~YabuNoo~
"Kei... Aku bisa gila"
"Bertahanlah Ko-chan! Tinggal sedikit lagi"
Yabu menggaruk kepalanya karena stres. Rambutnya bahkan berantakan karena Yabu sering menggaruknya, menjambaknya, dan mengacaknya. Sungguh dia ingin kabur saja.
Yabu ingin muntah disaat Inoo datang dengan setumpuk buku tebal. Bahkan senyuman malaikat Inoo kini terlihat seperti senyum iblis di matanya.
"Kei... Sudah cukup" pinta Yabu sambil sedikit meringis.
"Tidak bisa Ko-chan... Ini semua masih kurang" Inoo mengusap kepala Yabu dengan lembut.
"Nilaiku sudah cukup bagus Kei... Bahkan aku selalu berada di 5 besar"
Inoo menggeleng. "Itu masih kurang Ko-chan... Kau harus berada di 3 besar. Terlebih lagi aku ingin kita masuk ke universitas yang sama. Kau ingin berpisah denganku saat kita lulus nanti? Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak ingin berpisah denganku meskipun kita lulus"
Yabu menghela napas pasrah. Itu semua akibat kata-katanya sendiri. Dia memang sangat menyayangi Inoo sehingga tidak ingin berpisah darinya. Tapi berkat ucapannya itu, Inoo malah memaksanya belajar setiap hari. Tidak ada kencan romantis saat mereka berdua bertemu. Hanya ada kata 'belajar'.
"Inilah deritanya kalau kau berpacaran dengan anak jenius yang selalu ranking 1 di sekolah" gumam Yabu.
~TakaDai~
"Daiki~"
Yuya memeluk Daiki manja dari belakang. Dari nada suaranya Daiki tahu kalau Yuya ingin meminta sesuatu.
"Apa?"
"Kencan yuk. Kita sudah lama tidak pergi kencan"
"Tidak bisa Yuya. Aku harus belajar"
"Lagi? Kenapa sih kau ini suka sekalu dengan yang namanya belajar?" Yuya cemberut.
"Kita sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir. Aku tidak mau lulus dengan nilai jelek"
"Tapi kencan sekali tidak akan membuatmu jadi bodoh" Yuya merajuk.
"Tidak bisa. Aku harus belajar" Daiki merapikan bukunya tapi Yuya terus melihatnya dengan pandangan memohon. "Gini aja deh, kalau ujian minggu depan nilaimu bagus, aku akan menuruti semua permintaanmu"
"Kau serius?!" Yuya melebarkan matanya.
"Mau kencan atau apapun itu terserah. Aku akan menuruti permintaanmu asalkan nilaimu lebih bagus dariku"
Yuya menyeringai. "Oke. Setuju. Janji ya. Kau akan melakukan apapun yang kuminta kalau aku menang. A-pa-pun"
Yuya kembali ke mejanya dan mulai membuka bukunya untuk belajar. Daiki sedikit tersenyum saat melihat Yuya yang serius belajar.
"Si baka itu serius kalau ada maunya saja" Daiki kembali fokus ke bukunya. Dia ingin kembali fokus belajar karena dia tidak ingin kalah dari Yuya. Daiki bergidik ngeri karena kurang lebih dia tahu apa yang dimaksud dengan 'apapun' yang Yuya rencanakan.
~HikaToJima~
Hikaru melirik ke dalam suatu kelas. Matanya melebar saat menemukan orang yang dia cari. Dengan langkah gembira dia menuju orang tersebut.
"Keito, tolong ajari aku!"
Keito terkejut ketika ada dua orang berdiri di depannya sambil menyodorkan buku bahasa Inggris. Kedua orang itu juga sama kagetnya. Mereka melihat satu sama lain dengan muka kesal.
"Cih, kau lagi"
"Hikaru-kun juga, kenapa disini? Ini ruangan kelas 2. Kelas 3 kan di lantai yang lain"
"Aku hanya ingin minta diajari oleh Keito"
"Kakak kelas minta diajari adik kelas? Memalukan" ejek Yuto.
"Setidaknya nilai bahasa inggrisku jauh lebih baik darimu. Orang yang selalu mendapat nilai 0 saat ujian" Hikaru balas mengejek.
"Kalau begitu, kau kan bisa belajar sendiri. Tidak usah minta bantuan Keito"
"Hei, terserah aku mau minta diajari Keito atau tidak. Sebelum kau minta diajari olehnya, perbaiki dulu susunan otakmu. Kau cuma akan menyusahkan Keito nanti"
"Kenapa kau yang mengaturku? Itu kan haknya Keito mau mengajari siapa, ya kan Keito?" Yuto menoleh ke arah meja Keito dan kaget saat melihat bangkunya kosong. "Loh? Kemana dia?"
"Keito! Keito!" dua orang itu berteriak mencari Keito yang tiba-tiba menghilang.
Keito yang mendengar teriakan dua orang itu langsung mempercepat langkahnya. Dia ingin bersembunyi dari dua orang itu.
"Menyeramkan... Dua orang itu menyeramkan" gumam Keito.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar