Selasa, 08 Desember 2015

TEN KNIGHTS

PART 48

“Uargh... Uhuk...uhuk....”, aku terbatuk. Dari mulutku keluar darah yang begitu banyak. Aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku. Berbagai benda tajam yang menusuk tubuhku ini menghalangiku untuk bangkit. Rasa sakit terasa di seluruh tubuhku. Pandangan mataku mulai sedikit kabur.

“UWAAA!!! AAA!!!!!”, terdengar berbagai jeritan dari segala arah. Aku tahu kalau yang menjerit itu adalah teman-temanku. Meskipun aku tidak melihat langsung pertarungan mereka. Aku bisa merasakan rasa sakit yang mereka derita.

“Apakah sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan?”, gumamku pelan. Aku melihat kalung yang diberikan ibu padaku, kalung yang pernah digunakan oleh ayah.

“Ayah, apa yang harus kulakukan?”, tanyaku. Aku kemudian mengingat pertemuanku lagi dengan ayah. Saat aku mengaktifkan kemampuan purification yang diberikan oleh ayahku. Ayah hanya melihatku dengan lembut tanpa berkata apapun. Apakah memang sudah saatnya aku pergi menuju tempat ayah berada.

BLAR!

Terdengar suara seperti ledakan. Bersamaan dengan itu, semua makhluk kegelapan yang ada di tempat itu pun terlempar, tidak terkecuali King, Queen, Jack, dan Ryuusei. Aku masih belum mampu menggerakkan badanku. Sesungguhnya aku ingin tahu apa yang terjadi.

“Cih, kalian semua lemah sekali. Padahal sudah kulatih, tapi masih saja belum bisa mengalahkan mereka”, terdengar suara seseorang yang cukup kukenal. Kugerakkan kepalaku perlahan untuk melihat sang pemilik suara. Mataku masih belum bisa melihat dengan jelas, aku masih bisa melihat 2 sosok yang berdiri cukup jauh dariku.

“Anak-anak, kalian semua tidak apa-apa?”, tanya seseorang. Dari suaranya terlihat kalau orang ini lebih tua dari pemilik suara yang pertama. Sekali lagi aku merasa mengenal pemilik suara tersebut.

“Master! Jin!”, seru Chinen. Aku langsung menghela napas lega, ternyata benar kalau suara itu milik mereka berdua. Kini aku bisa melihat sosok mereka dengan cukup jelas.

“Kalian semua payah!”, ucap Jin lagi. Kali ini suaranya terdengar cukup kesal.

“Kalian berdua..... sang magician dan sang alchemist”, ucap King yang kini sudah bangkit berdiri lagi. dia melihat ke arah master dan Jin dengan pandangan tajam. Aura membunuh yang ada di tubuh King sangat dahsyat. Aku bahkan bisa merasakan dari tempatku berada.

“Yoo... bocah. Kita bertemu lagi”, sapa Jin sambil melambaikan tangannya ke arah King. Tampaknya Jin sama sekali tidak terpengaruh dengan aura membunuh yang dikeluarkan oleh King. “Semua bawahanmu sudah kami bereskan. Kini kau tidak bisa lagi menjalankan rencanamu”, Jin menunjuk ke arah jalan yang berada di belakangnya. Mukanya tersenyum mengejek ke arah King.

Aku melihat ke arah King. Mukanya terlihat tenang. Sama sekali tidak ada rasa panik yang terlihat. Padahal yang ada di hadapannya ini adalah sang magician dan sang alchemist yang memiliki kekuatan yang luar biasa.

Plok, plok, plok. Terdengar suara tepuk tangan. King menepuk tangannya seakan ingin memberikan penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan oleh Jin dan master. “Seperti yang kuduga. Kalian berdua hebat. Para makhluk kegelapan itu tidak berdaya melawan kalian semua, berapapun jumlahnya”.

“Karena itu, lebih baik kau menyerah. Sudah tidak ada lagi yang bisa kau lakukan bocah”, kata Jin.

“Hal seperti ini tidak akan mengganggu rencanaku”, King mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Aku bisa melihat dari tubuhnya keluar seperti asap berwarna hitam. Asap itu langsung memenuhi seluruh ruangan. Pandanganku langsung terasa buram, nafasku terasa sesak, serasa ada sesuatu yang menghalangi jalannya pernafasan dalam tubuhku. Aku menutup hidung dan mulutku, berusaha agar tidak menghirup asap itu. sedetik kemudian, asap hitam itu menghilang. Bersamaan dengan itu, sejumlah besar makhluk kegelapan langsung muncul dari balik asap hitam itu.

“Lihat kan? Tidak peduli seberapa banyak kalian menghancurkan makhluk kegelapan. Aku bisa membangkitkan dan membuat mereka lagi sebanyak yang aku mau”, ucap King. Mukanya menunjukkan senyum kemenangan.

“Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang”, kata master. Perlahan-lahan dia mulai maju ke depan. “Kau memiliki sedikit kekuatan dari sang necromancer. Kekuatan necromancer adalah membangkitkan yang sudah mati, sama seperti yang kau lakukan ini”.

Jin melihat ke arah master dengan heran, “Bagaimana bisa? Bukankah sang necromancer masih terkurung di dalam sana?”.

“Tapi, saat ini salah satu segel telah terbuka. Aku menduga kalau kekuatan sang necromancer merembes keluar melalui segel yang terbuka itu”, jawab master.

King tersenyum lebar, “Benar sekali! Ketika aku membuka segel itu dengan darah si keturunan ksatria murni, kekuatan sang necromancer langsung keluar. Aku mengambil kekuatannya itu. Memang tidak banyak, tapi sedikit saja kekuatannya, aku sudah bisa melakukan hal ini”.

“Bocah merepotkan”, gumam Jin. Dia kesal karena sekali lagi dia harus menghadapi sejumlah besar makhluk kegelapan.

“Lalu, bagaimana dengan Arioka? Aku tidak melihatnya disini”, master mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok gadis itu. “Dan, aku juga tidak melihat Takaki disini”.

“Mereka berdua masih hidup”, jawab Jin. “Aku bisa merasakan aura mereka dari sini. Memang terasa lemah, tapi aku yakin mereka masih hidup”, Jin mengernyitkan dahinya, seakan memikirkan sesuatu.

“Kenapa Akanishi?”, tanya master.

“Aku merasa ada yang berbeda dengan aura Daiki”, Jin memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi. “Ah, mungkin hanya perasaanku saja”.

“Untunglah kalau mereka berdua masih hidup. Yang lebih penting sekarang, kita harus menolong para ksatria untuk menghadapi makhluk kegelapan ini. Mereka semua sudah terluka cukup parah”, gumam master.

Master dan Jin pun akhirnya maju ke medan pertempuran. Jin menggunakan kemampuan alkeminya. Dia mengubah bentuk lantai menjadi liat sehingga mudah digerakkan. Lantai-lantai itu menjebak dan mengurung beberapa makhluk kegelapan. Sedangkan master menggunakan ilmu magisnya untuk melenyapkan makhluk kegelapan dengan mengucapkan beberapa mantra. Dalam sekejap, beberapa makhluk kegelapan itu langsung lenyap, akan tetapi King menggunakan ilmu necromancy-nya untuk membangkitkan kembali makhluk kegelapan yang telah hancur. Pertarungan ini terus berlangsung tiada henti.

Aku hanya bisa terbaring lemah menyaksikan pertarungan yang ada di hadapan mataku. Karena tubuhku yang terluka parah, membutuhkan banyak waktu agar tubuhku bisa pulih seperti semula. Beberapa makhluk kegelapan sempat mendekat ke arahku, akan tetapi berkat kemampuan dari Jin, makhluk kegelapan itu langsung lenyap sebelum mendekat ke arahku. Aku melihat ke arah teman-temanku yang lain. Mereka semua juga terbaring lemah tidak berdaya. Luka di tubuh mereka cukup parah.

“Apa yang kulakukan? Di saat seperti ini, di saat mereka membutuhkan kemampuanku, aku malah tidak bisa melakukan apapun”, gumamku. Aku mengepalkan tanganku. “Aku butuh kekuatan. Aku butuh kekuatan yang besar. Aku ingin menggunakan kemampuanku”.

BLAR! PRANG! CLASH! BRUAK! Suara-suara itu terus terdengar. Entah sudah berapa lama suara-suara itu terus berbunyi. Aku melihat ke arah master dan Jin. Tampaknya mereka mulai kewalahan. Pada awalnya, tubuh mereka tidak terluka sama sekali. Tapi sekarang, para makhluk kegelapan berhasil melukai tubuh mereka. Para petinggi maou terus saja melancarkan serangan mereka tanpa henti. Mereka terus menyerang secara membabi buta, beberapa serangan mereka berhasil mengenai tubuh Jin dan master.

“SIAL.... tidak adakah yang bisa kulakukan?”, aku berpikir keras. Aku melihat kalung yang kukenakan, kalung milik ayah yang diberikan oleh ibu saat aku memutuskan untuk tinggal bersama para ksatria yang lain. Aku kemudian melihat pedang milik ayah yang tergeletak tidak jauh dari situ. Aku kemudian mengingat kembali perjumpaan dengan ayah dalam mimpiku. Saat pertama kalinya aku bisa menggunakan kemampuan purification milik ayah yang diberikan padaku.

“Ayah, apa yang harus kulakukan? Padahal ayah terus membantuku dan melindungiku, tapi aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa”, aku memejamkan mataku. Sekilas aku bisa melihat bayangan ayah di benakku. Wajah ayah tersenyum. Dia mengangguk ke arahku.

Kubuka kembali mataku, kukepalkan tanganku dengan erat. Kumantapkan hatiku. Aku kemudian berkonsentrasi penuh. Aku berusaha mengeluarkan semua kekuatan yang kupunya. Akan kulakukan apapun untuk menolong teman-temanku. Aku bisa merasakan energi yang besar keluar dari tubuhku.
Aku melihat tubuhku seperti diselimuti oleh kabut tebal berwarna putih. Lama kelamaan kabut itu semakin tebal. Tubuhku juga terasa semakin panas.

“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”, aku berteriak. Kukeluarkan semua energi yang ada di dalam tubuhku. Tubuhku seakan meledak. Seketika makhluk kegelapan yang ada di sekitarku lenyap. Tidak hanya itu, semua makhluk kegelapan yang ada di ruangan itu juga lenyap. Para petinggi maou beserta Ryuusei yang ada di ruangan itu langsung terduduk lemas.

“Ini.....”, gumam Jin.

“Ya, kekuatan kombinasi antara healing dan purification. Kemampuan healing akan menyembuhkan luka kita dan kemampuan purificationnya menghilangkan atau lebih tepatnya memurnikan para makhluk kegelapan. Lihat itu”, master menunjuk ke arah Jack yang mengerang kesakitan. Ada sebuah sosok yang keluar dari tubuh Fuka, sosok itu semakin terdorong keluar akibat kemampuan purification. Sosok itu akhirnya terlepas dari tubuh Fuka.

“Fuu!!”, terdengar jeritan Hikaru. Sekilas aku bisa melihat Hikaru yang berlari menuju ke tempat Fuka.

Rasa panas di dalam tubuhku lalu berkurang, energi besar yang kurasakan dari dalam tubuhku juga semakin menipis. BRUK. Aku terduduk lemas. Tubuhku sudah tidak sanggup berdiri lagi.

“RYOCHAN!”, aku bisa mendengar jeritan Chinen. Mataku yang sedikit terbuka melihat sosok Chinen yang mulai mendekat ke arahku.

“HUAHAHAHA.... tidak kusangka ada salah satu ksatria yang memiliki kemampuan yang hebat. Dalam sekejap dia bisa menghabisi seluruh makhluk kegelapan di ruangan ini. Dia bahkan bisa memaksa keluar Jack dari tubuh pemuda ini”, ucap King sambil menepuk tangannya. “Tapi sayang sekali, apapun yang kau lakukan, tidak ada bedanya dari sebelumnya”, King membangkitkan lagi makhluk kegelapan yang tadi telah hancur. Seluruh ruangan kini dipenuhi lagi oleh para makhluk kegelapan.

“Hanya sampai disinikah?”, gumamku. Aku melihat ada beberapa makhluk kegelapan yang mendekat ke arahku. Tubuhku terasa sangat lemah, menggerakkan badanku saja terasa sangat berat. Dalam hatiku, aku mulai meyerah.

“Ryochan! jangan menyerah!”, Chinen tiba-tiba berdiri di hadapanku. Dia memukul mundur semua makhluk kegelapan yang tadi berniat menyerangku. “Aku masih ada disini. Ayo kita berjuang bersama-sama”, Chinen mengulurkan tangannya ke arahku. Aku meraih tangan mungil yang ada di hadapanku itu.

“Yuri...lukamu”, gumamku sambil melihat ke arah bahu Chinen yang tadi terluka.

“Oh, ini. Sudah tidak sakit lagi kok. Berkatmu tadi, seluruh luka yang ada di tubuhku sudah hilang. Tidak hanya itu, tubuhku serasa segar kembali. Iya kan teman-teman?”, ucap Chinen.

“Chii benar Yamada. Saat ini kami semua sudah pulih kembali. Kami bisa melanjutkan pertarungan lagi. Kau beristirahat saja, tubuhmu sudah terlalu banyak mengeluarkan energi”, ucap Yabu yang kini telah bangkit kembali. Di belakangnya, Inoo juga bangkit kembali sambil tersenyum ke arahku.

“Tidak”, kataku. Aku berusaha untuk bangkit kembali, “aku juga akan bertarung bersama kalian. Aku juga salah satu ksatria, sama seperti kalian”.

Chinen tersenyum, dia memberikan pedangku yang tergeletak kepadaku, “Aku akan membantumu, ayo kita berjuang bersama-sama”. Aku mengangguk ke arah Chinen. Aku melihat ke arah Yabu dan Inoo, mereka juga mengangguk ke arahku.

Aku melihat ke arah Yuto, tampaknya dia sudah mulai bertarung terlebih dahulu. Aku melihatnya bertarung mati-matian melawan para makhluk kegelapan sambil terus berusaha melindungi Keito. Aku juga melihat ke arah Hikaru, sambil melindungi Fuka yang terbaring lemah di dekatnya, Hikaru berusaha melawan Jack yang telah keluar dari tubuh Fuka.

“Baiklah, ayo maju!”, seruku sambil mengayunkan pedangku ke arah makhluk kegelapan. Aku terus berusaha melawan mereka dengan sisa tenaga yang kumiliki. Tiba-tiba kakiku menjadi lemas, tenagaku memang benar-benar sudah habis kali ini, aku sama sekali tidak bisa bangkit kembali.

“Ryochan!”, jerit Chinen. Di depanku sudah berdiri salah satu makhluk kegelapan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk lari.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menahan makhluk kegelapan itu. Gerakan makhluk kegelapan itu terhenti. Aku bisa melihat beberapa sosok transparan yang mendekat ke arahku. Sosok-sosok itu kemudian menarik mundur makhluk kegelapan yang ada di dekatku. Tidak hanya itu, aku melihat sosok-sosok transparan semakin banyak, sosok itu beraneka wujud. Para makhluk kegelapan dipukul mundur oleh sosok transparan itu.

“Apa yang terjadi? siapa mereka? apa itu para hantu?”, tanyaku yang tidak mengerti apa yang telah terjadi.

“Bukan. Lebih tepatnya mereka itu para roh. Roh terbentuk dari sisa energi yang tersisa dari tubuh aslinya saat mereka meninggalkan dunia ini”, sahut master. “Tapi, ini aneh sekali”, tambah master.

“Apa yang aneh?”, tanyaku.

“Roh-roh ini sangat susah dikendalikan. Mereka tidak mungkin datang sendiri dengan sukarela. Butuh kekuatan yang sangat besar dan ilmu yang cukup tinggi. Ada seseorang yang memanggil mereka dan mengendalikan mereka”, jawab master.

“Eh, berarti ada seseorang yang menolong kita”, sahut Chinen.

“Ya. Tapi justru itulah yang aneh”, kata master.

“Apanya?”, aku masih tidak mengerti.

“Memanggil roh dan mengendalikan mereka adalah salah satu ilmu sorcery, yang berarti satu-satunya yang bisa menggunakannya adalah sang sorcerer”, jawab master.

“Hah? Bukannya sang sorcerer sudah mati beberapa ratus tahun yang lalu?”, tanyaku lagi.

“Iya. Makanya itu, ini aneh sekali”, gumam master.

“Begitu rupanya”, gumam Jin sambil mengamati lantai di bawah kakinya.

“Kenapa Jin?”, tanyaku.

“Tidak. Nanti saja kujelaskan. Aku juga belum yakin tentang hal ini”, jawab Jin. Tampaknya dia sama sekali tidak berniat memberitahu kami.
Aku melihat para roh yang beterbangan. Mereka terus saja muncul tanpa henti. Para roh itu terus memukul mundur para makhluk kegelapan. Meskipun King terus saja menciptakan dan membangkitkan lagi para makhluk kegelapan, akan tetapi para roh berhasil membasmi mereka.

Di bawah, .....

“Apa ini? aku merasa ada energi yang melimpah ruah masuk ke dalam tubuhku”, ucap Daiki. Luka di tubuhnya perlahan-lahan juga mulai menghilang.

“Ini kekuatan Healing. Temanmu menggunakan kemampuannya itu dan mengirim sejumlah besar energinya kepada teman-temannya yang lain”, Daiki bisa mendengar suara sang sorcerer dalam pikirannya karena saat ini sang sorcerer berada dalam tubuh Daiki.

“Yamada....”, gumam Daiki. Dia merasa sangat berterima kasih pada Yamada yang telah membantunya.

“Lebih baik, kita segera menutup segel ini. Jangan sia-siakan usaha temanmu. Lebih cepat kita menutup segel ini, maka akan semakin baik. Aku bisa merasakan kekuatan sang necromancer terus keluar dari balik segel ini”, ucap sang sorcerer.

Daiki mengangguk. Dia berusaha mengeluarkan seluruh energinya. Dia berusaha meningkatkan konsentrasinya dan mengerahkan seluruh energi yang dia punya ke kedua tangannya. Akan tetapi segel itu belum juga tertutup.

“Apa segini masih belum cukup?”, keluh Daiki. Pintu segel masih tetap terbuka. Bahkan ketika Daiki mengeluarkan seluruh tenaganya, pintu segel itu hanya bergerak sedikit.

“Ayo, tetap semangat Daichan”, tiba-tiba Yuya muncul di hadapannya. Yuya meletakkan kedua tangannya di atas tangan Daiki. Daiki bisa merasakan ada energi yang keluar dari kedua tangan Yuya.

“Yuya? kau sudah sadar?”.

“Ya. Beberapa saat lalu. Aku merasa tiba-tiba tubuhku pulih kembali. Energiku juga kembali. Lalu aku mendengar suaramu, aku mengikutinya, dan melihat apa yang kau lakukan. Kurang lebihnya aku tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau ingin menutup segel ini kan?”.

Daiki mengangguk, “Dari tadi aku berusaha menutupnya, tapi sama sekali tidak ada efeknya. Pintu segel ini juga hanya bergerak sedikit”.

“Aku akan membantu mengeluarkan energiku. Lebih banyak orang lebih baik kan?”, ucap Yuya sambil tersenyum. Daiki mengangguk lagi. Dia dan Yuya akhirnya mengeluarkan seluruh energi yang mereka miliki dan berfokus untuk menutup segel itu. perlahan, pintu segel mulai bergerak menutup. Daiki dan Yuya langsung terlihat lega saat melihatnya.

“Aku akan memanggil kembali para roh”, ucap sang necromancer.

Di atas,.....

Para roh terus bertarung melawan para makhluk kegelapan. Makhluk kegelapan tidak bisa melukai para roh, tapi para roh bisa melukai makhluk kegelapan. Kami hanya melihat pertarungan para roh dan makhluk kegelapan. Aku terus bertanya-tanya, apakah semua ini perbuatan sang sorcerer?

“Ryuu!”, jerit Inoo. Aku langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Inoo. Aku bisa melihat sosok Ryuu yang sedang terbang tidak jauh dari kami. Sosoknya transparan.

“Ryuu...”, gumamku pelan. Aku masih bisa mengingat saat terakhir Ryuu bersama kami. Aku merasa sedikit lega saat melihat Ryuu sekarang. Tubuhnya terlihat sehat dan segar, meskipun sosoknya transparan. Aku sangat senang bisa melihatnya lagi untuk kedua kalinya.

Ryuu mendekat ke arah kami. Dia membungkukkan badannya ke arah kami, seakan ingin menyapa kami. Dia tersenyum ke arah kami. Ini pertama kalinya aku melihat senyumnya itu. Wajahnya tampak sangat manis. Dia kemudian melambaikan tangannya ke arah kami sambil berlalu pergi.

“Ryuu!”, panggilku. Ryuu hanya membalasku dengan lambaian tangannya. Dia kemudian menuju ke arah King. Dia mengangkat tubuh King dan berlalu pergi bersama dengan King. Aku bisa melihat King meronta untuk melepaskan diri dari Ryuu, tapi tampaknya dia tetap tidak bisa melarikan diri. Para roh yang lain juga membawa pergi para makhluk kegelapan yang tersisa. Mereka membawa semua makhluk kegelapan pergi ke suatu tempat.

“Apa yang terjadi? kemana para roh itu membawa para makhluk kegelapan pergi?”, tanyaku.

“Entahlah. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi”, jawab Yabu.

“Lalu, apakah ini berarti pertarungan kita sudah selesai?”, tanya Chinen.

“Bisa dibilang begitu”, sahut Yabu. “Tapi, kita masih harus menutup segel”, tambah Yabu.

“Soal itu tidak usah dikhawatirkan. Cepat atau lambat segel itu akan menutup lagi. Lebih baik kalian beristirahat dulu sebentar”, ucap Jin.
Kami semua saling berpandangan tidak mengerti. Kami sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Jin. Akan tetapi, kami bermaksud untuk menuruti perkataannya. Jin benar, kami sudah sangat lelah sehingga akhirnya kami semua memutuskan untuk beristirahat.

Di bawah,....

“Mereka sudah tiba”, ucap sang sorcerer. Daiki melihat ada beberapa roh yang datang sambil membawa makhluk kegelapan. Roh-roh itu melemparkan para makhluk kegelapan ke balik pintu segel yang terbuka. Satu persatu para makhluk kegelapan masuk ke dalamnya. Tidak terkecuali para petinggi maou dan prajurit kegelapan yang tersisa.

“Akan kubalas kalian semua!”, seru King sebelum Ryuu melemparkannya ke balik pintu. Daiki tercengang saat melihat Ryuu dalam sosok transparan berdiri di hadapannya.

“Ryuu...?”, tanya Daiki. Ini pertama kalinya Daiki melihat Ryuu lagi setelah dia bebas dari sekapan Jack. “Kenapa sosokmu seperti itu?”, Daiki melihat ke arah Yuya, “Apa yang terjadi sebenarnya?”.

Yuya melihat Daiki, dia merasa resah. Yuya belum memberitahu Daiki kalau Ryuu telah tewas. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Daiki. Yuya berpikir akan memberitahu Daiki setelah ini semua selesai, tapi tidak disangka kalau Daiki akan mengetahuinya sebelum itu.

Ryuu mendekat ke arah Daiki. Dia memeluk Daiki. Meskipun Ryuu tidak bisa memeluk langsung Daiki, tapi Daiki masih bisa merasakan kehangatan pelukan Ryuu. Ryuu membuka mulutnya, mulutnya bergerak seakan mengucapkan sesuatu, tapi sama sekali tidak ada suara yang terdengar. Ryuu kemudian tersenyum dan perlahan-lahan melepaskan pelukannya. Daiki meneteskan air matanya. Ryuu mengusap air mata Daiki yang jatuh dan kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Yuya hanya diam melihat saja melihat mereka berdua.

“Daichan, maaf....”, kata Yuya pelan. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Daiki.

Daiki menggeleng, “Tidak apa-apa Yuya. Aku mengerti. Ryuu tadi sudah menceritakan semuanya. Sekarang kita harus segera menutup segel ini sebelum mereka berhasil lolos lagi”. Daiki mengerahkan seluruh tenaganya ke arah lingkaran sihir yang ada di bawahnya. Yuya pun mengikuti Daiki. pintu segel semakin lama semakin sempit dan akhirnya mulai menutup. Kali ini segel berhasil ditutup. Yuya dan Daiki terlihat sangat senang karena berhasil menutup sgel tersebut. Usaha keras mereka kini terbayarkan.

“Terima kasih Daiki. berkat bantuanmu, segel ini berhasil ditutup kembali”, sang sorcerer keluar dari tubuh Daiki. Yuya melongo saat melihat sosok sang sorcerer keluar dari tubuh Daiki. “Terima kasih”, sang sorcerer perlahan menghilang dari hadapan Daiki dan Yuya.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar