Genre : Romance
Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Rate : PG 13+
Author? Of course me~
(Arioka Daiki POV)
Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Entah sejak kapan, aku tidak tahu persisnya. Yang jelas, aku kini sadar kalau aku menyukainya.
Aku selalu berdebar saat dia menatapku, berbicara denganku, duduk di sebelahku. Aku selalu berdebar setiap saat dia melakukan sesuatu padaku.
“Kau harus memberitahunya kalau kau suka padanya!”
Itulah nasihat temanku saat aku menceritakan soal diriku padanya. Dia menyarankanku untuk menyatakan cinta. Awalnya aku malu. Tapi berkat dorongan keras darinya aku akhirnya akan menyatakan cintaku.
Tapi… Bagaimana caranya?
—***—
Aku menyukaimu sejak lama
Aku membacanya dan menggeleng. Kucoret kalimat itu dan menulis ulang.
Aku menyukaimu, Takaki Yuya. Kau adalah pangeran berkuda putih di kehidupanku.
Aku membacanya lagi. “Norak!” Aku merobek kertasnya dan menulis ulang. “Arghh!!! Aku tidak tahu harus menulis apa!!!”
Aku menatap lesu ke arah kertas surat di atas meja belajarku. Kertas surat baru berwarna oranye yang sengaja kubeli untuk menulis surat cinta. Aku meremas isi surat yang gagal dan membuangnya ke tempat sampah di dekat situ.
“Memangnya apa yang kau tulis?”
Aku merasakan jantungku berhenti mendadak saat menyadari kalau saat ini aku tidak sendirian. Aku menoleh dan mendapati Takaki berdiri disana. Ya. Dialah Takaki Yuya, orang yang kusukai.
‘Kenapa dia disini? Kenapa orangnya ada disini???’ batinku panik.
“Arioka?” panggilnya.
“A-a-aku mau keluar dulu!!!”
Aku segera berlari meninggalkan Takaki sendirian di kamar. Hatiku berdegup sangat kencang. Aku belum siap!!!
—***—
Berkali-kali aku harus mengatur nafasku karena jantungku berdegup tidak karuan. Hari ini, aku sudah menyerahkan surat itu. Surat yang membutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menulisnya. Setelah aku yakin, aku memasukkan surat itu ke dalam tasnya tanpa sepengetahuannya. Aku berdebar membayangkan Takaki menemukan surat itu dan membacanya.
“Arioka!!!”
Aku terkesiap. Seseorang memanggilku. Bukan orang biasa, tapi Takaki. Aku menarik nafas panjang sebelum menjawab panggilannya.
“Y-ya?”
“Kenapa jalanmu cepat sekali sih?” ucap Takaki sambil setengah cemberut. Membuat raut mukanya tampak lucu.
“Kau saja yang lambat” jawabku ketus.
‘Argh!!! Harusnya aku jangan membalasnya seperti itu!!! Bodoh Daiki! Bodoh!’
“Iya iya… Aku tahu kalau bangsa penguin itu jalannya cepat” gumamnya.
“Hei! Aku bukan penguin!” aku mengayunkan tanganku tapi dia segera mengelak.
“Penguin~ penguin~” ejeknya lagi.
Aku cemberut yang berarti Takaki menang. Takaki tertawa puas melihat reaksiku.
“Oh ya, hari ini aku mendapat sebuah surat cinta”
Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak saat dia mengatakan itu. Akhirnya… Saatnya dia membalasnya. Tapi… Aku belum siap mendengarnya!
“Si pemilik surat ini tampaknya selalu mengamatiku dan menyukaiku dengan sungguh-sungguh. Kupikir aku harus segera memberi jawaban”
Dadaku berdebar keras. ‘Ini saatnya’
“Tapi masalahnya… Aku tidak tahu siapa yang mengirim suratnya”
Aku mengedipkan mataku, “Apa???”
Takaki melihatku kaget, rupanya tanpa sadar aku mengeluarkan suara yang keras.
“Kenapa sih Arioka?” gerutu Takaki.
“Kau bilang tidak ada nama pengirimnya???” seruku lagi.
“Iya. Tuh lihat”
Takaki membuka tasnya dan memberikan sepucuk surat yang kuletakkan tadi pagi di tasnya. Surat yang sama. Aku mengecek amplopnya. Rupanya Takaki benar. Aku tidak menulis namaku disana.
‘Daiki baka!!!!’ jeritku dalam hati.
“Kenapa Arioka?” tanya Takaki.
“Tidak ada apa-apa”
Aku mengembalikan surat itu pada Takaki. Lalu kembali berjalan dengan lesu. Bodohnya aku ini… Usahaku jadi sia-sia karena aku lupa menulis nama.
“Aku akan menulisnya lagi nanti” gumamku pelan.
Aku terus berjalan tanpa menyadari senyum licik dari orang yang kusukai.
(Takaki Yuya POV)
Daiki… Daiki…
Ah, aku sangat berharap aku bisa memanggilnya ‘Daiki’ suatu hari nanti. Kalau sekarang aku tiba-tiba memanggilnya Daiki akan jadi aneh.
Arioka Daiki.
Orang yang kusukai.
Kalian kaget? Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu aku terus mendekatinya dan usahaku membuahkan hasil. Dia jadi menyukaiku.
Kalian pikir aku tidak sadar? Tentu saja aku sangat menyadarinya. Perubahannya sangat drastis saat dia mulai menyukaiku. Mukanya sering berubah menjadi merah saat kami cuma berdua. Dia juga tidak berani menatap lurus mataku saat kami berbicara. Dia juga sering salah tingkah saat aku tiba-tiba menyentuhnya. Betul-betul gampang dibaca. Reaksinya sangat lucu.
Sesungguhnya, aku ingin segera menyatakan perasaanku. Toh sudah jelas kami sama-sama suka. Aku pergi ke rumahnya dan berniat melamarnya. Ah bukan, menyatakan cinta.
Aku masuk ke dalam kamarnya diam-diam, berusaha mengagetkannya. Usahaku berhasil. Dia kaget setengah mati. Dan seperti biasanya, dia langsung salah tingkah dan kabur. Aku cuma tersenyum geli melihatnya. Kemudian aku melihat ke arah gumpalan kertas yang baru saja dilemparnya ke tong sampah. Aku mengambilnya dan membuka kembali gumpalan itu. Aku terkejut membaca isinya. Surat cinta untukku!
Saat itulah kuputuskan untuk mengurungkan niatku menyatakan perasaan. Akan kutunggu dia menyatakan perasaan terlebih dahulu.
Tapi aku baru dapat surat cinta itu 3 hari kemudian. Saat aku menemukan sepucuk surat di tasku, aku langsung tahu itu darinya. Bau khas parfum Arioka melekat di amplopnya. Aku semakin yakin itu darinya saat melihat tulisan tangan surat itu. Itu benar-benar tulisan tangan Arioka. Aku tersenyum bahagia saat membaca isi surat itu. Meskipun tidak terlalu romantis, tapi setidaknya aku bisa merasakan cintanya.
Aku ingin segera membalasnya, tapi tidak jadi. Aku ingin menjahilinya lagi. Dan usahaku sukses.
‘Ayo nyatakan cintamu sekali lagi Daiki. Aku akan menunggumu’
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar