Kamis, 20 Oktober 2016

PRECIOUS


Cast : Yabu x Hikaru (Inoo jd figuran)
Genre : angst
Warning : death character!

~

Sesak.

Nafasku pun terputus-putus. Aku berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Tapi dadaku masih terasa sesak. Kumiringkan kepalaku agar bisa mengurangi sesak. Tapi...

Tubuhku terasa kaku, tidak mau kugerakkan. Pandanganku pun buram. Aku hanya bisa melihat secara samar-samar.

Dari pandanganku yang samar-samar, aku sedikit bisa melihat cairan merah yang mengalir entah darimana. Cairan merah itu terasa hangat. Tubuhku pun terasa seperti berendam di lautan air hangat yang berwarna merah.

Dingin.

Semakin lama cairan merah itu terasa lebih hangat dari sebelumnya. Tubuhku semakin terasa dingin. Aku bisa merasakannya. Tidak hanya itu, kulitku semakin pucat ketika aku melihatnya dari pandanganku yang buram.

Kini aku sadar.

Aku telah ditusuk. Ada sebuah luka besar di tubuhku. Dari sanalah cairan merah ini berasal. Cairan ini berhasil keluar dari tubuhku melalui lubang besar itu.

Hangat.

Aku merasa ada cairan hangat yang menetes dan membasahi pipiku. Apa itu? Aku mendongak. Dengan pandanganku yang buram, aku bisa melihat ada seseorang yang sedang duduk di dekatku. Cairan yang hangat ini berasal darinya.

"Hiks... Hiks..."

Aku mendengar suara isakan. Kenapa? Siapa? Apakah orang yang ada di dekatku itu yang menangis?

Ah... Cairan hangat itu adalah air mata. Kenapa dia menangis? Apa dia menangisi keadaanku ini?

"Yabu..."

Aku terdiam. Suara itu sangat kukenal. Akhirnya aku tahu siapa sosok yang ada di dekatku ini. Meskipun aku tidak melihatnya langsung, tapi mendengar suaranya saja aku langsung tahu itu siapa. Tentu saja, dia selalu ada di sampingku selama ini, bagaimana mungkin aku tidak tahu?

Hikaru. Aku berusaha memanggil namanya, tapi sepertinya mulutku terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.

“Maafkan aku Yabu, karenaku... kau...”
Hikaru terus mengeluarkan air matanya. Ingin rasanya aku mengusap air matanya itu dan mengatakan semua itu bukan salahnya, tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Bahkan mengeluarkan suara dari mulutku saja aku tidak bisa. Aku merasa ada sesuatu yang mencekat tenggorokanku.

“Seandainya... seandainya saja aku tidak melakukan hal yang bodoh seperti itu. Kau... kau...”

Tidak Hikaru. Bukan karena itu. Kau tidak salah apapun. Itu semua karena aku yang tidak mampu memcegahmu. Karena aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Akulah yang gagal.

Aku ingat dengan jelas mengapa semua ini terjadi. Semua ini dimulai dari kejadian beberapa bulan yang lalu.

-----

Saat itu, Hikaru berada di masa yang sulit. Dia selalu mendapat tekanan dari keluarganya. Menjadi salah satu bagian dari keluarga yang sukses, membuat Hikaru dituntut untuk menjadi yang terbaik. Tapi Hikaru tidak bisa, dia tidak bisa dipaksa atau dikekang seperti itu. Karena banyaknya tekanan yang diterima, Hikaru melarikan diri dari rumah.

Aku kemudian mencari Hikaru. Berhari-hari aku mencarinya dan kemudian aku menemukannya dengan cara yang tidak terduga. Hikaru bergabung dengan komplotan gangster yang terkenal kejam.

“Hikaru, ayo pulang”

“Pulang dan kembali ke rumah yang jelek itu? Tidak mau!”

Sejak saat itu, setiap kali aku bertemu dengan Hikaru, aku memaksanya untuk pulang, dan jawabannya selalu sama. Aku bahkan pernah dipukuli oleh anak buahnya, tapi itu tidak membuatku niatku menjadi surut. Aku tetap gigih mengajak Hikaru pulang. Dan aku tidak akan berhenti sampai Hikaru kembali.

Firasatku semakin lama semakin merasa tidak enak. Aku bermimpi buruk mengenai Hikaru. Aku bermimpi dia berlari ketakutan, seakan menghindari sesuatu. Dia juga berteriak berulangkali memanggil namaku. Dan setiap kali aku ingin membalas teriakannya, aku selalu terbangun. Benar-benar mimpi yang tidak mengenakkan.

Karena mimpi itu, aku semakin gigih untuk mengajak Hikaru pulang. Tapi, sepertinya ada seseorang yang berusaha menghalangiku bertemu dengan Hikaru. Orang itu adalah pemimpin gangster itu, Inoo Kei.

“Pergi dari hadapan kami dan jangan ganggu Hikaru lagi. Dia sudah menjadi milikku”

Itu peringatan yang diberikan oleh Inoo Kei padaku. Sesaat aku merasa gentar dengan ucapannya, membuatku mengurungkan niatku untuk membawa pulang Hikaru. Tapi kemudian aku merasa itulah alasan yang tepat. Aku mulai merasa hal yang tidak enak. Inoo Kei bukan pemuda yang baik. Aku merasa ada sesuatu yang berbahaya padanya.
Dan firasatku terbukti. Hikaru mendatangiku. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Di bajunya terlihat beberapa noda darah. Aku sempat panik dan mengira Hikaru terluka, tapi rupanya itu bukan darahnya.

“Tolong aku Yabu... Tolong...”
Hikaru tampak sangat panik dan ketakutan. Tubuhnnya gemetar tanpa henti. Butuh waktu untuk membuatnya tenang sehingga dia bisa menceritakan padaku apa yang terjadi.

Hikaru kemudian menceritakan semuanya. Dia ingin keluar dari grup itu karena dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Inoo tidak membiarkannya keluar begitu saja. Dia kemudian mencoba kabur dari sana bersama temannya, tapi sialnya rencananya ketahuan. Temannya telah tewas ditembak oleh Inoo. Darah yang ada di bajunya adalah buktinya. Dan saat ini Inoo telah mengejarnya.

“Aku takut Yabu. Sungguh, aku takut” ucapnya berulangkali.

“Tenanglah” aku memeluknya untuk menenangkannya. “Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku akan menjagamu”

Tepat pada saat itu Inoo muncul di hadapan kami. Aku bergumul beberapa saat dengannya. Aku berhasil melukainya, dan dia juga berhasil melukaiku. Cerita selanjutnya sudah kalian tahu sendiri.

-----

Aku menatap ke sosok Inoo Kei yang saat ini berbaring tidak bergerak tidak jauh dariku. Aku lega. Setidaknya, tidak ada lagi yang akan melukai Hikaru. Hikaru bisa bebas dan menjalani kehidupannya seperti dulu.

Ah... andai saja aku bisa terus bersama Hikaru. Aku ingin bersama dengannya lagi, menebus waktu kami berdua yang terlewatkan. Tapi tampaknya, sang malaikat maut sudah tidak sabar membawaku. Dia menantiku sedari tadi disana.

Sekali lagi, aku menatap Hikaru. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Aku terus melihatnya hingga mataku menutup untuk selamanya.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar