Senin, 07 Maret 2016

LAST PRESENT

Cast : Takaki Yuya, Inoo Kei, Arioka Daiki
Genre : failed angst
Summary : Inoo memberikan hadiah terakhirnya pada Takaki.
Disclaimer : Hanya cerita ini saja milikku. Tokohnya hanya idolaku saja.

Kriing!!!!

Alarm terus berbunyi. Sudah lebih dari 10 menit ini alarm itu terus berbunyi. Tapi Takaki enggan mematikan alarm itu. Matanya sudah terbuka. Jauh sebelum alarm itu berbunyi. Lebih tepatnya dia sama sekali belum memejamkan matanya. Dia ingin memastikan kalau itu semua bukanlah mimpi.

Takaki melihat ke arah pintu kamarnya. Biasanya Inoo akan masuk dan memarahinya karena tidak segera bangun. Tapi, seberapa lamapun Takaki menunggu Inoo tidak akan datang. Ya, mulai hari ini, Inoo tidak membangunkannya lagi.

"Kau benar-benar sudah tiada, Inoo?"

Takaki menyalakan hpnya dan melihat wallpapernya. Disana ada fotonya dan Inoo yang memakai telinga kucing dan anjing. Biasanya Takaki akan selalu tertawa saat melihat ekspresi Inoo yang aneh, tapi kali ini dia menatap foto itu dengan raut sedih. Foto aneh itu malah membuatnya kangen tidak terkira.

BRAAKKK!

Pintu kamar Takaki terbuka lebar. Takaki senang saat mengira Inoo-lah yang membuka pintu, bahwa kematian Inoo hanyalah mimpi semata, bahwa Inoo masih hidup sampai sekarang. Tapi raut wajah Takaki berubah saat melihat sosok pendek yang masuk ke dalam kamarnya. Itu bukan Inoo.

"Arioka? Ada apa kau kemari?"

"Bakaki!!! Mau sampai kapan alarmmu bunyi ha?!?! Ini sudah 15 menit!" Daiki menghampiri alarm di meja dan mematikannya. "Kalau kau sudah bangun. Cepat matikan alarmmu dan keluar dari kamarmu! Untung aku datang kemari sebelum tetanggamu datang mengkomplain soal suara ribut dari kamarmu!"

Takaki hanya diam menatap Arioka. Bagaimana bisa Arioka masuk kemari? Apa yang dilakukannya disini? Kenapa dia kemari?

"Ini", Daiki menyerahkan sebuah amplop putih kepada Takaki.

"Apa ini? Dari siapa?"

"Inoo-chan bilang kalau surat ini akan menjelaskan semua pertanyaanmu saat ini"

Takaki terkejut saat Arioka menyebut nama 'Inoo'. Dia langsung menyambar surat itu dan membukanya. Sedangkan Arioka hanya menunggu Takaki membaca isi surat itu.

-----

My lovely prince... Ohayou!!!

Apa kau sudah bangun?
Ah, sebaiknya kau bangun sebelum tetanggamu marah karena suara alarmmu yang terlalu berisik. Kau tahu kan kalau dia orang yang sangat galak?
Berterimakasihlah pada Dai-chan yang sudah mematikan alarmmu.

Ara? Kau bingung kenapa aku tahu Dai-chan ada disana?
Tentu saja aku tahu sayang... Karena aku yang meminta Dai-chan untuk mengantarkan surat ini padamu. Dan kalau kau sedang membaca surat ini, berarti dia ada disana kan?

Aku tidak akan mengatakan hal klise seperti, 'jika kau membaca surat ini berarti aku sudah tidak ada di dunia ini'. Meskipun kenyataannya aku memang sudah tiada.

Tunggu! Apa aku merasa kalau itu adalah air mata?
Jangan menangis sayang... Aku masih selalu melihatmu, meskipun aku juga tidak yakin apakah benar bisa melihatmu saat aku sudah meninggal. Kebanyakan film yang kita lihat bercerita soal itu sih. Kuharap benar.

Yuya...
Terima kasih sudah menemaniku.
Kau adalah orang yang manis dan romantis yg pernah ada. Aku merasa sombong memilikimu sebagai pacarku. Sudah berapa orang yang iri denganku karena memiliki pacar yang keren sepertimu? Entahlah. Ah, Dai-chan sepertinya iri juga padaku meskipun dia tidak menunjukkannya.

Aku tidak khawatir meninggalkanmu sendirian. Kau bukan anak kecil lagi kan? Kau bisa menjaga dirimu sendiri. Tapi... Aku tidak tega membiarkanmu kesepian. Karena aku tidak bisa menemanimu lagi, aku memberikanmu sebuah hadiah. Ya, selama ini aku selalu menerima hadiah darimu, jadi kupikir tidak ada salahnya memberimu hadiah. Meskipun ini akan jadi hadiah terakhir dariku.

Apa kau penasaran dengan hadiah dariku?
Yah... Hadiah dariku adalah orang yang mengantar surat ini padamu. Kau terkejut? Yay!!!
Dai-chan memang tidak secantik diriku, aku masih jauh lebih baik darinya. Dia pendek, tukang makan, dan gampang emosi. Tapi dia adalah orang yang baik. Dia juga anak yang lucu dan menggemaskan. Aku yakin, kau tidak akan pernah merasa kesepian saat bersama dengannya.

Ah, rahasiakan darinya kalau aku memanggilnya pendek ya... Dia tidak suka dipanggil seperti itu. Kau pasti tidak mau merasakan sakit yang parah saat kau membuatnya marah.

Sampaikan salamku padanya ya...
Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik.
Oh ya! Mulai saat ini, mintalah dia untuk membangunkanmu menggantikanku. Dia lebih jago membangunkan orang. Jadi kau tidak usah khawatir. ;)
Ah, kau juga bisa memintanya untuk memasak makanan untukmu. Makanan buatannya jauh lebih enak daripada buatanku. Kau juga bisa memintanya kalau kau kesepian. Kalau dia tidak mau, bilang saja aku akan mengancamnya. Dia tidak akan menolak kalau kau menyebut namaku.

Ne sayang, satu hal lagi sebelum aku pergi.
Aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Oleh karena itu, cepat lupakan aku dan temukan kebahagiaanmu sendiri.

Salam sayang dari dunia sana
Inoo Kei
-----

Takaki menghela nafasnya. Sifat random Inoo yg khas terasa sekali di surat itu. Dia tidak tahu apakah harus menangis, terkejut, atau tertawa saat membacanya. Yang jelas dia sedikit merasa lega ketika dia bisa mencium bau Inoo dari surat itu walaupun sedikit.

"Hei..."

Takaki mendongak. Arioka berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tampak sangat cemas. Takaki lalu ingat kembali isi surat dari Inoo.

"Arioka...", panggil Takaki pelan. "Terima kasih sudah mematikan alarm itu"

Arioka tersenyum. "Sama-sama. Inoo memintaku melakukannya. Aku hanya melakukan keinginan terakhirnya"

"Ini" Arioka menyerahkan sebuah kunci pada Takaki. Takaki tahu itu kunci pintu kosnya yang dia berikan pada Inoo. "Aku harus mengembalikan ini padamu"

Takaki mendorong pelan kunci itu. "Simpanlah. Aku yakin itu juga keinginan Inoo. Sebagai gantinya, bisakah kau membangunkanku tiap pagi? Aku kesulitan untuk bangun sendiri"

"Baiklah"

Dan mulai saat itulah lembaran hidup baru Takaki tanpa Inoo dimulai.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar