Cast : Yamada Ryosuke, Inoo Kei, Yabu Kota
Genre : angst... (Maybe)
Rate : Remaja~
~
Membahagiakan seseorang tidak selalu dengan cara berada di sampingnya. Terkadang menjauh darinya juga bisa membuatnya bahagia.
~~~
(Yamada POV)
Akhirnya... Setelah sekian tahun aku berhasil mendapatkan hatinya. Butuh perjuangan panjang untuk membuatnya berpaling padaku. Aku tahu ini bukan hal yang mudah. Membuat seseorang menyukaimu di saat dia masih terbayang-bayang oleh sosok di masa lalu. Meskipun aku bisa merasakan kalau ada sedikit keraguan di hatinya, tapi aku senang dia akhirnya menerimaku. Akan kubuat dia terus menyukaiku.
Sejak awal aku melihatnya, aku sudah tertarik padanya. Wajahnya yang cantik dan sifatnya yang berterus terang sungguh membuatku tertarik. Biasanya orang yang memiliki wajah cantik sepertinya akan bersikap lembut dan menjaga imej. Tapi sepertinya dia berbeda. Dia sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dan aku sangat menyukai tipe orang seperti itu.
Mengajaknya berbicara adalah hal yang mudah. Menarik perhatiannya itu yang sulit. Aku merasa dia membuat tembok tidak terlihat antara dirinya dengan orang lain. Dia kelihatan akrab dengan semua orang, tapi di sisi lain dia terlihat tidak ingin dekat dengan seseorang. Sungguh susah menghancurkan tembok yang seperti itu.
"Usagi... Usagi... Kenapa kau pergi?"
Itulah igauannya saat dia sedang mabuk. Dia selalu menggumamkan itu setiap kali dia mabuk. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya. Tapi dalam hati, aku selalu berpikir siapa 'usagi' ini? Melihat dia yang selalu mengigaukan namanya dengan wajah yang putus asa, aku tahu kalau orang ini sangat berarti baginya. Dan aku iri, sangat iri, pada si usagi ini.
Akhirnya kucoba segala cara untuk merebut hatinya. Semua orang akhirnya tahu kalau aku punya perasaan padanya dan mungkin dia juga mengetahuinya karena dia mulai sedikit menghindariku, tapi aku tidak peduli. Aku terus mendekatinya dan akhirnya dia menyerah. Mungkin karena keegoisanku dan kekeraskepalaanku, dia akhirnya merasa sia-sia menghindariku.
"Aku bukan orang yang tepat untukmu. Sebetulnya aku..."
"Aku tahu" potongku. "Aku tahu kau masih memikirkan seseorang, aku tidak tahu siapa, tapi aku tahu"
"Kalau begitu, kenapa kau masih mendekatiku?"
"Karena aku menyukaimu. Itu salah?"
"Tapi aku tidak....."
"Aku mengerti. Ayo kita coba dulu, akan kubuat kau melupakannya"
Aku terus memaksanya dan dia akhirnya menyerah. Dan akhirnya dia menjadi kekasihku. Aku telah berjanji padanya untuk membantunya melupakan si 'usagi' itu.
~~~
(Inoo POV)
Tak kusangka... Aku bisa berhubungan lagi dengan seseorang. Kukira aku tidak bisa bersama dengan orang lain selain dia. Kusangka hanya usagi-lah yang bisa membuatku bahagia. Tapi... Yamada... Dia benar-benar tulus. Aku bisa merasakan kalau dia sangat menyukaiku. Aku merasa bersalah, dia menyukaiku, tapi aku tidak bisa tulus menyukainya. Karena di sudut hatiku aku masih menempatkan ruang untuk usagi. Usagi adalah cinta pertamaku, orang yang selalu bersamaku, tidak mudah untuk menggantikan tempat usagi.
Mungkin Yamada benar, aku harus melupakan usagi. Dia sudah pergi, tanpa memberi kabar, meninggalkanku dalam kesendirian. Aku seperti orang bodoh menunggu usagi yang tidak jelas kapan akan kembali. Sudah waktunya aku melangkah maju. Melepas tali masa lalu dan dengan sigap berjalan maju.
Yamada menepati janjinya. Dia benar-benar berusaha membuatku melupakan usagi. Aku betul-betul merasa bahagia. Dan kurasa aku bisa mengawali hari yang baru dengan Yamada.
Dan aku tahu, tidak akan semudah itu mencapai kebahagiaan. Ada ujian yang harus dilewati terlebih dahulu.
Tapi ini sungguh tidak adil.
Kenapa?
Kenapa disaat aku mulai memutuskan untuk maju, sesuatu menahanku untuk mundur?
Kenapa disaat aku mulai melupakannya dia mulai muncul kembali?
"Usagi...."
~~~
(Yamada POV)
Aku melihat gelagat aneh Inoo sejak sepupuku, Yabu mulai kerja disini. Dia kelihatan baik-baik saja saat bersamaku, tapi... Dia terlihat menghindar saat Yabu ada di dekatku.
"Dia hanya cemburu kau terus bersama dengan Yabu"
Aku termenung mendengar pendapat temanku. Benarkah? Benarkah Inoo bersikap seperti itu karena dia cemburu aku dekat dengan Yabu? Yabu baru kerja disini sehingga dia perlu banyak bantuan. Belum lagi dia sepupuku, tentu aku harus membantunya. Aku sedikit senang saat memikirkan kemungkinan Inoo cemburu padaku. Akhirnya dia menaruh perhatian lebih.
Tapi aku mulai merasa bukan itu masalahnya.
Aku baru menyadari kalau Yabu juga menghindari Inoo. Aku baru sadar bahwa aku tidak pernah melihat mereka berbicara walaupun hanya bertukar salam. Meskipun aku ada di dekat mereka, mereka bertingkah seolah tidak melihat satu sama lain dan hanya melihatku.
Aku juga menyadari kalau mereka saling curi pandang satu sama lain. Terkadang ketika Inoo terlalu sibuk, Yabu memperhatikannya diam-diam. Inoo juga. Diam-diam dia mencuri pandang pada Yabu meskipun aku ada di sebelah Yabu. Ketika aku memergokinya, Inoo langsung bertingkah seolah dia melihatku.
Firasatku mulai terasa tidak enak. Aku mulai teringat sesuatu.
"Usagi?"
Yabu terlihat sangat terkejut saat aku tanpa sengaja menggumamkan kata-kata itu. Melihat reaksinya, tahulah aku sekarang.
"Apa yang harus kulakukan?"
~~~
(Yabu POV)
Aku terkejut setengah mati saat mendapatinya berada disini. Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi? Oh Tuhan... Bukankah aku sudah meminta agar sebisa mungkin aku menjauh darinya? Kenapa kau malah mempermainkanku dengan mempertemukan kami kembali?
Dia masih sama. Wajahnya masih terlihat cantik. Sifatnya juga masih sama. Meskipun potongan rambutnya berbeda, tidak mengurangi kecantikannya. Benar-benar sama.
Kucoba untuk bersikap biasa saja saat nanti dia menyapaku, tapi dia tidak pernah menyapaku. Melihatku saja tidak. Yah... Kurasa itu wajar. Aku telah meninggalkannya begitu saja. Kurasa dia tidak akan memaafkanku.
Aku tersenyum pahit saat melihat dia bersama dengan sepupuku. Sedih bercampur bahagia. Bahagia karena setidaknya kini Yamada yang menjaganya. Yamada pasti akan menjaga Inoo dengan baik. Aku tahu itu. Yamada jauh lebih baik daripadaku. Inoo pasti akan lebih bahagia bersamanya.
Aku menyembunyikan masa laluku dengan Inoo rapat-rapat. Aku tidak ingin masa laluku merusak kebahagiaan mereka. Tapi... Sepertinya Yamada mulai mengetahuinya. Aku sangat terkejut saat dia memanggilku usagi. Karena selama ini, hanya Inoo yang memanggilku seperti itu.
Dengan susah payah aku menyakinkan Yamada kalau aku hanyalah masa lalu dari Inoo dan tidak akan menggangu mereka. Yamada-lah masa depannya. Meskipun dalam hati, aku masih mencintainya.
Ya, aku masih mencintai Inoo.
~~~
(Inoo POV)
Aku tidak bisa. Sungguh. Cobaan ini sangat berat. Meskipun Yamada berusaha membuatku bahagia, tapi sekali aku melihat sosok Yabu, aku langsung terpaku padanya.
Mataku masih mengejar sosoknya. Telingaku masih mengejar suaranya. Mulutku masih terus menggumamkan namanya. Kaki ini terus mengikutinya.
Meskipun aku berusaha menghindarinya sekuat tenaga, tapi badanku bergerak sendiri. Seolah Yabu memiliki magnet yang kuat terhadap diriku. Badanku dikontrol olehnya. Bahkan jantungku berdetak kencang hanya dengan melihatnya saja. Benar-benar tidak bisa kukendalikan.
Aku hampir ingin menangis. Ini sungguh menyiksa. Aku sudah memiliki Yamada, tapi kenapa tubuh ini menginginkan Yabu?
"Kita putus saja"
Aku terkesiap mendengar perkataan Yamada. Aku tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulutnya.
"Aku kalah. Aku tidak bisa menggantikan posisi Yabu di hatimu"
Aku sungguh terkejut. Bagaimana dia bisa tahu masa laluku dengan Yabu? Aku tidak pernah memberitahu nama Yabu, tapi kurasa dia tahu dari tingkahku.
"Kau kenapa? Kau menyukaiku kan?" ucapku setengah berteriak
"Ya, tapi kau tidak"
"Aku menyukaimu juga" ucapku.
"Jangan bohong Kei... Kau sama sekali tidak menyukaiku. Sejak awal aku yang memaksamu meskipun kau tidak mau. Aku senang saat kau merasa bahagia, tapi aku masih belum bisa memiliki hatimu"
"Tidak. Aku menyukaimu" sanggahku.
"Kalau begitu cium aku sebagai bukti"
Aku terkejut lagi mendengar perkataannya. Menciumnya? Ya. Selama kami berpacaran kami tidak pernah berciuman. Aku baru sadar sekarang.
Aku menatap bibirnya. Perlahan aku melangkah maju. Disaat aku ingin mendekatkan wajahku, gerakanku terhenti. Air mataku menetes
"Tuh... Kau tidak bisa kan?" Yamada tersenyum pahit. Dia mengusap air mataku. "Pergilah..."
"Yamada... Aku... Maaf..." isakku.
"Cepat pergi sekarang atau aku tidak akan melepaskanmu lagi"
Aku segera berlari. Sesekali aku menoleh ke belakang dan melihat Yamada memunggungiku. Punggungnya terlihat besar sekarang di mataku.
"Terima kasih, Yamada..."
Aku terus berlari. Kali ini giliranku untuk mencarinya. Aku tidak akan melepaskannya lagi untuk yang kedua kalinya. Aku langsung tersenyum bahagia saat melihat sosoknya.
"USAGII!!!!!!"
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar