PART 30
KLANG! Terdengar bunyi pisau jatuh. Daiki tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya, Inoo berhasil mengelak dari serangan pisau. Inoo memasang kuda-kuda dengan 2 pedang di tangannya.
“Sudah kuduga, kau pasti akan menyerangku. Untung aku tadi sudah menyiapkan diri dengan membawa pedangku. Kalau tidak, aku sudah menjadi salah satu korbanmu, seperti Keito”, kata Inoo. “Nah, bukankah sudah waktunya kau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, hei makhluk kegelapan?”.
Makhluk kegelapan yang mirip dengan Daiki itu menunjukkan ekspresi terkejut, panik, dan akhirnya tersenyum. “Well done, ksatria. Darimana kau tahu aku bukan temanmu yang asli?”, tanya makhluk itu.
“Keito yang memberitahu kami. Selain itu, sejak awal kau datang dengan berpura-pura sebagai Daiki, aku sudah curiga. Kau juga kan yang telah membunuh Ryuu?”.
Daiki menghela nafas panjang, “Itu memang kesalahanku. Seharusnya saat kau melihatku waktu itu, aku harusnya segera menyerangmu. Tapi, tidak apalah. Aku akan membunuhmu saat ini juga disini, lalu aku akan kembali ke rumah dan membunuh Keito, dengan begitu tidak ada lagi yang tahu tentang diriku”.
“Kata siapa hanya aku yang tahu?”, kata Inoo sambil tersenyum. Seketika ada pelindung yang terbentuk. Pelindung itu mengurung Inoo dan Daiki di dalamnya. Dari arah belakang makhluk kegelapan itu, ada beberapa sosok yang datang mendekat. Dari arah belakang Inoo juga ada seseorang yang datang mendekat. “Nah, apa yang akan kau lakukan? Bisakah kau menang melawan 4 ksatria sekaligus?”. Yabu muncul dari belakang Inoo, sedangkan Hika dan Yuya muncul dari belakang makhluk kegelapan itu.
“Kalian menjebakku”, ucap makhluk kegelapan itu.
“Rencanamu berjalan mulus Inoo”, ucap Hika.
“Tapi, hampir saja kau terluka akibat serangannya”, kata Yabu.
“Tapi yang penting, rencana ini berhasil kan?”, ucap Inoo sambil tersenyum ke arah Yabu. “Aku tahu kalau dia akan menyerang kita kalau ada salah satu ksatria saja yang berduaan dengannya”. Yabu hanya bisa menghela nafas saja.
“Kenapa kalian semua bisa tahu?”, tanya makhluk itu.
“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali kekasihku sendiri? Sejak kau muncul di hadapanku, aku langsung tahu kalau kau bukan Daichan yang asli. Aku tidak mungkin salah mengenal orang yang kukasihi sendiri. Meskipun kau sangat mirip dengannya, tapi kau bukan dia. Aku terus berada disisimu untuk memastikan kau tidak bisa menggunakan kemampuanmu”, kata Yuya mantap.
“Suara detak jantungmu juga berbeda dengan Daichan yang asli. Aku hapal semua bunyi detak jantung para ksatria, apalagi Daichan karena kami saling mengenal sejak kecil”, ucap Hika.
“Kalau kalian semua sudah tahu dari awal, kenapa tidak langsung menyerangku saat itu juga? Bukankah itu lebih baik bagi kalian?”, tanya makhluk itu.
“Karena kami belum memiliki bukti yang kuat. Kami tidak menyangka ada yang bisa menembus pelindung kami. Oleh karena itulah, kami ragu apakah kau Daichan yang sesungguhnya atau orang lain yang menyamar sebagai dia”, jawab Hika.
“Tapi, ketika Keito diserang dan dia dengan jelas mengatakan bahwa kau adalah makhluk kegelapan. Mulai saat itu semuanya menjadi lebih jelas. Kami semua yang mengetahui identitasmu sebenarnya langsung berkumpul dan membuat rencana untuk menyerangmu”, tambah Inoo.
“Lebih baik kau tunjukkan wujudmu yang sebenarnya. Sudah tidak ada gunanya lagi kau berpura-pura sebagai Daichan”, kata Yabu. “Siapa kau sebenarnya?”
“Aku Daiki”, ucap makhluk kegelapan itu.
“Kenapa kau masih tetap bersikeras mengaku sebagai Daichan? Sudah kubilang kami sudah tahu siapa kau yang sebenarnya”, kata Inoo.
“Aku tidak bohong kok. Namaku memang Daiki. Lebih tepatnya Shigeoka Daiki, salah satu prajurit kegelapan”, kata makhluk kegelapan itu. Perlahan tubuh makhluk kegelapan itu berubah wujud. Sosok Daichan yang berdiri di hadapan mereka telah berubah menjadi sosok seorang pemuda. Semua ksatria yang melihat pemuda itu tercengang dengan perubahan wujudnya. “Aaaahhhhh..... padahal aku suka wujud ini. Kemampuannya luar biasa”, kata Daiki lagi.
“Apa tujuanmu menyamar sebagai Daichan?”, tanya Inoo.
“Dimana Daichan yang asli? Dimana kau menyembunyikannya?”, tanya Yuya.
“Apa kekuatanmu yang sebenarnya? Kenapa kau bisa berwujud seperti Daichan? Bahkan kekuatanmu sama dengan miliknya”, tanya Yabu.
“Wo, wo, wo, sabar..... tanyanya satu-satu donk. Baiklah, sebagai penghargaan, akan kujawab pertanyaan kalian”, ucap Daiki. “Aku salah satu maou, prajurit kegelapan. Kemampuanku adalah ‘stealing’. Tugasku adalah membunuh para ksatria sekaligus mengulur waktu”, jawab Daiki.
“Stealing?”, tanya seluruh ksatria kompak.
“Yup, seperti namanya. Stealing, berarti mencuri. Aku mencuri sebagian kemampuan milik Arioka Daiki ini, lalu kemampuannya kugunakan sebagai kemampuanku sendiri. Ah, aku tidak hanya mencuri kemampuan saja, tapi aku juga bisa mencuri wujud seseorang yang kemampuannya kucuri. Oleh karena itu, aku bisa berwujud seperti orang aslinya. Bahkan beberapa diantara kalian hampir tidak bisa membedakannya kan?”, terang Daiki.
“Kenapa saat kau ada di dekatku, kemampuanmu tidak bisa kunetralisir?”, tanya Yuya.
“Selama aku masih punya kemampuan yang kucuri dalam tubuhku, aku bisa terus berwujud seperti orang aslinya. Bahkan kemampuanmu sendiri tidak akan mampu menetralisirnya”, jawab Daiki bangga.
“Lalu dimana Daichan yang asli?”, tanya Yuya lagi.
“Sang kunci? Ya jelas dia masih berada di kediaman Tuan Jack lah.... dia adalah benda penting bagi kami, tidak mungkin dia dilepaskan begitu saja. Aku disuruh kemari dengan menyamar sebagai Daiki yang asli, dan kalau bisa membunuh ksatria yangada. Dengan sosok ini, kecurigaan kalian akan berkurang, dan aku bisa dengan mudah menyerang kalian tanpa perlawanan. Buktinya aku berhasil membunuh salah satu diantara kalian kan? Ah, mungkin satu lagi ksatria akan menyusul”, ucap Daiki sambil tersenyum. Semua ksatria yang ada di hadapan Daiki menggeram marah. Yabu sudah bersiap maju untuk menyerang Daiki, tapi gerakannya dihentikan oleh Yuya.
“Hentikan. Biar aku saja yang melawannya”, ucap Yuya.
“Aku juga ingin melawannya. Aku ingin membalas atas perbuatannya terhadap Ryuu”, kata Yabu.
“Aku juga. Aku juga ingin melawannya”, tambah Hika. Inoo juga bergerak maju dengan menyiapkan dua pedang di tangannya. Yuya berdiri di hadapan mereka semua seakan ingin menghentikan mereka.
“Kalian mundur saja, aku sendiri sudah cukup untuk melawannya. Kalian tidak usah membuang tenaga untuk menghadapi makhluk rendahan seperti ini. Aku tidak bisa memaafkannya yang sudah mencuri kemampuan milik Daichan, meniru wujudnya, dan terlebih lagi, menggunakan kemampuannya untuk membunuh Ryuu yang sudah dianggap seperti adik oleh Daichan”, setelah berkata seperti itu, tiba-tiba keluar energi yang sangat besar dari tubuh Yuya. Perlahan Daiki berjalan mundur setelah merasakan energi yang keluar dari tubuh Yuya. Yabu, Hika, dan Inoo yang berdiri di dekat Yuya juga merasakan energi tersebut dan memutuskan untuk mundur.
“Inoo, tutup matamu. Sebaiknya kau tidak melihat pertarungan ini”, kata Yabu sambil menutup kepala Inoo dengan jaket yang dipakainya.
“Kenapa?”, tanya Inoo heran.
“Pertarungan ini tidak layak ditonton. Kau tidak merasakannya? Yuya benar-benar merasa marah saat ini, dan itu bukan pertanda baik”, kata Yabu.
“Benar kata Yabu, dan kurasa lebih baik kita segera menjauh dari sini. Kita hanya mengganggu Yuya saja. Benar kata Yuya, dia sendiri sudah cukup untuk menghadapinya”, sahut Hika. Mereka bertiga memutuskan untuk mundur dan membiarkan Yuya menghadapi musuh sendirian.
“Kau yakin bisa menghadapiku sendirian?”, tanya Daiki pada Yuya yang berdiri dihadapannya.
“Kau bercanda? Aku adalah ksatria yang paling kuat diantara yang lain, bagaimana mungkin aku bisa dikalahkan oleh musuh sepertimu?”, ucap Yuya dengan tatapan mata yang angkuh.
“Kau tahu? Aku sangat membencimu saat ini”
“Wah, kita sama kalau begitu. Aku juga sangat membencimu saat ini. Dimana kalian menyembunyikan Daichan?”.
“Kalau aku tidak ingin memberitahumu, apa yang akan kau lakukan?”
“Kalau begitu, aku akan membuatmu menjawabnya meskipun dengan cara terpaksa”.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku kalau sendirian. Aku akan mengalahkanmu dengan kemampuan yang sama dengan yang dimiliki oleh kekasihmu itu”
“Daichan saja tidak pernah menang melawanku, bagaimana kau bisa mengalahkanku? Akulah yang akan mengalahkanmu. Lalu akan kubuat kau mengatakan dimana Daichan berada saat ini”, keduanya lalu maju secara serentak untuk mulai saling menyerang.
Dirumah Hika, Yamada dkk...
“Ara? Kalian Cuma berdua? Yang lain pergi kemana?”, tanya yuto saat melihatku dan Chinen di ruang tengah.
“Saa...Inoo dan Daichan belum kembali. Setelah itu Yabu, Hika, dan Yuya juga pergi entah kemana”, jawabku.
“Tapi, lebih enak begini kan? Sudah lama kita tidak berduaan saja....”, kata Chinen manja sambil merangkul tanganku dengan erat.
Tidak lama kemudian kami semua terdiam. Aku bisa merasakan sebuah pelindung telah dibuat. Aku melihat ke arah Yuto dan Chinen. Mereka juga merasakan hal yang sama.
“Ada pertarungan lagi”, gumam Chinen.
“Siapa yang sedang bertarung?”, tanyaku.
“Entahlah, tapi yang pasti itu dibuat oleh salah satu dari 5 orang yang tidak ada disini”, kata Yuto.
“Apa mereka akan baik-baik saja?”, tanyaku cemas.
“Kau tidak usah khawatir Ryochan, mereka pasti bisa menghadapi musuh yang muncul dihadapan mereka”, ucap Chinen. Kurasa dia mengatakan hal itu untuk menghiburku.
“Sou, sou, Chii benar. Tidak usah khawatir. Mereka semua yang ada di luar sana, semuanya sangat tangguh, kurasa mereka pasti bisa menghadapi siapapun yang muncul di hadapan mereka”, tambah Yuto. Aku mengangguk mendengar ucapan mereka berdua. Benar juga, aku harus percaya pada temanku.
“Benar, kalau mereka terluka. Aku akan siap untuk mengobati mereka”, kataku.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menemui Keito ya....”, kata Yuto.
“Memangnya ada apa?”, tanyaku.
“Aku ingin mengganti perban luka Keito. Ini sudah waktunya untuk mengganti perbannya”, jawab Yuto.
“Mau kubantu?”, tanyaku lagi.
“Ah, kurasa tidak usah. Aku sendiri juga bisa kok. Apalagi.....”, Yuto melirik kearah Chinen yang berada di sebelahku. Mukanya terlihat menyeramkan, seakan mengatakan pada Yuto untuk tidak mengganggu kami.
“Kenapa?”, tanyaku heran
“Tidak apa-apa. Aku sendiri sudah cukup. Kau disini saja dengan Chii, nikmati saja waktu santai kalian.....”, kata Yuto sambil berlalu pergi. Chinen tersenyum kegirangan. Hanya aku saja yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Kenapa Yuri? Kau terlihat gembira sekali”
“Tidak. Aku hanya senang sekali saat ini. Aku sangat senang Ryochan ada disampingku”.
Aku bercakap-cakap dengan Chinen. Banyak hal yang kami bicarakan. Yah, meskipun yang paling banyak bercerita adalah Chinen dan aku lebih banyak mendengarkan saja.
“Yamachan! Cepat kemari!”, seru Yuto dari arah kamar.
Aku dan Chinen saling berpandangan. “Kenapa sih si Yuto?”, gerutu Chinen kesal.
“Yamachan!”, seru Yuto lagi.
“Kurasa ada sesuatu yang terjadi. Ayo kita kesana dan melihat apa yang terjadi”, kataku. Kami berdua segera menuju ke tempat Yuto berada.
“Ada apa Yuto?”, tanyaku.
“Yamachan, coba lihat Keito. Dia....”, kata Yuto sambil terbata-bata. Aku mendekat ke arah Keito dan mencoba melihat kondisinya. Aku terkejut saat melihat kondisi tubuhnya memburuk, nafasnya tersengal-sengal, keringat banyak bercucuran keluar, dan saat aku melihat bekas lukanya, aku bisa melihat ada bercak kehitaman di sekitar luka Keito.
“Ada apa ini? Kenapa bisa begini?”, tanyaku tidak mengerti.
“A-aku juga tidak tahu. Saat aku masuk kemari, aku melihat kondisi Keito semakin memburuk. Terlebih lagi, saat aku membuka perbannya untuk menggantinya, aku melihat bercak kehitaman ini”, jawab Yuto.
“Mustahil! Ini tidak mungkin!”, seru Chinen.
“Kenapa Chinen?”, tanyaku.
“Bercak kehitaman itu, itu tanda kalau Keito telah terkena racun”, jawab Chinen.
“Berarti, orang yang telah melukai Keito memiliki kemampuan racun juga. Sama seperti apa yang terjadi pada Ryuu!”, sahut Yuto. DEG! Tiba-tiba kejadian Ryuu kembali terlintas di pikiranku. Memang benar, saat ini kondisi Keito sama dengan kondisi Ryuu saat itu.
“Apa yang harus kita lakukan?”, tanya Yuto panik.
“Kita harus mengeluarkan racun dari tubuh Keito. Tapi, bagaimana caranya? Daichan sedang keluar, master dan Yuya juga sedang tidak ada disini. Apa yang bisa kita lakukan?”, ucap Chinen. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang sangat panik. “Aku akan mencoba menghubungi mereka”, tambah Chinen sambil mengeluarkan hpnya.
Aku terdiam kaku melihat Keito. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Terakhir kali aku mencoba untuk menggunakan kemampuanku untuk menolong Ryuu, hal itu tidak ada gunanya. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Kali ini, Keito mengalami kejadian yang sama dengan Ryuu saat itu. Dan kali ini, aku benar-benar sendirian. Yuya, master dan Daiki tidak ada disini. Apa yang bisa kulakukan seorang diri? Bisakah aku menolong Keito sendirian?
“Sial! Aku tidak bisa menghubungi Yuya dan Daichan! Master juga tidak bisa kuhubungi! Apa yang sedang mereka lakukan sih?”, gerutu Chinen kesal.
“Coba sekali lagi Chii, hubungi mereka terus”, kata Yuto. “Ukh, seandainya aku bisa mengambil racun dari tubuh Keito sama seperti yang dilakukan oleh Daichan”,gumam Yuto.
Aku tersadar dengan ucapan Yuto barusan. Mengambil racun? Bukankah itu sama dengan mengambil rasa sakit? Aku teringat latihanku dengan Jin mengenai bagaimana caranya mengambil sel tubuh yang sudah rusak. Mungkin aku bisa menggunakannya saat ini. Tapi, ini terlalu berisiko. Aku melihat kondisi Keito yang semakin parah.
“Aku akan mencobanya”, gumamku. Aku meletakkan tanganku diatas luka Keito, perlahan aku mencoba mengeluarkan racun dari tubuh Keito.
“Apa yang kau lakukan Ryochan?”, tanya Chinen saat melihat apa yang kulakukan.
“Aku akan mencoba mengambil racun dari tubuh Keito”, jawabku.
“Hentikan! Kalau kau lakukan itu, kau sendiri akan terkena racun”, seru Yuto.
“Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan! Kalau kita tidak segera mengambil racun dari tubuh Keito, bisa-bisa kita akan terlambat menyelamatkannya. Aku tidak mau lagi merasa menyesal karena tidak bisa menyelamatkan temanku”, kataku. Chinen dan Yuto terdiam mendengar perkataanku.
“Tapi Ryochan....”, kata Chinen pelan.
“Tidak usah khawatir. Pada waktu awal aku bertemu dengan Daichan, aku pernah terkena sedikit racun darinya. Saat itu tubuhku secara otomatis membuat penawar racun. Jadi, kurasa aku akan baik-baik saja”, kataku. Aku terus memusatkan kemampuanku agar bisa mengambil racun dari tubuh Keito. Perlahan, bercak kehitaman di tubuh Keito mulai berkurang. Raut wajahnya pun sudah mulai membaik. Aku berhasil mengambil seluruh racun dari dalam tubuh Keito.
“Yatta!! Kau berhasil Yamachan! Kau bisa mengambil seluruh racun dari tubuh Keito!”, ucap Yuto gembira.
“Ryochan! Kau hebat!”, seru Chinen riang sambil memelukku. Chinen memelukku dengan sangat erat, sehingga aku kesulitan untuk bernafas.
DEG! Aku merasakan hal yang aneh. Tubuhku tiba-tiba merasa panas, badanku juga tiba-tiba merasa lemas. Keringatku pun mulai keluar dengan deras.
“Ryochan?”, tanya Chinen yang menyadari ada yang aneh dengan kondisi tubuhku.
“Yamachan, kau kenapa?”, tanya Yuto khawatir saat melihatku.
Akumelihat ke arah mereka berdua, tiba-tiba pandanganku merasa buram. Tenagaku juga hilang. BRUKK!! Aku terjatuh lemas. Dengan sigap Chinen dan Yuto menahan tubuhku.
“Yamachan, kau kenapa? Apa yang terjadi?”, tanya Yuto. Dari sekitar tubuhku mulai timbul bercak kehitaman.
“Ryochan, bangun! RYOCHANN!!!”, seru Chinen. Aku bisa mendengar suara teriakan Chinen, tapi perlahan mataku mulai menutup. ‘Apa yang terjadi padaku?’
Tsuzuku ~~~