Kamis, 30 Juli 2015

SEE YOU IN HEAVEN

Cast : Yamada Ryosuke & Chinen Yuri
Genre : Romance, Gender Switch, Drama, One Shot

Kesal. Marah. Itulah yang kurasakan saat ini. Aku menatap lembaran kertas yang ada di hadapanku. Berkali-kali aku menulis, lalu Ku Coret, dan yang terakhir ku remas kertas itu. Aku sama sekali tidak bisa menulis lirik yang tepat. Buntu. Tidak ada kata yang keluar.
"Ryosuke... Minum ini dulu"
Yuri, kekasihku, memberikanku secangkir teh hangat. Baunya sangat menenangkan. Tapi rupanya teh itu belum mampu menghilangkan rasa kesal dan muak yang memenuhi pikiranku.
"Istirahatlah. Kau sudah terlalu lelah"
Aku mendelik ke arah Yuri. Kulihat wajahnya yang imut itu melihatku dengan penuh senyum. Senyum yang selalu kulihat. Senyum yang membuatku sayang padanya.
"Berisik! Sebentar lagi deadline! Apa kau tidak tahu?"
Aku melampiaskan semua rasa kesalku padanya. Rasanya rasa kesalku sedikit berkurang.
"Tapi..."
"Sudahlah Yuri! Jangan ganggu aku! Lebih baik kau pulang saja kalau kau terus menggangguku!", suaraku semakin meninggi. Rasanya perasaan Berat yang kurasakan sedikit berkurang saat aku membentak Yuri.
Yuri melihatku dengan pandangan takut, kecewa, dan sedih. "Aku mengganggumu?"
"Ya! Pergilah!"
Aku membalikkan badanku dan terus berkutat dengan pensil dan kertas. Tak lama kemudian, aku mendengar suara pintu dibanting. Yuri sudah pergi. Tampaknya dia kesal karena sikapku padanya. Tapi, perasaanku saat ini jauh lebih rumit.
Aku mulai sedikit menyesal. Yuri tidak salah apa-apa. Dia sama sekali tidak bermaksud buruk. Aku kemudian melihat foto kami berdua yang terpajang di dinding. Wajah Yuri yang selalu tersenyum bahagia selalu muncul di setiap foto.
"Aku akan minta maaf padanya"
Aku kemudian berlari keluar. Aku berniat menyusul Yuri. Yuri belum lama keluar Dari rumahku, jadi kurasa dia belum terlalu jauh. Aku segera menyusuri jalan yang biasa dilalui Yuri.
"Ah, itu dia"
Aku menarik nafas lega saat melihat sosok Yuri yang berdiri di pinggir jalan. Tak lama, Yuri kemudian menyeberang jalan setelah lampu berwarna hijau.
"Yuri!"
Aku berteriak memanggil namanya. Kupercepat langkahku.
"Yuri!"
Yuri berhenti. Dia kemudian menoleh ke arahku. Aku berlari menghampirinya. Dia masih menungguku berdiri disana.
TIN! TIN!!
Terdengar suara nyaring klakson Mobil. Entah apa yang terjadi. Aku berharap mataku salah melihat. Aku berharap yang kulihat hanyalah mimpi. Aku terhenti. Berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Ini pasti mimpi"
Aku melihat sebuah Mobil berlari kencang menuju ke arah Yuri. Mobil itu terus melaju hingga mengenai tubuh kecil Yuri. Yuri langsung terlempar saat mengenai badan mobil itu. Kini Yuri tergeletak di jalan sambil berlumuran darah.
Mataku langsung tergerak kembali saat aku melihat Yuri mengulurkan tangannya padaku. Ini bukan mimpi. Yuri memang tertabrak. Aku segera berlari menghampirinya. Membalas uluran tangan kekasihku.
"Yuri...", aku menggenggam tangannya. "Bertahanlah. Aku akan meminta bantuan", dengan panik aku mengambil HP di sakuku.
Yuri menahan tanganku. Dia menggumam pelan, kudekatkan telingaku ke mulutnya agar aku bisa mendengarnya.
"Ryo... Kau masih marah? Maafkan aku"
Aku menggeleng. "Justru aku yang harusnya minta maaf. Maafkan aku karena sudah melampiaskan kekesalanku padamu. Maafkan aku Yuri"
Yuri tersenyum. "Untunglah"
"Bertahanlah Yuri, bantuan akan segera tiba"
"Ryo...", Yuri memanggilku pelan. Kudekatkan telingaku sekali lagi. Aku bisa merasa nafasnya semakin melemah dan wajahnya semakin pucat.
"See you in heaven"
END

Rabu, 29 Juli 2015

TEN KNIGHTS

PART 34

BRUAGH!! Terdengar suara sesuatu yang jatuh secara serempak akibat terpental oleh sesuatu. Semua makhluk kegelapan yang mengurung Yuya dkk, jatuh terpental akibat kemampuan nullification yang dimilikinya. Berkat kemampuan Yuya inilah,mereka semua bisa selamat akibat serangan mendadak dari makhluk kegelapan yang menyerang mereka.

“Huft, hampir saja....”, ujar Yuya.

“Kupikir tadi aku bakal celaka, thanks Yuya. Untung kau berada bersama kami...”, ucap Yabu sambil menolong Inoo dan Keito agar kembali berdiri.

“Jangan merasa lega dulu. Aku hanya memantulkan serangan mendadak mereka, mereka belum mati sepenuhnya. Tuh lihat, mereka mulai bangkit lagi....”, Yuya menunjuk kearah makhluk kegelapan yang berada di sekitar mereka yang mulai bangkit lagi.

“Kali ini, kita bisa menyerang mereka”, Inoo mengeluarkan kedua pedangnya dari sarung pedang dan bersiap untuk menyerang para makhluk kegelapan tersebut.

“Ayo. Lebih cepat kita menyerang lebih baik. Menyerang adalah pertahanan yang terbaik”, ucap Keito yang sudah siap untuk bergerak maju.

“Tunggu dulu”, Yabu menahan Keito yang bersiap akan menyerang.

“Kenapa Yabu?”, ucap Keito heran karena Yabu menghentikannya.

“Biar aku saja yang menghadapi mereka semua. Kalian langsung masuk ke dalam saja. Bila benar Daichan ada disana, lebih baik kita segera membebaskannya. Melihat banyak sekali makhluk kegelapan yang berjaga di sekitar sini, aku bisa menduga kalau mereka sedang menjaga bangunan itu dan kemungkinan besar mungkin itu adalah kediaman Jack yang kita cari”, Yabu menjelaskan pada rekan-rekannya. Dia mengeluarkan botol air dari sakunya dan mulai membentuk sebilah pedang dari air yang ada dalam botol tersebut.

“Jumlah mereka banyak sekali Yabu.... meskipun mereka semua adalah makhluk kegelapan tingkat rendah, akan tetapi kau pasti akan kewalahan menghadapi mereka semua. Kau akan merasa lebih cepat capek setelah menghadapi mereka. Bukankah dengan menyerang bersama-sama itu lebih baik?”, ucap Keito.

“Dia tidak sendirian Keito, aku akan membantunya”, Inoo maju berdiri di samping Yabu. Yabu melihat ke arah Inoo, mukanya terlihat tidak senang dengan keputusan Inoo. Yabu membuka mulutnya seakan ingin protes dengan tindakan Inoo, tapi sebelum Yabu berbicara, Inoo sudah menyela terlebih dahulu, “Ini keputusanku sendiri. Meskipun kau memintaku untuk pergi, aku akan tetap disini bersamamu”, Inoo menatap Yabu dengan ekspresi yang bersungguh-sungguh seakan keputusannya itu tidak bisa diganggu gugat.

Yabu akhirnya menyerah dengan sifat keras kepala Inoo ini, “Baiklah, aku mengerti”.

“Kalau begitu, aku juga akan tetap disini”, ucap Keito juga.

“Tidak. Keito, kau bersama Yuya, masuk ke dalam bangunan itu. Terlalu berbahaya membiarkan Yuya pergi sendirian. Aku ingin kau menuntun Yuya di dalam sana dengan kemampuanmu itu. Kita tidak tahu apa saja yang ada di dalam sana, jadi dengan bantuanmu, kalian bisa tetap waspada di dalam sana”, ucap Yabu. “Yuya, segeralah masuk ke dalam sana. Cari Daichan dan bebaskan dia. Aku percaya kau pasti bisa. Urusan disini biar kami yang bereskan”, ucap Yabu.

Beberapa makhluk kegelapan yang mulai stabil, mulai berdiri dan menyerang mereka. Salah satu makhluk kegelapan menghampiri Yuya. Makhluk itu sangat gemuk, mukanya seperti bola, mata dan hidungnya tidak terlihat jelas, tapi mulutnya yang sangat lebar merupakan satu-satunya yang bisa terlihat jelas di muka makhluk tersebut. Mulut yang lebar itu terbuka, gigi yang tajam, serta lidah yang panjang menjulur keluar dari mulut makhluk itu. Makhluk itu menghampiri Yuya dengan mulutnya yang terbuka seakan ingin menggigit dan melahap Yuya. Dengan nullification miliknya, gerakan makhluk itu terhenti beberapa meter dari Yuya, dan terpental jauh dari Yuya. Yabu dengan sigap mengendalikan air miliknya dan merubah bentuknya menjadi seperti tombak dan mengarahkan tombak itu ke arah makhluk tadi hingga hancur tidak bersisa. Yabu juga mulai melebarkan air miliknya sehingga makhluk yang ada dalam jangkauan tombak air tersebut juga ikut hancur tidak bersisa.

Salah satu makhluk kegelapan melompat ke arah Inoo. Makhluk itu memiliki bentuk tubuh yang hampir mirip dengan manusia, akan tetapi, kulit makhluk itu berlendir dan tampak sangat licin. Di mukanya juga bisa terlihat kalau makhluk itu memiliki mata yang berjumlah tiga. Dua mata yang lain tampak seperti mengamati arah yang lain, akan tetapi, satu mata yang terletak di dahi makhluk tersebut menatap Inoo. Dengan sigap, Inoo menatap makhluk itu. Gerakan makhluk itu terhenti. Beberapa saat kemudian, makhluk itu berbalik dan mulai menyerang sesama makhluk kegelapan yang lain. Rupanya Inoo memberikan ilusi kepada makhluk itu agar dia menganggap makhluk kegelapan yang lain sebagai musuhnya. Inoo juga memberikan ilusi kepada beberapa makhluk kegelapan yang lain dan mereka mulai berbalik menyerang sesama makhluk kegelapan.

Inoo berlari menuju sekumpulan makhluk kegelapan yang ada di dekatnya, “Yoo, bisakah kalian melihat kemari??”, seru Inoo pada kumpulan makhluk itu. Semua makhluktersebut melihat ke arah Inoo. “Bingo! Target, Lock on!”, Inoo memberikan ilusi pada semua makhluk kegelapan yang melihat ke arahnya. Dia membuat makhluk kegelapan itu bertarung dengan sesamanya dan saling menghancurkan satu sama lain. Inoo mengarahkan pedangnya ke arah beberapa makhluk kegelapan yang ada didekatnya, dia menebas makhluk kegelapan yang ada di dekatnya dengan dua pedang kecil miliknya.

“Yuya! Keito! Cepat pergi dari sini! Serahkan mereka yang ada disini pada kami!”, seru Yabu.

“Tapi....”, ucap Keito. Keito melalui kemampuannya berhasil menghindari duri tajam yang mengarah ke arahnya. Setelah berhasil menghindar, dia kemudian meninju makhluk itu hingga terpental jatuh tersungkur dan tidak mampu berdiri lagi.

“Tidak usah khawatir. Aku bisa mengatasi mereka semua. Setelah selesai urusan kami disini, kami akan segera menyusul kalian”, ucap Yabu. Yabu membentuk sebuah bola air yang cukup besar, kemudian dia mengarahkan bola tersebut ke arah kumpulan makhluk kegelapan yang ada disana. Dalam sekejap makhluk kegelapan itu terkurung di dalam sana dan hancur di dalam bola air tersebut. “Tuh, lihatkan”, ucap Yabu.

“Baiklah. Kami serahkan urusan ini padamu. Aku akan segera masuk ke dalam. Setelah kalian selesai, sebaiknya kalian segera menyusul kami”, Yuya menepuk pundak Yabu dan mulai berlari masuk. “Ayo, Keito!”, seru Yuya pada Keito. Keito melihat ke arah Yabu, Yabu mengangguk ke arah Keito, Keito akhirnya mulai berlari mengikuti Yuya masuk ke dalam bangunan.

Sepanjang jalanan menuju ke arah kediaman Jack, beberapa makhluk kegelapan menghadang mereka. Yuya berhasil menghalau serangan mereka dengan kemampuannya, akan tetapi Yuya sama sekali tidak berniat menyerang balik mereka. Keito berencana untuk menyerang mereka, akan tetapi langkahnya dihentikan oleh Yuya.

“Sudahlah, tidak usah mempedulikan mereka. Kita sudah mempercayakan urusan disini pada Yabu dan Inoo kan? Lebih baik kita segera masuk ke dalam dan menghindari pertarungan yang tidak perlu”, kata Yuya.

“Baiklah”, Keito menuruti perkataan Yuya dan mereka pun masuk ke dalam.

Di tempat Yamada dkk.

Jumlah makhluk kegelapan yang menyerang kami lama kelamaan semakin berkurang. Satu persatu makhluk kegelapan itu hancur dan lenyap terkena serangan kami. Chinen dan Hikaru masih menghadapi musuh yang datang dari atas, Yuto masih berusaha meninju zombie yang muncul dari bawah tanah. Kekuatan pukulannya yang sangat dahsyat membuat zombie yang terkena pukulannya langsung hancur tak terbentuk. Aku masih berusaha fokus dengan makhluk kegelapan yang ada di depanku. Kutebas musuh dengan pedang peninggalan ayahku ini. Entah kenapa, meskipun ini barupertama kalinya aku memakai pedang dalam pertarungan, aku sama sekali tidak merasa kesusahan dalam menggunakannya. Bahkan aku bisa dengan lancar menebas musuh yang datang.

“Hika maaf, aku sudah tidak kuat lagi”, ucap Chinen. Setelah mengatakan hal seperti itu, dia lalu turun ke tanah dan wujudnya kembali seperti semula. Waktu kemampuannya telah habis.

“Tidak apa-apa, jumlah musuh tinggal sedikit, aku bisa mengatasi mereka semua sendirian”, ucap Hika sambil meletakkan pistolnya kembali ke tempatnya. “Kalian semua! Tutup telinga kalian!”, seru Hika. Aku, Yuto dan Chinen langsung menutup telinga kami rapat-rapat. Hika menarik nafas panjang dan mulai membuka mulutnyalebar-lebar.

“AAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”, suara teriakan Hika menggema ke seluruh hutan. Makhluk kegelapan yang terkena gelombang suara dari Hika hancur tidak bersisa. Dalam sekejap, seluruh musuh yang ada di udara habis. Musuh yang tidak terkena dampak langsung dari teriakan Hika, jatuh kebawah. Bahkan musuh yang ada di bawah tanah pun KO terkena efek serangan Hika. Telingaku bahkan masih berdengung meskipun sudah kututuprapat-rapat.

“Huwaa.....”, aku menganga saat melihat semua musuh jatuh dan tidak bergerak. Semuanya tumbang akibat kekuatan Hika.

“Sudah tidak ada lagi musuh yang tersisa”, ucap Hika sambil melihat ke sekelilingnya. “Yosh, ayo kita segera menuju ke tempat segel. Kita sudah terlalu lama membuang waktu disini”, Hika segera berlari menuju tempat yang akan mereka tuju. Aku, Yuto, dan Chinen saling berpandangan dan akhirnya mulai berlari mengikuti Hikaru.

Kami terus berlari menyusuri jalan setapak yang ada di hadapan kami. Sepanjang perjalanan beberapa makhluk kegelapan datang dan menghadang kami. Yuto dan Hikaru yang berada di depan dengan sigap langsung membasmi musuh yang datang. Chinen dan aku membasmi musuh yang datang dari samping dan belakang.

“Berhenti!”, seru Hika tiba-tiba sambil melebarkan kedua tangannya mencegah kami agar tidak berlari lebih jauh.

“Kenapa Hika?”, tanyaku.

“Ssstt....diam sebentar!”, Hika memerintahkan kami untuk diam dan mulai berkonsentrasi terhadap sesuatu. “Kalian dengar itu?”, tanya Hika. Kami bertiga juga mulai memasang telinga baik-baik. Perlahan aku bisa mendengar bunyi seperti suatu getaran motor. Aku melihat ke bawah kakiku.

“Asalnya dari dalam tanah”, kataku sambil mulai berjongkok agar bisa memastikan dengan jelas bahwa suara yang kudengar memang berasal dari dalam tanah. Hika, Chinen, dan Yuto juga ikut berjongkok di dekatku dan juga mulai memastikan bahwa suara yang kami dengar asalnya dari bawah. Tiba-tiba aku merasa tanah yang kami pijaki bergetar, “Huwaaa!!!”, tanah itu terbelah sehingga tercipta sebuah lubang di dalam tanah. Kami semua jatuh ke dalam lubang tersebut.

Di depan pintu kediaman Jack

Sesampainya di dalam, mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Bukan karena langkah mereka dihentikan oleh musuh atau mereka terjebak sesuatu, akan tetapi mereka tidak bergerak akibat mereka tidak bisa melihat apapun di dalam. Ya, di dalam bangunan itu, sama sekali tidak ada cahaya yang bisa menerangi jalan mereka.

“Keito, kau ada dimana?”, tanya Yuya sambil meraba-raba dalam kegelapan berusaha mencari sosok Keito dalam kegelapan tersebut.

“Aku disini kok. Aku sama sekali tidak bergerak dari tempatku berada. Kau sendiri ada dimana?”, Keito juga mulai meraba-raba dalam gelap. Hingga akhirnya tangannya bisa meraih sesuatu. Dia mulai meraba apa yang dia pegang, rasanya empuk dan berisi, tapi dia tidak yakin kalau itu adalah Yuya. “Yuya?”, tanya Keito yang berusaha memastikan kalau yang dia raba itu adalah Yuya.

“Keito! Hentikan! Apa yang kau pegang! Jangan pegang disitu!”, seru Yuya. Akhirnya Yuya berhasil menggenggam tangan Keito yang meraba-raba tubuhnya dari tadi.

Tiba-tiba ada secercah cahaya yang mulai menerangi mereka. Lama-kelamaan cahaya itu semakin cerah dan akhirnya Yuya dan Keito bisa melihat dengan jelas di sekitar mereka. Mereka melihat ke arah sumber cahaya yang berasal dari api yang menyala di sekitar dinding. Yuya dan Keito saling bertatapan dan melepaskan pegangan tangan mereka yang saling menyentuh satu sama lain dengan gugup.

“Itu bisa disebut pelecehan seksual lo Keito....”, ujar Yuya setelah mereka melepaskan pegangan tangan mereka masing-masing.

“Apanya yang pelecehan, tadi kan gelap dan aku sama sekali tidak bisa melihat, jadi aku tidak tahu apa yang kupegang tadi!”, Keito menjelaskan pada Yuya sambil memalingkan muka. Yuya bisa melihat telinga Keito yang memerah.

“Jangan-jangan tadi kau bermaksud memanfaatkan keadaan ya? Kau punya rasa terpendam padaku ya? Tapi, maaf saja ya. Aku tidak bisa membalas perasaanmu”, bisik Yuya. Telinga Keito semakin memerah, Yuya menahan tawa saat melihatnya. “Aahhh, kalau Daichan yang melakukan itu padaku aku akan senang setengah mati. Kenapa justru Keito yang melakukannya. Benar-benar sial....”.

“Siapa yang bilang! Kau ini!!! Lebih baik kita segera menyelidiki tempat ini!”, ucap Keito yang mulai berjalan lebih dahulu meninggalkan Yuya yang masih menahan tawanya melihat tingkah laku Keito.

Mereka pun mulai menyusuri jalan yang ada di depan mereka. Tampaknya setelah berada di pintu masuk tadi, mereka sampai di sebuah lorong. Mereka terus menyusuri lorong tersebut. Api terus menyala saat mereka semakin jauh masuk ke dalam. Saat mereka melihat ke arah belakang, api di dinding belakang mereka juga padam. Sebaliknya, api yang ada di depan mereka terus menyala, seakan-akan api itu akan menyala bila ada sesuatu yang melewati lorong tersebut.

Keito mengeluarkan bola kristalnya dan berusaha menggunakan kemampuannya untuk melihat kondisi di dalam banguan tersebut. “Hmm... aneh”, gumam Keito.

“Ada apa Keito?”

“Aku berusaha melihat apa yang terjadi dalam bangunan ini. Dan aku melihat tidak ada satupun tanda makhluk kegelapan ada di tempat ini. Padahal, banyak sekali makhluk kegelapan di luar sana. Seharusnya, makhluk kegelapan yang ada di dalam sini akan semakin banyak”.

“Kalau kau bilang begitu, benar juga...”, Yuya melihat ke sekeliling mereka yang tidak tampak ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka selain api yang menyala di dinding. “Kalau benar disini ada makhluk kegelapan juga, Seharusnya, mereka sudah menghadang kita di depan pintu masuk tadi. Tapi, meskipun kita sudah berjalan sejauh ini, makhluk kegelapan sama sekali tidak ada yang menyerang kita”.

“Tuhkan, apa mungkin mereka semua sudah pergi dari sini?”

“Kalau begitu, mereka semua sudah meninggalkan tempat ini?”, kaki Yuya mulai lemas, dia terduduk di lantai seakan telah kehilangan tenaga. “Kalau begitu, Daichan juga tidak ada disini?”.

“Tunggu dulu. Aku bisa melihat ada sesuatu di ruangan yang letaknya agak jauh darisini. Bagaimana? Kau ingin memeriksanya?”, tanya Keito.

“Tidak ada salahnya kalau kita pergi kesana kan? Mungkin saja itu Daichan”, Yuya mulai berdiri lagi.

“Tapi, kalau ternyata disana malah justru musuh yang menunggu kita bagaimana?”

“Ya, tinggal kita kalahkan dan lawan”, ucap Yuya dengan percaya diri. “Ayo, kita periksa tempat itu”.

“Baiklah, ayo ikuti aku”, Keito mulai berjalan di depan. Yuya mengikuti Keito dari belakang. Jalan yang mereka lalui semakin menurun. Tampaknya, mereka telah masuk ke dalam sebuah ruang bawah tanah. Keito terus berjalan hingga mereka sampai di sebuah pintu besar. “Ini tempatnya”, kata Keito. Keito dan Yuya saling bertatapan, mereka memegang pintu itu bersama-sama dan secara serempak mereka mendorong pintu itu hingga terbuka.

Ketika pintu itu terbuka lebar, mereka bisa melihat ruangan yang sangat luas. Awalnya, ruangan itu gelap, tapi sama seperti di lorong, perlahan api yang menempel di dinding ruangan itu mulai menyala satu persatu menerangi ruangan itu. Di tengah ruangan terlihat seperti ada sebuah altar. Di hadapan mereka terdapat sebuah ukiran berbentuk bintang yang sangat besar.

“Yuya! Coba lihat itu!”, seru Keito sambil menunjuk ke ukiran bintang tersebut. Yuya mengamati bintang tersebut. Terdapat sesuatu yang menempel di tengah bintang tersebut. Yuya membelalakkan matanya dengan tidak percaya.

“DAICHAN?!?!”, seru Yuya dan Keito.

Tsuzuku ~~~

Senin, 27 Juli 2015

AKUMA NO YOROI

Part 21
“Apa yang ingin kau lakukan dengan Yuya? Dia adalah demon yang paling tidak bisa diatur. Yang Mulia saja tidak bisa mengaturnya, apalagi kau”
“Itu benar Inoo”, tambah Hika. “Kalaupun Yuya ada disini, apakah kita harus bertarung dengannya? Kau tahu kan kalau di antara kita tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Yuya adalah salah satu demon kelas S”
“Tunggu dulu”, Yama tiba-tiba menyela. “Aku tidak mengerti pembicaraan kalian. Bisa kalian jelaskan pada kami?”
Inoo melihat Yama, lalu ke Chii, dan terakhir Keito. Cukup lama Inoo mengamati Keito. Perlahan Inoo berjalan mendekat ke arah Keito, Inoo memegang dada Keito, dimana tanda kutukan itu berada.
“Jawab pertanyaanku”
“Ha?”, Keito kaget ketika Inoo tiba-tiba melihatnya dengan pandangan yang cukup serius.
“Kau ingin tanda kutukan ini hilang?”
Keito melotot. “Kau bisa menghilangkannya?”
“Jawab saja pertanyaanku”
“Ya”, jawab Keito mantap.
Inoo tersenyum. Entah kenapa, Keito merasa tangan Inoo yang sedang mengusap kepalanya itu terasa sangat lembut.
“Kalau begitu, mulai sekarang turuti semua perkataanku. Selama kau menurutinya, kutukanmu akan hilang. Tenang saja, aku tetap akan menjelaskannya pada kalian apa rencanaku”
Yama menggeram tanda tak suka. Demon ini sudah membuat Chii menderita akibat siksaan, membuat Keito kelelahan karena imbalan mereka, dan sekarang mereka meminta Keito untuk menuruti perintahnya? Kalau sampai seperti itu, Chii akan lebih menderita.
Yama membuka mulutnya untuk protes. Tapi tiba-tiba tangan Chii sudah menutup mulutnya. Chii mengangkat tubuh Yama dan menggendongnya.
“Diamlah dulu Yama”, Chii berkata sangat pelan sehingga suaranya hanya bisa terdengar oleh mereka berdua.
“Kalau Keito mengikuti perkataan demon itu, maka siksaan yang kau terima akan semakin berat”, balas Yama dengan suara yang tak kalah pelannya.
“Tidak apa. Aku memang tidak mempercayai demon-demon itu sepenuhnya, tapi saat ini hanya mereka-lah yang bisa menolong Keito-sama. Lihat sisi baiknya, demon-demon itu berpihak pada kita sehingga mereka disebut pengkhianat kan? Itu sangat menguntungkan bagiku. Apalagi mereka bersedia membantu kita mengembalikan kekuatan kita yang sudah direbut oleh demon yang lain. Jadi, tidak ada salahnya kan?”
“Demon tetaplah demon. Mereka adalah makhluk gaib yang kejam dan tidak bisa dipercaya!”, suara Yama agak keras kali ini. Hika yang berdiri tidak jauh dari mereka sampai melihat ke arah mereka berdua sekilas.
“Aku tahu. Tapi bersabarlah sebentar Yama. Tunggu sampai kekuatan kita kembali. Lagipula, apa kau lupa? Cara untuk menghilangkan kutukan demon yang ada di tubuh Keito-sama adalah mengikat kontrak dengan 7 demon. Jadi, kita tidak punya pilihan lain”
Belum sempat Yama membantah, mulutnya tertutup kembali saat mendengar Keito mengiyakan kalau dia akan menuruti semua perkataan Inoo. Yama menggeram kesal. Chii mengelus-elus kepala Yama dengan lembut, berusaha menenangkan perasaan temannya itu.
“Semua akan baik-baik saja Yama. Percayalah pada keputusan Keito-sama”
“Nah”, Inoo tersenyum dengan puas. “Kalau begitu, aku akan menjelaskan semuanya. Kemarilah”
Semua yang hadir di ruangan itu mendekat ke arah Inoo untuk mendengar penjelasan yang akan diutarakan demon berwajah cantik itu. Inoo menatap ke arah Daiki yang kini sedang terbaring kelaparan. Daiki menatap Inoo dengan penuh harap, tapi Inoo hanya membalasnya dengan senyum.
“Di tubuhmu, lebih tepatnya di bagian dadamu, ada sebuah tanda kutukan yang tampak seperti luka bakar kan?”, tanya Inoo pada Keito. keito mengangguk. “Tanda kutukan yang ada di tubuhmu adalah tanda kutukan yang diberikan oleh Yang Mulia. Tanda kutukan itu berarti, kau akan menjadi santapan bagi Yang Mulia Raja tepat pada saat kau mencapai usia 17 tahun”
“Kenapa harus menungguku sampai aku berusia 17 tahun? Kenapa pada saat itu dia tidak langsung memakanku saja?”, tanya Keito.
Kali ini, Yabu yang menjawab karena Inoo menoleh padanya seakan menyuruhnya untuk menjawab. “Kau memiliki kekuatan spiritual yang besar. Kami semua bisa melihatnya. Memang saat ini kekuatan itu belum sempurna. Kekuatan itu belum tampak saat kau masih kecil.Biasanya, kekuatan ini baru akan muncul saat seseorang sudah mencapai dewasa, yang artinya saat dia sudah berusia 17 tahun. Tapi Yang Mulia Raja tahu itu, sehingga dia membiarkanmu hidup dan memberikan tanda kutukan padamu agar Yang Mulia bisa menyantapmu saat semua kekuatan spiritualmu bangkit”
Keito menelan ludah. Dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Setahu dia, ayahnya-lah yang memiliki kekuatan spiritual terbesar. Benarkah dia memiliki kekuatan spiritual yang cukup besar sehingga mampu menarik perhatian Yang Mulia Raja Demon?
“Lalu, apa alasan kalian menyerang keluarga Okamoto?”, kali ini giliran Yama yang bertanya. Masih jelas ingatannya saat dia bertarung melindungi Kenichi-sama dari serangan para demon yang buas.
“Itu karena...”, Yabu sempat melirik sekilas ke arah Inoo.
“Itu karena kekuatan spiritual Keito-lah yang memancing Yang Mulia”. Inoo tiba-tiba memotong ucapan Yabu. “Yang Mulia bisa mendeteksi manusia yang memiliki kekuatan spiritual yang cukup kuat sehingga dia berusaha untuk memakannya. Ya kan, Yabu?”
Yabu terdiam. Inoo menatapnya dengan pandangan tajam. Yabu akhirnya mengangguk pelan.
Yama memandang Inoo dan Yabu dengan penuh curiga. Yama merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua. Betul apa yang dirasakan Yama, demon tidak bisa dipercayai sepenuhnya.
“Jadi...”, Keito terdiam sejenak untuk mengambil nafas panjang. “Kejadian 10 tahun lalu, kejadian yang menewaskan hampir seluruh anggota keluargaku itu, gara-gara aku?”. Muka Keito berubah menjadi agak pucat. “Gara-gara aku lahir di dunia ini, aku hampir menewaskan semua anggota keluargaku?”
Yama melepaskan diri dari dekapan Chii dan berlari menghampiri Keito. Yama menjilati tangan Keito. hal ini dilakukan Yama untuk membuat Keito tenang. “Itu bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri”
Chii juga mendekat ke arah mereka berdua. “Itu benar Keito-sama. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan Keito-sama. Ini semua gara-gara demon itu. Mereka bahkan berusaha membunuh Keito-sama yang masih kecil. Mereka juga membunuh anggota keluarga Okamoto lain yang tidak memiliki salah apapun”. Sorot mata kebencian Chii sangat terasa. Chii melihat ke arah Daiki yang masih terbaring lemas dengan penuh kebencian.
Inoo menepuk tangannya. “Adegan yang cukup mengharukan. Sekali lagi, aku merasa tersentuh. Sebenarnya, aku ingin membiarkan adegan ini lebih lama lagi karena menurutlku sangat lucu. Tapi sayang kita tidak punya banyak waktu”. Inoo menatap ke arah Daiki yang mulai menggeliat.
“Kau tahu makna sebenarnya tanda kutukan itu?”, tanya Inoo.
“Bukankah ini tanda kalau aku akan menjadi santapan Yang Mulia?”
“Itu memang salah satu makna kutukan itu. Tapi, tahukah kau apa yang akan terjadi kalau kau telah disantap Yang Mulia?”
Keito menggeleng.
“Kau akan menjadi demon. Siapapun yang telah dimakan oleh Yang Mulia akan menjadi demon. Atau lebih tepatnya, manusia yang dimakan oleh demon akan berubah menjadi demon. Itulah asal usul demon”
Keito terhenyak saat mendengar penjelasan Inoo. “Menjadi demon?”. Suatu pemikiran melintas di kepalanya, dia menatap ke arah Inoo, Yabu, dan Hika secara bergantian. “Jadi, kalian ingin bilang kalau demon itu awalnya berasal dari manusia? Dan, jangan bilang kalau kalian dulu adalah manusia?”
Inoo, Yabu, dan Hika mengangguk secara serempak. Keito membuka mulutnya karena terkejut mengetahui suatu kenyataan yang tidak terduga. Kenyataan yang tidak disangka.
“Yah, diantara kami bertiga, Yabu yang pertama kali menjadi demon. Sama sepertimu, dia juga dimangsa oleh Yang Mulia Raja dan berubah menjadi demon”, jelas Inoo
“Tapi, sejarah mengatakan kalau demon adalah makhluk yang tercipta karena keburukan dan kejahatan yang terkumpul. Aura jahat itu akan berkumpul menjadi satu dan menciptakan suatu makhluk yang mengerikan”
Yabu yang menjawab. “Memang, beberapa demon tercipta karena sifat buruk manusia. Sifat buruk itu mengeluarkan aura yang khusus sehingga sesama aura itu saling tarik menarik dan berkumpul. Sifat jahat yang sudah berkumpul itu kemudian melahirkan sosok kejam, yang kalian namakan ‘demon’. Demon itu kemudian memangsa manusia yang sudah menciptakan mereka. Kalian, para manusia, membenci demon seakan-akan kami adalah makhluk yang kejam, tapi justru kalian-lah yang menciptakan kami. Jika saja manusia tidak ada, kami tidak akan tercipta. Dan manusia yang lain tidak perlu sampai menjadi demon”, dari nada suara Yabu bisa terasa kebenciannya terhadap manusia. Rasa benci yang pasti ada di setiap demon.
Keito terdiam. Yama menunduk. Chii juga sama. Mereka bertiga kemudian sama-sama terdiam. Sama sekali tidak ada yang berani berkomentar di antara mereka. Ucapan Yabu ada benarnya. Mereka membenci demon, padahal mereka sendiri yang menciptakan mereka.
“Yang Mulia Raja adalah demon yang pertama kali tercipta” kali ini giliran Inoo yang kembali menjelaskan. Yabu kembali terdiam karena emosinya meningkat setelah penjelasannya tadi. “Yang Mulia adalah demon yang paling kuat dan paling lama hidup di antara semua demon. Yang Mulia-lah yang kemudian menemukan cara kalau manusia bisa berubah menjadi demon setelah disantap oleh demon. Itulah yang membuat jumlah demon meningkat akhir-akhir ini”
“Jadi, semua demon yang ada sekarang ini adalah manusia yang telah diubah menjadi demon?”, tanya Keito.
“Tidak semuanya. Ada beberapa demon yang murni lahir dari sifat buruk manusia. Seperti halnya Yang Mulia. Demon-demon inilah yang disebut demon kelas S. Mereka adalah demon terkuat kedua setelah Yang Mulia Raja. Jumlah mereka ada 6. Kekuatan mereka setara dengan 10 demon kelas A”, jawab Inoo.
“Lalu kenapa kalian membantu Keito menghilangkan kutukannya? Dari cara pengucapan kalian, aku bisa merasa kalau kalian sama-sama membenci manusia. Kenapa kalian malah membantu Keito?”
“Cara menghilangkan tanda kutukan itu adalah mengikat kontrak dengan 7 demon kan? Kalian tahu kenapa harus mengikat kontrak dengan demon?”, tanya Inoo. Keito hanya terdiam, menandakan kalau dia tidak tahu jawabannya.
“Tanda kutukan itu awalnya dibuat oleh Yang Mulia Raja. Saat kau mengikat kontrak dengan demon lain, itu artinya tanda kutukan yang dibuat oleh Yang Mulia mulai melemah. Dan akan semakin melemah dengan semakin banyaknya demon yang kau kontrak. Buktinya, tanda kutukan itu mulai memudar kan?”, jelas Inoo.
Keito membuka bajunya dan melihat tanda kutukan di dadanya mulai memudar. Berbeda dengan pertama kali saat tanda kutukan itu ada. Kali ini tanda kutukan itu mulai tampak seperti luka bakar ringan. Dadanya pun jarang terasa sakit semenjak mengikat kontrak dengan demon.
“Lalu, apa hubungannya?”, tanya Yama yang mulai tidak sabar.
“Karena kami ingin kembali menjadi manusia”, jawab Hika spontan. Yama, Chii, dan Keito terkejut lagi untuk kedua kalinya. “Kami tidak ingin menjadi demon lagi. Kami ingin kembali seperti dulu, saat kami masih menjadi manusia”
“Saat Yang Mulia memberi kutukan di salah satu targetnya, saat itu juga pengaruh Yang Mulia pada targetnya terikat. Rasa sakit yang kau rasakan di dadamu itu adalah buktinya. Tanpa kau sadari, Yang Mulia telah mengambil kekuatanmu secara perlahan. Saat kau mengikat kontrak dengan demon lain, saat itulah pengaruh Yang Mulia mulai berkurang. Selain itu, Yang Mulia juga akan ikut melemah. Semakin banyak demon yang kau ikat, semakin melemah Yang Mulia”, jelas Inoo.
“Lalu, kalau Raja Demon melemah, apa yang kalian rencanakan?”, tanya Keito.
“Tentu saja melenyapkannya. Dengan melenyapkan Raja Demon, ada kemungkinan kalau kami bisa kembali menjadi manusia”, jawab Inoo.
“Kalian ingin membasmi sesama demon?”, tanya Chii tidak percaya.
“Itulah sebabnya kami disebut pengkhianat”, ucap Inoo sambil tersenyum. “Nah, karena kau sudah mengikat kontrak dengan 3 demon. Maka sudah waktunya kau mengikat kontrak dengan demon keempat”
Yabu mendesah nafas panjang. “Aku mengerti sekarang. Kau ingin agar bocah ini mengikat kontrak dengan Yuya kan?”
“EH?!?!”, Hika melonjak kaget saat mendengar ucapan Yabu. “Bocah ini mengikat kontrak dengan Yuya??? dia tidak akan bisa. Itu mustahil. Tidak ada cerita demon kelas S mengikat kontrak dengan manusia”
“Tidak ada yang tahu sebelum dicoba kan?”, Inoo tersenyum penuh arti. “Nah, Keito”. Keito menunggu apa yang akan dikatakan Inoo. “Aku ingin kau mengikat kontrak dengan Takaki Yuya. Demon kelas S. Ini memang sedikit susah, tapi kau harus berhasil”
“Kenapa harus dengan demon kelas S? Kenapa tidak dengan Arioka senpai saja?”, Keito menunjuk ke arah Daiki yang tampaknya mulai bertingkah aneh. keito sedikit tertegun melihat perubahan tingkah Daiki yang makin lama makin kelihatan sedikit kasar.
“Yah, setelah kau mengikat kontrak dengan Yuya, kau akan kuminta mengikat kontrak dengan Daichan kok”, ucap Inoo seenaknya. “Tapi, aku ingin kau mengikat kontrak dengan Yuya terlebih dahulu. Demon keempat adalah demon penentu. Aku ingin memberikan efek yang cukup besar pada Yang Mulia saat kau mengikat kontrak dengan Yuya”
“Kau memang gila”, Yabu menyindir temannya itu. “Tidak ada jaminan Yuya akan mengikat kontrak dengan bocah ini. Apalagi bagaimana caranya memanggil Yuya kemari? Memangnya Yuya akan datang begitu saja saat kau panggil?”
Inoo berjalan menghampiri Daiki yang tampak mulai sedikit buas. Rasa laparnya yang semakin menjadi membuat aura demonnya meluap keluar. Matanya kini telah berubah menjadi merah menyala. Yama merasa seluruh tubuhnya berdiri saat melihat Daiki. Chii juga merubah wujudnya menjadi seekor rubah kecil karena dia mulai merasa bahaya saat melihat Daiki.
“Kalau aku yang memanggil Yuya, dia tidak akan datang. Tapi, kalau anak ini yang memanggilnya, Yuya pasti akan datang menemuinya”, ucap Inoo sambil mengusap rambut Daiki. “Nah Daichan, sekarang bisa kau panggilkan tuanmu itu kemari?”
---***---
Di sebuah kamar yang gelap. tampak ada seorang pemuda yang duduk di samping tempat tidur. Di tempat tidur itu, berbaring seorang pemuda bermuka sama.
“Dia belum sadar?”
Yuto tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Shin yang terus duduk menunggui Ryuu yang masih terpejam. Shin menggeleng. Shin kemudian meraih tangan Ryuu dan menggenggamnya dengan erat.
“Semenjak dia melahap Hokuto, dia terus tertidur. Sepertinya tubuhnya tidak kuat menahan kekuatan Hokuto yang masuk”
“Tapi, sepertinya kau baik-baik saja. kalian berdua sama-sama melahap Hokuto sampai habis kan?”
“Itu karena di tubuh kakak saat ini ada 2 kekuatan yang bertumpuk. Yang satu milik Hokuto, yang satunya lagi milik anjing sialan itu”
“Ah, dewa pelindung Okamoto” gumam Yuto. “Yah, aku mengerti kok. Saat ini di tubuhnya terjadi tubrukan antar kekuatan yang berbeda. Jadi, tubuhnya butuh waktu yang lama untuk beradaptasi”
Shin menggeram. “Cih, kenapa kakak tidak langsung membunuh anjing itu saja? Selama sang pemilik kekuatan asli masih hidup, kekuatan itu tidak bisa menjadi milik kakak”
Yuto hanya tersenyum mendengar ucapan Shin. Dia memutuskan segera keluar ruangan, meninggalkan kedua demon kembar itu sendirian.
“Ryuu tidak akan bisa membunuh anjing itu Shin. Selamanya tidak akan bisa”, gumam Yuto sesaat sebelum menjauhi ruangan tempat Ryuu dan Shin berada.
Sesekali Yuto menatap ke luar istana. Langit hitam dan berkabut menyambutnya. Istana ini memang selalu diliputi awan hitam dan gelap. Sama sekali tidak ada sinar matahari yang menyinari istana ini.
“Lagi-lagi...”, keluh Yuto.
Yuto bisa merasakan aura kejam dan jahat mendekat ke arahnya. Dari auranya, Yuto bisa menebak siapa pemilik aura tersebut. Tidak berapa lama, Yuya muncul dari arah yang berlawanan. Mata merahnya bersinar cukup terang di lorong istana yang cukup gelap.
“Aku tidak melihat Daiki sejak pulang sekolah tadi”
Yuto bisa menebak apa yang akan dikatakan Yuya padanya. Saat ini biasanya adalah waktu makan bagi mereka berdua, dan seperti biasanya, mereka berdua akan berada di satu ruangan dan mulai memangsa satu sama lain.
“Aku tahu. Aku juga tidak bisa merasakan auranya di istana ini. Sudah berkali-kali kupanggil dia juga tidak datang”
“Jangan-jangan dia kabur?”, tebak Yuto. “Atau mungkin, dia akhirnya berkhianat dan memilih untuk bersengkokol dengan Inoo?”, Yuto mengucapkan ide yang terlintas di kepalanya. Raut muka Yuya langsung berubah.
“Tidak mungkin. Itu adalah hal yang bodoh”, bantah Yuya.
“Kenapa tidak mungkin? Bagi kita, demon kelas S, itu memang hal yang mustahil, tapi bagi Daiki, Inoo, Yabu, dan Hika, hal itu adalah hal yang mereka harapkan. Mereka dulunya adalah manusia, begitu pula Daiki. Kau yang mengubah Daiki menjadi demon pasti tahu tentang hal itu kan?”
Yuya memukul dinding yang ada di sebelahnya. Begitu kerasnya hingga dinding itu retak dan muncul sebuah lubang besar dari bagian dinding yang dipukul Yuya.
“Daiki milikku. Dia makananku. Tidak ada satupun yang boleh merebutnya”, geram Yuya.
“Kalau dia memang peliharaanmu yang berharga, lebih baik kau menjaganya. Salahmu sendiri tidak bisa menjaganya. Kalaupun dia menjadi pengkhianat, kau kan bisa mencari manusia lain yang bisa kau jadikan demon. Kehilangan satu peliharaan tidak akan merugikan kan?”
Yuya hanya berdecak kesal. Sesaat kemudian dia tiba-tiba berhenti. Sesuatu sedang menangkap pendengarannya. Semenit kemudian, Yuya menghilang dari hadapan Yuto, meninggalkan Yuto sendiri lagi di lorong istana yang gelap.
---***---
Daiki mulai terlihat berbahaya. Gigi-giginya kini mulai terlihat runcing. Berkali-kali dia menunjukkan giginya itu dengan mulutnya yang terbuka. Dengan sekuat tenaga Daiki berusaha melepaskan ikatan yang ada di tubuhnya. Tali yang awalnya bisa menahan kekuatan Daiki ini mulai tidak berpengaruh pada Daiki. Jika saja Hika tidak mengikatnya dengan erat, tentu Daiki sudah bisa melepaskan diri dan menyerang mereka semua.
“Inoo, ini mulai gawat. Dia benar-benar sudah terlalu lapar”, Hika melihat ke arah Daiki yang terus berusaha melepaskan ikatannya. Entah sampai kapan tali dan mantra kurungan ini bisa menahan Daiki. “Kalau dia mulai membabi buta, kita tidak bisa menghentikannya. Aku tidak ingin mengalami hal yang sama seperti 10 tahun yang lalu”
Inoo hanya tersenyum. Berbeda dengan Hika dan Yabu yang mulai berjalan menjauhi Daiki, bersiaga seandainya Daiki bisa meloloskan diri dan menyerang mereka. Inoo dengan santainya malah duduk di sebelah Daiki.
“Daichan... kau lapar?”, tanya Inoo.
Daiki mengangguk dengan sekuat tenaga. bahkan suara perutnya pun bisa terdengar.
“Kalau begitu, apa yang ingin kau makan? Daging?”, tanya Inoo. Daiki mengangguk. Mata merahnya terlihat bersinar penuh harap. “Daging apa? Hewan? Manusia? Dewa pelindung? Atau...”, Inoo menghentikan ucapannya sebentar. “Kau ingin memakan daging demon? Mana yang kau pilih?”
“DEMON! AKU INGIN MEMILIH MAKAN DAGING DEMON!”, jawab Daiki.
Hika dan Yabu sontak mundur selangkah lagi. Sedangkan Keito, Chii, dan Yama diam-diam menarik nafas lega.
“Siapa? Kau ingin makan dagingku? Hika? Yabu? Atau... Yuya?”, tanya Inoo sekali lagi.
“YUYAN!!! YUYAN!!! YUYAN!!!”
Daiki berkali-kali meneriakkan nama Yuya. Saking kerasnya suara Daiki sampai seluruh rumah terasa bergetar. Chii menutup kedua telinga Keito agar gendang telinganya tidak pecah karena suara Daiki yang sangat keras.
Inoo tersenyum puas saat Daiki meneriakkan nama Yuya, Inoo menjetikkan jarinya. Ada bunyi sesuatu yang retak. Tidak lama, Yuya sudah berdiri di hadapan mereka semua. Keito kembali terkejut melihat kemunculan senpainya itu tiba-tiba di rumahnya.
“DAIKI, DIAM!”
Daiki langsung menutup mulutnya saat mendengar perintah Yuya. Mukanya terlihat sangat senang saat melihat sosok Yuya. Air liurnya pun menetes dari mulutnya.
‘Makan, makan, makan’, batin Daiki.
Yuya mengamati tempatnya berada saat ini. Matanya langsung menangkap sosok Inoo, Yabu, dan Hika yang berdiri di sebelahnya. Yuya juga menyadari kehadiran Keito beserta kedua dewa pelindungnya.
“Sudah kuduga kalian bertiga ada disini”, ucap Yuya. Yuya menatap ke arah Daiki yang melihatnya dengan pandangan mata yang menandakan bahwa Daiki siap memangsanya. “Tidak kusangka, kau benar-benar ada disini Daiki. Yuto benar”
“Yuyan! Aku lapar! Lapar! Lapar!”, rengek Daiki.
Yuya mengacuhkan Daiki dan malah melihat ke arah Inoo. “Apa maumu? Kau kan yang membuat pelindung di sekitar sini sedikit melemah. Kau juga yang menyuruhnya berteriak kan?”, Yuya menunjuk ke arah Daiki yang sedang melihatnya kesal.
“Aku tidak menyuruhnya berteriak kok. Dia sendiri yang berteriak. Lalu, aku merasakan kehadiranmu. Aku mencoba membantumu masuk kemari karena kau tidak bisa menembus pelindung itu sendirian”, balas Inoo tenang.
“YUYAN!!!”
Daiki mengeluarkan aura demonnya. Aura membunuhnya sangat terasa. Sedetik kemudian, tali yang mengikat Daiki akhirnya lepas. Yabu dan Hika langsung memasang sikap siaga. Yama dan Chii juga berdiri di hadapan Keito untuk melindungi Keito. Semua yang ada di ruangan itu memasang wajah panik dan siaga, kecuali Yuya dan Inoo.
Dalam sekejap, Daiki langsung menyerang Yuya. Tangan kanannya putus karena Daiki menariknya dengan kuat. Yuya hanya berdecak kesal. Yabu dan Hika menghela nafas lega. Sedangkan Keito hanya termangu melihat adegan yang ada di depan matanya itu. Sesekali Keito menutup matanya karena adegan yang ada di matanya terlihat cukup menjijikkan.
“Aku jadi heran melihat kalian. Siapa sebenarnya majikan, siapa sebenarnya peliharaan?”, ucap Inoo sambil melihat ke arah Yuya dengan pandangan meledek. Yuya hanya berdecak kesal.
---***---
Tidak jauh dari rumah Keito. Ada seseorang yang mengamati rumah itu dengan lekat-lekat. Dari perawakan tubuhnya, bisa diduga kalau orang itu adalah laki-laki. Usianya tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu tua. Laki-laki itu tampak seeprti menyembunyikan dirinya dengan hati-hati, seperti berusaha agar dirinya tidak ketahuan.
“Keito... Kau sudah mengikat kontrak dengan mereka rupanya”
Laki-laki itu terdiam sejenak. Matanya menatap rumah Keito dengan pandangan sayu, ada sedikit perasaan bersalah terpancar dari raut matanya.
“Keito, maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Ayah belum bisa menemuimu sekarang, tapi ayah janji akan segera kembali padamu. Yama, Chii, kuserahkan Keito pada kalian, jagalah dia dengan baik. Chii, bertahanlah sedikit lagi. Sebentar lagi, kau tidak akan merasa siksaan itu lagi”
---***---
“Kenichi-sama?”
Samar-samar Chii merasakan kehadiran Kenichi-sama, ayah Keito.
“Kenichi-sama, anda ada di dekat sini?”, gumam Chii lagi.
Yama yang melihat tingkah aneh Chii memutuskan untuk bertanya padanya. “Kenapa Chii? Ada sesuatu?”
Chii terdiam sejenak. Chii berusaha merasakan lagi hawa keberadaan Kenichi, tapi sia-sia. Hawanya terasa sangat tipis, antara ada dan tiada. “Tidak ada apa-apa kok Yama. Mungkin hanya perasaanku saja”
Yama tersenyum lega melihat Chii baik-baik saja. Dia khawatir kalau-kalau ternyata Chii merasa kesakitan lagi akibat siksaan yang dia terima karena dia tidak bisa menjalankan perintah dengan baik.
“UARGH!”
Suara erangan Yuya membuat Chii melonjak kaget. Keadaan Yuya saat ini cukup mengenaskan. Kedua tangannya lepas dan dimakan oleh Daiki. Darahnya pun mengucur deras dari tangan yang terpotong. Sedangkan Daiki kini memakan daging dengan lahapnya. Cara makannya yang cukup berantakan membuat tubuhnya kini berlumuran darah.
“Inoo... sialan kau...”, geram Yuya marah ke Inoo. Inoo hanya tersenyum melihat Yuya yang tampak sangat kesal padanya.
Keito melihat Daiki dan Yuya dengan takut. Apa yang terjadi di depan matanya membuatnya semakin takut dengan Yuya. Tapi, yang membuatnya lebih takut dan jijik adalah saat melihat Daiki yang dengan asyiknya terus menyerang dan melahap Yuya tanpa henti. Meskipun Yuya masih tetap hidup meskipun Daiki menyerangnya, tapi Keito tetap merasa jijik.
“Nah...”, Yuya berusaha bangkit berdiri. Seketika itu juga darah berhenti mengalir dari tubuhnya. tangannya yang telah putus akibat Daiki kembali utuh. Yuya menggerakkan kedua tangannya yang tumbuh kembali seakan-akan kedua tangan itu tidak pernah putus sebelumnya.
“Apa maksudmu sebenarnya? Kau tidak mungkin membiarkanku kemari hanya gara-gara anak ini merasa lapar kan?”, ucap Yuya sambil menarik Daiki yang tampak asyik menjilat sisa daging yang menempel di tulang. Daiki menawarkan tulang itu pada Hika, tapi Hika menolak dengan keras saat melihat Yuya menatap tajam ke arahnya.
“Bukan aku. Keito yang ingin bicara denganmu”, Inoo mendorong Keito maju ke arah Yuya. Keito menatap Inoo dengan pandangan heran sekan bertanya, ‘apa maksudmu?’
“Kau ingat apa yang kubicarakan sebelumnya kan? Aku ingin kau mengikat kontrak dengannya”, bisik Inoo seakan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Keito.
“Tapi...”
Keito ingin menolak, tapi belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Inoo sudah mendorongnya. Kini Keito sudah berdiri tepat di hadapan Yuya.
“Anak ini? Apa maumu bocah?”, Yuya menatap tajam ke arah Keito. Keito selalu takut saat melihat pandangan mata itu.
“Ah... eh... ah...”, Keito merasa sangat gugup.
“Kau mau apa bento-kun?”, kali ini giliran Daiki yang bertanya. Daiki telah kembali seperti semula. Aura membunuhnya telah hilang. Mata merahnya pun telah berubah kembali menjadi hitam. Keito merasa sedikit tenang saat melihat senpai-nya itu.
“Aku ingin mengikat kontrak dengan kalian berdua!”
Keito segera memejamkan matanya. Dia takut melihat langsung ke arah dua demon yang ada di hadapannya.
“AHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!”, suara tawa Yuya terdengar keras. Keito tampak terkejut melihat Yuya tertawa. Ini pertama kalinya dia melihat Yuya tertawa. Dia berpikir kalau Yuya sama sekali tidak pernah tertawa.
“KAU? MENGIKAT KONTRAK DENGANKU?”, Yuya terdengar seperti sedang meledek Keito. “Apa untungnya aku mengikat kontrak denganmu?”
“Aku akan memberikan apapun imbalan yang kau minta. Jadi aku mohon kalian mengikat kontrak denganku”
“Eh? Hontou?”, kali ini Daiki yang menjawab. Wajahnya terlihat gembira. “Aku ingin makan daging demon kelas S tiap hari. Itu imbalan dariku”
Yuya menjitak kepala Daiki pelan. “Dia tidak akan bisa memenuhinya Daiki. Lagipula untuk apa aku mengikat kontrak denganmu? Asal kau tahu saja, aku sangat membenci manusia. Mereka yang menciptakan kami, mereka pula yang membenci kami. Jadi, kenapa aku harus menolongmu?”

Tsuzuku ~~~

TEN KNIGHTS

PART 33

Aku terbangun dari tidurku. Rasanya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Aku melihat ke arah Keito dan Yuto yang berbaring di sampingku. Mereka berdua tidur dengan lelap. Aku merasa iri saat melihat mereka berdua bisa tidur dengan nyenyaknya. Tiba-tiba aku merasa haus. Kuputuskan untuk mengambil air minum. Aku melangkah keluar kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan Keito dan Yuto yang sedang tidur.
Perlahan aku menuju dapur untuk mengambil air minum. Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang terlalu berisik. Aku melihat keluar jendela, malam ini bulan hanya tampak separuh, akan tetapi aku masih bisa melihat sinarnya yang terang. Aku kemudian melihat ada sosok yang berdiri ditengah halaman. Aku mendekat ke arah sosok itu. Sosok itu kemudian menoleh kearahku.

“Yuya?!”, kagetku saat melihat bahwa sosok yang berdiri itu adalah Yuya.

“Yamada? Sedang apa kau disini?”, tanya Yuya yang kelihatan kaget ketika aku menghampirinya.

“Kau juga, sedang apa kau disini?”, tanyaku balik.

“Aku tidak bisa tidur, lalu aku keluar sebentar untuk mencari angin segar”, kata Yuya.

“Ah, aku juga tidak bisa tidur. Lalu, aku merasa haus dan aku sedang menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Kemudian aku melihat dirimu sedang berdiri disini”, kataku. Aku melihat wajah Yuya yang masih menunjukkan muka murungnya. Raut wajahnya terus seperti itu dari kemarin. “Kau kenapa? Kau terus menunjukkan muka seperti itu”, tanyaku.

Yuya hanya diam tidak menjawab pertanyaanku. Dia kemudian melihat ke arah bulan yang ada di langit yang kini tengah bersembunyi di balik awan yang tebal.

“Apa ada hubungannya dengan Daichan?”, tanyaku lagi. Yuya kemudian menghela napas panjang.

“Aku tidak bisa berhenti memikirkannya”, Yuya akhirnya membuka suaranya. Aku diam menunggu sampai dia melanjutkan lagi perkataannya. “Aku terus memikirkan Daichan. Dimana dia sekarang, apa yang terjadi padanya, bagaimana keadaannya, aku terus berpikir tentang hal itu. Sebelum ini, aku mencoba untuk tidur dan menenangkan pikiranku. Tapi, kemudian aku bermimpi”, Yuya berhenti bicara.

“Mimpi seperti apa?”, tanyaku.

Yuya memejamkan matanya, seperti berusaha mengingat sesuatu, kemudian dia akhirnya mulai bercerita kembali. “Aku bermimpi, kalau saat ini Daichan sedang disekap oleh makhluk kegelapan, dia disiksa oleh mereka. Di dalam mimpiku aku terus melihat Daichan meronta kesakitan dan menangis. Aku tidak tahan melihatnya. Kemudian aku terbangun. Aku terus berpikir apakah mimpiku itu menunjukkan keadaan Daichan yang sebenarnya saat ini”, setelah menceritakan mimpinya, wajahnya kembali murung. Aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Yuya saat ini. Orang yang paling cemas mengenai keadaan Daiki pastilah orang yang sangat menyayanginya, yaitu Yuya.

“Kau tahu Yamada, sebenarnya aku malu mengakui hal ini, akan tetapi saat Daichan palsu itu datang kemari, aku merasa sangat senang. Seakan-akan Daichan yang asli telah kembali. Meskipun aku tahu itu bukan Daichan yang asli”, ucap Yuya.

“Tenanglah Yuya, besok kita akan pergi menyelamatkan Daichan kan? Aku yakin kalau kita akan berhasil membawa Daichan kembali”, kataku berusaha untuk menenangkan Yuya. “Lebih baik kalau kau kembali tidur agar kau bisa memiliki banyak tenaga untuk pertarungan besok”.

“Kau benar. Kalau begitu, aku kembali ke kamar ya. Kau juga lebih baik segera kembali tidur”. Yuya melangkah kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan aku menuju ke dapur untuk menghilangkan rasa haus ditenggorokanku.

“Ah, leganya.....”, tenggorokanku yang terasa kering langsung terasa lega saat air dingin membasahinya. Aku pun berjalan kembali menuju kamar untuk kembali tidur,tak kusangka aku berpapasan dengan Jin.

“Apa yang kau lakukan chibi?”, tanya Jin.

“Aku haus, lalu aku putuskan untuk mengambil minum. Kau sendiri sedang apa?”, tanyaku balik.

“Badanku masih terasa kaku saat aku tidur, jadi aku memutuskan untuk melakukan pemanasan ringan untuk mengatasi rasa kaku di tubuhku”, jawab Jin. Jin mengambil sebatang rokok dari bungkus rokok yang ada di sakunya, “Kudengar kau memiliki kemampuan baru”.

“Kau dengar dari siapa?”, tanyaku heran karena setahuku aku tidak pernah menceritakan hal ini padanya.

“Yabu yang cerita. Dia memberitahu apa saja yang terjadi pada kalian selama kami tidak ada. Lalu, benarkah kau punya kemampuan purification?”, selidik Jin. Dia menyalakan rokoknya dan mulai menghisapnya.

“Kata Yabu dan Keito, kemampuan itu disebut purification. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menggunakan kemampuan itu”.
Jin mengepulkan asap rokok yang ada di mulutnya, “Jadi, itu sebabnya dia kalah dipertarungan, karena dia telah memberikan kemampuannya padamu”.

“Dia??”

“Ayahmu, dia memiliki kemampuan purification. Waktu itu, saat pertarungan terakhirnya, dia sama sekali tidak menggunakan kemampuannya di pertarungan, kupikir itu karena badannya yang semakin lemah, tapi akhirnya aku tahu sebabnya”, Jin melihat ke arahku, “Itu karena dia telah memberikan kemampuannya padamu”.

“Ayahku?! Dia memberikan kemampuannya padaku??”, kataku tidak percaya. Ternyata benar, kalau ayahku memiliki kemampuan purification.
“Dia melawan para makhluk kegelapan itu hanya dengan kemampuan berpedangnya saja. Karena dia tidak menggunakan kemampuannya, dia terus menerus menerima serangan dari makhluk kegelapan dan akhirnya dia tewas”.

Aku merenung mendengar cerita Jin. Itulah yang sebenarnya terjadi di saat terakhir ayahku. Seandainya dia tidak memberikan kemampuannya padaku, tentu dia bisa memenangkan pertarungan itu dan tidak akan tewas saat itu, sehingga kami sekeluarga bisa berkumpul lebih lama. Aku semakin sedih saat mengingat bagaimana kemarin ayahku datang dalam mimpiku. Tiba-tiba Jin mengelus kepalaku, dia mengelus kepalaku dengan sangat lembut.
“Kau tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang ayahmu lakukan. Dia melakukan itu untuk melindungi anak yang dikasihinya. Seharusnya kau merasa bersyukur dengan apa yang telah dilakukan oleh ayahmu. Kalau dia tidak melakukan hal itu, kau pasti sudah tewas akibat infeksi racun itu kan?”.

Aku hanya terdiam saja. aku masih merasa bersalah telah menerima kemampuan ayah. Disisi lain, aku memang merasa bersyukur dengan kemampuan yang telah diberikan oleh ayah ini. Seakan-akan ayah selalu melindungiku selama ini.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kau memikirkan hal ini terus menerus. Lebih baik kau juga segera kembali tidur. Simpan tenagamu sehingga kau bisa mengeluarkan kemampuanmu dengan maksimal untuk pertarungan besok. Ingat, kemampuanmu sangat dibutuhkan oleh ksatria yang lain. Mereka akan sangat bergantung padamu”. Aku mengangguk mendengar ucapan Jin. Aku segera menuju ke kamar untuk kembali tidur. Bersiap untuk menghadapi esok hari. 

Keesokan harinya

Kami semua sudah bersiap untuk melakukan penyerangan dan penyelamatan terhadap Daiki.  Seluruh ksatria telah berkumpul di ruang tengah. Hikaru, Chinen, dan Inoo sedang mempersiapkan senjata mereka masing-masing. Hikaru menghitung jumlah peluru yang dimilikinya, Chinen menyiapkan tongkat yang dimilikinya, sedangkan Inoo mengasah dua pedang kecil miliknya dengan dibantu oleh Yabu. Keito masih berkutat dengan bola kristalnya, seakan ingin mengecek sesuatu. Yuto dan Yuya melakukan pemanasan fisik di halaman. Tidak lama kemudian Jin dan master datang. Mereka membawa sesuatu di tangan mereka.

“Tampaknya kalian semua sudah bersiap untuk melakukan penyerangan hari ini”, ucap master saat melihat kami semua. “Sebelumnya aku akan menjelaskan strategi penyerangan hari ini”, master membuka lembaran kertas besar yang dibawanya lalu dibentangkan di hadapan kami semua.

“Ini peta daerah ini”, gumam Hikaru.

Kami semua mendekat dan melihat peta yang ada di hadapan kami. Aku bisa melihat bahwa kertas itu cukup lusuh, aku menduga peta itu dibuat sudah cukup lama. Aku bisa melihat ada tanda silang yang cukup besar di peta itu.

“Benar kata Yaotome, ini peta daerah ini. Peta ini sudah dibuat cukup lama. Sang magician generasi pertama yang membuat peta ini. Peta ini diturunkan kepada magician berikutnya. Peta ini menunjukkan lokasi dimana segel itu berada”, ucap master sambil menunjukkan tanda silang di peta itu. “Disinilah, segel yang dibuat oleh magician generasi pertama dibuat. Sang magician membuat segel didaerah barat, sedangkan sang alchemist membuatnya di daerah timur. Kami menjaga tempat ini dengan berhati-hati agar makhluk kegelapan tidak mengetahui tempatini. Oleh karena itulah, aku dulu meminta ayah Yaotome dan kedua orangtua Arioka untuk menjaga daerah ini, dengan dalih mereka tinggal di daerah ini.Sedangkan untuk menjaga segel di daerah timur aku meminta tolong pada kakek dan nenek Yabu, Inoo, dan Morimoto”.

“Tapi, karena saat ini baik Yaotome maupun pasangan Arioka itu telah meninggal, tidak ada lagi yang menjaga tempat itu, sehingga makhluk kegelapan bisa bebas memasuki tempat itu. Begitu pula dengan segel di daerah timur. Aku yakin, pasti saat ini makhluk kegelapan ini berkumpul di tempat ini”, ucap Jin.

“Tunggu dulu, tanda silang ini menunjukkan tempat segel itu berada kan?”, tanya Inoo.

“Iya,benar”, jawab master.

“Tempat kediaman Jack sama sekali tidak berada di sekitar situ. Kalau aku tidak salah, arahnya ke sekitar sini”, Inoo menunjuk ke tempat yang lokasinya cukup jauh dan berlawanan dengan tanda silang itu berada.

“Hmm...kita juga tidak tahu pasti apakah Arioka ada di tempat segel, atau masih berada di kediaman Jack”, gumam master.

“Kalau begitu, kita bagi menjadi 2 tim saja. Satu tim mengarah ke tempat kediaman Jack, satunya lagi menuju ke tempat segel”, sahut Jin.

“Ide bagus”, sahut master. “Baiklah, sekarang kita akan membagi menjadi 2 tim”.

“Hikaru, Chinen, Yamada, dan Yuto, kalian berempat menuju ke tempat segel. Hika kau memimpin mereka menuju ke tempat itu. Kau tahu tempatnya kan?”, kata Jin.

“Ayah pernah mengajakku kesana. Kurasa aku masih ingat jalannya”, kata Hikaru.

“Bagus, nah, kalian berempat, kalian pergi ke tempat kediaman Jack. Inoo, kau yang memimpin perjalanan mereka”, kata Jin sambil menunjuk ke arah Yabu, Inoo, Yuya, dan Keito.

“Lalu, apa yang akan kalian berdua lakukan?”, tanyaku.

“Aku dan Akanishi akan menghambat para makhluk kegelapan yang saat ini menuju kearah timur. Kami akan berusaha agar mereka tidak sampai kesana”, kata master.

“Baiklah, kita tidak boleh membuang waktu. Ayo segera kita laksanakan rencana ini”, ucap Jin. Kami semua pun segera menuju keluar rumah, “Ryosuke, tunggu. Ada yang ingin kuserahkan padamu”, kata Jin sambil menahanku. Aku pun berhenti dan menunggunya.

“Ambil ini”, Jin menyerahkan sesuatu yang panjang dan dibalut dengan kain hitam kepadaku. Aku menerimanya dan membukanya. Sebuah pedang. Aku menarik pedang itudari sarungnya. Aku bisa melihat kilatan cahanya dari pedang itu. Aku juga bisa merasakan betapa tajamnya pedang itu. Kurasa pedang itu telah dirawat dengan baik. “Itu pedang milik ayahmu”, ucap Jin lagi.

“Milik ayah?”, kataku tidak percaya. Pedang yang kugenggam ini adalah milik ayahku.

“Aku menyimpannya, itu adalah peninggalan dari ayahmu. Kurasa ayahmu akan sangat senang bila kau memakainya. Kau bisa menggunakannya kan?”, ucap Jin sambil berjalan mengikuti master yang sudah terlebih dahulu keluar.

“Huwaa!!! Sugoi!! Pedang ini kelihatannya sangat hebat. Kau beruntung Ryochan!”, ucap Chinen yang sedari tadi ada di sebelahku.

“Ayahmu pasti sangat menyayangimu, Yamachan”, ucap Yuto sambil menepuk bahuku.

Aku tidak bisa menahan rasa haru yang kualami. Aku merasa ayah selalu di sampingku, aku memiliki 2 hal yang berkaitan dengan ayah, kemampuan purification miliknya, dan pedang yang digunakannya. Aku janji aku akan menggunakannya dengan baik. Aku pun merasa lebih percaya diri saat ini dibandingkan dengan sebelumnya. Aku memasukkan kembali pedang itu ke sarungnya dan membawanya dengan mantap.

Kami akhirnya berpisah menuju tempat tujuan masing-masing. Aku, Chinen, dan Yuto, mengikuti Hikaru menuju tempat dimana segel itu berada. Sedangkan yang lain menuju ke kediaman Jack. Master dan Jin menuju kembali ke daerah timur untuk menghadang musuh. Kami berangkat dengan satu tujuan, yaitu menghentikan makhluk kegelapan dan menyelamatkan kembali Daiki dari tangan musuh.

Sudah beberapa lama aku berjalan mengikuti Hikaru. Kami telah sampai di suatu tempat yang sepi. Pohon-pohon yang ada di sekitar situ kering kerontang. Aku juga bisa melihat banyak bangkai binatang yang berserakan di sekitar sana. Tubuh mereka seperti tercabik sesuatu.

“Sudah kuduga, pelindungnya telah rusak. Pantas makhluk kegelapan itu bisa masuk kemari”, gumam Hikaru sambil menunjuk ke selembar kertas yang tertempel dipohon yang ada di dekat situ. Aku bisa melihat ada beberapa lembar kertas yang tertempel di beberapa pohon yang ada di sekitar situ. Tapi, kondisi kertas-kertas itu telah robek, bahkan ada juga yang telah terbakar. Tiba-tiba aku bisa merasakan udara dingin menerpa wajahku dari arah depan.

Yuto berdiri di depanku dan Chinen, Hikaru pun mengeluarkan pistolnya dan berusaha untuk berkonsentrasi. Ada perasaan tidak enak menghampiriku. Aku memegang pedang ayah yang kudapat dari Jin tadi dengan erat. Chinen akhirnya mulai memasang pelindung.

“Waspadalah, para makhluk kegelapan itu ada di dekat sini”, kata Yuto. Dia memasang kuda-kudanya dan terus mengawasi keadaan sekitar. “Hika, kau bisa melacak dimana mereka?”.

“Aku bisa mendengar ada pergerakan dari segala arah. Dari udara bahkan dari dalam tanah juga. Jumlahnya banyak sekali....”, kata Hika. Aku menelan ludah, aku segera mengeluarkan pedangku dari sarungnya.

“Tampaknya mereka sudah tahu kalau kita telah tiba ya”, Chinen mengubah bentuk tangannya menjadi sepasang sayap. Tampaknya dia meniru kemampuan Ryuu. “Mereka menyambut kita secara besar-besaran. Kita tidak bisa lari maupun bersembunyi”.

“Tidak ada cara lain, kita harus menghadapi mereka. Kalian semua sudah siap?”, tanya Hika. Kami bertiga mengangguk.

“Aku akan menghadapi musuh yang datang dari arah atas”, Chinen melebarkan sayapnya dan bersiap untuk terbang.

“Baiklah, aku akan membantumu Chii. Kuserahkan musuh yang ada disini pada kalian”, ucap Hika.

“Yamachan, musuh yang ada di dalam tanah, serahkan padaku, kau hadapi saja musuh yang datang dari arah depan”, ucap Yuto sambil membelakangiku. Aku menggenggam pedangku dengan erat dan menghunuskannya ke arah depan. “Serahkan padaku”, jawabku.

“Baiklah, kalian semua, dengarkan aba-aba dariku. Setelah aku beri tanda, kalian mulai menyerang. Lebih baik kita langsung menyerang mereka semua. Mengerti?”, kata Hika. Kami semua melihat ke arah Hika dan menunggu aba-aba darinya. Hika berusaha mendengarkan dengan kemampuannya. Perlahan aku bisa merasakan getaran di kakiku, aku juga bisa mendengarkan suara yang awalnya pelan, tapi lama kelamaan suara-suara itu semakin keras dan jelas.

“SEKARANG!”, seru Hika.

Setelah mendengarkan aba-aba dari Hika, kami mulai menyerang. Chinen langsung mengepakkan sayapnya dan menghadapi musuh yang datang dari atas. Aku bisa melihat sekelompok makhluk kegelapan yang sepertinya sejenis dengan yang dulu berusaha membunuhku di rumah dan melukai ibuku. Hikaru membantu Chinen dari bawah dengan menembak beberapa makhluk kegelapan sehingga makhluk kegelapan itu tersungkur jatuh akibat sayap mereka terkena tembakan.

Yuto mengarahkan kepalan tangannya ke arah tanah dan membuat tanah retak terbelah. Dari dalam retakan tersebut, aku bisa melihat beberapa zombie yang bersembunyi di dalam situ. Yuto langsung menghajar beberapa zombie yang keluar hingga mereka hancur tidak terbentuk. Dari arah depan, aku bisa melihat beberapa makhluk kegelapan yang datang berlari ke arahku. Aku mengenali beberapa jenis dari mereka, itu adalah si muka rata yang dulu pertama kali menyerangku. Beberapa jenis yang lain aku tidak mengenalnya. Yang pasti, makhluk-makhluk kegelapan ini sangat jelek, badannya tidak bagus, dan satu hal yang pasti, mereka menyerang kami dengan nafsu ingin memangsa kami. Segera kuhunuskan pedangku ke arah makhluk-makhluk itu dan kutebas satu persatu makhluk kegelapan yang mendekat. Kami berempat bertarung dengan sekuat tenaga dan menyerang dengan tenaga penuh.

“Habisi mereka semua hingga tidak bersisa!”, seru Hikaru.

Di tempat lain.....

“Inoo, benarkah ini jalannya?”, tanya Yuya.

“Iya, aku yakin. Yabu dan Keito juga bisa memastikannya kok. Mereka berdua juga pernah kemari sebelumnya”, kata Inoo.

“Kalau begitu, dari sini kita langsung berjalan lurus saja”, ucap Yabu. Mereka berempat lalu berjalan lurus menapaki jalan yang ada di hadapan mereka. Mereka dapat melihat sebuah bangunan yang tampaknya sudah runtuh dan tidak dihuni.

“Itukah kediaman Jack?”, tanya Yuya.

“Entahlah, ayo kita mendekat dan memeriksanya untuk mencari tahu”, Yabu mulai melangkah maju tapi langkahnya dihentikan oleh Keito. Keito memegang tangan Yabu dengan erat. “Ada apa Keito?”, tanya Yabu.

“Aku melihat ada gerakan mencurigakan melalui bola kristalku. Aku yakin, ada beberapa makhluk kegelapan yang sedang bersembunyi di sekitar sini”, ucap Keito sambil melihat bola kristalnya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi panik, “Semuanya awas!”, seru Keito.

Setelah Keito berseru seperti itu, mereka semua bisa merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka. Dalam waktu singkat, mereka dikurung oleh beberapa makhluk kegelapan. Mereka menyerang dari segala arah, sehingga tidak ada tempatuntuk lari bagi mereka berempat.

Tsuzuku ~~~