PART 49 (Last part + Epilog)
Tubuh Daiki terhuyung ke depan. Dengan sigap Yuya langsung menahan tubuh Daiki. Muka Daiki terlihat cukup lelah. Kekuatan benar-benar terkuras habis untuk menutup pintu segel itu. Yuya juga tidak kalah lelah dengan Daiki. Dia hanya menahan tubuh Daiki sambil terduduk lemas. Perlahan, Yuya membaringkan tubuhnya dan Daiki.
“Maaf ya Daichan. Aku sudah terlalu capek”.
“Ah, aku juga. Maaf tiba-tiba aku jatuh. Aku sudah tidak kuat lagi menggerakkan tubuhku”.
Yuya mengusap pelan rambut Daiki, “Kau hebat Daichan! Kau berhasil menutup lagi segelnya. Kita menang berkat kau!”.
“Itu juga berkat dirimu. Karena kau membantuku, aku jadi mampu menutup segel itu”, Daiki tersenyum pada Yuya.
“Nee daichan, maafkan aku karena tidak memberitahumu soal Ryuu”, wajah Yuya terlihat sangat murung. Dia masih merasa bersalah karena tidak memberitahukan pada Daiki apa yang terjadi.
“Tidak apa-apa. Kau tidak salah kok”, Daiki berusaha menghilangkan perasaan bersalah Yuya. yuya merasa sedikit lega saat melihat senyum Daiki.
“Daichan, umurmu sudah 17 tahun kan?”.
“Iya, memangnya kenapa?”.
“Kau tahu, impianku adalah membangun keluarga bersamamu. Setelah perang ini selesai dan kau lulus SMA, ayo kita menikah, lalu kita akan mempunyai 2 orang anak, satu laki-laki, satu perempuan”.
Daiki melongo mendengar perkataan Yuya, “kau melamarku?”, tanya Daiki. Yuya mengangguk. “Kau ini ya.... masa melamar seorang gadis dalam kondisi seperti ini”, Daiki mencubit lengan Yuya.
“Adduuhhh... Sakit Daichan...”, rintih Yuya. “Jadi, kau tidak mau?”, tanya Yuya. mukanya terlihat penuh harap.
Daiki memeluk Yuya, “Tentu saja aku mau. Aku sangat senang mendengarnya”.
Yuya menghela napas lega, “Aku sudah memikirkan nama untuk anak kita nanti”.
“Hooaaa.... menikah saja belum, tapi kau sudah memikirkan nama anak segala”, Daiki kembali mencubit lengan Yuya. Yuya hanya merintih kesakitan.
“Memangnya apa namanya?”.
“Untuk anak laki-laki, kunamai Daiya. Kalau anak perempuan, kunamai Yuki”.
“Daiya dan Yuki?”, tanya Daiki.
“Ya, nama itu diambil dari nama kita berdua. Daiki dan Yuya. Dai dari Daiki, Ya dari Yuya. sedangkan Yu dari Yuya dan Ki dari Daiki”, jelas Yuya. “Kau tidak suka?”.
Daiki menggeleng, “kurasa itu nama yang bagus”.
Tiba-tiba terdengar suara seperti suara gemuruh. Seluruh lantai bergetar. Lantai yang ada di atas mereka pun runtuh. Beberapa puing bangunan jatuh di dekat mereka. tapi, baik Daiki maupun Yuya, keduanya sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka semula.
“Daichan, gomen ne... kemampuanku sepertinya sudah habis. Aku sudah tidak bisa lagi melindungimu dari puing-puing itu. Sebaiknya kau segera keluar dari sini, sebelum kau tertimpa reruntuhan itu”.
Daiki menggenggam erat tangan Yuya, dia tersenyum pada cowok yang ada di depannya itu, “aku tidak mau berpisah denganmu lagi. Aku pernah terpisah cukup lama denganmu kan? Maka dari itu aku tidak mau mengalaminya lagi. Kita akan terus bersama-sama, oke?”.
Yuya berusaha menepis tangan Daiki. Tapi Daiki malah semakin memperat genggamannya, “Tenagaku juga sudah habis lo. Badanku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Jadi, biarkan aku beristirahat disini”.
Yuya menghela napas panjang, “Kau memang anak yang keras kepala”, ucap Yuya. Daiki hanya tersenyum mendengarnya. Daiki mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Yuya. dia menyandarkan kepalanya ke dada Yuya.
“Kita akan terus bersama”, gumam Daiki pelan.
Sementara itu, di atas .....
“UWAAA!!! Apa ini? apa yang terjadi?”, seru Inoo.
“Kurasa akibat gempa-gempa sebelumnya, bangunan ini sudah mulai banyak yang berlubang sehingga menara ini sudah tidak bisa berdiri dengan tegak lagi”, jawab master sambil melihat ke dinding bangunan menara yang perlahan-lahan mulai hancur.
“Hei bocah, ayo cepat keluar! Kalau kita terus berada disini, bisa-bisa kita akan tertimbun di reruntuhan”, seru Jin sambil melambaikan tangannya menuju ke pintu keluar.
Aku berusaha berdiri sebisaku, tapi tenagaku sangat lemah. Chinen memapahku dan membantuku berjalan. Yabu menggandeng Inoo keluar. Aku juga melihat Yuto yang sedang menggendong Keito yang tampaknya masih belum sadar. Hikaru juga terlihat sedang membopong Fuka. Kami semua segera menuju ke pintu keluar. Master dan Jin menggunakan kemampuan mereka untuk menahan puing-puing itu agar tidak jatuh menimpa kami.
Kini kami telah berada di luar. Udara dingin menyambut kami. Aku melihat ke arah langit, warnanya terlihat sedikit kemerahan. Tampaknya, pagi akan segera tiba. Aku melihat ke arah menara yang kami masuki ini, beberapa saat setelah kami keluar, menara itu langsung roboh dan hancur berkeping-keping. Aku menghela napas lega, untunglah kami segera keluar sebelum bangunan itu hancur.
Aku melihat ke sekeliling, aku merasa ada yang kurang. “Hei, dimana Daichan dan Yuya? aku tidak melihat mereka berdua”.
“Mungkin mereka sudah menyelamatkan diri di tempat lain. Tenang saja, dengan kemampuan Yuya, mereka berdua bisa selamat kok”, jawab Chinen.
“Kuharap begitu”, kataku. Tiba-tiba pandanganku terasa gelap. Tubuhku pun terasa sangat lemas.
BRUKK!!
“RYOCHAN?! RYOCHAN!”, sayup-sayup aku bisa mendengar suara Chinen memanggilku. Tapi aku sama sekali tidak sanggup menjawabnya.
------*****------
“Hngg...”, perlahan aku mulai membuka mataku. Di hadapanku, aku bisa melihat atap berwarna putih.
“Ryochan? kau sudah sadar? Kau bisa mendengarku?”, aku melihat ke sebelah kananku, aku bisa melihat Chinen terduduk disana. Mukanya terlihat cukup cemas. Aku bisa melihat beberapa bagian tubuhnya dibalut oleh perban.
“Yu...ri...?”, gumamku pelan. Chinen langsung menggenggam tanganku dengan erat. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
“Untunglah kau sudah sadar Yamachan”. Aku menoleh ke sebelah kiriku. Aku bisa melihat Yuto berdiri di sana. Dia tersenyum ke arahku. “Chii, aku akan memanggil dokter kemari, kau disini saja. jaga Yamachan”. Setelah berkata seperti itu, Yuto melangkah ke luar ruangan, meninggalkan aku dan Chinen sendirian.
“Yuri, ini dimana?”, tanyaku.
“Ini di Rumah Sakit, Ryochan. Beberapa saat setelah kita keluar dari tempat segel, kau jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Kami langsung membawamu ke RS ini sekaligus mengobati luka ksatria yang lain. Kau sudah cukup lama tidak sadarkan diri, kira-kira sudah hampir seminggu. Aku sempat khawatir bagaimana kalau seandainya kau tidak kunjung sadar”.
“Oh, berarti teman-teman juga ada disini semua? Apa mereka terluka cukup parah?”, aku melihat perban di tubuh Chinen. “Kau juga terluka...”
“Tidak usah khawatirkan aku. Ini hanya luka kecil kok. Tidak terlalu parah. Yuto dan Yabu juga tidak terluka terlalu parah. Inoo masih harus beristirahat karena kondisi tubuhnya melemah. Hikaru mengalami patah tulang di tangan kanannya sehingga dia perlu direhabilitasi untuk sementara waktu. Fuka juga berada disini, dia sudah sadar tapi tampaknya ingatannya hilang. Master bilang kalau Fuka yang sekarang sudah tidak berbahaya lagi. Maou yang berada di dalam tubuhnya benar-benar sudah menghilang akibat kemampuanmu. Sedangkan Keito....”, Chinen menghentikan pembicaraan. Aku melihat ke arah Chinen dengan penuh rasa heran.
“Keito kenapa?”
“Keito kehilangan penglihatannya. Bahkan ilmu medis sekarang pun tidak bisa mengobatinya. Kata Jin, pengaruh dari makhluk kegelapan itu sangat kuat. Jin dan master masih berusaha mencari cara untuk mematahkan kutukan itu”, jelas Chinen.
TOK! TOK! TOK! Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. “Masuk”, jawab Chinen. aku melihat seseorang berjas putih dan beberapa wanita berpakaian putih masuk. Mereka membawa beberapa peralatan medis. Dokter kemudian memeriksa keadaanku, dia menjelaskan kalau saat ini keadaaanku baik-baik saja. Aku merasa lega saat mendengarnya. Beberapa menit kemudian, mereka semua keluar dari ruangan.
“Yo Ryosuke, kudengar kau sudah sadar?”, Jin tiba-tiba menyelonong masuk. Tak lama kemudian master juga masuk. Yabu dan Yuto masuk sambil mendorong kursi roda. Keito duduk di kursi roda yang didorong oleh Yuto, sedangkan Inoo duduk di kursi roda yang didorong oleh Yabu. Aku melihat ada lilitan perban di mata Keito. Inoo terlihat cukup cantik meskipun raut wajahnya tidak terlalu segar. Terakhir Hikaru masuk ke dalam ruangan. Tangan kanannya terbalut oleh gips.
“Teman-teman...”, gumamku pelan.
“Syukurlah kau baik-baik saja. Chii selalu menangis setiap malam menunggumu”, ucap Yuto. Chinen langsung melirik tajam ke arah Yuto. Aku memperhatikan mata Chinen. Aku bisa melihat ada matanya sedikit bengkak dan kemerahan.
“Inoo, kau baik-baik saja?”, tanyaku pada Inoo yang terduduk lemah di kursi roda. Sebuah selimut kotak-kotak tersampir di pahanya.
Inoo mengangguk, “aku baik-baik saja. Hanya sedikit terasa lemah. Yabu terlalu berlebihan. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku”, ucap Inoo sambil tersenyum.
“Bagaimana dengan keadaan Fuka?”, tanya Yabu pada Hikaru yang berdiri sambil bersandar ke tembok.
“Hmm? Ah, dia sekarang sedang tidur. Ingatannya masih belum pulih. Dokter bilang aku tidak boleh terlalu terburu-buru. Perlahan dia akan ingat kembali kok”, jawab Hikaru.
Aku melihat ke arah Keito yang hanya terdiam saja. “Keito....”.
“Hmm.. ada apa Yamada?”, Keito mengarahkan kepalanya ke arahku. Meskipun dia tidak bisa melihat, dia bisa tahu posisiku dari suaraku.
“Seandainya aku lebih kuat, aku pasti bisa menyembuhkanmu waktu itu”.
“Tidak apa. Waktu itu kau sudah menggunakan semua kekuatanmu kan? Apalagi sekarang kau sudah kehilangan kemampuanmu”. Aku terhenyak saat mendengar perkataan Keito.
“Apa maksudmu?”, tanyaku.
Kali ini giliran Keito yang menampakkan wajah heran, “Eh? Kau belum tahu?”.
“Huh, dasar Keito, aku belum sempat mengatakannya, sudah kau beritahu duluan”, ucap Jin.
“Apa maksudnya Jin?”, kali ini aku bertanya pada Jin.
“Dengar baik-baik Yamada”, master kemudian angkat bicara. “Kemarin saat bertarung kau menggunakan energi yang cukup besar kan? Kau menggunakan seluruh energimu saat itu. Akibatnya kau jatuh pingsan dan nyawamu berada dalam bahaya. Kami semua berpikir kalau kau akan mati. Tapi ternyata, hanya kemampuanmu saja yang hilang, dan nyawamu terselamatkan”.
“Jadi sekarang aku sudah tidak memiliki kemampuan khusus lagi?”, tanyaku. Master mengangguk. Entah kenapa aku merasa sangat sedih mendengarnya. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku.
“Tenang saja Ryochan, meskipun sekarang kau tidak memiliki kemampuan khusus lagi, kau masih seorang ksatria juga kok”, Chinen tersenyum ke arahku.
“Itu benar yamachan. Kami semua akan tetap menjadi temanmu kok”, Yuto mengiyakan. Yabu, Inoo, Hika, dan Keito juga mengangguk. Dalam hati aku merasa sangat lega.
Aku melihat ke sekeliling ruangan, aku merasa ada beberapa orang yang kurang di ruangan itu. “Daichan dan Yuya dimana? Apakah mereka terluka cukup parah?”. Semua orang yang ada disitu saling berpandangan. Aku diam menunggu jawaban dari mereka.
“Daiki dan Yuya, keberadaan mereka saat ini tidak diketahui”, jawab Jin. “Ketika kami membawa kalian ke Rumah Sakit ini, kami kembali lagi ke tempat segel untuk mencari mereka berdua. Tapi, kami sama sekali tidak menemukan mereka. Kami sudah mencari ke seluruh tempat, tapi kami tetap tidak bisa menemukan mereka. Apakah mereka masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang mengetahuinya”, jelas Jin.
Aku melihat ke arah langit biru yang luas. Langit kali ini tampak begitu cerah, tidak ada sedikitpun awan yang tampak sehingga sinar matahari terasa cukup menyakitkan. “Daichan.... Yuya.... kuharap kalian berdua baik-baik saja”.
EPILOG ~10 tahun kemudian~
“HUAAAA....”, anak perempuan yang ada di depanku ini terus menangis.
“Sudah selesai kok. Nah, sekarang sudah tidak sakit lagi kan?”, aku membalut plester di kaki anak itu. Anak itu kemudian berhenti menangis. Dia lalu tersenyum kecil ke arahku.
“Terima kasih Dokter!”, ucap anak itu. Dia kemudian berlari ke arah ibunya yang tidak jauh darinya. Ibu sang anak membungkukkan badannya ke arahku. Aku pun membalasnya. Aku melambaikan tangan ke arah anak perempuan itu hingga dia pergi.
“Yoo... Ryosuke sensei! Ini ada surat untukmu”, seorang pemuda berjas putih masuk ke dalam ruanganku sambil membawa amplop berwarna putih.
“Kamiki! Hentikan memanggilku sensei. Kau sendiri juga sensei kan?”, aku mengambil surat yang disodorkan olehnya. Aku tersenyum saat melihat nama pengirimnya. Yabu Kota.
Kamiki tersenyum ke arahku, “Kau mau makan siang? Ini sudah waktunya istirahat”.
“Kau duluan saja. Aku masih ada urusan”, aku kembali duduk di kursiku dan bersiap membuka amplop yang ada di tanganku.
“Ya sudah, aku ke kantin ya. Nanti kau menyusul”, kata Kamiki sambil berlalu pergi.
Aku menatap kertas surat yang ada di tanganku. Surat yang ditulis oleh Yabu. Di dalam surat itu dia menceritakan bagaimana keadaannya sekarang. Semenjak Yabu dan Inoo memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, kami saling bertukar kabar melalui surat, karena disana sinyal telepon masih cukup jelek. Tiba-tiba ada selembar foto yang jatuh dari dalam amplop. Di foto itu terdapat Yabu, Inoo, dan seorang anak perempuan.
“Hee.... Keiko sekarang sudah besar ya....”, gumamku saat melihat anak perempuan yang ada di foto itu. aku kemudian melipat surat itu lagi dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku pun beranjak pergi ke kantin untuk makan siang sambil membawa kotak bekal dari Yuri. Semenjak kami menikah, Yuri selalu membuatkan bekal untukku.
Saat berjalan menuju ke kantin, aku mengenang apa yang terjadi di masa lalu. Satu tahun setelah pertempuran itu, Hikaru memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia ingin merawat Fuka hingga ingatannya kembali. Selain itu, dia juga ingin menjaga tempat segel agar tidak terbuka untuk kedua kalinya. Memang, makhluk kegelapan yang tersisa hanyalah yang kelas rendah saja, itupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Tapi master dan Jin mengatakan agar kami selalu waspada.
Yabu dan Inoo pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk menjaga tempat segel yang satu lagi, yang berada di wilayah timur. Saat ini, Yabu bekerja sebagai pelatih sepak bola sebuah klub dan Inoo bekerja menjadi guru privat di rumah. Terkadang, dia masih menerima permintaan untuk merevisi jurnal penelitian.
Keito pergi berkeliling dunia bersama dengan Jin setelah lulus SMA. Mereka berusaha mencari cara untuk menyembuhkan mata Keito seperti semula. Jin yakin, masih ada cara lain untuk mengembalikan penglihatan Keito.
Yuri mulai bekerja menjadi seorang model. Terkadang dia menggunakan kemampuannya untuk menyamar menjadi Yuya. Yuri bilang kalau dia ingin menyediakan tempat bagi Yuya seandainya mereka telah kembali.
Yuto kini bekerja sebagai fotografer keliling. Dia berkeliling ke berbagai tempat untuk mencari objek yang bagus. Pameran fotonya cukup terkenal. Selain itu, dia juga membasmi makhluk kegelapan yang masih tersisa.
DUK! Saking asyiknya aku mengenang masa lalu, tanpa sadar aku menabrak seorang anak kecil. Anak laki-laki itu terjatuh sambil memegangi kakinya yang kesakitan.
“Ah maaf, kau tidak apa-apa dik?”, aku langsung berjongkok untuk memeriksa keadaan anak itu.
“Aku tidak apa-apa!”, jawab anak itu. Jawabannya terdengar tegas.
“Oh begitu. Benarkah tidak ada yang sakit?”, tanyaku memastikan sekali lagi.
“Iya! Kalau hanya segini, aku masih bisa tahan. Karena Daiya adalah anak laki-laki, Daiya harus kuat. Daiya tidak boleh cengeng. Itu kata papa”, kata anak itu.
“Namamu Daiya? Hebat. Daiya anak pintar”, kataku sambil mengusap kepala anak itu. “Kau sendirian?”
Anak itu menggelengkan kepalanya, “Tadi Daiya bareng dengan kakak, terus kami pisah. Daiya sekarang lagi nyari kakak”.
“Oh ya, siapa nama kakakmu? Ayo kita cari bersama-sama”.
“Yuki. Nama kakakku, Yuki. Kakak Daiya sangat cantik”.
“Daiya!”, tiba-tiba ada seorang anak perempuan yang mendekat ke arah kami. “Kau kemana saja? kucari dari tadi”, anak perempuan itu langsung menggandeng tangan Daiya.
“Tadi Daiya tersesat, terus ketemu ama dokter ini. Dokter ini juga mau bantu Daiya nyari kakak, tapi untung kakak sudah ketemu”, jawab Daiya. Mukanya terlihat sangat bahagia saat melihat kakaknya sudah berada di depannya. Wajahnya tampak sangat polos dan imut.
Anak perempuan itu kemudian melihat ke arahku dan membungkukkan badannya dengan sopan, “Terima kasih sudah menjaga adikku dokter”.
“Sama-sama”, aku tersenyum ke arah anak perempuan itu. tidak kusangka sifatnya sopan sekali. Aku menoleh ke arah Daiya, “syukurlah kau bisa bertemu kakakmu. Lain kali hati-hati ya”.
“Nah Daiya, ayo kita pergi, mama dan papa sudah menunggu diluar”, ucap Yuki, anak perempuan itu. “Jangan lupa berterima kasih pada dokter”.
“Terima kasih dokter!”, kedua anak itu tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Deg! Sekilas aku merasa deja vu saat melihat kedua anak itu. Bayangan wajah Daiki dan Yuya sekilas terlihat di wajah kedua anak itu.
Aku melihat kedua anak itu hingga tidak terlihat lagi. Aku menatap langit melalui jendela Rumah Sakit tempatku bekerja ini. “Kuharap kalian berdua baik-baik saja, Daichan, Yuya”.
Makhluk kegelapan kini memang sudah jarang terlihat lagi. Kedamaian mulai terjaga di dunia ini. Tapi, kita harus selalu waspada. Dimana ada cahaya, disitu pasti ada kegelapan. Semakin terang cahaya itu, maka kegelapan juga semakin besar. Para ksatria masih akan terus menjaga dunia ini dari makhluk kegelapan. Tugas para ksatria tidak akan berakhir sampai disini.
Yeayy~~~ Akhirnya cerita ini tamat....
Terima kasih sudah membaca sampai akhir ya.... ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar