Fanfiction buat ngerayain ultahnya Chinen Yuri!!!
Cast : Hey! Say! 7
Main cast : Chinen Yuri
Note : kalian pernah liat movie yg judulnya 'House of Wax'? Nah, ff ini diadaptasi dari film itu. Kalau pernah liat, berarti tahu genrenya kan???
---***---
Kubuka lokerku, kuambil sepucuk surat beramplop merah yang ada di dalamnya. Di depan, tertulis ‘To : Chinen Yuri’, tapi tidak ada nama pengirimnya. Kuteliti tiap sudut surat itu, berharap ada sedikit petunjuk mengenai sang pengirim, hasilnya nihil. Aku mendapat surat tanpa nama.
“Apa itu?”
Ryosuke tiba-tiba muncul di belakangku. Dia ikut mengamati surat yang kuterima sambil meletakkan dagunya di bahuku.
“Surat cinta?”
Aku mencubit pipi chubby Ryosuke, “Baka!”
“Ittai na...”, ucap Ryosuke sambil mengusap pipinya yang sedikit kemerahan karena cubitanku. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Ryosuke langsung duduk di sofa, mengadu pada Yuto dan Keito.
Kubuka amplop merah yang kuterima. Harum khas keluar dari dalam amplop itu. Aku sepertinya tahu bau itu, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Kuambil sepucuk kertas yang ada di dalamnya.
“Minna...”, aku mendekati kumpulan anak 7 yang lain. Dengan santai, aku duduk di pangkuan Ryosuke. Kutunjukkan isi surat yang kuterima. “Kalian tahu tempat ini?”
“House of Wax? Dimana itu? aku baru tahu”, ucap Ryosuke penuh keheranan.
“Apakah semacam tempat hiburan baru?”, timpal Yuto.
“Sepertinya, itu tempat yang aneh. Lihat saja namanya, House of Wax. Artinya ‘Rumah Lilin’”, sahut Keito.
Ah... aku mengerti sekarang. Bau yang kucium dari surat itu. Itu seperti bau lilin yang sedang dibakar.
“Siapa yang mengirimnya Yuri?”, tanya Ryosuke.
Aku menyerahkan amplop merah itu padanya. “Aku tidak tahu, tiba-tiba saja amplop itu ada di lokerku”
“Mencurigakan”, Yuto langsung menunjukkan ekspresinya yang serius. “Tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke ruangan ini dengan seenaknya. Hanya para staf dan kita saja yang boleh masuk”
“Apa mungkin salah satu member BEST? Mereka juga bisa masuk kesini kan?”, timpal Keito.
Aku menggeleng. “Aku tadi bertemu Hikaru, dia bilang semua member BEST punya acara sendiri hari ini. Hikaru kemari hanya memberitahukan hal itu pada pelatih”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan Yuri? Kau ingin pergi kesana?”, tanya Ryosuke.
Aku mengangguk mantap. Rasa keingintahuanku memang sangat tinggi. Aku penasaran bagaimana tempat yang dijuluki House of Wax itu. Aku penasaran dengan siapa yang mengirim surat itu. terlebih lagi, aku juga penasaran apa maksud si pengirim mengirim surat ini padaku. Kurasa aku bisa menemukan jawabannya disana. Di House of Wax itu.
---***---
Mobil yang kutumpangi ini telah berhenti di sebuah rumah bergaya eropa kuno di sebuah wilayah perbukitan yang sepi. Lampu depan rumah ini yang menyala begitu terang membuat kami dengan mudah menemukannya.
“Kowaii... Yappari... aku pulang saja ya?”, Keito yang duduk di kursi belakang langsung meringkuk ketakutan.
“Eh??? Kenapa? Kita sudah susah-susah kemari... nanggung... apalagi aku mungkin bisa mendapat foto yang bagus disini”, Yuto menyiapkan kameranya lalu memotret Keito sambil mencoba kameranya itu.
“Kau yakin mau masuk Yuri?”
Aku mengangguk mantap. Aku bisa melihat pancaran ketakutan dari bola mata Ryosuke. Meskipun saat ini Ryosuke terlihat keren dan tenang, tapi sebenarnya Ryosuke paling penakut diantara kami. Bahkan dia sama takutnya dengan Keito. bedanya, Keito lebih jujur mengakui kalau dia takut sedangkan Ryosuke akan bersikap jaim dan menyembunyikan ketakutannya.
Aku memang tidak sendirian. Teman-temanku berbaik hati mengantarku pergi. Awalnya Cuma Ryosuke yang kuajak, karena aku butuh supir dalam perjalanan. Tapi, Yuto kemudian meminta ikut, karena dia bilang mungkin akan terjadi sesuatu yang menarik. Keito sudah pulang saat kami bertiga memutuskan untuk pergi, tapi sialnya, dia bertemu kami di jalanan dan Keito pun ‘dipaksa’ ikut oleh Yuto. Akhirnya, kami berempat pun pergi bersama.
“Yappari... aku tidak ikut masuk. Aku tunggu di mobil saja ya?”, Keito melangkah mundur saat kami semua kini telah berada di depan pintu masuk.
“Keito...”, Yuto menatap Keito dengan ‘puppy eyes’nya, tapi Keito tetap tidak bergeming. Dia pun langsung menuju mobil dan duduk di dalamnya. Kami bertiga hanya menghela nafas panjang dan menyerah untuk mengajak Keito lagi.
Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ryosuke kemudian menemukan bel rumah dan memencetnya, tapi tidak ada jawaban. Ketika berkali-kali kami tidak mendapat respon, kami akhirnya menyerah. Kami bertiga pun membalikkan badan dan segera angkat kaki dari rumah itu.
Krieet....
Aku terkejut. Pintu rumah itu kini sedikit terbuka. Kami bertiga saling berpandangan. Ryosuke menggenggam erat tanganku, dia sedikit gemetaran, kuduga dia mulai ketakutan. Dia pasti mengira ada hantu atau arwah yang akan muncul. Aku menelan ludah dan melangkahkan kakiku ke arah pintu dan membukanya. Kosong. Tidak ada apapun. Dengan mantap aku melangkah masuk ke dalam. Ryosuke mengikutiku sambil terus menggenggam tanganku. Sedangkan Yuto mulai menyiapkan kameranya dan bersiap untuk memotret.
“Yuri... kau yakin?”, bisik Ryosuke.
Aku tidak mengindahkan Ryosuke dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Sugoi!!!!”
Yuto menatap kagum saat melihat isi rumah yang kami masuki. Aku pun juga sama tercengangnya dengan Yuto. Rumah itu benar-benar mengangumkan. Benar-benar menggambarkan rumah jaman eropa. Bahkan semua furniturenya benar-benar furniture dari barat.
“Hei, ini dari lilin!”, ucap Yuto saat menyentuh sofa yang ada di depannya.
“Hontou da...”, Ryosuke berjalan maju untuk memastikan ucapan Yuto. Aku pun ikut menyentuh sofa itu, dan benar. Sofa itu dari lilin!
“Hei... jangan bilang semua yang ada di rumah ini terbuat dari lilin?”
Aku dan Ryosuke berpandangan. Kami bertiga lalu mengecek satu persatu perabotan yang ada di rumah itu. Dan semuanya sesuai dengan ucapan Yuto. Semuanya terbuat dari lilin. Bahkan lantai dan dindingnya pun terbuat dari lilin. Hanya ada beberapa benda yang tidak terbuat dari lilin, seperti lampu dan saklarnya.
Yuto kemudian asyik memotret rumah itu dengan kameranya. Berkali-kali dia mengucapkan kata ‘sugoi’. Sepertinya dia menikmati suasana aneh di rumah itu. Berbeda dengan Ryosuke yang menunjukkan ekspresi serius dan sesekali ketakutan saat dia mendengar suara angin atau suara sesuatu.
“Yuri, dimana orang itu?”
Aku menoleh heran ke arah Ryosuke, siapa yang dimaksud olehnya?
“Orang itu. Orang yang mengirim surat padamu. Dia mengundangmu ke rumahnya. Tapi semenjak kita masuk, tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan kita”
Aku terkesiap. Benar kata Ryosuke. Tujuanku datang kemari karena ingin bertemu dengan si pengirim surat. Dia mengundangku ke rumahnya karena dia ingin memberikan sesuatu padaku sebagai hadiah. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan, rasanya tulisan tangan itu tidak asing olehku, tapi aku tidak bisa mengingat itu tulisan tangan siapa.
“Mungkin dia malu karena kita datang beramai-ramai? Dia kan hanya mengundang Chinen, tapi ternyata kita semua datang kemari”, sahut Yuto sambil terus memotret objek yang ada di rumah ini.
BLUP. Tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap. Aku sontak mengulurkan tanganku, mencari seseorang yang berada dekat denganku. Tanganku menyentuh tubuh seseorang, tidak lama kemudian aku mendengar suara teriakan yang sangat kukenal.
“Ryosuke... ini aku”
Ryosuke langsung berhenti berteriak dan menggenggam tanganku. “Yu...ri...?”
“Iya, ini aku. Jadi berhentilah berteriak”, aku bisa mendengar desahan nafas lega dari Ryosuke. “Yuto!!! Kau dimana???”, aku berteriak memanggil Yuto.
Hening. Tidak ada jawaban dari Yuto.
---***---
Author POV
5 menit sebelum mati lampu
“Uhh... kenapa Chinen mau kesini sih? Kenapa dia mau pergi menemui orang yang mencurigakan? Sudah jelas kalau surat itu mencurigakan. Kenapa dia masih mau datang kemari?”
Keito yang ditinggal sendirian di mobil terus menggumam menggerutu. Dia terus mempertanyakan soal alasan Chinen datang kemari.
Tok. Tok. Tok.
Keito terkejut ketika ada seseorang yang mengetuk pintu mobilnya. Sesaat Keito ingin berteriak sekencang mungkin tapi niatnya diurungkan ketika dia melihat wajah orang yang mengetuk pintunya.
“Kau... kenapa ada disini?”
---***---
“Yuto!!! Jawablah! Kau ada dimana?”
Kali ini giliran Ryosuke yang berteriak. Dan hasilnya pun sama. Tidak ada jawaban dari Yuto. Aku pun mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak.
“Yuti!!! Keluarlah! Ini tidak lucu, Yuti!!!”
Aku berteriak lagi dan sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari Yuto. Berbekal senter dari kamera hpku, aku mulai melangkah maju ke depan, ke posisi dimana sekiranya terakhir aku melihat Yuto berdiri. Ryosuke menahanku, tapi aku memaksanya untuk melangkah maju bersama denganku.
BRUK. Kakiku seperti menabrak sesuatu. Kuarahkan senterku ke bawah. Kamera Yuto tergeletak tepat di dekat kakiku.
“Ini... kamera punya Yuto kan? Kenapa ada disini?”, tanya Ryosuke.
“Entahlah. Tapi itu artinya Yuto ada disini tadi, sekarang dimana dia?”, aku mengarahkan senterku ke sekeliling ruangan. Sepanjang jangkauan senterku, aku tidak melihat sosok Yuto.
“Jangan-jangan... Yuto dibawa oleh hantu?”, Ryosuke mulai bergidik ketakutan. Ekspresi mukanya saat ini benar-benar takut. Dalam hati aku ingin tertawa karena ekspresi Ryosuke saat ini sungguh lucu.
“BAKA! Tidak ada hantu di rumah ini!”, aku menjitak kepala Ryosuke dan mulai berjalan meninggalkannya. Aku memfokuskan mataku untuk mencari Yuto. Aku mulai merasa aneh. tidak mungkin Yuto pergi begitu saja meninggalkan kameranya. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat Yuto harus pergi meninggalkan kameranya.
“Ryosuke, sebaiknya kita keluar dari rumah ini dan meminta Keito untuk membantu kita”
“Ryosuke?”, aku membalikkan badanku karena tidak ada jawaban dari Ryosuke. Aku mengarahkan senter ke arah Ryosuke berdiri tadi.
Aku mulai merinding ketakutan ketika sosok Ryosuke tidak ada disana. Ryosuke hilang! Dengan panik, aku mulai mengarahkan senterku ke segala arah. Sosok Ryosuke tidak bisa kutemukan dimanapun.
“RYOSUKE!!! YUTI!!! KELUARLAH! KALAU KALIAN INGIN MENGERJAIKU, INI TIDAK LUCU!!!”
Hening. Hanya terdengar suara angin yang berhembus secara semilir. Aku mulai panik. Segera kulangkahkan kakiku keluar, menuju ke mobil, dimana Keito berada.
“KEITO! TOLONG AKU! YUTO DAN RYOSUKE HILANG! BANTU AKU MENCARI MEREKA, KEI---“
Aku berhenti saat melihat pintu belakang mobil yang terbuka. Pelan-pelan kudekati bagian belakang mobil. Seketika aku langsung lemas saat melihat kondisi mobil yang kosong. Keito juga hilang. Semua temanku telah hilang!
“Minna... tasukete...”, isakku.
Aku melihat ke arah senter hpku. Aku kemudian tersadar. Aku lalu menghubungi hp tiga orang itu dan sesuai yang kuduga, tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat teleponku. Bahkan hp milik Keito tertinggal di bangku belakang mobil.
Segera aku menghubungi seseorang melalui hpku. Berharap ada orang yang mau membantuku menolong menemukan mereka semua.
“Dai-chan... ayo diangkat....”
Aku putus asa saat Daiki sama sekali tidak mengangkat hpnya. Kucoba menghubungi Hikaru dan hasilnya sama. Aku mencoba mengirim sms pada Yabu, berharap dia membaca dan segera kemari. Aku tidak menelepon Inoo karena aku tidak tahu nomor hp mereka.
“Yuyan... kumohon... angkatlah...”
Yuya adalah nomor terakhir yang bisa kuhubungi. Aku hampir putus asa sekali lagi ketika Yuya lama tidak menjawab teleponku, tapi kemudian...
“Halo? Chii? Ada apa?”
Aku tersenyum cerah saat mendengar suara Yuya dari seberang telepon.
“Yuyan!! Bisakah kau segera kemari? Yuto, Ryosuke, dan Keito telah hilang! Aku sendi---“
BRUKH.
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Seseorang telah memukulku dari belakang. Kepalaku langsung terasa sakit. Mataku berkunang-kunang. Sesaat sebelum pingsan, aku sempat mendengar suara seseorang di telingaku. Suara yang sering kudengar.
“Otanjoubi omedetou... Chinen Yuri...”
END?
Ada lanjutannya kok... ;)
Senin, 30 November 2015
Kamis, 12 November 2015
TEN KNIGHTS
PART 47
BRUK!! Banyak batu dan serpihan serpihan lain yang jatuh ke arah kami. Tampaknya, akibat gempa dahsyat yang kedua tadi, bangunan yang ada di lantai dua tidak kuat lagi dan akhirnya jatuh. Aku berusaha menghindar serpihan itu dengan baik. Chinen segera menarikku dan membawaku ke tempat yang aman. Yang tidak terkena reruntuhan puing-puing bangunan.
“Apa yang terjadi?”, tanyaku saat akhirnya tidak ada lagi puing-puing bangunan yang berjatuhan. Aku melihat banyak sekali puing yang jatuh.
“Ryochan, kau baik saja-saja?”, tanya Chinen sambil melihatku dengan cemas.
Aku mengangguk, “Berkatmu, aku baik-baik saja. bagaimana dengan teman-teman yang lain?”, aku melihat ke sekeliling. Berusaha mencari sosok yang kukenal. Aku hanya bisa melihat King dan Queen yang tampak berdiri tegak di antara reruntuhan. Seakan-akan tidak ada yang mengenai mereka.
“Teman-teman! Kalian dimana? Kalian baik-baik saja kan?”, seruku. Aku berharap ada suara yang kukenal yang membalasku.
“Tenang saja Yamada, kami baik-baik saja”, terdengar suara Yabu. Aku melihat ada sebuah batu yang bergerak. Dibalik batu itu aku bisa melihat Yabu dan Inoo. Tubuh mereka seperti berada di sebuah bola air.
“Yuto? Dimana dia? Keito juga. Aku tidak melihat mereka”, kataku mulai panik saat aku sama sekali tidak melihat mereka berdua.
BRUAK! Terdengar ada sesuatu yang hancur. Aku menoleh ke sumber suara. Terlihat Yuto sedang berdiri tegap sambil mengepalkan tinjunya. Kurasa, Yuto tadi menahan batu yang akan menimpanya dan segera menghancurkannya.
“Keito! kau dimana? Jawab aku!”, teriak Yuto. Matanya terus mencari sosok Keito di antara reruntuhan.
“A....ku.....disini....”, terdengar suara Keito. Suaranya terdengar lemah. Yuto akhirnya menemukan Keito. Keito sedang terjepit di antara puing-puing besar. Akibat matanya yang sudah tidak bisa melihat, Keito tidak bisa menyelamatkan dirinya. Yuto segera membantu Keito dan menyingkirkan puing-puing yang menimpa tubuhnya.
“Kau baik-baik saja Keito?”, tanya Yuto panik. Darah mulai keluar dari kakinya.
“Kakiku... aku tidak bisa menggerakkannya. Kurasa tulang kakiku ada yang patah”, jawab Keito. Keito mengulurkan tangannya, seperti meraba-raba sesuatu. Yuto segera menggenggam tangan Keito. “Apa yang terjadi Yuto? Yang kutahu hanya ada gempa dahsyat dan beberapa detik kemudian, tubuhku tertimpa sesuatu”.
“Aku juga tidak tahu Keito. Maafkan aku. Seandainya aku segera menuju ke arahmu dan menolongmu. Tentu kau tidak akan terluka separah ini”, kata Yuto. Suaranya terdengar agak parau. Yuto berusaha menyembunyikan air matanya.
“Tidak apa-apa. Kau sedang bertarung melawan musuh, dan semua ini terjadi dengan begitu cepat kan? Terlebih lagi, aku tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Aku terluka ini akibat kesalahanku sendiri”.
Yuto melihat ke arahku, “Yamachan! Tolong segera kemari. Keito membutuhkan bantuanmu”, seru Yuto. Aku mengangguk. Segera aku berdiri untuk menuju ke lokasi Yuto.
“Aduh....”, rintih Chinen. langkahku terhenti. Aku melihat ke arah Chinen yang terduduk di sebelahku sambil memegang bahunya.
“Kenapa Yuri? Ada yang sakit?”, tanyaku sambil memeriksa bahunya. Aku bisa melihat bahunya yang berwarna biru dan sedikit memar.
“Ah, tidak apa-apa kok. Ini karena tadi mungkin aku terkena sedikit benturan saat mencoba berlari”, Chinen berusaha tersenyum ke arahku.
“Tenanglah. Aku akan segera mengobatimu”, aku mengulurkan kedua tanganku ke arah bahunya. Chinen memegang tanganku dan menggeleng.
“Aku tidak apa-apa. Saat ini, Keito lebih membutuhkan bantuan daripada aku. Cepat pergi kesana. Aku masih bisa menahan sakit ini. ini tidak terlalu sakit kok”, Chinen berusaha menggerakkan tangannya. Aku bisa melihat sekilas kalau dia merintih kesakitan.
Aku tetap diam terpaku dan melihatnya. “Sudah. Cepat sana”, Chinen mendorongku. Aku kemudian menurut pada Chinen dan segera menuju ke arah Keito.
“HUUUAAA..............”, tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari balik reruntuhan tepat di hadapanku. “Kupikir aku bakal mati tadi. Kenapa seharian ini aku jatuh melulu sih”. Hika berdiri tepat di hadapanku.
“Hika?”, tanyaku yang masih kaget dengan kemunculan Hikariu yang tiba-tiba.
“Yamada? Eh, kenapa kalian ada disini?”, tanya Hikaru. Dia kemudian melihat ke seluruh ruangan. Hikaru juga melihat ke arah atas. Lantai atas saat ini sudah hancur dan tidak berbentuk lagi. “Ugh...”, rintih Hikaru sambil memegang tangan kanannya.
“Kau baik-baik saja?”, tanyaku cemas.
“Iya. Hanya luka yang kuterima saat pertarungan sebelumnya”, Hikaru menoleh ke kanan dan kiri. “Daichan? Yuya? kalian ada dimana?”, seru Hikaru.
“Daichan dan Yuya?”, tanyaku lagi.
“Iya. Kami tadi bersama-sama. Kupikir mereka juga jatuh ke bawah sepertiku. Tapi, aku tidak melihat mereka”, kata Hikaru sambil terus celingukan mencari mereka berdua.
“Yamachan, apa yang kau lakukan? Cepat tolong Keito!”, seru Yuto. Aku pun segera mempercepat langkahku menuju ke arah Yuto.
“ARGGHHHH”, aku mendengar jeritan Chinen. Aku menoleh ke belakang. Kudapati dia bersama dengan Queen. Queen sedang menginjak bahu Chinen dengan kakinya.
“Yamada, AWAS!”, Hikaru segera menarikku. CLASH! Aku bisa melihat cipratan darah yang keluar dari tubuh Hikaru. Hikaru berdiri sambil melindungiku. Di hadapannya, aku melihat sosok pemuda yang kukenal.
“Jack”, gumam Hikaru sambil memegang lukanya. Jack berdiri di hadapan kami. Matanya menatap tajam ke arah kami. Seakan-akan seperti seekor binatang buas yang siap menyantap mangsanya. Aku bergidik ngeri saat melihatnya.
“Yamada”, gumam Hikaru. “Cepat pergi dari sini. Biar aku yang mengurusnya”, Hikaru melihat ke arahku sambil tersenyum dan mengangguk. Aku pun segera pergi meninggalkan Hikaru sendirian. Kini aku bingung harus menuju kemana. Pergi membantu Chinen yang sedang kesakitan atau menolong Keito yang terluka parah?
“Ryochan! Jangan khawatirkan aku! Aku baik-baik saja. Segera pergi tolong Keito!”, seru Chinen. Dia tampaknya tahu kebimbanganku.
“Huh. Sudah seperti ini. kau masih saja sombong”, gumam Queen. Dia semakin menekan pijakannya ke arah bahu Chinen yang terluka.
“ARRRGGGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!”, jerit Chinen lagi.
“YURI!”, jeritku. Aku segera melangkahkan kakiku menuju ke arah Chinen untuk membantunya.
“Jangan mendekat Ryochan! Aku sudah bilang kan, biarkan aku sendiri yang melawannya. Cepat pergi sana!”, perintah Chinen. Dengan berat hati aku menuruti perkataan Chinen. Aku segera berbalik menuju ke arah Keito.
“AAA!!!!”, terdengar jeritan Yuto. Aku bisa melihat ada sebuah benda tajam yang tembus menusuk tubuh Yuto. Di depannya, berdiri musuh yang dari tadi di hadapinya.
“Yuto!”, jeritku. Aku segera mempercepat langkahku untuk menuju ke tempatnya.
BRAK! BRUK! BRUAGH!
Aku melihat Yabu dan Inoo yang sedang terlempar akibat serangan King. Tubuh mereka kini penuh luka. Yabu dan Inoo berusaha dengan susah payah untuk bangkit. Tampaknya mereka kini sudah diambang batas. Kemampuan mereka berdua tidak mempan untuk melawan King.
JREB! Ada sesuatu yang menusuk tubuhku. Aku melihat ada makhluk kegelapan yang berdiri di belakangku. Perhatianku menjadi lengah dan tidak memperhatikan sekitarku. Darah mulai mengucur keluar dari tempat yang ditusuk. JREB! Tubuhku ditusuk lagi. Kali ini dari arah samping. Dengan sisa tenagaku, aku menggerakkan pedangku untuk menghalau mereka. Makhluk kegelapan itu menyingkir. Aku mencabut pedang tajam yang menancap di tubuhku. Begitu aku melepasnya, darah menucur deras dari luka tusukan.
“Uhh...”, rintihku pelan. Kepalaku terasa sedikit pusing akibat banyaknya darah yang keluar. Makhluk kegelapan yang tadi menusukku kini berlari ke arahku untuk menyerangku. Aku pun menebas mereka dengan pedang ayahku. Gerakan tanganku sedikit melemah, tapi masih cukup untuk menebas mereka.
Dari arah belakang, kakiku disayat oleh makhluk kegelapan lain. Akibat itu, kakiku langsung terasa lemas. Aku tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Aku terjatuh terbaring. Seketika itu, makhluk kegelapan yang lain segera menyerangku dan menusukku dengan bertubi-tubi. Rasa sakit yang kuderita terlalu banyak sehingga aku tidak sanggup lagi berteriak merintih.
“Apakah Cuma sampai disini saja yang bisa kulakukan?”.
....******.....
“Sorcerer?”, tanya Daiki tidak percaya. Dia melihat wanita yang ada di depannya itu dengan takjub. Dia ingat kalau pernah melihat lukisan dirinya di salah satu jurnal mengenai ksatria yang pernah ditunjukka oleh master. Tubuh wanita itu bercahaya putih. “Tapi, bukankah sorcerer sudah mati beberapa ratus tahun yang lalu?”
“Ini hanya sosok astralku saja Daiki. Saat aku mati, aku meninggalkan sisa energiku di bumi ini. Sehingga aku bisa bangkit kembali untuk sementara. Dengan begini, aku bisa melakukan sesuatu untuk melawan para makhluk kegelapan”.
“Tunggu dulu”, Daiki mulai menyadari sesuatu. “Suara yang kudengar selama ini, itu anda? Anda yang memanggilku selama ini?”.
“Ya. Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Hanya kau yang bisa mendengar suaraku”.
“Bantuan?”.
“Aku ingin kau membantuku untuk mengunci lagi segel yang telah terbuka”.
Daiki terbelalak kaget, “Aku? Bagaimana bisa?”.
“Kau merupakan keturunan ksatria murni. Dalam dirimu terdapat kekuatan 2 orang ksatria. Bisa dikatakan, kekuatanmu saat ini sebanding denganku, sang magician, maupun sang alchemist”, Sang sorcerer bergerak ke suatu arah. Entah kenapa, tiba-tiba ruangan menjadi lebih terang. Daiki kini bisa melihat tempat dia berada dengan lebih jelas.
“YUYA!”, jerit Daiki saat melihat Yuya tergeletak tidak jauh darinya. “Yuya, kau tidak apa-apa? Hei, Yuya! sadarlah!”.
“Dia tidak apa-apa Daiki. Dia hanya tertidur akibat kelelahan. Tubuhnya juga tidak menderita luka parah”, kata sang sorcerer.
Daiki menghela napas lega, “Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang kulakukan seandainya dia tidak ada. Dia orang yang sangat berharga bagiku”. Daiki mengusap pelan rambut Yuya yang sedang tertidur. Muka Yuya terlihat tenang.
“Kalau begitu, bisakah kau ikut aku?”, Sang sorcerer bergerak maju ke suatu tempat.
“Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Yuya sendirian”.
“Tenang saja. Dia akan tetap aman disana. Di sekitar sini tidak ada makhluk kegelapan. Biarkan dia beristirahat disana”. Daiki menatap Yuya yang masih tertidur lelap, akhirnya dia berdiri dan meninggalkan Yuya tidur. Kini dia melangkah mengikuti sorcerer.
Mereka masuk ke jalan seperti sebuah lorong. Tidak lama, mereka tiba di sebuah ruangan. Di tengah ruangan itu tampak bercahaya. Dia bisa melihat ada seperti lingkaran sihir, di sekeliling lingkaran itu terdapat tulisan-tulisan kuno. Daiki tidak dapat membacanya. Di tengah lingkaran, terdapat sebuah gambar, Daiki tahu, kalau itu adalah lambang sang magician. (catatan author : gomen, aku lupa simbolnya kayak apa. Coba aja cari di google atau bayangkan sendiri simbolnya kayak apa. Maaf ya).
Garis-garis lingkaran sihir itu tampak berwarna merah. Daiki mendekati lingkaran itu, dia kemudian tahu kalau garis merah itu berupa cairan berwarna merah.
“Cairan ini, jangan-jangan....”, gumam Daiki sambil menyentuh cairan itu dengan tangannya.
“Ya, ini adalah darahmu. Darah keturunan ksatria murni memiliki kekuatan yang sangat kuat. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kekuatan mereka setara dengan kekuatan kami berempat. Karena yang membuat segel ini adalah sang magician, maka dibutuhkan juga kekuatan yang setara dengan sang magician, dan itu adalah kekuatan dari keturunan ksatria murni”, jelas sang sorcerer.
Daiki menunduk. Mukanya terlihat murung. Dia kemudian merasa bersalah. Seandainya dia tidak ada, tentu segel ini tidak akan terbuka. Dan dunia dalam keadaan yang aman. Fuka juga tidak akan menderita seperti itu.
“Tidak ada gunanya menyalahkan dirimu sendiri Daiki. Semua orang dilahirkan di dunia ini ada artinya”, ucap sang sorcerer lembut seakan-akan dia mengerti apa yang dipikirkan Daiki. “Kalau darahmu bisa digunakan untuk membuka segel, maka berarti darahmu juga bisa digunakan untuk menutup segel”.
“Benarkah?”, muka Daiki terlihat lebih cerah. Dia senang kalau akhirnya dia bisa melakukan sesuatu untuk mengakhiri pertarungan ini. “Tapi... kekuatanku sangat lemah. Bahkan kemampuanku sempat habis. Bisakah aku melakukannya?”, tanya Daiki. Tiba-tiba dia merasa murung.
“Untuk itulah aku menuntunmu untuk bertemu dengan adikmu. Dengan begitu kau bisa mendapatkan kembali kekuatanmu. Dan ditambah dengan sedikit kekuatanku, maka kau akan bisa menutup segel lagi”. sang sorcerer berjalan maju mendekati Daiki. “daiki, pinjamkan aku kekuatanmu. Saat ini, hanya kaulah satu-satunya yang bisa menutup segel itu”.
Daiki terdiam dan berpikir keras. Apakah dia memang harus menuruti perkataan sang sorcerer, tapi dia tidak yakin dengan kekuatan tubuhnya. dia merasa masih sangat lemah. Dia kemudian teringat dengan teman-temannya, adiknya, sekolahnya, dan lingkungan tempat dia tinggal. Dia tidak mau kehilangan semuanya. Dia tidak mau kehilangan lagi.
“Baiklah. Aku akan melakukan apapun untuk menutup segel itu”, ucap daiki mantap. Sang sorcerer tersenyum. Dia kemudian mengarahkan tangannya seperti sedang membelai kepala Daiki. Meskipun sang sorcerer tidak bisa menyentuhnya, akan tetapi Daiki bisa merasakan ada sebuah tangan lembut yang sedang mengusap kepalanya.
Sang sorcerer kini masuk ke dalam tubuh Daiki. Mereka berdua menjadi satu. Tubuh Daiki juga ikut bercahaya. Daiki bisa merasakan energi yang melimpah dari tubuhnya. Dia kemudian berjalan ke tengah lingkaran sihir itu, kedua tangannya menyentuh bagian simbol itu. Daiki berusaha mengeluarkan tenaga yang besar ke kedua tangannya.
“Wahai para roh yang bersemayam di muka bumi ini. Aku, sang sorcerer, meminta bantuan kalian untuk membantu kami melawan para makhluk kegelapan. Bantulah kami dalam menghadapi mereka”, gumam Daiki. Dia tahu kalau yang berbicara itu adalah sang sorcerer yang ada dalam tubuhnya.
Cahaya di sekitar tubuh Daiki kini semakin besar, sinarnya menerangi seluruh ruangan. Tidak lama, ada beberapa sosok transparan yang berdiri di sekelilingnya. Satu persatu sosok transparan itu muncul untuk memenuhi panggilan sang sorcerer. Sosok transparan itu memiliki beberapa wujud. Ada yang berwujud seperti anak-anak, orang dewasa, lansia, bahkan hewan pun juga ada.
“Terima kasih karena kalian sudah memenuhi panggilanku. Tolonglah, bantu kami menghadapi para makhluk kegelapan”. Roh-roh yang berkumpul itu mengangguk lalu pergi menuju ke suatu tempat.
Tsuzuku ~~~
AKUMA NO YOROI
PART 31
“HENTIKAN! Sudah kubilang jangan mendekatiku!”
Ryuu masih bersikeras menolak Yama. Berkali-kali dia
mendorong Yama hingga terpental dengan kekuatannya. Tapi, Yama jauh lebih hebat
dari Ryuu sehingga dorongan dari Ryuu tidak berpengaruh padanya. Entah sudah
berapa lama Yama dan Ryuu melakukan permainan ‘Jangan Dekati Aku’ ini.
“Sebentar lagi mereka akan datang! Dan kalian akan musnah
semuanya! Termasuk bocah yang sangat kau lindungi itu!”
Ryuu menunjuk ke arah Keito yang sedang sibuk berdiskusi
bersama dengan Chii. Keito tahu kalau saat ini mau tidak mau mereka harus
bertarung. Tidak ada jalan lain lagi.
“Yama, tinggalkan dia. Dia terus menolakmu, apa kau tidak
capek melakukan hal yang sama terus menerus?”, Keito yang sudah tidak tahan
mendengar pertikaian di antara dua makhluk itu akhirnya membuka mulutnya. Jujur
saja, telinga Keito tidak tahan lagi mendengar bentakan dari Ryuu.
“Keito-sama benar. Yama, sebaiknya kita menyusun rencana
untuk menghadapi musuh. Mereka sebentar lagi akan menyerang kita, kita harus
memiliki persiapan yang cukup”
Yama akhirnya meninggalkan Ryuu sendiri dan mulai ikut
berdiskusi bersama dengan Chii dan Keito. sesekali dia melihat ke arah Ryuu
yang terus berusaha melepaskan diri dari mantera pengikat yang dibuat oleh
Yuto. Yuto telah membuat lingkaran sihir di sekitar Ryuu sehingga Ryuu tidak
bisa keluar dari lingkaran tersebut. Dia masih bisa menggunakan kekuatannya,
tapi tidak sepenuhnya.
Mata Keito menyapu seluruh ruangan, wajahnya terlihat
sedikit cemas. Chii yang menyadari tingkah aneh dari tuannya langsung
menanyakannya.
“Ada apa Keito-sama? Anda terlihat cukup khawatir”
“Apakah kalian melihat ayahku? Aku baru sadar kalau aku
tidak melihatnya”
Yama dan Chii saling berpandangan. Chii mengamati seluruh
ruangan itu, sedangkan Yama memejamkan matanya.
“Maafkan saya Keito-sama, saya juga tidak melihatnya”
“Sepertinya Kenichi-sama tidak ada disini”, Yama membuka
matanya. “Aku tidak bisa merasakan keberadaannya di rumah ini. “Tapi, bagaimana
bisa? Seharusnya aku bisa merasakan kalau ada yang masuk atau keluar dari
pelindung yang kubuat. Tunggu... para demon itu juga tidak ada”
Keito langsung berlari keluar ke arah taman tempat para
demon itu tadi berkumpul. Sesampainya disana, Keito hanya bisa melihat taman
yang kering dan layu. Para demon itu telah memakan aura kehidupan di taman itu.
Tapi Keito tidak bisa merasakan keberadaan para demon itu, para demon itu tidak
ada disana.
“Mereka telah pergi mendahului kita”, Chii yang mengikuti
Keito menunjuk ke arah langit yang kelam “Mereka sudah memulai pesta mereka
sendiri”
---***---
Setelah meletakkan seikat bunga yang sedikit layu, Inoo
melangkah mundur secara perlahan. Matanya tetap terpaku pada lubang besar yang
ada di pohon tersebut. Setelah merasakan sesuatu, dia tersenyum.
“Aku tahu kau ada disitu, keluarlah”, ucap Inoo dengan
suara yang cukup keras.
Seorang laki-laki keluar dari kumpulan semak rimbun yang
jaraknya cukup jauh dari Inoo. Laki-laki itu berusaha berjalan mendekati Inoo,
tapi sebelum dia melangkah lebih jauh, Inoo sudah berteleportasi ke hadapan
lelaki itu.
“Tidak kusangka, kepala keluarga Okamoto memiliki hobi
seperti seorang stalker”, Inoo berbisik sambil mengeluarkan aura demon
miliknya. “Bagaimana kau bisa mengikutiku?”
“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan kepala keluarga
Okamoto”, jawab lelaki itu. “Rupanya kau menyembunyikannya di tempat ini. Wajar
saja aku tidak bisa menemukannya”
“Karena kau sudah mengetahui tempat ini, jangan berharap
kau bisa pergi begitu saja, Nak Kenichi”
---***---
9 demon berkumpul di udara. Mereka saling beradu
mengeluarkan aura. Sesuatu seperti kabut tipis berwarna hitam mengelilingi para
demon itu. Masing-masing saling melihat dengan mata merah mereka yang menyala.
“Aku tidak menyangka, demon kelas S seperti kalian akan
berpihak pada manusia”, Jesse melihat ke arah Yuto dan Yuya.
“Aku tidak berpihak pada manusia, aku hanya melakukan yang
kumau. Aku memiliki impian yang lebih besar”, jawab Yuto.
“Aku dipaksa mengikat kontrak dengan bocah itu gara-gara
Hime-sama yang menyebalkan itu”, geram Yuya saat mengingat kembali kejadian
itu.
“Aku tidak peduli apa alasan kalian. Mengkhianati Yang
Mulia Raja adalah pelanggaran berat, kalian akan menerima hukuman kalian saat
ini juga”, Juri mengacungkan tongkat sabitnya yang cukup panjang ke 5 demon
yang ada di hadapannya.
“Memangnya kalian bisa melakukannya?”, ejek Yabu. “Kalian
masih seperti anak bau kencur bila dibandingkan dengan kami. Pengalaman kami
jauh lebih banyak daripada kalian karena kami hidup lebih lama daripada kalian”
“Kita tidak akan tahu kalau tidak dimulai kan?”
Setelah berkata seperti itu, Yugo langsung melemparkan
bola sihir yang berwarna kemerahan ke arah lawannya. Yuya langsung maju dan
menahan bola itu dengan tangannya. Masing-masing tidak mau mengalah dan
mengeluarkan auranya dengan sekuat tenaga. Karena keduanya sama-sama seimbang,
benturan dua aura demon itu membuat ledakan besar di udara.
“Pertarungan sudah dimulai”
Bersamaan dengan ledakan itu, Keito yang melihat semuanya
dari bawah bisa melihat ada 4 cahaya yang berpisah dari pusat ledakan.
Keempatnya berpencar ke arah yang berbeda. Salah satu cahaya itu mengarah ke
tempat Keito dan yang lain berada.
“Yama! Buatkan pelindung yang besar! Usahakan bisa
melindungi sebanyak yang kau bisa!”, perintah Keito.
Yama kembali ke wujud aslinya, bukan menjadi seekor anjing
kecil berwarna hitam, tapi menjadi seekor anjing besar yang berbulu keemasan.
Sekilas dia terlihat seperti seekor singa dengan warna bulunya yang seperti
itu. Yama mengeluarkan sinar keemasan dari tubuhnya. Perlahan sinar itu meluas
dan mengelilingi kediaman Okamoto dan beberapa rumah yang ada di sekitar
mereka. Dilihat dari besarnya pelindung yang dibuat oleh Yama, setidaknya
pelindung yang dibuatnya berdiameter sekitar 1 km.
Saat cahaya kemerahan itu menabrak pelindung yang dibuat
oleh Yama, sekilas terjadi kilatan cahaya dan suara seperti sesuatu yang telah
meledak. Cahaya kemerahan itu akhirnya menembus masuk ke dalam pelindung itu
dengan paksa.
“Yama, bisakah kau membuat pelindung juga di daerah dimana
3 cahaya yang lain berada?”
“Aku tidak bisa menjanjikannya, tapi akan kucoba”
Yama mengeluarkan 3 bola emas dari tubuhnya, 3 bola emas
itu kemudian memisahkan diri dan terbang keluar dari pelindung. Ketiga bola
emas itu menuju ke arah 3 cahaya kemerahan yang lain berada.
“Hai Keito”
Keito tertegun. Dia mengenali suara itu. Suara orang yang
selalu menemaninya selama ada di sekolah.
“Ju... ri...”, gumam Keito saat dia melihat Juri yang kini
telah jelas terlihat. Keito melangkah mundur. Dia masih belum bisa mempercayai
kalau Juri adalah demon. Tapi setelah melihat mata Juri yang berwarna merah dan
sabit besar yang dibawanya, yakinlah Keito kalau Juri benar-benar demon.
Apalagi dia bisa merasakan aura membunuh yang cukup besar yang berasal dari
Juri. Aura yang kelam dan menyesakkan.
“Keito-sama, jangan ragu. Dia bukanlah teman anda. Dia
adalah demon yang mengincar anda”
“Keito! Yang ada di depanmu itu musuh. Bukan temanmu!”
Keito menghentikan langkahnya. Dia memejamkan matanya.
Setelah menghela nafas yang cukup panjang, dia membuka matanya. Raut wajah
Keito telah berubah. Tidak ragu-ragu seperti sebelumnya. Yama dan Chii
tersenyum lega melihat tuan mereka itu.
“Kalian benar Yama, Chii. Juri yang kukenal sudah tidak ada.
Yang ada di hadapan kita adalah musuh yang harus kita kalahkan dan kita habisi”
“Apa kau bisa menghadapi mereka semua, Juri?” Yabu
tiba-tiba muncul dari samping. Dengan tenang dia berjalan mendekati Keito, dkk.
Juri tersenyum. Sebagai jawaban dari pertanyaan Yabu, dia
mengeluarkan auranya lebih banyak dari sebelumnya. Matanya kini berwarna merah
pekat seperti darah. Jika bukan karena pelindung yang dibuat oleh Yama, Keito
pasti akan merasa sesak karena aura membunuh yang dikeluarkan oleh Juri.
“Akan kuhadapi kalian sekaligus”
Juri mengayunkan sabitnya ke arah mereka berempat. Chii
dengan cepat berubah menjadi seekor kyuubi dan membawa Keito menghindar. Yama
berhasil menahan serangan Juri dengan pelindung yang dibuat olehnya. Sedangkan
Yabu dengan gesit sudah bergerak sesaat sebelum ayunan sabit itu mengarah
kepadanya.
“Kamaitachi (pedang angin), seperti biasanya, seranganmu
tidak pernah terkendali dengan baik, Juri”, gumam Yabu saat melihat semua yang
berada di area serangan Juri membelah menjadi 2.
“Diam dan bertarunglah denganku, mantan tetua”
---***---
“Huwee.... kenapa aku bersama dengan Hikaru???”
“Diamlah Daichan. Lebih baik kau berfokus kepada musuh
yang ada di hadapanmu”
“Aku tidak mau. Aku lapar. Aku mau daging. Huwee....
Yuya...”
Hikaru menggelengkan kepalanya melihat tingkah Daiki yang
seperti anak-anak. Hikaru sendiri tidak tahu kenapa dia berpasangan dengan
Daiki. Dia hanya mengikuti salah satu demon yang ada di hadapannya ini.
“Bisakah kalian berdua berhenti bermain-main? Aku tidak punya
waktu untuk bermain bersama dengan kalian. Aku harus menuju ke tempat kakak”
Hikaru melihat ke arah Shin yang kini telah bersiap
menyerang. Kemampuan Shin sama seperti kakak kembarnya, yang berarti sama juga
dengan kemampuan Daiki. Pertarungan ini sama sekali tidak menguntungkan bagi
Hikaru, apalagi Daiki tidak berniat menyerang Shin yang lebih lemah dari
mereka. Daiki hanya tertarik pada demon yang levelnya lebih tinggi.
“Bagaimana aku menghadapinya?”, keluh Hikaru sambil
melihat ke arah Daiki yang masih terduduk dengan muka cemberut.
---***---
“Nah bagaimana? Kau tidak punya waktu lama untuk
memikirkannya. Kau juga merasakannya kan? Saat ini mantan temanku sesama demon
sedang menyerang kalian. Termasuk anakmu. Apa kau tidak mau bergabung bersama
dengan anakmu dan menolongnya?”
Kenichi terdiam sejenak. Sungguh dia ingin sekali
menghajar wajah demon berparas cantik yang ada di hadapannya itu. Tapi dia
menahan amarahnya “Baiklah. Aku setuju”
---***---
Di tempat lain, 2 kilatan cahaya merah saling beradu. 2
demon sedang bertarung di udara. Saking cepatnya gerakan kedua demon itu
sehingga sosok mereka tidak terlihat dan hanya meninggalkan secercah cahaya
kemerahan saja bila dilihat dengan mata telanjang.
“Seperti biasa, kau lemah dalam pertarungan jarak dekat,
Yugo”
“Kau sendiri tidak jauh beda denganku, Takaki-san”
Mereka kembali beradu kekuatan. Sebenarnya mereka berdua
lebih ahli dalam pertarungan jarak jauh. Tapi entah kenapa, karena sudah
mengetahui kemampuan masing-masing, mereka berdua memutuskan untuk melakukan
pertarungan dengan jarak dekat.
Yugo mengeluarkan senjata sabitnya yang sedikit lebih
pendek dari milik Juri. Dia mengarahkan sabit itu ke arah Yuya dan berhasil
memutus lengan Yuya. Darah mengalir deras dari lengan demon itu. Yugo tersenyum
sekilas saat melihat Yuya yang terluka karena serangannya.
“Heh, apa kau lupa siapa yang mengajari kau dan Juri?”
---***---
Berbeda dengan 3 tempat lain yang sudah memulai
pertarungan mereka, di tempat ini, 2 demon ini sama sekali tidak bergerak dari
tempat mereka dan saling mengamati satu sama lain. Masing-masing mengamati
setiap gerakan lawannya dan berusaha melihat celah.
Jesse mengamati seluruh gerakan Yuto tanpa berkedip
sedikitpun. Dia tidak ingin melewatkan satu gerakanpun. Jesse tidak ingin
bertindak gegabah. Dia tidak ingin salah langkah. Jesse masih belum mengetahui
kemampuan Yuto yang sebenarnya. Meskipun mereka berdua sama-sama menjadi
pengawal Yang Mulia, tapi Yuto lebih banyak menghabiskan waktunya di istana
daripada keluar dan bertarung. Dia lebih suka menyuruh anak buahnya untuk
menyerang.
“Kenapa? Kau tidak ingin menyerangku?” Yuto menggerakkan
tangan kanannya, membuat Jesse semakin waspada. Pandangannya kini terpaku pada
tangan kanan Yuto. “Kalau begitu aku mulai duluan ya?”
BUAGH! Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Jesse
bagian kiri. Dia sama sekali tidak menyangka ada serangan yang datang dari
sana. Jesse melihat ke arah tangan kiri Yuto yang tidak bergerak sedikitpun,
dan jelas terlihat olehnya kalau tangan kanan Yuto yang bergerak.
“Inilah kemampuanku, Jesse”, bisik Yuto yang kini sudah
berada tepat di belakang Jesse.
---***---
Keito menahan rasa sakit yang ada di dadanya. Dia berusaha
melupakan sosok yang kini sedang bertarung di hadapannya. Sosok yang terus
menemaninya selama beberapa tahun ini.
“Jangan pernah membawa perasaanmu saat kau bertarung.
Kalau tidak, kau akan mengalami kekalahan yang pahit”, ucap Yabu saat berdiri
di samping Keito. Setelah berkata demikian, Yabu menghilang dari sisi Keito.
Tsuzuku ~~~
TEN KNIGHTS
PART 46
“Keito... aku ada disini”, Yuto memegang tangan Keito yang masih meraba-raba.
Keito menoleh ke arah Yuto, “Dimana? Aku tidak bisa melihatmu Yuto....”.
Yuto memegang kepala Keito dengan kedua tangannya, menatap lurus kedua mata Keito yang terbuka, “aku tepat di depanmu Keito. Wajahku sedekat ini, apakah kau masih tidak bisa melihatku?”.
Keito menggeleng, “aku tidak bisa. Aku sudah membuka mataku, tapi aku hanya bisa melihat kegelapan saja”.
Yuto menoleh ke arah Ryuusei. Wajah Yuto penuh dengan rasa amarah, “apa yang kau lakukan pada Keito?”, geram Yuto.
“Tidak ada. Aku hanya mengambil penglihatannya saja. Aku membuat matanya tidak bisa melihat cahaya lagi. Hanya kegelapan saja yang kini bisa dilihat olehnya”, jawab Ryuusei sambil tersenyum.
“Kauu.... kembalikan mata Keito seperti semula!”, seru Yuto. Dia kemudian menyerang Ryuusei dengan membabi buta. Yuto mengarahkan pukulannya tepat ke arah Ryuusei, tapi Ryuusei bisa mengelaknya dengan menjadi bayangan.
“AAA!!!!!!”, jerit Keito. Yuto menoleh ke arah Keito. Dia melihat Keito yang tampak sedang diserang oleh musuh. Karena dia tidak bisa melihat, dia tidak tahu dari mana musuh menyerang dan tidak bisa menyerang balik. Yuto bergegas kembali ke tempat Keito agar dia bisa membantu Keito melawan musuh.
“Eits, kau mau kemana? Bukankah kau masih ada urusan denganku?”, Ryuusei tiba-tiba muncul di hadapan Yuto dan menyerangnya. Serangan Ryuusei berhasil mengenai Yuto. Yuto langsung mundur beberapa langkah akibat serangan Ryuusei tersebut.
“ARRGHHHH!!!!”, jerit Keito lagi. Yuto kembali melihat Keito yang kini telah menjadi sasaran empuk bagi para makhluk kegelapan. Mereka semua menyerang Keito yang tidak bisa balas menyerang.
Yuto melihat ke arah teman-temannya yang lain, masing-masing dari mereka sibuk melawan musuh. Yabu dan Inoo tampak dengan sekuat tenaga melawan King. Pertarungan mereka tampak sangat tidak imbang. Berkali-kali King menyerang keduanya dengan cepat sehingga tidak ada waktu bagi Yabu dan Inoon untuk membalas. Dia kemudian melihat ke arah Chinen yang tampak sibuk melawan Queen, dan Yamada yang juga masih tampak sibuk melawan para makhluk kegelapan tingkat menengah. Dia bingung harus berbuat apa. Keito sangat butuh bantuan, apalagi dengan kondisinya yang seperti itu.
“Keito! Bisakah kau bertahan sebentar lagi? aku akan menyelesaikan urusanku dulu disini. Setelah itu aku janji akan menolongmu!”, seru Yuto.
Keito yang kini sedang terkapar, berusaha untuk menggerakkan badannya, “Tenang saja Yuto. Aku masih bisa bertahan. Kau hadapi saja lawan yang ada di hadapanmu. Tidak usah khawatirkan aku”.
“Baiklah”, Yuto berusaha bangkit lagi, “Aku akan segera mengalahkanmu”, tunjuk Keito pada Ryuusei yang berdiri di hadapannya. Ryuusei hanya tersenyum tipis. Yuto kini kembali bergerak maju untuk menyerang Ryuusei.
Di tempat lain
Daiki masih terus memeluk Fuka. Fuka berkali-kali meronta untuk melepaskan pelukan Daiki, tapi Daiki terus memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya apapun yang terjadi. fuka mengeluarkan serbuk racun dari tubuhnya untuk menyerang Daiki, tapi serbuk racun itu malah masuk ke dalam tubuh Daiki.
“Fuka.... aku tahu kalau kau benci padaku setelah apa yang kulakukan pada ayah dan ibu. Tapi, apapun yang terjadi, saat ini aku tidak boleh mati. Aku masih memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kalian membangkitkan sang necromancer. Karenaku, dunia ini akan mengalami bencana. Aku tidak ingin dunia ini hancur. Karena di dunia inilah tempat tinggal kita, tempat kenangan kita”, ucap Daiki.
“Aku benci kau! Kakak telah membunuh ayah dan ibu! Jikalau kakak tidak ada, ayah dan ibu pasti masih hidup!”, seru Fuka sambil terus berusaha untuk melepaskan diri.
“Aku tahu. Aku juga sangat menyesali hal itu. berkali-kali aku berpikir untuk mati. Aku selalu berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau aku tidak ada. Jika aku tidak ada, ayah dan ibu tidak akan mati, kau tidak akan menjadi sekutu makhluk kegelapan, dan yang lebih penting segel itu tidak akan terbuka. Tapi, kita tidak bisa merubah takdir. Yang sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi. Maka dari itu, aku akan terus hidup untuk menghentikan kalian sebagai balasannya”.
“Lepaskan aku!!!”, teriak Fuka sambil terus meronta. Dia mengeluarkan serbuk racun dalam jumlah besar. Serbuk racun itu mengelilingi Fuka dan Daiki sehingga mereka berdua tidak kelihatan. Yuya dan Hikaru yang hanya bisa melihat dari kejauhan, berharap agar tidak terjadi sesuatu pada Daiki. Bagaimanapun, keadaan ini sangat berbahaya bagi mereka berdua jika mereka berusaha untuk mendekat.
Serbuk racun yang mengelilingi Daiki dan Fuka makin lama makin berkurang, sehingga Hikaru dan Yuya bisa melihat mereka lagi. Serbuk racun itu perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh Daiki seakan-akan Daiki menghisap serbuk racun tersebut. Fuka yang telah kehilangan kemampuannya, akhirnya menyandarkan tubuhnya di pelukan Daiki.
“Maafkan aku Fuu, apapun yang terjadi, aku tetaplah kakakmu”, bisik Daiki. Dia kemudian membaringkan Fuka dengan perlahan-lahan, setelah itu dia berjalan kembali menuju Hikaru dan Yuya. Dia melemparkan sebuah senyum pada mereka berdua.
“Daichan! Awas!”, seru Yuya memperingatkan. Daiki kembali menoleh ke belakang. Dia melihat Fuka yang terkapar kembali bangkit berdiri. Tidak hanya itu, Daiki merasa ada yang berbeda dengan Fuka. Aura kegelapan yang sangat gelap menyelimuti tubuh Fuka.
“Ahh.... tidak kusangka, kau masih memiliki kemampuan seperti itu”, ucap Fuka. Suaranya berbeda dengan suara Fuka yang biasanya. Suara ini jauh lebih berat dan terdengar agak serak.
“Siapa kau? Kau bukan Fuu yang kukenal”, tanya Daiki yang mengenal baik suara adiknya itu.
“Bagaimana bisa kau tidak mengenalku? Aku sudah lama berdiam di tubuh adikmu, berkatku dia bisa memiliki kekuatan yang diinginkannya untuk membunuhmu”, kata Fuka lagi. Pandangan matanya jauh lebih menusuk dari sebelumnya.
“Dia... dialah Jack yang sesungguhnya. Maou yang merasuki tubuh Fuu”, ucap Hikaru.
********
“YURI!”, seruku saat melihat Chinen yang terpental akibat serangan Queen. Gerakan Queen yang sangat cepat membuat Chinen kewalahan menghadapinya. Belum sempat Chinen bersiap untuk melawan, Queen sudah melancarkan serangan padanya. Bahkan tanpa kusadari, Queen selalu sudah berada di dekat Chinen dan menyerangnya.
“Ryo....chan....”, gumam Chinen sambil melihatku. Pandangan matanya sayu. Aku bisa melihat wajahnya yang imut itu penuh dengan luka memar dan lebam. Chinen terbatuk-batuk dan dari mulutnya aku bisa melihat sedikit darah yang keluar. Aku menduga organ dalam tubuhnya terluka, atau mungkin ada beberapa tulangnya yang patah. Aku segera berlari menghampiri Chinen.
“Yuri..... kau baik-baik saja? bertahanlah, akan kupulihkan tubuhmu”, aku segera menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkan luka di tubuh Chinen. Chinen hanya bisa mengangguk pasrah. Aku bisa melihat kalau luka yang dialaminya cukup serius.
Akibat kemampuanku, kini luka Chinen semakin membaik. Memar dan luka di tubuhnya sudah berkurang. Raut wajahnya juga sudah kembali seperti semula. Chinen berusaha bangkit kembali. “Apa yang kau lakukan? Jangan bergerak dulu. Biar aku saja yang melawan dia”, aku berusaha mencegah Chinen yang tampaknya ingin bertarung lagi.
Chinen menggeleng, “aku masih bisa bertarung kok Ryochan. Dan lagipula, kau tidak bisa melawan dia kan? Kau tidak bisa melawan Queen karena bagaimanapun dia itu perempuan. Aku tahu kok. Waktu pertama kali kita bertarung dengannya, kau tampak ragu menyerangnya karena dia seorang perempuan”. Aku terkejut mendengar perkataan Chinen. Bagaimana dia bisa tahu?
“Tapi....”, aku ragu membiarkan Chinen bertarung lagi. Chinen selalu saja maju bertarung melawan musuh yang lebih kuat. Dia selalu melindungiku.
“Serahkan padaku. Tadi sudah kuberitahu kan? Biarkan aku saja yang menghadapi Queen, kalian jangan ada yang ikut campur”. Chinen menatap mataku, “Ryochan, aku pasti baik-baik saja. aku tidak mungkin kalah. Coba lihat teman-teman kita yang lain, mereka juga sedang bertarung dengan sekuat tenaga. aku juga yakin kalau saat ini Daichan, Yuya, dan Hika juga sedang bertarung sekuat tenaga kita. Kalau kau ingin membantuku, bantulah aku dengan cara membasmi makhluk kegelapan itu sehingga tidak ada lagi yang menghalangiku saat bertarung melawannya”. Chinen menggenggam tanganku dengan erat. Aku bisa melihat pancaran matanya yang penuh dengan keyakinan.
“Baiklah. Aku akan membasmi makhluk kegelapan sebanyak mungkin. Aku akan memastikan bahwa tidak ada satupun yang mengganggu kalian”.
“Terima kasih Ryochan”, Chinen tersenyum riang padaku.
“Kau punya ide untuk melawannya?”, tanyaku lagi.
“Ada. Tapi waktuku Cuma sedikit. Paling lama mungkin 30 menit. Aku akan meniru kemampuan si Queen itu. Selama itu, aku akan terus berusaha menyerangnya dengan sekuat tenaga”, aku bisa merasakan energi yang cukup besar keluar dari tubuhnya. Dia kemudian bergerak maju , kecepatannya meningkat cukup tajam. Bahkan kini Chinen bisa bertarung seimbang melawan Queen.
“Berjuanglah Yuri”, gumamku. Aku kemudian memusatkan konsentrasiku untuk bertarung dengan musuh yang ada di hadapanku.
*******
Yabu dan Inoo kini sibuk bertarung melawan King. Mereka terus melancarkan serangan ke arah King. Tapi semua serangan itu berhasil dibelokkan oleh King dan tidak ada satupun serangan yang berhasil mengenai tubuhnya. Seperti yang pernah diceritakan oleh Jin, kemampuan King cukup hebat. Kemampuan yang bisa membelokkan semua serangan. Hampir sama dengan milik Yuya.
Yabu membuat sebuah tombak dari air yang dikendalikannya, dia melemparkan tombak itu ke arah King. Tombak itu kemudian berbelok arah sebelum mendekat ke tubuh King. Kini tombak itu menuju ke arah Inoo.
“Kei!!”, Yabu segera berlari ke arah Inoo. Dia menarik Inoo untuk menghindar dari serangan tombak itu. Untunglah, Yabu bisa segera menolong Inoo.
“Kei, kau tidak apa-apa?”.
“Aku tidak apa-apa. Tadi itu aku sangat kaget. Untunglah kau segera menyelamatkanku”.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau tombak yang kulemparkan itu bisa berbelok padamu”, ucap Yabu. Mukanya terlihat sedikit murung.
“Aku tidak apa-apa kok. Aku tidak terluka kan? Dengan begini kita bisa tahu kalau lebih baik kita tidak menyerangnya dengan cara melemparkan serangan padanya, karena serangan itu bisa berbalik mengenai kita”, ucap Inoo sambil berusaha menenangkan Yabu. Dia tahu kalau Yabu merasa bersalah padanya karena tombak yang dilemparnya hampir saja mengenai dirinya.
“Kalau begitu, bagaimana kita bisa melawannya? Master dan Jin saja kewalahan menghadapinya. Serangan apapun tidak mempan melawannya, dan dia bisa membalikkan serangan lawan sehingga kita tidak bisa gegabah melawannya”.
“Lakukan saja yang bisa kita lakukan. Kita masih bisa menghadapinya dengan serangan langsung kan? Bertarung dengan pedang kurasa bukan ide yang terlalu buruk”.
“Ya. Kita tidak boleh menyerah disini. Perjuangan kita belum selesai, kalau kita menyerah, maka semuanya akan berakhir”, Yabu kini bangkit kembali. Kepercayaan dirinya kembali pulih berkat perkataan Inoo.
“Kalian memang benar-benar keras kepala. Bukankah kalian tahu kalau semua serangan kalian tidak akan mempan melawanku?”, kata King.
“Memang. Tapi, pasti ada jalan untuk mengalahkanmu. Selagi kami mencari tahu bagaimana caranya untuk mengalahkanmu, kami akan terus melawanmu”, ucap Yabu.
“Ya. Kami tidak akan menyerah sampai disini”, tambah Inoo.
“Dasar keras kepala”, ucap King. Dia mengarahkan kedua tangannya ke arah Yabu dan Inoo. Sesuatu yang berwarna hitam keluar dari tangannya dan mengarah ke Yabu dan Inoo, sama seperti sebelumnya.
“ARGGHHHHH!!!!!!!!!!!!”, jerit Yabu dan Inoo. Mereka berdua tampak sangat kesakitan.
“Rasakanlah. Akan kubuat kalian terus merasa sakit dan menderita hingga waktu kematian kalian”.
Di atas, Daiki dkk.
“Jack? Apa maksudmu Hika?”, tanya Yuya.
“Kau ingat? Fuka dirasuki oleh salah satu maou, dialah Jack. Saat ini, Fuka sama sekali tidak sadar akibat pertarungannya dengan Daiki sehingga Jack yang ada di dalam tubuhnya mengambil alih tubuh Fuka”, jawab Hikaru. “Coba lihat itu. Aura kegelapan terasa sangat kuat di sekitar tubuh Fuu. Suaranya juga berubah, pandangan matanya jauh lebih menusuk, bahkan aku bisa merasakan hawa membunuh yang sangat kuat dari sini”.
Daiki yang berdiri tepat di hadapan Jack, berusaha mengumpulkan serbuk racun yang keluar dari tubuhnya di kedua tangannya. Kini kedua tangan Daiki tampak seperti sedang diselimuti sesuatu. “Keluar dari tubuh Fuu sekarang juga! Gara-gara kau, Fuu jadi seperti itu!”, seru Daiki.
“Kok bisa gara-gara aku? Penyebab awalnya kan kau sendiri. Kaulah yang telah membunuh ayah dan ibu kandungmu, yang tidak lain juga orangtua anak ini kan?”, kata Jack sambil menunjuk tubuhnya sendiri. Daiki hanya bisa terdiam mendengar perkataan Jack. Dia tidak bisa membantah pernyataan itu.
“Daichan!”, seru Hikaru sambil menarik tubuh Daiki ke belakang. Rupanya Jack menyerang Daiki di saat Daiki lengah dan tidak memperhatikannya. Hikaru segera melemparkan tubuh Daiki ke belakang. Dengan sigap, Yuya berhasil menangkap Daiki, sedangkan Hikaru terlempar jauh ke samping dan membentur tembok.
“Uuhh....”, rintih Hikaru sambil memegang tangannya.
“Hika! kau tidak apa-apa?”, seru Daiki setelah dia sadar.
Tiba-tiba lantai mulai bergetar lagi. Tembok di sekitar mereka pun runtuh. Gempa dahsyat terjadi lagi. Kali ini, gempa ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Lantai yang mereka pijaki mulai retak. Retakannya semakin lebar.
“AAA!!!!!”, Daiki, Yuya, dan Hikaru jatuh kebawah karena lantai yang mereka pijaki sudah hancur akibat gempa tersebut. Rupanya lantai itu sudah tidak kuat bertahan akibat gempa yang terjadi.
BRUK! Terdengar suara seperti sesuatu yang jatuh.
“Urgh.... sakit...”, rintih Daiki. Dia kemudian melihat ke sekelilingnya. Tampaknya kini dia berada di sebuah ruangan yang cukup besar, tapi dia tidak bisa melihat dengan cukup jelas karena kondisi ruangan itu yang cukup gelap. “dimana ini? Yuya? Hika? kalian dimana?”, tanya Daiki sambil meraba-raba.
Mata Daiki kini melihat ada sesuatu yang bercahaya. Sebuah sinar kecil putih yang tadi dilihat olehnya. Sinar itu semakin mendekat ke arah Daiki. Sinar itu semakin terang dan semakin besar. Kini sinar putih itu berwujud seperti seorang manusia. Perlahan, Daiki bisa melihat ada sesosok wanita yang berdiri di hadapannya. Sosok wanita itu bercahaya.
“Siapa kau?”, tanya Daiki pada wanita itu. Entah kenapa, dia merasa kalau wanita itu sama sekali tidak berbahaya. Daiki yakin kalau sosok yang ada di hadapannya itu bukanlah musuh. Daiki merasa kalau dia pernah melihat wajah wanita itu.
“Salam kenal Daiki. Perkenalkan, aku adalah Sang Sorcerer”, ucap wanita itu.
Tsuzuku ~~~
Langganan:
Komentar (Atom)