Jumat, 21 Oktober 2016

Kalung Cinta


Cast : Arioka Daiki x Takaki Yuya
Warning : gender switch. Daiki jd cewek disini.
Genre : fluff romance

Daiki POV

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Aku terhenti sesaat saat seseorang yang sedang duduk di pinggir jalan ini menanyaiku. Aku mengamatinya sejenak. Orang itu tampak cukup mencurigakan, mengenakan tudung hitam yang cukup panjang di hari yang cukup terik ini bisa dikatakan tindakan yang gila.

“Jikalau kau memiliki satu kemampuan sihir, apa yang akan kau lakukan?”

Orang itu mengulangi pertanyaannya. Tampaknya dia memang sedang bertanya padaku. Aku melihat keadaan di sekitarku, cukup sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang. Aku pun mendekat ke arah orang bertudung hitam itu.

“Kau sedang memiliki suatu masalah kan? Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan. Ah, tampaknya ada seseorang yang sedang kau pikirkan kan?”, tanya orang itu sekali lagi.

Aku sedikit tersentak, bagaimana orang ini bisa tahu?

“Aku ini penyihir. Aku bisa membaca pikiran orang yang ada di hadapanku”

“Penyihir?!”, aku melihat orang bertudung hitam yang ada di hadapanku ini dengan tidak percaya. Mana mungkin ada penyihir di jaman yang cukup maju ini?

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa ucapkan saja apa keinginanmu dan aku akan mengabulkannya”

Aku sedikit terkejut. Sepertinya orang ini tahu apa yang kupikirkan.

“Kau ingin agar Takaki Yuya memiliki perasaan padamu kan?”

Aku terkejut lagi. Bagaimana orang ini bisa tahu? Apakah tadi aku mengucapkan padanya nama orang yang kusukai? Apakah terlihat jelas di mukaku kalau aku sangat menyukainya? Aku memegangi pipiku. Rasanya mukaku saat ini memerah karena aku bisa merasa sedikit panas saat memeganginya.

“Kau sangat mudah dibaca anak muda”, orang yang menyebut dirinya penyihir itu tersenyum. “Sangat jarang menemui orang yang begitu polos sepertimu”

Penyihir itu tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. Dia memberikan sesuatu padaku. Sebuah kalung? Sepertinya itu.

“Ambil ini”

Aku ragu menerima kalung itu. Bukankah kita diajari untuk tidak menerima barang dari orang yang tidak dikenal?

“Kalau kau ingin pemuda yang bernama Takaki itu menyukaimu, maka lebih baik kau menerima kalung ini”

Penyihir itu bersikeras memberikan kalung itu padaku. Aku mengulurkan tanganku dengan ragu. Tidak lama penyihir itu sudah meletakkan kalung itu di tanganku.

“Dengan ini maka dia akan tertarik padamu”

Aku menatap ke arah kalung itu sejenak. Kalung itu sederhana, tapi terlihat indah. Liontin hati berwarna pink di kalung itu menambah kesan manis disana. Sekejap aku tergiur dengan keindahan kalung itu. Aku ingin mengatakan sesuatu pada penyihir itu, tapi penyihir itu telah menghilang. Aku mencarinya, tapi tetap tidak menemukannya. Akhirnya kuputuskan untuk menerima kalung itu dan membawanya pulang. Toh, dia sendiri yang memberikannya padaku.

Sepanjang jalan aku menimang-nimang kalung itu sambil sesekali mengagumi keindahannya. Karena aku terlalu sibuk memandanginya, aku sampai tidak melihat jalan. Seseorang menabrakku dan kalung itu terjatuh ke jalan.

“Ah, maaf” ucap orang itu.

“Ah!!! Kalungku...” aku tidak mempedulikan orang itu dan malah sibuk mencari kalungku. Ketika aku menemukannya, sebuah tangan mengambilnya dan memberikannya padaku.

“Maaf, aku menabrakmu” orang itu memberikan kalungnya padaku. Pada saat itulah aku melihat wajahnya. “Ini milikmu?”

Aku terperangah saat mengetahui sosok orang yang menabrakku. Dia Takaki Yuya! orang yang kusukai. Untuk sesaat aku seperti terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ano...” Takaki melambaikan tangannya di depanku, seperti mengecek apakah aku masih sadar atau tidak.

“Ah, eh, iya! Terima kasih!” aku segera bangkit berdiri dan mengambil kalungku. Aku tersipu malu saat dia memergokiku sedang bengong. Aku segera berbalik dan ingin segera pergi untuk menyembunyikan rasa maluku.

“Ah, tunggu!” Takaki menahan tanganku. Sungguh, aku merasa seperti terkena sengatan listrik saat tangannya menyentuhku. “Bajumu....”

Aku melihat ke arah bajuku. Ada sedikit noda eskrim disana. Rupanya saat bertubrukan tadi, eskrim Takaki mengenai bajuku juga.

“Ah... ini? tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya”

“Tidak” ucapnya tegas. “Aku akan menggantinya sebagai permintaan maaf karena sudah menabrakmu”

Dan berikutnya Takaki menarikku dan membawaku pergi ke suatu tempat.

---***---

Aku tidak tahu kenapa dan bagaimana. Yang jelas, saat ini aku sedang berada di sebuah toko pakaian dan mencoba berbagai macam baju. Semua baju ini Takaki yang memilihkan. Aku memandangi diriku di kaca, baju pilihan Takaki membuatku terlihat imut. Selera Takaki sangat bagus.

“Itu juga terlihat cocok untukmu”

Aku tersipu mendengar Takaki memujiku. Ini sudah kesekian kalinya dia memujiku.

“Kau mau yang mana?” tanya Takaki.

“A-aku tidak tahu. Semuanya terlihat bagus. Aku tidak yakin aku bisa memakai baju yang bagus seperti ini”

“Kau cocok memakai apapun Daiki”

Aku tersentak saat dia menyebut namaku. “Kau tahu namaku?”

Entah itu hanya perasaanku atau tidak, yang jelas aku melihat Takaki juga sedikit terkejut. “Kau tadi sudah memperkenalkan dirimu padaku”

“Eh? Benarkah?” aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya aku belum menyebutkan namaku, tapi mungkin saja aku menyebutkan namaku tanpa sadar.

“Baiklah. Baju yang itu saja” Takaki menunjuk pakaian yang sedang kupakai. Sebuah dress oranye mini dengan sedikit renda di bawahnya. Sebelum aku mengatakan apapun, dia sudah menuju ke kasir dan membayarnya.

“Terima kasih banyak” ucapku setelah kami berdua meninggalkan toko. Aku tidak tahu harus berkata apa. Hari ini terlalu membahagiakan bagiku.

“Tidak masalah” Takaki mengamatiku lagi. Aku merasa canggung dilihat seperti itu olehnya. “Mana kalungmu?”

“Eh? Ada di sakuku” aku mengambil kalung itu dan menunjukkan itu padanya. “Kenapa?”

Takaki mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku. “Sayang kalau kau tidak memakainya” Dia mengamatiku lagi. “Ya, baju ini dan kalung itu sangat cocok untukmu. Aku tidak salah”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

Takaki Cuma tersenyum. Dia kemudian menggandeng tanganku. “Kau nganggur kan setelah ini?”

Aku mengangguk. Tidak berani memandang wajahnya karena malu dia menggandeng tanganku.

“Bagus. Ayo kita pergi jalan-jalan hari ini. Anggap saja kita sedang berkencan”

---***---

Seharian ini sungguh menyenangkan. Tidak pernah kubayangkan aku bisa berjalan-jalan seperti ini bersama dengan Takaki. Dia mengajakku ke tempat-tempat yang kusukai. Seperti ke game center dan taman hiburan. Dia juga mengajakku ke tempat-tempat yang romantis seperti kafe tempat kami makan malam. Sungguh, aku tidak pernah bosan dan sangat menikmati hari ini.

Tapi, mendadak aku merasa sedih. Jangan-jangan Takaki melakukan itu karena pengaruh kalung ini? Karena kalung inilah Takaki bersamaku sekarang. Coba aku tidak memiliki kalung ini, pasti Takaki tidak akan ada disini sekarang.

“Daiki?”

Aku menatap ke arah Takaki yang tampaknya sedang mengamatiku dari tadi.

“Kau tidak suka disini?”

Saat ini kami berada di sebuah taman. Di hadapan kami ada sebuah air mancur yang berwarna-warni karena sorotan lampu. Sangat indah.

Aku menggeleng dan tersenyum. “Aku suka, tempat ini sangat indah”

“Lalu, kenapa kau bermuka muram seperti itu?” tanyanya lagi.

“Aku...” aku tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus kujelaskan padanya?

Takaki memelukku erat. Aku sangat kaget dengan tindakannya sehingga tidak tahu harus membalas bagaimana.

“Aku menyukaimu”

Aku kaget saat mendengar bisikannya. Itulah kata-kata yang sangat ingin kudengar. Itulah kata-kata yang sangat kuharapkan selama ini darinya. Tapi... mengapa aku harus mendengarnya setelah aku mendapat kalung ini? dia mengatakan itu karena aku memakai kalung ini. Kalau aku tidak memilikinya, Takaki tidak akan mengenalku dan tidak akan sedekat ini padaku.

“Daiki?”

Takaki terkejut saat melihatku menangis. Ya, aku menangis karena merasa ini semua tidak nyata. Ini semua hanyalah ilusi karena kalung ajaib ini.

“Maaf. Takaki... kau mengatakan itu karena pengaruh kalung ini. Kalau kalung ini tidak ada, kau tidak akan menyukaiku”

Aku melepas kalung itu dan menyerahkannya pada Takaki. Aku tidak bisa memakainya lebih lama. Tidak baik memainkan perasaan seseorang dengan ilmu sihir.

Setelah memberikan kalung itu, aku segera berlari meninggalkannya. Sudah cukup aku bermimpi indah hari ini. Aku berterimakasih pada kalung itu. setidaknya, kalung itu sudah memberiku mimpi indah dan mengabulkan keinginanku. Meskipun pada akhirnya aku harus terluka.

“Ah... Sungguh mimpi yang indah”

---***---

Aku melangkah gontai ke sekolah. Hari ini aku tidak bersemangat seperti biasanya. Aku tidak tahu harus bagaimana, biasanya pagi ini aku akan segera menuju gym, dan melihat Takaki bermain basket. Tapi hari ini, aku tidak semangat melakukannya.

“Eh? Takaki mana? Dia tidak masuk?”

Aku terhenti dan terkejut ketika tanpa sadar kakiku melangkah menuju ke gym. Rupanya badanku bergerak sendiri, seolah sudah menjadi rutinitas.

Aku ikut penasaran dengan omongan para gadis yang juga saat ini sedang berkumpul di gym. Ada apa dengan Takaki? Apa dia tidak masuk?

Aku melongok ke dalam dan melihat tim basket yang sedang latihan. Benar saja, Takaki tidak ada. Aku hapal bentuk tubuhnya dan akan segera mengenalinya kalau melihatnya dari jauh, tapi Takaki tidak ada dimanapun.

“Eh? Kemana dia? Dia jarang membolos”

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku dari belakang. Aku terkejut ketika menyadari siapa yang menarikku. Para gadis juga menjerit histeris melihat Takaki tiba-tiba muncul dan membawaku pergi.

“Akhirnya.....” ucapnya setelah kami sampai di tempat yang agak sepi.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Kenapa Takaki mencariku? Apa dia sudah sadar pengaruh kalung ajaib itu dan kini ingin memarahiku?

“Kau ini... kalau ada orang yang menyatakan perasaannya, jangan langsung lari begitu saja donk! Kukira kau gadis yang pintar, tapi ternyata bodoh”

Aku sedikit kesal saat dia mengolokku bodoh. Setidaknya aku lebih pintar dari Takaki. Aku tahu kalau nilaiku jauh lebih baik darinya.

“Jawabanmu?”

“Hah?” tanyaku tidak mengerti.

“Aku bilang aku suka padamu kan? Kenapa kau tidak menjawabnya?”

Aku tertegun. “Eh? Kau... benar-benar suka padaku?”

Takaki tersenyum. “Tentu saja baka...” dia mencubit kedua pipiku. “Ja-wa-ban-mu?”

“Eh? Jadi itu semua bukan mimpi? Eh?” aku masih tidak mengerti. Takaki benar-benar menyukaiku? Bukan karena pengaruh kalung itu?

“Ah... sudahlah. Toh aku sudah tahu jawabannya” Takaki mengambil sesuatu dari sakunya. Kalung itu! Kalung ajaib yang kemarin kuberikan padanya. Dia memakaikan kalung itu lagi dileherku lalu memelukku.

“Sekarang kau milikku”

---***---

Author POV

“Ah... aku sempat cemas kemarin. Untunglah mereka benar-benar jadian”

“Aktingmu sangat hebat Inoo, kau benar-benar terlihat menyeramkan dengan kostum penyihir itu”

“Yah, aku tahu kalau Daiki menyukai Takaki. Dan waktu kau bilang Takaki juga menyukainya, kau langsung merencanakan itu. Idemulah yang membuat semua ini berjalan lancar Yabu”

“Kita berdua memang pasangan jenius”

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar