Kamis, 17 Maret 2016

2 OF US

Cast : Yabu Kota dan Yaotome Hikaru
Genre : g tau... XD

Yabu dan Hikaru. Biasa disebut YabuHika. Mereka adalah pasangan sahabat yang sering bersama sejak kecil. Berada di grup yang sama saat junior bahkan hingga debut di grup yang sama juga. Tidak heran mereka mengenal satu sama lain dengan baik.

Perkenalan awal mereka tidak begitu baik. Hikaru baru masuk ke JE setahun setelah Yabu masuk. Saat Hikaru masuk, Yabu sudah terbiasa masuk TV. Yabu juga sudah biasa bernyanyi di atas panggung. Saat Hikaru bertemu dengan Yabu untuk pertama kalinya, Yabu bersikap dingin. Pandangannya menunjukkan aura 'senpai' yang cukup jelas terasa. Dan Hikaru sedikit tidak menyukai hal itu.

Awalnya Hikaru malas ketika dia mendapatkan job bersama dengan Yabu. Hikaru pikir, Yabu adalah orang yang sombong. Tapi, lama kelamaan Hikaru mengerti. Yabu adalah orang yang baik. Yabu bahkan mengajarinya gerakan dance yang tidak dia mengerti, membantunya menghapal lirik, dan bahkan membantunya mengerjakan PR sekolah.

Yabu juga orang yang gampang kesepian. Hikaru tidak pernah melihat Yabu sendirian. Pasti akan ada orang yang berada di samping Yabu. Entah itu Shoon, Taiyou, Inoo, bahkan para senpai juga dekat dengannya. Seperti Kamenashi, Akanishi, Nakamaru. Terkadang Hikaru iri dengan sifat Yabu yang mudah dekat dengan siapa saja itu.

---***---

Yabu sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa berteman dengan seseorang selama bertahun-tahun. 12 tahun lebih Yabu dan Hikaru saling mengenal. Well, yah... Meskipun sebenarnya dia lebih lama berteman dengan Inoo. Yabu dan Inoo masuk dalam waktu yang sama. Tapi, karena mereka tidak dalam satu grup dan tidak satu sekolah, membuat ada sedikit jarak antara dia dan Inoo.

Yabu tidak suka dengan Hikaru. Itu kesan pertama Yabu. Semenjak Yabu mendengar ada anak baru yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari yang bagus, Yabu merasa mulai ada saingan. Dia takut posisinya bergeser. Yabu memang memiliki suara yang bagus, tapi sayangnya, dia tidak terlalu bisa menari. Karena dia sering mendapat bagian menyanyi di depan, dia jarang menjadi backdancer untuk senpainya. Oleh karena itu, Yabu merasa terancam dengan kedatangan anak baru yang berbakat ini.

Yabu berusaha menjauhi Hikaru pada awalnya. Dia selalu memasang ekspresi tidak bersahabat setiap kali Hikaru ada di dekatnya. Membuat ada jarak di antara mereka. Dan Yabu tahu kalau Hikaru juga merasa kalau Yabu menjauhinya, tapi Yabu tidak peduli. Dia tetap menjauhi Hikaru.

Tapi setelah sekian lama selalu bersama, baik itu dalam hal pekerjaan maupun sekolah, membuat Yabu akhirnya mengerti kalau Hikaru tidak seburuk yang dia kira. Perlahan Yabu mulai membuka hatinya dan bersikap lebih ramah pada Hikaru.

---***---

"Apa salahku kali ini?"

Yabu menoleh dan mendapati Keito sedang meringkuk di dekatnya. Mukanya tampak sangat sedih. Lututnya ditekuk.

"Hika lagi?"

Keito mengangguk. Yabu menghela nafas panjang dan mengusap pelan rambut Keito. Keito menutup wajahnya. Sepertinya dia akan menangis.

"Hikaru tidak marah padamu. Dia hanya terlalu disiplin. Dia ingin gerakanmu sempurna"

"Aku tahu. Aku tahu kalau Hikaru-kun bermaksud baik, tapi ucapannya...."

Suara Keito mulai terdengar parau. Jelas sekali dia menahan agar tangisannya tidak keluar. Meskipun begitu, Yabu bisa melihat setitik air mata yang siap mengalir turun dari ujung matanya.

"Keito... Mau sampai kapan kau melakukan kebiasaanmu ini? Kau laki-laki, laki-laki tidak boleh mengeluarkan air mata. Cukup satu 'onee' saja di JUMP ini"

"Etto... Kau tidak membicarakanku kan Yabu?", sahut Takaki yang rupanya berdiri tidak jauh dari Yabu. Dia sedikit terusik saat mendengar kata 'onee'.

"Memangnya ada lagi yang lain selain dirimu, baka onee"

"Yamada..." Takaki melihat Yamada dengan ekspresi sedikit sedih. Tapi Yamada tidak peduli. Dia bahkan mengatai Takaki 'baka onee', sekali lagi.

"Don't mind! Don't mind! Hora Takaki! Cheer up!"

Daiki menepuk pundak Takaki dengan ceria. Mereka berdua mengikuti Yamada dan melanjutkan latihan dance.

Yabu hanya tersenyum kecil melihat tingkah teman-temannya. Tingkah mereka sangat menghibur. Yabu masih terus menemani Keito yang masih terpuruk karena omelan Hikaru.

"Nah Keito! Ayo kita latihan lagi! Kalau kau tidak segera kembali latihan, Hikaru akan merasa tidak enak"

"Hah? Kenapa?"
"Karena dia peduli padamu. Dia sekarang merasa tidak enak karena terlalu berlebihan memarahimu"

"Bagaimana kau tahu? Dia sudah biasa begini. Tidak mungkin dia merasa tidak enak padaku. Aku kan juniornya"

Yabu menepuk kepala Keito lagi dan memberikan senyuman tipis, "karena aku tahu apa yang dipikirkan olehnya. Tidak usah bicara, aku sudah tahu. Karena kami kembar tak sedarah"

"Hah?"

Keito masih ingin bertanya lebih jauh, tapi Yabu keburu menariknya kembali latihan.

---***---

"Terima kasih"

Yabu menaruh botol minumnya dan menandang Hikaru yang berdiri sambil berganti baju di sebelahnya.

"Untuk apa?", tanya Yabu.

"Kau kan yang menenangkan Keito? Aku tidak tahu harus bersikap apa padanya. Aku bersikap kasar padanya tanpa kusadari"

"Itu memang kebiasaanmu kan? Aku mengerti kok"

"Habisnya... Itu anak diajari tidak mengerti. Berkali-kali salah. Jika aku memarahinya, dia langsung menangis"

"Ya, ya, ya... Aku mengerti", gumam Yabu.

"Yabu.. Kau bisa jadi ibu yang baik", celetuk Hikaru tiba-tiba.

Yabu yang hendak meminum airnya lagi langsung terhenti. "Hah? Kenapa kau bicara begitu tiba-tiba?"

"Habisnya.. Kau dewasa. Kau bisa mengerti semua member. Kau bisa member nasihat pada mereka. Kau selalu bisa diajak bicara. Kau menenangkan semuanya. Seperti seorang ibu"

Yabu tertawa. "Kalau begitu kau bisa menjadi seorang ayah"

"Hah?"

"Kau keras dan disiplin. Kau juga menuntut semuanya sempurna dan tepat waktu. Tapi itu semua kau lakukan demi kebaikan mereka juga. Kau terlihat cuek dan pelit, tapi sebenarnya kau perhatian. Kau selalu tahu kalau ada di antara kami yang tidak enak badan. Ah, karena kau jago beladiri, kau bisa menjaga kami"

"Jaa... Kalau begitu kita menjadi ayah dan ibu?"

"Menjijikkan", Inoo yang akan berganti kostum tiba-tiba datang berkumpul karena mendengar pembicaraan mereka berdua. "Aku tidak tahu kalau kalian sudah menikah. Kapan?"

Yabu memukul kepala Inoo sedangkan Hikaru tiba-tiba memeluknya. "Kau bicara apa sayang? Kan aku sudah menikah denganmu", goda Hikaru.

"Aku tidak ingat soal itu", jawab Inoo sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Hikaru.

"Hidoi... Bahkan anak kita sudah sebesar ini", Hikaru menunjuk ke arah Daiki yang barusan masuk. Daiki hanya melongo karena tidak paham apa yang terjadi.

"Inoo... Kau tega melakukan ini pada kami. Jadi selama ini kau selingkuh dengannya? Kau melupakanku dan anakmu ini?" Yabu ikut dalam permainan menggoda Inoo. Dia merangkul Takaki yang sama sekali masih tidak mengerti apa yg terjadi.

"Kalian berdua sudah gila! Aku mau keluar!"

Yabu dan Hikaru tertawa bersamaan sambil melihat Inoo yang berjalan keluar. Sedangkan Takaki dan Daiki saling berpandangan karena tidak mengerti apa yang terjadi.

"Nice acting Hikaru"

"Nice follow Yabu"

---***---

"Tidak mau. Aku sedang diet"

Hikaru menatap teleponnya yang baru saja ditutup Takaki beberapa menit yang lalu. Hikaru ingin keluar untuk makan dan dia mengajak Takaki karena Takaki tahu banyak tempat yang memiliki makanan enak. Tapi Takaki menolak ajakannya. Ini bukan pertama kalinya Takaki menolak ajakan Hikaru.

"Kau akan tetap gembul meskipun diet. Bakaki", gerutu Hikaru.

Dia masih menatap hpnya. Bingung dengan siapa yang akan dia ajak. Sebuah telepon masuk mengagetkan Hikaru.

"Yabu?"

"Yo Hika! Kau lapar? Ayo makan. Temui aku di xxxxxxxx"

Yabu langsung menutup teleponnya.

"Ap----" Hikaru ingin bertanya pada Yabu tapi Yabu sudah memutus teleponnya. Hikaru langsung berdiri dan menuju keluar, ke tempat yang dimaksud Yabu.

---***---

"Hei!"

Hikaru menoleh dan mendapati Yabu sedang melambai ke arahnya, dia langsung menuju ke arah Yabu.

"Ayo cepat pesan. Aku sudah lapar", Yabu menyerahkan buku menu ke Hikaru.

"Anoo... Yabu. Kenapa kita makan disini?"

"Karena aku lapar"

"Bukan itu maksudku", Hikaru mulai sedikit kesal.

"Karena kau kesepian". Hikaru sedikit terperanjat. "Aku merasa kalau kau sedang butuh teman saat ini. Kau berbeda dengan Inoo yang selalu meneleponku kalau dia sedang butuh teman"

"Darimana kau tahu aku butuh teman?"

"Hmm..." Yabu mulai berpikir. "Insting? Aku selalu tahu apa yang kau pikirkan dan kau rasakan. Karena kita---"

"Kembar tidak sedarah", potong Hikaru. "Cukup. Aku mengerti"

Yabu tersenyum dan melihat kembali buku menunya. Sedangkan Hikaru menutup wajahnya dengan buku menu. Dia tidak ingin wajahnya yang sedang tersipu terlihat jelas di hadapan Yabu. Dan dia sangat bersyukur karena Yabu ada disini.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar