Genre : Gender Switch, Romance, Angst
Note : Arioka Daiki dan Inoo Kei adalah cewek disini
Fall
Aku berdiri menatap ke arah sosok bergaun putih. Wajah cantik sosok itu tetap terpancar dari balik kain tipis yang menutup wajahnya. Di tangannya, sebuket mawar putih terikat rapi.
"Yuya!"
Dia tersenyum saat menyadari kehadiranku. Dengan anggun, dia berjalan mendekat ke arahku.
"Kau cantik sekali, Kei", pujiku.
Kei tersenyum. Wajahnya memerah. Tampaknya dia malu dipuji olehku.
"Sungguh. Kau pengantin paling cantik sedunia"
Kei semakin menunduk malu. Dia tidak berani melihatku.
"Ini semua berkat kau. Tanpamu, hari ini tidak akan terjadi. Aku sayang kamu, Yuya"
Dia memelukku. Aku balas memeluknya. Seakan tidak ingin melepasnya.
"Aku juga sayang padamu", bisikku.
Kami saling bertatapan. Cukup lama. Oh Tuhan, Kei cantik sekali. Ingin aku memeluknya sekali lagi dan membawanya pergi.
"Kei, aku..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku. Seseorang datang mengganggu kami.
"Kei"
Kei tersenyum senang saat namanya dipanggil orang itu. Dengan semangat, dia langsung berlari memeluk orang itu.
"Kalian sedang apa? Sudah waktunya"
Daiki tiba-tiba muncul. Dia lalu mendorong Kei bersama orang itu.
"Kei...", panggilku lagi. "Ah, apa harus kupanggil nyonya Yabu?"
Kei tersenyum. "Kei saja. Aku belum resmi menjadi istri Kota. Kau juga sudah terbiasa memanggilku Kei kan? Tidak apa-apa kan Kota?"
Yabu Kota, sang calon pendamping hidup Kei mengangguk. Sama sekali tidak menunjukkan perasaan buruk padaku.
Jika dia tahu kalau aku memendam rasa pada calon istrinya, aku ragu apakah dia tetap melihatku seperti itu?
"Kei, semoga bahagia. Aku selalu mendoakanmu"
Kei tersenyum. Dia lalu melambaikan tangannya padaku sebelum pergi.
Gugur sudah perasaanku. Bagaikan daun yang berguguran dari pohonnya, perasaanku pada Kei pun demikian.
"Dasar bodoh, kenapa kau tidak merebutnya dan malah merelakannya?", tanya Daiki yang ternyata masih berada di sebelahku.
"Kau pasti mengerti kan? Saat ini, Kei sangat berbahagia bersama dengan Yabu dan aku tidak ingin merusaknya. Aku bahagia saat orang yang kucintai bahagia. Tidak ada yang lebih kuinginkan daripada itu"
---***---
Winter
Dingin.
Udara musim dingin ini menusuk tulangku. Jaket tebal yang kukenakan, tetap tidak bisa memberikan sedikit kehangatan untuk tubuhku. Kugerakkan tubuhku, untuk memberikan sedikit kehangatan bagi tubuhku.
"Yo!"
Seseorang menepuk punggungku dari belakang. Dari suaranya, aku bisa menebak siapa yang datang.
"Takaki", ucapku saat melihat orang itu.
"Sedang apa? Kenapa kau sendirian?"
"Mencari kehangatan. Udara sangat dingin hari ini, jadi aku berpikir menggerakkan tubuhku untuk membuat tubuhku lebih hangat", jawabku. "Kau sendiri? Kenapa ada disini?"
Dia terdiam. Mukanya langsung terlihat sedikit sendu. Ada sedikit jeda sebelum dia menjawab. Ah... aku bisa menebak jawabannya.
"Aku tadi bertemu dengan Kei"
Aku tidak bertanya lebih jauh lagi kenapa dia bertemu dengan Kei, apa yang mereka bicarakan, dan lain-lain. Aku tahu suasana hatinya. Takaki baru saja patah hati, orang yang dicintainya menikah dengan orang lain dan dia hanya bisa melihatnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang dialami oleh Takaki.
Dari sudut mataku, aku membaca ekspresinya. Matanya menerawang jauh di depan sana. Ah... Dia masih menaruh perasaan pada Kei.
Aku sedikit kesal pada Kei. Kenapa dia tidak bisa menyadari perasaan Takaki? Bukankah sudah jelas kalau Takaki menyukainya? Bahkan aku saja yang baru berkenalan dengan mereka, langsung tahu kalau Takaki sangat menyukai Kei.
Aku bertemu dengan Takaki dan Kei saat awal masuk kuliah. Jurusanku dan Kei berbeda. Kei anak desain, sedangkan aku anak sastra, sama dengan Yabu. Bagaimana aku dan Kei bisa saling kenal? Kami berdua mengikuti kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sama, yaitu musik. Disanalah kami bertiga bertemu. Aku, Kei, dan Yabu.
Tak lama, Kei mengenalkan teman sejak kecilnya, Takaki, pada kami. Takaki kuliah di Universitas yang berbeda, sehingga kami jarang bertemu dengannya. Tapi karena kami bertiga sering main di luar, dan Kei suka mengajak Takaki, maka tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab.
Seiring berjalannya waktu, saking seringnya kami bersama, aku menyadari kalau Takaki menyukai Kei. Dia selalu memperhatikan Kei. Bahkan aku sempat merasa cemburu karena perhatian Takaki hanya tertuju pada Kei. Seakan-akan satu-satunya wanita yang ada di matanya hanya Kei.
Aku sangat terkejut saat mengetahui kalau Kei dan Yabu menjalin hubungan. Aku sedikit keberatan dengan hubungan mereka, tapi Takaki tidak mengatakan apapun, jadi aku tidak berhak ikut campur.
Jika melihat wajah Takaki saat ini, aku menyesal. Kenapa dulu aku tidak menentang saja hubungan Kei dan Yabu? Kenapa aku tidak mengatakan saja perasaan Takaki pada Kei? Kenapa dulu aku tidak memaksa Takaki untuk menyatakan perasaannya?
Nasi telah menjadi bubur. Semua telah terjadi, Kei sudah menjadi milik orang lain. Takaki sudah tidak bisa lagi mendapatkan Kei.
"Hei Arioka? Kau baik-baik saja?", Takaki memandang wajahku. Aku sedikit kaget saat menyadari jarak wajah kami cukup dekat.
"Aku baik-baik saja". Aku mengalihkan pandanganku ke arah tumpukan salju di pinggir jalan.
"Syukurlah, kupikir kau beku karena kedinginan", ucap Takaki sambil sedikit tertawa.
"Hei Takaki"
"Hmm?"
"Kalau salju mencair bakal jadi apa?"
"Jadi air lah"
"Salah"
"Salah?"
Aku tersenyum. "Jadi musim semi! Setelah musim dingin ini, salju akan mencair dan bunga akan bermekaran. Musim semi akan datang"
Aku memegang kedua tangan Takaki. "Aku berharap, kau bisa menemukan cinta yang baru saat musim semi nanti. Dan hatimu yang dingin karena patah hati bisa kembali hangat dengan cinta yang baru"
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar