Jumat, 06 Maret 2015

HANYA KAU DAN AKU

Kali ini saya post FanFic One Shot ya...

Genre : Mystery, Romance
Cast : Chinen Yuri, Yaotome Hikaru

Hari ini, hujan kembali turun dengan indahnya. Rintik-rintik hujan yang turun membasahi bumi tampak berkilauan akibat sinar matahari yang menyinari mereka. Benar, meskipunsaat ini hujan turun, tapi matahari masih bersinar, meskipun sebagian besar sinarnya terhalang oleh awan kelabu yang membawa berjuta-juta tetes air kecil yang siap turun ke bumi ini.

Aku melangkahkan kakiku pelan di bawah hujan. Aku tidak peduli kalau air hujan membasahi tubuhku. Aku tidak peduli kalau pada akhirnya tubuhku terbasahi oleh air hujan yang turun. Seandainya air hujan ini mengandung air asam, mungkin aku tidak akan merasakannya hingga kulitku terbakar habis.

Semakin lama, hujan semakin deras. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas akibat rintik hujan yang turun terlalu deras. Orang-orang di sekitarku mulai berlari mencari perlindungan. Ada juga yang terus berjalan dengan berlindung di bawah payung. Kenapa orang-orang ini? Ini hanyalah air hujan. Kau tidak mungkin akan mati bila terkena beberapa tetesan air hujan. Kenapa mereka justru takut dengan air hujan? Aku berharap hujan yang deras ini bisa membawa pergi semua kerisauan dalam hatiku. Aku berharap hujan bisa membantuku melupakan semua ingatanku. Ingatan yang tidak ingin kuingat.

Tiba-tiba aku tidak merasakan lagi air hujan menetes di tubuhku. Aku melihat ke arah jalanan, hujan masih turun dengan lebatnya, mengapa aku tidak merasakannya lagi? aku melihat ke atas, aku melihat sebuah payung berwarna merah melindungiku dari tetesan air hujan. Warna merah, warna yang paling kubenci di dunia ini. Warna yang sama dengan warna darah.

“Kenapa kau tidak berlindung? Hujan turun sangat lebat. Aku mencarimu dari tadi”. Aku menoleh ke asal suara. Hikaru berdiri disana dengan memegang gagang payung merah itu. Rupanya dia yang memayungiku. Tangannya yang tidak memegang gagang payung meraih mukaku. Perlahan dia mengusap mukaku yang basah oleh air hujan dengan lengan jaketnya. “Kau bisa sakit Chii. Ayo segera pulang. Tubuhmu perlu dikeringkan”. Hikaru menggenggam tanganku dengan erat. Dia kemudian menarikku untuk kembali pulang ke tempat yang disebut rumah.

Kami berdua pun sampai di rumah. Saat masuk, keheningan dan kegelapan langsung menyambut kami.Hikaru menyalakan lampu rumah dan membawaku masuk. Suara hujan yang menderu terdengar begitu keras di rumah yang sepi ini. Hikaru pergi meninggalkanku dikegelapan. Aku hanya terdiam ditempat dan tidak bergerak sedikitpun. Tidak lama kemudian, Hikaru kembali membawa sebuah handuk dan baju di tangannya. Perlahan,dia mengelap rambutku dengan handuk. Lalu, dia membuka kancing bajuku satu persatu dan melepas semua pakaianku. Dengan lembut, dia mengusap tubuhku yangbasah oleh air hujan. Dia mengusap semuanya, tangan, kaki, dada, bahkan punggungku tidak terlewatkan olehnya.

“Kenapa kau bersikap seperti ini?”. Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Hikaru. Mataku menerawang jauh ke luar jendela. Hikaru memelukku dengan erat, kulitku yang dingin karena terkena air hujan, menjadi lebih hangat di pelukan Hikaru. Bersamaan dengan itu juga, aku juga bisa merasakan kebencian yang sangat dalam pada orang ini. “Kau masih belum bisa melupakannya?”. Hikaru menatapku. Matanya seakan mencoba membaca pikiranku. Aku menutup mataku, menundukkan kepalaku, mencoba mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya yang seakan bisa membaca semuanya tentangku. Setiap kali aku melihatnya, kenangan yang buruk itu muncul lagi dihadapanku. Sebisa mungkin, aku ingin menjauh darinya, aku tidak ingin terus merasa tersiksa karena melihatnya.

“Chii....”, Hikaru memanggilku perlahan. Aku membuka mataku. Kulihat mukanya mulai mendekat ke arahku. Aku bisa merasakan desah nafasnya di mukaku. Hidungnya pun mulai menempel dengan hidungku. Sedikit lagi, bibir kami akan bersentuhan. Tepat sebelum itu, aku memalingkan wajahku. Kudorong tubuhnya dengan tanganku. Hikaru menatapku dengan sedih. Perlahan dia mulai menjauhkan wajahnya dari wajahku. Tangannya yang merangkulku pun juga dilepaskan olehnya. Selangkah demi selangkah dia mulai berjalan menjauhiku.

Hikaru kembali mendekatiku, dia membantuku memakai pakaianku. Aku hanya menurut saja dan tidak berkata apapun. Aku sama sekali tidak menatap ke arahnya. Setelah semua pakaian telah kupakai, aku segera berjalan menjauhinya. Kulangkahkan kakiku ke arah jendela, kulihat kembali hujan yang masih turun membasahi bumi. Aku berniat melangkah keluar lagi dalam hujan, agar perasaanku ini bisa terhapuskan juga oleh hujan.

Tiba-tiba kurasakan ada sepasang tangan yang memelukku dari belakang. “Chii, sampai kapan kau akan terus begini? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau ingin terus bersamaku? Kenapa sejak saat itu kau tidak mau berbicara denganku lagi?”. Aku bisa merasakan ada tetes air yang membasahi pundakku. Berbeda dengan tetes air hujan yang sedang turun deras di luar, tetesan air di pundakku terasa hangat dan lembut. “Kau dulu selalu tersenyum padaku, kita selalu tertawa bersama. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu. Aku terus melindungimu dengan segenap kekuatanku”. Aku melepaskan pegangan tangan Hikaru. Lalu kucoba pergi menjauhinya. Tapi, dia menarik tanganku dan mendekapku lagi dalam pelukannya.

“Aku mencintaimu Chii. Sangat mencintaimu. Tidak akan kubiarkan siapapun mendekatimu. Aku tidak ingin kau dibawa pergi oleh orang lain. Aku tidak tahan kalau kau pergi dari hadapanku. Aku tidak akan memberikanmu pada siapapun. Bahkan pada kakakmu sekalipun”. Hikaru mulai menangis lagi. Tapi, aku sama sekali tidak tersentuh dengan air matanya itu. “Malam itu, kakakmu berniat membawamu pergi bersamanya. Kau akan ikut pindah dengannya karena dia akan bekerja di tempat lain. Aku mencoba berbicara dengan kakakmu, tapi dia tidak mengijinkanmu ikut denganku. Sehingga tidak ada jalan lain, terpaksa aku menusuknya. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk mencintaimu Chii....”.

Aku terdiam mendengar perkataan Hikaru. Ingatanku mulai berputar ke waktu itu, tepat hari ini, satu tahun yang lalu. Waktu itu, aku sangat bahagia. Aku punya sahabat dan kakak yang baik. Hikaru adalah sahabatku, dia terus bersama denganku. Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil, sehingga kakakku yang mengurusku seorang diri. Aku sangat menyayangi kakakku, bahkan lebih dari itu, aku juga mengidolakannya. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Mereka berdua adalah orang yang sangat berarti bagiku.

Kami bertiga terlihat rukun dan akrab. Tapi, semua itu berubah saat kakakku bilang dia akan pindah ke luar kota. Awalnya aku bingung akan ikut dengan kakakku atau tidak, jika aku ikut dengan kakak, aku akan berpisah dengan Hikaru, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengannya. Aku menceritakan hal ini dengan Hikaru dengan berat hati. Wajahnya terlihat tidak suka saat aku menceritakan hal ini. Dia terus menentang kepergianku. Dia juga memaksaku agar tinggal dengannya saja dan membiarkan kakakku pergi sendirian. Kami pun lalu bertengkar. Selama beberapa hari kami tidak bertegur sapa.

Hingga pada hari keberangkatanku tiba. Waktu itu hujan turun, sama seperti saat ini. Aku berniat untuk berpamitan dengan Hikaru dan meminta maaf padanya sebelum aku pergi, tapi ternyata dia tidak bisa kutemui. Kuputuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya aku melihat Hikaru berdiri di depan pintu rumahku. Tangannya berlumuran oleh cairan berwarna merah. Di genggaman tangannya aku bisa melihat sebilah pisau yang berkilat terkena sinar halilintar yang menyambar. Mataku terbelalak saat melihat sosok yang berbaring dihadapannya. Di depannya, kakakku terbaring kaku. Darah terus mengalir dari perutnya. Aku berteriak sekeras mungkin hingga suaraku tenggelam dalam hujan. Air mataku yang keluar juga telah tercampur dengan air hujan yang membasahi mukaku. Aku melihat ke arah Hikaru dengan tatapan benci. Aku tidak percaya akan hal ini, orang yang sangat berartio bagiku, dibunuh oleh orang yang juga berarti bagiku.

“Kenapa?”,tanyaku pada Hikaru yang masih berdiri di sana. Hikaru melihatku, dia tersenyum, dan berjalan menghampiriku, “Akhirnya, tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi Chii. Hanya kau dan aku”.

Aku kembali kewaktu yang sekarang. Hikaru masih memelukku dengan erat. Aku masih bisa mencium bau darah kakakku dari tubuhnya. Dengan pelan, dia membisikkan sesuatu di telingaku, “Tidak ada yang bisa menghalangi kita lagi Chii. Hanya kau dan aku”.

-Tamat-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar