Jumat, 18 Maret 2016

TASTE SO SWEET

(Sebelumnya sudah pernah kupost di blog satunya. Karena ada masalah teknis, jadi kurepost disini dulu. Ini kurepost dengan sedikit penambahan kalimat dan dialog. Alur cerita tetap)

Chapter 1

Daiki menuju ruang makan dengan malas. Dia paling benci bangun pagi. Sebenarnya, masih banyak waktu sebelum sekolah dimulai. Sekolah dimulai jam 8 pagi, tapi ibunya selalu membangunkannya jam 6. Daiki terpaksa menuruti perintah ibunya untuk bangun daripada harus berpisah dengan pocky kesayangan selama seminggu? Big No!

Keluarga Arioka sangat disiplin. Pukul 5 pagi, seluruh anggota keluarga sudah bangun dan memulai aktifitas pagi. Hanya Daiki saja yang harus dibangunkan jam 6 yang menurut ibunya ini sudah terlalu siang.

Dengan langkah malas, Daiki menyeret kakinya ke ruang makan. Disana sudag duduk seorang pria yang sedikit lebih tua darinya dan ibunya. Daiki tidak heran ketika tidak melihat ayahnya. Ayahnya memang selalu berangkat lebih awal untuk bekerja.

"Ohayou... Chibi..."

Daiki menatap tajam ke arah pemuda yang sudah bersiap terlebih dahulu di meja makan. Dia sangat tidak suka dipanggil 'chibi'. Ketika dia bersiap akan meninju kakaknya itu, ibunya menghentikannya dengan mengatakan sesuatu.

"Daisuke... Jangan ganggu adikmu. Daiki. Cepat duduk"

Daiki menurut. Sebelum duduk dia menatap Daisuke dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'awas-kau-nanti'. Daisuke hanya tertawa melihat reaksi adiknya. Daisuke sayang dengan adik pendeknya itu, hanya saja rasa sayangnya ditunjukkan dengan cara mengganggu adiknya itu.

Ibu Arioka menyodorkan sebuah kotak kecil ke arah Daiki. Daiki tahu apa itu tanpa membuka isinya. Itu hal yang sudah biasa bagi Daiki.

"Produk baru?", tanyanya sambil membuka kotak itu.

"Benar. Kita akan meluncurkannya besok. Nanti malam akan ada pesta untuk perilisan produk ini. Kau harus datang. Kau boleh mengajak Yabu dan Yaotome"

Daiki mengangguk. Matanya kini terpaku pada sebuah smartphone baru keluaran perusahaan keluarganya. Bentuknya tidak terlalu beda dengan smartphone sebelumnya. Daiki mencoba menyalakannya dan mengoperasikannya. Yah, setidaknya produk baru ini jauh lebih mudah dioperasikan daripada tipe yang sebelumnya.

"Bagaimana?", tanya ibunya.

"Aku suka", komentar Daiki. "Aku akan menunjukkan ini pada Yabu dan Hikaru"

Dia kemudian memasukkan smartphone barunya itu ke saku celananya dan mulai bersiap menyantap sarapannya. Ibunya terlihat lega karena Daiki tampak menyukai produk baru itu. Baginya, jika Daiki tidak menyukai produk baru itu, maka kemungkinan produk baru itu tidak akan laku di pasaran. Entah bagaimana, Daiki memiliki sense produk yang cukup bagus. Dan itu sangat membantu.

---***---

"Sarapan anda sudah siap Tuan muda"

Seorang pelayan membungkukkan badannya di depan seorang pemuda jangkung yang bisa dibilang cukup kurus. Pemuda itu tersenyum. Matanya terlihat sedikit menutup saat dia tersenyum. Oh ya, dia memiliki 'eye smile', dan itu yang membuatnya terlihat manis, menurut para cewek. Dia menutup buku yang sedang dibacanya dan meletakkannya diatas meja.

Yabu memang memiliki kebiasaan membaca buku saat pagi hari. Menurutnya membaca buku pagi hari membuat dia lebih mudah menghapal dan memaknai isi buku yang dibacanya.

"Terima kasih Shoon, kau boleh pergi"

Pelayan itu membungkukkan badannya sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan. Pemuda itu merapikan seragamnya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan. Langkahnya terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke hpnya.

-----
Halo Tuan muda Yabu Kota~~~
Kau pasti sudah bangun kan???
Jemput aku kalau kau akan pergi ke sekolah.
Aku ingin berangkat bersamamu
-----

Yabu tersenyum saat membaca SMS itu. Dia kemudian mengetikkan balasan.

-----
Rumah Daiki jauh lebih dekat daripada rumahku.
Kenapa kau tidak meminta dia menjemputmu?
Terlebih lagi, kemana sopirmu???
-----

Tidak butuh lama, sebuah balasan masuk ke HP Yabu.

-----
Daichan???
Apa kau lupa kalau dia selalu berangkat bersama Daisuke???
Lebih baik aku jalan kaki daripada semobil dengan Daisuke.
Sopirku sakit, asmanya kambuh.
Jemput aku. Aku akan menunggumu~~~~ :*
-----

Yabu menepuk pelan dahinya dan kemudian tertawa. Hikaru memang akrab dengan Daiki, tapi tidak dengan kakaknya. Jika Hikaru selalu menjahili Daiki, maka Daisuke yang akan menjahili Hikaru setiap mereka bertemu. Mungkin itu pembalasan Daisuke yang terlalu menyayangi adiknya. Yabu memencet interphone di dekatnya yang menghubungkan rumah keluarga dengan rumah pelayan. Memberitahukan sopirnya kalau hari ini dia akan berangkat sendirian untuk menjemput Hikaru.

---***---

Hikaru tersenyum saat membaca balasan dari Yabu. 'OK'. Singkat, padat, dan jelas. Itu artinya Hikaru tidak usah bingung lagi bagaimana caranya berangkat ke sekolah. Dia sangat bersyukur Yabu bisa menjemputnya, jika tidak maka dia akan semobil dengan Arioka bersaudara pagi ini. Dan bertemu Daisuke di pagi yang cerah ini akan merusak moodnya seharian.

Rumah Hikaru tergolong paling jauh diantara murid yang lain. Keluarganya mengelola industri ikan, tentu saja itu berarti rumahnya dekat dengan laut dan posisinya ada di pinggir kota. Perjalanan ke sekolah menurut Hikaru membutuhkan waktu yang lama. 30 menit dengan Mobil pribadi, 45 menit lebih jika mengendarai transportasi umum. Hikaru bisa saja berangkat naik kereta untuk pergi ke sekolah. Tapi Hikaru tidak suka berdesakan dengan orang banyak. Naik taksi juga bisa, tapi Hikaru tidak suka menghamburkan uangnya dengan percuma. Apa gunanya punya teman kaya? Itulah prinsip Hikaru.

Kenapa Hikaru tidak mengendarai mobilnya sendiri?

Hikaru masih berumur 16 tahun, itu artinya dia masih belum mendapat SIM. Hikaru bersumpah, jika dia berumur 17 tahun, maka hal pertama yang akan dia lakukan adalah membuat SIM. Dia sangat iri pada Yabu yang bisa menyetir Mobil sendiri karena dia sudah memiliki SIM.

Hikaru segera bersiap. Dia tidak ingin Yabu menunggunya terlalu lama jika sudah tiba. Hikaru tahu kalau Yabu adalah orang yang disiplin. Dia tidak suka menunggu dan sangat tepat waktu. Hikaru pernah terlambat datang di waktu yang mereka janjikan. Dan akibatnya Yabu memarahinya habis-habisan. Hikaru tidak ingin mengalami hal itu lagi.

Kini Hikaru sudah siap dan menanti kedatangan Yabu. Dia melihat ke arah jam, pukul 07.00. Tidak lama kemudian, dia bisa mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Segera dia mengambil tasnya dan menuju keluar, dimana Yabu telah menunggu di mobilnya.

"Dimana sopirmu?", tanya Hikaru saat melihat Yabu menyetir sendiri mobilnya. Yabu jarang membawa mobil sendiri ke sekolah. Dia tidak suka terlihat mewah. Melihat Yabu menyetir sendiri mobilnya adalah peristiwa langka. Bahkan dia tidak mau turun di area sekolah. Dia biasa turun di luar sekolah dan berjalan kaki ke dalam.

"Sopirku bertugas untuk mengantarkanku ke sekolah. Dia tidak bertugas untuk menjemputmu dan mengantarmu juga", jawab Yabu. Hikaru tertegun. Inilah yang membuatnya segan kepada Yabu. Yabu benar-benar menaati peraturan. "Lagian kalau aku tidak membawa mobilku sendiri, bagaimana aku bisa mengantarmu pulang? Sopirmu sakit kan? Itu artinya tidak ada yang mengantarmu dan menjemputmu hari ini. Jadi aku berniat untuk mengantarmu sepulang sekolah nanti"

Hikaru tersenyum senang mendengar ucapan Yabu. Dia memang teman yang bisa diandalkan. Dan saat itulah Hikaru bersyukur memiliki senpai dan sahabat seperti Yabu.

---***---

"Chibi. Kita sudah sampai"

Daiki menatap tajam ke arah kakaknya yang sedang duduk di belakang kemudi. Dia mengepalkan tangannya dan berusaha menahan amarahnya. Dia tidak ingin mengalami kecelakaan karena tindakan bodohnya.

"Jangan panggil aku chibi!!!!"

Daisuke tertawa, dia lalu mengacak-acak rambut adiknya itu. Daiki menyingkirkan tangan Daisuke seolah berkata bahwa dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Tanpa berkata apapun lagi, dia segera keluar dari mobil. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah mobil Mercedes hitam yang pernah dia lihat. Mobil yang hanya bisa dia lihat ketika dia mengunjungi rumah Yabu.

Jendela mobil itu terbuka. Matanya semakin terbuka lebar ketika melihat Hikaru melambaikan tangannya dari dalam mobil sedangkan Yabu hanya tersenyum sekilas lalu kembali fokus menyetir.

Daiki langsung berlari menuju mobil hitam itu. Dia lupa dengan Daisuke yang mengantarnya. Daisuke hanya menggelengkan kepala lalu melanjutkan perjalanan menuju kampusnya.

"Yabu!!! Hikaru!!!"

Mobil itu terparkir secara sempurna di tempat parkir sekolah yang cukup luas. Tentu saja sekolah ini memiliki tempat parkir mobil. Hampir semua murid memiliki mobil pribadi. Tentu saja. Ini sekolah tempat para elite berkumpul. Tentu tidak mengherankan kalau tiap siswa memiliki mobil pribadi kan?

"Daichan... Kau kangen padaku???", tanya Hikaru saat keluar dari mobil. Hikaru membuka lebar tangannya seolah menyambut Daiki dalam pelukannya. Tapi Daiki bukannya memeluk seperti harapan Hikaru, dia malah mencengkeram kerah bajunya.

"Kenapa kalian berangkat bersama?! Tidak adil!"

"Sopirku sakit, lalu aku meminta Yabu menjemputku"

"Kenapa kalian tidak menjemputku juga???"

"Bukannya kau selalu diantar kakak tersayangmu? Tadi dia juga yang mengantarmu kan?? Aku tidak ingin berurusan dengan kakakmu pagi-pagi, bikin moodku turun saja"

"Tapi aku tidak mau diantar olehnya... Aku juga ingin bersama dengan kalian"

Daiki cemberut. Dia mulai bertingkah seperti anak kecil. Yabu mendesah. Ini tandanya Daiki akan susah diajak bicara hingga rasa cemberutnya hilang. Dia membuka tasnya, saatnya mengeluarkan senjata pamungkas.

"Daiki, pocky?"

Muka Daiki langsung berubah menjadi lebih cerah. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menyambar pocky yang ada di tangan Yabu. Yabu tersenyum puas karena dia berhasil menjinakkan temannya itu sedangkan Hikaru hanya menggelengkan kepalanya karena heran Daiki bisa dengan gampangnya disuap oleh sekotak pocky.

"Dasar maniak pocky", gumam Hikaru

"Semoga hari ini bisa berjalan dengan tenang", gumam Yabu. Dia sudah tidak memiliki persediaan pocky lagi. Jadi, jika Daiki membuat ulah, dia tidak bisa menenangkannya lagi seperti ini. Yabu menatap tajam ke arah Hikaru, seolah mengatakan 'jangan ganggu Daiki hari ini', dan Hikaru mengangguk mengerti. Hikaru tidak ingin berurusan dengan Yabu yang sedang marah. Yabu sangat menyeramkan ketika dia marah.

"Ah!", Daiki tiba-tiba berseru. Dia lalu merogoh sakunya dan mengambil smartphone barunya untuk ditunjukkan ke dua temannya itu. "Bagaimana menurut kalian?"

"Produk baru??? Cepat sekali keluar. Bukannya kalian baru saja merilis 2 minggu yang lalu???", tanya Hikaru sambil mengamati smartphone itu.

"Yah... Perkembangan teknologi berkembang lebih cepat daripada dugaan kalian. Jadi, bagaimana???", tanya Daiki sambil sibuk mengunyah pocky pemberian Yabu.

Daiki memiliki kebiasaan memamerkan produk baru kepada temannya. Daiki tidak bermaksud pamer kekayaan, tapi dia hanya meminta pendapat temannya mengenai produk baru. Mendengar pendapat orang lain tentu sangat berguna.

"Woww... Fantastis! Aku suka tipe yang ini! Jauh lebih praktis daripada sebelumnya", komentar Hikaru. Matanya terus terpaku pada smartphone itu. Tangannya terus mengutak-atik smartphone baru itu. Sepertinya smartphone itu berhasil membuatnya jatuh cinta.

"Kalau kau Yabu?"

Yabu mengambil smartphone itu dari tangan Hikaru dan mengamatinya. "Hikaru benar, ini lebih mudah dipakai"

Daiki tersenyum puas mendengar pendapat kedua temannya itu. Dan dia yakin kalau produk baru ini akan laris di pasaran.

"Aku akan memberikan kalian smartphone ini kalau kalian suka"

"Hontou??? Arigatou chibi!!!"

Hikaru langsung memeluk Daiki. Saking senangnya, dia lupa telah mengucapkan kata terlarang. Dan detik berikutnya Hikaru sudah terkapar di tanah karena tendangan Daiki. Bertentangan dengan tubuhnya yang 'pendek', tenaga Daiki jauh lebih besar sehingga mampu membuat orang yang lebih besar darinya terkapar.

"Aku tidak usah Daiki", potong Yabu sebelum Daiki berteriak marah pada Hikaru. "Smartphone yang kau berikan sebagai hadiah ulang tahunku itu masih bagus. Terlebih lagi aku lebih suka smartphone itu karena memiliki arti khusus"

"Oke...", Daiki melupakan amarahnya pada Hikaru dan mulai berjalan meninggalkan Hikaru yang masih terkapar. Yabu dan Daiki berjalan menuju ke gedung sekolah lebih dulu.

"Jahatnya... Apa mereka lupa padaku?", keluh Hikaru yang masih terduduk di lahan parkir sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan Daiki.

"Kau tidak apa-apa?"

Hikaru menoleh. Seorang yang berparas cantik kini sedang berjongkok di hadapannya. Orang itu mengenakan baju bebas berwarna putih. Tapi kulit orang itu jauh lebih putih dari baju yang dikenakannya. Rambutnya yang hitam lurus tertata rapi di kepalanya yang lonjong. Bola matanya terlihat seperti mutiara hitam. Indah berkilau. Bibirnya yang merah terlihat cukup menggoda, mengundang siapapun yang melihat untuk merasakan manisnya bibir itu. Bulu matanya pendek, tapi terlihat lentik. Benar-benar wajah yang cantik. Mukanya terlalu cantik untuk ukuran seorang cowok. Hikaru tidak berani bertanya langsung pada orang itu apakah dia cowok atau cewek, karena menurutnya itu tidak sopan.

Hikaru berpikir. Kelihatannya dia bukan murid sekolah ini. Dia juga tidak terlihat seperti staff sekolah ini. Hikaru mengenal semua guru dan staff di sekolah dan dia tidak pernah melihat orang cantik ini sebelumnya.

"Haloo????", tanya orang itu lagi. Kali ini dia melambaikan tangannya di muka Hikaru. Menyadarkan Hikaru dari lamunannya. Orang itu melihat ke arah Hikaru dengan muka manisnya. Ah, Hikaru bisa merasakan mukanya sedikit memerah saat melihat orang itu.

"Ah! Gomennasai! Aku tidak apa-apa", Hikaru langsung berdiri dan merapikan bajunya. "Terimakasih sudah mengkhawatirkanku"

Hikaru bergegas pergi meninggalkan orang itu. Dia tidak ingin wajahnya yang sedang tersipu terlihat di hadapan orang itu. Hikaru menampar pipinya sendiri, berusaha menenangkan diri.

Hikaru mencoba menoleh ke belakang, tapi orang itu sudah tidak ada. Hikaru memperluas pandangannya, tapi sosok cantik itu tidak ada disana.

"Apa itu tadi mimpi?", Hikaru memegang pipinya yang masih sakit akibat tamparannya sendiri. "Tidak mungkin. Itu bukan mimpi. Kalau begitu, siapa orang itu tadi???"

"Hika!!! Sedang apa???", teriak Daiki dari depan pintu masuk. Yabu juga berdiri disana disampingnya. Menunggu Hikaru.

---***---

Pelajaran pertama akan dimulai, Yabu bergegas menuju ke ruang guru. Sebagai ketua kelas, dia memiliki tanggung jawab untuk membantu wali kelasnya. Hikaru dan Daiki sudah berasa di kelasnya masing-masing. Ketika menyusuri lorong menuju ruang guru, matanya menangkap sesuatu. Mata Yabu kini terfokus pada seseorang berbaju putih yang tampak kebingungan. Yabu menaikkan sebelah alisnya. Orang itu tidak mengenakan seragam sekolah, dan Yabu belum pernah melihatnya.

"Ada yang bisa kubantu?", jiwa menolong Yabu bangkit. Dia berusaha menolong orang yang menurut Yabu tampaknya sedang tersesat itu.

Yabu tertegun. Tanpa dia sadari, dia membuka mulutnya. Kagum dengan sosok berbaju putih itu. Orang itu sangat cantik. Tidak berlebihan kalau Yabu bilang orang itu adalah malaikat.

"Aku mencari ruang guru. Dimana ya?"

Yabu kembali takjub. Suara orang itu terdengar sangat indah. Yabu yakin, malaikat pasti bersuara seperti dia. Meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu apakah malaikat juga seindah orang yang ada di depannya ini.

"Anoo.....", orang itu mendekatkan wajahnya pada Yabu. Sangat dekat. Yabu bahkan harus memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menyentuh wajah cantik itu.

"Ah maaf, akan kuantarkan", Yabu berjalan terlebih dahulu. Orang cantik itu juga mengikuti Yabu dari belakang. Sesekali Yabu mencuri pandang ke arah orang itu. Orang itu tampak asyik melihat pemandangan sekolah ini.

"Namaku Inoo Kei", ucapnya tiba-tiba. "Mulai hari ini aku bersekolah disini. Sebelumnya aku bersekolah di luar negeri"

"Ah maafkan aku yang tidak sopan. Namaku Yabu Kota. Kelas 3. Salam kenal"

"Kelas 3??? Berarti kau senpaiku??? Salam kenal senpai!!!"

"Panggil Yabu saja tidak apa-apa kok. Temanku yang jauh lebih muda juga memanggilku Yabu", Yabu teringat akan kedua temannya, Hikaru dan Daiki yang masih duduk di kelas 2 dan 1.

"Kalau begitu, salam kenal lagi Yabu! Aku beruntung sekali bertemu dengan orang yang baik. Setiap orang yang kutemui tadi tidak ada yang mau bicara denganku. Mereka langsung kabur dan pergi setiap aku berbicara dengan mereka. Apa aku menakutkan?"

"Tidak! Kau sangat cantik!", teriak Yabu tiba-tiba. Orang cantik bernama Inoo itu langsung terperanjat kaget karena Yabu berteriak tiba-tiba. "Ah, bu-bu-bukan itu maksudku. Itu.. Karena kau sangat cantik, maka orang segan berbicara denganmu. Mereka terpesona dengan kecantikanmu"

Yabu tersipu. Mukanya langsung terasa panas. Dia berani bertaruh kalau saat ini mukanya pasti merah. 'Ini memalukan. Seandainya ada lubang disini, aku ingin segera masuk dan mengunci diriku disana. Apa yang kukatakan tadi?', batin Yabu.

"Terima kasih. Aku tahu kalau mukaku cantik. Mendengar hal itu dari orang lain cukup menyenangkan juga"

Yabu melihat Inoo dengan heran. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan Yabu.

"Ah, meskipun aku cantik. Jangan salah paham. Aku cowok". Inoo langsung membuka kancing bajunya satu persatu dan membiarkan dadanya yang mulus terbuka lebar. "Lihat! Dadaku rata kan? Ini bukti kalau aku cowok"

Yabu melongo. Imej malaikat yang menempel pada Inoo sebelumnya perlahan mulai menjauh. Yabu kini mulai melihat sosok iblis di belakang Inoo. Senyum yang dia perlihatkan saat ini sungguh berbeda dengan yang tadi.

"Kau belum percaya? Yah, memang ada sih perempuan yang berdada rata. Atau kau mau melihat bukti yang lebih menyakinkan?", perlahan Inoo mulai membuka kancing celananya.

"Stop! Aku paham! Aku tahu kalau kau laki-laki. Sudah cukup", Yabu melihat ke sekeliling. Dia bersyukur kalau saat ini lorong sekolah sepi dan hanya ada mereka berdua saja disana. Jika ada orang lain yang lewat, entah apa yang ada di pikiran mereka. Tentu mereka akan membayangkan hal yang aneh.

Inoo tersenyum. Dia mulai mengancingkan kembali celananya dan menutup kembali bajunya. Sedangkan Yabu hanya bisa menghela nafas. Dugaannya salah. Murid baru yang ada di hadapannya ini bukan seorang malaikat. Tapi seorang Iblis jahil yang bertampang malaikat. Bayangan Hikaru dan Daiki lewat di pikirannya dan Yabu paham kalau Inoo setipe dengan dua temannya itu.

'Orang yang aneh. Atau mungkin, unik?' Batin Yabu.

"Kita sudah sampai", ucap Yabu saat berdiri di depan sebuah pintu. Yabu sedikit terkejut saat pintu terbuka dari dalam. "Sakurai sensei?"

"Ah... Kau sudah tiba rupanya, Inoo Kei. Kepala sekolah sudah menunggumu. Murid pindahan satu lagi sudah tiba. Ayo ikut sensei"

"Baik sensei", Inoo langsung berjalan mengikuti Sakurai sensei. Tapi dia berhenti dan menuju ke arah Yabu. Dengan cepat dia memeluk Yabu. Yabu terkejut sehingga dia tidak bisa berkutik. Dia lebih terkejut lagi saat dia merasakan bibirnya terkena sesuatu yang manis. Inoo tersenyum sekilas sebelum melepaskan pelukannya.

"Terima kasih Kou-chan...", Inoo kembali mengikuti Sakurai sensei dan meninggalkan Yabu sendirian yang masih terpaku sambil memegangi bibirnya.

Tsuzuku~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar