Jumat, 15 Juli 2016

SWEET TIME

YamaChii & TakaDai

YamaChii~

"Ryosuke... Lihat itu"

Yamada yang sedang berjalan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Chinen. Dua buah kalung dengan bentuk sama terpajanb di sebuah etalase toko.

"Kau punya uang berapa?", tanya Chinen dengan mata berbinar.

Yamada menghela nafas. Dia tahu apa maksud Chinen.

"Tapi Yuri, itu kalung pasangan"

"Memangnya kenapa? Kau juga membeli kaos pasangan dengan Suda kan?"

"Tapi Yuri... Itu perhiasan dan...harganya..."

"Aku mengerti" potong Chinen. "Sudahlah. Ayo kita makan. Aku lapar"

Chinen berjalan lebih dulu meninggalkan Yamada. Yamada menghela nafas lagi. Dia tahu kalau Chinen sekarang sedang kesal. Yamada melihat kalung pasangan itu lagi.

"Tidak ada pilihan lain...."

-----

Chinen tertidur pulas di ruang latihan. Latihan dance kali ini menguras tenaganya. Sebenarnya dance kali ini tidak terlalu susah, tapi mungkin Chinen yang terlalu over.

"Chii... Bangun. Kau tidak pulang?"

Chinen membuka matanya dan melihat Keito duduk di sebelahnya.

'Tring...'

Chinen melihat ke arah lehernya. Ada sesuatu yang menggantung disana. Sebuah kalung yang bentuknya sama persis seperti yang dia inginkan kemarin.

"Eh? Apa ini?", Chinen tidak mengerti kenapa kalung itu ada disana.

"Ah... Kalian ini sudah seperti pasangan saja", komentar Keito saat melihat kalung Chinen.

"Hah? Kalian? Siapa?"

"Kau dan Yama-chan. Kalian berdua menggunakan kalung yang sama. Ck ck ck.. Kenapa tidak sekalian cincin pasangan saja?"

"Eh? Ryosuke?"

'Kapan dia membelinya? Kapan dia mengenakan kalung ini padaku?', pikir Chinen sambil memegang kalung barunya.

Chinen melirik ke arah Yamada yang langsung mengalihkan pandangannya ketika mata mereka berdua bertemu. Chinen tersenyum ketika melihat pantulan wajah Yamada yang tampak tersipu. Wajahnya semakin cerah ketika melihat sebuah kalung yang sama dengannya terpasang di leher Yamada.

"Ryosuke... Arigatou...", batin Chinen.

---***---

TakaDai~

"Uwah... Keajaiban!", seru Daiki saat memasuki ruangan. "Sejak kapan kau membaca buku?"

Daiki langsung menghampiri Takaki yang sedang asyik membaca buku. Takaki sama sekali tidak menghiraukan Daiki dan terus membaca bukunya.

"Takaki? Kau sakit?"

Daiki menempelkan tangannya ke dahi Takaki. Takaki yang sedikit terusik akhirnya melihat ke arah Daiki.

"Aku tidak sakit. Kenapa sih?", kesal Takaki yang aktivitas membacany terganggu.

"Habisnya... Kau membaca buku, hal yang jarang kau lakukan. Ditambah lagi kau memakai kacamata"

"Ini kan bukan pertama kalinya aku memakai kacamata. Aneh ya?"

"Tidak.", Daiki mendekatkan wajahnya. "Tapi aku lebih suka menatap matamu langsung tanpa kacamata"

Takaki langsung memfokuskan diri membaca bukunya lagi sedangkan Daiki tertawa. Dia tahu kalau Takaki saat ini merasa malu. Dia meletakkan kepalanya di paha Takaki dan tiduran disana sambil terus menatap wajah Takaki yang membaca buku.

"Kawaii na...", gumam Daiki.

"Urusai..."

-----END