Rabu, 30 Maret 2016

Backstage

Cast : Takaki Yuya x Ariok Daiki

Drabble

"Otsukaresama!!!"

Semua member tampak puas. Mereka berhasil melalui konser ini dengan baik. Raut gembira tidak terlepas dari wajah mereka. Meskipun setelah itu rasa capek menyerang.

"Capeknya..."

Takaki menuju sofa yang ada di ruangan itu. Disana Daiki sedang merebahkan diri. Dia juga sedang beristirahat. Takaki langsung duduk di sebelahnya dan menyenderkan kepalanya di bahu Daiki.

"Capek?", tanya Daiki

"Dengan melihat saja kau sudah tahu kan?", balas Takaki.

"Hmm...", Daiki langsung merapatkan kedua kakinya. Dia mengangkat kepala Takaki dan memposisikan kepalanya agar bisa tidur di pangkuannya. "Bagaimana?"

"Nyaman sekali... Empuk. Aku bersyukur kau gemuk"

Daiki cemberut sedangkan Takaki hanya tertawa. Takaki mengulurkan tangannya dan membelai rambut pemuda chubby itu.

"Terimakasih"

Daiki tersenyum. Dia mulai membelai lembut rambut Takaki. Entah karena capek atau belaian tangan Daiki yang terlalu nyaman, Takaki mulai menutup matanya. Beberapa detik kemudian Daikki tahu kalau pemuda itu tertidur.

"Oyasumi", bisik Daiki.

END

Jumat, 18 Maret 2016

TASTE SO SWEET

(Sebelumnya sudah pernah kupost di blog satunya. Karena ada masalah teknis, jadi kurepost disini dulu. Ini kurepost dengan sedikit penambahan kalimat dan dialog. Alur cerita tetap)

Chapter 1

Daiki menuju ruang makan dengan malas. Dia paling benci bangun pagi. Sebenarnya, masih banyak waktu sebelum sekolah dimulai. Sekolah dimulai jam 8 pagi, tapi ibunya selalu membangunkannya jam 6. Daiki terpaksa menuruti perintah ibunya untuk bangun daripada harus berpisah dengan pocky kesayangan selama seminggu? Big No!

Keluarga Arioka sangat disiplin. Pukul 5 pagi, seluruh anggota keluarga sudah bangun dan memulai aktifitas pagi. Hanya Daiki saja yang harus dibangunkan jam 6 yang menurut ibunya ini sudah terlalu siang.

Dengan langkah malas, Daiki menyeret kakinya ke ruang makan. Disana sudag duduk seorang pria yang sedikit lebih tua darinya dan ibunya. Daiki tidak heran ketika tidak melihat ayahnya. Ayahnya memang selalu berangkat lebih awal untuk bekerja.

"Ohayou... Chibi..."

Daiki menatap tajam ke arah pemuda yang sudah bersiap terlebih dahulu di meja makan. Dia sangat tidak suka dipanggil 'chibi'. Ketika dia bersiap akan meninju kakaknya itu, ibunya menghentikannya dengan mengatakan sesuatu.

"Daisuke... Jangan ganggu adikmu. Daiki. Cepat duduk"

Daiki menurut. Sebelum duduk dia menatap Daisuke dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'awas-kau-nanti'. Daisuke hanya tertawa melihat reaksi adiknya. Daisuke sayang dengan adik pendeknya itu, hanya saja rasa sayangnya ditunjukkan dengan cara mengganggu adiknya itu.

Ibu Arioka menyodorkan sebuah kotak kecil ke arah Daiki. Daiki tahu apa itu tanpa membuka isinya. Itu hal yang sudah biasa bagi Daiki.

"Produk baru?", tanyanya sambil membuka kotak itu.

"Benar. Kita akan meluncurkannya besok. Nanti malam akan ada pesta untuk perilisan produk ini. Kau harus datang. Kau boleh mengajak Yabu dan Yaotome"

Daiki mengangguk. Matanya kini terpaku pada sebuah smartphone baru keluaran perusahaan keluarganya. Bentuknya tidak terlalu beda dengan smartphone sebelumnya. Daiki mencoba menyalakannya dan mengoperasikannya. Yah, setidaknya produk baru ini jauh lebih mudah dioperasikan daripada tipe yang sebelumnya.

"Bagaimana?", tanya ibunya.

"Aku suka", komentar Daiki. "Aku akan menunjukkan ini pada Yabu dan Hikaru"

Dia kemudian memasukkan smartphone barunya itu ke saku celananya dan mulai bersiap menyantap sarapannya. Ibunya terlihat lega karena Daiki tampak menyukai produk baru itu. Baginya, jika Daiki tidak menyukai produk baru itu, maka kemungkinan produk baru itu tidak akan laku di pasaran. Entah bagaimana, Daiki memiliki sense produk yang cukup bagus. Dan itu sangat membantu.

---***---

"Sarapan anda sudah siap Tuan muda"

Seorang pelayan membungkukkan badannya di depan seorang pemuda jangkung yang bisa dibilang cukup kurus. Pemuda itu tersenyum. Matanya terlihat sedikit menutup saat dia tersenyum. Oh ya, dia memiliki 'eye smile', dan itu yang membuatnya terlihat manis, menurut para cewek. Dia menutup buku yang sedang dibacanya dan meletakkannya diatas meja.

Yabu memang memiliki kebiasaan membaca buku saat pagi hari. Menurutnya membaca buku pagi hari membuat dia lebih mudah menghapal dan memaknai isi buku yang dibacanya.

"Terima kasih Shoon, kau boleh pergi"

Pelayan itu membungkukkan badannya sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan. Pemuda itu merapikan seragamnya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. Langkahnya terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke hpnya.

-----
Halo Tuan muda Yabu Kota~~~
Kau pasti sudah bangun kan???
Jemput aku kalau kau akan pergi ke sekolah.
Aku ingin berangkat bersamamu
-----

Yabu tersenyum saat membaca SMS itu. Dia kemudian mengetikkan balasan.

-----
Rumah Daiki jauh lebih dekat daripada rumahku.
Kenapa kau tidak meminta dia menjemputmu?
Terlebih lagi, kemana sopirmu???
-----

Tidak butuh lama, sebuah balasan masuk ke HP Yabu.

-----
Daichan???
Apa kau lupa kalau dia selalu berangkat bersama Daisuke???
Lebih baik aku jalan kaki daripada semobil dengan Daisuke.
Sopirku sakit, asmanya kambuh.
Jemput aku. Aku akan menunggumu~~~~ :*
-----

Yabu menepuk pelan dahinya dan kemudian tertawa. Hikaru memang akrab dengan Daiki, tapi tidak dengan kakaknya. Jika Hikaru selalu menjahili Daiki, maka Daisuke yang akan menjahili Hikaru setiap mereka bertemu. Mungkin itu pembalasan Daisuke yang terlalu menyayangi adiknya. Yabu memencet interphone di dekatnya yang menghubungkan rumah keluarga dengan rumah pelayan. Memberitahukan sopirnya kalau hari ini dia akan berangkat sendirian untuk menjemput Hikaru.

---***---

Hikaru tersenyum saat membaca balasan dari Yabu. 'OK'. Singkat, padat, dan jelas. Itu artinya Hikaru tidak usah bingung lagi bagaimana caranya berangkat ke sekolah. Dia sangat bersyukur Yabu bisa menjemputnya, jika tidak maka dia akan semobil dengan Arioka bersaudara pagi ini. Dan bertemu Daisuke di pagi yang cerah ini akan merusak moodnya seharian.

Rumah Hikaru tergolong paling jauh diantara murid yang lain. Keluarganya mengelola industri ikan, tentu saja itu berarti rumahnya dekat dengan laut dan posisinya ada di pinggir kota. Perjalanan ke sekolah menurut Hikaru membutuhkan waktu yang lama. 30 menit dengan Mobil pribadi, 45 menit lebih jika mengendarai transportasi umum. Hikaru bisa saja berangkat naik kereta untuk pergi ke sekolah. Tapi Hikaru tidak suka berdesakan dengan orang banyak. Naik taksi juga bisa, tapi Hikaru tidak suka menghamburkan uangnya dengan percuma. Apa gunanya punya teman kaya? Itulah prinsip Hikaru.

Kenapa Hikaru tidak mengendarai mobilnya sendiri?

Hikaru masih berumur 16 tahun, itu artinya dia masih belum mendapat SIM. Hikaru bersumpah, jika dia berumur 17 tahun, maka hal pertama yang akan dia lakukan adalah membuat SIM. Dia sangat iri pada Yabu yang bisa menyetir Mobil sendiri karena dia sudah memiliki SIM.

Hikaru segera bersiap. Dia tidak ingin Yabu menunggunya terlalu lama jika sudah tiba. Hikaru tahu kalau Yabu adalah orang yang disiplin. Dia tidak suka menunggu dan sangat tepat waktu. Hikaru pernah terlambat datang di waktu yang mereka janjikan. Dan akibatnya Yabu memarahinya habis-habisan. Hikaru tidak ingin mengalami hal itu lagi.

Kini Hikaru sudah siap dan menanti kedatangan Yabu. Dia melihat ke arah jam, pukul 07.00. Tidak lama kemudian, dia bisa mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Segera dia mengambil tasnya dan menuju keluar, dimana Yabu telah menunggu di mobilnya.

"Dimana sopirmu?", tanya Hikaru saat melihat Yabu menyetir sendiri mobilnya. Yabu jarang membawa mobil sendiri ke sekolah. Dia tidak suka terlihat mewah. Melihat Yabu menyetir sendiri mobilnya adalah peristiwa langka. Bahkan dia tidak mau turun di area sekolah. Dia biasa turun di luar sekolah dan berjalan kaki ke dalam.

"Sopirku bertugas untuk mengantarkanku ke sekolah. Dia tidak bertugas untuk menjemputmu dan mengantarmu juga", jawab Yabu. Hikaru tertegun. Inilah yang membuatnya segan kepada Yabu. Yabu benar-benar menaati peraturan. "Lagian kalau aku tidak membawa mobilku sendiri, bagaimana aku bisa mengantarmu pulang? Sopirmu sakit kan? Itu artinya tidak ada yang mengantarmu dan menjemputmu hari ini. Jadi aku berniat untuk mengantarmu sepulang sekolah nanti"

Hikaru tersenyum senang mendengar ucapan Yabu. Dia memang teman yang bisa diandalkan. Dan saat itulah Hikaru bersyukur memiliki senpai dan sahabat seperti Yabu.

---***---

"Chibi. Kita sudah sampai"

Daiki menatap tajam ke arah kakaknya yang sedang duduk di belakang kemudi. Dia mengepalkan tangannya dan berusaha menahan amarahnya. Dia tidak ingin mengalami kecelakaan karena tindakan bodohnya.

"Jangan panggil aku chibi!!!!"

Daisuke tertawa, dia lalu mengacak-acak rambut adiknya itu. Daiki menyingkirkan tangan Daisuke seolah berkata bahwa dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Tanpa berkata apapun lagi, dia segera keluar dari mobil. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah mobil Mercedes hitam yang pernah dia lihat. Mobil yang hanya bisa dia lihat ketika dia mengunjungi rumah Yabu.

Jendela mobil itu terbuka. Matanya semakin terbuka lebar ketika melihat Hikaru melambaikan tangannya dari dalam mobil sedangkan Yabu hanya tersenyum sekilas lalu kembali fokus menyetir.

Daiki langsung berlari menuju mobil hitam itu. Dia lupa dengan Daisuke yang mengantarnya. Daisuke hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan perjalanan menuju kampusnya.

"Yabu!!! Hikaru!!!"

Mobil itu terparkir secara sempurna di tempat parkir sekolah yang cukup luas. Tentu saja sekolah ini memiliki tempat parkir mobil. Hampir semua murid memiliki mobil pribadi. Tentu saja. Ini sekolah tempat para elite berkumpul. Tentu tidak mengherankan kalau tiap siswa memiliki mobil pribadi kan?

"Daichan... Kau kangen padaku???", tanya Hikaru saat keluar dari mobil. Hikaru membuka lebar tangannya seolah menyambut Daiki dalam pelukannya. Tapi Daiki bukannya memeluk seperti harapan Hikaru, dia malah mencengkeram kerah bajunya.

"Kenapa kalian berangkat bersama?! Tidak adil!"

"Sopirku sakit, lalu aku meminta Yabu menjemputku"

"Kenapa kalian tidak menjemputku juga???"

"Bukannya kau selalu diantar kakak tersayangmu? Tadi dia juga yang mengantarmu kan?? Aku tidak ingin berurusan dengan kakakmu pagi-pagi, bikin moodku turun saja"

"Tapi aku tidak mau diantar olehnya... Aku juga ingin bersama dengan kalian"

Daiki cemberut. Dia mulai bertingkah seperti anak kecil. Yabu mendesah. Ini tandanya Daiki akan susah diajak bicara hingga rasa cemberutnya hilang. Dia membuka tasnya, saatnya mengeluarkan senjata pamungkas.

"Daiki, pocky?"

Muka Daiki langsung berubah menjadi lebih cerah. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menyambar pocky yang ada di tangan Yabu. Yabu tersenyum puas karena dia berhasil menjinakkan temannya itu sedangkan Hikaru hanya menggelengkan kepalanya karena heran Daiki bisa dengan gampangnya disuap oleh sekotak pocky.

"Dasar maniak pocky", gumam Hikaru

"Semoga hari ini bisa berjalan dengan tenang", gumam Yabu. Dia sudah tidak memiliki persediaan pocky lagi. Jadi, jika Daiki membuat ulah, dia tidak bisa menenangkannya lagi seperti ini. Yabu menatap tajam ke arah Hikaru, seolah mengatakan 'jangan ganggu Daiki hari ini', dan Hikaru mengangguk mengerti. Hikaru tidak ingin berurusan dengan Yabu yang sedang marah. Yabu sangat menyeramkan ketika dia marah.

"Ah!", Daiki tiba-tiba berseru. Dia lalu merogoh sakunya dan mengambil smartphone barunya untuk ditunjukkan ke dua temannya itu. "Bagaimana menurut kalian?"

"Produk baru??? Cepat sekali keluar. Bukannya kalian baru saja merilis 2 minggu yang lalu???", tanya Hikaru sambil mengamati smartphone itu.

"Yah... Perkembangan teknologi berkembang lebih cepat daripada dugaan kalian. Jadi, bagaimana???", tanya Daiki sambil sibuk mengunyah pocky pemberian Yabu.

Daiki memiliki kebiasaan memamerkan produk baru kepada temannya. Daiki tidak bermaksud pamer kekayaan, tapi dia hanya meminta pendapat temannya mengenai produk baru. Mendengar pendapat orang lain tentu sangat berguna.

"Woww... Fantastis! Aku suka tipe yang ini! Jauh lebih praktis daripada sebelumnya", komentar Hikaru. Matanya terus terpaku pada smartphone itu. Tangannya terus mengutak-atik smartphone baru itu. Sepertinya smartphone itu berhasil membuatnya jatuh cinta.

"Kalau kau Yabu?"

Yabu mengambil smartphone itu dari tangan Hikaru dan mengamatinya. "Hikaru benar, ini lebih mudah dipakai"

Daiki tersenyum puas mendengar pendapat kedua temannya itu. Dan dia yakin kalau produk baru ini akan laris di pasaran.

"Aku akan memberikan kalian smartphone ini kalau kalian suka"

"Hontou??? Arigatou chibi!!!"

Hikaru langsung memeluk Daiki. Saking senangnya, dia lupa telah mengucapkan kata terlarang. Dan detik berikutnya Hikaru sudah terkapar di tanah karena tendangan Daiki. Bertentangan dengan tubuhnya yang 'pendek', tenaga Daiki jauh lebih besar sehingga mampu membuat orang yang lebih besar darinya terkapar.

"Aku tidak usah Daiki", potong Yabu sebelum Daiki berteriak marah pada Hikaru. "Smartphone yang kau berikan sebagai hadiah ulang tahunku itu masih bagus. Terlebih lagi aku lebih suka smartphone itu karena memiliki arti khusus"

"Oke...", Daiki melupakan amarahnya pada Hikaru dan mulai berjalan meninggalkan Hikaru yang masih terkapar. Yabu dan Daiki berjalan menuju ke gedung sekolah lebih dulu.

"Jahatnya... Apa mereka lupa padaku?", keluh Hikaru yang masih terduduk di lahan parkir sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan Daiki.

"Kau tidak apa-apa?"

Hikaru menoleh. Seorang yang berparas cantik kini sedang berjongkok di hadapannya. Orang itu mengenakan baju bebas berwarna putih. Tapi kulit orang itu jauh lebih putih dari baju yang dikenakannya. Rambutnya yang hitam lurus tertata rapi di kepalanya yang lonjong. Bola matanya terlihat seperti mutiara hitam. Indah berkilau. Bibirnya yang merah terlihat cukup menggoda, mengundang siapapun yang melihat untuk merasakan manisnya bibir itu. Bulu matanya pendek, tapi terlihat lentik. Benar-benar wajah yang cantik. Mukanya terlalu cantik untuk ukuran seorang cowok. Hikaru tidak berani bertanya langsung pada orang itu apakah dia cowok atau cewek, karena menurutnya itu tidak sopan.

Hikaru berpikir. Kelihatannya dia bukan murid sekolah ini. Dia juga tidak terlihat seperti staff sekolah ini. Hikaru mengenal semua guru dan staff di sekolah dan dia tidak pernah melihat orang cantik ini sebelumnya.

"Haloo????", tanya orang itu lagi. Kali ini dia melambaikan tangannya di muka Hikaru. Menyadarkan Hikaru dari lamunannya. Orang itu melihat ke arah Hikaru dengan muka manisnya. Ah, Hikaru bisa merasakan mukanya sedikit memerah saat melihat orang itu.

"Ah! Gomennasai! Aku tidak apa-apa", Hikaru langsung berdiri dan merapikan bajunya. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku"

Hikaru bergegas pergi meninggalkan orang itu. Dia tidak ingin wajahnya yang sedang tersipu terlihat di hadapan orang itu. Hikaru menampar pipinya sendiri, berusaha menenangkan diri.

Hikaru mencoba menoleh ke belakang, tapi orang itu sudah tidak ada. Hikaru memperluas pandangannya, tapi sosok cantik itu tidak ada disana.

"Apa itu tadi mimpi?", Hikaru memegang pipinya yang masih sakit akibat tamparannya sendiri. "Tidak mungkin. Itu bukan mimpi. Kalau begitu, siapa orang itu tadi???"

"Hika!!! Sedang apa???", teriak Daiki dari depan pintu masuk. Yabu juga berdiri disana disampingnya. Menunggu Hikaru.

---***---

Pelajaran pertama akan dimulai, Yabu bergegas menuju ke ruang guru. Sebagai ketua kelas, dia memiliki tanggung jawab untuk membantu wali kelasnya. Hikaru dan Daiki sudah berasa di kelasnya masing-masing. Ketika menyusuri lorong menuju ruang guru, matanya menangkap sesuatu. Mata Yabu kini terfokus pada seseorang berbaju putih yang tampak kebingungan. Yabu menaikkan sebelah alisnya. Orang itu tidak mengenakan seragam sekolah, dan Yabu belum pernah melihatnya.

"Ada yang bisa kubantu?", jiwa menolong Yabu bangkit. Dia berusaha menolong orang yang menurut Yabu tampaknya sedang tersesat itu.

Yabu tertegun. Tanpa dia sadari, dia membuka mulutnya. Kagum dengan sosok berbaju putih itu. Orang itu sangat cantik. Tidak berlebihan kalau Yabu bilang orang itu adalah malaikat.

"Aku mencari ruang guru. Dimana ya?"

Yabu kembali takjub. Suara orang itu terdengar sangat indah. Yabu yakin, malaikat pasti bersuara seperti dia. Meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu apakah malaikat juga seindah orang yang ada di depannya ini.

"Anoo.....", orang itu mendekatkan wajahnya pada Yabu. Sangat dekat. Yabu bahkan harus memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menyentuh wajah cantik itu.

"Ah maaf, akan kuantarkan", Yabu berjalan terlebih dahulu. Orang cantik itu juga mengikuti Yabu dari belakang. Sesekali Yabu mencuri pandang ke arah orang itu. Orang itu tampak asyik melihat pemandangan sekolah ini.

"Namaku Inoo Kei", ucapnya tiba-tiba. "Mulai hari ini aku bersekolah disini. Sebelumnya aku bersekolah di luar negeri"

"Ah maafkan aku yang tidak sopan. Namaku Yabu Kota. Kelas 3. Salam kenal"

"Kelas 3??? Berarti kau senpaiku??? Salam kenal senpai!!!"

"Panggil Yabu saja tidak apa-apa kok. Temanku yang jauh lebih muda juga memanggilku Yabu", Yabu teringat akan kedua temannya, Hikaru dan Daiki yang masih duduk di kelas 2 dan 1.

"Kalau begitu, salam kenal lagi Yabu! Aku beruntung sekali bertemu dengan orang yang baik. Setiap orang yang kutemui tadi tidak ada yang mau bicara denganku. Mereka langsung kabur dan pergi setiap aku berbicara dengan mereka. Apa aku menakutkan?"

"Tidak! Kau sangat cantik!", teriak Yabu tiba-tiba. Orang cantik bernama Inoo itu langsung terperanjat kaget karena Yabu berteriak tiba-tiba. "Ah, bu-bu-bukan itu maksudku. Itu.. Karena kau sangat cantik, maka orang segan berbicara denganmu. Mereka terpesona dengan kecantikanmu"

Yabu tersipu. Mukanya langsung terasa panas. Dia berani bertaruh kalau saat ini mukanya pasti merah. 'Ini memalukan. Seandainya ada lubang disini, aku ingin segera masuk dan mengunci diriku disana. Apa yang kukatakan tadi?', batin Yabu.

"Terima kasih. Aku tahu kalau mukaku cantik. Mendengar hal itu dari orang lain cukup menyenangkan juga"

Yabu melihat Inoo dengan heran. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan Yabu.

"Ah, meskipun aku cantik. Jangan salah paham. Aku cowok". Inoo langsung membuka kancing bajunya satu persatu dan membiarkan dadanya yang mulus terbuka lebar. "Lihat! Dadaku rata kan? Ini bukti kalau aku cowok"

Yabu melongo. Imej malaikat yang menempel pada Inoo sebelumnya perlahan mulai menjauh. Yabu kini mulai melihat sosok iblis di belakang Inoo. Senyum yang dia perlihatkan saat ini sungguh berbeda dengan yang tadi.

"Kau belum percaya? Yah, memang ada sih perempuan yang berdada rata. Atau kau mau melihat bukti yang lebih menyakinkan?", perlahan Inoo mulai membuka kancing celananya.

"Stop! Aku paham! Aku tahu kalau kau laki-laki. Sudah cukup", Yabu melihat ke sekeliling. Dia bersyukur kalau saat ini lorong sekolah sepi dan hanya ada mereka berdua saja disana. Jika ada orang lain yang lewat, entah apa yang ada di pikiran mereka. Tentu mereka akan membayangkan hal yang aneh.

Inoo tersenyum. Dia mulai mengancingkan kembali celananya dan menutup kembali bajunya. Sedangkan Yabu hanya bisa menghela nafas. Dugaannya salah. Murid baru yang ada di hadapannya ini bukan seorang malaikat. Tapi seorang Iblis jahil yang bertampang malaikat. Bayangan Hikaru dan Daiki lewat di pikirannya dan Yabu paham kalau Inoo setipe dengan dua temannya itu.

'Orang yang aneh. Atau mungkin, unik?' Batin Yabu.

"Kita sudah sampai", ucap Yabu saat berdiri di depan sebuah pintu. Yabu sedikit terkejut saat pintu terbuka dari dalam. "Sakurai sensei?"

"Ah... Kau sudah tiba rupanya, Inoo Kei. Kepala sekolah sudah menunggumu. Murid pindahan satu lagi sudah tiba. Ayo ikut sensei"

"Baik sensei", Inoo langsung berjalan mengikuti Sakurai sensei. Tapi dia berhenti dan menuju ke arah Yabu. Dengan cepat dia memeluk Yabu. Yabu terkejut sehingga dia tidak bisa berkutik. Dia lebih terkejut lagi saat dia merasakan bibirnya terkena sesuatu yang manis. Inoo tersenyum sekilas sebelum melepaskan pelukannya.

"Terima kasih Kou-chan...", Inoo kembali mengikuti Sakurai sensei dan meninggalkan Yabu sendirian yang masih terpaku sambil memegangi bibirnya.

Tsuzuku~~

Kamis, 17 Maret 2016

2 OF US

Cast : Yabu Kota dan Yaotome Hikaru
Genre : g tau... XD

Yabu dan Hikaru. Biasa disebut YabuHika. Mereka adalah pasangan sahabat yang sering bersama sejak kecil. Berada di grup yang sama saat junior bahkan hingga debut di grup yang sama juga. Tidak heran mereka mengenal satu sama lain dengan baik.

Perkenalan awal mereka tidak begitu baik. Hikaru baru masuk ke JE setahun setelah Yabu masuk. Saat Hikaru masuk, Yabu sudah terbiasa masuk TV. Yabu juga sudah biasa bernyanyi di atas panggung. Saat Hikaru bertemu dengan Yabu untuk pertama kalinya, Yabu bersikap dingin. Pandangannya menunjukkan aura 'senpai' yang cukup jelas terasa. Dan Hikaru sedikit tidak menyukai hal itu.

Awalnya Hikaru malas ketika dia mendapatkan job bersama dengan Yabu. Hikaru pikir, Yabu adalah orang yang sombong. Tapi, lama kelamaan Hikaru mengerti. Yabu adalah orang yang baik. Yabu bahkan mengajarinya gerakan dance yang tidak dia mengerti, membantunya menghapal lirik, dan bahkan membantunya mengerjakan PR sekolah.

Yabu juga orang yang gampang kesepian. Hikaru tidak pernah melihat Yabu sendirian. Pasti akan ada orang yang berada di samping Yabu. Entah itu Shoon, Taiyou, Inoo, bahkan para senpai juga dekat dengannya. Seperti Kamenashi, Akanishi, Nakamaru. Terkadang Hikaru iri dengan sifat Yabu yang mudah dekat dengan siapa saja itu.

---***---

Yabu sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa berteman dengan seseorang selama bertahun-tahun. 12 tahun lebih Yabu dan Hikaru saling mengenal. Well, yah... Meskipun sebenarnya dia lebih lama berteman dengan Inoo. Yabu dan Inoo masuk dalam waktu yang sama. Tapi, karena mereka tidak dalam satu grup dan tidak satu sekolah, membuat ada sedikit jarak antara dia dan Inoo.

Yabu tidak suka dengan Hikaru. Itu kesan pertama Yabu. Semenjak Yabu mendengar ada anak baru yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari yang bagus, Yabu merasa mulai ada saingan. Dia takut posisinya bergeser. Yabu memang memiliki suara yang bagus, tapi sayangnya, dia tidak terlalu bisa menari. Karena dia sering mendapat bagian menyanyi di depan, dia jarang menjadi backdancer untuk senpainya. Oleh karena itu, Yabu merasa terancam dengan kedatangan anak baru yang berbakat ini.

Yabu berusaha menjauhi Hikaru pada awalnya. Dia selalu memasang ekspresi tidak bersahabat setiap kali Hikaru ada di dekatnya. Membuat ada jarak di antara mereka. Dan Yabu tahu kalau Hikaru juga merasa kalau Yabu menjauhinya, tapi Yabu tidak peduli. Dia tetap menjauhi Hikaru.

Tapi setelah sekian lama selalu bersama, baik itu dalam hal pekerjaan maupun sekolah, membuat Yabu akhirnya mengerti kalau Hikaru tidak seburuk yang dia kira. Perlahan Yabu mulai membuka hatinya dan bersikap lebih ramah pada Hikaru.

---***---

"Apa salahku kali ini?"

Yabu menoleh dan mendapati Keito sedang meringkuk di dekatnya. Mukanya tampak sangat sedih. Lututnya ditekuk.

"Hika lagi?"

Keito mengangguk. Yabu menghela nafas panjang dan mengusap pelan rambut Keito. Keito menutup wajahnya. Sepertinya dia akan menangis.

"Hikaru tidak marah padamu. Dia hanya terlalu disiplin. Dia ingin gerakanmu sempurna"

"Aku tahu. Aku tahu kalau Hikaru-kun bermaksud baik, tapi ucapannya...."

Suara Keito mulai terdengar parau. Jelas sekali dia menahan agar tangisannya tidak keluar. Meskipun begitu, Yabu bisa melihat setitik air mata yang siap mengalir turun dari ujung matanya.

"Keito... Mau sampai kapan kau melakukan kebiasaanmu ini? Kau laki-laki, laki-laki tidak boleh mengeluarkan air mata. Cukup satu 'onee' saja di JUMP ini"

"Etto... Kau tidak membicarakanku kan Yabu?", sahut Takaki yang rupanya berdiri tidak jauh dari Yabu. Dia sedikit terusik saat mendengar kata 'onee'.

"Memangnya ada lagi yang lain selain dirimu, baka onee"

"Yamada..." Takaki melihat Yamada dengan ekspresi sedikit sedih. Tapi Yamada tidak peduli. Dia bahkan mengatai Takaki 'baka onee', sekali lagi.

"Don't mind! Don't mind! Hora Takaki! Cheer up!"

Daiki menepuk pundak Takaki dengan ceria. Mereka berdua mengikuti Yamada dan melanjutkan latihan dance.

Yabu hanya tersenyum kecil melihat tingkah teman-temannya. Tingkah mereka sangat menghibur. Yabu masih terus menemani Keito yang masih terpuruk karena omelan Hikaru.

"Nah Keito! Ayo kita latihan lagi! Kalau kau tidak segera kembali latihan, Hikaru akan merasa tidak enak"

"Hah? Kenapa?"
"Karena dia peduli padamu. Dia sekarang merasa tidak enak karena terlalu berlebihan memarahimu"

"Bagaimana kau tahu? Dia sudah biasa begini. Tidak mungkin dia merasa tidak enak padaku. Aku kan juniornya"

Yabu menepuk kepala Keito lagi dan memberikan senyuman tipis, "karena aku tahu apa yang dipikirkan olehnya. Tidak usah bicara, aku sudah tahu. Karena kami kembar tak sedarah"

"Hah?"

Keito masih ingin bertanya lebih jauh, tapi Yabu keburu menariknya kembali latihan.

---***---

"Terima kasih"

Yabu menaruh botol minumnya dan menandang Hikaru yang berdiri sambil berganti baju di sebelahnya.

"Untuk apa?", tanya Yabu.

"Kau kan yang menenangkan Keito? Aku tidak tahu harus bersikap apa padanya. Aku bersikap kasar padanya tanpa kusadari"

"Itu memang kebiasaanmu kan? Aku mengerti kok"

"Habisnya... Itu anak diajari tidak mengerti. Berkali-kali salah. Jika aku memarahinya, dia langsung menangis"

"Ya, ya, ya... Aku mengerti", gumam Yabu.

"Yabu.. Kau bisa jadi ibu yang baik", celetuk Hikaru tiba-tiba.

Yabu yang hendak meminum airnya lagi langsung terhenti. "Hah? Kenapa kau bicara begitu tiba-tiba?"

"Habisnya.. Kau dewasa. Kau bisa mengerti semua member. Kau bisa member nasihat pada mereka. Kau selalu bisa diajak bicara. Kau menenangkan semuanya. Seperti seorang ibu"

Yabu tertawa. "Kalau begitu kau bisa menjadi seorang ayah"

"Hah?"

"Kau keras dan disiplin. Kau juga menuntut semuanya sempurna dan tepat waktu. Tapi itu semua kau lakukan demi kebaikan mereka juga. Kau terlihat cuek dan pelit, tapi sebenarnya kau perhatian. Kau selalu tahu kalau ada di antara kami yang tidak enak badan. Ah, karena kau jago beladiri, kau bisa menjaga kami"

"Jaa... Kalau begitu kita menjadi ayah dan ibu?"

"Menjijikkan", Inoo yang akan berganti kostum tiba-tiba datang berkumpul karena mendengar pembicaraan mereka berdua. "Aku tidak tahu kalau kalian sudah menikah. Kapan?"

Yabu memukul kepala Inoo sedangkan Hikaru tiba-tiba memeluknya. "Kau bicara apa sayang? Kan aku sudah menikah denganmu", goda Hikaru.

"Aku tidak ingat soal itu", jawab Inoo sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Hikaru.

"Hidoi... Bahkan anak kita sudah sebesar ini", Hikaru menunjuk ke arah Daiki yang barusan masuk. Daiki hanya melongo karena tidak paham apa yang terjadi.

"Inoo... Kau tega melakukan ini pada kami. Jadi selama ini kau selingkuh dengannya? Kau melupakanku dan anakmu ini?" Yabu ikut dalam permainan menggoda Inoo. Dia merangkul Takaki yang sama sekali masih tidak mengerti apa yg terjadi.

"Kalian berdua sudah gila! Aku mau keluar!"

Yabu dan Hikaru tertawa bersamaan sambil melihat Inoo yang berjalan keluar. Sedangkan Takaki dan Daiki saling berpandangan karena tidak mengerti apa yang terjadi.

"Nice acting Hikaru"

"Nice follow Yabu"

---***---

"Tidak mau. Aku sedang diet"

Hikaru menatap teleponnya yang baru saja ditutup Takaki beberapa menit yang lalu. Hikaru ingin keluar untuk makan dan dia mengajak Takaki karena Takaki tahu banyak tempat yang memiliki makanan enak. Tapi Takaki menolak ajakannya. Ini bukan pertama kalinya Takaki menolak ajakan Hikaru.

"Kau akan tetap gembul meskipun diet. Bakaki", gerutu Hikaru.

Dia masih menatap hpnya. Bingung dengan siapa yang akan dia ajak. Sebuah telepon masuk mengagetkan Hikaru.

"Yabu?"

"Yo Hika! Kau lapar? Ayo makan. Temui aku di xxxxxxxx"

Yabu langsung menutup teleponnya.

"Ap----" Hikaru ingin bertanya pada Yabu tapi Yabu sudah memutus teleponnya. Hikaru langsung berdiri dan menuju keluar, ke tempat yang dimaksud Yabu.

---***---

"Hei!"

Hikaru menoleh dan mendapati Yabu sedang melambai ke arahnya, dia langsung menuju ke arah Yabu.

"Ayo cepat pesan. Aku sudah lapar", Yabu menyerahkan buku menu ke Hikaru.

"Anoo... Yabu. Kenapa kita makan disini?"

"Karena aku lapar"

"Bukan itu maksudku", Hikaru mulai sedikit kesal.

"Karena kau kesepian". Hikaru sedikit terperanjat. "Aku merasa kalau kau sedang butuh teman saat ini. Kau berbeda dengan Inoo yang selalu meneleponku kalau dia sedang butuh teman"

"Darimana kau tahu aku butuh teman?"

"Hmm..." Yabu mulai berpikir. "Insting? Aku selalu tahu apa yang kau pikirkan dan kau rasakan. Karena kita---"

"Kembar tidak sedarah", potong Hikaru. "Cukup. Aku mengerti"

Yabu tersenyum dan melihat kembali buku menunya. Sedangkan Hikaru menutup wajahnya dengan buku menu. Dia tidak ingin wajahnya yang sedang tersipu terlihat jelas di hadapan Yabu. Dan dia sangat bersyukur karena Yabu ada disini.

END

Senin, 07 Maret 2016

LAST PRESENT

Cast : Takaki Yuya, Inoo Kei, Arioka Daiki
Genre : failed angst
Summary : Inoo memberikan hadiah terakhirnya pada Takaki.
Disclaimer : Hanya cerita ini saja milikku. Tokohnya hanya idolaku saja.

Kriing!!!!

Alarm terus berbunyi. Sudah lebih dari 10 menit ini alarm itu terus berbunyi. Tapi Takaki enggan mematikan alarm itu. Matanya sudah terbuka. Jauh sebelum alarm itu berbunyi. Lebih tepatnya dia sama sekali belum memejamkan matanya. Dia ingin memastikan kalau itu semua bukanlah mimpi.

Takaki melihat ke arah pintu kamarnya. Biasanya Inoo akan masuk dan memarahinya karena tidak segera bangun. Tapi, seberapa lamapun Takaki menunggu Inoo tidak akan datang. Ya, mulai hari ini, Inoo tidak membangunkannya lagi.

"Kau benar-benar sudah tiada, Inoo?"

Takaki menyalakan hpnya dan melihat wallpapernya. Disana ada fotonya dan Inoo yang memakai telinga kucing dan anjing. Biasanya Takaki akan selalu tertawa saat melihat ekspresi Inoo yang aneh, tapi kali ini dia menatap foto itu dengan raut sedih. Foto aneh itu malah membuatnya kangen tidak terkira.

BRAAKKK!

Pintu kamar Takaki terbuka lebar. Takaki senang saat mengira Inoo-lah yang membuka pintu, bahwa kematian Inoo hanyalah mimpi semata, bahwa Inoo masih hidup sampai sekarang. Tapi raut wajah Takaki berubah saat melihat sosok pendek yang masuk ke dalam kamarnya. Itu bukan Inoo.

"Arioka? Ada apa kau kemari?"

"Bakaki!!! Mau sampai kapan alarmmu bunyi ha?!?! Ini sudah 15 menit!" Daiki menghampiri alarm di meja dan mematikannya. "Kalau kau sudah bangun. Cepat matikan alarmmu dan keluar dari kamarmu! Untung aku datang kemari sebelum tetanggamu datang mengkomplain soal suara ribut dari kamarmu!"

Takaki hanya diam menatap Arioka. Bagaimana bisa Arioka masuk kemari? Apa yang dilakukannya disini? Kenapa dia kemari?

"Ini", Daiki menyerahkan sebuah amplop putih kepada Takaki.

"Apa ini? Dari siapa?"

"Inoo-chan bilang kalau surat ini akan menjelaskan semua pertanyaanmu saat ini"

Takaki terkejut saat Arioka menyebut nama 'Inoo'. Dia langsung menyambar surat itu dan membukanya. Sedangkan Arioka hanya menunggu Takaki membaca isi surat itu.

-----

My lovely prince... Ohayou!!!

Apa kau sudah bangun?
Ah, sebaiknya kau bangun sebelum tetanggamu marah karena suara alarmmu yang terlalu berisik. Kau tahu kan kalau dia orang yang sangat galak?
Berterimakasihlah pada Dai-chan yang sudah mematikan alarmmu.

Ara? Kau bingung kenapa aku tahu Dai-chan ada disana?
Tentu saja aku tahu sayang... Karena aku yang meminta Dai-chan untuk mengantarkan surat ini padamu. Dan kalau kau sedang membaca surat ini, berarti dia ada disana kan?

Aku tidak akan mengatakan hal klise seperti, 'jika kau membaca surat ini berarti aku sudah tidak ada di dunia ini'. Meskipun kenyataannya aku memang sudah tiada.

Tunggu! Apa aku merasa kalau itu adalah air mata?
Jangan menangis sayang... Aku masih selalu melihatmu, meskipun aku juga tidak yakin apakah benar bisa melihatmu saat aku sudah meninggal. Kebanyakan film yang kita lihat bercerita soal itu sih. Kuharap benar.

Yuya...
Terima kasih sudah menemaniku.
Kau adalah orang yang manis dan romantis yg pernah ada. Aku merasa sombong memilikimu sebagai pacarku. Sudah berapa orang yang iri denganku karena memiliki pacar yang keren sepertimu? Entahlah. Ah, Dai-chan sepertinya iri juga padaku meskipun dia tidak menunjukkannya.

Aku tidak khawatir meninggalkanmu sendirian. Kau bukan anak kecil lagi kan? Kau bisa menjaga dirimu sendiri. Tapi... Aku tidak tega membiarkanmu kesepian. Karena aku tidak bisa menemanimu lagi, aku memberikanmu sebuah hadiah. Ya, selama ini aku selalu menerima hadiah darimu, jadi kupikir tidak ada salahnya memberimu hadiah. Meskipun ini akan jadi hadiah terakhir dariku.

Apa kau penasaran dengan hadiah dariku?
Yah... Hadiah dariku adalah orang yang mengantar surat ini padamu. Kau terkejut? Yay!!!
Dai-chan memang tidak secantik diriku, aku masih jauh lebih baik darinya. Dia pendek, tukang makan, dan gampang emosi. Tapi dia adalah orang yang baik. Dia juga anak yang lucu dan menggemaskan. Aku yakin, kau tidak akan pernah merasa kesepian saat bersama dengannya.

Ah, rahasiakan darinya kalau aku memanggilnya pendek ya... Dia tidak suka dipanggil seperti itu. Kau pasti tidak mau merasakan sakit yang parah saat kau membuatnya marah.

Sampaikan salamku padanya ya...
Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik.
Oh ya! Mulai saat ini, mintalah dia untuk membangunkanmu menggantikanku. Dia lebih jago membangunkan orang. Jadi kau tidak usah khawatir. ;)
Ah, kau juga bisa memintanya untuk memasak makanan untukmu. Makanan buatannya jauh lebih enak daripada buatanku. Kau juga bisa memintanya kalau kau kesepian. Kalau dia tidak mau, bilang saja aku akan mengancamnya. Dia tidak akan menolak kalau kau menyebut namaku.

Ne sayang, satu hal lagi sebelum aku pergi.
Aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Oleh karena itu, cepat lupakan aku dan temukan kebahagiaanmu sendiri.

Salam sayang dari dunia sana
Inoo Kei
-----

Takaki menghela nafasnya. Sifat random Inoo yg khas terasa sekali di surat itu. Dia tidak tahu apakah harus menangis, terkejut, atau tertawa saat membacanya. Yang jelas dia sedikit merasa lega ketika dia bisa mencium bau Inoo dari surat itu walaupun sedikit.

"Hei..."

Takaki mendongak. Arioka berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tampak sangat cemas. Takaki lalu ingat kembali isi surat dari Inoo.

"Arioka...", panggil Takaki pelan. "Terima kasih sudah mematikan alarm itu"

Arioka tersenyum. "Sama-sama. Inoo memintaku melakukannya. Aku hanya melakukan keinginan terakhirnya"

"Ini" Arioka menyerahkan sebuah kunci pada Takaki. Takaki tahu itu kunci pintu kosnya yang dia berikan pada Inoo. "Aku harus mengembalikan ini padamu"

Takaki mendorong pelan kunci itu. "Simpanlah. Aku yakin itu juga keinginan Inoo. Sebagai gantinya, bisakah kau membangunkanku tiap pagi? Aku kesulitan untuk bangun sendiri"

"Baiklah"

Dan mulai saat itulah lembaran hidup baru Takaki tanpa Inoo dimulai.

END

Kamis, 03 Maret 2016

UNMEI

Cast : Nakajima Yuto & Takaki Yuya
Genre : err... Dorama? G tau deh..
Rate : PG-13
Summary : Yuto bertemu orang yang menarik saat sedang mencari serangga.
Disclaimer : Tokoh yang ada disini, bukanlah milikku. Hanya saja, cerita ini original milikku.

Note : fanfic ini kubuat berdasarkan request dari Zuliana Nadhi. Semoga suka dengan ceritanya ya. Kalau enggak, bilang saja. Nanti kubuat yg lain ^^
Ini rare pairing sih, jd agak susah buatnya.

---***---

"Hari ini hari yang bagus sekali!!!"

Yuto meregangkan tangannya dengan gembira. Dia sudah lama menantikan hari ini. Hari ini adalah hari liburnya. Belum lagi cuaca cukup cerah dan bersahabat sehingga dia sudah tidak sabar pergi keluar.

"Selamat pagi hercules, hera, julius"

Yuto menyapa satu persatu teman sekamarnya yang kini berada di sebuah kotak kaca. Setelah menyapa, dia memberikan makanan untuk serangga-serangga itu. Ya, teman sekamar Yuto adalah serangga kumbang besar. Yuto memang suka sekali dengan serangga.

"Hari ini aku akan pergi ke taman, semoga aku bisa mendapatkan teman baru lagi ya"

Yuto mengambil peralatan menangkap serangga miliknya. Tidak lupa dia membawa tas kameranya. Ya, dia memang tidak pernah lupa membawa kamera. Kamera itulah yang selalu menemaninya kemanapun. Bahkan sampai ke tempat kerja.

"Aku berangkat!!! Jaga rumah dengan manis ya semuanya!!!"

Yuto melangkahkan kakinya dengan riang ke taman. Rumahnya berada di pinggiran kota sehingga suasana sekitarnya sangat sepi. Yuto sangat suka suasana sepi karena dia bisa menikmati istirahat dengan tenang. Apalagi di pinggiran kota ini masih banyak serangga yang beterbangan, beda dengan di pusat kota.

---***---

Yuto telah sampai di taman. Dia melihat sekeliling. Suasanya benar-benar sepi. Hanya ada beberapa orang disana. Yuto tersenyum senang. Dia lalu segera mengeluarkan jaringnya dan mencari serangga besar yang ada disana.

"Huwaaa!!! Tolong!!!!"

Yuto terkejut ketika ada orang yang meminta tolong. Dia langsung mencari asal suara itu dan menemukan seorang pria tinggi sedang memeluk pohon. Yuto tidak bisa melihat dengan jelas muka orang itu karena dia menyembunyikan wajahnya di balik pohon. Yuto mendekati pria itu.

"Ada apa?", tanya Yuto. Yuto sedikit kasihan pada pria itu karena badannya terlihat gemetaran.

"To-tolong...", lirih pria itu pelan.

"Ada apa? Aku akan mencoba membantumu. Ada masalah apa?"

"Tolong... Singkirkan dia dariku"

Yuto menoleh ke belakang pria itu. Tidak ada orang yang berdiri disana.

"Dia?"

"Iya... Dia terus menempel padaku. Tolong cepat singkirkan dia. Aku sudah tidak tahan lagi"

Pria itu menunjuk ke punggungnya. Seekor kumbang besar menempel disana. Yuto langsung berteriak kegirangan hingga mengejutkan pria yang ketakutan itu.

"Uwahh!! Ini kumbang terbesar yang pernah kutemui! Selama ini aku hanya melihatnya di buku-buku. Aku tidak menyangka aku bisa menemukannya di tempat seperti ini!"

Yuto mengoceh kegirangan. Dia terus menatap kumbang itu dengan kagum. Dia sangat senang bisa menemukan species serangga langka di tempat seperti ini.

"Anoo... Bisakah kau mengambilnya sekarang?"

"Ah maaf", Yuto perlahan mengambil serangga itu dengan tangannya. Dia melakukannya dengan hati-hati agar kumbang itu tidak lari. Yuto tersenyum puas saat dia berhasil menangkap serangga itu. "Dia sudah kuambil"

"Terima kasih", jawab pria itu. Pria itu tiba-tiba terjatuh.

"Eh?! Kau tidak apa-apa?", tanya Yuto yang sedikit panik.

"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa lega serangga itu telah pergi dariku. Kakiku langsung lemas. Terima kasih ya"

Pria itu mendongak dan melihat ke arah Yuto. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah pria itu. Wajahnya terlihat cukup tampan untuk pria seumurannya. Pipinya yang sedikit chubby memberikan kesan imut saat melihatnya. Rambutnya yang lurus kecoklatan memberikan kesan 'liar dan seksi'. Yuto tidak bisa menggambarkan dengan jelas bagaimana tampang orang itu.

"Anoo..."

Yuto terkesiap saat pria itu berbicara lagi. Sesaat yang lalu dia memang terpaku oleh rupa pria itu.

"Ah. Namaku Nakajima Yuto. Aku tinggal di dekat sini"

"Takaki Yuya"

Pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Dan sekali lagi Yuto tidak tahu apakah pria ini terihat keren atau cantik.

"Maaf. Aku tidak bisa membalas uluran tanganmu", balas Yuto sambil tetap mengatupkan kedua tangannya dengan rapat.

"Kenapa?", tanya Takaki heran.

"Kalau aku membuka tanganku. Dia pasti kabur"

"Dia?"

"Iya. Dia"

Yuto membuka sedikit tangannya. Tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk bisa melihat apa yang ada di dalam tangannya. Takaki membuka lebar matanya saat melihat apa yang ada di dalam tangan Yuto.

"Uwaaa!!!! Dia masih ada disini??? Singkirkan dia dariku!!!"

Takaki langsung berlari menjauh meninggalkan Yuto yang kini tertawa geli melihat Takaki yang berlarian seperti orang gila.

"Imutnya... Tingkah dan wajahnya berbeda sekali...", gumam Yuto sambil masih terus memperhatikan Takaki yang semakin menjauh saat Yuto berjalan mendekatinya. Bahkan Yuto mulai menggoda Takaki dengan berpura-pura akan melepas serangga itu ke arahnya. Takaki meringis ketakutan. Membuat Yuto semakin semangat menggoda Takaki.

"Kumohon... Kumohon... Jauhkan dia dariku'"

Yuto akhirnya membuka kedua tangannya dan melepas serangga itu. Dia tidak tega melihat Takaki yang sepertinya mau menangis itu. Sebenarnya dia merasa sayang melepas serangga yang sudah lama dia cari. Tapi melihat Takaki yang ketakutan setengah mati, dia jadi tidak tega.

"Dia sudah pergi kok"

Yuto menunjukkan kedua tangannya sebagai bukti pada Takaki saat Takaki mulai bergerak menjauh karena Yuto mendekatinya. Takaki akhirnya diam di tempat.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menakutimu"

Yuto berusaha menahan tawanya. Dia sungguh ingin tertawa melihat ekspresi Takaki saat ini. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Bertolak belakang dengan tubuhnya yg tinggi dan terlihat keren.

"Tertawa saja. Tidak usah ditahan"

"Eh?"

"Tentu lucu kan melihat laki-laki sepertiku yang takut pada serangga?"

"Gomen...", Yuto menahan tawanya. "Huahahahaha...." Yuto melepas tawanya. Dia tidak sanggup lagi. "Kau sangat lucu. Aku tidak bosan melihatmu"

"Ugh..." Takaki memonyongkan bibirnya. Membuat wajahnya semakin terlihat imut. Yuto semakin tertawa melihat ekspresi Takaki.

"Maaf, maaf..." Yuto menepuk pundak Takaki. Tampaknya dia sudah puas tertawa. "Kau orang sini?"

Takaki menggelengkan kepalanya. "Aku ada pekerjaan di sekitar sini. Aku sedang beristirahat dan aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Aku mengunjungi taman ini untuk melepas penatku, tidak kusangka aku malah bertemu dengan malapetaka"

Yuto tersenyum lagi mengingat ekspresi Takaki tadi. Tapi dia berusaha menahan senyumnya agar Takaki tidak cemberut lagi. Walaupun Yuto ingin melihat lagi wajah Takaki yang cemberut itu. Menurutnya, sangat menggemaskan.

"Ah... Aku harus segera pergi" ujar Takaki sambil melihat jam tangannya. "Yabu akan memarahiku kalau aku terlambat. Dia orang yang sangat disiplin"

"Tunggu", Yuto menahan Takaki untuk pergi. "Apakah kita bisa bertemu lagi?"

Takaki terdiam sejenak, sepertinya dia sedang berpikir. "Kurasa, kalau takdir yang menghubungkan kita kuat, kita pasti bertemu lagi. Mungkin saja beberapa jam kemudian kita akan bertemu lagi kan?"

Yuto tersenyum. "Kau pintar berbicara manis. Sudah berapa banyak wanita yang jatuh hati pada kata-katamu itu?"

"Aku tidak tahu. Tapi itu sudah menjadi pekerjaanku, menyenangkan hati wanita"

"Apa maksudmu?", tanya Yuto. Tapi Takaki hanya menjawabnya dengan senyuman dan segera pergi meninggalkan Yuto begitu saja.

Yuto terus melihat punggung Takaki yang menjauh hingga sosok Takaki tidak terlihat lagi. Dia melihat ke arah kameranya. "Ah! Baka! Kenapa aku tidak memotretnya???", keluh Yuto. "Kalau aku bertemu dengannya lagi, aku pasti akan menangkapnya dengan lensa ini. Takaki orang yang menarik"

Yuto tersenyum lagi saat mengingat Takaki. Dia kemudian melanjutkan tujuannya datang ke taman ini. Mencari serangga baru.

---***---

"Kringg...."

Hp Yuto berbunyi saat dia bersiap menangkap seekor kumbang. Kumbang itu langsung terbang begitu mendengar suara hp. Yuto mengutuk siapapun yang sedang meneleponnya karena menggagalkan usahanya.

"Moshi-moshi...", jawab Yuto malas. Suaranya terdengar sedikit kesal.

"Ah... Yuto? Ini Yamada. Maaf mengganggumu di saat kau libur. Tapi, bisakah kau datang kemari? Kami kekurangan staff. Keito terjebak macet dan belum datang dari tadi. Kami tidak enak membuat model ini menunggu lebih lama lagi. Bisakah?"

"Yama-chan... Aku sekarang sedang libur. Dan kau tahu kalau aku tidak suka diganggu saat aku menikmati liburanku kan??"

"Tolonglah Yuto... Bantu aku. Aku tidak ingin Yuri memecatku. Bayaran Keito boleh kau ambil semua"

"Aku mengerti", Yuto menghela nafas panjang. Dia tidak tega membiarkan Yamada dipecat. "Dimana lokasinya?"

"Terima kasih Yuto... Kau memang bisa kuandalkan. Tempat kami ada di xxxxxxxxx"

"Eh? Dekat sekali. 10 menit lagi aku akan tiba disana"

Yuto bergegas membereskan peralatannya dan menuju ke lokasi yang disebut oleh Yamada. Lokasi pemotretan kali ini memang dekat dengan tempatnya berada. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

---***---

Yuto telah sampai di lokasi pemotretan. Banyak orang sudah berkumpul disana. Yuto bisa melihat beberapa orang yang tampaknya model pemotretan kali ini sedang berkumpul disana.

"Eh? Takaki?", gumam Yuto saat melihat sosok laki-laki yang persis dengan Takaki. Yuto ingin mendekat untuk memastikan penglihatannya, tapi Yamada menghampirinya. Mukanya terlihat sangat lega saat melihat Yuto.

"Yuto!!! Syukurlah kau bisa datang kemari! Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau juga tidak bisa datang"

"Tenanglah Yama-chan. Lalu, apa pekerjaan kali ini?"

"Ah, ini pemotretan untuk majalah fashion. Ada 3 model yang akan kau foto hari ini. Masing-masing dari mereka punya konsep sendiri-sendiri. Kemarilah, akan kuperkenalkan kau dengan modelnya"

Yamada dan Yuto berjalan menuju kumpulan model yang sedang dirias. 2 orang model sudah bersiap untuk dipotret. Mulut Yuto menganga saat melihat salah satu model yang masih dirias. Rupanya dia memang tidak salah lihat.

"Ini Inoo Kei. Konsep fotonya nanti adalah 'beauty'. Yang ini Arioka Daiki, konsep fotonya 'childish', dan yang terakhir..."

"Takaki Yuya", gumam Yuto memotong ucapan Yamada. "Kita bertemu lagi"

Yamada memandang Yuto heran. Takaki yang baru saja selesai dirias itu tampak sangat terkejut melihat Yuto berdiri di hadapannya.

"Etto... Nakajima kun?", ucapnya takjub. Dia terlihat sangat kaget sekarang.

Yuto menatap wajah Takaki dengan seksama. Imejnya saat ini berbeda jauh dengan yang tadi. Wajahnya terlihat lebih 'wild' dan 'sexy'. Membuat Yuto sedikit terkejut.

"Kau salah satu fotografer? Tidak heran kau membawa tas kamera tadi", Takaki menunjuk tas kamera milik Yuto.

"Begitulah, aku mendadak diminta datang kemari. Sebenarnya aku libur. Tidak kusangka akan bertemu lagi denganmu disini. Rupanya takdir kita berdua sangat kuat ya..."

Takaki tersenyum. "Sepertinya begitu. Senang bertemu lagi denganmu, Nakajima-kun"

END