Cast : Arioka Daiki, Takaki Yuya
Genre : Fluff
One shot
~
Ketika matamu mulai terfokus pada satu orang, disaat itulah cinta dimulai.
~~~
Sudah seminggu. Ya, seminggu sejak aku melihatnya berdiri disana. Bermandikan cahaya matahari ditengah ombak yang menggunung. Sosoknya yang berdiri tegap di sebuah papan luncur membuatku terpesona. Dengan lihai dia mengendalikan tubuhnya sehingga dia bisa melewati ombak-ombak yang jauh lebih tinggi darinya. Saat aku pertama kali melihatnya, aku langsung terpesona dan mataku langsung tertuju padanya. Sosoknya tidak bisa hilang dari benakku, membuatku ingin melihatnya setiap hari.
Setiap pagi, aku selalu berusaha melewati pantai ini, mencarinya, dan mengamatinya sepanjang hari kalau aku sudah menemukannya. Tanpa kusadari ini sudah menjadi rutinitasku sejak seminggu lalu. Aku tersenyum saat dia dengan lihai berselancar, panik saat dia jatuh dari papannya, dan sedih ketika sudah waktunya aku pergi. Dalam sehari paling tidak aku merasakan hal itu.
Setelah aku tidak melihatnya lagi, timbul keinginan dalam diriku, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Namanya, suaranya, tempat tinggalnya, dan lain-lain. Tapi semua itu kulupakan saat aku melihat sosoknya. Seakan kehadirannya membuatku lupa akan segalanya.
Kenapa aku seperti ini?
~~~
Aku mengutuk diriku sendiri. Ini sudah hari ketiga aku terjebak di kesibukanku. Saking sibuknya aku sampai tidak bisa melakukan rutinitasku pergi ke pantai. Aku selalu menggerutu. Aku ingin melihatnya. Melihat sosoknya saat sedang berselancar.
Kekesalanku semakin meluap saat hujan mulai turun. Badanku mulau basah karena aku lupa membawa payung. Kucari tempat berteduh yang nyaman selagi menunggu hujan reda. Akhirnya kuputuskan untuk berlindung di depan toko dekat halte bus, supaya ketika bus datang aku bisa segera menaikinya.
Rupanya aku tidak sendiri disana. Seseorang sudah menempati tempat itu terlebih dahulu. Orang yang lebih tinggi dariku. Aku terkesiap saat mencium sesuatu yang khas saat berada di dekatnya. Bau yang kukenal setiap pagi. Aku melirik ke barang bawaannya, sebuah papan surfing bersender di punggungnya.
Jangan-jangan....
Aku tidak ingin berharap lebih. Tapi... Boleh kan kalau saat ini aku berharap sedikit?
Perlahan-lahan aku mencoba melihat wajahnya. Jantungku berdebar kencang saat aku melihatnya. Itu dia! Dia yang selalu kulihat setiap pagi. Dia yang selalu berdiri dengan indahnya di atas papan seluncur. Itu dia!
Aku memekik kegirangan. Tuhan memang baik dan murah hati. Aku bisa melihatnya lagi meskipun aku tidak pergi ke pantai. Dengan cepat aku meminta maaf pada Tuhan karena sudah bertindak bodoh dengan menggerutu setiap hari dan berterimakasih atas kemurahan hati-Nya.
Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyumanku. Dia akan berpikir aneh kalau dia melihatku tersenyum sendiri. Aku tidak ingin membuat kesan jelek di matanya.
"Kau tidak ingin naik?"
Aku terkejut ketika dia mengajakku bicara. Ini pertama kalinya aku mendengar suaranya! Sesuai dengan dugaanku. Suaranya lembut dan tegas. Untuk beberapa detik aku merasa kaku.
"Hei, kau ingin naik bis juga kan?"
Dia berbicara lagi, karena aku tidak meresponnya. Kali ini aku menjawabnya.
"I-iya" jawabku pelan tapi masih bisa didengar olehnya.
"Mau lari sama-sama? Bisnya sudah mau datang"
Aku memiringkan sedikit kepalaku karena aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Sepertinya otakku berjalan lambat saat dia mengajakku bicara.
Semenit setelah itu bis pun tiba. Tiba-tiba sebuah tangan memegang tanganku dan menarikku. Masih belum mengerti apa-apa, aku cuma mengikutinya berlari menuju ke arah bis.
Aku mengambil nafas sejenak saat kami sudah berada di dalam bis. Saat itulah aku baru sadar kalau dia terus menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan sedikit panas di kedua pipiku.
"A-anu..." aku berusaha mengatakan sesuatu. Tapi karena gugup aku tidak bisa melanjutkannya.
"Ah maaf..." dia langsung melepas tangannya. Aku sedikit kecewa saat melihat tangan kami sudah tidak bergandengan lagi.
"Takaki Yuya"
"Eh?" aku terkejut
"Namaku Takaki Yuya"
Aku terkesiap. Namanya! Aku tahu namanya sekarang!!
"Namamu siapa?" tanyanya.
"A-arioka Daiki..." jawabku pelan. Berusaha sebisa mungkin tidak kelihatan gugup tapi mungkin dia bisa mendengar kegagapanku sebelumnya.
"Senang bisa bertemu denganmu Arioka"
"Aku juga"
Saat itu, kebahagiaanku meningkat 100%. Tidak hanya mendengar bertemu dengannya, aku juga bisa mendengar suaranya dan tahu namanya. Dan yang terakhir ini membuatku hampir kehilangan kesadaran, aku bisa melihat senyumnya.
Oh Tuhan... Rasanya aku bisa mati karena bahagia.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar