Kamis, 24 Desember 2015

Drabble : KISS FOR FEAR

Cast : Arioka Daiki, Takaki Yuya
Genre : Drama, Comedy, Romance

Ada yang aneh

Ya, ini bukan pertama kalinya, tapi aku merasa ada yang aneh.

Aku mengucek mataku, memeriksa apakah ini hanya halusinasiku.

Tidak. Ini nyata.

Kenapa?

Kenapa aku merasa ada efek tambahan seperti sinar berkelap kelip saat melihatnya? Kenapa aku merasa ada bunga yang mekar di belakangnya saat aku melihatnya?

Yah, ini bukan pertama kalinya. Awalnya aku melihatnya sekilas saja dan kupikir cuma perasaanku, tapi ternyata lama kelamaan hal ini semakin jelas dan nyata.

"Huwaaa...."

Dia berteriak seperti orang gila saat ada serangga yang terbang ke arahnya.

"Baka", gumamku sambil tertawa melihatnya.

"Arioka! Jangan tertawa! Singkirkan ini dariku"

Aku berjalan ke arahnya.

Aku terkejut saat dia tiba-tiba memelukku.

"Huwaaa.., singkirkan, singkirkan"

Aku bisa merasakan dia gemetaran saat memelukku. Dia benar-benar takut.

"Binatang itu sudah pergi Takaki..."

"Bohong. Aku bisa mendengar suara kepakan sayapnya"

"Kalau begitu akan kuberikan cara ampuh untuk mengatasi rasa takutmu"

Aku menarik kepalanya. Kutempelkan bibirku di bibirnya. Kupejamkan mataku dan menikmati saat ini. Dia tidak menolakku. Kurasa dia tidak keberatan.

"Eh?", komentarnya

"Kau masih takut?"

"Ti-ti-tidak", dia tersipu malu. "Tapi kenapa?"

"Karena aku ingin melakukannya. Bibirmu terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja"

END

Fail! Fail! Fail!
Well, hasilnya terlalu jelek ya?? T.T

Sabtu, 12 Desember 2015

A LOUD DAY OF JUMP

Genre : Comedy (failed XD), Drama

Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi member JUMP. Latihan konser yang mereka lakukan hari ini cukup keras. Sebenarnya hari ini tidak jauh beda dengan hari yang lain, tapi karena padatnya kegiatan yang mereka jalani akhir-akhir ini, membuat tubuh mereka cepat mengalami kelelahan.

Di sebuah ruangan yang cukup besar dan luas, terdapat 5 orang lelaki muda sedang beristirahat sambil melakukan kegiatan masing-masing. Yup, member BEST sedang beristirahat sambil menunggu member 7 selesai latihan.

Inoo sedang duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya. Baginya, latihan Kali ini cukup melelahkan. Staminanya tidak sama dengan member yang lain. Semua member JUMP tahu itu. Bahkan mungkin seluruh anggota JE tahu kalau dia paling lemah di JUMP.

Yabu sedang terfokus di salah satu meja dengan tumpukan buku tebal yang ada di dekatnya. Tugas kuliahnya belum selesai dan dia memutuskan untuk mengerjakannya di sela latihan mereka. Dia tidak mau kalah dengan Inoo yang bisa melakukan keduanya, kuliah dan pekerjaan, dengan baik.

Hikaru dan Daiki tampak asyik berbincang sambil mendengarkan musik lewat headset di masing-masing telinga. Sepertinya mereka berdebat mengenai artist dan lagu yang sedang mereka dengarkan. Sesekali mereka terdiam sambil mencerna lirik lagu yang mereka dengarkan.

Takaki, member BEST terakhir yang ada di ruangan itu, tampak asyik mengetik sesuatu di hpnya. Sesekali dia tersenyum dan mengetik balasan email dengan bersiul kecil. Inoo yang sedari tadi memperhatikan Takaki, tersenyum kecil saat melihat ekspresi Takaki yang selalu berubah. Baginya, Takaki membawa hiburan tersendiri. Dia tidak bosan melihat Takaki.

Inoo terperanjat saat Takaki tiba-tiba berdiri lalu menggaruk tubuhnya. Mukanya berubah menjadi pucat. Takaki bahkan mulai menggeliat.

"Takaki is so cute", gumam Inoo yang justru merasa Takaki sangat lucu saat ini.

"Kenapa Takaki?", tanya Hikaru yang juga menyadari tingkah aneh Takaki. Daiki juga melihat Takaki, menunggu jawaban.

Takaki tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia malah semakin pucat saat tangannya meraih sesuatu di balik bajunya.

"WAAAAA!!!!!!!!!!!"

Semua yang ada di ruangan itu terperanjat. Yabu bahkan hampir mencoret tulisannya karena kaget dengan teriakan Takaki. Yabu menoleh kesal ke arah Takaki dan berniat memarahinya karena telah mengganggu konsentrasinya.

"TAKAKI!!! APA YANG----"

Yabu tidak bisa meneruskan kalimatnya saat dia melihat Takaki mulai bergeliat dan melepas bajunya. Yabu kini bisa melihat dengan jelas punggung Takaki yang sebelumnya tertutup oleh baju.

"Yabu! Singkirkan dia dariku!", pinta Takaki.

Yabu terdiam dan hanya memandangi punggung Takaki.

"YABU!!!", teriak Takaki lagi.

"Kau punya tubuh yang bagus, Takaki..."

Takaki tertegun saat mendengar jawaban yang tidak disangka dari Yabu. 3 member yang lain juga sama-sama melongo mendengarnya.

"Inoo!!! Yabu selingkuh! Dia menduakanku dengan Takaki", Hikaru memulai aktingnya. Dia memeluk Inoo dan Inoo pun menepuk punggung Hikaru. Inoo juga ikut berakting dengan Hikaru.

"Takaki... Tidak kusangka kau selama ini selingkuh dengan papa....", Daiki mulai ikut dalam drama.

"APA?! Aku tidak selingkuh dengan Yabu! Yang lebih penting, singkirkan serangga ini dariku!!!!"

"Berhentilah berakting Takaki. Tidak ada apapun di tubuhmu", balas Yabu yang kini mulai tersadar setelah terpesona dengan tubuh indah Takaki.

"TIDAK MUNGKIN! SERANGGA ITU ADA DISANA! AKU MERASAKANNYA SAAT DIA MERAYAP DI TUBUHKU!"

Inoo menutup kedua telinganya karena teriakan Takaki. "Dia benar Takaki, serangga itu sudah pergi", Inoo menunjuk ke arah Daiki. "Serangga itu sekarang ada di dalam baju Daichan"

"APA?!", kali ini giliran Daiki yang kaget. Sama seperti Takaki, Daiki mulai melepas bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang sedikit berisi kepada yang lain.
"Tapioka... Kau butuh diet. Perutmu jauh lebih besar dari Takaki", komentar Hikaru.

"Oi!", protes Daiki. "Huwaa!!!!", Daiki mulai berlarian saat dia merasa serangga itu mulai bergerak di tubuhnya.

"Hoi, Arioka. Jangan kemari. Jangan kemari. SUDAH KUBILANG JANGAN KEMARI!!!"

Takaki menjerit saat Daiki mendekatinya. Takaki mulai berlari menjauhi Daiki. Tapi Daiki juga mulai mengejarnya. Terjadi kejar-kejaran antara Takaki dan Daiki di ruangan itu. Inoo dan Hikaru terus tertawa tanpa henti melihat tingkah konyol pasangan baka itu. Sedangkan Yabu hanya menghela nafas saat dia sadar kalau dia tidak mungkin melanjutkan tugasnya dengan semua kebisingan ini.

BRUGH.

Daiki berhasil memojokkan Takaki. Keduanya terjatuh ke lantai dengan posisi Takaki di bawah dan Daiki diatasnya. Dan keduanya sama-sama tidak memakai baju atasan.

"Arioka. Lepaskan aku!", Takaki berusaha mendorong Daiki supaya menjauh darinya.

"Singkirkan serangga itu dulu", Daiki semakin mempererat pelukannya dan menyembunyikannya wajahnya di dada Takaki.

"Lepaskan aku, Arioka!"

"Tidak mau!"

"Lepas!"

Inoo semakin memperkeras tawanya. Air matanya bahkan sampai keluar karena terlalu banyak tertawa. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di tubuh Hikaru untuk meredam suara tawanya, tapi tidak berhasil. Alhasil, Hikaru juga ikut tertawa bersama Inoo.

Yabu menghela nafas. Dia berjalan ke arah Takaki dan Daiki untuk menyingkirkan serangga itu.

"KABU-CHAN! KABU-CHAN! APA DIANTARA KALIAN ADA YANG MELIHAT KABU-CHAN?"

Kedatangan Yuto yang tiba-tiba mampu membuat keheningan sejenak di ruangan itu. Yuto lalu melihat ke arah Takaki dan Daiki. "Apa yang kalian--- UWAAAH!!! KABU-CHAN! KAU ADA DISINI RUPANYA!". Yuto terperanjat senang saat melihat serangga yang ada di kepala Daiki. Dia langsung berusaha menangkap serangga itu, tapi kini serangga itu terbang meninggalkan Yuto.
"KABU-CHAN! TUNGGU!"

Takaki dan Daiki menarik nafas lega. Teror yang menghantui mereka berdua telah pergi. Dalam hati Takaki mengutuk Yuto karena sudah membawa piaraannya kemari.

CKLIK.

Sebuah sinar flash menyala. Takaki dan Daiki langsung melihat ke arah asal sinar itu berasal dan menemukan Chinen sedang berjongkok di dekat mereka sambil memegang HP.

"Chii? Apa yang kau lakukan?", Daiki mulai bangkit tapi posisinya masih berada di atas tubuh Takaki.

"Stop! Berhenti!", perintah Chinen. Suara kamera terdengar lagi. "Ini foto yang bagus. Uke yuyan dan seme Daichan. Ini jauh lebih menarik Dari foto Ryosuke yang itu"

"Oi Chii, kau belum menghapusnya?", Yamada tiba-tiba masuk dan pandangannya langsung tertuju pada Takaki dan Daiki. "Kalian lebih baik melakukannya di rumah. Jangan disini"

"Oi! Jangan salah paham", Daiki langsung berdiri. "Chii! Hapus foto itu sekarang juga!"

"Eh??? Kenapa? Kau selalu protes karena aku tidak menyimpan satupun fotomu"

"Tapi bukan foto yang seperti itu"

"Foto apa sih?", Inoo tiba-tiba ikut dalam pembicaraan. Chinen menunjukkan foto itu pada Inoo, Inoo langsung tertawa lagi. "Ahahaha... Orang pasti akan salah paham saat melihat foto ini. Chinen, kirimkan juga padaku. Aku juga mau menyimpannya"

"Kalian...", geram Daiki. "Chii! Hapus foto itu sekarang juga!"

"Yadaaa~~~"

Dan kejar-kejaran kembali dimulai. Kali ini Daiki mengejar Chinen. Takaki terlalu capek sehingga dia sama sekali tidak peduli apa yang terjadi. Takaki hanya bersyukur karena serangga itu telah pergi.

"Ada apa sih? Kenapa ramai sekali?"

Keito yang baru saja berkumpul karena baru membeli minuman merasa heran saat mendengar kegaduhan dan penasaran apa yang sedang terjadi. Dia melihat ke sekeliling ruangan dan sama sekali tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi.
"KABU-CHAN! Keito, tangkap dia!"

Keito langsung reflek mengatupkan kedua tangannya saat melihat ada sesuatu yang mendekat.

"Yokatta.. Terima kasih Keito"

"Douita", Keito membuka tangannya tapi begitu sadar apa yang sudah ditangkap olehnya. Keito langsung kehilangan kesadaran.

BRUGH. Keito pingsan.

"Keito!", jerit Yamada

"KABU-CHAN!", jerit Yuto saat melihat serangga piaraannya terbang lagi. Sekali lagi, Yuto berlari untuk menangkap piaraannya.

Yabu yang hanya melihat semua itu hanya bisa menghela nafas panjang.

"1 lagi hari yang berisik di JUMP", gumam Yabu.

END

Note : semua hal yang ada di ff ini kuambil dari interview majalah dan fanreport lo... Jd sebagian besar adalah fakta, tapi ada sedikit penambahan. ^^

Selasa, 08 Desember 2015

TEN KNIGHTS (Completed)

Yuhuu~~~
Selamat datang bagi yang pertama kali mengunjungi blog ini.
Dan selamat datang kembali bagi yang pernah mengunjungi blog ini, meskipun cuma sekali mampir.
Kuucapkan terima kasih banyak bagi kalian yang sudah berkenan mampir ataupun membaca hasil karyaku di blog ini.

Ten Knights adalah fanficku yang pertama kali kubuat, jadi maafkan kalau banyak kesalahan dalam ff itu ya.

Ten Knights bercerita tentang seorang pemuda yang memiliki kemampuan gaib. Awalnya dia hanya manusia biasa, tapi saat dia berumur 17 tahun, kemampuan itu bangkit. Dia mulai diincar oleh musuh mereka, makhluk kegelapan. Disaat dia pertama kali bertemu dengan musuh, disaat itulah dia bertemu dengan teman-teman yang memiliki kemampuan yang sama dengannya. Bersama dengan mereka, pemuda itu berjuang menumpas musuh dan mempertahankan kedamaian dunia.

Pemeran utama tokoh ff ini adalah Yamada Ryosuke.
Seluruh castnya adalah anggota Hey! Say! JUMP. Ada beberapa member yang mengalami gender switch, seperti Arioka Daiki, Inoo Kei, Morimoto Ryutaro, dan Chinen Yuri yang disini menjadi seorang perempuan.

Dilihat dari genrenya, maka ff ini bergenre Sci-fi.

Silahkan membaca, disini saya merangkum semua linknya jadi kalian mudah mengaksesnya.

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45Part 46Part 47Part 48Part 49 (END)

Selamat membaca ^^

TEN KNIGHTS

PART 49 (Last part + Epilog)

Tubuh Daiki terhuyung ke depan. Dengan sigap Yuya langsung menahan tubuh Daiki. Muka Daiki terlihat cukup lelah. Kekuatan benar-benar terkuras habis untuk menutup pintu segel itu. Yuya juga tidak kalah lelah dengan Daiki. Dia hanya menahan tubuh Daiki sambil terduduk lemas. Perlahan, Yuya membaringkan tubuhnya dan Daiki.

“Maaf ya Daichan. Aku sudah terlalu capek”.

“Ah, aku juga. Maaf tiba-tiba aku jatuh. Aku sudah tidak kuat lagi menggerakkan tubuhku”.

Yuya mengusap pelan rambut Daiki, “Kau hebat Daichan! Kau berhasil menutup lagi segelnya. Kita menang berkat kau!”.

“Itu juga berkat dirimu. Karena kau membantuku, aku jadi mampu menutup segel itu”, Daiki tersenyum pada Yuya.

“Nee daichan, maafkan aku karena tidak memberitahumu soal Ryuu”, wajah Yuya terlihat sangat murung. Dia masih merasa bersalah karena tidak memberitahukan pada Daiki apa yang terjadi.

“Tidak apa-apa. Kau tidak salah kok”, Daiki berusaha menghilangkan perasaan bersalah Yuya. yuya merasa sedikit lega saat melihat senyum Daiki.

“Daichan, umurmu sudah 17 tahun kan?”.

“Iya, memangnya kenapa?”.

“Kau tahu, impianku adalah membangun keluarga bersamamu. Setelah perang ini selesai dan kau lulus SMA, ayo kita menikah, lalu kita akan mempunyai 2 orang anak, satu laki-laki, satu perempuan”.

Daiki melongo mendengar perkataan Yuya, “kau melamarku?”, tanya Daiki. Yuya mengangguk. “Kau ini ya.... masa melamar seorang gadis dalam kondisi seperti ini”, Daiki mencubit lengan Yuya.

“Adduuhhh... Sakit Daichan...”, rintih Yuya. “Jadi, kau tidak mau?”, tanya Yuya. mukanya terlihat penuh harap.

Daiki memeluk Yuya, “Tentu saja aku mau. Aku sangat senang mendengarnya”.

Yuya menghela napas lega, “Aku sudah memikirkan nama untuk anak kita nanti”.

“Hooaaa.... menikah saja belum, tapi kau sudah memikirkan nama anak segala”, Daiki kembali mencubit lengan Yuya. Yuya hanya merintih kesakitan.

“Memangnya apa namanya?”.

“Untuk anak laki-laki, kunamai Daiya. Kalau anak perempuan, kunamai Yuki”.

“Daiya dan Yuki?”, tanya Daiki.

“Ya, nama itu diambil dari nama kita berdua. Daiki dan Yuya. Dai dari Daiki, Ya dari Yuya. sedangkan Yu dari Yuya dan Ki dari Daiki”, jelas Yuya. “Kau tidak suka?”.

Daiki menggeleng, “kurasa itu nama yang bagus”.

Tiba-tiba terdengar suara seperti suara gemuruh. Seluruh lantai bergetar. Lantai yang ada di atas mereka pun runtuh. Beberapa puing bangunan jatuh di dekat mereka. tapi, baik Daiki maupun Yuya, keduanya sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka semula.

“Daichan, gomen ne... kemampuanku sepertinya sudah habis. Aku sudah tidak bisa lagi melindungimu dari puing-puing itu. Sebaiknya kau segera keluar dari sini, sebelum kau tertimpa reruntuhan itu”.

Daiki menggenggam erat tangan Yuya, dia tersenyum pada cowok yang ada di depannya itu, “aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Aku pernah terpisah cukup lama denganmu kan? Maka dari itu aku tidak mau mengalaminya lagi. Kita akan terus bersama-sama, oke?”.

Yuya berusaha menepis tangan Daiki. Tapi Daiki malah semakin memperat genggamannya, “Tenagaku juga sudah habis lo. Badanku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Jadi, biarkan aku beristirahat disini”.

Yuya menghela napas panjang, “Kau memang anak yang keras kepala”, ucap Yuya. Daiki hanya tersenyum mendengarnya. Daiki mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Yuya. dia menyandarkan kepalanya ke dada Yuya.

“Kita akan terus bersama”, gumam Daiki pelan.

Sementara itu, di atas .....

“UWAAA!!! Apa ini? apa yang terjadi?”, seru Inoo.

“Kurasa akibat gempa-gempa sebelumnya, bangunan ini sudah mulai banyak yang berlubang sehingga menara ini sudah tidak bisa berdiri dengan tegak lagi”, jawab master sambil melihat ke dinding bangunan menara yang perlahan-lahan mulai hancur.

“Hei bocah, ayo cepat keluar! Kalau kita terus berada disini, bisa-bisa kita akan tertimbun di reruntuhan”, seru Jin sambil melambaikan tangannya menuju ke pintu keluar.

Aku berusaha berdiri sebisaku, tapi tenagaku sangat lemah. Chinen memapahku dan membantuku berjalan. Yabu menggandeng Inoo keluar. Aku juga melihat Yuto yang sedang menggendong Keito yang tampaknya masih belum sadar. Hikaru juga terlihat sedang membopong Fuka. Kami semua segera menuju ke pintu keluar. Master dan Jin menggunakan kemampuan mereka untuk menahan puing-puing itu agar tidak jatuh menimpa kami.

Kini kami telah berada di luar. Udara dingin menyambut kami. Aku melihat ke arah langit, warnanya terlihat sedikit kemerahan. Tampaknya, pagi akan segera tiba. Aku melihat ke arah menara yang kami masuki ini, beberapa saat setelah kami keluar, menara itu langsung roboh dan hancur berkeping-keping. Aku menghela napas lega, untunglah kami segera keluar sebelum bangunan itu hancur.

Aku melihat ke sekeliling, aku merasa ada yang kurang. “Hei, dimana Daichan dan Yuya? aku tidak melihat mereka berdua”.

“Mungkin mereka sudah menyelamatkan diri di tempat lain. Tenang saja, dengan kemampuan Yuya, mereka berdua bisa selamat kok”, jawab Chinen.

“Kuharap begitu”, kataku. Tiba-tiba pandanganku terasa gelap. Tubuhku pun terasa sangat lemas.

BRUKK!!
“RYOCHAN?! RYOCHAN!”, sayup-sayup aku bisa mendengar suara Chinen memanggilku. Tapi aku sama sekali tidak sanggup menjawabnya.

------*****------
“Hngg...”, perlahan aku mulai membuka mataku. Di hadapanku, aku bisa melihat atap berwarna putih.

“Ryochan? kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku?”, aku melihat ke sebelah kananku, aku bisa melihat Chinen terduduk disana. Mukanya terlihat cukup cemas. Aku bisa melihat beberapa bagian tubuhnya dibalut oleh perban.

“Yu...ri...?”, gumamku pelan. Chinen langsung menggenggam tanganku dengan erat. Wajahnya terlihat sangat bahagia.

“Untunglah kau sudah sadar Yamachan”. Aku menoleh ke sebelah kiriku. Aku bisa melihat Yuto berdiri di sana. Dia tersenyum ke arahku. “Chii, aku akan memanggil dokter kemari, kau disini saja. jaga Yamachan”. Setelah berkata seperti itu, Yuto melangkah ke luar ruangan, meninggalkan aku dan Chinen sendirian.

“Yuri, ini dimana?”, tanyaku.

“Ini di Rumah Sakit, Ryochan. Beberapa saat setelah kita keluar dari tempat segel, kau jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Kami langsung membawamu ke RS ini sekaligus mengobati luka ksatria yang lain. Kau sudah cukup lama tidak sadarkan diri, kira-kira sudah hampir seminggu. Aku sempat khawatir bagaimana kalau seandainya kau tidak kunjung sadar”.

“Oh, berarti teman-teman juga ada disini semua? Apa mereka terluka cukup parah?”, aku melihat perban di tubuh Chinen. “Kau juga terluka...”

“Tidak usah khawatirkan aku. Ini hanya luka kecil kok. Tidak terlalu parah. Yuto dan Yabu juga tidak terluka terlalu parah. Inoo masih harus beristirahat karena kondisi tubuhnya melemah. Hikaru mengalami patah tulang di tangan kanannya sehingga dia perlu direhabilitasi untuk sementara waktu. Fuka juga berada disini, dia sudah sadar tapi tampaknya ingatannya hilang. Master bilang kalau Fuka yang sekarang sudah tidak berbahaya lagi. Maou yang berada di dalam tubuhnya benar-benar sudah menghilang akibat kemampuanmu. Sedangkan Keito....”, Chinen menghentikan pembicaraan. Aku melihat ke arah Chinen dengan penuh rasa heran.

“Keito kenapa?”

“Keito kehilangan penglihatannya. Bahkan ilmu medis sekarang pun tidak bisa mengobatinya. Kata Jin, pengaruh dari makhluk kegelapan itu sangat kuat. Jin dan master masih berusaha mencari cara untuk mematahkan kutukan itu”, jelas Chinen.

TOK! TOK! TOK! Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. “Masuk”, jawab Chinen. aku melihat seseorang berjas putih dan beberapa wanita berpakaian putih masuk. Mereka membawa beberapa peralatan medis. Dokter kemudian memeriksa keadaanku, dia menjelaskan kalau saat ini keadaaanku baik-baik saja. Aku merasa lega saat mendengarnya. Beberapa menit kemudian, mereka semua keluar dari ruangan.

“Yo Ryosuke, kudengar kau sudah sadar?”, Jin tiba-tiba menyelonong masuk. Tak lama kemudian master juga masuk. Yabu dan Yuto masuk sambil mendorong kursi roda. Keito duduk di kursi roda yang didorong oleh Yuto, sedangkan Inoo duduk di kursi roda yang didorong oleh Yabu. Aku melihat ada lilitan perban di mata Keito. Inoo terlihat cukup cantik meskipun raut wajahnya tidak terlalu segar. Terakhir Hikaru masuk ke dalam ruangan. Tangan kanannya terbalut oleh gips.

“Teman-teman...”, gumamku pelan.

“Syukurlah kau baik-baik saja. Chii selalu menangis setiap malam menunggumu”, ucap Yuto. Chinen langsung melirik tajam ke arah Yuto. Aku memperhatikan mata Chinen. Aku bisa melihat ada matanya sedikit bengkak dan kemerahan.

“Inoo, kau baik-baik saja?”, tanyaku pada Inoo yang terduduk lemah di kursi roda. Sebuah selimut kotak-kotak tersampir di pahanya.
Inoo mengangguk, “aku baik-baik saja. Hanya sedikit terasa lemah. Yabu terlalu berlebihan. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku”, ucap Inoo sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan keadaan Fuka?”, tanya Yabu pada Hikaru yang berdiri sambil bersandar ke tembok.

“Hmm? Ah, dia sekarang sedang tidur. Ingatannya masih belum pulih. Dokter bilang aku tidak boleh terlalu terburu-buru. Perlahan dia akan ingat kembali kok”, jawab Hikaru.

Aku melihat ke arah Keito yang hanya terdiam saja. “Keito....”.

“Hmm.. ada apa Yamada?”, Keito mengarahkan kepalanya ke arahku. Meskipun dia tidak bisa melihat, dia bisa tahu posisiku dari suaraku.

“Seandainya aku lebih kuat, aku pasti bisa menyembuhkanmu waktu itu”.

“Tidak apa. Waktu itu kau sudah menggunakan semua kekuatanmu kan? Apalagi sekarang kau sudah kehilangan kemampuanmu”. Aku terhenyak saat mendengar perkataan Keito.

“Apa maksudmu?”, tanyaku.

Kali ini giliran Keito yang menampakkan wajah heran, “Eh? Kau belum tahu?”.

“Huh, dasar Keito, aku belum sempat mengatakannya, sudah kau beritahu duluan”, ucap Jin.

“Apa maksudnya Jin?”, kali ini aku bertanya pada Jin.

“Dengar baik-baik Yamada”, master kemudian angkat bicara. “Kemarin saat bertarung kau menggunakan energi yang cukup besar kan? Kau menggunakan seluruh energimu saat itu. Akibatnya kau jatuh pingsan dan nyawamu berada dalam bahaya. Kami semua berpikir kalau kau akan mati. Tapi ternyata, hanya kemampuanmu saja yang hilang, dan nyawamu terselamatkan”.

“Jadi sekarang aku sudah tidak memiliki kemampuan khusus lagi?”, tanyaku. Master mengangguk. Entah kenapa aku merasa sangat sedih mendengarnya. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku.

“Tenang saja Ryochan, meskipun sekarang kau tidak memiliki kemampuan khusus lagi, kau masih seorang ksatria juga kok”, Chinen tersenyum ke arahku.

“Itu benar yamachan. Kami semua akan tetap menjadi temanmu kok”, Yuto mengiyakan. Yabu, Inoo, Hika, dan Keito juga mengangguk. Dalam hati aku merasa sangat lega.

Aku melihat ke sekeliling ruangan, aku merasa ada beberapa orang yang kurang di ruangan itu. “Daichan dan Yuya dimana? Apakah mereka terluka cukup parah?”. Semua orang yang ada disitu saling berpandangan. Aku diam menunggu jawaban dari mereka.

“Daiki dan Yuya, keberadaan mereka saat ini tidak diketahui”, jawab Jin. “Ketika kami membawa kalian ke Rumah Sakit ini, kami kembali lagi ke tempat segel untuk mencari mereka berdua. Tapi, kami sama sekali tidak menemukan mereka. Kami sudah mencari ke seluruh tempat, tapi kami tetap tidak bisa menemukan mereka. Apakah mereka masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang mengetahuinya”, jelas Jin.

Aku melihat ke arah langit biru yang luas. Langit kali ini tampak begitu cerah, tidak ada sedikitpun awan yang tampak sehingga sinar matahari terasa cukup menyakitkan. “Daichan.... Yuya.... kuharap kalian berdua baik-baik saja”.

EPILOG ~10 tahun kemudian~

“HUAAAA....”, anak perempuan yang ada di depanku ini terus menangis.

“Sudah selesai kok. Nah, sekarang sudah tidak sakit lagi kan?”, aku membalut plester di kaki anak itu. Anak itu kemudian berhenti menangis. Dia lalu tersenyum kecil ke arahku.

“Terima kasih Dokter!”, ucap anak itu. Dia kemudian berlari ke arah ibunya yang tidak jauh darinya. Ibu sang anak membungkukkan badannya ke arahku. Aku pun membalasnya. Aku melambaikan tangan ke arah anak perempuan itu hingga dia pergi.

“Yoo... Ryosuke sensei! Ini ada surat untukmu”, seorang pemuda berjas putih masuk ke dalam ruanganku sambil membawa amplop berwarna putih.
“Kamiki! Hentikan memanggilku sensei. Kau sendiri juga sensei kan?”, aku mengambil surat yang disodorkan olehnya. Aku tersenyum saat melihat nama pengirimnya. Yabu Kota.

Kamiki tersenyum ke arahku, “Kau mau makan siang? Ini sudah waktunya istirahat”.

“Kau duluan saja. Aku masih ada urusan”, aku kembali duduk di kursiku dan bersiap membuka amplop yang ada di tanganku.

“Ya sudah, aku ke kantin ya. Nanti kau menyusul”, kata Kamiki sambil berlalu pergi.

Aku menatap kertas surat yang ada di tanganku. Surat yang ditulis oleh Yabu. Di dalam surat itu dia menceritakan bagaimana keadaannya sekarang. Semenjak Yabu dan Inoo memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, kami saling bertukar kabar melalui surat, karena disana sinyal telepon masih cukup jelek. Tiba-tiba ada selembar foto yang jatuh dari dalam amplop. Di foto itu terdapat Yabu, Inoo, dan seorang anak perempuan.

“Hee.... Keiko sekarang sudah besar ya....”, gumamku saat melihat anak perempuan yang ada di foto  itu. aku kemudian melipat surat itu lagi dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku pun beranjak pergi ke kantin untuk makan siang sambil membawa kotak bekal dari Yuri. Semenjak kami menikah, Yuri selalu membuatkan bekal untukku.

Saat berjalan menuju ke kantin, aku mengenang apa yang terjadi di masa lalu. Satu tahun setelah pertempuran itu, Hikaru memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia ingin merawat Fuka hingga ingatannya kembali. Selain itu, dia juga ingin menjaga tempat segel agar tidak terbuka untuk kedua kalinya. Memang, makhluk kegelapan yang tersisa hanyalah yang kelas rendah saja, itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Tapi master dan Jin mengatakan agar kami selalu waspada.

Yabu dan Inoo pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk menjaga tempat segel yang satu lagi, yang berada di wilayah timur. Saat ini, Yabu bekerja sebagai pelatih sepak bola sebuah klub dan Inoo bekerja menjadi guru privat di rumah. Terkadang, dia masih menerima permintaan untuk merevisi jurnal penelitian.

Keito pergi berkeliling dunia bersama dengan Jin setelah lulus SMA. Mereka berusaha mencari cara untuk menyembuhkan mata Keito seperti semula. Jin yakin, masih ada cara lain untuk mengembalikan penglihatan Keito.

Yuri mulai bekerja menjadi seorang model. Terkadang dia menggunakan kemampuannya untuk menyamar menjadi Yuya. Yuri bilang kalau dia ingin menyediakan tempat bagi Yuya seandainya mereka telah kembali.

Yuto kini bekerja sebagai fotografer keliling. Dia berkeliling ke berbagai tempat untuk mencari objek yang bagus. Pameran fotonya cukup terkenal. Selain itu, dia juga membasmi makhluk kegelapan yang masih tersisa.

DUK! Saking asyiknya aku mengenang masa lalu, tanpa sadar aku menabrak seorang anak kecil. Anak laki-laki itu terjatuh sambil memegangi kakinya yang kesakitan.

“Ah maaf, kau tidak apa-apa dik?”, aku langsung berjongkok untuk memeriksa keadaan anak itu.

“Aku tidak apa-apa!”, jawab anak itu. Jawabannya terdengar tegas.

“Oh begitu. Benarkah tidak ada yang sakit?”, tanyaku memastikan sekali lagi.

“Iya! Kalau hanya segini, aku masih bisa tahan. Karena Daiya adalah anak laki-laki, Daiya harus kuat. Daiya tidak boleh cengeng. Itu kata papa”, kata anak itu.

“Namamu Daiya? Hebat. Daiya anak pintar”, kataku sambil mengusap kepala anak itu. “Kau sendirian?”

Anak itu menggelengkan kepalanya, “Tadi Daiya bareng dengan kakak, terus kami pisah. Daiya sekarang lagi nyari kakak”.

“Oh ya, siapa nama kakakmu? Ayo kita cari bersama-sama”.

“Yuki. Nama kakakku, Yuki. Kakak Daiya sangat cantik”.

“Daiya!”, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang mendekat ke arah kami. “Kau kemana saja? kucari dari tadi”, anak perempuan itu langsung menggandeng tangan Daiya.

“Tadi Daiya tersesat, terus ketemu ama dokter ini. Dokter ini juga mau bantu Daiya nyari kakak, tapi untung kakak sudah ketemu”, jawab Daiya. Mukanya terlihat sangat bahagia saat melihat kakaknya sudah berada di depannya. Wajahnya tampak sangat polos dan imut.

Anak perempuan itu kemudian melihat ke arahku dan membungkukkan badannya dengan sopan, “Terima kasih sudah menjaga adikku dokter”.
“Sama-sama”, aku tersenyum ke arah anak perempuan itu. tidak kusangka sifatnya sopan sekali. Aku menoleh ke arah Daiya, “syukurlah kau bisa bertemu kakakmu. Lain kali hati-hati ya”.

“Nah Daiya, ayo kita pergi, mama dan papa sudah menunggu diluar”, ucap Yuki, anak perempuan itu. “Jangan lupa berterima kasih pada dokter”.
“Terima kasih dokter!”, kedua anak itu tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Deg! Sekilas aku merasa deja vu saat melihat kedua anak itu. Bayangan wajah Daiki dan Yuya sekilas terlihat di wajah kedua anak itu.

Aku melihat kedua anak itu hingga tidak terlihat lagi. Aku menatap langit melalui jendela Rumah Sakit tempatku bekerja ini. “Kuharap kalian berdua baik-baik saja, Daichan, Yuya”.

Makhluk kegelapan kini memang sudah jarang terlihat lagi. Kedamaian mulai terjaga di dunia ini. Tapi, kita harus selalu waspada. Dimana ada cahaya, disitu pasti ada kegelapan. Semakin terang cahaya itu, maka kegelapan juga semakin besar. Para ksatria masih akan terus menjaga dunia ini dari makhluk kegelapan. Tugas para ksatria tidak akan berakhir sampai disini.

Yeayy~~~ Akhirnya cerita ini tamat....
Terima kasih sudah membaca sampai akhir ya.... ^^

SEASONS

Cast : Takaki Yuya, Arioka Daiki
Genre : Gender Switch, Romance, Angst
Note : Arioka Daiki dan Inoo Kei adalah cewek disini

Fall 

Aku berdiri menatap ke arah sosok bergaun putih. Wajah cantik sosok itu tetap terpancar dari balik kain tipis yang menutup wajahnya. Di tangannya, sebuket mawar putih terikat rapi. 

"Yuya!" 

Dia tersenyum saat menyadari kehadiranku. Dengan anggun, dia berjalan mendekat ke arahku. 

"Kau cantik sekali, Kei", pujiku. 

Kei tersenyum. Wajahnya memerah. Tampaknya dia malu dipuji olehku. 

"Sungguh. Kau pengantin paling cantik sedunia" 

Kei semakin menunduk malu. Dia tidak berani melihatku. 

"Ini semua berkat kau. Tanpamu, hari ini tidak akan terjadi. Aku sayang kamu, Yuya" 

Dia memelukku. Aku balas memeluknya. Seakan tidak ingin melepasnya. 

"Aku juga sayang padamu", bisikku. 

Kami saling bertatapan. Cukup lama. Oh Tuhan, Kei cantik sekali. Ingin aku memeluknya sekali lagi dan membawanya pergi. 

"Kei, aku..." 

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Seseorang datang mengganggu kami. 

"Kei" 

Kei tersenyum senang saat namanya dipanggil orang itu. Dengan semangat, dia langsung berlari memeluk orang itu. 

"Kalian sedang apa? Sudah waktunya" 

Daiki tiba-tiba muncul. Dia lalu mendorong Kei bersama orang itu. 

"Kei...", panggilku lagi. "Ah, apa harus kupanggil nyonya Yabu?" 

Kei tersenyum. "Kei saja. Aku belum resmi menjadi istri Kota. Kau juga sudah terbiasa memanggilku Kei kan? Tidak apa-apa kan Kota?" 

Yabu Kota, sang calon pendamping hidup Kei mengangguk. Sama sekali tidak menunjukkan perasaan buruk padaku. 

Jika dia tahu kalau aku memendam rasa pada calon istrinya, aku ragu apakah dia tetap melihatku seperti itu? 

"Kei, semoga bahagia. Aku selalu mendoakanmu" 

Kei tersenyum. Dia lalu melambaikan tangannya padaku sebelum pergi. 

Gugur sudah perasaanku. Bagaikan daun yang berguguran dari pohonnya, perasaanku pada Kei pun demikian. 

"Dasar bodoh, kenapa kau tidak merebutnya dan malah merelakannya?", tanya Daiki yang ternyata masih berada di sebelahku. 

"Kau pasti mengerti kan? Saat ini, Kei sangat berbahagia bersama dengan Yabu dan aku tidak ingin merusaknya. Aku bahagia saat orang yang kucintai bahagia. Tidak ada yang lebih kuinginkan daripada itu" 

---***---

Winter

Dingin.

Udara musim dingin ini menusuk tulangku. Jaket tebal yang kukenakan, tetap tidak bisa memberikan sedikit kehangatan untuk tubuhku. Kugerakkan tubuhku, untuk memberikan sedikit kehangatan bagi tubuhku.

"Yo!"

Seseorang menepuk punggungku dari belakang. Dari suaranya, aku bisa menebak siapa yang datang.

"Takaki", ucapku saat melihat orang itu.

"Sedang apa? Kenapa kau sendirian?"

"Mencari kehangatan. Udara sangat dingin hari ini, jadi aku berpikir menggerakkan tubuhku untuk membuat tubuhku lebih hangat", jawabku. "Kau sendiri? Kenapa ada disini?"

Dia terdiam. Mukanya langsung terlihat sedikit sendu. Ada sedikit jeda sebelum dia menjawab. Ah... aku bisa menebak jawabannya.

"Aku tadi bertemu dengan Kei"

Aku tidak bertanya lebih jauh lagi kenapa dia bertemu dengan Kei, apa yang mereka bicarakan, dan lain-lain. Aku tahu suasana hatinya. Takaki baru saja patah hati, orang yang dicintainya menikah dengan orang lain dan dia hanya bisa melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang dialami oleh Takaki.

Dari sudut mataku, aku membaca ekspresinya. Matanya menerawang jauh di depan sana. Ah... Dia masih menaruh perasaan pada Kei.

Aku sedikit kesal pada Kei. Kenapa dia tidak bisa menyadari perasaan Takaki? Bukankah sudah jelas kalau Takaki menyukainya? Bahkan aku saja yang baru berkenalan dengan mereka, langsung tahu kalau Takaki sangat menyukai Kei.

Aku bertemu dengan Takaki dan Kei saat awal masuk kuliah. Jurusanku dan Kei berbeda. Kei anak desain, sedangkan aku anak sastra, sama dengan Yabu. Bagaimana aku dan Kei bisa saling kenal? Kami berdua mengikuti kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sama, yaitu musik. Disanalah kami bertiga bertemu. Aku, Kei, dan Yabu.

Tak lama, Kei mengenalkan teman sejak kecilnya, Takaki, pada kami. Takaki kuliah di Universitas yang berbeda, sehingga kami jarang bertemu dengannya. Tapi karena kami bertiga sering main di luar, dan Kei suka mengajak Takaki, maka tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab.

Seiring berjalannya waktu, saking seringnya kami bersama, aku menyadari kalau Takaki menyukai Kei. Dia selalu memperhatikan Kei. Bahkan aku sempat merasa cemburu karena perhatian Takaki hanya tertuju pada Kei. Seakan-akan satu-satunya wanita yang ada di matanya hanya Kei.

Aku sangat terkejut saat mengetahui kalau Kei dan Yabu menjalin hubungan. Aku sedikit keberatan dengan hubungan mereka, tapi Takaki tidak mengatakan apapun, jadi aku tidak berhak ikut campur.

Jika melihat wajah Takaki saat ini, aku menyesal. Kenapa dulu aku tidak menentang saja hubungan Kei dan Yabu? Kenapa aku tidak mengatakan saja perasaan Takaki pada Kei? Kenapa dulu aku tidak memaksa Takaki untuk menyatakan perasaannya?

Nasi telah menjadi bubur. Semua telah terjadi, Kei sudah menjadi milik orang lain. Takaki sudah tidak bisa lagi mendapatkan Kei.

"Hei Arioka? Kau baik-baik saja?", Takaki memandang wajahku. Aku sedikit kaget saat menyadari jarak wajah kami cukup dekat.

"Aku baik-baik saja". Aku mengalihkan pandanganku ke arah tumpukan salju di pinggir jalan.

"Syukurlah, kupikir kau beku karena kedinginan", ucap Takaki sambil sedikit tertawa.

"Hei Takaki"

"Hmm?"

"Kalau salju mencair bakal jadi apa?"

"Jadi air lah"

"Salah"

"Salah?"

Aku tersenyum. "Jadi musim semi! Setelah musim dingin ini, salju akan mencair dan bunga akan bermekaran. Musim semi akan datang"

Aku memegang kedua tangan Takaki. "Aku berharap, kau bisa menemukan cinta yang baru saat musim semi nanti. Dan hatimu yang dingin karena patah hati bisa kembali hangat dengan cinta yang baru"

END

TEN KNIGHTS

PART 48

“Uargh... Uhuk...uhuk....”, aku terbatuk. Dari mulutku keluar darah yang begitu banyak. Aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku. Berbagai benda tajam yang menusuk tubuhku ini menghalangiku untuk bangkit. Rasa sakit terasa di seluruh tubuhku. Pandangan mataku mulai sedikit kabur.

“UWAAA!!! AAA!!!!!”, terdengar berbagai jeritan dari segala arah. Aku tahu kalau yang menjerit itu adalah teman-temanku. Meskipun aku tidak melihat langsung pertarungan mereka. Aku bisa merasakan rasa sakit yang mereka derita.

“Apakah sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan?”, gumamku pelan. Aku melihat kalung yang diberikan ibu padaku, kalung yang pernah digunakan oleh ayah.

“Ayah, apa yang harus kulakukan?”, tanyaku. Aku kemudian mengingat pertemuanku lagi dengan ayah. Saat aku mengaktifkan kemampuan purification yang diberikan oleh ayahku. Ayah hanya melihatku dengan lembut tanpa berkata apapun. Apakah memang sudah saatnya aku pergi menuju tempat ayah berada.

BLAR!

Terdengar suara seperti ledakan. Bersamaan dengan itu, semua makhluk kegelapan yang ada di tempat itu pun terlempar, tidak terkecuali King, Queen, Jack, dan Ryuusei. Aku masih belum mampu menggerakkan badanku. Sesungguhnya aku ingin tahu apa yang terjadi.

“Cih, kalian semua lemah sekali. Padahal sudah kulatih, tapi masih saja belum bisa mengalahkan mereka”, terdengar suara seseorang yang cukup kukenal. Kugerakkan kepalaku perlahan untuk melihat sang pemilik suara. Mataku masih belum bisa melihat dengan jelas, aku masih bisa melihat 2 sosok yang berdiri cukup jauh dariku.

“Anak-anak, kalian semua tidak apa-apa?”, tanya seseorang. Dari suaranya terlihat kalau orang ini lebih tua dari pemilik suara yang pertama. Sekali lagi aku merasa mengenal pemilik suara tersebut.

“Master! Jin!”, seru Chinen. Aku langsung menghela napas lega, ternyata benar kalau suara itu milik mereka berdua. Kini aku bisa melihat sosok mereka dengan cukup jelas.

“Kalian semua payah!”, ucap Jin lagi. Kali ini suaranya terdengar cukup kesal.

“Kalian berdua..... sang magician dan sang alchemist”, ucap King yang kini sudah bangkit berdiri lagi. dia melihat ke arah master dan Jin dengan pandangan tajam. Aura membunuh yang ada di tubuh King sangat dahsyat. Aku bahkan bisa merasakan dari tempatku berada.

“Yoo... bocah. Kita bertemu lagi”, sapa Jin sambil melambaikan tangannya ke arah King. Tampaknya Jin sama sekali tidak terpengaruh dengan aura membunuh yang dikeluarkan oleh King. “Semua bawahanmu sudah kami bereskan. Kini kau tidak bisa lagi menjalankan rencanamu”, Jin menunjuk ke arah jalan yang berada di belakangnya. Mukanya tersenyum mengejek ke arah King.

Aku melihat ke arah King. Mukanya terlihat tenang. Sama sekali tidak ada rasa panik yang terlihat. Padahal yang ada di hadapannya ini adalah sang magician dan sang alchemist yang memiliki kekuatan yang luar biasa.

Plok, plok, plok. Terdengar suara tepuk tangan. King menepuk tangannya seakan ingin memberikan penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan oleh Jin dan master. “Seperti yang kuduga. Kalian berdua hebat. Para makhluk kegelapan itu tidak berdaya melawan kalian semua, berapapun jumlahnya”.

“Karena itu, lebih baik kau menyerah. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan bocah”, kata Jin.

“Hal seperti ini tidak akan mengganggu rencanaku”, King mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Aku bisa melihat dari tubuhnya keluar seperti asap berwarna hitam. Asap itu langsung memenuhi seluruh ruangan. Pandanganku langsung terasa buram, nafasku terasa sesak, serasa ada sesuatu yang menghalangi jalannya pernafasan dalam tubuhku. Aku menutup hidung dan mulutku, berusaha agar tidak menghirup asap itu. sedetik kemudian, asap hitam itu menghilang. Bersamaan dengan itu, sejumlah besar makhluk kegelapan langsung muncul dari balik asap hitam itu.

“Lihat kan? Tidak peduli seberapa banyak kalian menghancurkan makhluk kegelapan. Aku bisa membangkitkan dan membuat mereka lagi sebanyak yang aku mau”, ucap King. Mukanya menunjukkan senyum kemenangan.

“Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang”, kata master. Perlahan-lahan dia mulai maju ke depan. “Kau memiliki sedikit kekuatan dari sang necromancer. Kekuatan necromancer adalah membangkitkan yang sudah mati, sama seperti yang kau lakukan ini”.

Jin melihat ke arah master dengan heran, “Bagaimana bisa? Bukankah sang necromancer masih terkurung di dalam sana?”.

“Tapi, saat ini salah satu segel telah terbuka. Aku menduga kalau kekuatan sang necromancer merembes keluar melalui segel yang terbuka itu”, jawab master.

King tersenyum lebar, “Benar sekali! Ketika aku membuka segel itu dengan darah si keturunan ksatria murni, kekuatan sang necromancer langsung keluar. Aku mengambil kekuatannya itu. Memang tidak banyak, tapi sedikit saja kekuatannya, aku sudah bisa melakukan hal ini”.

“Bocah merepotkan”, gumam Jin. Dia kesal karena sekali lagi dia harus menghadapi sejumlah besar makhluk kegelapan.

“Lalu, bagaimana dengan Arioka? Aku tidak melihatnya disini”, master mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok gadis itu. “Dan, aku juga tidak melihat Takaki disini”.

“Mereka berdua masih hidup”, jawab Jin. “Aku bisa merasakan aura mereka dari sini. Memang terasa lemah, tapi aku yakin mereka masih hidup”, Jin mengernyitkan dahinya, seakan memikirkan sesuatu.

“Kenapa Akanishi?”, tanya master.

“Aku merasa ada yang berbeda dengan aura Daiki”, Jin memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi. “Ah, mungkin hanya perasaanku saja”.

“Untunglah kalau mereka berdua masih hidup. Yang lebih penting sekarang, kita harus menolong para ksatria untuk menghadapi makhluk kegelapan ini. Mereka semua sudah terluka cukup parah”, gumam master.

Master dan Jin pun akhirnya maju ke medan pertempuran. Jin menggunakan kemampuan alkeminya. Dia mengubah bentuk lantai menjadi liat sehingga mudah digerakkan. Lantai-lantai itu menjebak dan mengurung beberapa makhluk kegelapan. Sedangkan master menggunakan ilmu magisnya untuk melenyapkan makhluk kegelapan dengan mengucapkan beberapa mantra. Dalam sekejap, beberapa makhluk kegelapan itu langsung lenyap, akan tetapi King menggunakan ilmu necromancy-nya untuk membangkitkan kembali makhluk kegelapan yang telah hancur. Pertarungan ini terus berlangsung tiada henti.

Aku hanya bisa terbaring lemah menyaksikan pertarungan yang ada di hadapan mataku. Karena tubuhku yang terluka parah, membutuhkan banyak waktu agar tubuhku bisa pulih seperti semula. Beberapa makhluk kegelapan sempat mendekat ke arahku, akan tetapi berkat kemampuan dari Jin, makhluk kegelapan itu langsung lenyap sebelum mendekat ke arahku. Aku melihat ke arah teman-temanku yang lain. Mereka semua juga terbaring lemah tidak berdaya. Luka di tubuh mereka cukup parah.

“Apa yang kulakukan? Di saat seperti ini, di saat mereka membutuhkan kemampuanku, aku malah tidak bisa melakukan apapun”, gumamku. Aku mengepalkan tanganku. “Aku butuh kekuatan. Aku butuh kekuatan yang besar. Aku ingin menggunakan kemampuanku”.

BLAR! PRANG! CLASH! BRUAK! Suara-suara itu terus terdengar. Entah sudah berapa lama suara-suara itu terus berbunyi. Aku melihat ke arah master dan Jin. Tampaknya mereka mulai kewalahan. Pada awalnya, tubuh mereka tidak terluka sama sekali. Tapi sekarang, para makhluk kegelapan berhasil melukai tubuh mereka. Para petinggi maou terus saja melancarkan serangan mereka tanpa henti. Mereka terus menyerang secara membabi buta, beberapa serangan mereka berhasil mengenai tubuh Jin dan master.

“SIAL.... tidak adakah yang bisa kulakukan?”, aku berpikir keras. Aku melihat kalung yang kukenakan, kalung milik ayah yang diberikan oleh ibu saat aku memutuskan untuk tinggal bersama para ksatria yang lain. Aku kemudian melihat pedang milik ayah yang tergeletak tidak jauh dari situ. Aku kemudian mengingat kembali perjumpaan dengan ayah dalam mimpiku. Saat pertama kalinya aku bisa menggunakan kemampuan purification milik ayah yang diberikan padaku.

“Ayah, apa yang harus kulakukan? Padahal ayah terus membantuku dan melindungiku, tapi aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa”, aku memejamkan mataku. Sekilas aku bisa melihat bayangan ayah di benakku. Wajah ayah tersenyum. Dia mengangguk ke arahku.

Kubuka kembali mataku, kukepalkan tanganku dengan erat. Kumantapkan hatiku. Aku kemudian berkonsentrasi penuh. Aku berusaha mengeluarkan semua kekuatan yang kupunya. Akan kulakukan apapun untuk menolong teman-temanku. Aku bisa merasakan energi yang besar keluar dari tubuhku.
Aku melihat tubuhku seperti diselimuti oleh kabut tebal berwarna putih. Lama kelamaan kabut itu semakin tebal. Tubuhku juga terasa semakin panas.

“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”, aku berteriak. Kukeluarkan semua energi yang ada di dalam tubuhku. Tubuhku seakan meledak. Seketika makhluk kegelapan yang ada di sekitarku lenyap. Tidak hanya itu, semua makhluk kegelapan yang ada di ruangan itu juga lenyap. Para petinggi maou beserta Ryuusei yang ada di ruangan itu langsung terduduk lemas.

“Ini.....”, gumam Jin.

“Ya, kekuatan kombinasi antara healing dan purification. Kemampuan healing akan menyembuhkan luka kita dan kemampuan purificationnya menghilangkan atau lebih tepatnya memurnikan para makhluk kegelapan. Lihat itu”, master menunjuk ke arah Jack yang mengerang kesakitan. Ada sebuah sosok yang keluar dari tubuh Fuka, sosok itu semakin terdorong keluar akibat kemampuan purification. Sosok itu akhirnya terlepas dari tubuh Fuka.

“Fuu!!”, terdengar jeritan Hikaru. Sekilas aku bisa melihat Hikaru yang berlari menuju ke tempat Fuka.

Rasa panas di dalam tubuhku lalu berkurang, energi besar yang kurasakan dari dalam tubuhku juga semakin menipis. BRUK. Aku terduduk lemas. Tubuhku sudah tidak sanggup berdiri lagi.

“RYOCHAN!”, aku bisa mendengar jeritan Chinen. Mataku yang sedikit terbuka melihat sosok Chinen yang mulai mendekat ke arahku.

“HUAHAHAHA.... tidak kusangka ada salah satu ksatria yang memiliki kemampuan yang hebat. Dalam sekejap dia bisa menghabisi seluruh makhluk kegelapan di ruangan ini. Dia bahkan bisa memaksa keluar Jack dari tubuh pemuda ini”, ucap King sambil menepuk tangannya. “Tapi sayang sekali, apapun yang kau lakukan, tidak ada bedanya dari sebelumnya”, King membangkitkan lagi makhluk kegelapan yang tadi telah hancur. Seluruh ruangan kini dipenuhi lagi oleh para makhluk kegelapan.

“Hanya sampai disinikah?”, gumamku. Aku melihat ada beberapa makhluk kegelapan yang mendekat ke arahku. Tubuhku terasa sangat lemah, menggerakkan badanku saja terasa sangat berat. Dalam hatiku, aku mulai meyerah.

“Ryochan! jangan menyerah!”, Chinen tiba-tiba berdiri di hadapanku. Dia memukul mundur semua makhluk kegelapan yang tadi berniat menyerangku. “Aku masih ada disini. Ayo kita berjuang bersama-sama”, Chinen mengulurkan tangannya ke arahku. Aku meraih tangan mungil yang ada di hadapanku itu.

“Yuri...lukamu”, gumamku sambil melihat ke arah bahu Chinen yang tadi terluka.

“Oh, ini. Sudah tidak sakit lagi kok. Berkatmu tadi, seluruh luka yang ada di tubuhku sudah hilang. Tidak hanya itu, tubuhku serasa segar kembali. Iya kan teman-teman?”, ucap Chinen.

“Chii benar Yamada. Saat ini kami semua sudah pulih kembali. Kami bisa melanjutkan pertarungan lagi. Kau beristirahat saja, tubuhmu sudah terlalu banyak mengeluarkan energi”, ucap Yabu yang kini telah bangkit kembali. Di belakangnya, Inoo juga bangkit kembali sambil tersenyum ke arahku.

“Tidak”, kataku. Aku berusaha untuk bangkit kembali, “aku juga akan bertarung bersama kalian. Aku juga salah satu ksatria, sama seperti kalian”.

Chinen tersenyum, dia memberikan pedangku yang tergeletak kepadaku, “Aku akan membantumu, ayo kita berjuang bersama-sama”. Aku mengangguk ke arah Chinen. Aku melihat ke arah Yabu dan Inoo, mereka juga mengangguk ke arahku.

Aku melihat ke arah Yuto, tampaknya dia sudah mulai bertarung terlebih dahulu. Aku melihatnya bertarung mati-matian melawan para makhluk kegelapan sambil terus berusaha melindungi Keito. Aku juga melihat ke arah Hikaru, sambil melindungi Fuka yang terbaring lemah di dekatnya, Hikaru berusaha melawan Jack yang telah keluar dari tubuh Fuka.

“Baiklah, ayo maju!”, seruku sambil mengayunkan pedangku ke arah makhluk kegelapan. Aku terus berusaha melawan mereka dengan sisa tenaga yang kumiliki. Tiba-tiba kakiku menjadi lemas, tenagaku memang benar-benar sudah habis kali ini, aku sama sekali tidak bisa bangkit kembali.

“Ryochan!”, jerit Chinen. Di depanku sudah berdiri salah satu makhluk kegelapan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk lari.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menahan makhluk kegelapan itu. Gerakan makhluk kegelapan itu terhenti. Aku bisa melihat beberapa sosok transparan yang mendekat ke arahku. Sosok-sosok itu kemudian menarik mundur makhluk kegelapan yang ada di dekatku. Tidak hanya itu, aku melihat sosok-sosok transparan semakin banyak, sosok itu beraneka wujud. Para makhluk kegelapan dipukul mundur oleh sosok transparan itu.

“Apa yang terjadi? siapa mereka? apa itu para hantu?”, tanyaku yang tidak mengerti apa yang telah terjadi.

“Bukan. Lebih tepatnya mereka itu para roh. Roh terbentuk dari sisa energi yang tersisa dari tubuh aslinya saat mereka meninggalkan dunia ini”, sahut master. “Tapi, ini aneh sekali”, tambah master.

“Apa yang aneh?”, tanyaku.

“Roh-roh ini sangat susah dikendalikan. Mereka tidak mungkin datang sendiri dengan sukarela. Butuh kekuatan yang sangat besar dan ilmu yang cukup tinggi. Ada seseorang yang memanggil mereka dan mengendalikan mereka”, jawab master.

“Eh, berarti ada seseorang yang menolong kita”, sahut Chinen.

“Ya. Tapi justru itulah yang aneh”, kata master.

“Apanya?”, aku masih tidak mengerti.

“Memanggil roh dan mengendalikan mereka adalah salah satu ilmu sorcery, yang berarti satu-satunya yang bisa menggunakannya adalah sang sorcerer”, jawab master.

“Hah? Bukannya sang sorcerer sudah mati beberapa ratus tahun yang lalu?”, tanyaku lagi.

“Iya. Makanya itu, ini aneh sekali”, gumam master.

“Begitu rupanya”, gumam Jin sambil mengamati lantai di bawah kakinya.

“Kenapa Jin?”, tanyaku.

“Tidak. Nanti saja kujelaskan. Aku juga belum yakin tentang hal ini”, jawab Jin. Tampaknya dia sama sekali tidak berniat memberitahu kami.
Aku melihat para roh yang beterbangan. Mereka terus saja muncul tanpa henti. Para roh itu terus memukul mundur para makhluk kegelapan. Meskipun King terus saja menciptakan dan membangkitkan lagi para makhluk kegelapan, akan tetapi para roh berhasil membasmi mereka.

Di bawah, .....

“Apa ini? aku merasa ada energi yang melimpah ruah masuk ke dalam tubuhku”, ucap Daiki. Luka di tubuhnya perlahan-lahan juga mulai menghilang.

“Ini kekuatan Healing. Temanmu menggunakan kemampuannya itu dan mengirim sejumlah besar energinya kepada teman-temannya yang lain”, Daiki bisa mendengar suara sang sorcerer dalam pikirannya karena saat ini sang sorcerer berada dalam tubuh Daiki.

“Yamada....”, gumam Daiki. Dia merasa sangat berterima kasih pada Yamada yang telah membantunya.

“Lebih baik, kita segera menutup segel ini. Jangan sia-siakan usaha temanmu. Lebih cepat kita menutup segel ini, maka akan semakin baik. Aku bisa merasakan kekuatan sang necromancer terus keluar dari balik segel ini”, ucap sang sorcerer.

Daiki mengangguk. Dia berusaha mengeluarkan seluruh energinya. Dia berusaha meningkatkan konsentrasinya dan mengerahkan seluruh energi yang dia punya ke kedua tangannya. Akan tetapi segel itu belum juga tertutup.

“Apa segini masih belum cukup?”, keluh Daiki. Pintu segel masih tetap terbuka. Bahkan ketika Daiki mengeluarkan seluruh tenaganya, pintu segel itu hanya bergerak sedikit.

“Ayo, tetap semangat Daichan”, tiba-tiba Yuya muncul di hadapannya. Yuya meletakkan kedua tangannya di atas tangan Daiki. Daiki bisa merasakan ada energi yang keluar dari kedua tangan Yuya.

“Yuya? kau sudah sadar?”.

“Ya. Beberapa saat lalu. Aku merasa tiba-tiba tubuhku pulih kembali. Energiku juga kembali. Lalu aku mendengar suaramu, aku mengikutinya, dan melihat apa yang kau lakukan. Kurang lebihnya aku tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau ingin menutup segel ini kan?”.

Daiki mengangguk, “Dari tadi aku berusaha menutupnya, tapi sama sekali tidak ada efeknya. Pintu segel ini juga hanya bergerak sedikit”.

“Aku akan membantu mengeluarkan energiku. Lebih banyak orang lebih baik kan?”, ucap Yuya sambil tersenyum. Daiki mengangguk lagi. Dia dan Yuya akhirnya mengeluarkan seluruh energi yang mereka miliki dan berfokus untuk menutup segel itu. perlahan, pintu segel mulai bergerak menutup. Daiki dan Yuya langsung terlihat lega saat melihatnya.

“Aku akan memanggil kembali para roh”, ucap sang necromancer.

Di atas,.....

Para roh terus bertarung melawan para makhluk kegelapan. Makhluk kegelapan tidak bisa melukai para roh, tapi para roh bisa melukai makhluk kegelapan. Kami hanya melihat pertarungan para roh dan makhluk kegelapan. Aku terus bertanya-tanya, apakah semua ini perbuatan sang sorcerer?

“Ryuu!”, jerit Inoo. Aku langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Inoo. Aku bisa melihat sosok Ryuu yang sedang terbang tidak jauh dari kami. Sosoknya transparan.

“Ryuu...”, gumamku pelan. Aku masih bisa mengingat saat terakhir Ryuu bersama kami. Aku merasa sedikit lega saat melihat Ryuu sekarang. Tubuhnya terlihat sehat dan segar, meskipun sosoknya transparan. Aku sangat senang bisa melihatnya lagi untuk kedua kalinya.

Ryuu mendekat ke arah kami. Dia membungkukkan badannya ke arah kami, seakan ingin menyapa kami. Dia tersenyum ke arah kami. Ini pertama kalinya aku melihat senyumnya itu. Wajahnya tampak sangat manis. Dia kemudian melambaikan tangannya ke arah kami sambil berlalu pergi.

“Ryuu!”, panggilku. Ryuu hanya membalasku dengan lambaian tangannya. Dia kemudian menuju ke arah King. Dia mengangkat tubuh King dan berlalu pergi bersama dengan King. Aku bisa melihat King meronta untuk melepaskan diri dari Ryuu, tapi tampaknya dia tetap tidak bisa melarikan diri. Para roh yang lain juga membawa pergi para makhluk kegelapan yang tersisa. Mereka membawa semua makhluk kegelapan pergi ke suatu tempat.

“Apa yang terjadi? kemana para roh itu membawa para makhluk kegelapan pergi?”, tanyaku.

“Entahlah. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi”, jawab Yabu.

“Lalu, apakah ini berarti pertarungan kita sudah selesai?”, tanya Chinen.

“Bisa dibilang begitu”, sahut Yabu. “Tapi, kita masih harus menutup segel”, tambah Yabu.

“Soal itu tidak usah dikhawatirkan. Cepat atau lambat segel itu akan menutup lagi. Lebih baik kalian beristirahat dulu sebentar”, ucap Jin.
Kami semua saling berpandangan tidak mengerti. Kami sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jin. Akan tetapi, kami bermaksud untuk menuruti perkataannya. Jin benar, kami sudah sangat lelah sehingga akhirnya kami semua memutuskan untuk beristirahat.

Di bawah,....

“Mereka sudah tiba”, ucap sang sorcerer. Daiki melihat ada beberapa roh yang datang sambil membawa makhluk kegelapan. Roh-roh itu melemparkan para makhluk kegelapan ke balik pintu segel yang terbuka. Satu persatu para makhluk kegelapan masuk ke dalamnya. Tidak terkecuali para petinggi maou dan prajurit kegelapan yang tersisa.

“Akan kubalas kalian semua!”, seru King sebelum Ryuu melemparkannya ke balik pintu. Daiki tercengang saat melihat Ryuu dalam sosok transparan berdiri di hadapannya.

“Ryuu...?”, tanya Daiki. Ini pertama kalinya Daiki melihat Ryuu lagi setelah dia bebas dari sekapan Jack. “Kenapa sosokmu seperti itu?”, Daiki melihat ke arah Yuya, “Apa yang terjadi sebenarnya?”.

Yuya melihat Daiki, dia merasa resah. Yuya belum memberitahu Daiki kalau Ryuu telah tewas. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Daiki. Yuya berpikir akan memberitahu Daiki setelah ini semua selesai, tapi tidak disangka kalau Daiki akan mengetahuinya sebelum itu.

Ryuu mendekat ke arah Daiki. Dia memeluk Daiki. Meskipun Ryuu tidak bisa memeluk langsung Daiki, tapi Daiki masih bisa merasakan kehangatan pelukan Ryuu. Ryuu membuka mulutnya, mulutnya bergerak seakan mengucapkan sesuatu, tapi sama sekali tidak ada suara yang terdengar. Ryuu kemudian tersenyum dan perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Daiki meneteskan air matanya. Ryuu mengusap air mata Daiki yang jatuh dan kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Yuya hanya diam melihat saja melihat mereka berdua.

“Daichan, maaf....”, kata Yuya pelan. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Daiki.

Daiki menggeleng, “Tidak apa-apa Yuya. Aku mengerti. Ryuu tadi sudah menceritakan semuanya. Sekarang kita harus segera menutup segel ini sebelum mereka berhasil lolos lagi”. Daiki mengerahkan seluruh tenaganya ke arah lingkaran sihir yang ada di bawahnya. Yuya pun mengikuti Daiki. pintu segel semakin lama semakin sempit dan akhirnya mulai menutup. Kali ini segel berhasil ditutup. Yuya dan Daiki terlihat sangat senang karena berhasil menutup sgel tersebut. Usaha keras mereka kini terbayarkan.

“Terima kasih Daiki. berkat bantuanmu, segel ini berhasil ditutup kembali”, sang sorcerer keluar dari tubuh Daiki. Yuya melongo saat melihat sosok sang sorcerer keluar dari tubuh Daiki. “Terima kasih”, sang sorcerer perlahan menghilang dari hadapan Daiki dan Yuya.

Tsuzuku ~~~