Chapter 2
Inoo memasuki ruangan kepala sekolah bersama dengan Sakurai sensei. Di dalam ruangan, terdapat seorang lelaki paruh baya, yang menurut Inoo adalah kepala sekolah Horikoshi. Di depannya, berdiri seorang lelaki yang tampaknya seumuran dengannya. Penampilannya terlihat sangat trendi. Rambutnya berwarna coklat kemerahan. Badannya lebih tinggi, kurang lebih tingginya sama dengan Yabu. Melihat wajahnya, Inoo langsung mengenalinya. Tentu saja, Inoo selalu melihatnya.
"Inoo Kei?", tanya Kepala Sekolah sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Inoo. Inoo segera membalas uluran tangan Kepala Sekolah dan menjabat tangannya.
"Benar pak" balas Inoo sambil tersenyum.
"Uwah, bapak tidak menyangka akan kedatangan dua murid baru. Yang satu seorang superstar, yang satu lagi seorang jenius. Sekolah ini pasti ramai dengan kehadiran kalian", gumam kepala sekolah.
Inoo melirik ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya. Dugaannya benar. Orang ini adalah Takaki Yuya, seorang superstar. Takaki sangat terkenal. Bahkan namanya juga terkenal di Amerika, tempat Inoo berkuliah disana dulu. Jelas saja kalau dia sering melihatnya. Wajahnya selalu memenuhi layar TV dan sampul depan majalah.
"Takaki akan masuk ke kelas 3-D, sedangkan Inoo di kelas 2-B" Kepala sekolah menatap ke arah Inoo. "Inoo-kun, kenapa kau tidak langsung kuliah saja? Pelajaran disini pasti sudah kau pelajari disana. Kenapa kau ingin sekolah disini?"
Inoo tersenyum. "Saya ingin menikmati masa muda saya disini pak. Di Amerika, saya hanya mengenal belajar. Disini, saya ingin menikmati masa SMA. Baru setelah itu saya akan bekerja"
Kepala sekolah mengangguk mendengar penjelasan Inoo "Baiklah. Tapi kau tetap harus mengikuti pelajaran disini seperti murid lainnya. Tidak ada peraturan khusus untukmu. Begitu juga denganmu Takaki-kun, kau juga harus mengikuti aturan disini kalau kau ingin lulus. Tidak ada peraturan istimewa bagimu meskipun kau seorang superstar"
"Tidak usah khawatir pak", Takaki akhirnya membuka suaranya. "Saya memang berniat untuk belajar saat masuk di sekolah ini. Saya ingin lulus dengan baik dan menjadi contoh bagi fans saya"
Inoo sedikit kagum dengan Takaki. Dia benar-benar seorang public figure yang baik. Tidak hanya menghibur orang lain, Takaki juga berpikir untuk menjadi contoh yang baik bagi fansnya. Tidak banyak selebriti yang memikirkan fansnya hingga sejauh itu.
"Baiklah. Selamat datang di sekolah Horikoshi. Sakurai sensei akan mengantar kalian ke kelas masing-masing. Aku berharap kalian bisa menikmati kehidupan sekolah yang nyaman disini"
---***---
"Kiss..."
Yabu memegangi bibirnya.
"Manis..."
Dia masih memegangi bibirnya.
"Hmm..."
Yabu masih terdiam terpaku. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi padanya beberapa menit lalu. Dengan siapa dia bicara, lalu apa yang barusan terjadi.
"Ini mimpi. Ya. Semua ini hanya mimpi. Tidak mungkin itu terjadi"
Yabu menggelengkan kepalanya. Berusaha menghapus kejadian tadi. Kejadian dimana bibirnya yang masih suci direbut oleh seorang iblis yang berkedok malaikat. Atau mungkin orang gila yang berpura-pura menjadi malaikat?
Yabu menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya pelan-pelan. Ketika dia sudah memantapkan pikirannya, dia kembali teringat peristiwa itu ketika sosok iblis itu muncul lagi di depannya bersama Sakurai sensei dan seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Ah, Yabu-kun! Kebetulan kau masih ada disini. Ini Takaki-kun. Mulai hari ini dia belajar di sekolah ini dan dia masuk di kelas yang sama denganmu"
Sakurai sensei memperkenalkan Takaki pada Yabu, tapi perhatian Yabu terfokus pada Inoo yang tersenyum dengan manisnya di hadapan Yabu.
"Takaki Yuya desu"
Takaki mengulurkan tangannya. Tapi Yabu tidak menyambutnya. Matanya masih terpaku pada Inoo. Peristiw ciuman itu terus berulang di kepalanya bagaikan kaset yang rusak.
"Yabu-kun?"
Setelah teguran dari Sakurai sensei. Yabu akhirnya kembali sadar dan membalas uluran tangan Takaki.
"Yabu Kota. Senang berkenalan denganmu, kuharap kita bisa menjalin hubungan yang baik", Yabu kembali ke pembawaannya yang semula. Tenang dan penuh wibawa. Jiwa kepemimpinannya bisa dirasakan oleh Takaki yang baru pertama kali bertemu.
"Kalau yang ini namanya Inoo Kei", Sakurai sensei memperkenalkan Inoo. Yabu menelan ludahnya saat Inoo melihat lurus ke arahnya.
"Kami sudah berkenalan sensei, ya kan Kou-chan?", Inoo mengedipkan matanya. Yabu langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan Takaki tidak peduli dengan tingkah 2 pemuda di depannya.
"Ah, begitukah? Kalau begitu, Yabu-kun, antarkan Takaki-kun ke kelas. Nanti sensei akan menyusul setelah mengantarkan Inoo-kun"
"Baik sensei"
Yabu membungkukkan kepalanya. Inoo berjalan mengikuti Sakurai sensei dari belakang. Sebelum pergi, dia menyentuh tangan Yabu. Membuat Yabu sedikit terkejut. Inoo mengedipkan matanya sebelum berjalan lebih jauh.
Yabu menghela nafas lega. Akhirnya si Inoo itu telah pergi dari hadapannya. Entah kenapa, dia merasa tidak tenang setelah bertemu lagi dengan Inoo. Dia bahkan mengulangi adegan ciuman di kepalanya. Tentu saja. Ciuman itu adalah ciuman pertamanya. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya dan tiba-tiba saja kesucian bibirnya telah direbut begitu saja oleh orang yang baru saja dia temui.
"Hei, kau tidak apa-apa?", Takaki menepuk bahu Yabu. Membuat Yabu kembali ke realita.
"Ah, eh. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi ke kelas Takaki-san"
"Takaki saja. Atau kau bisa memanggiku Yuya. Tidak usah terlalu formal"
"Tapi...", Yabu merasa tidak enak. Dia terbiasa memanggil orang dengan panggilan sopan. Sedari kecil dia sudah dilatih demikian. Akibat itu, dia merasa tidak nyaman memanggil orang langsung dengan nama kecilnya. Daiki dan Hikaru bahkan harus memaksa Yabu berkali-kali untuk memanggil mereka dengan nama kecil saja tanpa perlu sebutan 'Arioka-san' dan 'Yaotome-san'.
"Kalau begitu, Takaki saja. Kalau itu membuatmu lebih nyaman"
Takaki sepertinya sadar dengan sikap gelisah Yabu. Dia tahu kalau Yabu merasa tidak nyaman memanggilnya langsung dengan nama kecil. Yah, keluarga bangsawan selalu menjaga sikap mereka. Tentu saja Takaki tahu kalau Yabu adalah keluarga bangsawan. Siapa yang tidak mengenal keluarga Yabu di negara ini???
"Terima kasih"
Yabu tersenyum. Dia merasa kalau Takaki adalah orang baik. Dia tidak terlalu mengenal idola. Jadi dia tidak tahu mereka orang seperti apa. Tapi, dia banyak mendengar gosip kurang enak mengenai industri hiburan. Tapi, melihat Takaki, dia rasa Takaki adalah pengecualian.
---***---
"Hei, good news! Ada murid baru di sekolah kita!"
"Murid baru? Cowok atau cewek?"
"Cowok!"
"Tidak mungkin! Dia pasti cewek, wajahnya cantik sekali. Terlalu cantik untuk menjadi cowok"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ah, aku bertemu dengannya tadi. Orang itu sangat cantik. Kulit putihnya setara dengan bajunya yang berwarna putih"
Hikaru hanya mendengarkan teman-temannya berbicara. Rasa sakit di perutnya akibat tendangan Daiki masih terasa. Dia tidak terlalu mempedulikan ocehan temannya soal murid baru. Hikaru lebih memikirkan soal orang cantik yang ditemuinya tadi. Dia masih bingung, apakah itu nyata atau hanya ilusinya saja.
Seluruh murid mendadak diam saat pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam bersama seorang pemuda cantik. Beberapa murid di dalam langsung histeris saat melihat Inoo. Beberapa hanya diam melongo, terpana dengan kecantikan Inoo. Termasuk Hikaru. Hikaru mengucek kedua matanya, memastikan bahwa sosok cantik yang masuk ke dalam kelas bersama Sakurai sensei itu bukan ilusinya. Hikaru tidak percaya kalau orang yang ditemuinya tadi adalah murid baru di kelasnya!
"Selamat pagi semua, hari ini ada murid baru yang akan bergabung bersama kita, Inoo Kei. Dia baru saja pindah dari Amerika dan masih belum terbiasa di Jepang. Kalian semua tolong Bantu dia ya. Nah, Inoo-kun, silahkan perkenalkan dirimu"
Inoo tersenyum. "Hai, namaku Inoo Kei. Sejak kecil aku tinggal di Amerika. Aku bersekolah disana. Beberapa hari yang lalu, aku telah menyelesaikan kuliah disana dan memutuskan untuk kembali kemari untuk lebih menikmati kehidupan sekolah. Mohon bantuannya", Inoo membungkukkan badannya. "Ah, sebelum kalian salah sangka. Aku cowok. Memang wajahku cantik, tapi yakinlah kalau aku cowok"
Suasana kelas mendadak hening. Semua mata yang ada di kelas itu tertuju pada Inoo. Seakan tidak percaya kalau sosok cantik itu adalah seorang lelaki.
"Apa ada yang kalian ingin tanyakan pada teman baru kalian?", tany Sakurai sensei.
Seluruh kelas tidak ada yang menjawab. Tampaknya mereka telah terbius oleh kecantikan Inoo.
"Baiklah. Inoo-kun, kau duduk di bangku kosong sebelah Yaotome-kun"
Sakurai sensei memecah keheningan di kelas dan menunjuk ke bangku kosong sebelah Hikaru. Saat itulah Hikaru sadar kalau bangku sebelahnya memang kosong. Dia menelan ludahnya saat Inoo berjalan ke arahnya.
"Ah, kau orang yang jatuh tadi", ucap Inoo saat melihat Hikaru.
Hikaru hanya tersenyum. Tidak mengatakan apapun dan tidak berani melihat langsung ke mata Inoo. Dia tidak menyangka jika yang dianggap ilusi olehnya itu benar nyata.
"Apa kau baik-baik saja? Tadi kau langsung pergi begitu saja sebelum aku sempat melihat kondisimu"
Hikaru hanya menggangguk. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini bukan Yaotome Hikaru yang biasanya. Biasanya dia akan menunjukkan sifat SKSDnya. Tapi sekarang dia mati kutu menghadapi murid baru itu.
"Baiklah anak-anak, sensei akan pergi sebentar. Kalian harap tunggu disini dengan tenang, sebentar lagi Aiba sensei akan datang kemari"
"Baik sensei", jawab seluruh murid kompak.
Begitu Sakurai sensei menutup pintu kelas, seluruh murid langsung menatap ke arah Inoo dan mendekatinya.
"Hei, Hei, Inoo-san, kau baru lulus kuliah? Dimana? Jurusan apa?"
"Apa benar kau laki-laki? Aku tidak percaya. Kau terlihat jauh lebih cantik daripada semua cewek yang ada di kelas ini"
"Dimana kau tinggal? Kenapa kau masuk kemari?"
Seluruh murid memberondong Inoo dengan berbagai pertanyaan. Hikaru sampai harus sedikit menggeser kursinya agar dia bisa bernafas dan bergerak di kumpulan manusia itu.
Inoo hanya tersenyum. Dia sudah menduga situasi ini.
"Aku kuliah di California University. Jurusan arsitektur. Aku seorang jenius, IQku mungkin diatas 150. Aku sering lompat kelas jadi bisa lulus kuliah di usia muda. Aku kembali ke Jepang karena aku menyesal tidak bisa menikmati masa mudaku disana"
Hikaru mengangguk pelan. Dia kagum terhadap Inoo. Suaranya terdengar lembut, sebanding dengan mukanya yang begitu cantik. Tapi di sudut hatinya entah kenapa dia juga merasa benci pada Inoo. Kenapa? Padahal mereka baru saja berkenalan. Apa alasan Hikaru membencinya? Itulah yang membuat Hikaru tidak mengerti.
"Ah, kalau kalian tidak percaya aku laki-laki, aku bisa menunjukkannya"
Inoo berdiri. Dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan sebelumnya di hadapan Yabu. Tapi untunglah, Aiba sensei datang dan memulai pelajaran. Kalau tidak, seluruh kelas akan mengalami nasib serupa seperti apa yang dialami Yabu.
---***---
"Teman-teman, tolong tenang sebentar"
Yabu berusaha menenangkan teman-temannya yang berteriak histeris ketika melihat Takaki Yuya masuk bersama dengan Yabu. Mereka sama sekali tidak percaya kalau seorang superstar yang sering mereka lihat di TV kini berada di kelas yang sama dengan mereka.
"Teman-teman, tolong tenang sebentar!"
Yabu mengulangi kalimatnya, kali ini dengan suara yang lebih keras. Seisi kelas mendadak diam dan mulai mendengarkan Yabu. Merasa sudah lebih tenang, Yabu memperkenalkan Takaki pada teman-temannya. Yah, meskipun seisi kelas sudah tahu siapa dia sebenarnya. Hanya sekedar formalitas saja.
"Ini Takaki Yuya. Dia akan menjadi teman kita selama setahun ini. Tolong kalian bantu dia untuk beradaptasi disini ya"
"Halo, Takaki Yuya desu. Mohon bantuannya", Takaki memperkenalkan dirinya. Beberapa siswi di kelas langsung menutup mulutnya saat mendengar Takaki berbicara. Itu artinya, ini semua nyata!
Sreek.
Pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam. "Ah, kalian sudah memperkenalkan diri? Baiklah, kalau begitu silahkan duduk di bangku kalian. Kita bisa langsung memulai pelajaran"
"Kau duduk denganku"
Yabu menunjuk ke bangku kosong dekat jendela. Takaki mengangguk dan mengikuti Yabu menuju bangku barunya. Dia merasa lega duduk di sebelah Yabu. Karena entah kenapa dia merasa nyaman di dekatnya. Apalagi dia pasti merasa kurang nyaman jika duduk di sebelah orang yang tidak dia kenal.
Saat mereka berjalan, Yabu bisa merasakan kalau pandangan seluruh kelas tertuju ke arahnya. Yabu tahu kalau teman-temannya tidak melihat ke arahnya, tapi ke arah Takaki yang berada di dekatnya.
Yabu mendekatkan kursinya ke Takaki. Dia mengeluarkan buku pelajarannya dan meletakkannya di tengah agar Takaki bisa ikut membacanya. Tidak lama, Sakurai sensei memulai pelajaran bahasanya.
Di tengah pelajaran, Yabu melihat Takaki sedang mengecek hpnya. Yabu berniat menegurnya tapi terhenti ketika melihat tipe HP yang dipegang Takaki.
'Itu kan smartphone tipe baru Daiki. Kenapa dia bisa memilikinya?'
---***---
Bel istirahat sekolah telah berbunyi. Daiki langsung keluar menuju ke kelas 2 dan 3 yang berada di lantai 1 dan 2. Seperti biasanya, Daiki menghabiskan waktu istirahat bersama dengan dua temannya itu. Dia lebih memilih bersama dengan sahabatnya daripada dengan teman sekelasnya.
"Ada apa ini?", gumam Daiki ketika melihat kerumunan manusia yang tidak lazim di depan kelas Hikaru. Daiki berusaha melihat di depan dengan menjijitkan kakinya. Tapi karena tubuhnya yang pendek, dia tidak bisa melihat apapun. Di saat itulah Daiki mengutuk dirinya sendiri yang bertubuh pendek.
Daiki berusaha maju ke depan. Kali ini dia bersyukur. Dengan tubuhnya yang kecil, dia bisa menyelinap dengan mudah sehingga dia bisa maju tanpa kesusahan.
Daiki merinding ketika ada seseorang yang memegang pantatnya. Dia bersiap untuk menyerang siapapun yang memegangnya.
"Dai-chan, ini aku"
Hikaru langsung menarik tangan Daiki dan mengajaknya keluar dari kerumunan. Mereka berdua menarik nafas lega ketika berhasil keluar dari kerumunan.
"Ada apa sih Hikaru? Kenapa kelasmu jadi ramai begini?"
"Itu gara-gara murid pindahan itu. Semua orang penasaran seperti apa cantiknya murid baru itu"
Daiki mendadak ingat. Beberapa teman sekelasnya mengatakan ada 2 murid pindahan yang masuk sekolah hari ini. Kata mereka, dua orang itu bukan orang biasa. Satunya berwajah sangat cantik. Satunya sangat cakep.
"Memangnya secantik apa sih?", tanya Daiki penasaran. Ya, secantik apa murid baru itu hingga menarik perhatian banyak orang seperti ini?
"Hmm... Sangat cantik. Seperti seorang malaikat", jawab Hikaru. Dia langsung tersipu malu saat mengucapkan itu.
"Eh... Aku mau lihat..."
"Jangan sekarang Daiki. Aku tidak mau mati sesak", Hikaru menunjuk ke arah kerumunan siswa yang semakin bertambah padat.
"Tapi..."
"Kau bisa melihatnya kapan saja. Dia duduk sebangku denganku. Sudahlah, Ayo pergi"
Daiki menurut dan mengikuti Hikaru, keduanya kini menuju ke lantai 1, dimana kantin dan kelas Yabu berada.
---***---
"Uwaah... Ada apa ini?"
Keduanya takjub karena banyak sekali kerumunan siswa di lantai 1. Sepertinya mereka berkumpul di depan kelas 3D. Hikaru dan Daiki harus bersusah payah melewati kerumunan itu karena kantin berada tidak jauh dari situ.
"Ada apa sih hari ini? Kenapa kelasmu dan kelas Yabu bisa seramai itu?"
"Mungkin gara-gara murid pindahan? Temanku bilang ada murid pindahan satu lagi di kelas 3. Katanya sih seorang superstar. Tapi aku tidak menyangka kalau murid pindahan itu ada di kelas Yabu"
"Artist? Memangnya siapa?"
"Aku tidak tahu. Cewek-cewek di kelasku bilang kalau dia adalah seorang superstar. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Kita bisa menanyakan itu pada Yabu nanti. Sudahlah, aku lapar. Cepat pesan. Mumpung kantin sedang sepi"
Mereka berdua langsung menuju ke meja pemesanan dan memilih menu makanan yang mereka inginkan. Seperti biasanya, Daiki akan memesan nasi omelet dan Hikaru akan memilih menu dimana ada ikan sebagai lauknya.
Mereka memilih bangku yang tidak jauh dari situ. Dari bangku mereka, mereka bisa melihat pintu kantin dan kelas Yabu yang masih ramai.
15menit kemudian
"Yabu lamaa...", keluh Daiki yang memainkan nasinya. Dia sudah sangat lapar sekarang. Dia terus memainkan sendok nasinya.
Mereka berdua tidak bisa makan sebelum Yabu datang. Entah kenapa, itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Mereka akan mulai makan bersama-sama jika semuanya lengkap.
Sebuah pesan singkat masuk ke HP Hikaru. Dari Yabu.
-----
Makan saja duluan.
Aku masih ada urusan.
-----
"Urusan apa?", pikir Hikaru.
"Eh.. Padahal kita sudah menunggunya", ucap Daiki kesal.
"Sudahlah, mungkin Yabu ada urusan penting? Dia kan orang sibuk. Lebih baik kita makan dulu saja"
Mereka tidak memikirkan hal itu lagi dan langsung memakan makanan mereka karena mereka sudah lapar. Tapi, kegiatan mereka terganggu karena kehadiran seseorang.
Tsuzuku~~
Inoo memasuki ruangan kepala sekolah bersama dengan Sakurai sensei. Di dalam ruangan, terdapat seorang lelaki paruh baya, yang menurut Inoo adalah kepala sekolah Horikoshi. Di depannya, berdiri seorang lelaki yang tampaknya seumuran dengannya. Penampilannya terlihat sangat trendi. Rambutnya berwarna coklat kemerahan. Badannya lebih tinggi, kurang lebih tingginya sama dengan Yabu. Melihat wajahnya, Inoo langsung mengenalinya. Tentu saja, Inoo selalu melihatnya.
"Inoo Kei?", tanya Kepala Sekolah sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Inoo. Inoo segera membalas uluran tangan Kepala Sekolah dan menjabat tangannya.
"Benar pak" balas Inoo sambil tersenyum.
"Uwah, bapak tidak menyangka akan kedatangan dua murid baru. Yang satu seorang superstar, yang satu lagi seorang jenius. Sekolah ini pasti ramai dengan kehadiran kalian", gumam kepala sekolah.
Inoo melirik ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya. Dugaannya benar. Orang ini adalah Takaki Yuya, seorang superstar. Takaki sangat terkenal. Bahkan namanya juga terkenal di Amerika, tempat Inoo berkuliah disana dulu. Jelas saja kalau dia sering melihatnya. Wajahnya selalu memenuhi layar TV dan sampul depan majalah.
"Takaki akan masuk ke kelas 3-D, sedangkan Inoo di kelas 2-B" Kepala sekolah menatap ke arah Inoo. "Inoo-kun, kenapa kau tidak langsung kuliah saja? Pelajaran disini pasti sudah kau pelajari disana. Kenapa kau ingin sekolah disini?"
Inoo tersenyum. "Saya ingin menikmati masa muda saya disini pak. Di Amerika, saya hanya mengenal belajar. Disini, saya ingin menikmati masa SMA. Baru setelah itu saya akan bekerja"
Kepala sekolah mengangguk mendengar penjelasan Inoo "Baiklah. Tapi kau tetap harus mengikuti pelajaran disini seperti murid lainnya. Tidak ada peraturan khusus untukmu. Begitu juga denganmu Takaki-kun, kau juga harus mengikuti aturan disini kalau kau ingin lulus. Tidak ada peraturan istimewa bagimu meskipun kau seorang superstar"
"Tidak usah khawatir pak", Takaki akhirnya membuka suaranya. "Saya memang berniat untuk belajar saat masuk di sekolah ini. Saya ingin lulus dengan baik dan menjadi contoh bagi fans saya"
Inoo sedikit kagum dengan Takaki. Dia benar-benar seorang public figure yang baik. Tidak hanya menghibur orang lain, Takaki juga berpikir untuk menjadi contoh yang baik bagi fansnya. Tidak banyak selebriti yang memikirkan fansnya hingga sejauh itu.
"Baiklah. Selamat datang di sekolah Horikoshi. Sakurai sensei akan mengantar kalian ke kelas masing-masing. Aku berharap kalian bisa menikmati kehidupan sekolah yang nyaman disini"
---***---
"Kiss..."
Yabu memegangi bibirnya.
"Manis..."
Dia masih memegangi bibirnya.
"Hmm..."
Yabu masih terdiam terpaku. Dia masih berusaha mencerna apa yang terjadi padanya beberapa menit lalu. Dengan siapa dia bicara, lalu apa yang barusan terjadi.
"Ini mimpi. Ya. Semua ini hanya mimpi. Tidak mungkin itu terjadi"
Yabu menggelengkan kepalanya. Berusaha menghapus kejadian tadi. Kejadian dimana bibirnya yang masih suci direbut oleh seorang iblis yang berkedok malaikat. Atau mungkin orang gila yang berpura-pura menjadi malaikat?
Yabu menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya pelan-pelan. Ketika dia sudah memantapkan pikirannya, dia kembali teringat peristiwa itu ketika sosok iblis itu muncul lagi di depannya bersama Sakurai sensei dan seseorang yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Ah, Yabu-kun! Kebetulan kau masih ada disini. Ini Takaki-kun. Mulai hari ini dia belajar di sekolah ini dan dia masuk di kelas yang sama denganmu"
Sakurai sensei memperkenalkan Takaki pada Yabu, tapi perhatian Yabu terfokus pada Inoo yang tersenyum dengan manisnya di hadapan Yabu.
"Takaki Yuya desu"
Takaki mengulurkan tangannya. Tapi Yabu tidak menyambutnya. Matanya masih terpaku pada Inoo. Peristiw ciuman itu terus berulang di kepalanya bagaikan kaset yang rusak.
"Yabu-kun?"
Setelah teguran dari Sakurai sensei. Yabu akhirnya kembali sadar dan membalas uluran tangan Takaki.
"Yabu Kota. Senang berkenalan denganmu, kuharap kita bisa menjalin hubungan yang baik", Yabu kembali ke pembawaannya yang semula. Tenang dan penuh wibawa. Jiwa kepemimpinannya bisa dirasakan oleh Takaki yang baru pertama kali bertemu.
"Kalau yang ini namanya Inoo Kei", Sakurai sensei memperkenalkan Inoo. Yabu menelan ludahnya saat Inoo melihat lurus ke arahnya.
"Kami sudah berkenalan sensei, ya kan Kou-chan?", Inoo mengedipkan matanya. Yabu langsung mengalihkan pandangannya. Sedangkan Takaki tidak peduli dengan tingkah 2 pemuda di depannya.
"Ah, begitukah? Kalau begitu, Yabu-kun, antarkan Takaki-kun ke kelas. Nanti sensei akan menyusul setelah mengantarkan Inoo-kun"
"Baik sensei"
Yabu membungkukkan kepalanya. Inoo berjalan mengikuti Sakurai sensei dari belakang. Sebelum pergi, dia menyentuh tangan Yabu. Membuat Yabu sedikit terkejut. Inoo mengedipkan matanya sebelum berjalan lebih jauh.
Yabu menghela nafas lega. Akhirnya si Inoo itu telah pergi dari hadapannya. Entah kenapa, dia merasa tidak tenang setelah bertemu lagi dengan Inoo. Dia bahkan mengulangi adegan ciuman di kepalanya. Tentu saja. Ciuman itu adalah ciuman pertamanya. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya dan tiba-tiba saja kesucian bibirnya telah direbut begitu saja oleh orang yang baru saja dia temui.
"Hei, kau tidak apa-apa?", Takaki menepuk bahu Yabu. Membuat Yabu kembali ke realita.
"Ah, eh. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi ke kelas Takaki-san"
"Takaki saja. Atau kau bisa memanggiku Yuya. Tidak usah terlalu formal"
"Tapi...", Yabu merasa tidak enak. Dia terbiasa memanggil orang dengan panggilan sopan. Sedari kecil dia sudah dilatih demikian. Akibat itu, dia merasa tidak nyaman memanggil orang langsung dengan nama kecilnya. Daiki dan Hikaru bahkan harus memaksa Yabu berkali-kali untuk memanggil mereka dengan nama kecil saja tanpa perlu sebutan 'Arioka-san' dan 'Yaotome-san'.
"Kalau begitu, Takaki saja. Kalau itu membuatmu lebih nyaman"
Takaki sepertinya sadar dengan sikap gelisah Yabu. Dia tahu kalau Yabu merasa tidak nyaman memanggilnya langsung dengan nama kecil. Yah, keluarga bangsawan selalu menjaga sikap mereka. Tentu saja Takaki tahu kalau Yabu adalah keluarga bangsawan. Siapa yang tidak mengenal keluarga Yabu di negara ini???
"Terima kasih"
Yabu tersenyum. Dia merasa kalau Takaki adalah orang baik. Dia tidak terlalu mengenal idola. Jadi dia tidak tahu mereka orang seperti apa. Tapi, dia banyak mendengar gosip kurang enak mengenai industri hiburan. Tapi, melihat Takaki, dia rasa Takaki adalah pengecualian.
---***---
"Hei, good news! Ada murid baru di sekolah kita!"
"Murid baru? Cowok atau cewek?"
"Cowok!"
"Tidak mungkin! Dia pasti cewek, wajahnya cantik sekali. Terlalu cantik untuk menjadi cowok"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ah, aku bertemu dengannya tadi. Orang itu sangat cantik. Kulit putihnya setara dengan bajunya yang berwarna putih"
Hikaru hanya mendengarkan teman-temannya berbicara. Rasa sakit di perutnya akibat tendangan Daiki masih terasa. Dia tidak terlalu mempedulikan ocehan temannya soal murid baru. Hikaru lebih memikirkan soal orang cantik yang ditemuinya tadi. Dia masih bingung, apakah itu nyata atau hanya ilusinya saja.
Seluruh murid mendadak diam saat pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam bersama seorang pemuda cantik. Beberapa murid di dalam langsung histeris saat melihat Inoo. Beberapa hanya diam melongo, terpana dengan kecantikan Inoo. Termasuk Hikaru. Hikaru mengucek kedua matanya, memastikan bahwa sosok cantik yang masuk ke dalam kelas bersama Sakurai sensei itu bukan ilusinya. Hikaru tidak percaya kalau orang yang ditemuinya tadi adalah murid baru di kelasnya!
"Selamat pagi semua, hari ini ada murid baru yang akan bergabung bersama kita, Inoo Kei. Dia baru saja pindah dari Amerika dan masih belum terbiasa di Jepang. Kalian semua tolong Bantu dia ya. Nah, Inoo-kun, silahkan perkenalkan dirimu"
Inoo tersenyum. "Hai, namaku Inoo Kei. Sejak kecil aku tinggal di Amerika. Aku bersekolah disana. Beberapa hari yang lalu, aku telah menyelesaikan kuliah disana dan memutuskan untuk kembali kemari untuk lebih menikmati kehidupan sekolah. Mohon bantuannya", Inoo membungkukkan badannya. "Ah, sebelum kalian salah sangka. Aku cowok. Memang wajahku cantik, tapi yakinlah kalau aku cowok"
Suasana kelas mendadak hening. Semua mata yang ada di kelas itu tertuju pada Inoo. Seakan tidak percaya kalau sosok cantik itu adalah seorang lelaki.
"Apa ada yang kalian ingin tanyakan pada teman baru kalian?", tany Sakurai sensei.
Seluruh kelas tidak ada yang menjawab. Tampaknya mereka telah terbius oleh kecantikan Inoo.
"Baiklah. Inoo-kun, kau duduk di bangku kosong sebelah Yaotome-kun"
Sakurai sensei memecah keheningan di kelas dan menunjuk ke bangku kosong sebelah Hikaru. Saat itulah Hikaru sadar kalau bangku sebelahnya memang kosong. Dia menelan ludahnya saat Inoo berjalan ke arahnya.
"Ah, kau orang yang jatuh tadi", ucap Inoo saat melihat Hikaru.
Hikaru hanya tersenyum. Tidak mengatakan apapun dan tidak berani melihat langsung ke mata Inoo. Dia tidak menyangka jika yang dianggap ilusi olehnya itu benar nyata.
"Apa kau baik-baik saja? Tadi kau langsung pergi begitu saja sebelum aku sempat melihat kondisimu"
Hikaru hanya menggangguk. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ini bukan Yaotome Hikaru yang biasanya. Biasanya dia akan menunjukkan sifat SKSDnya. Tapi sekarang dia mati kutu menghadapi murid baru itu.
"Baiklah anak-anak, sensei akan pergi sebentar. Kalian harap tunggu disini dengan tenang, sebentar lagi Aiba sensei akan datang kemari"
"Baik sensei", jawab seluruh murid kompak.
Begitu Sakurai sensei menutup pintu kelas, seluruh murid langsung menatap ke arah Inoo dan mendekatinya.
"Hei, Hei, Inoo-san, kau baru lulus kuliah? Dimana? Jurusan apa?"
"Apa benar kau laki-laki? Aku tidak percaya. Kau terlihat jauh lebih cantik daripada semua cewek yang ada di kelas ini"
"Dimana kau tinggal? Kenapa kau masuk kemari?"
Seluruh murid memberondong Inoo dengan berbagai pertanyaan. Hikaru sampai harus sedikit menggeser kursinya agar dia bisa bernafas dan bergerak di kumpulan manusia itu.
Inoo hanya tersenyum. Dia sudah menduga situasi ini.
"Aku kuliah di California University. Jurusan arsitektur. Aku seorang jenius, IQku mungkin diatas 150. Aku sering lompat kelas jadi bisa lulus kuliah di usia muda. Aku kembali ke Jepang karena aku menyesal tidak bisa menikmati masa mudaku disana"
Hikaru mengangguk pelan. Dia kagum terhadap Inoo. Suaranya terdengar lembut, sebanding dengan mukanya yang begitu cantik. Tapi di sudut hatinya entah kenapa dia juga merasa benci pada Inoo. Kenapa? Padahal mereka baru saja berkenalan. Apa alasan Hikaru membencinya? Itulah yang membuat Hikaru tidak mengerti.
"Ah, kalau kalian tidak percaya aku laki-laki, aku bisa menunjukkannya"
Inoo berdiri. Dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan sebelumnya di hadapan Yabu. Tapi untunglah, Aiba sensei datang dan memulai pelajaran. Kalau tidak, seluruh kelas akan mengalami nasib serupa seperti apa yang dialami Yabu.
---***---
"Teman-teman, tolong tenang sebentar"
Yabu berusaha menenangkan teman-temannya yang berteriak histeris ketika melihat Takaki Yuya masuk bersama dengan Yabu. Mereka sama sekali tidak percaya kalau seorang superstar yang sering mereka lihat di TV kini berada di kelas yang sama dengan mereka.
"Teman-teman, tolong tenang sebentar!"
Yabu mengulangi kalimatnya, kali ini dengan suara yang lebih keras. Seisi kelas mendadak diam dan mulai mendengarkan Yabu. Merasa sudah lebih tenang, Yabu memperkenalkan Takaki pada teman-temannya. Yah, meskipun seisi kelas sudah tahu siapa dia sebenarnya. Hanya sekedar formalitas saja.
"Ini Takaki Yuya. Dia akan menjadi teman kita selama setahun ini. Tolong kalian bantu dia untuk beradaptasi disini ya"
"Halo, Takaki Yuya desu. Mohon bantuannya", Takaki memperkenalkan dirinya. Beberapa siswi di kelas langsung menutup mulutnya saat mendengar Takaki berbicara. Itu artinya, ini semua nyata!
Sreek.
Pintu kelas dibuka. Sakurai sensei masuk ke dalam. "Ah, kalian sudah memperkenalkan diri? Baiklah, kalau begitu silahkan duduk di bangku kalian. Kita bisa langsung memulai pelajaran"
"Kau duduk denganku"
Yabu menunjuk ke bangku kosong dekat jendela. Takaki mengangguk dan mengikuti Yabu menuju bangku barunya. Dia merasa lega duduk di sebelah Yabu. Karena entah kenapa dia merasa nyaman di dekatnya. Apalagi dia pasti merasa kurang nyaman jika duduk di sebelah orang yang tidak dia kenal.
Saat mereka berjalan, Yabu bisa merasakan kalau pandangan seluruh kelas tertuju ke arahnya. Yabu tahu kalau teman-temannya tidak melihat ke arahnya, tapi ke arah Takaki yang berada di dekatnya.
Yabu mendekatkan kursinya ke Takaki. Dia mengeluarkan buku pelajarannya dan meletakkannya di tengah agar Takaki bisa ikut membacanya. Tidak lama, Sakurai sensei memulai pelajaran bahasanya.
Di tengah pelajaran, Yabu melihat Takaki sedang mengecek hpnya. Yabu berniat menegurnya tapi terhenti ketika melihat tipe HP yang dipegang Takaki.
'Itu kan smartphone tipe baru Daiki. Kenapa dia bisa memilikinya?'
---***---
Bel istirahat sekolah telah berbunyi. Daiki langsung keluar menuju ke kelas 2 dan 3 yang berada di lantai 1 dan 2. Seperti biasanya, Daiki menghabiskan waktu istirahat bersama dengan dua temannya itu. Dia lebih memilih bersama dengan sahabatnya daripada dengan teman sekelasnya.
"Ada apa ini?", gumam Daiki ketika melihat kerumunan manusia yang tidak lazim di depan kelas Hikaru. Daiki berusaha melihat di depan dengan menjijitkan kakinya. Tapi karena tubuhnya yang pendek, dia tidak bisa melihat apapun. Di saat itulah Daiki mengutuk dirinya sendiri yang bertubuh pendek.
Daiki berusaha maju ke depan. Kali ini dia bersyukur. Dengan tubuhnya yang kecil, dia bisa menyelinap dengan mudah sehingga dia bisa maju tanpa kesusahan.
Daiki merinding ketika ada seseorang yang memegang pantatnya. Dia bersiap untuk menyerang siapapun yang memegangnya.
"Dai-chan, ini aku"
Hikaru langsung menarik tangan Daiki dan mengajaknya keluar dari kerumunan. Mereka berdua menarik nafas lega ketika berhasil keluar dari kerumunan.
"Ada apa sih Hikaru? Kenapa kelasmu jadi ramai begini?"
"Itu gara-gara murid pindahan itu. Semua orang penasaran seperti apa cantiknya murid baru itu"
Daiki mendadak ingat. Beberapa teman sekelasnya mengatakan ada 2 murid pindahan yang masuk sekolah hari ini. Kata mereka, dua orang itu bukan orang biasa. Satunya berwajah sangat cantik. Satunya sangat cakep.
"Memangnya secantik apa sih?", tanya Daiki penasaran. Ya, secantik apa murid baru itu hingga menarik perhatian banyak orang seperti ini?
"Hmm... Sangat cantik. Seperti seorang malaikat", jawab Hikaru. Dia langsung tersipu malu saat mengucapkan itu.
"Eh... Aku mau lihat..."
"Jangan sekarang Daiki. Aku tidak mau mati sesak", Hikaru menunjuk ke arah kerumunan siswa yang semakin bertambah padat.
"Tapi..."
"Kau bisa melihatnya kapan saja. Dia duduk sebangku denganku. Sudahlah, Ayo pergi"
Daiki menurut dan mengikuti Hikaru, keduanya kini menuju ke lantai 1, dimana kantin dan kelas Yabu berada.
---***---
"Uwaah... Ada apa ini?"
Keduanya takjub karena banyak sekali kerumunan siswa di lantai 1. Sepertinya mereka berkumpul di depan kelas 3D. Hikaru dan Daiki harus bersusah payah melewati kerumunan itu karena kantin berada tidak jauh dari situ.
"Ada apa sih hari ini? Kenapa kelasmu dan kelas Yabu bisa seramai itu?"
"Mungkin gara-gara murid pindahan? Temanku bilang ada murid pindahan satu lagi di kelas 3. Katanya sih seorang superstar. Tapi aku tidak menyangka kalau murid pindahan itu ada di kelas Yabu"
"Artist? Memangnya siapa?"
"Aku tidak tahu. Cewek-cewek di kelasku bilang kalau dia adalah seorang superstar. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Kita bisa menanyakan itu pada Yabu nanti. Sudahlah, aku lapar. Cepat pesan. Mumpung kantin sedang sepi"
Mereka berdua langsung menuju ke meja pemesanan dan memilih menu makanan yang mereka inginkan. Seperti biasanya, Daiki akan memesan nasi omelet dan Hikaru akan memilih menu dimana ada ikan sebagai lauknya.
Mereka memilih bangku yang tidak jauh dari situ. Dari bangku mereka, mereka bisa melihat pintu kantin dan kelas Yabu yang masih ramai.
15menit kemudian
"Yabu lamaa...", keluh Daiki yang memainkan nasinya. Dia sudah sangat lapar sekarang. Dia terus memainkan sendok nasinya.
Mereka berdua tidak bisa makan sebelum Yabu datang. Entah kenapa, itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Mereka akan mulai makan bersama-sama jika semuanya lengkap.
Sebuah pesan singkat masuk ke HP Hikaru. Dari Yabu.
-----
Makan saja duluan.
Aku masih ada urusan.
-----
"Urusan apa?", pikir Hikaru.
"Eh.. Padahal kita sudah menunggunya", ucap Daiki kesal.
"Sudahlah, mungkin Yabu ada urusan penting? Dia kan orang sibuk. Lebih baik kita makan dulu saja"
Mereka tidak memikirkan hal itu lagi dan langsung memakan makanan mereka karena mereka sudah lapar. Tapi, kegiatan mereka terganggu karena kehadiran seseorang.
Tsuzuku~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar