Cast : Yamada Ryosuke & Chinen Yuri
Genre : Fluff
Hari ini seperti biasa, Chinen melangkahkan kakinya menuju tempat kerjanya. Dia bekerja di sebuah toko hewan. Dengan nilainya yang bagus, seharusnya Chinen bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dia bahkan pernah mendapatkan tawaran pekerjaan di perusahaan ternama. Tapi itu semua ditolaknya. Chinen ingin bekerja di bidang yang dia sukai, yaitu bekerja dikelilingi hewan, teman kesayangannya.
“Ah… pemuda itu lagi”
Chinen melihat sekilas pemuda bersepeda yang baru saja lewat disampingnya. Pemuda itu bernama Yamada Ryosuke, seorang salesman di perusahaan mainan. Chinen mengenalnya karena pemuda itu sering sekali mengunjungi tokonya untuk mengadopsi hewan peliharaan baru atau membeli makanan hewan. Chinen tahu kalau Yamada memiliki berbagai macam hewan peliharaan dan Chinen senang berkenalan dengan pemuda itu. Chinen senang memiliki teman yang menyukai hewan seperti dirinya.
Chinen tersenyum dan segera mempercepat langkahnya ketika dia melihat Yamada berhenti di depan lampu merah. DIa ingin menyapanya, tapi beberapa saat kemudian niatnya diurungkan. Yamada tampak asyik bercakap dengan seorang wanita. Wajahnya pun terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan wanita tersebut.
“Mungkin lain kali” lirih Chinen sambil melangkah pergi. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya merasa sedikit sedih. Perasaan murung melandanya saat itu juga. Kenapa?
---***---
“Kau akan bertambah tua”
Chinen tersadar ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ohno, majikannya sedang berdiri di belakangnya dengan muka datar.
“Kau kenapa? Sejak masuk kerja tadi pagi kau terus duduk disana, memangku dagu, dan menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali kau menghela nafas. Tidak terhitung. Kau tahu? Umur seseorang berkurang 1 detik setiap dia menghela nafas” Ohno menatap tajam ke arah Chinen “Apa yang terjadi?”
Chinen balas menatap Ohno. Dia sangat mengagumi majikannya ini. Alasan kedua dia bekerja disana adalah karena Ohno-san. Chinen sangat mengaguminya sehingga dia memutuskan bekerja di toko milik Ohno. Dia bahkan menganggap Ohno sebagai kakak, ayah, paman, gurunya.
“Sebenarnya….” ucapan Chinen terpotong ketika ada seorang pelanggan memasuki toko. Tenggorokan Chinen terasa tercekat ketika dia tahu siapa yang memasuki toko. Sosok yang selalu dipikirkannya seharian ini. “Yamada…” gumam Chinen pelan.
“Ah… Selamat siang Chinen” sapa Yamada dengan senyuman.
“Siang..” jawab Chinen sekenanya. Ohno juga ikut menyapa Yamada. Selama beberapa detik mereka mengobrol, Ohno segera pergi meninggalkan Yamada dan Chinen berdua.
“Kenapa kau kemari?” nada suara Chinen terdengar agak ketus, tapi Yamada tampaknya tidak menyadarinya.
“Hmm…” Yamada melihat ke sekeliling toko. Matanya berhenti pada seekor marmut kecil lucu. DIa kemudian asyik mengelus binatang kecil itu. “Tadi pagi aku melihatmu saat berangkat kerja”
Chinen terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada menyadari kalau dia ada disana. Chinen kira hanya dia saja yang menyadari sosok Yamada.
“Lalu?” tanya Chinen.
“Aku hanya melihat punggungmu saja, tapi aku merasa kalau kau…” Yamada berhenti dan tidak melanjutkan perkataannya, seakan memikirkan sesuatu.
“Apa?” tanya Chinen penasaran.
Kali ini Yamada memandang ke arah Chinen. “Aku merasa kalau kau sedang murung. Aku memikirkan hal itu seharian ini. Aku tidak tenang, jadi aku memutuskan kemari. Apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiranmu?”
Chinen sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Yamada akan mengkhawatirkan dirinya. Dalam hati dia sedikit senang, tapi dia menyembunyikan perasaannya itu.
“Chinen? Kenapa kau diam saja?” Yamada mendekat. “Benar ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu ya?”
“Kenapa?” Chinen kini mulai membalas Yamada. “Kenapa kau terlihat mengkhawatirkan diriku?”
Kali ini giliran Yamada yang terdiam. Dia menundukkan kepalanya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
“Yamada?” tanya Chinen tidak sabar.
Yamada menggumamkan sesuatu, tapi Chinen tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Yamada berbicara dengan cepat dan pelan.
“Hah?” respon Chinen saat Yamada selesai bergumam. Dia sama sekali tidak mendengar apapun.
Yamada menggaruk kepalanya. Dia terlihat kebingungan. Tiba-tiba dia menyambar sebuah pena di atas meja kasir, mengambil note dari tasnya, lalu menuliskan sesuatu. Chinen Cuma diam saja dan menunggu apa yang akan dilakukan Yamada selanjutnya.
“Ini” Yamada merobek kertas dari notenya, melipatnya jadi dua dan memberikannya pada Chinen. “Jangan dibuka sekarang. Tunggu sampai aku keluar dari sini”
Yamada mundur beberapa langkah menuju ke arah pintu. Sebelum melangkah keluar, dia melihat ke arah Chinen. “Baca itu saat aku sudah keluar”
Chinen memegang kertas itu dan menuruti permintaan Yamada. Setelah Yamada keluar dan menghilang dari balik pintu, Chinen mulai membuka kertas itu. Dibacanya kertas itu kata demi kata. Dia sangat terkejut ketika selesai membacanya. Chinen melihat lagi ke arah pintu, dimana Yamada menghilang tadi.
“Ohno-san! maaf! Aku ijin keluar sebentar!!” Chinen langsung berlari keluar tanpa mendengarkan jawaban dari Ohno terlebih dahulu. Dalam pikirannya, dia ingin segera menyusul Yamada sebelum Yamada melangkah lebih jauh.
“Eh? Chinen-kun.. Kau mau kemana?”
Chinen sudah menghilang dari balik pintu, meninggalkan Ohno disana sendirian dengan penuh tanda tanya. Ohno melihat ke arah lantai, ada sebuah kertas yang tergeletak disana, tampaknya itu kertas yang tadi dibaca oleh Chinen. Kertas dari Yamada. Ohno mulai membaca isi kertas itu.
KARENA AKU MENYUKAIMU
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar