Minggu, 31 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 21

Gerakanku langsung terhenti, aku merasakan adanya pelindung yang dibuat. Begitu pula dengan Chinen dan Keito yang sedang melakukan latihan tanding bersama, tanpa adanya perintah mereka langsung berhenti. Jin yang menyerangku pun juga ikut berhenti. Ya, kami semua bisa merasakan kalau ada pelindung yang sedang dibuat. Karena semua anggota ada disini, satu-satunya yang bisa membuat pelindung hanyalah Yuya.

“Ah,si bodoh itu rupanya. Yah kuharap dia tidak segera mati saja...”, gumam Jin pelan.

“Yuya sedang bertarung dengan siapa ya?”, tanyaku pelan. Aku sedikit khawatir dengan keadaan Yuya, dia sekarang sedang sendirian di luar sana. Apakah dia mampu menghadapi musuh sendirian? Bagaimana kalau ada maou yang muncul? BRUGHHH!!! Tiba-tiba kepalan tangan Jin mengenai mukaku. Aku terpental jauh ke belakang. Aku memegangi pipiku yang sakit akibat terkena pukulan darinya. Sejak tadi aku terus menerima pukulan yang seperti ini.

“Ryosuke! Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang jangan lengah selama latihan!”, bentak Jin ke arahku yang masih memegangi pipiku. “Dan kalian berdua! Siapa yang menyuruh kalian untuk berhenti? Terus latihan sampai kusuruh kalian berhenti!”, bentak Jin ke arah Chinen dan Keito yang segera melanjutkan lagi duel mereka setelah mendengar perkataan Jin.

Aku kemudian bangkit dan kucoba menyerangnya dengan mengarahkan pukulan dan tendangan ke arah Jin, akan tetapi semua serangan itu bisa ditangkis Jin dengan mudah. Berkali-kali aku jatuh ke belakang karena serangan dari Jin. Untungnya, berkat kemampuanku aku bisa segera mengobati tubuhku yang luka dan bisa segera bangkit. Aku terus menerus melakukannya hingga aku terbiasa.

“Ryosuke, aku dari tadi menyerangmu, tapi kenapa kau tidak pernah menyerangku?”, tanyaJin.

“Eh,maksudnya? Aku terus menyerangmu dari tadi kan?”

“Bukan. Yang kumaksud adalah, kenapa kau tidak menyerangku dengan menggunakan kemampuanmu? Kau terus menyerangku dengan menggunakan tangan kosong. Yah, kuakui teknik bertarungmu juga lumayan. Siapa yang mengajarimu?”

“Aku pernah diajari oleh ayahku waktu kecil. Lalu setelah sampai disini, Daichan yang mengajariku. Terkadang Ryuu juga mengajariku”

“Ah, pantas. Gaya bertarungmu hampir mirip dengan Daiki. Ryuu juga dilatih oleh Daiki, makanya gaya bertarung mereka sama. Yah... dia sangat hebat dalam hal ini, kurasa kau belajar dari orang yang tepat. Akan tetapi, sampai kapan kau akan terus bertarung dengan tangan kosong? Kenapa kau tidak menyerangku dengan menggunakan kemampuanmu?”

“Kemampuanku? Tapi, setahuku kemampuanku tidak bisa digunakan untuk menyerang”

“Kata siapa? Semua kemampuan yang dimiliki para ksatria bisa digunakan dalam pertarungan. Kau saja yang tidak tahu bagaimana menggunakannya”

“Ah,benarkah? Lalu bagaimana caranya aku bisa menggunakannya?”

“Kau tahu prinsip dasar kemampuanmu?”. Aku menggeleng. “Kemampuanmu adalah healing kan? Menyembuhkan luka. Healing bekerja dengan cara menghidupkan kembali sel tubuh yang telah mati sehingga sel tersebut bisa bekerja lagi seperti sediakala. Healing juga bisa bekerja dengan cara mengambil sel yang telah mati tersebut dan mempercepat tubuh untuk memproduksi sel baru sehingga proses penyembuhan berjalan dengan cepat. Selama ini yang kau lakukan hanyalah menghidupkan kembali sel yang telah mati, kau juga terus melakukan itu selama pertarungan ini tadi. Tapi, kau sama sekali tidak pernah melakukan hal yang kedua, yaitu mengambil sel yang telah mati”, Jin menjelaskan secara panjang lebar.

“Bagaimana kau bisa tahu cara kerja kemampuanku?”, tanyaku yang kagum dengan penjelasan Jin. Seakan-akan dia memiliki tubuhku saja.

“Aku bisa melihat kerja sel. Tidak hanya tubuh, tapi semua komponen yang ada di bumi ini. Itulah prinsip dasar alchemi. Itulah mengapa aku bisa melihat kemampuanpara ksatria”, Jin terdiam sebentar lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.“ Lebih baik kau segera mempelajari kemampuanmu agar kau bisa menggunakan kemampuanmu dalam pertarungan. Berlatihlah agar kau bisa menggunakan prinsip yang kedua, yaitu mengambil sel yang telah mati dan mempercepat penyembuhan. Kalau kau bisa melakukannya, maka kau akan menjadi tidak terkalahkan selama pertarungan”

“Eh?! Bagaimana bisa dengan melakukan itu aku menjadi yang tidak terkalahkan?”

“Kalau kau mampu mengambil sel yang telah mati dari dalam tubuhmu, kau bisa melemparkan sel tubuh yang mati ke arah musuhmu. Itu sama saja dengan melemparkan rasa sakit terhadap mereka. terlebih lagi, kau bisa segera menyembuhkan lukamu selama pertarungan dan kondisi tubuhmu akan tetap prima selama pertarungan. Tubuh yang tidak pernah terluka selama pertarungan, itu akan membuatmu menjadi yang terkuat, sama halnya seperti Yuya”.

“Apakah aku bisa melakukan hal itu?”

“Itulah kenapa aku melakukan latihan ini. Aku mengajarimu agar cepat terbiasa dengan kemampuanmu. Buktinya, kau bisa dengan cepat menyembuhkan lukamu dan bisa menyerangku lagi kan? Itu adalah kemajuan yang bagus. Kau juga sudah terbiasa dengan energi yang keluar dalam jumlah besar, dan sudah bisa mengendalikannya dengan baik. Hal berikutnya yang perlu kau pelajari hanya mencoba melemparkan rasa sakit yang kau derita ke arah musuhmu”, Jin tersenyum cukup lebar. Melihatnya yang seperti itu aku merasa kalau dia tidak terlalu menyebalkan.

Pertarungan kami berdua pun dilanjutkan. Kami berdua terus melancarkan serangan satu dengan yang lain. Perlahan aku mulai terbiasa dengan pertarungan ini. Awalnya, aku merasa kecapekan, tapi sekarang tubuhku sudah mulai terbiasa, dan tidak merasa capek. Aku merasa aku mulai mengerti apa yang diucapkan oleh Jin tadi.

Di tempat Yuya

“Sial! Siapa kau sebenarnya? Kenapa tidak ada satupun serangan dari kita yang berhasil melukainya?”, geram Kiriyama. Yuya berdiri tidak jauh dari mereka berdua,tubuhnya bahkan tidak tergores satupun. Dia menatap Kiriyama dengan senyum mengejek.

“Nullification.Ternyata benar kalau kemampuan ini sangat merepotkan. Tapi aku tidak menyangka akan sesulit ini untuk menghadapinya”, ucap Nakama pelan. Dia berusaha untuk bangkit setelah Yuya melemparnya cukup jauh.

“Nah,kalian tadi bilang ingin membunuhku kan? Sayangnya, aku tidak mau mati dengan percuma di tangan kalian. Kalian tidak akan bisa melukaiku sedikitpun”, Yuya melompat maju ke arah Kiriyama dan mulai menendangnya sampai mengenai tembok. Nakama mengeluarkan cairan dari mulutnya, akan tetapi cairan itu tidak berhasil mengenai tubuh Yuya. Cairan itu mengenai apapun yang berada di dekatnya, benda-benda yang terkena cairan itu meleleh, seperti terkena sesuatu yang sangat asam dan panas. Dari arah tempat Kiriyama terlempar, ada sesuatu yang seperti duri tajam mengarah lurus ke arah Yuya, akan tetapi, duri itu langsung patah ketika mengenai nullification milik Yuya. semua usaha kedua musuh ini sia-sia saja.

“Kalian berdua lumayan hebat juga. Siapa kalian sebenarnya?”, tanya Yuya.

“Kami berdua adalah prajurit kegelapan. Kami adalah makhluk kegelapan yang bersumpah setia mengabdi pada petinggi maou dan sang necromancer”, jawab Nakama. Yuya mengangguk paham.

“Oh...begitu rupanya. Kalian termasuk maou, akan tetapi status kalian masih dibawah maou tingkat tinggi seperti Jack. pantas kalian lebih lemah daripada mereka”.

“Jangan meremehkan kami!!”, teriak Kiriyama sambil menyerang Yuya. Kuku tangannya berubah menjadi duri yang tajam. Kiriyama mengarahkan tangannya tepat ke muka Yuya. Akan tetapi, kuku itu langsung patah seperti mengenai sesuatu yang keras.

“Aku tidak meremehkan kalian. Hanya saja, perbedaan kekuatan di antara kita cukup besar”, ucap Yuya sambil mulai menyerang Kiriyama dan Nakama bergantian. Yuya sama sekali tidak memberikan kedua musuhnya itu kesempatan untuk menyerangnya.

Di rumah Hika

Sesampainya di rumah Hikaru, mereka semua disambut oleh ibunya Hikaru. Yabu menjelaskan apa yang terjadi pada ibu Hikaru, Ryuu dan Hika langsung dirawat oleh seorang dokter yang sudah mengenal dekat keluarga Yaotome. Setelah mendapat pengobatan, Yabu dan Inoo memberi kesempatan kedua orang itu untuk beristirahat. Yabu meminjam telepon untuk menghubungi markas dan memberitahu apa yang terjadi pada master, sedangkan Inoo tetap berjaga di ruangan tempat Ryuu beristirahat.

“Begitulah master. Semua yang saya sampaikan hanya itu saja. Hika dan Ryuu sudah ditemukan dan mereka terluka parah, akan tetapi kondisi mereka sudah cukup membaik saat ini. Sedangkan untuk Daichan, kami belum mengetahui keberadaannya. Setelah ini, saya akan mencoba mencari Daichan sekali lagi”, ujar Yabu di telepon. Tampaknya dia sedang menghubungi master. Setelah selesai berbicara, Yabu menutup teleponnya dan kembali ke kamar tempat Hika berada. Saat masuk ke dalam kamar, dia melihat Hika terduduk di kasurnya dan melihat ke luar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kau tidak tidur? Lebih baik simpan tenagamu. Kau terluka cukup parah dan perlu istirahat”, ucap Yabu yang saat ini duduk di kursi di samping tempat tidur Hika.

“Yah, aku tadi sudah cukup beristirahat kok. Badanku sudah juga tidak terlalu sakit. Jadi kupikir tidak apa-apa aku duduk seperti ini kan?”

“Aku tahu. Tapi, jangan bebani tubuhmu lebih dari ini”. Hika tertawa melihat Yabu. “Kenapa tertawa? Ada yang salah dengan ucapanku?”, tanya Yabu keheranan.

“Ah tidak. Aku hanya merasa deja vu saja. Dulu waktu kau yang terluka parah akibat serangan Fuu, aku mengatakan hal yang sama persis denganmu”

“Ah,iya juga”, Yabu akhirnya ikut tertawa juga. Yabu kemudian memegang tangan Hika, dia mengusap pelan perban yang membalut luka di tangan Hika. “Bagaimana? Masih terasa sakit kah?”, tanya Yabu.

“Hmm....rasa sakitnya sudah berkurang. Apa yang tadi kau lakukan padaku?”, Hika memegangi tangannya yang terluka dan mencoba menggerakkan tangan yang diperban tersebut.

“Aku tadi hanya melancarkan peredaran darah dalam tubuhmu saja kok. Aku mengendalikan darah dalam tubuhmu dan membuatnya bisa beredar dengan lancar. Hal ini bisa membantumu mengurangi rasa sakit yang kau rasakan”.

“Eh?! Kau bisa mengendalikan darah juga? Sejak kapan?”, tanya Hika kaget.

“Ah, baru akhir-akhir ini saja kok. Aku sering menggunakannya pada Inoo kalau dia sedang kelelahan. Itu membantu kondisi tubuhnya tetap sehat. Aku tidak mengendalikan darah, hanya mengendalikan air yang berada dalam sel darah saja, sehingga secara tidak langsung aku bisa mengendalikan darah”

“Uwah, kalau kemampuanmu ini digunakan saat pertarungan pasti berguna. Kau bisa mengendalikan lawanmu dengan mengendalikan darah mereka”

“Tidak. Kemampuan ini hanya bisa dipakai kalau aku bersentuhan langsung dengan tubuh”.Yabu menyentuh luka yang ada di muka Hika dan mengusap muka Hika dengan lembut.“Aku belum bisa mengendalikannya dari jarak jauh. Terlebih, kalau ingin mengendalikan lawan, bukankah itu tugasnya kemampuannya Inoo?”

“Sayang sekali.....”, gumam Hika pelan.

Tok,tok, tok. Terdengar suara ketukan pintu. Tidak lama kemudian masuklah seorang wanita, wanita itu menggunakan dress panjang, rambutnya digelung, dan mukanya persis dengan Hikaru. Di tangannya terdapat sebuah nampan berisi piring makanan dan air minum.

“Okaa-san”, kata Hika saat melihat wanita itu masuk.

“Ah, syukurlah kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?”, tanya wanita itu.

“Sudah lumayan baikan kok. Berkat dokter dan Yabu”, Hika mengedipkan sebelah matanya ke arah Yabu.

“Lebih baik kau jangan banyak gerak terlebih dahulu. Istirahat saja. Yabu juga, kau bisa bersantai di rumah ini. Tidak perlu khawatir dengan makhluk kegelapan, rumah ini juga telah dipasang pelindung dan selama bertahun-tahun tidak ada makhluk kegelapan yang tahu”, ucap Ibu Hikaru sambil meletakkan nampan itu dimeja yang ada di ruangan tersebut. “Nah, ayo makan. Kalian pasti sudah lapar. Aku membawakan kalian makanan. Inoo dan Morimoto sudah kuberi makanan juga”, ibu Hikaru menyuruh mereka berdua untuk memakan makanan yang ada.

“Terima kasih. Maaf sudah merepotkan anda”, Yabu menundukkan kepalanya ke arah ibu Hikaru.

“Tidak usah seformal itu Yabu-kun. Kau bisa memanggilku ibu. Semua ksatria sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Tidak usah sungkan”, kata ibu Hika sambil tersenyum.

“Baiklah, ibu”, kata Yabu sambil malu-malu. Ibu Hika langsung tersenyum dengan wajah yang bahagia. Tidak lama setelah itu, ibu Hika keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua. “Ibumu sama sekali tidak berubah. Waktu dulu aku datang kemari dia juga sangat ramah”.

“Ya....itulah ibuku”, jawab Hika bangga.

“Ah,ngomong-ngomong, aku sudah memberitahu master soal kalian dan hilangnya Daichan. Master bilang akan segera membawa ksatria yang lain untuk menyusul kemari bersama dengan Jin”,

“Eh?! Jin sudah datang? Kalau begitu Yuya juga sudah pulang?”

“Ya semestinya begitu kan? Memangnya kenapa?”

“Yabai....dia pasti sudah tahu soal hilangnya Daichan. Aduh, aku mesti bagaimana waktu bertemu dengannya? Dia pasti akan memukulku habis-habisan”.

“Jangan berlebihan. Yuya tidak seburuk itu”.

“Kau tidak tahu sih.... Bagi Yuya, Daichan itu nomor satu. Kalau sesuatu terjadi pada Daichan, dia pasti akan membalasnya. Karena aku sering sekelompok dengan Daichan baik waktu patroli maupun pergi misi, kalau Daichan terluka dan dia tahu Daichan terluka, maka dia akan mencariku dan menanyakan soal luka pada Daichan. Aku sering jadi korban amukannya”, desah Hika pelan.

“Memang apa salahnya khawatir dengan orang yang kau sukai?”

Hika menatap Yabu, kemudian mendesah nafas lagi, “Ah iya, kalian berdua memang mirip. Sama-sama overprotektif terhadap kekasih kalian. Kau juga sama. Kalau terjadi sesuatu dengan Inoo pasti kau tidak bisa tenang. Bahkan aku bisa bilang kalau Yuya masih lebih mending daripada kau. Yuya masih memperbolehkan Daichan pergi sendiri. Sedangkan kau, kemanapun Inoo pergi, kau selalu ikut. Tidak pernah sekalipun aku melihat Inoo pergi sendiri tanpamu. Kau tahu? Aku sampai sedikit cemburu terhadap kalian”.

“Cemburu? Kau cemburu padaku? Kau suka pada Inoo?”, selidik Yabu penuh curiga.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya iri dengan kedekatan kalian, kalian sangat dekat sehingga seakan-akan itu hal yang wajar. Aku juga ingin merasa seperti itu”

“Ah begitu. Kau pasti akan mendapatkan seseorang yang akan membuatmu merasa seperti itu. Kau akan menemukan seseorang yang akan membuatmu merasa kau ingin selalu melindunginya. Kau akan mempertaruhkan segalanya untuk orang tersebut”

“Kurasa aku sudah menemukannya”, gumam Hika pelan sambil menatap ke arah laut yang terlihat dari jendela kamar Hika. Memang, rumah Hika sangat dekat dengan pantai sehingga bisa terlihat laut dari rumah Hika.

“Eh siapa? Apa aku juga mengenalnya? Kau tidak pernah cerita soal ini”, Yabu semangat menanyai temannya itu. Matanya berbinar dengan rasa ingin tahu.

“Jika sudah waktunya nanti, aku akan memberitahumu”, Hika tersenyum. Yabu hanya menatap Hika dengan mata yang penuh rasa penasaran.

Tsuzuku ~~~

AKUMA NO YOROI

Part 10

“Apa yang kau rencanakan Inoo?”

Inoo yang sedari tadi membaca buku, melihat ke arah Yabu sekilas, lalu melanjutkan membaca buku yang ada di tangannya. Dari mukanya, Inoo sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Yabu. Yabu juga mengerti kalau Inoo tidak akan segampang itu menjawab pertanyaannya. Mereka berdua sudah hidup lama bersama-sama sehingga masing-masing mengerti apa yang ada di pikiran satu sama lain. Inoo dengan mudah bisa memprediksi pikiran Yabu, akan tetapi Yabu tetap tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran Inoo.

Malam itu terasa sunyi sekali. Suasana sekolah pada malam hari memang terasa mencekam. Beberapa makhluk gaib yang bersembunyi pada siang hari, kini mulai berkeliaran. Suasana di dalam sekolah kini terasa begitu ramai dengan banyaknya makhluk gaib yang berkeliaran. Bagi manusia biasa, mungkin pemandangan ini terasa menakutkan. Tapi, bagi yang memiliki kemampuan spiritual, mereka akan melihat pemandangan yang menjijikkan dan menakutkan. Beberapa makhluk gaib yang tidak jelas bentuknya, beberapa roh siswa yang bunuh diri yang terus berkeliaran, bahkan ada penampakan beberapa roh prajurit jaman perang yang berkeliaran ke seluruh sekolah dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.

TENG!

Jam sekolah berbunyi 12 kali menunjukkan kalau saat ini sudah pukul 12 malam. Seluruh makhluk gaib yang ada langsung bersorak gembira. Inilah saat mereka bisa mengeluarkan kekuatan mereka secara sempurna. Tidak terkecuali bagi para demon.

Inoo tersenyum mendengar suara jam yang berdentang nyaring itu. dia langsung menutup bukunya dan mengembalikan buku itu lagi ke salah satu rak buku.

“Sebentar lagi dia akan kemari”, ucap Inoo sambil tersenyum.

“Kenapa kau menyuruhnya datang kemari? terlebih lagi, kenapa kau menyuruhku menemui anak itu?”

Inoo menatap ke arah Yabu, “Bukankah sudah jelas? Aku ingin kau menghilangkan cairan demon yang ada di tubuh dewa pelindung itu”

“Dan kenapa aku harus menuruti perkataanmu? Apa untungnya bagiku?”

Inoo tersenyum tipis. Perlahan dia berjalan menuju Yabu. Inoo mendekatkan bibirnya ke salah satu telinga Yabu dan mulai membisikkan sesuatu. Ekspresi Yabu perlahan berubah saat mendengar apa yang dibisikkan oleh Inoo. Matanya melebar. Mulutnya pun terbuka lebar. Seakan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kau gila!”, komentar Yabu setelah Inoo selesai berbicara.

“Nah bagaimana? Ini bukan ide yang buruk kan? Bekerjasamalah denganku. Take and Give”

Yabu hanya bisa terdiam sambil terus memikirkan apa yang dibisikkan oleh Inoo tadi. Dia ragu menerima tawaran Inoo atau tidak.

Beberapa makhluk gaib langsung memasang sikap waspada. Makhluk gaib yang memiliki telinga, membuka telinga mereka lebar-lebar. Bagi mereka yang memiliki hidung, mereka mengangkat hidung mereka tinggi-tinggi seakan mencium sesuatu. Bagi mereka yang memiliki mata, mata mereka langsung terkunci pada sosok manusia yang berdiri di halaman sekolah.

“Keito-sama... Ayo kita pulang. Ini bukan ide yang bagus. Sejak awal saya tidak percaya dengan demon itu”

Chii berusaha menahan Keito agar tidak melangkah lebih jauh lagi. Chii bisa merasakan bahwa ada banyak makhluk gaib yang berkeliaran disana. Dan mereka sedang mengawasi Keito. Bagi makhluk gaib, manusia dengan kekuatan spiritual merupakan ancaman, apalagi kalau kekuatannya sangat hebat. Tapi, bagi makhluk gaib yang levelnya tinggi, manusia dengan kekuatan spiritual merupakan makanan lezat yang langka.

Keito juga merasakan hal yang sama. Dia bisa merasakan banyak mata yang sedang mengawasinya. Keito melirik ke arah Yama yang terbaring lemah dalam pelukannya. Semakin lama, kondisi Yama memang semakin buruk. Meskipun Chii telah memberikan sebagian kekuatannya, tapi itu belum cukup untuk memulihkan kondisi Yama. Keito berharap kalau Inoo benar-benar bisa menyelamatkan Yama dan memulihkannya seperti sedia kala.

“Tidak. aku akan terus maju dan menemui Hime-sama”

Keito terus berjalan maju tanpa mempedulikan Chii. Chii hanya bisa pasrah dan mengikuti Keito. Tidak lama kemudian, beberapa makhluk gaib mulai menyerang mereka. Satu persatu Chii membasmi makhluk gaib itu pergi. Keito juga membasmi beberapa makhluk gaib yang menyerangnya dengan menggunakan kekuatan spiritual yang dia miliki. Serangan yang dilancarkan Keito hanya bisa menghalau makhluk gaib saja, tidak sampai memusnahkannya. Hal ini dikarenakan Keito hanya bisa menggunakan satu tangannya saja, sedang tangannya yang lain sibuk menggendong Yama.

“Sst... ayo kemari”

Seorang lelaki meraih tangan Keito dan menariknya pergi. Beberapa makhluk gaib yang menghadang mereka langsung mundur begitu saja seakan takut dengan lelaki yang menarik tangan Keito ini. Keito menatap punggung lelaki yang meraih tangannya ini dengan bingung. Keito sama sekali tidak mengenalnya. Tapi dari aura yang dikeluarkan lelaki ini, Keito bisa merasakan kalau lelaki ini bukan manusia.

“Nah, kita sudah sampai”

Lelaki itu berhenti di depan sebuah ruangan. Keito masih berusaha mengatur nafasnya kembali. Laki-laki yang menarik tangannya itu berlari dengan cukup cepat sehingga Keito kewalahan menyamakan ritme lari mereka. Setelah nafasnya kembali teratur, Keito mendongakkan kepalanya dan membaca tulisan nama ruangan tersebut. PERPUSTAKAAN.

“Ah, rupanya disini lagi”, gumam Keito. “Terima kasih sudah mengantarku. Ngg... kau siapa?”

Keito berusaha mengamati dengan baik wajah lelaki yang telah menolongnya itu, tapi karena gelapnya suasana di sekitar mereka, Keito hanya bisa melihat dengan samar-samar. Sekilas Keito bisa melihat gigi gingsul lelaki itu yang terlihat sedikit berkilauan.

“Tidak lama lagi aku akan menyapamu kok. Sampaikan salamku pada Yabu ya...”, ucap pemuda itu sambil berlalu pergi meninggalkan Keito sendirian.

Keito membuka mulutnya dan ingin bertanya sedikit lebih jauh, tapi tampaknya lelaki itu kini telah menghilang dalam kegelapan. Keito sangat yakin kalau lelaki itu bukan manusia. Tapi, yang jadi pertanyaan dalam benak Keito adalah, ‘siapa dia?’, ‘kenapa dia menolongku’, dan ‘siapa itu Yabu? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu’.

Keito meraih pintu perpustakaan dengan sebelah tangannya. Ketika dia akan membuka pintu ruangan itu, Keito sadar ada sesuatu yang kurang.

“Chii?”

Keito mencari sosok Chii kemana-mana. Sosok dewa pelindung bertubuh kecil itu tidak ada dimanapun. Keito mulai merasa sedikit panik. Kapan dia terpisah dari Chii? Apakah pada saat lelaki itu datang dan menarik tangannya?

Keito berusaha menyipitkan kedua matanya, memperlebar pandangannya agar bisa menemukan sosok Chii yang dicarinya. Tapi, dengan kegelapan seperti ini, mustahil bisa melihat.

CKLEK. Pintu perpustakaan terbuka. Keito sedikit terperanjat kaget saat mendengar pintu itu terbuka dan sosok Inoo berdiri disana.

“Keito-kun? Kalau kau sudah tiba, kenapa kau tidak segera masuk?”

Keito masih mengalihkan pandangannya dan melihat sekelilingnya, berharap Chii akan segera tiba dan muncul di hadapannya. Keito memegang antingnya dan memanggil nama Chii berulangkali, akan tetapi Chii tetap tidak muncul. Keito semakin panik. Dewa pelindung akan segera datang ketika dipanggil dengan cara seperti itu, akan tetapi Chii tetap tidak muncul walau namanya dipanggil berulangkali.

“Ah, si rubah cilik itu tidak ada disini ya?”

Inoo mulai memahami situasi Keito. Keito menatap tajam ke arah Inoo. Dari pandangan matanya, terlihat kalau Keito seakan menyalahkan Inoo. Menurut Keito, hilangnya Chii merupakan salah satu perbuatan Inoo.

“Hei, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak berbuat apa-apa”, bela Inoo. Tapi Keito sama seklai tidak mengalihkan pandangannya dari Inoo.

“Ada apa Inoo?”

Yabu muncul dari belakang Inoo. Sekilas, Keito tidak mengenali Yabu yang berdiri disana. Akan tetapi setelah Keito mengamatinya cukup lama, Keito ingat kalau dia pernah bertemu dengan Yabu beberapa kali. Yabu selalu ada bersama dengan Inoo.

Keito menepuk dahinya. Kini dia tahu siapa yang dimaksud dengan ‘Yabu’ oleh lelaki misterius yang menolongnya. Muncul beberapa pertanyaan dalam benaknya. Tapi semakin banyak pertanyaan itu, Keito semakin pusing memikirkan jawabannya.

“Rubah cilik yang selalu bersama dengan bocah ini hilang. Keito-kun menuduhku bahwa aku yang menyebabkan si dewa pelindung itu hilang”, jelas Inoo.

Keito melihat ke arah Yabu dengan pandangan curiga. Dari perkataan Inoo, Keito menduga kalau Yabu ini tahu mengenai identitas Inoo sebenarnya. Tidak hanya itu, Yabu tampaknya sudah mengetahui identitas mengenai dirinya. Keito tidak bisa melepas pandangannya dari Yabu.

“Ah, ini memang bukan pertama kalinya kalian bertemu, tapi kurasa kalian tidak pernah mengenalkan diri masing-masing. Yabu sudah mengetahui siapa dirimu, tapi kau belum mengetahui siapa sebenarnya Yabu”

Keito menelan ludahnya. Sebuah kalimat muncul di kepalanya. Dia sudah bisa mengira apa yang akan diucapkan Inoo.

“Dia Yabu Kota. Sama sepertiku, dia juga demon. Tapi, dia bukan demon biasa, dia adalah salah satu tetua demon. Demon kedua yang telah lama hidup setelah Raja”

‘Yappari’, gumam Keito.

“Hmm??? Sepertinya kau tidak terlalu terkejut. Apa sebelum ini kau sudah mengetahui siapa Yabu sebenarnya?”, tanya Inoo heran.

“Dia sudah bisa mengira kalau aku adalah demon, sama sepertimu”, jawab Yabu sambil melirik ke arah Keito. Lirikan matanya terasa sangat menusuk. Keito mengalihkan pandangannya, berusaha tidak bertatapan dengan Yabu lebih lama lagi.

“Hee... dia memang cukup pintar”, gumam Inoo.

“Lalu, dimana Chii? Kalian berdua tahu dimana dia kan?”, tanya Keito.

Inoo dan Yabu saling berpandangan satu sama lain. Secara serempak mereka langsung melihat ke arah Keito.

“Kami berdua terus berada disini dari tadi dan tidak keluar sekalipun. Memang kami bisa merasakan hawa keberadaanmu di sekolah ini, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya menunggu kalian datang dengan tenang. Apalagi banyak makhluk gaib yang berkeliaran disini, kami malas berurusan dengan mereka semua”, jelas Yabu.

“Yang lebih penting, bukankah kau kemari karena ada urusan denganku?”, Inoo berjalan mendekat ke arah Keito. “Lihat. Selagi kita berbicara, kondisinya semakin lemah”. Inoo menunjuk ke arah Yama yang kini semakin mengkhawatirkan. Nafasnya semakin memburu, bulu-bulunya perlahan rontok, dan badannya terus gemetar tanpa henti.

Kepanikan Keito bertambah.  Kondisi Yama semakin buruk. Dia ingin segera memulihkannya. Tapi di sisi lain, Keito juga mencemaskan Chii yang menghilang tanpa kabar. Keito takut kalau terjadi sesuatu pada Chii tanpa diketahui olehnya. Keito berpikir keras. Dia tidak tahu mana yang harus diutamakan.

“Lebih lama dari ini, dia akan mati”, gumam Inoo sambil tersenyum.

Keito melemparkan pandangannya ke arah kegelapan. Sekali lagi dia berharap kalau Chii akan segera datang. Tapi, Chii tetap tidak datang meskipun Keito telah memanggilnya berkali-kali. Sementara itu, Yama semakin melemah. Keito bisa merasakan aura kehidupan Yama perlahan mulai menghilang.

“Chii, maafkan aku. Aku akan segera mencarimu setelah ini”

Dengan berat hati keito membalikkan badannya dan berjalan mendekati Inoo. Keito memutuskan untuk memulihkan Yama terlebih dahulu. Keito tidak ingin kehilangan Yama. Setelah Yama kembali pulih, keito akan segera mencari Chii.

“kau yakin tidak mencari rubah cilik itu?”, goda Inoo.

Keito menggeleng, “Chii pasti akan baik-baik saja. Aku yakin kalau dia akan datang kemari. Saat ini, Yama lebih membutuhkan pertolongan. Tolong sembuhkan dia. Kau tahu caranya kan?”. Keito menyodorkan tubuh Yama ke Inoo.

“Tentu saja. Ayo masuk”, Inoo mengajak Keito dan Yabu masuk ke dalam ruang perpustakaan.

---***---
Beberapa meter dari perpustakaan, sesosok rubah kecil berjalan pelan di tengah kerumunan makhluk gaib. Rubah itu tampak mengamati satu persatu makhluk gaib yang dia temui. Berkali-kali langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil.

“Maafkan saya Keito-sama. Untuk kali ini, saya tidak bisa memenuhi panggilan Keito-sama”

Chii kembali berjalan dan mengamati makhluk gaib satu-persatu. Dia berusaha menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara Keito yang memanggilnya berulang kali. Hati Chii terus merasa sakit saat mendengar suara Keito. Akan tetapi, Chii merasa kalau urusan yang ada di hadapannya ini lebih penting.

“Dimana dia? Aku bisa merasakan dengan jelas kalau dia ada di sekitar sini”, gumam Chii. “Seandainya aku bisa mengingat dengan jelas sosok demon itu, aku bisa langsung mengenalinya dengan sekejap”

Chii terus berjalan mengikuti instingnya. Semakin lama, dia merasa aura demon itu semakin kuat. Chii melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Dia ingin segera menemui demon yang dicarinya itu.

---***---
“Hei, dia datang mencarimu”

“Eh, dia siapa?”


“Kau lupa? Si rubah putih itu. Dewa pelindung yang kau ambil kekuatannya 10 tahun yang lalu”

Tsuzuku ~~~

Sabtu, 30 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 20

Yabu yang mendengar teriakan Inoo langsung berlari menghampirinya. Inoo mengacungkan kedua pedangnya ke arah sesuatu yang baru saja keluar dari balik semak. Yabu pun langsung membentuk pedang dengan air yang dibawanya, bersiap membantu Inoo untuk melawan apa yang dilihat olehnya.

“Woi, ini aku!”, seru sosok yang keluar dari semak itu. Yabu dan Inoo mengamati sosokitu. Mereka berdua menarik nafas lega. Hikaru berdiri tepat di depan mereka. Mereka berdua lalu menurunkan pedang yang ada di tangan mereka.

“Hika! Kau selamat!”, Yabu berlari menghampiri Hikaru yang berjalan dengan tertatih-tatih.

“Kalian ini.... kalian ingin membunuhku ya?”, lirik Hika ke arah pedang yang ada ditangan Inoo dan Yabu.

“Kukira kau tadi musuh yang bersembunyi dan akan menyerang kami, jadi spontan aja kami mengeluarkan pedang”, Inoo mengembalikan pedang yang ada di tangannya kembali ke sarung pedangnya, begitu pula dengan Yabu yang mengubah pedangnya kembali menjadi air dan membentuk genangan disana.

“Hika, ada apa? Siapa yang kau temukan?”, terdengar suara dari belakang Hikaru. Yabu dan Inoo menoleh ke asal suara dan melihat Ryuu yang mendekat ke arah mereka. Sama seperti Hika, kondisi badannya penuh luka dan jalannya pun tertatih-tatih.

“Ryuu! Kau juga selamat! Syukurlah kami bisa menemukan kalian semua!”, Inoo berlari menghampiri Ryuu dan membantunya berjalan.
“Kalian berdua kenapa ada disini?”, tanya Hika sambil menyandarkan dirinya ke sebatang pohon yang ada di dekat situ.

“Kami melihat berita kecelakaan kalian di TV, lalu master meminta kami berdua untuk menyusul kemari melihat keadaan kalian. Begitu sampai disini kami melihat kondisi mobil kalian yang seperti itu...”, Yabu menunjuk ke puing-puing mobil yang berserakan dan hangus terbakar itu. “Kami sempat panik karena tidak menemukan kalian saat kami tiba disini. Apa yang sebenarnya terjadi?”, Yabu menghentikan ucapannya dan menyadari sesuatu, “Daichan mana? Aku tidak melihatnya”.

Hika dan Ryuu saling bertukar pandang. Hika menghela nafas panjang dan mulai berbicara. “Kami dalam perjalanan kembali pulang, tiba-tiba ada truk yang menabrak kami dari depan. Aku tidak sempat menghindar, akibatnya terjadi tabrakan dan mobil kami terjatuh ke dalam jurang ini. Suatu keajaiban kami masih bisa selamat meskipun kami jatuh seperti ini”, Hika melihat ke atas, dia bisa melihat seberapa dalam mereka jatuh.

“Begitu kami tersadar, kami sudah terlempar dari mobil. Saat kami bangun, kami tidak melihat nee-san disini. Akhirnya kami memutuskan untuk mencarinya di dekat sini, siapa tahu dia terlempar agak jauh dari posisi kami”, tambah Ryuu.

“Lalu?”, tanya Inoo

“Kami sama sekali tidak bisa menemukannya. Nee-san hilang begitu saja. kami juga tidak tahu apakah dia selamat atau tidak”, jawab Ryuu. Hika pun menunduk,wajahnya tampak murung.

“Yang penting sekarang, kalian tenangkan diri dulu. Aku yakin Daichan baik-baik saja sekarang meskipun saat ini dia tidak berada disini. Pertama-tama, Kita harus melaporkan apa yang terjadi disini pada master. Lalu, Master akan membantu kita mencari Daichan”, Yabu berusaha tetap bersikap tenang saat melihat raut wajah Hika dan Ryuu. Yabu merasa apa yang dikatakannya itu tepat. Hika dan Ryuu terluka parah, kalau mereka tetap meneruskan pencarian terhadap Daichan, itu sama saja dengan bunuh diri. Meminta pertolongan dari master dan teman ksatria yang lain mungkin adalah pilihan yang tepat.

“Disini tidak ada sinyal. Aku sudah berusaha menghubungi markas tapi tidak terhubung”,kata Inoo yang terus mengutak-atik hpnya. Dia bahkan menjulurkan tangannya ke atas untuk mencari sinyal.

“Kalau begitu, kita ke rumahmu saja Hika. Rumahmu di daerah sini kan?”, tanya Yabu.

“Ya, kalau kita terus menyusuri jalan ini, dalam waktu kurang lebih setengah jam kita akan tiba di rumahku”, jawab Hika. Yabu membantu Hika untuk berdiri dan memapahnya, sedangkan Inoo membantu Ryuu. Mereka berempat berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju rumah Hika yang juga di daerah itu.

Ditempat lain, jauh di dalam kegelapan.

“Kakakku yang manis, akhirnya kau disini”, Fuu membelai kepala Daiki yang masih tidak sadarkan diri. Daiki berbaring di atas sebuah ranjang, tangan dan kaki Daiki diikat oleh rantai yang berat. Badannya penuh luka akibat kecelakaan yang menimpa pada dirinya.

“Tuan Jack, ada yang ingin saya laporkan”, sosok yang tinggi masuk ke dalam ruangan. Dia merupakan salah satu sosok yang membawa Daiki ke hadapan Fuka. Sosok itu duduk bersujud di hadapan Fuka.

“Ada apa?”

“Beberapa pasukan di luar mengatakan mereka melihat beberapa ksatria di daerah ini. Dua orang diantaranya adalah dua ksatria yang bersama dengan ksatria cewek yang ada disana, dua orang lagi tampaknya ksatria lain yang baru datang kemari”

“Hmm....berarti mereka sudah mengetahui kalau kakak berada di tanganku”, Fuka melihat ke arah Daiki yang masih tertidur. “Terus awasi mereka”.

“Kami tidak perlu menyerang mereka?”

“Tidak usah, King sudah memutuskan bahwa ‘mereka’ akan bergerak. ‘mereka’ akan memberi waktu kepada kita dan ‘mereka’ yang akan menghadapi para ksatria itu. Kita hanya harus fokus dengan tugas yang diberikan pada kita, menangkap ‘sang kunci’ dan menjaganya sampai hari kebangkitan”.

“Baik, Tuan Jack. Ah, ada pesan dari Queen kalau dia sudah menemukan tempat sang necromancer, anda diminta membawa ‘sang kunci’ kesana”.

“Begitu? Baiklah. Terima kasih atas laporanmu. Kau boleh pergi”. Sosok itu kemudian berdiri dan pergi keluar ruangan.

“Sayang sekali kakak, takdirmu sudah ditetapkan. Kematianmu sudah ditetapkan sejak kau dilahirkan. Padahal, aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri”, Jack tersenyum puas melihat Daiki.

Sepulang sekolah, di rumah para ksatria

Kami berempat telah kembali dari sekolah. Begitu masuk ke dalam rumah, kami sudah disambut oleh Jin yang sudah berdiri disana menunggu kami dengan wajah yang tampak kesal menunggu.

“Osoi! Ayo kita mulai latihannya. Cepat ganti baju kalian dan berkumpul di halaman belakang”, Jin langsung pergi menuju ke halaman belakang. Kami berempat segera berganti baju dan menuju ke halaman belakang. Begitu sampai disana, aku terkejut dengan apa yang kulihat. Halaman belakang yang rapi, berubah menjadi berantakan. Aku bisa melihat dinding rumah yang mengalami keretakan dimana-mana. Tanah pun menjadi retak dan banyak seperti lubang di tanah. Pohonyang ada di dekat sana juga terbelah menjadi dua dan ada beberapa pohon yang hanya tinggal bagian bawahnya saja. ‘apa yang sebenarnya terjadi disini?’,tanyaku dalam hati.

“Hyaa....apa yang sudah terjadi disini? Seperti ada pertempuran besar yang baru saja terjadi disini”, ucap Yuto yang ada di belakangku.

“Oh ini? Ini akibat aku tadi melatih Yuya. seperti yang sudah kuduga, kekuatan yang dimilikinya sangat besar. Aku melatihnya hingga dia bisa mengeluarkan 70% kekuatannya, maka jadilah seperti ini keadaannya”, ucap Jin santai.

“Memangnya Yuya itu sekuat apa sih? Benarkah dia yang paling kuat diantara kalian semua?”, bisikku pelan pada Chinen yang ada di sebelahku.

“Hmm...Ya, bisa dibilang dia memang yang paling kuat diantara kami semua. Sebelum Yuya datang, Yuto dan Daichan adalah ksatria yang paling kuat, kemampuan mereka memiliki daya penghancur yang paling besar. Tapi, saat mereka berdua melakukan latih tanding dengan Yuya yang telah bergabung dengan kami, mereka berdua bisa dikalahkan dengan mudah. Semua kemampuan khusus kami tidak ada yang mempan terhadapnya”, jawab Chinen. Aku mengingat kemampuan Yuya, nullification, kemampuan itu bisa menetralkan semua serangan. Aku tidak menyangka kalau kemampuan itu begitu hebat.

“Apa yang kalian lakukan disitu! Ayo cepat mulai latihannya”, seru Jin. Kami semua segera berlari menghampiri Jin.

“Lalu,dimana Yuya?”, tanyaku sambil melihat sekeliling. Aku tidak melihat Yuya dari tadi. Di dalam rumah juga tidak ada.

“Dia sedang patroli. Kalian tidak usah mengkhawatirkannya. Dia sendiri pasti bisa mengatasi makhluk kegelapan yang muncul. Aku hanya merasakan makhluk kegelapan level rendah yang berkeliaran di sekitar sini. Meskipun aku merasa ada sesuatu yang lain.....”, Jin mendongak ke langit dan memejamkan matanya. Tampaknya dia sedang merasakan sesuatu. “Ah, sudahlah. Kita tidak usah memikirkan si bodoh itu. Nah, coba kalian keluarkan energi kalian”.

Aku mencoba mengeluarkan energi yang ada di dalam diriku. Aku melakukannya seperti yang pernah diajarkan Yuya padaku. Aku melihat ke ksatria yang lain. Mereka juga sedang mengeluarkan energi mereka, tapi aku bisa merasakan besarnya energi tiap orang berbeda. Aku merasa Yuto dan Chinen mengeluarkan energi yang lebih besar daripada aku dan Keito. aku juga bisa merasakan kalau energiku paling lemah diantara mereka bertiga.

“Hmm....Yuto, energimu memang besar, sama seperti Daiki. Chinen, kemampuanmu sudah meningkat, energimu jauh lebih besar daripada saat kita terakhir kali bertemu. Keito, kau sama sekali tidak ada peningkatan. Dan kau, Ryosuke, seperti yang kuduga, kau yang paling lemah diantara semua ksatria yang ada”, ucap Jin saat mengamati kami satu persatu.

Jin memberikan kami masing-masing sepasang gelang berwarna putih. Gelang ini sepertinya terbuat dari kaca, tapi juga ringan seperti plastik. Jin meminta kami memakai gelang ini. Begitu gelang ini dipakai, aku bisa merasakan sesuatu yang berubah dari dalam diriku.

“Ini gelang stimulasi. Gelang ini akan membantu kalian meningkatkan kemampuan kalian dan membantu kalian mengeluarkan energi yang lebih besar dari yang kalian keluarkan saat ini. Kalian bisa merasakan ada yang berubah pada tubuh kalian kan?”, Jin bertanya pada kami. Kami semua mengangguk.

“Tapi, kenapa tubuhku mulai merasa lemas?”, tanya Yuto.

“Ya tentu saja. gelang ini memicu kalian mengeluarkan energi yang lebih besar dari yang biasa kalian keluarkan. Kalian sudah tahu kan kalau mengeluarkan energi itu butuh tenaga juga? Kalau kalian tidak bisa mengendalikan energi kalian yang keluar saat ini, tidak butuh waktu lama bagi kalian untuk mati”, ucap Jin enteng. “Latihan ini bertujuan agar kalian terbiasa mengeluarkan energi dalam jumlah besar”.

“Tunggu Jin! Apa yang kau lakukan? Kalau begini bisa bahaya”, seru Chinen. Baru saja Chinen menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tanah yang menjadi pijakan kami hancur, membentuk sebuah lubang yang cukup besar dan cukup dalam. Aku melihat Yuto yang terduduk lemas, aku bisa melihat energi yang keluar dari tubuhnya cukup besar. Chinen menarikku menjauhi Yuto. Keito pun juga menghindar.

“Ah....sudah kubilang kalau kau harus bisa mengendalikan energimu...”, Jin mengarahkan tangannya ke tanah. Tiba-tiba tanah yang kami pijaki bergerak dan membawa kami bertiga ke atas, meninggalkan Yuto sendirian di bawah. Setelah kami semua keluar, lubang di tanah itu menutup, mengurung yuto di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Keito.

“Aku akan mengurungnya sementara di bawah sana sampai dia bisa mengendalikan kemampuannya.Tenang saja, meskipun lubang ini tertutup, masih ada rongga udara disana, jadi dia masih bisa bernafas. Akan tetapi, persediaan oksigen disana akan semakin menipis sehingga dia bisa mati karena kehabisan oksigen. Kau dengar kan Yuto? Kalau kau tidak bisa mengendalikan kemampuanmu secepat mungkin, kau bisa mati dan tertimbun di bawah sana”, seru Jin.

“Aku dengar! Tidak apa-apa, aku pasti bisa mengendalikannya dan aku tidak mau mati disini!”, suara Yuto terdengar dari dalam tanah. Aku menarik nafas lega, setidaknya aku tahu Yuto masih hidup di bawah sana.

“Nah, untuk kalian bertiga.....”, Jin melihat ke arah kami, “Chinen, kau akan melakukan latih tanding bersama dengan Keito”.

“Eh?? Tunggu dulu. Aku tidak pernah menang melawan Chii”, ucap Keito.

“Ini kesempatan bagus untuk meningkatkan kemampuan bertarungmu. Sekaligus membantu kalian menguasai pengendalian energi yang keluar secara berlebihan. Dan kau Ryosuke, aku sendiri yang akan melatihmu. Bersiaplah!”, Jin melihat ke arahku sambil tersenyum. Jujur, aku tidak suka melihat senyumnya saat ini. Seperti ada sesuatu yang tidak enak yang akan terjadi. Keito hanya mengangguk pasrah mendengar keputusan Jin.

Di jalan raya, di sebuah kafe

“Dasar si Jin itu! Dia memang tidak pernah mengurangi tenaga yang dikeluarkannya. Badanku masih sakit semua ini”, Yuya terduduk di sebuah kafe. Dia memegangi tangannya yang memar akibat latihan yang dia jalani bersama dengan Jin. Dia menyamar menggunakan kacamata dan topi. Pekerjaannya sebagai model, membuat dia mudah dikenali banyak orang. Yuya melihat ke arah jalan, dia bisa melihat banyak orang yang berlalu lalang. Suasana di dalam kafe pun ramai, banyak orang terlebih pasangan muda berada di tempat itu. Yuya merasa tempat yang ramai akan membantunya menyamarkan diri dan tidak akan ada yang memperhatikannya.

Tiba-tiba dua orang pemuda datang ke meja Yuya dan duduk di kursi di hadapan Yuya. Yuya hanya melihat kedua orang pemuda di hadapannya ini dengan muka heran.

“Boleh,kami duduk disini? Tidak ada bangku kosong lagi di tempat ini, hanya disini tempat kosong yang ada”, ucap salah satu pemuda yang berambut hitam. Cara bicaranya seperti orang osaka, logat kansainya masih terasa meskipun kelihatannya pemuda itu mencoba berbicara ala orang tokyo.

“Seharusnya kalian tanya itu sebelum kalian duduk. Kalau kalian sudah duduk seperti itu,apa yang bisa kukatakan lagi”, ucap Yuya cuek. Dia sama sekali tidak ingin menanggapi siapapun. Moodnya sedang jelek.

“Ah,maafkan kelancangan kami”, ucap pemuda pirang yang ada di sebelahnya. Tampaknya pemuda itu juga berasal dari Osaka juga. “Ah, bagaimana kalau kita berkenalan dulu? Namaku Nakama Junta, sedangkan dia Kiriyama Akito”, ucap pemuda pirang itu lagi sambil tersenyum berusaha bersikap ramah terhadap Yuya. “Siapa namamu?”.

“Untuk apa aku memberitahu namaku pada orang yang baru kutemui?”, ucap Yuya yang masih saja bersikap acuh.

“Yang kudengar, kau adalah seorang yang gentleman, tapi tampaknya kau tidak lebih dari orang berandalan, Takaki Yuya”, ucap pemuda yang bernama Kiriyama Akito itu. Yuya terkejut dan melihat dua orang pemuda yang ada di hadapannya.

“Bagaimana kalian bisa tahu?”, tanya Yuya kaget.

“Tidak hanya mengenai namamu, kami juga tahu semuanya. Takaki Yuya, 20 tahun, seorang model papan atas. Berhenti sekolah saat SMA karena ingin mengejar karir sebagai model. Punya seorang pacar yang manis bernama Arioka Daiki. Ah, yang lebih penting lagi, kau dan pacarmu sama-sama seorang ksatria”, ucap pemuda yang bernama Nakama Junta itu.

“Siapa, kalian berdua sebenarnya?”

“Kami diperintahkan untuk menghabisi para ksatria sebelum hari kebangkitan”, jawab Nakama Junta.

“Siapa yang memerintahkan kalian?”, tanya Yuya. kali ini dia memasang sikap waspada.

“Bukankah tidak perlu kami jawab, kau sudah tahu jawabannya?”, Kiriyama tersenyum ke arah Yuya.

Yuya langsung memasang pelindung. Hanya ada mereka bertiga yang berada di dalam pelindung.

Tsuzuku ~~~

AKUMA NO YOROI

Part 9

“Hmm... Inoo sudah mengikat kontrak dengan anak itu...”

“Si bocah itu juga tampaknya membantu Inoo dalam hal ini”

“Oh... makanya kau memintaku untuk segera pergi dari tempat itu”

“Aku tidak ingin menambah masalah yang tidak perlu. Terlebih lagi, apa kau tidak sadar kalau kau mengeluarkan aura berbahaya?”

“Ehehehe... daripada aku, bukankah kau yang lebih berbahaya? Moodmu sedang jelek kan? Kurasa kau sedang haus sekali sekarang”

“Kalau kau sudah tahu, ayo cepat kita lakukan. Aku sudah menuruti permintaanmu, sekarang waktunya kau menuruti permintaanku”

“Aku tahu... Take and Give kan?”

---***---
“Inoo telah berkhianat. Anak itu sudah terang-terangan menkhianati kita”

“Yang mulia sudah memberikan perintah. Inoo sudah tidak dianggap salah satu di antara kita”

“Itu artinya, kita boleh menghabisinya kan?”

---***---
Keito terus membersihkan tubuh Yama di kamar mandi. Cairan lengket yang menempel di bulu-bulu tubuh anjing kecil itu susah sekali disingkirkan. Keito sudah berulangkali menyiram tubuh Yama dengan air, tapi cairan itu tetap saja menempel. Keito bahkan tidak peduli dengan suara bel sekolah yang menandakan pelajaran berikutnya akan dimulai. Yang ada dipikiran Keito saat ini adalah menyelamatkan Yama.

“Uhh... kenapa? Kenapa cairan ini susah sekali hilang?”, gerutu Keito.

Chii hanya diam saja mengamati Keito. Dia bisa saja membantu Keito dengan menggunakan kekuatannya, meskipun Chii juga ragu apakah dia bisa menghilangkan cairan itu atau tidak. Chii terus menggigit bibirnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Ya, semenjak tadi, Chii terus berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Meskipun sekarang tubuhnya tidak merasakan cambukan yang tidak terlihat itu lagi, tapi Chii masih bisa merasakan sakit.

“Keito-sama... maafkan saya yang tidak bisa melakukan apapun”, lirih Chii pelan. Saking pelannya, bahkan Keito tidak bisa mendengarnya.

“Yama... kumohon. Buka matamu... kau sudah bebas, jadi kumohon, buka matamu”, lirih Keito.

Keito terus membasuh tubuh Yama dengan air yang mengalir. Entah sudah berapa liter air yang digunakan, bahkan sebagian baju Keito sudah basah terkena air. Akan tetapi, itu masih belum cukup untuk menghilangkan cairan lengket itu.

“Okamoto-kun? Sedang apa kau disini?”

Keito terperanjat kaget saat melihat ada seseorang yang datang menghampirinya. Saking sibuknya Keito pada Yama, dia bahkan tidak menyadari ada seseorang di belakangnya.

“Nakajima-kun...”, gumam Keito pelan.

“Kenapa Okamoto-kun? Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tubuhmu basah semua?”, tanya Yuto heran saat mendapati Keito sedang terduduk di salah satu bilik toilet dan tubuhnya basah.

Awalnya Keito heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Yuto, tapi setelah melihat Yama yang ada pangkuannya, dia mengerti. Yama saat ini telah kembali menjadi wujudnya yang semula, tentu saja manusia biasa tidak bisa melihatnya. Termasuk Yuto. Saat ini, yang dilihat Yuto adalah sosoknya yang sedang terduduk lemas dan dalam kondisi basah.

“Ah... ini aku...”, Keito bingung bagaimana menjelaskan pada Yuto apa yang sedang dia lakukan. Keito berpikir kalau Yuto saat ini mengira dia sedikit ‘gila’, karena melakukan hal yang tidak jelas.

“Kau sakit? Kau tidak enak badan? Biar kupanggilkan guru kemari”. Yuto memegang dahi Keito yang kini terasa sedikit panas. Tubuh Keito memang sedikit terasa panas setelah dia mengikat kontrak dengan Inoo. Yuto yang mengira Keito demam langsung berdiri dan memutuskan untuk memanggil guru.

Keito mengulurkan tangannya dan menahan Yuto, sebuah ide terlintas di kepalanya. “Err... tidak usah Nakajima-kun. Sebaiknya kupikir aku pulang saja. Benar katamu, aku sedikit tidak enak badan”.

Keito berbohong soal kondisinya. Sebenarnya dia tidak merasa sakit sama sekali, tapi dia rasa itu adalah keputusan yang tepat. Dia ingin segera pulang untuk merawat Yama. Mungkin di salah satu buku ajaran keluarganya ada cara untuk menolong Yama.

Yuto menatap Keito yang terlihat sangat lemah. “Hmm... baiklah. Kalau begitu, aku akan membantumu mengambilkan tasmu dan meminta ijin pada guru agar kau bisa pulang lebih cepat”

“Eh? Tidak usah Nakajima-kun. Biar aku sendiri saja. Kau tidak usah repot-repot. Apalagi kau bukan teman sekelasku”

Yuto memegang kepala Keito dan membelai rambutnya dengan lembut. “Tidak apa. Tidak mungkin aku membiarkan orang yang sakit berjalan sendirian kan? Aku akan merasa tidak enak kalau membiarkan kau sendiri. Lebih baik sekarang kau keluar dari sini, keringkan bajumu agar demammu tidak semakin bertambah parah. Biar aku saja yang mengambilkan tasmu. Ya?”

Keito mengangguk. Yuto segera keluar dan menuju ke kelas Keito. keito menatap punggung Yuto yang berjalan menjauh. Keito tidak menyangka kalau Yuto akan membantunya sampai seperti ini. Keito memang tidak terlalu sering berbicara dengan Yuto, jadi dia tidak terlalu tahu bagaimana Yuto yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuto adalah orang yang sangat baik.

“Yama... bertahanlah sebentar. Mungkin di rumah aku bisa menemukan cara untuk menyelamatkanmu”, bisik Keito pelan pada Yama yang ada di pelukannya. Yama hanya diam tidak bergerak, tapi Keito bisa merasakan nafas pelan Yama di tangannya.

Tidak berapa lama, Yuto datang kembali membawa tas Keito. Keito menerimanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sedang menggendong Yama. Keito berusaha agar tangan kanannya terlihat normal dan tidak terlihat aneh. Setelah mengucapkan terima kasih pada Yuto, Keito segera bergegas pulang ke rumah.

Keito mempercepat langkahnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Dia ingin segera menyelamatkan Yama. Tidak berapa lama, Keito sudah berada di luar gerbang sekolah. Tanpa disadari oleh Keito, ada beberapa pasang mata yang mengamatinya sejak dia keluar sekolah.

“Ufufufufu..... rupanya si anak terkutuk itu masih belum tahu cara menghilangkan cairan demon yang menempel itu”, gumam seorang pemuda berparas cantik yang terus mengamati Keito dari jendela kelas di lantai 3.

“Kau sendiri tidak memberitahu caranya kan?”, balas pemuda yang duduk di sebelahnya.

“Tidak. Dia hanya meminta untuk membebaskan dewa pelindung itu dari Ryuu. Ya sudah, kulakukan. Aku sudah berbaik hati memberitahunya kalau lebih baik cairan demon itu segera dihilangkan”

“Tapi kau tidak bilang padanya kalau cairan demon itu tidak bisa hilang dengan air biasa kan?”

“Tidak. Dia tidak tanya. Dia sendiri yang menyimpulkan kalau air bisa menghilangkan cairan demon itu”

“Kau memang demon yang paling licik, Inoo”

“Aku sudah terbiasa mendengar hal itu. Kau yang paling tahu kan?”

“Kau harus lebih berhati-hati, akibat tindakanmu ini, kau sudah dianggap musuh. Bahkan olehku sekalipun”

“Sebentar lagi kau juga akan dianggap musuh kok. Kau akan bernasib sama denganku. Ah, kurasa Ryuu juga akan bernasib sama”, Inoo tersenyum menyeringai sambil melihat pemuda yang duduk di sebelahnya.

“Apa maksudmu?”, tanya pemuda itu tidak mengerti.

“Kau pikir, kenapa aku meminta Ryuu bekerjasama denganku? Kau pikir kenapa aku memintanya untuk memakan dewa pelindung itu?”, Inoo tersenyum penuh kemenangan.

Pemuda yang duduk di sebelahnya itu langsung menatap Inoo dengan tidak percaya. Matanya terbuka lebar. “Jangan-jangan kau....”

“Yup. Aku sudah merencanakan ini semua. Dengan rencana ini, si anak terkutuk itu akan segera menemuimu. Kau, satu-satunya tetua demon, pasti tahu bagaimana caranya menghilangkan cairan demon itu kan? aku juga tahu sih... tapi aku tidak bisa menghilangkannnya. Hanya kau yang bisa kan? maka dari itu, kau juga termasuk bagian dari rencanaku, Yabu...”

“Kau memang benar-benar licik”, pemuda itu menghela nafas panjang.

“Aku sudah bosan mendengar hal itu”. Inoo tertawa pelan tanpa suara.

---***---
Keito langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Tanpa melepas sepatunya, dia langsung masuk ke dalam rumah sambil menggendong Yama yang tampak semakin lemah.

“Chii! Bantu aku!”, perintah Keito. Chii segera berubah kembali menjadi sosok manusianya dan membantu Keito. “Aku akan mencari cara untuk menyembuhkan Yama di salah satu buku milik keluargaku. Kau bantu Yama, terus aliri tubuh Yama dengan air hingga cairan itu hilang”

Chii segera menuruti permintaan Keito. Dengan penuh perhatian, Chii mengangkat tubuh Yama dengan hati-hati dan membawanya ke kamar mandi. Rasa sakit di tubuh Chii belum hilang sepenuhnya, tapi Chii masih bisa menahannya agar Keito tidak curiga. Dia tidak ingin menambah kecemasan Keito. Sama seperti Keito, bagi Chii, Yama saat ini adalah prioritas utama.

Keito langsung membongkar lemari tua di sebuah ruangan. Dia membuka buku-buku yang ada disana satu persatu. Berharap ada suatu cara untuk menyembuhkan Yama. Buku-buku yang sudah dibuka olehnya dilempar begitu saja, sehingga keadaan ruangan itu sangat berantakan. Keito tidak bisa menyembunyikan emosinya yang tidak terkontrol.

“SIAL! Tidak adakah yang tahu cara menghilangkan cairan demon itu?”, ucap Keito. Kekesalannya memuncak dan tidak bisa tertahankan lagi.

“KEITO-SAMA! KEITO-SAMA! Cepat kemari!”

Teriakan Chii yang menggema di seluruh rumah mengagetkan Keito. sebenarnya Keito sedikit kesal dengan panggilan Chii. Tapi, Keito langsung sadar kalau itu salah dan menahan emosinya. Chii sama sekali tidak berbuat salah, jadi tidak ada alasan untuk memarahinya. Keito segera menghampiri dewa pelindung cilik itu.

“Ada apa Chii?”, tanya Keito.

Tanpa perlu dijawab oleh Chii, Keito langsung tahu alasan Chii memanggilnya. Mata Keito langsung terbuka lebar saat melihat Yama kini telah membuka matanya. Meskipun Yama masih dalam sosok seekor anjing kecil, tapi matanya sudah mulai terbuka. Dengan tatapan sayu, Yama melihat ke arah Keito.

“Yama!!!”, Keito langsung berlari menghampiri dewa pelindung itu. Keito langsung memeluk Yama. Butiran air kecil mulai menetes dan membasahi tubuh Yama. Keito merasakan kalau ada sesuatu yang menempel di tangannya. Dia melepas pelukannya dan melihat cairan demon itu masih menempel di tubuh Yama.

“Maafkan saya Keito-sama. Saya sudah berulangkali membasuh tubuh Yama dengan air, tapi cairan itu tetap tidak mau hilang. Akhirnya saya membagi kekuatan saya dengan Yama karena kondisi tubuhnya sudah sangat lemah. Saya tidak menyangka, berkat itu, kesadaran Yama kembali”

Keito membelai kepala Chii dengan lembut. Dalam hati, Keito merasa bersalah karena sudah merasa kesal dengan Chii. “Kerja bagus Chii. Berkat usahamu, kini Yama sudah sadar kembali. Dibandingkan aku yang sama sekali tidak menemukan cara untuk menyembuhkan Yama”

Chii tersenyum senang mendengar pujian dari tuannya. Dia merasa lega bisa membuat tuannya sedikit senang. Dia juga merasa lega Yama bisa sadar kembali.

“Yama? Kau tidak apa-apa? Apa masih ada yang terasa sakit?”, tanya Keito.

Yama hanya menatap Keito dan Chii secara bergantian. Telinganya terkulai lemah. Matanya pun tampak semakin sayu. Yama hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya pertanda kalau dia bisa mendengar ucapan Keito dan Chii. Tidak berapa lama kemudian, mata Yama mulai menutup kembali.

“Yama!!!”, seru Keito panik. Dia takut Yama tidak akan membuka matanya lagi.

“Tenang saja Keito-sama, Yama hanya tertidur. Saya bisa merasakannya. Mungkin Yama lelah karena tenaganya hampir hilang. Bahkan kini kekuatan Yama yang tersisa mungkin hanya sekitar ¼ saja. Kurasa demon yang memakan Yama itu telah mengambil kekuatannya lagi. Butuh waktu lama untuk Yama pulih kembali”

“begitu ya...”, gumam Keito sambil pelan-pelan berdiri menjauh dari Yama. “Baiklah, untuk sementara ini, aku akan mencari cara untuk menghilangkan cairan demon yang menempel ini. Kurasa cairan demon ini juga salah satu penyebab pemulihan Yama terhambat”

Keito beranjak pergi keluar ruangan. Baru beberapa langkah, Keito berhenti. “Kurasa dia tahu cara menghilangkannya”

Chii melihat ke arah Keito dengan heran. “Siapa yang Keito-sama maksud?”

“Inoo-senpai, si Hime-sama, demon yang telah mengikat kontrak denganku. Dia bilang dia tahu segalanya, jadi kupikir dia juga tahu bagaimana cara menghilangkan cairan demon itu dari Yama”

“Keito-sama ingin meminta bantuannya lagi?”, keluh Chii. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya sedih. Dia tidak menyangka kalau tuannya akan meminta bantuan demon itu lagi.

Tiba-tiba ada sesosok makhluk gaib muncul di antara Chii dan Keito. Wujud makhluk gaib itu seperti seekor burung kecil, sama sekali tidak terlihat berbahaya. Akan tetapi, auranya terasa sangat gelap.  Chii otomatis langsung berubah menjadi rubah putih bermata biru. Dia langsung berhadapan dengan makhluk gaib dan menghalangi makhluk gaib itu mendekati Keito dan Yama.

“Saya datang atas perintah Inoo-sama. Saya membawa pesan dari tuan untuk disampaikan pada si anak terkutuk, Okamoto Keito”, ucap makhluk gaib itu.

“Dari Hime-sama?”, tanya Keito.

“Inoo-sama meminta si anak terkutuk untuk datang ke sekolah malam ini jam 12 bersama dengan kedua dewa pelindungnya. Inoo sama akan memberitahukan cara untuk memulihkan dewa pelindung anda. Jangan lupa, siapkan imbalan untuk Hime-sama”

Sesaat setelah makhluk gaib itu menyampaikan pesan, makhluk gaib itu langsung berubah menjadi sesosok kertas putih. Keito dan Chii hanya saling berpandangan tidak mengerti.

Tsuzuku ~~~