Kali ini di postingan saya yang kedua, saya akan mulai membagikan FF pertama buatan saya....
Semoga cerita ini bisa menarik kalian yang tanpa sengaja mampir ke blog ini ya...
Douzo ~~~
Cast : Hey! Say! JUMP
Main Cast : Yamada Ryosuke
Genre : Fantasy, Supernatural, Action
Warning : Ada beberapa member yang gender switch!
TEN KNIGHTS
Part 1
“Kring.......Ring.......Ring.......”.
Terdengar bunyi gaduh jam weker stroberi di atas meja. “Hng..... jam wekerku sudah berbunyi”, dengan enggan kuulurkan tanganku untuk mematikan jam weker yang berisik ini. Kuraba-raba meja yang berada tepat di sebelah tempat tidurku, lalu huplah, akhirnya kutemukan juga jam wekernya. Dengan malas, kurapikan tempat tidur, kulipat selimut, lalu dengan langkah gontai aku keluar kamar menuju kamar mandi.
“ohayou, Ryosuke”, ucap suara lembut yang sudah tidak terdengar asing lagi bagiku. Aku menoleh, kulihat ibuku berdiri disana melihatku dengan senyum yang lembut. “ohayou, okaasan”, jawabku. Entah kenapa, hatiku terasa tentram setiap kali melihat senyum di wajah ibu dan seketika itu juga rasa kantuk yang tadi melanda sekarang lenyap. Aku pun bergegas mandi, mengenakan seragam, dan menuju ruang makan untuk sarapan. Dimeja, sudah tersedia roti selai stroberi kesukaanku dan segelas susu hangat yang siap untuk kusantap, “Itadakimasu!”, aku pun segera melahap roti dengan lahap.
“Ryosuke....”
“Nani?”
“Bisakah kau pulang cepat hari ini? Kaa-san akan mengadakan pesta kecil untukmu. Hari ini, kaa-san akan membuatkan makanan kesukaanmu”.
“Hm? Emang ada apa kaa-san? Ada perayaan apa?”
“Loh? Kamu ini gimana sih? Hari ini kan hariulang tahunmu yang ke-17, makanya ibu ingin mengadakan pesta”.
Aku tersentak kaget, kulihat kalender yang tergantung tak jauh dari situ, kulihat tanggal hari ini, benar saja, sekarang tanggal 9 Mei, hari ini aku ulang tahun.
“Arigatou, kaa-san. I love you!!”, ucapku riang. Aku memeluk ibu dan memberi kecupan kecil di pipinya. “Yabai!!! Kalau aku tidak berangkat sekarang, nanti aku ketinggalan bis. Aku berangkat kaa-san”, seru Ryosuke sambil bergegas lari keluar. “Hati-hati, jangan sampai terjatuh ya......”, jawab kaa-san. Aku melambaikan tangan ke kaa-san dan segera berlari kecil agar tidak tertinggal bis.
Ibu Ryosuke melihat anaknya hingga anaknya tidak terlihat lagi di matanya. Sang ibu masuk ke rumah, menuju ruang keluarga,lalu menghampiri foto seorang pria yang tidak lain adalah suaminya, ayah Ryosuke.
“Yah, tidak terasa anak kita sudah berusia 17 tahun sekarang. Dia sudah dewasa. Sebentar lagi sudah waktunya dia bertemu dengan ‘mereka’. Aku tidak bisa menyembunyikannya terus menerus. Nanti malam, saat pesta, aku harus menceritakan semuanya padanya”, lirih sang ibu.
“Uagh.... tinggal 10 menit lagi nih. Ah, aku memotong jalan lewat pasar aja deh”, aku berbelok melewati gang sempit disebelah kiri. Begitu keluar dari gang, aku merasakan sensasi aneh. Tubuhku seakan melewati lapisan air yang tipis, padahal tidak ada apapun disana. Aku berhenti sejenak, kemudian melihat jam tanganku, “Waduh, tinggal 7 menit lagi”, aku pun mulai bergegas lari lagi. Setelah sekian lama berlari, aku mulai menyadari keanehan di sekelilingku. ‘Kenapa daerah ini sepi sekali? Padahal jam segini biasanya orang banyak berlalu lalang. Apakah pasar ini libur? Padahal setiap hari pasar ini selalu buka’. Perlahan kuhentikan langkahku, aku mengamati sekeliling. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan, bahkan serangga pun tidak tampak. Bulu kudukku mulai berdiri, ‘ada yang tidak beres’, pikirku.
Tiba-tiba dari arah kanan, muncul sesosok manusia. Tampaknya seperti pria paruh baya. Aku pun menghampiri pria tersebut untuk menanyakan apa yang terjadi di sekitar sini.
“Permisi pak...”, ucapku pelan. Bapak itutidak menoleh, malah terus berjalan seakan tidak mendengar.
“Permisi pak”, kuulangi lagi kali ini dengan suaranya yang agak keras. Tapi bapak itu tidak menoleh.
“Permisi pak!!”, dengan kesal ku pegang bahu bapak itu. Bapak itu akhirnya berhenti dan mulai menoleh ke arahku. Seketika aku terkejut dan “AAAAAA........!!!!!!!! SETAN!!!!!!!”, di kepala bapak tersebut, sama sekali tidak ada muka, semuanya rata. Refleks aku pun mulai berlari kembali menjauhi bapak tersebut.
Aku berlari dengan sekuat tenaga. Aku pun menoleh ke belakang, berharap yang kulihat tadi hanyalah ilusi. Aku lebih kaget lagi ketika tahu makhluk yang kukira bapak-bapak tadi, mulai mengejarku. Makhluk itu tidak hanya berlari dengan kedua kakinya, tapi tangannya juga, dan sekarang dia sudah hampir menyusulku. Tiba-tiba di depanku juga muncul makhluk yang sama dengan yang mengejarku. Tidak hanya satu, satu persatu makhluk itu mulai muncul di hadapanku. Dari belakang, aku merasakan ada yang menarik kakiku, aku pun jatuh. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari makhluk tersebut. Tangan kanan dan kiriku dicengkeram oleh makhluk lainnya. Mereka menahan tubuhku dengan keras, sehingga aku tidak bisa berkutik. Entah kenapa, makhluk-makhluk tersebut mulai mengerumuniku.
Aku mengamati makhluk itu dengan seksama, tubuh mereka pucat dan lentur, aku bisa menduga bahwa mereka tidak punya tulang. Dan di wajah mereka yang seharusnya rata, aku melihat goresan tipis. Awalnya kukira itu hanya lipatan kulit biasa, tapi ternyata perlahan goresan itu membuka danaku bisa melihat gigi-gigi yang tajam dan lidah mereka yang menjulur. Satu persatu aku merasakan ada tetes air yang jatuh membasahi tubuhku, tapi aku akhirnya menyadari itu bukan air, melainkan air liur makhluk-makhluk tersebut.‘aku akan dimakan, aku akan mati disini’, pikirku pasrah. Perlahan mulut makhluk mengerikan itu mendekati wajahku, siap untuk memangsaku. Aku menutup mataku. Tiba-tiba terbayang sosok ibu di mataku.
“O....ka.....san.....”, ucapku pelan tak berdaya.
Tsuzuku.... :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar