Rabu, 06 April 2016

AKUMA NO YOROI

Part 33

Bulu kuduk Keito berdiri. Dia bisa merasakan hawa dingin menusuk tubuhnya, memasuki tubuhnya melalui pori-pori kulitnya. Keito mencengkeram bajunya, terutama di bagian dada, dimana dadanya terasa sakit yang amat sangat akibat segel kutukan yang aktif kembali.

“Raja... demon...”, gumam Keito.

Awan hitam berkumpul, suara petir terdengar terus tanpa henti, kilatan cahaya yang besar seolah membagi langit menjadi dua. Juri langsung menundukkan kepalanya saat sesosok makhluk tiba-tiba berdiri di dekat Keito dkk.

Makhluk itu besar sekali. Tingginya mungkin lebih dari 3 meter, tubuhnya seperti seorang binaragawan yang rajin berlatih, bedanya wajahnya tidak terlihat seperti seorang manusia. Wajahnya jauh lebih mengerikan daripada wajah monster yang pernah dilihat oleh Keito. Tercium bau yang menjijikkan dan merangsang muntah dari sosok itu. Keito bahkan merasa bumi sedikit bergetar saat makhluk itu berjalan mendekati mereka.

“Itukah sang Raja Demon?”, gumam Keito. Bulu kuduknya terus berdiri saat melihat makhluk itu berjalan mendekatinya. Aura mengerikan yang terus keluar dari makhluk itu membuat Keito merinding ketakutan.

Chii langsung berdiri di dekat Keito dengan waspada dan bersiap untuk menyerang. Yabu dan Inoo mundur perlahan dan sedikit gemetar ketakutan karena keberadaan Yang Mulia yang dulu pernah mereka taati.

“Juri!”, suara Raja Demon terdengar seperti guntur yang ada di langit. Tanah sedikit bergetar akibat suara Raja.

“Ya, Yang Mulia”, jawab Yugo dengan sedikit ketakutan.

“Bukankah sudah kukatakan untuk membunuh para pengkhianat? Kenapa mereka masih hidup?”, Raja Demon menunjuk ke arah Yabu dan Inoo.

Juri hanya diam sambil menunduk ketakutan. Karena apapun yang dia katakan, Yang Mulia Raja Demon pasti akan tetap memarahinya, jadi percuma saja membantah.

“Tidak hanya Jesse, Yugo, dan Shin. Ternyata kau juga sama saja. Kalian semua tidak bisa diandalkan”

Juri terkejut mendengar ucapan Raja. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Raja, tapi dia takut mempercayai kalau ketiga temannya itu bisa kalah begitu saja. kesampingkan si Shin, dia memang demon kelas C, tapi Jesse dan Yugo adalah demon kelas S. Mana mungkin mereka bisa kalah begitu saja di pertempuran melawan demon sesama kelas S?

“Ternyata demon generasi kedua jauh lebih lemah daripada demon generasi pertama”, Inoo tersenyum meremehkan. Juri langsung melirik ke arah Inoo dan melemparkan pandangan kesal.

“Apa maksudmu?”, geram Yugo.

“Kau tidak tahu? Hah... itulah kenapa demon generasi kedua lebih payah daripada pendahulunya”
Yabu menyenggol pelan pundak Inoo. Memberi kode padanya agar Inoo berhenti bicara lebih jauh lagi. Ucapannya seperti menyiramkan minyak dalam api.

Saat Juri akan kembali protes, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok Jesse, Yugo, dan Shin yang jatuh dari langit. Sesuatu telah melempar jatuh mereka. Juri mendongak, dia mendapati keempat demon pengkhianat sedang berdiri melayang di atasnya. Pandangan Juri kembali ke sosok tiga temannya yang kini hanya terbaring tidak berdaya.

Raja semakin menggeram marah. Dia lalu mengarahkan tangannya ke arah Yuto dan yang lain. seberkas cahaya tampak keluar dari tangannya dan mengarah pada mereka berempat. Mirip dengan apa yang dilakukan oleh Yugo sebelumnya, akan tetapi cahaya ini jauh lebih gelap dan lebih mengerikan dari milik Yugo. Yuto dan yang lain langsung melompat untuk menghindar, tapi karena gerakan mereka sedikit lebih lambat dari serangan Raja, maka bagian tubuh mereka sedikit terluka. Yuya kehilangan tangan kanannya, Yuto tangan kiri, sedangkan Hikaru dan Daiki yang sempat bersembunyi di balik dua demon kelas S itu menderita luka gores saja.

“Uweee.... dagingku....”, keluh Daiki saat melihat tangan Yuya yang putus. Hikaru hanya menggelengkan kepala melihat aksi demon rakus di sebelahnya itu.

“Eh? Yugo?”, Keito membelalakkan matanya saat melihat sosok Yugo yang penuh luka.

“Tidak usah memberi belas kasihan”, Inoo melirik ke arah Keito. “Saat ini mereka bukan temanmu. Mereka semua adalah musuhmu. Kita dalam peperangan. Jika kita tidak sungguh-sungguh, maka tidak ada kesempatan untuk menang”

Keito mengatupkan bibirnya dan mengalihkan muka. Dia tahu kalau semua temannya hanyalah para demon yang disuruh untuk mengawasinya. Tapi tetap saja, Keito menganggap mereka teman karena mereka selalu bersikap baik di depan Keito, terutama Juri.

Suara ledakan terdengar lagi dalam rumah.

“LEPASKAN AKU!! YUTO BRENGSEK! LEPASKAN SEGEL INI DARIKU!”

“Dasar tidak sabaran. Tidak sopan lagi”, gerutu Yuto.

Yuto fokus pada penyembuhan tangan kirinya yang terpotong. Tidak butuh waktu lama, tangannya kembali utuh. Yuto kini berdiri di depan rumah, disamping Chii. Tiga demon yang lain juga sama. Yuya juga masih sibuk menyembuhkan tangannya sambil menghindari Daiki yang terus saja berusaha memakan tangannya.

Yuto menjetikkan jarinya, bersamaan dengan itu, terdengar suara sesuatu yang lepas. Beberapa menit kemudian, demon yang dikurung di dalam rumah itu keluar dengan tubuh yang berlumuran darah diikuti oleh Yama di belakangnya.

“Tubuh yang menyedihkan”, komentar Yuto dengan pandangan meremehkan. Ryu tidak mempedulikannya. Matanya segera terfokus pada salah satu demon yang tidak sadarkan diri.

“SHIN!”, Ryu segera berlari menghampiri Shin. Tapi niatnya dihalangi oleh Raja Demon. Raja demon menendang Shin sehingga tubuhnya terlempar di udara.

Ryu menggeram marah, dia tidak terima adiknya dilempar begitu saja, tapi sebelum dia sempat melayangkan amarahnya, raja demon juga menendang tubuhnya hingga terlempar.

“Ryu!!”

Yama segera berusaha berlari menghampiri Ryuu, tapi Chii menghentikan gerakannya karena Yama hampir saja terkena serangan dari Raja Demon. Keito memegangi dadanya. Entah kenapa rasa sakit itu bertambah parah. Dadanya terasa sangat panas dan seperti ada sesuatu yang berat menimpa dadanya.

“Kendalikan emosimu Yama. Kami membutuhkanmu. Kalau emosimu tidak terkendali, maka pelindung yang kau buat akan goyah dan itu bisa mencelakakan kita semua. Kami mengandalkanmu untuk melindungi kami. Termasuk Keito-sama. Bukankah Kenichi-sama telah mempercayakan Keito-sama pada kita?”

Yama mendengarkan perkataan Chii dengan baik. Matanya menatap ke arah Keito yang saat ini sedang meringis kesakitan. Pandangan Yama kini beralih pada Ryuu yang sedang terkapar tidak berdaya karena serangan Raja Demon. Situasi kali ini sangat sulit baginya. Apakah dia akan memilih sahabatnya dan mengabaikan masternya? Atau memilih masternya dan mengabaikan sahabatnya?

“Kalian semua akan kubuat menyesal karena sudah membuatku, sang raja Demon marah besar”

Raja Demon mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tidak lama kemudian petir-petir mulai menyambar. Chii dengan sigap mengangkat Keito dan membawanya menghindar. Begitu pula dengan para iblis yang lain, mereka berusaha menghindari serangan Raja mereka atau mantan raja mereka. Sedangkan Yama berusaha memperkuat pelindung di sekitar mereka untuk meminimalisir kerusakan yang ditimbulkan oleh Raja Demon.

“Kei... kau ada ide?”, tanya Yabu yang mulai kewalahan menghindari serangan Raja Demon dengan tubuhnya yang penuh luka.

“Ada sih... tapi sepertinya itu akan susah”, jawab Inoo sambil melihat ke arah Ryuu yang terkapar di tanah dan Yuto yang sibuk menghindari serangan dengan kekuatannya.

“Aku tidak tahu apa rencanamu. Tapi kalau kau punya cara untuk mengatasi serangan ini lebih baik kau lakukan sekarang juga!”, omel Yuya.

“Dasar tidak sabaran”, desis Inoo.

---***---

Ryuu berusaha bangkit sebisanya. Tubuhnya kini terasa sangat lemah akibat mantera yang digunakan oleh Yuto, tendangan sang Raja, dan yang terakhir adalah serangan dari Rajanya. Ryuu mengutuk dirinya sendiri yang lemah dan tidak bisa melindungi adiknya di saat seperti ini.

‘Apa aku sudah gila? Aku mendengar ada suara di dalam kepalaku?’

‘Kau tidak gila Ryuu. Ini aku, Inoo. Aku berbicara denganmu menggunakan telepati. Sekarang dengarkan baik-baik. Aku punya rencana untukmu dan kuharap kau mau melakukannya demi keselamatan kita semua’

---***---

“Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Terjadi peperangan. Tampaknya terjadi pertikaian antara sesama iblis”

“Ah... mereka memang makhluk yang sangat merepotkan. Mereka tidak hanya merepotkan manusia, tapi kita juga”

“Apa perlu kita hentikan mereka? Kalau begini terus dunia manusia juga akan ikut hancur, dan kitalah yang bakal repot juga nanti”

“Tunggu dulu. Lebih baik kita awasi dulu keadaannya. Keberadaan kita tidak boleh diketahui oleh manusia. Kecuali bagi mereka yang ingin melewati gerbang”

“Uh... menyebalkan”

---***---

‘Kau gila!’, seru Ryuu dalam pikirannya. Dia masih berbicara dengan Inoo melalui telepati.

‘Oh aku sudah terbiasa dipanggil seperti itu. Tapi, kau tahu kalau aku tidak pernah salah kan?’

Ryuu melirik ke arah Inoo yang sedang tersenyum licik ke arahnya. Ryuu melemparkan pandangan kesal ke arah Inoo tapi sepertinya dia tidak peduli sama sekali. Dalam hati dia tidak mau mengikuti perintah Inoo, tapi dia tahu kalau apapun yang direncanakan oleh Inoo pasti berhasil. Inoo menjadi salah satu pengawal iblis meskipun levelnya rendah adalah karena otaknya yang jenius. Berkat otaknya itulah Raja Demon selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.

Sang Raja mengangkat kedua tangannya. Serangannya kali ini lebih kuat daripada sebelumnya. Semua yang ada disana semakin kesusahan menghindarinya. Ryuu melihat ke arah Keito yang masih terbungkus oleh mantra pelindung milik Yama.

“Tidak ada cara lain”, keluh Ryuu.

Dengan sisa tenaganya, Ryuu merangkak maju menuju ke arah Keito. raja Demon tidak mempedulikannya karena dia sudah terlalu sibuk dengan serangannya dan berusaha menjatuhkan para demon pengkhianat satu persatu. Dia berhasil melukai Hikaru dan Daiki. Yabu sudah tumbang dari tadi karena dia tidak sempat menghindar.

“Apa yang akan kau lakukan?”, Chii berdiri di depan Keito sebagai tameng. Dia menyadari keberadaan Ryuu yang berusaha mendekati Keito.

Ryuu menoleh ke arah Yama, tidak mempedulikan Chii yang ada di hadapannya. “Bisakah kau melepaskan pelindung ini sebentar?”

“Apa yang akan kau lakukan?”, tanya Yama.

Meskipun dia perhatian pada Ryuu, selama Ryuu masih menjadi demon dan berada di pihak musuh, Yama tidak bisa mempercayainya begitu saja. Melindungi Keito adalah tugas Yama yang paling utama. Dia tidak akan mengingkari tugasnya.

“Jika kau ingin menyelamatkan tuanmu dan menjadi temanku lagi, biarkan aku melakukannya Yama...”

Ryuu melihat Yama dengan pandangan mata yang dulu. Pandangan mata dimana dia masih menjadi manusia. Pandangan mata yang sudah biasa Yama lihat saat mereka berteman dulu.

“Ryuu...”

Inoo langsung memukul Yama saat dia lengah. Pertahanan Yama sedikit mengendur akibat serangan Inoo. Celah itu dimanfaatkan oleh Ryuu. Dia mulai mendekati Keito.

“Apa yang kau lakukan?”, desis Yama. Dia menatap Inoo dengan pandangan benci. Sejak awal dia memang tidak suka dengan Inoo.

“Diam saja dan lihat”

Inoo menunjuk ke arah Keito dan Ryuu. Yama ingin menyusul mereka berdua, tapi Inoo menghalanginya. Yama ingin meminta bantuan Chii, tapi Chii masih sibuk menyerang musuh yang mendekat.

“Kau... apa yang kau...” tanya Keito yang masih kesakitan.

“Diamlah. Ini juga bukan kemauanku, tapi ini satu-satunya cara”

Ryuu mulai mendekat ke arah Keito. Dia mendekatkan tangannya ke wajah Keito dan mendekatkan wajah mereka berdua.

“TIDAK AKAN KUBIARKAN!!!”

Sang raja rupanya menyadari apa yang akan dilakukan oleh Ryuu. Dia mengarahkan serangannya pada Ryuu, tapi Yuto berhasil menangkis serangan itu.

“Yuto... kau...”, geram Raja. Emosinya meningkat saat melihat Yuto tersenyum mengejek padanya.

“Kenapa? Kau takut kalau mereka melakukannya?” Yuto meningkatkan auranya. “Kau takut kau akan melemah?”

Raja semakin marah. Dia menyerang Yuto sebagai gantinya. Dia sudah tidak mempedulikan Ryuu dan Keito. Baginya penghinaan Yuto lebih berat daripada apa yang akan dilakukan Ryuu dan Keito. Demon lain hanya diam mengamati pertempuran yang sudah jelas berat sebelah itu.

“Apa yang akan mereka lakukan? Kenapa Raja Demon marah seperti itu?”, tanya Yama.

“Kau akan mengerti”, jawab Inoo penuh makna.

Ryuu mencium kening Keito. Darah Keito terasa panas. Dahinya juga terasa panas. Yama bisa melihat sesuatu tergambar di dahi Keito. Keito memegangi dadanya, rasa sakitnya berkurang. Tapi sebagai gantinya Raja Demon menggeram marah sambil mengarahkan serangannya membabi buta.

“Kau...”, Keito melihat Ryuu tidak percaya.

“Kontrak telah selesai dibuat”, bisik Ryuu.

Tsuzuku~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar