Senin, 30 Maret 2015

TEN KNIGHTS

Main Cast : Yamada Ryosuke

Part 2

“O....ka....san....” ucapku putus asa. Aku sudah pasrah. Tidak kusangka hidupku akan berakhir dimangsa oleh makhluk jelek dan mengerikan. Lebih parahnya, aku mati saat usiaku pas 17 tahun. Sial banget hidupku.

“Hey!! Makhluk jelek!! Ayo, kejar aku!!”,terdengar suara lantang dari kejauhan. Aku membuka mata, makhluk-makhluk itu tidak bergerak sama sekali, seakan tidak mendengar suara lantang tadi. Tiba-tiba, satu persatu makhluk mengerikan itu menghilang seperti pasir. Samar-samar aku melihat sosok perempuan, kelihatannya seumuran denganku, wajahnya tidak kelihatan jelas karena tudung yang dipakai tapi aku yakin itu adalah perempuan.

“Aah... makanya aku tidak suka berurusan dengan kalian, Uda jelek, tuli pula”, gerutu cewek itu. Cewek itu membuka botol yang ada di tangannya. Dari botol tersebut, keluar serbuk berwarna coklat.Cewek itu melempar serbuk tersebut ke arah makhluk-makhluk itu. Sesuatu yangajaib terjadi. Makhluk yang tekena serbuk tersebut, mulai mengering dan berubah menjadi debu dalam sekejap. Dalam waktu singkat, semua makhluk tadi berubah menjadi debu. Hanya satu yang tersisa, yang saat ini sedang menindih badanku. Makhluk yang berada di atasku ini langsung melompat ke arah cewek tersebut, “AWAASSS!!!!”, teriakku. Belum sampai makhluk tersebut menyerang ke cewek itu,makhluk tersebut sudah berubah menjadi debu. Akhirnya tidak ada satupun yang tersisa, semua habis menjadi debu. Aku memandang dengan tegun, seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat barusan.

“Hika?? Ini aku. Semua sudah kubereskan. Bagaimana di tempatmu?”, cewek itu berbicara di earphone yang terpasang ditelinganya.

“Sudah beres”, terdengar suara samar-samar dari earphone cewek itu.

“Oke, Chii semua sudah beres. Kau bisa melepas pelindungnya sekarang”, ucap cewek itu sambil berbicara lewat earphonenya.

“Oki doki”.

Entah kenapa aku merasa sensasi yang sama saataku keluar dari gang sempit saat akan memasuki pasar tadi. Dan aku semakin terkejut, saat tiba-tiba keadaan sekitarku berubah. Jalan yang tadi sepi, entah sejak kapan sudah banyak orang yang berlalu lalang. Aku mengucek mata, seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat. ‘kenapa bisa banyak orang disini? Bukankah sampai tadi tidak ada orang satupun? Kenapa sekarang banyak orang? Apa yang tadi kulihat hanya ilusi? Makhluk itu yang berusaha memakanku dan cewek itu. Oh ya, cewek itu. Dimana dia?’, kutengok kanan-kiri tapi cewek bertudung itu tidak ada dimanapun.

“Kau tidak apa-apa dik? Kenapa duduk saja dijalan?”, aku menoleh, kulihat ada seorang wanita muda mengulurkan tangannya padaku. Syukurlah, wanita ini punya wajah. Kuulurkan tanganku untuk meraih tangan itu, “terima kasih bu”. “Wah, kakimu berdarah. Pasti sakit ya terluka seperti itu”, seru wanita itu sambil melihat kakiku. Aku melihat kakiku, benar saja, kakiku berdarah. Ini pasti terjadi saat makhluk mengerikan itu mencengkeram kakiku. Berarti kejadian yang barusan terjadi itu bukan mimpi. Makhluk itu dan cewek itu semuanya bukan ilusi semata. Tapi aku sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.

“kamu bisa berdiri? Ayo kita ke klinik dekatsini. Kakimu harus diobati”, ucap wanita itu.

“Terima kasih”, ucapku meringis kesakitan. Memang sampai tadi aku sama sekali tidak merasakan sakit. Mungkin rasa takutku tadi mengalahkan rasa sakit yang kuderita. Tapi begitu aku sudah merasa aman, rasa sakit di kakiku mulai menerpa. Dengan tertatih-tatih ku coba berjalan menuju klinik yang ada di dekat situ.

Di atas atap gedung, ada 3 sosok yang sedang mengamati ryosuke.

“Itukah orangnya? Cowok SMA yang kamu ceritakan tadi?”, ucap pria yang giginya gingsul itu, yang tadi dipanggil Hika oleh cewek bertudung tersebut.

“Ya.... aku bertemu dengannya di dalam pelindung. Orang biasa tidak akan bisa menembus pelindung yang kita buat.Kecuali ...... “ ucap cewek bertudung tadi.

“Kecuali dia kawan kita”, ucap cewek mungil yang ada disebelahnya, wajahnya imut seperti boneka.

“Tapi Chii, bisa saja dia juga musuh kita.Ingat, yang bisa berada di dalam pelindung adalah kawan maupun lawan”, ucap cewek bertudung tadi.

“Hee.... aku sih maunya dia jadi kawan kita. Daichansih selalu curiga dengan orang. Wajahnya juga lumayan, tipeku tuh”, ucap cewek mungil itu yang dipanggil Chii oleh cewek bertudung.

“tidak ada salahnya untuk waspada kan?? ”,ucap cewek bertudung yang dipanggil daichan tersebut.

“Mungkin saja dia adalah ksatria kesepuluhkan??”, ucap Hika menengahi perdebatan kecil kedua cewek tersebut.

“Daichan kamu mau kemana??”, Chii bertanya pada daichan yang mulai mengenakan headsetnya dan tampaknya bergegas akan pergi.

“Kembali ke markas, aku ingin menemui keito. Keito bisa memastikan pada kita apakah dia kawan atau lawan. Kalo benar dia adalah ksatria kesepuluh, kita harus segera menjemputnya. Kalo dia lawan, kitaharus segera membunuhnya”, ucap daichan sambil tersenyum lebar. Kedua orang yang lain saling berpandangan. Mereka kemudian bergegas menyusul daichan yang sudah jalan duluan kembali ke tempat yang mereka sebut ‘markas’ tersebut.

Tsuzuku ~~~

Jumat, 06 Maret 2015

HANYA KAU DAN AKU

Kali ini saya post FanFic One Shot ya...

Genre : Mystery, Romance
Cast : Chinen Yuri, Yaotome Hikaru

Hari ini, hujan kembali turun dengan indahnya. Rintik-rintik hujan yang turun membasahi bumi tampak berkilauan akibat sinar matahari yang menyinari mereka. Benar, meskipunsaat ini hujan turun, tapi matahari masih bersinar, meskipun sebagian besar sinarnya terhalang oleh awan kelabu yang membawa berjuta-juta tetes air kecil yang siap turun ke bumi ini.

Aku melangkahkan kakiku pelan di bawah hujan. Aku tidak peduli kalau air hujan membasahi tubuhku. Aku tidak peduli kalau pada akhirnya tubuhku terbasahi oleh air hujan yang turun. Seandainya air hujan ini mengandung air asam, mungkin aku tidak akan merasakannya hingga kulitku terbakar habis.

Semakin lama, hujan semakin deras. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas akibat rintik hujan yang turun terlalu deras. Orang-orang di sekitarku mulai berlari mencari perlindungan. Ada juga yang terus berjalan dengan berlindung di bawah payung. Kenapa orang-orang ini? Ini hanyalah air hujan. Kau tidak mungkin akan mati bila terkena beberapa tetesan air hujan. Kenapa mereka justru takut dengan air hujan? Aku berharap hujan yang deras ini bisa membawa pergi semua kerisauan dalam hatiku. Aku berharap hujan bisa membantuku melupakan semua ingatanku. Ingatan yang tidak ingin kuingat.

Tiba-tiba aku tidak merasakan lagi air hujan menetes di tubuhku. Aku melihat ke arah jalanan, hujan masih turun dengan lebatnya, mengapa aku tidak merasakannya lagi? aku melihat ke atas, aku melihat sebuah payung berwarna merah melindungiku dari tetesan air hujan. Warna merah, warna yang paling kubenci di dunia ini. Warna yang sama dengan warna darah.

“Kenapa kau tidak berlindung? Hujan turun sangat lebat. Aku mencarimu dari tadi”. Aku menoleh ke asal suara. Hikaru berdiri disana dengan memegang gagang payung merah itu. Rupanya dia yang memayungiku. Tangannya yang tidak memegang gagang payung meraih mukaku. Perlahan dia mengusap mukaku yang basah oleh air hujan dengan lengan jaketnya. “Kau bisa sakit Chii. Ayo segera pulang. Tubuhmu perlu dikeringkan”. Hikaru menggenggam tanganku dengan erat. Dia kemudian menarikku untuk kembali pulang ke tempat yang disebut rumah.

Kami berdua pun sampai di rumah. Saat masuk, keheningan dan kegelapan langsung menyambut kami.Hikaru menyalakan lampu rumah dan membawaku masuk. Suara hujan yang menderu terdengar begitu keras di rumah yang sepi ini. Hikaru pergi meninggalkanku dikegelapan. Aku hanya terdiam ditempat dan tidak bergerak sedikitpun. Tidak lama kemudian, Hikaru kembali membawa sebuah handuk dan baju di tangannya. Perlahan,dia mengelap rambutku dengan handuk. Lalu, dia membuka kancing bajuku satu persatu dan melepas semua pakaianku. Dengan lembut, dia mengusap tubuhku yangbasah oleh air hujan. Dia mengusap semuanya, tangan, kaki, dada, bahkan punggungku tidak terlewatkan olehnya.

“Kenapa kau bersikap seperti ini?”. Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Hikaru. Mataku menerawang jauh ke luar jendela. Hikaru memelukku dengan erat, kulitku yang dingin karena terkena air hujan, menjadi lebih hangat di pelukan Hikaru. Bersamaan dengan itu juga, aku juga bisa merasakan kebencian yang sangat dalam pada orang ini. “Kau masih belum bisa melupakannya?”. Hikaru menatapku. Matanya seakan mencoba membaca pikiranku. Aku menutup mataku, menundukkan kepalaku, mencoba mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya yang seakan bisa membaca semuanya tentangku. Setiap kali aku melihatnya, kenangan yang buruk itu muncul lagi dihadapanku. Sebisa mungkin, aku ingin menjauh darinya, aku tidak ingin terus merasa tersiksa karena melihatnya.

“Chii....”, Hikaru memanggilku perlahan. Aku membuka mataku. Kulihat mukanya mulai mendekat ke arahku. Aku bisa merasakan desah nafasnya di mukaku. Hidungnya pun mulai menempel dengan hidungku. Sedikit lagi, bibir kami akan bersentuhan. Tepat sebelum itu, aku memalingkan wajahku. Kudorong tubuhnya dengan tanganku. Hikaru menatapku dengan sedih. Perlahan dia mulai menjauhkan wajahnya dari wajahku. Tangannya yang merangkulku pun juga dilepaskan olehnya. Selangkah demi selangkah dia mulai berjalan menjauhiku.

Hikaru kembali mendekatiku, dia membantuku memakai pakaianku. Aku hanya menurut saja dan tidak berkata apapun. Aku sama sekali tidak menatap ke arahnya. Setelah semua pakaian telah kupakai, aku segera berjalan menjauhinya. Kulangkahkan kakiku ke arah jendela, kulihat kembali hujan yang masih turun membasahi bumi. Aku berniat melangkah keluar lagi dalam hujan, agar perasaanku ini bisa terhapuskan juga oleh hujan.

Tiba-tiba kurasakan ada sepasang tangan yang memelukku dari belakang. “Chii, sampai kapan kau akan terus begini? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ingin terus bersamaku? Kenapa sejak saat itu kau tidak mau berbicara denganku lagi?”. Aku bisa merasakan ada tetes air yang membasahi pundakku. Berbeda dengan tetes air hujan yang sedang turun deras di luar, tetesan air di pundakku terasa hangat dan lembut. “Kau dulu selalu tersenyum padaku, kita selalu tertawa bersama. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu. Aku terus melindungimu dengan segenap kekuatanku”. Aku melepaskan pegangan tangan Hikaru. Lalu kucoba pergi menjauhinya. Tapi, dia menarik tanganku dan mendekapku lagi dalam pelukannya.

“Aku mencintaimu Chii. Sangat mencintaimu. Tidak akan kubiarkan siapapun mendekatimu. Aku tidak ingin kau dibawa pergi oleh orang lain. Aku tidak tahan kalau kau pergi dari hadapanku. Aku tidak akan memberikanmu pada siapapun. Bahkan pada kakakmu sekalipun”. Hikaru mulai menangis lagi. Tapi, aku sama sekali tidak tersentuh dengan air matanya itu. “Malam itu, kakakmu berniat membawamu pergi bersamanya. Kau akan ikut pindah dengannya karena dia akan bekerja di tempat lain. Aku mencoba berbicara dengan kakakmu, tapi dia tidak mengijinkanmu ikut denganku. Sehingga tidak ada jalan lain, terpaksa aku menusuknya. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk mencintaimu Chii....”.

Aku terdiam mendengar perkataan Hikaru. Ingatanku mulai berputar ke waktu itu, tepat hari ini, satu tahun yang lalu. Waktu itu, aku sangat bahagia. Aku punya sahabat dan kakak yang baik. Hikaru adalah sahabatku, dia terus bersama denganku. Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil, sehingga kakakku yang mengurusku seorang diri. Aku sangat menyayangi kakakku, bahkan lebih dari itu, aku juga mengidolakannya. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Mereka berdua adalah orang yang sangat berarti bagiku.

Kami bertiga terlihat rukun dan akrab. Tapi, semua itu berubah saat kakakku bilang dia akan pindah ke luar kota. Awalnya aku bingung akan ikut dengan kakakku atau tidak, jika aku ikut dengan kakak, aku akan berpisah dengan Hikaru, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya. Aku menceritakan hal ini dengan Hikaru dengan berat hati. Wajahnya terlihat tidak suka saat aku menceritakan hal ini. Dia terus menentang kepergianku. Dia juga memaksaku agar tinggal dengannya saja dan membiarkan kakakku pergi sendirian. Kami pun lalu bertengkar. Selama beberapa hari kami tidak bertegur sapa.

Hingga pada hari keberangkatanku tiba. Waktu itu hujan turun, sama seperti saat ini. Aku berniat untuk berpamitan dengan Hikaru dan meminta maaf padanya sebelum aku pergi, tapi ternyata dia tidak bisa kutemui. Kuputuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya aku melihat Hikaru berdiri di depan pintu rumahku. Tangannya berlumuran oleh cairan berwarna merah. Di genggaman tangannya aku bisa melihat sebilah pisau yang berkilat terkena sinar halilintar yang menyambar. Mataku terbelalak saat melihat sosok yang berbaring dihadapannya. Di depannya, kakakku terbaring kaku. Darah terus mengalir dari perutnya. Aku berteriak sekeras mungkin hingga suaraku tenggelam dalam hujan. Air mataku yang keluar juga telah tercampur dengan air hujan yang membasahi mukaku. Aku melihat ke arah Hikaru dengan tatapan benci. Aku tidak percaya akan hal ini, orang yang sangat berartio bagiku, dibunuh oleh orang yang juga berarti bagiku.

“Kenapa?”,tanyaku pada Hikaru yang masih berdiri di sana. Hikaru melihatku, dia tersenyum, dan berjalan menghampiriku, “Akhirnya, tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi Chii. Hanya kau dan aku”.

Aku kembali kewaktu yang sekarang. Hikaru masih memelukku dengan erat. Aku masih bisa mencium bau darah kakakku dari tubuhnya. Dengan pelan, dia membisikkan sesuatu di telingaku, “Tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi Chii. Hanya kau dan aku”.

-Tamat-


Rabu, 04 Maret 2015

I'm Back!!!
Kali ini di postingan saya yang kedua, saya akan mulai membagikan FF pertama buatan saya....
Semoga cerita ini bisa menarik kalian yang tanpa sengaja mampir ke blog ini ya...
Douzo ~~~

Cast : Hey! Say! JUMP
Main Cast : Yamada Ryosuke
Genre : Fantasy, Supernatural, Action

Warning : Ada beberapa member yang gender switch!

TEN KNIGHTS

Part 1

“Kring.......Ring.......Ring.......”.

Terdengar bunyi gaduh jam weker stroberi di atas meja. “Hng..... jam wekerku sudah berbunyi”, dengan enggan kuulurkan tanganku untuk mematikan jam weker yang berisik ini. Kuraba-raba meja yang berada tepat di sebelah tempat tidurku, lalu huplah, akhirnya kutemukan juga jam wekernya. Dengan malas, kurapikan tempat tidur, kulipat selimut, lalu dengan langkah gontai aku keluar kamar menuju kamar mandi.

“ohayou, Ryosuke”, ucap suara lembut yang sudah tidak terdengar asing lagi bagiku. Aku menoleh, kulihat ibuku berdiri disana melihatku dengan senyum yang lembut. “ohayou, okaasan”, jawabku. Entah kenapa, hatiku terasa tentram setiap kali melihat senyum di wajah ibu dan seketika itu juga rasa kantuk yang tadi melanda sekarang lenyap. Aku pun bergegas mandi, mengenakan seragam, dan menuju ruang makan untuk sarapan. Dimeja, sudah tersedia roti selai stroberi kesukaanku dan segelas susu hangat yang siap untuk kusantap, “Itadakimasu!”, aku pun segera melahap roti dengan lahap.

“Ryosuke....”

“Nani?”

“Bisakah kau pulang cepat hari ini? Kaa-san akan mengadakan pesta kecil untukmu. Hari ini, kaa-san akan membuatkan makanan kesukaanmu”.

“Hm? Emang ada apa kaa-san? Ada perayaan apa?”

“Loh? Kamu ini gimana sih? Hari ini kan hariulang tahunmu yang ke-17, makanya ibu ingin mengadakan pesta”.

Aku tersentak kaget, kulihat kalender yang tergantung tak jauh dari situ, kulihat tanggal hari ini, benar saja, sekarang tanggal 9 Mei, hari ini aku ulang tahun. 

“Arigatou, kaa-san. I love you!!”, ucapku riang. Aku memeluk ibu dan memberi kecupan kecil di pipinya. “Yabai!!! Kalau aku tidak berangkat sekarang, nanti aku ketinggalan bis. Aku berangkat kaa-san”, seru Ryosuke sambil bergegas lari keluar. “Hati-hati, jangan sampai terjatuh ya......”, jawab kaa-san. Aku melambaikan tangan ke kaa-san dan segera berlari kecil agar tidak tertinggal bis.

Ibu Ryosuke melihat anaknya hingga anaknya tidak terlihat lagi di matanya. Sang ibu masuk ke rumah, menuju ruang keluarga,lalu menghampiri foto seorang pria yang tidak lain adalah suaminya, ayah Ryosuke.
“Yah, tidak terasa anak kita sudah berusia 17 tahun sekarang. Dia sudah dewasa. Sebentar lagi sudah waktunya dia bertemu dengan ‘mereka’. Aku tidak bisa menyembunyikannya terus menerus. Nanti malam, saat pesta, aku harus menceritakan semuanya padanya”, lirih sang ibu.

“Uagh.... tinggal 10 menit lagi nih. Ah, aku memotong jalan lewat pasar aja deh”, aku berbelok melewati gang sempit disebelah kiri. Begitu keluar dari gang, aku merasakan sensasi aneh. Tubuhku seakan melewati lapisan air yang tipis, padahal tidak ada apapun disana. Aku berhenti sejenak, kemudian melihat jam tanganku, “Waduh, tinggal 7 menit lagi”, aku pun mulai bergegas lari lagi. Setelah sekian lama berlari, aku mulai menyadari keanehan di sekelilingku. ‘Kenapa daerah ini sepi sekali? Padahal jam segini biasanya orang banyak berlalu lalang. Apakah pasar ini libur? Padahal setiap hari pasar ini selalu buka’. Perlahan kuhentikan langkahku, aku mengamati sekeliling. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan, bahkan serangga pun tidak tampak. Bulu kudukku mulai berdiri, ‘ada yang tidak beres’, pikirku.

Tiba-tiba dari arah kanan, muncul sesosok manusia. Tampaknya seperti pria paruh baya. Aku pun menghampiri pria tersebut untuk menanyakan apa yang terjadi di sekitar sini.

“Permisi pak...”, ucapku pelan. Bapak itutidak menoleh, malah terus berjalan seakan tidak mendengar.

“Permisi pak”, kuulangi lagi kali ini dengan suaranya yang agak keras. Tapi bapak itu tidak menoleh.

“Permisi pak!!”, dengan kesal ku pegang bahu bapak itu. Bapak itu akhirnya berhenti dan mulai menoleh ke arahku. Seketika aku terkejut dan “AAAAAA........!!!!!!!! SETAN!!!!!!!”, di kepala bapak tersebut, sama sekali tidak ada muka, semuanya rata. Refleks aku pun mulai berlari kembali menjauhi bapak tersebut.

Aku berlari dengan sekuat tenaga. Aku pun menoleh ke belakang, berharap yang kulihat tadi hanyalah ilusi. Aku lebih kaget lagi ketika tahu makhluk yang kukira bapak-bapak tadi, mulai mengejarku. Makhluk itu tidak hanya berlari dengan kedua kakinya, tapi tangannya juga, dan sekarang dia sudah hampir menyusulku. Tiba-tiba di depanku juga muncul makhluk yang sama dengan yang mengejarku. Tidak hanya satu, satu persatu makhluk itu mulai muncul di hadapanku. Dari belakang, aku merasakan ada yang menarik kakiku, aku pun jatuh. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari makhluk tersebut. Tangan kanan dan kiriku dicengkeram oleh makhluk lainnya. Mereka menahan tubuhku dengan keras, sehingga aku tidak bisa berkutik. Entah kenapa, makhluk-makhluk tersebut mulai mengerumuniku.

Aku mengamati makhluk itu dengan seksama, tubuh mereka pucat dan lentur, aku bisa menduga bahwa mereka tidak punya tulang. Dan di wajah mereka yang seharusnya rata, aku melihat goresan tipis. Awalnya kukira itu hanya lipatan kulit biasa, tapi ternyata perlahan goresan itu membuka danaku bisa melihat gigi-gigi yang tajam dan lidah mereka yang menjulur. Satu persatu aku merasakan ada tetes air yang jatuh membasahi tubuhku, tapi aku akhirnya menyadari itu bukan air, melainkan air liur makhluk-makhluk tersebut.‘aku akan dimakan, aku akan mati disini’, pikirku pasrah. Perlahan mulut makhluk mengerikan itu mendekati wajahku, siap untuk memangsaku. Aku menutup mataku. Tiba-tiba terbayang sosok ibu di mataku. 

“O....ka.....san.....”, ucapku pelan tak berdaya.

Tsuzuku.... :)


Minggu, 01 Maret 2015

Introduction

Doumo ~~~ :)
My Name is Hida, my nickname is Dachan.
Yoroshiku nee~~

Ini sebenarnya bukan pertama kalinya aku buat blog sih...
dulu uda ada, tapi karena uda lama g dibuka, jadinya terpaksa buat baru deh.
Aku buat blog ini iseng-iseng aja sebenarnya.
Buat nampung hobi yang kutekuni akhir-akhir ini...

Yup, hobiku adalah buat cerita sendiri mengenai idola pujaanku, yang biasa kalian sebut FF jugaa...
FF yang pertama kubuat mengenai anak-anak JUMP.

Do you know Hey! Say! JUMP?

Hmm... yg suka ama jejepangan pasti tahu lah ya....
Hey! Say! JUMP adalah grup idola yang terdiri dari 9 orang laki-laki muda (msh bisa dibilang muda g ya?)
Grup yang terdiri dari Yabu Kota, Takaki Yuya, Inoo Kei, Yaotome Hikaru, Arioka Daiki, Okamoto Keito, Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke dan Chinen Yuri ini adalah grup idola yang berada di bawah naungan Johnny;s Entertainment. Ituloh, agensi terkenal yang sudah melahirkan banyak artis idola, seperti SMAP, ARASHI, V6, dll.


Oke... perkenalannya cukup sekian dulu ya....
Nanti ku update lagi kok blog ini...
Semoga g bakal terlantar kayak blog yg dulu ya...

Matta ne ~~~ ;)