuto ada disana.

“Sepertinya kalian ada urusan, aku pergi saja” Yuto beranjak pergi. Tapi aku menahan tangannya. Yuto memandangku dengan heran.

“Tidak apa. Kau disini saja. Aku juga ingin kau mendengarnya”

Yuto memandangku dan Yamada dengan heran. Begitu pula dengan Yamada. Aku memutuskan untuk mengatakan semuanya sekarang. Toh semuanya sama saja. Aku menutup mataku. Orang pertama yang muncul dalam bayanganku adalah jawabannya.

“Yamada....” aku membungkukkan badanku. “Gomennasai!”. Aku mengangkat kepalaku dan memandang lurus matanya. “Aku sangat senang saat mendengar pernyataan cintamu saat itu. Jujur, kaulah cinta pertamaku. Kaulah orang yang mengenalkanku pada cinta pertama kali. Saat bertemu lagi denganmu untuk yang kedua kalinya, aku sedikit senang”

Yamada menatapku dengan serius. Aku bisa merasakan sedikit rona kekecewaan di matanya.

“Tapi saat ini aku menyukai orang lain” aku meraih tangan Yuto dan menggenggamnya. “Orang itulah yang menenamiku selama kau tidak ada. Dialah yang menghiburku saat kau membuat luka di hatiku dulu. Dan bagiku, dialah orang yang kusukai saat ini” Aku menatap Yuto dalam-dalam. “Aku menyukainya”

“Ah... begitu” suara Yamada terdengar pelan. “Aku sudah menduganya”

“Yamada. Aku...”

Yamada menggelengkan kepalanya. Dia memberikanku sebuah senyuman. Senyuman yang dipaksakan. Dia menggenggam tanganku dan Yuto. Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Aku masih memandang punggungnya hingga dia tidak terlihat lagi.

“Ah... keduluan deh” komentar Yuto.
“Tidak kusangka kalau kau akan menembakku duluan”

Aku tersenyum. “Aku sudah lelah menunggumu”

Yuto memelukku dengan erat. Inilah akhir yang kuinginkan dan yang kupilih untuk hidupku.

END

Senin, 11 April 2016

TASTE SO SWEET

Chapter 2

Inoo memasuki ruangan kepala sekolah bersama dengan Sakurai sensei. Di dalam ruangan, terdapat seorang lelaki paruh baya, yang menurut Inoo adalah kepala sekolah Horikoshi. Di depannya, berdiri seorang lelaki yang tampaknya seumuran dengannya. Penampilannya terlihat sangat trendi. Rambutnya berwarna coklat kemerahan. Badannya lebih tinggi, kurang lebih tingginya sama dengan Yabu. Melihat wajahnya, Inoo langsung mengenalinya. Tentu saja, Inoo selalu melihatnya.

"Inoo Kei?", tanya Kepala Sekolah sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Inoo. Inoo segera membalas uluran tangan Kepala Sekolah dan menjabat tangannya.

"Benar pak" balas Inoo sambil tersenyum.

"Uwah, bapak tidak menyangka akan kedatangan dua murid baru. Yang satu seorang superstar, yang satu lagi seorang jenius. Sekolah ini pasti ramai dengan kehadiran kalian", gumam kepala sekolah.

Inoo melirik ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya. Dugaannya benar. Orang ini adalah Takaki Yuya, seorang superstar. Takaki sangat terkenal. Bahkan namanya juga terkenal di Amerika, tempat Inoo berkuliah disana dulu. Jelas saja kalau dia sering melihatnya. Wajahnya selalu memenuhi layar TV dan sampul depan majalah.

"Takaki akan masuk ke kelas 3-D, sedangkan Inoo di kelas 2-B" Kepala sekolah menatap ke arah Inoo. "Inoo-kun, kenapa kau tidak langsung kuliah saja? Pelajaran disini pasti sudah kau pelajari disana. Kenapa kau ingin sekolah disini?"

Inoo tersenyum. "Saya ingin menikmati masa muda saya disini pak. Di Amerika, saya hanya mengenal belajar. Disini, saya ingin menikmati masa SMA. Baru setelah itu saya akan bekerja"

Kepala sekolah mengangguk mendengar penjelasan Inoo "Baiklah. Tapi kau tetap harus mengikuti pelajaran disini seperti murid lainnya. Tidak ada peraturan khusus untukmu. Begitu juga denganmu Takaki-kun, kau juga harus mengikuti aturan disini kalau kau ingin lulus. Tidak ada peraturan istimewa bagimu meskipun kau seorang superstar"

"Tidak usah khawatir pak", Takaki akhirnya membuka suaranya. "Saya memang berniat untuk belajar saat masuk di sekolah ini. Saya ingin lulus dengan baik dan menjadi contoh bagi fans saya"

Inoo sedikit kagum dengan Takaki. Dia benar-benar seorang public figure yang baik. Tidak hanya menghibur orang lain, Takaki juga berpikir untuk menjadi contoh yang baik bagi fansnya. Tidak banyak selebriti yang memikirkan fansnya hingga sejauh itu.

"Baiklah. Selamat datang di sekolah Horikoshi. Sakurai sensei akan mengantar kalian ke kelas masing-masing. Aku berharap kalian bisa menikmati kehidupan sekolah yang nyaman disini"

---***---

"Kiss..."

Yabu memegangi bibirnya.

"Manis..."

Dia masih memegangi bibirnya.

"Hmm..."

Yabu masih terdiam terpaku. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi padanya beberapa menit lalu. Dengan siapa dia bicara, lalu apa yang barusan terjadi.

"Ini mimpi. Ya. Semua ini hanya mimpi. Tidak mungkin itu terjadi"

Yabu menggelengkan kepalanya. Berusaha menghapus kejadian tadi. Kejadian dimana bibirnya yang masih suci direbut oleh seorang iblis yang berkedok malaikat. Atau mungkin orang gila yang berpura-pura menjadi malaikat?

Yabu menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya pelan-pelan. Ketika dia sudah memantapkan pikirannya, dia kembali teringat peristiwa itu ketika sosok iblis itu muncul lagi di depannya bersama Sakurai sensei dan seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya.

"Ah, Yabu-kun! Kebetulan kau masih ada disini. Ini Takaki-kun. Mulai hari ini dia belajar di sekolah ini dan dia masuk di kelas yang sama denganmu"

Sakurai sensei memperkenalkan Takaki pada Yabu, tapi perhatian Yabu terfokus pada Inoo yang tersenyum dengan manisnya di hadapan Yabu.

"Takaki Yuya desu"

Takaki mengulurkan tangannya. Tapi Yabu tidak menyambutnya. Matanya masih terpaku pada Inoo. Peristiw ciuman itu terus berulang di kepalanya bagaikan kaset yang rusak.

"Yabu-kun?"

Setelah teguran dari Sakurai sensei. Yabu akhirnya kembali sadar dan membalas uluran tangan Takaki.

"Yabu Kota. Senang berkenalan denganmu, kuharap kita bisa menjalin hubungan yang baik", Yabu kembali ke pembawaannya yang semula. Tenang dan penuh wibawa. Jiwa kepemimpinannya bisa dirasakan oleh Takaki yang baru pertama kali bertemu.

"Kalau yang ini namanya Inoo Kei", Sakurai sensei memperkenalkan Inoo. Yabu menelan ludahnya saat Inoo melihat lurus ke arahnya.

"Kami sudah berkenalan sensei, ya kan Kou-chan?", Inoo mengedipkan matanya. Yabu langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan Takaki tidak peduli dengan tingkah 2 pemuda di depannya.

"Ah, begitukah? Kalau begitu, Yabu-kun, antarkan Takaki-kun ke kelas. Nanti sensei akan menyusul setelah mengantarkan Inoo-kun"

"Baik sensei"

Yabu membungkukkan kepalanya. Inoo berjalan mengikuti Sakurai sensei dari belakang. Sebelum pergi, dia menyentuh tangan Yabu. Membuat Yabu sedikit terkejut. Inoo mengedipkan matanya sebelum berjalan lebih jauh.

Yabu menghela nafas lega. Akhirnya si Inoo itu telah pergi dari hadapannya. Entah kenapa, dia merasa tidak tenang setelah bertemu lagi dengan Inoo. Dia bahkan mengulangi adegan ciuman di kepalanya. Tentu saja. Ciuman itu adalah ciuman pertamanya. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya dan tiba-tiba saja kesucian bibirnya telah direbut begitu saja oleh orang yang baru saja dia temui.

"Hei, kau tidak apa-apa?", Takaki menepuk bahu Yabu. Membuat Yabu kembali ke realita.

"Ah, eh. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi ke kelas Takaki-san"

"Takaki saja. Atau kau bisa memanggiku Yuya. Tidak usah terlalu formal"

"Tapi...", Yabu merasa tidak enak. Dia terbiasa memanggil orang dengan panggilan sopan. Sedari kecil dia sudah dilatih demikian. Akibat itu, dia merasa tidak nyaman memanggil orang langsung dengan nama kecilnya. Daiki dan Hikaru bahkan harus memaksa Yabu berkali-kali untuk memanggil mereka dengan nama kecil saja tanpa perlu sebutan 'Arioka-san' dan 'Yaotome-san'.

"Kalau begitu, Takaki saja. Kalau itu membuatmu lebih nyaman"

Takaki sepertinya sadar dengan sikap gelisah Yabu. Dia tahu kalau Yabu merasa tidak nyaman memanggilnya langsung dengan nama kecil. Yah, keluarga bangsawan selalu menjaga sikap mereka. Tentu saja Takaki tahu kalau Yabu adalah keluarga bangsawan. Siapa yang tidak mengenal keluarga Yabu di negara ini???

"Terima kasih"

Yabu tersenyum. Dia merasa kalau Takaki adalah orang baik. Dia tidak terlalu mengenal idola. Jadi dia tidak tahu mereka orang seperti apa. Tapi, dia banyak mendengar gosip kurang enak mengenai industri hiburan. Tapi, melihat Takaki, dia rasa Takaki adalah pengecualian.

---***---

"Hei, good news! Ada murid baru di sekolah kita!"

"Murid baru? Cowok atau cewek?"

"Cowok!"

"Tidak mungkin! Dia pasti cewek, wajahnya cantik sekali. Terlalu cantik untuk menjadi cowok"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ah, aku bertemu dengannya tadi. Orang itu sangat cantik. Kulit putihnya setara dengan bajunya yang berwarna putih"

Hikaru hanya mendengarkan teman-temannya berbicara. Rasa sakit di perutnya akibat tendangan Daiki masih terasa. Dia tidak terlalu mempedulikan ocehan temannya soal murid baru. Hikaru lebih memikirkan soal orang cantik yang ditemuinya tadi. Dia masih bingung, apakah itu nyata atau hanya ilusinya saja.

Seluruh murid mendadak diam saat pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam bersama seorang pemuda cantik. Beberapa murid di dalam langsung histeris saat melihat Inoo. Beberapa hanya diam melongo, terpana dengan kecantikan Inoo. Termasuk Hikaru. Hikaru mengucek kedua matanya, memastikan bahwa sosok cantik yang masuk ke dalam kelas bersama Sakurai sensei itu bukan ilusinya. Hikaru tidak percaya kalau orang yang ditemuinya tadi adalah murid baru di kelasnya!

"Selamat pagi semua, hari ini ada murid baru yang akan bergabung bersama kita, Inoo Kei. Dia baru saja pindah dari Amerika dan masih belum terbiasa di Jepang. Kalian semua tolong Bantu dia ya. Nah, Inoo-kun, silahkan perkenalkan dirimu"

Inoo tersenyum. "Hai, namaku Inoo Kei. Sejak kecil aku tinggal di Amerika. Aku bersekolah disana. Beberapa hari yang lalu, aku telah menyelesaikan kuliah disana dan memutuskan untuk kembali kemari untuk lebih menikmati kehidupan sekolah. Mohon bantuannya", Inoo membungkukkan badannya. "Ah, sebelum kalian salah sangka. Aku cowok. Memang wajahku cantik, tapi yakinlah kalau aku cowok"

Suasana kelas mendadak hening. Semua mata yang ada di kelas itu tertuju pada Inoo. Seakan tidak percaya kalau sosok cantik itu adalah seorang lelaki.

"Apa ada yang kalian ingin tanyakan pada teman baru kalian?", tany Sakurai sensei.

Seluruh kelas tidak ada yang menjawab. Tampaknya mereka telah terbius oleh kecantikan Inoo.

"Baiklah. Inoo-kun, kau duduk di bangku kosong sebelah Yaotome-kun"

Sakurai sensei memecah keheningan di kelas dan menunjuk ke bangku kosong sebelah Hikaru. Saat itulah Hikaru sadar kalau bangku sebelahnya memang kosong. Dia menelan ludahnya saat Inoo berjalan ke arahnya.

"Ah, kau orang yang jatuh tadi", ucap Inoo saat melihat Hikaru.

Hikaru hanya tersenyum. Tidak mengatakan apapun dan tidak berani melihat langsung ke mata Inoo. Dia tidak menyangka jika yang dianggap ilusi olehnya itu benar nyata.

"Apa kau baik-baik saja? Tadi kau langsung pergi begitu saja sebelum aku sempat melihat kondisimu"

Hikaru hanya menggangguk. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini bukan Yaotome Hikaru yang biasanya. Biasanya dia akan menunjukkan sifat SKSDnya. Tapi sekarang dia mati kutu menghadapi murid baru itu.

"Baiklah anak-anak, sensei akan pergi sebentar. Kalian harap tunggu disini dengan tenang, sebentar lagi Aiba sensei akan datang kemari"

"Baik sensei", jawab seluruh murid kompak.

Begitu Sakurai sensei menutup pintu kelas, seluruh murid langsung menatap ke arah Inoo dan mendekatinya.

"Hei, Hei, Inoo-san, kau baru lulus kuliah? Dimana? Jurusan apa?"

"Apa benar kau laki-laki? Aku tidak percaya. Kau terlihat jauh lebih cantik daripada semua cewek yang ada di kelas ini"

"Dimana kau tinggal? Kenapa kau masuk kemari?"

Seluruh murid memberondong Inoo dengan berbagai pertanyaan. Hikaru sampai harus sedikit menggeser kursinya agar dia bisa bernafas dan bergerak di kumpulan manusia itu.

Inoo hanya tersenyum. Dia sudah menduga situasi ini.

"Aku kuliah di California University. Jurusan arsitektur. Aku seorang jenius, IQku mungkin diatas 150. Aku sering lompat kelas jadi bisa lulus kuliah di usia muda. Aku kembali ke Jepang karena aku menyesal tidak bisa menikmati masa mudaku disana"

Hikaru mengangguk pelan. Dia kagum terhadap Inoo. Suaranya terdengar lembut, sebanding dengan mukanya yang begitu cantik. Tapi di sudut hatinya entah kenapa dia juga merasa benci pada Inoo. Kenapa? Padahal mereka baru saja berkenalan. Apa alasan Hikaru membencinya? Itulah yang membuat Hikaru tidak mengerti.

"Ah, kalau kalian tidak percaya aku laki-laki, aku bisa menunjukkannya"

Inoo berdiri. Dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan sebelumnya di hadapan Yabu. Tapi untunglah, Aiba sensei datang dan memulai pelajaran. Kalau tidak, seluruh kelas akan mengalami nasib serupa seperti apa yang dialami Yabu.

---***---

"Teman-teman, tolong tenang sebentar"

Yabu berusaha menenangkan teman-temannya yang berteriak histeris ketika melihat Takaki Yuya masuk bersama dengan Yabu. Mereka sama sekali tidak percaya kalau seorang superstar yang sering mereka lihat di TV kini berada di kelas yang sama dengan mereka.

"Teman-teman, tolong tenang sebentar!"

Yabu mengulangi kalimatnya, kali ini dengan suara yang lebih keras. Seisi kelas mendadak diam dan mulai mendengarkan Yabu. Merasa sudah lebih tenang, Yabu memperkenalkan Takaki pada teman-temannya. Yah, meskipun seisi kelas sudah tahu siapa dia sebenarnya. Hanya sekedar formalitas saja.

"Ini Takaki Yuya. Dia akan menjadi teman kita selama setahun ini. Tolong kalian bantu dia untuk beradaptasi disini ya"

"Halo, Takaki Yuya desu. Mohon bantuannya", Takaki memperkenalkan dirinya. Beberapa siswi di kelas langsung menutup mulutnya saat mendengar Takaki berbicara. Itu artinya, ini semua nyata!

Sreek.

Pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam. "Ah, kalian sudah memperkenalkan diri? Baiklah, kalau begitu silahkan duduk di bangku kalian. Kita bisa langsung memulai pelajaran"

"Kau duduk denganku"

Yabu menunjuk ke bangku kosong dekat jendela. Takaki mengangguk dan mengikuti Yabu menuju bangku barunya. Dia merasa lega duduk di sebelah Yabu. Karena entah kenapa dia merasa nyaman di dekatnya. Apalagi dia pasti merasa kurang nyaman jika duduk di sebelah orang yang tidak dia kenal.

Saat mereka berjalan, Yabu bisa merasakan kalau pandangan seluruh kelas tertuju ke arahnya. Yabu tahu kalau teman-temannya tidak melihat ke arahnya, tapi ke arah Takaki yang berada di dekatnya.

Yabu mendekatkan kursinya ke Takaki. Dia mengeluarkan buku pelajarannya dan meletakkannya di tengah agar Takaki bisa ikut membacanya. Tidak lama, Sakurai sensei memulai pelajaran bahasanya.

Di tengah pelajaran, Yabu melihat Takaki sedang mengecek hpnya. Yabu berniat menegurnya tapi terhenti ketika melihat tipe HP yang dipegang Takaki.

'Itu kan smartphone tipe baru Daiki. Kenapa dia bisa memilikinya?'

---***---

Bel istirahat sekolah telah berbunyi. Daiki langsung keluar menuju ke kelas 2 dan 3 yang berada di lantai 1 dan 2. Seperti biasanya, Daiki menghabiskan waktu istirahat bersama dengan dua temannya itu. Dia lebih memilih bersama dengan sahabatnya daripada dengan teman sekelasnya.

"Ada apa ini?", gumam Daiki ketika melihat kerumunan manusia yang tidak lazim di depan kelas Hikaru. Daiki berusaha melihat di depan dengan menjijitkan kakinya. Tapi karena tubuhnya yang pendek, dia tidak bisa melihat apapun. Di saat itulah Daiki mengutuk dirinya sendiri yang bertubuh pendek.

Daiki berusaha maju ke depan. Kali ini dia bersyukur. Dengan tubuhnya yang kecil, dia bisa menyelinap dengan mudah sehingga dia bisa maju tanpa kesusahan.

Daiki merinding ketika ada seseorang yang memegang pantatnya. Dia bersiap untuk menyerang siapapun yang memegangnya.

"Dai-chan, ini aku"

Hikaru langsung menarik tangan Daiki dan mengajaknya keluar dari kerumunan. Mereka berdua menarik nafas lega ketika berhasil keluar dari kerumunan.

"Ada apa sih Hikaru? Kenapa kelasmu jadi ramai begini?"

"Itu gara-gara murid pindahan itu. Semua orang penasaran seperti apa cantiknya murid baru itu"

Daiki mendadak ingat. Beberapa teman sekelasnya mengatakan ada 2 murid pindahan yang masuk sekolah hari ini. Kata mereka, dua orang itu bukan orang biasa. Satunya berwajah sangat cantik. Satunya sangat cakep.

"Memangnya secantik apa sih?", tanya Daiki penasaran. Ya, secantik apa murid baru itu hingga menarik perhatian banyak orang seperti ini?

"Hmm... Sangat cantik. Seperti seorang malaikat", jawab Hikaru. Dia langsung tersipu malu saat mengucapkan itu.

"Eh... Aku mau lihat..."

"Jangan sekarang Daiki. Aku tidak mau mati sesak", Hikaru menunjuk ke arah kerumunan siswa yang semakin bertambah padat.

"Tapi..."

"Kau bisa melihatnya kapan saja. Dia duduk sebangku denganku. Sudahlah, Ayo pergi"
Daiki menurut dan mengikuti Hikaru, keduanya kini menuju ke lantai 1, dimana kantin dan kelas Yabu berada.

---***---

"Uwaah... Ada apa ini?"

Keduanya takjub karena banyak sekali kerumunan siswa di lantai 1. Sepertinya mereka berkumpul di depan kelas 3D. Hikaru dan Daiki harus bersusah payah melewati kerumunan itu karena kantin berada tidak jauh dari situ.

"Ada apa sih hari ini? Kenapa kelasmu dan kelas Yabu bisa seramai itu?"

"Mungkin gara-gara murid pindahan? Temanku bilang ada murid pindahan satu lagi di kelas 3. Katanya sih seorang superstar. Tapi aku tidak menyangka kalau murid pindahan itu ada di kelas Yabu"

"Artist? Memangnya siapa?"

"Aku tidak tahu. Cewek-cewek di kelasku bilang kalau dia adalah seorang superstar. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Kita bisa menanyakan itu pada Yabu nanti. Sudahlah, aku lapar. Cepat pesan. Mumpung kantin sedang sepi"

Mereka berdua langsung menuju ke meja pemesanan dan memilih menu makanan yang mereka inginkan. Seperti biasanya, Daiki akan memesan nasi omelet dan Hikaru akan memilih menu dimana ada ikan sebagai lauknya.

Mereka memilih bangku yang tidak jauh dari situ. Dari bangku mereka, mereka bisa melihat pintu kantin dan kelas Yabu yang masih ramai.

15menit kemudian

"Yabu lamaa...", keluh Daiki yang memainkan nasinya. Dia sudah sangat lapar sekarang. Dia terus memainkan sendok nasinya.

Mereka berdua tidak bisa makan sebelum Yabu datang. Entah kenapa, itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Mereka akan mulai makan bersama-sama jika semuanya lengkap.

Sebuah pesan singkat masuk ke HP Hikaru. Dari Yabu.

-----
Makan saja duluan.
Aku masih ada urusan.
-----

"Urusan apa?", pikir Hikaru.

"Eh.. Padahal kita sudah menunggunya", ucap Daiki kesal.

"Sudahlah, mungkin Yabu ada urusan penting? Dia kan orang sibuk. Lebih baik kita makan dulu saja"

Mereka tidak memikirkan hal itu lagi dan langsung memakan makanan mereka karena mereka sudah lapar. Tapi, kegiatan mereka terganggu karena kehadiran seseorang.

Tsuzuku~~

13 CM

Part 4

Takaki merasa tidak enak. Beberapa hari ini dia merasa ada yang mengamatinya. Tatapan mata itu berasal dari teman satu klubnya sendiri, lebih tepatnya dari adik kelasnya, lebih tepatnya lagi dari seorang gadis yang bernama Yamada Ryosuke.

Takaki sama sekali tidak mengerti kenapa Yamada menatapnya dengan pandangan mata yang dingin (?). Yah, itu jelas bukan pandangan mata yang bersahabat.

“Daichan...”

Takaki mengedipkan matanya tidak percaya. Sifat Yamada berubah drastis ketika di hadapan Arioka. Yah, dia tidak bersikap manis layaknya tokoh perempuan yang licik di drama-drama. Lebih tepatnya dia berubah menjadi seseorang yang lebih ‘bersahabat’ di hadapan pemuda bernama Arioka itu.

‘Eh? Kenapa aku merasa terganggu dengan kedekatan Arioka dan Yamada? Mereka teman sejak SMP dan itu hal yang wajar kalau mereka dekat. Kenapa aku merasa terganggu?’, gumam Takaki dalam hati.

“Are? Taka-chan. Kau suka padanya?”

Takaki menoleh. Takaki melihat Inoo sedang tersenyum padanya. Dia tahu senyuman itu. Itu senyuman yang sedikit jahil. Senyuman yang dia keluarkan kalau dia berniat menjahili seseorang.

“Siapa?”

“Kau suka pada si chibi itu?”

Inoo menunjuk ke arah Arioka yang berlari sambil mendribble bola. Di samping lapangan, Yamada berdiri sambil memegang handuk yang tampaknya milik Arioka.

“Atas dasar apa kau bilang seperti itu?”, tanyaku balik.

“Taka-chan... kau lupa kalau aku orang yang sensitif? Tentu saja aku sadar kalau akhir-akhir ini Yamada sering melihat ke arahmu, dan kau sendiri sering melihat ke arah Arioka itu”

“Aku? Melihat ke arah Arioka? Kau salah kira paling. Aku melihat ke arah Nakajima kok”

Takaki menunjuk ke arah Nakajima yang kini sedang bertarung one-on-one dengan Arioka. Sekali lagi, pandangan Takaki terpaku pada Arioka yang sedang berusaha melewati Nakajima yang memiliki tubuh yang jauh lebih besar darinya.

“Taka-chan”, panggilan Inoo menyadarkan Takaki. “Kau tidak melihat yang bertubuh tinggi. Kau melihat yang bertubuh pendek”

Takaki melihat ke arah temannya, saat itu terdengar sorakan anggota klub basket yang lain. Rupanya, Arioka berhasil melewati Nakajima dan kini sedang mendribble bola hingga ke ring dan berusaha melakukan lay-up.

BLUSH. Bola basket itu berhasil masuk ke dalam ring dengan mulus. Tanpa Takaki sadari, dia ikut bersorak kegirangan.

"Tuh benar kan... Kau melihat Arioka-kun, bukan Nakajima-kun", goda Inoo yang membuat pipi Takaki sedikit kemerahan.

"A-a... Tidak kok. Aku melihat Nakajima kok"

Inoo tersenyum geli mendengar pengakuan temannya. Jelas-jelas tadi Takaki bersorak kegirangan saat Arioka memasukkan bola. Sekarang dia mengelak kalau dia tidak melihatnya?

"Kenapa?", tanya Takaki saat melihat Inoo yang melihatnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau tahu kalau tipeku adalah yang lebih tinggi dariku kan?"

Inoo mengangguk. Meskipun mereka jarang berbicara soal cinta, tapi saat mereka membahas soal itu, Takaki memang berulang kali mengatakan kalau dia ingin pacar yang memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya. Bahkan dia sering menolak para cowok yang ingin jadi pacarnya dengan alasan itu. Hal itulah yang membuat Takaki susah memiliki pacar karena dia adalah perempuan paling tinggi di sekolah ini.

"Taka-chan, jujur pada perasaan sendiri lebih penting", Inoo menasehati.

"Ah sudahlah, dari tadi kau bicara apa sih. Latihan, latihan", Takaki langsung membalikkan badannya dan mencoba mendribble bola sambil latihan mengatasi blocking.

Inoo menghela nafas melihat kelakuan temannya itu. "Dia melarikan diri", gumam Inoo. "Taka-chan kau lebih bahagia kalau kau jujur dengan perasaanmu sendiri"

---***---

Selain Inoo, ada seorang lagi yang mengamati Takaki dari arah kumpulan para lelaki. Laki-laki itu melihat Takaki dengan antusias. Dia tersenyum setiap kali Takaki berhasil melewati musuh dan memasukkan bola.

"Takaki-senpai sangat keren", gumam laki-laki itu.

"Kau benar", lelaki lain ikut menimpali lelaki itu.

“Nakajima!” seru lelaki itu saat tahu siapa yang ada di sampingnya.

“Tenang Arioka... tidak usah kaget begitu”

Daiki berusaha mengatur nafasnya yang masih terputus-putus karena kaget dengan kehadiran Nakajima. Dia paling tidak bisa dikejutkan tiba-tiba. Maklum, Daiki ini anaknya sedikit latah.

“Tapi memang Takaki senpai keren sekali ya... dia tidak kalah dari laki-laki”, komentar Nakajima yang tidak menghiraukan Daiki yang masih sibuk mengatur nafas. Matanya kini menatap lurus ke arah Takaki yang asyik bermain basket.

“Eh? Jangan-jangan kau...”

Nakajima tersenyum ke arah Daiki. “Sepertinya kita juga akan menjadi rival dalam urusan itu ya Arioka. Aku harap kita bisa bertanding secara sportif”, Nakajima mengulurkan tangannya ke arah Daiki lalu pergi meninggalkannya saat Daiki selesai menjabat tangannya.

---***---

Takaki masuk ke ruang ganti dengan enggan. Di dalam ada Yamada Ryosuke. Entah kenapa dia merasa kesulitan bertemu dan berbicara dengan perempuan itu. Perempuan itu selalu saja memberikan aura tidak bersahabat setiap kali melihat ke arah Takaki.
Takaki hanya diam dan menuju lokernya. Dia melewati Yamada begitu saja. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Yamada.

“Kenapa harus kau sih?”

“Maaf?”, tanya Takaki.

“Kubilang, kenapa senpai yang harus disukai oleh Daichan!”

Yamada mendorong Takaki hingga membuat Takaki menabrak pintu lokernya sendiri. Takaki hanya bisa meringis kesakitan dan berusaha untuk tidak melakukan perlawanan.

“Padahal aku yang sering bersamanya”, mata Yamada mulai terlihat sembap. “Aku yang selalu bersamanya, tapi kenapa aku bukan orang yang disukainya?”

Takaki terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa. Dia bahkan sudah cukup terkejut ketika Yamada bilang kalau Arioka menyukainya. Takaki tidak tahu harus sedih atau senang dengan hal itu. Dia memang tertarik dengan Arioka, tapi dia tidak tahu apakah itu perasaan suka atau tidak.

“Senpai... jauhi Daichan... onegai...”, pinta Yamada dengan suara yang sedikit parau. “Jangan rebut Daichan dariku”

Takaki terhenyak dengan permintaan Yamada. Dia memang tidak berniat mendekati Arioka. Arioka sendiri yang mendekatinya atas kemauannnya sendiri.

Takaki tidak tega saat melihat Yamada menangis. Cewek pendek itu meneteskan air matanya di baju Takaki. Takaki tahu kalau Yamada benar-benar menyukai Arioka. Air mata itu menjelaskan semuanya.

“Tenanglah Yamada... aku tidak bermaksud untuk merebut Arioka. Aku tidak menyukainya kok. jadi tenanglah”, Takaki menggigit bibirnya sendiri. Ada sesuatu yang membuat hatinya sakit.

“Benarkah?”, Yamada menatap Takaki dengan penuh harap. “Senpai tidak menyukai Daichan?”

“Ya”, jawab Takaki pelan. “Aku sama sekali tidak menyukainya. Jadi kau bisa tenang soal itu. Lagian tipe cowok kesukaanku itu yang berbadan tinggi kok, seperti Nakajima atau Yabu. Akan jadi bahan tertawaan kalau cowok yang kusukai itu lebih pendek dariku”

KLONTANG

Terdengar suara dari luar pintu. Takaki langsung mengecek keluar untuk melihat siapa yang ada disana. Takaki terkejut bukan main ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Sosok itu kini melihatnya dengan pandangan mata yang sedih.

“A..ri..o..ka....”

Tsuzuku ~~