Jumat, 23 Desember 2016

Pernyataan Cinta

Genre : Romance

Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya

Rate : PG 13+

Author? Of course me~

(Arioka Daiki POV)

Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Entah sejak kapan, aku tidak tahu persisnya. Yang jelas, aku kini sadar kalau aku menyukainya.

Aku selalu berdebar saat dia menatapku, berbicara denganku, duduk di sebelahku. Aku selalu berdebar setiap saat dia melakukan sesuatu padaku.

“Kau harus memberitahunya kalau kau suka padanya!”

Itulah nasihat temanku saat aku menceritakan soal diriku padanya. Dia menyarankanku untuk menyatakan cinta. Awalnya aku malu. Tapi berkat dorongan keras darinya aku akhirnya akan menyatakan cintaku.

Tapi… Bagaimana caranya?

—***—

Aku menyukaimu sejak lama

Aku membacanya dan menggeleng. Kucoret kalimat itu dan menulis ulang.

Aku menyukaimu, Takaki Yuya. Kau adalah pangeran berkuda putih di kehidupanku.

Aku membacanya lagi. “Norak!” Aku merobek kertasnya dan menulis ulang. “Arghh!!! Aku tidak tahu harus menulis apa!!!”

Aku menatap lesu ke arah kertas surat di atas meja belajarku. Kertas surat baru berwarna oranye yang sengaja kubeli untuk menulis surat cinta. Aku meremas isi surat yang gagal dan membuangnya ke tempat sampah di dekat situ.

“Memangnya apa yang kau tulis?”

Aku merasakan jantungku berhenti mendadak saat menyadari kalau saat ini aku tidak sendirian. Aku menoleh dan mendapati Takaki berdiri disana. Ya. Dialah Takaki Yuya, orang yang kusukai.

‘Kenapa dia disini? Kenapa orangnya ada disini???’ batinku panik.

“Arioka?” panggilnya.

“A-a-aku mau keluar dulu!!!”

Aku segera berlari meninggalkan Takaki sendirian di kamar. Hatiku berdegup sangat kencang. Aku belum siap!!!

—***—

Berkali-kali aku harus mengatur nafasku karena jantungku berdegup tidak karuan. Hari ini, aku sudah menyerahkan surat itu. Surat yang membutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menulisnya. Setelah aku yakin, aku memasukkan surat itu ke dalam tasnya tanpa sepengetahuannya. Aku berdebar membayangkan Takaki menemukan surat itu dan membacanya.

“Arioka!!!”

Aku terkesiap. Seseorang memanggilku. Bukan orang biasa, tapi Takaki. Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab panggilannya.

“Y-ya?”

“Kenapa jalanmu cepat sekali sih?” ucap Takaki sambil setengah cemberut. Membuat raut mukanya tampak lucu.

“Kau saja yang lambat” jawabku ketus.

‘Argh!!! Harusnya aku jangan membalasnya seperti itu!!! Bodoh Daiki! Bodoh!’

“Iya iya… Aku tahu kalau bangsa penguin itu jalannya cepat” gumamnya.

“Hei! Aku bukan penguin!” aku mengayunkan tanganku tapi dia segera mengelak.

“Penguin~ penguin~” ejeknya lagi.

Aku cemberut yang berarti Takaki menang. Takaki tertawa puas melihat reaksiku.

“Oh ya, hari ini aku mendapat sebuah surat cinta”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak saat dia mengatakan itu. Akhirnya… Saatnya dia membalasnya. Tapi… Aku belum siap mendengarnya!

“Si pemilik surat ini tampaknya selalu mengamatiku dan menyukaiku dengan sungguh-sungguh. Kupikir aku harus segera memberi jawaban”

Dadaku berdebar keras. ‘Ini saatnya’

“Tapi masalahnya… Aku tidak tahu siapa yang mengirim suratnya”

Aku mengedipkan mataku, “Apa???”

Takaki melihatku kaget, rupanya tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang keras.

“Kenapa sih Arioka?” gerutu Takaki.

“Kau bilang tidak ada nama pengirimnya???” seruku lagi.

“Iya. Tuh lihat”

Takaki membuka tasnya dan memberikan sepucuk surat yang kuletakkan tadi pagi di tasnya. Surat yang sama. Aku mengecek amplopnya. Rupanya Takaki benar. Aku tidak menulis namaku disana.

‘Daiki baka!!!!’ jeritku dalam hati.

“Kenapa Arioka?” tanya Takaki.

“Tidak ada apa-apa”

Aku mengembalikan surat itu pada Takaki. Lalu kembali berjalan dengan lesu. Bodohnya aku ini… Usahaku jadi sia-sia karena aku lupa menulis nama.

“Aku akan menulisnya lagi nanti” gumamku pelan.

Aku terus berjalan tanpa menyadari senyum licik dari orang yang kusukai.

(Takaki Yuya POV)

Daiki… Daiki…

Ah, aku sangat berharap aku bisa memanggilnya ‘Daiki’ suatu hari nanti. Kalau sekarang aku tiba-tiba memanggilnya Daiki akan jadi aneh.

Arioka Daiki.

Orang yang kusukai.

Kalian kaget? Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu aku terus mendekatinya dan usahaku membuahkan hasil. Dia jadi menyukaiku.

Kalian pikir aku tidak sadar? Tentu saja aku sangat menyadarinya. Perubahannya sangat drastis saat dia mulai menyukaiku. Mukanya sering berubah menjadi merah saat kami cuma berdua. Dia juga tidak berani menatap lurus mataku saat kami berbicara. Dia juga sering salah tingkah saat aku tiba-tiba menyentuhnya. Betul-betul gampang dibaca. Reaksinya sangat lucu.

Sesungguhnya, aku ingin segera menyatakan perasaanku. Toh sudah jelas kami sama-sama suka. Aku pergi ke rumahnya dan berniat melamarnya. Ah bukan, menyatakan cinta.

Aku masuk ke dalam kamarnya diam-diam, berusaha mengagetkannya. Usahaku berhasil. Dia kaget setengah mati. Dan seperti biasanya, dia langsung salah tingkah dan kabur. Aku cuma tersenyum geli melihatnya. Kemudian aku melihat ke arah gumpalan kertas yang baru saja dilemparnya ke tong sampah. Aku mengambilnya dan membuka kembali gumpalan itu. Aku terkejut membaca isinya. Surat cinta untukku!

Saat itulah kuputuskan untuk mengurungkan niatku menyatakan perasaan. Akan kutunggu dia menyatakan perasaan terlebih dahulu.

Tapi aku baru dapat surat cinta itu 3 hari kemudian. Saat aku menemukan sepucuk surat di tasku, aku langsung tahu itu darinya. Bau khas parfum Arioka melekat di amplopnya. Aku semakin yakin itu darinya saat melihat tulisan tangan surat itu. Itu benar-benar tulisan tangan Arioka. Aku tersenyum bahagia saat membaca isi surat itu. Meskipun tidak terlalu romantis, tapi setidaknya aku bisa merasakan cintanya.

Aku ingin segera membalasnya, tapi tidak jadi. Aku ingin menjahilinya lagi. Dan usahaku sukses.

‘Ayo nyatakan cintamu sekali lagi Daiki. Aku akan menunggumu’

Tamat

Senin, 24 Oktober 2016

MODEL TERBAIK

Cast : Yuto x Keito

“Perfect”

Aku tersenyum puas saat melihat hasil jepretanku. Foto yang kujepret itu terlihat sangat bagus. Sebuah foto yang berlatar pemandangan kota saat senja. Warna merah senja itulah yang membuat hasil jepretanku terlihat bagus.

Sebenarnya ada 1 lagi yang membuatku puas dengan foto itu. Sosok manusia yang ikut terperangkap dalam lensa kameraku. Sosok manusia yang sangat fotogenik. Wajahnya yang sangat indah. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tampak proposional dalam fotoku.

“Seperti biasa, sempurna sekali Keito”, ucapku pada sosok yang ada di hadapanku.

Sosok yang kupanggil ‘Keito’ itu tersenyum. “Senang bisa membantumu Yuto. Itu juga karena pemandangan yang kau pilih ini. Kau memang pintar memilih latar tempat. Aku yakin kau bisa memenangkan kontes itu”

“Yup! Aku yakin foto ini akan menang dalam kontes fotografi yang akan kukirimkan minggu depan”, aku melihat ke arah Keito yang kini tampak sedang menikmati matahari senja, “Kau memang model yang hebat Keito. Kenapa kau tidak bekerja menjadi seorang model saja?”

Keito melihat ke arahku. Dia menggeleng. “Aku tidak berminat menjadi model. Aku menjadi model hanya untukmu Yuto”

“Kenapa? Kurasa kau akan segera menjadi model terkenal. Kau bahkan bisa menjadi seorang artis”

“Karena aku tidak bisa dipotret oleh orang lain selain dirimu”

“Apa maksudmu?”, tanyaku

Keito tersentak. Dia kemudian segera menggelengkan kepalanya. “Tidak. bukan apa-apa. Kalau aku menjadi terkenal nanti, kau akan kesulitan mencari model untuk fotomu” ucap Keito sambil tertawa.

“Kalau kau memang akan menjadi model apa boleh buat kan?”, aku segera mengemasi perlengkapan kameraku. “Hari akan menjelang malam. Sebaiknya kita segera pulang”

Keito mengangguk. Setelah aku selesai mengemasi barangku, kami berdua berjalan pulang bersama-sama.

Tidak berapa lama, kami berdua tiba di depan apartemenku. Keito melambaikan tangannya padaku sebelum aku masuk ke dalam. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk bertemu lagi minggu depan.

Aku segera masuk ke dalam kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencetak foto yang kupotret hari ini. Aku segera masuk ke ruang gelap yang kubuat sendiri. Dengan hati-hati aku mengeluarkan negatif film, berusaha agar tidak terkena cahaya, lalu pelan-pelan mulai mencetaknya.

“Foto ini memang bagus. Sempurna”

Aku memandang foto yang kuambil hari ini. Aku benar-benar menyukai foto itu. Sosok Keito di foto itu pun terlihat sangat bagus.

Aku memang menyukai Keito. Sebagai model foto maksudku, jangan salah paham dulu. Dia tahu persis gaya foto yang kuinginkan. Dia memang tidak terlalu banyak bergaya saat kupotret. Tapi karena bahasa tubuhnya yang fotogenik. Aku tidak terlalu bermasalah dengan hal itu.
Aku kembali teringat pertemuan pertamaku dengan Keito.

---flashback---

Aku terduduk sedih. Lagi-lagi karya yang kukirimkan gagal. Aku memandangi komentar juri, ‘nilai seni yang diungkapkan di foto ini masih kurang’.

“Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang baru. Yang membuat objek fotoku terlihat sempurna. Mungkin seorang model yang fotogenik. Tapi dimana aku bisa menemukan orang yang tepat untuk fotoku?”

“Hee... nice photo”

Aku terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Sejak kapan ada orang di sampingku? kenapa aku tidak sadar sampai dia berbicara?

“Siapa kau?”, tanyaku sambil mundur ketakutan. Takut? Jelas saja. Aku tidak kenal orang ini dan dia tiba-tiba ada di sampingku.

“Jahatnya... bukankah kau yang memanggilku?”

Aku mengernyitkan keningku. Aku memanggilnya? Kapan? Aku tidak tahu namanya dan bagaimana aku bisa memanggilnya?

“Yuto... “, pemuda itu memanggilku. “Kenapa kau diam saja?”

Aku terbelalak. “Bagaimana bisa kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya?”

Dia menghela napas. “Kan kau yang memanggilku, tentu saja aku tahu namamu. Kau juga kenal diriku”

Aku berpikir keras sambil mengamati dirinya. Wajahnya tampan, tapi bisa juga dibilang cantik. Beautiful. Badannya tidak tinggi, yah... lebih pendek dariku. Tapi kurasa tubuhnya proposional. Melihat bentuk tubuhnya yang bagus, otot-otot yang tersembunyi di balik bajunya, membuatku merasa kalau dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna.

“Ke...i...to...”, aku menggumamkan suatu kata. Aku  tidak tahu darimana aku tahu kata-kata itu. Tapi terlintas begitu saja di pikiranku.

“Ya?”, dia tersenyum. Ah, dia manis sekali. Atau bisa juga kubilang tampan? Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.

“Keito?”, aku mengulangi lagi kata itu. Dia kembali tersenyum. Sepertinya itu benar namanya. Tunggu, kenapa aku bisa tahu namanya? Padahal aku yakin aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi kini aku merasa sudah mengenalnya sejak dulu.

---flashbackend---

Aku mengatur nafasku dan mulai membuka amplop coklat yang kuterima dengan perlahan. Minggu lalu, aku mengirimkan foto saat senja itu ke sebuah kontes fotografi. Aku sangat suka foto itu dan memutuskan untuk memilih foto itu dan mengirimkannya ke sebuah kontes.

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat membaca tulisan di dalam surat itu. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar dan mencari Keito. Aku harus segera memberitahu kabar baik ini padanya juga. Aku menang! Untuk pertama kalinya, aku menang kontes fotografi itu. Dan aku mendapat penilaian tertinggi dari dewan juri. Keito pasti juga akan ikut senang, sama sepertiku.

Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Bagaimana aku bisa menemukan Keito? Aku tidak tahu dimana rumahnya. Keito-lah yang selalu datang ke rumahnya. Atau mereka akan berjanji bertemu di suatu tempat. Betapa bodohnya aku. Kenapa aku tidak pernah menanyakan soal itu padanya. Seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar kalau Keito akan muncul saat aku mencarinya.

Eh? Sepertinya memang begitu.

Keito selalu muncul di hadapanku kalau aku mencarinya. Aku tidak perlu meneriakkan namanya. Dalam sekejap dia akan muncul di hadapanku. Seperti hantu.

“Yuto~”

Tuh kan, aku benar. Keito muncul! Dia menghampiriku dengan senyumannya yang manis. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku ingin mencubit kedua pipinya itu karena gemas melihat ekspresi mukanya itu.

“Aku mencarimu”

“Aku tahu. Aku mendengar suaramu. Makanya aku datang” jawab Keito.

“Eh? Apakah kau bisa mendengar suara hati seseorang?”

“Mungkin. Tapi tidak semua, hanya suaramu. Aku bisa mendengar suaramu dengan jelas Yuto” jelas Keito dengan nada penuh teka-teki. “Ada berita baik apa?”

Aku ingin bertanya lebih jauh soal Keito, tapi aku mengurungkan niatku. Aku tersenyum dan membuka amplop coklat yang kuterima dan memperlihatkan lembaran pengumuman pemenang kontes pada Keito.

“Aku menang Keito!” ucapku bangga.

Sekilas, aku melihat raut kesedihan terlukis di wajahnya. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja karena saat ini senyum lebar telah menghiasi wajahnya.

“Wah... Selamat Yuto! Akhirnya, karyamu diakui oleh mereka!”

“Itu semua berkatmu. Terima kasih Keito”

“Berkatku?”

“Ya, karena kau telah menjadi model yang sempurna bagi fotoku. Kurasa mereka memilih fotoku karena mereka terpesona olehmu”

“Tidak Yuto... mereka memilih fotomu karena kemampuanmu bukan karena aku”

Aku menggeleng keras. “Tidak. Aku yakin itu karena dirimu. Teruslah jadi modelku selamanya Keito” aku berusaha menggapai tangan Keito, tapi Keito seperti berjalan mundur dan menghindari tanganku.

“Tidak, Yuto” Keito tersenyum. “Aku tidak bisa menjadi modelmu lagi”

Aku terkejut. “Kenapa???”

“Karena tugasku sudah selesai. Setelah ini aku tidak bisa muncul di hadapanmu lagi. Maaf, tapi kau harus berusaha sendiri setelah ini. Aku yakin kau pasti bisa”

Aku terhenyak mendengar ucapan Keito. “Kau akan pergi? Kemana? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?”

“Aku tidak pergi kemana-mana. Aku selalu disisimu. Tapi ini terakhir kalinya aku muncul di hadapanmu seperti ini”

Keito mendekat ke arahku dan memelukku. Ini pertama kalinya aku merasakan pelukannya. Kami tidak pernah bersentuhan tangan apalagi berpelukan.

“Sampai jumpa, Yuto” bisik Keito.

Aku memejamkan mataku. Aku ingin menahannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin Keito tidak pergi, tapi entah kenapa ada bagian dari diriku yang mengatakan Keito tetap ada di sampingku.

Ketika aku membuka mataku, sosok Keito sudah menghilang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tapi sosoknya tidak ada. Keito tidak ada dimanapun.

Dengan langkah gontai, aku kembali pulang ke rumah. Memikirkan bagaimana aku memotret selanjutnya tanpa Keito.

---***---

Aku menatap lama ke fotoku yang terpajang di dinding. Karyaku beserta karya peserta lain dipajang di sebuah pameran. Karena aku pemenang lomba, maka fotoku dicetak paling besar dan dipajang di tempat yang sering dilalui orang.

“Keito...” gumamku lirih. Aku masih merindukan Keito. Sejak hari Keito menghilang, dia sama sekali tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Meskipun aku meneriakkan namanya seperti orang gila saat mencarinya, tapi aku tidak pernah menemukannya dan dia tidak pernah muncul.

“Foto yang bagus, kak”

Aku menoleh, kudapati Raiya, adikku, sedang berdiri disana. Tampaknya dia sedang mengunjungi fotoku.

“Foto saat senja ini bagus sekali kak. Seakan-akan kita melihat langsung senja itu dan membuatku tersedot ke dalam keindahannya”

“Keito memang model yang hebat” kataku.

“Keito?”

“Model di foto itu” tunjukku pada sosok Keito yang ada di foto itu.

Raiya mengernyit. Dia melihat ke arah lukisan itu dan ke arahku berulang kali. “Tidak ada manusia di fotomu kak”

Aku terkejut. “Jangan bercanda Raiya... Keito ada disana. Dia berdiri disana”

“Justru kakak yang harusnya berhenti bercanda. Bukankah Keito selalu ada di gantungan tas kakak?” Raiya meraih tas pinggangku yang berisi kamera mini. Tas pinggang yang selalu kubawa kemanapun. Dia meraih sesuatu yang bertengger di tasku itu. “Kakak sangat menyukai gantungan kunci ini kan? Bahkan sampai menamainya Keito”

Aku tersentak kaget saat melihat gantungan boneka manusia yang ada di tasku. Wajahnya sangat mirip dengan Keito yang selalu kutemui.

“Keito...” aku menggenggam gantungan boneka itu. “Jadi selama ini kau...” aku menatap boneka itu lekat-lekat. Sekilas aku merasa boneka itu tersenyum padaku.

“Terima kasih, Keito...”

Tamat

Jumat, 21 Oktober 2016

Kalung Cinta


Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Warning : gender switch. Daiki jd cewek disini.
Genre : fluff romance

Daiki POV

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Aku terhenti sesaat saat seseorang yang sedang duduk di pinggir jalan ini menanyaiku. Aku mengamatinya sejenak. Orang itu tampak cukup mencurigakan, mengenakan tudung hitam yang cukup panjang di hari yang cukup terik ini bisa dikatakan tindakan yang gila.

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Orang itu mengulangi pertanyaannya. Tampaknya dia memang sedang bertanya padaku. Aku melihat keadaan di sekitarku, cukup sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang. Aku pun mendekat ke arah orang bertudung hitam itu.

“Kau sedang memiliki suatu masalah kan? Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Ah, tampaknya ada seseorang yang sedang kau pikirkan kan?”, tanya orang itu sekali lagi.

Aku sedikit tersentak, bagaimana orang ini bisa tahu?

“Aku ini penyihir. Aku bisa membaca pikiran orang yang ada di hadapanku”

“Penyihir?!”, aku melihat orang bertudung hitam yang ada di hadapanku ini dengan tidak percaya. Mana mungkin ada penyihir di jaman yang cukup maju ini?

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa ucapkan saja apa keinginanmu dan aku akan mengabulkannya”

Aku sedikit terkejut. Sepertinya orang ini tahu apa yang kupikirkan.

“Kau ingin agar Takaki Yuya memiliki perasaan padamu kan?”

Aku terkejut lagi. Bagaimana orang ini bisa tahu? Apakah tadi aku mengucapkan padanya nama orang yang kusukai? Apakah terlihat jelas di mukaku kalau aku sangat menyukainya? Aku memegangi pipiku. Rasanya mukaku saat ini memerah karena aku bisa merasa sedikit panas saat memeganginya.

“Kau sangat mudah dibaca anak muda”, orang yang menyebut dirinya penyihir itu tersenyum. “Sangat jarang menemui orang yang begitu polos sepertimu”

Penyihir itu tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Dia memberikan sesuatu padaku. Sebuah kalung? Sepertinya itu.

“Ambil ini”

Aku ragu menerima kalung itu. Bukankah kita diajari untuk tidak menerima barang dari orang yang tidak dikenal?

“Kalau kau ingin pemuda yang bernama Takaki itu menyukaimu, maka lebih baik kau menerima kalung ini”

Penyihir itu bersikeras memberikan kalung itu padaku. Aku mengulurkan tanganku dengan ragu. Tidak lama penyihir itu sudah meletakkan kalung itu di tanganku.

“Dengan ini maka dia akan tertarik padamu”

Aku menatap ke arah kalung itu sejenak. Kalung itu sederhana, tapi terlihat indah. Liontin hati berwarna pink di kalung itu menambah kesan manis disana. Sekejap aku tergiur dengan keindahan kalung itu. Aku ingin mengatakan sesuatu pada penyihir itu, tapi penyihir itu telah menghilang. Aku mencarinya, tapi tetap tidak menemukannya. Akhirnya kuputuskan untuk menerima kalung itu dan membawanya pulang. Toh, dia sendiri yang memberikannya padaku.

Sepanjang jalan aku menimang-nimang kalung itu sambil sesekali mengagumi keindahannya. Karena aku terlalu sibuk memandanginya, aku sampai tidak melihat jalan. Seseorang menabrakku dan kalung itu terjatuh ke jalan.

“Ah, maaf” ucap orang itu.

“Ah!!! Kalungku...” aku tidak mempedulikan orang itu dan malah sibuk mencari kalungku. Ketika aku menemukannya, sebuah tangan mengambilnya dan memberikannya padaku.

“Maaf, aku menabrakmu” orang itu memberikan kalungnya padaku. Pada saat itulah aku melihat wajahnya. “Ini milikmu?”

Aku terperangah saat mengetahui sosok orang yang menabrakku. Dia Takaki Yuya! orang yang kusukai. Untuk sesaat aku seperti terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ano...” Takaki melambaikan tangannya di depanku, seperti mengecek apakah aku masih sadar atau tidak.

“Ah, eh, iya! Terima kasih!” aku segera bangkit berdiri dan mengambil kalungku. Aku tersipu malu saat dia memergokiku sedang bengong. Aku segera berbalik dan ingin segera pergi untuk menyembunyikan rasa maluku.

“Ah, tunggu!” Takaki menahan tanganku. Sungguh, aku merasa seperti terkena sengatan listrik saat tangannya menyentuhku. “Bajumu....”

Aku melihat ke arah bajuku. Ada sedikit noda eskrim disana. Rupanya saat bertubrukan tadi, eskrim Takaki mengenai bajuku juga.

“Ah... ini? tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya”

“Tidak” ucapnya tegas. “Aku akan menggantinya sebagai permintaan maaf karena sudah menabrakmu”

Dan berikutnya Takaki menarikku dan membawaku pergi ke suatu tempat.

---***---

Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana. Yang jelas, saat ini aku sedang berada di sebuah toko pakaian dan mencoba berbagai macam baju. Semua baju ini Takaki yang memilihkan. Aku memandangi diriku di kaca, baju pilihan Takaki membuatku terlihat imut. Selera Takaki sangat bagus.

“Itu juga terlihat cocok untukmu”

Aku tersipu mendengar Takaki memujiku. Ini sudah kesekian kalinya dia memujiku.

“Kau mau yang mana?” tanya Takaki.

“A-aku tidak tahu. Semuanya terlihat bagus. Aku tidak yakin aku bisa memakai baju yang bagus seperti ini”

“Kau cocok memakai apapun Daiki”

Aku tersentak saat dia menyebut namaku. “Kau tahu namaku?”

Entah itu hanya perasaanku atau tidak, yang jelas aku melihat Takaki juga sedikit terkejut. “Kau tadi sudah memperkenalkan dirimu padaku”

“Eh? Benarkah?” aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya aku belum menyebutkan namaku, tapi mungkin saja aku menyebutkan namaku tanpa sadar.

“Baiklah. Baju yang itu saja” Takaki menunjuk pakaian yang sedang kupakai. Sebuah dress oranye mini dengan sedikit renda di bawahnya. Sebelum aku mengatakan apapun, dia sudah menuju ke kasir dan membayarnya.

“Terima kasih banyak” ucapku setelah kami berdua meninggalkan toko. Aku tidak tahu harus berkata apa. Hari ini terlalu membahagiakan bagiku.

“Tidak masalah” Takaki mengamatiku lagi. Aku merasa canggung dilihat seperti itu olehnya. “Mana kalungmu?”

“Eh? Ada di sakuku” aku mengambil kalung itu dan menunjukkan itu padanya. “Kenapa?”

Takaki mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku. “Sayang kalau kau tidak memakainya” Dia mengamatiku lagi. “Ya, baju ini dan kalung itu sangat cocok untukmu. Aku tidak salah”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

Takaki Cuma tersenyum. Dia kemudian menggandeng tanganku. “Kau nganggur kan setelah ini?”

Aku mengangguk. Tidak berani memandang wajahnya karena malu dia menggandeng tanganku.

“Bagus. Ayo kita pergi jalan-jalan hari ini. Anggap saja kita sedang berkencan”

---***---

Seharian ini sungguh menyenangkan. Tidak pernah kubayangkan aku bisa berjalan-jalan seperti ini bersama dengan Takaki. Dia mengajakku ke tempat-tempat yang kusukai. Seperti ke game center dan taman hiburan. Dia juga mengajakku ke tempat-tempat yang romantis seperti kafe tempat kami makan malam. Sungguh, aku tidak pernah bosan dan sangat menikmati hari ini.

Tapi, mendadak aku merasa sedih. Jangan-jangan Takaki melakukan itu karena pengaruh kalung ini? Karena kalung inilah Takaki bersamaku sekarang. Coba aku tidak memiliki kalung ini, pasti Takaki tidak akan ada disini sekarang.

“Daiki?”

Aku menatap ke arah Takaki yang tampaknya sedang mengamatiku dari tadi.

“Kau tidak suka disini?”

Saat ini kami berada di sebuah taman. Di hadapan kami ada sebuah air mancur yang berwarna-warni karena sorotan lampu. Sangat indah.

Aku menggeleng dan tersenyum. “Aku suka, tempat ini sangat indah”

“Lalu, kenapa kau bermuka muram seperti itu?” tanyanya lagi.

“Aku...” aku tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus kujelaskan padanya?

Takaki memelukku erat. Aku sangat kaget dengan tindakannya sehingga tidak tahu harus membalas bagaimana.

“Aku menyukaimu”

Aku kaget saat mendengar bisikannya. Itulah kata-kata yang sangat ingin kudengar. Itulah kata-kata yang sangat kuharapkan selama ini darinya. Tapi... mengapa aku harus mendengarnya setelah aku mendapat kalung ini? dia mengatakan itu karena aku memakai kalung ini. Kalau aku tidak memilikinya, Takaki tidak akan mengenalku dan tidak akan sedekat ini padaku.

“Daiki?”

Takaki terkejut saat melihatku menangis. Ya, aku menangis karena merasa ini semua tidak nyata. Ini semua hanyalah ilusi karena kalung ajaib ini.

“Maaf. Takaki... kau mengatakan itu karena pengaruh kalung ini. Kalau kalung ini tidak ada, kau tidak akan menyukaiku”

Aku melepas kalung itu dan menyerahkannya pada Takaki. Aku tidak bisa memakainya lebih lama. Tidak baik memainkan perasaan seseorang dengan ilmu sihir.

Setelah memberikan kalung itu, aku segera berlari meninggalkannya. Sudah cukup aku bermimpi indah hari ini. Aku berterimakasih pada kalung itu. setidaknya, kalung itu sudah memberiku mimpi indah dan mengabulkan keinginanku. Meskipun pada akhirnya aku harus terluka.

“Ah... Sungguh mimpi yang indah”

---***---

Aku melangkah gontai ke sekolah. Hari ini aku tidak bersemangat seperti biasanya. Aku tidak tahu harus bagaimana, biasanya pagi ini aku akan segera menuju gym, dan melihat Takaki bermain basket. Tapi hari ini, aku tidak semangat melakukannya.

“Eh? Takaki mana? Dia tidak masuk?”

Aku terhenti dan terkejut ketika tanpa sadar kakiku melangkah menuju ke gym. Rupanya badanku bergerak sendiri, seolah sudah menjadi rutinitas.

Aku ikut penasaran dengan omongan para gadis yang juga saat ini sedang berkumpul di gym. Ada apa dengan Takaki? Apa dia tidak masuk?

Aku melongok ke dalam dan melihat tim basket yang sedang latihan. Benar saja, Takaki tidak ada. Aku hapal bentuk tubuhnya dan akan segera mengenalinya kalau melihatnya dari jauh, tapi Takaki tidak ada dimanapun.

“Eh? Kemana dia? Dia jarang membolos”

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku dari belakang. Aku terkejut ketika menyadari siapa yang menarikku. Para gadis juga menjerit histeris melihat Takaki tiba-tiba muncul dan membawaku pergi.

“Akhirnya.....” ucapnya setelah kami sampai di tempat yang agak sepi.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Kenapa Takaki mencariku? Apa dia sudah sadar pengaruh kalung ajaib itu dan kini ingin memarahiku?

“Kau ini... kalau ada orang yang menyatakan perasaannya, jangan langsung lari begitu saja donk! Kukira kau gadis yang pintar, tapi ternyata bodoh”

Aku sedikit kesal saat dia mengolokku bodoh. Setidaknya aku lebih pintar dari Takaki. Aku tahu kalau nilaiku jauh lebih baik darinya.

“Jawabanmu?”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku bilang aku suka padamu kan? Kenapa kau tidak menjawabnya?”

Aku tertegun. “Eh? Kau... benar-benar suka padaku?”

Takaki tersenyum. “Tentu saja baka...” dia mencubit kedua pipiku. “Ja-wa-ban-mu?”

“Eh? Jadi itu semua bukan mimpi? Eh?” aku masih tidak mengerti. Takaki benar-benar menyukaiku? Bukan karena pengaruh kalung itu?

“Ah... sudahlah. Toh aku sudah tahu jawabannya” Takaki mengambil sesuatu dari sakunya. Kalung itu! Kalung ajaib yang kemarin kuberikan padanya. Dia memakaikan kalung itu lagi dileherku lalu memelukku.

“Sekarang kau milikku”

---***---

Author POV

“Ah... aku sempat cemas kemarin. Untunglah mereka benar-benar jadian”

“Aktingmu sangat hebat Inoo, kau benar-benar terlihat menyeramkan dengan kostum penyihir itu”

“Yah, aku tahu kalau Daiki menyukai Takaki. Dan waktu kau bilang Takaki juga menyukainya, kau langsung merencanakan itu. Idemulah yang membuat semua ini berjalan lancar Yabu”

“Kita berdua memang pasangan jenius”

Tamat

Kamis, 20 Oktober 2016

PRECIOUS


Cast : Yabu x Hikaru (Inoo jd figuran)
Genre : angst
Warning : death character!

~

Sesak.

Nafasku pun terputus-putus. Aku berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Tapi dadaku masih terasa sesak. Kumiringkan kepalaku agar bisa mengurangi sesak. Tapi...

Tubuhku terasa kaku, tidak mau kugerakkan. Pandanganku pun buram. Aku hanya bisa melihat secara samar-samar.

Dari pandanganku yang samar-samar, aku sedikit bisa melihat cairan merah yang mengalir entah darimana. Cairan merah itu terasa hangat. Tubuhku pun terasa seperti berendam di lautan air hangat yang berwarna merah.

Dingin.

Semakin lama cairan merah itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Tubuhku semakin terasa dingin. Aku bisa merasakannya. Tidak hanya itu, kulitku semakin pucat ketika aku melihatnya dari pandanganku yang buram.

Kini aku sadar.

Aku telah ditusuk. Ada sebuah luka besar di tubuhku. Dari sanalah cairan merah ini berasal. Cairan ini berhasil keluar dari tubuhku melalui lubang besar itu.

Hangat.

Aku merasa ada cairan hangat yang menetes dan membasahi pipiku. Apa itu? Aku mendongak. Dengan pandanganku yang buram, aku bisa melihat ada seseorang yang sedang duduk di dekatku. Cairan yang hangat ini berasal darinya.

"Hiks... Hiks..."

Aku mendengar suara isakan. Kenapa? Siapa? Apakah orang yang ada di dekatku itu yang menangis?

Ah... Cairan hangat itu adalah air mata. Kenapa dia menangis? Apa dia menangisi keadaanku ini?

"Yabu..."

Aku terdiam. Suara itu sangat kukenal. Akhirnya aku tahu siapa sosok yang ada di dekatku ini. Meskipun aku tidak melihatnya langsung, tapi mendengar suaranya saja aku langsung tahu itu siapa. Tentu saja, dia selalu ada di sampingku selama ini, bagaimana mungkin aku tidak tahu?

Hikaru. Aku berusaha memanggil namanya, tapi sepertinya mulutku terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.

“Maafkan aku Yabu, karenaku... kau...”
Hikaru terus mengeluarkan air matanya. Ingin rasanya aku mengusap air matanya itu dan mengatakan semua itu bukan salahnya, tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Bahkan mengeluarkan suara dari mulutku saja aku tidak bisa. Aku merasa ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku.

“Seandainya... seandainya saja aku tidak melakukan hal yang bodoh seperti itu. Kau... kau...”

Tidak Hikaru. Bukan karena itu. Kau tidak salah apapun. Itu semua karena aku yang tidak mampu memcegahmu. Karena aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Akulah yang gagal.

Aku ingat dengan jelas mengapa semua ini terjadi. Semua ini dimulai dari kejadian beberapa bulan yang lalu.

-----

Saat itu, Hikaru berada di masa yang sulit. Dia selalu mendapat tekanan dari keluarganya. Menjadi salah satu bagian dari keluarga yang sukses, membuat Hikaru dituntut untuk menjadi yang terbaik. Tapi Hikaru tidak bisa, dia tidak bisa dipaksa atau dikekang seperti itu. Karena banyaknya tekanan yang diterima, Hikaru melarikan diri dari rumah.

Aku kemudian mencari Hikaru. Berhari-hari aku mencarinya dan kemudian aku menemukannya dengan cara yang tidak terduga. Hikaru bergabung dengan komplotan gangster yang terkenal kejam.

“Hikaru, ayo pulang”

“Pulang dan kembali ke rumah yang jelek itu? Tidak mau!”

Sejak saat itu, setiap kali aku bertemu dengan Hikaru, aku memaksanya untuk pulang, dan jawabannya selalu sama. Aku bahkan pernah dipukuli oleh anak buahnya, tapi itu tidak membuatku niatku menjadi surut. Aku tetap gigih mengajak Hikaru pulang. Dan aku tidak akan berhenti sampai Hikaru kembali.

Firasatku semakin lama semakin merasa tidak enak. Aku bermimpi buruk mengenai Hikaru. Aku bermimpi dia berlari ketakutan, seakan menghindari sesuatu. Dia juga berteriak berulangkali memanggil namaku. Dan setiap kali aku ingin membalas teriakannya, aku selalu terbangun. Benar-benar mimpi yang tidak mengenakkan.

Karena mimpi itu, aku semakin gigih untuk mengajak Hikaru pulang. Tapi, sepertinya ada seseorang yang berusaha menghalangiku bertemu dengan Hikaru. Orang itu adalah pemimpin gangster itu, Inoo Kei.

“Pergi dari hadapan kami dan jangan ganggu Hikaru lagi. Dia sudah menjadi milikku”

Itu peringatan yang diberikan oleh Inoo Kei padaku. Sesaat aku merasa gentar dengan ucapannya, membuatku mengurungkan niatku untuk membawa pulang Hikaru. Tapi kemudian aku merasa itulah alasan yang tepat. Aku mulai merasa hal yang tidak enak. Inoo Kei bukan pemuda yang baik. Aku merasa ada sesuatu yang berbahaya padanya.
Dan firasatku terbukti. Hikaru mendatangiku. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Di bajunya terlihat beberapa noda darah. Aku sempat panik dan mengira Hikaru terluka, tapi rupanya itu bukan darahnya.

“Tolong aku Yabu... Tolong...”
Hikaru tampak sangat panik dan ketakutan. Tubuhnnya gemetar tanpa henti. Butuh waktu untuk membuatnya tenang sehingga dia bisa menceritakan padaku apa yang terjadi.

Hikaru kemudian menceritakan semuanya. Dia ingin keluar dari grup itu karena dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Inoo tidak membiarkannya keluar begitu saja. Dia kemudian mencoba kabur dari sana bersama temannya, tapi sialnya rencananya ketahuan. Temannya telah tewas ditembak oleh Inoo. Darah yang ada di bajunya adalah buktinya. Dan saat ini Inoo telah mengejarnya.

“Aku takut Yabu. Sungguh, aku takut” ucapnya berulangkali.

“Tenanglah” aku memeluknya untuk menenangkannya. “Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku akan menjagamu”

Tepat pada saat itu Inoo muncul di hadapan kami. Aku bergumul beberapa saat dengannya. Aku berhasil melukainya, dan dia juga berhasil melukaiku. Cerita selanjutnya sudah kalian tahu sendiri.

-----

Aku menatap ke sosok Inoo Kei yang saat ini berbaring tidak bergerak tidak jauh dariku. Aku lega. Setidaknya, tidak ada lagi yang akan melukai Hikaru. Hikaru bisa bebas dan menjalani kehidupannya seperti dulu.

Ah... andai saja aku bisa terus bersama Hikaru. Aku ingin bersama dengannya lagi, menebus waktu kami berdua yang terlewatkan. Tapi tampaknya, sang malaikat maut sudah tidak sabar membawaku. Dia menantiku sedari tadi disana.

Sekali lagi, aku menatap Hikaru. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Aku terus melihatnya hingga mataku menutup untuk selamanya.

Tamat

Senin, 10 Oktober 2016

KARENA AKU MENYUKAIMU

Cast : Yamada Ryosuke & Chinen Yuri
Genre : Fluff

Hari ini seperti biasa, Chinen melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya. Dia bekerja di sebuah toko hewan. Dengan nilainya yang bagus, seharusnya Chinen bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dia bahkan pernah mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan ternama. Tapi itu semua ditolaknya. Chinen ingin bekerja di bidang yang dia sukai, yaitu bekerja dikelilingi hewan, teman kesayangannya.

“Ah… pemuda itu lagi”

Chinen melihat sekilas pemuda bersepeda yang baru saja lewat disampingnya. Pemuda itu bernama Yamada Ryosuke, seorang salesman di perusahaan mainan. Chinen mengenalnya karena pemuda itu sering sekali mengunjungi tokonya untuk mengadopsi hewan peliharaan baru atau membeli makanan hewan. Chinen tahu kalau Yamada memiliki berbagai macam hewan peliharaan dan Chinen senang berkenalan dengan pemuda  itu. Chinen senang memiliki teman yang menyukai hewan seperti dirinya.

Chinen tersenyum dan segera mempercepat langkahnya ketika dia melihat Yamada berhenti di depan lampu merah. DIa ingin menyapanya, tapi beberapa saat kemudian niatnya diurungkan. Yamada tampak asyik bercakap dengan seorang wanita. Wajahnya pun terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan wanita tersebut.

“Mungkin lain kali” lirih Chinen sambil melangkah pergi. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya merasa sedikit sedih. Perasaan murung melandanya saat itu juga. Kenapa?

---***---

“Kau akan bertambah tua”

Chinen tersadar ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ohno, majikannya sedang berdiri di belakangnya dengan muka datar.

“Kau kenapa? Sejak masuk kerja tadi pagi kau terus duduk disana, memangku dagu, dan menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali kau menghela nafas. Tidak terhitung. Kau tahu? Umur seseorang berkurang 1 detik setiap dia menghela nafas” Ohno menatap tajam ke arah Chinen “Apa yang terjadi?”

Chinen balas menatap Ohno. Dia sangat mengagumi majikannya ini. Alasan kedua dia bekerja disana adalah karena Ohno-san. Chinen sangat mengaguminya sehingga dia memutuskan bekerja di toko milik Ohno. Dia bahkan menganggap Ohno sebagai kakak, ayah, paman, gurunya.

“Sebenarnya….” ucapan Chinen terpotong ketika ada seorang pelanggan memasuki toko. Tenggorokan Chinen terasa tercekat ketika dia tahu siapa yang memasuki toko. Sosok yang selalu dipikirkannya seharian ini. “Yamada…” gumam Chinen pelan.

“Ah… Selamat siang Chinen” sapa Yamada dengan senyuman.

“Siang..” jawab Chinen sekenanya. Ohno juga ikut menyapa Yamada. Selama beberapa detik mereka mengobrol, Ohno segera pergi meninggalkan Yamada dan Chinen berdua.

“Kenapa kau kemari?” nada suara Chinen terdengar agak ketus, tapi Yamada tampaknya tidak menyadarinya.

“Hmm…” Yamada melihat ke sekeliling toko. Matanya berhenti pada seekor marmut kecil lucu. DIa kemudian asyik mengelus binatang kecil itu. “Tadi pagi aku melihatmu saat berangkat kerja”

Chinen terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada menyadari kalau dia ada disana. Chinen kira hanya dia saja yang menyadari sosok Yamada.

“Lalu?” tanya Chinen.

“Aku hanya melihat punggungmu saja, tapi aku merasa kalau kau…” Yamada berhenti dan tidak melanjutkan perkataannya, seakan memikirkan sesuatu.

“Apa?” tanya Chinen penasaran.

Kali ini Yamada memandang ke arah Chinen. “Aku merasa kalau kau sedang murung. Aku memikirkan hal itu seharian ini. Aku tidak tenang, jadi aku memutuskan kemari. Apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu?”

Chinen sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada akan mengkhawatirkan dirinya. Dalam hati dia sedikit senang, tapi dia menyembunyikan perasaannya itu.

“Chinen? Kenapa kau diam saja?” Yamada mendekat. “Benar ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu ya?”

“Kenapa?” Chinen kini mulai membalas Yamada. “Kenapa kau terlihat mengkhawatirkan diriku?”

Kali ini giliran Yamada yang terdiam. Dia menundukkan kepalanya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.

“Yamada?” tanya Chinen tidak sabar.

Yamada menggumamkan sesuatu, tapi Chinen tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Yamada berbicara dengan cepat dan pelan.

“Hah?” respon Chinen saat Yamada selesai bergumam. Dia sama sekali tidak mendengar apapun.

Yamada menggaruk kepalanya. Dia terlihat kebingungan. Tiba-tiba dia menyambar sebuah pena di atas meja kasir, mengambil note dari tasnya, lalu menuliskan sesuatu. Chinen Cuma diam saja dan menunggu apa yang akan dilakukan Yamada selanjutnya.

“Ini” Yamada merobek kertas dari notenya, melipatnya jadi dua dan memberikannya pada Chinen. “Jangan dibuka sekarang. Tunggu sampai aku keluar dari sini”

Yamada mundur beberapa langkah menuju ke arah pintu. Sebelum melangkah keluar, dia melihat ke arah Chinen. “Baca itu saat aku sudah keluar”

Chinen memegang kertas itu dan menuruti permintaan Yamada. Setelah Yamada keluar dan menghilang dari balik pintu, Chinen mulai membuka kertas itu. Dibacanya kertas itu kata demi kata. Dia sangat terkejut ketika selesai membacanya. Chinen melihat lagi ke arah pintu, dimana Yamada menghilang tadi.

“Ohno-san! maaf! Aku ijin keluar sebentar!!” Chinen langsung berlari keluar tanpa mendengarkan jawaban dari Ohno terlebih dahulu. Dalam pikirannya, dia ingin segera menyusul Yamada sebelum Yamada melangkah lebih jauh.

“Eh? Chinen-kun.. Kau mau kemana?”

Chinen sudah menghilang dari balik pintu, meninggalkan Ohno disana sendirian dengan penuh tanda tanya. Ohno melihat ke arah lantai, ada sebuah kertas yang tergeletak disana, tampaknya itu kertas yang tadi dibaca oleh Chinen. Kertas dari Yamada. Ohno mulai membaca isi kertas itu.

KARENA AKU MENYUKAIMU

Tamat

Rabu, 03 Agustus 2016

CHILDREN TIME AT PARK

Genre : Comedy
Sekuel dari ff children time sebelumnya

~

Lima orang pemuda tampak mengawasi 4 orang anak kecil yang sibuk bermain di taman. Mereka kelelahan bukan main saat mengurus mereka. Ketika 4 anak kecil itu sibuk bermain sendiri, mereka menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat sejenak.

Pandangan Daiki tertuju pada Yuya yang tampak memandangi ke suatu arah.

"Ada apa Takaki?" tanya Daiki lembut.

"Aku mau macukin bola kecana"

Yuya menunjuk ke arah ring basket yang tidak jauh darisana. Daiki melirik ke arah bola yang dipeluk Yuya. Bola basket.

"Daiki gendong ya, terus Takaki masukin bolanya" saran Daiki.

Yuya menggeleng keras. "G ucah!"

"Loh katanya Takaki mau masukin bolanya?"

"Daiki pendek. G nyampek" jawab Yuya singkat. Daiki tampak sangat syok dengan jawaban Yuya. Yuya kemudian meninggalkan Daiki yang masih syok.

Yuya mengamati satu persatu orang dewasa yang ada disana. Pandangannya terhenti pada sosok yang tampak murung karena Keito kecil tidak mau mendekatinya.

Wajah Yuto sedikit cerah ketika dia melihat Yuya kecil mendekatinya. Setidaknya ada anak kecil yang mau bermain dengannya.

"Ada apa Yuya?"

"Gendong. Aku mau macukin bola kecana. Gendong"

Yuya menunjuk ke arah ring basket. Yuto mengangguk mengerti. Dia kemudian memposisikan Yuya di bahunya dan mereka berdua menuju ke ring basket itu.

"Macuk!!! Lagi! Lagi!"

Yuya senang bukan main saat dia bisa memasukkan bolanya. Yuto juga senang karena dia bisa membuat seorang anak kecil tertawa. Di lain pihak, Daiki tampak sedih karena ucapan Yuya. Dia kemudian berjalan ke arah anak yang lain untuk menghilangkan rasa syoknya.

"Chii! Sedang apa?"

Daiki terkejut ketika melihat Chinen bergelantungan di atas pohon. Bukannya takut, Chinen justru tersenyum bangga.

"Liat, liat! Yuli hebat kan?"

"Kalau jatuh gimana?" tanya Daiki lagi.

"Yuli g bakal jatuh!"

Daiki akhirnya cuma bisa mengawasi Chinen yang bergelantungan di pohon sambil berharap semoga Chinen tidak jatuh.

~

Hikaru, Inoo, dan Yamada hanya duduk-duduk mengawasi saja. Mereka terlalu lelah. Tiba-tiba Yabu kecil menghampiri mereka sambil membawa bola.

"Ada apa Yabu?" tanya Inoo.

Yabu kecil mundur beberapa langkah. Rupanya dia masih takut dengan Hikaru dan Inoo.

"Mau main bola kan?" tanya Yamada. Yabu mengangguk pelan. "Hmm... Ayo main"

Yamada menggandeng Yabu dan Yabu menerimanya dengan senang hati. Mereka kemudian bermain bola.

"Kenapa Yabu takut dengan kita?" keluh Inoo.

"Wajahmu menyeramkan sih" jawab Hikaru.

"Enak aja. Wajahmu juga tuh" kesal Inoo.

"Ngomong-ngomong, dimana Keito? Aku tidak melihatnya" Hikaru celingukan mencari Keito. Keito kecil tidak tampak di mata mereka.

"Bukannya itu Keito?" tunjuk Inoo pada Keito yang sedang berjongkok membelakangi mereka.

"Dia sedang apa?"

Karena penasaran, dua orang itu menghampiri Keito. Mata Hikaru melebar, wajahnya pucat pasi begitu mengetahui Keito sedang bermain apa.

"Uwaaaaaaa!!!!!!"

Hikaru langsung lari dengan sekuat tenaga. Inoo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Hikaru.

"Kenapa hikalu lali?" tanya Keito.

"Dia takut dengan ini" jawab Inoo sambil mengelus kucing yang sedari tadi bermain dengan Keito.

"Kenapa? Meongnya kan lucu"

"Bagi Hikaru ini monster menyeramkan"

"Olang anyeh"

Inoo hanya bisa tertawa mendengar komentar Keito. Dia kemudian menemani Keito bermain dengan kucing itu.

~

"Huwaaaaaaaa!!!!!!!!!"

Tangis anak kecil meledak di taman itu. Semua mata langsung tertuju pada sumber tangisan.

"Yuto, apalagi yang kau lakukan?" keluh Yamada.

"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menunjukkan seekor serangga lucu padanya. Dia langsung menangis" bantah Yuto sambil terus berusaha menenangkan Yuya kecil yang menangis.

"Kau ini... Apa kau lupa kalau Takaki tidak suka dengan serangga?"

Daiki lalu menggendong Yuya dan menepuk punggungnya, berusaha menenangkannya. Yuya kecil masih terus menangis karena melihat Yuto. Daiki akhirnya membawa Yuya menjauh sambil terus berusaha menenangkannya.

"Apa salahku? Kenapa mesti aku?" lirih Yuto pelan.

Tamat

Jumat, 15 Juli 2016

SWEET TIME

YamaChii & TakaDai

YamaChii~

"Ryosuke... Lihat itu"

Yamada yang sedang berjalan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Chinen. Dua buah kalung dengan bentuk sama terpajanb di sebuah etalase toko.

"Kau punya uang berapa?", tanya Chinen dengan mata berbinar.

Yamada menghela nafas. Dia tahu apa maksud Chinen.

"Tapi Yuri, itu kalung pasangan"

"Memangnya kenapa? Kau juga membeli kaos pasangan dengan Suda kan?"

"Tapi Yuri... Itu perhiasan dan...harganya..."

"Aku mengerti" potong Chinen. "Sudahlah. Ayo kita makan. Aku lapar"

Chinen berjalan lebih dulu meninggalkan Yamada. Yamada menghela nafas lagi. Dia tahu kalau Chinen sekarang sedang kesal. Yamada melihat kalung pasangan itu lagi.

"Tidak ada pilihan lain...."

-----

Chinen tertidur pulas di ruang latihan. Latihan dance kali ini menguras tenaganya. Sebenarnya dance kali ini tidak terlalu susah, tapi mungkin Chinen yang terlalu over.

"Chii... Bangun. Kau tidak pulang?"

Chinen membuka matanya dan melihat Keito duduk di sebelahnya.

'Tring...'

Chinen melihat ke arah lehernya. Ada sesuatu yang menggantung disana. Sebuah kalung yang bentuknya sama persis seperti yang dia inginkan kemarin.

"Eh? Apa ini?", Chinen tidak mengerti kenapa kalung itu ada disana.

"Ah... Kalian ini sudah seperti pasangan saja", komentar Keito saat melihat kalung Chinen.

"Hah? Kalian? Siapa?"

"Kau dan Yama-chan. Kalian berdua menggunakan kalung yang sama. Ck ck ck.. Kenapa tidak sekalian cincin pasangan saja?"

"Eh? Ryosuke?"

'Kapan dia membelinya? Kapan dia mengenakan kalung ini padaku?', pikir Chinen sambil memegang kalung barunya.

Chinen melirik ke arah Yamada yang langsung mengalihkan pandangannya ketika mata mereka berdua bertemu. Chinen tersenyum ketika melihat pantulan wajah Yamada yang tampak tersipu. Wajahnya semakin cerah ketika melihat sebuah kalung yang sama dengannya terpasang di leher Yamada.

"Ryosuke... Arigatou...", batin Chinen.

---***---

TakaDai~

"Uwah... Keajaiban!", seru Daiki saat memasuki ruangan. "Sejak kapan kau membaca buku?"

Daiki langsung menghampiri Takaki yang sedang asyik membaca buku. Takaki sama sekali tidak menghiraukan Daiki dan terus membaca bukunya.

"Takaki? Kau sakit?"

Daiki menempelkan tangannya ke dahi Takaki. Takaki yang sedikit terusik akhirnya melihat ke arah Daiki.

"Aku tidak sakit. Kenapa sih?", kesal Takaki yang aktivitas membacany terganggu.

"Habisnya... Kau membaca buku, hal yang jarang kau lakukan. Ditambah lagi kau memakai kacamata"

"Ini kan bukan pertama kalinya aku memakai kacamata. Aneh ya?"

"Tidak.", Daiki mendekatkan wajahnya. "Tapi aku lebih suka menatap matamu langsung tanpa kacamata"

Takaki langsung memfokuskan diri membaca bukunya lagi sedangkan Daiki tertawa. Dia tahu kalau Takaki saat ini merasa malu. Dia meletakkan kepalanya di paha Takaki dan tiduran disana sambil terus menatap wajah Takaki yang membaca buku.

"Kawaii na...", gumam Daiki.

"Urusai..."

-----END

Minggu, 22 Mei 2016

CHILDREN TIME

Genre : Komedi
Summary : Yuya, Yabu, Chinen, dan Keito berubah menjadi anak-anak. Apa yang akan terjadi pada mereka?

~

"Lyocuke~ Yuli mau cucu"

Yamada kali ini pusing bukan main. Chinen kecil berada di depannya dengan tatapan mata bagaikan kucing kecil. Dia ingin meminta bantuan temannya yang lain, tapi mereka juga sama sibuknya.

"Huweee!!! Cana jauh-jauh!"

Yabu kecil tampak sembunyi di balik lemari. Wajahnya sangat takut saat melihat Inoo dan Hikaru yang sedari tadi membujuknya agar mau keluar dari sana. Mereka berdua tidak tahu kenapa Yabu sangat takut pada mereka.

"Gak mau!"

Yuya kecil menepis tangan Daiki dan kembali sibuk bermain hp. Daiki berusaha membujuk Yuya agar bermain bersamanya, tapi usahanya nihil. Yuya sama sekali tidak mau.

"Itu apa? Kenapa itu belcahaya?"

Keito kecil tampak antusias melihat kamera Yuto. Yuto harus menjelaskan pada Keito berulangkali soal kamera, tapi karena penjelasan Yuto terlalu susah, Keito kecil terus bertanya sampai dia paham.

"Kenapa semuanya jadi begini?" keluh Yamada.

Ya, mereka berlima tidak tahu apa yang terjadi. Pagi tadi, mereka langsung mendapati keempat temannya sudah berubah menjadi anak-anak. Terkejut pasti iya, tapi selanjutnya mereka kelelahan saat menghadapi teman mereka yang berubah menjadi anak-anak. Mereka sama seperti anak-anak lain yang cerewet, manja, penakut, dan pemalu.

~

"Woi Inoo, hentikan cengiranmu itu"

"Kenapa?"

"Cengiranmu itu yang membuat Yabu takut"

"Kok aku? Wajahmu itu yang menakutkan"

"Kakak-kakak ini celem. Yabu main ama yuya aja yuk"

Yuya yang mengacuhkan Daiki tiba-tiba datang menarik Yabu agar keluar dari persembunyiannya. Yabu menurut dan mengikuti Yuya. Hikaru, Inoo, dan Daiki cuma bisa bengong melihat keakraban Yabu dan Yuya.

~

"Lyocuke... Yuli mau cucu yang becal... Bukan yang kecil"

"Tapi ini kan sudah besar Yuri.."

"Yuli g mau tahu! Pokoknya yang becal! Yang cegini"

Chinen menunjuk ke arah pinggangnya. Yamada hanya bisa memutar matanya dan menghela nafas panjang. Chinen yang biasanya saja sudah cukup merepotkan apalagi yang kecil begini.

"Lyocuke... Hiks..."

"Eh Tunggu!" Yamada mulai panik saat melihat Chinen yang mulai menangis. "Aku belikan susu yang baru deh. Tunggu ya"

Chinen mengangguk riang. Yamada langsung berlari keluar untuk membeli susu kemasan besar. Sedangkan Chinen menunggu Yamada sambil meminum susu yang dibelikan tadi.

~

"Keito mau pegang, mau pegang"

Keito menjulurkan tangannya berkali-kali. Dia ingin memegang kamera Yuto. Yuto tampak ragu untuk menyerahkan kamera kesayangannya itu.

"Keito g boleh pegang?"

Keito langsung diam dan menunduk. Yuto merasa bersalah. Dengan berat hati dia meminjamkan kameranya pada Keito. Keito senang bukan main. Dia berlari untuk menunjukkan kamera itu pada teman kecilnya yang lain, tapi Keito tidak memperhatikan jalan dan kemudian terjatuh.

"Kameraku!!!!"

Yuto berteriak histeris. Dia ingin menangis saat melihat kameranya rusak, tapi Keito malah menangis duluan karena merasa bersalah sudah merusak kameranya.

"Huwaaa.... Waaa.... Hiks..."

"Yuti jahat!" tunjuk Chinen sambil merangkul Keito.

"Eh? Kok malah aku yang jahat?" protes Yuto. Dia tidak sadar kalau dia meninggikan suaranya. Alhasil, Chinen juga terkejut dan kini menangis bersama dengan Keito.

"Uwaaa... Weee... Hikss... Huu..."

Tangisan dua anak kecil memecah ruangan. Semua mata tertuju pada Yuto. Yuto juga ingin menangis, tapi dia bingung menghadapi dua anak kecil yang sedang menangis itu.

"Loh? Ada apa ini?"

Yamada yang baru kembali membeli susu disambut oleh Chinen kecil yang sedang menangis.

"Lyocuke, Yuti jaat"

Chinen menunjuk ke arah Yuto. Yamada melirik ke arah Yuto. Yuto langsung menggeleng sekuat tenaga, menunjukkan kalau dia tidak bersalah.

"Cup cup Yuri, kita main di luar saja yuk. Keito juga"

Yamada akhirnya mengajak dua anak kecil itu keluar. Semuanya menarik nafas lega saat ruangan menjadi tenang. Tapi gantian Yuto yang ingin menangis saat memandangi kameranya yang rusak.

"Duh... Beliciknya. Yabu, kita keluar yuk" Yuya menggandeng Yabu keluar.

"Eh?? Kalian mau kemana?" tanya Daiki.

"Main. Dicini membocankan" jawab Yuya.

"Kakak boleh ikut?"

"Enggak boleh!" tolak Yuya. Daiki merasa sedikit syok dengan penolakan Yuya. Apalagi Yabu juga memandangnya dengan pandangan takut.

Yuya dan Yabu langsung berjalan menuju ke luar ruangan. Inoo, Hikaru, dan Daiki berusaha mengikuti mereka diam-diam karena khawatir.

"Jangan ikut!!! Cana pelgi!!!!"

Yabu berteriak sambil menarik tangan Yuya. Mereka berdua langsung lari keluar. Dan dalam sekejap keduanya menghilang dari pandangan tiga orang itu. Inoo, Hikaru, dan Daiki langsung panik mencari keberadaan keduanya.

"Yabu!!! Kau dimana?"

"Ba- salah, Takaki! Ayo keluar!"

"Kenapa jadi begini?" keluh Hikaru.

Dan semuanya berharap keempat orang itu bisa kembali seperti semula. Mereka berempat jauh lebih merepotkan saat menjadi anak-anak.

END

Senin, 25 April 2016

DIRIKU YANG LAIN

Part 2-FINISH

JUMP X Sensations

~

"Kenapa kita pulang ke rumahmu Yabu?", tanya Chinen sambil asyik memainkan game. Yabu yang menawarkan game itu padanya karena Chinen selalu berkata bosan.

"Inoo mendadak ingin ke rumahku, aku juga tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya sangat penting dari nada suaranya"

"Uhh... Padahal masih banyak tempat yang ingin kudatangi" rajuk Chinen. Yah member termuda ini memang sangat manja dibandingkan memnebr yang lain.

Yabu membelai kepala Chinen. "Gomen Chii, lain kali kita pergi lagi". Chinen hanya bisa mengangguk lesu. Dia sendiri yang mengajak Yabu pergi dengan egoisnya tadi, masa dia tidak bisa menuruti permintaan Yabu yang hanya sekali?

Tidak lama, bel rumah Yabu berbunyi. Yabu segera beranjak untuk membukakan pintu. Alangkah terkejutnya dia saat melihat begitu banyak orang berdiri di depan pintu rumahnya.

"Maaf Yabu, tolong berikan kami tempat untuk dia. Jangan bertanya apapun, nanti akan kami jelaskan semuanya" terang Inoo.

Yabu hanya bisa diam. Dia sangat terkejut saat melihat sosok yang mirip Chinen masuk. Chinen sedang berada di rumahnya bermain game, lalu itu siapa?

"Nanti akan kami jelaskan" ucap Inoo yang mengerti apa yang dipikirkan Yabu saat ini. "Yang penting kita harus merawat luka dia terlebih dahulu" Inoo menunjuk ke arah Commander yang sedang dipapah oleh Bullet. Yabu mengangguk setuju dan memutuskan untuk bertanya soal ini nanti.

"Tenang saja, aku juga belum paham sepenuhnya apa yang terjadi" bisik Hikaru. "Inoo tiba-tiba memanggilku dan menyuruhku mengantarnya kemari"

Dia lalu mempersilahkan mereka semua masuk dan memerintahkan untuk membaringkan Commander di ruang tengah yang luas. Dimana Chinen yang asli sedang bermain game.

"Ada apa ini?" Chinen heran dengan kedatangan teman-temannya. Matanya langsung tertuju pada Commander yang dipapah oleh Bullet. "Ryosuke?? Apa yang terjadi? Kenapa dia terluka?", tanya Chinen panik.

"Dia bukan Yamada, Chii... Dia commander. Dan ini adalah Bullet dan Doctor", jelas Daiki sambil menunjuk ke arah Bullet dan Doctor.

Mata Chinen dan Doctor sama-sama terbuka lebar. Masing-masing kaget melihat sosok yang mirip di hadapannya. Bullet juga sama kagetnya. Dia bahkan nyaris menjatuhkan Commander yang sedang dipapahnya. Untunglah Inoo langsung sigap menahan tubuh Commander agar tidak jatuh.

"Ah.. Ternyata benar" gumam Doctor. "Kalian mengenal orang yang mirip diriku di dunia ini. Salam kenal, aku Doctor"

---***---

Rapid Fire masih memandangi senjatanya dengan heran. Senjatanya telah berubah tapi tidak lama. Begitu dia mencoba memegang Takaki lagi, senjatanya berubah lagi. Kali ini dia mencoba menyentuh Takaki lebih lama. Dan hasilnya senjatanya berubah. Dia mencoba kekuatan senjatanya sebelum berubah lagi. Dia mengarahkan senapannya ke arah master B dan menembaknya. Rapid Fire terkejut ketika tembakan yang dia keluarkan 2x lebih cepat dan 2x lebih kuat dari sebelumnya.

"Ah!!!!"

Master B mengerang kesakitan. Dia mencoba kabur saat ada kesempatan. Kelima anggota sensations yang lain tidak mempedulikan Master B. Mereka terlalu terkejut dengan serangan yang diluncurkan oleh Rapid Fire.

"Apa yang kau lakukan Rapid? Kenapa senjatamu berubah? Bagaimana kau melakukannya?" Geek menanyainya dengan tidak sabar.

"Eh.. Err... Aku juga tidak tahu. Aku mencoba memegangnya, lalu ada sesuatu yang menyengatku, lalu mengaliri tubuhku dan kemudian aku sadar kalau senjataku telah berubah bentuk"

"Dia?", tanya Scope.

"Iya. Dia", tunjuk Rapid Fire pada Takaki yang masih terbaring pingsan.

---***---

"Yuto!!!"

Yuto menoleh ketika ada seseorang yang memanggil dirinya. Dia melihat Yamada dan Keito sedang melambaikan tangan ke arahnya. Yuto tersenyum dan menghampiri mereka berdua.

"Eh Yamachan... Kukira kau bersama Chinen"

"Yuri? Aku tidak bertemu dengannya hari ini kok. Seharian ini aku keluar bersama dengan Yuya dan Keito"

"Eh? Tapi tadi aku bertemu denganmu sedang bersama dengan Chinen"

"Kau ini bicara apa sih? Aku cuma keluar bersama dengan Yuya, terus kami berpisah dan aku bersama dengan Keito sampai saat ini"

"Eh tapi... Itu benar kau kok. Wajah dan suaranya sama, tidak mungkin aku salah mengenalimu Yama-chan"

Yamada dan Keito saling berpandangan. Wajah Keito tampak sedikit ketakutan. "Jangan bilang kalau yang kau lihat itu hantu, Yuto"

Yamada menjitak kepala Keito. "Tidak ada hantu di siang hari, baka!"

"Tapi siapa yang dilihat oleh Yuto?" Keito meringis sambil memegang kepalanya yang kesakitan.

"Yuto! Kau yakin yang kau temui itu aku dan Yuri?" Yamada memastikan pada Yuto sekali lagi.

"Benar kok... Bahkan kalian duluan yang menghampiriku" tiba-tiba Yuto teringat sesuatu. "Tapi rasanya ada yang aneh saat bertemu dengan kalian"

"A-aneh bagaimana??" Keito langsung bersembunyi di belakang Yamada.

"Yama-chan dan Chii yang kutemui itu memanggilku dengan sebutan 'Bullet'. Mereka juga tampak bingung saat melihatku"

"Bullet?", ucap Yamada dan Keito kompak. "Apaan itu?", tanya Yamada.

"Bullet Yama-chan, bukan Buretto" Keito mengkoreksi Yamada. "Bullet itu berarti peluru dalam bahasa Inggris"

Yamada menatap tajam ke arah Keito lalu kembali menatap Yuto, "Kenapa mereka memanggilmu begitu?", tanya Yamada.

"Entahlah" Yuto mengangkat bahunya. "Atau lebih baik kita tanyakan saja ke Chii-chan langsung?"

"Ide bagus" Keito mengeluarkan hp dari sakunya dan menghubungi Chinen.

---***---

"Hei Geek, mau kau apakan dia?"

Geek tidak mempedulikan Scope. Dia tampak sibuk mengamati tubuh Takaki dari bawah hingga atas. Sesekali dia meminta Rapid untuk memegang Takaki dan setelah itu gantian Rapid yang diperiksa oleh Geek. Terus begitu sampai berulang-ulang.

"Ini misteri. Kurasa ada sesuatu di antara kalian berdua" gumam Geek.

"Apa ini ada kaitannya dengan sosok mereka yang mirip?", tanya Shinobi.

"Kurasa begitu. Saat aku menyentuhnya, tidak ada reaksi apapun" jawab Geek.

"Bicara soal sosok yang mirip" Rapid menunjuk ke arah Scope. "Aku bertemu dengan orang yang mirip dirimu"

"Eh? Kapan?", tanya Falcon Jr.

"Kau ingat saat aku jatuh dan bertabrakan dengan seseorang? Nah, orang yang kutabrak itu mirip sekali dengan Scope"

"Aku tidak memperhatikannya" guman Falcon Jr.

"Ah, ngomong-ngomong aku juga bertemu dengan sosok yang mirip denganku dan Commander" seru Shinobi tiba-tiba. "Tapi awalnya kukira itu cuma perasaanku saja"

"Kapan kau melihatnya? Dimana?", tanya Sonic Hunter.

"Eee... Dimana ya? Aku lupa"

Geek menghela nafas. "Yang penting sekarang kita tahu kalau ada sosok yang mirip dengan kita di dunia ini"

"Apa kau pikir ada orang yang mirip dengan diriku juga di dunia ini?", tanya Falcon Jr.

"Ya. Buktinya kita tahu kalau ada orang yang mirip dengan Rapid Fire, Scope, Shinobi, dan Commander"

"Bicara soal Commander", Falcon Jr menyadari sesuatu. "Kenapa dia tidak kemari?"

"Doctor dan Bullet juga" timpal Scope.

"Aku akan mencoba menghubungi mereka" ucap Geek sambil mengeluarkan alat komunikasi mereka.

---***---

"Uwah... Rasanya aneh" gumam Hikaru.

"Benar. Aku tidak menyangka ada 2 sosok Chinen di rumahku" tambah Yabu.

Ketika Doctor dan Chinen akan protes, tiba-tiba terdengar bunyi nyaring yang berasal dari saku mereka. Chinen mengeluarkan hpnya, sedangkan Doctor mengeluarkan sesuatu yang seperti headset.

"Halo?", ucap keduanya kompak. Entah kenapa Hikaru ingin tertawa saat melihatnya. Yabu menyenggol lengan Hikaru untuk menyuruhnya diam.

"Ah, aku di rumah Yabu Ryosuke... Kau mau kemari?"

"Oh Geek? Akan kukirimkan koordinat tempatku berada sekarang"

---***---

Geek menatap layar monitornya. Setelah beberapa menit menunggu, sebuah pesan yang berisi angka masuk. Geek tersenyum. Itu adalah koordinat dimana Doctor dan yang lain sedang berada saat ini.

"Ayo pergi" Geek mengubah baju dirinya dan teman-temannya lalu berjalan di depan menuntun teman-temannya.

"Tunggu dulu!" Rapid Fire berseru sambil menunjuk ke arah Takaki. "Dia bagaimana?"

"Tinggal saja" ucap Sonic Hunter.

"Kau kejam sekali Sonic" komentar Falcon.

"Bawa saja dia" usul Geek. "Lagipula aku belum selesai menelitinya. Siapa tahu Doctor bisa membantuku menjelaskan soal itu"

"Siapa yang membawanya?", tanya Rapid Fire. Rapid tahu jawabannya ketika melihat semua temannya yang menatap ke arahnya.

"Falcon~~~" rayu Rapid. Dia melihat ke arah Falcon Jr dengan muka memelas. Dia tahu kalau Falcon adalah anak yang baik dan tidak tegaan.

"Hah~~ Baiklah"

Rapid tersenyum. Bersama dengan Falcon akhirnya mereka memapah Takaki.

---***---

Suasana rumah Yabu gaduh. Reaksi Yuto, Keito, dan Yamada saat melihat Doctor, Commander, dan Bullet sangat heboh. Keito bahkan terus bersembunyi di belakang Hikaru, seakan ketakutan. Yuto dan Bullet saling menunjuk satu sama lain, lalu entah kenapa mereka saling pandang tanpa bicara. Yamada terlihat syok saat melihat Commander yang terluka.

"Siapa lagi?" Yabu menggerutu saat ada kegaduhan di depan pintu rumahnya.

"Ah, mungkin itu teman-temanku" jawab Doctor.

"Teman-temanmu? Jangan bilang kalau---"

Ucapan Yabu terpotong. Dia terkejut saat melihat 6 orang anggota Sensations yang lain di depan pintu. Dia lebih terkejut saat melihat Scope. Scope juga memberikan reaksi yang sama.

6 orang anggota Sensations juga sama terkejutnya dengan Yabu. Mereka tidak menyangka kalau kembaran Scope benar-benar ada. Saat mereka masuk ke dalam, mereka kaget ketika bertemu dengan kembaran masing-masing. Sesaat rumah Yabu terasa sunyi karena masing-masing kaget dengan kembaran mereka. Tapi keheningan itu pecah saat Daiki sadar dengan Takaki yang sedang dipapah.

"Eh?? Takaki? Takaki kenapa?", seru Daiki sambil menghampiri Takaki yang dipapah oleh dirinya dan kembarannya. Anggota JUMP yang lain juga melihat ke arah Takaki.

"Dia pingsan saat bertemu kami tadi" jelas Falcon Jr. Mereka berdua merasa aneh saat berbicara. Seakan berbicara pada cermin.

"Commander!" Scope mendatangi Commander yang terluka parah. "Apa yang terjadi?"

"Dia terluka saat bertarung dengan Master B" jelas Bullet.

"Lalu lukanya bagaimana? Apakah sangat parah?" Scope bertanya lagi. Mukanya terlihat cemas.

"Aku sudah mengobatinya dengan obat yang kubawa. Biarkan dia beristirahat sebentar" jelas Doctor. Keenam anggota Sensations langsung menarik nafas lega.

"Lalu kalian darimana saja?", tanya Bullet.

"Kami bertemu dengan Master B tadi. Awalnya kami tidak berhasil melukainya, tapi Rapid---"

Ucapan Geek terpotong saat mendengar suara erangan seseorang. Takaki rupanya sudah sadar. Dia melihat ke sekeliling. Dia langsung pucat saat melihat teman-temannya dan anggota Sensations. Ketika dia melihat Rapid Fire, dia semakin pucat dan bersembunyi di balik Yabu.

"Kau kenapa sih Takaki?", tanya Yabu

"Kita semua akan mati"

"Rapid, apa yang kau lakukan?" Falcon Jr menuduh Rapid lagi.

"Aku tidak melakukan apapun. Dia sendiri yang ketakutan!" Rapid membantah.

"Apa sih maksudmu Takaki?", tanya Yabu.

"Kalian tidak tahu Doppelganger?" Semua menggeleng kecuali Keito. Dia tahu apa maksud Takaki.

"Aku tahu! Konon katanya kalau kita sampai bertemu dengan doppelganger kita, berarti kematian akan semakin dekat" jelas Keito. Takaki mengangguk setuju mendengar penjelasan Keito.

"Jadi itu sebabnya kau kelihatan ketakutan dari tadi" gumam Hikaru yang kini tahu alasan kenapa Keito terus bersembunyi di balik tubuhnya.

"Jadi... Kita semua akan mati??" Yuto mulai terlihat panik.

"Kalian... Itu kan hanya cerita dongeng saja" Yabu berusaha menenangkan teman-temannya.

"Tapi buktinya sekarang kita bisa bertemu doppelganger kita" Takaki melirik ke arah anggota Sensation. "Apalagi dia membawa senjata"

Semua orang menoleh ke arah Rapid. "Tunggu. Senjata itu kan kugunakan untuk melawan Master B" elak Rapid.

"Ah!!" Geek tiba-tiba berseru. "Bicara soal senjata.. Doctor!"

"Hm?"

"Kau harus melihatnya! Rapid, keluarkan senjatamu!"

Rapid mengeluarkan senjatanya sesuai dengan perintah Geek. Doctor tampak terkejut saat melihat senjata Rapid berubah.

"Kau memodifikasi ulang senjatamu?", tanya Doctor. Rapid Fire langsung menggeleng. Dia tahu kalau Doctor akan marah besar kalau seseorang mengubah desain senjata ciptaannya. Semua senjata milik anggota Sensation dibuat oleh Doctor langsung.

"Senjata ini berubah saat Rapid menyentuhnya" Geek menunjuk ke arah Takaki. "Tidak hanya berubah, kekuatan senjata ini juga naik 2x lipat. Rapid bahkan bisa melukai Master B yang sebelumnya tidak mempan dengan serangan kita"

"Hmm...." Doctor mengamati senjata Rapid Fire dengan seksama. Terlintas sebuah ide di kepalanya.

"Bullet coba kau memegangnya" Doctor menunjuk ke arah Yuto.

"Hah?!?!"

"Aku ingin tahu apakah reaksi ini juga dialami oleh yang lain atau hanya antara 2 orang itu saja"

Bullet mengangguk. Awalnya dia bingung tapi Yuto mengulurkan tangannya. Bullet tersenyum. Keduanya berjabat tangan.

"Kau tidak takut denganku?", tanya Bullet.

"Tidak. Kau bukan orang jahat kan? Tidak ada kembaranku yang jahat" jawab Yuto.

Saat keduanya berjabat tangan, Yuto bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya. Bullet juga bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir masuk ke tubuhnya. Ketika Bullet mencoba mengeluarkan senjatanya, senjatanya tiba-tiba berubah. Sama seperti yang dialami oleh Rapid Fire.

Yuto dan Bullet sama-sama terkejut. Bullet tampak kagum dengan bentuk senjata barunya. Sedangkan Doctor berdecak pelan ketika tahu senjata yang dibuatnya dengan susah payah itu bisa berubah sekejap hanya dengan jabatan tangan saja.

"Lihat kan?" Geek meminta keterangan dari Doctor. Doctor tidak menjawab. Dia hanya mengamati senjata Bullet dengan seksama. Anggota JUMP yang lain hanya bisa diam. Tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Jangan-jangan yang kubaca itu benar" guman Geek.

"Soal apa?", tanya Bullet.

"Kalau makhluk bumi memiliki energi yang jauh lebih besar daripada makhluk lainnya"

"Tentu saja" sebuah suara tiba-tiba menyahut pembicaraan Geek.

"Commander! Kau sudah sadar?" Doctor langsung memeriksa tubuh Commander. "Sepertinya lukamu telah membaik"

"Itu berkat obatmu. Terimakasih Doctor"

"Apa maksudmu tadi Commander?", tanya Geek tidak sabar.

"Apa kalian semua lupa? Yang mengalahkan si gurita kuning itu kan juga makhluk bumi sama seperti mereka" jelas Commander.

"Ah... Iya ya..." Semua mengangguk setuju kecuali JUMP. Mereka sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Commander.

"Anoo..." Yamada mulai membuka suara. Commander sedikit terkejut saat melihat Yamada, tapi dia berusaha tenang. "Kalian ini sebenarnya siapa? Darimana? Apa yang kalian lakukan disini?"

Commander melihat ke anggota Sensations yang lain. "Baiklah, aku akan menjelaskannya pada kalian"

---***---

"Kami bersembilan bukan berasal dari bumi. Kami berasal dari galaksi yang berbeda. Ah, sebelumnya kuperkenalkan dulu anggotaku. Ini Scope, Sonic Hunter, Geek, Rapid Fire, Falcon Jr, Doctor, Shinobi, Bullet, dan aku adalah komandan mereka, Commander" Commander menunjuk satu persatu anggotanya sambil menyebut nama mereka. "Kami bersembilan disebut Sensations. Kami datang ke bumi karena kami memiliki misi untuk menangkap salah satu buronan kami yang lolos, yaitu Master B"

"Sebenarnya ini bukan pertama kali kami datang ke bumi, sebelumnya kami pernah datang kemari untuk membunuh makhluk berbentuk gurita dan berwarna kuning. Makhluk bumi memanggilnya dengan sebutan 'Koro-sensei'. Tapi sayangnya dia terlalu kuat dan kami gagal. Dan yang berhasil mengalahkannya adalah anak manusia, muridnya sendiri"

"Master B adalah buronan berbahaya kedua setelah gurita kuning itu. Master B sangat berbahaya dan kami harus segera menangkapnya"

"Seberapa berbahayanya Master B itu?", tanya Yamada.

"Dia bisa memusnahkan dan menghancurkan planet kecil dalam waktu kurang dari sehari"

"Ah... Tsunami itu juga perbuatannya?", tanya Takaki sambil mengingat pertemuannya dengan master B.

"Benar" sahut Sonic Hunter. "Dan sekarang dia lolos"

"Kalau begitu kalian harus segera menangkapnya" seru Chinen. "Bisa berbahaya kalau dia dibiarkan begitu saja"

"Tenang. Dia terluka parah saat terkena serangan Rapid Fire tadi" sahut Geek. "Kurasa tidak secepat itu dia memulihkan dirinya"

"Dan lagi Commander butuh waktu untuk memulihkan dirinya sedikit lagi" timpal Doctor.

"Adakah yang bisa kami bantu?" Yamada menawarkan bantuan. Jiwa penolongnya bangkit.

"Terimakasih, tapi ini urusan kami. Kami tidak bisa membahayakan orang pribumi" tolak Doctor halus. "Eh, tapi mungkin aku akan meminta bantuan kalian. Kalian bersembilan. Bisakah kalian meminjamkan waktu kalian sebentar?"

---***---

"Benarkah cukup dengan ini?", tanya Yamada tidak yakin.

Doctor tersenyum. Dia meraih tangan Yamada dan meletakkannya di atas suatu bola kristal. "Letakkan tanganmu di atas sana"

Yamada menurut. Dia meletakkan tangannya. Seketika ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhnya. Sesuatu itu kemudian masuk ke dalam bola kristal itu dan bola kristal itu kemudian bercahaya.

"Terimakasih" ucap Doctor.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?", tanya Chinen penasaran.

"Oh.. Aku hanya meminta sedikit energi yang ada di dalam tubuh kalian. Seperti yang kalian tahu, energi kalian mempengaruhi senjata kami saat kalian menyentuh kami. Itu karena energi tubuh kalian mengalir masuk ke dalam tubuh kami dan membuat kami menjadi 2x lebih kuat"

"Eh?? Sekuat itukah? Aku bahkan tidak merasa lemas atau apapun saat menyentuhnya" sahut Yuto.

"Iya, sedikit energi dari kalian sudah cukup kok. Terimakasih"

"Kalian harus bisa mengalahkan Master B! Kami sudah memberikan energi kami untuk kalian" ujar Yamada.

Doctor tersenyum. "Tenang saja, aku tidak akan membuat energi kalian sia-sia"

---***---

"Aku mendapatkan sinyal Master B!"

Semua anggota Sensations langsung mendekat ke arah Shinobi. Mereka memperhatikan tanda lemah yang berkedip di layar Shinobi. Semua saling berpandangan lalu mengangguk. Tidak butuh lama, mereka langsung mempersiapkan diri untuk bertarung dengan Master B lagi.

"Kalian akan pergi sekarang?", tanya Yamada.

"Benar. Kami tidak boleh membuang waktu" jawab Commander.

"Semoga berhasil"

Commander mengangguk dan segera berlari keluar menyusul anggota Sensations lain yang sudah pergi terlebih dahulu. Sunyi mendadak menyerang rumah Yabu. Tidak ada yang bersuara selama beberapa saat setelah kepergian anggota Sensations.

"Yosh! Ayo kita pergi!" Daiki tiba-tiba memecah keheningan.

"Pergi? Kemana?", tanya member yang lain.

"Menyusul mereka. Memangnya kalian tidak mau melihat bagaimana mereka melawan musuhnya dengan energi dari kita?"

"Memangnya kau tahu dimana tempat tujuan mereka?", tanya Keito. Daiki menggeleng. "Lalu bagaimana kita bisa kesana?"

"Kalau sekarang masih sempat" sahut Chinen. "Yabu! Keluarkan mobilmu! Sebagian masuk ke mobil Yabu, sebagian masuk ke mobil Hikaru! Ayo lekas pergi sebelum kita ketinggalan jauh!"

---***---

"Ketemu kau Master B! Kali ini kami tidak akan membiarkanmu lolos!"

Seluruh anggota Sensations mengepung Master B dari segala arah. Tidak memberikan celah bagi Master B untuk meloloskan diri. Doctor tersenyum kecil saat melihat bekas kecil di tubuh Master B yang disebabkan oleh serangan Rapid tadi.

"Semuanya bersiap!", seru Commander. Seluruh anggota Sensations langsung berubah mengenakan kostum tempur mereka dan masing-masing sudah menggenggam senjata. "Serang!"

Seluruh anggota Sensations langsung berpencar ke posisi masing-masing. Rapid Fire dan Bullet yang pertama kali melancarkan serangan. Mereka menembak dengan bertubi-tubi. Master B berhasil menangkis semua serangan peluru dengan tangan kosongnya. Tapi Rapid Fire dan Bullet terus menembak Master B.

Scope yang mengambil posisi agak jauh, langsung membidik Master B. Selagi Master B sibuk menangkis peluru Bullet dan Rapid Fire, Scope membidik kepala Master B dan menarik pelatuknya. Pelurunya tepat mengenai kepala Master B, tapi kepalanya sama sekali tidak terluka. Scope menggeram marah saat Master B tertawa mengejek ke arahnya.

"Gawat! Peluruku habis!", seru Rapid Fire.

"Aku juga!", sahut Bullet.

"Bullet! Rapid! Minggir!"

Rapid Fire dan Bullet langsung lari menghindar. Tepat pada saat itu Sonic Hunter melempar bumerang miliknya. Master B membalikkan serangan bumerang dengan meniupnya sekuat tenaga. Falcon Jr juga bergabung bersama dengan Sonic Hunter. Dia melempar senjatanya yang berbentuk shuriken. Sayang, Master B berhasil menangkapnya sebelum mengenai tubuhnya dan mematahkan senjata Falcon dengan menggigitnya.

"Senjataku...", Falcon Jr hanya bisa meratapi nasib senjatanya yang telah hancur berkeping-keping.

Shinobi tidak tinggal diam, dia juga melemparkan senjatanya. Tapi sialnya dia kurang tepat memperkirakan letak jatuhnya sehingga senjata itu juga melukai dirinya.

"Aduh, duh, duh..." Shinobi memegangi kakinya sambil merintih kesakitan.

"Shinobi! Minggir!"

Commander langsung melompat dan menyerang Master B. Master B hampir saja tidak bisa menahan serangan Commander karena dia sempat lengah akibat menginjak senjata Shinobi.

"Aku pasti akan mengalahkanmu" geram Commander.

"Butuh 1000 tahun untuk bisa mengalahkanku!"

---***---

"Berhenti!!!!!"

Yabu otomatis menginjak rem karena teriakan Chinen. Hikaru yang mengemudi di belakang juga hampir saja menubruk mobil Yabu.

"Chii, kenapa berteriak tiba-tiba?", gerutu Yuto.

"Lihat! Itu mereka!"

Chinen menunjuk ke arah tanah kosong. Disana terdapat kilatan cahaya dan suara benda yang saling beradu. Yabu dan yang lain bisa melihat sosok Sensations beserta Master B.

Mereka semua keluar dari mobil untuk melihat lebih jelas. Hikaru sempat akan mengomel pada Chinen, tapi Daiki menghentikannya. Kini mereka bersembilan tampak asyik mengamati pertarungan antara Commander dengan Master B.

"Sepertinya Commander kelelahan?", tanya Hikaru.

"Sepertinya begitu" sahut Takaki.

"Apa mereka akan kalah?", gumam Keito.

"Tidak mungkin. Mereka pasti menang" jawab Yamada penuh keyakinan.

"Benar. Kita harus menyemangati mereka" Inoo menarik nafas dalam-dalam. "Ayo semangat Sensations!!! Kalian pasti bisa!!!", teriak Inoo sekuat tenaga.

Semua member lain langsung menjitak kepala Inoo bergantian. "Baka!!!!"

---***---

Geek menoleh saat mendengar suara Inoo. Doctor yang berdiri di sebelahnya meringis menahan tawa.

"Dia benar-benar mirip denganmu"

"Baka. Aku jauh lebih cantik darinya" jawab Geek penuh keyakinan.

Doctor hanya menggelengkan kepalanya. Dia melihat ke arah Commander yang mulai kelelahan. Doctor menggenggam erat alat di tangannya. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Sudah waktunya. Geek!"

Geek mengangguk. Mereka berdua lalu berlari menuju teman-temannya. Geek dan Doctor saling pandang. Mereka menyatukan alat yang ada di tangan mereka. Seketika itu juga baju tempur mereka berubah. Dari yang semula berwarna hitam magenta menjadi putih biru. Anggota Sensations bisa merasakan energi berlimpah yang keluar dari tubuh mereka.

"Energi ini...", gumam Rapid.

"Ini energi dari kembaran kita yang ada di bumi ini. Seperti yang kalian rasakan sekarang, energi mereka sangat besar. Aku tadi meminta energi mereka dan menaruhnya di dalam alatku dan Geek. Kami berdua memodifikasi energi itu supaya bisa menjadi senjata tempur kita" jelas Doctor.

"Lalu? Apa yang kita lakukan dengan energi ini?", tanya Shinobi.

"Arahkan tangan kalian ke Master B!"

Seluruh anggota Sensations mengarahkan tangannya ke Master B. Seketika seakan ada aliran listrik yang keluar. Listrik itu bukan listrik biasa. Listrik itu bisa melukai Master B dan melumpuhkannya. Master B menjerit dan mengerang kesakitan, beberapa menit kemudian dia berhasil lumpuh dan tidak sadarkan diri.

"Kita berhasil!!!!" Semua anggota Sensations bersorak gembira. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan target buruan mereka.

"Belum selesai" Doctor mengeluarkan sebuah senapan jala dan menembakkannya ke Master B. "Aku tidak mau kita kehilangan dia lagi"

Shinobi langsung mengikat Master B yang terlilit dalam jala. Doctor memanggil pesawat mereka dengan alat pengendali pesawat. Mereka harus bergegas pulang untuk memenjarakan Master B dan melapor pada atasan mereka.

"Tunggu sebentar" perintah Commander

Semua anggota Sensations menoleh. Mereka melihat anggota JUMP yang berlari ke arah mereka.

"Kita harus berterimakasih pada mereka" ujar Commander. Semua anggota Sensations mengangguk setuju.

"Kalian akan segera pergi??", tanya Yamada sambil mengatur nafasnya.

"Kami harus segera membawa Master B kembali sebelum dia sadar", jelas Commander.

"Eh??? Kalian tidak main dulu disini???", kali ini giliran Chinen yang berbicara.

"Tidak. Kalau kami semakin lama disini, aku takut dia akan mati beneran karena terus takut aku akan membunuhnya" sahut Rapid sambil menunjuk ke arah Takaki. Takaki hanya bisa tersipu malu dan member lain tertawa melihat aksinya.

"Terima kasih. Berkat bantuan kalian, kami bisa mengalahkannya" Doctor mengulurkan tangannya ke arah Yamada. "Terima kasih banyak"

"Sama-sama. Terima kasih sudah menyelamatkan bumi ini" balas Yamada.

"Kami pergi dulu. Senang bisa berjumpa dengan kalian"

Commander melambaikan tangannya dan melangkah masuk ke dalam pesawat diikuti oleh member lainnya. Sesaat sebelum pintu pesawat menutup, seluruh anggota Senations berdiri disana, "Arigatou!!!", seru mereka.

Anggota JUMP terus melambaikan tangan mereka sampai pintu pesawat menutup. Perlahan pesawat mulai lepas landas meninggalkan daratan. Sesaat sebelum pesawat pergi, Yamada bisa melihat Commander melambaikan tangannya dari jendela pesawat. Setelah itu, pesawat menghilang dari hadapan mereka dengan secepat kilat.

"Sayounara... Sensations"

EPILOGUE

Yamada dan yang lain segera kembali menuju ke rumah Yabu. Sepanjang perjalanan mereka terus bercerita mengenai pertemuan mereka dengan anggota Sensations. Hari itu memang tidak mudah dilupakan oleh mereka. Jarang-jarang kan bertemu dengan  kembaran diri sendiri?   

Mobil berhenti di lampu merah. Yamada sesekali melihat ke luar jendela. Begitu banyaknya orang yang berlalu lalang. Suasana tetap sama meskipun beberapa jam sebelumnya orang-orang itu tidak tahu bahaya yang akan mengancam mereka.

"Eh???"

Mata Yamada membesar saat seseorang lewat di depannya. Yamada terus memperhatikan orang itu. Yamada menahan nafasnya saat orang itu juga melihat ke arahnya. Orang itu melihat ke arah Yamada dengan muka yang sama terkejutnya.

"Kenapa Ryosuke? Mukamu seperti baru saja melihat hantu"

"Tidak. Bukan apa-apa. Mungkin aku salah lihat"

Yabu segera melajukan mobilnya ketika lampu berubah menjadi hijau. Yamada menoleh sekali lagi dan orang itu sudah tidak ada disana.

"Sudah kuduga, itu cuma perasaanku saja"

---***---

"Nagisaa~~~ kau kenapa bengong?"

"Karma kun, kau melihat orang yang ada di mobil tadi?"

"Tidak. Memangnya kenapa???"

"Bukan apa-apa. Ayo kita segera pergi. Isogai sudah menunggu kita"

END

Jumat, 22 April 2016

2nd Anniversary

Memperingati 2 tahun jump da baby.

Ff ini terinspirasi dari jumpaper daichan 2 tahun yg lalu. Dan sebagian cerita di ff ini benar, sebagian enggak.

~

Daiki melangkahkan kakinya menuju kantor Bay FM. Hari ini, dia berencana bertemu dengan Takaki disana. Hari Jumat kemari dia sudah mengajak Takaki untuk datang. Hari ini, tanggal 4, adalah hari yang berarti bagi mereka berdua. Hari dimana sudah 2 tahun impian mereka berjalan.

Daiki masuk ke dalam. Dia sudah memberitahu staff disana tentang apa yang akan dia lakukan hari ini. Dan beberapa staff mengijinkan. Daiki sangat berterimakasih karena semua staff disana baik dan bisa diajak kerjasama.

Daiki masuk ke ruangan dimana dia biasa melakukan siaran tengah malam. Di ruangan inilah mereka berdua bersama selama 30 menit. Menghibur pendengar dan sesekali bercanda tawa. Disinilah keduanya bisa bertemu seminggu sekali. Jika keduanya sibuk dan tidak bisa bertemu di hari biasa, maka mereka akan bertemu disini.

Daiki duduk di bangku yang biasa dia duduki. Disana, dia menatap bangku kosong yang ada di depannya. Tempat dimana rekannya biasa duduk. Seseorang yang sudah lama dikenalnya. Hampir 12 tahun mereka saling mengenal dan sejak saat itu hubungan mereka tetap baik.

---***---

9 tahun yang lalu...

"Sedang apa Takaki?"

Takaki melepas headsetnya. "Mendengarkan radio"

"Owah.. Radio apa?"

"Kau mau dengar?", Takaki menyerahkan salah satu headsetnya. Daiki segera mengenakannya. "Bagaimana? Seru kan?"

"Hu um" Daiki mengangguk setuju. "Acaranya menarik. Aku ingin menjasi penyiar seperti dia"

"Kita sama!", seru Takaki. "Aku juga berpikiran, 'aku ingin memiliki acara radio seperti ini'"

"Kurasa seru kalau kita memiliki acara radio sendiri"

"Kita? Kau dan aku?"

"Kenapa? Kau tidak mau siaran denganku?" Daiki memasang muka kecewa.

Takaki menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Itu ide yang bagus. Kita berdua pasti bisa memiliki acara radio sendiri. Ayo berdoa semoga keinginan itu terkabul"

"Hu um", jawab Daiki dengan semangat.

---***---

Daiki tidak menyangka, impian mereka berdua 9 tahun lalu itu terkabul. Dia sama sekali tidak mengira kalau semuanya bisa berjalan sesuai keinginannya. 9 tahun lalu, saat itu mereka masih di Hey! Say! 7, lalu di Hey! Say! JUMP. Daiki juga tidak mengira kalau mereka masih berada di grup yang sama hingga saat ini.

Daiki merasa lega. Untunglah Takaki tidak jadi keluar saat itu. Untunglah Yabu dan Hikaru berhasil mencegah Takaki agar tidak keluar dari JUMP. Daiki juga lega saat itu dia bisa mengajak Takaki dan anggota BEST lainnya untuk berkumpul dan merayakan ultah Takaki saat itu.

"Kalau Takaki keluar, impian kami saat itu pasti tidak akan terwujud. Aku tidak akan bisa memiliki acara radio ini", gumam Daiki.

"Daiki? Kau disini?"

Takaki masuk ke dalam. Daiki menyambutnya dengan gembira. Meskipun dia sedikit menggerutu karena Takaki telat beberapa menit.

"Kau lama!"

Takaki mengatupkan kedua tangannya. "Gomen... Aku tadi membeli ini"

Takaki menyerahkan kotak kecil yang dia bawa. Daiki menatap kotak itu dengan penasaran.

"Bukalah", perintah Takaki setelah dia bisa membaca isi pikiran Daiki.

Daiki membuka kotak kue itu. Dia terkejut ketika melihat isinya. Sebuah kue tar mini. Daiki terharu saat membaca tulisan di atas kue.

'Selamat 2 tahun BayJump!'

"Kau ingat?", tanya Daiki. Yuya mengangguk. "Kupikir kau melupakannya"

"Bagaimana aku bisa lupa? 4 April adalah tanggal pertama kita siaran disini kan? Tahun kemarin kita tidak merayakannya, jadi kupikir sekarang kita rayakan saja" Takaki tersenyum dan menatap Daiki. "Happy Annivesary, Daiki"

END

Kamis, 21 April 2016

DIRIKU YANG LAIN

Cast : Hey! Say! JUMP x Sensations
Genre : Fantasy
Type : Series
Rate : PG 13

~

Tahukah kalian jika setidaknya ada 7 orang yang memiliki wajah sama di dunia ini? Mereka bukan orang kembar, tapi orang yang memiliki wajah yang sama. Itulah hal yang disebut doppelganger. Dan rumor yang beredar mengatakan kalau kalian bertemu dengan doppelganger kalian, maka saat itu kalian akan mati. Rumor lain mengatakan kalau kalian akan menyatu dengan kembaran kalian dan hidup sebagai orang yang baru. Mana yang benar? Tidak ada yang tahu. Karena tidak ada orang yang bisa mengatakan kebenarannya.

Dimana doppelganger kita? Tidak ada yang tahu. Bisa saja dia ada di kota yang sama, negara yang sama, atau mungkin berada di planet lain. Bagaimana reaksi mereka saat bertemu doppelganger mereka yang berasal dari planet lain?

---***---

Di sebuah planet. Well... Mungkin ini bukan planet. Lebih tepat kalau dibilang sekumpulan batu luar angkasa yang mengorbit di tempat yang sama. Kumpulan batu ini saling menempel satu sama lain sehingga bila dilihat dari jauh terlihat seperti sebuah planet kecil.

Disana, terlihat banyak pesawat luar angkasa saling mondar mandir mengelilingi planet tersebut. Masing-masing pesawat berisi 9-10 orang. Sebuah pesawat tampak sudah siap lepas landas dari anjungannya.

"Commander", ucap seseorang dari sebuah monitor besar. Tampaknya dia sedang berbicara dengan pemuda tampan yang sedang melihatnya melalui sebuah monitor. "Aku punya misi untukmu. Kumpulkan semua anggota dan pergilah ke bumi. Master B telah lolos dan kini bersembunyi di bumi. Aku ingin kalian semua menangkap master B"

"Baiklah"

---***---

Di luar angkasa, di sebuah tata surya yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari bumi, sebuah pesawat luar angkasa berisi 9 orang berseragam sama dari planet sensation, sedang menuju ke bumi. Mereka memiliki misi untuk membawa kembali seorang tahanan yang cukup berbahaya dan dapat merusak ekosistem sebuah planet.

"Commander, kita akan pergi kemana?", tanya anggota berbadan paling tinggi.

"Bumi. Master B berhasil melarikan diri dan bersembunyi di bumi", jawab orang yang dipanggil commander.

"Geek, kau tahu arah tujuan kita kan?", tanya pemuda paling pendek di pesawat itu.

"Tidak ada yang tidak kuketahui. Aku sudah menyerahkan lokasi bumi kepada Scope. Semoga dia berhasil membawa kita kesana"

---***---

Sementara itu, di bumi, di Jepang

"Yappari! Keito!"

Pemuda bernama Keito itu kaget saat namanya disebut. Dia tidak menyangka ada orang yang mengenalinya di kafe yang cukup sepi ini. Dia sengaja memilih tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Jika ada yang tahu itu dia, kenyamanannya akan terganggu. Apalagi jika itu seorang fans.

"Yama-chan..." Keito menghela nafas lega ketika melihat wajah orang yang dikenalnya. Beruntunglah dia itu bukan salah satu fansnya. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?"

"Berkat ini" Yamada menunjukkan hpnya. Di layar tertera sistem gps dan Keito tahu titik merah di gps itu adalah dirinya, karena titik itu menunjukkan nama tempat dia berada. "Aku tadi sedang berjalan berdua dengan Takaki, lalu aku segera kemari ketika tahu kau ada disini"

"Lalu? Takaki dimana sekarang?"

"Pulang" Yamada menarik sebuah kursi dan mendudukinya. "Aku masih ingin bersantai diluar, jadi kuputuskan untuk bergabung denganmu. Kau keberatan?"

"Tidak. Aku senang kau menemaniku"

---***---

Tidak lama, pesawat yang berisi anggota sensation tiba di bumi dan mendarat dengan sempurna di pinggir negara Jepang. Mereka menyamarkan pesawat mereka sehingga tidak tampak secara kasat mata. Pintu pesawat itu terbuka.

"Inikah bumi?", tanya Geek yang turun lebih dulu dari pesawat. "Tempat yang sangat berbeda dengan planet kita"

"Tempat yang indah", gumam Rapid Fire.

"Kita harus segera menemukan Master B sebelum dia merusak planet ini" gumam Commander. "Geek, dimana master B sekarang?"

Geek mengeluarkan monitor kecilnya. "Aku kehilangan jejaknya. Aku tahu dia mendarat disini berkat sistem gps pesawat yang digunakannya untuk kabur. Tapi setelah itu aku kehilangan jejaknya. Sepertinya dia sudah berpindah dari tempatnya semula. Tapi kurasa dia masih belum jauh dari sini"

"Yosh! Ayo segera kita kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!", ucap Sonic Hunter dengan semangat. Dia mengecek senjatanya sebelum pergi.

"Tunggu!", seru Shinobi. "Kalian yakin akan pergi dengan baju seperti itu?"

Anggota sensation yang lain saling memandangi seragam mereka yang berwarna hitam magenta. Kostum mereka sangat mencolok.

"Apa yang salah Shinobi?", tanya Bullet.

"Kalian tadi tidak melihat pakaian yg digunakan orang sini? Kita akan menarik perhatian kalau menggunakan pakaian ini. Lebih baik kita berganti pakaian, master B juga tidak mudah menyadari kehadiran kita"

"Tapi.. Bagaimana kita bisa mendapatkan pakaian orang sini?", tanya Falcon Jr.

"Tidak masalah", Doctor mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah pistol. Dia lalu menembakkan satu persatu ke arah anggota lain. Kostum hitam magenta itu kini berubah menjadi baju biasa.

"Kau jenius Doctor!", puji Falcon Jr.

"Baiklah. Kita akan berpencar menjadi 3 tim. Siapa yang menemukan master B lebih dulu, harap segera memberitahu yang lain", perintah Commander.

"Siap!"

---***---

Di tengah hiruk pikuknya kota. Ada 3 orang dari luar galaksi sedang berjalan di tengah kerumunan.

"Uwah... Padat sekali penduduknya", ucap Scope yang berkali-kali berhenti melihat toko atau layar iklan yang sedang diputar disana. Tingkahnya seperti orang kampung yang baru pertama kali pergi ke kota besar.

"Scope... Jangan diam disitu. Ayo kita cari master B"

"Sonic Hunter tidak asyik ah..."

Scope langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam dari Sonic Hunter. Dia kemudian mengikuti Sonic Hunter tanpa berkomentar lebih jauh. Sonic Hunter lebih muda darinya tapi dia lebih disiplin.

"Shinobi? Sedang apa?", tanya Scope yang sadar kalau Shinobi sedang mengamati sesuatu.

Shinobi menggelengkan kepalanya "Tidak ada apa-apa"

'Itu cuma perasaanku saja, mungkin aku salah lihat. Masa aku melihat diriku dan Commander sedang duduk santai disana'

---***---

"Yabu!!! Coba lihat itu!!"

Chinen langsung berlari meninggalkan Yabu yang menemaninya. Chinen dengan semangat menuju ke sebuah toko kue.

"Dasar anak muda"

Yabu mempercepat langkahnya. Dia ingin segera menyusul. Tapi rupanya dia tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya sehingga dia menyenggol seseorang.

"Ah... Maaf"

"Aku juga minta maaf"

Dua orang yang sedang bertabrakan itu saling meminta maaf. Keduanya tampak terkejut ketika melihat wajah orang yang menabraknya. Mereka berdua membuka mulutnya, seakan ingin mengatakan sesuatu.

"Yabu! Sedang apa? Ayo cepat!", teriak Chinen yang sedang menunggu.

"Rapid fire! Kau ini... Makanya jalan lihat ke depan", Falcon Jr segera menarik Rapid Fire tanpa melihat ke arah Yabu.

"Takaki?", gumam Yabu sambil masih melihat ke arah Rapid Fire yang berjalan menjauh.

"Tadi itu.. Scope? Bukan. Itu bukan dia. Auranya lain. Tapi kenapa wajahnya sama?", gumam Rapid Fire.

---***---

"Bullet? Dimana dia?"

Commander dan Doctor terpisah dari Bullet di tengah kerumunan orang banyak. Karena tubuh kecil mereka, mereka bisa melewati orang dengan mudah, berbeda dengan Bullet yang memiliki tubuh tinggi.

"Ah itu dia!", Doctor menunjuk ke arah sosok yang mirip Bullet. Dia segera menghampiri orang itu.

"Bullet! Kau ini... Kenapa meninggalkan kami??"

"Ara? Yama-chan? Chii? Sedang apa kalian disini?"

"Bullet... Siapa Yama-chan dan Chii?", tanya Doctor bingung.

"Kenapa kalian memanggilku Bullet? Itu nickname baruku?"

"Doctor, dia bukan Bullet yang kita kenal", bisik Commander yang menyadari keanehan itu.

"Ah, aku harus pergi! Sampai ketemu lagi ya!"

Doctor dan Commander menatap bingung ke arah sosok yang mirip Bullet itu.

"Ternyata kalian ada disini. Kucari dari tadi"

"Bullet?", tanya Commander

"Iya? Ada apa?"

"Kau Bullet yang asli?", tambah Doctor

"Memangnya ada Bullet yang lain?", tanya Bullet heran.

"Kalau begitu, yang tadi ada disini itu siapa?", tanya Doctor bingung.

---***---

Seorang bertubuh besar sedang berdiri di puncak Tokyo Tower. Dia melihat ke sekeliling kota dari atas sana.

"Tempat ini sangat indah. Membuatku gatal ingin merusaknya! Akan kubuat planet ini menjadi rata! Ahahahaha....!!!!"
---***---

"Aku mendapatkan reaksi!", seru Shinobi sambil melihat monitor kecil miliknya. Scope dan Sonic Hunter langsung mendekatinya dan ikut mengamati layar tersebut.

"5km, itu tidak terlalu jauh dari sini. Ayo kita segera kesana!", seru Scope sambil berlari terlebih dahulu. Sonic Hunter berlari di belakangnya. Mereka dengan semangat pergi ke tempat dimana Master B berada.

"Tunggu dulu.. Kita harus memberitahu yang lain juga!", seru Shinobi. Tapi sayangnya seruannya tidak didengar oleh dua orang itu. Shinobi hanya bisa menghela nafas dan mengetikkan sesuatu di layar monitor miliknya untuk memberitahu rekannya yg lain.

---***---

"Hmm... B-cup, yang itu C-cup"

"Ah.. Cewek itu ingin bertemu dengan temannya. Uwah... Temannya cantik juga"

Falcon junior menghela nafas melihat dua rekannya yang terkenal mesum itu. Geek memiliki kemampuan untuk melihat ingatan seseorang, sehingga dia bisa tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain. Pada tahap tertentu, dia juga bisa mengendalikannya, tapi kemampuan itu hanya berlaku pada perempuan saja. Entah itu karena perempuan yang terlalu lemah atau Geek yang terlalu menyukai perempuan.

Berbeda dengan Geek, kemampuan Rapid Fire adalah menembakkan senjata dengan cepat. Dia memiliki refleks yang bagus. Sesuai namanya, Rapid Fire. Akan tetapi, dia memiliki kemampuan tidak penting lainnya, mengetahui ukuran tubuh seorang perempuan. Falcon Jr mengira kalau kemampuannya yang tidak penting itu berhubungan dengan kebiasaannya yang selalu bergaul dengan perempuan.

"Ah!", seru Daiki saat mendengar bunyi sinyal dari headset miliknya. Rapid Fire dan Geek juga mendapat sinyal yang sama. Sinyal yang berasal dari salah seorang di antara mereka. Sinyal yang menunjukkan kalau ada yang sudah menemukan master B.

"Ayo pergi"

---***---

"Disini?", tanya Bullet sambil melihat ke sekelilingnya. Tanah lapang yang luas dan sungai yang ada di pinggirnya. Tempat ini yang ditunjukkan oleh Shinobi.

"Menurut petunjuk Shinobi disini tempatnya. Dan sistem pelacak juga mengatakan kalau master B ada di sekitar sini", jawab Doctor.

"Jangan lengah"

Commander memasang sikap waspada. Tangannya menggenggam erat pedang yang ada di tangannya. Begitu pula dengan Doctor dan Bullet. Mereka menggenggam erat senjata masing-masing.

"Huahahahaha!!!! Tidak kusangka bisa bertemu dengan Sensation disini!"

Ketiga orang itu menoleh. Master B berdiri disana. Mereka langsung mengarahkan senjata mereka ke arah Master B. Pakaian mereka pun kembali seperti semula. Seragam berwarna hitam magenta. Seragam itu memang baju yang digunakan untuk bertempur.

"Akan kami tangkap kau Master B!"

"Cobalah kalau kalian bisa!", tantang Master B.

---***---

"Daichan! Coba lihat itu!"

Daiki langsung mendekati Inoo dan melihat ke arah yang ditunjuknya. Dia bisa melihat 3 orang berkostum aneh dan seorang laki-laki bertubuh besar yang sedang bertarung.

"Perkelahian? Haruskah kita lapor polisi?"

"Baka! Apa kau tidak melihatnya dengan jelas?" Inoo menepuk kepala Daiki karena kesal. "Coba lihat 3 orang itu. Bukankah mereka mirip Yamada, Chinen, dan Yuto?"

Daiki memicingkan matanya. Dia berusaha melihat dengan baik wajah ketiga orang itu. Matanya terbuka lebar ketika mengenali wajah ketiga orang itu. "Are? Bukankah itu Yamada, Chinen dan Yuto?"

Akibat suara Daiki yang cukup keras, membuat Doctor menoleh ke arah mereka. Mata mereka bertemu.

"Geek! Falcon! Kenapa kalian diam saja disana? Ayo bantu kami!"

"Hah?", seru Inoo dan Daiki bersamaan.

"Geek?"

"Falcon?"

"Apa-apaan itu? Chii! Kenapa ini? Apa yang terjadi?", tanya Inoo setengah berteriak.

Doctor menghentikan serangannya untuk sementara. Di melihat ke arah Inoo dan Daiki. Dia teringat ketika dia memanggil seseorang yang dikiranya 'Bullet', orang itu juga memanggilnya dengan sebutan 'Chii'.

"Jangan bilang kalau mereka itu..."

"Doctor! Kau sedang apa? Fokuskan dirimu!", seru Bullet sambil terus melancarkan pelurunya ke arah Master B. Belum ada satupun peluru yang berhasil melukai Master B. Tubuh Master B memang keras seperti baja.

Doctor memutuskan untuk kembali memfokuskan dirinya dan melupakan soal Inoo dan Daiki untuk sementara waktu. Memang aneh. Tapi menangkap Master B adalah tujuan utama.

"Dia kenapa sih?", gerutu Inoo. "Apa yang terjadi disini? Mereka bertarung satu sama lain. Orang besar itu siapa? Lalu kenapa Yuto memiliki senjata seperti pistol yang sering kulihat di video games? Yamada juga memegang pedang bersinar seperti yang ada di Star Wars"

"Apa mungkin mereka sedang syuting film?", celetuk Daiki.

"Baka! Tidak ada satupun kru film disini" Inoo kembali memukul kepala Daiki. "Kenapa baka-nya si Bakaki menular padamu?"

"Lalu.. Apa yang sedang mereka lakukan?"

"Tidak tahu"

Daiki dan Inoo saling berpandangan. Masing-masing tidak punya ide apa yang sedang terjadi.

"Commander!"

Daiki dan Inoo langsung menoleh ketika mendengar seruan Doctor. Sosok yang mirip dengan Yamada itu tergeletak di tanah. Sepertinya dia terluka. Orang besar yang bertarung dengan mereka bertiga mendadak hilang. Sepertinya dia pergi entah kemana.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat kejar Master B!"

"Lalu meninggalkanmu sendirian? Tidak! Kita harus merawat lukamu. Kau lebih penting daripada Master B", seru Bullet.

"Lalu, bagaimana ini?", ucap Doctor sambil melihat luka di perut Commander. Master B tadi berhasil mengelak serangan pedang Commander dan membuat pedangnya berbalik arah menusuknya.

"Aku akan menghubungi yang lain. Kita juga harus menemukan tempat untuk merawat luka Commander"

"Anoo..."

Doctor dan Bullet menoleh. Bullet tampak terkejut ketika melihat Inoo dan Daiki yang mirip sekali dengan Geek dan Falcon Jr. Berbeda dengan Doctor. Karena tadi dia sudah bertemu dengan kembarannya Bullet di bumi ini, dia tidak kaget kalau menemukan orang yang persis dengan temannya atau bahkan mungkin dirinya.

"Geek? Falcon? Kalian dari tadi ada disini?", tanya Bullet yang masih belum mengetahui kalau dua sosok yang ada di depannya ini bukan sosok yang dikenalnya.

"Geek? Falcon? Siapa itu?", tanya Inoo. "Kau Yuto kan?"

"Yuto? Yuto siapa? Namaku Bullet"

"Bullet, mereka bukan Geek dan Falcon Jr yang kau kenal" potong Doctor. "Perkenalkan, namaku Doctor, dia Bullet, dan ini Commander. Kami berasal dari planet lain dan kami sama sekali tidak sama dengan teman kalian"

Daiki dan Inoo saling berpandangan. Mereka berdua terkejut sekaligus heran dengan orang yang ada di hadapan mereka itu. Wajah dan suaranya memang mirip dengan Chinen, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda.

"Commander!", Bullet tampak mengguncang tubuh Commander. Dia juga sibuk menutup luka yang ada di tubuh Commander agar darahnya tidak terus mengalir keluar.

"Lebih baik bawa dia ke Rumah Sakit" saran Daiki.

"Jangan!" Inoo berseru. Daiki melihat ke arah Inoo dengan heran. "Tidakkah kau lihat kalau mereka sangat mirip dengan teman kita? Jika kita membawanya ke RS, media akan mengira Yama-chanlah yang terluka. Dan suasana akan menjadi gempar. Tidak hanya kita yang akan kerepotan, tapi mereka juga"

"Lalu apa yang akan kita lakukan? Tidak mungkin kita membiarkannya begitu saja" ucap Daiki yang tidak tega melihat kondisi Commander.

"Kita bawa dia ke salah satu rumah teman kita" Inoo tersenyum. "Aku tahu siapa orang yang tepat"

---***---

Seorang pemuda tampak asyik menikmati pemandangan di pantai. Dia memang sangat suka laut. Jika ada waktu senggang, dia pasti akan ke laut dan menikmati keindahannya. Bagi dia, pergi ke laut lebih menyenangkan daripada tawaran Yamada untuk pergi ke tempat Keito.

"Hmm? Orang itu sedang apa?"

Di pinggir pantai ada orang yang tampaknya sedang melakukan sesuatu. Orang itu berbadan sangat besar dengan pakaian yang aneh, jelas saja menarik perhatian. Tidak lama, air laut mendadak surut dengan cepat. Dan pemuda itu bisa melihat jelas gulungan air laut yang meninggi di kejauhan.

"Yabai! Tsunami!"

Pemuda itu panik. Dia segera berdiri untuk kabur. Tapi ketika dia membalikkan badannya, dia dikejutkan dengan kedatangan tiga orang berbaju mencolok yang mirip dengan temannya.

"Itu master B! Kita menemukannya shinobi!", seru orang yang mirip dengan Yabu.

"Rapid!" Kali ini giliran orang yang mirip dengan Hikaru berseru sambil berjalan ke arahnya. "Kalau kau ada disini, kenapa kau tidak mencegah master B!"

"Hah???" Pemuda itu melongo keheranan.

"Kok malah 'hah?' sih" orang itu berbicara lagi. "Cepat berubah dan keluarkan senjatamu!"

"Eh? Tunggu dulu. Berubah? Senjata? Apa maksudmu Hikaru?"

"Hikaru? Siapa? Aku ini Sonic Hunter. Kalau kau ingin bercanda, ini bukan waktu yang tepat Rapid..."

"Rapid itu siapa? Aku ini Takaki Yuya!"

Shinobi yang merasa ada yang janggal segera melerai Sonic Hunter dan Takaki Yuya. Dugaannya tidak salah. Dia yakin pemuda bernama Takaki Yuya itu hanyalah orang yang mirip dengan Rapid Fire. Berarti sosok yang mirip dengannya dan Commander tadi juga bukan karena penglihatannya yang salah. Memang ada sosok yang mirip dengan mereka.

"Sonic Hunter, lebih baik kita fokus ke master B. Lihat, dia akan membuat tsunami. Jika itu terjadi, akan banyak korban jiwa disini"

Sonic Hunter menatap Shinobi lalu melihat ke arah master B. Scope sudah terlebih dahulu menyerang master B, tapi tembakannya tidak mempan. Sonic Hunter lalu memutuskan untuk menghiraukan Takaki dan membantu Scope. Shinobi juga ikut bersamanya. Shinobi dan Sonic Hunter melemparkan senjata mereka secara bersamaan. Tapi master B tampaknya tidak terlalu terluka karena serangan mereka.

Takaki melihat pertarungan itu dengan mulut terbuka. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Siapa orang-orang itu? Kenapa wajah dan suara mereka mirip dengan orang yang dia kenal? Terlebih lagi, kenapa mereka bertarung dengan orang besar itu? SiapĂ  orang yang dipanggil master B itu? Apa yang sebenarnya terjadi?

Takaki menggarukkan kepalanya tidak mengerti. Dia merasa pusing karena terlalu keras berpikir. Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba muncul tiga orang lagi yang memakai baju yang sama dengan orang-orang yang sedang bertarung itu. Takaki mengucek matanya saat melihat wajah salah satu dari tiga orang yang barusan datang itu mirip dengan dirinya.

"Eh?!?! Aku???"

Mereka berdua saling menunjuk satu sama lain. Spontan teriakan mereka berdua menghentikan langkah 2 orang yang lain. Mata Takaki terbuka lebar lagi saat melihat dua orang yang mirip dengan Inoo dan Daiki.

"Aku akan mati!!!!" seru Takaki sebelum tidak sadarkan diri.

---***---

Yabu cuma memandangi kue yang ada di depannya. Sekali-kali dia menyentuhnya, tapi dia tidak memakannya. Dia berpikir terlalu serius sehingga tidak menghiraukan yang lain. Dia bahkan tidak mendengar bunyi hpnya yang terus berdering dari tadi.

"Yabu!" Chinen yang tidak sabaran akhirnya memukul kepala Yabu untuk menyadarkannya. Yabu melotot ke arahnya, tapi Chinen membalasnya dengan melotot juga. "Hpmu bunyi tuh! Cepat angkat! Risih aku mendengarnya"

Yabu mengambil hpnya. Nama Inoo muncul disana. Yabu mengernyit heran, Inoo sudah jarang meneleponnya lagi. "Halo?"

"Yabu! Yokatta... Kenapa lama sekali kau mengangkat teleponnya? Kau senggang kan? Aku akan ke rumahmu sekarang"

---***---

"Yosha! Sekarang kita bawa ke rumah Yabu!" Inoo berseru gembira sambil mengacungkan jempolnya.

"Kenapa harus ke rumah Yabu?", tanya Daiki.

"Karena dia orang yang terlintas di pikiranku tadi" jawab Inoo seadanya. "Lagian aku familiar dengan rumah Yabu sih"

"Terus bagaimana kita kesana? Kalau naik angkutan umum jelas menarik perhatian"

"Gampang.. Aku sudah mengirim pesan pada seseorang. Dia yang akan menjemput kita"

"Seseorang? Siapa?"

Tidak lama, terdengar suara mobil mendekat ke arah mereka. Inoo tersenyum saat melihat Hikaru keluar dari mobil. Dialah yang mengirim pesan ke Hikaru dan memintanya untuk membawa mobil.

"Eh??? Sonic Hunter???", seru Bullet.

"Bukan Bullet. Dia bukan Sonic Hunter teman kita, tapi teman mereka yang mirip dengan Sonic Hunter" jelas Doctor dengan tenang. Sesungguhnya dia juga terkejut melihat ada orang yang mirip dengan Sonic Hunter. Tapi dia berusaha tenang.

"Inoochan! Kenapa kau memintaku kemari? Eh? Ada Daichan juga. Lalu---" Hikaru menyadari keberadaan Doctor dkk. "Eh??? Yamada, Chinen, dan Yuto??" Inoo dan Daiki sudah menduga reaksi Hikaru yang itu. "Ada apa ini? Tunggu, kenapa dengan Yamada?"

"Hikaru. Mereka bertiga itu bukan Yamada, Chinen, dan Yuto. Mereka adalah Commander, Doctor, dan Bullet. Mereka berbeda dengan orang yang kita kenal" jelas Inoo.

"Eh?? Apa? Eh???"

"Berisik!" Daiki tidak tahan lagi. "Nanti akan kami jelaskan semuanya. Pertama-tama, bantu kami membawa mereka ke rumah Yabu"

"Kenapa harus ke rumah Yabu?", tanya Hikaru.

"Karena aku ingin kesana" jawab Inoo.

---***---

"Rapid! Kenapa kau membunuhnya!!!"

"Aku tidak membunuhnya! Dia pingsan!"

"Lalu kenapa dia berteriak, 'aku akan mati!' tadi?"

"Mana kutahu, dia pingsan sendiri"

"Apa yang kau lakukan sampai dia pingsan begitu?"

"Sudah kubilang... Aku tidak melakukan apa-apa! Dia pingsan sendiri!"

Geek mengacuhkan pertengkaran Rapid dan Falcon. Dia pergi mengamati Takaki yang pingsan. Geek tertegun melihat wajah Takaki yang sangat mirip dengan Rapid Fire. Hanya saja Takaki ini lebih kurus sedikit daripada Rapid.

CLASH!

Geek menoleh ke arah pertarungan Master B dan teman-temannya. Shinobi dan Sonic Hunter tampak kelelahan. Sedangkan Scope tidak bisa menembak karena takut mengenai Shinobi dan Sonic.

"Falcon!" Falcon menoleh. "Lebih baik kau segera bantu Shinobi dan Sonic Hunter. Aku akan membantu Scope"

Falcon Jr ingin protes lagi, tapi melihat kondisi pertarungan yang cukup genting, Falcon mengangguk dan segera bergabung bersama dengan Shinobi dan Sonic.

"Eh?? Lalu aku???", tanya Rapid kebingungan.

"Kau urus dia terlebih dahulu" seru Inoo sambil menunjuk ke arah Takaki yang masih pingsan.

Rapid Fire memandang Takaki. Dia merasa geli dan aneh saat melihat orang yang berwajah sama dengan dirinya terbaring disana. Rapid Fire mengulurkan tangannya dengan takut-takut. Dia mencoba memegang tangan Takaki.

Rapid Fire bergidik saat merasa ada sesuatu yang menyengatnya saat dia menyentuh Takaki. Dia mencoba sekali lagi dan dia merasakan hal yang sama. Tiba-tiba Rapid Fire merasa aneh. Senjatanya bergetar dan tiba-tiba saja berubah menjadi bentuk yang baru.

"Apa-apaan ini????"

Tsuzuku~~~