Kamis, 24 September 2015

13 CM

Part 3

“Anak kecil itu Forward? Kemampuan dribelnya memang bagus”

Takaki mengangguk setuju dengan ucapan Yabu. Dia masih ingat dribel indah yang ditunjukkan oleh anak laki-laki yang bernama Arioka itu. Dribel yang indah, luwes, seperti sedang menari. Kekuatan lompatannya juga lumayan.

“Arioka?”, gumam Takaki. Sesuatu mengganjal pikirannya. Samar-samar dia mulai teringat sesuatu. Takaki melihat Arioka, tanpa disengaja, pandangan keduanya bertemu. Arioka langsung melempar senyum pada Takaki.

“AAAHHHHH!!!!!”

Seisi gedung olahraga langsung melihat ke arah Takaki yang tiba-tiba menjerit. Takaki langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Yabu melirik ke arah Takaki dengan heran, sedangkan Inoo malah melotot ke arahnya, mukanya tampak sedikit kesal karena kegaduhan kecil yang ditimbulkan oleh Takaki.

“Kau kenapa?”, bisik Yabu.

“Aku ingat siapa cowok pendek itu sekarang”

“Eh? Hontou? Dimana kau pernah bertemu dia?”

“Nanti saja kuceritakan. Inoo sedang melihat ke arah kita”

Yabu dan Takaki kompak melihat ke arah Inoo yang masih melotot ke arah mereka berdua. Takaki dan Yabu langsung kembali memasang muka serius mereka. setelah selesai acara perkenalan anggota baru, Yabu dan Takaki langsung mengarahkan anggota baru dalam menjalani latihan.

---***---
Latihan basket telah selesai. Beberapa anggota baru terlihat cukup kelelahan. Maklum, latihan basket memang tidak bisa dibilang enteng. Apalagi klub ini baru saja bisa menembus 5 besar dalam turnamen Winter Cup kemarin. Tentu saja mereka ingin mempertahankan gelar mereka sampai akhir. Apalagi tahun ini mereka mempunyai target untuk meraih juara Inter High dan Winter Cup.

Sepanjang latihan, Takaki terus saja melihat ke arah cowok bertubuh pendek itu. setelah melihatnya bermain, Takaki semakin yakin kalau cowok itu adalah cowok yang pernah dia temui waktu itu. waktu itu, Takaki bertemu dengannya di turnamen Inter High 1 tahun lalu, saat dia pergi mendukung tim basket putra bertanding.

Waktu itu, tim basket putri telah berhasil lolos babak penyisihan dan masuk ke babak semifinal. Saat itu, dia bersama temannya akan pergi mendukung tim basket putra. Saat tim putri tiba di tempat pertandingan, ternyata tim basket putra yang dipimpin Yabu masih belum bertanding. Untuk menghabiskan waktu, dia kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Takaki terlalu fokus melihat atlet-atlet basket yang berada disana hingga tidak memperhatikan jalannya.

BRUK!

“Ah maaf”, kaget Takaki saat dia sadar telah menabrak seseorang.

“Tidak apa”, balas orang yang ditabrak Takaki.

“Tunggu”, tanpa sadar Takaki mengulurkan tangannya untuk menghentikan langkah pemuda yang tadi ditabrak oleh Takaki. Badannya tergolong cukup pendek untuk ukuran laki-laki. “Kau tidak apa-apa?”

Pemuda itu menampik tangan Takaki dengan cukup kasar. Tampaknya dia tidak suka dengan perbuatan Takaki yang menghentikannya. “Aku tidak apa-apa. Tidak usah pedulikan aku”, jawab pemuda itu tanpa melihat ke arah Takaki. “Kenapa kau peduli sekali dengan orang yang kau tabrak? Aku tidak akan menuntutmu kok”

Takaki terdiam. bukan itu maksud Takaki. Dia memang bersalah karena sudah menabrak pemuda itu. tapi ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikiran Takaki. Takaki merogoh tasnya dan mengeluarkan handuk kecilnya yang masih kering. Dia kemudian meletakkan handuk itu di atas kepala pemuda itu.

“Pakai ini”

Pemuda itu menoleh ke arah Takaki. Kini matanya yang berkaca-kaca itu terlihat jelas. Bahkan masih bisa terlihat bekas air mata yang mengalir dari kedua matanya. Inilah alasan kenapa Takaki menghentikan pemuda itu.

“Aku kalah”. Pemuda itu akhirnya mengeluarkan suara. Suaranya kini terdengar sangat lemah dan parau. “Aku telah melakukan kesalahan. Gara-gara aku, tim kami kalah”

Takaki terdiam. Tanpa perlu mendengar penjelasan lebih lanjut dari pemuda itu, dia telah mengerti secara garis besar. Dilihat dari pakaian yang dipakai oleh pemuda pendek itu, bisa diketahui kalau dia adalah salah satu anggota klub basket yang bertanding hari ini. Dan dari ekspresi serta tingkahnya ini, Takaki bisa menduga kalau pemuda ini telah kalah dalam suatu pertandingan.

“UWAA!!!”

Pemuda itu meninju tembok yang ada di hadapannya. Sesekali dia berteriak untuk meluapkan rasa kecewanya. Melihat hal itu, Takaki pun terdiam. Dia tahu bagaimana sakitnya menderita sebuah kekalahan.

“Hentikan tangisanmu itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Kalau kalah, ya kalah”

Cowok pendek itu langsung menghentikan tangisannya dan melihat Takaki dengan pandangan kesal. Takaki langsung menyadari perkataannya yang kasar dan segera menutup mulutnya. ‘Baka! Apa yang kau ucapkan pada orang yang telah kalah dalam suatu pertandingan?’, batin Takaki.

Takaki merasa menyesal telah mengucapkan kata-kata yang kasar. Seharusnya dia tahu bagaimana perasaan seseorang yang kalah bertanding karena dia sering mengalaminya. Tapi dalam hati, Takaki juga sedikit kesal karena cowok pendek ini terus-terusan menangis dan meratapi kekalahannya.

“Maaf aku...”, Takaki berusaha mengucapkan kata maaf karena cowok pendek itu terus melihatnya.

“Dai-chan! Aku mencarimu dari tadi!”

Seorang perempuan yang cukup cantik tiba-tiba datang dan menghampiri mereka berdua. Dia melihat ke arahku cukup lama dan kemudian melihat ke arah cowok pendek itu.

“AH!!! Kau menangis lagi ya? Menyedihkan”, ejek cewek itu saat melihat wajah si cowok dari dekat.

“Berisik! Jangan ganggu aku!”

“Terserah deh. Tapi semua orang mencarimu. Kita harus segera kembali”

Cewek itu lalu menyeret si cowok. Takaki hanya terdiam melihat kedua orang itu berlalu pergi. “Ah... aku lupa minta maaf padanya”, keluh Takaki. “Kalau bertemu lagi, aku akan meminta maaf padanya”

Kembali ke waktu sekarang...

“Aku lupa. Aku harus minta maaf padanya”, gumam Takaki sambil melihat cowok pendek yang bernama Arioka itu. Arioka kini sedang menjalani latihan bersama dengan anggota cowok lainnya. Yabu menyuruh mereka melakukan pemanasan ringan dengan cara berlari sambil mendrible bola.

“Taka-chan! Kau sedang apa?”

Seruan Inoo membuyarkan lamunan Takaki. Dia segera berbalik dan kembali melatih anggota baru klub basket putri. Klub basket putri melakukan latihan yang sama dengan klub basket putra.

“Ah maaf”. Takaki tidak sengaja menabrak anak baru. Dia lalu menolong anak itu dan membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa? Tidak terluka?”, tanya Takaki.

Anak baru itu langsung berdiri dan mengibaskan tangan Takaki yang terulur ke arahnya. “Aku baik-baik saja kok”

“Kenapa anak itu?”, gumam Takaki heran saat merasa anak itu bersikap agak judes padanya. Takaki terus melihat anak baru itu. gerakan anak itu sangat bagus. Terlihat sekali kalau dia sudah lama bermain basket dan cukup mahir.

“Dia jago kan? Benar-benar anggota yang bisa diharapkan”, ucap Inoo tiba-tiba. “Yamada-san memang anggota baru yang kita harapkan”

“Yamada?”, tanya Takaki.

“Dia itu Yamada Ryosuke, salah satu best forward kejuaraan basket SMP tahun lalu. Anggota baru yang kuceritakan tadi. Kau lupa?”

“Ah maaf. Aku tidak begitu bagus mengingat wajah orang”. Takaki terdiam sesaat. “Tunggu. Aku rasa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini”

“Mungkin kau pernah melihatnya dalam majalah basket?”

“Bukan. Rasa-rasanya aku pernah bertemu dengannya dulu dan baru-baru ini”, Takaki berusaha mengingat. “AH!”. Seruan Takaki mengagetkan Inoo. “Anak itu, Yamada, dia anak perempuan yang menjemput anak cowok pendek bernama Arioka itu!”

Tsuzuku ~~~

ANNIVERSARY

Ini ff sebenarnya untuk memperingati 14th anniversary YabuNoo. Cuman telat posting disini. Tapi di fb, tepat waktu kok. Maafkan saya ya. :(

Douzo

Yabu tampak sibuk menata meja makan. Dia mengatur letak peralatan makan di atas taplak berwarna putih. Tidak lupa dia menaruh bunga mawar berwarna senada di tengah meja. Tidak lama, dia mengeluarkan beberapa hidangan makan malam dan mengaturnya hingga tampak serasi dan rapi. Dia kemudian mengambil sebuah botol wine dari dalam lemari dan meletakkannya juga di atas meja.

“Kau mengaturnya dengan sangat rapi sayang”

Inoo tiba-tiba menghampiri meja makan sambil membawa sebuah cake yang dia buat sendiri. Dengan arahan Yabu, Inoo menempatkan cake itu di tengah meja. Yabu tersenyum saat membaca tulisan di atas cake itu. ‘Happy Anniversary’.

Yabu menarik sebuah kursi yang ada di dekatnya, mempersilahkan Inoo untuk duduk. Inoo tersenyum dan menurut. Setelah memastikan Inoo duduk dengan nyaman, Yabu kemudian menduduki kursi yang berhadapan dengan Inoo.

Dengan sangat hati-hati, Yabu membuka botol wine. Seperti sommelier terkenal, Yabu menuangkan sedikit wine di gelasnya, menggoncangnya sedikit, lalu mencium baunya. Setelah puas dengan wine pilihannya. Dia kemudian menuang wine ke gelas Inoo. Inoo tampak kagum dengan keahlian Yabu. Dia tidak tahu kalau Yabu memiliki pengetahuan tentang wine.

Setelah bersulang, Yabu dan Inoo masing-masing menegak wine. Yabu menatap lurus ke arah Inoo yang tampak sangat cantik. Penerangan yang temaram di ruangan itu, tidak membuat kecantikan Inoo terlihat buram. Justru dia terlihat bagaikan mutiara putih yang bersinar di kegelapan. Yabu tersenyum bangga, dia tidak menyangka bisa memiliki gadis secantik Inoo. Betapa beruntungnya dia.

“Kalau kau nyengir terus seperti itu, aku akan menelepon Rumah Sakit Jiwa sekarang juga”, ucap Inoo yang sadar kalau Yabu terus tersenyum saat melihatnya.

“Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Aku sangat senang memiliki wanita sepertimu. Beruntungnya diriku bisa memiliki wanita cantik sepertimu”

Inoo tersipu malu saat mendengar ucapan Yabu. Yabu sangat jarang mengucapkan kata romantis. Lebih tepatnya, mereka berdua jarang bersikap romantis. Sifat random Inoo menyebabkan suasana romantis di antara mereka hancur dan berubah menjadi candaan.

“Kenapa kau menulis anniversary yang ke-8, sayang?”, tanya Yabu saat melihat tulisan yang ada di atas cake. Dia baru menyadari angka ‘8’ yang tertulis disana.

“Kan hari ini memperingati 8 tahun kita bersama. Kita jadian tahun 2007 kan? Jadi hitungannya benar 8 tahun”

Yabu menggeleng. “Kau salah. Kita sudah bersama selama 14 tahun. Kau lupa?”

“14 tahun?”

“Kita pertama bertemu tanggal 23 september tahun 2001. Tepat hari ini, 14 tahun yang lalu, di sebuah lift bersama orangtua kita. Kau lupa?”

---***---
“Kita mau kemana bu?”, tanya seorang anak kecil berumur 11 tahun yang sedang digandeng oleh ibunya.

“Ke sekolah musik ternama, Kota. Kau akan belajar tentang menyanyi disana”

Anak kecil itu menggeleng. “Aku tidak mau menyanyi, aku mau main bola!”

“Suaramu itu bagus Kota. Sayang kalau tidak dilatih. Kalau masuk sekolah musik ini, kemampuan bernyanyimu akan lebih baik lagi. Siapa tahu kau bisa menjadi penyanyi terkenal”

Anak itu menggeleng lagi. “Aku tidak mau menyanyi! Pokoknya aku tidak mau!”

Ibu anak itu menghela napas. Dia kemudian berjongkok di hadapan anaknya yang sedang merajuk. “Kalau kau mau masuk sekolah musik, ibu berjanji akan membelikanmu pin lencana tim sepak bola favoritmu. Kau sangat menginginkan itu kan?”

Anak itu tampak berpikir sejenak. Tanpa butuh waktu lama, anak kecil itu mengangguk. Bujukan ibunya berhasil. Sang ibu tersenyum saat melihat anaknya yang mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdua bergandengan tangan menuju tempat sekolah musik.

“Tempat pendaftarannya ada di lantai 3”

Sang ibu mengucapkan terima kasih pada resepsionis dan segera menuju ke lift. Segera setelah mereka masuk, sang ibu langsung memencet tombol ‘3’.

“Tunggu sebentar!”

Sesaat sebelum pintu tertutup, ada seorang wanita yang tampak berlari menuju lift. Ibu Kota langsung menahan pintu lift dan membiarkan wanita itu masuk.

“Terima kasih”, ucap wanita itu pada ibu Kota. “Kei! Ayo cepat!”

Tidak lama kemudian, ada seorang anak perempuan kecil yang masuk ke dalam lift. Gaya pakaian anak itu sangat trendy dan fashionabel. Anak laki-laki kecil itu sempat tertegun saat melihat anak perempuan itu. Meskipun wajahnya sebagian tertutup topi yang dikenakannya, tapi Yabu bisa merasakan kalau wajah anak itu sangat cantik. Anak laki-laki itu terus menatap ke punggung anak perempuan yang terus memegangi lengan baju ibunya itu.

Ting! Lift terbuka di lantai 3. Seluruh penghuni lift itu turun. Termasuk anak perempuan itu bersama dengan ibunya. Tampaknya dia juga ingin mendaftar di sekolah ini.

“Yabu Kota dan Inoo Kei ya? Selamat bergabung di sekolah musik Johnny’s”. Seorang pemuda paruh baya yang tampaknya merupakan salah satu instruktur di sekolah itu menyambut mereka berdua. “Latihan kalian dimulai minggu depan. Kalian bisa latihan sepulang sekolah, tidak ada batasan waktu kapan kalian mulai. Oh iya, apakah kalian bisa menunjukkan keahlian kalian dalam bernyanyi? Dimulai dari Inoo-chan dulu”

Anak perempuan itu menunduk sebentar, lalu mengangguk.
“Apa lagu yang ingin kau nyanyikan?”

“Flower. Lagu Kinki Kids”

Yabu tertegun saat mendengar suara Inoo yang pelan dan lembut. Yabu semakin terkejut saat melihat wajah Inoo yang kini terlihat seluruhnya karena dia telah melepas topinya. Dia menduga kalau anak itu juga memiliki suara yang indah. Seindah wajahnya yang benar-benar terlihat polos.
Inoo mulai bernyanyi. Yabu langsung tercengang saat mendengar suara Inoo.

“Jelek”

Inoo langsung berhenti menyanyi. Dia melihat ke arah Yabu dengan pandangan kesal. Yabu langsung menutup mulutnya. Dia tanpa sadar sudah mengungkapkan isi pikirannya saat mendengar suara anak perempuan itu berbeda dengan bayangannya. Ibu Yabu mencubit lengan anaknya. Menyuruhnya untuk diam. Yabu langsung merasa kecewa saat melihat anak perempuan itu yang ingin menangis.

“Hora! Kota! Ayo minta maaf. Kau sudah menyakiti perasaannya”

Yabu berjalan maju mendekat ke arah Inoo. “Maaf”, ucap Yabu sambil mengulurkan tangannya. Tapi Inoo malah menangis dan memeluk ibunya. Yabu semakin merasa bersalah. Dia kikuk. Tidak tahu harus mengucapkan apa lagi.

Karena Inoo tidak berhenti menangis, ibunya kemudian mengajaknya pulang. Ibu Yabu pun ikut meminta maaf pada ibu Inoo. Tapi ibu Inoo hanya tersenyum sambil tertawa, “ini hanya kepolosan anak kecil. Anak ini gampang menangis. Jadi wajar saja”

Yabu terus melihat ke arah Inoo yang terus menangis. Bahkan ketika Inoo menghilang ke dalam lift, Yabu terus melihat ke arah Inoo pergi. Dia terus merasa menyesal sudah menyakiti perasaan anak perempuan yang manis itu.

“Besok aku akan minta maaf”

Keesokan harinya, Yabu kembali datang ke sekolah musik. Kali ini tidak disuruh oleh ibunya. Dia datang dengan kemauannya sendiri. sesampainya di sekolah, Yabu mencari sosok Inoo. Dia berniat meminta maaf karena ucapannya yang menyakitkan. Tapi dia langsung kecewa karena tidak menemukannya.

Seminggu telah berlalu dan Inoo masih belum muncul juga. Yabu akhirnya mengira kalau Inoo tidak mau lagi melanjutkan sekolah musik. “Aku belum minta maaf padanya”

Langkah Yabu mendadak berhenti saat mendengar alunan piano yang indah. Yabu yang penasaran, berusaha mencari darimana sumber suara itu berasal. Dia kemudian sampai di sebuah ruangan tempat anak-anak bermain alat musik. Dari jendela kecil yang ada di depan pintu, Yabu bisa mengintip ke dalam. Dia ingin mengetahui siapa yang sedang bermain.

“Eh?”

Yabu terkejut saat melihat anak perempuan yang dicarinya selama seminggu ini berada di dalam ruangan itu sambil bermain piano. Jari-jarinya yang kecil tampak lihai memainkan tuts piano. Yabu terus terdiam sambil melihat Inoo bermain piano.

“Cantiknya...”, gumam Yabu. Tanpa sadar dia terpesona dengan Inoo yang tampak anggun saat bermain piano berwarna putih yang ada di hadapannya.

Yabu kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia ingin melihat permainan piano Inoo lebih dekat.

“Kamu?”. Inoo terkejut saat melihat Yabu memasuki ruang latihannya.

“Kau ingat padaku?”

Inoo tersenyum. “Kau orang yang mengejek suaraku kan?”
Yabu merasa bersalah, “Maaf”

“Gara-gara kau, aku jadi menangis dan dimarahi oleh mama setelah sampai rumah”

“Maaf”, ucap Yabu lagi.

Inoo hanya terdiam. suasana di antara mereka mendadak menjadi hening. Baik Yabu maupun Inoo sama sekali tidak mau bersuara. Yabu semakin menunduk, dia merasa kalau Inoo benar-benar marah padanya.

“Ahahaha... kenapa jadi kaku begini?”

Inoo tertawa. Yabu hanya melihat Inoo dengan pandangan heran.

“Suaraku memang jelek kok. aku tahu. Aku masuk ke sekolah musik ini karena aku ingin belajar piano, bukan karena ingin belajar menyanyi. Aku menangis saat itu karena aku malu suaraku yang jelek didengar oleh orang lain”

Yabu menghela nafas lega. Dia merasa sangat lega karena Inoo tidak marah padanya. Sekali lagi, Yabu merasa Inoo sangat manis. ‘Wajahnya yang biasa saja sudah manis, tapi saat Inoo tertawa, dia jauh lebih manis’, pikir Yabu.

“Aku ingin mendengar suaramu”, permintaan mendadak Inoo membuat Yabu terkejut. “Saat itu, aku langsung pulang tanpa sempat mendengarmu bernyanyi kan? Jadi, maukah kau bernyanyi untukku? Sebagai balasan karena sudah mengejekku”

Yabu mengangguk. Dia kemudian bernyanyi. Lagu Flower sesuai dengan permintaan dari Inoo. Inoo tertegun saat mendengar suara Yabu. Tidak lama kemudian, suara alunan piano mulai terdengar. Inoo pelan-pelan mulai mengiringi Yabu bernyanyi. Yabu semakin bersemangat. Ini pertama kalinya dia suka bernyanyi.

“Suaramu bagus sekali. Kau bisa menjadi seorang penyanyi terkenal”, puji Inoo.

“Kau juga. Permainan pianomu bagus. Kau bisa jadi pianis handal”, balas Yabu. Mereka berdua saling bertatapan dan tertawa.

---***---
“Kenapa kau masih mengingat cerita itu?”, komentar Inoo saat Yabu selesai menceritakan pertemuan pertama mereka.

“Karena itulah hari pertama aku bertemu denganmu. Dan itu juga awal hubungan kita”. Yabu menggenggam tangan Inoo. “Maukah kau bernyanyi untukku lagi? semenjak saat itu aku tidak pernah mendengarmu bernyanyi”

“Tidak mau. Setelah ada seorang anak laki-laki pendek yang mengejekku, aku tidak mau bernyanyi di hadapan orang lagi”

“Hei, aku tidak pendek!”

“Dulu kau pendek. Bahkan aku lebih tinggi darimu”, Inoo tidak mau mengalah. Dia kemudian berdiri di hadapan Yabu sambil berdiri tegak. “Bahkan kau menjinjit kakimu supaya bisa menciumku saat itu. Ya, walaupun Cuma di pipi sih”

“Tapi sekarang aku jauh lebih tinggi darimu”, Yabu berdiri. Dia kemudian memberikan sedikit ciuman di bibir tipis wanita yang ada di hadapannya. “Aku bisa melakukan hal ini kapanpun dan dimanapun”

“Dasar hentai!”, Inoo menutupi bibirnya. Rona merah tampak sedikit terlihat di kedua pipinya. Yabu tersenyum saat melihat Inoo tersipu-sipu.

Yabu mengulurkan tangannya dan memeluk Inoo. “Terima kasih sudah bersama denganku selama 14 tahun ini Kei. Tanpamu, aku tidak akan sukses seperti sekarang. Kau selalu mendukungku. Kau selalu ada untukku. Terima kasih”

Inoo membalas pelukan Yabu. “Aku juga. Terima kasih karena sudah selalu menemaniku. Kau selalu ada ketika aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku. Bahkan kau mau mengangkat teleponku malam-malam saat aku butuh teman bicara. Terima kasih”

Mereka berdua kembali ke kursi masing-masing. Yabu menyalakan lilin di atas cake. Dia tampak mengambil sesuatu dari dalam sakunya.

“Hari ini adalah peringatan 14 tahun kita bertemu. 8 tahun kita berpacaran. Dan aku berharap tahun depan akan menjadi peringatan 1 tahun pertunangan”. Inoo tampak terkejut saat mendengar ucapan Yabu. Yabu kemudian mengulurkan sebuah cincin yang berada dalam sebuah kotak merah. “Kuharap kau mau menemaniku lebih lama lagi Kei. Yah, semoga kau tidak bosan dan semoga kau tidak kecewa memiliki tunangan sepertiku”

Inoo mengusap matanya. “Harus berapa lama lagi aku bersama denganmu?”

“Entah. Sampai kau merasa bosan?”

Inoo tersenyum. “Aku sudah bersama denganmu selama 14 tahun. Aku sudah kebal bersamamu. Jadi kurasa, aku akan menemanimu lebih lama lagi”

Yabu dan Inoo tertawa. Yabu kemudian memasang cincin itu di jari manis tangan kiri Inoo. Terakhir, mereka meniup lilin bersama-sama.

END

HOW TO KISS

Genre : Shounen Ai, Romance, Drama
Cast : All JUMP
Rate : PG-15

---***---

BRAK!

Chinen, Inoo, dan Daiki langsung menoleh. Mencari tahu apa penyebab suara keras itu berasal. Mata mereka langsung terfokus pada Keito yang berdiri terpaku dan sebuah HP yang tergeletak di lantai.

Chinen mengambil inisiatif. Dia lalu mengambil HP Keito yang jatuh. Chinen langsung tersenyum saat melihat foto yang terpampang di layar HP. Dia tahu alasan Keito terpaku seperti itu.

Tanpa ba-bi-bu, Chinen langsung menunjukkan foto itu pada Inoo dan Daiki. Mereka berdua pun langsung mengerti apa yang menyebabkan Keito pucat dan terdiam bagai patung.

Foto apa sih?

Itu adalah salah satu foto cuplikan adegan di Pink & Grey, judul film yang dibintangi Yuto. Foto itu memang lagi ngetren di kalangan fans dan menyebabkan fans menangis. Apa? Tentu saja foto Yuto berciuman dengan salah satu pemeran wanita di film itu.

"Shock?"

Chinen tidak perlu mendengar jawaban pertanyaannya. Sikap Keito yang masih terpaku menandakan kalau dia shock berat.

"Eh? Kau menyukai Yuto? Kupikir kau Menyukai Hikaru"

Inoo mengangguk setuju mendengar ucapan Daiki. Chinen hanya menatap kesal ke mereka. Ayolah... Chinen saja tahu, kenapa 2 orang itu Lola?

"Why? Why? Why?"

Kebiasaan Keito kumat. Dia mulai berbicara Inggris. Bagai boneka rusak, dia hanya mengulang kata yang sama. Chinen menepuk punggung temannya itu untuk menabahkan hatinya. 'Apakah Ryosuke juga mengalami hal ini dulu?', pikir Chinen.

"Kalau begitu, kami akan memberitahu caranya padamu!"

Semua yang ada di ruangan itu menoleh ke Inoo. Cara apa?

"Cara untuk mencium Yuto! Kau juga ingin berciuman dengannya kan?"

"Eh, no no no"

Keito menggeleng. Tapi ketiga orang yang lain tahu, Keito ingin. Muka Keito yang merah menunjukkan keinginannya yang tersembunyi.

"Kalau begitu, kita akan menunjukkannya"

Tidak lama, Yamada datang. "Osu!", sapanya. Dia langsung menuju sofa dan berleha-leha disana. Tidak lama kemudian, Chinen berjalan menghampirinya. Entah bagaimana, Yamada merapatkan kedua kakinya dan membuka lebar tangannya. Dia tahu kalau Chinen ingin duduk di pangkuannya.

Chinen merangkul Yamada. "Kiss me"

"Disini? Masih ada yang lain Chii"

"Kiss me!"

Yamada menyerah. Dia lalu mencium Chinen. Chinen memperat rangkulannya. Sepertinya mereka sudah asyik dengan dunianya sendiri sehingga melupakan 3 orang lainnya.

"Begitulah caranya"

Chinen menoleh ke arah Keito. Meninggalkan kalimat tanya di kepala Yamada.

"I can't do that"

Keito menggeleng. Membayangkan dirinya bersikap manja pada Yuto, duduk di pangkuannya, sambil meminta ciuman? No! That's Horrible! That's not Okamoto Keito! Daiki dan Inoo mengangguk setuju. Mereka juga bisa membayangkan, betapa mengerikannya melihat Keito yang manja.

"Kalian sedang apa?"

Kali ini giliran Yuya yang datang. Inoo langsung berdiri dan segera menghanpiri Yuya. Tapi tindakannya dicegah oleh Daiki.

"Kau lakukan itu, aku akan memusuhimu seumur hidup!"

Yuya yang tidak punya bayangan apa yang terjadi, hanya bisa masuk ke dalam ruangan. Setelah menaruh tasnya, dia lalu berjalan ke arah Daiki yang memanggilnya. Daiki lalu menyodorkan sebungkus pocky padanya.

"Kau mau?", tawar Daiki. "Ini rasa baru"

"Rasa teh hijau? Boleh juga. Aku ingin mencobanya"

Daiki tersenyum. Dia mengambil sebatang pocky dan menyuapkan ke Yuya. Saat batang pocky yang ada di mulut Yuya telah menjadi pendek, Daiki lalu ikut memakan pocky itu hingga bibir keduanya bertemu.

"Kau juga bisa memakai cara ini Keito. Pocky game adalah cara yang manjur itu mencium seseorang"

Inoo mengangguk setuju. Chinen dan Yamada tidak peduli apa yang terjadi karena kini mereka telah asyik dengan dunianya sendiri.

Keito terdiam. Pocky game. Itu bukan cara yang aneh. Tapi dia yang berinisiatif duluan? That's impossible!

"Apa yang kalian bicara--- umph...", Yuya tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Daiki kembali menjejalkan pocky ke mulutnya dan sebagai penutup, dia ikut memakan pocky itu bersama dengan Yuya.

Seperti YamaChii, TakaDai kini juga sibuk dengan dunianya sendiri.

"Yabu... Cepatlah datang...", gerutu Inoo. Dia iri melihat 2 pasangan yang 'lovey-dovey' di ruangan itu.

Cklek. Pintu terbuka. Tanpa pikir panjang, Inoo langsung berlari menghampiri Yabu yang bahkan belum sempat masuk ke ruangan itu. Inoo langsung memeluknya dan menciumnya. Awalnya Yabu kaget dengan tindakan tiba-tiba Inoo, tapi lama-lama dia menyerah dan membalas ciuman member yang terkenal 'cantik' itu.

"WHAT THE HELL IS GOING ON IN HERE?!"

Semua member langsung sontak melihat ke arah Hikaru yang kini sudah berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.

"For God... What the hell? Why all of you just kiss each other?"

Semua member terpaku. Sontak mereka melihat ke arah Keito, berharap penglihatan mereka salah. Bahwa yang berbicara Inggris adalah Keito, bukan Hikaru. Tapi Keito sama terkejutnya. Dia termangu, terbelalak, dan membuka lebar mulutnya. Semua orang yang ada disana memiliki pikiran yang sama.

"Sejak kapan Hikaru berbicara dengan bahasa Inggris?"

"Chii! Berhenti bermanja-manja. Daiki! Mau sampai kapan kalian bermain pocky? Yabu! Kau yang tertua! Seharusnya kau mengatur mereka! Kenapa kau Malah asyik berciuman di depan pintu? Keito! Kalau kau melihat ini semua, kenapa tidak kau hentikan! For the God sake, all of you! Change your clothes right now!"

"Aku tidak mengajarinya"

Itu jawaban Keito saat beberapa member bertanya padanya. Dia sendiri juga heran melihat Hikaru berbicara Inggris. Bukankah Hikaru tidak menyukai bahasa Inggris?

"What are you doing? Let's move!" Hikaru segera memerintah yang lain untuk segera bergerak dan bersiap untuk pemotretan. "What? Do you wanna kiss too? Shall I kiss you?"

Keito menggeleng dengan keras. Dia langsung mengalihkan pandangannya dan bersiap ganti baju. Sementara member yang lain hanya bersungut kesal karena 'keasyikan' mereka dibuyarkan oleh Hikaru.

"Yo!!! Sory telat!", Yuto akhirnya datang juga setelah semua member sudah bersiap. "Syutingku makan waktu lama"

Jantung Keito langsung berdetak kencang saat Yuto mengucapkan kata 'syuting'. Adegan ciuman itupun kembali terngiang di kepala Keito. Sekilas, wajah Keito jadi murung.

"Ayo segera ke lokasi!" Hikaru memerintah semuanya untuk segera pergi. Chinen, Inoo, dan Daiki menarik pasangannya masing-masing untuk segera keluar. Memberikan waktu berduaan untuk Keito dan Yuto.

"Keito! Lakukan saja, kami sudah menunjukkan caranya padamu", ucap Inoo.

"Keito, good luck!", ucap Chinen sambil mengacungkan jempolnya.

"Keito, ganbatte!", terakhir, Daiki yang memberi semangat.

"Mereka bicara soal apa?", tanya Yuto yang masih sibuk berganti pakaian.

Keito hanya menunduk malu. Dia tidak berani menatap Yuto.

'Apakah aku harus mencium Yuto saat ini juga? Aku malu. Tapi, aku memang ingin melakukannya. Tapi, bagaimana caranya? Apakah aku harus menggunakan cara Chii yang bersikap manja? Apakah aku harus menggunakan permainan seperti cara Daiki, atau menyerangnya secara mendadak seperti cara Inoo?'

"Keito?"

'Oh My God!!! Mana cara yang tepat???', teriak Keito di dalam hati.

END

Kamis, 10 September 2015

AKUMA NO YOROI

Part 24

“Yuya! Hentikan dia!”, perintah Hikaru pada Yuya yang sedang bersandar di tembok.

Yuya menggeleng. “Tidak bisa. Tidak ada yang bisa menghentikannya kalau sudah begini. Kita hanya bisa membiarkannya sampai dia merasa kenyang”

Semua demon disana hanya bisa memandang Daiki dengan ketakutan. Takut karena kalau mereka tidak melakukan sesuatu, Daiki bisa melahap habis mereka dan mereka akan terperangkap dalam tubuh Daiki selamanya.

Itulah yang terjadi 10 tahun yang lalu. Entah bagaimana kejadian awalnya, tapi Daiki merasa sangat lapar sehingga dia menyerang kediaman keluarga Okamoto dan memakan beberapa dewa pelindung milik keluarga Okamoto. Salah satu dewa pelindung yang menjadi korban ‘lapar’ Daiki adalah Chii, dimana kekuatannya diambil dan Chii hanya bisa bertahan hidup dengan sisa kekuatannya yang ada setelah dia bersusah payah meloloskan diri dari tubuh Daiki.

Jikalau dugaan Yuya benar, maka dalang peristiwa 10 tahun yang lalu adalah Yuto. Pada saat itu, Yuto-lah yang mengajak pergi Daiki ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Yuya. Yuya juga tidak terlalu mempedulikan hal itu, dia hanya berpikir kalau Daiki lapar, dia akan kembali dengan sendirinya.

Dan entah mengapa sedikitnya Yuya mulai mengerti apa maksud tindakan Yuto saat itu. kenapa dia membiarkan Daiki yang sedang kelaparan dan membiarkannya berkeliaran membabi buta di dunia manusia.

Inoo tersenyum. Di saat semua temannya kebingungan bagaimana caranya mengembalikan Daiki seperti semula, Inoo malah tersenyum.

“Kenapa kau malah bahagia dengan situasi ini? kau mau mati begitu saja?”, ucap Yama yang kesal melihat sikap Inoo yang tenang-tenang saja.

“Ini kesempatan yang bagus”

“Haa??? Kesempatan bagus apanya Inoo? Kita semua juga akan dimangsa oleh Daiki”, sahut Yabu kesal.

“Tidak akan. Aku punya cara untuk mengeluarkan kita dari bahaya ini”

“Apa maksudmu?”, tanya Yabu lagi.

Inoo menoleh ke arah Yuya yang masih menjaga jarak pada Daiki. “Yuya, bisakah kau membawa Daiki keluar dari sini dan membawanya ke suatu tempat?”

Takaki melihat Inoo dengan pandangan tidak percaya. “Kau ingin aku menjadi umpan untuknya? Jangan bercanda!”

“Aku memintamu untuk membawanya, bukan menjadikanmu sebagai umpan”, Inoo mendesah panjang. “Pancing Daiki keluar dan bawa dia ke tempat dua demon kelas S itu berada”

---***---
“Morimoto”

Shin dan Ryu segera menoleh secara serempak saat nama mereka dipanggil oleh salah satu pelayan Yang Mulia.

“Siapa yang kau maksud?”, tanya Shin.

“Kalian berdua Tuan Morimoto. Ada perintah dari Yang Mulia Raja Demon. Beliau meminta kalian berdua untuk pergi ke dunia manusia”

“Untuk apa?”, tanya Ryu malas sambil memainkan hpnya.

“Tuan Kyomoto meminta bantuan dan Yang Mulia Raja menyuruh Tuan sekalian untuk membantunya”

“Cih. Merepotkan saja”, gerutu Ryuu kesal.

---***---
“Jesse!”

Taiga berteriak saat Jesse terpukul mundur karena serangan yang diarahkan oleh duo Kenichi-sama dan Chii. Kenichi mengarahkan kekuatannya untuk melindungi Chii disaat Chii maju untuk menyerang. Sebaliknya, bila Taiga atau Jesse mengarahkan serangan mereka pada Kenichi, Chii segera berlari untuk melindunginya.

“Tutup mulutmu Taiga! Jangan berteriak seakan-akan aku akan mati begitu saja”

Jesse memuntahkan darah dari mulutnya. Setelah cukup banyak darah yang keluar, tubuh Jesse yang terkoyak maupun terluka berangsur-angsur kembali seperti semula.

“Cih! Ini merepotkan!”, umpat Jesse. “Aku mulai lapar”

Taiga masih tetap fokus bertarung dengan Chii. Taiga terus melancarkan serangannya tanpa henti pada lawannya. Taiga terus membuat dan memanggil demon kelas rendah untuk menyerang dan semua serangan itu berhasil dimusnahkan oleh Chii.

“Menghadapi seekor kyuubi memang tidak mudah”, gumam Taiga.

“Uh... coba ada Daiki. kita bisa memintanya untuk menghisap kekuatan kyuubi itu dan kita bisa mengalahkannya dengan mudah”, gerutu Jesse.

Taiga dan Jesse tiba-tiba terdiam. keduanya merasakan sesuatu sedang mendekat dengan cepat ke arah mereka. salah satunya mempunyai aura membunuh yang sangat kuat.

“Jesse, keinginanmu terkabul”

“Tapi kita tidak tahu apakah dia berada di pihak kita atau di pihak musuh”, Jesse mengeluarkan sebuah senjata dari tubuhnya. “kalau dia menjadi musuh, itu akan sangat merepotkan”

---***---
“Ayah?”

Keito terdiam sejenak saat melihat sosok ayahnya yang sudah menghilang bertahun-tahun kini berdiri di hadapannya. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan ayahnya disini. Awalnya, Keito berniat untuk membantu Arioka senpai dan Takaki senpai untuk bertarung dengan dua demon kelas S. Tapi dia sama sekali tidak mengira kalau dia juga bisa kembali bertemu dengan ayahnya disini.

“Kenichi... sama?”

Yama juga sama terkejutnya dengan Keito. Dia hanya bisa terpaku saat melihat tuan yang sangat dihormatinya berada di depannya. Perasaan haru bercampur marah mulai timbul dalam diri Yama. Haru karena bisa bertemu lagi dengan tuannya, marah karena tuannya itu telah memutus kontrak mereka secara sepihak.

“Keito... Yama...”

---***---
“Brengsek!”

Jesse semakin gusar ketika Daiki mulai menyerangnya. Kini dia merasa sangat kerepotan menghadapi serangan Chii dan Daiki sekaligus. Sebenarnya dia bisa mengalahkan Daiki karena Daiki adalah demon kelas A. Tapi kemampuan yang dimiliki Daiki ini sangat spesial. Dia bisa menghisap kekuatan lawan yang jauh lebih kuat darinya. Jadi, meskipun Daiki terluka karena serangan musuh, selama Daiki bisa menggigit lawannya, maka Daiki menang saat itu juga.

“Takaki-san! Apa kau benar-benar mau mengkhianati kami?”, seru Taiga pada Yuya yang hanya diam mengamati pertarungan mereka.

“Diam kau bocah! Itu juga bukan keinginanku”, balas Yuya.

“Eh?! Tidak kusangka kalau Takaki akan berkhianat dan memihak pada manusia. Bukankah diantara demon kelas S, kau yang paling membenci manusia?”, ejek Jesse.

“Sudah kubilang, itu bukan keinginanku! Bocah terkutuk itu seenaknya saja mengikat kontrak denganku! Si Inoo itu juga seenaknya saja memberikan darahku padanya!”

“Bukankah itu berarti kau yang lemah? Kau bisa ditipu oleh Inoo dan kini menjadi budak manusia selamanya”, ejek Jesse lagi.

“Jesse, hentikan. Kalau kau mengejeknya lagi, kau yang akan kerepotan”, cegah Taiga. Taiga tahu kalau Jesse sengaja mengejek Yuya. Tapi itu akan semakin memperburuk keadaan. Mereka berdua sudah kerepotan menghadapi seekor kyuubi dan Daiki yang mengamuk. Jika Yuya juga turun tangan ke pertarungan ini, sudah dipastikan siapa yang akan menang nanti.

“Tenang saja Taiga”

Jesse tersenyum dan menunjuk ke sisi lain mereka. Sebuah pintu dimensi terbuka yang menghubungkan antara dunia manusia dan dunia demon terbuka. Di saat itulah dua demon kembar keluar dari pintu itu.

“Shin!”, seru Taiga riang, dia senang akhirnya bala bantuan telah tiba. “Kau juga sudah bangun rupanya, Ryuu”

“Huaamm... kau saja yang membantu mereka Shin, aku mau tidur”

Shin hanya menggeleng melihat kakaknya. Ryuu mengambil jarak beberapa meter untuk menjauh dari pertarungan. Disaat dia akan memejamkan matanya, perhatiannya kini teralihkan pada sosok yang selalu dicarinya. Tubuhnya terasa aneh. salah satu kekuatan yang ada di dalam tubuhnya memberontak ingin keluar.

Ryutaro tersenyum senang saat melihat Yama yang berdiri tidak jauh dari situ. Ryutaro bahkan tidak bisa menyembunyikan gigi tajamnya akibat senyumnya yang terlalu lebar.

“Kau juga ada disini, Yama”

Yama menoleh ke atas. Dia merasa ada yang memanggilnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok demon yang telah mengambil kekuatannya. Demon itu melihat ke arahnya dengan senyum yang menjijikkan.

“Ryuu...”, Yama menggeram. Yama bingung harus bagaimana. Dia ingin sekali bertarung dengan Ryutaro dan mengambil kekuatannya kembali. tapi dengan kondisi tubuhnya saat ini, hal itu sangat mustahil dilakukan.

“Shin, kau bantu mereka disini, aku ingin bermain terlebih dahulu”

“Eh, Kak.. tunggu”

Belum sempat Shintaro menyelesaikan kalimatnya, Ryutaro sudah meluncur terlebih dahulu ke tempat Yama. Matanya semakin bersinar ketika melihat Yama.

“Yaa... maa... ayo kita main...”, ucap Ryutaro girang.

“Keito, Kenichi-sama, kalian menjauhlah dari sini”. Yama segera memasang kuda-kuda itu menyerang Ryutaro yang mendekat ke arahnya.

---***---
“Uwah... tampaknya situasi semakin memburuk. Si kembar Morimoto juga turun tangan”

“Apakah semua ini juga berjalan sesuai rencanamu Inoo?”

“Yah... sebagian iya, sebagian tidak. Aku sudah menduga kalau Daiki akan mengamuk karena kelaparan. Aku juga sudah tahu kalau Ryu dan Shin itu akan memperoleh kekuatan baru dari Hokuto. Tapi yang aku tidak sangka adalah kalau mereka semua harus berhadapan saat ini juga”

“Berarti kau gagal?”

Inoo tersenyum dan melihat ke arah Yabu dengan tenang.

“Aku tidak gagal Yabu. Ini semua memang di luar rencanaku, tapi aku juga sudah memikirkan kemungkinan hal seperti ini akan terjadi. kau harus memiliki ribuan rencana cadangan bila rencana utamamu gagal”

“Kau memang jenius Inoo! Aku suka kau! Sayang kau demon yang paling lemah di antara kita”

“Terima kasih Hikaru. Aku juga menyukaimu. Kau demon yang paling baik hati di antara kita”

Entah apa maksud ucapan kedua demon ini. sekilas mereka tampak memuji, tapi di saat yang bersamaan, mereka juga saling mengejek. Itu sifat alami demon, sifat buruk.

“Lalu... apa rencanamu sebenarnya?”,Yabu penasaran dengan rencana asli Inoo.

“Hmm... tunggu sebentar”, Inoo berpikir. “Sebenarnya aku berencana untuk membuat Daichan mengikat kontrak dengan Keito setelah Yuya. Lalu bersama-sama kita akan berusaha untuk mengembalikan kekuatan si anjing kecil itu untuk meningkatkan kekuatan pertahanan kita. Tapi Daichan lebih cepat mengamuk dari yang aku kira, kemunculan Yuto juga di luar perkiraanku”

Yabu hanya menatap Inoo dengan sedikit kagum. Teman demonnya ini memang jenius. Bahkan di saat dia masih menjadi manusia, Inoo sudah termasuk manusia yang sangat jenius. Alasan Inoo menjadi demon pun berbeda dengan yang lain. inoo hanya ingin tahu segalanya. Dia rela menjadi makhluk abadi hanya untuk mengetahui semua pengetahuan yang ada di dunia ini.

“Lalu? Apakah kita hanya diam saja disini? Kita tidak ikut terjun dalam pertarungan?”, tanya Hikaru yang tampaknya juga ingin ikut bersenang-senang bersama demon yang lain. tubuhnya tidak bisa diam melihat pertarungan yang terjadi di depan matanya.

“Lebih baik jangan. Saat ini, Ryu sudah berada disana. Kemampuan Ryu sama dengan Daichan. Mereka berdua bisa memakan kekuatan demon yang lebih kuat dari mereka. Kekuatan Ryu saat ini hampir setara dengan Yabu. Kalau aku, kau, dan Yabu kesana, kita hanya akan dimangsa saja”

“Jadi kita hanya akan diam saja disini? Tidak melakukan apapun?”, tanya Hikaru.

Inoo mengangguk, “Iya. Kita hanya akan menunggu. Kalau waktunya sudah tiba, kita akan bergerak”

“Menunggu apa?”

Yabu bertanya pada Inoo, tapi seperti biasa, Inoo tidak menjawab pertanyaan Yabu dan membuat Yabu kembali kesal padanya.

---***---
“Demon kembar itu ikut terjun dalam pertarungan rupanya”, Yuto melihat semua yang terjadi dari cermin besar yang menampilkan apa yang sedang terjadi di dunia manusia. “Yang Mulia rupanya ingin mengetes sejauh mana kekuatan mereka berdua naik”

Yuto menutup cermin itu dengan selembar kain dan mulai berjalan keluar menuju ke suatu tempat. “Sudah saatnya aku bergerak juga. Nah, Yugo dan Juri, siapa yang lebih dulu ya?”

Tsuzuku ~~~

Rabu, 09 September 2015

Halo~~~
Hida desu~~~
Akulah pemilik blog ini sekaligus author ff disini.
Sebelumnya, terima kasih sudah mampir kemari...
Hontou ni arigatou gozaimasu. *bow*

Sesuai nama blog ini, semua ff disini murni cerita yang kubuat disini. Well, ada beberapa ff yang kolaborasi dengan orang lain, tapi aku selalu mencantumkan kredit kok. :)
Kalaupun idenya bukan murni dariku, aku selalu mencantumkannya juga kok :)

Kali ini, aku tidak mengepos ff, tapi mau curhat dikit, boleh kan ya? Ini kan juga blogku :p

Emm... Mulai darimana ya?
Ah, mungkin mulai Dari pertanyaan dasar yang sempat kalian tanyakan ke aku.

1. Kenapa tidak ada index disini?

Well, sebenarnya aku berniat merombak blog ini Dari dulu, tapi aku tidak punya waktu luang. Jadi aku hanya membuka blog ini untuk post ff, habis itu aku log out. Jadi g sempat buat rombak atau dekor blog. Maaf ya kalau kalian jadi kerepotan saat membaca atau mencari ff disini. Kalau ada waktu, aku pastikan untuk mendekor blog ini kok.

Kalau kalian mencari ff tertentu, silahkan tekan label yang ada di setiap ff. Setiap ff ada labelnya kok. Jadi kalian bisa tahu genre, tokoh, atau lanjutan ff yang kalian baca.

2. Kenapa tidak ada tombol share ke medsos lain seperti fb atau twitter?

Emm... Alasan sebenarnya adalah karena aku malu. Aku malu kalau ffku dishare oleh orang lain. Aku merasa ffku belum cukup bagus untuk dibaca orang banyak. Makanya aku cuma menshare ff yang aku cukup 'PD' untuk dibaca orang lain. Aku share pun hanya di akun fbku saja. Terkadang ke akun Google+ Ku juga sih. Jadi cukup aku saja yang menshare ff di blog ini ya.

3. Kenapa tidak membuat ff dalam b.inggris?

Aduh... Ini rada susah. Aku bisa b.inggris, tapi kemampuanku standar. Writing adalah kelemahanku dalam berbahasa inggris. Aku lebih prefer ke listening atau reading daripada writing. Jadi, jangan paksa aku membuat ff dalam b.inggris karena grammarnya pasti kacau.

4. Kenapa lama sekali update blognya???

Ah, ini pertanyaan yang sering kudapat. XD
Sebelumnya aku minta maaf kalau membuat kalian php. Well, ide tidak selalu datang setiap saat. Terkadang ada saatnya author merasa buntu. Aku sadar kalau ada 5 ff series yang masih menggantung disini. Tapi aku tidak bisa langsung membuat lanjutannya. Buat info saja nih, ada yang baca akuma no yoroi? Ff itu sudah melenceng jauh Dari alur pertama yang kupikirkan saat ff ini dibuat. Makanya aku sedang berusaha agar alurnya bisa kembali seperti semula dan ceritanya tidak membosankan.

Selain soal ide, aku juga punya kesibukan di dunia nyata. Well, tidak selamanya aku on terus di dunia maya. Jadi harap maklum kalau aku tidak mengupdate ff dalam jangka panjang.

Nah... Itu jawaban Dari pertanyaan beberapa orang yang diberikan padaku. Mudah-mudahan yang kasih pertanyaan membaca postingan ini ya... :)

Ah, ada satu hal lagi yang menjadi perhatianku.
Kalian tahu ffku yang judulnya 'change'? Yang pemerannya Okayama pair? Setelah aku Cek statistik blog ini, ff itu memiliki statistik tertinggi. 200 lebih! Itu artinya ff itu sudah dibuka atau mungkin dibaca sebanyak 200 kali!
Jujur, aku kaget banget! Padahal ff ini sebelumnya statistiknya kalah dengan ffku yang judulnya 'dormitory life' yang castnya takadai pair. Kok bisa mendadak ff ini menjadi banyak dilihat? Ada yang tahu sebabnya?

Ff ini tidak pernah q share di medsosku. Jadi darimana orang-orang bisa melihat ffku yang ini? Kalau yang pernah q share itu yang 'dormitory life' dan 'precious'. Hanya itu.

Berharap ini berita bagus ya... Berarti ff itu banyak suka.
Dan satu lagi, aku berharap. Jangan pernah mengcopy ff disini tanpa ijin ya... Kalian boleh copas kemanapun, tapi dengan syarat cantumkan namaku. Ini ff buatanku sendiri. Ideku sendiri. Jadi aku tidak ingin karyaku diakui sebagai karya orang lain.
Ah, dan apabila ada Dari kalian yang menemukan ffku dipost di tempat lain tanpa mencantumkan namamku, segera beritahu aku ya. :) onegai...
Blogku yang dulu sempat dibajak isinya sih. Jadinya aku g mau itu terjadi lagi. :(

Terakhir... (Panjang juga ya curhatnya? XD)
Kalau kalian mau rekues ff, boleh kok. Tapi syaratnya cuma one shot ya. Cast tidak harus jump juga gpp. Waktunya terserah aku, aku tidak bisa janji kapan selesai, tapi pasti kukerjakan. Nanti bakal aku post disini sambil mencantumkan nama yang rekues. Tapi, untuk ff non jump, bakal q post di note fbku atau di akun wattpad milikku.

Silahkan add fbku untuk rekues ff.
Nama fbnya? Sama kayak nama yang ada di blog ini kok. :)
Tinggal dicari aja. XD

Ah... Sudah selesai! Rasanya lega habis curhat panjang lebar.
Maafkan omongan 'sampah' ini ya... XD G dibaca juga gpp kok.

Sekali lagi, TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR KE BLOG INI!!! :)
Best regards, Hida. :*

Senin, 07 September 2015

LOVEY DOVEY

One Shot

Main Cast : Takaki Yuya & Arioka Daiki
Genre : Comedy, Romance, Shounen Ai

"Uwah... Capeknya..."

"Otsukare..."

Chinen menyambut Daiki yang baru saja menyelesaikan bagiannya di shooting PV ini. Setelah memastikan sutradanya memberikan kata 'Oke', Daiki langsung menarik nafas lega. Dia lalu mencari sebuah kursi untuk duduk.

"Ah, kalau mau kau bisa duduk disini Daichan...". Chinen segera berdiri dan menawarkan kursi yang didudukinya.

Daiki tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak usah. Aku sudah menemukan tempat duduk yang nyaman kok". Daiki menghampiri Yuya yang duduk tidak jauh Dari situ. Tanpa berkata apa-apa, Daiki langsung duduk di pangkuan Yuya dan menyandarkan kepalanya di Dada Yuya. Sedangkan Chinen hanya melihat semua kejadian itu dengan heran.

---***---

"Kau tertarik pada fotografi juga?", tanya Yuto pada Yuya yang asyik melihat foto di kameranya.

"Hmm... Ya... Begitulah"

"Kau mau mencetak foto? Aku bisa membantumu. Aku punya ruang gelap di rumahku untuk mencetak foto", tawar Yuto.

"Benarkah? Aku sangat tertolong", ucap Yuya sambil menyerahkan kameranya pada Yuto.

"Serahkan padaku"

Dan berikutnya, Yuto merasa menyesal membantu Yuya. Perasaan iri muncul tiap Kali dia melihat foto Yuya yang sudah jadi. Tiap lembar foto itu penuh dengan aura kemesraan Yuya dan Daiki. Perasaan iri Yuto memuncak saat melihat foto terakhir Daiki yang mencium pipi Yuya.

---***---

"Enak", gumam Yuya sambil memakan sebuah kue bolu strawberry.

"Untung kau ada di rumah. Aku sempat bingung bagaimana menghabiskan kue ini sendirian", gumam Yamada sambil sibuk mengunyah kue strawberry kesukaannya.

"Kalian sedang makan apa?", Daiki tiba-tiba muncul.

"Ah... Gomen daichan. Aku tidak tahu kau ada di rumah. Jadi aku tidak menyisakannya untukmu"

"Tidak apa Yamachan. Ini sudah cukup kok"

Daiki lalu duduk di sebelah Yuya dan membuka mulutnya. Yuya pun menyuapi Daiki dengan sisa kue miliknya.

"Enak?", tanya Yuya.

"Unn! Enak sekali", jawab Daiki riang. Dan Yuya melanjutkan menyuapi Daiki hingga semua kue habis.

---***---

"Kau keren sekali Daiki"

Daiki menoleh pada Keito yang duduk mengamatinya saat bermain DJ.

"Kau juga. Kau jauh lebih keren saat bermain gitar". Daiki balik memuji Keito. "Aku tidak bisa memainkan satupun alat musik. Kau bisa mengajariku?"

Keito terlihat ragu. "Baiklah. Tapi aku tidak yakin kalau aku guru yang baik"

Keito mulai mengajari Daiki bermain guitar. Dimulai dengan cara memegang guitar, memberi tahu letak kunci gitar, hingga cara memetik guitar.

"Berhati-hatilah. Kalau terlalu kasar, jarimu bisa terluka"

"Aduh!"

Belum selesai Keito berbicara, jari Daiki terluka karena terkena senar gitar. Keito langsung panik dan mencari plester untuk menghentikan darah yang keluar.

"Tidak perlu panik Keito", ucap Yuya yang baru saja masuk. Dia kemudian mendekati Daiki dan menghisap jari Daiki yang terluka. "Lihat. Darahnya sudah berhenti kan? Tidak usah khawatir lagi"

---***---

Hikaru sedang asyik menyiram tanaman sambil bersenandung sehingga dia tidak sadar kalau ada seseorang yang mengendap-endap di belakangnya.

"BAA!!!"

"UWAA!!!!", Hikaru spontan menyemprot air ke arah orang yang mengagetinya. "Daichan! Kau bikin kaget saja!", tiba-tiba Hikaru tersadar saat melihat tubuh Daiki yang basah. "Gomen Daichan, aku tidak sengaja menyirammu. Lebih baik kau segera ganti baju sebelum masuk angin"

"Kalian sedang apa?", tanya Yuya yang kebetulan lewat. Selembar handuk bertengger di pundaknya. "Kenapa kau basah begitu Daiki?"

"Yuya, kau mau mandi?", tanya Daiki pada Yuya. Yuya mengangguk. "Oke. Kalau begitu kita mandi sama-sama saja"

"EH?! Kalian mandi berdua?", tanya Hika yang terkejut.

"Kenapa? Ini bukan pertama kalinya kami mandi berdua kok", balas Daiki sambil menarik tangan Yuya.

Hikaru hanya bisa melongo melihat dua temannya menuju ke arah kamar mandi bersama-sama.

---***---

"Kau sedang baca apa?"

Inoo yang asyik membaca buku tersentak kaget saat menyadari Yuya yang ada di sampingnya.

"OMG Yuya! Kau hampir membuatku jantungan!"

Yuya terkikik pelan, "gomen. Aku tidak menyangka kau akan terkejut begitu", Yuya melirik isi buku Inoo. "Ah, kau membaca sebuah buku mandarin rupanya"

"Kau ingin belajar bahasa mandarin? Aku bisa mengajarimu. Daripada kau hanya bisa mengatakan 'wo ai ni'".

"Kenapa? Itu bukan kata-kata yang buruk kan?"

"Tapi aku bosan mendengarmu mengatakan kata-kata itu saja"

"Hmm... Tapi... Ada satu orang yang kukenal yang sangat suka saat aku mengucapkan kata-kata itu". Yuya melihat ke arah Daiki yang berada tidak jauh dari mereka. "Daiki...", panggil Yuya.

"Iya?", balas Daiki.

"Wo ai ni"

Daiki langsung berlari ke arah Yuya dan memeluknya. Yuya tersenyum ke arah Inoo. "Tuh kan, ada satu orang yang menyukainya?"

---***---

"Ah, sudah pagi rupanya"

Yabu melihat ke arah jam wekernya dan mulai berdiri untuk membereskan tempat tidurnya. Seperti biasa, dia pergi membangunkan Yuya yang merupakan teman sekamarnya.

Yabu menatap bingung ke arah ranjang Yuya. Sosok Yuya terlihat sangat besar. Selimut yang menutupi tubuhnya terlihat mengembang dan berisi.

"Apakah Yuya bertambah gemuk dalam semalam?"

Yabu terkejut saat gundukan selimut itu mulai bergerak. Tanpa ragu, Yabu menyingkap selimut Yuya. Dan...

"Ya ampun Daiki... Kenapa kau bisa ada disini???", seru Yabu yang terkejut saat mendapati sosok Daiki sedang tidur sambil memeluk Yuya di balik selimut.

"Engh, Yabu-kun? Aku tidak bisa tidur tadi malam. Jadi aku kemari untuk tidur bersama dengan Yuya. Aku merasa tenang saat tidur bersamanya", balas Daiki masih dalam keadaan setengah mengantuk.

---***---

"Daiki... Aku mencintaimu"

"Aku juga Yuya"

Wajah mereka mulai saling berdekatan. Bibir mereka akan saling menempel tetapi...

"Kalian berdua! Bisakah tidak berlaku mesra di depan kami setiap hari?", protes member lain secara serempak. Daiki dan Yuya sempat tertawa sebentar dan kemudian melanjutkan ciuman mereka tanpa mempedulikan pandangan iri member yang lain.

Minggu, 06 September 2015

SWIMSUIT

Sudah lama tidak menulis yg rate 17+, mumpung ada ide liar... XD

Cast : Takaki Yuya x Arioka Daiki
Genre : Romance, Gender Switch

"Yuyan... Ayolah..."

Daiki bergelut manja di lengan kekasihnya. Yuya hanya diam sambil memilih baju yang pas untuknya.

"Yuyan..."

Daiki berbisik di telinga Yuya, kali ini Daiki juga menjilat telinga Yuya. Usaha Daiki berhasil, perhatian Yuya kini teralih kepadanya.

"Ini di tempat umum sayang..."

Daiki tidak menghiraukan ucapan Yuya dan menarik Yuya ke suatu tempat. "Aku ingin baju renang"

Tanpa sempat berkata apa-apa, Yuya hanya bisa melihat pacarnya itu memilih baju renang.

"Aku ingin mencoba ini dulu ya..."

Daiki berlari menuju ke kamar ganti sambil membawa beberapa baju renang. Meninggalkan Yuya sendirian di luar.

5 menit, 10 menit, 15 menit sudah terlewati. Daiki masih saja belum keluar.

"Sayang... Sudah selesai belum?"

Daiki mengeluarkan kepalanya dari balik tirai. "Yuyan, kesini sebentar". Daiki langsung menarik Yuya ke dalam kamar ganti.

Yuya melihat Daiki dalam balutan bikini berwarna biru muda. Kulitnya yang elok hampir terlihat semua. Lipatan dadanya terlihat jelas.

"Menurutmu, lebih bagus ini, apa ini?"

Daiki menyodorkan salah satu baju renang yang tidak kalah seksinya dari baju yang sebelumnya. Tapi kainnya jauh lebih banyak Dari baju renang yang sekarang di pakai Daiki.

"Aku bingung pilih yang Mana... Kau suka yang Mana?"

"Semua tampak manis di badanmu kok sayang..."

"Tapi aku cuma bisa pilih satu... Kau suka yang Mana?"

"Hmm...", Yuya melihat baju renang yang dipakai Daiki dan yang satunya. "Aku lebih suka yang ini sayang". Yuya mengarahkan jari telunjuknya ke lipatan Dada Daiki. "Aku bisa melihatnya dengan jelas". Yuya tersenyum menggoda.

"Dasar hentai!", setelah memukul pelan kepala Yuya, Daiki berbalik sekali lagi untuk berkaca.

"Tapi sayang...", Yuya memeluk Daiki dari belakang, "Aku juga suka yang satunya, karena tampaknya baju renang yang itu lebih mudah untuk dilepas daripada yang ini", sambil berkata seperti itu, Yuya mendaratkan sebuah ciuman di leher Daiki dan meninggalkan tanda kalau cewek yang ada di pelukannya adalah miliknya.

"Ayo cepat pulang sayang... Aku sudah tidak tahan", bisik Yuya. "Melihatmu seksi begini membuatku tergoda"

Daiki menyikut perut Yuya dan menjitak kepalanya. "Uhh... Dasar hentai!!!!!"

END

Selasa, 01 September 2015

PRECIOUS

Cast : All member JUMP (9 member)
Genre : Kalian akan tahu saat membacanya.

Sedikit sho-ai, tapi no kiss, no NC. Just hug. :)

Kau akan merasa sesuatu itu sangat penting saat kau kehilangan.

---***---

Yamada dan Arioka sedang bersiap-siap membereskan barang mereka, sedangkan 7 orang yang lain tetap melanjutkan latihan dance mereka. Ya, Yamada dan Arioka berencana mengakhiri latihan mereka terlebih dahulu karena mereka akan menuju lokasi syuting untuk pengambilan film dorama baru mereka.

"Nee... Ryo-chan... Kau bisa kan minggu ini?", bisik Chinen.

Yamada menoleh ke arah Chinen dengan muka muram, "Gomen Yuri, aku ada syuting besok. Gomen"

Sekilas Chinen terlihat kecewa. Dia sangat menantikan hari minggu besok. Rencananya mereka berdua akan pergi berbelanja bersama. Tapi Chinen berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya karena dia tahu Yamada sibuk dengan dorama barunya. Dia tidak ingin Yamada merasa terganggu.

"Aku mengerti. Lain Kali saja"

Yamada memegang tangan Chinen dan mengikat jari kelingking mereka berdua.

"Kita akan pergi lain kali, aku janji. Dan aku akan mentraktirmu"

"Kau juga yang akan membayar barang yang akan aku beli!", tambah Chinen.

Yamada hanya tertawa. Dia memang sudah biasa membayar keperluan Chinen saat mereka pergi bersama. 'Yama adalah dompetku'. Itulah kata-kata egois Chinen. Tapi Yamada sama sekali tidak merasa sebal pada Chinen, mungkin karena Yamada sudah terbiasa, atau memang karena dia sayang pada member termuda itu.

Di sisi lain, Arioka berjalan mendekati Takaki yang sedang menyandarkan dirinya di tembok.

"Yu~yan~", itu cara memanggil Arioka pada Takaki kalau mereka sedang berdua atau ada hal yang ingin dikatakan Arioka mengenai mereka berdua.

"Hmm? Apa?", balas Takaki sambil meneguk air dalam botol minumnya.

Arioka mengatupkan kedua tangannya di hadapan mukanya. "Gomen! Aku harus membatalkan rencana kita besok minggu. Aku tidak bisa ikut bersama denganmu ke pantai besok"

"Ya, aku tahu. Kau ada syuting kan? Kita bisa pergi kapan-kapan kok"

"Err... Kau bisa pergi kesana dengan yang lain kok"

"Kau yakin?", Takaki memiringkan wajahnya sambil melihat wajah member termuda BEST itu. "Kalau begitu aku akan pergi bersama dengan Inoo". JLEB. Arioka merasa sedikit kecewa saat Takaki berkata akan pergi bersama dengan orang lain. Dalam hati dia sebenarnya tidak rela kalau Takaki pergi dengan orang lain.

"Ahahaha", tawa Takaki membuat bingung Arioka. "Aku bohong. Aku akan pergi kesana denganmu kok. Aku sudah janji kalau kau member pertama yang akan kuajak kesana kan?"

Arioka merasa wajahnya sedikit memerah. Dia merasa Takaki bisa membaca Isi hatinya. Tapi selain itu, Arioka merasa lega Takaki tidak akan pergi kesana bersama dengan orang lain. Arioka ingin dia yang pertama tahu mengenai semua hal tentang Takaki.

"Ah, sudah waktunya. Yama-chan! Ayo pergi!", Arioka membalikkan badannya sekilas ke Takaki yang melambaikan tangan padanya, Arioka memberi tanda semacam kode pada Takaki yang menandakan, 'jangan lupa telepon atau SMS aku'. Dan Takaki menunjukkan kode 'OK' padanya.

"Ah... Jyaa ne Yuri, kalau aku sedang senggang, aku akan meneleponmu dan kita akan segera pergi bersama", Yamada memeluk Chinen sebentar sebelum dia melangkah keluar, membuat Yaotome dan Nakajima menyoraki mereka karena kemesraan yang diperlihatkan oleh mereka. Chinen hanya bisa tertunduk malu karena aksi berani Yamada.

Dan semua member melambaikan tangan pada mereka saat mereka berpamitan.

---***--

Syuting drama ini memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Banyak scene yang harus diulang karena sang sutradara merasa adegannya kurang mengena. Yamada dan Arioka pun terpaksa harus menunda janji mereka pada Takaki dan Chinen. Takaki hanya mengangguk mengerti saat Arioka menjelaskan soal itu. Takaki terkesan baka, tapi di saat tertentu dia bersikap dewasa. Berbeda dengan Chinen, Chinen langsung menunjukkan muka masamnya setiap kali Yamada memberitahunya kalau janji mereka tertunda. Yamada bahkan harus berulang kali menelepon Chinen untuk memperbaiki mood teman tersayangnya itu.

"Ah... Enaknya...", gumam Yamada saat melihat Takaki menjemput Arioka di lokasi syuting. Arioka terlihat sangat gembira setiap kali Takaki menjemputnya. Arioka memiliki jumlah scene yang lebih sedikit daripada Yamada sehingga dia bisa pulang terlebih dahulu. Maklum, Arioka bukan pemeran utama, Yamada-lah pemeran utama drama ini, jadi wajar kalau scene Yamada jauh lebih banyak dari Arioka.

"Coba Yuri seperti Takaki", keluh Yamada.

Chinen memang tidak pernah mengemudi Mobil sendiri. Setiap kali mereka keluar, pasti Yamada yang menyetir, dan Chinen berlagak seperti seorang bos. Bahkan Yamada sampai sekarang masih ragu apakah Chinen bisa mengemudi Mobil atau tidak karena dia tidak pernah melihatnya menyetir.

Semakin lama, kegiatan mereka semakin padat. Drama sudah mendekati bagian akhir, sehingga seluruh pemain berusaha agar segera menyelesaikan drama secepat mungkin. Sang sutradara pun semakin ngotot agar seluruh pemain berakting maksimal, sedikit kesalahan, maka seluruh adegan diulang.

Yamada pun semakin jarang membalas sms dan mengangkat telepon dari Chinen. Tidak ada waktu. Itulah alasan utama. Jadwal syuting yang sangat padat membuat Yamada tidak sempat memikirkan kata 'istirahat' di otaknya.

"Chii? Ah dia baik-baik saja kok. Akhir-akhir ini dia sering keluar bersama dengan Yuya", ucap Yaotome saat secara tidak sengaja bertemu dengan Yamada di lokasi syuting. Yaotome juga sedang syuting dorama terbarunya. Sama seperti Yamada, Yaotome berperan sebagai tokoh utama. Yamada menanyakan soal Chinen pada Yaotome saat mereka kebetulan bertemu.

"Dengan Yuya? Eh? Kok bisa?", gumam Yamada tidak mengerti.

"Kau tidak pernah menggubris ajakannya sih. Akhirnya Chinen meminta Takaki menemaninya", sahut Inoo yang tiba-tiba muncul. Inoo juga berperan di drama yang sama dengan Yaotome.

"Eh?? Chinen dengan Yuya? Tidak. Aku tidak setuju!", protes Arioka tiba-tiba.

"Kenapa tidak? Chinen kesepian dan Takaki menemaninya. Itu wajar kan?", sahut Yaotome lagi.

"Tidak! Tidak boleh! Kalau Yuya menemani Chinen terus, bisa-bisa uang Yuya habis. Aku tidak mau hal itu terjadi. Kasihan Yuyan~~"

"Alasan, bilang saja kau cemburu kalau Takaki keluar bersama dengan Chinen. Pacarmu sedang menemani Chinen yang kesepian. Relakan saja sebentar. Lagipula kau disini asyik bersama Yamada", balas Inoo.

"Tidak mau!", Arioka segera berlalu pergi sambil mengetikkan sesuatu di HPnya. Sesekali dia tampak menggerutu. Inoo dan Yaotome tertawa pelan melihat tingkah Arioka sedangkan Yamada terperangah saat menyadari sesuatu.

"Eh? Daichan dan Yuya pacaran? Sejak kapan??"

Yaotome dan Inoo kini melihat ke arah Yamada. "Kau ini bebal atau apa? Bukankah sikap mereka sudah jelas kalau mereka pacaran?", gerutu Yaotome.

"Tampaknya mereka berdua berusaha menyembunyikannya Dari kita, tapi saking kesalnya Daichan, dia bahkan tidak membantah kalau Takaki adalah pacarnya", ucap Inoo sambil tertawa.

Yamada mulai mengerti. Kini semuanya jelas. Kenapa Takaki mau bersusah payah menjemput Arioka di tempat syuting. Kenapa Arioka sangat gembira saat menerima SMS atau telepon Dari Takaki di sela-sela syuting.

"Lalu, kapan kau mengungkapkan perasaanmu?"

Yamada menoleh heran ke arah Yaotome.

"Oh ayolah... Semua juga tahu kalau kau menyukai Chii"

JDAR! Ucapan Yaotome seakan membangunkan sesuatu dalam dirinya. Dia menoleh ke arah Inoo yang juga tampaknya menanti jawaban darinya dengan penuh tanda tanya.

"Semua?", tanya Yamada tidak percaya.

"Ya, semuanya. Perlakuanmu pada Chii sangat berbeda bila dibandingkan perlakuanmu pada kami. Kalian bahkan sudah bersikap seperti sepasang kekasih", Yaotome mengingatkan Yamada kembali akan aksinya yang tampak mesra bersama dengan Chinen.

Yamada merasa mukanya panas. Mungkin bila dia bisa melihat wajahnya di cermin, dia bisa melihat mukanya yang memerah.

"Lebih cepat kau nyatakan. Lebih baik. Apalagi Chinen mempunyai perasaan yang sama denganmu. Kalau kau tidak segera mengungkapkannya, Daichan akan tambah bad mood karena Chinen terus meminjam Takaki bersamanya", Inoo menunjuk ke arah Arioka yang tampak mondar mandir sambil berbicara di telepon. Dari raut mukanya, bisa ditebak siapa lawan bicaranya sekarang.

"Setelah semua ini selesai, aku akan bicara dengannya", ucapan Yamada membuat Yaotome dan Inoo bersorak gembira. "Aku ingin fokus syuting dulu. Bisakah kalian sampaikan salamku padanya?"
---***---
Yamada semakin tidak sabar ingin segera bertemu dengan Chinen. Dia ingin segera mengungkapkan perasaannya. Dia juga ingin segera mengembalikan mood sahabatnya sekaligus lawan mainnya di dorama Kali ini.

Yamada dan Arioka kini harus menginap di suatu pulau terpencil untuk pengambilan gambar terakhir. Berapa lama mereka akan menginap, mereka belum tahu pasti. Oleh karena itu, baik Yamada maupun Arioka sama-sama memberitahu Chinen dan Takaki mengenai soal ini. Agar mereka tidak berpikiran buruk.

Hampir seminggu mereka berdua berada di pulau tersebut, hari ini adalah hari terakhir mereka syuting. Mereka bisa kembali keesokan harinya. Arioka langsung berlari mencari sinyal untuk memberitahu Takaki mengenai hal baik itu. Selama berada di pulau itu, Arioka dan Yamada tidak pernah menghubungi yang lain. Sinyal sangat sudah didapat di pulau yang bisa dibilang terpencil itu.

"Kenapa mukamu masam begitu?", tanya Yamada yang keheranan melihat wajah Arioka yang sangat berbeda dibandingkan saat dia pergi.

"Dia tidak mengangkat teleponku. Biasanya dia langsung mengangkatnya di Nada dering ketiga saat kutelepon"

Yamada tersenyum saat melihat tingkah temannya yang terlihat seperti seorang gadis. 'Benar juga, kenapa aku tidak menyadarinya Dari dulu', batin Yamada.

"Besok kita akan pulang, kita akan segera bertemu dengan mereka semua. Jangan khawatir"

Arioka hanya mengangguk pasrah. Tapi dia tetap memandangi hpnya itu. Perasaan tidak enak melanda dirinya. Tingkah Takaki yang aneh untuk pertama kalinya membuat Arioka berpikir macam-macam. 'Semoga tidak ada apa-apa', gumam Arioka dalam hati.

---***---
"Yosh! Kupikir Yuri akan senang dengan semua ini"

Yamada tampak puas saat melihat tumpukan hadiah yang terletak di dalam tasnya. Itu semua adalah hadiah yang dipilih khusus oleh Yamada untuk Chinen. Rencananya, Yamada akan langsung mengajak Chinen kencan saat mereka bertemu nanti. Dan di saat itu dia akan mengungkapkan perasaannya.

Yamada melangkah menuju kantor dengan riang. Bahkan dia merasa tasnya yang besar itu terasa sangat enteng. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Chinen. Di depan kantor, Yamada bertemu dengan Arioka yang tampak kebingungan.

"Yo Daichan! Ada apa?"

"Ah Yamachan... Hari ini bukan hari libur kan?"

Yamada menatap jamnya. Disana juga tertera tanggal hari ini. "Tidak kok. Kenapa?"

"Aku sudah masuk ke dalam. Tapi sepi. Aku bahkan sempat berpikir apakah hari ini libur. Aku menelepon Yuya berkali-kali tapi tidak diangkat. Aku juga mencoba menelepon member yang lain, tapi tidak ada yang mengangkat juga"

"Hmm... Apa mungkin, semuanya berniat mengerjai kita?", tebak Yamada.

"Ah... Kalau benar begitu, mungkin ini adalah suatu acara iseng", tambah Arioka yang tampaknya sedikit setuju dengan ide Yamada. Sebenarnya Arioka memiliki firasat yang tidak enak sejak kemarin. Tapi dia berusaha menghilangkan perasaan itu.

"Ah! Itu gori! Yo keito!", Yamada memanggil Okamoto yang tampak berjalan mendekati mereka. Mukanya tampak sedikit sendu dan tidak bersemangat. "Kemana senua orang? Apakah hari ini libur?"

Okamoto melihat Yamada dan Arioka secara bergantian. "Aku datang untuk menjemput kalian. Semuanya berkumpul di tempat lain"

"Eh? Dimana?", tanya Yamada penasaran. Okamoto hanya berlalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Arioka hanya mengangkat bahu saat Yamada bertanya apa ada yang aneh. Mereka berdua pun mengikuti Okamoto meskipun banyak tanda tanya di kepala mereka.

Okamoto menyetir mobilnya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Yamada mencoba mengajak Okamoto berbicara, tapi Okamoto hanya diam saja. Matanya terpaku pada jalan, seakan-akan dia tidak mendengar suara Yamada.

Mobil terhenti di sebuah rumah sakit. Yamada dan Arioka saling berpandangan. Okamoto berjalan masuk ke rumah sakit tanpa menjelaskan apapun pada mereka berdua.

Okamoto berhenti di sebuah kamar. Arioka membaca nama yang terpasang di depan kamar tersebut. Inoo Kei. Arioka mengernyitkan dahinya. 'Inoo sakit? Sakit apa?'

Di dalam kamar tersebut, Arioka dan Yamada melihat sosok Inoo yang sedang duduk bersandar. Mukanya terlihat lelah. Tak hanya itu, seluruh member JUMP juga ada disana. Kecuali Takaki dan Chinen. Mereka tidak terlihat dimanapun.

"Kei...", Arioka memanggil Inoo pelan. Inoo langsung tersentak saat melihat Arioka berdiri di depan pintu kamarnya. "Kau sakit apa?", tanya Arioka dengan sedikit cemas. Inoo dan Arioka sudah lama bersama, mereka bagaikan saudara.
Reaksi Inoo selanjutnya membuat Arioka terkejut. Inoo menangis. Ya, dia langsung menangis saat melihat Arioka.

"Maafkan aku daichan. Seharusnya aku bisa mencegahnya. Maafkan aku"

"Kei? Apa yang terjadi? Kenapa?"

Inoo tidak membalas pertanyaan Arioka. Sebagai gantinya, dia menangis dengan lebih keras. Arioka menatap Inoo dengan tidak mengerti. Yabu memeluk Inoo dan berusaha menenangkan member terpintar itu. Yabu memberikan kode pada yang lain, meminta agar membiarkan mereka berdua sendirian di kamar. Yaotome yang mengerti, mengajak seluruh anggota untuk pergi keluar kamar dan memberikan waktu untuk Inoo.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kei sakit apa?", tanya Arioka.

Yaotome, Okamoto dan Nakajima saling berpandangan. Yaotome menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arioka. "Inoo mengalami trauma Berat. Akibat hal itu, mentalnya jadi tidak stabil. Dokter memutuskan untuk merawat Inoo disini sampai dia stabil kembali"

"Trauma Berat? Kok bisa?", Kali ini giliran Yamada yang bertanya.

"Dia melihat kejadian itu di depan matanya, tentu saja dia trauma". Nakajima langsung menyenggol Okamoto dan Yaotome melirik kesal pada Okamoto.

"Kejadian apa?", Arioka bertanya lagi. "Oh damn! Kalian ini kenapa? Jelaskan semuanya pada kami sekarang. Terlebih lagi, dimana Yuyan dan Chinen? Aku tidak melihat mereka"

Ekspresi wajah ketiga orang itu langsung berubah. Perasaan tegang langsung menyelimuti mereka.

"Kita tidak bisa menyembunyikannya terus menerus", Nakajima melihat ke arah Yaotome.

"Baiklah. Ikuti aku, aku akan mengantar kalian ke tempat Takaki", Yaotome melangkah terlebih dahulu, diikuti oleh member yang lain.

"Yuyan ada disini? Apakah dia juga sakit seperti Kei?", wajah Arioka mulai terlihat panik. Tapi ketiga orang itu tidak berniat mengatakan apapun. Mereka terus saja berjalan sampai tiba di sebuah ruangan yang tampak tertutup. Tulisan ICU tertera di depan ruangan itu.

Yaotome berhenti di sebuah jendela besar. Dia kemudian menatap Arioka dengan sendu. "Yuya ada di dalam sana"

Arioka menatap ke arah jendela yang dimaksud Yaotome. Disana dia bisa melihat seseorang sedang terbaring kaku di sebuah tempat tidur. Di dekatnya terdapat banyak sekali alat Bantu kesehatan. Tubuhnya dibalut perban sehingga Arioka tidak yakin kalau orang yang sedang terluka parah itu adalah Takaki.

"Hika... Kalau kau ingin bercanda, ini tidak lucu"

"Aku sedang tidak bercanda Daichan. Orang itu memang Yuya"

Mata Arioka mulai berkaca-kaca saat dia melihat keseriusan di mata Yaotome. Orang itu memang Takaki, Yaotone tidak berbohong.

"Apa yang terjadi?", tanya Yamada. Sama seperti Arioka, dia juga sangat syok melihat kondisi Takaki menjadi seperti itu.

Yaotome dan Nakajima saling berpandangan. Beberapa detik kemudian, Yaotome mulai bercerita. "2 hari lalu, kami melakukan pemotretan di tengah kota. Seperti biasanya, kami memulai pemotretan di pagi hari". Yaotome menghentikan ceritanya sebentar, lalu melanjutkannya lagi. "Pada saat itu, Chinen berusaha memungut gantungan HPnya yang terjatuh. Tiba-tiba... Ada sebuah truk yang melintas, sepertinya pengemudinya mabuk karena truk melaju dalam kecepatan tinggi dan tidak terkendali. Dan sepertinya dia juga tidak melihat ada Chinen di jalan. Takaki langsung berlari untuk menyelamatkan Chinen, tapi..."

Yaotome menghentikan ceritanya. Tampaknya meskipun tidak dilanjutkan, Yamada dan Arioka bisa mengerti apa yang terjadi.

"Lalu Yuri? Dimana dia?", tanya Yamada panik. "Dia baik-baik saja?"

Nakajima memandang Okamoto, Okamoto melihat jam di tangannya. "Acaranya dimulai 1 jam lagi. Kurasa kalian bisa datang lebih dulu, itu lebih baik"

"Baiklah, aku akan mengantarmu ke tempat Chinen", ucap Nakajima sambil menggandeng tangan Yamada. Meninggalkan 3 orang yang lain di depan ruang Takaki.

"Kenapa bisa begini? Yuyan... Apa yang terjadi?", gumam Arioka.

"Yuya berusaha melindungi Chinen, tapi mereka berdua tetap tertabrak truk sehingga tubuh mereka mengalami luka berat, Inoo melihat semua yang terjadi sehingga dia mengalami trauma Berat. Takaki berhasil diselamatkan, tapi dia sudah mengalami koma 2 hari ini, harapan hidupnya sangat tipis. Dokter bahkan mengatakan kalau..."

Yaotome menghentikan ucapannya saat Okamoto memegang tangannya. Mengisyaratkan kalau lebih baik Yaotome tidak bercerita lebih banyak lagi. Arioka terus menggumamkan kata 'Yuya' sambil terus memandang sosoknya di balik jendela besar ruang ICU.

---***---

Nakajima memacu mobilnya. Mereka berdua menuju rumah Chinen. Yamada tahu karena dia sering menuju ke rumah Chinen.

"Yuri ada di rumah? Dia baik-baik saja?"

Nakajima tidak menjawab. Dia hanya memandu Yamada masuk ke dalam rumah. Ibu Chinen menyambut mereka. Dia mengenakan kimono hitam. Tidak hanya itu, semua orang yang ada disana juga mengenakan pakaian hitam. Dari sini, Yamada mulai merasa tidak enak. Air matanya tidak terbendung saat mereka kini tiba di sebuah ruangan. Sebuah peti berwarna putih dan foto Chinen yang terpajang di dekat peti menjelaskan semuanya.

"Bohong... Ini semua bohong kan? Yuri... Yuri tidak mungkin mati kan?"

Yamada berusaha mendapat jawaban dari Nakajima yang tertunduk diam. Dia tidak berani melihat mata Yamada langsung.

"Mereka berdua tertabrak truk. Takaki masih bisa diselamatkan. Tapi Chinen mengalami luka parah di kepala sehingga dia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit"

Yamada merasa semua tenaganya hilang saat Nakajima menjelaskan apa yang terjadi. Dengan langkah gontai, dia menghampiri sosok Chinen yang tertidur di dalam peti. Sosok Chinen yang ada di dalam sana, menjelaskan semuanya kalau Chinen tertidur selama-lamanya.

"Yuri... Aku pulang... Hei, Yuri... Aku sudah janji akan membawamu jalan-jalan kan? Coba lihat, aku bawa oleh-oleh yang banyak. Kau pasti akan suka ini. Yuri..."

Berkali-kali Yamada memanggil Chinen, tapi Chinen tidak membuka matanya. Membuat Yamada semakin terpukul dengan kenyataan pahit ini.

'Kenapa? Aku belum memberitahumu semuanya. Kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Apa ini hukuman darimu karena sudah meninggalkanmu dan tidak menemanimu beberapa hari ini? Ini hukuman yang Berat Yuri... Sangat Berat. Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa kehadiranmu?'
---***---

10 menit lagi upacara pemakaman Chinen akan dimulai. Okamoto dan Yaotome sudah pergi menuju ke rumah Chinen. Arioka masih terduduk lemas di depan ruang ICU. Menunggu Takaki untuk sadar. Sedangkan Yabu masih menemani Inoo yang terus saja menangis dan menjeritkan nama Chinen berulang Kali.

Arioka tersentak saat beberapa perawat dan dokter mulai masuk ke ruangan tempat Takaki berada. Jendela besar itu kemudian ditutup sehingga Arioka tidak tahu apa yang terjadi di dalam. 10 menit kemudian, dokter yang menangani keluar dan menghampiri Arioka.

"Anda keluarga pasien? Kami akan memberitahukan kondisi terbaru pasien Takaki"

Dan Arioka tidak sanggup membendung air matanya saat dokter menjelaskan semuanya.

---***---

Beberapa bulan sudah terlewati sejak kejadian itu. JUMP masih belum kembali beraktifitas. Bahkan tidak ada kata 'kembali' bagi mereka semua. Dengan sisa 6 member, apa yang bisa mereka lakukan?

Inoo masih terbaring lemah di rumah sakit. Dokter sudah memperbolehkan dia pulang, tapi Inoo langsung menjerit saat mendengar suara kendaraan atau melihat jalan raya. Dia bahkan langsung menangis saat melihat Yamada maupun Arioka. Melihat kondisi Inoo seperti itu, dokter memutuskan agar Inoo dirawat di rumah sakit sambil menjalani terapi agar traumanya hilang.

Yabu terus menemani Inoo di rumah sakit. Tidak pernah sekalipun dia meninggalkan Inoo. Yabu hanya akan meninggalkan Inoo di saat Inoo tertidur, tapi itu tidak lama. Hampir setiap 1 jam sekali Inoo akan terbangun, meneriakkan nama Takaki dan Chinen dan kemudian menangis. Inoo terus seperti itu sejak kematian mereka berdua.

Yaotome kini juga dirawat di rumah sakit. Alasannya juga sama seperti Inoo. Yaotome mengalami trauma. Dia bahkan takut melihat air. Semenjak dia melihat sendiri tubuh Arioka yang menghilang ditelan ombak, Yaotome selalu menjerit saat melihat air dan meneriakkan kalimat yang sama. "Daichan! Jangan kesana! Daichan!"


Nakajima dan Okamoto berusaha menemani Yamada. Yamada masih aktif di dunia artis, karirnya tetap saja melesat naik. Tapi jiwanya sudah pergi. Dia bukan lagi Yamada yang dulu, dia bagaikan robot. Bergerak hanya karena diperintah. Meskipun ada 2 orang temannya yang menemaninya, Tidak ada lagi yang bisa mencairkan hatinya yang telah beku. Mataharinya telah pergi untuk selamanya.

END