Jumat, 23 Oktober 2015

TEN KNIGHTS

PART 41

Dengan penuh waspada dan hati-hati, kami melangkah masuk ke dalam. Jalan yang berada di balik dinding ini tidak jauh berbeda dengan jalan lorong yang kami lalui tadi. Penerangan yang ada pun hanya berasal dari obor dari tangan Yuya. Aku terus memasang mata dan telingaku lebar-lebar. Begitu pula dengan para ksatria yang lain. Hikaru berjalan di depan menuntun kami. Keito terus menerus melihat bola kristalnya.

Tiba-tiba, tidak jauh dari tempat kami berada, terdengar suara gemuruh. Bersamaan dengan itu, kami merasakan getaran. Getaran ini persis seperti yang kurasakan sebelumnya, saat aku masih bersama Chinen, saat aku bertemu dengan prajurit kegelapan itu.

“Berhati-hatilah, kurasa ini bukan getaran biasa”, aku memperingati para ksatria yang lain. Tampaknya mereka juga mengerti kalau ini bukan gempa biasa. semuanya memasang tampang yang cukup serius. Aku bisa merasakan kalau gempa ini semakin dahsyat. Tanah yang ada di atas kami bahkan sampai runtuh akibat gempa ini. ‘Mungkinkah dia datang kembali? Si prajurit kegelapan itu?’.

“AWAASSS!!!!!”, jerit Keito. Bertepatan dengan itu, tanah yang ada di atas kami mulai runtuh. Tidak hanya tanah, batu-batu besarpun berjatuhan. Kami tidak mempunyai waktu untuk lari. Aku segera mendorong Inoo dan Daiki agar tidak terkena reruntuhan ini. Hikaru juga menarik tubuh Keito agar bisa menghindar dari reruntuhan. Reruntuhan itu telah berada sangat dekat dengan kami. Kali ini, aku pun tidak akan bisa menghindarinya. Aku menutup mataku, dan berharap sesuatu akan terjadi.

“YAMADA!!!”, aku bisa mendengar jeritan Daiki. Aku membuka mataku, ‘aku selamat! Tapi, bagaimana bisa?’. Aku melihat ke arah atas. Reruntuhan itu berhenti tepat di atas kami, seakan-akan ada sesuatu yang menghalangi mereka agar tidak jatuh menimpa kami.

“Kalian berdua tidak apa-apa?”, Yuya berdiri di depanku. Tangannya mengarah ke atas, seakan-akan dia menahan sesuatu. Aku kemudian mengerti, Yuya menggunakan kemampuannya untuk menghentikan reruntuhan itu dan melindungi kami. Hikaru terbaring tidak jauh dari tempatku berada.

“Terima kasih Yuya”, Yuya mengulurkan tangannya padaku untuk membantuku berdiri. Kami berdua lalu membantu Hikaru juga. Aku melihat ke sekeliling. Kami bertiga terkurung akibat reruntuhan tadi.

“Yuya!!! Yamada!!! Hika!!! kalian baik-baik saja?”, aku mendengar suara Daiki lagi. Suara itu berasal dari balik setumpuk batu besar. Tampaknya kami dipisahkan oleh batu ini.

“Kami baik-baik saja Daichan! Kau sendiri bagaimana??”, balas Yuya.

“Aku baik-baik saja. Keito dan Inoo juga baik-baik saja!”, seru Daiki lagi. Aku menghela nafas lega. Untunglah semuanya baik-baik saja.

“Baiklah, ayo kita hancurkan batu besar ini agar kita bisa berkumpul bersama dengan mereka lagi”, Yuya mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menghancurkan batu besar itu.

“Kurasa tidak akan semudah itu”, kata Hikaru.

“Apa maksudmu?”, tanya Yuya lagi.

“Kurasa dia tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja”, Hikaru menunjuk ke arah bagian lorong yang gelap. Aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Bau amis mulai tercium. Lama kelamaan sosok itu semakin jelas.

Aku kenal sosok itu, aku tahu wajah itu, aku kenal bau ini, “Kamiyama....”, ucapku pelan. Prajurit kegelapan yang kuhadapi tadi, yang membawa pergi Chinen.

“Yamada..... tidak kusangka akan bertemu denganmu lagi......”, Kamiyama melihat ke arahku dengan mata sayunya.

“Kau kenal dia Yamada??”, tanya Hikaru.

“Ya, dialah prajurit kegelapan yang kuhadapi tadi. Dia yang membawa Yuri pergi”. Kamiyama nmelihatku dengan senyum mengejek. Aku sedikit kesal saat dia melihatku seperti itu. Seakan dia merendahkanku.

“Bau apa ini?? apakah bau ini berasal dari dia?”, Yuya menutup hidungnya.

“Ya, begitu dia muncul, bau ini mulai tercium”, balas Hikaru.

“Tampaknya dia bukan lawan yang mudah. Kalian mencium bau amis ini kan? Ini bukan bau amis biasa, ini bau darah. Kalau sampai bau darah ini tercium sangat kuat, berarti dia sudah sering berlumuran darah”, Yuya memperingati kami. Dia berjalan ke arah batu besar yang menghalangi kami, “Daichan! Kau bisa mendengarku?”.

“Ya! Ada apa Yuya? apa yang terjadi?”, balas Daiki dari seberang batu.

“Maafkan aku, aku tidak bisa berkumpul dengan kalian sekarang. Ada salah satu prajurit kegelapan disini. Dia adalah musuh yang tadi dihadapi oleh Yamada, dan tampaknya akan sangat sulit menghadapinya. Kami bertiga akan menghalangi dan mengalahkannya terlebih dahulu. Kalian pergilah duluan, nanti setelah kami selesai, kami akan menyusul kalian”, seru Yuya lagi.

Daiki terdiam beberapa saat. Tidak lama, suaranya terdengarlagi, “Baiklah! Kami bertiga akan pergi terlebih dahulu ke tempat segel. Kami akan berusaha untuk menyelamatkan Chii dan Yuto. Segera susul kami jika kau sudah selesai!”.

“Keito! Jaga Inoo dan Daiki! Aku percayakan padamu untuk menjaga para putri!", seru Hikaru.

“Tenang saja. kau bisa mengandalkanku!”, balas Keito. “Inoo, Daichan, ayo kita pergi!”.

“Daichan! Jangan lakukan pertarungan yang tidak perlu. Kalau kau bertemu dengan musuh, larilah terlebih dahulu, jangan berhadapan musuh secara langsung! Kau mengerti??”, seru Yuya lagi.

“Tenang saja! aku bisa menjaga diriku kok!”, balas Daiki. Tak lama, aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Tampaknya mereka bertiga sudah berjalan terlebih dahulu ke arah tempat segel. Tinggal kami bertiga yang terjebak di dalam gua dan bersiap menghadapi musuh yang ada di hadapan mata.

Aku mengeluarkan pedangku, “kalian berdua, berhati-hatilah! Dia bisa melukai kita tanpa mendekati kita. Terlebih lagi, kekuatan serangannya sangat dahsyat. Tendangan kakinya seperti kita dihantam oleh sebuah truk besar”.

Hikaru menodongkan pistolnya ke arah musuh, Yuya memasang kuda-kudanya. Mereka berdua berkonsentrasi penuh terhadap musuh. Hikaru berjalan menuju sisi kanan musuh, sedangkan Yuya menuju sisi kiri musuh. Aku tetap berada di tempat, di hadapan Kamiyama. Kami berniat menyerangnya darisegala arah, hingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk kabur.

Sementara itu.....

Inoo, Daiki, dan Keito, terus berjalan menuju ketempat segel. Inoo berjalan di depan, tangannya memegang lampu kecil yang berasal dari jam tangannya, sama seperti milik Chinen. Keito berjalan disampingnya sambil melihat bola kristalnya. Saat berjalan, beberapa kali Daiki melihat ke arah belakang. Mukanya menunjukkan ekspresi cemas. Meskipun dia berusaha menunjukkan muka sedang baik-baik saja, tapi Inoo dan Keito tahu kalau Daiki mengkhawatirkan tiga orang yang tertinggal di belakang. Mereka berdua juga merasakan hal yang sama seperti Daiki.

Keito kembali mengamati Daiki. Dia melihat kedua tangan Daiki yang putih bersih, ada beberapa bekas luka di kedua tangannya. Tampaknya luka itu berasal dari tali yang menjerat Daiki saat dia dikurung. Keito terus mengamati kedua pergelangan tangan Daiki.

“Ada apa Keito? kau kepikiran dengan bekas luka ini?”, Daiki langsung menutupi bekas luka di kedua tangannya. Dia menaruh kedua tangannya ke belakang.

“Hmm... ah tidak”, sekali lagi, Keito tampak terkejut saat Daiki menyadari kalau dia mengamatinya. “Bekas lukamu itu, apakah tidak sakit?”, sahut Keito lagi.

“Ah. Sudah tidak terasa sakit lagi kok. Berkat obat yang diberikan oleh Inoo”, Daiki tersenyum ke arah Inoo. Inoo melihat kedua pergelangan tangan Daiki yang memerah. Kedua tangannya tampak mulus, tidak ada apapun di tangan Daiki, meskipun bekas merah itu tampak seperti gelang yang melingkari tangannya. Inoo kemudian melihat ke arah Daiki dan mengamatinya sejenak. Inoo melihat sekilas ke arah Keito yang kebetulan juga sedang melihatke arahnya. Keito mengangguk pelan. Tampaknya Inoo mengerti apa yang dimaksud oleh Keito. Dia kemudian balas tersenyum pada Daiki.

“Jangan paksakan dirimu. Jika ada musuh yang datang, serahkan pada kami”, Inoo memegang kedua tangan Daiki, Daiki mengangguk pelan,dan tersenyum.

Mereka bertiga terus berjalan, mereka menemui sebuah anak tangga. Mereka memutuskan untuk menaiki tangga tersebut. Mereka terus menaiki tangga, kini mereka telah sampai ke sebuah ruangan yang cukup besar. Penerangan di ruangan ini cukup jelas. Jendela-jendela besar yang ada, meneruskan sinar matahari sehingga sinar itu bisa menerangi dalam ruangan.

“Tempat ini, jangan-jangan....”, Keito mengamati ke sekeliling ruangan. Ada beberapa pintu di sudut ruangan. Dinding ruangan itu penuh dengan ukiran. Di bagian atas ruangan, terdapat sebuah simbol yang cukup besar.

“Tidak salah lagi, ini tempat segel. Kita sudah berada di dalam”, jawab Daiki.

“Lalu, dimana segel itu berada?”, tanya Inoo.

“Nah, itu masalahnya. Aku lupa”, ucap Daiki sambil menjulurkan lidahnya. Inoo menghela napas, lalu melihat ke arah Keito, “Kau bisa lihat dimana tempatnya berada Keito?”.

“Ah, maaf, aku dari tadi berusaha melihat keseluruhan tempat ini, tapi aura kegelapan di tempat ini sangat kuat, sehingga aku tidak bisa melihat. Aura kegelapan ini membentuk semacam tabir penghalang sehingga aku tidak bisa melihatnya dengan kemampuanku”, jawab Keito.

Inoo melihat ke pintu-pintu yang berada di ujung ruangan. “Tidak ada cara lain, terpaksa kita harus memeriksa satu persatu pintuitu. Kuharap salah satu diantaranya menuju tempat dimana segel itu berada”, Inoo mulai berjalan menuju ke salah satu pintu. Dia membuka pintu itu dengan hati-hati. Sebuah ruangan yang tidak kalah luas dengan ruang yang pertama berada di hadapan mereka. Mereka bertiga kemudian berjalan masuk ke dalam.

“Aku sudah menunggumu, tuan putri yang cantik”, terdengar suara seseorang dari balik pintu. mereka semua langsung menoleh ke asal suara. Inoo dan Keito membelalakkan mata mereka saat melihat sosok yang berdiri di hadapan mereka.

“Kau.... kenapa kau ada disini?”, Keito menunjuk kearah cowok yang berada di hadapannya. Cowok itu adalah cowok yang mereka temui sebelumnya.

“Loh?? Kalian tahu siapa dia?”, tanya Daiki yang tidak tahu menahu soal pemuda yang ada dihadapannya. Tapi Inoo dan Keito tampaknya sama sekali tidak menghiraukan Daiki. Pandangan mereka tetap tertuju pada pemuda yang ada di hadapan mereka.

“Kenapa? Ini sudah menjadi tugasku untuk menjaga tempat ini”, jawab pemuda itu. Dia mulai berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.

“Dimana Yabu? Bukankah kau tadi berhadapan dengannya? Dimana dia?”, tanya Inoo tidak sabar. Pikiran buruk mulai menyerang Inoo. Dia berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada Yabu.

“Yabu? Ah, maksudmu dia?”, pemuda itu menunjuk ke salah satu arah. Di arah yang ditunjukkan olehnya, terdapat tiga tiang yang berdiri tegak. Terdapat sesuatu yang menempel di masing-masing tiang tersebut. Inoo, Keito, dan Daiki sangat terkejut saat mengetahui apa yang menempel ditiang tersebut. Kemarahan mulai menyerang Inoo saat dia melihat Yabu terikat di salah satu tiang tersebut. Di samping kanan kiri Yabu, Chinen dan Yuto juga terikat disana.

Inoo menatap pemuda itu dengan tatapan mata benci. Tidak hanya itu, aura kemarahan dan kebencian keluar dari tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Inoo langsung menyerang Hamada, prajurit kegelapan itu, dengan kedua pedang miliknya. Hamada mengeraskan kedua tangannya dan bersiap untuk menyerang balik Inoo.

“INOO JANGAN!!!”, Daiki memperingatkan Inoo. Tanpa disadari oleh Inoo, Hamada telah berdiri di hadapannya. Tangannya telah berubah menjadi seperti pedang panjang. Hamada meluruskan tangannya dan bersiap untuk menebas Inoo dengan tangannya. Jarak mereka berdua sangat dekat sehingga tidak ada kesempatan bagi Inoo untuk menghindar. Tidak ada waktu lagi, tangan Hamada kali ini benar-benar telah berada sangat dekat dengan Inoo. CRASH! Darah mulai bercucuran akibat sabetan tangan Hamada.

“KEITOOO!!!!”, jerit Daiki saat melihat Keito tersungkur di hadapan Inoo. Darahnya mengucur deras dari punggungnya. Sabetan tangan Hamada mengenai punggung Keito. Tampaknya Keito berusaha melindungi Inoo dengan tubuhnya. Inoo menahan tubuh Keito yang terjatuh.

“Keito! kau tidak apa-apa? Kenapa kau melindungiku?”, Inoo mulai meneteskan air matanya. Tangannya masih memegang luka Keito, sebisa mungkin dia berusaha menghentikan darah yang keluar agar tidak banyak darah yang keluar lagi.

“Aku... sudah berjanji pada Hika untuk melindungi kalian berdua....”, Keito menatap lurus ke arah Inoo. “Terlebih lagi.... Yabu akan marah padaku kalau melihatmu terluka”, Keito mengusap air mata Inoo dengan tangannya.

“Tapi.... kau.....”, Inoo mulai terbata-bata. Dia semakin tidak sanggup menahan air matanya. Rasa bersalah mulai menghantuinya. Akibat kecerobohannya, Keito terluka karena melindunginya.

Hamada yang berdiri sejak tadi melihat Inoo dan Keito, merasa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menghabisi mereka berdua. Dia mulai berlari menghampiri mereka berdua dengan niat membunuh. Baik Keito maupun Inoo sama sekali tidak menyadari pergerakan Hamada. Sekali lagi, Hamada mengayunkan tangannya ke arah mereka berdua. Kali ini dia yakin bisa mengenai mereka. BUAGH! Tendangan Daiki tepat mengenai tubuh Hamada hingga menyebabkan dia terpental cukup jauh.

“Keito, bagaimana keadaanmu?”, Daiki duduk disamping Keito. Darah masih mengucur deras dari lukanya. Inoo memberikan pil obat yang dia bawa dan memberikannya pada Keito. Dengan segera, Keito meminum pil itu.

“Sekarang sudah agak baikan kok”, jawab Keito.

“Begitukah? Baguslah”, Daiki menghela napas lega. Dia kemudian melihat ke arah Inoo yang masih terduduk diam. “Inoo, aku butuh bantuanmu”.

“Apa?”, tanya Inoo sambil berusaha mengusap bekas air matanya yang keluar.

“Aku punya rencana. Aku akan bertarung menghadapi musuh ini. Pada saat itu, kau bebaskan ketiga teman kita yang terikat disana”, ucap Daiki mantap.

“Tidak! Aku akan ikut bertarung bersamamu. Kau tidak bisa bertarung sendirian. Apalagi dengan kondisimu yang seperti itu”, Inoo menggenggam kedua tangan Daiki dengan erat. Keito juga melihat ke arah Daiki. Sekilas Daiki menunjukkan ekspresi muka terkejut.

“Rupanya kalian berdua menyadarinya ya... pantas Keito melihatku terus menerus...”, Daiki menghela napas dan melihat ke arah Keito. Keito hanya menunjukkan senyum tipis di wajahnya.

“Oleh karena itu, aku tidak akan membiarkanmu bertarung. Setidaknya kita berdua bersama-sama menghadapinya”, ucap Inoo mantap.

“Inoo, dengarkan baik-baik. Menyelamatkan mereka bertiga juga salah satu tujuan kita datang kemari. Mereka bertiga diikat disana kan? Aku bisa melihat kalau mereka bertiga juga diikat oleh sebuah segel sama seperti aku diikat. Hanya kau yang bisa membebaskan mereka bertiga. Oleh karena itu, segera bebaskan mereka, dan kita akan menyerang musuh bersama-sama. Semakin banyak orang, akan semakin baik kan?”, Daiki mengedipkan sebelah matanya.

“Tapi, kau tidak akan bisa melawannya sendirian...”,ucap Inoo lagi.

“Aku akan mengulur waktu dan mengalihkan perhatiannya. Selama itu, kau harus berusaha membebaskan mereka. Lebih cepat lebih baik, karena aku sendiri tidak tahu sampai berapa lama aku bisa menahannya”, Daiki mengambil kedua pedang Inoo yang terjatuh. “Aku pinjam pedangmu ya”.

“Tapi....”, Inoo masih merasa cemas dengan keadaan Daiki. Dia masih belum bisa meninggalkan Daiki sendirian untuk bertarung.

“Kau tenang saja Inoo... Daiki tidak sendirian, aku akan membantunya dari sini”, Keito yang sedari tadi terdiam mengamati kedua temannya itu akhirnya mulai berdiri sambil memegang bola kristal di tangannya.

“Kau bisa bertarung Keito?”, tanya Daiki tidak percaya.

“Aku juga ksatria sama sepertimu. Lagian, tidak keren kan kalau aku dilindungi oleh seorang cewek?”, jawab Keito. Daiki tersenyum, dia lalu melihat ke arah Inoo, dan memberikan tanda padanya untuk segera pergi. Hamada yang tadi jatuh tersungkur mulai berusaha untuk bangkit kembali.

“Inoo, cepat pergi! Serahkan urusan dia pada kami!”, Daiki mendorong pundak Inoo. Inoo pun segera berlari menuju Yabu dkk yang sedang terikat. Hamada yang melihat Inoo menuju para tawanan pun langsung berusaha berlari untuk mencegahnya membebaskan tawanan tersebut. Sekali lagi, Hamada mengubah tangannya menjadi sebuah pedang yang tajam, tangannya mulai terayun tepat di hadapan Inoo, akan tetapi, dengan sigap Daiki menahan serangan Hamada.

“Kau....”, geram Hamada. Dia semakin gusar karena dua kali serangannya berhasil digagalkan oleh Daiki.

“Maaf ya, tapi tidak akan kubiarkan kau mendekati Inoo lebih dari ini”, Daiki tersenyum mengejek ke arah Hamada. Kali ini, dia balas menyerang Hamada dengan dua pedang Inoo yang berada di tangannya. Pertarungan sengit terjadi di antara mereka berdua.

Di bawah tanah, Yamada dkk

Pertarungan sengit juga terjadi di bawah tanah. Serangan kombinasi dari tiga ksatria mampu mengurangi serangan dari Kamiyama. Saat kamiyama mulai menyerang, serangannya berhasil ditahan oleh Yuya dengan kemampuannya. Saat itu, Hikaru akan menembakkan pistolnya ke arah musuh. Saat musuh terluka akibat terkena peluru tembakan, aku akan menyerang maju dan menghunuskan pedangku padanya. Meskipun begitu, dia belum juga lumpuh, meskipun daya serangnya sedikit melemah, akan tetapi tidak ada tanda dari musuh kalau dia akan kalah.

“Benar-benar lawan yang merepotkan”, gerutu Hikaru saat mengambil jarak sejenak dan menggunakan kesempatan yang sedikit itu untuk mengatur napas dan menghimpun energi.

“Tapi, kurasa dia sudah mulai melemah. Daya serangnya sudah mulai menurun dibandingkan dengan yang tadi”, kataku sambil terengah-engah.

“Aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera mengalahkannya dan menyusul Daichan. Aku tidak bisa membiarkannyasendirian”, ucap Yuya.

“Daichan sedang bersama dengan Keito dan Inoo. Kau tidak usah khawatir. Terlebih lagi, Daichan sangat tangguh bila bertarung kan? Baik kemampuan khususnya maupun keahlian beladirinya jauh lebih baik dan lebih kuat dari kita semua kan? Bila mereka bertemu dengan musuh, mereka pasti bisa mengatasinya”, kataku sambil terus mengamati pergerakan dari Kamiyama.

“Justru itulah masalahnya, aku tidak ingin Daichan bertarung dengan musuh”, aku dan Hika melihat ke arah Yuya dengan tatapan heran, Yuya terdiam sejenak dan akhirnya mulai berkata, “Daichan... dia telah kehilangan kemampuannya. Sejak aku menemukannya di kediaman Jack, aku tahu kalau dia sudah tidak memiliki kemampuan khusus lagi. Dia berusaha menyembunyikannya agar tidak membuat kalian khawatir. Yang tersisa saat ini hanyalah kemampuan ilmu beladirinya saja. Aku harap dia tidak bertarung dengan musuh yang sangat kuat”.

Tsuzuku ~~~

Senin, 12 Oktober 2015

AKUMA NO YOROI

Part 28
“Apa maksudnya gara-gara aku?”
Yama masih tidak mengerti dengan perkataan Yuto. Apa maksudnya kalau Ryuu berubah jadi demon gara-gara dia?
“Aku akan menceritakan suatu kisah yang menarik padamu”, Yuto diam sejenak untuk mengambil nafas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. “Dahulu kala, di sebuah hutan, tinggallah 2 orang saudara kembar. Mereka berdua memiliki kekuatan spiritual, sehingga mereka bisa melihat makhluk gaib. Seringkali mereka memperingatkan penduduk desa mengenai keberadaan makhluk gaib yang berbahaya. Tapi penduduk desa malah takut pada mereka dan akhirnya mereka berdua diusir dari desa tersebut. Itulah alasannya kenapa mereka berdua tinggal di hutan”
“2 bersaudara itu akhirnya mencoba hidup tenang di hutan. Berkali-kali mereka harus bersembunyi dan lari dari kejaran makhluk gaib yang tertarik pada kekuatan spiritual mereka. mereka terus hidup seperti itu selama bertahun-tahun. Lalu, sebuah pertemuan mengubah takdir mereka. salah satu Anak kembar itu bertemu dengan Yamainu, dewa pelindung gunung, sosok gaib yang menyerupai anjing besar, bulunya berwarna emas, dan memiliki surai panjang yang menyerupai singa di kepalanya. Yamainu itu terlihat sangat lemah, sehingga anak itu memutuskan untuk merawat Yamainu itu”
“Yamainu itu sangat berterimakasih kepada anak manusia yang telah menolongnya. Di saat dia akan mengucapkan terima kasih, anak itu telah menghilang. Yamainu itu mengubah sosoknya menjadi seperti seorang manusia dan mencari keberadaan anak kembar itu. setelah beberapa lama, dia berhasil menemukan anak itu. tapi anak itu sama sekali tidak bisa diajak bicara. Bahkan dia terkesan dingin. Yamainu itu tidak putus asa. Dengan gigih dia berusaha untuk mengajak anak itu mengobrol. Yamainu itu tahu kalau anak itu sangat kesepian, sehingga Yamainu itu memutuskan untuk menjadi teman anak itu”
“Berkat usaha gigih Yamainu, mereka berdua bisa berteman dekat. Yamainu juga bisa mengenal adik anak itu. mereka bertiga pun sering bermain bersama. Saking asyiknya waktu kebersamaan mereka, Yamainu itu melupakan suatu hal yang penting. Ya, dia adalah dewa pelindung gunung, tugasnya untuk melindungi gunung dari hawa jahat yang bisa merusak kehidupan di gunung tersebut. Karena dia sudah melalaikan tugasnya, gunung itu akhirnya dipenuhi oleh demon yang ingin mengambil alih gunung tersebut”
“Yamainu yang menyadari hal ini, langsung bergegas meninggalkan hutan dan kembali ke tempat tinggalnya. Dia lalu menumpas demon yang merusak gunung tersebut. Di saat yang bersamaan, demon lain yang berada di hutan mulai mendekati anak kembar tersebut. Mereka sudah lama mengincar anak kembar itu, tapi karena Yamainu selalu berada di dekat mereka, maka para demon tidak berani mendekatinya. Karena sudah terbiasa hidup tentram dengan Yamainu, kedua anak itu lupa kalau para demon mengincar mereka. Sehingga mereka pun akhirnya bisa diserang dengan mudah oleh para demon tersebut. Keadaan bertambah parah. Para demon yang berhasil melarikan diri dari gunung juga menyadari keberadaan si kembar ini. mereka melampiaskan amarah mereka pada anak kembar itu yang merupakan teman dekat Yamainu. Maka, anak kembar ini dikejar oleh para demon yang berasal dari hutan dan juga dari gunung”
“Di tengah putus asa, salah satu anak kembar itu memanggil salah satu demon kelas S. Dia ingin mengikat kontrak untuk membasmi para demon itu dan menyelamatkan adiknya yang sudah terluka parah. Tapi sayangnya, demon kelas S itu malah membuat anak kembar itu menjadi demon. Berkat itu, mereka bisa mengalahkan demon kelas rendah yang mengejar mereka. Mereka akhirnya pergi ke gunung untuk menemui Yamainu dan memastikan keberadaan teman mereka itu. Mereka tidak tahu kalau ingatan mereka saat masih menjadi manusia akan hilang dari ingatan makhluk yang pernah mengenal mereka”
Yuto tersenyum sambil melihat ke arah Yama yang tampak pucat. Tampaknya dia mulai mengerti apa yang terjadi selanjutnya. Ingatannya tentang peristiwa yang mengerikan itu berputar kembali di kepalanya.
“Apa yang terjadi?”, tanya Keito yang juga ikut mendengarkan kisah itu. Dia ingin mengetahui semuanya. Masa lalu Yama dan juga hubungannya dengan demon yang sudah memakan kekuatan Yama tersebut.
“Yamainu itu tidak mengenal anak kembar itu. Dia mengira kalau anak kembar itu juga adalah salah satu demon yang ingin mengambil wilayahnya. Dia pun menyerang kedua anak kembar yang kini telah menjadi demon tersebut”
Yama terduduk lemas. Mukanya semakin pucat. Keringat bercucuran dari kepalanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi belum ada setetespun air yang mengalir dari matanya. Mulutnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satupun suara yang keluar. Keito ingin sekali mendekati Yama dan menghiburnya, tapi entah kenapa kaki Keito terasa sedikit kaku. Rasanya berat menghampiri Yama saat ini.
“Nah... aku mau mencari udara segar dulu. Aku capek karena sudah bekerja keras mengeluarkan kekuatan dewa pelindung itu. Aku juga sudah bercerita panjang lebar mengenai dongeng yang indah dan mengharukan”, Yuto melambaikan tangannya sambil berjalan keluar.
“Yuto, kalau kau mau pergi makan, ajak dia”
Yuto berhenti sejenak. Yuya tiba-tiba muncul sambil memikul Hikaru di pundaknya. BRUGH. Yuya melemparkan tubuh Hikaru begitu saja. Hikaru hanya bisa menutup matanya pelan akibat tindakan kasar Yuya.
“Uwah, kasihan sekali kau Hikaru”
Inoo tersenyum melihat kondisi Hikaru. Yabu hanya melihat ke arah Hikaru sekilas lalu melanjutkan membaca bukunya. Kondisinya kini terlihat mengenaskan. Kulitnya berwarna putih pucat dan keriput. Seakan-akan tubuh Hikaru kini hanya berisi tulang saja. Matanya kini berwarna pink, tidak merah menyala seperti biasanya.
“Seperti biasa, kau tidak pernah setengah-setengah saat makan ya, Yuya”. Yuto memikul Hikaru. Dia membawanya seperti karung beras. “Karena aku kasihan padanya, aku akan membawanya bersamaku”
“Yuto”, Inoo melemparkan sebuah kantung pada Yuto. “Masukkan sisa daging makanan kalian disitu”
“Aku mengerti”, jawab Yuto sambil memasukkan kantung itu pada saku bajunya.
“Kalian mau pergi makan?”, tanya Keito.
Yuto menoleh ke arah Keito. “Benar”
“Kalian... akan mencari makan dimana?”, Keito bergidik ngeri saat mengingat apa ‘makanan’ kedua demon itu. Nyawa dan tulang manusia.
“Bukan urusanmu”, jawab Yuto acuh.
Keito menahan Yuto. Dia mencengkeram erat lengan Yuto. “Tentu saja itu urusanku. Aku tidak mau kalian menyakiti atau membunuh manusia”
Yuto menghela nafas. “Dengar bocah. Aku tidak mau diatur oleh manusia. Aku akan mencari makanan sesuka hatiku. Kau sendiri tidak bisa menyediakan makanan untukku, jadi jangan ikut campur!”
Keito perlahan melepaskan tangannya. Tatapan dingin Yuto membuatnya sedikit takut. Tatapannya benar-benar berbeda dengan tatapan Inoo, Yabu, atau Hikaru. Itulah tatapan demon kelas S. Mata merah mereka bagaikan api yang membakar mental manusia yang melihatnya.
Yuto langsung melesat pergi setelah Keito melepaskan tangannya. Tidak sampai 1 detik, sosok mereka berdua telah hilang dari hadapan semuanya.
Yama masih terduduk lemas. Di hadapannya terbaring sosok Ryuu yang masih tidak sadarkan diri. Chii mendekat ke arah Yama dan mengelus punggung rekannya. Perlahan, Yama memegang tangan Chii dan memeluknya. Chii hanya bisa diam saja saat rekannya itu meminjam dadanya untuk bersandar.
“Sebenarnya, apa yang terjadi? kenapa semua ini terjadi? apa? Apa maksudnya?”
Keito mencari sosok Inoo, dia ingin bertanya padanya mengenai kutukan itu dan masa lalunya dengan Okamoto Kaoru. Tapi, sosok Inoo tidak ada di ruangan itu. Yabu dan Yuya juga menghilang. Para demon itu bersembunyi di suatu tempat yang tidak diketahui Keito. Tapi Keito tahu kalau mereka bertiga masih ada di sekitar rumah karena dia tidak merasa ada yang melewati pelindung yang dipasang di sekitar rumah selain Yuto dan Hikaru yang baru saja melewatinya.
“Ayah, bisakah ayah memberitahuku apa saja yang ayah lakukan saat ayah menghilang? Aku ingin mengetahui SEMUANYA”
---***---
“Aku bisa merasakan hawa keberadaan Yuto”, Taiga yang sedari tadi diam tiba-tiba berbicara. “Hikaru juga sedang bersamanya, tapi hawa keberadaannya sangat lemah sehingga aku tidak bisa mendeteksinya”
“Bunuh dia. Aku tidak ingin ada lagi demon kelas S yang berkhianat. Yuto jauh lebih berbahaya dari Yuya. Dia sepertinya merencanakan sesuatu. Bawa Daiki bersama dengan kalian. Dia bisa memakan kekuatan Yuto dan Hikaru”
---***---
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi tirus Yabu. Yuya bersiul ringan melihat adegan itu. Jarang sekali dia melihat kedua demon itu bertengkar. Inoo terkenal dengan poker facenya, sedangkan Yabu terkenal dengan sifat tenangnya. Sehingga jarang sekali melihat kedua demon ini saling berselisih satu sama lain.
“Kenapa kau memberitahu mereka soal itu?”
Yabu memegangi pipinya yang habis ditampar. Inoo kini melihatnya dengan mata yang berapi-api. Tampaknya dia marah. Yabu tersenyum. Ini pertama kalinya dia melihat demon berparas cantik itu menunjukkan emosinya.
“Pantas saja kau dipanggil Hime-sama. Tidak hanya parasmu yang cantik seperti wanita, kekuatanmu juga seperti seorang wanita”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
“Rupanya wanita itu sudah mempengaruhimu sampai seperti ini. Aku mengenalmu sebagai demon yang egois, suka seenaknya sendiri, dan licik. Tapi, tidak kusangka kau melakukan semua ini demi seorang wanita”
“Aku ini jenius. Aku tidak sama dengan kalian semua”
“Kenapa kau melakukan ini semua Inoo? Apakah karena kau dan wanita itu.....” Yabu terdiam dan tidak meneruskan kalimatnya. Dia mengamati reaksi Inoo. “Sudah kuduga. Ternyata memang begitu kejadiannya”, gumam Yabu saat melihat reaksi Inoo yang sesuai tebakannya. “Aku memang sudah melarangmu berhubungan dengan wanita itu. Dan aku sudah menyangka kalau akhirnya akan jadi seperti ini”
Yabu mendekat ke arah Inoo. Dia mengusap pelan rambut demon itu. “Semoga rencanamu berhasil”, bisik Yabu. Inoo sedikit terkejut mendengar bisikan Yabu. Dia melihat ke arah Yabu yang diam-diam tersenyum ke arahnya.
Inoo tahu kalau Yabu telah mengetahui semuanya. Yah, Yabu adalah tetua demon. Dia adalah demon kedua yang telah hidup lama setelah Raja Demon. Yang mengubah Yabu menjadi demon tidak lain adalah Raja Demon. Raja Demon sendirilah yang memilih Yabu untuk menjadi orang kepercayaannya. Tapi kini Yabu telah mengkhianati Raja Demon dan memilih untuk mengikuti rencana Inoo.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?”, Yuya memecah keheningan yang tercipta di antara Yabu dan Inoo. “Jujur saja, aku tidak ingin menuruti bocah itu. Tapi aku juga tidak bisa kembali ke istana karena semuanya telah mencapku sebagai pengkhianat”
Yuya berjalan menuju ke arah Inoo. Dia mendesak mundur Inoo sehingga dia tidak bisa melarikan diri. “Sebaiknya kau jelaskan semuanya padaku, kenapa kau melakukan semua ini dan apa tujuanmu. Terutama kenapa Yuto juga bekerjasama denganmu”
Inoo tersenyum, “Tenanglah, aku baru mau akan menjelaskan semuanya padamu”
---***---
Keito dan Kenichi saling duduk berhadapan. Keito mendengarkan dengan seksama cerita Kenichi mengenai apa yang dilakukannya selama dia menghilang. Sudah cukup lama mereka berdua bercakap-cakap.
Chii masih memeluk Yama yang masih saja bersandar di dadanya. Matanya masih melihat ke arah Ryuu yang tidak sadarkan diri. Chii tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunggu Yama sendiri yang berbicara. Dia tidak menyangka kalau Yama memiliki masa lalu seperti itu. Yama memang sudah sering menceritakan semua masa lalunya pada Chii, sehingga kurang lebih Chii sudah mengetahui semuanya tentang Yama.
“Begitulah Keito. Sampai sekarang, ayahmu ini masih belum menemukan cara yang tepat untuk melepaskan kutukanmu. Maafkan ayah”
“Tidak apa-apa Ayah. Ayah sudah bersusah payah mencarinya selama bertahun-tahun”, Keito bangkit berdiri. “Sepertinya kita memang harus menanyakan pada Inoo darimana dia mendapat cara melepas kutukan tersebut”
---***---
“Ryuu! Shin!”
“Uwah, itu Yama!”
“Shin, tidak usah terlalu heboh. Dia kan sudah biasa datang kemari”
“Senangnya Shin, kau menungguku ya... kau memang manis, beda dengan kakakmu itu”
“Sst Yama, mau kuberitahu? Sebenarnya kakak yang paling tidak sabar menunggumu. Dia terus mengoceh, ‘Si Yama itu kapan kemari?’, ‘Cih, lama sekali’. Kakak terus menunggu Yama dengan tidak sabar lo...”
“Shin! Tutup mulutmu! Jangan bicara yang mengada-ada”
“Ryuu... ternyata kau menungguku ya. Senangnya... sebagai gantinya ayo kita main seharian ini”
“Uwa... lepaskan pelukanmu. Lepaskan! Aku tidak bisa bernafas ini”
---***---
“Kalian gila!”, komentar Yuya saat Inoo selesai menjelaskan mengenai rencananya. “Kalian pikir itu bisa berhasil?”
“Tidak ada salahnya untuk dicoba kan? Yuto saja mau ikut dalam rencana ini”
“Aku bisa mengerti kalau kalian ingin kembali menjadi manusia, tapi yang tidak bisa kumengerti adalah rencana yang satunya. Kalian berniat mengalahkan Raja Demon? Kalian lupa? Dia adalah Yang Mulia Raja Demon. Demon paling kuat di antara demon yang terkuat. Tidak akan mudah mengalahkannya, apalagi membunuhnya. Bagaimana cara membunuhnya?”

Tsuzuku~~~

TEN KNIGHTS

PART 40

Aku, Yuya, dan Daiki terus berjalan menyusuri lorong. Yuya berjalan di depan memimpin kami dengan membawa serta obor ditangannya. Daiki berjalan di sampingnya sambil terus memegang erat lengan Yuya. Aku berjalan di belakang mereka, sambil sesekali melihat ke arah belakang, untuk memastikan bahwa tidak ada satupun yang mengikuti kami. Entah sudah berapa lama kami berjalan, aku mulai merasakan kelelahan di kakiku.

Yuya dan Daiki yang berada di depan tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Aku mendekati mereka berdua untuk melihat apa yang menghentikan langkah mereka. Aku bisa melihat sebuah dinding batu yang besar berada di hadapan kami. Tampaknya kami telah berada di ujung jalan. Aku tidak melihat ada jalan lain disana. Lorong ini benar-benar telah berakhir disini.

Sementara itu, Hika dkk....

“Kita harus masuk ke dalam tanah”, seru Hikaru mantap. Inoo dan Keito saling berpandangan keheranan. Hikaru melihat ke arah kanan dan kiri seakan mencari sesuatu.

“Tunggu dulu Hika, bagaimana caranya kita bisa masuk kesana?”, tanya Keito.

Hikaru menatap Keito dengan ekspresi bingung.“Bukankah sudah jelas? Kita akan menggali”, Hikaru melanjtkan pencariannya. Dia mengambil sebatang kayu yang berada di dekatnya. “Ini dia yang kubutuhkan!”. Hikaru mulai mengais tanah dengan batang kayu di tangannya. Inoo dan Keito hanya diam tertegun melihat Hikaru.

“Kalian berdua sedang apa? Ayo bantu aku”, kata Hikaru. Inoo dan Keito akhirnya mulai mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menggali. Tak lama, mereka berdua juga menemukan batang kayu. Sama seperti Hikaru, mereka akhirnya mulai menggali menggunakan kayu tersebut.

..................................................................................

“Lalu, apa yang kita lakukan sekarang Daichan?”, tanya Yuya.

“Kenapa kau bertanya padaku?”.

“Tampaknya kita berada di jalan buntu. Aku tidak melihat ada jalan lain di sekitar sini. Kalau ini benar-benar jalan buntu, maka itu berarti kita harus kembali ke jalan semula”.

“Tapi aku yakin kalau jalan yang kita lewati ini benar”.

“Gara-gara kau berkata kalau ada suara yang memanggilmu, kita jadi terjebak di lorong ini”.

“Tapi aku benar-benar mendengar suara itu. Dan aku yakin kalau lorong ini mengarah ke suatu tempat!”

“Kau yakin kalau suara-suara itu bukan halusinasimu? Mungkin kau terlalu capek sehingga mengira kau mendengar ada suara-suara yang memanggilmu”

“Kau ini kenapa sih? Kupikir kau percaya padaku”, ekspresi wajah Daiki mulai berubah menjadi cemberut. Dia mulai mencibirkan bibirnya. Yuya hanya diam dan menatap dingin ke arah Daiki. Aku bisa melihat mukanya terlihat sedikit kesal. Aku hanya diam saja melihat ke arah mereka berdua. Aku tidak tahu bagaimana caranya bersikap di hadapan sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Krak..... aku merasakan ada sesuatu yang jatuh menimpa kepalaku. Aku mengusap kepalaku untuk mencari tahu apa yang mengenaiku. “Tanah?”, gumamku saat melihat benda yang ada di tanganku. Aku mendongak kearah atas. Sekilas aku bisa melihat ada seberkas sinar yang masuk dari lubang kecil yang ada di atas.

Yuya dan Daiki masih melanjutkan perdebatan kecil mereka. aku merasakan kalau kali ini semakin banyak remahan tanah yang jatuh menimpaku. Lubang kecil yang kulihat di atas tanah tadi kini semakin lebar. Aku menyipitkan mataku untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Samar-samar aku mendengar ada suara dari atas. Lubang itu makin lama makin besar, sehingga aku kini bisa melihat langit dari bawah sini. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh kebawah. Sesuatu itu jatuh tepat ke arah kami bertiga.

“AWAS!!!”, seruku ke arah Yuya dan Daiki. Terlambat. Saat aku memperingati mereka, mereka sudah tidak bisa menghindar dari sesuatuyang jatuh tersebut. Tubuh mereka tertimpa oleh sesuatu tersebut. “Kalian tidak apa-apa?”, aku segera menghampiri mereka berdua.

“Adududududuh.......”, ucap seseorang. Aku menoleh ke arah sumber suara. Dari suaranya tampaknya itu adalah seorang perempuan. Sosok perempuan itu berdiri di hadapanku. Aku mengenali sosok perempuan yang ada di hadapanku. “Inoo?!”, aku terkejut saat mendapati Inoo di hadapanku.

“Yamada?!”, seru Inoo saat melihatku.

“Kau tidak apa-apa?”, aku mendekat ke arahnya untuk memastikan bahwa dia tidak terluka.

“Ah, tampaknya aku baik-baik saja”, Inoo mendongak ke arah atas. “Huwaa.... kupikir aku bakal mati tadi saat jatuh ke dalam sini”.

“Urghh....”, gumam seseorang yang berada di dekat Inoo. Kami berdua menoleh dan mendapati Keito terduduk di dekat situ sambilmemegangi kepalanya.

“Keito!”, seruku. “Kau baik-baik saja? adakah yang luka?”.

“Hngg? Yamada?”, Keito melihatku sambil menyipitkan matanya. “Ah, kurasa aku baik-baik saja”, Keito memeriksa kedua lengannya dan sekujur tubuhnya. Aku pun mendekati Keito dan memeriksa keadaannya. Aku melihat tidak ada luka satupun di tubuhnya.

“Tolong aku.....”, terdengar suara Yuya.  Suaranya terdengar begitu dekat. Aku melihat ke sekeliling, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.

“Yuya? Kau dimana?”, tanyaku.

“Disini....”, jawabnya. Aku melihat ke arah bawah. Aku mendapati Yuya yang berada tepat di bawah Keito dan Inoo. Seketika Inoo dan Keito langsung berdiri. Akhirnya aku mengerti bagaimana Inoo dan Keito bisa selamat tanpa luka di tubuh mereka. Yuya telah menahan tubuh Inoo dan Keito saat jatuh tadi.

“Maaf Yuya. Aku tidak tahu kau ada disitu”, ucap Inoo.

“Aku juga minta maaf. Kami benar-benar tidak tahu kalau kau ada disana. Berkatmu kami bisa selamat, terima kasih ya”, ucap Keito.

“Ah, bagus kalau aku bisa menolong kalian. Tapi akan lebih baik kalau kalian berdua langsung menghindar dari tubuhku. Rasanya tadi ada seekor gajah yang menindih tubuhku”, gumam Yuya sambil meringis.

“Kau ini... badanku tidak seberat itu”, seru Inoo yang tampaknya agak kesal dengan ucapan Yuya. “Bukankah seharusnya kau bisa menghindari kami dengan menggunakan kemampuanmu itu?”.

“Semuanya terlalu cepat. Sehingga aku tidak sempat menggunakannya”, bantah Yuya.

“Sudah, sudah”, aku berusaha menenangkan mereka bertiga. Aku mendekat ke arah Yuya dan menggunakan kemampuanku untuk memulihkannya. “Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kalian bisa jatuh kemari?”, tanyaku pada Inoo dan Keito.

“Ah, ini ide Hika. Kami bertiga sebenarnya telah sampai di depan pintu gerbang tempat segel. Akan tetapi, banyak makhluk kegelapan yang berjaga di sana, sehingga kami tidak bisa masuk dengan mudah. Lalu, Hika mendengar suara kalian dari dalam tanah. Dia memutuskan untuk menggali tanah dan bergabung bersama kalian. Saat menggali, kami kehilangan keseimbangan dan pijakan tanah kami mulai runtuh, sehingga kami bertiga jatuh kemari”, jelas Inoo.

“Berarti, sekarang kita berada tepat di depan gerbang?”, tanyaku.

“Ya. Kami pikir di bawah tanah ini, kami bisamenemukan jalan lain untuk masuk ke dalam tanpa bertemu dengan para makhlukkegelapan itu”, jelas Inoo lagi.

“Lalu, dimana Hika? Aku tidak melihatnya”, tanyaku.

“Eh? Dia juga jatuh ke dalam sini kok”, jawab Inoo.

“Ah, dimana Daichan? Aku juga tidak melihatnya”, ucap Yuya juga.

“Mereka berdua ada disana”, jawab Keito sambil menunjuk sesuatu.

Kami berdua pun mendekat ke arah mereka berdua. Hikaru terbaring diatas tubuh Daiki. Tubuh mereka saling berhimpitan. Wajah mereka pun berdekatan satu dengan yang lain. Mereka berdua kelihatannya masih pingsan dengan kejadian yang menimpa mereka.

“Hika! mau sampai kapan kau tidur? Ayo bangun!”, Yuya menarik paksa tubuh Hikaru agar menjauh dari Daiki. Mukanya terlihat sangat kesal.

“Hngg...? Yuya? aku dimana?”, tanya Hikaru yang mulai sadar.

“Kau ini......”, geram Yuya.

“Yuya, sudahlah. Hika tidak sengaja”, kataku sambil menahan Yuya. Yuya akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya dari tubuh Hikaru. Dia kemudian berjalan menghampiri Daiki.

“Daichan? Bangunlah. Kau tidak apa-apa?”, Yuya berusaha membangunkan Daiki. Perlahan Daiki membuka matanya.

“Ah, aku merasa ada sesuatu yang menimpaku tadi”, jawab Daiki. Daiki melihat ke sekelilingnya, “Inoo?? Keito?? sedang apa kalian disini?”, tanya Daiki yang terkejut saat melihat dua orang temannya itu. Pandangannya kini melihat ke arah Hikaru yang kini mulai berdiri saat mulai tersadar dari pingsannya. “Hika!”, seru Daiki sambil berlari memeluk Hika. Mukanya terlihat gembira sekali.

“Daichan?! Ternyata benar kalau kau selamat!”, seru Hika sambil memeluk Daiki dengan erat. Mereka berdua saling berpelukan dengan wajah gembira. Tiba-tiba Hikaru merasa ada sesuatu yang mengamatinya. Yuya melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam, seakan mengatakan untuk menghentikan apa yang mereka lakukan. Spontan, Hikaru melepas pelukannya dan menjauhkan tubuh Daiki darinya.

Hikaru menoleh ke arahku, “Dimana Chii? Bukankah kau tadi bersama dia?”. Aku terhentak kaget saat mendengar pertanyaan Hikaru. Aku terdiam sejenak sebelum menjawabnya.

“Yuri, dia.....”, aku menatap ke arah Hikaru, Inoo, dan Keito yang tampaknya menunggu dengan sabar jawaban dariku. “Dia ditangkap makhluk kegelapan dan dibawa pergi. Saat kami menyusuri lorong ini, kami bertemu dengan salah satu prajurit kegelapan. Kami berdua tidak mampu menghadapinya, sehingga akhirnya kami kalah”.

Semua orang yang ada disitu terdiam mendengar jawabanku. Tiba-tiba aku juga mulai menyadari sesuatu, “Mana Yuto? Bukankah kau tadi bersamanya Hika?", tanyaku ke arah Hikaru. Kali ini, giliran Hikaru yang terkejut.

Hikaru menatap ke arahku, “Sama seperti Chii, dia juga dibawa oleh prajurit kegelapan. Dia bilang, dia membawa Yuto ke tempat segel. Sehingga akhirnya kami pun bergegas menuju tenpat ini. Kami berdua sama sekali tidak bisa menghadapi prajurit kegelapan ini. Jika saja Keito dan Inoo tidak segera menolongku, aku bisa saja mati di tangan musuh”, jawab Hikaru.

“Mustahil...... Yuto kalah??”, Yuya tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, “Sekuat apa musuh kali ini?”.

“Kurasa mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan para prajurit kegelapan lainnya”, jawabku. “Salah satu prajurit kegelapan yang tadi berhadapan denganku mengatakannya, kalau kekuatan mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan prajurit kegelapan lainnya, karena mereka merupakan pengawal pribadi para petinggi maou”. Aku teringat kembali ucapan Kamiyama, prajurit kegelapan yang berhadapan denganku, yang membawa pergi Chinen.

“Lalu, Yabu mana? Bukankah tadi dia pergi bersama dengan kalian berdua?”, tanya Yuya pada Keito dan Inoo.

Keito dan Inoo saling berpandangan, “Kami berhadapan dengan musuh saat perjalanan menuju ke tempat segel, Yabu menyuruh kami untuk pergi duluan dan dia akan segera menyusul kami bila dia telah mengalahkan musuh. Tapi, sampai saat ini dia belum juga menyusul kami”, jelas Inoo.

“Jangan-jangan Yabu telah kalah oleh musuh dan dia juga dibawa oleh musuh, seperti Yuto dan Chinen”, celetuk Daiki. Inoo segera menatap tajam ke arah Daiki. Mukanya terlihat sangat serius.

“Yabu tidak mungkin kalah! Dia pasti akan segera kemari! aku percaya dia akan menang. Sebelumnya dia telah menghadapi salah satu ksatria kegelapan dan dia menang!”, seru Inoo. Daiki yang berada di hadapannya hanya terdiam saja melihat Inoo. Dia tidak berani berbicara macam-macam setelah melihat ekspresi Inoo yang saat ini tampak sangat menakutkan. Kami pun juga ikut terdiam melihat tingkah Inoo yang tampak menakutkan saat ini.

“Sudahlah.... Hentikan kalian berdua. Aku yakin kalau Yabu akan segera menyusul kita kemari. Aku percaya kok Inoo....”, Hikaru mendekat ke arah Inoo dan membelai lembut rambutnya sambil tersenyum. Inoo hanya menunduk terdiam dan kemudian mengangguk, tampaknya dia mulai kembali tenang. Daiki yang masih sedikit takut dengan Inoo, segera menghampiri Yuya dan memegang erat lengan Yuya.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Yuya yang mencoba mengganti suasana yang tampak mulai canggung diantara Inoo dan Daiki.

“Apanya?”, tanya Hikaru tidak mengerti.

“Katamu sekarang kita telah berada di depan gerbang. Lalu bagaimana caranya kita masuk ke dalam? Aku tidak melihat ada jalan lain”, Yuya mengangkat obor yang terjatuh dan mengarahkannya ke arah dinding batu yang ada tepat di hadapan mereka semua. Kami hanya berdiri terdiam melihat dindingbatu yang ada di hadapan kami.

“Pasti ada cara untuk membuka dinding batu ini. Aku yakin kalau ada jalan lain di balik dinding ini”, Daiki berdiri dan mulai meraba dinding batu itu.

“Bagaimanapun dilihat ini hanya dinding batu biasa Daichan... aku tidak melihat ada sebuah tombol atau pegangan pintu di batu itu.....”, ucap Yuya. KLIK. Terdengar suara seperti sesuatu telah ditekan.Tidak lama, terasa getaran yang hebat di dalam lorong. Dinding batu yang ada didepan kami bergeser dan di balik dinding itu, kami bisa melihat ada jalan lain. Kami semua hanya terdiam di tempat dan masih merasa terkejut dengan apa yangterjadi.

“Yatta!! Sudah kubilang kalau ada jalan lain kan??", Daiki tersenyum kegirangan. Yuya hanya terdiam melongo saat melihat jalan dihadapannya. “Kali ini, kau percaya padaku kan?”, Daiki merangkul Yuya. Wajahnya menunjukkan senyum kemenangan.

Yuya menghela napas panjang. Tangannya mulai membelai lembut kepala Daiki, “Baiklah, aku percaya padamu. Kerja bagus Daichan....”.

“Baiklah... ayo kita masuk. Aku yakin jalan ini menuju ke tempat segel”, Hikaru mulai melangkah masuk menuju jalan yang ada dibalik dinding batu.

“Tunggu dulu. Kita harus memastikan dulu apakah ada makhluk kegelapan di dalam sana”, Inoo mencegah Hikaru agar tidak masuk terlalu dalam. Tangannya mencengkeram erat tangan Hikaru.

“Sejauh ini, Aku tidak melihat ada musuh di dalam sana”, sahutKeito.

“Bagus. Ayo kita masuk ke dalam. Tidak ada jalan lain lagi. Kita harus menghentikan proses upacaranya. Kita juga harus menyelamatkan Chii dan Yuto yang telah ditawan oleh musuh. Mulai saat ini, kita harus bertarung dengan segenap kemampuan kita”, kata Hikaru sambil memimpin teman-temannya. Para ksatria segera menyiapkan persenjataan mereka. Mereka harus siap menghadapi serangan mendadak dari para musuh.

“Ada apa Keito?”, tanya Daiki pada Keito yang tampaknya diam-diam mengamatinya.

Keito sedikit terkejut saat Daiki menanyainya, “Ah tidak. Bukan apa-apa”, jawab Keito singkat. Keito segera mengalihkan pandangannya, tapi sedikit-sedikit dia berusaha mencuri pandangan ke arah Daiki. Dia menatapke arah Daiki seakan-akan mengamati sesuatu.

“Yuri.... tunggulah, aku akan segera menyelamatkanmu”, aku memegang pedangku dengan erat. Kulangkahkan kakiku dengan mantap, menuju ke jalan lain yang berada di balik dinding. 

Tsuzuku~~~

AKUMA NO YOROI

Part 27
“Apa maksudnya ini?”
Keito menoleh ke arah Inoo yang kini memberikan tatapan tajam ke arah Yabu. Keito terus menatap Inoo, meminta kejelasan mengenai ucapan Yabu barusan. Tapi Inoo hanya bungkam, tidak berniat menjawab.
“Inoo Kei! Aku meminta penjelasan darimu!”
Keito mulai membentak Inoo. Yama yang tertidur sampai terbangun. Chii terperanjat kaget. Ini pertama kalinya dia melihat tuannya membentak orang lain. Yah, meskipun yang dibentak juga bisa dibilang bukan ‘orang’ sih.
“Ini bukan urusanmu bocah. Kau cukup melepas kutukanmu saja”, Inoo akhirnya membuka suara. Tapi ucapannya barusan malah seperti menyiramkan minyak ke dalam api.
Keito mencengkeram lengan Inoo yang terlihat kurus dan berkulit putih itu. “Tidak ada hubungannya? Kau bilang ini semua tidak ada hubungannya? Kalau kau penyebab semua kejadian ini, maka ini semua SANGAT berhubungan denganmu”
Inoo mengepalkan kepalan tangannya. “Ini semua tidak penting. Yang lebih penting adalah mengembalikan kekuatan anjing kecil itu”
Inoo berusaha mengalihkan pembicaraan. Berharap Keito tidak bertanya lebih jauh lagi.
Keito menoleh ke arah Yama yang kini menatapnya dengan tatapan yang lesu. Meskipun Yama berusaha bersikap tegak di hadapannya, tapi Keito tahu kalau Yama hanya pura-pura.
Perlahan, Keito melepaskan cengkeramannya. “Kalau kau tahu, cepat lakukan”, Keito terdengar sedikit dingin. Sebenarnya dia ingin bertanya lagi soal dirinya dan kutukan itu, tapi Keito juga tidak bisa membiarkan Yama melemah terus-terusan.
Inoo tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil mengalihkan perhatian Keito dari topik yang tidak ingin dia bicarakan. Inoo melihat ke arah Yabu yang berdecak kesal. Inoo membuka mulutnya dan menggerakkannya, ‘aku akan berbicara denganmu soal ini nanti’, kata Inoo tanpa suara pada Yabu.
“Tapi...”, Keito teringat sesuatu. “Bukankah kau bilang kalau ingin mengembalikan kekuatan Yama, aku harus mengikat kontrak dengan Arioka senpai? Sekarang Arioka senpai tidak ada bersama dengan kita”
“Sebenarnya tidak ada Daichan juga tidak masalah. Rencanaku sebenarnya adalah membuatmu mengikat kontrak dengan Daichan. Tidak ada hubungannya dengan Ryuu. Meskipun kini level Ryuu setara dengan Yabu, tapi masih ada Hika dan Takaki. 2 demon ini levelnya masih lebih tinggi dari Ryuu. Tidak ada hubungannya dengan Daichan kan?”
Keito sedikit kesal dengan penjelasan Inoo yang seakan-akan bermaksud memanfaatkannya dari awal. “Kalau begitu kenapa kau panik saat Raja Demon menangkap Arioka senpai? Bahkan kau sampai memerintah Takaki senpai untuk menangkap Arioka senpai lebih dulu”
“Karena kekuatan Daichan itu merepotkan. Daichan bisa ‘memakan’ demon yang kelasnya jauh lebih tinggi darinya. Sebisa mungkin aku ingin Daichan ada di pihak kita, tapi sebelum dia mengikat kontrak denganmu, Yang Mulia sudah membawanya pergi. Kalau begitu aku harus mengubah rencanaku lagi”
Inoo mendekat ke arah Yuto yang tampak sedang asyik ‘bermain’ dengan Ryuu yang terikat dan tidak bisa mengeluarkan suara. “Kau akan bekerjasama dengan kami kan Yuto?”
“Kalau aku tidak mau?”
“Brengsek”, Inoo merangkul Yuto dari belakang. Kukunya yang tajam kini berada di leher Yuto. Matanya kini berwarna merah semerah darah. “Kau yang membuat rencana kita berantakan, tentu kau akan bekerjasama kan?”. Inoo mengeluarkan aura demon miliknya.
Yuto juga tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan aura demon miliknya. Matanya kini juga berwarna merah. Aura keduanya saling beradu di udara. Sudah jelas kalau aura Yuto lebih kuat dari Inoo. Tapi demon cantik itu tetap tidak mau mengalah.
“Baiklah”, Yuto perlahan menghilangkan aura demonnya. Matanya pun sudah tidak berwarna merah lagi. “Ini juga kesalahanku. Aku akan membantumu”
Inoo tersenyum. Dia kemudian menjauhkan kukunya yang tajam dari leher Yuto. “Kau memang partner yang bisa kuandalkan”
“Lebih baik kau menepati janjimu, Inoo Kei”
“Tentu saja. Karena hal ‘itu’ kita bekerjasama kan?”
Inoo tersenyum. Yuto menghampiri Ryuu yang masih saja meronta. Dengan satu jari, Yuto berhasil membuat Ryuu bungkam. Yuto menusuknya tepat di jantung.
“Jangan bunuh dia”, ucap Inoo. “Dia mungkin bermanfaat bagi kita suatu saat nanti”
“Tidak. Aku hanya membuatnya pingsan untuk beberapa saat”
“Apa yang kalian lakukan?”, tanya Keito yang penasaran dengan percakapan 2 demon itu.
“Kau tidak lihat? Aku akan mengeluarkan kekuatan dewa pelindung milikmu yang ada di tubuh Ryuu”
“Eh? Kau tidak perlu mengikat kontrak denganku? kau tidak perlu imbalan?”
Yuto melihat ke arah Keito. “Imbalanku terlalu tinggi. Kau tidak akan bisa membayarnya”
“Memangnya apa imbalanmu?”, tanya Keito ingin tahu.
“Nyawa manusia”, Inoo yang menjawab pertanyaan Keito karena Yuto kini sudah memasukkan tangannya ke tubuh Ryuu untuk mengambil kekuatan Yama. “Semua demon kelas S memiliki imbalan yang berat. Imbalan mereka berkaitan dengan ‘kehidupan’ manusia. Oleh karena itu jarang ada manusia yang bisa mengikat kontrak dengan demon kelas S karena mereka akan langsung mati setelah permintaan pertama mereka terkabul”
“Maksudmu aku juga akan mati setelah ini?” Keito teringat kalau dia sudah mengikat kontrak dengan Yuya yang merupakan demon kelas S.
Inoo menoleh ke arah Keito. “Yah... sebenarnya kondisimu sial sekali. Daichan tidak ada disini. Itu berarti tidak ada yang menjadi ‘makanan’ bagi Takaki. Apalagi kondisi Takaki saat ini sedang kelaparan karena dia tadi habis bertarung. Itu berarti dia butuh ‘makan’ sekarang”
“ARGHH!!!!”
Terdengar jeritan keras dari luar rumah. Seluruh penghuni rumah langsung menoleh ke asal suara. Para demon yang ada di dalam rumah langsung tahu siapa pemilik erangan tersebut.
Inoo tersenyum ke arah Keito. “Tuh, benar kataku kan? Dia sedang lapar sekarang”
“Lalu bagaimana? Aku harus memberikan darahku untuk dia?”
“Kalau kau mau silahkan saja. Tapi, Takaki suka menghisap darah korbannya hingga habis. Kau akan langsung mati kalau memberikan darahmu padanya”
Keito menggeleng. Dia tidak mau mati gara-gara jadi santapan demon. Dia sekarang sedang berusaha melepaskan kutukan supaya tidak mati, masa harus mati gara-gara demon sih?
“Hikaru, kau saja yang menjadi makanan Takaki”
Hikaru menatap Inoo tidak percaya. “Enak saja! Tidak mau!”
“Tapi diantara kita, kau yang mungkin bisa Hikaru”, tambah Yabu. “Kau selevel dengan Daiki. Jadi kau makanan yang cocok”
“Kalian berdua...” Hikaru menatap dua temannya itu. “Teganya kalian memberikan teman kalian untuk dimakan”
“Meskipun darahmu dihisap sampai habis oleh Yuya juga kau tidak akan mati”, ucap Yabu lagi.
“Benar benar. Nah Hikaru, cepat kau temui Takaki. Dia sudah menunggumu”
“Kalian.....”
“Ah dapat”, Yuto yang sedari tadi sibuk mengeluarkan kekuatan Yama akhirnya berhasil menemukannya. “Susah sekali menemukannya. Kekuatan ini hampir tersembunyi oleh kekuatan Hokuto yang ada di dalam sini”
“ARGHHH!!!!”
Takaki mengerang lagi. Aura demonnya bahkan sudah terasa sampai ke ruangan dimana mereka semua berkumpul. Hikaru menelan ludahnya saat mendengar erangan Yuya.
“Kau sedang apa Hikaru?”, Yuto menoleh ke arah Hikaru sambil memegang sebuah bola cahaya keemasan yang sepertinya itu adalah kekuatan Yama. “Lebih baik kau segera menuju ke Yuya dan bungkam mulutnya. Aku tidak tahan mendengar erangannya terus menerus”
“Kau juga... semuanya kejam sekali. Kenapa tidak kau saja yang memberikan darahmu?”
“Aku memberikan darahku untuk demon lain? maaf saja ya, aku tidak sudi. Sudah sana pergi”, Yuto mengarahkan telunjuknya ke arah Hikaru dan mengarahkannya ke luar. Hikaru juga ikut bergerak mengikuti telunjuk Yuto, sepertinya Yuto membuat badan Hikaru bergerak sesuai dengan kemauannya “Nah... buat dia bungkam Hikaru. Telingaku sakit mendengar erangannya”
“KALIAN SEMUA!!! AWAS KALIAN NANTI!!!”
Beberapa detik kemudian, suara erangan Takaki sudah tidak terdengar lagi, begitu pula dengan suara omelan Hikaru. Aura demon Takaki pun perlahan mulai menghilang. Tampaknya Hikaru sudah memberikan darahnya pada Takaki. Inoo tersenyum lega. Begitu pula dengan Yuto. Dia memegangi telinganya sambil tersenyum. Yabu hanya bersandar di dinding sambil memegangi lehernya. Membayangkan apa yang dilakukan Takaki pada Hikaru saat ini. Sesuatu yang sangat tidak ia inginkan.
“Nah...”, Yuto memberikan bola keemasan itu pada Keito. “Masukkan ini ke tubuhnya maka kekuatannya akan kembali seutuhnya”
Keito menerima bola keemasan itu dan memasukkannya ke dalam tubuh Yama. Yama sedikit mengerang saat bola itu perlahan masuk ke dalam tubuhnya.
---***---
“Hei, hei, tunggu...”
“Apaan sih? Sudah kubilang jangan mengikutiku kan?”
“Aku ingin bermain denganmu Ryuu”
“Jangan seenaknya panggil namaku! Aku tidak suka orang asing memanggil namaku”
“Tapi aku bukan orang asing, aku Yama, temanmu”
“Siapa yang berteman denganmu? Aku tidak ingat pernah setuju untuk berteman denganmu”
“Kau sendirian kan? Ayo bermain denganku”
“Aku punya seorang adik. Aku bukan anak kesepian seperti dirimu”
“Kalau begitu, kau mau mengenalkan adikmu padaku? Kita bertiga bisa bermain bersama”
“Kau ini keras kepala sekali. Kubilang, tinggalkan aku sendiri!”
---***---
“Mau diapakan si Arioka itu?”
“Kenapa dia tidak langsung dimusnahkan saja? kenapa repot-repot membawa dia kembali? bukankah dia adalah pengkhianat?”
“Tenang dulu Juri. Arioka belum mengkhianati kita, dia masih belum mengikat kontrak dengan bocah terkutuk itu. untuk sekarang, keberadaannya sangat diperlukan bagi kita”
---***---
Yama membuka kedua matanya. Pandangan matanya sedikit buram karena tertutup air mata. Yama bisa merasakan setetes air mata keluar dari kedua matanya. Setelah pandangannya sedikit jelas, dia bisa melihat Keito, Chii, dan Kenichi melihatnya dengan pandangan khawatir.
“Kau tidak apa-apa Yama? Aku terkejut saat melihat kau menangis. Apa kau merasa kesakitan?”, tanya Keito cemas.
“Yama, kau tidak apa-apa?”, tanya Chii.
Yama tidak menjawab. Dia bisa merasakan tubuhnya kembali seperti semula. Dia sudah berada dalam sosok manusianya. Dia kemudian melihat ke arah Ryuu yang masih pingsan karena ulah Yuto tadi. Perlahan, dia menghampiri Ryuu.
“Yama?”, tanya Chii lagi.
“Aku mengenalnya. Aku sudah tahu dia sejak dulu. Kenapa aku bisa melupakannya?”, Yama menyentuh muka Ryuu. Setetes air mata tampak mengalir di pipi Yama. “Kenapa kita berdua jadi begini? Bukankah kita dulu teman baik?”
“Bila manusia menjadi demon, maka ingatan dirinya saat menjadi manusia akan dihapus. Termasuk ingatan orang-orang yang berhubungan dengannya”, Yuto melihat ke luar sambil menghirup nafas panjang, membersihkan saluran pernafasannya.
“Tapi, kenapa Ryuu bisa menjadi demon? Apa yang terjadi?”, Yama masih menatap Ryuu. Setelah ingatannya kembali, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah yang dikenalnya itu.
Yuto mendekati Yama. “Bukankah kau yang paling tahu alasannya kenapa Ryuu menjadi demon?”, Yuto mengangkat dagu Yama dengan salah satu jarinya.
“Apa maksudmu?”
“Ryuu menjadi demon karena kau. Awalnya dia memanggilku untuk mengikat kontrak denganku. Tapi aku lebih tertarik menjadikan dua orang bersaudara itu menjadi demon. Sehingga aku mengubah dua bersaudara itu menjadi demon”
“Itu berarti kau yang mengubahnya menjadi demon!”
Yuto menaruh telunjuk di depan bibirnya, menandakan Yama untuk diam. “Kau tahu, Ryuu memiliki kekuatan yang sama dengan Daiki. Mereka bisa memakan demon yang levelnya diatas mereka. Kau tahu kenapa bisa begitu?”
Yama terdiam. Dia tidak tahu jawabannya sehingga memutuskan untuk diam saja. Menunggu Yuto meneruskan sendiri kalimatnya.
“Karena alasan keduanya sama. Mereka sama-sama membenci manusia. Ryuu dan Shin, mereka berdua dianggap sebagai makhluk yang berbahaya. Oleh karena itulah mereka tinggal di hutan yang jauh dari peradaban”, Yuto terdiam lagi. Suatu hari, sekelompok demon datang untuk memangsa mereka. Dan apa bisa kau bayangkan? Alasan para demon itu menyerang mereka karena kau”
Tsuzuku~~~