Sabtu, 20 Juni 2015

TEN KNIGHTS

PART 30

KLANG! Terdengar bunyi pisau jatuh. Daiki tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya, Inoo berhasil mengelak dari serangan pisau. Inoo memasang kuda-kuda dengan 2 pedang di tangannya.

“Sudah kuduga, kau pasti akan menyerangku. Untung aku tadi sudah menyiapkan diri dengan membawa pedangku. Kalau tidak, aku sudah menjadi salah satu korbanmu, seperti Keito”, kata Inoo. “Nah, bukankah sudah waktunya kau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, hei makhluk kegelapan?”.

Makhluk kegelapan yang mirip dengan Daiki itu menunjukkan ekspresi terkejut, panik, dan akhirnya tersenyum. “Well done, ksatria. Darimana kau tahu aku bukan temanmu yang asli?”, tanya makhluk itu.

“Keito yang memberitahu kami. Selain itu, sejak awal kau datang dengan berpura-pura sebagai Daiki, aku sudah curiga. Kau juga kan yang telah membunuh Ryuu?”.

Daiki menghela nafas panjang, “Itu memang kesalahanku. Seharusnya saat kau melihatku waktu itu, aku harusnya segera menyerangmu. Tapi, tidak apalah. Aku akan membunuhmu saat ini juga disini, lalu aku akan kembali ke rumah dan membunuh Keito, dengan begitu tidak ada lagi yang tahu tentang diriku”.

“Kata siapa hanya aku yang tahu?”, kata Inoo sambil tersenyum. Seketika ada pelindung yang terbentuk. Pelindung itu mengurung Inoo dan Daiki di dalamnya. Dari arah belakang makhluk kegelapan itu, ada beberapa sosok yang datang mendekat. Dari arah belakang Inoo juga ada seseorang yang datang mendekat. “Nah, apa yang akan kau lakukan? Bisakah kau menang melawan 4 ksatria sekaligus?”. Yabu muncul dari belakang Inoo, sedangkan Hika dan Yuya muncul dari belakang makhluk kegelapan itu.

“Kalian menjebakku”, ucap makhluk kegelapan itu.

“Rencanamu berjalan mulus Inoo”, ucap Hika.

“Tapi, hampir saja kau terluka akibat serangannya”, kata Yabu.

“Tapi yang penting, rencana ini berhasil kan?”, ucap Inoo sambil tersenyum ke arah Yabu. “Aku tahu kalau dia akan menyerang kita kalau ada salah satu ksatria saja yang berduaan dengannya”. Yabu hanya bisa menghela nafas saja.

“Kenapa kalian semua bisa tahu?”, tanya makhluk itu.

“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali kekasihku sendiri? Sejak kau muncul di hadapanku, aku langsung tahu kalau kau bukan Daichan yang asli. Aku tidak mungkin salah mengenal orang yang kukasihi sendiri. Meskipun kau sangat mirip dengannya, tapi kau bukan dia. Aku terus berada disisimu untuk memastikan kau tidak bisa menggunakan kemampuanmu”, kata Yuya mantap.

“Suara detak jantungmu juga berbeda dengan Daichan yang asli. Aku hapal semua bunyi detak jantung para ksatria, apalagi Daichan karena kami saling mengenal sejak kecil”, ucap Hika.

“Kalau kalian semua sudah tahu dari awal, kenapa tidak langsung menyerangku saat itu juga? Bukankah itu lebih baik bagi kalian?”, tanya makhluk itu.

“Karena kami belum memiliki bukti yang kuat. Kami tidak menyangka ada yang bisa menembus pelindung kami. Oleh karena itulah, kami ragu apakah kau Daichan yang sesungguhnya atau orang lain yang menyamar sebagai dia”, jawab Hika.

“Tapi, ketika Keito diserang dan dia dengan jelas mengatakan bahwa kau adalah makhluk kegelapan. Mulai saat itu semuanya menjadi lebih jelas. Kami semua yang mengetahui identitasmu sebenarnya langsung berkumpul dan membuat rencana untuk menyerangmu”, tambah Inoo.

“Lebih baik kau tunjukkan wujudmu yang sebenarnya. Sudah tidak ada gunanya lagi kau berpura-pura sebagai Daichan”, kata Yabu. “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku Daiki”, ucap makhluk kegelapan itu.

“Kenapa kau masih tetap bersikeras mengaku sebagai Daichan? Sudah kubilang kami sudah tahu siapa kau yang sebenarnya”, kata Inoo.

“Aku tidak bohong kok. Namaku memang Daiki. Lebih tepatnya Shigeoka Daiki, salah satu prajurit kegelapan”, kata makhluk kegelapan itu. Perlahan tubuh makhluk kegelapan itu berubah wujud. Sosok Daichan yang berdiri di hadapan mereka telah berubah menjadi sosok seorang pemuda. Semua ksatria yang melihat pemuda itu tercengang dengan perubahan wujudnya. “Aaaahhhhh..... padahal aku suka wujud ini. Kemampuannya luar biasa”, kata Daiki lagi.

“Apa tujuanmu menyamar sebagai Daichan?”, tanya Inoo.

“Dimana Daichan yang asli? Dimana kau menyembunyikannya?”, tanya Yuya.

“Apa kekuatanmu yang sebenarnya? Kenapa kau bisa berwujud seperti Daichan? Bahkan kekuatanmu sama dengan miliknya”, tanya Yabu.

“Wo, wo, wo, sabar..... tanyanya satu-satu donk. Baiklah, sebagai penghargaan, akan kujawab pertanyaan kalian”, ucap Daiki. “Aku salah satu maou, prajurit kegelapan. Kemampuanku adalah ‘stealing’. Tugasku adalah membunuh para ksatria sekaligus mengulur waktu”, jawab Daiki.

“Stealing?”, tanya seluruh ksatria kompak.

“Yup, seperti namanya. Stealing, berarti mencuri. Aku mencuri sebagian kemampuan milik Arioka Daiki ini, lalu kemampuannya kugunakan sebagai kemampuanku sendiri. Ah, aku tidak hanya mencuri kemampuan saja, tapi aku juga bisa mencuri wujud seseorang yang kemampuannya kucuri. Oleh karena itu, aku bisa berwujud seperti orang aslinya. Bahkan beberapa diantara kalian hampir tidak bisa membedakannya kan?”, terang Daiki.

“Kenapa saat kau ada di dekatku, kemampuanmu tidak bisa kunetralisir?”, tanya Yuya.

“Selama aku masih punya kemampuan yang kucuri dalam tubuhku, aku bisa terus berwujud seperti orang aslinya. Bahkan kemampuanmu sendiri tidak akan mampu menetralisirnya”, jawab Daiki bangga.

“Lalu dimana Daichan yang asli?”, tanya Yuya lagi.

“Sang kunci? Ya jelas dia masih berada di kediaman Tuan Jack lah.... dia adalah benda penting bagi kami, tidak mungkin dia dilepaskan begitu saja. Aku disuruh kemari dengan menyamar sebagai Daiki yang asli, dan kalau bisa membunuh ksatria yangada. Dengan sosok ini, kecurigaan kalian akan berkurang, dan aku bisa dengan mudah menyerang kalian tanpa perlawanan. Buktinya aku berhasil membunuh salah satu diantara kalian kan? Ah, mungkin satu lagi ksatria akan menyusul”, ucap Daiki sambil tersenyum. Semua ksatria yang ada di hadapan Daiki menggeram marah. Yabu sudah bersiap maju untuk menyerang Daiki, tapi gerakannya dihentikan oleh Yuya.

“Hentikan. Biar aku saja yang melawannya”, ucap Yuya.

“Aku juga ingin melawannya. Aku ingin membalas atas perbuatannya terhadap Ryuu”, kata Yabu.

“Aku juga. Aku juga ingin melawannya”, tambah Hika. Inoo juga bergerak maju dengan menyiapkan dua pedang di tangannya. Yuya berdiri di hadapan mereka semua seakan ingin menghentikan mereka.

“Kalian mundur saja, aku sendiri sudah cukup untuk melawannya. Kalian tidak usah membuang tenaga untuk menghadapi makhluk rendahan seperti ini. Aku tidak bisa memaafkannya yang sudah mencuri kemampuan milik Daichan, meniru wujudnya, dan terlebih lagi, menggunakan kemampuannya untuk membunuh Ryuu yang sudah dianggap seperti adik oleh Daichan”, setelah berkata seperti itu, tiba-tiba keluar energi yang sangat besar dari tubuh Yuya. Perlahan Daiki berjalan mundur setelah merasakan energi yang keluar dari tubuh Yuya. Yabu, Hika, dan Inoo yang berdiri di dekat Yuya juga merasakan energi tersebut dan memutuskan untuk mundur.

“Inoo, tutup matamu. Sebaiknya kau tidak melihat pertarungan ini”, kata Yabu sambil menutup kepala Inoo dengan jaket yang dipakainya.

“Kenapa?”, tanya Inoo heran.

“Pertarungan ini tidak layak ditonton. Kau tidak merasakannya? Yuya benar-benar merasa marah saat ini, dan itu bukan pertanda baik”, kata Yabu.

“Benar kata Yabu, dan kurasa lebih baik kita segera menjauh dari sini. Kita hanya mengganggu Yuya saja. Benar kata Yuya, dia sendiri sudah cukup untuk menghadapinya”, sahut Hika. Mereka bertiga memutuskan untuk mundur dan membiarkan Yuya menghadapi musuh sendirian.

“Kau yakin bisa menghadapiku sendirian?”, tanya Daiki pada Yuya yang berdiri dihadapannya.

“Kau bercanda? Aku adalah ksatria yang paling kuat diantara yang lain, bagaimana mungkin aku bisa dikalahkan oleh musuh sepertimu?”, ucap Yuya dengan tatapan mata yang angkuh.

“Kau tahu? Aku sangat membencimu saat ini”

“Wah, kita sama kalau begitu. Aku juga sangat membencimu saat ini. Dimana kalian menyembunyikan Daichan?”.

“Kalau aku tidak ingin memberitahumu, apa yang akan kau lakukan?”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu menjawabnya meskipun dengan cara terpaksa”.

“Kau tidak akan bisa mengalahkanku kalau sendirian. Aku akan mengalahkanmu dengan kemampuan yang sama dengan yang dimiliki oleh kekasihmu itu”

“Daichan saja tidak pernah menang melawanku, bagaimana kau bisa mengalahkanku? Akulah yang akan mengalahkanmu. Lalu akan kubuat kau mengatakan dimana Daichan berada saat ini”, keduanya lalu maju secara serentak untuk mulai saling menyerang.

Dirumah Hika, Yamada dkk...

“Ara? Kalian Cuma berdua? Yang lain pergi kemana?”, tanya yuto saat melihatku dan Chinen di ruang tengah.

“Saa...Inoo dan Daichan belum kembali. Setelah itu Yabu, Hika, dan Yuya juga pergi entah kemana”, jawabku.

“Tapi, lebih enak begini kan? Sudah lama kita tidak berduaan saja....”, kata Chinen manja sambil merangkul tanganku dengan erat.

Tidak lama kemudian kami semua terdiam. Aku bisa merasakan sebuah pelindung telah dibuat. Aku melihat ke arah Yuto dan Chinen. Mereka juga merasakan hal yang sama.

“Ada pertarungan lagi”, gumam Chinen.

“Siapa yang sedang bertarung?”, tanyaku.

“Entahlah, tapi yang pasti itu dibuat oleh salah satu dari 5 orang yang tidak ada disini”, kata Yuto.

“Apa mereka akan baik-baik saja?”, tanyaku cemas.

“Kau tidak usah khawatir Ryochan, mereka pasti bisa menghadapi musuh yang muncul dihadapan mereka”, ucap Chinen. Kurasa dia mengatakan hal itu untuk menghiburku.

“Sou, sou, Chii benar. Tidak usah khawatir. Mereka semua yang ada di luar sana, semuanya sangat tangguh, kurasa mereka pasti bisa menghadapi siapapun yang muncul di hadapan mereka”, tambah Yuto. Aku mengangguk mendengar ucapan mereka berdua. Benar juga, aku harus percaya pada temanku.

“Benar, kalau mereka terluka. Aku akan siap untuk mengobati mereka”, kataku.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Keito ya....”, kata Yuto.

“Memangnya ada apa?”, tanyaku.

“Aku ingin mengganti perban luka Keito. Ini sudah waktunya untuk mengganti perbannya”, jawab Yuto.

“Mau kubantu?”, tanyaku lagi.

“Ah, kurasa tidak usah. Aku sendiri juga bisa kok. Apalagi.....”, Yuto melirik kearah Chinen yang berada di sebelahku. Mukanya terlihat menyeramkan, seakan mengatakan pada Yuto untuk tidak mengganggu kami.

“Kenapa?”, tanyaku heran

“Tidak apa-apa. Aku sendiri sudah cukup. Kau disini saja dengan Chii, nikmati saja waktu santai kalian.....”, kata Yuto sambil berlalu pergi. Chinen tersenyum kegirangan. Hanya aku saja yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kenapa Yuri? Kau terlihat gembira sekali”

“Tidak. Aku hanya senang sekali saat ini. Aku sangat senang Ryochan ada disampingku”.

Aku bercakap-cakap dengan Chinen. Banyak hal yang kami bicarakan. Yah, meskipun yang paling banyak bercerita adalah Chinen dan aku lebih banyak mendengarkan saja.

“Yamachan! Cepat kemari!”, seru Yuto dari arah kamar.

Aku dan Chinen saling berpandangan. “Kenapa sih si Yuto?”, gerutu Chinen kesal.

“Yamachan!”, seru Yuto lagi.

“Kurasa ada sesuatu yang terjadi. Ayo kita kesana dan melihat apa yang terjadi”, kataku. Kami berdua segera menuju ke tempat Yuto berada.

“Ada apa Yuto?”, tanyaku.

“Yamachan, coba lihat Keito. Dia....”, kata Yuto sambil terbata-bata. Aku mendekat ke arah Keito dan mencoba melihat kondisinya. Aku terkejut saat melihat kondisi tubuhnya memburuk, nafasnya tersengal-sengal, keringat banyak bercucuran keluar, dan saat aku melihat bekas lukanya, aku bisa melihat ada bercak kehitaman di sekitar luka Keito.

“Ada apa ini? Kenapa bisa begini?”, tanyaku tidak mengerti.

“A-aku juga tidak tahu. Saat aku masuk kemari, aku melihat kondisi Keito semakin memburuk. Terlebih lagi, saat aku membuka perbannya untuk menggantinya, aku melihat bercak kehitaman ini”, jawab Yuto.

“Mustahil! Ini tidak mungkin!”, seru Chinen.

“Kenapa Chinen?”, tanyaku.

“Bercak kehitaman itu, itu tanda kalau Keito telah terkena racun”, jawab Chinen.

“Berarti, orang yang telah melukai Keito memiliki kemampuan racun juga. Sama seperti apa yang terjadi pada Ryuu!”, sahut Yuto. DEG! Tiba-tiba kejadian Ryuu kembali terlintas di pikiranku. Memang benar, saat ini kondisi Keito sama dengan kondisi Ryuu saat itu.

“Apa yang harus kita lakukan?”, tanya Yuto panik.

“Kita harus mengeluarkan racun dari tubuh Keito. Tapi, bagaimana caranya? Daichan sedang keluar, master dan Yuya juga sedang tidak ada disini. Apa yang bisa kita lakukan?”, ucap Chinen. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang sangat panik. “Aku akan mencoba menghubungi mereka”, tambah Chinen sambil mengeluarkan hpnya.

Aku terdiam kaku melihat Keito. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Terakhir kali aku mencoba untuk menggunakan kemampuanku untuk menolong Ryuu, hal itu tidak ada gunanya. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Kali ini, Keito mengalami kejadian yang sama dengan Ryuu saat itu. Dan kali ini, aku benar-benar sendirian. Yuya, master dan Daiki tidak ada disini. Apa yang bisa kulakukan seorang diri? Bisakah aku menolong Keito sendirian?

“Sial! Aku tidak bisa menghubungi Yuya dan Daichan! Master juga tidak bisa kuhubungi! Apa yang sedang mereka lakukan sih?”, gerutu Chinen kesal.

“Coba sekali lagi Chii, hubungi mereka terus”, kata Yuto. “Ukh, seandainya aku bisa mengambil racun dari tubuh Keito sama seperti yang dilakukan oleh Daichan”,gumam Yuto.

Aku tersadar dengan ucapan Yuto barusan. Mengambil racun? Bukankah itu sama dengan mengambil rasa sakit? Aku teringat latihanku dengan Jin mengenai bagaimana caranya mengambil sel tubuh yang sudah rusak. Mungkin aku bisa menggunakannya saat ini. Tapi, ini terlalu berisiko. Aku melihat kondisi Keito yang semakin parah.

“Aku akan mencobanya”, gumamku. Aku meletakkan tanganku diatas luka Keito, perlahan aku mencoba mengeluarkan racun dari tubuh Keito.

“Apa yang kau lakukan Ryochan?”, tanya Chinen saat melihat apa yang kulakukan.

“Aku akan mencoba mengambil racun dari tubuh Keito”, jawabku.

“Hentikan! Kalau kau lakukan itu, kau sendiri akan terkena racun”, seru Yuto.

“Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan! Kalau kita tidak segera mengambil racun dari tubuh Keito, bisa-bisa kita akan terlambat menyelamatkannya. Aku tidak mau lagi merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan temanku”, kataku. Chinen dan Yuto terdiam mendengar perkataanku.

“Tapi Ryochan....”, kata Chinen pelan.

“Tidak usah khawatir. Pada waktu awal aku bertemu dengan Daichan, aku pernah terkena sedikit racun darinya. Saat itu tubuhku secara otomatis membuat penawar racun. Jadi, kurasa aku akan baik-baik saja”, kataku. Aku terus memusatkan kemampuanku agar bisa mengambil racun dari tubuh Keito. Perlahan, bercak kehitaman di tubuh Keito mulai berkurang. Raut wajahnya pun sudah mulai membaik. Aku berhasil mengambil seluruh racun dari dalam tubuh Keito.

“Yatta!! Kau berhasil Yamachan! Kau bisa mengambil seluruh racun dari tubuh Keito!”, ucap Yuto gembira.

“Ryochan! Kau hebat!”, seru Chinen riang sambil memelukku. Chinen memelukku dengan sangat erat, sehingga aku kesulitan untuk bernafas.
DEG! Aku merasakan hal yang aneh. Tubuhku tiba-tiba merasa panas, badanku juga tiba-tiba merasa lemas. Keringatku pun mulai keluar dengan deras.

“Ryochan?”, tanya Chinen yang menyadari ada yang aneh dengan kondisi tubuhku.

“Yamachan, kau kenapa?”, tanya Yuto khawatir saat melihatku.

Akumelihat ke arah mereka berdua, tiba-tiba pandanganku merasa buram. Tenagaku juga hilang. BRUKK!! Aku terjatuh lemas. Dengan sigap Chinen dan Yuto menahan tubuhku.

“Yamachan, kau kenapa? Apa yang terjadi?”, tanya Yuto. Dari sekitar tubuhku mulai timbul bercak kehitaman.

“Ryochan, bangun! RYOCHANN!!!”, seru Chinen. Aku bisa mendengar suara teriakan Chinen, tapi perlahan mataku mulai menutup. ‘Apa yang terjadi padaku?’

Tsuzuku ~~~

AKUMA NO YOROI

Part 19
Suasana di kediaman Okamoto terlihat sepi. Yama sedang sibuk membersihkan rumah. Meskipun dengan sosoknya yang seekor anjing, Yama tetap berusaha membersihkan rumah agar rumah tetap terlihat bersih. Sebenarnya, Yama ingin pergi berbelanja bahan makanan untuk makan malam nanti seperti yang biasa dia lakukan. Akan tetapi, dengan kondisinya saat ini hal itu tidak mungkin. Tidak ada cerita seekor anjing bisa berbicara dengan manusia dan pergi berbelanja.
Ada satu hal lagi yang membuat Yama tidak ingin meninggalkan rumah sekejap-pun. Ya, tentu saja ini akibat 3 demon yang datang tiba-tiba di kediaman mereka. Yama sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa tujuan para demon itu datang kemari.
Ada suatu hal yang selalu mengganggu pikiran Yama. Kenapa para demon itu mengikat kontrak dengan Keito? Apa untungnya buat mereka? Memang, mereka bisa membuat keuntungan dengan meminta imbalan pada manusia yang telah mengikat kontrak dengan mereka. Tapi, apa hanya dengan itu mereka sudah puas? Yama pun tahu kalau para demon dilarang dekat dengan manusia, tapi kenapa 3 demon ini malah mengikat kontrak dengan Keito? Ada sesuatu yang belum terungkap disini dan Yama berusaha mengungkap kebenarannya.
Yama mengintip ke arah ruang tamu dimana 3 demon itu berada. Mereka bertiga tidak melakukan apa-apa. Sungguh pemandangan yang tidak terduga. Yama menduga kalau demon itu selalu bertindak liar. Tapi, melihat 3 demon itu sekarang, mereka terlihat seperti manusia. Hika sedang berbaring santai, Yabu menyandarkan diri ke dinding sambil membuka sebuah buku, entah dia membaca buku itu atau tidak.
Yama lebih tertarik dengan apa yang dilakukan Inoo. Bukan karena Inoo melakukan tindakan yang aneh, tapi karena Inoo sedang mengamati foto salah satu leluhur keluarga Okamoto. Yama berusaha mendekat untuk melihat siapa yang sedang dilihat Inoo lebih dekat.
“Kaoru-san?”, gumam Yama heran. ‘Kenapa demon itu melihat foto Kaoru-san seperti itu? apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Aku tidak pernah ingat melihat Kaoru-san bertemu dengan demon itu maupun berbicara dengannya’, batin Yama.
Yama lebih heran lagi saat melihat ekspresi wajah Inoo. Itu bukanlah wajah demon. Itu adalah wajah manusia. Wajah yang mengekspresikan perasaan rindu dan sayang. Yama sama sekali tidak menyangka kalau demon bisa berekspresi seperti itu. Yama benar-benar penasaran, apa hubungan Inoo dengan Kaoru-san.
“Ternyata kau punya hobi yang jelek ya, anjing kecil”
Yama langsung terperanjat kaget saat mendapati Hika sudah berdiri di belakangnya. Akibat teriakan kecil Yama, Yabu dan Inoo juga menyadari kehadiran Yama. Hika tersenyum geli melihat Yama yang tampak panik karena aksi ‘mengintip’nya ketahuan oleh Hika.
“Bagaimana bisa? Sejak kapan?”, tanya Yama.
“Hmm... sejak kau mengamati kami dari sana”, Hika menunjuk ke arah ruang dimana Yama pertama kali berada. “Aku selalu menyadari kalau kau sedang mengawasi kami. Tapi lama kelamaan kau mendekat dan mengintip kami dari dekat”
“Apa yang kau inginkan anjing cilik?”
Yama kembali terkejut saat melihat Inoo sudah berdiri tepat di hadapannya. ‘Apakah para demon memang suka muncul tiba-tiba’, batin Yama kesal. Yama juga msih ingat ketika Inoo dan Yabu muncul di kamar Keito secara tiba-tiba. Begitu pula saat tadi pagi Inoo membangunkan Keito.
“Hei, aku tanya apa yang kau inginkan”. Inoo mengangkat tubuh Yama dengan salah satu tangannya. Yama langsung mengarahkan cakarnya ke wajah Inoo, tapi belum sampai cakar Yama mengenai wajahnya, Inoo sudah melempar Yama terlebih dahulu. “Bocah tengik!”, kesal Inoo.
“Justru aku yang ingin bertanya pada kalian. Apa yang kalian rencanakan?”, Yama bersuara agak keras setengah membentak. “Apa mau kalian? Kenapa kalian muncul satu persatu di hadapan Keito? Kalian juga memintanya mengikat kontrak dengan kalian. Bukankah demon dilarang berhubungan dengan manusia? Kenapa kalian malah mendekat ke Keito dan mengikat kontrak dengannya?”
Yama mengatur nafasnya kembali setelah semua pertanyaan yang ada di kepalanya sudah dia keluarkan. Yabu hanya melihat sekilas ke arah Yama dan kembali melanjutkan kegiatan membacanya. Kelihatan sekali kalau Yabu tidak berniat ikut repot. Hika melirik ke arah Inoo sekilas, sedangkan Inoo hanya tersenyum mendengar semua pertanyaan Yama.
“Apa imbalannya?”, Inoo memperlihatkan senyum manisnya kepada Yama. Tapi Yama malah merasa jengkel melihatnya.
“Apa maksudmu?”, tanya Yama.
“Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu kan? Jadi kau harus memberi imbalan kepadaku dulu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu. Give and Take”
“Untuk apa aku memberi imbalan kepadamu?”
“Kalau begitu, aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu. Aku tidak ingin memberikan sesuatu dengan gratis”
Yama hanya berdecak kesal. Sedangkan Inoo tersenyum puas karena berhasil membuat Yama bungkam. Inoo segera berbalik untuk menjauh dari Yama.
“Kaoru-san”
Langkah Inoo terhenti saat dia mendengar sebuah nama yang digumamkan oleh Yama. Yabu bahkan menghentikan gerakan tangannya saat dia akan membalik sebuah halaman. Hanya Hika yang bertanya-tanya tidak mengerti.
“Apa hubunganmu dengan Kaoru-san?”, tanya Yama lagi.
“Apa maksudmu?”, Inoo kembali melihat Yama dengan senyum di wajahnya. “Aku tidak kenal dengan orang yang kau sebut ‘Kaoru-san’”
“Jangan bohong. Aku melihatmu sedang mengamati foto Kaoru-san!”, Yama menunjuk ke arah foto Kaoru yang terpajang. “Kenapa demon sepertimu bisa mengenal Kaoru-san? Apa semua kejadian ini ada hubungannya dengan beliau?”
---***---
“Keito, ayo kita pergi ke kantin. Aku sudah lapar...”
“Tunggu sebentar Juri”, Keito tampak sibuk membereskan mejanya. “Nah, ayo pergi”
Juri memandang Keito dengan heran. “Kau tidak membawa bekal? Tumben”
“Ah iya. Sekali-kali aku juga ingin makan di kantin”
Keito berbohong. Alasan sebenarnya karena Yama tidak bisa membuatkan bekal untuknya. Dengan kondisinya yang masih berbentuk anjing, tidak mungkin dia bisa memasak. Untuk sarapan pagi ini saja, Chii-lah yang membantu Yama. Tapi, karena Chii tidak sepandai Yama, maka yang bisa dibuat Chii hanya yang ringan-ringan saja. Sampai Yama kembali seperti semula, Keito harus bersabar tidak membawa bekal.
Suasana kantin tampak ramai seperti biasanya. Jam makan siang memang adalah saat yang paling ditunggu oleh para murid. Semua berebutan agar bisa mendapatkan makanan terlebih dahulu karena perut mereka sudah berteriak minta diisi.
Keito bersusah payah untuk memesan makanan. Ini pertama kalinya semenjak bersekolah disini Keito memakan makanan di kantin. Biasanya Keito selalu membawa bekal buatan Yama. 10 menit kemudian Keito berhasil mendapatkan satu paket ramen lengkap beserta dengan tempura dan katsudon.
Setelah selesai mendapatkan makanan, Keito dan Juri segera mencari tempat duduk. Hampir semua bangku disana telah kosong. Semua? Tidak. Ada satu bangku disana yang tetap kosong. Semua orang takut untuk duduk disana setelah melihat siapa yang sedang duduk disana.
Keito berpura-pura tidak melihat ke arah bangku yang kosong itu. Keito mempercepat langkah kakinya untuk menjauhi bangku itu, tapi sayangnya, sosoknya telah tertangkap basah.
“Bento-kun! Disini! Disini!”
Keito langsung menghela nafas panjang. Suara Arioka-senpai terdengar jelas di telinganya. Dia berniat untuk mengindahkan panggilan tersebut, tapi dia tidak berani. Dengan pasrah, Keito mendekat ke arah Daiki. Juri pun mengikuti Keito dari belakang.
“EH??? Kau tidak membawa bekal, bento-kun???”
Daiki melihat nampan makanan yang dibawa oleh Keito. Raut wajah kecewa terlihat jelas di mukanya. Entah kenapa, Keito merasa bersalah pada senpainya itu.
Tiba-tiba Keito merasa sakunya bergetar. Chii mengeluarkan auranya. Tampaknya dia cukup geram saat melihat demon yang memangsa kekuatannya ada di hadapannya.
“Chii, tenanglah. Tidak ada gunanya kau menyerangnya disini. Bersabarlah”, bisik Keito.
Chii segera menuruti perintah tuannya. Tampaknya Chii bisa menenangkan dirinya kembali. Tapi, Keito tahu dari sorot mata Chii kalau dia merasa kebencian dan kemarahan.
“Ukh... Aneh, padahal aku merasa tadi kalau kau membawa daging. Aku bisa mencium bau daging dari dirimu”, Daiki menunjukkan ekspresi kecewa, mukanya terlihat seperti anak kecil.
Keito langsung terkejut saat tiba-tiba Daiki menarik kerah Keito. Chii sudah bersiap untuk menyerang Daiki. Keito bisa melihat sekilas warna merah di mata Daiki. Keito mengira kalau Daiki akan menyerang Keito disana. Tapi ternyata Daiki tidak menyerang Keito, Daiki mencoba mengendus Keito.
Yuya yang sedari tadi berada di sebelah Daiki langsung menarik Daiki agar kembali ke bangkunya. Tindakan Daiki barusan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka.
“Apa yang kau lakukan?”. Yuya menjitak pelan kepala Daiki.
Daiki mencibir, “Habisnya... aku mencium bau daging dari tubuhnya. Jadi aku ingin memastikan saja. Yuyan... aku mau daging...”, rengek Daiki.
“Habiskan dulu semua makananmu. Nanti akan kukasih”
“Benarkah? Hore!!!”, Daiki berteriak kegirangan. Dengan segera, Daiki langsung melahap semua makanan yang ada di meja.
Keito hanya melihat senpainya itu dengan tercengang. Dia mulai ragu, apakah benar Arioka senpai yang dilihatnya ini adalah demon? Tingkahnya bahkan mirip seperti anak kecil.
Perhatian Keito kini teralihkan pada segerombolan murid yang duduk tidak jauh dari mereka. Murid-murid itu tampak sibuk mendiskusikan sesuatu. Beberapa di antara mereka ada yang terlihat depresi.
“Ada apa sih?”, tanya Keito heran.
“Ah itu... mereka itu adalah penggemar Inoo. Inoo hari ini tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Jadi semua penggemarnya panik”, sahut Daiki sambil sibuk menyendok makanan.
DEG! Keito terdiam saat mendengar nama Inoo disebut.
“Eh? Hime-sama tidak masuk? Bukankah itu tidak aneh? Hampir semua siswa setidaknya pernah tidak masuk satu kali kan?”, sahut Juri yang tampaknya sudah tidak terlihat takut lagi.
“Tapi si Inoo itu memang tidak pernah absen masuk sekolah. Ini pertama kalinya. Apalagi si Yabu, teman dekat Inoo juga tidak masuk sekolah. Aku juga tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak. Tapi, Hikaru yang merupakan teman baik mereka juga tidak masuk hari ini”, sahut Daiki lagi.
“Eh... aneh. Keito, kau tahu sesuatu?”, tanya Juri.
DEG! Dada Keito berdetak semakin kencang.
“Eh? Kenapa kau tanya aku?”, Keito berusaha menutupi kegugupannya.
“Bukankah akhir-akhir ini kau dekat dengan Hime-sama? Kupikir kau tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh yang lain”, selidik Juri.
“Mana aku tahu. Memangnya aku sedekat apa?”
“Benarkah kau tidak tahu apa-apa?”, selidik Juri sekali lagi. Tampaknya dia berusaha mencari tahu informasi mengenai Inoo pada dia.
“Aku benar-benar tidak tahu Juri... kau ini kenapa sih?”, ucap Keito setengah kesal.
“Ya sudah kalau begitu”
Keito melihat ke arah Juri. Juri terlihat sangat kesal. Keito tidak mengerti apa yang membuat Juri kesal. Keito juga sedikit terkejut saat tiba-tiba Yuya memegang kepala Keito.
“A-a-ada apa?”, tanya Keito gugup.
Keito langsung ketakutan saat ingat bahwa Takaki-senpai yang ada di hadapannya ini juga demon. Takaki sama sekali tidak mengindahkan Keito. Dia malah menyibakkan poni Keito sehingga dahi Keito kini terlihat jelas. Setelah melihat dahi Keito cukup lama, Yuya menjauhkan tangannya dari kepala Keito dan segera beranjak pergi. Daiki juga beranjak pergi mengikuti Yuya dari belakang. Keito melihat kepergian keduanya sambil memegang dahinya yang baru saja diperhatikan oleh Takaki.
“Kenapa dia memperhatikan dahiku?”, gumam Keito.
“Entahlah. Mungkin dia jatuh cinta pada dahimu?”, celetuk Yugo yang tiba-tiba muncul di samping Keito.
“Yugo! Sejak kapan kau memperhatikanku?”
“Sejak tadi. Tadi aku berniat makan bersama kalian, tapi aku mengurungkan niatku saat melihat kalian duduk semeja dengan pasangan kelas 3 yang menyeramkan itu”, Yugo kemudian melihat ke arah Juri yang masih cemberut. “Dia kenapa?”, bisik Yugo.
“Entahlah”, jawab Keito sambil mengangkat bahu. “Ah, lebih baik kita segera kembali, sebentar lagi waktunya masuk”
Keito segera membereskan nampan makanannya. Karena tergesa-gesa, Keito tidak sadar ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tabrakan tidak terelakkan.
“Kau tidak apa-apa?”
Keito melihat sosok pemuda yang ditabraknya. Seorang pemuda berwajah blasteran.
“Maaf. Aku tidak melihatmu”
“Tidak apa-apa, aku juga salah karena lewat tiba-tiba”, ucap pemuda itu lagi. “Namaku Jesse” Pemuda itu mengulurkan tangannya.
“Aku Keito”. Keito membalas uluran tangan itu. Tiba-tiba Keito merasa ada yang aneh. Pandangan matanya kabur. Kepalanya terasa berat.
“Nah, Keito. Aku akan mengintip ingatanmu sebentar”, bisik Jesse. “Aku butuh informasi mengenai keberadaan Inoo, Yabu dan Hika. Aku tahu kau mengetahui sesuatu tentang mereka”

Tsuzuku ~~~

SPD (Special Police Department)

Main Cast : Inoo Kei
Cast : Hey! Say! BEST
Genre : Misteri, Suspense, Komedi (?)
Ceritanya ini terinspirasi dari beberapa anime, manga, dorama, dan movie. Jadi kalau ada kemiripan karakter dan cerita, mohon dimaafkan.
Nah, bisakah kalian tebak apa aja anime, manga, drama, dan movie yang kupakai disini?
intro
Main cast POV
Hari ini adalah hari yang kutunggu. Hari dimana aku mendapat lambang sakura bertengger di seragamku. Hari dimana aku bisa mengabdikan diriku untuk orang lain.
Upacara pelantikan telah berakhir. Aku telah resmi menjadi seorang polisi. Tidak terasa, sudah hampir 2 tahun aku berada di akademi kepolisian dan sekarang aku telah lulus, sebagai lulusan terbaik.
Yang menjadi permasalahanku sekarang adalah dimana aku akan bekerja? Ada 4 divisi disini. Divisi 1 menangani kasus kriminal Berat seperti pembunuhan. Divisi 2 menangani kasus kriminal ringan. Divisi 3 menangani kasus kebakaran dan kasus sepele lain. Divisi 4 adalah Divisi lalu lintas singkatnya Polantas.
Aku pribadi sebenarnya ingin masuk divisi 1, tapi keputusan akhir ada di kepala polisi. Dialah yang memutuskan posisi anggota baru.
"Inoo Kei"
Kepala polisi memanggilku. Selembar kertas yang ada di tangannya membuatku paham alasan pak kepala memanggilku.
"Mulai hari ini, kau akan ditempatkan di Divisi 5 atau biasa disebut SPD"
"SPD?", tanyaku.
"Special Police Department"
Normal POV
Seorang wanita muda berjalan mantap menuju kantor polisi. Mukanya tampak cukup bersemangat. Tapi meski begitu, semangat itu rasanya tidak mampu menyembunyikan rasa cemas dan bingung yang dia rasakan dari kemarin. Seharusnya hari ini dia mulai bekerja dengan gembira karena dia bisa menjadi seorang polisi seperti yang dia impikan, tapi berita penempatan pekerjaannya-lah yang membuatnya bingung.
Flashback
“SPD?”
“Special Police Department”
Inoo menatap kepala polisi dengan heran. Dia tidak pernah tahu kalau di kepolisian ini ada divisi yang ke-5. Setahu dia, hanya ada 4 divisi. Apalagi nama SPD. Dia sama sekali tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya.
“Maaf sebelumnya pak, apa bapak tidak salah? Setahu saya hanya ada 4 divisi disini”
“Tidak. Aku tidak salah”. Pak kepala polisi berjalan mendekati Inoo. “SPD adalah divisi rahasia. Tidak banyak orang tahu mengenai divisi ini. yang mengetahui keberadaan mereka hanyalah para petinggi kepolisian”. Suara pak kepala setengah berbisik. Tanda bahwa dia tidak ingin pembicaraan ini didengar oleh orang banyak.
Inoo mengernyitkan dahi. “Kalau divisi ini bersifat rahasia, kenapa saya malah ditempatkan disana?”
“Para petinggi sudah melihat kemampuanmu dan mereka setuju agar kau masuk ke SPD. Sudah lama kami mencari orang yang cocok untuk menambah anggota SPD, dan kami semua memilihmu. Inoo Kei, kau adalah lulusan terbaik akademi kepolisian. Nilai-nilaimu semua memuaskan. Kemampuan lapanganmu pun tidak kalah hebatnya. Kau seorang jenius”
Inoo tersipu malu saat mendengar seorang kepala polisi memuji prestasinya. Dia tidak menyangka akan mendapat pujian dari seorang kepala polisi.
“Baiklah pak. Saya terima tawaran itu. saya akan menjadi anggota SPD”
Tanpa pikir panjang Inoo menerima tawaran itu. Habisnya, dia merasa sangat senang saat kepala polisi memujinya. Saking senangnya Inoo, dia sampai lupa bertanya tentang SPD. Berapa anggotanya, apa kasus yang ditangani mereka, dan lain-lain.
Flashback End
Inoo kini sudah berada di depan kantor kepolisian pusat. Dia menatap gedung megah yang berdiri di hadapannya. Lambang sakura yang bertengger di atas gedung membuatnya gemetar. Dia sama sekali tidak menyangka kalau lambang sakura yang sama juga kini menempel di bajunya.
Inoo menarik nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Sejak kemarin dia tidak bisa tenang memikirkan pekerjaan barunya ini.
“INOO! Kemari!”
Inoo menoleh, terlihat olehnya pak kepala polisi sedang melambaikan tangan padanya. Dengan segera Inoo menuju ke arah pak kepala. Inoo langsung memberikan sikap hormat pada pak kepala.
“Kau datang tepat waktu. Nah, aku akan mengantarmu menuju SPD. Kau tidak tahu tempatnya kan?”
Inoo menggeleng. Dia baru sadar kalau dia tidak tahu dimana letak SPD. Inoo kemudian berjalan mengikuti pak kepala. Setelah beberapa langkah, dia mulai menyadari sesuatu.
“Ehm... permisi pak...”
“Ya?”
“Kemana kita akan pergi? Gedung utama kantor kepolisian kan ada di sebelah sana”, tanya Inoo setelah sadar kalau mereka berdua semakin menjauhi gedung utama.
“Ke kantor SPD. SPD memiliki kantor tersendiri yang letaknya terpisah dari gedung utama. Jaraknya hanya 10 menit dari gedung utama kok. Nah, itu dia!”
Kepala polisi menunjuk sebuah gedung kecil yang ada di hadapan mereka. Inoo langsung mengernyitkan alisnya. Gedung itu kelihatan sangat sederhana. Bahkan Inoo mengira gedung itu adalah sebuah gudang saat dia melihatnya pertama kali. Apa benar itu kantor SPD?
Kepala polisi membuka pintu gedung kecil itu. Inoo mengucek matanya tidak percaya saat melihat isi gedung itu. kondisi ruangan di dalam gedung kecil itu tidak kalah megah dengan ruangan gedung utama. Bahkan gedung kecil itu juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih. Inoo sempat melihat ada beberapa kamera pengintai yang terpasang di luar dan dalam gedung.
Kepala polisi menuju ke satu-satunya pintu yang ada di dalam ruangan tersebut. Inoo mengikuti dari belakang.
“Selamat datang di SPD”, seru kepala polisi saat membuka pintu.
Inoo melangkah masuk. Sekali lagi, Inoo merasa takjub saat melihat isi ruangan itu. Ruangan itu terlihat sangat luas, Inoo tidak menyangka kalau gedung kecil itu sangat luas di dalamnya.
Inoo melihat ke sekeliling ruangan. Ada 5 ruang kecil yang dipisahkan dengan kaca. Masing-masing ruangan berisi berbagai macam benda. Hanya 4 ruangan yang terlihat berisi. Sedangkan 1 ruang masih kosong. Inoo melihat ke arah salah satu pintu ruang yang berada di dekatnya. Terdapat sebuah papan nama. Itu berarti yang ada di dalam ruang itu adalah anggota SPD.
“UWAAA!!!!!!”
Inoo tersontak kaget saat seseorang keluar dari arah pintu yang ada di dekatnya. Seorang laki-laki jangkung, rambutnya disemir coklat, kulitnya berwarna sedikit gelap untuk orang Jepang. Laki-laki itu segera melepas kacamata yang bertengger di wajahnya.
“Perempuan! anggota baru kita ternyata seorang perempuan!”
Laki-laki itu berseru dengan semangat. Laki-laki itu kemudian berjalan menghampiri Inoo. Dia membungkukkan badannya dengan sopan. Inoo merasa tidak enak sempat mengira dia lelaki aneh. laki-laki itu kemudian memegang tangan Inoo. Dia mengamati Inoo dari atas hingga bawah, kemudian tersenyum.
“Akhirnya... selain Daichan, ada seorang perempuan lagi. Kau juga lumayan cantik”, puji lelaki itu. inoo sempat tersipu sedikit mendengarnya.
“Yuyan kejam! Bukankah aku juga ada?”
Seseorang tiba-tiba sudah berdiri di belakang lelaki itu. Inoo terperanjat kaget. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran orang itu. Orang itu mengenakan sebuah mini dress, rambutnya berwarna pirang dan potongannya pendek, tubuhnya juga sama tingginya dengannya, wajahnya juga lumayan cantik. Diakah yang dipanggil ‘daichan’ oleh lelaki ini?
“Mana mau aku dengan wanita jadi-jadian sepertimu. Aku masih lebih menyukai wanita tulen”, jawab lelaki itu.
Inoo yang mendengarkan percakapan itu seketika langsung melongo. Orang yang mengenakan dress di hadapannya ini adalah seorang lelaki?
“Takaki, Yaotome, jaga sikap kalian di hadapan anggota baru. Dimana Arioka dan Yabu?”, ucap kepala polisi.
“Aku disini”, seseorang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Tangannya menenteng sebuah notebook mini. Tubuhnya pendek. Rambutnya juga acak-acakan seperti tidak pernah disisir. Kacamata bundar tebal yang ada di wajahnya memberi kesan chubby pada wajahnya.
“Lalu Yabu?”, tanya kepala polisi.
Mereka bertiga serentak menunjuk ke arah ruangan yang ada di sebelah kiri. Inoo kembali terperanjat kaget saat melihat ada kepulan asap putih di dalam ruangan tersebut. Inoo langsung memasang wajah panik. Tapi, ketiga orang lainnya malah memasang muka cuek sedangkan kepala polisi hanya bisa mendesah pelan.
“YABU! Cepat keluar!”, seru kepala polisi.
Kepulan asap putih semakin memenuhi ruangan tersebut. Sehingga tidak ada yang bisa memberitahu apa yang terjadi disana. Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Seseorang yang mengenakan jas putih dan masker keluar dari kumpulan asap tebal tersebut. Orang itu mengeluarkan sebuah remot dari sakunya dan kemudian menekan salah satu tombol. Tidak berapa lama, asap itu seperti disedot ke suatu tempat dan menghilang.
“Nah. Semua sudah berkumpul. Kalian semua, perkenalkan dia...”
“Inoo Kei. 25 tahun. Lulusan terbaik akademi kepolisian tahun ini. Meraih semua nilai A untuk segala objek. Kemampuan prakteknya pun dinilai terampil. Hee... lumayan juga”
Orang yang berpenampilan acak-acakan itu langsung memotong pembicaraan kepala polisi. Dengan santainya dia melihat ke arah notebook yang ada di hadapannya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan padamu anggota SPD disini”, ucap kepala polisi. Dia mulai menunjuk ke arah lelaki berambut pirang yang berada paling dekat dengan Inoo. “Berlawanan dengan jarum jam, dia Takaki Yuya, Arioka Daiki, Yaotome Hikaru, dan yang terakhir Yabu Kota”
“Takaki Yuya, Arioka Daiki, Yaotome Hikaru, Yabu Kota...” Inoo menggumam sambil berusaha mengingat nama rekannya. Dia kemudian membelalakkan matanya setelah menyadari sesuatu.
“EH?!”, seru Inoo. “Takaki Yuya... salah satu pembunuh bayaran profesional, yang menjadi buruan CIA dan FBI?”. Yuya hanya tersenyum mendengar ucapan Inoo.
Inoo kemudian melihat ke sebelah Yuya, “Arioka Daiki... hacker jenius yang membobol sistem keamanan bank negara dan sempat membuat panik masyarakat karena tidak bisa melakukan transaksi jual beli selama seminggu?”
“Cracker, bukan hacker”, ralat Daiki.
“Yaotome Hikaru... the magician thief? Yang suka mencuri benda berharga dan barang bersejarah?”
“Kyaa... Jadi malu”, Hikaru langsung menutup mukanya dan bertingkah seperti seorang gadis.
“Dan kau...”, Inoo melihat ke arah Yabu. “Yabu Kota... ilmuwan gila yang meledakkan sebuah kota dengan bom buatannya dan membuat penduduk di kota sekitarnya masuk RS karena terpapar gas beracun?”
“Itu kecelakaan. Aku tidak sengaja meledakkan bom itu”, kilah Yabu.
Inoo menatap 4 orang yang ada di hadapannya. Mereka semua adalah penjahat jenius dan terkenal yang namanya ada di arsip ‘orang paling berbahaya’. Dan sekarang dia harus bekerja dengan mereka semua?
“Pak kepala... anda tidak salah menyuruh orang-orang ini bekerja di kepolisian?”, bisik Inoo.
“Inoo, terkadang untuk menangkap seorang penjahat handal kita butuh penjahat yang handal juga. Mereka bisa menangkap pelaku dengan pemikiran kriminal mereka. Buktinya, sampai saat ini, tidak ada kasus yang tidak bisa dipecahkan oleh mereka”
“Lalu, untuk apa saya ditempatkan disini?”, tanya Inoo.
Kepala polisi tersenyum. “Tugasmu adalah membantu dan mengawasi mereka. Selain itu, kau juga bisa bertindak sebagai mediator SPD dengan divisi lain. selama ini kami kesusahan mencari orang yang cocok dan bisa bekerjasama dengan mereka”
“Dan bapak kira saya bisa melakukannya?”, tanya Inoo.
Kepala polisi mengangguk dengan mantap. “Tidak usah khawatir. Mereka memang berbahaya bila menjadi musuh, tapi mereka akan menjadi rekan yang bisa diandalkan kalau mereka menjadi kawan”
“Sekali lagi, selamat datang di SPD”
Tsuzuku ~~

TEN KNIGHTS

PART 29

“Hei kalian! Ada yang lihat Daichan?”, tanya Yuya. Mukanya terlihat panik saat melihat Daiki yang tidak ada disana.

“Kukira dia sedang ke toilet, sebentar lagi mungkin dia akan kembali. Tenang saja...”, kata Hika.

“Yabai, aku lengah sedikit saja dia sudah tidak ada”, gumam Yuya pelan.

“Ada apa Yuya?”, tanya Inoo yang menjadi lawan latihan Yuya.

“Ah, Daichan tidak ada. Aku juga tidak tahu kemana dia pergi”, jawab Yuya.

“Kau terlalu berlebihan. Sebentar lagi dia juga kembali”, kata Yuto.

“Eh, tapi cukup lama juga dia keluar lo.... keito juga belum kembali. Kemana ya?”, kataku. Inoo dan Yuya saling berpandangan. Entah kenapa aku bisa melihat raut wajah tegang di antara mereka. Inoo melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Daiki. Tak lama kemudian Daiki datang dan bergabung bersama kami.

“Daichan!”, seru Yuya saat melihat Daiki berkumpul bersama mereka.

“Eh, ada apa?”, tanya Daiki dengan muka polos.

“Kau ini darimana? Kenapa tidak memberitahuku kemana kau pergi?”, bentak Yuya. Nada suaranya jauh lebih tinggi dari biasanya hingga membuat kami semua merasa ketakutan.

“Ma-ma-maaf. Aku tadi haus dan pergi mengambil minuman. Lalu aku mampir ke toilet sebentar”, jawab Daiki. Aku bisa melihat raut wajahnya yang ketakutan.

“Lain kali jangan menghilang seperti ini lagi. Kemanapun kau pergi, laporkan dulu padaku. Mengerti?”, seru Yuya lagi. Daiki hanya mengangguk saja. Wajahnya terus menunduk ke bawah. Yuya memeluk Daiki, “Maafkan aku. Aku tidak marah padamu. Hanya saja aku takut kalau kau akan menghilang lagi”.

“Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi kok. Aku tidak akan menghilang”, kata Daiki.

“Maaf aku mengganggu kalian, Daichan kau tahu dimana Keito? dia belum kembali dari tadi”, tanya Inoo.

“Keito? ah, aku tadi melihatnya keluar. Sepertinya dia keluar dengan terburu-buru. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dia belum kembali?”, tanya Daiki balik. Sekilas Inoo ragu dengan ucapan Daiki.

“Daichan, benarkah apa yang kau katakan tadi?”, tanya Hika.

“Soal Keito? Iya, aku mengatakan yang sebenarnya kok”, jawab Daiki mantap. Hika berdiri dan mendekati Daiki. Hika menggenggam tangan Daiki erat.

“Aku tanya sekali lagi, kau tidak bohong kan?”, tanya Hika lagi.

“Iya”, jawab Daiki mantap. Hika menatap mata Daiki lekat-lekat, kemudian menghela nafas.

“Yuya, kupikir sebaiknya kau mengecek Hpmu sewaktu-waktu. Mungkin ada telepon atau sms dari pekerjaanmu”, kata Hika sambil bicara seakan berbisik pada Yuya.

“Aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkanku”, kata Yuya.

“Saa, semuanya. Latihan hari ini sampai disini saja”, kata Hika membuyarkan kami yang masih latihan. Kami semua lalu masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba aku merasakan ada hawa pembunuh yang sangat kuat dari arah belakang. Aku menoleh dan melihat Daiki yang sedang membereskan peralatan kami. Daiki melihat ke arahku dan tersenyum. Aku pun juga membalas dengan senyum. ‘Perasaan apa itu tadi?’, pikirku.

Hari sudah menjelang malam. Matahari sudah mulai terbenam, tapi Keito belum juga kembali. Beberapa ksatria mulai tampak gelisah. Aku bisa melihat Inoo yang terus menerus melihat ke luar jendela. Tak lama kemudian dia bangkit dan berjalan menuju keluar.

 “Inoo! Kau mau kemana?”, tanya Yabu yang melihat Inoo keluar tergesa-gesa.

“Aku ingin mencari Keito sebentar. Aku takut kalau terjadi sesuatu padanya. Dia sama sekali tidak menghubungi kita”, jawab Inoo.

“Tunggu, aku ikut denganmu!”, seru Yabu yang juga berlari menyusul Inoo. Aku melihat mereka berdua pergi berlalu begitu saja. sebenarnya apa yang terjadi sih?

Inoo dan Yabu telah berada di luar rumah Hikaru. Tapi mereka tidak bertemu dengan Keito disana. Karena sudah malam hari, maka mereka susah melihat karena gelap.

“Aku punya firasat tidak enak...”, kata Inoo.

“Soal Keito?”, tanya Yabu.

“Yabu, kau tahu kan?”, tanya Inoo sambil memelankan suaranya seakan takut kalau suaranya akan terdengar oleh orang lain.

“Soal apa?”

“Itu...”, Inoo seakan ragu untuk melanjutkan perkataannya. Setelah melihat sekeliling dan memastikan tidak ada orang di sekitar sana, dia melanjutkan perkataannya, “Soal Daichan”.

Yabu menatap Inoo dengan ragu-ragu, kemudian menghela nafas. “Ternyata kau sudah tahu juga rupanya”. Perkataan Yabu membuat Inoo terkejut.

“Kau sudah tahu? Kupikir kau tidak tahu”, tanya Inoo heran. Setahu dia hanya dia dan Keito yang tahu.

“Kau ingat kemarin aku menerima telepon dari master kan? Pada saat itu master memberitahuku mengenai Daichan dan Ryuu. Aku diminta untuk tetap waspada terhadap Daichan. Aku sendiri tidak mau mempercayainya, tapi melihat ekspresimu saat ini kurasa itu benar”, kata Yabu. “Kau sendiri tahu darimana?”.

“Aku tahu mengenai Daichan saat aku pergi menyelidiki sekali lagi dengan Keito. Kau masih ingat saat kubilang aku melihat Daichan di hutan saat menemukan Ryuu? Saat itu melalui kemampuan Keito, aku melihat bahwa Daichan menyerang Ryuu. Awalnya aku tidak ingin menceritakan hal ini pada siapapun sebelum kecurigaan kami benar. Tapi, kalau Keito hilang seperti ini, aku mulai curiga lagi pada Daichan”, kata Inoo.

“Tenang saja. selama berada di rumah itu, Daichan tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kau tidak usah khawatir”.

“Kenapa kau bisa bilang begitu?”

“Kau lupa? Disamping Daichan saat ini ada Yuya. Dia tidak akan mungkin bisa menggunakan kemampuannya bila Yuya ada di sampingnya. Aku tidak tahu apakah Yuya mengetahui soal Daichan atau tidak, yang jelas saat ini dia akan terus berada di samping Daichan. Yang lebih penting, kita harus mencari Keito terlebih dahulu. Dari tadi aku berusaha menghubunginya tapi tidak tersambung. Sebenarnya dia ada dimana?”, kata Yabu.

Mereka terus mencari Keito dalam keadaan pencahayaan yang kurang. Wilayah sekitar rumah Hikaru memang tidak terlalu banyak rumah, sehingga pencahayaan tidak terlalu banyak di daerah situ.

“Susah sekali mencarinya dalam keadaan gelap seperti ini. Seandainya saja tadi waktu keluar aku membawa.....”, BRUKK!!! Tiba-tiba Yabu terjatuh, tampaknya dia tersandung sesuatu.

“Kau tidak apa-apa?”, tanya Inoo.

“Aku baik-baik saja, ini bukan pertama kalinya aku jatuh setelah tersandung sesuatu”, jawab Yabu sambil memegangi wajahnya yang sakit. Dia teringat kembali saat dia jatuh akibat tersandung kepala Nozomu. ‘jangan-jangan di dekat kakiku ada kepala lagi?’, pikir Yabu.

“Kyyaaa!!! Yabu!”, teriak Inoo saat melihat penyebab tersandungnya Yabu. Yabu bisa melihat ada sepasang kaki yang menjulur ke jalanan dari sebuah lorong kecil di sebelah mereka. ‘Syukurlah, bukan kepala’, pikir Yabu lagi. Yabu melihat sang pemilik kaki, alangkah terkejutnya mereka begitu tahu kaki itu milik Keito.

“Keito! Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya Inoo sambil mendekat ke arah Keito. Inoo menggoyangkan tubuh Keito dan tangannya seperti menyentuh sesuatu. Inoo melihat ke arah tangannya dan dia melihat tangannya itu penuh dengan darah.

“Inoo, apa yang ada di tanganmu itu? Kau berdarah?”, tanya Yabu.

“Bukan. Ini bukan darahku. Ini darah Keito. Yabu, coba lihat”, Inoo menunjukkan genangan darah di sekitar tubuh Keito. Jumlah darah yang keluar cukup banyak. Inoo memeriksa tubuh Keito, akhirnya dia menemukan sumber luka di tubuh Keito. Luka di perutnya akibat tusukan sesuatu yang tajam terbuka lebar dan sama sekali tidak menutup. Darah terus menerus keluar dari luka itu.

“Kita harus segera membawanya kembali. Kalau terus disini, dia bisa kehabisan darah”, kata Yabu sambil berusaha mengangkat tubuh Keito. Tiba-tiba tangan Yabu dipegang oleh Keito. Tampaknya kesadarannya mulai kembali.

“Keito!”, seru Yabu saat melihat matanya yang mulai terbuka.

“Da....chan.....luk.....lapan”, kata Keito terbata-bata. Suaranya tidak terlalu terdengar jelas.

“Sepertinya dia mengucapkan sesuatu”, kata Inoo sambil mendekatkan telinganya ke mulut Keito untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Keito.

“Itu bukan Daichan. Itu adalah makhluk kegelapan”, ucap Keito lirih. Setelah mengatakan hal itu, kesadaran Keito kembali hilang. Inoo dan Yabu saling berpandangan dengan terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh Keito.

“Daichan yang bersama kita itu, bukan Daichan yang sesungguhnya?”, kata Yabu tidak percaya.

“Itu adalah makhluk kegelapan?”, tanya Inoo juga.

Mereka berdua terdiam sejenak setelah mendengarkan perkataan Keito barusan. Mereka berusaha mencerna perkataan Keito. Tiba-tiba mereka berdua tersadar dengan hal yang harus mereka lakukan.

“Yang penting, ayo kita bawa Keito kembali terlebih dahulu. Kita harus menghentikan darahnya yang terus menerus keluar itu”, ucap Yabu sambil mulai mengangkat tubuh Keito dan memapahnya. Inoo juga membantu Yabu memapah Keito.

Di rumah Hikaru

“Inoo dan Yabu belum kembali juga ya?”, kataku sambil melihat ke luar.

“Keito juga, kenapa tidak diangkat sih?”, gerutu Yuto kesal sambil mengutak-atik Hpnya. Sedari tadi dia berusaha menelepon Keito, tapi sama sekali tidak diangkat.

“Arara, mereka belum kembali juga?”, tanya Chinen yang baru saja berkumpul bersama kami.

“Belum. Yang lain kemana?”, tanyaku.

“Daichan dan Yuya sedang ada di kamar. Yuya memaksa Daichan untuk beristirahat lagi. Hika sedang mengantar ibunya pergi”, jawab Chinen.

“Pergi?”, tanya Yuto.

“Iya, ibuku kuminta untuk tinggal di rumah bibiku untuk sementara waktu. Meskipun rumah ini dilapisi oleh pelindung buatan master, tapi tidak ada jaminan tempat ini akan selalu aman. Jadi aku memintanya pergi untuk sementara waktu selama kalian semua berkumpul disini”, ucap Hika yang baru berkumpul bersama kami.

“Ah, maafkan kami Hika. Gara-gara kami, ibumu sampai harus pergi”, kataku.

“Tidak apa. Ibuku sudah terbiasa dengan situasi ini kok”, kata Hika lagi. “Ah, mereka sudah tiba”, kata Hika sambil menuju ke pintu depan.
Tidaklama aku bisa mendengar bunyi pintu yang dibuka. ‘kemampuan Hika memang mengagumkan’, gumamku. Itu pasti rombongan Inoo dkk, aku bisa mendengar suara Inoo.

“Yamada! Cepat kemari!”, seru Hika. Aku langsung berlari menghampiri mereka. Begitu sampai di pintu, aku melihat Inoo dan Yabu memapah Keito yang berlumuran darah.

“Apa yang terjadi?”, tanyaku. Aku masih bisa melihat darah menetes dari tubuh Keito.

“Kami menemukannya sudah dalam kondisi seperti ini. Yamada, aku minta tolong, segera hentikan pendarahan di tubuh Keito”, ucap Inoo.

“Serahkan padaku. Aku akan mencoba menghentikan pendarahannya”, ucapku sambil mulai menggunakan kemampuanku.

“Keito! apa yang terjadi padamu?”, seru Yuto yang baru tiba. Mukanya terlihat panik. “Inoo, Yabu, apa yang terjadi?”, tanya Yuto.

“Kami berdua juga tidak tahu. Kami menemukannya terbaring bersimbah darah di sebuah lorong kecil yang cukup jauh dari sini”, jawab Yabu.

“Apakah dia diserang oleh musuh?”, tanya Hika. Yabu dan Inoo saling berpandangan. Mereka memikirkan perkataan Keito sebelumnya dan bingung bagaimana memberitahukan ke ksatria yang lain.

“Apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali”, ucap Yuya yang ikut berkumpul bersama kami. Daiki mengikuti di belakangnya.

“Keito? kenapa bisa terluka seperti ini? Apa yang sudah terjadi?”, tanya Daiki. Inoo menatap Daiki dengan tatapan tajam seakan berusaha untuk menyerangnya. Yabu melihat ke arah Inoo dan memberi isyarat agar tidak melakukan apapun terlebih dahulu.

Aku memusatkan kemampuanku pada luka yang ada di perut Keito. Perlahan aku bisa melihat luka itu mulai menutup, dan akhirnya luka itu menutup dengan sempurna. Tidak ada darah yang menetes keluar.

“Aku sudah menutup lukanya, dengan ini dia tidak akan kehilangan darah lebih banyak lagi. Tapi, karena dia sudah kehilangan banyak darah, kurasa dia perlu donor darah”, kataku.

“Sayang sekali Yamada, itu tidak mungkin. Darah ksatria tidak tergantikan. Dalam darah ksatria tidak hanya mengandung sel darah saja, tapi kemampuan mereka juga ada. Kalau sembarangan menerima donor dari darah lain yang bukan ksatria, maka akan terjadi reaksi penolakan yang cukup hebat. Meskipun golongan darahnya sama, dan sama-sama darah ksatria, tetap tidak bisa”, ucap Inoo.

“Kalau begitu bagaimana caranya mengembalikan stok darah dalam tubuh Keito?”, tanyaku.

“Kami biasanya meminum obat penambah darah yang diberikan oleh master. Obat ini akan membantu mempercepat pembentukan sel darah”, ucap Inoo lagi.

“Ah, sepertinya aku punya obat itu. Tunggu aku carikan dulu”, kata Hika sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

“Lebih baik kita bawa Keito ke kamarnya. Tidak mungkin kan kita membaringkannya didepan pintu terus menerus”, kata Chinen. Kami semua mengangguk setuju. Yuto menawarkan diri untuk menggendong Keito dan membawanya ke kamar. Aku membantu Yuto membaringkan Keito di tempat tidurnya.

“Maaf, hanya ini yang kupunya”, kata Hika sambil membawa beberapa obat. Jumlahnya tidak sampai 10 tablet.

“Ini belum cukup Hika”, kata Yuto.

“Untuk saat ini, kita berikan obat itu saja dulu. Sebentar lagi master dan Jin akan tiba disini, aku akan menghubungi mereka dan memintanya untuk membawa obat itu”, kata Yabu sambil keluar kamar. Inoo mengikutinya dari belakang.

“Aku keluar dulu ya... lebih baik membiarkan Keito istirahat. Ayo, yang lain juga segera kembali”, kata Hika sambil meminta ksatria yang lain untuk keluar darikamar.

Di halaman rumah

“Yabu, apa yang harus kita lakukan? Kalau apa yang dikatakan Keito itu benar, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Inoo.

“Sebelumnya kita harus mengkonfirmasi perkataan Keito dulu, benarkah Daichan yang itu adalah makhluk kegelapan? Dia sangat mirip dengan Daichan yang asli. Tidak ada satupun yang berbeda”, kata Yabu.

“Kurasa tidak, bunyi jantung mereka berbeda”, kata Hika yang tiba-tiba ikut berkumpul bersama mereka berdua.

“Hika...kau mendengarkan kami?”, tanya Inoo.

“Tunggu dulu, apa maksudmu bunyi jantungnya berbeda?”, tanya Yabu.

“Berkat kemampuanku ini aku bisa mendengar berbagai jenis suara, suara sekecilpun akan terdengar olehku. Ketika Daichan pertama kali datang kemari aku merasa aneh, bunyi detak jantungnya berbeda dari biasanya. Kupikir awalnya itu hanya persaanku saja. Tapi, begitu aku mendengar percakapan Inoo dan Keito, kecurigaanku mulai terbukti”, kata Hika.

“Kau mendengarkan percakapanku dengan Keito?”, tanya Inoo.

“Inoochan, kau lupa ya? Tidak ada satupun rahasia yang tidak kuketahui”, Hika mengucapkan itu sambil tersenyum bangga.

“Jadi, kau juga mengetahui soal Daichan sejak awal”, ucap Yabu.

“Ya, aku sudah curiga sejak awal. Yang membuatku bimbang adalah, kalau benar Daichan yang ada disini adalah makhluk kegelapan, bagaimana caranya dia bisa menembus pelindung?”, kata Hika lagi.

“Benar juga, pelindung buatan master berbeda dengan pelindung buatan kita. Pelindung yang dibuat oleh ksatria bertujuan untuk bertarung dengan makhluk kegelapan dan melindungi manusia. Sehingga yang bisa ada di dalam pelindung hanya musuh dan ksatria saja. Sedangkan pelindung yang dibuat oleh master berfungsi untuk menghalau makhluk kegelapan sehingga tidak ada satupun makhluk kegelapan yang bisa menembusnya”, kata Inoo.

“Kita harus membuat tindakan. Kalau terus dibiarkan, ksatria yang lain bisa dalam bahaya”, ucap Yabu.

Mereka bertiga berpikir keras, seperti memikirkan sesuatu. “Aku punya ide, dengarkan baik-baik”, kata Inoo. Dia kemudian membisikkan idenya itu pada dua temannya.

“Jangan bodoh Inoo. Itu terlalu berbahaya. Tidak. Aku tidak setuju dengan rencanamu itu”, kata Yabu.

“Tapi..... “, ucap Inoo.

“Kurasa ide yang dimiliki Inoo adalah ide bagus. Semakin cepat kita melakukannya, semakin baik”, kata Hika.

“Baiklah. Aku sependapat dengan kalian. Tapi, kau harus berhati-hati Inoo”, ucap Yabu.

“Tenang saja. Rencana ini akan berhasil”, kata Inoo. Hika terlihat mengetikkan sesuatu di hpnya.

“Kau sedang apa Hika?”, tanya Yabu yang melihat Hika sibuk mengetikkan sms.

“Aku memberitahunya mengenai rencana ini. Semakin banyak orang yang terlibat, maka kesuksesan akan semakin besar”, ucap Hika.

“Siapa yang kau maksud?”, tanya Yabu. Hika hanya tersenyum dan menunjukkan nama penerima pesan yang muncul di Hpnya. Seketika Inoo dan Yabu memandang nama itu tidak percaya.

“Tunggu dulu. Orang itu juga tahu semuanya?”, tanya Inoo tidak percaya.

“Ya,instingnya jauh lebih tajam dari kita semua lo”, kata Hika lagi.

“Setidaknya kalau dia memang mengetahui semuanya, maka kita bisa lebih tenang”, kata Yabu.

Tiga hari telah berlalu. Keito masih saja belum sadarkan diri. Persediaan obat penambah darah pun sudah mulai menipis. Beberapa kali kami berusaha menghubungi master, tapi tidak ada jawaban. Yabu bilang mungkin mereka saat ini berada diluar area sehingga sinyal telepon tidak sampai ke mereka. Aku tidak mau nasib Keito berakhir seperti Ryuu.

“Kalian semua, bersemangatlah. Keito pasti akan baik-baik saja. Berkat obat penambah darah yang ada, persediaan darah Keito mulai meningkat kan? Aku yakin, tidak lama lagi master akan tiba disini”, kata Yabu berusaha meningkatkan semangat teman-temannya.

“Benar kata Yabu. Kita harus tetap semangat”, ucap Inoo menambahkan. “oke deh, untuk makan siang hari ini aku saja yang masak. Aku akan pergi belanja membeli bahan-bahannya”.

“Aku akan pergi denganmu”, kata Yabu.

“Aku pergi dengan Daichan saja. Dia juga pernah tinggal di daerah ini kan? Jadi dia pasti hafal daerah sini”, ucap Inoo sambil melihat ke arah Daiki yang sedang duduk di sebelah Yuya.

“Tidak boleh. Kondisi tubuhnya masih terlalu lemah”, ucap Yuya.

“Aku tidak apa Yuya. Kondisi tubuhku sudah mulai membaik kok. Aku bisa pergi keluar kok”, kata Daiki.

“Tapi.....”, kata Yuya. mukanya tampak cemas seperti tidak ingin membiarkan Daiki pergi sendirian.

“Tenang saja Yuya, Daichan tidak sendirian kok. Aku juga bersamanya. Aku janji akan menjaganya”, kata Inoo.

“Baiklah kalau begitu. Jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku”, ucapYuya lagi.

“Aku mengerti”, ucap Daiki sambil tersenyum. Inoo dan Daiki pun pergi keluar bersama-sama.

Daiki menunjukkan arah jalan menuju pasar pada Inoo. Inoo berjalan terlebih dahulu didepan. Daiki berjalan di belakang. Di tangan Daiki ada sebilah pisau yang cukup tajam. Daiki bersiap menyerang Inoo dengan pisau itu sebelum Inoo menyadarinya. Daiki pun mengarahkan pisau itu ke arah Inoo dan mulai berlari ke arahnya.

Tsuzuku~~