Minggu, 06 Agustus 2017

PRINCESS & BODYGUARD

Main cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Genre : Drama, romance

Note : awalnya dulu aku buat ff ini kolab ama temen. Tapi akhirnya ff ini drop. Beberapa tahun kemudian aku lanjutin lagi karena ada yg minta lanjut. Kali ini aku post dari awal cerita sampai akhir. Jadi ceritanya one shot, bukan series kyk kmrn.

Suasana hari ini sangat cerah. Semua orang menjalankan aktivitasnya dengan penuh semangat. Begitu pula dengan keadaan di kerajaan Union. Beberapa butler dan maid tampak sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada yang membersihkan taman, ada yang menyapu, ada yang memasak, dll.

“Tuan Putri! Tuan Putri! Tolong jangan lari-lari begitu. Tuan putri bisa jatuh”

Seorang pelayan tampak sedang mengejar seorang wanita muda yang mengenakan gaun berwarna oranye muda dengan hiasan bunga di bagian ujungnya. Wanita muda itu adalah tuan putri kerajaan Union ini. Wajah tuan putri itu langsung merekah saat melihat sekumpulan orang yang masuk ke dalam istana.

“Ryosuke!!!”

Seorang laki-laki muda berpakaian rapi yang berada di antara kumpulan orang yang baru saja memasuki istana langsung menoleh ke arah balkon istana yang berada di lantai 2. Dia langsung tersenyum saat melihat sosok yang memanggilnya.

“Pangeran, semua sudah saya jalankan sesuai perintah anda”

Seorang laki-laki tinggi tiba-tiba mendekat ke arah laki-laki muda yang dipanggilnya pangeran tersebut.

“YUYA!!!”

Tuan putri itu sangat bersemangat saat melihat laki-laki tinggi yang dipanggil Yuya oleh tuan putri itu. Belum sempat Yuya menjawab, dia terkejut saat melihat tuan putri itu melompat turun dari lantai 2.

“WAA!!! TUAN PUTRI!”, seru pelayan yang mengikutinya dengan panik. Ryosuke yang melihatnya juga ikutan panik.

GREP! Yuya berhasil menangkap Tuan Putri sebelum menyentuh tanah. Ryosuke dan pelayan itu langsung menghela nafas lega saat melihat Tuan Putri itu baik-baik saja.

“Tu-an-pu-tri...”, geram Yuya. “Itu tadi sangat berbahaya. Kalau anda terluka bagaimana?”, omel Yuya.

“Daiki. Kau sudah kusuruh memanggilku seperti itu kan?”, Tuan putri yang bernama Daiki itu menunjukkan wajah cemberutnya.

“Tidak bisa Tuan putri. Anda adalah tuan putri negeri ini, jadi saya tidak pantas memanggil anda hanya dengan nama saja”, jawab Yuya. Daiki tetap menunjukkan wajah cemberutnya yang tampak sangat menggemaskan. Yuya akhirnya menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan memanggilmu Daiki. Tapi itu di saat kita Cuma berdua saja. Setuju?”

Daiki mengangguk pelan. Dia sebenarnya masih tidak terima. Tapi, Yuya mau memanggilnya ‘Daiki’ lagi itu sudah cukup baginya. Waktu kecil dulu Yuya sering memanggilnya Daiki, tapi semenjak dia menjadi pewaris tahta dan Yuya menjadi pengawal pribadinya, Yuya mulai memanggilnya Tuan Putri.

“Ayo berdiri tuan puteri. Gaun anda bisa kotor nanti”

Daiki menggeleng. Dia lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar seakan minta dipeluk. “Gendong..”

“Ha?”

“Kakiku sedikit sakit saat melompat tadi”

“Salahmu sendiri turun dengan cara seperti tadi”

“Gendong... Ayo gendong aku Yuya”, Daiki tetap mengulurkan kedua tangannya. Tapi Yuya tetap diam. Sama sekali tidak ada tanda kalau dia akan melakukan permintaan Daiki. “Ini perintah dari tuan puteri!”

Yuya menghela nafas panjang. Dia tidak bisa menolak kalau Daiki mengatakan ini adalah perintah. Yuya kemudian berjongkok di hadapan Daiki, bersiap untuk menggendongnya.

“Aku tidak mau digendong di belakang. Aku mau di depan!!!”

Daiki langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Yuya tanpa mendengar persetujuan dari Yuya. Yuya hanya bisa menghela napas. Dia kemudian mengangkat tubuh Daiki dengan kedua lengannya dan menggendongnya dengan gendongan ala tuan puteri seperti yang diinginkan Daiki.

“Pangeran, saya minta ijin untuk mengantar tuan putri terlebih dahulu”

“Ah... silahkan”, Ryosuke yang masih sedikit terkejut dengan adegan yang ditimbulkan oleh kakaknya itu hanya bisa meng-iya-kan.

Daiki tersenyum senang saat melihat Yuya menggendongnya masuk ke dalam istana. Semenjak Yuya ditunjuk menjadi pengawal pribadi Ryosuke, Daiki jadi jarang bertemu dengannya. Dulu, Yuya adalah pengawal pribadinya. Semenjak kedatangan Ryosuke yang menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta, Yuya ditunjuk sebagai pengawal pribadi Ryosuke, sedangkan Yuto ditunjuk sebagai pengawal pribadi Daiki.
Ryosuke dan Daiki memang bukan saudara kandung. Ryosuke adalah anak dari adik Yang Mulia Ratu Hikari, Yamada Kei. Suami Kei telah meninggal dunia. Raja Kota kemudian mengangkat Ryosuke sebagai anak untuk menggantikan posisi Daiki sebagai pewaris tahta. Menurut Raja, laki-laki lebih pantas menjadi pewaris tahta daripada perempuan. Raja juga kasihan pada puterinya, Daiki, bila dia menjadi pewaris tahta. Ada beberapa hal yang cukup berat dijalankan bagi seorang perempuan sebagai pewaris tahta.

Daiki sama sekali tidak keberatan dengan keputusan ayahnya itu. dia malah tampak sangat gembira. Selain karena dia terbebas dari tugas berat sebagai pewaris tahta, dia juga mendapatkan seorang adik baru. Selama ini Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia sering merasa kesepian. Hanya Yuya saja menemaninya bermain.

Satu hal lagi yang membuat Daiki sangat senang. Terbebas dari pewaris tahta, itu berarti dia terbebas dari perjodohan. Selama ini, calon raja akan menikah dengan orang yang sudah ditentukan oleh para petinggi kerajaan. Dulu Daiki sangat keberatan dengan aturan itu karena dia diam-diam menyukai teman sejak kecilnya sekaligus pengawal pribadinya itu. Si Takaki Yuya. Tapi, begitu dia terbebas dari jabatan sebagai pewaris tahta, maka ada kesempatan baginya untuk menikah dengan Yuya.

Tapi, cinta tidak berjalan mulus seperti yang Daiki kira. Raja Kota memerintahkan agar Yuya menjadi pengawal pribadi Ryosuke. Tentu saja hal ini membuat Daiki keberatan. Berkali-kali Daiki meminta kepada Raja Kota, ayahnya, agar tetap menjadikan Yuya sebagai pengawal pribadinya, tapi ditolak oleh Yang Mulia Raja. Alasannya adalah karena Yuya adalah pengawal yang paling jago, sehingga dia bisa dipercaya untuk menjaga si pewaris tahta yang baru.

“Hei, hei, Yuya...”, bisik Yuya.

“Apa?”

“Nanti malam pesta ulang tahunku”

“Aku tahu”

“Nanti malam aku berumur 16 tahun”

“Aku tahu”

“Di umur 16 tahun kita sudah boleh menikah kan?”

“Iya”

Daiki merengut kesal karena Yuya hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat. Daiki akan membuka mulutnya lagi untuk berbicara, tapi Yuya telah memotong pembicaraannya.

“Kita sudah sampai tuan puteri”

Yuya membuka pintu kamar Daiki. Dengan hati-hati, Yuya menurunkan Daiki di atas kasur.

“TUAN PUTERI! TUAN PUTERI TIDAK APA-APA??”

Keito, pelayan pribadi Daiki tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Mukanya terlihat sangat pucat. Dia lalu berjongkok untuk memeriksa kedua kaki Daiki.

“TUAN PUTERI TIDAK APA-APA? TIDAK TERLUKA? ADUH... TUAN PUTERI... KENAPA TUAN PUTERI NEKAT MELOMPAT DARI LANTAI 2??? UNTUNG TAKAKI ADA DISANA. KALAU TIDAK, KALAU TERJADI SESUATU PADA TUAN PUTERI BAGAIMANA??? SAYA HARUS BAGAIMANA??? APA YANG AKAN SAYA KATAKAN PADA YANG MULIA RAJA???”

“Keito... tenanglah sedikit...”, Yuya berusaha menenangkan Keito sambil menutup telinga Daiki agar tidak terasa sakit saat mendengar suara Keito yang hampir seperti orang yang berteriak. “Tuan Puteri tidak apa-apa”

“MAAF... MAAFKAN SAYA TUAN PUTERI. HAMBA HANYA KHAWATIR DENGAN KESELAMATAN TUAN PUTERI”

“I-iya... aku tahu kok Keito. sudah cukup. Aku tidak apa-apa. Kakiku sama sekali tidak sakit kok”, balas Daiki. “Ah... ups...”, spontan Daiki langsung menutup mulutnya.

“Tidak sakit?”, Yuya melirik ke arah Daiki. “Apa maksudnya tidak sakit tu-an-pu-te-ri??”

“Habisnya... kalau aku tidak bilang begitu, kau tidak mau menggendongku kan?”

Yuya tersenyum. Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di pipi Daiki yang gembul. Dia kemudian mencubit kedua pipi Daiki. “Dasarr.... kupikir kakimu sakit beneran...”

“Ah, eh, aduh... sakit Yuya... aduh, jangan ditarik... nanti pipiku tambah melar... iya, aku janji tidak akan bohong lagi...”

Yuya menghentikan cubitannya. Daiki langsung memegangi kedua pipinya yang kemerahan akibat cubitan Yuya. Setelah mengelus kepala Daiki, Yuya langsung berbalik badan menuju keluar. Langkahnya sempat dihentikan oleh Daiki yang menarik bajunya.

“Mau kemana?”, tanya Daiki.

“Kemana? Ya kerja-lah... aku harus memantau keadaan kota”, jawab Yuya.

“Oh... begitu...”, Daiki sedikit kecewa saat Yuya harus pergi meninggalkannya. Dia sama sekali belum mau melepaskan baju Yuya.

“Tuan puteri? Bisa lepaskan bajuku?”

“Ah, eh iya...”, dengan berat hati, Daiki melepaskan pegangannya. Dia hanya bisa menatap sayu ke arah Yuya yang berjalan keluar tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.

“Uh... Padahal aku ingin bersamanya sedikit lagi...”, keluh Daiki.

“Tuan puteri, saya akan meminta pelayan wanita untuk mengambil baju yang baru, tuan puteri disini saja dulu”, sahut Keito.

Sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiran Daiki. Dia langsung tertawa pelan saat memikirkan rencananya itu. Dia segera meminta Keito untuk segera memanggil pelayan wanita.

“Yuya... tunggu aku”

---***---

Suasana kota cukup ramai. Lalu lintas yang padat, kerumunan orang yang akan pergi beraktivitas, menambah suasana ramai di kota. Suasana ini juga memancing kejahatan. Oleh karena itu, biasanya beberapa prajurit kerajaan akan berkeliling kota untuk berpatroli dan mengawasi. Inilah pekerjaan yang selalu dilakukan Yuya selain mengawal Pangeran Ryosuke.

“Bagaimana keadaan jalan?”, tanya Yuya pada salah seorang petugas keamanan yang sedang berjaga disana.

“Tidak ada yang berubah. Semua tetap aman terkendali”, jawab petugas itu.

“Bagus. Tetap waspada dan awasi lingkungan”, balas Yuya.

Yuya terus berjalan melanjutkan tugasnya. Dia terus memeriksa dan mengamati keadaan. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang terus mengikutinya sejak dia keluar dari istana. Sepasang mata itu berusaha mengikuti Yuya tanpa ketahuan.

“Tuan putri... ayo kembali saja...”, bujuk Keito pada Daiki yang ternyata sedang mengikuti Yuya dengan menyamar menjadi seorang pelayan.

“Tidak mau. Kalau kau ingin kembali, kembali saja sendiri. aku masih mau disini”

“Aduh tuan putri... nanti Nakajima marah pada saya. Seharusnya kalau tuan putri mau keluar, tuan putri lapor dulu pada Nakajima”

Daiki menggembungkan pipinya. “Ogah... Yuto gak asyik sih. Uh.. aku pengen tukar...”

Daiki kembali mengamati Yuya. tapi sosok yang diikutinya sudah menghilang dari pandangan. “Yah... Keito.... gara-gara kamu, kita kehilangan jejaknya... Huhuhu... Yuya...”, Daiki mulai merengek.

“Eh? Aduh tuan putri, jangan nangis. Aduh... bagaimana ini?”, ucap Keito yang mulai panik melihat tuan putri cilik yang ada di hadapannya itu mulai menitikkan air mata. Dia kemudian melihat ke arah penjual pocky yang tidak jauh dari mereka. “Ah, tuan putri, tunggu sebentar ya”.

Keito kemudian berlari menuju ke penjual pocky untuk membelikan sebungkus pocky untuk tuan putri. Tuan putri sangat suka pocky. Keito berharap pocky yang dibelinya itu bisa menghibur hati si tuan putri.

“Huhuhu... Yuya... Huhuhu... “, rengek Daiki di tempat persembunyiannya.

“LEPASKAN!”

Tangisan Daiki langsung berhenti saat mendengar suara teriakan. Tidak lama kemudian ada beberapa orang mulai mengerumuni suatu tempat. Karena penasaran, Daiki langsung menuju kerumunan orang.
Dengan tubuhnya yang kecil, Daiki berhasil menyelinap masuk ke dalam kerumunan dan menuju ke bagian depan. Kini dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. ada seorang wanita yang sedang dihadang oleh sekelompok pria yang Daiki duga adalah kelompok preman. Dari pembicaraan orang-orang yang ada di dekatnya, Daiki bisa menyimpulkan kalau sekelompok preman itu meminta pertanggungjawaban dari wanita itu karena tanpa sengaja menabraknya.
Salah seorang preman mulai mengarahkan salah satu tangannya ke arah wanita itu. Tampaknya preman itu berniat memukul wanita itu. Daiki langsung berlari menuju ke arah wanita itu dan melindunginya dengan badannya. Pukulan preman itu berhasil mendarat dengan mulus di muka chubby tuan putri itu.

“Aduh... sakit...”, Daiki meringis sambil memegangi pipinya yang sedikit memar akibat pukulan preman tersebut.

“Minggir kau pelayan! Aku punya urusan dengan wanita yang ada di belakangmu!”, seru salah seorang preman.
Daiki menggeleng. Dia masih melindungi wanita itu dengan tubuhnya.

“Tidak mau! Kalian tidak boleh menganiaya orang yang lemah!”

“Cih! Wanita pelayan ini... ayo kita hajar dia juga!”
Daiki mulai gemetar ketakutan. Dia sangat takut melihat gerombolan preman ini. Daiki ingin lari. Tapi dia tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian.

Salah seorang preman mulai bersiap menghajarnya. Daiki langsung memejamkan matanya karena takut. Sekilas sosok seseorang muncul di kepalanya.

“Hiks.. hiks.. hiks.. YUYA!!!”
BRUAGH. Terdengar suara sesuatu yang sedang jatuh. Tidak lama, terdengar juga suara baku hantam. Daiki mulai membuka matanya. Dia tersenyum senang saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“YUYA!”, jerit Daiki.

“TUAN PUTRI! TUAN PUTRI TIDAK APA-APA?”, Keito tiba-tiba datang bersama dengan Yuto. Wajah panik Keito terlihat jelas sekali. Daiki merasa sedikit bersalah karena membuat bawahannya cemas.

“Berani-beraninya kalian mengeroyok perempuan kecil hah? Kalian sama sekali tidak akan kuampuni!”

Yuya menggeram marah sambil mengepalkan kedua tangannya. Beberapa preman itu mulai mundur ketakutan dan berlari. Tapi disaat mereka akan lari, Yuto dengan sigap menghadang preman itu dan melumpuhkan mereka semua.

“YUUYAAA.....”, Daiki langsung berlari untuk memeluk Yuya.
GREP. Yuya memegang kepala Daiki dengan satu tangan. BLETAK! Yuya kemudian menjitak pelan kepala tuan putri tersebut.
“Yuya kejam...”, Daiki merintih pelan.

“Daiki.... sudah kubilang kan. Jangan keluyuran sendirian. Aduh... kenapa kau susah sekali dibilangin sih?”, Yuya tiba-tiba memeluk Daiki dengan erat. Saking eratnya sampai Daiki merasa sedikit sesak. “Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bagaimana”

“Maaf... maafkan aku...”, ucap Daiki sambil sedikit terisak. “Huu... aku takut sekali tadi...”, kali ini giliran Daiki yang memeluk erat Yuya.

Yuya terdiam saat menyadari sosok kecil yang ada di pelukannya itu gemetar karena ketakutan. “Sudah, sudah, semua sudah berakhir kok. Tenanglah”, ucap Yuya sambil berusaha menghilangkan rasa takut yang ada di dalam diri tuan putri ini.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang anda lakukan tuan putri?”, tanya Yuya tiba-tiba. “Kenapa anda berpakaian seperti itu?”, tanya Yuya sekali lagi saat sadar dengan seragam pelayan yang dikenakan oleh Daiki.

“Aku...”, Daiki diam tidak bisa menjawab. Tidak mungkin dia cerita kalau dia sedang menguntit Yuya kan? “Aku ingin berjalan-jalan di kota dengan bebas. Kalau aku mengenakan pakaianku yang biasanya, maka mereka akan segera mengenaliku sebagai puteri kerajaan dan aku tidak bisa menikmati jalan-jalanku kan?”

“Benar itu alasannya?”, Yuya masih merasa sedikit curiga dengan alasan yang diberikan oleh tuan puteri kecilnya itu. Daiki memang terkenal memiliki ide yang sedikit gila dan sudah tidak terhitung berapa kalinya dia merepotkan Yuya dan pegawai istana yang lain.
Daiki mengangguk sambil menunduk. Dia tidak berani bertatapan muka langsung dengan Yuya. Daiki tahu dia tidak akan semudah itu menyembunyikan sesuatu dari Yuya. kebersamaan mereka membuat mereka mengenal dan saling mengerti satu sama lain.
Yuya menghela nafas panjang. “Baiklah. Kalau begitu ayo pulang Tuan Puteri”

“Tidak mau! Aku masih mau jalan-jalan!”

Yuya menatap Daiki. sikap Daiki menunjukkan kalau dia bersikeras tidak mau pulang dan mau tetap berada disana. Sekeras apapun usaha Yuya, maka itu akan percuma.

“Haahh....”, Yuya menghela napas panjang. dia kemudian melepas jas seragamnya dan memberikannya pada Keito. “Aku titip ini. ayo pergi Tuan puteri”

“Eh? Eh?”, Daiki masih bingung dengan sikap Yuya.

Yuya menarik tangan Daiki dan menggandengnya. “Tuan puteri mau jalan-jalan kan? Jadi akan kutemani. Tapi tidak bisa lama-lama ya, setelah tuan puteri puas jalan-jalan, kita akan langsung pulang”. Yuya melihat ke arah Keito. “Sampaikan pada Yang Mulia, Tuan puteri ada bersamaku, tidak usah khawatir”

“Ah baik. Berhati-hatilah di jalan”. Keito membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan Yuya dan Daiki. Bersama dengan Yuto, Keito kembali ke istana.

Daiki melihat Yuya yang masih menggandeng tangannya. Daiki memperat gandengannya dan tidak ingin melepaskannya. Dia sangat senang Yuya mau menemaninya.

“Nah, kita mau kemana?”, tanya Yuya

“Entah. Terserah Yuya saja”

“Lha kok terserah aku? Kan yang mau jalan-jalan tuan puteri”

“Daiki!”

“Eh?”

“Kan kau sudah janji akan memanggilku ‘Daiki’ kalau kita Cuma berdua”, Daiki memonyongkan bibirnya, wajahnya tampak sangat menggemaskan. Yuya menahan senyum saat melihat wajah tuan puteri serta teman masa kecilnya itu.

“Iya Daiki. sekarang kita mau kemana?”

“Kau yang menunjukkan jalannya. Aku tidak terlalu hapal kota ini. Aku kan jarang keluar”.

Raut wajah Daiki menjadi sedikit muram. Karena dia adalah salah satu anggota keluarga kerajaan, maka dia tidak bisa sembarangan keluar istana. Terkadang Daiki iri dengan Ryosuke yang bisa bebas keluar istana karena dia adalah penerus tahta kerajaan. Sebagai penerus, Ryosuke harus tahu situasi negara dan keadaan masyarakat.

Yuya menjadi merasa kasihan pada Daiki. Tidak tega melihat teman kecilnya sedih, Yuya akhirnya memutuskan mengajaknya jalan-jalan untuk bersenang-senang. ‘Sekali-kali tidak apa-apa deh’, batin Yuya.

“Baiklah, kita jalan-jalan saja yuk”

Yuya menggandeng tangan Daiki dan mengajaknya berkeliling. Daiki sangat senang. Dia merasa sedang berkencan dengan Yuya. Ini bukan pertama kalinya mereka berdua keluar bersama. Tapi sudah bertahun-tahun Daiki tidak keluar bersama dengan Yuya. Ya, sejak Daiki tidak menjadi penerus tahta lagi, semenjak itulah Daiki tidak pernah bersama dengan Yuya lagi. Dan semenjak itu pula Daiki terus merengek pada ayahnya untuk mengembalikan Yuya menjadi pengawal pribadinya dan selalu ditolak oleh ayahnya.

Daiki berhenti di sebuah etalase toko. Dia melihat sepasang cincin perak bergambar penguin. “Lucunya...”, gumam Daiki saat melihat cincin itu. “Enaknya kalau aku bisa memakai cincin itu bersama dengan Yuya”. Daiki langsung membayangkan dirinya dan Yuya memakai cincin itu. “Kyaa!!! Itu seperti cincin tunangan saja!”. Daiki tenggelam dalam khayalannya sendiri.

“Kau sedang melihat apa?”, Yuya tiba-tiba berdiri di belakang Daiki dan hampir membuat jantung puteri itu copot.

“Ah, eh, itu...”, Daiki menunjuk ke arah sepasang cincin perak bergambar penguin yang dilihatnya. “Lucu kan? Aku mau cincin itu”. daiki menatap Yuya penuh harap. Dalam hatinya dia berharap Yuya juga menginginkan cincin itu dan memakainya bersama.

“Ah iya, itu lucu”, Yuya hanya menjawab datar. Berlawanan dengan harapan Daiki. daiki sedikit kecewa saat Yuya membalasnya dengan biasa saja. “Ayo kita pulang Daiki, sudah hampir malam”

Daiki mengangguk. Dengan wajah sedikit tertunduk, dia berjalan meninggalkan toko itu. “iya ya, yang suka itu hanya aku sendiri”, gumam Daiki.

Yuya berjalan mengikuti Daiki dari belakang. Tanpa Daiki sadari, Yuya melihat sekali lagi ke arah cincin yang ditunjuk oleh Daiki. Sebuah senyum tergambar di wajahnya.

Daiki dan Yuya telah kembali ke istana. Mereka berdua disambut oleh Keito yang sudah menanti kepulangan mereka. keito segera memberikan jas seragam Yuya.

“Kau sudah pulang Daiki”, Yabu, raja Union menghampiri anaknya.

“Iya, ayah”

“Segera ganti bajumu. Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Ini mengenai pertunanganmu”

---***---

“Apa maksud ayah dengan pertunangan? Bukankah ayah bilang kalau aku tidak akan dijodohkan dengan siapapun, ya kan Yuri?”

Pelayan yang bernama Yuri itu hanya mengangguk dan melanjutkan tugasnya untuk merapikan rambut Daiki yang berantakan.

“Tuan puteri habis keluar bersama dengan Takaki ya?”, tanya pelayan itu sambil tersenyum menggoda.

Daiki mengangguk. Wajahnya terlihat bahagia. “Benar sekali! Kau tahu Yuri, Yuya mengajakku berkeliling. Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Selama perjalanan dia juga berbicara banyak denganku. Ah... benar-benar hari yang indah. Aku sangat senang sekali”

Yuri hanya tersenyum mendengarkan tuan puterinya bercerita. Yuri tahu betul kalau Daiki sangat menyukai Yuya. Sama seperti Yuya, sejak kecil Yuri sudah bekerja di istana. Tapi dia baru menjadi pelayan pribadi Daiki akhir-akhir ini. Keito yang menunjuknya sebagai asistennya.

Yuri dan Yuya adalah teman sejak kecil. Karena sama-sama bekerja untuk keluarga istana, mereka sering bertemu dan menjadi akrab. Yuri menganggap Yuya sebagai kakaknya. Bahkan dia memanggil Yuya dengan nama depannya. Tapi sekarang dia memanggil Yuya dengan sebutan ‘Takaki’. Hal ini disebabkan karena dia secara tidak sengaja melihat Daiki memarahi Yuya karena ada perempuan selain dia memanggil Yuya dengan nama kecilnya. Tidak tega melihat kakaknya dimarahi, mulai saat itu Yuri memanggil Yuya dengan nama belakangnya.

“Kau tahu Yuri, tadi aku melihat cincin yang bagus dan lucu!!! Cincin itu berlapis perak dan bergambar penguin! Cincinnya sepasang lagi! Benar-benar cincin pasangan!”

Yuri tersenyum. “Tuan puteri ingin memakai cincin itu dengan Takaki kan?”

Daiki mengangguk. “Iya! Tapi, Yuya hanya mengangguk biasa dan segera pergi begitu saja. tampaknya dia tidak tertarik sama sekali”. Raut wajah Daiki terlihat sedikit lesu.

Tok! Tok! Tok!

“Kakak, ini aku”, terdengar suara dari balik pintu.

“Ryosuke? Masuklah. Aku sudah selesai kok”

Ryosuke segera masuk ke dalam ruangan. yuri menunduk hormat pada Ryosuke. Ryosuke membalasnya dengan senyum.

“Kakak kemana tadi siang? Yuto terlihat marah saat mengetahui kakak tidak ada di kamar. Dia langsung memerintahkan semua pasukan di istana untuk mencari kakak”

“Uhh... Yuto lebay deh. Aku kan Cuma jalan-jalan sebentar”

“tapi setidaknya tuan puteri bisa memberitahu saya terlebih dahulu”, Yuto tiba-tiba masuk ke dalam kamar. “Tugas saya melindungi tuan puteri, jadi saya harus selalu mengawal tuan puteri”

“Tidak mau! Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan melarangku keluar. Benar kan?”. Yuto diam tidak menjawab. “Tuh, makanya aku tidak suka Yuto. Yuto terlalu kaku!”

“Suka atau tidak suka, sayalah yang ditunjuk untuk mengawal tuan puteri. Itu keputusan Yang Mulia”, kata Yuto mantap. Daiki hanya bisa menggembungkan pipinya yang gembul itu.

“Sudah, sudah”. Ryosuke berusaha melerai pertengkaran majikan dan pelayan itu. “Kakak, Yang Mulia sudah menunggu”. Ryosuke mengajak Daiki keluar. Yuto mengikuti mereka berdua dari belakang. Sedangkan Yuri kembali ke tempat pelayan karena tugasnya telah selesai.

Daiki melihat ke arah Ryosuke dengan heran. Dia terus menatap sekeliling. “Ryosuke, Yuya mana?”. Daiki merasa aneh tidak melihat Yuya, yang merupakan pengawal pribadi Ryosuke, tidak berada di samping Ryosuke.

“Tadi dia ijin keluar sebentar. Mungkin ada perlu”, jawab Ryosuke.

“Yah...”, daiki langsung menunduk lesu saat tahu Yuya tidak ada di dekatnya. “Aku mau mampir ke toilet sebentar”

Daiki langsung masuk ke toilet. Ryosuke dan Yuto menunggu di pintu keluar dengan sabar.

“Eh, eh, kau tahu? Yang Mulia katanya akan menyiapkan pesta pertunangan untuk Tuan Puteri Daiki”, Daiki tiba-tiba mendengar suara beberapa pelayan yang sedang berbicara. Mereka sepertinya sedang bekerja membersihkan kamar mandi. Tampaknya pelayan - pelayan itu tidak sadar Daiki ada di dalam. Mereka terus melanjutkan pembicaraan tanpa sadar kalau Daiki juga mendengarnya.

“Pesta? Tuan puteri Daiki akan dijodohkan?”

“Sepertinya begitu. Usia tuan puteri sebentar lagi 16 tahun kan? Sudah cukup umur untuk menikah”

“Eh, lalu siapa calon tunangan tuan puteri?”

“Tadi siang aku melihat pangeran Ryutaro datang kemari. Apa jangan-jangan dia calon pasangan tuan puteri?”

Deg. Jantung Daiki tiba-tiba terasa berhenti mendadak. ‘Apa? Aku dijodohkan? Bukankah aku bebas memilih pasangan?’

“Apa itu benar?”, Daiki tiba-tiba ikut bersuara sehingga mengagetkan para pelayan yang sedang sibuk bergosip itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Daiki akan mendengarkan pembicaraan mereka.

“Hiks... Hiks... Aku tidak mau dijodohkan”, Daiki tiba-tiba menangis. Membuat para pelayan itu panik. Mereka kemudian sibuk menenangkan Daiki. karena mereka tahu kalau nanti mereka akan dimarahi oleh Keito, Yuto, dan Yuya. “Huwaa....!!!!”

Daiki tiba-tiba berlari keluar. Melewati Yuto dan Ryosuke yang sedang menunggunya. “Kakak?”, Ryosuke memanggil Daiki, tapi Daiki terus berlari menjauh. Meninggalkan tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi. Para pelayan itu kemudian menceritakan apa yang terjadi di dalam toilet. Seperti yang sudah mereka duga, Yuto langsung memarahi mereka karena sudah membicarakan hal yang tidak perlu dan sudah membuat tuan puteri manja itu menangis.

“Aku akan mencari kakak. Ayo Yuto”

Ryosuke dan Yuto kemudian berpencar mencari Daiki. Tidak mudah menemukan tuan puteri kecil itu. Sejak dulu, Daiki paling pintar bersembunyi dan melarikan diri. Dia sering bersembunyi saat dia sedang marah. Daiki baru akan keluar dari persembunyiannya saat dia lapar.

Yuto segera mencari Keito dan meminta bantuannya untuk mencari Daiki. keito langsung panik saat Yuto memberitahu kalau Daiki menghilang. Tapi dia langsung mengatasi kepanikannya dan memerintahkan seluruh pelayan di istana untuk mencarinya. Yuto pun memerintahkan seluruh prajurit yang berjaga untuk mencari keberadaan Daiki.

“Bagaimana? Daiki sudah ketemu ryo-chan?”, tanya Yang Mulia. Ryosuke menggeleng. Sudah setengah jam berlalu saat Ryosuke memberitahu Yabu kalau Daiki menghilang. Dan sampai sekarang tidak ada yang bisa menemukannya. Ini bukan pertama kalinya Daiki menghilang. Daiki sering bersembunyi dan selama itu tidak ada yang pernah bisa menemukan Daiki.

“Yuya... dimana kau?”, gumam Ryosuke. Dia tahu kalau Yuya adalah umpan terbaik untuk memancing Daiki keluar. Daiki akan segera keluar saat Yuya memanggilnya. Tapi kini, pengawal pribadi pangeran itu sama sekali tidak ada di istana. Jadi, tidak ada seorangpun yang bisa memanggil Daiki.

“KYAAAAA!!!! TUAN PUTERI SEDANG APA?!”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Keito dari halaman. Ryosuke dan Raja segera menuju ke arah teriakan tersebut. Jantung mereka hampir berhenti berdetak saat melihat Daiki sedang berdiri di salah cabang pohon yang cukup tinggi. Tidak lama kemudian Yuto dan beberapa pelayan istana yang lain juga berkumpul disana.

“TUAN PUTERI!!! DISANA BAHAYA! AYO CEPAT TURUN!!!” seru Keito lagi. Keito sungguh-sungguh panik. Jika terjadi sesuatu pada Daiki, maka Keito tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

“TIDAK MAU!! AKU MAU MATI SAJA!!!”

“Kenapa dia mendadak seperti itu?” tanya Raja pada Ryosuke.

“Ah... itu kan salah raja sendiri yang mau menjodohkan Dai-chan dengan orang lain” balas Ryosuke.

“Eh tapi... kukira dia akan senang dengan perjodohan itu. Bukankah itu yang selalu diinginkan Daiki?” ujar Raja lagi.

“Eh? Apa maksudnya?” tanya Ryosuke lagi.

Tapi belum sempat raja menjawab lagi, perhatian mereka teralihkan ke Daiki lagi yang kini benar-benar berniat untuk lompat.

“TUAN PUTERIII!!! TOLONG TETAP DIAM DISITU! JANGAN BERTINDAK GEGABAH”

“KALAU AKU TIDAK BERSAMA DENGAN YUYA, LEBIH BAIK AKU MATI SAJA!”

“Tidak bersama denganku? Apa maksudnya?” Yuya tiba-tiba datang dari arah kerumunan. Daiki terdiam melihat sosok Yuya yang tiba-tiba muncul. Yuya berjalan mendekat ke arah pohon besar dimana Daiki berada. “Apalagi yang kau lakukan tuan puteri?”

“Hiks... Yuyaa... Mereka... akan menjodohkanku dengan pangeran Ryutaro... Hiks...”

“Pangeran Ryutaro?” seru raja dan Yuya bersamaan.

“Tunggu... Daichan, siapa yang bilang kalau kau akan dijodohkan dengan pangeran Ryutaro?” tanya Raja yang tampak sangat kebingungan dengan ucapan Daiki.

“Hiks... para pelayan... hiks... yang bilang. Mereka bilang... pangeran Ryutaro datang kemari karena akan dijodohkan denganku... Hiks”

Yuto sekali lagi melemparkan pandangan tajam ke arah para pelayan. Para pelayan yang tadi bergosip segera menundukkan kepala karena takut. Hukuman telah menanti bagi mereka karena sudah membuat tuan puteri Daiki menangis.

“Pangeran Ryutaro datang kemari karena membicarakan masalah bisnis Daichan... tidak ada hubungannya dengan pertunanganmu” jawab Raja.

“Eh? Jadi bukan dengan pangeran Ryutaro?” Daiki kebingungan “lalu dengan siapa?”

Raja tersenyum. Dia berjalan ke arah Yuya dan menepuk kedua bahunya. “Dengan dia. Kau sangat menyukainya kan?”

“EEHHH?!?!?!” Seluruh orang yang ada disana terkejut, kecuali Raja dan Yuya.

“Ahh... kejutannya jadi batal deh. Padahal niat awalnya aku baru akan memberitahumu saat pesta. Maaf kejutan kita batal Yuya”

“Tidak apa-apa Yang Mulia”

“EH? EHH?? EHHH??? Tunggu dulu!!! Papa mau menjodohkanku dengan Yuya?! YANG BENAR?!”

“Kenapa? Tuan puteri lebih suka kalau dijodohkan dengan Pangeran Ryutaro?” sahut Yuya.

“TIDAK!!! AKU MAU DENGAN YUYAAA!!!!” seru Daiki sambil melompat dari atas pohon.

“WAAAA!!! TUAN PUTERIIII!!!!” seru Keito panik.

Dengan sigap Yuya langsung menangkap Daiki sebelum mengenai tanah. Daiki langsung memeluk erat Yuya.

“Kita akan menikah! Kita akan menikah!” seru Daiki kegirangan.

“Tu-an-pu-te-ri... kalau ini terjadi lagi...”

“AKU AKAN MENIKAH DENGAN YUYAA!!!” potong Daiki tanpa mempedulikan Yuya yang melotot tajam ke arahnya.

---***---

Pesta ulang tahun Daiki berlangsung meriah. Meskipun sebelum pesta, anggota kerajaan dibuat repot oleh tingkah ‘bunuh diri’ sang tuan puteri, tapi syukurlah semua berakhir dengan baik.

“YUYAAA!!!!” Daiki berlari ke arah Yuya yang sedang berdiri di samping Ryosuke. “Kenapa kau bersama dengan Ryo-chan?!”

“Kenapa? Kan ini memang sudah tugasku. Menjaga ahli waris kerajaan”

Daiki cemberut. “Tapi kau tunanganku! Harusnya kau bersamaku hari ini!”

“Daiki...”

“Tidak ada tapi-tapian! Kau harus bersamaku!” Daiki merangkul lengan Yuya dengan erat dan berusaha menarik Yuya dari sisi Ryosuke.

Ryosuke yang tertawa geli melihat tingkah kakaknya akhirnya menyuruh Yuya pergi menemani Daiki. Yuya memanggil Yuto untuk menggantikan tugasnya menjaga Ryosuke.

“Daiki... kau tidak boleh egois begitu. Aku punya pekerjaan”

“Tapi... ini hari istimewaku. Aku ingin kau menemaniku...” Daiki melepaskan pelukannya dann menunduk lesu.

Yuya menghela nafas. “Aku mengerti” Yuya berdiri di depan Daiki kemudian membungkukkan tubuhnya sambil mengulurkan tangannya. “Bolehkah hamba menemani tuan puteri?”

“Dengan senang hati!” Daiki tersenyum sambil meraih tangan Yuya.

Sepanjang pesta, Daiki sama sekali tidak melepaskan tangan Yuya. Tangan mereka berdua seperti lengket terkena lem. Bahkan Daiki hampir tidak mengijinkan Yuya pergi ke toilet karena dia takut Yuya akan menghilang. Setelah argumen selama 15 menit, barulah Yuya bisa pergi ke toilet.

---***---

“Akhirnya... aku capek sekali”

Daiki langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Tubuhnya terasa sangat capek setelah pesta usai. Yuya membantu Daiki melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

“Daiki...”

“Hmm?” jawab Daiki sambil tetap berbaring.

“Selamat ulangtahun”

Yuya memberikan sebuah kotak kecil kepada Daiki. Daiki langsung terlihat gembira dan segera mengambil kotak itu untuk melihat isinya. Matanya langsung berbinar-binar saat melihat sepasang cincin perak bergambar penguin yang sangat diinginkannya. Yuya mengambil salah satu cincin tersebut dan memakaikannya di jari manis Daiki.

“Syukurlah, ukurannya pas” ucap Yuya sambil tersenyum.

Daiki pun segera melakukan hal yang sama. Dia mengambil cincin yang masih tersisa di dalam kotak dan memakaikannya di jari manis Yuya. Mereka berdua tersenyum sambil melihat jari masing-masing.

Yuya menatap lurus ke mata Daiki. Membuat Daiki sedikit gugup dan tersipu. Dengan pelan Yuya mengusap pipi Daiki.

“Daiki... selamat ulang tahun”

Yuya mendekatkan wajahnya dan dengan lembut menempelkan bibirnya ke bibir mungil sang tuan puteri. Ciuman yang sangat singkat dan lembut tapi cukup membuat pipi Daiki bersemu merah. Yuya tersenyum geli melihat tuan puteri yang biasanya tidak bisa diam itu kini cuma bisa menunduk malu.

“Selamat ulang tahun, my princess~”

TAMAT

Rabu, 08 Februari 2017

BELAJAR

~YabuNoo~

"Kei... Aku bisa gila"

"Bertahanlah Ko-chan! Tinggal sedikit lagi"

Yabu menggaruk kepalanya karena stres. Rambutnya bahkan berantakan karena Yabu sering menggaruknya, menjambaknya, dan mengacaknya. Sungguh dia ingin kabur saja.

Yabu ingin muntah disaat Inoo datang dengan setumpuk buku tebal. Bahkan senyuman malaikat Inoo kini terlihat seperti senyum iblis di matanya.

"Kei... Sudah cukup" pinta Yabu sambil sedikit meringis.

"Tidak bisa Ko-chan... Ini semua masih kurang" Inoo mengusap kepala Yabu dengan lembut.

"Nilaiku sudah cukup bagus Kei... Bahkan aku selalu berada di 5 besar"

Inoo menggeleng. "Itu masih kurang Ko-chan... Kau harus berada di 3 besar. Terlebih lagi aku ingin kita masuk ke universitas yang sama. Kau ingin berpisah denganku saat kita lulus nanti? Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak ingin berpisah denganku meskipun kita lulus"

Yabu menghela napas pasrah. Itu semua akibat kata-katanya sendiri. Dia memang sangat menyayangi Inoo sehingga tidak ingin berpisah darinya. Tapi berkat ucapannya itu, Inoo malah memaksanya belajar setiap hari. Tidak ada kencan romantis saat mereka berdua bertemu. Hanya ada kata 'belajar'.

"Inilah deritanya kalau kau berpacaran dengan anak jenius yang selalu ranking 1 di sekolah" gumam Yabu.

~TakaDai~

"Daiki~"

Yuya memeluk Daiki manja dari belakang. Dari nada suaranya Daiki tahu kalau Yuya ingin meminta sesuatu.

"Apa?"

"Kencan yuk. Kita sudah lama tidak pergi kencan"

"Tidak bisa Yuya. Aku harus belajar"

"Lagi? Kenapa sih kau ini suka sekalu dengan yang namanya belajar?" Yuya cemberut.

"Kita sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir. Aku tidak mau lulus dengan nilai jelek"

"Tapi kencan sekali tidak akan membuatmu jadi bodoh" Yuya merajuk.

"Tidak bisa. Aku harus belajar" Daiki merapikan bukunya tapi Yuya terus melihatnya dengan pandangan memohon. "Gini aja deh, kalau ujian minggu depan nilaimu bagus, aku akan menuruti semua permintaanmu"

"Kau serius?!" Yuya melebarkan matanya.

"Mau kencan atau apapun itu terserah. Aku akan menuruti permintaanmu asalkan nilaimu lebih bagus dariku"

Yuya menyeringai. "Oke. Setuju. Janji ya. Kau akan melakukan apapun yang kuminta kalau aku menang. A-pa-pun"

Yuya kembali ke mejanya dan mulai membuka bukunya untuk belajar. Daiki sedikit tersenyum saat melihat Yuya yang serius belajar.

"Si baka itu serius kalau ada maunya saja" Daiki kembali fokus ke bukunya. Dia ingin kembali fokus belajar karena dia tidak ingin kalah dari Yuya. Daiki bergidik ngeri karena kurang lebih dia tahu apa yang dimaksud dengan 'apapun' yang Yuya rencanakan.

~HikaToJima~

Hikaru melirik ke dalam suatu kelas. Matanya melebar saat menemukan orang yang dia cari. Dengan langkah gembira dia menuju orang tersebut.

"Keito, tolong ajari aku!"

Keito terkejut ketika ada dua orang berdiri di depannya sambil menyodorkan buku bahasa Inggris. Kedua orang itu juga sama kagetnya. Mereka melihat satu sama lain dengan muka kesal.

"Cih, kau lagi"

"Hikaru-kun juga, kenapa disini? Ini ruangan kelas 2. Kelas 3 kan di lantai yang lain"

"Aku hanya ingin minta diajari oleh Keito"

"Kakak kelas minta diajari adik kelas? Memalukan" ejek Yuto.

"Setidaknya nilai bahasa inggrisku jauh lebih baik darimu. Orang yang selalu mendapat nilai 0 saat ujian" Hikaru balas mengejek.

"Kalau begitu, kau kan bisa belajar sendiri. Tidak usah minta bantuan Keito"

"Hei, terserah aku mau minta diajari Keito atau tidak. Sebelum kau minta diajari olehnya, perbaiki dulu susunan otakmu. Kau cuma akan menyusahkan Keito nanti"

"Kenapa kau yang mengaturku? Itu kan haknya Keito mau mengajari siapa, ya kan Keito?" Yuto menoleh ke arah meja Keito dan kaget saat melihat bangkunya kosong. "Loh? Kemana dia?"

"Keito! Keito!" dua orang itu berteriak mencari Keito yang tiba-tiba menghilang.

Keito yang mendengar teriakan dua orang itu langsung mempercepat langkahnya. Dia ingin bersembunyi dari dua orang itu.

"Menyeramkan... Dua orang itu menyeramkan" gumam Keito.

END

NGIDAM

Genre : mpreg (?) atau terserah kalian bayanginnya gimana, mau gender switch juga boleh.

~YabuNoo~

Kringg... Kringg...

Yabu menggerutu kesal. Ini sudah kesekian kalinya hpnya berdering. Dia meraih hpnya dengan malas dan melihat jamnya, pukul 01.00 dini hari. Tanpa melihat nama pemanggilnya, Yabu tahu itu telepon dari siapa.

"Apa Kei???"

"Kotaa... Aku mau nasi..."

"Kau sudah makan 15 mangkuk nasi hari ini Kei..."

"Tapi aku masih lapar... Dedek juga lapar"

"Tapi ini tengah malam Kei"

"Tapi aku lapar"

Yabu menghela nafasnya. "Iya, iya, akan kubuatkan. Nasi dengan potongan tomat kan?"

"Sankyuu My lovely husband~" ucap Kei manja.

"Satu lagi Kei, berhenti meneleponku tengah malam"

"Eh? Kenapa? Aku istrimu"

Yabu memutar tubuhnya, "Kau tidur persis di sebelahku. Kau bisa saja langsung membangunkanku tanpa perlu meneleponku. Baka!" Yabu mencubit pelan hidung Kei.
Kei tertawa pelan, "Gomen Kota, kebiasaan~"

----------

~TakaDai~

"Aku mau Haruka!!!!"

Takaki terkejut setengah mati saat mendengar jeritan Daiki. Hampir saja dia terpeleset saat buru-buru keluar dari kamar mandi.

"Ada apa Daiki?"

"Yuya... Aku mau Haruka..."

"Haruka?"

"Iya" Daiki menunjukkan koleksi stiker JKT48 hadiah dari pocky yang dikumpulkannya. "Aku tidak punya stiker Haruka"

"Tapi kau sudah punya 50 lebih stiker member yang lain. Itu masih kurang?"

"Aku mau Haruka. Kau tahu kan kalau sebentar lagi Haruka mau graduate? Aku mau mengumpulkannya sebagai kenang-kenangan"

"Yuya..." Daiki mulai melancarkan aksi manjanya "Belikan pocky lagi ya?"

"Tidak" jawab Takaki tegas. "Janinmu butuh makanan lain selain pocky"

Daiki cemberut. "Takaki Yuya! Kau tidur di luar malam ini kalau kau tidak mendapatkan pocky stiker Haruka!!!"

Takaki hanya bisa melongo melihat Daiki membanting pintu kamarnya dengan kasar.

------

~YamaChii~

Yamada tampak kebingungan sambil terus memegangi hpnya. Sesekali dia berjalan ke suatu arah, lalu berbalik lagi menuju ke arah lainnya.

"Yo! Yama-chan~"

Yamada terkejut dengan kehadiran seseorang, "Yuma?!"

"Sedang apa kau disini?" tanya Yuma yang sedari tadi sebenarnya melihat tingkah aneh Yamada.

"Mencari pokemon"

"Hah?!"

"Kau tidak tahu permainan Pokemon GO?"

"Aku tahu, tapi... Tidak kusangka kau sangat antusias memainkannya"

Yamada menghela napas, "ini semua permintaan Yuri"

"Chinen-kun? Kenapa?"

"Yuri sangat suka permainan ini. Dia memintaku untuk menangkap pokemon minimal 2 setiap harinya. Aku tidak boleh pulang sebelum menangkap pokemon baru"

"Kenapa dia tidak mencarinya sendiri?"

"Mana mungkin aku membiarkan Yuri yang sedang hamil berjalan seharian mencari pokemon? Jadi sebagai gantinya aku yang mencarinya"

Yuma hanya terdiam sementara Yamada berlari ke suatu tempat karena menemukan pokemon yang baru.

-----

~HikaToJima~

"Keito... Ayo duduk disini"

"Keito... Pelan-pelan, nanti kau jatuh"

Keito hanya terdiam saat Hikaru dan Yuto bersikap manis padanya. Beberapa hari ini sikap mereka berdua padanya berubah. Hikaru tidak lagi membullynya sedangkan Yuto jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua dengannya.

"Ano... Kalian berdua..."

"Hmm? Apa Keito? Kau haus?" Hikaru menyodorkan segelas air minum pada Keito.

"Baka! Keito pasti lagi ingin minum jus ini kan?" kali ini giliran Yuto menyodorkan sebotol jus pada Keito.

Keito yang bingung hanya bisa menerima air minum dan jus dari mereka berdua. Sementara keduanya saling bertatapan tajam satu sama lain.

"Anoo..."

Keito mencoba berdiri, tapi sialnya kakinya tersandung sesuatu dan menyebabkan dia kehilangan keseimbangan. Beruntung dua orang itu berhasil menangkap Keito sebelum dia menyentuh tanah.

"Aduh... Hati-hati donk Keito" gerutu Hikaru.

"Benar. Kalau kena janinmu bagaimana?" tambah Yuto.

"Itu karena kau menaruh kursi disini sih Yut!" omel Hikaru.

"Kok aku? Kan kau yang menyuruhnya duduk disini, kau yang salah!"

"Kalau Keito keguguran bagaimana? Itu salahmu!"

"Hei! Itu anakku, bukan anakmu!"

"Kata siapa? Uda jelas itu anakku kan?"

Keito hanya terdiam mengamati pertengkaran keduanya.

'Kalian berdua... Kalian tidak pernah melakukan 'itu' padaku, bagaimana mungkin aku hamil anak salah satu dari kalian?' batin Keito. 'Siapa sih yang menyebarkan gosip aku hamil pada mereka berdua?'

END

Selasa, 24 Januari 2017

After Life

Cast : Yabu Kota, Inoo Kei dan Yaotome Hikaru
Genre : angst, romance
Rate : T
Note : terinspirasi dari drama 49 dan lagu sexy zone - A My Girl Friend.

~

Yabu cuma bisa memandangi lembaran kertas yang ada di hadapannya. Terus menatap ke arah tandatangan Inoo yang ada di atas kertas itu.

Penyesalan selalu datang terlambat.

Ya, itu benar. Disaat ini baru Yabu mulai menyesali kenapa dia tidak mempedulikan Inoo dari dulu. Kenapa dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada orang yang dicintainya? Orang yang telah bersumpah setia akan terus bersamanya hingga akhir hayatnya.

Melihat kertas itu, Yabu tersadar. Selama ini dia menyia-nyiakan Inoo. Yabu bahkan tidak ingat kapan dia terakhir melihat senyuman Inoo. Saat Inoo menemuinya untuk memberikan surat cerai, itulah saat Yabu bertemu dengan Inoo setelah sekian lama.

“Kenapa?” tanya Yabu saat mencoba menanyakan alasannya

“Karena aku merasa hampa bersamamu. Kau ada di dekatku, tapi dimana hatimu?”

Yabu tidak bisa menjawab. Dia sadar kalau dia sepenuhnya salah disini. Dia sadar apa yang dimaksud Inoo.

Yabu bahkan tidak sanggup menyusul punggung Inoo yang kini telah melangkah pergi. Kakinya terasa kaku. Hanya matanya yang sanggup menyusul sosok Inoo.

Yabu tidak mengerti. Sejak kapan ini semua dimulai? Yabu mencintai Inoo setengah mati sehingga dia memutuskan untuk menikahinya. Dia begitu bahagia ketika Inoo menerima lamarannya. Dia hampir pingsan ketika akhirnya mereka bertukar cincin pernikahan.

Lalu kenapa jadi seperti ini?
Setelah menikah, Yabu memang bekerja sekuat tenaga agar bisa memberikan Inoo hidup yang layak. Dia berusaha untuk memenuhi segala keinginan Inoo. Dia tidak ingin membuat Inoo sedih atau kecewa. Oleh karena itu dia berusaha keras dalam bekerja, tenggelam dalam kesibukannya. Membuatnya lupa kalau pernikahan tidak selalu tentang uang. Bahwa kebahagiaan tidak berasal dari uang.

Jadi ketika Inoo memberikan surat cerai, Yabu segera tersadar kalau itulah yang kurang. Yabu memang memberikan kekayaan, tapi dia lupa memberikan cinta pada Inoo. Dia lupa memberikan ciuman yang selalu mereka lakukan setiap mereka bertemu. Dia lupa mengucapkan ‘selamat tidur’ sebelum keduanya menutup mata. Dia lupa memberikan pelukan yang hangat disaat Inoo mengalami kegelisahan. Dia lupa semuanya.

“Pada akhirnya aku membuatnya menangis”

---***---

Inoo menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia teringat saat mereka membeli cincin itu bersama-sama. Yabu tidak bisa memilih yang mana sehingga Inoo-lah yang memutuskan. Inoo tersenyum saat mengingat begitu pucatnya wajah Yabu saat mereka bertukar cincin dan begitu gugupnya Yabu saat Inoo menciumnya.

Inoo pikir dia akan bahagia selamanya, selama dia memiliki Yabu di sampingnya. Tapi hidup tidak seindah bayangan. Awalnya Inoo berpikir kalau Yabu hanya capek, sehingga dia memaklumi tindakan Yabu yang sedikit dingin. Tapi, lama-kelamaan Inoo merasa kalau Yabu tidak mempedulikannya lagi. kehangatan yang dulu mereka rasakan saat masih pacaran, berubah menjadi kebekuan saat mereka menikah. Tidak ada lagi ciuman, pelukan, bahkan ucapan manis. Yang ada hanya keluhan, kegelisahan, dan amarah.

Kehangatan itu justru dia peroleh dari orang lain. Orang yang selalu mendukung mereka berdua, Hikaru. Hikaru adalah teman kecil mereka berdua. Hikaru selalu ada untuknya saat dia butuh teman curhat. Selalu menemaninya disaat dia kesepian. Selalu membuatnya tersenyum saat dia menangis.
Hikaru bahkan sempat mengatakan kalau dia menyukai Inoo. Tapi Inoo menolaknya. Dalam hatinya, dia masih mencintai Yabu dan masih menunggu Yabu untuk kembali. Hikaru memahami hal itu dan menjadi sahabatnya.

Tapi kini, Inoo telah lelah menunggu Yabu untuk kembali. Dia memutuskan untuk menerima uluran tangan Hikaru. Inoo pikir dia akan lebih bahagia bersama Hikaru daripada bersama dengan Yabu yang entah masih mencintainya atau tidak.

---***---

Yabu tahu. Ya, dia tahu kalau Hikaru semakin dekat dengan Inoo selama dia tidak ada. Meskipun Yabu jarang berada di rumah, dia tahu kalau Inoo sering bertemu dengan Hikaru. Ya, suatu hari dia tidak sengaja melihat Inoo bersama dengan Hikaru. Waktu itu dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Hikaru adalah teman masa kecil mereka berdua. Jadi Yabu pikir hal itu wajar saja.

Tapi, kini dia sadar kalau mereka tidak hanya sahabat biasa. Ketika dia melihat Hikaru memeluk Inoo yang menangis, tahulah dia yang terjadi sebenarnya.

“Rupanya dia sudah memilih yang terbaik baginya”

Yabu tersenyum pahit saat melihat Inoo tersenyum saat Hikaru ada di sampingnya. Senyum yang begitu manis. Yabu ingat senyuman itulah yang membuatnya jatuh cinta pada Inoo. Senyum itulah yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar. Senyum itulah yang membuatnya memutuskan kalau Inoo adalah orang yang tepat untuknya.

Oleh karena itulah Yabu akhirnya memutuskan untuk mengabulkan keinginan Inoo. Dia mengambil surat cerai itu dan menandatanganinya.

“Begini lebih baik. Selamat tinggal Kei...”

---***---

“Aku mempercayakan Kei padamu. Jangan kecewakan dia seperti yang telah kulakukan”

Hikaru menatap lurus kepada Yabu. Dia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Yabu. Sebenarnya Hikaru terus merasa bersalah pada Yabu. Dia telah melakukan hal yang tidak pantas. Jatuh cinta pada istri sahabat sendiri.

“Apa maksudmu?” tanya Hikaru

“Bahagiakan Kei. Hanya kau yang bisa”

“Jangan bercanda! Kau suaminya, harusnya kau yang melakukannya. Tidak tahukah kau kalau Inoo terus menunggumu?”

Yabu menggeleng “Tidak lagi. Aku tidak bisa melakukannya lagi, semua telah berakhir”

“Apa?”

“Aku bukan suaminya lagi... kami sudah berakhir”

Hikaru syok mendengar perkataan Yabu. Selama ini di sudut hatinya terkadang dia berharap hal ini akan terjadi. Tapi begitu ini benar-benar terjadi, Hikaru tidak tahu harus berkata apa.

“Aku akan menyerahkan surat cerai ini ke kantor sipil. Setelah itu, kuharap kau akan terus bersama Kei”

Yabu bangkit berdiri meninggalkan Hikaru yang masih terdiam. Dia tidak mempedulikan Hikaru yang membisu. Toh dia juga tidak berharap Hikaru mengatakan sesuatu.

Langkah demi langkah terasa berat bagi Yabu. Benda di tangannya itulah yang membuat langkahnya berat. Padahal itu cuma selembar kertas, tapi rasanya Yabu membawa berton-ton batu yang sangat berat.
Kenangan lamanya berputar kembali. Dimulai saat dia bertemu dengan Inoo, berkenalan dengannya, menghabiskan waktu bersamanya, dan menjalin asmara dengannya. Semua kenangan itu terlihat sangat jelas seakan-akan Yabu sedang menontonnya di bioskop.

“Ko-chan”

“Ko-chan~”

Yabu tersenyum. Saat ini di matanya yang terlihat adalah sosok Inoo yang tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Inoo memanggilnya berkali-kali dengan suaranya yang lembut dan manis. Dia melangkahkan kakinya tanpa ragu. Kali ini dia ingin meraih tangan Inoo dan tidak ingin melepaskannya lagi.

“KOTA!!!”

Sebuah teriakan keras menyadarkannya. Begitu Yabu mulai melihat ke sekeliling, dia menyadari kalau itu semua hanyalah delusinya. Dia kini berada di tengah jalan dimana semua orang melihat ke arahnya. Beberapa orang berteriak histeris. Sebelum dia sempat mengerti apa yang terjadi, sepasang tangan yang dengan sigap melindunginya. Melindungi tubuhnya dari sebuah benda besar yang siap menghantam tubuhnya.

“Baka... kenapa kau begitu ceroboh”

“Hi...ka...ru...” gumam Yabu sebelum pandangan matanya tertutup oleh warna merah yang sangat pekat.

---***---

Kei, ah... aku ingin bertemu dengan Kei. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf.

“Jadi kau ingin menemuinya?”

“Eh? Kau siapa?”

“Atas permintaan temanmu, kuberikan waktu untukmu sebelum kau pergi. Gunakan waktu itu sebaik mungkin. Tapi ingat, kau harus mengembalikannya lagi pada Hikaru”

“Eh? Tunggu... aku tidak mengerti”

“Kau akan mengerti semuanya saat kau bangun”

---***---

Yabu terbangun. Dia melihat ke sekeliling. Setelah beberapa menit baru Yabu menyadari kalau dia berada di ranjang rumah sakit. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

“Aku sedang berjalan menuju kantor sipil, lalu saat aku akan menyeberang sebuah truk besar akan menabrakku. Lalu, Hikaru datang dan melindungiku. Ya, Hikaru juga ada disana. Hikaru? Dimana Hikaru? Apa dia baik-baik saja? aku harus mencarinya”

Yabu terjatuh begitu dia menjejakkan kakinya di lantai. Keseimbangan tubuhnya belum sepenuhnya kembali. Yabu merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa dia merasa asing dengan tubuhnya. Tapi Yabu tidak terlalu mempermasalahkannya, mungkin saja itu hanya karena dia terlalu lama berbaring. Tepat pada saat dia akan bangkit berdiri, pintu kamarnya terbuka. Matanya melebar saat melihat Inoo berdiri disana.

“Apa yang kau lakukan?!” jerit Inoo. Dia langsung menghampiri Yabu dan membantunya untuk berdiri. “Kau belum pulih benar. Kenapa kau langsung bangkit berdiri?”

“Kei...?” gumam Yabu tidak percaya. Dia tidak menyangka Inoo ada di hadapannya, mengkhawatirkannya.

Inoo tampak terdiam sejenak sambil memandangi wajahnya, seperti mengamati wajah Yabu baik-baik. Yabu ingin berkata sesuatu tapi Inoo sudah berkata duluan.

“Kenapa kau memaksakan diri untuk bangun? Kau masih belum pulih...”

“Aku mencari Hikaru. Dimana Hikaru? Bagaimana keadaannya?”

Bukannya langsung menjawab, Inoo malah tampak heran mendengar pertanyaan Yabu. “Kau ini bicara apa? Kenapa kau mencari dirimu sendiri, Hikaru?”

---***---

Yabu tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ketika dia melihat mukanya sendiri di cermin, dia malah melihat wajah Hikaru, bukan wajahnya sendiri! Berkali-kali dia menampar wajahnya sendiri atau mencubit dirinya, tapi tampaknya dia tidak sedang bermimpi.

Yabu mulai bisa mengerti apa yang terjadi. Tampaknya rohnya terjebak di dalam tubuh Hikaru. Jadi kini dia mendiami tubuh Hikaru. Tampaknya mimpi yang dialaminya itu benar. Lalu kalau begitu, apa yang terjadi dengan Hikaru? Dimana tubuh asli Yabu?

“Dia sudah meninggal. Upacara pemakamannya baru saja dilakukan kemarin” jelas Inoo saat Yabu menanyakan soal dirinya.

“Begitu...”

Inoo menggeleng pelan. “Dia sudah tidak ada di dunia ini”

“Kau sedih?”

“Entahlah... aku tidak tahu. Tapi setidaknya, jika aku tahu akhirnya jadi begini, aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Perpisahan kami tidak berakhir dengan baik”

Yabu mengamati wajah Inoo dengan seksama. Ingin rasanya dia mengatakan kalau dirinya adalah Yabu. Kalau dia masih hidup dengan meminjam tubuh Hikaru. Akan tetapi, Yabu ragu. Akankah Inoo akan bahagia kalau mengetahui kalau dia masih hidup? Apakah Inoo akan menyambutnya dengan uluran tangan terbuka?

Tidak. Yabu memutuskan untuk tetap diam. Bukankah mereka sudah bercerai? Bukankah hubungan mereka sudah berakhir? Akan lebih baik bagi Yabu untuk berpura-pura menjadi Hikaru dan menghabiskan waktu dengan Inoo. Dia tidak ingin Inoo merasa tertekan saat mengetahui dirinya masih hidup.

“Hikaru... biarkan aku meminjam tubuhmu sebentar saja” gumam Yabu dalam hati.

---***---

Semenjak saat itu, Yabu menjadi ‘Hikaru’ dan menghabiskan waktu dengan Inoo. Yabu merasa sangat bahagia karena dia bisa bersama dengan Inoo seperti dulu. Walaupun Inoo menganggapnya sebagai Hikaru, tapi asalkan dia bisa bersama Inoo, Yabu tidak peduli.

Entah mengapa, Inoo sama sekali tidak membahas soal dirinya, maksudnya soal Yabu. Inoo seperti sengaja tidak ingin mengungkit hal itu di hadapan Yabu. Yabu sendiri juga tidak ingin membahas soal itu. Untuk saat ini dia hidup sebagai ‘Hikaru’, bukan sebagai ‘Yabu’. Dia tidak ingin Inoo mengetahui soal itu.

Semakin lama dia menghabiskan waktu bersama dengan Inoo, semakin dia merasa sedih. Waktunya tidak lama lagi. Yabu harus mengembalikan tubuh Hikaru dan pergi ke alam baka. Sejak awal ini bukan tempatnya.

“Aku harus melakukan sesuatu, untuk yang terakhir kalinya...”

---***---

Beberapa hari ini Yabu sibuk dengan sesuatu. Dia ingin membuat sebuah kejutan untuk Inoo. Kejutan itu juga merupakan hadiah untuk Hikaru saat dia bangun nanti. Sebagai tanda terimakasih baginya karena sudah meminjamkan tubuhnya.

“Kei... kemarilah”

Yabu menuntun Inoo perlahan-lahan karena Inoo tidak bisa melihat. Matanya tertutup kain hitam. Dengan hati-hati Yabu memandu Inoo saat berjalan agar dia tidak terjatuh. Begitu mereka sudah sampai, Yabu membukakan penutup mata Inoo.

“Buka matamu”

Inoo terkejut saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Sebuah taman kecil mini yang disulap seperti tempat tinggal peri yang biasa digambarkan di buku cerita. Yabu menuntun Inoo ke kursi dan meja yang ada di tengah taman. Di meja telah tersedia berbagai hidangan yang bisa dimakan dengan nasi, kesukaan Inoo.

“Ada apa ini?” tanya Inoo takjub. Matanya terus mengamati keadaan sekeliling.

“Kejutan untukmu. Kau suka?”

“Tentu... semua ini indah”

Yabu tersenyum puas. Dia lalu menuntun Inoo untuk duduk di meja. Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia. Yabu merasa lega saat Inoo berkata ‘enak’. Yabu khawatir kalau kemampuan memasaknya sudah mulai menurun. Dia memang tidak begitu ahli memasak, tapi dia selalu mencoba memasak makanan yang disukai Inoo.

Yabu menyeka mulutnya dan merogoh sakunya. Ada satu kejutan lagi yang dipersiapkan Yabu untuk Inoo. Sebenarnya kejutan ini tidak hanya untuk Inoo, tapi juga untuk Hikaru yang telah bersedia meminjamkan tubuhnya.

‘Kenapa aku jadi gugup begini? Ayolah... kau sudah pernah melakukannya’, batin Yabu. Dia merasa sangat gugup saat ini. Jantungnya tidak bisa diam dari tadi.

“Kei...” panggil Yabu pelan.

“Hmm?”

Yabu mengeluarkan bingkisan kecil yang disembunyikan di sakunya dari tadi. Dia memberikan bingkisan itu pada Inoo.

“Bukalah...”

Inoo terkejut saat melihat bingkisan itu. Dengan perlahan dia menerima dan membuka bungkusnya. Mata Inoo melebar saat melihat sebuah cincin di dalamnya. Dia mengambil cincin itu dan menyadari kalau ada tulisan yang terukir di dalamnya.

“You belong with me....” Inoo membaca tulisan yang ada di balik cincin itu. Dia kemudian menatap tajam ke arah Yabu.

“Kei... maukah kau menikah denganku?”

Yabu menarik nafas lega. Akhirnya, dia  berhasil melamar Inoo sekali lagi. Ini memang kedua kalinya dia melamar Inoo, tetapi lamaran kali ini punya dua makna baginya. Pertama, untuk menebus rasa bersalah Yabu karena merasa sudah membuat Inoo menangis. Setidaknya untuk terakhir kalinya sebelum pergi, Yabu ingin membuat kenangan indah bagi dirinya. Yang kedua, untuk Hikaru. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah meminjamkan tubuhnya dan memberikan waktu untuk Yabu bersama dengan Inoo.

Inoo cuma terdiam mendengar lamaran Yabu. Dia hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Yabu merasa janggal dengan sikap Inoo.

“Kei?”

BLETAK. Inoo memukul kepala Yabu. Yabu langsung meringis menahan sakit. Dia tidak menyangka akan mendapat pukulan itu.

“Apa-apaan sih Kei?”, sungut Yabu.

Yabu kembali terkejut dengan reaksi Inoo yang tiba-tiba memeluk Yabu. Tidak hanya itu, dia juga merasakan ada tetes air hangat membasahi kemejanya.

“Kei?” tanya Yabu bingung. “Ada apa?”

“Untuk apa kita menikah kalau kita sudah menikah, baka!”

“Eh?”

“Ko-chan.... Ko-chan baka!”

Yabu terkesiap ketika Inoo memanggilnya Ko-chan. Panggilan itu adalah panggilan khusus Inoo bagi Yabu. Kenapa Inoo memanggilnya ‘ko-chan’ meskipun dia berada di dalam tubuh Hikaru?

“Kei... Kau tahu ini aku?”

“Tentu saja! Mana mungkin aku tidak mengenali suamiku sendiri!” Inoo mengusap air matanya dan memandang lurus ke arah Yabu. “Meskipun yang ada di depanku ini adalah sosok Hikaru, tapi aku tahu kalau kau-lah yang ada di dalamnya. Kau pikir aku tidak sadar? Tingkah lakumu tidak mirip dengan Hikaru, meskipun kau berusaha setengah mati menyembunyikannya dan tidak mengakuinya, tapi semua tingkah lakumu mengatakan kalau kau adalah Yabu Kota”

Yabu masih tercengang. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia tidak menyangka kalau penyamarannya selama ini sia-sia.

“Kei”

“Hah?”

“Kau memanggilku Kei, kalau itu Hikaru, dia tidak pernah memanggilku ‘Kei’. Dia tetap memanggilku ‘Inoo’. Karena tidak ada seorangpun yang kuperbolehkan memanggilku ‘Kei’ selain kau dan keluargaku. Selain itu... kau sama sekali tidak takut dengan kucing. Aku pernah menggendong seekor kucing di depanmu, tapi reaksimu biasa saja. Lalu aku yakin kalau kau bukan Hikaru”

Yabu menepuk dahinya. Dia baru sadar kesalahan yang dia buat. Dia memang berusaha menyembunyikan fakta kalau dia adalah Yabu, tapi dia lupa dengan kebiasaan Hikaru.

“Jadi... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Inoo.

Yabu menatap Inoo yang sepertinya meminta kejelasan. Dia akhirnya menceritakan semuanya pada Inoo. Soal kecelakaan, mimpi aneh yang dialaminya, dan juga waktunya yang tersisa.

---***---

“Aku tidak percaya semua ini...” komentar Inoo setelah Yabu selesai bercerita.

“Begitu pula aku. Aku merasa bingung saat mendapati diriku di dalam tubuh Hikaru. Kukira aku benar-benar pergi ke alam sana setelah aku mengalami kecelakaan itu”

“Jadi... ini yang terakhir kalinya?”

Yabu menatap Inoo. Matanya terlihat sendu. “Ya. Ini yang terakhir kalinya” ucap Yabu. “Setelah ini aku harus pergi”

“Begitu...” Inoo menundukkan kepalanya. Suaranya sedikit bergetar saat dia berbicara, tapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.

“Kei...”

“Hikaru!” seru Inoo tiba-tiba. “Terimakasih sudah meminjamkan tubuhmu! Terimakasih berkatmu aku bisa bertemu kembali dengan Ko-chan” Inoo menatap ke arah Yabu. “Meskipun sebenarnya aku lebih suka wajah asli Ko-chan daripada Hikaru”

Yabu tersenyum kecil. Dia kemudian memeluk Inoo. Pelukan yang tidak terlalu erat tapi hangat. Pelukan yang selama ini dilupakan oleh Yabu.

“Terimakasih sudah menjadi istriku Kei...” bisik Yabu.

“Terimakasih sudah menjadi suamiku Ko-chan” balas Inoo. Inoo menutup matanya dan mendekatkan wajahnya, tapi Yabu buru-buru menghentikannya. “Kenapa?” tanya Inoo.

“Maaf Kei... bukannya aku tidak mau menciummu, aku hanya tidak ingin menciummu saat aku masih berada dalam tubuh Hikaru. Rasanya seperti kau dan Hikaru yang berciuman. Aku tidak mau”

“Tapi aku ingin...” Inoo mulai cemberut.

“Kei..” Yabu terlihat bingung. Dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Tiba-tiba Inoo tertawa. “Ya sudahlah. Kupikir-pikir kau memang benar. Aku juga tidak ingin mencium Hikaru”

“Maaf...”

“Tidak apa-apa” Inoo memeluk Yabu sekali lagi. “Sebagai gantinya, kau harus memelukku sampai saatnya kau pergi”

“Itu permintaan yang mudah” senyum Yabu.

---***---

To : Ko-chan

Apa kabar Ko-chan?

Cuaca hari ini sangat cerah ya. Sama cerahnya saat kita berpisah waktu itu. Aku sempat panik saat kau tiba-tiba meninggalkan tubuh Hikaru disana. Setidaknya kalau kau ingin pergi, kembalikan dulu tubuh Hikaru di Rumah Sakit atau di rumahnya. Aku sempat kesusahan membawa tubuh Hikaru. Meskipun tubuhnya hampir sama denganku, tapi kau tahu kan kalau aku ini lemah. Jadi itu hal yang berat buatku... =3=

Ko-chan, bagaimana keadaan disana? Kudengar ada banyak malaikat cantik yang ada disana. Apa itu benar? Kau harus ingat kalau kau sudah punya aku, jadi jangan main mata ya...

Ko-chan... maafkan aku. Aku membuatmu pergi duluan kesana. Kalau bisa, tunggu aku ya. Beberapa tahun lagi aku pasti akan menyusulmu. Jadi bersabarlah ya... jangan menangis karena kesepian. Aku akan segera pergi secepatnya.

Kau tidak perlu khawatir Ko-chan, aku sama sekali tidak menangis kok. Aku kan bukan anak cengeng seperti Ko-chan. Tapi... aku bohong kalau aku merasa tidak kesepian. Hari-hari tanpamu terasa hampa. Tidak ada sosok Ko-chan disini, tidak ada wangi Ko-chan, tidak ada suara Ko-chan, tidak ada...

Sesungguhnya, aku ingin segera menyusulmu. Aku ingin segera bertemu denganmu, tapi setiap kali aku akan melakukannya, aku bisa melihat wajahmu yang sedang marah. Aku tidak suka wajahmu yang seperti itu, jadi kuputuskan untuk menundanya.

Ko-chan, maafkan aku. Aku tahu kalau kau menginginkan aku menikah dengan Hikaru, tapi aku tidak bisa. Bagiku, Cuma Ko-chan satu-satunya. Aku sudah mengatakan soal ini dengan tegas ke Hikaru, dan dia menerimanya.

Ah, aku lupa memberitahumu. Kita punya satu anggota keluarga baru. Dia datang padaku setelah kau pergi. Jangan-jangan kau yang mengirimnya padaku? Ko-chan memang baik. Karena itulah aku menamainya Kou-chan.

Ko-chan, soal surat perceraian itu. Aku membatalkannya. Jadi... namaku tetap Yabu Kei.

Ah, sudah dulu ya. Kou-chan junior merengek minta makan. Lain kali aku akan menulis surat untukmu lagi.

Salam manis, Yabu Kei~

TAMAT

Selasa, 03 Januari 2017

SUPER JEALOUS

Cast : Arioka Daiki & Takaki Yuya
Genre : Romance
Rate : T

Daiki kesal setengah mati. Dia terus menerus menusuk boneka berbentuk manusia yang bertuliskan 'Takaki Yuya' dengan paku. Ribuan kata kutukan mengalir dari mulutnya.

"Baka!!! Kenapa malah Yamada?"

Ya. Daiki kesal setengah mati karena Takaki akhirnya pergi kencan dengan Yamada. Padahal Daiki sudah memberikan kode yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan hampir seluruh semesta mungkin bisa tahu siapa yang disukai Daiki.

Hari ini, tepat hari ulang tahun Daiki. Sudah dari seminggu sebelumnya dia mengatakan pada Takaki kalau dia ingin kencan. Untuk menghindari Takaki lupa, setiap saat Daiki selalu menyinggung kata 'kencan'. Dan Daiki optimis kalau mereka akan kencan karena Takaki selalu mengatakan 'iya, nanti kita pergi'. Daiki pun kesenangan dan tidak sabar menanti hari ini.

Kesenangan Daiki berubah total saat dia mengetahui Takaki pergi dengan Yamada. Daiki langsung menghubungi Takaki untuk minta kejelasan. Tapi Daiki malah semakin bete karena Takaki memutus teleponnya.

"Kenapa dia harus pergi dengan si pendek itu sih? Dia gemuk. Pendek lagi. Enggak ada bagusnya sama sekali" gerutu Daiki kesal.

"Kau tidak sadar kalau kau sama pendek dan gemuknya daripada dia?"

Daiki terkejut ketika mendapati Takaki berdiri di pintu kamarnya. Dia langsung membuang muka ketika melihat Takaki.

"Kenapa kau disini?! Pergi!!! Pergi sana dengan Yamada!!!" usir Daiki sambil melempar bantal dan barang-barang yang ada disekitarnya.

"Kau ini..... pencemburu kelas kakap ya?" gerutu Takaki sambil bersusah payah menghindari barang-barang yang melayang ke arahnya.

"Siapa?!" teriak Daiki.

"Kau!" tunjuk Takaki. "Aku cuma kebetulan bertemu Yamada. Aku mengantarnya ke suatu tempat karena dia kesasar"

"Bohong! Aku melihat kalian berdua bergandengan tangan sambil tertawa riang"

Takaki menggaruk kepalanya. "Daiki... kau memang berbahaya saat cemburu. Saat cemburu delusimu jadi bertambah buruk" Takaki menghela nafas. "Aku cuma mengobrol biasa dengannya"

"Bohong!!! Bohong!!!"

"Yasudah kalau tidak percaya" Takaki membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya keluar. "Kencan kita hari ini batal"

"EH?!" Daiki berseru. "Tidak mau!!! Ayo pergi! Kita harus pergi! Kau sudah janji!!!"

"Kalau kau masih merengek dan mengutuk diriku disana, akan kutinggalkan kau sendirian disini!" ancam Takaki.

Sedetik kemudian, Daiki sudah menggandeng tangan Takaki dan menyeretnya keluar. Takaki cuma diam dan membiarkan Daiki melakukan apapun yang dia mau.

"Dasar tsundere..." gumam Takaki.

END

Tak Harus Memiliki


Cast : Yamada Ryosuke, Inoo Kei, Yabu Kota
Genre : angst... (Maybe)
Rate : Remaja~

~

Membahagiakan seseorang tidak selalu dengan cara berada di sampingnya. Terkadang menjauh darinya juga bisa membuatnya bahagia.

~~~

(Yamada POV)

Akhirnya... Setelah sekian tahun aku berhasil mendapatkan hatinya. Butuh perjuangan panjang untuk membuatnya berpaling padaku. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Membuat seseorang menyukaimu di saat dia masih terbayang-bayang oleh sosok di masa lalu. Meskipun aku bisa merasakan kalau ada sedikit keraguan di hatinya, tapi aku senang dia akhirnya menerimaku. Akan kubuat dia terus menyukaiku.

Sejak awal aku melihatnya, aku sudah tertarik padanya. Wajahnya yang cantik dan sifatnya yang berterus terang sungguh membuatku tertarik. Biasanya orang yang memiliki wajah cantik sepertinya akan bersikap lembut dan menjaga imej. Tapi sepertinya dia berbeda. Dia sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dan aku sangat menyukai tipe orang seperti itu.

Mengajaknya berbicara adalah hal yang mudah. Menarik perhatiannya itu yang sulit. Aku merasa dia membuat tembok tidak terlihat antara dirinya dengan orang lain. Dia kelihatan akrab dengan semua orang, tapi di sisi lain dia terlihat tidak ingin dekat dengan seseorang. Sungguh susah menghancurkan tembok yang seperti itu.

"Usagi... Usagi... Kenapa kau pergi?"

Itulah igauannya saat dia sedang mabuk. Dia selalu menggumamkan itu setiap kali dia mabuk. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya. Tapi dalam hati, aku selalu berpikir siapa 'usagi' ini? Melihat dia yang selalu mengigaukan namanya dengan wajah yang putus asa, aku tahu kalau orang ini sangat berarti baginya. Dan aku iri, sangat iri, pada si usagi ini.

Akhirnya kucoba segala cara untuk merebut hatinya. Semua orang akhirnya tahu kalau aku punya perasaan padanya dan mungkin dia juga mengetahuinya karena dia mulai sedikit menghindariku, tapi aku tidak peduli. Aku terus mendekatinya dan akhirnya dia menyerah. Mungkin karena keegoisanku dan kekeraskepalaanku, dia akhirnya merasa sia-sia menghindariku.

"Aku bukan orang yang tepat untukmu. Sebetulnya aku..."

"Aku tahu" potongku. "Aku tahu kau masih memikirkan seseorang, aku tidak tahu siapa, tapi aku tahu"

"Kalau begitu, kenapa kau masih mendekatiku?"

"Karena aku menyukaimu. Itu salah?"

"Tapi aku tidak....."

"Aku mengerti. Ayo kita coba dulu, akan kubuat kau melupakannya"

Aku terus memaksanya dan dia akhirnya menyerah. Dan akhirnya dia menjadi kekasihku. Aku telah berjanji padanya untuk membantunya melupakan si 'usagi' itu.

~~~

(Inoo POV)

Tak kusangka... Aku bisa berhubungan lagi dengan seseorang. Kukira aku tidak bisa bersama dengan orang lain selain dia. Kusangka hanya usagi-lah yang bisa membuatku bahagia. Tapi... Yamada... Dia benar-benar tulus. Aku bisa merasakan kalau dia sangat menyukaiku. Aku merasa bersalah, dia menyukaiku, tapi aku tidak bisa tulus menyukainya. Karena di sudut hatiku aku masih menempatkan ruang untuk usagi. Usagi adalah cinta pertamaku, orang yang selalu bersamaku, tidak mudah untuk menggantikan tempat usagi.

Mungkin Yamada benar, aku harus melupakan usagi. Dia sudah pergi, tanpa memberi kabar, meninggalkanku dalam kesendirian. Aku seperti orang bodoh menunggu usagi yang tidak jelas kapan akan kembali. Sudah waktunya aku melangkah maju. Melepas tali masa lalu dan dengan sigap berjalan maju.

Yamada menepati janjinya. Dia benar-benar berusaha membuatku melupakan usagi. Aku betul-betul merasa bahagia. Dan kurasa aku bisa mengawali hari yang baru dengan Yamada.

Dan aku tahu, tidak akan semudah itu mencapai kebahagiaan. Ada ujian yang harus dilewati terlebih dahulu.

Tapi ini sungguh tidak adil.

Kenapa?

Kenapa disaat aku mulai memutuskan untuk maju, sesuatu menahanku untuk mundur?

Kenapa disaat aku mulai melupakannya dia mulai muncul kembali?

"Usagi...."

~~~

(Yamada POV)

Aku melihat gelagat aneh Inoo sejak sepupuku, Yabu mulai kerja disini. Dia kelihatan baik-baik saja saat bersamaku, tapi... Dia terlihat menghindar saat Yabu ada di dekatku.

"Dia hanya cemburu kau terus bersama dengan Yabu"

Aku termenung mendengar pendapat temanku. Benarkah? Benarkah Inoo bersikap seperti itu karena dia cemburu aku dekat dengan Yabu? Yabu baru kerja disini sehingga dia perlu banyak bantuan. Belum lagi dia sepupuku, tentu aku harus membantunya. Aku sedikit senang saat memikirkan kemungkinan Inoo cemburu padaku. Akhirnya dia menaruh perhatian lebih.

Tapi aku mulai merasa bukan itu masalahnya.

Aku baru menyadari kalau Yabu juga menghindari Inoo. Aku baru sadar bahwa aku tidak pernah melihat mereka berbicara walaupun hanya bertukar salam. Meskipun aku ada di dekat mereka, mereka bertingkah seolah tidak melihat satu sama lain dan hanya melihatku.

Aku juga menyadari kalau mereka saling curi pandang satu sama lain. Terkadang ketika Inoo terlalu sibuk, Yabu memperhatikannya diam-diam. Inoo juga. Diam-diam dia mencuri pandang pada Yabu meskipun aku ada di sebelah Yabu. Ketika aku memergokinya, Inoo langsung bertingkah seolah dia melihatku.

Firasatku mulai terasa tidak enak. Aku mulai teringat sesuatu.

"Usagi?"

Yabu terlihat sangat terkejut saat aku tanpa sengaja menggumamkan kata-kata itu. Melihat reaksinya, tahulah aku sekarang.

"Apa yang harus kulakukan?"

~~~

(Yabu POV)

Aku terkejut setengah mati saat mendapatinya berada disini. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Oh Tuhan... Bukankah aku sudah meminta agar sebisa mungkin aku menjauh darinya? Kenapa kau malah mempermainkanku dengan mempertemukan kami kembali?

Dia masih sama. Wajahnya masih terlihat cantik. Sifatnya juga masih sama. Meskipun potongan rambutnya berbeda, tidak mengurangi kecantikannya. Benar-benar sama.

Kucoba untuk bersikap biasa saja saat nanti dia menyapaku, tapi dia tidak pernah menyapaku. Melihatku saja tidak. Yah... Kurasa itu wajar. Aku telah meninggalkannya begitu saja. Kurasa dia tidak akan memaafkanku.

Aku tersenyum pahit saat melihat dia bersama dengan sepupuku. Sedih bercampur bahagia. Bahagia karena setidaknya kini Yamada yang menjaganya. Yamada pasti akan menjaga Inoo dengan baik. Aku tahu itu. Yamada jauh lebih baik daripadaku. Inoo pasti akan lebih bahagia bersamanya.

Aku menyembunyikan masa laluku dengan Inoo rapat-rapat. Aku tidak ingin masa laluku merusak kebahagiaan mereka. Tapi... Sepertinya Yamada mulai mengetahuinya. Aku sangat terkejut saat dia memanggilku usagi. Karena selama ini, hanya Inoo yang memanggilku seperti itu.

Dengan susah payah aku menyakinkan Yamada kalau aku hanyalah masa lalu dari Inoo dan tidak akan menggangu mereka. Yamada-lah masa depannya. Meskipun dalam hati, aku masih mencintainya.

Ya, aku masih mencintai Inoo.

~~~

(Inoo POV)

Aku tidak bisa. Sungguh. Cobaan ini sangat berat. Meskipun Yamada berusaha membuatku bahagia, tapi sekali aku melihat sosok Yabu, aku langsung terpaku padanya.

Mataku masih mengejar sosoknya. Telingaku masih mengejar suaranya. Mulutku masih terus menggumamkan namanya. Kaki ini terus mengikutinya.

Meskipun aku berusaha menghindarinya sekuat tenaga, tapi badanku bergerak sendiri. Seolah Yabu memiliki magnet yang kuat terhadap diriku. Badanku dikontrol olehnya. Bahkan jantungku berdetak kencang hanya dengan melihatnya saja. Benar-benar tidak bisa kukendalikan.

Aku hampir ingin menangis. Ini sungguh menyiksa. Aku sudah memiliki Yamada, tapi kenapa tubuh ini menginginkan Yabu?

"Kita putus saja"

Aku terkesiap mendengar perkataan Yamada. Aku tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulutnya.

"Aku kalah. Aku tidak bisa menggantikan posisi Yabu di hatimu"

Aku sungguh terkejut. Bagaimana dia bisa tahu masa laluku dengan Yabu? Aku tidak pernah memberitahu nama Yabu, tapi kurasa dia tahu dari tingkahku.

"Kau kenapa? Kau menyukaiku kan?" ucapku setengah berteriak

"Ya, tapi kau tidak"

"Aku menyukaimu juga" ucapku.

"Jangan bohong Kei... Kau sama sekali tidak menyukaiku. Sejak awal aku yang memaksamu meskipun kau tidak mau. Aku senang saat kau merasa bahagia, tapi aku masih belum bisa memiliki hatimu"

"Tidak. Aku menyukaimu" sanggahku.

"Kalau begitu cium aku sebagai bukti"

Aku terkejut lagi mendengar perkataannya. Menciumnya? Ya. Selama kami berpacaran kami tidak pernah berciuman. Aku baru sadar sekarang.

Aku menatap bibirnya. Perlahan aku melangkah maju. Disaat aku ingin mendekatkan wajahku, gerakanku terhenti. Air mataku menetes

"Tuh... Kau tidak bisa kan?" Yamada tersenyum pahit. Dia mengusap air mataku. "Pergilah..."

"Yamada... Aku... Maaf..." isakku.

"Cepat pergi sekarang atau aku tidak akan melepaskanmu lagi"

Aku segera berlari. Sesekali aku menoleh ke belakang dan melihat Yamada memunggungiku. Punggungnya terlihat besar sekarang di mataku.

"Terima kasih, Yamada..."

Aku terus berlari. Kali ini giliranku untuk mencarinya. Aku tidak akan melepaskannya lagi untuk yang kedua kalinya. Aku langsung tersenyum bahagia saat melihat sosoknya.

"USAGII!!!!!!"

Tamat

Minggu, 01 Januari 2017

Know You

Cast : Arioka Daiki, Takaki Yuya
Genre : Fluff
One shot

~

Ketika matamu mulai terfokus pada satu orang, disaat itulah cinta dimulai.

~~~

Sudah seminggu. Ya, seminggu sejak aku melihatnya berdiri disana. Bermandikan cahaya matahari ditengah ombak yang menggunung. Sosoknya yang berdiri tegap di sebuah papan luncur membuatku terpesona. Dengan lihai dia mengendalikan tubuhnya sehingga dia bisa melewati ombak-ombak yang jauh lebih tinggi darinya. Saat aku pertama kali melihatnya, aku langsung terpesona dan mataku langsung tertuju padanya. Sosoknya tidak bisa hilang dari benakku, membuatku ingin melihatnya setiap hari.

Setiap pagi, aku selalu berusaha melewati pantai ini, mencarinya, dan mengamatinya sepanjang hari kalau aku sudah menemukannya. Tanpa kusadari ini sudah menjadi rutinitasku sejak seminggu lalu. Aku tersenyum saat dia dengan lihai berselancar, panik saat dia jatuh dari papannya, dan sedih ketika sudah waktunya aku pergi. Dalam sehari paling tidak aku merasakan hal itu.

Setelah aku tidak melihatnya lagi, timbul keinginan dalam diriku, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Namanya, suaranya, tempat tinggalnya, dan lain-lain. Tapi semua itu kulupakan saat aku melihat sosoknya. Seakan kehadirannya membuatku lupa akan segalanya.

Kenapa aku seperti ini?

~~~

Aku mengutuk diriku sendiri. Ini sudah hari ketiga aku terjebak di kesibukanku. Saking sibuknya aku sampai tidak bisa melakukan rutinitasku pergi ke pantai. Aku selalu menggerutu. Aku ingin melihatnya. Melihat sosoknya saat sedang berselancar.

Kekesalanku semakin meluap saat hujan mulai turun. Badanku mulau basah karena aku lupa membawa payung. Kucari tempat berteduh yang nyaman selagi menunggu hujan reda. Akhirnya kuputuskan untuk berlindung di depan toko dekat halte bus, supaya ketika bus datang aku bisa segera menaikinya.

Rupanya aku tidak sendiri disana. Seseorang sudah menempati tempat itu terlebih dahulu. Orang yang lebih tinggi dariku. Aku terkesiap saat mencium sesuatu yang khas saat berada di dekatnya. Bau yang kukenal setiap pagi. Aku melirik ke barang bawaannya, sebuah papan surfing bersender di punggungnya.

Jangan-jangan....

Aku tidak ingin berharap lebih. Tapi... Boleh kan kalau saat ini aku berharap sedikit?

Perlahan-lahan aku mencoba melihat wajahnya. Jantungku berdebar kencang saat aku melihatnya. Itu dia! Dia yang selalu kulihat setiap pagi. Dia yang selalu berdiri dengan indahnya di atas papan seluncur. Itu dia!

Aku memekik kegirangan. Tuhan memang baik dan murah hati. Aku bisa melihatnya lagi meskipun aku tidak pergi ke pantai. Dengan cepat aku meminta maaf pada Tuhan karena sudah bertindak bodoh dengan menggerutu setiap hari dan berterimakasih atas kemurahan hati-Nya.

Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumanku. Dia akan berpikir aneh kalau dia melihatku tersenyum sendiri. Aku tidak ingin membuat kesan jelek di matanya.

"Kau tidak ingin naik?"

Aku terkejut ketika dia mengajakku bicara. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya! Sesuai dengan dugaanku. Suaranya lembut dan tegas. Untuk beberapa detik aku merasa kaku.

"Hei, kau ingin naik bis juga kan?"

Dia berbicara lagi, karena aku tidak meresponnya. Kali ini aku menjawabnya.

"I-iya" jawabku pelan tapi masih bisa didengar olehnya.

"Mau lari sama-sama? Bisnya sudah mau datang"

Aku memiringkan sedikit kepalaku karena aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Sepertinya otakku berjalan lambat saat dia mengajakku bicara.

Semenit setelah itu bis pun tiba. Tiba-tiba sebuah tangan memegang tanganku dan menarikku. Masih belum mengerti apa-apa, aku cuma mengikutinya berlari menuju ke arah bis.

Aku mengambil nafas sejenak saat kami sudah berada di dalam bis. Saat itulah aku baru sadar kalau dia terus menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan sedikit panas di kedua pipiku.

"A-anu..." aku berusaha mengatakan sesuatu. Tapi karena gugup aku tidak bisa melanjutkannya.

"Ah maaf..." dia langsung melepas tangannya. Aku sedikit kecewa saat melihat tangan kami sudah tidak bergandengan lagi.

"Takaki Yuya"

"Eh?" aku terkejut

"Namaku Takaki Yuya"

Aku terkesiap. Namanya! Aku tahu namanya sekarang!!

"Namamu siapa?" tanyanya.

"A-arioka Daiki..." jawabku pelan. Berusaha sebisa mungkin tidak kelihatan gugup tapi mungkin dia bisa mendengar kegagapanku sebelumnya.

"Senang bisa bertemu denganmu Arioka"

"Aku juga"

Saat itu, kebahagiaanku meningkat 100%. Tidak hanya mendengar bertemu dengannya, aku juga bisa mendengar suaranya dan tahu namanya. Dan yang terakhir ini membuatku hampir kehilangan kesadaran, aku bisa melihat senyumnya.

Oh Tuhan... Rasanya aku bisa mati karena bahagia.

Tamat

Jumat, 23 Desember 2016

Pernyataan Cinta

Genre : Romance

Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya

Rate : PG 13+

Author? Of course me~

(Arioka Daiki POV)

Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Entah sejak kapan, aku tidak tahu persisnya. Yang jelas, aku kini sadar kalau aku menyukainya.

Aku selalu berdebar saat dia menatapku, berbicara denganku, duduk di sebelahku. Aku selalu berdebar setiap saat dia melakukan sesuatu padaku.

“Kau harus memberitahunya kalau kau suka padanya!”

Itulah nasihat temanku saat aku menceritakan soal diriku padanya. Dia menyarankanku untuk menyatakan cinta. Awalnya aku malu. Tapi berkat dorongan keras darinya aku akhirnya akan menyatakan cintaku.

Tapi… Bagaimana caranya?

—***—

Aku menyukaimu sejak lama

Aku membacanya dan menggeleng. Kucoret kalimat itu dan menulis ulang.

Aku menyukaimu, Takaki Yuya. Kau adalah pangeran berkuda putih di kehidupanku.

Aku membacanya lagi. “Norak!” Aku merobek kertasnya dan menulis ulang. “Arghh!!! Aku tidak tahu harus menulis apa!!!”

Aku menatap lesu ke arah kertas surat di atas meja belajarku. Kertas surat baru berwarna oranye yang sengaja kubeli untuk menulis surat cinta. Aku meremas isi surat yang gagal dan membuangnya ke tempat sampah di dekat situ.

“Memangnya apa yang kau tulis?”

Aku merasakan jantungku berhenti mendadak saat menyadari kalau saat ini aku tidak sendirian. Aku menoleh dan mendapati Takaki berdiri disana. Ya. Dialah Takaki Yuya, orang yang kusukai.

‘Kenapa dia disini? Kenapa orangnya ada disini???’ batinku panik.

“Arioka?” panggilnya.

“A-a-aku mau keluar dulu!!!”

Aku segera berlari meninggalkan Takaki sendirian di kamar. Hatiku berdegup sangat kencang. Aku belum siap!!!

—***—

Berkali-kali aku harus mengatur nafasku karena jantungku berdegup tidak karuan. Hari ini, aku sudah menyerahkan surat itu. Surat yang membutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menulisnya. Setelah aku yakin, aku memasukkan surat itu ke dalam tasnya tanpa sepengetahuannya. Aku berdebar membayangkan Takaki menemukan surat itu dan membacanya.

“Arioka!!!”

Aku terkesiap. Seseorang memanggilku. Bukan orang biasa, tapi Takaki. Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab panggilannya.

“Y-ya?”

“Kenapa jalanmu cepat sekali sih?” ucap Takaki sambil setengah cemberut. Membuat raut mukanya tampak lucu.

“Kau saja yang lambat” jawabku ketus.

‘Argh!!! Harusnya aku jangan membalasnya seperti itu!!! Bodoh Daiki! Bodoh!’

“Iya iya… Aku tahu kalau bangsa penguin itu jalannya cepat” gumamnya.

“Hei! Aku bukan penguin!” aku mengayunkan tanganku tapi dia segera mengelak.

“Penguin~ penguin~” ejeknya lagi.

Aku cemberut yang berarti Takaki menang. Takaki tertawa puas melihat reaksiku.

“Oh ya, hari ini aku mendapat sebuah surat cinta”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak saat dia mengatakan itu. Akhirnya… Saatnya dia membalasnya. Tapi… Aku belum siap mendengarnya!

“Si pemilik surat ini tampaknya selalu mengamatiku dan menyukaiku dengan sungguh-sungguh. Kupikir aku harus segera memberi jawaban”

Dadaku berdebar keras. ‘Ini saatnya’

“Tapi masalahnya… Aku tidak tahu siapa yang mengirim suratnya”

Aku mengedipkan mataku, “Apa???”

Takaki melihatku kaget, rupanya tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang keras.

“Kenapa sih Arioka?” gerutu Takaki.

“Kau bilang tidak ada nama pengirimnya???” seruku lagi.

“Iya. Tuh lihat”

Takaki membuka tasnya dan memberikan sepucuk surat yang kuletakkan tadi pagi di tasnya. Surat yang sama. Aku mengecek amplopnya. Rupanya Takaki benar. Aku tidak menulis namaku disana.

‘Daiki baka!!!!’ jeritku dalam hati.

“Kenapa Arioka?” tanya Takaki.

“Tidak ada apa-apa”

Aku mengembalikan surat itu pada Takaki. Lalu kembali berjalan dengan lesu. Bodohnya aku ini… Usahaku jadi sia-sia karena aku lupa menulis nama.

“Aku akan menulisnya lagi nanti” gumamku pelan.

Aku terus berjalan tanpa menyadari senyum licik dari orang yang kusukai.

(Takaki Yuya POV)

Daiki… Daiki…

Ah, aku sangat berharap aku bisa memanggilnya ‘Daiki’ suatu hari nanti. Kalau sekarang aku tiba-tiba memanggilnya Daiki akan jadi aneh.

Arioka Daiki.

Orang yang kusukai.

Kalian kaget? Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu aku terus mendekatinya dan usahaku membuahkan hasil. Dia jadi menyukaiku.

Kalian pikir aku tidak sadar? Tentu saja aku sangat menyadarinya. Perubahannya sangat drastis saat dia mulai menyukaiku. Mukanya sering berubah menjadi merah saat kami cuma berdua. Dia juga tidak berani menatap lurus mataku saat kami berbicara. Dia juga sering salah tingkah saat aku tiba-tiba menyentuhnya. Betul-betul gampang dibaca. Reaksinya sangat lucu.

Sesungguhnya, aku ingin segera menyatakan perasaanku. Toh sudah jelas kami sama-sama suka. Aku pergi ke rumahnya dan berniat melamarnya. Ah bukan, menyatakan cinta.

Aku masuk ke dalam kamarnya diam-diam, berusaha mengagetkannya. Usahaku berhasil. Dia kaget setengah mati. Dan seperti biasanya, dia langsung salah tingkah dan kabur. Aku cuma tersenyum geli melihatnya. Kemudian aku melihat ke arah gumpalan kertas yang baru saja dilemparnya ke tong sampah. Aku mengambilnya dan membuka kembali gumpalan itu. Aku terkejut membaca isinya. Surat cinta untukku!

Saat itulah kuputuskan untuk mengurungkan niatku menyatakan perasaan. Akan kutunggu dia menyatakan perasaan terlebih dahulu.

Tapi aku baru dapat surat cinta itu 3 hari kemudian. Saat aku menemukan sepucuk surat di tasku, aku langsung tahu itu darinya. Bau khas parfum Arioka melekat di amplopnya. Aku semakin yakin itu darinya saat melihat tulisan tangan surat itu. Itu benar-benar tulisan tangan Arioka. Aku tersenyum bahagia saat membaca isi surat itu. Meskipun tidak terlalu romantis, tapi setidaknya aku bisa merasakan cintanya.

Aku ingin segera membalasnya, tapi tidak jadi. Aku ingin menjahilinya lagi. Dan usahaku sukses.

‘Ayo nyatakan cintamu sekali lagi Daiki. Aku akan menunggumu’

Tamat

Senin, 24 Oktober 2016

MODEL TERBAIK

Cast : Yuto x Keito

“Perfect”

Aku tersenyum puas saat melihat hasil jepretanku. Foto yang kujepret itu terlihat sangat bagus. Sebuah foto yang berlatar pemandangan kota saat senja. Warna merah senja itulah yang membuat hasil jepretanku terlihat bagus.

Sebenarnya ada 1 lagi yang membuatku puas dengan foto itu. Sosok manusia yang ikut terperangkap dalam lensa kameraku. Sosok manusia yang sangat fotogenik. Wajahnya yang sangat indah. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi tampak proposional dalam fotoku.

“Seperti biasa, sempurna sekali Keito”, ucapku pada sosok yang ada di hadapanku.

Sosok yang kupanggil ‘Keito’ itu tersenyum. “Senang bisa membantumu Yuto. Itu juga karena pemandangan yang kau pilih ini. Kau memang pintar memilih latar tempat. Aku yakin kau bisa memenangkan kontes itu”

“Yup! Aku yakin foto ini akan menang dalam kontes fotografi yang akan kukirimkan minggu depan”, aku melihat ke arah Keito yang kini tampak sedang menikmati matahari senja, “Kau memang model yang hebat Keito. Kenapa kau tidak bekerja menjadi seorang model saja?”

Keito melihat ke arahku. Dia menggeleng. “Aku tidak berminat menjadi model. Aku menjadi model hanya untukmu Yuto”

“Kenapa? Kurasa kau akan segera menjadi model terkenal. Kau bahkan bisa menjadi seorang artis”

“Karena aku tidak bisa dipotret oleh orang lain selain dirimu”

“Apa maksudmu?”, tanyaku

Keito tersentak. Dia kemudian segera menggelengkan kepalanya. “Tidak. bukan apa-apa. Kalau aku menjadi terkenal nanti, kau akan kesulitan mencari model untuk fotomu” ucap Keito sambil tertawa.

“Kalau kau memang akan menjadi model apa boleh buat kan?”, aku segera mengemasi perlengkapan kameraku. “Hari akan menjelang malam. Sebaiknya kita segera pulang”

Keito mengangguk. Setelah aku selesai mengemasi barangku, kami berdua berjalan pulang bersama-sama.

Tidak berapa lama, kami berdua tiba di depan apartemenku. Keito melambaikan tangannya padaku sebelum aku masuk ke dalam. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk bertemu lagi minggu depan.

Aku segera masuk ke dalam kamar. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencetak foto yang kupotret hari ini. Aku segera masuk ke ruang gelap yang kubuat sendiri. Dengan hati-hati aku mengeluarkan negatif film, berusaha agar tidak terkena cahaya, lalu pelan-pelan mulai mencetaknya.

“Foto ini memang bagus. Sempurna”

Aku memandang foto yang kuambil hari ini. Aku benar-benar menyukai foto itu. Sosok Keito di foto itu pun terlihat sangat bagus.

Aku memang menyukai Keito. Sebagai model foto maksudku, jangan salah paham dulu. Dia tahu persis gaya foto yang kuinginkan. Dia memang tidak terlalu banyak bergaya saat kupotret. Tapi karena bahasa tubuhnya yang fotogenik. Aku tidak terlalu bermasalah dengan hal itu.
Aku kembali teringat pertemuan pertamaku dengan Keito.

---flashback---

Aku terduduk sedih. Lagi-lagi karya yang kukirimkan gagal. Aku memandangi komentar juri, ‘nilai seni yang diungkapkan di foto ini masih kurang’.

“Aku butuh sesuatu. Sesuatu yang baru. Yang membuat objek fotoku terlihat sempurna. Mungkin seorang model yang fotogenik. Tapi dimana aku bisa menemukan orang yang tepat untuk fotoku?”

“Hee... nice photo”

Aku terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingku. Sejak kapan ada orang di sampingku? kenapa aku tidak sadar sampai dia berbicara?

“Siapa kau?”, tanyaku sambil mundur ketakutan. Takut? Jelas saja. Aku tidak kenal orang ini dan dia tiba-tiba ada di sampingku.

“Jahatnya... bukankah kau yang memanggilku?”

Aku mengernyitkan keningku. Aku memanggilnya? Kapan? Aku tidak tahu namanya dan bagaimana aku bisa memanggilnya?

“Yuto... “, pemuda itu memanggilku. “Kenapa kau diam saja?”

Aku terbelalak. “Bagaimana bisa kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya?”

Dia menghela napas. “Kan kau yang memanggilku, tentu saja aku tahu namamu. Kau juga kenal diriku”

Aku berpikir keras sambil mengamati dirinya. Wajahnya tampan, tapi bisa juga dibilang cantik. Beautiful. Badannya tidak tinggi, yah... lebih pendek dariku. Tapi kurasa tubuhnya proposional. Melihat bentuk tubuhnya yang bagus, otot-otot yang tersembunyi di balik bajunya, membuatku merasa kalau dia memiliki bentuk tubuh yang sempurna.

“Ke...i...to...”, aku menggumamkan suatu kata. Aku  tidak tahu darimana aku tahu kata-kata itu. Tapi terlintas begitu saja di pikiranku.

“Ya?”, dia tersenyum. Ah, dia manis sekali. Atau bisa juga kubilang tampan? Aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya.

“Keito?”, aku mengulangi lagi kata itu. Dia kembali tersenyum. Sepertinya itu benar namanya. Tunggu, kenapa aku bisa tahu namanya? Padahal aku yakin aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi kini aku merasa sudah mengenalnya sejak dulu.

---flashbackend---

Aku mengatur nafasku dan mulai membuka amplop coklat yang kuterima dengan perlahan. Minggu lalu, aku mengirimkan foto saat senja itu ke sebuah kontes fotografi. Aku sangat suka foto itu dan memutuskan untuk memilih foto itu dan mengirimkannya ke sebuah kontes.

Aku tidak bisa berkata apa-apa saat membaca tulisan di dalam surat itu. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar dan mencari Keito. Aku harus segera memberitahu kabar baik ini padanya juga. Aku menang! Untuk pertama kalinya, aku menang kontes fotografi itu. Dan aku mendapat penilaian tertinggi dari dewan juri. Keito pasti juga akan ikut senang, sama sepertiku.

Tiba-tiba aku tersadar sesuatu. Bagaimana aku bisa menemukan Keito? Aku tidak tahu dimana rumahnya. Keito-lah yang selalu datang ke rumahnya. Atau mereka akan berjanji bertemu di suatu tempat. Betapa bodohnya aku. Kenapa aku tidak pernah menanyakan soal itu padanya. Seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar kalau Keito akan muncul saat aku mencarinya.

Eh? Sepertinya memang begitu.

Keito selalu muncul di hadapanku kalau aku mencarinya. Aku tidak perlu meneriakkan namanya. Dalam sekejap dia akan muncul di hadapanku. Seperti hantu.

“Yuto~”

Tuh kan, aku benar. Keito muncul! Dia menghampiriku dengan senyumannya yang manis. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Aku ingin mencubit kedua pipinya itu karena gemas melihat ekspresi mukanya itu.

“Aku mencarimu”

“Aku tahu. Aku mendengar suaramu. Makanya aku datang” jawab Keito.

“Eh? Apakah kau bisa mendengar suara hati seseorang?”

“Mungkin. Tapi tidak semua, hanya suaramu. Aku bisa mendengar suaramu dengan jelas Yuto” jelas Keito dengan nada penuh teka-teki. “Ada berita baik apa?”

Aku ingin bertanya lebih jauh soal Keito, tapi aku mengurungkan niatku. Aku tersenyum dan membuka amplop coklat yang kuterima dan memperlihatkan lembaran pengumuman pemenang kontes pada Keito.

“Aku menang Keito!” ucapku bangga.

Sekilas, aku melihat raut kesedihan terlukis di wajahnya. Tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja karena saat ini senyum lebar telah menghiasi wajahnya.

“Wah... Selamat Yuto! Akhirnya, karyamu diakui oleh mereka!”

“Itu semua berkatmu. Terima kasih Keito”

“Berkatku?”

“Ya, karena kau telah menjadi model yang sempurna bagi fotoku. Kurasa mereka memilih fotoku karena mereka terpesona olehmu”

“Tidak Yuto... mereka memilih fotomu karena kemampuanmu bukan karena aku”

Aku menggeleng keras. “Tidak. Aku yakin itu karena dirimu. Teruslah jadi modelku selamanya Keito” aku berusaha menggapai tangan Keito, tapi Keito seperti berjalan mundur dan menghindari tanganku.

“Tidak, Yuto” Keito tersenyum. “Aku tidak bisa menjadi modelmu lagi”

Aku terkejut. “Kenapa???”

“Karena tugasku sudah selesai. Setelah ini aku tidak bisa muncul di hadapanmu lagi. Maaf, tapi kau harus berusaha sendiri setelah ini. Aku yakin kau pasti bisa”

Aku terhenyak mendengar ucapan Keito. “Kau akan pergi? Kemana? Kenapa kita tidak bisa bertemu lagi?”

“Aku tidak pergi kemana-mana. Aku selalu disisimu. Tapi ini terakhir kalinya aku muncul di hadapanmu seperti ini”

Keito mendekat ke arahku dan memelukku. Ini pertama kalinya aku merasakan pelukannya. Kami tidak pernah bersentuhan tangan apalagi berpelukan.

“Sampai jumpa, Yuto” bisik Keito.

Aku memejamkan mataku. Aku ingin menahannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin Keito tidak pergi, tapi entah kenapa ada bagian dari diriku yang mengatakan Keito tetap ada di sampingku.

Ketika aku membuka mataku, sosok Keito sudah menghilang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tapi sosoknya tidak ada. Keito tidak ada dimanapun.

Dengan langkah gontai, aku kembali pulang ke rumah. Memikirkan bagaimana aku memotret selanjutnya tanpa Keito.

---***---

Aku menatap lama ke fotoku yang terpajang di dinding. Karyaku beserta karya peserta lain dipajang di sebuah pameran. Karena aku pemenang lomba, maka fotoku dicetak paling besar dan dipajang di tempat yang sering dilalui orang.

“Keito...” gumamku lirih. Aku masih merindukan Keito. Sejak hari Keito menghilang, dia sama sekali tidak pernah muncul di hadapanku lagi. Meskipun aku meneriakkan namanya seperti orang gila saat mencarinya, tapi aku tidak pernah menemukannya dan dia tidak pernah muncul.

“Foto yang bagus, kak”

Aku menoleh, kudapati Raiya, adikku, sedang berdiri disana. Tampaknya dia sedang mengunjungi fotoku.

“Foto saat senja ini bagus sekali kak. Seakan-akan kita melihat langsung senja itu dan membuatku tersedot ke dalam keindahannya”

“Keito memang model yang hebat” kataku.

“Keito?”

“Model di foto itu” tunjukku pada sosok Keito yang ada di foto itu.

Raiya mengernyit. Dia melihat ke arah lukisan itu dan ke arahku berulang kali. “Tidak ada manusia di fotomu kak”

Aku terkejut. “Jangan bercanda Raiya... Keito ada disana. Dia berdiri disana”

“Justru kakak yang harusnya berhenti bercanda. Bukankah Keito selalu ada di gantungan tas kakak?” Raiya meraih tas pinggangku yang berisi kamera mini. Tas pinggang yang selalu kubawa kemanapun. Dia meraih sesuatu yang bertengger di tasku itu. “Kakak sangat menyukai gantungan kunci ini kan? Bahkan sampai menamainya Keito”

Aku tersentak kaget saat melihat gantungan boneka manusia yang ada di tasku. Wajahnya sangat mirip dengan Keito yang selalu kutemui.

“Keito...” aku menggenggam gantungan boneka itu. “Jadi selama ini kau...” aku menatap boneka itu lekat-lekat. Sekilas aku merasa boneka itu tersenyum padaku.

“Terima kasih, Keito...”

Tamat