Part 2
“O....ka....san....” ucapku putus asa. Aku sudah pasrah. Tidak kusangka hidupku akan berakhir dimangsa oleh makhluk jelek dan mengerikan. Lebih parahnya, aku mati saat usiaku pas 17 tahun. Sial banget hidupku.
“Hey!! Makhluk jelek!! Ayo, kejar aku!!”,terdengar suara lantang dari kejauhan. Aku membuka mata, makhluk-makhluk itu tidak bergerak sama sekali, seakan tidak mendengar suara lantang tadi. Tiba-tiba, satu persatu makhluk mengerikan itu menghilang seperti pasir. Samar-samar aku melihat sosok perempuan, kelihatannya seumuran denganku, wajahnya tidak kelihatan jelas karena tudung yang dipakai tapi aku yakin itu adalah perempuan.
“Aah... makanya aku tidak suka berurusan dengan kalian, Uda jelek, tuli pula”, gerutu cewek itu. Cewek itu membuka botol yang ada di tangannya. Dari botol tersebut, keluar serbuk berwarna coklat.Cewek itu melempar serbuk tersebut ke arah makhluk-makhluk itu. Sesuatu yangajaib terjadi. Makhluk yang tekena serbuk tersebut, mulai mengering dan berubah menjadi debu dalam sekejap. Dalam waktu singkat, semua makhluk tadi berubah menjadi debu. Hanya satu yang tersisa, yang saat ini sedang menindih badanku. Makhluk yang berada di atasku ini langsung melompat ke arah cewek tersebut, “AWAASSS!!!!”, teriakku. Belum sampai makhluk tersebut menyerang ke cewek itu,makhluk tersebut sudah berubah menjadi debu. Akhirnya tidak ada satupun yang tersisa, semua habis menjadi debu. Aku memandang dengan tegun, seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat barusan.
“Hika?? Ini aku. Semua sudah kubereskan. Bagaimana di tempatmu?”, cewek itu berbicara di earphone yang terpasang ditelinganya.
“Sudah beres”, terdengar suara samar-samar dari earphone cewek itu.
“Oke, Chii semua sudah beres. Kau bisa melepas pelindungnya sekarang”, ucap cewek itu sambil berbicara lewat earphonenya.
“Oki doki”.
Entah kenapa aku merasa sensasi yang sama saataku keluar dari gang sempit saat akan memasuki pasar tadi. Dan aku semakin terkejut, saat tiba-tiba keadaan sekitarku berubah. Jalan yang tadi sepi, entah sejak kapan sudah banyak orang yang berlalu lalang. Aku mengucek mata, seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat. ‘kenapa bisa banyak orang disini? Bukankah sampai tadi tidak ada orang satupun? Kenapa sekarang banyak orang? Apa yang tadi kulihat hanya ilusi? Makhluk itu yang berusaha memakanku dan cewek itu. Oh ya, cewek itu. Dimana dia?’, kutengok kanan-kiri tapi cewek bertudung itu tidak ada dimanapun.
“Kau tidak apa-apa dik? Kenapa duduk saja dijalan?”, aku menoleh, kulihat ada seorang wanita muda mengulurkan tangannya padaku. Syukurlah, wanita ini punya wajah. Kuulurkan tanganku untuk meraih tangan itu, “terima kasih bu”. “Wah, kakimu berdarah. Pasti sakit ya terluka seperti itu”, seru wanita itu sambil melihat kakiku. Aku melihat kakiku, benar saja, kakiku berdarah. Ini pasti terjadi saat makhluk mengerikan itu mencengkeram kakiku. Berarti kejadian yang barusan terjadi itu bukan mimpi. Makhluk itu dan cewek itu semuanya bukan ilusi semata. Tapi aku sama sekali tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
“kamu bisa berdiri? Ayo kita ke klinik dekatsini. Kakimu harus diobati”, ucap wanita itu.
“Terima kasih”, ucapku meringis kesakitan. Memang sampai tadi aku sama sekali tidak merasakan sakit. Mungkin rasa takutku tadi mengalahkan rasa sakit yang kuderita. Tapi begitu aku sudah merasa aman, rasa sakit di kakiku mulai menerpa. Dengan tertatih-tatih ku coba berjalan menuju klinik yang ada di dekat situ.
Di atas atap gedung, ada 3 sosok yang sedang mengamati ryosuke.
“Itukah orangnya? Cowok SMA yang kamu ceritakan tadi?”, ucap pria yang giginya gingsul itu, yang tadi dipanggil Hika oleh cewek bertudung tersebut.
“Ya.... aku bertemu dengannya di dalam pelindung. Orang biasa tidak akan bisa menembus pelindung yang kita buat.Kecuali ...... “ ucap cewek bertudung tadi.
“Kecuali dia kawan kita”, ucap cewek mungil yang ada disebelahnya, wajahnya imut seperti boneka.
“Tapi Chii, bisa saja dia juga musuh kita.Ingat, yang bisa berada di dalam pelindung adalah kawan maupun lawan”, ucap cewek bertudung tadi.
“Hee.... aku sih maunya dia jadi kawan kita. Daichansih selalu curiga dengan orang. Wajahnya juga lumayan, tipeku tuh”, ucap cewek mungil itu yang dipanggil Chii oleh cewek bertudung.
“tidak ada salahnya untuk waspada kan?? ”,ucap cewek bertudung yang dipanggil daichan tersebut.
“Mungkin saja dia adalah ksatria kesepuluhkan??”, ucap Hika menengahi perdebatan kecil kedua cewek tersebut.
“Daichan kamu mau kemana??”, Chii bertanya pada daichan yang mulai mengenakan headsetnya dan tampaknya bergegas akan pergi.
“Kembali ke markas, aku ingin menemui keito. Keito bisa memastikan pada kita apakah dia kawan atau lawan. Kalo benar dia adalah ksatria kesepuluh, kita harus segera menjemputnya. Kalo dia lawan, kitaharus segera membunuhnya”, ucap daichan sambil tersenyum lebar. Kedua orang yang lain saling berpandangan. Mereka kemudian bergegas menyusul daichan yang sudah jalan duluan kembali ke tempat yang mereka sebut ‘markas’ tersebut.
Tsuzuku ~~~

