Senin, 11 April 2016

13 CM

Part 4

Takaki merasa tidak enak. Beberapa hari ini dia merasa ada yang mengamatinya. Tatapan mata itu berasal dari teman satu klubnya sendiri, lebih tepatnya dari adik kelasnya, lebih tepatnya lagi dari seorang gadis yang bernama Yamada Ryosuke.

Takaki sama sekali tidak mengerti kenapa Yamada menatapnya dengan pandangan mata yang dingin (?). Yah, itu jelas bukan pandangan mata yang bersahabat.

“Daichan...”

Takaki mengedipkan matanya tidak percaya. Sifat Yamada berubah drastis ketika di hadapan Arioka. Yah, dia tidak bersikap manis layaknya tokoh perempuan yang licik di drama-drama. Lebih tepatnya dia berubah menjadi seseorang yang lebih ‘bersahabat’ di hadapan pemuda bernama Arioka itu.

‘Eh? Kenapa aku merasa terganggu dengan kedekatan Arioka dan Yamada? Mereka teman sejak SMP dan itu hal yang wajar kalau mereka dekat. Kenapa aku merasa terganggu?’, gumam Takaki dalam hati.

“Are? Taka-chan. Kau suka padanya?”

Takaki menoleh. Takaki melihat Inoo sedang tersenyum padanya. Dia tahu senyuman itu. Itu senyuman yang sedikit jahil. Senyuman yang dia keluarkan kalau dia berniat menjahili seseorang.

“Siapa?”

“Kau suka pada si chibi itu?”

Inoo menunjuk ke arah Arioka yang berlari sambil mendribble bola. Di samping lapangan, Yamada berdiri sambil memegang handuk yang tampaknya milik Arioka.

“Atas dasar apa kau bilang seperti itu?”, tanyaku balik.

“Taka-chan... kau lupa kalau aku orang yang sensitif? Tentu saja aku sadar kalau akhir-akhir ini Yamada sering melihat ke arahmu, dan kau sendiri sering melihat ke arah Arioka itu”

“Aku? Melihat ke arah Arioka? Kau salah kira paling. Aku melihat ke arah Nakajima kok”

Takaki menunjuk ke arah Nakajima yang kini sedang bertarung one-on-one dengan Arioka. Sekali lagi, pandangan Takaki terpaku pada Arioka yang sedang berusaha melewati Nakajima yang memiliki tubuh yang jauh lebih besar darinya.

“Taka-chan”, panggilan Inoo menyadarkan Takaki. “Kau tidak melihat yang bertubuh tinggi. Kau melihat yang bertubuh pendek”

Takaki melihat ke arah temannya, saat itu terdengar sorakan anggota klub basket yang lain. Rupanya, Arioka berhasil melewati Nakajima dan kini sedang mendribble bola hingga ke ring dan berusaha melakukan lay-up.

BLUSH. Bola basket itu berhasil masuk ke dalam ring dengan mulus. Tanpa Takaki sadari, dia ikut bersorak kegirangan.

"Tuh benar kan... Kau melihat Arioka-kun, bukan Nakajima-kun", goda Inoo yang membuat pipi Takaki sedikit kemerahan.

"A-a... Tidak kok. Aku melihat Nakajima kok"

Inoo tersenyum geli mendengar pengakuan temannya. Jelas-jelas tadi Takaki bersorak kegirangan saat Arioka memasukkan bola. Sekarang dia mengelak kalau dia tidak melihatnya?

"Kenapa?", tanya Takaki saat melihat Inoo yang melihatnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau tahu kalau tipeku adalah yang lebih tinggi dariku kan?"

Inoo mengangguk. Meskipun mereka jarang berbicara soal cinta, tapi saat mereka membahas soal itu, Takaki memang berulang kali mengatakan kalau dia ingin pacar yang memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya. Bahkan dia sering menolak para cowok yang ingin jadi pacarnya dengan alasan itu. Hal itulah yang membuat Takaki susah memiliki pacar karena dia adalah perempuan paling tinggi di sekolah ini.

"Taka-chan, jujur pada perasaan sendiri lebih penting", Inoo menasehati.

"Ah sudahlah, dari tadi kau bicara apa sih. Latihan, latihan", Takaki langsung membalikkan badannya dan mencoba mendribble bola sambil latihan mengatasi blocking.

Inoo menghela nafas melihat kelakuan temannya itu. "Dia melarikan diri", gumam Inoo. "Taka-chan kau lebih bahagia kalau kau jujur dengan perasaanmu sendiri"

---***---

Selain Inoo, ada seorang lagi yang mengamati Takaki dari arah kumpulan para lelaki. Laki-laki itu melihat Takaki dengan antusias. Dia tersenyum setiap kali Takaki berhasil melewati musuh dan memasukkan bola.

"Takaki-senpai sangat keren", gumam laki-laki itu.

"Kau benar", lelaki lain ikut menimpali lelaki itu.

“Nakajima!” seru lelaki itu saat tahu siapa yang ada di sampingnya.

“Tenang Arioka... tidak usah kaget begitu”

Daiki berusaha mengatur nafasnya yang masih terputus-putus karena kaget dengan kehadiran Nakajima. Dia paling tidak bisa dikejutkan tiba-tiba. Maklum, Daiki ini anaknya sedikit latah.

“Tapi memang Takaki senpai keren sekali ya... dia tidak kalah dari laki-laki”, komentar Nakajima yang tidak menghiraukan Daiki yang masih sibuk mengatur nafas. Matanya kini menatap lurus ke arah Takaki yang asyik bermain basket.

“Eh? Jangan-jangan kau...”

Nakajima tersenyum ke arah Daiki. “Sepertinya kita juga akan menjadi rival dalam urusan itu ya Arioka. Aku harap kita bisa bertanding secara sportif”, Nakajima mengulurkan tangannya ke arah Daiki lalu pergi meninggalkannya saat Daiki selesai menjabat tangannya.

---***---

Takaki masuk ke ruang ganti dengan enggan. Di dalam ada Yamada Ryosuke. Entah kenapa dia merasa kesulitan bertemu dan berbicara dengan perempuan itu. Perempuan itu selalu saja memberikan aura tidak bersahabat setiap kali melihat ke arah Takaki.
Takaki hanya diam dan menuju lokernya. Dia melewati Yamada begitu saja. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Yamada.

“Kenapa harus kau sih?”

“Maaf?”, tanya Takaki.

“Kubilang, kenapa senpai yang harus disukai oleh Daichan!”

Yamada mendorong Takaki hingga membuat Takaki menabrak pintu lokernya sendiri. Takaki hanya bisa meringis kesakitan dan berusaha untuk tidak melakukan perlawanan.

“Padahal aku yang sering bersamanya”, mata Yamada mulai terlihat sembap. “Aku yang selalu bersamanya, tapi kenapa aku bukan orang yang disukainya?”

Takaki terdiam. Dia benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa. Dia bahkan sudah cukup terkejut ketika Yamada bilang kalau Arioka menyukainya. Takaki tidak tahu harus sedih atau senang dengan hal itu. Dia memang tertarik dengan Arioka, tapi dia tidak tahu apakah itu perasaan suka atau tidak.

“Senpai... jauhi Daichan... onegai...”, pinta Yamada dengan suara yang sedikit parau. “Jangan rebut Daichan dariku”

Takaki terhenyak dengan permintaan Yamada. Dia memang tidak berniat mendekati Arioka. Arioka sendiri yang mendekatinya atas kemauannnya sendiri.

Takaki tidak tega saat melihat Yamada menangis. Cewek pendek itu meneteskan air matanya di baju Takaki. Takaki tahu kalau Yamada benar-benar menyukai Arioka. Air mata itu menjelaskan semuanya.

“Tenanglah Yamada... aku tidak bermaksud untuk merebut Arioka. Aku tidak menyukainya kok. jadi tenanglah”, Takaki menggigit bibirnya sendiri. Ada sesuatu yang membuat hatinya sakit.

“Benarkah?”, Yamada menatap Takaki dengan penuh harap. “Senpai tidak menyukai Daichan?”

“Ya”, jawab Takaki pelan. “Aku sama sekali tidak menyukainya. Jadi kau bisa tenang soal itu. Lagian tipe cowok kesukaanku itu yang berbadan tinggi kok, seperti Nakajima atau Yabu. Akan jadi bahan tertawaan kalau cowok yang kusukai itu lebih pendek dariku”

KLONTANG

Terdengar suara dari luar pintu. Takaki langsung mengecek keluar untuk melihat siapa yang ada disana. Takaki terkejut bukan main ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu. Sosok itu kini melihatnya dengan pandangan mata yang sedih.

“A..ri..o..ka....”

Tsuzuku ~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar